• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SEJARAH WAYANG GOLEK CEPAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II SEJARAH WAYANG GOLEK CEPAK"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

SEJARAH WAYANG GOLEK CEPAK

A. Pertunjukan

1. Seni Pertunjukan Cirebon

Janet Woll mengatakan bahwa seni adalah produk sosial. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya dan sebagainya). Maka konsep pendidikan yang memerlukan ilmu dan seni ialah proses atau upaya sadar antara manusia dengan sesama secara beradab, di mana pihak kesatu secara terarah membimbing perkembangan kemampuan dan kepribadian pihak kedua secara manusiawi yaitu orang perorangan. Oleh karena itu budi bahasa pun adalah suatu seni.1 Kesenian adalah salah satu unsur dari kebudayaan, sedangkan kebudayaan adalah keseluruhan hasil karya cipta manusia yang dimiliki bersama dalam suatu satuan masyarakat.2

Salah satu kazanah budaya bangsa yang membanggakan adalah seni budaya wayang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia wayang adalah boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda dan sebagainya). Wayang biasanya dimainkan oleh seseorang yang sebut dalang.

Seni budaya wayang ini telah mencapai puncak kualitasnya dan bermanfaat bagi masyarakat. Wayang adalah seni yang adiluhung, yaitu seni yang indah serta mengandung nilai-nilai keutamaan hidup. Karena mutu dan manfaatnya itu, pada tahun 2003, UNESCO menetapkan wayang sebagai World Heritage, a masterpiece of

the oral and intangible heritage of humanity.3

1 Ridwan Effendi, dkk. Ilmu Sosial Budaya Dan Dasar. (Yogyakarta:2010) Th. Hal.166

2Edi Sedyawati, Kebudayaan di Nusantara. (Depok:Komunitas bambu, 2014) Hal.351

3Maksud dari kalimat diatas adalah UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan dunia,

(2)

Wayang merupakan salah satu keterampilan asli bangsa Indonesia. Pagelaran wayang merupakan ungkapan dan peragaan pengalaman religius yang merangkum macam-macam unsur lambang seperti bahasa, gerak, tari, suara, sastra, warna dan rupa. Wayang mampu menyajikan kata-kata mutiara yang meliputi pendidikan, pengetahuan, penyadaran dan hiburan. Lukisan estetisnya mampu menyajikan imajinasi puitis untuk petuah-petuah religius yang mempesona dan menggetarkan jiwa manusia.

Seni pewayangan merupakan suatu kesatuan yang seimbang dan seirama, memiliki delapan unsur seni di antaranya seni drama, seni sungging, seni rupa, seni tatah, seni sastra, seni suara, seni karawitan dan seni gaya.4 Seni pewayangan yang memiliki berbagai unsur seni dan falsafah itu ternyata digemari dan dihayati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Asal usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam kehidupan masyarakat. Wayang akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, karena memang wayang itu merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional dan merupakan puncak budaya daerah.5

Para cendekiawan seperti Hazeu, Rasser, Kusumadilaga dan lain-lain berpendapat bahwa wayang Indonesia sudah ada dan berkembang sejak zaman kuno, sekitar tahun 1500 SM, jauh sebelum agama dan budaya dari luar masuk ke Indonesia.6 Jadi, wayang dalam bentuknya yang masih sederhna adalah asli Indonesia, yang dalam proses perkembangan setelah bersentuhan dengan unsur-unsur lain, terus berkembang maju sehingga menjadi wujud dan isinya seperti sekarang ini.

4Nurhalimah, Perancangan Media Informasi Tokoh Wayang Golek Purwa Sebagai Upaya Memperkenalkan Budaya Nusantara, (Bogor:1988). Th. Hal. 01

5 Sena Wangi, Ensiklopedi Wayang Indonesia. (Jakarta: PT Sakanindo Printama. 1999).

Hal.29

6Cendekiawan yang dimaksud adalah Hazeu, Rassers, pakar dari Indonesia K.P.A

Kusumadilaga, Ranggawarsita, Suroto, Sri Mulyono dan lain-lain. Pendapat ini dikemukakan oleh Solchin dalam buku Gatra Wayang Indonesia.

(3)

Sudah pasti perkembangan itu tidak berhenti, melainkan akan berlanjut di masa-masa mendatang.

Wayang yang kita lihat sekarang ini berbeda dengan wayang pada masa lalu, begitu pula wayang di masa depan akan berubah sesuai zamannya. Tidak ada sesuatu seni budaya yang mandeg. Seni budaya akan selalu berubah dan berkembang, namun perubahan seni budaya wayang ini tidak berpengaruh terhadap jati dirinya, karena wayang telah memiliki landasan yang kokoh. Landasan utamanya adalah sifat

hamot,7 hamong,8 hamemangkat9 yang menyebabkannya memiliki daya tahan dan daya kembang wayang sepanjang zaman.

Seperti halnya dalang Akhamdi, ia adalah salah satu dari dalang wayang golek cepak. Keberadaan dalang wayang golek cepak kini tinggal beberapa saja, peminatnya pun berkurang tak seperti dahulu. Dalam menjaga eksistensinya dalang Akhmadi mempunyai cara untuk mempertahankan seni pertunjukan ini, yaitu dengan cara mengikuti situasi. Maksud dari situasi adalah beliau mengikuti jalannya zaman yang selalu berubah, perubahan dari lagu dan perkembangan-perkembangan pertunjukan wayang. Proses islamisasi yang dilakukan dalang Akhmadi begitu mudah, dilihat dari profesi lain dari Dalang Akhmadi. Ia tidak hanya sebagai dalang wayang, akan tetapi beliau juga seorang ahli agama yang cukup disegani oleh masyarakat di sekitarnya.

Para Budayawan Cirebon sepakat bahwa eksistensi wayang kulit Cirebon bermula dari kedatangan Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari sembilan wali atau biasa disebut Wali Sanga. Datangnya Sunan Kalijaga ke wilayah Cirebon bertujuan untuk menyebarkan dakwah Islam dan media yang digunakan oleh Sunan Kalijaga pada waktu itu diantaranya adalah Wayang Kulit. Dalam budaya Cirebon

7 Hamot adalah keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam dan luar.

8 Hamong adalah kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru itu sesuai nilai-nilai wayang

yang ada, untuk selanjutnya diangkat menjadi nilai-nilai yang cocok dengan wayang sebagai bekal untuk bergerak maju sesuai dengan perkembangan masyarakat.

9 Hamemangkat atau memangkat sesuatu nilai menjadi nilai baru. Dan ini jelas tidak mudah,

harus melalui proses panjang yang dicerna dengan cermat. Wayang dan seni perdalangan sudah membuktikan kemampuan itu, berawal dari zaman kuno, zaman Hindu, masuknya agma Islam, zaman penjajahan hingga zaman kemerdekaan dan masa pembangunan nasional dewasa ini.

(4)

terutama dalam budaya pedalangannya, Sunan Kalijaga pada waktu itu disebut sebagai Ki Sunan Dalang Panggung. Namun dalam versi yang lain Ki Sunan Dalang Panggung ini dipercaya sebagai Syekh Siti Jenar dan bukannya Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga ini pula yang memperkenalkan Suluk atau Syair 'Malang Sumirang yang merupakan suluk khas Cirebon.

Dilihat dari perkembangan seni pertunjukan pada tahun 1970 hingga 1980-an, wayang sangat digemari oleh kebanyakan masyarakat dan pertunjukan wayang melejit tinggi. Akan tetapi sejak tahun 1980 hingga 1990-an seni pertunjukan wayang menurun dari pertunjukannya hingga peminatnya. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh faktor masuknya budaya luar. Tidak hanya itu masyarakat mulai jenuh dan bosan. Akibatnya hal itu menyebabkan kemerosotan seni pertunjukan wayang di Cirebon. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa tapi ini semua ada di tangan praktisi seni pertunjukan yang belum mampu untuk mempertahankan wayang sedang persaingan dengan budaya luar semakin kuat.

Wayang Kulit Cirebon adalah salah satu ragam wayang kulit yang ada di wilayah Nusantara, termasuk di dalamnya Negara-negara Asia Tenggara. Di wilayah yang terdiri dari banyak pulau dan beraneka ragam etnis, jenis gaya wayang kulit begitu melimpah ditemui. Misalnya beraneka jenis wayang kulit di pulau Jawa, wayang narta di Bali, wayang sasak di Lombok, wayang Melayu di Terengganu, Malaysia10 hingga wayang Nang Yai dan Nang Thalung di Thailand.11 Kesenian wayang merupakan suatu kesenian yang sudah dikenal sejak zaman dahulu hingga masa kini, dan telah membudaya tidak saja bagi masyarakat Indonesia tetapi juga di kalangan orang-orang di luar negeri.

Seni dan budaya wayang merupakan contoh-contoh dari kehidupan yang menggambarkan berbagai watak-watak perilaku para tokoh yang berkecimpung di dalamnya. Wayang merupakan kesenian yang unik, yang mana wayang tersebut

10 Wayang Malaysia ceritanya bersumber dari kitab Ramayana dan Mahabarata, wayang

Malaysia biasa disebut wayang Menak dan ceritanya ada yang berupa Menak.

11 Wayang Thailand sumber ceritanya adalah dari kitab Ramayana dan Mahabarata,

(5)

merupakan kesenian asli Indonesia yang sudah meresap jauh ke dalam masyarakat dan mencangkup berbagai cabang kesenian.

Sunan Kalijaga setelah menemukan hakikat dan kema’rifatan Islam di Cirebon, maka beliau semakin rajin usahanya untuk menyempurnakan bentuk wayang kulit beserta ritual pagelarannya, semua disesuaikan dengan muara ilmu keislaman. Hal ini karena Sunan Kalijaga ingin mengislamkan orang-orang di Jawa dan di Cirebon khususnya, yaitu dengan memunculkan karya seni budaya sebagai medianya.12 Adapun kesempurnaan yang dilambangkan ke dalam eksistensi wayang tersebut, merupakan suatu gambaran-gambaran atau suatu perumpamaan syariat agar semua umat manusia lebih mudah dan lebih jelas memahami ajaran Islam. Berda’wah dengan menggunakan alat peraga itu lebih dominan serta langsung dirasakan percontohannya oleh semua yang melihatnya. Arti dari da’wah disini yaitu menduga, jadi kesan syi’arnya tidak halus seperti peragaan atau pagelaran wayang, karena tidak ada kesan orang yang dida’wah, melainkan semuanya langsung digambarkan dengan suatu adegan yang nyata, bahwa percontohan orang yang benar dan orang-orang yang salah itu dibuktikan dengan lakon wayang pada saat itu. Jadi syi’ar disini lebih menyentuh pada nilai-nilai rasa manusia itu sendiri, bukan saja sekedar rasionya atau angan-angan Islamnya.13

2. Macam-macam Seni Pertunjukan Cirebon

Adapun macam-macam seni pertunjukan yang ada di Cirebon dan asli Cirebon yaitu, Brai, Wayang Kulit Wayang Golek, dan Tarling. Sedang adopsi dari daerah lain yaitu Gotong Singa dan Organ.14

a) Brai muncul sejak zaman setelah wali sekitar tahun 16-17 M. Brai sebenarnya bukan seni melainkan pemujian kepada tuhan yaitu Allah. Pada awalnya para pelaku seni yang sangat mencintai ketuhanan atau ketauhidan maka mereka

12 DISBUDPAR, Cerita Galur Wayang Kulit Purwa Cirebon. Op.cit. Hal.09

13 ibid. Hal 10

14 Dalang Suherman, wawancara pada tanggal 23 Maret 2015 pukul 12:26 di kediaman dalang

(6)

menciptakan cara untuk menyalurkan birahinya kepada tuhan dengan cara berzikir memuji tuhan dan bersolawat yang diiringi dengan benderang besar, dari situlah cikal bakal adanya rebana, solawatan. Konteks ini bisa kita terka bahwa rebana itu asli dari Timur Tengah dan para wali pun banyak yang berasal dari sana dan belajar di sana, kemungkinan besar rebana atau benderang ini di bawa oleh para wali ke Cirebon, dan terciptalah dalam versi baru asli Cirebon yaitu Brai (Birahi).15

b) Wayang kulit wayang golek. Menurut dalang Akhmadi seni pertunjukan wayang golek adalah pemain wayang atau yang disebut dalang di mana wayang yang dimainkan. Pertunjukan tersebut diiringi gamelan dan nayaga beserta seruling, kendang dan sinden. Pertunjukan wayang pada zaman dahulu tidak sama dengan pertunjukan wayang sekarang, perbedaannya yaitu zaman dulu tidak ada sinden dan seruling, sedangkan dari lagu-lagunya tidak ada perbedaan hanya saja untuk pertunjukan sekarang menggunakan pengeras suara, sinden dan seruling, sedang dulu tidak menggunakan pengeras suara, sinden maupun seruling dan setiap pertunjukan hanya ada wayang dan gamelan saja.

Pada zaman dulu memang ada nyanyian-nyanyian akan tetapi dibawakan oleh nayaga atau kata lainnya panjak dan tidak ada nyanyian khusus. Nyanyian-nyanyian yang dibawakan nayaga tersebut hanya sebuah percakapan gurauan antara nayagan satu dengan nayagan lain, hal tersebutlah yang menjadi daya tarik dari sebuah pertunjukan wayang, karena membuat alur cerita menjadi jelas dan berurutan.

Seni budaya wayang dapat ikut berperan dalam pembentukan peradaban manusia karena salah satu fungsi dan kegunaannya adalah untuk pendidikan. Pagelaran wayang selalu mengetengahkan kemampuan sebagai tontonan, tatanan, dan tuntutan.16 Pergelaran wayang yang baik menyuguhkan wayang sebagai tontonan yang indah dengan nilai estetika yang tinggi,

15 Ibid. Wawancara dengan dalang Suherman

(7)

wayang yang indah itu diatur dalam tatanan yang rapi sebagai suatu sistem yang mapan. Dengan landasan tatanan yang rapi, wayang biasa tampil indah sebagai tontonan yang menarik serta mengandung pesan-pesan moral sebagian tuntunan hidup yang berguna bagi kehidupan manusia dan masyarakat.

c) Tarling adalah salah satu seni pertunjukan asli Cirebon, tarling merupakan seni pertunjukan musikal yang diisi dengan beberapa pementasan seni dan melibatkan banyak orang di setiap pementasannya, di antaranya drama, tari-tarian, nyanyian dan lain-lain. Biasanya dalam drama ini mengangkat cerita mengenai nilai sosial, agama bahkan kepentingan pemimpin dalam menyampaikan program maupun lainnya.

d) Organ terinspirasi oleh tarling dan karaoke, di mana seniman-seniman Cirebon pada masa itu menginginkan sebuah hiburan yang tidak banyak memakan tempat serta tidak melibatkan banyak orang, maka dibuatlah organ dengan personil sedikit dan hanya menggunakan sebuah panggung kecil. e) Gotong singa juga salah satu adopsi dari daerah lain yaitu Subang. Gotong

singa sering disebut sisingaan, dalam pertunjukannya sisingaan ini tidak hanya menggotong anak kecil berkeliling tapi dalam akhir pertunjukannnya

sisingaan ini memberikan atraksi-atraksi sulap sebagai penutup acaranya.

B. Wayang Secara Umum

1. Sejarah Wayang Secara Umum a. Zaman Nenek Moyang

Periodisasi perkembangan budaya wayang juga merupakan bahasan yang menarik. Bermula pada zaman kuna ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam alam kepercayaan animisme dan dinamisme ini diyakini roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup dan semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan. Roh-roh itu bisa bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Paduan dari animisme dan dinamisme ini

(8)

menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa tetap mempunyai kuasa, maka terus dipuja dan dimintai pertolongan.17

Selain melakukan ritual tertentu mereka mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung. Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut hyang atau

dahyang. Orang bisa berhubungan dengan para hyang ini untuk meminta

pertolongan dan perlindungan, melalui seorang medium yang disebut

syaman. Ritual pemujan roh nenek moyang hyang dan syaman inilah yang

merupakan asal mula pertunjukan wayang. Hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan itu menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalangnya. Dalam pementasan wayang pada zaman itu yaitu menggunakan cerita-cerita pertualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa asli.18

Menurut Tubagus M Kosasih dalam bukunya mengatakan bahwasannya persoalan sejarah wayang yang sesungguhnya banyak perbedaan pendapat, banyak versi pendapat yang bisa kita baca dari tiap buku-buku wayang. Adapun menurut Tubagus M Kosasih bahwa wayang telah ada sebelum kedatangan orang-orang Hindu di Pulau Jawa. Wayang merupakan kelanjutan dari kebudayaan bangsa Indonesia asli, yaitu kebudayaan dari pemujaan arwah nenek moyang. Adapun cara pemujaannya dengan cara memanggil arwah nenek moyang dengan menari-narikan boneka yang terbuat dari dedaunan yang dimiripkan atau dirupakan sebagai nenek moyang.

Pada zaman itu pula wayang belum berupa boneka seperti yang sekarang, akan tetapi merupakan gambar yang dilukis sama seperti nenek moyang atau para leluhurnya, kemudian dalam pelukisannya pada daun lontar yang ditirunya dari arca atau patung.19 Pada zaman pra sejarah

17 Sena Wangi. Op.cit. Hal.29

18 Ibid. Hal. 30

19Tubagus M Kosasih, Fungsi Dalang Sebagai Juru Penerangan Dengan Wayang Golek Sebagai Alatnya yang Efektif dan Praktis. UNPAD. 1966. Bandung. Hal.8

(9)

wayang telah digunakan dalam upacara-upacara gaib pada malam hari sebagai media untuk berhubungan dengan roh nenek moyang. Upacara yang diadakan menggunakan alat-alat khusus seperti, patung nenek moyang yang sudah meninggal, patung kowar (patung yang diberi tenggorokan nenek moyang), mummi, gambar roh nenek moyang yang dipahat di atas kulit binatang sajian-sajian yang digemari oleh nenek moyang sewaktu masih hidup.20

b. Hindu

Perkembangan wayang ternyata tidak hanya sampai pada gambaran roh nenek moyang di zaman pra sejarah. Wayang berkembang kembali ketika terjadi hubungan dengan orang-orang Hindu yang datang ke Jawa. Hadirnya pengaruh Hindu telah membawa Indonesia ke dalam zaman sejarah, karena di zaman Hindu ini selain agama, bahasa yang dibawa ternyata meresap ke dalam budaya penduduk asli.21

Pengaruh budaya Hindu sampai saat ini dapat kita saksikan dengan banyaknya candi-candi yang berdiri, prasasti-prasasti dengan bahasa

sansekerta dan huruf pallawa. Budaya Hindu ini pun mempengaruhi kepada

perkembangan wayang, dengan masuknya cerita-cerita Hindu seperti,

Ramayana dan Mahabarata. Budaya baru ini pun tidak langsung diterima,

tapi dengan waktu yang cukup lama dan dengan proses pemahaman terhadap bahasa baru dibawa oleh orang-orang Hindu, barulah terasa adanya resapan dan pengaruh terhadap budaya lama.

Berasal dari zaman animisme wayang terus mengikuti pejalanan sejarah bangsa sampai pada masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Bangsa Indonesia mulai bersentuhan dengan peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara,

20 Fitriantoro, Peranan Wayang Golek Dalam Penyebaran Islam Di Bogor. Jakarta. Tp. 2004.

Hal.28

(10)

bahkan Sriwijaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun berkembang pesat, mendapat fondasi yang kokoh sebagai suatu karya seni yang bermutu tinggi.22

Pertunjukan roh nenek moyang itu kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih berbobot, Ramayana dan Mahabarata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat. Karya sastra wayang yang terkenal dari zaman Hindu itu antara lain Baratayuda, Arjuna Wiwaha, Sudamala, sedangkan pergelaran wayang sudah bagus, diperkaya lagi dengan penciptaan peraga wayang terbuat dari kulit yang dipahat, diiringi gamelan dalam tatanan pentas yang bagus dengan cerita Ramayana dan Mahabarata.

c. Islam

Masuknya agama Islam di Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu pula wayang telah mengalami masa pembaharuan. Pembaharuan besar-besaran, tidak saja dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Berangkat dari perubahan nilai-nilai yang dianut, maka wayang pada zaman Demak dan seterusnya telah mengalami penyesuaian dengan zamannya.23 Bentuk wayang yang semula realistik proposional seperti tertera dalam relief candi-candi, dirubah menjadi bentuk imajinatif seperti wayang sekarang ini. Selain itu, banyak sekali tambahan dan pembaharuan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong atau lampu, debog yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang dan masih banyak lagi.

Para Wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus dan lainnya mengadakan pembaharuan yang berlangsung terus menerus sesuai perkembangan zaman dan keperluan pada waktu itu,

22Ibid. Hal. 31

(11)

utamanya wayang digunakan sebagai sarana dakwah Islam. Sesuai nilai Islam yang dianut, isi dan fungsi wayang telah bergeser dari ritual agama (Hindu) menjadi sarana pendidikan, dakwah, penerangan dan komunikasi massa. Ternyata wayang yang telah diperbaharui kontekstual dengan perkembangan agama Islam dan masyarakat, menjadi sangat efektif untuk komunikasi massa dalam memberikan hiburan serta pesan-pesan kepada khalayak. Fungsi dan peranan ini terus berlanjut hingga dewasa ini.

Dan karena kuatnya dan meresapnya cerita-cerita Mahabarata dan Ramayana, maka Sunan Kalijaga mencegah adanya kemusyrikan yang terjadi pada saat itu. Kemudian dicobanya membuat cerita-cerita baru yang disesuaikan dengan keagamaan terutama agama Islam. Tidak hanya cerita akan tetapi semua aspek yang ada dirubahnya, seperti pagelarannya, wujud wayangnya dan bahkan wajah dari wayangnya pula. Hal tersebut mempunyai tujuan bahwasanya wayang sama saja dengan manusia yaitu sama-sama tidak mempunyai wewenang dalam dunia dan tidak akan bergerak jika sang penguasa tidak menggerakkannya (dalang), bisa dikatakan manusia dan wayang adalah benda mati bila mana tidak digerakkan.24

Dengan pendapat dan keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa wayang itu asli kebudayaan Bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi sebagai media guna memudahkan jalan cerita nenek moyang yang kemudian digunakan untuk penyebarluasan agama-agama. Dengan seiringnya waktu wayang pun mempunyai banyak perubahan, hal ini dilakukan agar tidak ada kesalah pahaman mengenai wayang. Nemun jelas terlihat bahwa wayang dipergunakan sebagai alat penerangan dan perluasan baik ajaran agama maupun perluasan kepercayaan dan pengaruhnya.25

24 Tubagus M Kosasih, op.cit. hal.23

(12)

C. Wayang Golek Cepak

1. Sejarah Wayang Golek Cepak

Dalam khasanah seni pedalangan Cirebon di samping dikenal genre Wayang Kulit Purwa, terdapat pula jenis seni pertunjukan wayang yang menggunakan boneka berbentuk tiga dimensi yang dikenal dengan sebutan Wayang Golek Cepak atau disebut juga dengan istilah Wayang Golek Papak. Konon istilah wayang ini diambil dari bentuk fisik dari boneka wayang yang cenderung rata pada bagian kepalanya atau dalam istilah Jawa papak, dalam bahasa sunda disebut cepak. Kalau kita melihat secara sepintas bentuk fisik dari boneka wayang tersebut memang seolah ada kemiripan antara wayang golek cepak dengan wayang golek purwa, namun pada bagian bagian tertentu ada perbendaan yang sangat signifikan. Misalnya pada wayang purwa kebanyakan tokoh-tokohnya menggunakan mahkota gelung keling,26 dan lain-lain. Sementara Pada wayang golek cepak sebagian bonekanya menggunakan semacam aksesories/hiasan sangat sederhana berupa ikat kepala.

Sepintas baik bentuk fisik maupun ragam ceritanya wayang cepak memiliki kesamaan dengan beberapa jenis wayang yang menggunakan media kayu ini di Jawa Tengah, seperti Wayang Golek Menak dan Wayang Golek Panji. Pada wayang golek menak cerita yang disajikan di antaranya;

Amir ing medayin, Amir ing serandil, Amir ing ajerak, Amir Hamzir dan lain-lain.27

Dalam khasanah kesusastraan klasik Indonesia bentuk cerita menak sudah dikenal cukup lama dipengaruhi kuat dari sastra Timur Tengah. Tokoh utama dalam wayang menak ini adalah Amir Hamzah atau dalam tradisi

26 Gelung kelling sering disebut dengan Sanggul keling, yaitu salah satu busana bagian atas

yang dipakai oleh berbagai tokoh wayang dan memiliki ragam nama serta bagian yang berbeda-beda dari tiap tokohnya. Terdapat dua macam bentuk dari sanggul keling, yaitu gelung keling putri (putren) seperti yang dikenakan oleh tokoh wayang Dewi Drupadi, Sumbadra, Supraba dan Kuntinalibrata. Gelung keling putra seperti yang dikenakan oleh tokoh wayang Prabu Puntadewa, Prabu Drupada, Raden Jayajrata dan lain-lain.

(13)

lisan di kalangan masyarakat Jawa dikenal dengan sebutan Wong Agung Menak dengan berbagai nama samaran lainnya. Konon tokoh imajiner ini diilhami dari tokoh historis Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib paman dari Nabi Besar Muhammad s.a.w. sebagai sosok gagah berani membela Rasulullah baik sebelum maupun sesudah masuk Islam.

Rangkaian peristiwa heroik Hamzah bin Abdulmuthalib sebagai salah seorang tokoh sejarah inilah yang mengilhami munculnya tokoh pemberani dalam cerita Menak yaitu Amir Hamzah atau Wong Agung Menak. Keperkasaan tokoh Amir Hamzah yang sakti luar biasa dipandang dari aspek historis memang ada sisi penyimpangan dari tokoh yang sebenarnya, namun dipandang dari sudut kreatifitas dalam menggarap sebuah cerita sangat luar biasa.

Pada beberapa jenis kesenian tradisi Nusantara cerita Menak terdapat dalam beberapa bentuk kesenian di antaranya; Kesenian Kethoprak basahan dari Yogyakarta dan Solo, teater Angguk di Kebumen, Manorek di Banyumas, Pelipu Lara di Sumatra (teater bertutur), Sahibul Hikayat (Teater bertutur/dongeng). Cerita Menak dalam format pertunjukan wayang terdapat pada wayang golek Menak tersebar di beberapa daerah seperti; Surakarta, Banyumas, Pekalongan, Kebumen, Pringan hingga Cirebon. Sayangnya kini hampir di setiap jenis kesenian yang disebutkan di atas sudah jarang ditemukan lagi pentas dengan menyajikan cerita Menak. Di samping wayang golek Menak ada juga jenis wayang golek dalam genre lain yaitu Wayang golek Panji. Wayang golek ini biasanya membawakan jenis epos Panji, seperti cerita Panji semirang, Panji Laras, Panji Asmara Bangun, Panji Wulung dan sebagainya.

2. Lakon Wayang Cepak

Lakon atau cerita yang dipergelarkan dalam Wayang Golek Cepak tidak sama dengan lakon yang biasa disajikan dalam Wayang golek purwa

(14)

maupun wayang kulit purwa gaya Cirebon.28 Jika pada wayang purwa lakon yang disajikan bersumber dari cerita Mahabarata dan Ramayana, maka repertoar lakon pada Wayang Golek Cepak bersumber dari Cerita Menak, Legenda, epos panji, Kerajaan, dan cerita wali ( babad). Repertoar cerita Menak meliputi; Umar Maya Umar Madi, Amir Ing Srandil, Amir Ing Al Karib, Amir Ing Mendayin, Ahmad Muhammad, Durahman-Durahim, Jayeng Murti, Repatmaja Imam Suwangsa, Lokayanti raja Nuryatin, Sayidina Ali Perang Lahad dan lain-lain. Dalam Epos Panji ceritanya; Panji Kudawanengpati, Panji Gagak Pernala, Jaransari-Jaranpurnama, Panji Sutra, Panji Tumang, Panji Asmara bangun, Panji Wulung, Panji Kasmaran dan lain-lain. Cerita Legenda; biasanya bersumber dari legenda daerah, seperti Ciungwanara, Sangkuriang, Walangsungsang, Rarasantang dan lain-lain.

Seperti yang kita ketahui bahwasannya ada beberapa lakon yang ada dalam pagelaran wayang, Secara tradisi repertoar lakon tersebut dalam dunia pedalangan Cirebonan dibedakan menjadi 5 bentuk yaitu:

Lakon galur Adalah bentuk lakon atau cerita yang berpatokan pada epos Ramayana dan Mahabarata atau cerita yang bersumber dari sejarah. Contoh bentuk lakon ini bisa ditemukan pada lakon “Konteya Merad” yang menghubungkan kisah pada masa Mahabarata dengan cerita Babad.

Lakon Babad Adalah bentuk cerita yang hidup dan berkembang di masyarakat yang mengisahkan kejadian atau peristiwa tertentu yang bersumber dari catatan sejarah tempo dulu yang dirangkum dalam bentuk buku atau kitab kuno seperti: Kitab Rantai, Kitab, Kawedar, Kitab Lugu dan Kitab Peteng.

28 Menurut dalang Herman perbedaan wayang kulit purwa dengan wayang golek purwa

terletak pada lakon atau ceritanya saja. Ada pula yang mengatakan bahwa wayang golek purwa merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa Barat. Cerita dan tokoh dalam wayang golek mirip dengan wayang kulit di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perbedaannya pada bentuk wayang. Beberapa tokoh tidak sama dengan wayang kulit. Misalnya tokoh punakawan, di wayang golek purwa hanya dikenal Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng. Pendapat ini di kemukakan oleh Romero lewat blognya wayang-golek-purwa-blogspot.co.id/2012/11/wayang-golek-purwa.html?. di unduh pada hari jumat 22 januari 2016 pukul 11.52

(15)

Lakon Menak Seperti telah dikatakan di atas bentuk lakon ini bersumber dari cerita yang terdapat di Timur Tengah. Menurut sebagain dalang Wayang Cepak bentuk cerita ini masuk dalam katagori bentuk cerita galur.

Lakon Panji Adalah sebuah cerita yang sudah melegenda tidak hanya di Jawa tapi juga di beberapa tempat lain, seperti Lombok, Sumatra, bahkan hingga ke kawasan Asia seperti di Thailan. Lakon Panji mengisahkan tentang kehidupan sosok Panji yang memiliki latarbelakang kerajaan Kahuripan dan Jenggala di Jawa Timur.

Lakon Perjuangan Bentuk lakon ini bertemakan perjuangan atau tema kepahlawanan pada masa perjuangan. Adapun judul lakonnya Ki Bagus Rangin, Untung Surapati, dan lain-lain.

Lakon Carangan Adalah berupa lakon rekaan atau anggitan dari dalang yang dihubungkan dengan persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan katagori bentuk cerita tersebut, tentu bagi seorang dalang adalah hal ini sangat penting, mengingat di samping penguasaan terhadap aspek penguasaan gamelan, aspek garap cerita, dan yang tidak kalah pentingnya adalah penguasaann terhadap bentuk lakon dan segenap struktur pertunjukan diatas pentas. Apabila dalang tersebut dapat menguasai aspek-aspek yang disebutkan tadi, maka peran dalang tersebut dapat digolongkan sebagai sosok yang telah memenuhi kriteria dalang. Namun hal tersebut tidak menjadi jaminan dapat digemari masyarakat luas jika dalang tersebut tidak berusaha untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, seperti menambah wawasan perdalanganya, teknik garap, dan yang paling penting keberadaan Wayang Cepak senantiasa dapat lentur mengikuti arus perkembangan yang terjadi di masyarakat pendukungnya.

Lakon-lakon tersebut dianggap penting dan jantung dari sebuah pertunjukan. Hal itu sangat diperhatikan oleh seorang dalang. Dalam pagelarannya dalang Akhmadi pun menggunakan lakon-lakon yang

(16)

dijelaskan di atas. Sebelum melakukan pagelaran beliau menyiapkan teks lakon-lakon tersebut dan dipelajari terlebih dahulu.

3. Struktur Pertunjukan Wayang Golek Cepak

Secara tradisi pola stuktur penyajian Wayang Golek Cepak memiliki kesamaan seperti halnya pada pertunjukan Wayang Kulit Purwa gaya Cirebon pada umumnya. Adapun struktur pertunjukannya :

1) Talu ( pembukaan) biasanya pada bagian ini hanya menyajikan

lagu-lagu gamelan secara instrumentalia. Adapun materi lagunya terdiri lagu Bayeman, Kajongan, gending Rungu-rungu, Balo-balo dan sebagainya.

2) Jejer adegan awal yang menggambarkan adegan keraton, atau di

petapan diiringi dengan gending Kaboran. Pada bagian ini sering disebut murwa.

3) Catur (Isi) Merupakan isi pokok dari cerita yang dipentaskan. 4) Paseban atau kepatihan, adegan yang berisi tentang

musyawarah.

5) Perang, Unjuk kekuatan secara fisik biasanya terdapat pula yang

menggunakan senjata.

6) Babar/tutug (penutup) Akhir dari rangkaian pertunjukan

biasanya dalang menyampaikan nasehat dan pesan terakhir dalam penutupan pergelarannya dan ditutup dengan lagu rumyang dan Bale bandung. 29

Selain lakon seorang dalang harus memperhatikan struktur pertunjukan wayang. Tiap dalang mempunyai perbedaan struktur pertunjukan, struktur pertunjukan di atas adalah struktur pertunjukan yang digunakan oleh dalang Akhmadi. Hanya saja dalam penutup dalang Akhmadi hanya menggunakan lagu rumyang.

29 Waryo, Makalah Mengungkap Jejak Wayang Golek Cepak Sebuah Lakon Dari Serat

(17)

Seperti masyarakat Jawa dan Cirebon pada umumnya, kesenian wayang masih kental melekat pada masyarakat Indramayu. Wayang kulit dan bahkan wayang golek Indramayu sebenarnya tak ada bedanya dengan wayang di Cirebon. Perbedaannya hanya terletak pada bahasa yang digunakannya, yaitu bahasa Cirebon dialek Indramayu atau yang biasa dikenal dengan basa dermayon yang khas dalam tuturannya, baik lakon maupun sempal guyonnya.

Wayang Indramayu merupakan ragam khas wayang Cirebon, dimana sebenarnya wayang Cirebon masih serupa dengan wayang purwa, namun memiliki ciri khasnya tersendiri. Jika ditinjau dari sudut seni kriya, wayang Cirebon dibuat cukup jauh berbeda dengan tatahan dan sunggihan wayang yang ada. Adapun bentuk wayangnya ini agak mirip dengan wayang Bali tetapi ukurannya lebih ramping.30

4. Perubahan Dari Bentuk dan Isi ( Cerita )

Pada zaman pra sejarah, wayang telah digunakan dalam upacara-upacara gaib pada malam hari sebagai media untuk berhubungan dengan roh nenek moyang.31 Upacara yang diadakan menggunakan alat-alat khusus seperti, patung nenek moyang yang sudah meninggal, patung kowar (patung yang diberi tengkorak nenek moyang), mummi, gambar roh nenek moyang yang dipahat di atas kulit binatang dan sajian-sajian yang digemari oleh nenek moyang sewaktu masih hidup.

Perkembangan wayang ternyata tidak hanya sampai pada gambaran roh nenek moyang di zaman pra sejarah. Wayang berkembang kembali ketika terjadi hubungan dengan orang-orang Hindu yang datang ke Jawa. Hadirnya pengaruh Hindu telah membawa Indonesia ke dalam zaman sejarah, karena di zaman Hindu ini selain agama, bahasa, bahasa yang di bawa ternyata meresap ke dalam budaya penduduk asli.32

30 Bonaditya. Kabupaten Indramayu. Bonaditya.com/2015/10/Kabupaten-Indramayu/http.

Disunting dua bulang yang lalu, Oktober 2015. Diunduh Selasa 22 Desember 2015 pukul 15.54

31 Ir Sri Mulyono, Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya. (jakarta:Gunung Agung,

1978) Hal.43

(18)

Adanya proses pembauran budaya asli dengan Hindu dan kemudian Budha yang kemudian hadir, dirasakan pada zaman Mataram I. Di zaman ini terjadi pembauran kebudayaan yang cukup besar antara budaya asli dengan budaya Hindu-Budha, yang ditandai dengan berdirinya candi Prambanan yang memiliki relief cerita Ramayana dengan lengkap penyaduran kitab Ramayana (asli) dalam bahasa Jawa kuno. Di zaman ini pula, wayang berubah secara bentuk menjadi bentuk relief pada candi yang berawal gambar nenek moyang. Secara cerita dan bahasa, berisi cerita ajaran Hindu yang berasal dari India, terdapat pada cerita Ramayana dan Mahabarata. Fungsi dari pertunjukan wayang itu sendiri tetap sebagai kegiatan ritual. Di zaman kerajaan Kediri dan Majapahit, perkembangan cerita-cerita wayang semakin berkembang dengan ditandai banyaknya kitab-kitab yang diambil dari bagian-bagian kitab Ramaya-Mahabarata. Seperti, Empu Kanwa menulis kitab Kakawin Arjuna

Wiwaha, yang merupakan petikan dari kitab Mahabarata bagian III. Kitab Adiparwa,

yang merupakan bagian pertama dari cerita Mahabarata dan lain-lain.33

Ketika terjadi hubungan antara kerajaan kerajaan Hindu Budha dengan para saudagar Islam, dan menjadikan hubungan dagang itu menjadi hubungan politik dengan berdirinya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, budaya Hindu Budha yang lebih dahulu merasa dalam masyarakat ternyata tidak serta merta hilang terutama budaya wayang. Wayang di zaman Hindu Budha yang berfungsi sebagai bagian ritual ajaran agama, di zaman kerajaan Islam justru semakin berkembang, tetapi dengan adanya perubahan-perubahan. Di zaman pengaru Islam inilah, perkembangan wayang yang diseponsori oleh para wali, menghasilkan berbagai macam jenis wayang. Di antara perkembangan jenis wayang yang dihasilkan pada zaman Islam ini seperti; Wayang Kidang Kencana di buat oleh Jaka Tingkir pada tahun 1556.34 Wayang Gedog, di buat oleh Sunan Giri pada tahun 1563.35

33 ibid. hal.30

34 Ketika Jaka Tingkir menguasai keadaan yang kacau sepeninggal Raden Trenggana

(1521-1546) di Demak, Jaka Tingkir memindahkan pusat kerajaan di Pajang dan mengangkat diri sebagai Sultan (1546). Dan di tahun 1556, sultan dan para ahli kesenian membuat wayang yang lebih kecil ukurannya dari wayang pada umumnya, dan wayang itu dinamakan Wayang Kidang Kencana.

(19)

Wayang Beber Gedog, di buat oleh Sunan Bonang pada tahun 1564. Wayang Krucil atau Wayang Golek Purwa, di buat oleh Sunan Kudus pada tahun 158436 dan lain-lain.

Selain itu perkembangan wayang, tidak hanya sebatas menghasilkan jenis-jenis wayang yang berbeda-beda, dari alur cerita yang dimainkan tidak lagi hanya terbatas pada cerita purwa, Ramayana Mahabarata, tetapi sudah menghasilkan cerita-cerita karangan dan cerita-cerita menak (cerita-cerita Islam), seperti Amir Hamzah, Kelaswara,

Umar Maya, Lamdahur dan lain-lain. Perkembangan wayang di masa ini tidak hanya

terbatas di daerah Jawa (Timur-Tengah) atau daerah pesisiran saja, tetapi seiring dengan perkembangan politik dan perluasan wilayah, persebaran jenis-jenis wayang telah menyebar ke daerah pedalaman dan mampu menyebar ke daerah Jawa Barat.37

Persebaran wayang di daerah Jawa Barat pertama kali berada di daerah Cirebon, dengan di kenalnya Wayang Kulit Purwa Cirebon. Melihat akan wilayah persebaran kesenian wayang kulit, maka nampak rangkaian yang hampir saling bersambungan dari wilayah Banyumas, Pekalongan, Cirebon, Purwakarta, Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi) hingga Banten. Selain wayang kulit, di Cirebon masa Islam dikenal adanya wayang golek cepak. Dalam bahasa Jawa golek berarti boneka. Berdasar pada bentuk dan ciri yang mirip dengan boneka, sehingga wayang yang satu ini dinamakan wayang golek. Selain itu ada pengertian lain, sebelum dikenal adanya wayang golek dalam pertunjukan wayang kulit purwa dimainkan wayang yang berbentuk mirip boneka dan dinamakan golek. Dengan memainkan wayang golek tersebut dalang bermaksud memberikan isyarat kepada penonton

nggoleki atau mencari inti sari dari nasihat yang terkandung dalam pagelaran wayang.

35 Gedog memiliki arti batas atau kuda. Wayang ini ditampilkan dengan cerita panji atau

cerita-cerita pahlawan “Kudhawanengpati” dan di buat nama yang halus, bukan wayang kuda tapi wayang Gedog.

36 Khusus wayang ini Sunan Kudus pada waktu itu unutk mengadakan pertunjukan di waktu

siang hari. Dengan bahan yang berasal dari kayu yang pipih seperti wayang kulit, hanya tangannya yang terbuat dari kulit.

(20)

Di Jawa Barat, wayang golek ini sangat digemari oleh masyarakat Sunda yang mementaskannya baik di siang hari maupun malam hari sehingga pada akhirnya pementasan wayang golek tersebut tidak lagi menggunakan bahasa Jawa, walaupun dalam pementasan masih terdapat kata-kata bahasa Jawa atau Jawa Kuno. Seperti halnya dengan persebaran wayang kulit, di Jawa Barat, pesebaran wayang golek yang pertama kali dari daerah Cirebon, kemudian menyebar ke daerah Priangan dan daerah “Kulon” (Bogor).38

Ketika agama Islam masuk dan berkembang di Jawa Barat untuk menghindari adanya konflik fisik atau perang kembali, strategi yang digunakan adalah memasukkan unsur-unsur ajaran Islam dalam tradisi masyarakat yang telah lama berkembang. Ajaran-ajaran Islam tidak hanya disebarkan melalui jalan ceramah agama saja, tetapi seperti halnya terjadi dalam masyarakat Jawa, seni wayang yang telah lama berkembang di Jawa dialih fungsikan sebagai salah satu jalan untuk menyebarkan ajaran Islam. Wayang Golek yang terlebih dahulu telah diIslamkan oleh para wali, menjadikan dalam setiap pertunjukan wayang golek tidak akan meninggalkan ajaran-ajaran Islam dan berfungsi sebagai media penyebaran ajaran Islam.39

Unsur-unsur ajaran Islam yang disebarkan melalui wayang golek, telah dimulai ketika para wali berusaha mengislamkan wayang itu terlebih dahulu. Pengislaman terhadap wayang terjadi pada masa kekuasaan Kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu Demak. Wayang yang biasa digunakan oleh orang-orang Hindu Budha yang telah lebih dahulu berada di Nusantara, difungsikan sebagai bagian ritual upacara keagamaan mereka dan dijadikan sarana penyebaran ajaran-ajaran agama mereka. Hal ini kita ketahui bahwa cerita yang digunakan sebelum Islam hadir adalah Ramayana Mahabarata yang di dalamnya banyak menceritakan ajaran-ajaran Hindu Budha. Pengislaman terhadap wayang, pertama adalah memasukkan unsur-unsur ajaran Islam dalam cerita-cerita tersebut tanpa mengubah alur cerita yang ada.

38 Op.cit. hal.32

(21)

Perubahan yang terjadi seperti perubahan karakter tokoh, untuk mengundang image jahat terhadap para pendeta atau pemuka agama Hindu Budha ada tokoh pendeta yang tinggi ilmu, bijaksana dan sakti dalam cerita Mahabarata bernama Dorna, tetapi ketika wayang dimasuki ajaran Islam Dorna berubah karakter menjadi pendeta yang jahat dan suka menghasut kepada kejahatan. Perubahan lain wayang masa Hindu Budha, terjadi dalam tokoh Drupadi, sebelum Islam hadir tokoh Drupadi merupakan istri dari pandawa; Darma Kusuma atau Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Tetapi dikarenakan dalam Islam tidak dibenarkan adanya poliandri, sehingga Drupadi hanya diperistri oleh Yudistira.40

Selain karakter tokoh wayang yang di Islamisasi, bentuk wayang pada masa Islam mengalami perubahan. Bentuk lukisan wayang, terutama wayang kulit, mengalami perubahan yang awalnya masih bergambar persis seperti manusia pada umumnya, ketika Islam datang, lukisan pada wayang berubah menjadi seperti yang biasa kita lihat sekarang ini. Hal ini dikarenakan dalam ajaran Islam, penggambaran yang bersifat wujud manusia merupakan suatu pertentangan besar dan diharamkan.41

Sebagai wayang yang masih dapat dikatakan berumur muda dan wayang golek ini merupakan wayang yang terbentuk pada zaman Islam, maka dalam wayang golek tentunya banyak ajaran-ajaran Islam yang terkandung dalam setiap pagelarannya. Ajaran-ajaran Islam yang terdapat dalam wayang golek di antaranya adalah berisi dua hal yag terpenting. Pertama adalah ajaran Tauhid dan kedua adalah Akhlak atau hubungan antara manusia dengan tuhannya dan manusia dengan manusia lainnya. Ajaran Tauhid ini pasti muncul dalam setiap pagelaran wayang golek.

Dalam ajaran Islam mengenai hubungan manusia sebagai makhlukNya yang berhubungan dengan Allah sebagai Penciptanya dan hubungan manusia dengan manusia lainnya, juga banyak digambarkan dalam pagelaran wayang golek. Jika melihat kembali kepada arti dari wayang itu sendiri yng berarti bayangan, hubungannya dengan ajaran Islam yang kedua ini, merupaka isi dari makna bayangan

40 Fitriantoro, op.cit. hal.54

(22)

atau penggambaran bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan Penciptanya dan hubungan dengan sesama manusia. Dalam Islam terdapat hubungan manusia degan Allah ditandai dengan bagaimana manusia itu beribadah. Beribadah tidak hanya melakukan perbuatan yang sifatnya ritual saja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari manusia diharuskan tetap meniatkan kegiatan mereka kepada Tuhannya, sehingga segala perbuatan yang dilakukannya dinilai ibadah dan pasti akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan perbuatannya.42

Mengenai bagaimana seharusnya hubungan manusia dengan manusia lainnya juga terlihat jelas dalam pagelaran wayang golek. Dalam wayang golek sering digambarkan bagaimana sikap kita berbicara dengan orang lain, apakah orang yang diajak bicara lebih tua, lebih muda atau bagaimana berbicara dengan orang yang dianggap lebih tinggi ilmu atau kedudukannya. Dalam pertunjukan wayang golek digambarkan pula bagaimana seharusnya sikap kita ketika mendengarkan pembicaraan orang lain, dan selain itu digambarkan bagaimana kita menanggapi isi pembicaraan orang lain dengan baik.

Pertunjukan wayang golek biasanya menceritakan dua buah kerajaan, yang satu dipimpin oleh orang yang baik dan yang lainnya dipimpin oleh orang-orang jahat. Dalam menceritakan posisi kerajaan tersebut, dalang juga bisa menjelaskan keadaan dua masyarakat yang berada di wilayah kerajaan yang berkuasa. Ketika menjelaskan keadaan masyarakat, biasa terjadi dialog antara pihak kerajaan (Raja Kesatria) dengan rakyat biasa, dan di dalam dialog akan digambarkan bagaimana sikap seorang raja yang baik atau pihak kerajaan yang jahat berhubungan dan bersikap terhadap rakyatnya. Demikian juga sebaliknya, bagaimana cara seorang rakyat biasa berbicara dan kadang mengkritik sang raja yang berkuasa.43

Dalam wayang, manusia digambarkan agar mencari jalan kesempurnaan sejati.44 Arti dari kesempurnaan sejati adalah manusia yang sehat jasmani dan rohani,

42 Ibid, hal.57

43 Fitriantoro, op.cit. hal.58 44 Fitriantoro, op.cit hal.59

(23)

baik dalam hidup pribadi, sosial dan ketuhanan. Nilai kesempurnaan sejati wayang selalu ditampilkan dalam tokoh-tokoh kesatria yang baik, seperti Arjuna, Rama, Kresna, Pandawa dan semua kesatria diuji usahanya dalam mencapai kesempurnaan hidup.

Pada zaman para wali dalam beberapa kitab yang didapat dalam wayang purwa, cerita-cerita Mahabarata yang dibuat sebagai sumber-sumber cerita wayang atau pewayangan oleh para wali diadakan perubahan cerita antara lain dalam menceritakan asal-usul manusia itu bukan dari telur Antiga Mahadwipa, tapi dari Nabi Adam yang menurunkan Dewa-dewa di Suralaya (Suargaloka) dan semua titah Nabi Adam dan Dewi Hawa dan keturunannya. Sebagai urutannya adalah; Nabi Adam – Nabi Sis – Sayid Anwar dan Sayid Anwas – Sang Hyang Nur Rasa – Sang Hyang Wenang – Sang Hyang Tunggal – Ismaya – Wungkuhan – Semar.45

Dalam pagelaran wayang, sebenarnya menggambarkan kekuasaan Tuhan dan kemampuan manusia dalam mencari dan mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Debong (batang) pohon pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang, merupakan penggambaran akan alam dunia dan dalam permainan wayang oleh seorang dalang menggambarkan kekuasaan Tuhan atas manusia di dunia ini. Adanya dialog dan jalan cerita wayang yang kadang menggambarka roda hidup manusia di dunia (bahagia, senang, sedih, susah), adalah penggambaran akan bagaimana usaha manusia di dunia dalam memilih dua jalan kehidupan (baik, buruk) dan menghadapi cobaan dari Yang Maha Kuasa.

Kesenian wayang merupakan kebudayaan Indonesia asli yang sudah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Indonesia. Wayang itu semula adalah khayalan manusia bahwa suatu bayangan manusia dapat di jadikan sebuah tontonan yang menarik. Kemudian digambar di atas daun Tal (Lontar), digores dengan pisau runcing dan menjadi sebuah gambar dalam bentuk kecil. Gambar-gambar yang kecil tersebut dipindahkan ke kulit lembu. Karena daun kurang kuat dan mudah rusak, maka lama ke lamaan orang membuatnya dari bahan kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan, yang paling baik adalah kulit kerbau muda.

(24)

Gambar-gambar yang ditatah berwujud manusia tersebut, lalu dijadikan tontonan pada waktu malam hari. Penerangannya memakai lampu blencong dan dari belakang gambar tersebut terlihat bayangan hitam. Bayangan itulah yang dilihat oleh penonton dan disebut wayang, karena fikiran manusia semakin maju, maka gambar-gambar di atas kulit lembu itu ditatah satu persatu dengan bentuk yang lebih baik.

Sesudah zaman Sultan Trenggono pada tahun 1447 Jawa (1555 M), pakaian wayang golek ditambah kelengkapannya seperti; Kelat Bahu, Kroncong, Gelung, Anting-anting, badong, Zamang, kemudian warna wayang memakai prada emas yang mewakili Raja Demak. Hal ini dalam usaha menjadikan wayang lebih indah dan menarik. Begitu pula pada zaman kerajaan Mataram beberapa Sultan atau Sunan telah menciptakan tokoh-tokoh wayang baru lakon Barodan corak baru.

Sekarang tokoh-tokoh wayang sudah banyak sekali, lakon-lakonnya semakin diperkaya dengan lakon-lakon gubahan baru. Gamelan pengiringnya sudah lengkap dengan gending atau lagu-lagunya. Di masa sekarang ini banyak turis-turis asing datang ke Indonesia (Surakarta) untuk mempelajari seni menatah wayang, seni Karawitan maupun seni mendalang.

Di samping itu ada ciri khas lagi yang tak terdapat pada jenis kesenian lainnya. Pada setiap pagelaran wayang kulit selalu disajikan hampir semua aspek kehidupan rakyat kecil sehari-hari dari segi pendidikan sampai soal-soal keagamaan, kisah keberanian para pahlawan, masalah kejahatan, siasat-siasat perang, kisah percintaan antara pria dan wanita. Pendek kata seluruh kehidupan manusia secara bulat dan lengkap diproyeksikan oleh ki dalang pada layar putih yang merupakan arena pementasan wayang.

Dalam pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga menambah perabot seperti kelir (layar putih), gedebok (batang pisang) dan blencong (lampu). Sunan giri menambah wayang Wanara (kera). Sunan Bonang menambah wayang Gajah, Kuda serta perajurit rampogan. Sedangkan sebelumnya Raden Patah sudah menambahkan gunungan46 sejak zaman Mataram, tepatnya pada zaman Panembahan Senopati

46 Gunungan adalah wayang berbentuk gambar gunung beserta isinya. Di bawahnya terdapat

(25)

Ngalaga pada tahun 1541 Jawa atau 1619 M, wayang mulai di sempurnakan. Wayang kulit purwa kemudian ditatah gempuruh, maksudnya bagian-bagian yang tadinya tidak di tatah, lalu diadakan penatahan.

Seperti rambutnya yang semula utuh, kemudian ditatah, dodot dan kain, serta diberi wanda (bentuk) tetapi tangannya masih riasan. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, masih zaman Senopati Ngalogo, tangan wayang sudah bisa bergerak seperti tangan orang. Hanya para raksasa, tangan belakang masih irasan belum bergerak. Demikian pula tangan Betara Guru belum lepas masih irasan sampai sekarang ini.

Pada tahun 1224 M, wayang yang semula dibuat dengan daun lontar diganti dengan kertas. Pada tahun 1515 M Raden Patah Raja Demak merubah wayang yang semula dari kertas diganti dengan kulit hewan. Kemudian pada tahun 1583 dibuatlah wayang golek oleh Sunan Giri bahannya dari kayu. Pada waktu itu yang membuat wayang hewan yaitu Sunan Bonang, yang membuat kelir dan blencong (lampu) adalah Sunan Kalijaga. Sultan Demak membuat gunungan dan mengatur cara mengaturmya di atas tembok (batang pisang atau gedebog pisang) dan dalang berada di tengah-tengah dan pakem wayang pertama kali di buat oleh Sultan Pajang. Wayang mengalami perubahan oleh para Pujangga pembuat wayang.

Setelah adanya jalan pos pada tahun 1808 M, barulah wayang golek masuk ke daerah Parahyangan atau Pasundan. Pagelaran wayang golek pertama kali di Cirebon

melambangkan pintu gerbang istana dan pada waktu dimainkan gunungan dipergunakan sebagai istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kayu yang dibelit oleh seekor ular naga.

Dalam gunungan tersebut terdapat juga gambar berbagai binatang hutan, gambar secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara. Gunungan melambangkan keadaan dunia beserta isinya. Sebelum wayang dimainkan, gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar, condong sedikit ke kanan yang berarti bahwa lakon wayang belum dimulai. Setelah dimainkan, gunungan dicabut dan dijajarkan di sebelah kanan.

Gunungan dipakai juga sebagai tanda akan bergantinya lakon/tahapan cerita. Untuk itu gunungan di tengah-tengah condong ke kiri. Selain itu gunungan digunakan juga untuk melambangkan api atau angina. Dalam hal ini gunungan dibalik, di sebaliknya hanya terdapat cat merah-merah, dan warna inilah yang melambangkan api.

Gunungan juga dipergunakan untuk melambangkan hutan rimba, dan dimainkan pada waktu adegan ampogan, tentara yang siap siaga dengan bermacam senjata. Dalam hal ini gegunungan bisa berperan sebagai tanah, hutan rimba, jalanan dan sebagainya, yakni mengikuti dialog dari dalang. Setelah lakon selesai gunungan ditancapkan lagi ditengah-tengah layar, melambangkan pementasan telah usai.

(26)

lebih kurang tahun 1932. Dalang wayang golek sejak dahulu mempunyai Sinden khusus misalnya Dalang Suhaya sindennya Nyi Indah, dalang Entoh sindennya Nyi Warna Sari di samping itu ada Sinden umum misalnya pada tahun 1950 yaitu Upik Sarimanah, Titin Fatimah. Wayang golek di Jawa Barat ada beberapa macam yakni; wayang golek Cirebon sama halnya dengan Indramayu, wayang golek Menak, wayang golek gaya Bandung dan wayang golek gaya Bogor.

Sesungguhnya wayang adalah seni asli Indonesia karena tumbuh dari akal budi bangsa Indonesia yang berkembang menjadi seni budaya yang indah dan mengandung ajaran hidup yang bermanfaat.47 Berbagai bentuk wayang telah dan masih berkembang, diakrabi dan digemari oleh masyarakat di Indonesia. Menurut penulis buku “Pendidikan Budi Pekerti Dalam Pertunjukan Wayang” yaitu Solichin dan DR. Suyanto mengatakan bahwa ada lebih dari seratus jenis wayang berkembang di seluruh pelosok tanah air. Sebagian tetap mampu berkembang dan sebagian melemah, bahkan ada di antaranya yang mati. Namun tidak sedikit tumbuh banyak bentuk wayang-wayang baru seperti wayang Wahyu, wayang Sadat, wayang Sandosa, wayang Ukur dan lain-lain. Tumbuh dan surutnya suatu bentuk seni budaya merupakan proses yang wajar, karena masyarakat bergerak secara dinamis sesuai tantangan yang di hadapi.

Wayang kulit purwa dari pulau Jawa telah menyebar ke seluruh Indonesia. Di samping itu, beberapa daerah tertentu memiliki wayang sendiri seperti wayang Palembang di Sumatera Selatan, wayang Banjar di Kalimantan Selatan, wayang Sasak di Lombok, dan wayang Bali di Bali. Sedang di Jawa mulai dari Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur termasuk Madura terdapat berbagai jenis wayang.48

47 Solichin, Pendidikan Budi pekerti dalam Pertunjukan wayang, (Jakarta: SENA WANGI,

2011) Hal.06

48 Di Jakarta lebih di kenal dengan wayang Betawi dengan ciri berbahasa Indonesia, di Jawa

Barat ada wayang Golek Sunda, wayang Cirebon, Wayang Tambun dan lain-lain.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, selain wayang kulit purwa yang terkenal itu, masih banyak lagi didapati jenis-jenis wayang lain seperti wayang golek menak, wayang klitik dan sebagainya. Tidak kalah bervariasi wayang yang berkembang di Jawa Timur dikenal dengan wayang dakdong (Cekdong), wayang krucil, wayang Madura. Wayang beber dan lain-lain. Masih banyak jenis wayang lain seperti wayang madya, wayang gedog, wayang dupara, wayang wahyu, wayang suluh, wayang kancil,

(27)

Wayang kulit purwa sampai pada bentuknya seperti sekarang setelah melalui proses panjang. Sesuai penelitian Hazeu,49 wayang adalah seni asli Indonesia yang bermula dari pemujaan nenek moyang dalam wujud patung atau gambar-gambar.50 Cerita yang ditampilkan adalah petualangan dan kepahlawanan para hyang, yaitu arwah nenek moyang yang dipercaya bisa memberi pertolongan. Setelah masuknya agama Hindu, wayang berkembang pesat dengan cerita Ramayana dan Mahabarata. Dalam masa Hindu ini wayang berfungsi magis religious dan dipakai sebagai media pendidikan serta komunikasi massa.

Ketika masuknya agama Islam, terutama setelah berdirinya kerajaan Demak, wayang mengalami perubahan mendasar, perubahan kualitatif yang mengantarkan bentuk dan sifat wayang kulit seperti sekarang ini. Wayang kulit purwa pada zaman Demak, oleh para Wali dan Pujangga Jawa direkayasa sedemikian rupa sehingga selain merupakan sarana hiburan yang menarik, juga dipakai sebagai sarana komunikasi massa dan dakwah agama Islam. Nilai-nilai wayang semakin diperkaya lagi dengan nilai-nilai yang bersumber dari agama Islam. Begitu cermatnya para wali dan pujangga Jawa saat itu dalam mengembangkan budaya wayang dan seni perdalangan sehingga seni budaya ini menjadi bernuansa Islami, dan dapat selaras dengan perkembangan masyarakat pada masa itu.

Bertolak dari nilai-nilai dan misi yang diemban, wayang mengalami perubahan substansial yang antara lain tampak pada, pertama; bentuk dan atau seni rupa wayang yang semula seperti relief wayang di candi-candi berubah menjadi imajinatif, dalam artian tidak seperti bentuk manusia, namun seluruh anggota badan tetap lengkap atau fungsional meski tidak proporsional. Walaupun bentuk wayang tidak proporsional namun sangat serasi sehingga terkesan indah.

wayang jemblung. Di antara berbagai macam jenis wayang itu, wayang kulit purwa dan wayang golek sunda adalah jenis yang tetap mampu berkembang dengan baik.

49 G.A.J Hazue adalah seorang ahli sejarah bangsa Belanda yang banyak melakukan

penelitian budaya Indonesia, diantaranya yaitu budaya wayang.

(28)

Kedua; pertunjukan wayang harus diselenggarakan pada malam hari selama tujuh jam yang dimulai dari selepas isya dan berakhir menjelang subuh, biasa disebut semalam suntuk. Waktu pertunjukan itu merupakan saat yang tepat sekali untuk mendekatkan diri pada tuhan, berbicara dan memikirkan hal-hal baik seraya memohon ridho Allah.51

Karena seni wayang dilandaskan pada nilai-nilai agama sejak jaman Hindu hingga Islam, maka pertunjukan wayang sangat religious. Semua pesan etika maupun falsafah bersumber pada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cerita Ramayana dan Mahabarata lengkap dengan para dewa tetap dipertahankan dan dikembangkan. Begitu jauh perkembangannya sehingga cerita Ramayana Mahabarata dari India berbeda sekali penerapannya dalam pagelaran wayang di Indonesia, utamanya wayang kulit purwa dan wayang golek purwa Sunda. Perbedaan mendasar adalah kedudukan para dewa, yaitu bahwasannya dewa dan manusia merupakan makluk Tuhan Yang Maha Esa.

Berangkat dari perubahan besar pada masa kerajaan Demak itu, wayang terus berkembang pada jaman Pajang, Mataram, Kartasura, Surakarta dan Yogyakarta, jaman penjajahan, jaman merdeka hingga sekarang. Perubahan dan penyempurnaan terus dilakukan sesuai perkembangan jaman. Daya tahan dan daya kembang wayang memang luar biasa, luwes dan lentur menghadapi tantangan sehingga selalu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Kandungan tuntunan dalam wayang sangat luas dan beragam, mulai dari nilai religious, falsafah, sampai pada yang praktis, misalnya; nilai budi pekerti untuk menuntun sikap dan perilaku manusia yang sangat penting dalam upaya character

building yang mengajarkan bahwa manusia maju adalah manusia yang memiliki akhlakul karimah, nilai religious yang menuntun manusia menjadi warga masyarakat

dan warna Negara yang baik dalam menunaikan hak dan kewajibannya, nilai kepemimpinan yang menuntun orang menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana, dan

51 Tema lakon wayang senantiasa berkisar pada perjuangan baik melawan yang buruk, benar

melawan salah, hak mengalahkan batil, dan tidak salah lagi kalau ditafsirkan pagelaran wayang semalam suntuk adalah suatu dzikir, perjalanan kejiwaan memahami hakikat hidup, mendekatkan diri pada zat Yang Maha Kuasa.

(29)

juga nilai baru seperti demokrasi, HAM, serta lingkungan hidup. Nilai-nilai tersebut dapat disampaikan kepada kalayak melalui media komunikasi wayang dengan sentuhan rasa agar langsung menembus hati manusia.52

Berasal dari zaman animisme, wayang terus mengikuti perjalanan sejarah bangsa sampai pada masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Bangsa Indonesia mulai bersentuhan dengan peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara bahkan Sriwijaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun berkembang pesat, mendapat pondasi yang kokoh sebagai suatu karya seni yang bermutu tinggi. Pertunjukan roh nenek moyang dikembangkan dengan cerita yang lebih berbobot, Ramayana dan Mahabarata. Selama abad X hingga XV wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat. Pada masa ini telah mulai ditulis berbagai cerita tentang wayang.

Masuknya agama Islam di Indonesia pada abad ke -15, membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu pula wayang telah mengalami masa pembaharuan. Pembaharuan besar-besaran, tidak saja dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Berangkat dari perubahan nilai-nilai yang dianut, maka wayang pada zaman Demak dan seterusnya telah mengalami penyesuaian dengan zamannya.53

Keaslian wayang bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa seperti wayang, kelir,

blencong, kepyak , dalang, kotak dan lain-lain. Kesemuanya itu bahsa Jawa asli.

Berbeda misalnya dengan cempala yaitu alat pengetuk kotak adalah bahasa Sansekerta. Wayang asli menerima pengaruh dari India. Bahasa dalam wayang ini terus berkembang secara pelan namun pasti dari bahsa Jawa Kuno, atau bahasa Kawi, Bahasa Jawa Baru dan bukan tidak mungkin kelak wayang ini akan menggunakan bahasa Indonesia. Wayang selalu menggunakan bahasa campuran yang biasa disebut

basa rinengga maksudnya bahasa yang telah disusun indah sesuai kegunaannya.

52 Solichin, op.cit. hal.16

(30)

Dalam seni perdalangan kedudukan sastra amat penting dan harus dikuasai dengan baik oleh para dalang.

Kebudayaan Jawa terkenal dengan kawruh dan piwulang yang berguna sebagai pedoman hidup. Kawruh dan piwulang yang berguna sebagai pedoman hidup itu biasa disebut dengan pitutur, ungguh unggah, tata karma, suba sita, pitungkas dan

sopan santun. Wayang merupakan salah satu sarana untuk menyebarkan dan

mengajarkan nilai-nilai moral tersebut. Dua hal pokok dalam kawruh Jawa adalah rasa dan ajaran moral etis.54

Berabad-abad lamanya kebudayaan Hindu Budha yang berasal dari India itu mempengaruhi Jawa. Kejayaan Hindu Budha berangsur-angsur menyusut setelah kekuasaan kerajaan Majapahit berakir. Pengaruh Hindu Budha bergeser ke pulau Bali hingga saat ini, bahkan agama Hindu merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Bali.

Setelah agama Islam datang ke Indonesia, lakon wayang menjadi semakin rancu, agama Islam tidak mengenal istilah Trimurti dan Dewa-dewa yang pantheistis. Para Wali Sanga mengubah suatu sistem hirarki kedewaan yang menempatkan para dewa sebagai pelaksana perintah Tuhan saja, yang bukan sebagai Tuhan. Untuk ini disusunlah cerita-cerita yang baru yang bernafas Islami, seperti lakon Dewaruci, Jimat kalimusahada dan lakon-lakon wahyu, bahkan dijumpai pula susunan atau silsilah asli Hindu, hal itu bertujuan untuk mendudukan cerita Islam di atas cerita wayang yang masih bersifat Hinduistis

Banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada wayang yaitu dari segi bentuk, dan cerita. Sejarah perkembangan .wayang dibilang cukup panjang. Cerita dalam pagelaran wayang cukup banyak, mulai dari cerita wayang versi nenek moyang, Hindu maupun Islam.

(31)

Untuk lebih jelasnya penjelasan di atas bisa lihat bagan dibawah ini:

Sebelum Islam Masa Islam

A. Bentuk

1. Gambaran di atas daun lontar dan kulit binatang

2. Bentuk wayang mirip dengan manusia

1. Kaki dan tangan wayang di perpanjang

2. Wayang golek dengan berbagai aksesoris pakaian wayang golek

B. Cerita

1. Cerita nenek moyang

2. Cerita para Dewa yang ada dalam kitab Ramayana Mahabarata

1. Cerita menak (kisah Nabi)

2. Cerita mengenai sejarah Islam dan ajaran Islam

C. Pertunjukan

1. Sebagai ritual agama nenek moyang

2. Sebagai penyebaran agama Hindu

1. Sebagai penyebaran Islam 2.

5. Fungsi Wayang Golek Cepak

Wayang yang telah melalui berbagai zaman dan pengaruh berbagai budaya dan agama (Hindu, Budha dan Islam) tidak serta merta melupakan fungsinya sejak awal. Tentunya dalam menghadapi perubahan zaman dan perkembangan masyarakat di suatu daerah, wayang berusaha untuk menyesuaikan dan tetap diterima dalam kehidupan masyarakat tersebut. Penyesuaian dan kemampuan wayang dalam melalui berbagai zaman ini, adalah upaya dan strategi yang dilakukan oleh para wali dan dalang yang membaca akan perubahan dalam masyarakat.55

(32)

Wayang golek yang lahir di zaman Islam, tentunya telah memiliki usur-unsur ajaran kehidupan yang bernafaskan Islam. Ajaran-ajaran Islam yang diajarkan dalam wayang golek dikemas melalui dialog, jalan cerita cerita-cerita yang digunakan dan lain-lain. Maksud dan tujuan dari memasukkan unsur-unsur ajaran Islam ini adalah menjadikan masyarakat berfikir untuk berusaha menjadi lebih baik dan mengIslamisasikan tradisi-tradisi masa lalu yang berdasar pada ajaran Hindu.

Secara fungsi, dahulu wayang yang dikenal sebagai bagian acara keagamaan masa lalu yang selalu ditampilkan dalam upacara-upacara keagamaan, tentunya ketika Islam hadir dengan membawa ajaran agama yang baru telah membuat wayang yang dahulu dikenal telah mengalami perubahan dari segi fungsi. Fungsi wayang dalam upacara keagamaan, tidak lagi terlalu besar karena dalam ajaran wayang sendiri, masyarakat lebih diajak untuk menjalankan syariat agama Islam dan tidak lagi memposisikan wayang sebagai bagian ritual keagamaan.

Peninggalan budaya masa lalu yang masih memposisikan wayang sebagai bagian ritual keagamaan dan dapat kita lihat hingga sekarang adalah ketika ada acara

ruatan (pensucian atau pembersihan, pelepasan dari marabahaya) dan upacara slametan. Fungsi pagelaran wayang dalam upacara ruwatan adalah sebagai media

visualisasi dalam penggambaran hidup manusia yang mencapai puncaknya dan tentunya dalam mengambil lakon untuk pagelaran ini tidak sembarangan, yaitu dengan mengambil lakon Murwakala atau Barata Kala (Kala: waktu). Dengan mengambil lakon Batara Kala, wayang menggambarkan kehidupan manusia yang harus menghargai waktunya dengan baik dan benar.karena ada pemahaman atau kepercayaan dalam masyarakat, bahwa “kalau hidup tidak benar akan dimakan

Batara Kala”. Dijelaskan dengan wayang bahwa siapa yang menggunakan waktunya

dengan baik, maka hidupnya akan baik pula. Dengan banyaknya ajaran-ajaran Islam yang meresap dalam budaya tradisi masyarakat pra Islam, memiliki maksud dan tujuan agar agama Islam dapat diterima dengan jalan damai dan tidak lagi melalui jalan perang. Dengan jalan damai inilah masyarakat diajak secara perlahan untuk menerima ajaran Islam seutuhnya.

(33)

Ketika ajaran Islam telah diterima dan dengan banyaknya masyarakat Jawa yang memeluk agama Islam, usaha dan tuntunan yang ada dalam pagelaran wayang golek tidak berubah. Karena tujuan memasukkan ajaran Islam tidak hanya untuk menjadikan seseorang memeluk agama Islam saja, tetapi juga mengislamkan orang-orang Islam. Mengislamkan orang-orang-orang-orang Islam adalah selalu mengajak dan mengingatkan masyarakat Islam untuk berusaha menjadi lebih baik dengan meningkatkan keyakinannya kepada Allah SWT.

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwasannya, fungsi wayang pada mulanya adalah sebagai upacara pemujaan arwah nenek moyang, sebab mereka beranggapan bahwa roh-roh tersebut seperti halnya bayangan. Wayang adalah lukisan dari nenek moyang yang arwahnya dihadirkan dalam upacara tersebut, yang memainkannya disebut dalang. Peranan dalang adalah sebagi perantara antara dunia nyata dan alam gaib.

Seni budaya wayang juga dapat digunakan sebagai sarana pendidikan budi pekerti. Memang salah satu fungsi pertunjukan wayang adalah menyampaikan pesan moral keutamaan hidup agar nilai-nilai moral itu menjadi budi pekerti. Sebagai sarana pendidikan budi pekerti, wayang memiliki unsur yang lengkap yaitu substansi dan metode penyampaiannya. Substansi ajaran budi pekerti dapat dicermati pada pagelaran wayang, tokoh wayang, dan lain-lain.56 Nilai budi pekerti yang paling mendasar bisa diambil dari pagelaran wayang karena wayang adalah simbol kehidupan manusia atau wewayangane ngaurip. Kisah manusia dari lahir hingga mati. Sangkan paraning dumadi, maksudnya dari manusia ada dan akan kemana. Keyakinan bahwa manusia berasal dari tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Pagelaran wayang apapun ceritanya selalu bermakna upaya manusia dalam berbuat kebaikan, beramal saleh, kalau setiap manusia di dunia ini berbudi pekerti seperti itu, maka kehidupan di alam fana ini akan damai dan sejahtera.

Selain berfungsi sebagai sarana character building, pentas wayang juga sangat tepat untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, kalau dahulu wayang

(34)

kental dengan pesan-pesan keagaman seperti untuk dakwah Islam, sekarang pentas wayang banyak dipakai sebagai sarana sosialisasi pembangunan nasional dengan segala aspek dan program kerjanya. Sejak zaman kemerdekaan atau era NKRI peran wayang untuk menyampaikn pesan pembangunan itu sangat menonjol.57

Seperti halnya dalang akhmadi pun menjadikan wayang sebagai media pembelajaran tidak hanya pembelajaran agama akan tetapi pembelajaran dalam bidang sosial, pendidikan dan sebagainya.

Posisi terhormat wayang Indonesia di tingkat nasional dan di mata dunia, adalah pendorong agar seni budaya wayang ini semakin kuat dan bermanfaat. Untuk itulah wayang diteliti dan digali kandungan ilmu yang ada di dalamnya. Ternyata wayang merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tidak ada keringnya.

Dari pembahasan diatas bisa disimpulkan bahwasannya fungsi wayang Golek Cepak adalah sebagai penyampaian pesan, sebagai pembangunan karakter, sebagai tatanan dan tuntunan, serta sebagai seni budaya yang mengandung ajaran moral dan ajaran agama Islam. Karena itulah seni pertunjukan wayang masih tetap bertahan hingga saat ini.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan yang dapat dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menyimak cerita wayang purwa lakon

1) Pengenalan dilakukan pada perencanaan tata layout dan gambar tokoh secara visual yang mampu mencirikan karakter dalam tokoh Wayang Golek. 2) Dalam konten

Oleh karena itu dengan adanya teknologi dan sumber daya komputer yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kesenian wayang golek dan sebagai alternatif alat bantu

Kurangnya minat masyarakat tersebut disebabkan oleh faktor yang menjadi penghambat berkembangnya kesenian wayang golek di daerah Purwakarta, faktor tersebut diantaranya

Berdasarkan permasalahan tersebut, mahasiswa melakukan penelitian dengan mengangkat salah satu tokoh wayang golek wanita yang bernama Sinta, karena Sinta memiliki mahkota

Dari beberapa pendapat (sumber) tadi, cukuplah dapat dikalkulasikan bahwa perkembangan wayang beber dari kerajaan Majapahit sampai menjadi wayang kulit, wayang golek, wayang

Wayang golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pewayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang

Berdasarkan hasil wawancara bersama Bapak Usup selaku Kepala Seksi Bina Seni menjelaskan bahwa: “Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melakukan upaya pelestarian kesenian wayang golek yang