• Tidak ada hasil yang ditemukan

LKjIP TAHUN 2017 KABUPATEN LINGGA BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "LKjIP TAHUN 2017 KABUPATEN LINGGA BAB I"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara. Dalam rangka hal tersebut, diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta bebas KKN.

Good governance yang dimaksud adalah merupakan proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam melaksanakan penyediaan public good and services disebut governance (pemerintahan atau kepemerintahan), sedangkan praktik terbaiknya disebut “good governance“ (pemerintahan yang baik). Good governance yang efektif menuntut adanya “alignment” (koordinasi) yang baik dan integritas, profesional serta etos kerja dan moral yang tinggi, dengan demikian penerapan konsep good governance penyelenggaraan kekuasaan pemerintah negara merupakan tantangan tersendiri.

Perlunya sistem pertanggungjawaban daerah atas segala proses tindakan-tindakan yang dibuat dalam rangka tata tertib menuju instrumen kinerja daerah. Hal inilah merupakan bagian terpenting untuk ditata agar dapat mewujudkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good Governance). Perlu diperhatikan pula adanya mekanisme untuk meregulasi kinerja pada setiap instansi pemerintah dan memperkuat peran dan kapasitas parlemen, serta tersedianya akses yang sama pada informasi bagi masyarakat luas.

(3)

kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik.

Dalam dunia birokrasi, kinerja instansi pemerintah merupakan perwujudan prestasi instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan pencapaian hasil yang menjadi target yang akan dicapai atau kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan instansi yang bersangkutan. Hal tersebut bertujuan agar kinerja instansi pemerintah mampu melaksanakan amanat TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Selama ini pengukuran keberhasilan maupun kegagalan dari instansi pemerintah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sulit untuk dilakukan secara obyektif. Pengukuran kinerja suatu instansi hanya lebih ditekankan pada kemampuan instansi tersebut dalam menyerap anggaran. Suatu instansi dikatakan berhasil melaksanakan tugas pokok dan fungsinya apabila program yang disusun dan kegiatan yang dilaksanakan mampu memberikan outcome maupun dampak dari kegiatan yang dilaksanakan kedepan.

Untuk dapat mengetahui tingkat keberhasilan suatu instansi pemerintah, maka seluruh aktivitas instansi tersebut harus dapat diukur, dan pengukuran tersebut tidak semata-mata kepada input (masukan) dari program, akan tetapi lebih ditekankan pada output (keluaran), proses, manfaat dan dampak. Sistem pengukuran kinerja yang merupakan elemen pokok dari laporan kinerja instansi pemerintah akan mengubah paradigma pengukuran keberhasilan. Melalui pengukuran kinerja, keberhasilan suatu instansi pemerintah akan lebih dilihat dari kemampuan instansi tersebut berdasarkan sumber daya yang dikelolanya sesuai dengan rencana yang telah disusun.

(4)

mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik setiap akhir anggaran.

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) dibuat dalam rangka perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada setiap Instansi Pemerintah, berdasarkan suatu sistem kinerja instansi pemerintah yang memadai. LKjIP juga berperan sebagai alat kendali, alat penilai kinerja dan alat pendorong terwujudnya good governance. Dalam perspektif yang lebih luas, maka LKjIP berfungsi sebagai media pertanggungjawaban kepada publik. Semua itu memerlukan dukungan dan peran aktif seluruh lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta partisipasi masyarakat.

Bertitik tolak dari RPJMD Kabupaten Lingga Tahun 2016-2021, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Lingga Tahun 2017 dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk teknis perjanjian kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Review Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan LKjIP Tahun 2016 berisi ikhtisar pencapaian sasaran sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen penetapan kinerja dan dokumen perencanaan. Pencapaian sasaran tersebut disajikan berupa informasi mengenai pencapaian sasaran RPJMD, realisasi pencapaian indikator sasaran disertai dengan penjelasan yang memadai atas pencapaian kinerja dan pembandingan capaian indikator kinerja, dengan demikian, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Lingga yang menjadi laporan kemajuan penyelenggaraan pemerintahan oleh Bupati kepada Presiden ini telah disusun dan dikembangkan sesuai peraturan yang berlaku. Realisasi yang dilaporkan dalam LKjIP ini merupakan hasil kegiatan Tahun 2016.

Pelaksanaan penyusunan LKjIP Pemerintah Kabupaten Lingga Tahun 2016 dengan memperhatikan kepada peraturan perundang-undangan yang melandasi pelaksanaan LKjIP, yaitu :

(5)

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme;

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2003 tentang Pembentukkan Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 146, Tambahan Lembaran Negara Repulik Indonesia);

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 5679);

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;

7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014, tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk teknis perjanjian kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah;

(6)

11.

Peraturan Daerah Kabupaten Lingga Nomor 01 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Lingga Tahun Anggaran 2016;

12.

Peraturan Daerah Kabupaten Lingga Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Lingga tahun 2016;

13. Surat Keputusan Bupati Kabupaten Lingga Nomor 47 Tahun 2017 tentang Indikator Kinerja Utama Kabupaten Lingga Tahun 2017.

A. GAMBARAN UMUM

a. Aspek Geografis dan Demografi

Aspek geografi dan demografi merupakan salah satu aspek kondisi kewilayahan yang mutlak diperhatikan sebagai ruang dan subyek pembangunan. Aspek geografi memberikan gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah, potensi pengembangan wilayah. Sedangkan gambaran kondisi demografi, antara lain mencakup perubahan penduduk, komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu. Dari uraian ini diharapkan dapat terpetakan potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan Kabupaten Lingga lima tahun kedepan.

1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Karateristik lokasi dan wilayah pada sub bab ini menjelaskan tentang luas dan batas wilayah serta letak dan kondisi geografis Kabupaten Lingga.

2. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga mempunyai luas wilayah daratan dan lautan mencapai 211,772 km2

dengan luas daratan 2.117,72 km2 (1 %) dan lautan 209,654 km2 (99%).

(7)

Sebelah Timur : Laut Cina Selatan.

Gambar I.1

Peta Wilayah Kabupaten Lingga

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menengah, tahun 2016.

Tabel I. 1

Pembagian Dan Luas Wilayah Kabupaten Lingga

No Kecamatan Banyaknya Luas Daratan

Km2 Kelurahan Desa

1 Singkep Barat 1 11 337,10

2 Singkep 3 3 242,80

3 Singkep Selatan 0 3 138,80

4 Singkep Pesisir 0 6 110,30

5 Lingga 1 10 383,45

6 Selayar 0 4 84,86

7 Lingga Timur 0 6 141,20

8 Lingga Utara 1 11 283,21

9 Senayang 1 18 396,00

10 Posek 0 3 *

Jumlah 7 75 2.177,72

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menengah, tahun 2016.

(8)

Luas Daratan Menurut Kecamatan di Kabupaten Lingga

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menengah, tahun 2016.

Dari Kecamatan yang ada di Kabupaten Lingga, terluas adalah Kecamatan Senayang yaitu 396,00 km2 (18.7 % dari total luas daratan) yang

terdiri dari 18 Desa dan 1 Kelurahan, kemudian Kecamatan Lingga yaitu 383,45 km2 (23% dari total luas daratan) yang terdiri dari 10 Desa dan 1 Kelurahan.

berikut ini menunjukkan jumlah Desa/Kelurahan yang ada dimasing-masing Kecamatan.

Tabel I. 2

Desa/Kelurahan Yang Ada di Kabupaten Lingga

No Kecamatan Desa/Kelurahan

1 Singkep Barat

Marok Tua Sungai Buluh

Kuala Raya Bakong

Tinjul Sungai Harapan

Jagoh Sungai Raya

Kel. Raya Bukit Belah

Tanjung Irat Langkap

2 Singkep

Kel Dabo Batu Berdaun

Kel Dabo Lama Batu Kacang

Tanjung Harapan Kel. Sungai Lumpur 3 Singkep Selatan Marok Kecil Berhala

Resang

4 Singkep Pesisir

Berindat Persing

Sedamai Lanjut

Kote Pelakak

5 Lingga Pekajang Kelumu

Mepar Kelombok

(9)

No Kecamatan Desa/Kelurahan

Panggak Darat Panggak Laut

Musai Mentuda

Nerekeh

6 Selayar SelayarPantai Harapan PenubaPenuba Timur

7 Lingga Timur Bukit Langkap Kerandin

Pekaka Keton

10 Kepulauan Posek Busung Panjang Suak Buaya Posek

Sumber : Bagian Pemerintahan, tahun 2016. b. Letak dan Kondisi Geografis

Secara Geografis Kabupaten Lingga terletak di antara 0° 00’ - 1° 00’ Lintang Selatan dan 103° 30’ - 105°00’ Bujur Timur.

Berdasarkan RTRW Kabupaten Lingga 2011-2031, luas wilayah daratan dan lautan mencapai 45.667,56 km persegi dengan luas daratan 2.235,48 km persegi dan lautan 43.432,08 km persegi. Wilayahnya terdiri dari 604 buah pulau besar dan kecil. Tidak kurang dari 86 buah diantaranya sudah dihuni, sedangkan sisanya 518 buah walaupun belum berpenghuni sebagiannya sudah dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas kegiatan pertanian, khususnya pada usaha perkebunan.

c. Topografi

(10)

datarnya hanya sekitar 11.015 ha. Pada dasarnya, wilayah Kebupaten Lingga memiliki kemiringan yang ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan perkotaan, karena hampir mencapai 65%, wilayah Kabupaten Lingga berada dalam kemiringan 0-2%, disusul oleh wilayah dengan kemiringan di atas 40% yaitu mencapai hampir 17%. Hal ini sesuai dengan keadaan tofografi Kabupaten Lingga yang didominasi oleh daerah yang berbukit- bukit.

1) Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk merupakan barometer untuk menghitung besarnya semua kebutuhan yang diperlukan masyarakat, seperti perumahan, sandang, pangan, pendidikan dan sarana penunjang lainnya. Tabel berikut ini menerangkan jumlah penduduk di Kabupaten Lingga Tahun 2016.

Tabel I. 3

Jumlah Penduduk di Kabupaten Lingga Tahun 2016

No Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa)

2015 2016

1. Singkep 24,029 24.085

2. Lingga 11.298 11.551

3. Senayang 21.940 22.200

4. Singkep Barat 18.295 18.281

5. Lingga Utara 11.297 11.445

6. Singkep Pesisir 4.711 4.748

7. Lingga Timur 3.944 3.997

8. Selayar 3.548 3.568

9. Singkep Selatan 2.604 2.625

10. Kepulauan Posek * *

J u m l a h 101.666 102.500

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lingga, tahun 2015.

(11)

pembangunan di Kabupaten Lingga. Dengan pemerataan, penduduk secara umum dapat membantu dalam usaha mensejahterakan penduduknya. Oleh karena itu, dalam usaha melakukan pemerataan penduduk, idealnya komposisi jumlah penduduk sejalan dengan luas wilayah keruangan suatu daerah. Jumlah penduduk Kecamatan Kepulauan Posek pada tahun 2016, masih bergabung di data penduduk Kecamatan Singkep Barat.

2) Pendidikan

Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan sumberdaya manusia melalui pendidikan adalah dengan mencanangkan program wajib belajar 9 tahun. Dengan program ini diharapkan akan tercipta sumberdaya manusia yang siap bersaing di era globalisasi. Rata-rata tingkat pendidikan yang dicapai oleh suatu masyarakat, seringkali dipakai sebagai indikator kualitas sumberdaya manusia. Semakin tinggi rata-rata tingkat pendidikan yang dicapai, maka semakin tinggi pula kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki. Taraf pendidikan masyarakat ini juga sangat menentukan kemampuan suatu masyarakat untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan.

Oleh karena itu sektor pendidikan merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas utama dalam pembangunan nasional, bahkan Undang-Undang mengamanatkan alokasi sebesar 20 persen dalam anggaran belanja negara. Anggaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lingga pada tahun 2016 mencapai Rp. 175.464.745.450,00 (100%), sedangkan realisasinya sebesar Rp. 171.329.672.538,00 (97,64%).

a. Rata-Rata Lama Sekolah dan Harapan Lama Sekolah

Rata-rata lama sekolah digunakan untuk mendapatkan informasi tentang sejauh mana tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk dengan merujuk kepada rata-rata jenjang pendidikan yang telah diselesaikan oleh penduduk berusia 15 tahun. Pada tahun 2014 rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Lingga adalah 5,53%.

(12)

Rata-rata lama sekolah Kabupaten Lingga yang masih jauh dibawah rata-rata lama sekolah mengindikasikan bahwa pembangunan pendidikan di Kabupaten Lingga masih perlu ditingkatkan, sehingga pencapaian target lima tahun mendatang minimal sama dengan pencapaian rata-rata lama sekolah nasional.

Gambar I. 3

Grafik Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Lingga dan Provinsi Kepulauan Riau, 2010-2014 (Tahun)

Sumber : IPM Kab. Lingga, tahun 2015.

Nilai Harapan Lama Sekolah (HLS) Kabupaten Lingga berada pada rentang 10,73 hingga 11,59 tahun dalam rentang waktu 2010 hingga 2014, yang berarti lamanya sekolah yang dapat diharapkan oleh anak-anak di Kabupaten Lingga pada masa mendatang hanya berkisar 10 hingga 11 tahun, atau maksimal hanya mengeyam pendidikan hingga tingkat SMA. Ini berarti kondisi pembangunan sistem pendidikan di Kabupaten Lingga belum cukup baik yang mungkin disebabkan kurangnya ketersediaan fasilitas sekolah yang ada di wilayah tersebut. Walaupun angka HLS Kabupaten Lingga mengalami kenaikan dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya, namun angka tersebut termasuk rendah jika dibandingkan dengan HLS Kepulauan Riau yang mencapai 12,51 tahun atau diharapkan anak di masa mendatang dapat mengeyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi.

Gambar I. 4

(13)

Sumber : RPJMD Kab. Lingga, tahun 2016-2021.

3) Kesehatan

Perubahan derajat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa factor pendukung, antara lain tingkat ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, ketersedian tenaga medis dan paramedic, manajmen, kualitas pelayanan pendapatan dan kesadaran masyarakat serta faktor lain yang bersifat menunjang terhadap pembangunan sektor kesehatan.

Salah satu indikator yang dapat mencerminkan keadaan derajat kesehatan adalah sebagai berikut :

a. Angka Kematian Bayi/Angka Kelangsungan Hidup Bayi

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.

Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neo-natal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

(14)

pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. Sedangkan angka kematian Post-Neo Natal dan angka kematian anak serta kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehatuntuk anak dibawah usia 5 tahun.

Tabel. I. 4

Perkembangan Angka Kematian Bayi (AKB) Tahun 2011 – 2015

No. Jenis

Berdasarkan Tabel diatas, AKB di Kabupaten Lingga Tahun 2015 berada pada kisaran 20%. Artinya dari setiap 1000 kelahiran hidup terdapat 20 bayi berumur kurang dari satu tahun yang meninggal. Dimana Tahun 2011 AKB berkisar angka 25%, turun di Tahun 2012 menjadi 12,2%, naik di Tahun 2013 menjadi 27,2%, turun kembali di Tahun 2014 sebesar 12%, dan kembali naik di Tahun 2015 sebesar 20%.

b. Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, seperti kecelakaan, terjatuh, tenggelam dan lain-lain. Angka Kematian Ibu dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup.

Tabel. I. 5

Perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2011 – 2015

(15)

1. AKI 249 289,4 226 143 142 Sumber: RKPD Tahun 2016 dan Lampiran Tabel Profil Dinas Kesehatan, tahun 2015.

AKI di Kabupaten Lingga dari tahun 2011–2015 menunjukkan angka yang fluktuatif dengan kecenderungan menurun dari sebesar 249 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 142 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami peningkatan pada Tahun 2012 yaitu 289,4 per 100.000 kelahiran hidup. Namun untuk tahun-tahun berikutnya mengalami penurunan. Walau mengalami kecenderungan penurunan, namun kondisi ini masih dibawah target MDGs (102 kematian per 100.000 kelahiran hidup).

c. Angka Usia Harapan Hidup

Angka usia harapan hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.

Tabel. I. 6

Nilai Angka Usia Harapan Hidup Kabupaten Lingga dan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010-2014

(16)

Berdasarkan Tabel diatas Tahun 2014, Nilai AHH penduduk Kabupaten Lingga pada tahun 2014 sekitar 59,47. Artinya, bayi yang lahir pada tahun 2014 di Kabupaten Lingga diperkirakan akan dapat hidup selama 59 tahun 5 bulan dengan syarat besarnya kematian atau kondisi kesehatan tidak ada yang berubah. Angka ini lebih rendah dari AHH Provinsi Kepri yang besarnya 69,15. Sedangkan di Kabupaten Lingga Sendiri, Nilai AHH dari tahun ke tahun semakin baik, hal ini mengindikasikan secara rata-rata derajat kesehatan di Kabupaten Lingga semakin membaik.

d. Status Gizi Balita

Kesehatan Balita dapat dilihat dari kecukupan gizi yang diterima oleh balita. Kecukupan gizi akan mendorong pertumbuhan bayi secara optimal, sedangkan kekurangan akan gizi selain dapat menghambat pertumbuhan, juga dapat menimbulkan resiko penyakit. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk.

Berdasarkan data Tahun 2015, jumlah balita di Kabupaten Lingga 11.406 orang, balita di Kabupaten Lingga sebagian besar telah mencukupi kriteria gizi baik yaitu 11.275 orang dari total balita atau 98,85%. Sisanya sebesar 1,15% adalah balita yang menderita gizi kurang sebanyak 95 orang dan gizi buruk sebanyak 36 orang.

Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap jumlah balita. Kondisi di Lingga dalam beberapa tahun terakhir, persentase balita gizi buruk mengalami fluktuasi. Pada Tahun 2011 berada pada angka 2,24% dan mengalami kecendrungan meningkat sampai dengan tahun 2013 yaitu 3,91%. Namun pada Tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 0,79%.

d. Kewenangan Tugas Pokok dan Struktur Organisasi

(17)

Kewenangan Pemerintah Kabupaten Lingga sebagai daerah otonom, maka sesuai dengan pasal 13 ayat (4) Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 memiliki kewenangan dengan kriteria sebagai berikut :

1) Urusan pemerintahan yang lokasinya dalam daerah kabupaten/kota; 2) Urusan pemerintahan yang penggunanya dalam daerah kabupaten/kota; 3) Urusan pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya hanya dalam

daerah kabupaten/kota; dan/atau

4) Urusan pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh daerah kabupaten/kota.

2. Tugas Pokok

Pemerintah Kabupaten Lingga mempunyai tugas melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, agar tercapai visi Kabupaten Lingga yaitu :

Menjadikan Lingga Sebagai Pusat Sumber Daya Kelautan Menuju masyarakat Maju, Sejahtera,

Agamis Dan Berbudaya

3. Struktur Organisasi

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2016 tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga dan dijabarkan dengan Peraturan Bupati Lingga Nomor 32 Tahun 2016 tanggal 10 November 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi Tugas dan Fungsi Tata Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga. Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga terdiri dari 1 (satu) Sekretariat Daerah dengan 3 (tiga) Asisten dan 8 (delapan) Bagian, 1 (satu) Sekretariat DPRD, 16 (enam belas) Dinas Daerah, 4 (empat) Badan, 1 (satu) Inspektorat, 3 (tiga) Non tipe, yang diatur oleh peraturan perundang-undangan.

(18)

1) Sekretariat Daerah

Sekretariat Daerah merupakan unsur staf Pemerintah Kabupaten yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Daerah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati. Tugas pokok Sekretariat Daerah adalah membantu Bupati dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi, organisasi dan tata laksana, serta memberikan pelayanan administratif kepada seluruh perangkat daerah.

Sekretaris Daerah mempunyai 3 (tiga) Asisten yang membawahinya, yaitu : Asisten Pemerintahan, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, dan Asisten Administrasi Umum. Masing-masing Asisten ini membawahi Bagian dalam Sekretariat Daerah serta melakukan koordinasi kegiatan di bagiannya.

2) Sekretariat DPRD

Sekretariat DPRD merupakan unsur pelayanan DPRD Kabupaten, yang dipimpin oleh seorang Sekretaris yang bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif dibina oleh Sekretaris Daerah.

3) Dinas

Dinas merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Dinas merupakan perangkat daerah yang diserahkan wewenang, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan otonomi daerah, desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga berjumlah 16 (enam belas) Dinas, yaitu :

(1) Dinas Pendidikan;

(2) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana; (3) Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, Perumahan Dan Kawasan

Pemukiman;

(4) Satuan Polisi Pamong Praja;

(5) Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; (6) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan;

(7) Dinas Kelautan dan Perikanan;

(19)

(10) Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa; (11) Dinas Lingkungan Hidup;

(12) Dinas Perhubungan;

(13) Dinas Tenaga Kerja Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perindustrian;

(14) Dinas Pariwisata;

(15) Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terbadu Satu Pintu Dan Perdagangan;

(16) Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan.

4. Badan

Unsur pelaksana pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Badan adalah perangkat daerah yang diserahkan wewenang, tugas, dan tanggung jawab menunjang penyelenggaraan otonomi daerah, desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Badan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga berjumlah 4 (empat), yaitu :

(1) Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah ; (2) Badan Pendapatan Daerah;

(3) Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan; (4) Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan;

5. Inspektorat

Pengawas penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dipimpin oleh seorang Inspektur, mempunyai tugas membantu Bupati membina dan mengawasi pelaksanaan urusan Pemerintah yang menjadi kewenangan Daerah dan tugas pembantuan oleh perangkat Daerah.

6. Non Tipe

Non Tipe merupakan Organisasi Perangkat Daerah yang tidak diatur di Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 2016, diantaranya yaitu :

a. Badan Penanggulangan Bencana Daerah; b. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik;

(20)

7. Kecamatan

Kecamatan merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah yang mempunyai tugas melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah dan menyelenggarakan tugas umum pemerintahan. Camat berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada bupati melalui Sekretaris Daerah.

e. Isu Strategis

Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi identitas daerah/masyarakat di masa datang. Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu strategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya, dalam hal tidak dimanfaatkan, akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu, isu-isu strategis harus memenuhi kriteria memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional dan daerah; merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah; luasnya dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat; memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap pembangunan daerah; kemungkinan atau kemudahannya untuk dikelola; dan prioritas janji politik yang perlu diwujudkan.

Berdasarkan RPJMD Kabupaten Lingga 2016-2021, isu-isu strategis pembangunan daerah tahun 2016 sebagai berikut:

1. Isu Lingkungan Hidup 2. Perkembangan Ekonomi

3. Perkembangan Bidang Teknologi Transportasi dan Informatika 4. Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)

f. Sistematika Penulisan

(21)

Bab I Pendahuluan, menjelaskan secara ringkas latar belakang, Gambaran Umum, Kondisi Ekonomi, Kondisi Sosial,Kewenangan, Tugas Pokok dan Struktur Organisasi, Isu Strategis, Maksud dan Tujuan.

Bab II Perencanaan dan Perjanjian Kinerja, menjelaskan RPJMD 2016 -2021, Rencana Kinerja Tahun 2016 dan Perjanjian Kinerja Tahun 2016.

Bab III Akuntabilitas Kinerja, menjelaskan pengukuran kinerja, metode pengukuran pencapaian kinerja, evaluasi dan analisis pencapaian kinerja dikaitkan dengan pertanggungjawaban publik terhadap pencapaian sasaran strategis untuk tahun 2016, Akuntabilitas Keuangan dan Tindak lanjut hasil evaluasi tahun sebelumnya.

Gambar

Tabel I. 1Pembagian Dan Luas Wilayah Kabupaten Lingga
Tabel I. 2Desa/Kelurahan Yang Ada di Kabupaten Lingga
Tabel I. 3Jumlah Penduduk di Kabupaten  Lingga
Gambar I. 3Grafik Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Lingga dan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sampel untuk pemeriksaan PT yang disentrifugasi atau tidak disentrifugasi dengan plasma berada di bagian atas dalam tabung tertutup dibiarkan pada suhu 18 – 24 o C

Cord rewind button Nút thu dây điện nguồn Tuas penggulung kabel Power control dial Vòng điều khiển mức điện Tombol pengatur daya Curved wand Thanh cắm cong Pipa

Sistem alterasi dan mineralisasi yang berkembang di daerah ini adalah epithermal sulfidasi rendah, berada pada posisi dangkal dekat dengan permukaan bumi yaitu termasuk

1) Melakukan asuhan kebidanan kepada pasien sesuai dengan pedoman pelayanan agar dapat memberikan asuhan keperawatan/kebidanan yang berkualitas dan komprehensif.

Oleh Karena itu, secara konsepsional, pembuatan mushaf al-Qur’an Ukir Khas Palembang sejatinya berlandaskan pada tiga hal, yaitu: Pertama , landasan etis, secara

Pencapaian tersebut disajikan berupa informasi mengenai pencapaian sasaran Rencana Strategis (Renstra), realisasi pencapaian indikator sasaran disertai dengan

Berdasarkan Berita Acara hasil pemeriksaan/verifikasi kelayakan terhadap standar dan persyaratan teknis prasarana, sarana dan utilitas yang diserahkan sebagaimana dimaksud

Danas su se te potrebe promijenile, te je sve više turista koji biraju alternativne oblike turizma u cilju zadovoljenja turističkih potreba. Cilj rada bio je predložiti smjernice