• Tidak ada hasil yang ditemukan

CITRA WANITA DALAM NOVEL JAWA MODERN TAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CITRA WANITA DALAM NOVEL JAWA MODERN TAH"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

CITRA WANITA DALAM

NOVEL JAWA MODERN

TAHUN 1980-AN

Oleh D a r n i I Pen dahulu an

Wanita merupakan topik yang tetap hangat untuk dibicarakan datam karya sastra dari masa ke masa. Nama seorang wanita sering digunakan sebagai judul sebuah cerita pendek maupun novel. Tidak hanya karya sastra populer saja, yang pada umumnya menyajikan masalah pcrcintaan, yang mcletakkan wanita sebagai daya tank cerita, sastra serius pun sering tnengangkat wanita sebagai topik yang menarik.

Menurut bebcrapa pengamat (baca Geertz, 1989; Koentjaraningrat, 1984; Harjowirogo, 1984; Mulder, 1985; Kartodirjo, 1993), dalam masyarakat Jawa, pada umumnya wanita dianggap rae-ncmpati kedudukan yang lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan kaum

satu hal di antara cmpat hal yang patut dimiliki oleh laki-laki: wisma, curiga, turangga, wanita (rumah, pusaka, kendaraan,

dan wanita) (Herri, 1981: 23). Wanita merupakan barang yang ikut menegaskan kewibawaan dan kesempurnaan laki-laki.

(2)

PRASASTI * NO. 35 " TAHUN IX * OKTOBER 1999

Namun di penghujung abad ini, juga di akhir dasa warsa 1980-an, kesempatan kerja banyak diberikan kepada wanita lengkap dengan perlindungan terhadap kcsclamatan tenaga kerja wanita. Di samping itu, peran wanita dalam berbagai bidang kehidupan digalakkan demi suksesnya pembangunan,

Berdasarkan Iatar belakang di atas, masalah pokok yang akan dipecahkan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran wanita yang tercermin dalam karya-karya penulis pria pada tahun 1980-an dan adakah fenomena baru yang muncul?

Masalah di atas akan dipecahkan dengan menggunakan pendekatan fcminis dalam bidang sastra. Showalter (Rice, 1989:92-93) membagi kritik sastra fcminis dalam dua kategori, yaitu woman as reader dan woman as writer (Rice, 1989: 92-93). Kategori pertama, woman as reader, artinya bahwa wanita hanya sebagai konsumen atas karya sastra yang dihasilkan oleh laki-laki. Kategori kedua, woman as writer, artinya wanita sebagai penghasil teks atau penulis. Penelitian ini akan menggunakan kategori yang pertama.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas menganai wanita dalam novel Jawa modern tahun 1980-an mutlak diperlukan analisis teks. Sejalan dengan yang ditegaskan Teeuw (1988:136) bahwa analisis struktural merupakan langkah awal untuk menuju anal * lis lebih lanjut. Analisis teks nantinya akan dipusatkan pada analisis tokoh, alur, dan latar Analisis tokoh, latar, dan alur akan menggunakan konsep struktural Roland Bhartes (Moriarty, 1991:92-98).

Tulisan ini bertujuan meniberikan gambaran tentang citra wanita dan fenomena baru yang tercermin dalam karya-karya penulis pria pada novel Jawa modern tahun 1980-an.

Karya sastra yang akan diteliti ini adalah karya sastra Jawa, termasuk dalam pcriodc kesusastraan Jawa modern. Kemunculan kesusastraan Jawa modern menurut beberapa ahll (Hutomo, 1975:55; Ras, 1979:10-13) ditandai oleh lahirnya genre-genre baru seperti guritan atau puisi, carita cekak atau cerita pendek, carita sambung atau cerita bersambung, novel, dan drama. Karya sastra yang akan diteliti ini berbentuk cerita bersambung dan novel. Mengingat karya sastra Jawa modern merupakan sastra majalah, maka selain dalam bentuk buku, data akan diambi! dari majalah berbahasa Jawa seperti Panyebar Semangat, Joyo Boyo, Mekar Sari, dan Joko Lodhang. -

II Pembahasan

Penelitian ini meliputt penelitian terhadap gambaran wanita dalam karya-karya penulis pria dan penults wanita pada tahun 1980-an. Namun, dalam kesempatan ini, tulisan ini hanya akan menampilkan gambaran tentang wanita dari karya-karya penulis pria saja. Tampaknya untuk membicarakan keduanya sekaligus, terlalu luas.

(3)

QfTRA WANITA DALAM NOVEL JAWA MODERN

akan diarahkan pada gambaran tentang wanita mandiri.

Tiga buah novel yang menonjolkan peran wanita mandiri, masirig-masing adalah Suit, Alibi dan Sintru Oh Sintru. Dua novel di antaranya, yang msebtit pertama dan terakhir, menggambarkan emansipasi wanita dalam keluarga. sedangkan novel yang disebut kedua menggambarkan emansipasi wanita di tempat kerja. NovcFy^ing pertama, Suli, masih merupakan penggambaran tahap awal bagi perjuangan wanita untuk mandiri. Wanita masih dalam tahap melepaskan diri dari cengkeramanpria, belum sampai pada perjuangan wanita untuk mandiri. Oleh karena itu pembicaraan novel tersebut tidak perlu diteniskan dengan panjang lebar. Pembicaraan akan langsung pada dua novel yang lain.

Suryadi WS dalam Sintru Oh Sintru sangat memahami emansipasi dan feminisms yang sedangberlangsung, dan sekaligus ia menentukan «ikap terhadap gerakan tersebut.

Melalui tokoh Sintru Suryadi WS ingin menunjukkan suatu sosok wanita yang ingin mengubah tatanan sosial. Kita perhatikan kutipan berikut ini.

Sintru ngguyu-ngguyu nyawang bojone. Sareh saure, "Mas Candra. Aja ngendelke lanangmu, Wiyteit dim iki aku sing dadi direktufipabrik iki. Aku sing dadikepala somah ing kulawargane dhewe iki. Aja ngira wong wadon ora bisa dadi kepala somah." (him. 3)

Sintru tertawa memandang suaminya. PeJan tuturnya. "Mas Candra, jangan mcngandalkan keperkasaanmu. Mulai hari ini saya yang menjadi drrektur pabrik. Saya yang menjadi kepala rumah tangga.

Sintru ingin menggantikan suaminya menjadi direktur dan kepala rumah tangga. Rupanya Sintru berpendapat bahwa wanita bisa memimpin, baik di tempat kerja maupun di rumah.

Keinginan Sintru itu juga dibuktikan dalam usaha. Tidak seperti layaknya seorang wanita, Sintru mendirikan usaha bahan bangunan. Sintru beranggapan bahwa wanita juga dapat mendirikan usaha yang memerlukan tenaga kasar, membutuhkan kekuatan otot (hlra. 48). Sintru juga merasa bangga bisa memiliki karyawan yang semuanya pria, mulai dari pembantu sampai karyawan toko. Sampai pada puncaknya Sintru ingin membuktikan dirinya menjadi kepala rumah tangga. Kita perhatikan kutipan berikut.

; "Aku ora njaluk tebusan. Mas, mungsijipanjalukku: kowe aja njajah lan nguwasanl aku kaya lumrahe wong lanang marang bojone. Dak cukupi kabeh kebutuhanmu, dak turuti kabeh penjalukmu, nanging kowe kudu manut aturanku. Cekake sing nemtokake kawicaksman bale wisma aku (him. 63).

(4)

PRASASTI 'NO. 35 " TAHUNIX * OKTOBER 1999

Sintru menginginkan suaminya menghormati dan menurut aturan-aturan yang dibuatnya. Pada prakteknya Sintru ingin dilayani dalam segala hal, termasuk makan. Ia yangbekerja di toko, sedangkan suaminya diam di rumah, memasak, menyiapkan makan, dan menyeterika pakaiannya. Keinginan Sintru tersebut meskipun hanya bcberapabulan sempat terpenuhi ketika ia bersuamikan Sutar (him. 58).

Sintru juga ingin merubah total penampilannya. Dalam penampilan sehari-hari Sintru menggunakan pakaian pria, be reel ana dan kaos. Semua pakaian wanitanya dibakar (him. 39). Ia juga menggembleng jiwanya menjadi pemberani, membuang si fat halus dan lembut seperti yang dimi I iki wanita (him. 3 8). Kita perhatiakan dialog antara Sintru dan Sutar berikut ini.

"Selan!" pisuhe Sintru nyentak. "Ora niteni becike wong wadon!

Muni ngono karo nyandhak klambine Sutar, dikipatake metu saka kamar {him. 58).

"Setan!" Sintru mengumpat dengan menghardik. 'Tidak berterima kasih atas kebaikan wanita!"

Berkata seperti itu sambil memegang baju yang dikenakan Sutar, dilemparkan keluar dari dalam kamar.

Kata-kata dan tindakan yang dilakukan Sintru terhadap Sutar seperti dalam kutipan di atas mencerminkan sikap dan tindakan yang kasar. Menurut trad isi, kata-kata, sikap, dan tindakan seperti itu tidak layak di mil iki oleh wanita Jawa.

Kelakukan Sintru tersebut merupakan reaksi dari sakit liati atas perlakuan suaminya, Candra, yang dianggapnya sewenang-wenang: menuduh Sintru serong, mengancam akan membunuh anak dalam kandungan Sintru, dan mencari wanita lain (him. 4).

Semua sikap dan tindakan Sintru yang ingin mengadakan perubahan total terhadap tatanan sosial dan kedudukan wanita tersebut oleh pria dianggap sesuatu yang tidak mungkin. Hal itu dapat dilihat dari sikap tokoh-tokoh pria yang disajikan.

Candra njenger manoni lelakon iki. Kok elok, ana kudeta model anyar, rebut kuwasa dadi kepala somah. Apa iki tengara lakone manungsa bakal kuwalik? Apa iki titikane donya wis tuwa arep kiamat? Iki lelucon sing ora lucu babar pisan (hlm.6).

Candra tertegun menyaksikan keadaan ini. Ia sangat heran, ada model kudeta baru, merebut kekuasaan untuk menjadi kepala keluarga. Apakah ini suatu pertanda bahwa perjalanan hidup manusia akan terbalik? Apakah ini pertanda bahwa dunia sudah tua usianya kemudian kiamat? Ini suatu lelucon yang tidak lucu sama sekali.

(5)

CITRA WANITA DALAM NOVEL JAWA MODERN

diperjelas dengan keputusannya mengusir Sintru dengan membawa harta yang diinginkan untuk mendirikan pabrik dan rumah tangga sen diri (him. 7).

Kita perhatikan juga sikap suami kedua Sintru seperti dalam kutipan berikut ini.

"Ora cukup kuwi, Sintru. Kabeh kang kokcawisake kanggo aku ora cukup kanggo ngijoii ajining dhiriku sing kokrampas ana ngomah iki." (him. 58)

"Tidak hanya itu, Sintru. Semua yang kau sediakan untukku tidak cukup untuk menebus harga diriku yang kamu rampas di rumah ini."

Sutar diberi tagas memasak, seterika, dan menyiapkan makanan untuk Sintru, sedangkan Sintru bekerja di toko. Setelah bcrlangsung tiga bulan ternyata Sutar tidak bisa lag: menerima perlakuan seperti itu. Ia merasa harga dirinya sebagai laki-laki terampas. Tekanan dari pihak wanita dan pekerjaan rumah tangga bagi pria akan merun-tuhkan harga diri laki-laki.

Kita perhatikan juga sikap tokoh Mursid mengenai tata cara berbusana berikut ini.

Ing angen-^ngene Mursid katon ana pasangan kakung putri kang saJaras banget. Pasangan wong edan ing jaman edan iki.

Mursid lukar penganggo edane, bali nganggo sandhangane t&kawit (him. 68-9).

Dalam bayangan Mursid tampak pasangan pria wanita yang selaras sekali. Pasangan orang gila di jaman edan ini. Mursid melepas pakaian edannya, mengenakan pakaian semula.

Mursid bersedia menjadi pengantin Sintru. Pada hari perkawinan dan seterusnya Mursid sanggup mengenakan pakaian pengantin wanita. Namun kesanggupan itu, bagi Mursid hanya merupakan lelucon saja. Mursid menganggapnya sebagai pakaian orang gila. Fandangan tersebut dipertegas dengan mat Mursid untuk meninggalkan Sintru pada hari perkawinan. Dalam berbagai pandangan berkaitan dengan pandangan tokoh-tokoh pria seperti yang telah diuraikan di atas tokoh Mursid juga me/nil iki pandangan yang sama.

Sikap dan pandangan tokoh-tokoh pria di atas memang mewakili sikap penulis terhadap emansipasi wanita. Penulis menentang emansipasi wanita yang dianggap berlebihan tersebut. Sikap tersebut diperjelas dengan meninggalnya tokoh Sintru di akhir cerita. Kematian Sintru disebabkan oleh binatang piaraannya sendin. Kematian Sintru dan sebab kematiannya juga menyiratkan bahwa perjuangan wanita yang berlebihan akan merugikan bahkan membunuh dirinya sendiri.

(6)

PRASASTI' NO. 35 * TAHUN IX * OKTOBER 1999 ■

Partini Aja mencap-mencep,ya, CahAyu. Encepmu kuwikekuatane ngungkulijebluge GunungMerapi, mengko dhadhaku iki ndhak jebol." (him. 113)

Partini. Jangan mencibirkan bibir seperti itu, cantik. Cibiranrnu itu kekuatannya melebihi kekuatan gunung berapi, dadaku bisa meledak nanti.

Partini meruit iki senyum yang indah dan sikap yang lembut. Mursid menyukai senyum itu. Ia juga menyukai kelembutan dan kehalusan sikap dan tingkah lakunya. Kita perhatikan pula adegan berikut ini.

...Tangan singngepel kenceng menthengkelek iku, jebul lemes dadakan, mung kena daya usapan kang lumer Ian esem kang endah merakati. Iku bocah sih isih murni. Yen wong diwasa kepriye? (him. 103)

...Tangan yang mengepal erat itu ternyata mendadak lemas, hanya karena daya kekuatan usapan lembut dan senyum yang indah menawan hati Itu anak kecil yang masih murni. Bagaimana dengan orang dewasa?

Penulis menggambarkan bahwa kcmdalian yang dimiliki wanita seperti senyuman dan usapan yang lembut memil iki kekuatan yang dahsyat, mampu meluluhkan kemarahan pria, Pandangan seperti itu juga digambarkan dimiliki oleh wanita, yaitu tokoh Partini. Namun, tokoh Partini juga seorang wanita yang suka mandiri, bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Partini semula seorang guru. Setelah bcrhenti dari pekerjaannya ia mendirikan usaha pakaian jadi (him. 49). Dengan jelas Partini memang mempunyai kesadaran untuk mandiri (him. 77),

Sikap penulis tersebut diperjelas dengan sikap tokoh Mursid yang lebih menyukai kelembutan dan kehalusan Partini dari pada kekerasan dan kckasaran yang dimiliki Sintru.

Corak feminis yang diinginkan penulis juga diperjelas oleh pengakuan Sintru di akhir hayatnya yang menyatakan bahwa ia menyadari bahwa kelembutan dan kehalusan yang dimiliki wanita sebenamya merupakan daya tank yang hebardan senjata yang ampuh untuk menundukkan pria. Wanita tidak perlu menyaingi kekuatan pria dengan; kekuatan otot, melainkan cukup dengan keindahanyang dimilikinya (him, 126). .. ■

Penulis juga menunjukkan pembagian kerja yang harmonis dalam keluarga seperti kutipan berikut ini.

ban kaya wis dirembug sadurunge, Partini utheg ing pawon nggodhog wedang lan gawe sarapan. Mursidnyapujogan lan latar. Kabeh lumaku kanthi rasa tila. Satemah lega tanpa ana rasa ngresula.

(7)

C1TRA WANITA DALAM NOVEL JAWA MODERN

Pria dan wanita sepakat mengadakan pembagian pekerjaan rumah tangga. Mursid bertugas membersihkan rumah: menyapu lantai dan halaman. Dijelaskan pula bahwa pria dapat menerima pembagian tugas tersebut dengan perasaan iklas, sehingga tidak muncul pcrcekcokkan.

Novel yang ketiga ini terbit pada tahun yang sama dengan novel kedua yang dibicarakan di atas, yaitu tahun 1993. Novel ini sudah tidak lagi membicarakan kedudukan wanita dalam rumah tangga. Selangkah lebih maju, novel ini menggambarkan emansipasi dan kcmandirian wanita di tempat kerja.

Alibi menampifkan tokoh wanita yang bekerja sebagai polisis wanita. Penonjolan

tokoh wanita dalam novel ini memang disengaja. Hal itu dapat dilihat dari peran yang diberikan kepada tokoh Anggar, Anggar berpangkat letnan dan memegang jabatan sebagai kepala di sebuah kantor polisi. Selain itu tokoh Anggar diberi peran sebagai kepala detektif dalam mengusut masalah berat di suatu perusahaan, Pemberian peran sebagai detektif ini memang merupakan penonjolan tersendiri, karena dalam novel maupun cerita bersambung Jawa jarang sekali penulis pria yang mempercayakan peran tersebut kepada tokoh wanita.

Penulis tidak lagi menggambarkan tokoh wanita sebagai mahluk yang lemah. Kita perhatikan kutipan berikut ini.

Lambe tipis, abang teles tanpa gincu. Esem sing katon sumr'mgah. Jroning batin ngalembana... Ora mathuk yen pawakan lencir katone ringkih tansah ngayahi kuwajiban abot, ora etung wektu. Yen ora kebeneran nyawa totohane (sen 10).

Bibir tipis, merah basah tanpa gincu. Senyum yang selalu tampak ceria. Dalam hati memuji... Tidak cocok apabila bentuk badan yang tinggi semampai, kelihatan ringkih, selalu mengerjakan pekerjaan yang berat, tidak ingat waktu. Kalau nasib kurang baik nyawa taruhannya.

Narasi tersebut merupakan penilaian seorang tokoh pria. Melalui tokoh tersebut penulis ingin menegaskan bahwa postur tubuh wanita yang tampaknya lemah, namun bisa menyelesaikan tugas yang berat dan berbahaya, seperti yang bisa dilakukan oleh pria. Penulis juga menampilkan sosok wanita kerja yang sederhana, tidak mengundang hasrat pria, yaitu tidak bergincu. Seperti yang dikemukakan oleh Ferguson (1981:9) bahwa salah satu ciri wanita yang berperan sebagai wanita tradisional adalah wanita yang selalu mempercantik diri untuk menarik hasrat pria. Begitu juga senyum yang ceria tidak digunakan wanita untuk memperdaya pria.

Penggambaran tokoh wanita yang tidak konvensional seperti sebagian besar pandangan pria juga tergambar pada tokoh Sari. Sari adalah seorang sekretaris. Sebagai sekretaris. Sari tidak terlibat hubungan akrab di luar pekerjaan dengan atasannya. Justru, Sari digambarkan sebagai tokoh yang teliti dan raj in (scri 8). Ketelitian Sari sangat membantu terbongkarnya kejahatan atasannya.

(8)

PRASASTI ' NO. 35 * TAHUN IX * OKTOBER 1999

"Sapapak?" Pitakone Letnan Anggar ngambali. Panyawange saya mandhes. Suhar nyoba nglirik, nanging durung nganti samenft gage-gage ndhingkluk. Suhar ora kuwawa nantang panyawang singgedhe perbawane kuwi (sen 6).

"Siapa pak?" Letnan Anggar mengulangi pertanyaayaannya. Pandangan matanya semakin tajam. Suhar mencoba mencuri pandang, tetapi belum sampai satu menit segera me menundukkan kepala. Suhar tidak sanggup melawan pandangan mata yang penuh wibawa itu.

Letnan anggar memiiiki wibawa yang besar. Tokoh pria yang oernama Suhar di atas tidak sanggup melawan pandangan mata Anggar yang berwibawa. Bukan hanya wibawa saja, iajugapandai. Hal itu terbukti bahwa ia berhasil menguak dan mcnemukan pelaku pembongkaran brankas perusahaan tersebut (sen 10).

Penonjolan tokoh wanita sebagai wanita mandiri juga tergambar pada (okoh-lokoh wanita yang lain, seperti Sersan Dini, Yanti, dan Yuli. Ketiga sersah tersebut anak buah Letnan Anggar yang memiliki andhil besar terhadap penanganan kejahatan tersebut. Ketiga tokoh wanita tersebut digambarkan sebagai wanita yang tidak mudah putus asa dan tidak mudah digodha oleh pria (sen 10). Tidak mudah putus asa menunjukkan suatu sikap yang tidak pasip. Tidak mudah digoda juga merupakan sifat yang tidak dimiliki oleh wanita yang mengambil peran tradisional, misalnya wanita sebagai obyek seks.

III. Fenutup

Penonjolan tokoh-tokoh wanita di atas mencerminkan sikap penulis yang mendukung keberadaan wanita sebagai wanita mandiri.

Bila kita bandingkan dengan hasil pengamatan para ahli, seperti telah discbutkan pada bagian pendahuluan, terdapat suatu fenomena baru. Pria tidak hanya memahami, menerima, dan mendukung keinginan wanita untuk mandiri, pria juga mau menerima dan melakukan pembagian pekerjaan rumah tangga. Sikap tersebut akan memperingan tugas wanita yang menjalankan peran ganda. Disepakatinya pembagian rumah tangga mempermudah dan memperlancar upaya wanita untuk mandiri.

DafUr Pustaka

Aminuddin

1990 "Metode Kualilatif dalam Penelitian Karya Sastra" dalam Aminuddin. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam bidang Bahasa dari Sastra. Malang: Yayasan 3 A.

(9)

QTRA WANITA DALAM NOVEL JAWA MODERN

Ferguson, Mary Anne

1981 Images of Women in Literature. London: Palo Alto.

Geertz, Cliffort

1989 Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Geertz, Hildred

1983 Keluarga Jawa. Jakarta: Grafiti Press.

Herri, S

1981 "Wanita: Alas Kaki di Siang Hari, Alas Tidur di Waktu Malam" dalam Prisma, no. 7,

Hutomo, Suripan Sadi

1975 Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Jakarta: Pusat bahasa. Kartodirdjo,

Sartono

1993 Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta: GajahMada University Press.

Koentjaraningrat

1984 Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Moriarty, Michael

1989 Roland Bhartes. Cambridge: Politi Press. Rass,

J.J.

1979 Javanese Literature Since Independence. The Hague: Martimis Nijhoff.

Showalter, Elaine

1989 'Towards a Feminist Poetics' dalam Philip Rice. Modern Literary Theory, A Reader. Great Britain: Chapman and Hall.

Teeuw, A

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini tidak hanya mengetahui beberapa variabel seperti motivasi, kepemimpinan, kompetensi, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja untuk dilihat pengaruhnya

 Postur tubuh yang buruk atau membungkuk dapat menyebabkan peregangan pada ligamen tulang belakang dan pembentukan abnormal dari tulang belakang (vertebrae)1. 

Rian Ningsih Pramunita, 2017. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Peta Pikiran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Benda Dan Sifatnya Kelas V MI Islamiyah

Penerapan Manajemen Nyeri pada Pasien Kanker oleh Perawat di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Skripsi Fakultas

Selama 15 hari difermentasi, nilai pH, kadar air dan total mikroba menurun, namun kadar protein dan jumlah bakteri asam laktat mengalami peningkatan.. Kata kunci: ikan

Hasil belajar afektif berupa sikap siswa terhadap pembelajaran IPS dengan menggunakan PAKEM dengan bantuan media pada siswa kelas VIII- A SMP N 1 Kandeman. Sikap

nilai yang paling tinggi berdasarkan matriks QSPM di dapat strategi yang paling diprioritaskan yaitu strategi meningkatkan promosi, hal yang dilakukan perusahaan

Pada penggalan puisi yang berjudul Hujanku Menghilang, pada bait pertama baris pertama, kedua, dan ketiga menggunakan gaya bahasa personifikasi karena gaya bahasa tersebut