• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

1 FREQUENTLY ASKED QUESTIONS (FAQ)

SURAT EDARAN PERIHAL PERHITUNGAN ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO OPERASIONAL DENGAN

MENGGUNAKAN PENDEKATAN INDIKATOR DASAR (PID)

1. Apa latar belakang penerbitan Surat Edaran?

Surat Edaran ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendukung terwujudnya

sistem perbankan yang sehat dan mampu bersaing secara nasional maupun

internasional, sehingga dibutuhkan suatu struktur permodalan Bank untuk menyerap

risiko yang dihadapi sesuai standar internasional yang berlaku. Oleh karena itu

mengacu pada standar internasional yang berlaku, risiko operasional merupakan salah

satu risiko yang perlu diperhitungkan dalam perhitungan kecukupan modal selain

risiko kredit, risiko pasar, dan risiko-risiko lainnya yang bersifat material.

2. Apakah ada pengaturan lain yang menjadi dasar pengaturan dalam SE ini? Sesuai Pasal 31 Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tanggal 24

September 2008 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, yang

menyebutkan bahwa Bank wajib memperhitungkan ATMR untuk Risiko Operasional

dalam perhitungan KPMM dengan menggunakan :

a. Pendekatan Indikator Dasar (Basic IndicatorApproach);

b. Pendekatan Standar (Standardized Approach); dan/atau

c. Pendekatan yang lebih kompleks (Advanced Measurement Approaches).

Untuk penerapan tahap awal, perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional wajib

dilakukan dengan menggunakan Pendekatan Indikator Dasar (PID).

3. Bagaimana tata cara menghitung ATMR untuk Risiko Operasional?

a. perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional dengan menggunakan PID

dilakukan sebesar 12,5 x beban modal Risiko Operasional (adalah rata-rata dari

penjumlahan Pendapatan Bruto (gross income) tahunan dari Januari sampai

dengan Desember selama 3 tahun terakhir yang positif) dikali 15%.

b. Beban modal Risiko Operasional dihitung dengan rumus sebagai berikut:

KPID = [ ∑ (GI 1...n x α) ]

(2)

2 Dengan keterangan sebagai berikut:

KPID = beban modal Risiko Operasional menggunakan PID

GI = pendapatan bruto positif tahunan dalam tiga tahun terakhir

n = jumlah tahun di mana pendapatan bruto positif

α = 15%

4. Bagaimana tata cara menghitung ATMR untuk Risiko Operasional bagi Bank yang merger/baru berdiri?

Bagi Bank yang baru berdiri atau Bank hasil merger/konsolidasi, maka Bank tidak

diwajibkan untuk menghitung ATMR untuk Risiko Operasional sampai dengan akhir

tahun pendiriannya sebagai insentif bagi Bank yang melakukan merger/konsolidasi.

Untuk tahun berikutnya, bank wajib menghitung ATMR untuk Risiko Operasional

dengan menggunakan pendapatan bruto yang diperoleh selama tahun awal pendirian

yang disetahunkan.

5. Bagaimana pelaksanaan kewajiban perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional mulai berlaku?

Perhitungan beban modal Risiko Operasional dalam menghitung ATMR untuk Risiko

Operasional dilakukan secara bertahap sebagai berikut :

a. Sejak tanggal 1 Januari 2010 sampai dengan 30 Juni 2010, perhitungan beban

modal Risiko Operasional ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari rata-rata

pendapatan bruto positif tahunan selama tiga tahun terakhir.

b. Sejak tanggal 1 Juli 2010 sampai dengan 31 Desember 2010, perhitungan beban

modal Risiko Operasional ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari rata-rata

pendapatan bruto positif tahunan selama tiga tahun terakhir.

c. Sejak tanggal 1 Januari 2011, perhitungan beban modal Risiko Operasional

ditetapkan sebesar 15% (lima belas persen) dari rata-rata pendapatan bruto positif

tahunan selama tiga tahun terakhir.

6. Apa yang harus dilakukan Bank setelah penerbitan Surat Edaran ini?

Untuk memantau kesiapan Bank, sejak berlakunya Surat Edaran ini Bank hendaknya

melakukan simulasi perhitungan KPMM dengan memasukkan perhitungan ATMR

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan Kedua atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/21/DPM tanggal 26 April 2004 perihal Tata Cara Pembelian dan/atau Penjualan Surat Utang Negara oleh Bank Indonesia di

Perubahan Keempat Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/17/DPM Tanggal 6 April 2004 perihal Transaksi Perdagangan Sertifikat Bank Indonesia Secara Repurchase Agreement

Perbedaan apakah yang terdapat pada Surat Edaran ini apabila dibandingkan dengan Surat Edaran No.10/21/DPM dan Surat Edaran No.11/23/DPM.. Penerbitan Surat Edaran ini pada

Menunjuk Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/15/DPNP tanggal 12 Juli 2006 perihal Laporan Berkala Bank Umum, khususnya pada Bab V mengenai Format Laporan

Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/26/DASP tanggal 22 Juli 2005 perihal. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia sebagaimana diubah terakhir

diubah dengan Surat Edaran Nomor 8/29/DPBPR Tahun 2006 perihal Laporan. Bulanan Bank Perkreditan Rakyat untuk laporan periode bulan

sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 5/29/DPD tanggal. 18 November 2003 perihal Perusahaan Pialang Pasar Uang Rupiah dan

Pedoman kerja ini mencakup informasi mengenai kebijakan penggunaan peringkat dalam perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Kredit, kategori portofolio