• Tidak ada hasil yang ditemukan

Selametan Fungsi Ritual dan Sosial (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Selametan Fungsi Ritual dan Sosial (1)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah: Antropologi Agama

Fungsi Sosial dan Ritual dari Upacara Selametan dalam

Masyarakat Jawa

Nino Citra Anugrahanto

11/318531/SA/16060

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

(2)

Fungsi Sosial dan Ritual dari Upacara Selametan dalam Masyarakat Jawa

Agama merupakan salah satu unsur dalam tujuh unsur kebudayaan karena agama juga merupakan seperangkat sistem gagasan yang diperoleh manusia dengan sistem belajar. Dari waktu ke waktu agama ini terus berkembang dari yang tradisional ke modern. Didalam agama tradisional ada kecenderungan untuk melakukan kegiatan yang bertujuan menciptakan harmoni dengan lingkungan, maka ritual-ritual yang dilakukan pun bertujuan agar manusia dapat hidup dengan harmonis baik dengan lingkungan sosial maupun alamnya.

Jawa sebagai sukubangsa yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia memiliki ritual yang dinamakan dengan selametan. Sama halnya dengan ritual yang lain, slametan lebih bersifat relijius dan bertujuan untuk mohon berkah. Meskipun fungsi ritual untuk mendudukkan seseorang dalam posisi yang tidak ambigu, dalam prakteknya ritual ini juga memiliki fungsi sosial seperti yang diungkapkan Durkheim (1979) bahwa ritual memiliki peran yang penting dalam kehidupan sosial. Ritual merupakan bagian dari agama atau suatu kepercayaan. Jawa sebagai sebuah peradaban pun memiliki kepercayaan yang dinamakan dengan kejawen, dan selametan ini merupakan salah satu ritualnya. Selanjutnya dalam tulisan ini akan dibahas mengenai bagaimana selametan ini dianggap sebagai sebuah ritual dan apa saja fungsi dari ritual tersebut.

Slametan Sebagai Sebuah Ritual

(3)

membawa simbol tentang hidup atau mati, dan harapan-harapan apa saja yang diinginkan melalui upacara selametan tersebut. Disini dapat dikatakan bahwa kegiatan makan dalam selametan ini bersifat simbolis, dan melalui konsensus dari masyarakat serangkaian simbol yang telah disepakati tersebut ini dianggap sebagai sebuah ritual.

Upacara selametan sebagai sebuah ritual. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, merupakan kegiatan makan seremonial yang dipersembahkan kepada leluhur agar memperoleh berkah. Makanan-makanan yang terdapat dalam upacara ini memiliki simbol-simbol khusus sesuai dengan tujuan dari upacara tersebut memohon berkat untuk apa, apabila upacara merayakan kelahiran, maka sesajen atau makanan yang disajikan adalah yang makanan atau benda yang membawa simbol tentang hidup. Sebaliknya upacara kematian pun benda-bendanya membawa simbol-simbol tentang kematian juga harapan-harapan bagi yang meninggal dan yang hidup. Upacara ini isinya juga tidak hanya kegiatan makan saja, karena disertai dengan ceramah dan doa bersama. Ceramah merupakan pidato yang menyampaikan harapan-harapan yang diinginkan keluarga melewati acara selametan ini. Hampir sama dengan ceramah, perbedaan antara doa bersama dengan ceramah terdapat pada sifat sakral yang dimiliki upacara selametan, karena kegiatan doa merupakan bentuk sarana komunikasi antara manusia dengan Tuhan atau Leluhur dan sifat komunikasi ini ambigu—sebab, secara nyata hubungan yang terjalin adalah simbolis. Keambiguan inilah yang mengharuskan manusia untuk meletakkan perantara antara hal-hal yang ‘ada’ dan ‘tidak ada’. Posisi antara ‘ada’ dan ‘tidak ada’ itu disebut dengan ‘posisi ambang’, dan disinilah letak ritual sebagai suatu hal menjembatani manusia terhadap hal yang ‘ada’ dan ‘tidak ada’. Selametan dianggap sebagai ritual, karena menjadi jembatan antara yang keduanya beserta dengan unsur persembahannya yang dimiliki ritual ini yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan yang ‘tidak ada’ untuk mengisi kehadiran daripada yang ‘tidak ada’ itu sendiri. Disinilah ritual itu bekerja dimana ritual membentuk batas yang sebenarnya adalah buatan manusia sendiri untuk menjembatani antara yang ‘ada’ dengan yang ‘tidak ada’, seperti antara yang hidup dengan yang mati agar tidak berada pada kondisi yang ambigu.

(4)

adalah ritual berupa proses transisi seseorang dalam kehidupan. Seperti dalam kejadian lahirnya manusia yang menunjukkan masuknya manusia ke dunia dan kejadian matinya seorang manusia yang melalui diadakannya selametan ditujukan untuk menghantarkan manusia ke alam yang lain diluar dunianya. Hal ini dijelaskan oleh Edmund Leach (1976) bahwa simbol-simbol yang dikomunikasikan oleh masyarakat itu membentuk batas-batas baik ruang maupun waktu dalam kehidupan manusia, seperti antara hidup dan mati. Selametan seperti yang kita ketahui merupakan bentuk persembahan untuk para leluhur yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh berkah. Berkah ini sifatnya simbolis karena tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan tidak diketahui dengan jelas keberadaannya. Meskipun keberadaannya tidak jelas, berkah ini dipercayai ada karena menurut masyarakat diberikan oleh leluhur. Hal ini menyebabkan selametan dianggap sebagai sesuatu yang sakral, karena selametan ini berada diantara yang ‘ada’ dan ‘tidak ada’, dan tujuannya untuk menghantarkan seseorang dari yang ‘tidak ada’ ke ‘ada’ ataupun sebaliknya, agar seseorang tidak merasa ambigu lagi.

Selametan: Fungsi Sosial dan Ritual

Sebagai sebuah ritual, selametan seperti yang dijelaskan oleh Beatty (1999) memiliki unsur-unsur tertentu, yaitu kegiatan makan seremonial, benda-benda simbolis, pidato, dan doa bersama. Bila diuraikan secara lebih lanjut, unsur-unsur dalam upacara selametan dapat kita pisahkan antara yang hidup dan mati. Dari hal-hal tersebut kemudian dapat dirumuskan fungsi dari upacara ini, saya mencoba membagi fungsi dari upacara selametan ini menjadi dua, yaitu fungsi sosial dan fungsi ritual.

(5)

karena di acara selametan mereka akan bertemu dan bercengkrama, imbasnya adalah rasa solidaritas antara satu dengan yang lain terpupuk disini. Selain itu, dalam hal ini terbentuk pula semacam aturan sosial, bahwa dengan diadakannya upacara tersebut muncul keharusan untuk datang, sebab apabila tidak datang akan menjadi bahan perbincangan dalam masyarakat, dan secara tidak langsung bisa mengeksklusikan orang yang tidak datang pada acara selametan itu didalam masyarakat.

Pernyataan diatas sesuai dengan pendapat Emile Durkheim (1979) yang menyatakan bahwa ritual memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan sosial, salah satunya sebagai bentuk solidaritas masyarakat, dan pendapat Clifford Geertz (1973) dalam bukunya The Interpretation of Culture yang menyatakan;

“agama sebagai sistem simbol yang bertindak sebagai penguatan gagasan dan kelakuan dalam menghadapi kehidupan, yang dengan simbol-simbol itu konsep-konsep abstrak diterjemahkan menjadi lebih konkrit, menjadi aura yang menyelimuti konsepsi-konsepsi yang tidak nyata menjadi seolah-olah nyata hadir dalam kehidupan”.

(6)

Koentjaraningrat (1980) menjelaskan hal diatas melalui tiga gagasan penting dari Robertson Smith tentang upacara bersaji yang menurut saya memiliki kesamaan bentuk dengan upacara selametan ini sendiri. Tiga gagasan tersebut adalah:

- Sistem upacara merupakan perwujudan religi atau agama.

- Upacara religi atau agama yang dilakukan memiliki fungsi sosial yaitu untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat.

- Upacara religi mendorong rasa solidaritas dengan dewa atau para dewa.

Tiga gagasan tersebut menurut saya penting dalam pandangan bahwa agama memiliki peran yang tinggi dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Seperti yang kita ketahui, adanya selametan menjadi perwujudan atas kepercayaan terhadap kejawen. Lalu dalam prakteknya upacara selametan memiliki bentuk yang hampir sama dengan upacara bersaji, karena kesamaan tujuan antara keduanya yaitu mempersembahkan sesuatu bagi leluhur, namun dalam prakteknya upacara ini justru menyatukan masyarakat dengan persembahan yang dimakan bersama-sama. Para pemeluk agama memang ada yang melakukan upacara dengan motif memperoleh kepuasan batin dalam beribadah, namun lebih dari itu, upacara yang dilakukan ini secara tidak langsung juga menunjukkan kebutuhan manusia untuk melakukan upacara sebagai sebuah kewajiban sosial yang berimbas pada meningkatnya rasa solidaritas dalam kelompok sosial tersebut. Pandangan saya terhadap selametan pun juga begitu, karena selametan tidaklah semata-mata menjadi kegiatan makan seremonial saja, tapi juga menyatukan rasa solidaritas warga melalui prosesi yang dimilikinya dengan kegiatan makan dan doa bersama, sebab secara simbolis kegiatan makan dan doa bersama ini mewujudkan solidaritas dari sebuah kelompok sosial.

(7)

memberikan sumbangan bila warga yang lain juga mengadakan sumbangan. Dengan diberlakukannya sistem sumbangan sebenarnya hal ini mengikat rasa solidaritas warga, sehingga sumbangan memiliki sifat sebagai dana sosial.

Sebelumnya disinggung bahwa upacara selametan ini memunculkan keterikatan antara warga satu dengan yang lainnya melalui rasa keharusan untuk datang karena takut diperbincangkan citranya yang buruk di mata masyarakat atas ke-tidakdatangan-nya dalam upacara selametan. Seseorang diperlakukan seperti itu karena pandangan masyarakat Jawa terhadap kehidupan sosial itu tinggi nilainya. Sehingga, seseorang akan dianggap sebagai orang yang baik apabila seseorang itu dekat dan ramah dengan masyarakat, karena menurut mereka lingkungan sosial lebih penting, mengingat lingkungan sosial ini adalah tempat mereka hidup, dan dengan berlaku baik terhadap sesama di lingkungan sosialnya akan membantu seseorang untuk tetap bisa bertahan hidup. Hal ini sering ditemui pada kejadian preman-preman yang dianggap lebih baik oleh masyarakat Jawa daripada orang-orang yang rajin beribadah namun tidak pernah bercengkrama dengan warga, karena para preman tersebut ramah dan memiliki hubungan dekat dengan warga.

(8)

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas kita bisa mendapatkan pengertian mengenai bagaimana selametan dianggap sebagai sebuah ritual dan memiliki fungsi sosial yang cukup kuat. Selametan menjadi sebuah ritual karena ada benda-benda yang disakralkan didalamnya. Benda-benda tersebut disakralkan karena tujuannya sebagai sarana komunikasi dengan yang ‘tidak ada’. Disini terbentuklah batas antara yang ‘ada’ dan ‘tidak ada’, kemudian batas tersebut membuat masyarakat merasa ambigu, untuk menghilangkan perasaan tersebut diadakanlah ritual yang dalam kasus ini wujudnya berupa selametan, karena posisinya yang berada di ‘ambang’ atau antara ‘ada’ dan ‘tidak ada’. Sehingga upacara ini menjembatani antara yang ‘ada’ dan ‘tidak ada’ atau lebih jelasnya antara yang ‘hidup’ dan yang ‘mati’, karena upacara tersebut menjadi media pertemuan antara keduanya dengan kepercayaan akan berkat yang datang dari leluhur.

Dalam masyarakat Jawa melalui upacara slametan ini dapat ditemukan bagaimana agama menjadi berperan penting dalam kehidupan sosial dalam masyarakat, karena telah membentuk social order dengan bukti adanya acuan untuk berperilaku didalam masyarakat itu sendiri. Menurut saya disini agama fungsinya terbagi menjadi dua, yaitu fungsi sosial dan ritual. Secara sosial agama berfungsi meningkatkan solidaritas dalam masyarakat yang dapat kita lihat melalui kegiatan makan dan doa bersama. Kegiatan tersebut bukan hanya kegiatan makan atau doa begitu saja, karena kegiatan makan tersebut dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan seluruh masyarakat di suatu tempat tersebut.

(9)

Selanjutnya, disini saya melihat pentingnya dilestarikan ritual selametan bagi masyarakat di jaman yang sudah modern. Pada masyarakat yang modern individualitas sifatnya sangat tinggi sehingga harmoni untuk hidup secara kolektif tidak terbentuk, padahal saya rasa manusia sebagai makhluk sosial itu tujuannya untuk dapat hidup bersama dengan masyarakatnya, contohnya dengan rasa solidaritas dalam kolektif atau masyarakat. Yang ingin saya sampaikan adalah dengan tingginya individualitas yang disebabkan oleh kesibukan masing-masing warga dalam masyarakat, selametan dapat menjadi jalan untuk meningkatkan rasa solidaritas antar warganya dengan kegiatan-kegiatan seperti makan atau doa yang bersama yang dilakukan secara simbolis. Sebab, dengan kegiatan yang dilakukan secara simbolis tersebut, masyarakat yang tadinya memiliki kesibukan masing-masing memiliki keharusan untuk datang dalam acara tersebut yang akan mempertemukan dalam satu momen khusus yaitu upacara selametan ini sendiri.

(10)

Daftar Pustaka

Durkheim, Emile. 1979. “The Elementary Forms of Religion dalam Lessa, A. William dan Evon Z. Vogt (ed) Reader in Comparative Religion. New York: Harper and Row.

Beatty, Andrew. 1999. Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account. New York: Cambridge University Press.

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Culture. New York: Basic Books, Inc. Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press.

Leach, Edmund. 1976. Culture and Communication. New York: Cambridge University Press.

Referensi

Dokumen terkait

Pada perlakuan T0 pH kefir lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan T3, hal ini karena selama tiga hari penyimpanan bakteri asam laktat mulai melewati fase adaptasi dan

(1) reduksi data, peneliti melakukan proses pemilihan, pemusatan, dan penyederhanaan data berupa teks-teks yang menggambarkan hegemoni dalam novel Trilogi karya

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan sebuah WO adalah apakah kalimat-kalimat pada daftar langkah kerja ( task-list ) memberikan instruksi yang jelas,

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan pada table sebelumnya, peneliti menggambil kesimpulan bahwa ada hubungan kepadatan jentik Aedes aegypti dengan

Maka dari itu, menurut penulis, konsep kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership) yang ditawarkan oleh Eka Darmaputera bukan serta merta terlihat mudah untuk di

Pilihlah satu jawaban yang mempunyai arti sama atau paling dekat dengan arti kata yang dicetak dengan huruf kapital dengan cara menghitamkan bulatan yang sesuai dengan huruf di

Kehamilan adalah sat !roses fisiologi "ang ter#adi ham!ir !ada

Di Candirejo sebagaimana di desa lain, juga memiliki ciri tersendiri dalam hal pernikahan, karena pada dasarnya masalah perkawinan tidak bisa terlepas dari