MENCERMATI MANUVER POLITISI
Kecemasan Taufik Kiemas kalau isterinya akan menghadapi sandungan yang berarti dalam Pemilu 2004 mungkin beralasan. Sebab sangat mungkin pesaingnya akan menyanyikan lagu Cukup Sekali bagi Megawati Soekarnoputri dalam Pemilu 2004. Maksudnya mereka menghendaki agar Megawati cukup satu kali saja menjadi Presiden Untuk periode selanjutnya perlu ditampilkan pemimpin bangsa yang lain, Yaitu Presiden yang mungkin lebih tangkas dan lebih berani mengambil keputusan-keputusan penting dalam mengatur negara. Sebutlah untuk pembersihan KKN dan menyelamatkan ekonomi Indonesia, juga untuk menggelindingkan kembali roda reformasi nasional.
Agenda reformasi nasional dalam masa kepemimpinan Megawati oleh kalangan
mahasiswa dan rakyat dirasakan mengalami kemacetan. Sehingga di masa depan bangsa indonesia memerlukan pemimpin yang visioner, yang mampu meretas masa depan dengan jelas. Reformasi pun dapat digerakkan kembali oleh pemimpin bangsa baru itu.. Menghadapi kemungkinan lepasnya kursi kekuasaan pada Pemilu mendatang sebagai politisi Taufik Kiemas mencoba melakukan ikhtiar politik. Dalam waktu yang relatif singkat ia melakukan serangkaian pertemuan dengan tokoh politik atau pihak-pihak yang memiliki basis massa politik. Misalnya pertemuan dengan kader HMI, dengan Ketua ICMI, dengan Gus Dur, dengan Hamzah Haz. Pergerakan politik ini sudah dimulai sejak akhir Mei. Dan itu sah-sah saja.
Manuver politik Taufik Kiemas ini mendapat sorotan tajam. Sebab ini dilakukan ketika Presiden Megawati Soekarnoputri yang juga isteri Taufik Kiemas tengah menyerukan agar pertemuan para pemimpin politik dihentikan. Kalau orang lain tidak boleh mengadakan pertemuan, kenapa Taufik Kiemas dibiarkan mengadakan serangkaian pertemuan dengan tokoh-tokoh politik?
Mungkin begitu banyak orang bertanya-tanya.
Para pengamat politik pun tak urung ikut berkomentar. Arbi Sanit misalnya berkomentar ketika Taufik Kiemas bertemu Gus Dur dan dikesankan bahwa Taufik sedang merayu Gus Dur. Arbi Sanit bilang, sulit Gus Dur dapat dirayu. Sebab sehabis pertemuan itu muncul komentar ketus Gus Dur, bahwa kalau yang datang adalah pemimpin partai yang ikut melengserkan dia dari kursi presiden maka ia tidak mau menemuinya. Sedang pertemuan dengan Taufik tidak mengandung kesepakatan apa-apa. Masalahnya, kalau tak ada apa-apa untuk apa bertemu?
Fachry Ali menyebutkan langkah Taufik itu sebagai upaya untuk mempertahankan kekuasaan yang saat ini berada dalam genggaman. Para politisi memang selalu punya prinsip dalam berbuat, siapa mendapat apa. Kalau begitu mana sempat mereka mengurusi rakyat yang telah membuat mereka jadi petinggi negara jika urusannya soal kursi belaka. Mereka sibuk mencari cara mendapatkan kekuasaan, mempertahankan, dan bisa meraih keuntungan yang lebih besar.
Sebenarnya, posisi Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden tetap aman sampai tahun 2004. Sudah ada jaminan dari pihak-pihak yang dulu mengangkatnya untuk
kepemimpinan hasil pemilu.Suatu pernytaan yang multitafsir, sebab kritik tidak harus diartikan sebagai menjatuhkan.
Meski posisinya sampai tahun 2004 aman, tetapi setelah itu semua masih tanda tanya. Banyak kader bangsa yang cukup fresh dan dapat diandalkan muncul untuk ikut bersaing memperebutkan kursi presiden. Inilah yang membuat para pemimpin bangsa (yang punya jiwa kenegaraan) mengadakan serangkaian pertemuan untuk membahas masalah-masalah mendasar yang dihadapi bangsa, agar dapat tercapai visi yang sama.
Kelompok pemimpin bangsa ini dikenal sebagai para pemimpin politik partai Islam plus PKB. Tapi langkah ini dicurigai sebagai upaya untuk menyiapkan suksesi konstitusional pasca Pemilu 2004. Lalu muncul serangkaian manuver yang dilakukan oleh para politisi (yang punya jiwa pragmatis politis untuk mempertahankan kekuasaan). Termasuk di antaranya adalah apa yang dilakukan oleh Taufik Kiemas. Dengan membawa isyu bahwa polarisasi yang membelah bangsa Indonesia menjadi kelompok Islam (nasionalis relijius) dan kelompok nasionalis (sekuler) merupakan isyu yang rawan. Dalam pandangan Nurcholish Madjid hal itu sudah tidak relevan. Sayang, Kelompok Isla ini kemudian tetap disudutkan sebagai sektarian dan lawan nasionalis., suatu kecurigaan yang mengada-ada. Memang ada baiknya, rakyat diam saja menjadi saksi. Rakyat tidak usah ikut-ikutkan bermain dengan mengubah diri menjadi massa misalnya, untuk ikut menggebuk lawan politik partainya, seperti dala kasus 20 Mei di Semarang. Sebab itu hanya akan
memunculkan mata rantai kekerasan baru. Dan kita semua tahu, kekerasan massa hanya memiliki satu makna, tidak produktif bagi masa depannya sendiri.
Tapi, rakyat juga perlu belajar melek politik. Rakyat perlu tahu dengan kritis. Untuk membedakan mana pemimpin bangsa yang mampu menyelamatkan negeri ini dari krisis. Mana pemimpin yang prospektif untkmasa depan. Pendeknya, dalam Pemilihan Presiden secara langsung nanti, jangan beli kucing dalam karung! (tof, dari berbagai sumber).
Sumber: