PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 16 TAHUN 2011
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG KOMUNITAS INTELIJEN DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI DALAM NEGERI,
Menim bang : a. bahwa dalam rangka m engoptim alkan kinerja kom unitas intelijen daerah perlu didukung dengan koordinasi yang baik antar aparat unsur intelijen secara profesional;
b. bahwa Peraturan Menteri Dalam Negeri Nom or 11 Tahun 200 6 tentang Kom unitas Intelijen Daerah perlu dilakukan penyesuaian agar optim al dihadapkan dengan perkem bangan situasi daerah;
c. bahwa berdasarkan pertim bangan sebagaim ana dim aksud dalam huruf a dan huruf b, perlu m enetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nom or 11 Tahun 2006 tentang Kom unitas Intelijen Daerah;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nom or 2 Tahun 2002 tent ang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lem baran Negara Republik Indonesia Tahun 2 002 Nom or 2, Tam bahan Lem baran Negara Republik Indonesia Nom or 4168);
2. Undang-Undang Nom or 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lem baran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nom or 3, Tam bahan Lem baran Negara Republik Indonesia Nom or 4169);
3. Undang-Undang Nom or 16 Tahun 20 04 t ent ang Kejaksaan Republik Indonesia (Lem baran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nom or 67, Tam bahan Lem baran Negara Republik Indonesia Nom or 4401): 4. Undang-Undang Nom or 32 Tahun 2004 tentang Pem erintahan Daerah
(Lem baran Negara Republik Indonesia Tahun 200 4 Nom or 12 5, Tam bahan Lem baran Negara Republik Indonesia Nom or 4437) sebagaim ana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang 12 Tahun 20 08 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nom or 32 Tahun 2004 tentang Pem erintahan Daerah (Lem baran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nom or 59, Tam bahan Lem baran Negara Republik Indonesia Nom or 4844);
5. Undang-Undang Nom or 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (Lem baran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nom or 127, Tam bahan Lem baran Negara Republik Indonesia Nom or 4439); 6. Undang-Undang Nom or 39 Tahun 2008 tentang Kem enterian Negara
7. Peraturan Pem erintah Nom or 6 Tahun 19 88 tentang Koordinasi Republik Indonesia Tahun 2010 Nom or 317);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG KOMUNITAS INTELIJEN DAERAH.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nom or 11 Tahun 2006 tentang Kom unitas Intelijen Daerah diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 1 ditam bahkan 3 (tiga) angka baru yakni angka 5, angka 6 dan angka 7, sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini, yang dim aksud dengan:
1. Intelijen adalah segala usaha, kegiatan, dan tindakan yang terorganislr dengan m enggunakan m etode tertentu untuk m enghasilkan produk tentang m asalah yang dihadapi dari seluruh aspek kehidupan untuk disam paikan kepada pim pinan sebagai bahan pertim bangan dalam m engam bil keputusan.
2. Kom unitas Intelijen Daerah yang selanjutnya disebut Kom inda adalah forum kom unikasi dan koordinasi unsur intelijen dan unsur pim pinan daerah di provinsi dan kabupaten/ kota.
3. Jaringan intelijen adalah hubungan antar perorangan, kelom pok m aupun instansi tertentu yang dapat m em berikan data dan/ atau inform asi atau bahan keterangan untuk kepentingan tugas intelijen. 4. Ancam an adalah setiap usaha dan kegiatan baik dari dalam m aupun
luar negeri yang dinilai m em bahayakan kedaulatan, keutuhan wilayah negara kesatuan republik indonesia, dan keselam atan segenap bangsa serta kepentingan nasional iainnya.
5. Unsur pim pinan daerah provinsi adalah gubernur, panglim a kodam / kom andan korem , kepala kepolisian daerah, kepala kejaksaan tinggi dan unsur pim pinan daerah lain yang tertinggi di provinsi.
6. Unsur pim pinan daerah kabupaten/ kota adalah bupati/ walikota, kom andan kodim , kepala kepolisian resort, k epala kejaksaan negeri dan unsur pim pinan daerah lain yang tertinggi di kabupaten/ kota. 7. Unsur pim pinan intelijen pusat adalah Direktur Jenderal Kesatuan
Intelijen Im igrasi.
2. Ketentuan Pasal 3 ayat (1) ditam bahkan 1 (satu) huruf baru yakni huruf d dan Pasal 3 ayat (2) diubah, sehingga Pasal 3 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 3
(1) Tugas dan kewajiban Gubernur sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 2 ayat (1) m eliputi :
a. m em bina dan m em elihara ketentram an dan ketertiban m asyarakat terhadap kem ungkinan tim bulnya ancam an stabilitas nasional di daerah;
b. m engkoordinasikan bupati/ walikota dalam penyelenggaraan pem erintahan daerah di bidang ketentram an, ketertiban, dan perlindungan m asyarakat, dengan m eningkatkan peran dan fungsi Kom inda;
c. m engkoordinasikan fungsi dan kegiatan instansi vertikal di provinsi sebagai jaringan intelijen; dan
d. m enjam in terlaksananya kegiatan operasional Kom inda di provinsi. (2) Pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagaim ana dim aksud pada ayat
(1) huruf b dan huruf c, didelegasikan kepada Kepala Badan Intelijen Daerah selaku pelaksana harian Kom inda.
3. Ketentuan Pasal 4 ayat (1) ditam bahkan 1 (satu) huruf baru yakni huruf c dan Pasal 4 ayat (2) diubah, sehingga Pasal 4 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 4
(1) Tugas dan kewajiban bupati/ walikota sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 2 ayat (2) m eliputi:
a. m em bina dan m em elihara ketentram an dan ketertiban m asyarakat terhadap kem ungkinan tim bulnya ancam an stabilitas nasional di daerah;
b. m engkoordinasikan fungsi dan kegiatan instansi vertikal di kabupaten/ kota sebagai jaringan Intelijen; dan
c. m enjam in terlaksananya kegiatan operasional Kom inda di kabupaten/ kota.
(2) Pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagaim ana dim aksud pada ayat (1) huruf b, didelegasikan kepada unsur intelijen Polisi Republik Indonesia.
Pasal 5
(1) Kom inda dibentuk di provinsi dan kabupaten/ kota.
(2) Pem bentukan Kom inda provinsi sebagaim ana dim aksud pada ayat (1) dilakukan oleh gubernur.
(3) Pem bentukan Kom inda kabupaten/ kota sebagaim ana dim aksud pada ayat (1) dilakukan oleh bupati/ walikota.
(4) Kom inda sebagaim ana dim aksud pada ayat (1) m em iiiki hubungan yang bersifat koordinatif dan konsultatif secara vertikal dan horizontal.
(5) Hubungan secara vertikal sebagaim ana dim aksud pada ayat (4) m erupakan:
a. hubungan Kom inda provinsi untuk berkoodinasi dan berkonsultasi dengan Kem enterian Dalam Negeri; dan
b. hubungan Kom inda kabupaten/ kota untuk berkoodinasi dan berkonsultasi dengan Kom inda Provinsi.
(6) Hubungan secara horizontal sebagaim ana dim aksud pada ayat (4) m erupakan hubungan antar unsur intelijen daerah.
5. Ketentuan Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga Pasal 6 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 6
(1) Keanggotaan Kom inda provinsi sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditetapkan oleh gubernur dengan susunan:
Ketua : Gubernur.
Pelaksana harian : Kepala Badan Intelijen Daerah.
Sekretaris : Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi.
Keanggotaan : Unsur Intelijen dari Badan Intelijen Negara, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Tinggi, Im igrasi, Bea dan Cukai, Pajak, Perbankan dan unsur terkait lainnya.
(2) Keanggotaan Kom inda kabupaten/ kota sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditetapkan oleh bupati/ walikota dengan susunan:
Ketua : Bupati / Walikota.
Pelaksana Harian : Unsur Intelijen dari Kepolisian Republik Indonesia.
Sekretaris : Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten/ Kota.
6. Ketentuan Pasal 7 ayat (1) huruf b dan ayat (2) huruf b diubah, sehingga Pasal 7 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 7
(1) Kom inda provinsi sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 5 ayat (1) m em punyai tugas:
a. m erencanakan, m encari, m engum pulkan, m engkoordinasikan, dan m engkom unikasikan inform asi/ bahan keterangan intelijen dari berbagai sum ber m engenai potensi, gejala, atau peristiwa yang m enjadi ancam an stabilitas nasional di daerah; dan
b. m em berikan rekom endasi sebagai bahan pertim bangan bagi unsur pim pinan daerah provinsi m engenai kebijakan yang berkaitan dengan deteksi dini, peringatan dini dan pencegahan dini terhadap ancam an stabilitas nasional di provinsi.
(2) Kom inda kabupaten/ kota sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 5 ayat (1) m em punyai tugas:
a. m erencanakan, m encari, m engum pulkan, m engkoordinasikan, dan m engkom unikasikan inform asi atau bahan keterangan dan intelijen dari berbagai sum ber m engenai potensi, gejala, atau peristiwa yang m enjadi ancam an stabilitas nasional di daerah; dan b. m em berikan rekom endasi sebagai bahan pertim bangan bagi unsur pim pinan daerah kabupaten/ kota m engenai kebijakan yang berkaitan dengan deteksi dini dan peringatan dini terhadap ancam an stabilitas nasional di kabupaten/ kota.
7. Ketentuan Pasal 8 dihapus.
8. Ketentuan Pasal 9 diubah, sehingga Pasal 9 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 9
(1) Ketentuan lebih lanjut m engenai Kom inda provinsi diatur dengan peraturan gubernur.
(2) Ketentuan lebih lanjut m engenai Kom inda kabupaten/ kota diatur dengan peraturan bupati/ walikota.
BAB IV
PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PELAPORAN
Pasal 10
(1) Menteri Dalam Negeri m elalui Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik dan Kepala Badan Intelijen Negara m elalui Deputi Urusan Pem erintahan Dalam Negeri, m elakukan pem binaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Kom inda di provinsi, kabupaten/ kota.
(2) Gubernur m elakukan pengawasaan terhadap penyelenggaraan Kom inda di kabupaten/ kota.
10. Ketentuan Pasal 11 ayat (1) diubah, sehingga Pasal 11 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 11
(1) Pelaksanaan penyelenggaraan tugas Kom inda di Provinsi dilaporkan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri dengan tem busan kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keam anan, Menteri Pertahanan, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Menteri Keuangan, Kepala Badan Int elijen Negara, Jaksa Agung Republik Indonesia, Panglim a Tentara Nasional Indonesia, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dan unsur pim pinan intelijen pusat.
(2) Pelaksanaan penyelenggaraan Kom inda di Kabupaten/ Kota dilaporkan oleh Bupati/ Walikota kepada Gubernur dengan tem busan kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keam anan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Menteri Keuangan, Kepala Badan Intelijen Negara, Jaksa Agung, Panglim a Tentara Nasional Indonesia dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta unsur pim pinan daerah Provinsi. (3) Laporan sebagaim ana dim aksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan
secara berkala setiap 6 (enam ) bulan pada bulan Januari dan Juli, dan sewaktu-waktu jika dipandang perlu.
segera m enyam paikan laporan dan tem busan tertulis secara hierarki.
Pasal II
Peraturan Menteri ini m ulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang m engetahui, m em erint ahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penem patannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 4 April 2011 MENTERI DALAM NEGERI
REPUBLIK INDONESIA,
GAMAWAN FAUZI
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 6 April 2011 MENTERI HUKUM DAN HAM REPUBLIK INDONESIA,
PATRIALIS AKBAR