PENERAPAN SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN docx

32  10 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Oleh

CINDY HOSIANI DHEA PUTRI SORMIN 1514131169

Karya Tulis Ilmiah

Sebagai Salah Satu Syarat Seleksi Mahasiswa Berprestasi Tingkat Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2018

(2)

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan karya tulis ilmiah berjudul ”Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture System) untuk Mendukung Tercapainya Ketahanan Pangan di Indonesia” dapat selesai tepat pada waktunya. Karya tulis ilmiah ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dan cara pandang penulis terhadap permasalahan pertanian mengenai degradasi sumberdaya alam dan permasalahan nasional saat ini yaitu ketahanan pangan. Penulis berharap melalui penulisan karya ilmiah ini dapat menjadi referensi bagi pembaca sehingga memiliki wawasan dalam menjaga sumber daya alam, terlebihnya lagi dapat dipraktekkan untuk menjaga keberlangsungan alam dan mencapai ketahanan pangan.

(3)

Judul Karya Tulis : Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Tercapainya Ketahanan Pangan dan Keberlangsungan Sumberdaya Pertanian di Indonesia Nama Lengkap : Cindy Hosiani Dhea Putri Sormin

NPM : 1514131169

Jurusan : Agribisnis Fakultas : Pertanian

Universitas : Universitas Lampung

Bandar Lampung, 12 Maret 2016

Mengetahui,

Dosen Pembimbing, Penulis,

Cindy Hosiani Dhea P.S NPM. 1514131169

Menyetujui,

Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P NIP. 196411191989031001

(4)

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

KATA PENGANTAR... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

DAFTAR ISI... iv

RINGKASAN ... v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan ... 4

D. Manfaat Penulisan ... 4

II. TELAAH PUSTAKA A. Konsep Ketahanan Pangan... 5

B. Konsep Sistem Pertanian Berkelanjutan... 6

III.METODE PENELITIAN A. Metode Pengumpulan Data dan Informasi ... 9

B. Metode Pengolahan Data ... 9

C. Metode Ananlisis Data ... 10

D. Penulisan Kesimpulan ... 10

E. Perumusan Saran dan Rekomendasi ... 10

III. PEMBAHASAN A. Kondisi Ketahanan Pangan Nasional ... 11

B. Pengembangan Sistem Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional.…...…... 14

(5)

B. Rekomendasi ... 25

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(6)

PENERAPAN SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE AGRICULTURE SYSTEM) UNTUK MENDUKUNG TERCAPAINYA

KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

Oleh

CINDY HOSIANI D.P.S

Indonesia merupakan negara agraris dengan luas lahan pertanian mencapai

39,475,694.00 hektar (Pusdatin Kementan, 2014), hal tersebut menyatakan bahwa pertanian merupakan salah satu sektor primer pendukung pembangunan nasional. Sistem pertanian di Indonesia telah mengalami evolusi sepanjang abad sebagai yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas di sektor pertanian. Sejak

pemerintahan orde baru menerapkan Revolusi Hijau, dunia disilaukan oleh peningkatan drastis produksi pangan yang hanya berlangsung sesaat. Kebijakan pertanian pada masa orde baru, yang dikenal Revolusi Hijau, bersifat memusat dan cenderung represif terhadap berbagai kreatifitas usaha tani, pada kenyataannya melahirkan sebuah pola agribisnis yang berbiaya tinggi dan kurang berwawasan lingkungan. Akibat revolusi itu, sisi negatif mulai muncul dan berdampak pada degradasi sumber daya alam. Di sisi lain, Dengan laju pertambahan penduduk, menyebabkan produksi harus dipacu lebih cepat. Jika tidak ditangani secara bijaksana akan menimbulkan masalah ketahanan pangan, apalagi jika ketahanan pangan

dikaitkan dengan peningkatan kualitasnya.

Untuk mengatasi dan mencegah dampak negatif yang ditimbulkan oleh teknologi Revolusi Hijau, perlu dilakukan konsep teknologi baru dalam pertanian. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Pasal 2

menjelaskan bahwa sistem budidaya tanaman sebagai bagian pertanian dilakukan dengan asas manfaat, lestari, dan berkelanjutan. Adanya dinamika tersebut

mendorong munculnya gagasan untuk mengembangkan suatu sistem pertanian yang tidak merusak alam. Konsep pertanian berkelanjutan sebagai implementasi

pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan sebagai solusi Indonesia dalam

mencapai ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlangsungan sumber daya alam. Dalam penerapan konsep pertanian berkelanjutan juga harus memperhatikan

(7)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris dengan luas lahan pertanian mencapai

39,475,694.00 hektar (Pusdatin Kementan, 2014), hal tersebut menyatakan bahwa pertanian merupakan salah satu sektor primer pendukung pembangunan nasional. Sistem pertanian di Indonesia telah mengalami evolusi sepanjang abad sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Perubahan-perubahan di sektor pertanian diharapkan mampu meningkatkan produktivitas di sektor pertanian.

Pendekatan dan praktek pertanian konvensional yang dilaksanakan di sebagian besar negara maju dan negara sedang berkembang termasuk Indonesia merupakan praktek pertanian yang tidak mengikuti prinsip-prinsip pembangunan

berkelanjutan. Pertanian konvensional dilandasi oleh pendekatan industrial dengan orientasi pertanian agribisnis skala besar, padat modal, padat inovasi teknologi, penanaman benih/varietas tanaman unggul secara seragam spasial dan temporal, serta ketergantungan pada masukan produksi dari luar yang boros energi tak terbarukan, termasuk penggunaan berbagai jenis agrokimia (pupuk dan pestisida), dan alat mesin pertanian. Secara teoritis dan perhitungan ekonomi penerapan pertanian konvensional dianggap sebagai alternatif teknologi yang tepat untuk menyelesaikan masalah kekurangan pangan dan gizi serta ketahanan pangan yang dihadapi penduduk dunia.

(8)

masyarakat semakin meragukan masyarakat dunia akan keberlanjutan ekosistem pertanian dalam menopang kehidupan manusia pada masa mendatang. Pendekatan pragmatis peningkatan produksi pangan jangka pendek cenderung mendorong dan meningkatkan praktek pengurasan dan eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran dan terus menerus sehingga mengakibatkan semakin menurunnya daya dukung lingkungan pertanian dalam menyangga kegiatan-kegiatan pertanian.

Semangat untuk menjaga pertanian dalam koridor keberlanjutan semakin masif ketika terjadi degradasi tanah khususnya lahan pertanian dan air baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini menurut Gliessman (2007), terjadi karena selama ini pertanian konvensional hanya ditempatkan dalam konteks peningkatan produksi tanpa memperhatikan aspek lingkungan. Fokus keberhasilan pertanian hanya menggunakan indikator produktivitas untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya dalam tempo yang cepat, seperti penggunaan pupuk kimia, pestisida, sistem irigasi dan mesin-mesin pertanian modern. Walaupun potensi sumberdaya alam Indonesia sangat besar, apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan cara-cara yang tepat maka ekosistem tersebut mudah terdegradasi.

(9)

Oleh karena itu, tantangan pertanian saat ini dan masa depan adalah bagaimana pertanian dapat mamasok kebutuhan hidup manusia secara secara berlanjut, yaitu terutama pangan, tanpa banyak menimbulkan degradasi sumberdaya alam. Dalam rangka menjaga ketersediaan pangan (hasil pertanian) dalam jangka panjang, dibutuhkan produksi pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture). Pembangunan berkelanjutan mulai dikenal sejak tahun 1987, kemudian mengalami perbaikan komitmen global dengan konsep Rio+10 di Johannesburg pada tahun 2002 yang memiliki tiga dimensi yaitu keberlanjutan usaha ekonomi (profit), keberlanjutan kehidupan sosial manusia (people), dan keberlanjutan ekologi alam (planet). Konsep tersebut kemudian mengalami perluasan komitmen global menjadi Rio+20 pada tahun 2012 yang menitikberatkan pada empat dimensi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan hidup, dan governansi. Konsep tersebut dikenal dengan nama ekonomi hijau (green economy). Sistem pertanian berkelanjutan merupakan salah satu penerapan green economy di bidang pertanian di Indonesia. Sistem pertanian berkelanjutan adalah solusi tepat, yang merupakan pengelolaan sumber daya untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam (Reijntjes, 2002)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah sistem pertanian yang diterapkan hingga saat ini sudah mampu menjamin ketahanan pangan nasional?

2. Apakah sistem pertanian berkelanjutan dapat mendukung ketahanan pangan nasional?

(10)

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini yaitu:

1. Mengetahui kemampuan penerapan sistem pertanian saat ini dalam menjamin ketahanan pangan nasional.

2. Mencermati bahwa sistem pertanian berkelanjutan yang berbasis agribisnis dapat mendukung ketahanan pangan nasional.

3. Memahami konsep untuk mendukung ketahanan pangan nasional melalui sistem pertanian berkelanjutan berbasis agribisnis.

C. Manfaat

Dengan ditulisnya karya ilmiah ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Pemerintah sebagai bahan informasi dan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan penanggulangan masalah ketahanan pangan dan degradasi sumber daya alam pertanian.

(11)

II. TELAAH PUSTAKA

A. Konsep Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan menurut Undang-Undang nomor : 18 tahun 2012 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan. Food and Agriculture Organization (FAO) (1997), mendefinisikan ketahanan pangan sebagai suatu kondisi dimana semua rumah tangga mempunyai akses, baik fisik maupun ekonomi, untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya. Ada 3 komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan rumah tangga yaitu :

(1) Kecukupan; yang artinya bahwa pangan tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik jumlah maupun mutunya, serta aman; (2) Distribusi, dimana pasokan pangan dapat menjangkau seluruh wilayah

sehingga harga stabil dan terjangkau oleh rumah tangga; dan

(3) Konsumsi, yaitu setiap rumah tangga dapat mengakses pangan yang cukup dan mampu mengelola konsumsi kaidah gizi dan kesehatan, serta

preferensinya.

(12)

kawasan Asia dan Afrika. Awalnya ketahanan pangan hanya terfokus pada penyediaan pangan pada tingkat nasional maupun internasional terutama padi-padian. Sehingga pada awal masa orde baru kebijakan ketahanan Indonesia didasarkan pada penyediaan pangan yang lebih dikenal dengan istilah Food Availability Approach (FAA) (Rindayati, 2009).

Ketahanan Pangan menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Berdasarkan pada konsep dasar ketahanan pangan di atas, aspek strategis dalam ketahanan pangan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu ketersediaan, stabilitas, akses dan penggunaan pangan. Ketersediaan pangan dan stabilitas merupakan aspek ketahanan pangan di tingkat makro sedangkan akses pangan dan penggunaan pangan adalah aspek ketahanan pangan di tingkat mikro. Terpenuhinya kondisi masing-masing aspek ini secara simultan adalah syarat mutlak untuk terwujudnya ketahanan pangan yang mantap.

C. Konsep Sistem Pertanian Berkelanjutan

Sistem pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture system) adalah

pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam. Pertanian berkelanjutan merupakan pengelolaan konservasi sumber daya alam dan berorientasi pada perubahan teknologi dan kelembagaan yang dilakukan sedemikian rupa untuk menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang (Reijntjes dkk, 1999).

(13)

berkelanjutan, jika kegiatan tersebut secara ekonomis, ekologis dan sosial bersifat berkelanjutan (Srageldin, 1996 dalam Dahuri, 1998). Berkelanjutan secara

ekonomis berarti suatu kegiatan pembangunan harus dapat membuahkan pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan capital (capital maintenance) dan penggunaan sumber daya serta investasi secara efisien. Berkelanjutan secara ekologis mengandung arti bahwa kegiatan tersebut harus dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan dan konservasi sumber daya alam termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity). Sementara itu

berkelanjutan secara sosial, mensyaratkan bahwa suatu kegiatan pembangunan hendaknya dapat menciptakan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mobilitas sosial, kohesi sosial dan pengembangan kelembagaan.

(14)

Seiring perkembangan zaman, pada tahun 2012 dilakukan perluasan komitmen global terhadap pembangunan berkelanjutan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rio+20 yang telah menghasilkan dokumen berjudul "The Future We Want”. Ekonomi hijau (green economy) dan kelembagaan pembangunan berkelanjutan menjadi dua agenda pembahasan Konferensi Tingkat Tinggi Berkelanjutan atau "Rio+20" yang diadakan di Rio de Janeiro, Brazil, tanggal 20--22 Juni 2012. Green economy menurut UNEP ialah aktifitas ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan manusia, sekaligus secara signifikan mengurangi kerusakan lingkungan dan kelangkaan sumberdaya alam. Model green

economy dibangun dengan visi “modernisasi ekologi” dimana pertumbuhan ekonomi dan konservasi lingkungan bekerja beriringan. Di Indonesia, penerapan green economy pada lingkup pertanian selaras dengan sistem pertanian

berkelanjutan (sustainable agriculture system). Berikut ini merupakan model green economy:

Gambar 2. Konsep Green Economy (Lisbet, 2012).

(15)

III. METODE PENULISAN

A. Metode Pengumpulan Data dan Informasi

Data dan informasi yang digunakan adalah hasil kajian pustaka. Kajian tersebut dapat merupakan data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai instansi terkait, seperti Badan Pusat Statistik. Untuk menambah data dan informasi yang diperlukan, digunakan pula data yang berasal dari buku, jurnal, artikel ilmiah, dan referensi internet.

B. Metode Pengolahan Data

Dalam mengolah data dan informasi yang telah didapatkan, dilakukan hal hal sebagai berikut:

1. Pencatatan, yaitu proses pemindahan data yang telah didapat ke dalam suatu dokumen dasar yang telah disiapkan sebagai suatu daftar data.

2. Klasifikasi, masing-masing data yang didapatkan dapat mendukung teori yang berbeda, walaupun masih merujuk pada masalah yang sama. Untuk memudahkan proses analisis dan sintesis data, maka data diklasifikasikan terlebih dahulu sesuai pokok permasalahan yang terkandung di dalamnya. 3. Penyusunan data, yaitu pengaturan data sedemikian rupa agar data-data

tersebut dapat memberikan informasi secara runtut, saling mendukung, dan menjadi suatu informasi yang dapat menjawab pertanyaan penelitian. 4. Penulisan laporan, memungkinkan penulis menuangkan hasil analisis dan

sintesis data. Penulisan laporan memerlukan penyimpulan atau pembuatan rekapitulasi laporan sesuai dengan keinginan pemakai informasi

(16)

Metode yang dipakai adalah metode deskriptif-analisis, sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi permasalahn berdasarkan data dan fakta yang ada. 2. Membandingkan dengan teori dan pustaka yang mendukung.

3. Menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya.

4. Mencari pemecahan masalah dari perumusan masalah yang telah ditetapkan.

D. Penulisan Simpulan

Data hasil kajian pustaka yang telah diperoleh akan dianalisis dan disintesiskan dengan rumusan masalah yang telah ditentukan. Kemudian akan diperoleh suatu pemecahan masalah. Pemecahan masalah tersebut akan dicoba dirangkum dalam suatu simpulan yang dapat berisi gambaran umum dari permasalahan yang ada, teori dan data yang berkaitan, serta solusi pemecahan masalah tersebut.

E. Perumusan Saran dan Rekomendasi

Simpulan yang diperoleh berdasarkan analisis dan sintesis yang telah dilakukan dapat berisi solusi atas permasalahan yang telah dirumuskan. Saran dan

rekomendasi ditulis berdasarkan solusi yang telah ditemukan yang merupakan alternatif pemikiran, prediksi transfer gagasan, dan konsep yang dapat

(17)

IV. PEMBAHASAN

A. Kondisi Ketahanan Pangan dan Pertanian di Indonesia

Aspek strategis dalam ketahanan pangan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu ketersediaan, stabilitas, akses dan penggunaan pangan. Terpenuhinya kondisi masing-masing aspek ini secara simultan adalah syarat mutlak untuk terwujudnya ketahanan pangan yang mantap. Peningkatan ketersediaan pangan diarahkan pada peningkatan produksi dalam negeri pada komoditas padi, jagung, kedelai, daging dan gula. Peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai dilakukan melalui upaya khusus produksi padi, jagung dan kedelai dalam rangka mencapai swasembada pangan. Kegiatan utama yang dilakukan dalam upaya khusus peningkatan produksi tersebut adalah pengembangan/Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), optimasi lahan (opla), Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) - padi, jagung, kedelai, Perluasan Areal Tanam (PAT) jagung dan kedelai, penyediaan bantuan benih, penyediaan bantuan pupuk, serta

pengawalan/pendampingan. Perkembangan produksi komoditas pangan penting selama tahun 2010-2014 dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2010-2014

Sumber: Kementrian Pertanian (2014)

(18)

50% agar masyarakat dapat hidup lebih sehat, aktif, dan produktif. Konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia berdasarkan data SUSENAS (2016) menunjukkan kenaikan pada periode 3 (tiga) tahun terakhir. Rata-rata konsumsi kalori penduduk Indonesia padatahun 2016 sebesar 1.992,69 kkal atau naik sebesar 149,94 kkal dibandingkan tahun 2014. Sementara konsumsi protein meningkat 2,03 gram. Kenaikan konsumsi kalori terjadi pada hampir semua kelompok barang, dimana tertinggi terjadi pada kelompok makanan dan minuman jadi sebesar 107,13 kkal serta minyak dan lemak sebesar 32,69 kkal. Sumber utama konsumsi kalori penduduk Indonesia adalah dari kelompok padi-padian yang mencapai 44,00% pada tahun 2016, diikuti oleh kelompok makanan dan minuman lain sebesar 19,59%.

Tabel 2. Perkembangan konsumsi beras dalam rumah tangga Indonesia (2010-2016) serta proyeksi (2017-2019)

Keterangan: * hasil proyeksi pusdatin

(19)

Kondisi saat ini, pemenuhan pangan sebagai hak dasar masih merupakan salah satu permasalahan mendasar dari permasalahan kemiskinan di Indonesia. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 menggambarkan masih terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, yaitu belum terpenuhinya pangan yang layak dan memenuhi syarat gizi bagi masyarakat miskin, rendahnya kemampuan daya beli, masih rentannya stabilitas ketersediaan pangan secara merata dan harga yang kurang terjangkau, masih ketergantungan yang tinggi terhadap makanan pokok beras, kurangnya diversifikasi pangan, belum efisiensiennya proses produksi pangan serta rendahnya harga jual yang diterima petani, masih ketergantungan terhadap impor pangan. Diperkuat penilaian dari Para Pakar Ekonomi yang tergabung dalam Forum Economis Intelligence Unit (EUI) tahun 2014, bahwa perkembangan indeks ketahanan pangan (IKP) global Indonesia menempati posisi pada urutan 64, angka tersebut jauh di bawah Malaysia (33), China (38), Thailand (45), Vietnam (55) dan Philipina (63).

Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan, justru yang terjadi dalam 20 tahun terakhir banyak lahan produktif yang hilang. Berlanjutnya konversi lahan

pertanian untuk kegiatan nonpertanian, yang menyebabkan semakin sempitnya basis produksi pertanian. Dalam kaitan ini, sektor pertanian menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air secara lestari. Di sisi lain, BPS tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237,641,326 jiwa atau meningkat sebesar 15,21% dari tahun sebelumnya. Kondisi ini membutuhkan ketersediaan pangan yang cukup agar tidak menjadi salah satu penyebab instabilitas pangan nasional. Selain masalah besarnya populasi dan semakin sempitnya lahan pertanian,

(20)

ongkos transportasi, sering ditemuinya kasus kekurangan produksi di sejumlah daerah, dan masalah stabilitas harga. Pada dasarnya masalah ketahanan pangan ini merupakan masalah nasional yang perlu diperhatikan secara menyeluruh.

B. Pengembangan Sistem Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Permasalahan pertanian Indonesia sangatlah kompleks untuk dapat diurai. Sejak pemerintahan orde baru menerapkan Revolusi Hijau, dunia disilaukan oleh peningkatan drastis produksi pangan yang hanya berlangsung sesaat. Revolusi Hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting: penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas. Melalui Revolusi Hijau, terjadi peningkatan hasil

tanaman pangan berlipat ganda dan tercapainya swasembada (kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Kebijakan pertanian pada masa orde baru, yang dikenal Revolusi Hijau, bersifat memusat dan cenderung represif terhadap berbagai kreatifitas usaha tani, pada kenyataannya melahirkan sebuah pola agribisnis yang berbiaya tinggi dan kurang berwawasan lingkungan (Daniel dan Gudon 1998).

Akibat revolusi itu, sisi negatif mulai muncul. Produksi padi terus menurun. Salah satu kambing hitam dari turunnya produksi adalah hilangnya kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang terlalu intensif. Penggunaan bibit baru justru melahirkan hama baru bagi padi. Hama baru tersebut harus diberantas dengan pestisida baru yang dijual perusahaan obat-obat pertanian. Semakin parah, hama wereng yang diberantas jadi kebal terhadap pestisida yang dipakai oleh petani. Akibatnya, biaya produksi pangan naik. Petani harus membeli bahan bakar untuk traktornya, pupuk kimia dan benih hibrida yang belum pernah teruji daya

(21)

sawah yang jelas lebih hemat biaya operasional, ramah lingkungan dan dapat dijadikan aset tabungan. Penggunaan bahan kimiawi membunuh biota tanah, mengkritiskan tanah, meracuni lingkungan, manusia dan binatang.

Untuk mengatasi dan mencegah dampak negatif yang ditimbulkan oleh teknologi Revolusi Hijau, perlu dilakukan koreksi dan penyempurnaan sistem tersebut. Beberapa konsep teknologi yang dapat mendukung keberlanjutan sistem produksi dan kelestarian lingkungan sebelumnya telah dikemukakan, di antaranya adalah agroekoteknologi (Sumarno, 1998); usahatani ramah lingkungan; pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (Makarim dan Las, 2005); dan yang lebih menekankan kepada aspek kelestarian lingkungan adalah konsep pertanian organik (Uphoff dan Gani, 2005). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Pasal 2 menjelaskan bahwa sistem budidaya tanaman sebagai bagian pertanian dilakukan dengan asas manfaat, lestari, dan berkelanjutan. Selain itu, dalam Bab V (Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Budidaya Tanaman) Pasal 44 ayat (2) menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan pertanian dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian dan kemampuan lahan maupun pelestarian lingkungan hidup khususnya konservasi tanah.

Agenda prioritas Kabinet Kerja Presiden Jokowi-Jusuf Kalla tahun 2014-2019 yang dituangkan dalam Nawa Cita mengarahkan pembangunan pertanian ke depan untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang diterjemahkan sebagai kemampuan bangsa untuk mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, mengatur kebijakan pangan secara mandiri, serta melindungi dan menyejahterakan petani sebagai pelaku utama usaha pertanian pangan. Arah kebijakan umum kedaulatan pangan dalam RPJMN 2015-2019 adalah pemantapan ketahanan pangan menuju kemandirian pangan dengan peningkatan produksi pangan pokok, stabilisasi harga pangan, terjaminnya harga pangan yang aman dan berkualitas dengan nilai gizi yang meningkat, serta meningkatnya kesejahteraan pelaku usaha pangan.

(22)

berkembang konsep pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) yang merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rio+20 telah menghasilkan dokumen berjudul "The Future We Want," yang berisi visi bersama para kepala negara maupun pemerintahan untuk memperbaharui komitmen terhadap

pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), perekenomian, sosial dan lingkungan hidup. Hal tersebut dituangkan dalam perekonomian hijau (green economy) yang merupakan perluasan komitmen global dengan memperluas dimensi pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Demi mengaplikasikan pembangunan yang berkelanjutan diperlukan dukungan dari seluruh pihak agar tercipta pembangunan berkelanjutan di segala aspek. Sebagai langkah lanjut, Indonesia menghimbau segera diwujudkannya green economy (Lisbet, 2012).

Pembangunan pertanian berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani secara luas melalui peningkatan produksi pertanian yang dilakukan secara seimbang dengan memperhatikan daya dukung ekosistem sehingga keberlanjutan produksi dapat terus dipertahankan dengan meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan. Pertanian berkelanjutan juga banyak diidentikan dengan istilah LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) atau LISA (Low Input Susteainable Agriculture). Secara umum, pertanian berkelanjutan bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan (quality of life). Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan paling tidak tujuh macam kegiatan, yaitu: meningkatkan pembangunan ekonomi, memprioritaskan kecukupan pangan, meningkatkan pengembangan sumberdaya manusia, meningkatkan harga diri, memberdayakan dan memerdekakan petani, menjaga stabilitas lingkungan, dan memfokuskan tujuan produktivitas untuk jangka panjang (Manguiat 1995 dalam Salikin 2007).

(23)

negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika antara tahun 1999 dan 2000 menunjukkan terjadinya kenaikan hasil rata-rata hingga 79%. Proyek-proyek tersebut menerapkan teknik penggunaan air yang lebih efisien, peningkatan jumlah bahan organik dalam tanah serta pemerangkapan karbon, dan pengendalian hama, gulma dan penyakit tanaman dengan teknik pengelolaan hama terpadu. Pada tahun tersebut, tercatat 12,6 juta petani telah mengadopsi praktek pertanian berkelanjutan dengan luas areal pertanian berkisar 37 juta hektar atau setara dengan 3% dari luas lahan yang dapat ditanami di Afrika, Asia dan Amerika Latin (Rukmana, 2012).

Hasil studi Rodale Institute (2011) menunjukkan keunggulan pertanian organik, yang merupakan contoh dari pertanian berkelanjutan, dibandingkan dengan pertanian konvensional. Keunggulan tersebut yakni performa yang lebih baik pada musim kemarau dan menghemat 45% penggunaan energi dibandingkan pertanian konvensional. Pertanian konvensional menghasilkan 40% lebih banyak emisi gas rumah kaca yang dapat memperparah pemanasan global. Rodale Institute lebih lanjut lagi menemukan fakta bahwa pertanian organik tiga kali lebih

menguntungkan dibandingkan dengan pertanian konvensional. Data selama periode 2008-2010 menunjukkan keuntungan yang diperoleh pertanian organik mencapai $ 1.395/hektar setiap tahunnya, sementara pertanian konvensional hanya memperoleh $ 475/hektar/tahun. Hal ini disebabkan biaya produksi pertanian organik tidak memerlukan biaya untuk pembelian pestisida dan pupuk kimia dengan harga yang mahal, serta harga tanaman organik yang relatif lebih tinggi di pasaran (Maquito, 2012).

Salah satu contoh penerapan pertanian berkelanjutan adalah sistem pertanian organik. Teknik-teknik yang digunakan dalam pertanian organik merupakan pendekatan dari sistem pertanian berkelanjutan yang menekankan pada pelestarian dan konservasi sumber daya alam. Kegiatan-kegiatan yang menunjang pertanian berkelanjutan menurut Suryana (2008) diantaranya:

1. Pengendalian Hama Terpadu

(24)

melalui metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT merupakan pengendalian hama yang dilakukan dengan menggunakan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah di bawah ambang batas yang merugikan dengan cara-cara yang aman bagi lingkungan dan makhluk hidup. Beberapa cara pengendalian hama terpadu yakni:

 Menggunakan serangga atau binatang musuh alami hama seperti Tricogamma sp.

 Menggunakan tanaman penangkap hama untuk menjauhkan hama dari tanaman utama,

 Melakukan rotasi tanaman untuk mencegah terakumulasinya patogen dan hama yang sering menyerang satu spesies (Endah dan Abidin, 2002). 2. Konservasi Tanah

Konservasi tanah merupakan penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan

memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan dan dapat berfungsi secara berkelanjutan. Kegiatan

konservasi tanah diantaranya dengan membuat sengkedan atau terasering pada lahan miring untuk mencegah terjadinya erosi, melakukan reboisasi atau penanaman kembali lahan kritis, melakukan pergiliran tanaman atau crop rotation dan menanam tanaman penutup tanah (cover crop).

3. Menjaga Kualitas Air

Kegiatan yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air antara lain: mengurangi penggunaan senyawa kimia sintetis ke dalam tanah yang dapat mencemari air tanah, menggunakan irigasi tetes yang menghemat penggunaan air dan pupuk, melakukan penanaman, pemeliharaan dan kegiatan konservasi tanah pada kawasan lahan kritis terutama di hulu daerah aliran sungai.

4. Diversifikasi Tanaman

(25)

sepanjang tahun dan meminimalkan kerugian akibat kemungkinan kegagalan dari menanam satu jenis tanaman saja.

5. Agroforestri (wanatani)

Agroforestri merupakan sistem tata guna lahan (usahatani) yang mengkombinasikan tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk

meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan. Sistem ini membantu terciptanya keanekaragaman tanaman dalam suatu luasan lahan untuk mengurangi resiko kegagalan dan melindungi tanah dari erosi serta meminimalisir kebutuhan pupuk dari luar lahan karena adanya daur-ulang sisa tanaman.

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan ke depan adalah bagaimana mengembangkan pola kerja sama (kemitraan) antara pemerintah, akademisi, pebisnis, dan lembaga masyarakat yang akan memperkuat integrasi pencapaian ketahanan pangan nasional, sehingga bisa berjalan lebih efisien dan efektif disertai adanya jaminan atas ketersediaan pasokan komoditas pangan di pasar, dengan harganya yang terjangkau serta mempunyai kualitas gizi yang baik untuk di konsumsi oleh masyarakat. Strategi pembangunan yang dapat diterapkan adalah Pembangunan Agribisnis (agribusiness led development) yaitu strategi

pembangunan ekonomi yang mengintegrasikan pembangunan pertanian berkelanjutan (perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) dengan

pembangunan industri hulu dan hilir pertanian serta sektor-sektor jasa yang terkait di dalamnya (Saragih, 1998). Untuk mendayagunakan keunggulan Indonesia sebagai negara agraris dan maritim dalam menghadapi tantangan liberalisasi Perdagangan, perubahan pasar internasional, pemerintah harus mengembangkan sistem dan usaha agribisnis berdaya saing (competitiveness), berkerakyatan (people-driven) dan berkelanjutan (sustainable). Pembangunan pertanian berkelanjutan melalui pendekatan pengembangan sistem agribisnis akan memberikan beberapa manfaat yaitu;

(26)

2. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas produk-produk pertanian karena adanya keterpaduan produk berdasarkan tarikan permintaan (demand driven),

3. Meningkatkan efisiensi masing-masing subsistem agribisnis dengan keterkaitan antar subsistem

4. Terbangunnya kemitraan usaha agribisnis yang saling memperkuat dan menguntungkan, dan

5. Adanya kesinambungan usaha yang menjamin stabilitas dan kontinuitas pendapatan seluruh pelaku agribisnis (Saragih, 1998).

Sistem dan usaha agribisnis yang dikembangkan pemerintah, harus berkerakyatan, berlandaskan sumber daya yang dimiliki rakyat baik sumberdaya alam, teknologi (indigenous technologies), kearifan lokal (local widom), dan mengikutsertakan pelaku agribisnis. Disamping itu pengembangan sistem dan usaha agribisnis juga harus berkelanjutan, baik dari segi ekonomi, teknologi maupun dari segi ekologis. Dari sisi ekonomi, pembangunan sistem dan usaha agribisnis harus berakar pada sumberdaya ekonomi lokal, inovasi teknologi ramah lingkungan, dan kreativitas (skill) pelaku agribisnis. Maka dari itu, perlu suatu kebijakan yang komprehensif guna meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia, seperti perbaikan infrastruktur terkait, land reform policy agar petani tidak lagi sekedar menjadi buruh tani, perbaikan mekanisme subsidi pupuk, serta perluasan lahan pertanian, dengan harapan hasil produksi meningkat sehingga terwujud ketahanan pangan nasional dan petani sejahtera.

Pemerintah harus mengembangkan secara sinergis pembangunan sistem agribisnis yang mencakup;

1) Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness), yakni industri-industri yang menghasilkan barang-barang modal pertanian, seperti industri

perbenihan/ pembibitan, tanaman, ternak, ikan, dll;

(27)

3) Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness), yaitu industri-industri yang mengolah komoditi pertanian primer menjadi olahan seperti industry makanan/ minuman, pakan, dll, dan

(28)
(29)

IV. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Adapun simpulan yang dapat diambil dari penulisan karya ilmiah ini yaitu:

1. Praktek pertanian konvensional yang boros energi tak terbarukan di samping membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat juga belum mencapai sasaran ketahanan pangan secara mantap dan berlanjut.

2. Sistem pertanian berkelanjutan secara jangka panjang dapat menunjang kelangsungan hidup sistem pertanian melalui praktek-praktek pertanian yang ramah lingkungan serta mampu meningkatkan produktivitas dengan

memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi, sehingga dapat menunjang ketahanan pangan nasional.

3. Pertanian berkelanjutan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani secara luas melalui peningkatan produksi pertanian yang dilakukan secara seimbang dengan memperhatikan daya dukung ekosistem sehingga keberlanjutan produksi dapat terus dipertahankan dengan

meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan. Sistem pertanian

berkelanjutan mampu meningkatkan produktivitas pertanian 79% lebih tinggi dibandingkan pertanian konvensional. Dalam pengembangannya tidak lupa harus mengikutsertakan pembangunan dari sektor hulu hingga hilir agar tercapai sistem yang kuat untuk mencapai ketahanan pangan.

B. Rekomendasi

(30)

1. Pemerintah perlu melakukan pembangunan di sektor pertanian secara menyeluruh dan intensif sehingga dapat mendukung terciptanya proses produksi berkelanjutan yang memenuhi kebutuhan pangan.

2. Pemerintah perlu melakukan perencanaan yang disusun secara lebih cermat, holistik, terarah, dan saling berkomitmet untuk membangun sistem pertanian berkelanjutan yang tidak hanya berlanjut dari segi produksi dan ekonomi tetapi juga memperhitungkan keseimbangan ekosistem

sumberdaya alam.

(31)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik (BPS). 2000. Hasil Sensus Penduduk, Penyerapan Tenaga Kerja. Jakarta: BPS.

Dahuri, R., Rais,J., Ginting, S.P., Sitepu, M.J. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Davis, H. J. and R.A. Golberg. 1957. A Concept of Agribusiness. Harvard Graduate School of Business Administration. Boston, Massachusets.

Food and Agriculture Organization (FAO). 1997. The Right to Food: In Theory and Practice. FAO. Rome.

Gliessman SR. 2007. Agroecology: The Ecology of Sustainable Food System Ed ke-2. CRC Press. Boca Raton.

Lisbet. 2012. Green Economy dan Konferensi Tingkat Tinggi Rio+20. Jurnal INFO Singkat Hubungan Internasional Vol. IV, No. 12/II/P3DI/Juni/2012.

Makarim, A.K. dan E. Suhartatik. 2005.Strategi dan Teknologi Pengelolaanlahan, Air, Tanaman Dan Organisme(LATO) pada Pertanaman Padi Varietaselit. Lokakarya Pemuliaan Partisipatifdan Lokakarya Diseminasi Hasil Pe-nelitian Padi Tipe Baru, Balai PenelitianTanaman Padi, Sukamandi, 24-26Februari 2005. 15 hlm

Maquito, Max (2012) ‘Sustainable Agriculture as an E3 Approach to Reducing Rural/Urban Poverty’, 14 th SGRA Shared Growth Seminar “The Urban-Rural Gap and Sustainable Shared Growth” April 26, 2012 at the School of Labor and Industrial Relations, University of the Philippines

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian . 2014. Statistik Lahan Pertanian 2009-2013. Sekretaris Jenderal Kementrian Pertanian. Jakarta.

(32)

Rindayati, W. 2009. Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Kemiskinan dan Ketahanan Pangan di Wilayah Provinsi Jawa Barat. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Salikin KA. 2007. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Saragih, Bungaran. 1998. Agribisnis, Paradigma Baru Pembanguan Ekonomi. Berbasis Pertanian. Yayasan Mulia Persada. Jakarta.

Sumarno. 1998. Penyediaan Benih Berdasarkan Adaptasi Varietas Kedelai pada Agroklimat Spesifik. Prosiding Lokakarya Sistem Produksi dan Peningkatan Mutu Benih Kedelai di Jawa Timur. JICA-BPTP Karangploso-Diperta Jawa Timur. p. 1-12.

Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). 2016 . Konsumsi Kalori dan Protein Penduduk Indonesia dan Proyeksi. https://microdata.bps.go.id diakses pada 11 Maret 2018.

Suryana, A. 2008. “Ketahanan Pangan dan Keamanan Energi Untuk Kebangkitan Indonesia”. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. Jakarta.

Suryana, A. 2003. Kapita Selekta, Evolusi Pemikiran Kebijakan Ketahanan Pangan. BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta

Uphoff. N. 2006. Higher Yields With Fewer External Inputs? The System of

Figur

Gambar 1. Konsep pembangunan berkelanjutan (Dahari, 1998).
Gambar 1 Konsep pembangunan berkelanjutan Dahari 1998 . View in document p.13
Gambar 2. Konsep Green Economy (Lisbet, 2012).
Gambar 2 Konsep Green Economy Lisbet 2012 . View in document p.14
Tabel 1. Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2010-2014
Tabel 1 Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2010 2014. View in document p.17
Tabel 2. Perkembangan konsumsi beras dalam rumah tangga Indonesia (2010-2016) serta proyeksi (2017-2019)
Tabel 2 Perkembangan konsumsi beras dalam rumah tangga Indonesia 2010 2016 serta proyeksi 2017 2019 . View in document p.18

Referensi

Memperbarui...