• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah Strategis WWF Internasional Terh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Langkah Strategis WWF Internasional Terh"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Langkah Strategis WWF-Internasional Terhadap

Perubahan Lingkungan di Indonesia

Markus Yulandris Abram Kolit

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

[email protected]

ABSTRACT

WWF is an international non government organization (INGO) that has a wide scope of cooperation. In its vision and mission, the WFF is accommodating its policies through cooperation with state government agencies, NGOs and community

communities with authority within the country. As a legal entity in Indonesia, WWF then began its work in 1996. In Indonesia, environmental issues have become a very important topic of discussion. To that end, WWF-Indonesia through its global

existence is calling for action to save the environment for the survival of human life and other living creatures. One of the problems that exist in Indonesia and until now still the attention of the international world is the forest and the diversion of land for industrial and mining activities, so the cause of the reduced natural forest area as the supplier of oxygen. From the above questions, finally make a variety of negative impacts for the environment also for humans themselves. At first WWF concentrated more on the survival of endangered animals in Indonesia, WWF is not only a rare animal conservation institution as well as an environmental conservation institution. WWF then tries to make various cooperation efforts with the Indonesian government to solve and also provide solutions through the conservation of the sustainability of a healthier and more natural environment.

Keywords: WWF, International Organization, Indonesia, Environment

WWF merupakan organisasi internasional non pemerintah (INGO) yang memiliki ruang lingkup kerjasama yang sangat luas. Dalam visi dan misinya, WFF tengah mengakomodasikan kebijakannya melalui kerjasama dengan institusi pemerintah suatu negara, LSM serta komunitas masyarakat yang memiliki kewenangan di dalam negara tersebut.Sebagai organisasi berbadan hukum di Indonesia, WWF kemudian mulai berkiprah pada tahun 1996. Di negara Indonesia, permasalahan lingkungan telah menjadi topik bahasan yang sangat penting. Untuk itu, WWF-Indonesia melalui eksistensi globalnya tengah menyerukan aksi-aksi penyelamatan lingkungan demi keberlangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Salah satu permasalahan yang terjadi di Indonesia dan sampai sekarang masih menjadi perhatian dunia internasional adalah pembakaran hutan serta

pengalihfungsian lahan untuk kegiatan industri dan tambang, sehingga

(2)

Kata Kunci: WWF, Organisasi Internasional, Indonesia, Lingkungan

Pendahuluan

Sepak terjang WWF atau World Wide Fund di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1962, namun pada saat itu WWF bukan sebagai

organisasi legal yang berbadan hukum. WWF baru resmi menjadi organisasi yang legal di Indonesia pada tahun 1996 dengan status yayasan. WWF sendiri merupakan organisasi konservasi nirlaba yang berkantor pusat di Gland, Switzerland. Tokoh yang berperan penting dalam sejarah awal pendirian WWF adalah seorang ahli biologi berkebangsaan Inggris, Sir Julian Huxley. Sir Julian Huxley saat itu menjabat sebagai direktur jenderal UNESCO yang pertama. Beliau menaruh perhatian besar terhadap

keberlangsungan hayati melalui upaya-upaya konservasi yang berbasis penelitian ilmiah, yang sekarang dikenal dengan istilah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Sejarah panjang dan penuh pengorbanan akhirnya dapat terwujud pada tanggal 29 April 1961, melalui sebuah

deklarasi terhadap pentingnya kehidupan hewan liar yang tereksploitasi oleh kepentingan manusia. Deklarasi ini diprakarsai sekelompok individu

termasuk Sir Julian Huxley yang prihatin terhadap keberlanjutan dari kehidupan hewan liar, deklarasi ini kemudian dikenal sebagai Manifesto Morges. Lima bulan setelah deklarasi tersebut barulah diadakan pertemuan publik untuk mengumumkan pembentukan “World Widelife Fund”, tepat pada tanggal 26 September 1961 bertempat di The Royal Society of Arts, London. World Widelife Fund merupakan nama awal yang digunakan oleh para pendirinya, namun seiring berjalannya waktu World Widelife Fund berubah namanya pada tahun 1986 menjadi World Wide Fund for Nature. Hal ini dikarenakan cangkupan dari WWF For Nature (world wide fund) begitu luas hingga ke penjuru dunia. Selain itu, nama awalnya World

Widelife Fund cangkupannya memang tidak begitu luas, namun nama World Widelife Fund masih tetap digunakan oleh negara Amerika Serikat dan Kanada hingga sekarang.

Gambar 1. Evolusi Logo WWF

Sumber: WWF dari laman resmi http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/whoweare/

WWF mengunakan logo berbentuk hewan panda yang berasal dari China, dikarenakan panda tergolong hewan karismatik yang terancam punah dan begitu dicintai oleh banyak orang di dunia. Selain itu penggunaan logo panda lebih menghemat biaya percetakan sebab hanya diperlukan tinta hitam, seperti yang di ungkapkan oleh Sir Peter Scott seorang ahli

(3)

Dengan demikian diharapkan dapat melahirkan masyarkat yang bukan hanya terampil di bidangnya tetapi juga tangkas dalam menghadapi isu-isu krusial mengenai lingkungan di sekitarnya dan dalam lingkup internasional.

Sepak Terjang WWF-Internasional

WWF sebagai salah satu organisasi internasional non-pemerintah yang bergerak dengan mengandalkan pendanaan dari bantuan donasi masyarakat dan sebagian besar merupakan bantuan internasional yang peduli terhadap keberlangsungannya. Pendanaan itu sendiri pada awalnya lakukan oleh negara-negara barat yang memang dari segi ekonomi mendukung, sehingga hal inilah juga yang membedakan antara negara-negara di timur dan di barat. Negara-negara makmur seperti di barat, tidak hanya peduli terhadap kondisi negaranya saja melainkan juga peduli terhadap keberlangsungan manusia, lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Berbeda halnya apabila dibangkinkan dengan negara-negara di bagian timur yang secara

keseluruhan boleh dikatakan masih merupakan negara berkembang, walaupun masih banyak juga yang berada dibawah garis kemiskinan. Keperluan akan percepatan ekonomi dan perpindahan barang & jasa, membuat negara-negara di bagian timur lebih cenderung mengambil jalan pintas. Salah satunya seperti melakukan perluasan lahan untuk dijadikan kawasan industri tanpa memperhatikan keberlangsungan makhluk hidup dan lingkungan di sekitar, sehingga berdampak terhadap perubahan iklim dan berbagai dampak lainnya.

Munculnya organisasi internasional non-pemerintah awalnya sebagai akibat dari dunia yang semakin mengglobal. Menurut Keohane dan Nye (1971 dalam Archer 2003) terdapat empat jenis utama dari interaksi global: (1) Komunikasi, pergerakan informasi, termasuk penyebaran suatu keyakinan, (2) Transportasi, pergerakan benda-benda fisik, termasuk material perang dan barang-barang properti maupun barang dagang, (3) Finansial, termasuk pergerakan uang dan istrumen kredit, (4) Perjalanan, termasuk pergerakan manusia. Perpindahan manusia dari suatu daerah ke daerah lain menjadi lebih cepat, serta akses komunikasi yang semakin mudah membuat banyak manusia semakin sadar akan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi masih banyak juga masyarakat khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia memanfaatkan interaksi global untuk kepentingannya. Salah satunya seperti yang pernah terjadi di daerah Lembata, Provinsi NTT, banyak masyarakat memanfaatkan komunikasi global tersebut untuk menjual dan memasarkan organ-organ ikan pari manta yang dilindungi pemerintah Indonesia.

Pada umumnya INGOs mucul sebagai organisasi internasional yang bukan berhubungan dengan masalah-masalah pemerintah, melainkan beberapa permasalahan diluar pemerintah yang menyangkut isu-isu bersama dan cenderung bersifat global. Menurut Harold K. Jacbson (1979 dalam Wardah 2014) Organisasi Internasional dibagi menjadi dua bagian, pertama OI didirikan sesuai dengan kesepakatan antara pemerintah disebut

(4)

Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) ditujukan untuk melakukan konsultasi

dengan organisasi non-penerintah yang prihatin dengan hal-hal yang terkait dengan kewenangannya, lebih dari 1500 organisasi non-pemerintah telah memiliki status konsultatif dengan ECOSOC (Archer 2003). Perbedaan keduanya terletak pada peran masing-masing dan juga dapat dilihat dari berbagai pendekatan-pendekatan antara masyarakat dengan dunia

internasional. Ini menandai bahwa pandangan masyarakat akan kebebasan dalam membawa perubahan pada dunia telah dimulai.

Dewasa ini, WWF dan berbagai organisasi non-pemerintah sejenis

cenderung memposisikan diri sebagai organisasi yang berafiliasi dengan pemerintah dalam menangani isu-isu dalam suatu negara yang menjadi perhatian dunia. Organisasi internasional non-pemerintah pada akhirnya bukan hanya konsern terhadap eksploitasi hewan saja tetapi juga

mengangkat isu-isu mengenai perubahan lingkungan yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kegiatan manusia. Menurut Owen Greene (1993, 389), isu lingkungan telah menjadi fokus utama dari politik internasional dan menjadi perhatian sejak tiga dekade terakhir dari abad ke-20. Selain itu perang yang terus bergejolak dan pengaruh revolusi industri pada dasarnya sangat mengganggu stabilitas dan keberlangsungan hayati, serta keberlangsungan hidup umat manusia.

Pada tahun 1972 bertempat di Stockholm, dalam konferensi PBB tentang Human Environment secara langsung menjelaskan bahwasanya lingkungan sebagai tempat berkumpul bagi banyak orang termasuk didalamnya

kelompok masyarakat ekologi non-pemerintah dan organisasi, misalnya seperti Frends of the Earth, the International for Conservation of nature and Resources, dan WWF yang tertindak dibawah naungan UNESCO dan United Environment Programme (Boardman 1981; Willets 1982 dalam Archer

2003). Secara umum, WWF dan organisasi internasional non-pemerintah sejenis bekerjasama dengan organisasi internasional yang lebih besar seperti PBB, organisasi regional (EU, ASEAN, act.), serta berhubungan dengan mitra bisnis & industri. Sehingga kebayakan pada awal

pergerakannya cenderung memposisikan diri sebagai bagian dari organisasi internasional yang menjadi naungannya. WWF telah menampakan dirinya sebagai organisasi non-pemerintah yang independen dan terstruktur dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah suatu negara untuk menangani isu-isu lingkungan.

Memasuki abad millenium, WWF telah banyak membuktikan kerja kerasnya dalam menangani perubahan lingkungan yang dalam beberapa dekade terakhir telah dirasakan dampaknya. Perubahan lingkungan itu sendiri, dapat mempengaruhi perubahan iklim global, seperti efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozon dan sebagainya. Hal yang paling berperan penting dari perubahan lingkungan adalah perusakan hutan seperti illegal logging dan dalam kasus yang lebih parah yaitu pembakaran hutan. Pada lingkungan internasional, WWF telah berupaya diantaranya memerangi hal-hal yang menyangkut perusakan hutan. Melalui publikasi pada situs resmi WWF: annual report (2000) menyatakan bahwa sebagian besar penyebab perusakan hutan di Kenya bersumber dari industri dalam negeri yang

(5)

melalui kampanye “Good Woods”. Kampanye ini mampu mendorong masyarakat untuk menggunakan pohon yang memiliki masa pertumbuhan yang lebih cepat, seperti pohon nimba, jacaranda, grevillea dan mangga. Keberhasilan kampanye ini hanyalah salah satu satu dari sekian banyak permasalahan terkait lingkungan dalam lingkup global. WWF secara sadar telah memberikan perubahan, namun perubahan tersebut haruslah bukan saja hasil kerjakeras WWF sendiri, tetapi juga kerja keras dari masyarakat dalam lingkup nasioanal maupun internasional. Demikian juga yang tengah terjadi saat ini di Indonesia, WWF Indonesia tengah mengupayakan

kebijakan-kebijakannya sebagai hasil dari kerjasamanya dengan pemerintah Indonesia sejak awal berdirinya.

Sepak Terjang WWF-Internasional di Indonesia

World Wide Fund merupakan salah satu lembaga konservatif internasional di Indonesia yang telah menjadi organisasi non-profit berbadan hukum yayasan sejak tahun 1996. Sehingga WWF yang pada mulanya bekerja dalam lingkup internasonal berubah seiring diakuinya sebagai salah satu yayasan yang berbadan hukum tetap di Indonesia. Ruang lingkup kerjanya pun menjadi lebih bersifat nasional akan tetapi tetap dibawah naungan

WWF-internasional. WWF Indonesia memiliki visi yaitu menjaga keberlangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia secara keberlanjutan dan merata. Sedangkan misinya dibagi kedalam empat bagian penting, yaitu; (1) Menerapkan dan mempromosikan praktik-praktik konservasi dalam bidang sains, inovasi dan kearifan lokal, (2) Memfasilitasi pemberdayaan kelompok-kelompok yang retan, membangun koalisi dan bermitra dengan masyarakat madani dan bekerjasama dengan pemerintah & sektor swasta, (3)

Mempromosikan etika pelestarian, kesadaran serta aksi konservasi di

kalangan masyarakat Indonesia, (4) Melakukan advokasi dan mempengaruhi kebijakan, hukum dan institusi terkait tata kelola lingkungan yang lebih baik. Melalui visi dan misi tersebut, WWF Indonesia selalu berupaya melakukan negosiasi, advokasi dan diplomasi kepada stakeholder (baik pemerintah maupun pihak swata) demi kepentingan yang bersifat konservatif terhadap lingkungan sumber daya alam.

Gambar 2. Konservasi Badak Jawa di Ujung Kulon

(6)

WWF pertama kali berkiprah di Indonesia terhitung sejak tahun 1960-an, melalui upaya-upaya pelesarian populasi Badak Jawa yang terancam punah berdasarkan laporan hasil penelitian dari IUCN. Badak Jawa atau di kenal dengan nama ilmiah Rhinoceros Sondaicus tersebar di hampir seluruh pulau Jawa, hingga akhirnya hanya tersisa di daerah taman nasional Ujung Kulon. Status Badak Jawa telah terancam punah sejak tahun 1931, namun saat itu penanggulangan terhadap upaya-upaya pelestarian masih terhambat oleh banyak faktor. Sejak tahun 1960-1970, bersama dengan organisasi

konservasi alam dunia (UICN) dan pemerintah daerah Ujung Kulon WWF berupaya untuk meningkatkan jumlah populasi Badak Jawa melalui

penangkaran maupun monitoring habitat aslinya. Upaya tersebut akhirnya berhasil dilakukan berdasarkan temuan jejak tapak kaki anak Badak jawa dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rudolph & Dr. Lotte Schenkel pada tahun 1968 di Ujung Kulon (WWF Indonesia t.t). Kegiatan WWF pertama kali ini mendapat apresiasi yang baik dari pemerintah dan juga masyarakat, sehingga pada akhirnya meningkatkan jumlah populasinya yang semula hanya sekitar 20-30 ekor menjadi 50 ekor dengan angka

pertumbuhan 1% per tahun. Faktor-faktor lain yang menyebabkan

peningkatan jumlah populasi adalah dari daya dukung lingkungan tersebut. Berdasarkan hasil laporan WWF (2011), kegiatan pelestarian populasi Badak Jawa dilakukan melalui observasi perilaku, pola makan, serta penelitian mengenai resiko dan ancaman wabah penyakit yang merupakan hasil kerjasama dengan Departemen Kehutanan, petugas Balai Taman Nasional dan masyarakat lokal.

Adapun beberapa program-program jitu yang diterapkan WWF Indonesia untuk mencapai visi dan misinya. Pertama, melalui Forests Programme diharapkan WWF Indonesia tidak hanya mampu menjaga dan melindungi hutan tetapi juga melakukan upaya-upaya keonservatif seperti yang tertuang dalam misinya. Kedua, melalui Species Programme yang salah satu bukti nyatanya adalah pada upaya pelestarian badak jawa di taman nasional Ujung Kulon. Program ini berusaha mendorong masyarakat Indonesia yang

konsumtif untuk lebih memberi perhatian besar terhadap upaya-upaya perlindungan satwa langka di Indonesia dengan tidak mengkonsumsi ataupun memperjualbelikan hewan-hewan langka. Ketiga, Marine

Programme adalah hasil kerjasama WWF dengan pemerintah kelautan dan perikanan untuk mengembangkan dan melestarikan biota laut sehingga tidak hanya habis untuk di konsumsi. Indonesia yang merupakan negara maritim, sehingga sumber daya ikannya sangat melimpah ruah. Namun tidak menutup kemungkinan akan habis jika tidak ada upaya signifikan untuk membudidayakannya. WWF Indonesia sangat serius dalam hal ini untuk melestarikan biota laut melalui proses-proses perencanaan dan pelaksanaan guna menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Keempat, Climate Change Programme adalah suatu program yang di cangkan WWF untuk memperbaiki kondisi perubahan lingkungan yang saat ini benar-benar menjadi perhatian dunia internasional. Kondisi perubahan lingkungan tersebut diantaranya adalah perubahan musim dan perubahan cuaca/iklim dunia. Di Indonesia, ketidakstablian cuaca telah mempengaruhi ekonomi negara selain itu berdampak langsung pada bencana alam seperti banjir dan lain-lain.

(7)

Lingkungan alam yang menjadi tempat hidup bagi manusia dan makhluk hidup lainnya tengah menjadi isu hangat yang diperbincang hampir di seluruh dunia. Sama seperti yang terjadi di Indonesia, lingkungan menjadi tempat yang menunjang perekonomian dan menopang hajat hidup orang banyak sesuai dalam pembukaan UUD 1945. Namun sayangnya lingkungan yang menjadi penopang ekonomi masyarakat disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk mencapai kepentingannya. Penyalahgunaan

wewenang ini justru menyebabkan berbagai macam permasalahan bukan hanya bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia, melainkan juga bagi dunia internasional. Lingkungan alam di Indonesia sebenarnya menjadi daya tarik tersendiri bagi aktor-aktor internasional non pemerintah, seperti INGO untuk meneliti dan melakukan konservasi. Sebab dari dukungan lingkungan alam di Indonesia, muncul berbagi macam keanekaragaman hayati yang sebagian besar tidak dimiliki oleh daerah lain di seluruh dunia.

Selain rusaknya lingkungan dan menurunnya populasi hewan yang telah di kategorikan terancam punah, masalah lain yang di timbulkan dari rusaknya lingkungan ini berdampak pada kelangkaan pangan. Beberapa faktor

penyebabnya adalah berubahnya iklim, cuaca, dan menurunnya intensitas hujan sebagai pendorong kegiatan pertanian. Menurut Jackson & Sorensen (2013, 503), permasalahan mengenai isu-isu lingkungan merupakan hasil dari kelangkaan suplai pangan dunia, yang mana suplai tersebut tidak terdistribusi secara merata antara negara maju dengan negara-negara miskin – ketika pangan langka akan berakibat pada eksploitasi tanah secara berlebihan, sehingga menyebabkan deforestasi dan desertifikasi. Hilangnya lahan pertanian pada akhirnya berakibat fatal bagi ketahanan pangan suatu negara, sehingga mengakibatkan ketergantungan sumber daya bahan mentah (makanan dan sebagainya) antar daerah. Ambil contoh saja, seperti yang terjadi di pulau Jawa, beberapa daerah di pulau Jawa hampir tidak memiliki lahan pertanian lagi. Menilik permasalahan yang terjadi di Indonesia, kelangkaan pangan terjadi sebagai akibat dari hilangnya lahan pertanian yang dikonversi untuk pengembangan energi alternatif, atau konversi lahan untuk proyek tol terutama di pulau Jawa (Astuti, 2008). Sebagai jalan keluarnya, dicarikan alternatif lain oleh

pemerintah seperti pembukaan lahan pertanian baru di wilayah atau daerah yang jumlah penduduknya masih sedikit. Kalimantan dan Sumatera, serta daerah lainnya di luar pulau Jawa menjadi sasaran pengembangan dari pembukaan lahan pertanian, perindustrian maupun pertambangan, sehingga pada akhirnya menghilangkan ciri khas daerah tersebut sebagai

penyumbang cadangan oksigen dunia serta pencegah perubuah iklim dunia. Selain itu, dampak lain dari semakin banyaknya lahan pertanian,

perindustrian maupun pertambangan adalah hilangnya keanekaragaman hayati di tempat tersebut. Menurut Chomitz et al. (2007), menyatakan

bahwa keanekaragaram hayati mengacu pada aset alami yang berharga dan semuanya saling melengkapi sampai batas tertentu. Dalam beberapa kasus di Indonesia pernah juga hampir menyebabkan kepunahan hewan-hewan tertentu karena adanya kegiatan manusia dengan lingkungan secara berlebihan, tanpa memperhatikan keberlangsungannya.

(8)

Sumber: Kementerian Perindustrian dari laman resmi

http://www.kemenperin.go.id/download/289/Paket-Informasi-Komoditi-Minyak-Kelapa-Sawit

Pada peta di atas dapat dilihat kondisi perluasan dan tingkat produksi kelapa sawit di wilayah Indonesia. Data ini diambil pada tahun 2004 yang masih menunjukkan bahwa Sumatera dan Kalimantan sebagai daerah dengan produksi sekaligus menjadi lahan perkebunan itu sendiri. Diambil dari berita Ditjen Perkebunan: “Pertumbuhan Areal Kelapa Sawit Meningkat” (2014), menyatakan bahwa laju pertumbuhan luas areal kelapa sawit selama tahun 2004-2014 sebesar 7,76%, sedangkan produksi kelapa sawit meningkat rata-rata 11,09% per tahun. Terhitung pada tahun 2014 luas lahan yang

dimaksudkan untuk produksi kelapa sawit telah mencapai 10,9 juta Ha, dibagi kedalam tiga bagian kepemilikan. Lahan seluas 4,55 Ha atau sebesar 41,55% dikuasai oleh perkebunan rakyat, luas lahan 0,75 juta Ha atau sebesar 6,83% dikuasai oleh PTPN, dan sisanya seluas 5,66 juta Ha atau sebesar 51,62% dikuasai oleh pihak swasta baik nasional maupun

internasional. Perluasan lahan dan disertai peningkatan produksi kelapa sawit sebagai akibat dari pengaruh suplay and demand masyarakat dunia. Ekonomi negara Indonesia juga masih terbilang sedang berkembang, sehingga pada akhirnya menyebabkan dampak-dampak negatif dari perluasan lahan untuk produksi kelapa sawit.

Di Indonesia, isu-isu lingkungan sudah terjadi sejak lama dan hingga

sekarang masing menjadi polemik yang benar-benar sulit diatasi sendiri oleh pemerintah. Isu-isu lingkungan yang terjadi di Indonesia pun beragam, ditandai dengan berbagai aktifitas masyarakat maupun kelompok orang tertentu yang dengan sengaja maupun tidak sengaja telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Dalam beberapa kasus, justru yang mengakibatkan rusaknya lingkungan terutama hutan di Indonesia, diprakarsai oleh

perusahaan-perusahaan nasional maupun multinasional. Sumber masalah mengenai isu-isu lingkungan di Indonesia juga di sebabkan oleh lemahnya pengawasan dan penegakan hukum pemerintah. Praktek korupsi oleh beberapa mafia hukum juga menjadi salah satu problematika pemerintah dalam menangani masalah perizinan lahan untuk kegiatan tambang maupun perkebunan. Selama beberapa dekade terakhir, Pulau Kalimantan dan

(9)

Peran WWF-Indonesia Terhadap Perubahan Lingkungan Sekitar tahun 2000-an, WWF Indonesia mulai menaruh perhatiannya terhadap perubahan lingkungan. Melalui program sertifikasi hutan lestari (Forest Stewardship council/FSC) yang merupakan salah satu langkah awal WWF untuk menangani kegiatan penebangan hutan di Indonesia. Hal

tersebut juga di nilai sebagai hasil dari proses kemitraan WWF dan lembaga-lembaga internasional non pemerintah lainnya dengan lembaga-lembaga pemerintah. Selain itu, ada berbagai macam kegiatan lain yang telah dilakukan WWF dengan lembaga-lembaga pemerintah, masyarakat lokal, maupun INGOs lainnya untuk mengatasi masalah lingkungan di Indonesia. Dalam UU No. 5/1990 tertuang hasil kerjasama WWF dengan pemerintah Indonesia dalam rangka untuk melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistem

bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Berikut ini merupakan beberapa metode yang dilakukan WWF dengan pemerintah Indonesia maupu stakeholder dalam menanggulangi masalah lingkungan (WWF Strategic Plan, t.t), yaitu; (1) Melakukan tata kelola laut dan sumber daya air & energi yang berkelanjutan, (2) Pengelolaan konservasi melalui struktur yang kolaboratif dan berbasis kemasyarakatan, (3) Transformasi pasar pada sektor-sektor penting seperti kehutanan, pertanian dan

perikanan, (4) Menciptakan mekanisme keuangan yang inovatif demi pebiayaan berkelanjutan dan pengembangan instrumen ekonomi, (5)

Menciptakan pembangunan sosial berbasis konservasi dengan mewujudkan pelestarian, ketahanan dan mempertahankan sumber daya alam yang

merata dalam pengembangan integrasi dengan agenda-agenda sosial, (6) Melakukan kolaborasi regional berkelanjutan dengan mitra WWF di tingkat regional maupun global.

Sejak tahun 2000-an, WWF telah berupaya melalui berbagai program kemitraan dengan stakeholder dan pemerintah dalam hal menanggulangi berbagai isu-isu lingkungan. Kolabroasi antara WWF dengan pemerintah Indonesia memang terbilang cukup lama dan semakin hari semakin kuat. Selain dari visi, misi dan metode-metode yang di terapkan WWF Indonesia, terdapat tujuan yang juga menjadi salah satu bagian penting dari peran WWF. Seperti di kutip dalam WWF Strategic Plan (t.t, 15), pertama WWF Indonesia perlu melestarikan aset alam termasuk keanekaragaman hayati dan ekosistem serta bentang laut Indonesia untuk diatur secara adil demi pengamanan lingkungan, ekonomi dan sosial jangka panjang sebagai dasar bagi kesejahteraan, kedua WWF Indonesia perlu mempromosikan konservasi dan pemerataan pembangunan yang berkelanjutan dengan cara

memanfaatkan sumber daya keuangan, kemitraan dan menarik masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam transformasi etika konsumsi serta gaya hidup yang bersifat berkelanjutan.

(10)

Sumber: WWF dari laman resmi

http://wwf.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/borneo_rainforest_conserva tion/greenbusinessnetwork/roleofbusiness/

Heart of Borneo adalah adalah salah satu program kemitraan WWF melalui deklarasi tiga negara. Deklasrasi dari ketiga negara yang telah dimulai sejak tahun 2001 oleh WWF tersebut menempatkan para stakeholder sebagai aktor perubahan bagi lingkungan. Deklarasi tersebut mencapai keputusan pada bulan April 2005 dalam pertemuan multi-stakeholder yang bertempat di Brunei Darussalam. Tema dari pertemuan pada bulan April 2005 adalah “Three Countries-One Coservation Vision” kemudian di setujui oleh ketiga negara tersebut (Heart of Borneo Initiative, t.t). Dalam misi diplomatik HoB ketiga negara tersebut juga merepresentasikan badan-bandan internasional, diantaranya: UNESCO, ASEAN, IUCN, ITTO, WWF, Wildlife Conservation Society, The Nature Conservancy, TRAFFIC dan Brunei Nature Society. Pada tanggal 12 Februari 2007 HoB barulah secara resmi diimplementasikan dan ditandatangani oleh wakil dari ketiga negara pendukung program HoB. Program ini mencakup 30% dari wilayah kalimantan secara keseluruhan, yang didalamnya termasuk wilayah dari negara Malaysia, Indonesia dan Brunei Darussalam. Adapun terdapat enam kesepakatan dari hasil

pertemuan yang diselenggarakan di Brunei Darussalam pada tanggal 18-20 Juli 2007 seperti dikutip pada media berita “Heart of Borneo Initiative” (t.t),yaitu; (1) Setiap negara segera akan membuat rancangan dokumen proyek nasional, (2) Brunei Darussalam mengusulkan pembentukan

sekretariat tiga negara atau Heart of Borneo Center yang terdiri dari setiap negara, (3) Meneriman tawaran Asian Development Bank untuk misi

dukungan teknis di ketiga negara, (4) Malaysia akan mengadakan seri pertama ekspedisi Heart of Borneo pada bulan Juni 2008 di Serawak, (5) Indonesia ditunjuk sebagai negara pertama yang harus mengadakan lokarkalkarya tentang konservasi dan pembangunan berkelanjutan pada tahun 2008, (6) Pertemuan tiga negara Heart of Borneo kedua disepakati untuk diselenggarakan di Pontianak, Kalimantan Barat pada bulan Januari 2008.

(11)

Indonesia dan juga negara-negara yang berbatasan dengan Indonesia di pulau Kalimantan. Program ini mewadahi sebuah perkembangan

berkelanjutan dari visi, misi dan tujuan WWF Indonesia itu sendiri. Selain itu juga WWF Indonesia melihat perkembangan yang jauh lebih kedepan,

terutama menanggapi permasalahan ketersediaan pangan dan perubahan iklim dunia. Sehingga dengan program ini, diharapkan Indonesia dan WWF menjadi tonggak awal berdirinya sebuah bangsa yang mandiri dan kuat dalam hal penerapan lingkungan yang berkelanjutan.

Gambar 5. Program Green & Fair Products

Sumber: WWF dari laman resmi

http://www.wwf.or.id/program/inisiatif/social_development/greenandfairproducts/kampanye/

Pada tahun 2005, WWF telah berupaya secara konservatif dengan

pemerintah Indonesia melalui program “Green & Fair Products.” Program ini menjaring kelompok-kelompok masyarakat terutama di Pedesaan untuk mempromosikan produk hasil sumber daya alam setempat ke pasar nasional maupun internasional. Produk-produk yang di hasilkan juga berasal dari kawasan konservasi yang dikelola oleh WWF bersama dengan masyarakat, kemudian dibudidayakan secara berkelanjutan dan kemudian diproses melalui bisnis yang berbasis komunitas. WWF-Indonesia telah mencatat keberhasilannya dari upaya konservasi tersebut, diantaranya; (1) Madu hutan dari taman nasional Tesso Nilo, (2) Ukiran kayu berbentuk badak dan beras organik dari taman nasional Ujung Kulon, (3) Produk kerajinan dari taman nasional Betung Kerihun, (4) Hasil kerajinan rotan dan minuman & snack berbahan lidah budaya dari taman nasional Sebangau, (5) Minyak pohon eucalyptus dari taman nasional Wasur, (6) Beras organik, garam gunung dan kerajinan dari taman nasional Kayan Mentarang, (7) Snack rumput laut dari taman nasional Bali Barat, (8) hasil kerajinan dari taman rekreasi Riung Marine.

(12)

tujuannya salah satunya adalah untuk menjaga ketahanan pangan di Indonesia.

Kesimpulan

WWF telah menjadi salah satu bagian penting dalam mempengaruhi setiap kebijakan pemerintah khususnya pemerintah Indonesia terkait dengan perubahan lingkungan. Tolak ukur dari perubahan aklim dunia menjadi salah satu faktor bagi WWF untuk memperluas sepak terjangnya di bidang

konservasi lingkungan. WWF semula hanya sebagai organisasi yang menaruh perhatian penting kepada kondisi hewan-hewan langka atau terancam punah. Memasuki abad millenium, WWF secara sadar kemudian memperhatikan kondisi lingkungan yang di sebabkan oleh ulah manusia dengan cara konservasi berkelanjutan.

Program-program WWF Internasional kemudian diterapkan di Indonesia, melalui kerjasama antar pemerintah dengan stakeholder. Dalam

menjalankan programnya di Indonesia, WWF tidak secara serampangan menerapkan program WWF Internasional. WWF terlebih dahulu mengkaji dan menganalisis sejauh mana dampak yang telah di timbulakan dari kegiatan manusia terhadap perubahan lingkungan di daerah tersebut. Seperti halnya di tiga pulau besar di Indonesia, seperti Kalimantan,

Sumatera dan Papua menjadi fokus utama WWF dalam rangka melakukan konservasi alam. Terlebih di wilayah Kalimantan dan Sumatera, WWF sangat berperan aktif disana bukan hanya untuk penanggulangan kerusakan alam tetapi juga fokus terhadap konservasi hewan langka yang terancam punah.

WWF juga bekerjasama dengan badan-badan internasional seperti UNESCO, PBB, WB dan lain sebagainya. Kerjasama tersebut ditunjukkan agar dalam proses kerja WWF di suatu negara lebih mudah dan tanpa di persulit oleh pemerintah negara yang bersangkutan. Niat mulia tersebut akhirnya di tanggapi dengan baik oleh pemerintah Indonesia, sehingga tidak mempersulit WWF dalam proses kerjasamanya. Di Indonesia, WWF

mempunyai pengaruh cukup besar bagi setiap kebijakan pemerintah

mengenai lingkungan hayati. Namun yang menjadi pemasalahan sekarang antara WWF dengan pemerintah Indonesia adalah pada oknum-oknum yang dengan sengaja telah menyalahi aturan dan prinsip-prinsip pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.

Strategic plan WWF merupakan salah satu acara ampuh dalam mengatasi gejolak perubahan lingkungan terutama di Indonesia. WWF memang memiliki komitmen kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memegang penaruh besar dalam konservasi llingkungan berkelanjutan. Target utama dari WWF Indonesia sebenarnya terletak pada kebijakan pemeritah dan komitmen masyarakat untuk mencanangkan program konservasi lingkungan yang berkelanjutan. Seperti halnya peran-peran WWF Indonesia dalam mengimplementasikan strategic plan-nya bagi perkembangan program-program konservasi lingkungan dengan mitra WWF baik mitra regional maupun internasional.

Daftar Pustaka

(13)

Archer, C., 2003. International Organizations: Definitions and history; Classification of international organization. London, New York: Routlege, Taylor & Francis Group. [pdf]

Greene, O., 1993. International environmental regimes: verification and implementation review. Environmental Issues (p.p 388-389). [pdf] Wardah, Siti, Lutfi, J., 2014. Peran World Wide Fund for Nature Dalam

Program Heart of Borneo di Indonesia Periode 2012-2013. Skripsi. Jakarta: Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hadayatullah.

Perindustrian, D., 2007. Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit. Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian. Jakarta. [pdf]

Chomitz, Kenneth, M., et al., 2007. Dalam Sengketa?: Perluasan pertanian, Pengentasan Kemiskinan dan Lingkungan di Hutan Tropis (terj. Chriswan Sungkono). Laporan Penelitian Kebijakan Bank Dunia. Jakarta: Salemba Empat. [pdf]

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, 1990. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.

NN. (t.t). Heart of Borneo: Sejarah HoB. Heart of Borneo Initiative [online]. [daring] http://heartofborneo.or.id/id/about/heart-of-borneo-on-track diakses tanggal 28 September 2017

Astuti, Dewi, 2008. LIPI: Krisis likuiditas picu kelangkaan pangan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [online]. [daring]

http://lipi.go.id/berita/lipi-krisis-likuiditas-picu-kelangkaan-pangan/2068 diakses 28 September 2017

NN. (2014, 25 November). Pertumbuhan Areal Kelapa Sawit Meningkat. Kementerian Pertanian; Direktorat Jenderal Perkebunan [online]. [daring] http://ditjenbun.pertanian.go.id/berita-362-pertumbuhan-areal-kelapa-sawit-meningkat.html# diakses tanggal 28 September 2017

NN. (t.t). History. WWF [online]. [daring]

https://www.worldwildlife.org/about/history?

_ga=2.223307997.71080395.1508082274-1586703255.1508082274 diakses tanggal 28 September 2017

Sunarto. (t.t). Sejarah. WWF Indonesia [Online]. [Daring]

http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/whoweare/ diakses tanggal 28 september 2017

Eghenter, Cristina, (t.t). Tentang Kampanye. WWF Indonesia [online]. [daring]

http://www.wwf.or.id/program/inisiatif/social_development/greenandfai rproducts/kampanye/ diakses tanggal 28 September 2017

NN. (t.t). The Role of Business. WWF Global [online]. [daring]

http://wwf.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/bor neo_rainforest_conservation/greenbusinessnetwork/roleofbusiness/ diakses tanggal 28 September 2017

NN. (t.t). 50 Years of Environmental Conservation. WWF Global [online]. [daring] http://wwf.panda.org/who_we_are/history/ diakses tanggal 28 September 2017

NN. (t.t). WWF in the 60’s. WWF Global [online]. [daring]

http://wwf.panda.org/who_we_are/history/sixties/ diakses tanggal 28 September 2017

NN. (t.t). Badak Jawa. WWF Indonesia [online]. [daring]

(14)

WWF-Indonesia, “Javan Rhino”, (Factsheet, 2011), [daring]

http://www.wwf.or.id/en/news_facts/factsheets/?25260/Factsheet-Javan-Rhino [pdf]

WWF-Indonesia, “Promoting Equitable Distribution of Conservation Costs and Benefits”, (Annual Report, 2004), [daring]

awsassets.wwf.or.id/.../wwfid_annualreport_2004_2005.pdf

WWF-Indonesia, “Sending a Sustainable Society”, (Annual Report, 2012), [daring] http://www.wwf.or.id/en/news_facts/reports/annual_report/? 27880/WWF-Indonesia-Annual-Report-2011-2012 [pdf]

WWF-Indonesia, “Summary of Strategic Plan”, (Strategic Plan, t.t), [daring] http://awsassets.wwf.or.id/downloads/wwfid_strategicplan_2014_2018 _summary_final.pdf .

WWF-International, “Finance”, (Annual Report 2000), [daring] http://wwf.panda.org/who_we_are/organization/finance/

Kemenprin. (2007).

Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit.

Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian. [daring]

Gambar

Gambar 2. Konservasi Badak Jawa di Ujung Kulon
Gambar 5. Program Green & Fair Products

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat dilihat pada sasaran pelaksanaan Renstra Disdukcapil Kabupaten Pati Tahun 2017-2022 yaitu meningkatnya pelayanan administrasi kependudukan dan pencatatan

No. Jumlah organisasi yang dibina oleh bidang pemuda dan olahraga Dinas Pendidikaan, Pemuda dan Olahraga pada program peningkatan peran serta.. 182 kepemudaan tiap

Permasalahan utama yang dihadapi dalam pembangunan perumahan dan permukiman Kabupaten Kendal adalah masih terdapatnya rumah tangga yang belum memiliki hunian yang layak,

Pada bab ini disajikan berbagai permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategis baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional yang memberikan

4 Tahun 2014 tentang lembaga lain dan merupakan pembentukan Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu (BPMPT) Provinsi Jawa Barat, sekaligus mengintegrasikan BKPPMD

Perda RPJMD Kab.Takalar 2017-2022 IV-32 menunjukkan bahwa dari Tahun 2013 s/d 2015 sebanyak 16 kali dan Tahun 2016 sebanyak 21 kali sedangkan Tahun 2017 mengalami

Kebijakan ini sesuai dengan misi ke-5 juga sesuai dan relevan guna meningkatkan kehidupan beragama, seni dan budaya untuk membangun karakter kehidupan sosial yang

Permasalahan lainnya yang masih dihadapi Gresik adalah masih adanya masyarakat yang kekurangan gizi (undernutrition) dan kerdil (stunting). Penyelesaian permasalahan ini