• Tidak ada hasil yang ditemukan

Observasi Permainan Siswa SD di desa dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Observasi Permainan Siswa SD di desa dan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Makalah Kelompok

LAPORAN OBSERVASI PERMAINAN DAN INTERAKSI ANAK

DI SEKOLAH DASAR YANG BERADA DI KOTA DAN DESA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik

Dosen Pengampu: Dra. Yari Dwikurnaningsih, M.Pd

Disusun Oleh:

1. RACHMAD SEPTIAWAN (172014003) 2. NUR ROHIMAH (172014009) 3. NURROCHMAH (172014015) 4. ANDREAS VICKTOR HARYANTO SIHITE (172014013) 5. ERIC CANTONA (172014007)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA & KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA 2014

(2)

Semoga berkah dan keselamatan tercurah kepada kita semua. Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang dengan berkat, rahmat, dan karunia-Nya, telah memberikan kemudahan dan kelancaran dari persiapan, proses observasi, analisis, hingga terselesaikannya penyusunan laporan observasi ini.

Observasi ini dilakukan di SD Negeri Tegalrejo 3 Salatiga dan SD Negeri Banding I Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Observasi dilaksanakan pada Jumat, 26 September 2014 di SD Negeri Tegalrejo 3 dan Kamis, 2 Oktober 2014 di SD Negeri Banding I . Pelaksaan observasi dilakukan dengan membagi kelompok kami dalam 2 team, kelompok pertama bertugas mewawancarai guru wali kelas sedangkan kelompok kedua mengamati peserta didik saat jam istirahat sekolah. Kelompok kami mendapat pengalaman yang menarik dan berharga dengan pelaksanaan observasi tersebut.

Penulis berharap agar penyusunan laporan observasi ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan yang berkaitan dengan jenis permainan dan interaksi anak dalam permainan tersebut, terutama untuk jenjang pendidikan sekolah dasar, baik di sekolah yang berada di desa maupun kota. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan observasi ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengundang saran, kritik, serta masukan dari pembaca sekalian.

Salatiga, 6 Oktober 2014.

Penulis.

(3)

SAMPUL ... 1

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ... 3

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan Observasi ... 4

B. Tujuan Kegiatan Observasi ...4

C. Ruang Lingkup Kegiatan Observasi ...4

BAB II PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Observasi ...5

B. Analisis Hasil Observasi...7

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 9

B. Implikasi ... 9

C. Saran ... 9

DAFTAR PUSTAKA ... 10

BAB I

(4)

A. Latar Belakang Kegiatan Observasi

Istilah observasi berasal dan bahasa Latin yang berarti ”melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dan perspektif subjek yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus kuat, faktual, sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan

Mempelajari perkembangan peserta didik akan lebih lengkap bilamana disertai dengan kegiatan observasi. Oleh karena itu, sebagai kelanjutan dalam mempelajari berbagai teori perkembangan peserta didik yang telah dilaksanakan dalam perkuliahan, baik yang telah dilakukan melalui diskusi dan pembahasan bersama, maka dilaksanakan pula kegiatan observasi di sekolah dasar. Kegiatan observasi dimaksudkan untuk mengamati jenis permainan dan interaksi anak dalam permainan tersebut.

B. Tujuan Kegiatan Observasi

Kegiatan observasi ini bertujuan untuk melakukan pengamatan dan pembandingan jenis permainan dan interaksi anak dalam permainan di sekolah dasar baik di kota mapun di desa dan mendeskripsikan hasil observasi yang dilakukan. Tidak berhenti sampai di sini, kami juga melakukan wawancara terhadap beberapa guru wali kelas untuk mengetahui peranan guru dalam membimbing anak didiknya dalam permainan dan interaksinya.

C. Ruang Lingkup Kegiatan Observasi

Observasi yang dilakukan dibatasi pada permainan saat jam istirahat sekolah, bukan observasi secara keseluruhan. Hal ini dimaksudkan agar observasi terfokus untuk mengidentifikasi dan menganalisis permainan apa dan interaksi yang seperti apa yang dilakukan peserta didik saat berada di sekolah. Observasi ini juga bertujuan membandingkan permainan anak dan interaksinya di sekolah yang berada di kota dan sekolah yang ada di desa.

Dalam observasi. Kelompok pertama hanya melihat, mengamati, mencatat, dan membuat dokumentasi observasi kegiatan peserta didik saat jam istirahat. Sedangkan kelompok yang lain melakukan kegiatan wawancara kepada guru wali kelas. Keterlibatan kami dalam permainan peserta didik hanya berbaur dengan kelompok siswa dan memberikan pertanyaan pada kelompok siswa yang sedang ataupun yang tidak bermain.

(5)

A. Pelaksanaan Observasi

Kegiatan observasi kelompok dilaksanakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Observasi dikategorikan sebagai salah satu model pembelajaran kontekstual – aktual. Pelaksanaan observasi memberikan gambaran secara nyata situasi dan kondisi tertentu. Observasi pembelajaran di sekolah memberikan tambahan wawasan bagi pengobservasi mengenai permainan dan interaksi anak di sekolah yang berada di desa dan berada di kota.

Telah disebutkan di bagian pendahuluan laporan ini, metode observasi yang digunakan oleh kelompok kami adalah dengan Mengamati dan Mewawancarai, yakni dengan berbaur dalam situasi bermain dan mewawancarai guru wali kelas. Selama kegiatan observasi berlangsung, kelompok melakukan pencatatan Interaksi anak dalam permainan serta melakukan kegiatan pendokumentasian kegiatan anak. Pencatatan bertujuan untuk menangkap segala aspek dalam proses bermain dan interaksi anak. Pendokumentasian pembelajaran dilakukan dengan cara memfoto kegiatan bermain anak. Berikut adalah pelaksanaan observasi yang dilakukan oleh kelompok kami:

1. Tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan observasi.

Obsevasi dilaksanakan di SD Negeri Tegalrejo 3 Salatiga dan SD Negeri Banding I Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Observasi dilaksanakan pada Jumat, 26 September 2014 di SD Negeri Tegalrejo 3 dan Kamis, 2 Oktober 2014 di SD Negeri Banding I. Observasi ini difokuskan pada saat jam istirahat di sela-sela jam pelajaran.

2. Aspek-aspek yang berkaitan dengan observasi. 1. Nama : Ibu Budi Winarsih S.pd

Jabatan : Guru Kelas 3

Sekolah : SD Negeri Tegalrejo 03 2. Nama : Ibu Sulistyo Rini

Jabatan : Guru kelas 5

Sekolah : SD Negeri 1 Banding 3. Nama : Bapak Bekti Sutiyoso

Jabatan : Guru Olahraga Sekolah : SD Negeri 1 Banding

- Permainan dan Interaksi didalamnya

(6)

permainan anak telah berubah mereka menggunakan media elektronik dalam permainan/kegiatanya seperti bermain HP ataupun Game Online saat pulang sekolah, namun mereka masih memainkan permainan musiman seperti layang-layang atau lompat tali.

Namun di sekolah yang berada di desa. Mereka menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain bersama teman-temanya, hal ini dikuatkan dengan apa yang disampaikan Bapak Bekti Sutiyoso Guru Olahraga SD Negeri 1 Banding, mereka memang senang bermain kasti, gerobak sodor dan petak umpet saat istirahat, khusus petak umpet hanya dilakukan oleh anak kelas 1-2 saja.

Menurut Ibu Sulistyo Rini pengampu kelas 5 SD Negeri 1 Banding Interaksi social diantara peserta didik tersebut cenderung terdapat persaingan antara satu dan yang lainya taupun masih egoistis disebabkan karena karakter/kepribadian masing-masing dari siswa tersebut, Beda halnya dengan Ibu Budi Winarsih S.pd beliau beranggapan interaksi antar peserta didik masih belum menanamkan sikap saling mengargai antar kelompok/individu yang satu dengan yang lainya.

- Kesulitan dan hambatan.

Kami tidak melihat antar siswa diatara kedua sekolah tersebut ada yang mengalami kesulitan bersosialisasi dalam permainan/kegiatan. Hal ini di-Iyakan oleh Ibu Budi Winarsih S.pd beliau mengatakan tidak ada yang kesulitan bersosialisasi karena peserta didiknya tidak terlalu aktif dan tidak terlalu pasif, Namun menurut ibu Sulistyo Rini pasti ada peserta didik yang kurang bias bersosialisasi mungkin karena dia terlalu nakal, anak yang nakal cenderung dijauhi oleh teman-temanya. Dan juga ada anak yang pendiam yang cenderung susah berinteraksi, itu dikarenakan salah satunya cara mendidik orang tua yang salah / terlalu keras.

Dalam menghadapi permasalah tersebut Ibu Budi Winarsih S.pd menggunakan cara pendekatan personal/perseorangan agar anak didik tersebut bisa berinteraksi dengan teman-temanya. Begitu halnya dengan Ibu Sulistyo Rini, beliau mengungkapkan sebelum membantu peserta didik dalam kesulitan berinteraksi, seorang guru harus mengetahui Aneka dimensi yang ada pada diri peserta didik dalam interaksinya dengan lingkungan alam natural dan lingkungan sosiokultural:

1. Dimensi Individualitas

(7)

Terwujud dalam kemandirian, ketekunan, kerja keras, keberanian, kepercayaan diri, keakuan, semangat, dan ambisi.

2. Dimensi Sosialitas

Tampak pada sikap kedermawanan, saling menolong, toleransi, kerjasama, berbagi dengan sesama, berorganisasi, dan hidup bermasyarakat.

3. Dimensi Religiusitas

Terlihat dalam perilaku ketaatan menjalankan ajaran agama, beribadah, keyakinan adanya Tuhan, ketekunan, keikhlasan, kemauan berdakwah, dan sikap tawakal. 4. Dimensi Historisitas

Tampak dalam kesenangan menyelidiki kisah-kisah kuno, kegemaran mencatat aneka kejadian sejarah, kesadaran akan pentingnya sejarah, dan kemauan mengkreasi sejarah.

5. Dimensi Moralitas

Terlihat pada pengetahuannya tentang akibat-akibat yang ditimbulkan dari perilaku moral, kemampuan membedakan antara perilaku moral baik dan buruk, kemampuan menjaga perilaku ketaatan moral, dan lain-lain.

Saat seorang guru telah mengetahui permasalahan pada peserta didik maka guru akan lebih mudah dalam membantu interaksi peserta didik

B. Analisis Hasil Observasi

Ada banyak faktor yang menentukan permainan dan interaksi sosial anak, antara lain :

1. Lokasi sekolah

Lokasi sekolah sangat menentukan jenis permainan anak, anak yang sekolah yang berada di desa cenderung memainkan permainan tradisional yang bisa dilakukan bersama-sama. Anak yang bersekolah di Sekolah yang berada di kota sudah jarang memainkan permainan tradisional dan digantikan permainan yang lebih modern

2. Peran Guru

Guru yang aktif menemani atau bahkan mengajari permainan baru kepada peserta didiknya akan lebih dekat dan mengetahui perkembangan peserta didiknya.

3. Interaksi anak dengan keluarga

(8)

4. Teknologi informasi

Seiring cepatnya perkembangan Teknologi Informasi, juga mempengaruhi kehidupan anak, anak lebih senang bermain dengan perangkat elektroniknya dibanding memainkan permainan tradisional bersama temanya, hal ini juga akan berdampak kepada interaksi sosial anak

BAB III PENUTUP

(9)

Mempelajari perkembangan peserta didik akan lebih optimal jika dilengkapi dengan pelaksanaan observasi ke sekolah-sekolah. Kegiatan observasi sangat membantu para mahasiswa untuk mengenali, mengidentifikasi, serta melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. Secara khusus, kelompok kami melakukan pengamatan terhadap permainan dan interaksi didalamnya pada jenjang sekolah dasar.

Kami mengobservasi 2 sekolah yaitu SDN Tegalrejo 3 Salatiga dan SDN 1 Banding, Bringin Kab. Semarang. Keduanya kami pilih karena lokasinya, SDN Tegalrejo 3 Salatiga berada di perkotaan dan SDN 1 Banding berada didaerah pedesaan. Kami juga mewawancarai para guru di kedua sekolah tersebut untuk menguatkan hasil observasi kami.

Analisis hasil observasi kami adalah ada banyak faktor yang menentukan permainan dan interaksi sosial anak didalamnya, Lokasi sekolah, Peran Guru, Interaksi anak dengan keluarga dan pengaruh teknologi informasi menjadikan faktor-faktor yang mempengaruhi permainan dan interaksi sosial anak didalamnya,

B. Implikasi

Pelaksanaan observasi tersebut telah menambah wawasan mengenai perbedaan permainan dan interaksi anak pada sekolah yang berada di desa dan kota. Penyusunan laporan observasi ini diharapkan mampu memberikan pengaruh positif bagi banyak pihak. Selain itu diharapkan pula agar calon pendidik turut aktif dalam mendampingi permainan dan interkasi peserta didik agar perkembangan peserta didik dapat tercapai dengan baik.

C. Saran

Setiap pendidik agar senantiasa melakukan pendekatan personal kepada peserta didik. Setiap Pendidik juga diharap menguasai teori-teori perkembangan peserta didik agar bisa membantu peserta didik dalam interaksi sosialnya. Penggunaan teori perkembangan peserta didik dalam proses interaksi anak harus melihat pada kondisi-kondisi tertentu. Hal ini dimaksudkan agar Pendidik bisa membantu dalam perkembangan peserta didik. Peran keluarga untuk membimbing dan mengawasi anak juga sangat penting. Keluarga dan Para guru juga sebaiknya membatasi penggunaan media elektronik oleh anak/peserta didik .

(10)

Referensi

Dokumen terkait

permainan bola kasti yang menggunankan pemukul modifikasi dan bola yang lunak atau disebut kasbol (kasti bola lunak). Sekolah Dasar Negeri Margadana 8 kota tegal berada

Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan dengan melihat kendala yang dihadapi ketika penerapan metode permainan simulasi, maka upaya yang dapat dilakukan

Perbedaan Pengaruh Jenis Permainan dan Kelompok Umur Terhadap Peningkatan Kemampuan Gerak Dasar (Eksperimen Perbedaan Pengaruh Permainan Perorangan Dan Permainan

pengamatan yang peneliti lakukan selama melaksanakan Praktik Profesi Keguruan Terpadu (PPKT) selama 4 bulan, peneliti melihat bahwa sebagai sekolah unggulan, sekolah ini sudah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang keberadaan permainan tradisional di Sekolah Dasar dan bagaimana pemanfaatan permainan tradisional di

Setelah fase intervensi diberikan, observasi dilanjutkan pada fase baseline kedua (A2) hal ini dilakukan untuk melihat dampak yang dihasilkan dari permainan puzzle lantai

Dalam melakukan observasi peneliti melakukan pengamatan dari pola interaksi sosial dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak yakni masyarakat

permainan bola kasti yang menggunankan pemukul modifikasi dan bola yang lunak atau disebut kasbol (kasti bola lunak). Sekolah Dasar Negeri Margadana 8 kota tegal berada