akad salam dan aplikasinya dalam perbankan syariah
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Bank syariah merupakan sebuah solusi untuk mendapatkan modal usaha tanpa ada bunga pinjaman. Hal tersebut seakan menjadi pemecah kebuntuan di kalangan ummat Islam indonesia untuk mendapatkan modal usaha tanpa harus terlibat ke dalam riba yang meskipun dalam hal ini masih menjadi khilafiyah. Berangkatnya ummat Islam dari bank konvensional menuju bank syariah membuat bank syariah semakin memperbanyak jenis-jenis transaksi. Transaksi-transaksi tersebutlah yang menjadi fasilitator antara bank syariah bersama-sama nasabah terhindar dari unsur-unsur riba. Dalam kaitan hal ini, transaksi yang digunakan sudah barang tentu tidak terlepas dari aturan-aturan yang terdapat di dalam Islam. B. Rumusan Masalah Di atas telah dipaparkan bahwa bank syariah menggunakan beberapa jenis transaksi untuk memberikan modal kepada nasabahnya. Salah satu transaksi yang dimaksud adalah transaksi bai’ as-salam. Kemudian yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah “Apa dan bagaimana cara bank syariah mengaplikasikan bai’ as-salam”.
non-fungible seperti batu mulia, lukisan berharga dan lain-lain yang merupakan barang langka tidak dapat dijadikan objek salam. Resiko terhadap barang yang diperjualbelikan masih berada pada penjual sampai waktu penyerahan barang. Pihak pembeli berhak meneliti dan dapat menolak barang yang akan diserahkan tidak sesuai dengan spesifikasi awal yang disepakati . Adapun pengertian sederhana bai’as-salam adalah pembelian barang yang diserahkan dikemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka. 2. Landasan Syariah Landasan syariah transaksi
bai’as-salam terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu:
minimal satu bulan dari tanggal efektif. Imam Malik mendukung pendapat ini, akan tetapi beliau berpendapat bahwa jangka waktunya tidak kurang dari 15 hari .