• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gizi Lansia.pdf Gabung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gizi Lansia.pdf Gabung"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

P

P

E

E

D

D

O

O

M

M

AN

AN

P

(2)
(3)
(4)

KAT

KATA A PENGANTARPENGANTAR

Pembangunan

Pembangunan bidang bidang kesehatan kesehatan bertujuan bertujuan untuk untuk meningkatkameningkatkan n derajatderajat

kesehatan masyarakat, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor

kesehatan masyarakat, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor

36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Peningkatan derajat kesehatan ini akan

36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Peningkatan derajat kesehatan ini akan

berdampak pada peningkatan umur harapan hidup, yang akan diiringi dengan

berdampak pada peningkatan umur harapan hidup, yang akan diiringi dengan

meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Pada umumnya penduduk lanjut usia

meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Pada umumnya penduduk lanjut usia

secara paripurna, baik dari aspek

secara paripurna, baik dari aspek kesehatankesehatan, gizi, , gizi, aspek mental dan sosial.aspek mental dan sosial.

Upaya pelayanan kesehatan paripurna bagi para lanjut usia perlu

Upaya pelayanan kesehatan paripurna bagi para lanjut usia perlu dikembangkadikembangkann

dalam rangka meningkatkan kesejahteraan lanjut usia, termasuk di dalamnya

dalam rangka meningkatkan kesejahteraan lanjut usia, termasuk di dalamnya

upaya pelayanan gizi pada lanjut usia.

upaya pelayanan gizi pada lanjut usia. Hal ini Hal ini juga berkaitan dengan meningkatnyajuga berkaitan dengan meningkatnya

angka kesakitan akibat penyakit degeneratif, disamping penyakit infeksi dan

(5)
(6)

DAFTAR ISI

Hal

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 2

C. Sasaran ... 2

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Hal

Lampiran 1. KMS Lansia dan Brosur makanan Sehat untuk Lanjut Usia ... 30

Lampiran 2. Tabel Angka Kecukupan Gizi ... 31

Lampiran 3. Mini Nutritional Assesment I. Skreening ... 32

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan Umur Harapan Hidup (UHH) merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan bidang kesehatan. Sasaran rencana strategi Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 adalah meningkatkan UHH dari 70,7 menjadi 72 tahun. Menurut hasil Susenas tahun 2000, jumlah lansia 14,4  juta jiwa atau 7,18% dari total jumlah penduduk, sedangkan pada tahun 2010  jumlah lansia sudah mencapai 19 juta jiwa atau sekitar 8,5% jumlah penduduk. Hal ini menunjukkan peningkatan jumlah lansia dan diproyeksikan akan terus meningkat, sehingga diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 28,8 juta jiwa. Pertambahan jumlah lanjut usia akan menimbulkan berbagai permasalahan kompleks bagi lansia, keluarga maupun masyarakat meliputi aspek sik, biologis,

(9)

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, prevalensi penyakit pada lanjut usia 55-64 tahun adalah Penyakit Sendi 56,4%, Hipertensi 53,7%, Stroke 20,2‰, Penyakit Asma 7,3%, Jantung 16,1%, Diabetes 3,7%, Tumor 8,8%. Meningkatnya penyakit degeneratif pada lanjut usia ini akan meningkatkan beban ekonomi keluarga, masyarakat dan negara.

Upaya perbaikan gizi masyarakat sebagaimana disebutkan di dalam Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 2009 bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan dan perilaku sadar gizi, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Pelayanan gizi sebagai bagian dari pelayanan kesehatan lanjut usia dapat dilakukan di semua fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Dengan meningkatkan pelayanan gizi pada lanjut usia diharapkan dapat menanggulangi masalah gizi lanjut usia sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan status gizi dan kesehatan lanjut usia.

(10)

D. Kebijakan dan Strategi

Kebijakan dan Strategi pelayanan gizi lanjut usia disesuaikan dengan kebijakan dan strategi program kesehatan lanjut usia :

1. Kebijakan :

a.

Pembinaan gizi lanjut usia dilaksanakan secara terpadu dengan meningkatkan peran lintas program dan lintas sektor.

b.

Pembinaan gizi lanjut usia terutama ditujukan pada upaya peningkatan kesehatan dan kemampuan untuk mandiri agar selama mungkin tetap produktif dan berperan aktif dalam pembangunan.

c.

Pembinaan gizi lanjut usia sebagai bagian dari upaya kesehatan keluarga melalui pelayanan kesehatan di tingkat dasar dan rujukan.

d.

Pembinaan gizi lanjut usia dilaksanakan melalui pendekatan holistik dengan memperhatikan nilai sosial dan budaya.

e.

Upaya promotif dan preventif dilaksanakan secara komprehensif bersama-sama dengan upaya kuratif dan rehabilitatif.

f.

Peningkatan peran serta masyarakat, swasta dan lanjut usia dilakukan atas dasar kekeluargaan dan gotong-royong, dibina oleh pemerintah

(11)

BAB II

GIZI LANJUT USIA

A. Batasan

Menurut WHO lansia dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu : 1. Usia pertengahan (45-59 tahun)

2. Lanjut usia (60-74 tahun) 3. Lansia tua (75-90 tahun) 4. Usia sangat tua (> 90 tahun)

Menurut Kementerian Kesehatan RI, lanjut usia dikelompokkan menjadi :

l Pra lanjut usia (45-59 tahun) l Lanjut usia (60-69 tahun)

l Lanjut usia risiko tinggi (≥ 70 tahun atau usia ≥ 60 tahun dengan masalah

(12)

Faktor yang mempengaruhi proses menua

STESSOR PSIKOSOSIAL PENDIDIKAN

PROSES MENUA Faktor internal Faktor biologi KONSUMSI SOS-BUD LINGKUP PERGAULAN/ KELOMPOK HYGIENE SANITASI/ LINGKUNGAN PENY. INFEKSI/ DEGENERATIF FAKTOR EKSTERNAL KELUARGA/ PENGASUH

(13)

berkurang pada proses menua. Nafsu makan dan kemampuan penyerapan zat- zat gizi juga menurun terutama lemak dan kalsium. Menurunnya sekresi air ludah mengurangi kemampuan mengunyah dan menelan makanan. Pada lambung, faktor yang berpengaruh terhadap penyerapan vitamin B 12 berkurang, sehingga dapat menyebabkan anemia.

3. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri perut dan susah buang air besar. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan dan terjadinya wasir.

4. Penurunan kemampuan motorik menyebabkan lanjut usia kesulitan untuk makan.

5. Terjadinya penurunan fungsi sel otak, menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, mengatur dan mengurutkan sesuatu yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam melakukan aktitas sehari-hari disebut dengan demensia/pikun.

6. Kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga berkurang, sehingga dapat terjadi pengenceran Natrium. Selain itu

(14)

6

Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencernaan makanan

Mengganggu

penyerapan vitamin dan mineral

Desiensi zat gizi mikro

7 Mobilitas usus menurun Susah buang air besar  Wasir (perdarahan) à anemia 8 Sering menggunakan obat-obatan/alkohol Menurunkan nafsu makan

Dapat terjadi kurang gizi 9 Gangguan kemampuan motorik Kesulitan untuk menyiapkan makanan sendiri

Dapat terjadi kurang gizi 10 Kurang bersosialisasi , kesepian (perubahan psikologis) Nafsu makan menurun

Dapat terjadi kurang gizi

11 Pendapatan menurun  Asupan makanan menurun

Dapat terjadi kurang gizi

12 Demensia (pikun) Sering makan/lupa

Dapat terjadi kurang gizi dan kegemukan/

(15)

3. Aktivitas sik dan pekerjaan

Lanjut usia mengalami penurunan kemampuan sik yang berdampak pada berurangnya aktivitas sik sehingga kebutuhan energinya juga berkurang. Kecukupan zat gizi seseorang juga sangat tergantung dari pekerjaan sehari-hari : ringan, sedang, berat. Makin berat pekerjaaan seseorang makin besar zat gizi yang dibutuhkan. Lanjut usia dengan pekerjaaan sik yang berat memerlukan zat gizi yang lebih banyak.

4. Postur tubuh

Postur tubuh yang lebih besar memerlukan energi lebih banyak dibandingkan postur tubuh yang lebih kecil.

5. Iklim/suhu udara

Orang yang tinggal di daerah bersuhu dingin (pegunungan) memerlukan zat gizi lebih untuk mempertahankan suhu tubuhnya.

6. Kondisi kesehatan (stress sik dan psikososial)

Kebutuhan gizi setiap individu tidak selalu tetap, tetapi bervariasi sesuai dengan kondisi kesehatan seseorang pada waktu tertentu. Stress sik dan stressor psikososial yang kerap terjadi pada lanjut usia juga mempengaruhi kebutuhan gizi. Pada lanjut usia masa rehabilitasi sesudah sakit memerlukan

(16)

havermout, jagung, sagu, ubi jalar, ubi kayu dan umbi-umbian. Karbohidrat yang berasal dari biji-bijian dan kacang-kacangan utuh berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat. Dianjurkan agar lanjut usia mengurangi konsumsi gula sederhana seperti gula pasir dan sirup.

3. Batasi konsumsi lemak dan minyak

Bagi lanjut usia, mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi tidak dianjurkan, karena akan menambah risiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi, jantung, ginjal, dan lain-lain. Sumber lemak yang baik adalah lemak tidak jenuh yang berasal dari kacang-kacangan, alpukat, miyak jagung, minyak zaitun. Lemak minyak ikan mengandung omega 3, yang dapat menurunkan kolesterol dan mencegah arthritis, sehingga baik dikonsumsi oleh lanjut usia. Lanjut usia sebaiknya mengkonsumsi lemak tidak lebih dari seperempat kebutuhan energi.

4. Makanlah makanan sumber zat besi

Zat besi adalah salah satu unsur penting dalam proses pembentukan sel darah merah. Zat besi secara alamiah diperoleh dari makanan seperti daging, hati dan sayuran hijau. Kekurangan zat besi yang dikonsumsi bila berkelanjutan akan menyebabkan penyakit anemia gizi besi dengan

(17)

tanda-8. Pesan lainnya :

- Tidak minum alkohol

- Mambaca label makanan D. Masalah gizi

Masalah gizi lanjut usia merupakan rangkaian proses masalah gizi sejak usia muda yang manifestasinya terjadi pada lanjut usia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah gizi pada lanjut usia sebagian besar merupakan masalah gizi lebih yang merupakan faktor risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, hipertensi, gout rematik, ginjal, perlemakan hati, dan lain-lain. Namun demikian masalah kurang gizi juga banyak terjadi pada lanjut usia seperti Kurang Energi Kronik (KEK), anemia dan kekurangan zat gizi mikro lain.

1. Kegemukan atau obesitas

Keadaan ini biasanya disebabkan oleh pola konsumsi yang berlebihan, banyak mengandung lemak dan jumlah kalori yang melebihi kebutuhan. Proses metabolisme yang menurun pada lanjut usia, bila tidak diimbangi dengan peningkatan aktitas sik atau penurunan jumlah makanan,

(18)

3. Kurang Zat Gizi Mikro lain

Biasanya menyertai lanjut usia dengan KEK, namun kekurangan zat gizi mikro dapat juga terjadi pada lanjut usia dengan status gizi baik. Kurang zat besi, Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin E, Magnesium, kalsium, seng dan kurang serat sering terjadi pada lanjut usia.

Beberapa penyakit kronik degeneratif yang berhubungan dengan status gizi:

a. Penyakit Jantung koroner 

Konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), dan hal ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jaringan ikat, pengapuran, pembekuan darah, dan lain-lain, yang semuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut.

(19)

DM Tipe I : Diabetes disebabkan oleh kekurangan insulin karena terjadi kerusakan sel dan pankreas. Umumnya B normal atau di bawah normal dan disertai dengan trias DM, polifagi, poliuri, polidipsi (banyak makan, banyak minum dan banyak kencing)

DM TipeII : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM), selain terjadi kerusakan sel dan pankreas juga disertai tidak berfungsinya insulin, 75% penderita DM tipe II adalah obesitas atau dengan riwayat obesitas.

d. Osteo arthritis (pengapuran tulang)

Adalah penyakit bagian dari arthritis, penyakit ini terutama menyerang sendi terutama pada sendi tangan, lutut dan pinggul. Orang yang terserang osteoarthritis biasanya susah menggerakkan sendi-sendinya dan pergerakannya menjadi terbatas karena turunnya fungsi tulang rawan untuk menopang badan.

(20)

BAB III

PELAYANAN GIZI INDIVIDU

Pelayanan gizi secara individu dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan oleh Tim  Asuhan Gizi dan merupakan salah satu bagian pelayanan kesehatan lanjut usia/ geriatri yang terpadu, sehingga pelaksanaannya ditangani bersama-sama secara terkordinasi oleh berbagai disiplin ilmu terkait.

Kerjasama antara lanjut usia, keluarga/pengasuh dengan tim asuhan gizi sangat penting untuk menunjang keberhasilan pelayanan gizi lanjut usia.

a. Rawat Jalan

Kegiatan pelayanan gizi rawat jalan merupakan pelayanan gizi secara individu dengan serangkaian kegiatan asuhan gizi terstandar untuk melakukan dan mendukung keberhasilan proses konseling gizi.

b. Rawat Inap

Kegiatan pelayanan gizi rawat inap merupakan pelayanan gizi secara individu dengan serangkaian kegiatan asuhan gizi terstandar untuk memberikan intervensi gizi.

(21)

gizi. Dengan PAGT diharapkan ahli gizi di tempat pelayanan kesehatan dapat memberikan pelayanan secara efektif dan berkualitas terhadap lanjut usia. PAGT meliputi :

1. PENGKAJIAN GIZI (Assessment)

  Assesment  atau disebut dengan pengkajian terhadap status gizi merupakan landasan dalam menyusun asuhan gizi yang optimal kepada klien bertujuan untuk mendapatkan informasi yang adekuat dalam upaya mengidentikasi masalah gizi yang terkait dengan masalah asupan makanan atau faktor lain yang dapat menimbulkan masalah gizi

Pengkajian gizi merupakan suatu proses pengumpulan, verikasi dan interpretasi data yang sistematis dalam upaya untuk mengidentikasi masalah gizi dan penyebabnya, bukan hanya pengumpulan data awal tetapi  juga merupakan pengkajian ulang dan analisis kebutuhan gizi pasien.

Informasi yang diperoleh melalui pengkajian gizi selanjutnya dibandingkan dengan standar baku/nilai normal, sehingga dapat dievaluasi dan diidentikasi seberapa besar masalahnya.

(22)

g) Upayakan mata pengukur sejajar dengan skala Cara pengukuran :

a) Posisikan lansia berdiri tegak pada permukaan tanah/lantai yang rata tanpa memakai alas kaki(sandal, sepatu)

b) Posisikan Ujung tumit kedua telapak kaki dirapatkan dan menempel di dinding dalam posisi agak terbuka di bagian jari- jari kaki

c) Pandangan mata lurus kedepan

d) Kedua lengan menggantung santai menempel didinding tembok e) Pada waktu mengukur TB, punggung, tumit, pantat dan belakang kepala menempel pada tembok, posisi kepala tegak dan pandangan mata lurus ke depan, lengan menggantung di sisi

2. Pengukuran Berat Badan

a) Pengukuran dilakukan dengan menggunakan timbangan berat badan tanpa pegas

b) Alat sudah ditera

(23)

Cara Pengukuran :

a) Lansia berdiri dengan kaki dan bahu menempel membelakangi tembok sepanjang pita pengukuran yang ditempel di tembok. b) Bagian atas kedua lengan hingga ujung telapak tangan

menempel erat didinding sepanjang mungkin

c) Pembacaan dilakukan dengan ketelitian 0,1 cm mulaI dari bagian ujung jari tengah tangan kanan hingga ujung jari tengah tangan kiri

4. Pengukuran Tinggi Lutut

a) Kondisi Syarat Pengukuran :

Tingggi lutut sangat erat hubungannya dengan tinggi badan sehingga sering digunakan untuk memperkirakan tinggi badan seseorang yang memiliki gangguan lekukan tulang belakang tidak dapat berdiri karena lumpuh atau sebab lainnya

b) Alat Pengukuran :

Penggaris kayu/ stailess stell dengan mata pisau menempel pada sudut 900 pada kaki kiri

(24)

b) Mikrotoa sepanjang 2 m yang ditempelkan di tembok/ dinding Cara Pengukuran

a) Mikrotoa menempel erat di dinding tembok harus di nol-kan dulu sampai lantai

b) Lansia duduk dengan posisi tubuh tegak, kepala dan tulang belakang/punggung menempel rapat ke dinding

c) Tangan diletakkan dengan santai di atas paha d) Lansia tidak menggunakan alas kepala (topi)

e) Kedua kaki tanpa atau dengan alas kaki dirapatkan ke dinding bangku dan mata menatap lurus ke depan

f) Pembacaan dilakukan pada mikrotoa yang ditempelkan di dinding tepat di atas kepala, setelah dikurangi tinggi bangku Dengan mengkaitkan dua variabel antropometri tersebut di atas dapat diperoleh Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan perhitungan sebagai berikut :

(25)

c) Lingkar perut

Digunakan untuk menentukan obesitas sentral. Cara pengukurannya adalah dengan berpuasa pada malam hari sebelum pemeriksaan dan pada hari pemeriksaan mengenakan pakaian yang ringan. Pengukuran dilakukan dalam posisi berdiri tegak dengan kedua tangan disamping dan kaki rapat. Tepi tulang iga yang terendah dan Krista iliaka pada garis aksila tengah (mid- axillary line) diberi tanda dengan pena. Pita pengukur non elastic diletakkan melintang di pertengahan antara kedua tanda tersebut melingkari perut secara horizontal. Kemudian dilakukan pembacaan dalam sentimeter. Selama dilakukan pengukuran, pasien diminta untuk bernapas biasa (Gibson, 2005). Klasikasi lingkar perut adalah dikatakan obesitas sentral jika lingkar perut pada laki-laki ≥ 90 cm dan perempuan ≥ 80 cm.

b. Biokimia

Data biokimia meliputi hasil pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain yang memberikan informasi mengenai status gizi guna menegakkan

(26)

bebas yang terjadi sekunder akibat interaksi obat. Natrium serum rendah/hiponatremia, kemungkinan kelebihan cairan, kehilangan natrium lewat saluran cerna, sonde dengan formula susu rendah natrium untuk waktu yang lama.

c. Klinis

Data klinis meliputi suhu tubuh, tekanan darah, keluhan-keluhan yang dirasakan seperti penurunan nafsu makan, gangguan metabolisme berupa mual, muntah, kesulitan mengunyah dan menelan. Berikut ini beberapa contoh tanda klinis :

1. Penurunan berat badan mengindikasikan desiensi energi, penurunan berat badan secara akut kemungkinan desiensi cairan, sedangkan peningkatan berat badan kemungkinan kelebihan intake energi.

2. Rambut pudar, kering, mudah patah mengindikasikan desiensi protein, rambut mudah dicabut tanpa rasa sakit kemungkinan desiensi protein, rambut rontok kemungkinan desiensi protein, seng, biotin / kelebihan vitamin A, hilangnya pigmen rambut pada

(27)

e. Riwayat Personal

Pengumpulan dan pengkajian data riwayat pasien meliputi riwayat obat dan suplemen yang dikonsumsi, sosial budaya, riwayat penyakit dan data umum pasien, sebagai berikut:

Riwayat obat dan suplemen yang dikonsumsi

l Obat yang digunakan baik berdasarkan resep

maupun obat bebas yang berkaitan dengan masalah gizi

l Suplemen gizi yang dikonsumsi

Sosial Budaya

l Status sosial ekonomi, budaya, kepercayaan,

agama

l Situasi rumah

l Dukungan pelayanan kesehatan dan sosial l  Akses sosial

l Keluhan utama yang terkait dengan masalah

gizi

(28)

3. INTERVENSI GIZI

Intervensi gizi bertujuan untuk menanggulangi masalah gizi yang sudah ditegakkan pada diagnosis gizi. Pemecahan masalah yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor–faktor seperti dukungan keluarga, sosial ekonomi, pemanfaatan pekarangan, dll.

Sebelum melakukan intervensi gizi perlu melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut:

a. Cara perhitungan kebutuhan gizi : 1. Perhitungan Kebutuhan Energi.

Berikut ini beberapa cara untuk menghitung kebutuhan energi : a) Harris dan Benedict

Merupakan cara yang banyak digunakan untuk menetapkan kebutuhan energi seseorang. Rumusnya dibedakan antara kebutuhan untuk laki-laki dan perempuan.

Laki-laki : BEE = 66 + 13,7 (BB) + 5 (TB) – 6,8 (umur) Perempuan : BEE = 655 + 9,6 (BB) + 1,7 (TB) – 4,7 (umur)

(29)

3. Perhitungan kebutuhan lemak

a) Pada lanjut usia konsumsi lemak dianjurkan tidak melebihi 20-25% dari kebutuhan energi dengan rasio lemak tidak jenuh : lemak jenuh = 2 : 1

b) Kolesterol merupakan sejenis lemak yang hanya terdapat di makanan hewani terutama pada otak, hati, daging berlemak, kuning telur, konsumsinya harus dibatasi. Kolesterol tidak melebihi 300 mgr / hari didalam makanan.

4. Perhitungan kebutuhan karbohidrat

Penggunaan karbohidrat relatif menurun pada lanjut usia, karena kebutuhan energi juga menurun. Lanjut usia disarankan mengkonsumsi karbohidrat komplek dari pada karbohidrat sederhana, karena mengandung vitamin, mineral dan serat. Perhitungan kebutuhan karbohidrat didasarkan kepada sisa dari total energi setelah dikurangi energi dari protein dan lemak. Dianjurkan lanjut usia mengkonsumsi karbohidrat 60-65% dari total kebutuhan energi.

(30)

b. Preskripsi Diet

1. Preskripsi Diet yaitu batasan pengaturan makanan mencakup kebutuhan energi dan zat gizi serta zat-zat makanan lainnya merupakan aspek utama dalam asuhan gizi klien. Preskripsi Diet disusun berdasarkan diagnosis penyakit dan gizi dan dapat diresepkan oleh dokter atau ahli gizi. Preskripsi Diet memberikan arah khusus kepada klien untuk merubah perilaku makannya sehingga mendapatkann kesehatan yang optimal.

2. Pedoman makan mencakup cara pemberian makan, bentuk dan porsi makan serta cara mengolah makanan

3. Penyusunan menu satu hari meliputi 3 kali makanan utama yaitu pagi, siang dan malam serta 2 kali snack yaitu diantara waktu makan pagi dan siang serta diantara waktu makan siang dan malam. Menu yang dipilih disesuaikan dengan preskripsi Gizi dan pedoman makan.

(31)

e) Aspek Pesan

1) Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan

2) Porsi kecil tapi sering, jarak antara dua waktu makan tidak kurang dari 3 jam

3) Biasakan sarapan pagi dan makan malam lebih awal

4) Pilihlah jenis makanan selingan yang sehat, seperti : buah buahan segar, dan makanan yang direbus

5) Perilaku makan sesuai dengan prinsip gizi seimbang bagi lansia 6) Makanan yang dikukus, dipanggang, direbus lebih baik daripada

digoreng.

7) Dianjurkan memilih makanan dengan bumbu yang tidak merangsang

c. Rujukan

Pada kasus tertentu yang membutuhkan penanganan khusus dan lebih lanjut rujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

(32)

Parameter yang harus diukur berdasarkan tanda dan gejala dari diagnosis gizi.

c. Evaluasi hasil, Berdasarkan ketiga tahapan kegiatan monitoring dan evaluasi di atas kita akan mendapatkan 4 jenis hasil, yaitu :

1) Dampak perilaku dan lingkungan terkait gizi yaitu tingkat pemahaman, perilaku, akses, dan kemampuan yang mungkin mempunyai pengaruh pada asupan makanan dan zat gizi

2) Dampak asupan makanan dan zat gizi merupakan asupan makanan dan atau zat gizi dari berbagai sumber, misalnya makanan, minuman, suplemen, dan melalui rute enteral maupun parenteral

3) Dampak terhadap tanda dan gejala sik yang terkait gizi Pengukuran yang terkait dengan antropometri, biokimia dan parameter pemeriksaan sik

4) Dampak terhadap pasien/ klien terkait gizi Pengukuran yang terkait dengan persepsi pasien/ klien terhadap intervensi yang diberikan dan dampakn pada kualitas hidupnya.

(33)

BAB IV

PELAYANAN GIZI MASYARAKAT

Pelayanan gizi masyarakat ditujukan bagi lanjut usia yang berada di keluarga, kelompok lanjut usia (posyandu lanjut usia, pos pembinaan terpadu/posbindu, dll) dan panti werdha.

A. KELUARGA

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang keberadaannya sangat penting untuk mengayomi dan melindungi para lanjut usia. Lanjut usia akan merasa aman dan tenteram bila berada di dalam lingkungan keluarga yang memberikan perhatian dan dukungan pada lanjut usia dalam menjalani sisa hidupnya.

Pelayanan gizi lanjut usia yang berada di keluarga dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui pendampingan tenaga kesehatan terhadap anggota keluarga dalam meningkatkan dan mempertahankan status gizi lanjut usia. Pelayanan

(34)

penurunan status gizi (menjadi semakin kurus, lemah, lesu) dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk mendapat pelayanan kesehatan lebih lanjut. B. KELOMPOK LANJUT USIA

Kelompok lanjut usia (Poksila) adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), sebagai wadah pelayanan kepada lanjut usia di masyarakat, dimana proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat bersama dengan lintas sektor, LSM, swasta dan organisasi sosial dengan kegiatan utama adalah upaya promotif dan preventif. Kegiatan Kelompok Lanjut Usia dilakukan oleh kader terlatih yang didampingi oleh tenaga kesehatan.

Pelayanan gizi pada kelompok lanjut usia diberikan dalam bentuk : 1. Penyuluhan gizi

Dilakukan oleh tenaga kesehatan atau kader terlatih. Topik penyuluhan disesuaikan dengan masalah gizi yang ada pada lanjut usia.

(35)

atau dari fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Topik penyuluhan disesuaikan dengan masalah gizi yang ada pada lanjut usia.

2. Pemantauan status gizi

Pemantauan Status Gizi dilaksanakan oleh pengurus PSTW atau kader dibantu oleh tenaga kesehatan secara berkala bersama-sama dengan pemeriksaan kesehatan lain. Evaluasi status gizi dilakukan setiap bulan dengan menggunakan KMS lanjut usia.

3. Penyelenggaraan makanan

Penyusunan diet dan menu dapat dilakukan untuk kelompok namun tetap memperhitungkan kebutuhan individu lanjut usia yang dirawat. Untuk kegiatan ini sebaiknya panti memiliki ahli gizi sendiri agar pelayanannya dapat berlangsung dengan lebih baik. Contoh menu dapat dilihat pada lampiran.

4. Konseling gizi

(36)

BAB V

PENUTUP

Pelayanan gizi lanjut usia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan program kesehatan lanjut usia. Diharapkan Pelayanan gizi lanjut usia menjadi salah satu program prioritas Kabupaten/Kota untuk meningkatkan status kesehatan dan kesejahteraan lanjut usia secara berkesinambungan.

Buku Pedoman Pelayanan gizi lanjut usia bagi Tenaga Kesehatan ini diharapkan dapat menjadi pegangan/rujukan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat.

Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam upaya meningkatkan status kesehatan dan gizi lanjut usia sehingga dapat hidup sehat, aktif dan produktif melalui pelayanan gizi yang bermutu.

(37)
(38)

Lampiran 2. Tabel Angka Kecukupan Gizi 

Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 bagi Orang Indonesia

(39)

Lampiran 3.

Mini Nutrional Assessment I. Skrining 

Nama : Jenis kelamin : Tanggal : Umur : Berat badan (kg) : Tinggi badan (cm) : FORM SKRINING*

 A. Apakah anda mengalami penurunan asupan makanan dalam 3 bulan terakhir disebabkan kehilangan nafsu makan, gangguan saluran cerna, kesulitan mengunyah atau menelan? 0 = kehilangan nafsu makan berat (severe)

1 = kehilangan nafsu makan sedang (moderate) 2 = tidak kehilangan nafsu makan

B. Kehilangan berat badan dalam tiga bulan terakhir ? 0 = kehilangan BB > 3 kg

1 = tidak tahu

(40)

Lampiran 4 Mini Nutrional Assessment II. Penilaian FORMULIR PENILAIAN **

 A. Apakah anda tinggal mandiri ? (bukan di panti/Rumah Sakit)? 0 = tidak

1 = ya

B. Apakah anda menggunakan lebih dari tiga macam obat per hari 0 = ya

1 = tidak

C. Apakah ada luka akibat tekanan atau luka di kulit? 0 = ya

1 = tidak

D. Berapa kali anda mengonsumsi makan lengkap / utama per hari ? 0 = 1 kali

1 = 2 kali 2 = 3 kali

E. Berapa banyak anda mengonsumsi makanan sumber protein ?

(41)

2 = tidak ada masalah gizi

J. Jika dibandingkan dengan kesehatan orang lain yang sebaya/seumur, bagaimana anda mempertimbangkan keadaan anda dibandingkan orang tersebut ?

0 = tidak sebaik dia 0.5 = tidak tahu

1.0 = sama baiknya 2.0 = lebih baik

K. Lingkar lengan atas (cm)? 0 = < 21 cm 0.5 = 21 – 22 cm 1.0 > L. Lingkar betis (cm) ? 0 < 31 cm 1 > 31 cm **PENILAIAN SKOR: I. Skor Skrining

(42)
(43)

Lampiran 7. Formulir Recall 24 Jam

Makan pagi Banyak Selingan Pagi gr URT

Makan Siang Banyak Selingan Sore gr URT

Makan Malam Banyak Selingan Malam gr URT

(44)

Lampiran 8. Anamnesis Gizi Pasien Kunjungan Ulang 

ANAMNESIS GIZI PASIEN KUNJUNGAN ULANG

Tanggal : ………. Alamat : ………

No. Dok. Medik : ………. TB/BB : …….. cm/ …… Kg

Nama : ………. Hasil Lab. Darah : ……….

Umur : ………. Urin : ……….

Jenis kelamin : ………. Dietisien : ……….

DIAGNOSIS : DIET :

HIDANGAN SEHARI

(45)

Lampiran 9. Contoh Penulisan Asuhan Gizi Dengan Format ADIME 

 A. Seorang lansia perempuan umur 75 tahun

1. TB = 150 cm, BB = 38 kg, IMT = 16,8. Dalam 6 bulan terakhir pasien merasa lebih kurus, baju menjadi lebih longgar 

2. Gigi sudah banyak yang tanggal/ompong. Pasien sudah pernah punya gigi palsu tapi tidak dipakai lagi karena sakit bila digunakan. Saat ini pasien hanya bisa makan makanan yang lunak. Nafsu makan saat ini baik, tapi kadang malas makan sendirian

3. Pola makan (nasi lembik + ikan/tempe & tahu) 2-3x/hari, makan sayur 1-2x/ minggu, jarang makan buah (karena keras), kue/biscuit 2-3x/minggu

4. Pasien tinggal dengan anak perempuannya yang bekerja dari pagi-sore, pasien masih suka masak sendiri

B. Berat badan kurang berkaitan dengan gangguan mengunyah makanan dan malas makan sendirian ditandai IMT 16,8

(46)

Lampiran 10. Contoh Menu Untuk Lansia Sehat 

CONTOH MENU UNTUK LANSIA SEHAT

WAKTU MENU I MENU II MENU III MENU IV

PAGI Bubur ayam bubur

havermut

Lontong

sayur  Roti gandum Orak arik telur susu semur telur selai kacang  jus tomat air jeruk  jus wortel +

apel susu kedele

10.00 Ubi rebus Pisang rebus biskuit Puding buah koktail

SIANG Nasi Nasi beras

merah Nasi Nasi beras merah

Ikan acar

kuning Opor ayam

Pindang bandeng

Sambal goreng hati

(47)

Lampiran 11. Menu Untuk Lanjut Usia Dengan Berat Badan Kurang 

SYARAT DAN CONTOH MENU UNTUK LANJUT USIA DENGAN BERAT BADAN KURANG

1. Jika seseorang mengalami kekurangan berat badan maka makanan yang diberikan adalah makanan yang mengandung tinggi kalori dan tinggi Protein. (TKTP)

2. Diet TKTP adalah diet yang mengandung energy dan protein diatas kebutuhan normal. Diet diberikan dalam bentuk makanan biasa ditambah bahan makanan sumber protein tinggi seperti susu, telur dan daging, atau dalam bentuk minuman enteral nutrisi. Diet ini diberikan bila pasien mempunyai cukup nafsu makan dan dapat menerima makanan lengkap.

Makanan yang dianjurkan

a. Sumber karbohidrat: nasi, mie, roti, macaroni, dan hasil olah tepung tepungan, seperti cake, puding, pastry, ubi, dan karbohidrat sederhana seperti gula.

b. Sumber Protein: daging sapi, ikan , ayam , telur , susu dan hasil olahnya seperti keju, yoghurt dan ice cream. Semua jenis kacang kacangan dan hasil olahnya,

(48)

10.00 Sari buah 100 1 gelas

Kue sus 50 1 potong

SIANG Nasi 150 1 gelas

Empal gepuk 50 1 potong

Tempe goreng 50 1 potong

sayur lodeh 100 1 gelas

alpukat 100 1 potong

16.00 Bubur kacang ijo 25 1 gelas

MALAM nasi 100 ¾ gelas

Semur Ayam 50 1 potong

Tahu bakso 100 1 potong

Sayur sup 100 1 gelas

pisang 75 1 buah

susu 20 1 gelas

(49)

rendah lemak, kacang kacangan, tempe , tahu, susu kedele.

c. Sayuran yang banyak mengandung serat dan diolah tanpa santan kental

d. Buah, semua macam buah diperbolehkan terutama yang banyak mengandung serat.

Bahan makanan yang tidak dianjurkan :

a. Sumber karbohidrat sederhana, seperti gula pasir, gula merah, sirup, kue yang manis dan gurih

b. Sumber protein, daging berlemak yang diolah dengan santan kental, atau digoreng

c. Buah buahan : durian, alpukat, manisan buah

Contoh Menu Sehari Nilai Gizi

Energi : 1500 Kalori Protein : 80 gram

(50)

S Seemmuur r AAyyaam m 5500 1 1 ppoottoonngg P Peerrkkeeddeel l TTaahhu u ppaannggggaanngg 7755 1 1 ppoottoonngg S Seettuup p bbrrookkoolli i ++WWoorrtteell++bbuunncciiss 110000 1 1 ggeellaass m maannggggaa 7755 ½½ bbuuaahh

Lampiran 13. Diet Beberapa Penyakit Pada Lansia

Lampiran 13. Diet Beberapa Penyakit Pada Lansia

Pada lanjut usia (lansia) sering dijumpai

Pada lanjut usia (lansia) sering dijumpai menderita beberapa penyamenderita beberapa penyakit yang bersifatkit yang bersifat

multipatologi, disebut “Geriatri”.Pen

multipatologi, disebut “Geriatri”.Penyakit yang sering dialami oleh yakit yang sering dialami oleh lanjut usia antaralanjut usia antara

lain osteoporosis, diabetes mellitus, kardiovaskular, malnutrisi, hipertensi dan lain

lain osteoporosis, diabetes mellitus, kardiovaskular, malnutrisi, hipertensi dan lain

lain.

lain.

A.

A. Diet uDiet untuk lntuk lansia ansia yang yang menderita menderita OsteoporosisOsteoporosis

Osteoprosis

Osteoprosis adalah adalah penyakit penyakit kronik kronik yang yang ditandai ditandai dengan dengan rendahnya rendahnya massamassa

tulang.Fakto

tulang.Faktor nutrisi r nutrisi adalah bagian penting bagi kesehatan tulang, zat gizi yangadalah bagian penting bagi kesehatan tulang, zat gizi yang

berperan adalah kalsium. Apa

(51)

Bahan

Bahan makanan makanan yang yang tidak tidak dianjurkan dianjurkan ::

Makanan tinggi

Makanan tinggi serat yang dimakan bersaserat yang dimakan bersama dengan makanma dengan makanan sumber kalsiuman sumber kalsium

karena tinggi serat dapat menghambat penyerapan kalsium. Misalnya makan

karena tinggi serat dapat menghambat penyerapan kalsium. Misalnya makan

bekatul dicampur susu; makan teri

bekatul dicampur susu; makan teri ikan bersama daun singkong.ikan bersama daun singkong.

Contoh menu sehari

Contoh menu sehari

Nilai Gizi :

Nilai Gizi :

Energi

Energi : : 1725 1725 Kalori Kalori Kalsium Kalsium : : 1224 1224 mgmg

Protein

Protein : : 76 76 gram gram Vitamin Vitamin A A : : 28459 28459 IUIU

Lemak

Lemak : : 39 39 gram gram Besi Besi : : 16,3 16,3 mgmg

Karbohidrat

Karbohidrat : : 281 281 gram gram Pospor Pospor : : 1301 1301 mgmg

W

WAAKKTTUU MMEENNU U II BBeerraat t ((ggrraamm)) UURRTT

PAGI

PAGI NNaassii 110000 ¾ ¾ ggeellaas s bbeelliimmbbiinngg

Kering

Kering TTempeempe

+ teri

(52)

B.

B. Diet untuk Diet untuk lanjut usilanjut usia yang a yang menderita menderita Diabetes Diabetes MelitusMelitus

Tujuan

Tujuan Diet Diet : : menyesuaikamenyesuaikan n makanan makanan dengan dengan kesanggupan kesanggupan tubuh tubuh untukuntuk

menggunakannya, agar penderitamencapai keadaan faali

menggunakannya, agar penderitamencapai keadaan faali

normal dan dapat melakukan pekerjaan sehari hari seperti

normal dan dapat melakukan pekerjaan sehari hari seperti

biasa.

biasa.

Pengaturan Diet :

Pengaturan Diet :

1.

1. Jumlah eneJumlah energi ditentukargi ditentukan menurut n menurut umurumur, jenis ke, jenis kelamin, berat lamin, berat badan, tinbadan, tinggiggi

badan, aktitas, suhu tubuh dan kelainan metabolic

badan, aktitas, suhu tubuh dan kelainan metabolic

2. Jumlah hidrat arang disesuaikan dengan kesanggupan tubuh untuk

2. Jumlah hidrat arang disesuaikan dengan kesanggupan tubuh untuk

menggunaka

menggunakannya (50-60% nnya (50-60% total energi)total energi)

3.

3. Makanan Makanan cukup cukup protein, protein, mineral mineral dan dan vitamin.vitamin.

4.

4. Pemberian Pemberian makanan makanan disesuaikan disesuaikan dengan dengan macam omacam obat yabat yang dibng diberikanerikan

Makanan yang dianjurkan :

Makanan yang dianjurkan :

a.

a. Karbohidrat Karbohidrat kompleks, kompleks, seperti: beseperti: beras merah, ras merah, beras yanberas yang tidak g tidak disosoh; disosoh; dandan

kelompok umbi umbian; sayur dan

(53)

Contoh menu : Nilai Gizi :

Energi : 1703 Kalori Kalsium : 531 mg

Protein : 66 gram Vitamin A : 15552 IU

Lemak : 73,7 gram Besi : 20 mg

Karbohidrat : 210 gram Pospor : 827 mg

WAKTU MENU I Berat (gram) URT

PAGI Lontong sayur 150 2 buah sedang

Telur pindang 50 1 butir  

Sayur buncis/kacang

panjang 100 1 gelas

Susu kedele 200 cc 1 gelas

(54)

C. Diet untuk komplikasi penyakit jantung

Berbagai penyakit jantung sering menjadi komplikasi lanjut usia biasanya ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan trigliserida serta penurunan kolesterol HDL

Tujuan Diet :

a. Menurunkan berat badan (BB) bila terlalu gemuk dan mempertahankan pada batas normal

b. Mengurangi/menghilangkan penimbiunan cairan/garam Pengaturan Diet :

a. Energi diberikan sesuai dengan kebutuhan bila terlalu gemuk diberikan pengurangan energy

b. Protein diberikan 15% dari total kebutuhan energy

c. Karbohidrat dibatasi, antara 50-60% dari total energy. Pengurangan terutama berasal dari karbohidrat murni seperti pengunaan gula pasir dikurangi

d. Lemak < 20% dari total kebutuhan energy, diutamakan menggunakan lemak tidak jenuh ganda seperti yang terdapat dalam minyak jagung, minyak

(55)

Contoh menu sehari Nilai Gizi :

Energi : 1722 Kalori Vitamin A : 11257 IU

Protein : 68,3gram Besi : 15,1 mg

Lemak : 44,6 gram Kalsium : 636 mg

Karbohidrat : 275 gram Pospor : 1157 mg

WAKTU MENU I Berat /Gram URT

PAGI Roti gandum 80 2 lembar  

Selai kacang 20 1 sendok

makan Jus wortel + tomat 50+50 1 gelas

Susu Skim 20 3 sdk mkn

(56)

MENU UNTUK PENDERITA JANTUNG KORONER

WAKTU MENU I MENU II

PAGI Nasi Roti gandum

Kering Tempe + teri Selai kacang

Bening bayam Jus wortel + tomat Susu Skim

10.00 Kacang rebus Jus alpukat

SIANG &

MALAM Nasi Nasi merah

Ikan pepes Ikan Tuna Asam Padeh

Tahu bacem Sate Tempe

Sayur asem Salad sayuran (+ olive oil)

(57)

Bahan makanan yang dianjurkan :

a. Bahan makanan yang tinggi kalium untuk membantu menyeimbangkan nilai elektrolit dalam darah sehingga menurunkan natrium: sayuran, seperti bayam, daun singkong, daun pepaya; buah buahan, seperti pisang, melon, alpukat, tomat; umbi umbian, seperti kentang, singkong, ubi

a. Bahan makanan tinggi kalsium : susu, produk susu seperti yoghurt, keju, ice cream; ikan yang dimakan dengan tulangnya seperti ikan teri, bandeng presto tulang lunak; kedele dan produk hasil olahnya seperti susu kedele, tahu, tempe; sayuran seperti bayam dan brokoli

Bahan makanan yang harus dibatasi :

a. Garam natrium : garam dapur, MSG, soda kue (natrium bikarbonat), natrium benzoate (pengawet). Dalam sehari, garam dapur diperbolehkan hanya 5 gram atau 1 sendok teh peres

b. Makanan yang diberi garam Natrium pada pengolahan : seperti biskuit, kraker, cake, dan kue lain yang dimasak dengan garam dapur dan atau soda kue, dendeng, abon, kornet, ikan asin, telur asin, keju, margarin,

(58)

Contoh Menu Sehari Nilai Gizi

Energi : 1674Kalori Vitamin A : 14039 IU

Protein : 61,4gram Besi : 21 mg

Lemak : 44,7gram Kalsium : 649 mg

Karbohidrat : 266 gram Pospor : 1235 mg

WAKTU MENU I Breat (Gram) URT

PAGI Nasi 100 ¾ gelas

Telur rebus + sambal tomat 50 +50 1 potong Lalap daun kemangi, ketimun 100 1 gelas

 Air jeruk 50 1 buah

10.00 Pisang 75 1 buah

(59)

MENU UNTUK PENDERITA HIPERTENSI

WAKTU MENU I MENU II

PAGI Nasi Bubur manado isi sayuran

Telur rebus + sambal tomat + Ikan cakalang Lalap daun kemangi,

ketimun Susu Skim

 Air jeruk Pisang

10.00 Pisang Puding buah

SIANG &

MALAM Nasi Nasi merah

Pepes teri basah Ayam panggang

Terik Tempe Tempe bacem

Urap sayuran Sayur asem

(60)

Bahan makanan yang harus dihindari:

a. Makanan yang berkadar purin tinggi, yaitu antara 150-180 mg per 100 gram bahan makanan, seperti hati, ginjal, jantung, limpa, paru paru, otak, sarden, ekstrak daging dan ragi

b. Makanan yang berkadar purin sedang, yaitu antara 50-150 mg per 100 gram bahan makanan, daging, ikan, kerang, kacang kacangan, kacang buncis, bunga kol, bayam, asparagus dan jamur 

Contoh Menu Sehari Nilai Gizi

Energi : 1708 Kalori Vitamin A : 19536 IU

Protein : 43,8 gram Besi : 12,5 mg

Lemak : 48,6 gram Kalsium : 682 mg

Karbohidrat ; 281 gram Pospor : 842 mg

WAKTU MENU I (Gram)Breat URT

(61)

Lampiran 14. Contoh Menu Untuk Lansia Tanpa Gigi dan Konstipasi 

MENU UNTUK LANSIA TANPA GIGI

WAKTU MENU I MENU II

PAGI Bubur Sumsum Mie kuah (Mie diremukkan) Telur ceplok air + Telur/daging giling/tahu

Jus tomat + caisim (potong kecil & empuk)  Air jeruk

10.00 Bubur kacang hijau/ kacang

tanah tumbuk/selai kacang Puding caramel SIANG &

MALAM Nasi lembik Kentang pure

Semur hati ayam Gadon daging Perkedel tahu/tempe Sapo Tofu

Sayur godog labu siam Sayur bening bayam + labu kuning

(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)

Kementerian Kesehatan RI

Direktorat Bina Gizi Subdit Bina Gizi Klinik

2011

MAKANAN SEHAT 

UNTUK 

LANJUT USIA 

Kementerian Kesehatan RI 2011 Kebutuhan Gizi Sehari :

Kalori : Kkal Lemak : gram Protein: gram Karbohidrat : gram PEMBAGIAN MAKANAN SEHARI

Pagi Jam 06.00-08.00 Berat(gr) *URT Nasi /pengganti Hewani/nabati Sayuran Minyak Gula pasir Selingan Jam 10.00 : ... Siang Jam 12.00 – 13.00 : Nasi /pengganti Hewani Nabati Sayuran Buah Minyak Selingan Jam 16.00 : ... Malam Jam 18.00 – 19.00 Nasi /pengganti Hewani Nabati Sayuran Buah Minyak Selingan Jam 21.00 : ...

*) Ukuran Rumah Tangga

Nama :... TB : ...Cm Umur :...  BB :...Kg IMT (Indeks Masa Tubuh) :...

: ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ... : ... ...   Pagi Nasi/Nasi Tim/ Bubur Telur dadar Tahu Bacem Tumis kacang panjang + udang Jam 10.00 (Selingan) Pisang rebus

Informasi lebih lanjut akses : sigizi@com Email : gklinis @yahoo.com Untuk memvariasikan makanan, gunakan

brosur bahan makanan penukar   Siang

Nasi/Nasi Tim/ Bubur Ikan goreng Tahu panggang isi sayuran Sayur asem Pepaya Jam 16.00 (Selingan) Jus alpukat   Malam Nasi/Nasi Tim Pepes teri nasi (teri basah) Tempe mendoan Capcay Jeruk Jam 21.00 (Selingan) Susu rendah lemak

 Agar tetap sehat dan produktif di usia lanjut, makan sesuai pola gizi seimbang, lakukan aktivitas fisik dan tidak merokok  Contoh Menu Sehari

Gambar

Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 bagi Orang Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dapat disimpulkan bahwa lansia yang asupan gizinya (energi, protein, lemak, dan karbohidrat) kurang mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami status gizi

Berdasarkan hasil analisis diperoleh tidak terdapat perbedaan karakteristik; tingkat konsumsi energi; tingkat konsumsi karbohidrat; tingkat konsumsi lemak; keluhan

Dari pengujian tersebut, nilai yang dihasilkan metode fuzzy sugeno dalam menentukan kebutuhan energi, karbohidrat, lemak dan protein mendekati kebutuhan standar

Skripsi: Pemenuhan Kebutuhan Spiritual pada Lanjut Usia di Kelurahan Tanjung Gusta kecamatan Medan Helvetia.. LANJUT USIA dan Keperawatan

satu dampak dari masalah gizi lebih yang juga sering terjadi pada manusia usia

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Akhmadi (2008), bahwa kebutuhan hidup orang lanjut usia antara lain kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan

Skripsi yang berjudul “Kondisi Sosial Ekonomi Pemulung Lanjut Usia dan Upayanya Dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Keluarga (Studi Kasus Pada Pemulung Lanjut Usia

Jika energi dari karbohidrat dan lemak pakan masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan unggas maka protein dalam makanan dapat dijadikan sebagai sumber energi