Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksananakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2006 di Desa Binalatung Kecamatan Tarakan Timur Kota Tarakan Propinsi Kalimantan Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa: (i) belum optimalnya program pengelolaan ekosistem mangrove yang ditawarkan oleh Pemerintah Kota Tarakan melalui kegiatan MCRMP; (ii) tingkat kerusakan sumberdaya ekosistem mangrove tergolong tinggi. Lokasi dapat dilihat pada Gambar 8.
Sifat dan Tipe Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah studi kasus (case study). Penelitian ini adalah penelitian yang menjelaskan bahwa: studi kasus adalah arah mikro (menyorot satu atau beberapa kasus) dan studi kasus adalah strategi penelitian yang bersifat multi-metode. Lazimnya penelitian kasus akan memadukan metode pengamatan, wawancara dan analisis dokumen. (Stake, 1994:236; Adelman dkk. dikutip Nisbet dan Watt, 1994: 4; Yin, 1996: 18 dalam Sitorus, 1998).
Kajian studi kasus yang dilakukan dalam penelitian ini merujuk pada tipe studi kasus instrumental yang menyatakan bahwa kajian atas suatu kasus khusus untuk memperoleh wawasan atas suatu isu atau wawasan untuk menyempurnakan teori. Dalam hal ini fungsi kasus adalah sebagai pendukung atau instrument untuk membantu peneliti dalam memahami suatu permasalah tertentu. (Stake, 1994; 237 dalam Sitorus, 1998).
Strategi studi kasus merupakan metode yang dianggap tepat untuk sebuah studi yang berkaitan dengan ”how” dan ”why”, serta tepat pula bagi para peneliti yang hanya memilki peluang sangat kecil atau tidak mempunyai peluang sama sekali untuk melakukan kontrol terhadap peristiwa tersebut (Yin, 1997 dalam Lenggono, 2004).
Gambar 8 Peta Lokasi Penelitian (Desa Binalatung) Alat yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan selama mengadakan survei lapangan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Alat-alat yang Digunakan dalam Penelitian
No Alat Fungsi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. GPS Roll Meter Alat Tulis Tali Rafia
Hand Held Refractometer Hanna Instrument Handycam
Buku identifikasi mangrove Kuisioner
Mengetahui posisi atau titik pengamatan Membuat transek kuadrat
Sarana pengumpulan data Membuat transek kuadrat Mengetahui Salinitas Mengetahui suhu Dokumentasi
Mengetahui jenis mangrove
Untuk memperoleh informasi dari berbagai pihak yang terkait (masyarakat, stakeholders dan institusi pemerintah yang terkait)
Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer terdiri data potensi dan manfaat keberadaan hutan mangrove serta data sosial ekonomi masyarakat Desa
Binalatung, sementara data sekunder terdiri dari sumber-sumber yang menunjang penelitian seperti penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, PERDA yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem mangrove, laporan-laporan yang berasal dari instansi terkait. Secara lengkap data primer dan sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4 Jenis Data Primer dan Data Sekunder
No Data Primer Data Sekunder
1.
2.
3.
Ekosistem Mangrove
a. Potensi (jenis mangrove, jumlah tegakan serta jenis substrat)
b. Nilai Manfaat Ekonomi (manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan dan manfaat keberadaan)
Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Binalatung.
Sosial Ekonomi Masyarakat Penambang Pasir Juata.
Kondisi oseanografi daerah kajian Laporan kegiatan MCRMP Kondisi topografi dan fisiografi Kota Tarakan dalam Angka Perda Tata Ruang 2006
Perda No.4 th 2002 ttg larangan dan pengawasan hutan mangrove Kota Tarakan
Perda No.18 th 2002 ttg ijin usaha pertambangan bahan galian gol C
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: (1) data ekosistem mangrove, dan (2) data sosial ekonomi masyarakat setempat. Secara terperinci pengumpulan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Data ekosistem mangrove a. Potensi Tegakan
Metode penentuan atau peletakan transek kuadrat dilakukan secara acak (random sampling) dan ukuran transek kuadrat 30m x 30m. Kusmana (1997) pertimbangan utama dalam penentuan ukuran kuadrat adalah kehomogenan vegetasi dan morfologi jenis tumbuhan yang diukur. Dalam hutan yang homogen ketepatan untuk intensitas sampling tertentu cenderung lebih besar karena jumlah satuan contoh bersifat bebas satu sama lain akan banyak.
Gambar 9 Desain Metode Transek Kuadrat b. Pendekatan Nilai Manfaat
Nilai manfaat ekonomi suatu ekosistem mangrove didekati dengan beberapa metode penilaian dengan mengkuantifikasikannya ke dalam nilai uang (Rp), seperti:
- Nilai Pasar
Nilai atau harga pasar sebenarnya (actual price) dari barang dan jasa yang diperdagangkan dalam suatu sistem tukar-menukar yang lazim di daerah tersebut. Pendekatan ini digunakan untuk komponen sumberdaya yang dapat langsung diperdagangakan, seperti potensi perikanan (kepiting), dan daun nipah serta digunakan untuk menilai manfaat langsung dari penggunaan suatu komponen sumberdaya.
- Harga tidak langsung
Pendekatan ini digunakan bila mekanisme pasar gagal memberikan nilai manfaat tidak langsung suatu komponen sumberdaya (market failure) karena terjadi gangguan terhadap pasar komponen sumberdya tersebut (market distortion) atau komponen sumberdaya tersebut belum memiliki pasar (non-existence of market). Estimasi manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi pantai. Metode yang digunakan adalah replacement cost atau biaya penganti. Biaya dari pembuatan beton tersebut sebagai biaya pengganti akibat dampak lingkungan, dapat digunakan sebagai perkiraan minimum dari manfaat yang diperoleh untuk memelihara maupun memperbaiki lingkungan.
30m x 30m 30m x 30m
30m x 30m 10m
- CVM (Contigent Valuation Method)
Contigent Valuation merupakan salah satu teknik valuasi yang bersifat partisipatif karena memungkinkan terjadinya diskusi publik. Meskipun demikian kelemahan utama dalam teknik ini adalah asumsi bahwa individu maupun kelompok individu merupakan target contigent valuation akan berfikir secara rasional dalam menentukan nilai ekonomi sebuah fungsi ekosistem, padahal dalam kenyataanya sifat ini tidak semua dimiliki oleh individu atau kelompok individu. (Adrianto, 2006)
- Nilai Ekonomi Total (NET)
Nilai ekonomi total merupakan penjumlahan dari seluruh manfaat yang telah diidentifikasi, yaitu nilai manfaat langsung (NML), nilai manfaat tidak langsung (NMTL), nilai manfaat pilihan (NMP), nilai manfaat keberadaan (NMK).
2. Data Sosial Ekonomi Masyarakat
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling dengan pertimbangan bahwa sampel yang diambil adalah masyarakat yang lama tinggal di daerah setempat, sehingga diharapkan mampu memberikan gambaran secara terperinci mengenai kondisi wilayah kajian.
Data sosial ekonomi ini dikumpulkan melalui teknik wawancara secara mendalam (depth interview). Teknik ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh semua informasi yang diperlukan. Secara garis besar data sosial ekonomi meliputi: identitas responden, pekerjaan utama, persepsi masyarakat terhadap ekosistem mangrove serta persepsi masyarakat terhadap degradasi lingkungan.
Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian berupa analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Metode analisis deskriptif digunakan untuk: (i) mendeskripsikan pengelolaan aktual ekosistem mangrove, (ii) mendeskripsikan kondisi pesisir khususnya pasut, arus, dan iklim. Metode analisis kuantitatif digunakan untuk: (i) mengetahui potensi biofisik ekosistem mangrove desa Binalatung; (ii) mengetahui nilai manfaat dari keberadaan suatu ekosistem
mangrove serta; (iii) memberikan alternatif program pengelolaan berdasarkan bobot penilaian.
Analisis Potensi Biofisik Ekosistem Mangrove
Analisis potensi ekosistem mangrove dimaksudkan untuk mengetahui persentase penutupan dan kerapatan pohon (pohon/ha). Analisis ini menggunakan data hasil pengukuran langsung di lapangan, berupa jumlah individu (IND), diameter batang (DB), tipe substrat dan luas petak contoh yang diambil. Selanjutnya dilakukan analisis potensi:
1. Kerapatan Jenis (Di) adalah jumlah tegakan jenis i dalam satuan unit area :
A n
D i
i = ... (1)
dimana ni adalah jumlah total tegakan dari jenis i dan A adalah luas total area pengambilan contoh (luas total petak contoh/Plot)
2. Kerapatan Relative Jenis (RDi) adalah perbandingan antara jumlah tegakan jenis I (ni) dan jumlah total tegakan seluruh jenis ( nΣ ):
RD n x100 n i i ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ Σ = ... (2)
3. Frekuensi Jenis (Fi) adalah peluang ditemukannya jenis i dalam petak contoh/plot yang diamati :
p
p
F
i iΣ
=
... (3) dimana Fi adalah frekuensi jenis i, pi adalah jumlah petak contoh/plot dimana ditemukan jenis i, dan p adalah jumlah total petak contoh/plot yang diamati.4. Frekuensi Relatif Jenis (RF ) adalah perbandingan antara frekuensi jenis i )
(F dan jumlah frekuensi untuk seluruh jenis ( Fi Σ ) :
x100 F F RF i i ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ Σ = ... (4)
5. Penutupan Jenis (C ) adalah luas penutupan jenis i dalam suatu unit area: i
A BA
4
2
DBH
BA=π dalam cm2, DBH =πCBH dalam cm, CBH adalah lingkaran pohon.
6. Penutupan Relatif Jenis (RCi) adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i (Ci) dan luas total area penutupan untuk seluruh jenis ( CΣ ), x100 C C RC i i ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ Σ = ... (6)
7. Nilai Penting Jenis (IVi) : IVi =RDi+RFi+RCi
Nilai penting memberikan gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan mangrove dalam komunitas mangrove.
Analisis Nilai Manfaat Ekonomi Ekosistem Mangrove
Analisis nilai manfaat ekonomi (economic valuation) terhadap ekosistem mangrove dimaksudkan bahwa dalam konteks pembangunan berkelanjutan dimensi ekologi diperlukan suatu penilaian terhadap ekosistem hutan mangrove. Hal ini mutlak diperlukan agar institusi pemerintah selaku pembuat dan pengambil kebijakan perlu mempertimbangkan nilai fungsi yang terkandung dalam ekosistem tersebut agar dalam melaksanakan pembangunan daerah otonom keberadaan ekosistem mangrove menjadi pertimbangan yang penting untuk keberlanjutan suatu pulau.
Nilai ekonomi total (TEV) merupakan penjumlahan dari nilai ekonomi berbasis pemanfaatan/penggunaan (Use Value; UV) dan nilai ekonomi berbasis bukan pemanfaatan/penggunaan (Non-use Value; NUV).(Barton, 1994, Barbier, 1993, Freeman III, 2002 dalam Adrianto, 2006). Gambar 10 menyajikan diagram nilai ekonomi total (TEV) dari ekosistem mangrove pesisir utara Desa Binalatung.
Gambar 10 Tipologi Nilai Ekonomi Total (TEV)
Secara garis besar definisi dari tipologi nilai-nilai ekonomi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Definisi dan Contoh Komposisi Total Nilai Ekonomi (TEV)
No Jenis Nilai Definisi Contoh
1.
2.
3.
4.
Direct Use Value
Indirect Use Value
Option Value
Exisance Value
Nilai ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan langsung dari sebuah sumberdaya/ekosistem Nilai ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan tidak langsung dari sebuah sumbrdaya/
ekosistem
Nilai ekonomi yang diperoleh dari potensi pemanfaatan langsung maupun tidak langsung dari sebuah sumberdaya/
ekosistem di masa datang Nilai ekonomi yang diperoleh dari sebuah persepsi bahwa keberadaan (existance) dari sebuah ekosistem/sumberdaya itu ada, terlepas dari apakah ekosistem/sumberdaya tersebut dimanfaatkan atau tidak
Manfaat perikanan kayu mangrove, genetic material dll
Fungsi ekosisetem mangrove sebagai natural
breakwaters, fungsi
terumbu karang sebagai
spawning ground bagi jenis
ikan karang dll
Manfaat keanekaragaman hayati, spesies baru dll
Habitat terancam punah;
endemic spesies
Sumber :Adrianto, 2004
Total Economic Value
Use Value Non-Use Value
Direct Use Value Option Value Indirect Use Value Existance Value
Identifikasi manfaat dan fungsi yang terkait dengan sumberdaya ekosistem mangrove Desa Binalatung:
1. Nilai Manfaat langsung (NML).
Nilai manfaat langsung adalah nilai ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan langsung dari sebuah sumberdaya atau ekosistem. Berdasarkan hasil observasi langsung yang dilakukan di Desa Binalatung bahwa nilai ini diperoleh dari pemanfaatan kepiting mangrove (Scylla sp) dan daun Nipah (Nypa). potensi pohon sebagai penyedia bahan tiang pancang.
Nilai manfaat ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
∑
= = n i i DUV DUV 1 ... (7) Dimana,DUV1 : manfaat penangkapan kepiting
DUV2 : manfaat daun Nipah
2. Nilai Manfaat Tidak Langsung (NMTL)
Nilai manfaat tidak langsung adalah nilai ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan tidak langsung dari suatu ekosistem mangrove yang dalam hal ini adalah manfaat fisik berupa penahan abrasi atau erosi pantai dan potensi pohon sebagai tempat berasosiasinya berbagai macam biota perairan serta manfaat biologi sebagai tempat penyedia makanan bagi ikan.
Penilaian manfaat fisik diestimasi dari fungsi ekosistem mangrove sebagai penahan abrasi/erosi pantai. Pengestimasian nilai dengan menggunakan alat pemecah gelombang (breakswater) yang terbuat dari bahan beton dengan daya tahan bangunan selama 10 tahun. Menurut Aprilwati (2001) untuk membuat bangunan pemecah gelombang dengan ukuran 1m x 11m x 2,5m (p x l x t) diperlukan biaya sebesar Rp.4.163.880, kemudian biaya tersebut dikonversi dengan besaran nilai inflasi BI rate yang terjadi tahun 2005. Sementara itu fungsi pohon didekati dengan penjualan kayu mangrove (harga pasar lokal).
Penilaian manfaat biologis dilakukan dengan cara melihat fungsi mangrove sebagai feeding ground bagi spesies-spesies perairan pasut. Fungsi ini didekati dengan model hubungan regresi antara luasan hutan mangrove (ha)
dengan produksi udang (kg) (Naamin, 1984 dalam Fachrudin, 1996). Model regresi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
X
Y =16,286+0,0003536 ... (8) Dimana,
Y : Produksi udang (kg)
X : Luasan hutan mangrove (ha)
Secara keseluruhan total nilai manfaat tidak langsung yang disediakan oleh sumberdaya ekosistem mangrove adalah :
∑
= = n i i IUV IUV 1 ... (9) Dimana,IUV1 : Manfaat penahan abrasi pantai
IUV2 : Manfaat pohon
IUV2 : Manfaat hutan ekosistem mangrove sebagai feeding ground.
3. Nilai Manfaat Pilihan (NMP)
Nilai manfaat pilihan merupakan suatu nilai yang diperoleh dari potensi pemanfaatan langsung maupun tidak langsung dari sebuah sumberdaya/ekosistem di masa datang. Manfaat pilihan untuk hutan mangrove biasanya didekati dengan menggunakan metode benefit transfer. Metode ini dilakukan dengan cara menilai perkiraan manfaat dari tempat lain (di mana sumberdaya tersebut tersedia) kemudian manfaat tersebut ditransfer untuk memperoleh perkiraan yang kasar mengenai manfaat dari lingkungan (Fauzi, 1999 dalam Santoso, 2005).
Untuk menilai manfaat pilihan suatu ekosistem mangrove maka dilakukan dengan pendekatan nilai keanekaragaman hayati (Biodeversity). Manfaat ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian Ruitenbeek (1991) dalam Fachruddin (1996). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
4. Nilai Manfaat Keberadaan (NMK)
Nilai Manfaat Keberadaan di peroleh dengan cara mengalikan nilai rata-rata (Rp) yang diberikan oleh responden terhadap keberadaan hutan mangrove per ha per tahun dengan luas hutan mangrove secara keseluruhan. Menurut FAO (2000) dalam Adrianto (2005).
∑
= = n i Yi n MWTP 1 1 ... (11) Dimana, n = Jumlah sampelYi = Besarnya WTP yang diberikan responden ke-i
Selanjutnya untuk mengestimasi nilai reboisasi (pemeliharaan) terhadap ekosistem mangrove pesisir utara Desa Binalatung yang terdegradasi akibat kematian secara massal (dieback) selama 10 (sepuluh) tahun dilakukan dengan menggunakan Cost-Benefit Analysis (CBA), yaitu :
(
)
(
)
∑
= + − = n t t t t r C B NPV 1 1 ... (12) Dimana : tB : manfaat yang diperoleh dari penggunaan ekosistem mangrove
t
C : biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh manfaat dari penggunaan ekosistem mangrove terssebut
t : kurun waktu penilaian (tahun) r : faktor diskonto (discount rate)
Kurun waktu penilaian (t) yang digunakan adalah 10 (dua puluh) tahun. Secara ekologi kurun waktu tersebut digunakan berdasarkan perkiraan bahwa umur mangrove sudah mencapai pada pembentukan sistem ekologis. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Mackinnon, et.al. (2000) bahwa mangrove jenis Rhizophora sp mulai berbuah pada umum empat tahun dan pada umumnya melakukan regenerasi dengan baik.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam mealakukan cost-benefit analysis meliputi:
1. Tidak terjadi bencana alam seperti gelombang pasang, illegal logging, dan konvesi areal mangrove.
2. Kegiatan reboisasi (pemeliharaan) berjalan dengan baik selama waktu yang telah digunakan.
Multy Criteria Decision Analisis (MCDM)
Metode MCDM merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan pada analisis yang dilakukan terhadap kriteria. Metode ini menitikberatkan pada kriteria-kriteria yang dibangun berdasarkan kondisi aktual yang terjadi seperti kriteria ekologi-ekosistem mangrove, sosial-ekonomi masyarakat dan kelembagaan (kebijakan pemerintah).
Metode MCDM terbagi lagi kedalam tiga kategori yakni mutiple attribute utility theory (MAUT), outranking methods dan interactive methods. Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada penggunaan metode multiple attribute utility theory (MAUT). Metode ini menitikberatkan pada hubungan yang saling terkait antara atribut (kriteria), atau dengan kata lain bagaimana keterkaitan antara kriteria-kriteria yang dibangun (ekologi-ekosistem, sosial-ekonomi dan kelembagaan) dapat menjadi suatu dasar yang kuat dalam mengambil suatu keputusan dalam upaya mengurangi tingkat degradasi kawasan ekosoistem mangrove khususnya Desa Binalatung. Bidang analisis ini memerlukan sejumlah pendekatan dengan menghitung banyak sub-sub kriteria untuk membentuk struktur yang mendukung proses pengambilan keputusan. Dalam formulasi digunakan software CRIPLUS versi 3.0.
MCDM dibuat dalam bentuk hirarkhi dengan empat elemen, yaitu goal, objectives, criteria dan alternative. Penerimaan Metode MCDM pada beberapa bidang ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: 1) metode ini memiliki kemampuan menangani jenis data yang bervariasi (kuantitatif, kualitatif, campuran dan pengukuran yang intangible), 2) dapat mengakomodasi perbedaan yang diinginkan dalam kriteria, 3) skema bobot yang bervariasi, menghadirkan prioritas yang berbeda atau pandangan dari stakeholders yang berbeda, dapat diterapkan pada MCDM, 4) Teknik MCDM tidak membutuhkan penentuan nilai,
5) prosedur analisis atau agregasi dalam MCDM relatif sederhana dan straigforward
Tahapan proses yang dilakukan dalam untuk melakukan analisis Multy Criteria Decision Making (MCDM), terdiri atas:
1. Identifikasi kriteria dan sub kriteria
2. Penilaian dalam hal ini adalah pemberian bobot terhadap subkriteria dengan menggunakan SMART (simple multyattribute rating technique). Pembobotan menggunakan skala 1-9 (Saaty, 1991). Secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Skala yang Digunakan dalam Subkriteria dalam Analisis MCDM Intensitas
Pentingnya Definisi Penjelasan
1 3 5 7 9 2,4,6,8
Kedua elemen sama pentingnya.
Elemen yang satu sedikit lebih penting ketimbang yang lainnya.
Elemen yang satu esensial atau sangat penting ketimbang elemen yang lainnya.
Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya
Satu elemen mutlak lebih penting ketimbang elemen yang lainnya
Nilai-nilai antara di antara dua pertimbangan yang berdekatan
Dua elemen menyumbangnya sama besar pada sifat itu.
Pengalaman dan pertimbangannya sama menyokong satu elemen atas yang lainnya.
Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas elemen yang lainnya.
Satu elemen dengan kuat di sokong dan dominannya telah terlihat dalam praktik.
Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
Kompromi diperlukan antara dua pertimbangan
Sumber : Saaty, 1991
Analisis SWOT/Formulasi Strategi
Menentukan strategi dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove Desa Binalatung saat ini digunakan analisis SWOT. Secara umum SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal Strengths dan weaknesses serta lingkungan ekternal opportunities dan threats. Secara rinci analisis ini membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor
internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 11.
Gambar 11 Diagram analisis SWOT
Proses penyusunan perencanaan strategi melalui 3 (tiga) tahap analisis, yaitu:
a. Tahapan pengumpulan data, dalam tahap ini data-data yang digunakan adalah data yang telah dikumpulkan dalam analisis MCDM
b. Tahapan analisis, pada tahapan ini digunakan pendekatan dengan matrik SWOT. Hal pertama yang dalam penentuan martik tersebut ialah dengan mengetahui faktor strategi internal (IFAS) dan faktor strategi eksternal (EFAS). Selanjutnya unsur-unsur yang terdapat didalam IFAS dan EFAS dihubungkan dalam bentuk matrik dengan tujuan untuk mendapatkan alteratif strategi. Secara terperinci bentuk marik SWOT dapat dilihat pada Tabel 7 Tabel 7 Matrik SWOT
Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
Peluang (Opportunies)
Strategi Kekuatan Peluang
Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
Strategi Kelemahan Peluang Menciptakan strategi yang meminimal kelemahan untuk memanfaatkan peluang
Ancaman (Treaths)
Strategi Kekuatan Ancaman
Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan yang mengatasi ancaman
Strategi Kelemahan Ancaman Menciptakan strategi kelemahan dan menghindari ancaman
Sumber: Rangkuti, 2004 Berbagai Peluang Kekuatan Internal Kelemahan Internal Berbagai Ancaman 1. Mendukung Strategi agresif 2. Mendukung Strategi Diversifikasi 3. Mendukung strategi turn-around 4. Mendukung Strategi defensif IFAS EFAS
- Strategi kekuatan peluang, dibuat untuk memanfatkan seluruh kekuatan guna memanfaatkan pelung sebesar-besarnya
- Strategi kelemahan peluang, dibuat untuk menggunakan seluruh kekuatan untuk mengatasi ancaman
- Strategi kelemahan peluang, diterakan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada
- Strategi kelemahan ancaman, didasarkan pada kegiatan yang bersifat bertahan dan berusaha meminimalkan kelemahan