JUDUL PROGRAM JUDUL PROGRAM
“AUTO
“AUTO - DENTOM- DENTOM” ” -- AuAu tomatic Detomatic Dental Phantom ntal Phantom Inovasi Simulator Gigi Inovasi Simulator Gigi OtomatisOtomatis Penunjang Pembelaj
Penunjang Pembelajaran Mahasiswa Kedokteran Gigi di aran Mahasiswa Kedokteran Gigi di IndonesiaIndonesia
BIDANG KEGIATAN : BIDANG KEGIATAN : PKM KARSA CIPTA PKM KARSA CIPTA Diusulkan oleh : Diusulkan oleh : 1.
1. Nurul HanifahNurul Hanifah (12/328897/KG(12/328897/KG/09185) /09185) Angkatan Angkatan 20122012 2.
2. Taufik Ramadhan FitriantoTaufik Ramadhan Fitrianto (12/330192/TK/3(12/330192/TK/39377) 9377) Angkatan Angkatan 20122012 3.
3. Isti Noor MasitaIsti Noor Masita (11/316077/KG(11/316077/KG/08929) /08929) Angkatan Angkatan 20112011 4.
4. Khasin KhafabiKhasin Khafabi (11/320035/P(11/320035/PA/14322) A/14322) Angkatan Angkatan 20112011 5.
5. Fajar KurniawanFajar Kurniawan (11/316683/P(11/316683/PA/13813) A/13813) Angkatan Angkatan 20112011
UNIVERSITAS GADJAH MADA UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA YOGYAKARTA
2015 2015
ABSTRAK
Menghadapi ASEAN Community 2015, lulusan dokter gigi Indonesia dihadapkan dengan tantangan baru yakni liberalisasi jasa dokter gigi. Dalam upaya mendukung adanya liberalisasi ini, negara-negara ASEAN menandatangani MRA-DP(Mutual Recognition Agreement for Dental Practitioners) dimana salah satu tujuannya adalah untuk memfasilitasi mobilitas jasa dokter gigi di dalam kawasan ASEAN. Kebijakan ini berimplikasi pada semakin ketatnya kompetisi antar dokter gigi di ASEAN, hal ini mengharuskan Indonesia untuk meningkatkan kualitas tenaga dokter gigi agar dapat bersaing dengan tenaga medis dari negara ASEAN lain. Dental Phantom merupakan salah satu wujud penerapan teknologi dalam pengajaran di bidang kedokteran gigi. Teknologi ini berupa prototipe berbentuk kepala manusia yang memberikan simulasi kondisi mulut pasien yang digunakan sebagai media pembelajaran praktikum (skills lab) bagi mahasiswa kedokteran gigi preklinik pada
departemen prostodonsi dan konservasi. Hal ini tentu saja membuat dental phantom menjadi sarana utama dalam pembelajaran mahasiswa kedokteran gigi. Namun, Dental Phantom yang ada masih dijalankan secara manual yang mempersulit mahasiswa dalam pengoperasiannya. Selain itu, dental phantom yang ada sekarang ini dirasa kurang representatif dan efektif sebagai model kerja pembelajaran praktikum, di samping harganya yang mahal dental phantom hanya digunakan sebagai model kerja praktikum departemen prostodonsia dan konservasi gigi, padahal kedokteran gigi memiliki banyak departemen lain dimana kebutuhan mereka terhadap
model kerja praktikum tidak bisa diabaikan.
Hasil dari penelitian ini adalah sebuah alat simulator gigi otomatis berteknologi tinggi. Beberapa teknologi yang diterapkembangkan pada alat ini, diantaranya adalah sistem pergerakan robot menggunakan perintah suara untuk menggerakan dan mereprasentasikan gerakan dental phantom ke segala arah seperti pada manusia. All in One, AUTO-DENTOM berbasis mikrokontroler yang dilengkapi dengan sensor sentuh yang ditempatkan di dalam rahang phantom yang menggambarkan keadaan anatomis saraf gigi dan rahang sebagai media pembelajaran teori blok anestesi, simulasi teknik pencabutan gigi, simulasi pembersihan karang gigi, serta beberapa pengerjaan di bidang Konservasi Gigi dan Prostodonsia (pembuatan mahkota jaket, simulasi teknik restorasi gigi dan Gigi Tiruan Cekat) tentunya dengan harga yang terjangkau dibandingkan dengan produk buatan luar negri dengan kemampuan yang terbatas.
Kata Kunci : Dental Phantom, Pembelajaran Mahasiswa Kedokteran Gigi,Simulator Gigi Otomatis
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN PENGESAHAN ... ii ABSTRAK ... ... iii DAFTAR ISI ... iv BAB 1. PENDAHULUAN 1 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB 3. METODE PELAKSANAAN 4 3.1. Persiapan... 4
3.2. Perancangan Sistem... 5
3.3. Perancangan dan Pembuatan Perangkat Elektronik……... 5 3.4. Uji Coba Alat……….
3.5. Evaluasi dan Finishing ………...
6 6
BAB 4. HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS 8
BAB 5. PENUTUP 10
DAFTAR PUSTAKA 10
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan Lampiran 2. Bukti Penggunaan Dana
BAB 1
PENDAHULUAN
Menghadapi ASEAN Community 2015, lulusan dokter gigi Indonesia dihadapkan dengan tantangan baru yakni liberalisasi jasa dokter gigi. Dalam upaya mendukung adanya liberalisasi ini, negara-negara ASEAN menandatangani MRA-DP(Mutual Recognition Agreement for Dental Practitioners) dimana salah satu tujuannya adalah untuk memfasilitasi mobilitas jasa dokter gigi di dalam kawasan ASEAN. Kebijakan ini berimplikasi pada semakin ketatnya kompetisi antar dokter gigi di ASEAN, hal ini mengharuskan Indonesia untuk meningkatkan kualitas tenaga dokter gigi agar dapat bersaing dengan tenaga medis dari negara ASEAN lain.
Berdasarkan data Centre for International Trade Thailand (2012), kualitas tenaga profesi praktisi medis Indonesia diantara negara ASEAN ditempatkan pada kualitas menengah dan harus bersaing dengan Filipna dan Vietnam. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas tenaga medis Indonesia adalah dengan meningkatkan fasilitas pendidikan terkait teknologi dalam memperkuat pengajaran dibidang kedokteran gigi. Adapaun dalam hal teknologi, pendidikan kedokteran gigi di Indonesia dapat dikatakan tertinggal dibandingkan dengan Malaysia, Filipina dan Singapura. Pemerintah Indonesia hanya mengalokasikan 2,2% dari total health expenditure untuk meningkatkan teknologi medis yang ada, jauh tertinggal dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Filipina bahkan Vietnam yang telah mengalokasikan dana sebesar 6,6%. (Keliat, 2013)
Dental Phantom merupakan salah satu wujud penerapan teknologi dalam pengajaran di bidang kedokteran gigi. Teknologi ini berupa prototipe berbentuk kepala manusia yang memberikan simulasi kondisi mulut pasien yang digunakan sebagai media pembelajaran praktikum (skills lab) bagi mahasiswa kedokteran gigi preklinik pada departemen prostodonsi dan konservasi. Hal ini tentu saja membuat dental phantom menjadi sarana utama dalam pembelajaran mereka. Namun, dental phantom yang banyak terdapat di fakultas kedokteran
gigi Indonesia memiliki teknologi yang sangat terbatas dan sederhana.
Dental Phantom yang ada masih dijalankan secara manual yang mempersulit mahasiswa dalam pengoperasiannya, gerakannya pun sangat terbatas sehingga kurang dapat merepresentasikan posisi pasien yang sebenarnya ketika berada di kursi gigi. Selain itu, dental phantom yang ada sekarang ini dirasa kurang representatif dan efektif sebagai model kerja pembelajaran praktikum, di samping harganya yang mahal dental phantom hanya digunakan sebagai model kerja praktikum departemen prostodonsia dan konservasi gigi, padahal kedokteran gigi memiliki banyak departemen lain dimana kebutuhan mereka terhadap model kerja praktikum tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah departemen bedah mulut, bedah mulut memiliki banyak cabang ilmu yang meminta keterampilan yang tinggi dari dokter gigi. Anestesi dan teknik pencabutan gigi merupakan salah satu cabang ilmu bedah mulut, yang harus menjadi keterampilan utama dokter gigi. Selain departemen bedah mulut, terdapat pula departemen periodonsia di mana salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh dokter gigi adalah pembersihan karang gigi. Hal inilah yang membuat kami menciptakan “AUTO-DENTOM (Au tomatic Dental Phantom) ” - Inovasi Simulator Gigi Otomatis Penunjang
Pembelajaran Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia.
AUTO-DENTOM (Au tomatic Dental Phantom) memiliki fitur voice command yakni kemampuan untuk mendeteksi perintah berupa suara. Perintah yang dapat dijalankan di
antaranya membuka dan menutup mulut, mengatur posisi kepala autodentom sesuai dengan area kerja yang diinginkan operator. Untuk menambah nilai edukasi dari alat ini, autodentom dapat mengetahui dan memberikan informasi posisi operator agar sesuai dengan posisi ergonomis dokter gigi dengan pasien. Selain itu, untuk meningkatkan nilai fungsional alat ini, AUTO-DENTOM dengan beberapa simulasi teknik keterampilan dokter gigi, di antaranya adalah simulasi blok anestesi, teknik pencabutan gigi, teknik pembersihan karang gigi, teknik restorasi gigi dan teknik yang digunakan dalam departemen konservasi gigi dan pr ostodonsia. Inovasi berteknologi tinggi ini diharapkan dapat menjadikan AUTO-DENTOM (Automatic Dental Phantom) sebagai media pembelajaran mahasiswa keokteran gigi yang efektif dan representatif.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Simulator Gigi(Dental Phantom )
Beberapa tahun ini simulasi dalam bidang kesehatan selalu dikaitkan dengan adanya teknologi. Webster’s Dictionary mendefinisikan simulator sebagai alat pembelajaran yang menirukan beberapa kondisi yang dihadapi ketika melakukan operasi pada pasien. Simulator pada bidang kesehatan digunakan untuk kegiatan pembelajaran kardiovaskuler, gawat darurat,
laparoskopi, dsb. Tak terkecuali dengan kedokteran gigi, diketahui bahwa kedokteran gigi telah menggunakan simulator sebagai media pembelajaran terutama pada lingkup pre-klinis. (Buchanan, 2001)
Dental Phantom adalah salah satu simulator yang digunakan oleh mahasiswa kedokteran gigi preklinis. Teknologi ini berupa prototipe yang meniru bentuk kepala manusia dan rongga mulutnya untuk mengembangkan keterampilan di bidang prostodonsi dan konservasi. Dental Phantom menjadi media pembelajaran utama yang harus dimiliki oleh setiap fakultas kedokteran gigi. (Walsh, dkk, 2010)
2.2. Media Pembelajaran Kedokteran Gigi
Media pembelajaran dalam bidang kedokteran gigi harus dapat menciptakan lingkungan belajar yang dapat meningkatkan pemikiran kritis, pembuatan keputusan dan mentransfer pengetahuan dari yang hanya ‘mendidik’ menuj u ke pola berpikir klinis untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dari mahasiswa (Walsh, dkk, 2010)
Faktor yang mendorong untuk mulai mengarahkan ke pola berpikir klinis adalah keinginan untuk memberikan masa transisi yang lebih mudah bagi siswa untuk masuk dalam dunia klinis, untuk mendukung dan memperkuat ergonomis, untuk memperluas pengalaman mahasiswa preklinis dengan menyertakan tambahan model yang meniru kondisi pasien yang sebenarnya, untuk memberikan sarana praktikum bagi mahasiswa dan meningkatkan penyampaian materi pendukung seperti demonstrasi, diagram, manual, dan lainnya. (Buchanan, 2001)
Persiapan Perancangan Sistem
Pembuatan
Alat Uji Coba Alat
Evaluasi dan Finishing BAB 3
METODE PELAKSANAAN
Untuk merealisasikan ide pembuatan prototype simulator gigi otomatis ini menggunakan metode, alat, serta bahan sebagai berikut.
Gambar 3.1 Diagram alir pembuatan prototipeAUTO-DENTOM
Penjelasan diagram alir yaitu sebagai berikut : 3.1 Tahap Persiapan
Gambar 3.1.menunjukkan segala kegiatan yang dilakukan selama tahap persiapan Pada tahap persiapan dilakukan observasi dan studi literatur serta survei lapangan terkait model dental phantom yang digunakan, materi pembelajaran mahasiswa kedokteran gigi dan riset mengenai material sebagai komponen mekanis dan elektronis yang akan digunakan. Observasi ini dilakukan sebagai pertimbangan konsep desain alat.
3.2 Tahap Perancangan Sistem
Prototype dari alat yang dibuat memiliki dua perangkat utama, yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak ( software). Pada bagian perangkat keras terdiri atas bagian mekanik serta bagian elektronik. Bagian mekanik merupakan bagian utama yang membentuk badan alat secara keseluruhan. Sedangkan bagian elektronik merupakan bagian penunjang agar prototype dapat digerakkan menggunakan perangkat lunak. Pada bagian perangkat lunak berisi perintah – perintah atau
fungsi yang telah didefinisikan agar alat bekerja sesuai dengan yang direncanakan.
Observasi dan
studi literatur Survei Lapangan
Dental Phantom Pembelajaran Fakultas Kedokteran gigi Material dan Elektronis alat Peranca ngan Sistem Sistem Mekanis Perangkat Lunak Sistem Elektronis
Gambar 3.2 Rancangan sistem secara keseluruhan.
3.2.1 Rancangan Mekanik
Bagian mekanik merupakan bagian utama pembentuk prototype. Secara garis besar, bagian mekanik adalah rangka utama penyusun prototye alat. Rangka utama tersebut terdiri atas Manekin Head Base yang merupakan tempat phantom diletakkan, Tiang Penyangga Head yang berfungsi untuk menyangga bagian kepala dari prototype, portable bench mount yang merupakan bagian untuk meletakkan prototype alat pada basis seperti meja atau lainnya.
Selain itu pada bagian kepala terdapat motor yang dapat menggerakkan kepala pada sumbu x, y, dan z. Motor penggerak juga dibuat untuk menyimulasikan pergerakan buka – tutup mulut.
Untuk membentuk bagian mekanik digunakan perangkat lunak Inventor untuk membuat desainnya. Setelah desain dibuat dengan perangkat lunak tersebut kemudian bagian mekanik dicetak dengan bahan alumunium.
3.2.2 Rancangan Elektronis
Pembuatan sistem elektronis mencakup hardware dan software. Dalam pembuatan sistem elektronik yang akan diterapkan pada automatic dental phantom memperhatikan 2 hal, yaitu hal kemampuan dan hal fungsi. Sistem elektronik yang akan diterapkan harus mampu mengendalikan secara otomatis mekanik autodentom sehingga diharapkan sistem ini dapat bekerja otomatis, selain mampu menggerapkan secara otomatis sistem elektronik harus mampu
menahan beban arus listrik maupun beban mekanik, bagian ini sangat vital, karena apabila kemampuannya kurang dari kebutuhan yang diinginkan sistem autodentom tidak dapat bekerja dengan baik.
Perancangan sistem elektronis dimaulai dari perancangan sistem kerja yang akan diterapkan pada autodentom, perancangan ini berupa perancangan sistem pengendalian keseluruhan dengan sebuah mikrokontroller, perancangan printed circuit board guna mendukung kerja mikrokontroller dan sebagai interface antara pengendali dengan komponen actuator berupa motor servo yang digunakan sebagai sendi pada autodentom.
Perancangan penggunaan sensor merupakan bagian utama pada sistem ini, dengan adanya sensor memungkinkan autodentom berkomunikasi (dapat berinteraksi) dengan pengguna. Autodentom menggunakan beberapa sensor, antara lain:
1. Sensor sentuhan, sensor ini dipasang pada gusi, tujuannya adalah untuk mengetahui cara penyuntikan yang benar, apabila terjadi kesalahan penyuntikan maka sistem akan
mengeluarkan aksi berupa suara.
Gambar 3.3 menunjukkan desain rangka dari prototype Autodentom.
Pembelian Alat dan Bahan Pembuatan Sistem Mekanik Pembuatan sistem Elektronik Perakitan Komponen AUTO-DENTOM (Automatic Dental Phantom )
2. Sensor posisi pengguna, tujuan penggunaan sensor ini adalah untuk mengetahui posisi pengguna saat melakukan pengangann pasien, apabila terjadi kesalahan posisi maka alat
akan merespon.
3. Sensor pengenal suara, tujuan penggunaan sensor ini agar pengguna dapat berinteraksi dengan autodentom dengan menggunakan media suara.
3.3 Tahap Perancangan dan Pembuatan Perangkat
Gambar 3.4. Tahap Perancangan dan Pembuatan Perangkat
Pada tahap ini, pembelian alat dan bahan berdasarkan hasil survei pasar. Pembuatan sistem mekanik berupa pembuatan rangka mekanik rahang beserta komponen dan rangka sebagai penopang alat. Sedangkan pembuatan sistem elektronik dilakukan dengan menghubungkan perangkat – perangkat sensor, aktuator, serta mikrokontrolernya. Tahap terakhir dari pembuatan sistem adalah dibuatnya program yang dapat mengendalikan seluruh aktivitas
autodentom.
3.4 Tahap Uji Coba Alat
Alat diujikan dan kemudian dievaluasi efektifitas penggunaan alat kegiatan pembelajaran mahasiswa kedokteran gigi di Indonesia.
3.5 Tahap Evaluasi dan Finishing
Evaluasi dilakukan kepada setiap komponen pada alat untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif. Evaluasi dilakukan pada 3 bagian yaitu bagian sistem elektronik, sistem mekanik, serta sistem perangkat lunak. Evaluasi sistem elektronik dilakukan dengan cara meihat kinerja dari sistem apakah sesuai dengan tujuan awal, apabila sistem belum sesuai maka akan diperbaiki sampai mencapai tujuan, evaluasi dilakuakan pada sistem otomatis, sistem akturator sebagai sendi dan sensor apakah dapat bekerja dengan baik. Pada sistem mekanik evaluasi dilakukan untuk mendapatkan kemampuan yang optimal, evaluasi khusus dilakuakan pada bagian r angka karena berfungsi sangat vital, apabila rangka tidak kuat dalam menahan beban langkah yang dilakukan adalah mengganti atau memperbaiki rangka tersebut. Setelah sistem dapat bekerja dengan baik, tahap selanjutnya adalah finishing. Finishing produk dilakukan setelah tahap evaluasi berupa perbaikan pada setiap komponen yang telah dievaluasi sehingga menghasilkan suatu alat yang siap diproduksi massal.
Syringe Rubber Switch 1 Digital Input Microcontroller Digital Output Plat & kabel Mp3 Module Speaker Switch 1 Switch 1 Switch 1
Pengguna Input Rangsangan Arduino Uno
Output
Gambar 3.5 menunjukkan hubungan antar perangkat elektronik yang digunakan. Modul mikrokontroler adalah bagian pengendali dari keseluruhan sistem. Motor penggerak merupakan bagian yang dapat menggerakkan rangka prototype sesuai dengan yang diinginkan. Bagian push button serta sensor merupakan bagian yang dapat mengenali perintah dari pengguna. Kemudian yang terakhir adalah bagian modul audio player, serta speaker yang digunakan untuk
BAB 4
HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS
Komitmen dalam menciptakan produk Auto Dentom yang unggul telah kami buktikan dengan konsistensi perancangan, pembuatan dan pengembangan secara berkelanjutan.
Auto Dentom merupakan inovasi simulator gigi yang otomatis, lengkap (All in One), terjangkau dan karya anak negeri digunakan sebagai media penunjang pembelajaran mahasiswa Kedokteran Gigi di Indonesia.
Sistem yang telah dibuat pada Auto Dentom memberikan keunggulan dibandingkan dengan simulator gigi yang lain. Beberapa keunggulan tersebut antara lain gerakan otomatis kepala robot yang menyerupai gerakan kepala manusia, serta gerakan otomatis mulut. Sehingga Auto Dentom dapat bergerak dinamis seperti halnya manusia.
Cara kerja dari Auto Dentom sendiri adalah sebagai berikut:
Pertama, ketika robot dioperasikan pertama kali, robot akan memberikan salam pembuka serta petunjuk singkat penggunaan alat. Salam dan petunjuk yang diberikan berupa
suara yang dihasilkan melalui pengeras suara.
Kedua, pengguna (praktikan / dokter) memberikan perintah berupa suara dengan menyebutkan bagian gigi yang akan dilakukan penanganan. Bagian - bagian tersebut antara lain bagian gigi posterior atau anterior, bagian gigi rahang atas atau rahang bawah, serta bagian gigi kanan atau kiri. Setelah alat mengenali perintah yang dimaksud, selanjutnya alat akan menyesuaikan posisi kepala dan mulut dengan menggerakkan motor – motor servo sampai pada posisi yang sesuai.
Ketiga, pengguna (praktikan / dokter) harus menyesuaikan posisinya sesuai dengan posisi ergonomis ketika melakukan penanganan pasien. Ketika posisi pengguna tidak sesuai,
maka alat akan mengeluarkan suara yang menginformasikan kesalahan posisi serta posisi ergonomis yang seharusnya.
Keempat, pengguna dapat melakukan praktik penanganan pasien menggunakan alat. Praktik penanganan dapat berupa penyuntikan, pembersihan karang gigi, dan lain – lain. Jika terjadi kesalahan dalam penanganan pasien, maka alat akan mengeluarkan suara seperti suara kesakitan sehingga dapat menginformasikan kepada pengguna bahwa terjadi kesalahan dalam penanganan pasien.
Sebagian besar fitur yang disematkan pada simulator autodentom telah dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Selanjutnya, hanya perlu dilakukan penyempurnaan untuk mengurangi bug program yang terjadi.
Proses pembuatan simulator autodentom dari tahap perancangan hingga tahap akhir telah melalui beberapa revisi pembuatan sistem. Sehingga sampai saat ini autodentom
merupakan penyempurnaan dari generasi – generasi sebelumnya. Berikut adalah fitur – fitur yang terdapat pada generasi autodentom hingga saat ini:
1. Generasi 1.
Auto Dentom generasi pertama merupakan titik awal keberhasilan kami. Hal positif dari generasi pertama dapat digunakan sebagai kerangka acuan dalam pengembangan generasi selanjutnya. Pada generasi pertama, sistem yang dibuat meliputi gerakan kepala otomatis dan juga sistem sensor saraf. Untuk menggerakkan kepala dan mulut digunakan tombol – tombol yang telah disesuaikan.
2. Generasi 2.
Auto Dentom generasi kedua meliputi penambahan fitur – fitur perintah suara dan output suara sebagai informasi kepada pengguna. Fitur perintah suara menggantikan fungsi tombol – tombol untuk menggerakkan kepala dan mulut. Pada generasi ini autodentom terlihat lebih baik dalam merepresentasikan manusia seperti keadaan pasien sesungguhnya.
3. Generasi 3.
Auto Dentom generasi ketiga meliputi penambahan fitur gerak reflek. Fitur gerak ref lek merupakan fitur berupa gerakan menyerupai manusia, misal gerak batuk, bersin, mual, muntah. Sehingga autodentom menjadi lebih dinamis dan semakin merepresentasikan pasien sesungguhnya. Selain itu ditambahkan pula fitur pendeteksi posisi pengguna. Sehingga selain merepresentasikan pasien sesungguhnya, alat ini juga dapat memberikan informasi serta pembelajaran yang sesuai terkait penanganan pasien.
Banyaknya fitur – fitur yang disertakan dan keunggulan yang ditawarkan membuat Auto Dentom memiliki potensi khusus yang dapat dikembangkan kedepannya. Potensi – potensi khusus tersebut antara lain:
1. Hak Paten.
Inovasi yang ditawarkan Auto Dentom baru pertama kali di Indonesia, berupa dental phantom otomatis sebagai simulator pembelajaran Kedokteran Gigi. Selain itu Auto Dentom merupakan sebuah simulator lengkap yang dapat digunakan untuk semua jenis bidang pengerjaan kedokteran gigi. Bagian paling menariknya adalah alat ini
dapat merepresentasikan pasien seperti manusia sesungguhnya. 2. Potensi Pengembangan Usaha.
Sampai saat ini, belum ada produsen lokal yang memproduksi dental phantom. Seluruh dental phantom yang digunakan perguruan tinggi di Indonesia merupakan buatan asing. Sehingga Auto Dentom dapat menjadi pionir dalam pembuatan produk
dental phantom otomatis asli buatan anak negeri. Target pasar pun menjadi sangat menjanjikan karena tidak adanya pesaing dalam negeri.
BAB 5 PENUTUP Kesimpulan
1. Auto Dentom berhasil dibuat dengan menyertakan keunggulan – keunggulan antara lain: lengkap ( All in One), sistem otomatis, harga yang terjangkau, inovasi anak negeri.
2. Auto Dentom mampu menjadi alat simulator gigi otomatis yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran mahasiswa Kedokteran Gigi di Indonesia.
Saran
1. Pengembangan Auto Dentom secara lebih optimal.
2. Pengajuan Hak Paten sebagai alat simulator gigi otomatis pertama di Indonesia. 3. Pningkatan kualitas untuk dilakukan pemasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, F. 2014. Sistem Robotik Humanoid . Yrama Widya : Yogyakarta.
Buchanan, J. A. 2001. Use of Simulation Technology in Dental Education. Journal of Dental Education Vol. 65 No. 11.
Keliat, M., et al. 2013. Pemetaan Pekerja Terampil Indonesia dan Liberalisasi Jasa ASEAN . ASEAN Study Center FISIP UI.
Walsh, J. L., et al. 2010. Use of Simulated Learning Enviroments in Dentistry and oral health Curricula. Health Workforce Australia.
LAMPIRAN Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan
Survey Alat Phantom di FKG UGM
AUTODENTOM