1
Estimasi Asupan Protein Mikroba Pada Ternak Kambing Yang
Mendapat Pakan Komplit Dengan Kandungan Protein Berbeda
(Estimation of Microbial Protein Supply on Goat Receiving Complete FeedContaining Different Protein Levels)
Asmuddin Natsir1), Harfiah1), M. Zain Mide1), Rohmiyatul Islamiyati1), Achmad Ragil Ponco Nugroho2)
1)
Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Jl. P. Kemerdekaan Km. 10 Makassar
2)
PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. Jl. Kima 17 DD 11, Makassar Corresponding Email: [email protected]
ABSTRAK
Pemberian pakan dalam bentuk pakan komplit pada tenak ruminansia sangat bermanfaat tidak saja dalam pemenuhian kebutuhan nutrisi ternak tetapi juga dalam penanganan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh pemberian pakan komplit dengan kandungan protein berbeda terhadap estimasi asupan protein mikroba (PM) dan efisiensi suplai protein mikroba (ESPM) pada ternak kambing. Penelitian dilaksanakan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari empat perlakuan dan 3 ulangan. Selama periode percoban, ternak dipelihara pada kandang metabolisme (1 ekor ternak/petak kandang) dengan ukuran petak kandang 1,5 x 0,6 m. Secara acak setiap ternak mendapatkan satu dari empat ransum percobaan, yaitu Perlakuan A: protein kasar (PK) 10,20%, Perlakuan B: PK 12,59%, Perlakuan C: PK 15,24% dan Perlakuan D: PK 17,54%. Analisis ragam memperlihatkan bahwa perlakuan berpengaruh (P<0,05) terhadap konsentrasi turunan purin (TP) yang diekskresikan dalam urin ternak, yakni 1,89; 1,77; 4,21; dan 3,17 mmol/hari, untuk masing-masing perlakuan A, B, C, dan D. Akan tetapi, perlakuan tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap estimasi asupan PM dan ESPM dengan rataan 2,91; 2,51; 3,33; dan 4,07 g/hari untuk PM, dan 35,37; 20,95; 41,99; dan 44,97 g N/kg bahan organic tercerna yang difermentasi dalam rumen, masing-masing untuk perlakuan A, B, C, and D. Kesimpulan, walaupun level protein yang berbeda pada pakan komplit tidak mempunyai pengaruh nyata terhadap estimasi asupan PM dan ESPM, ada kecenderungan asupan PM dan ESPM semakin meningkat dengan meningkatnya kandungan protein pakan.
2
ABSTRACT
Preparation of diet in form of complete feed (CF) for ruminants is beneficial not only for meeting nutrient requirements of the animal but also for making easier of handling the feeding for the animal. The purpose of this research was to compare the effects of different protein contents of CF on the estimation of microbial protein (MP) supply and efficiency of microbial protein supply (EMPS) for the local goat. The experiment was carried out according to completely randomized design consisted of four treatments and three replications for each treatment. The animals were kept in an individual metabolism crate (1 goat/cage) throughout the study. Each goat was randomly assigned to have one of four experimental rations containing different levels of crude protein (CP), i.e. Treatment A: CF with 10.20% CP, Treatment B: CF with 12.59% CP, Treatment C: CF with 15.24% CP, and Treatment D: CF with 17.54% CP. Analysis of variances indicated that the treatment affected (P<0.05) the concentration of total purine derivatives excreted in the urine, which was 1.89, 1.77, 4.21, and 3.17 mmol/day for treatment A, B, C, and D, respectively. However, the treatment did not affect (P>0.05) both the estimated MP supply and the EMPS, averaging 2.91, 2.51, 3.33, and 4.07 g/day for MP, and 35.37, 20.95, 41.99, and 44.97 g N/kg digested organic matter frmented in the rumen, respectively for the treatment A, B, C, and D. In conclusion, even though the different protein levels of CF had no significant effects on the estimated supply of MP and EMPS, there was a tendency that the MP and EMPS might improved as the protein contents of CF increased.
Key words: Microbial protein, Purine derivatives, Local goat, Complete feed PENDAHULUAN
Pemberian pakan komplit merupakan suatu strategi pemberian pakan yang telah lama diterapkan, khususnya pada industri sapi perah. Penggunaan pakan komplit pada ternak yang sedang laktasi memudahkan pemenuhan kebutuhan nutrisi (terutama energi) yang sangat tinggi, dan pada saat yang sama mampu menyumbang kebutuhan serat (NDF) yang sangat penting bagi stabilisasi ekosistem rumen (Tafaj et al., 2007).
Efisiensi penggunaan pakan komplit pada ternak ruminansia bahkan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan yang pesat dalam teknologi peralatan atau mesin pengolahan pakan. Terkait dengan efisiensi penggunaan pakan, kandungan protein pakan sangat menentukan efisiensi sintesis protein mikroba dalam rumen. Perbedaan kandungan protein dalam pakan komplit diduga dapat mempengaruhi laju pertumbuhan mikroba rumen yang berperan dalam proses pencernaan ternak yang pada giliannya berpengaruh pada asupan protein mikroba bagi induk semang (Maeng dan Baldwin, 1976; Stern dan Hoover, 1979; Parakassi, 1999; Natsir, 2008).
Pada ruminansia, asupan protein mikroba dapat diestimasi dengan beberapa metoda. Salah satu metoda, yang merupakan metoda non invasive, adalah dengan menggunakan konsentrasi turunan purin (TP) yang terdiri dari allantoin, asam urat,
3 xantin dan hipoxantin yang diekskresikan pada urin ternak. Teknik ini didasarkan pada asumsi bahwa penyerapan protein mikroba dan asam nukleat berkorelasi, dan TP yang diekskresikan pada urin terutama berasal dari mikroba rumen (Chen dan Gomez, 1992).
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap konsentrasi turunan purin, diantaranya adalah tingkat konsumsi (Chen dkk., 1992; Soedjono dkk, 2004; Cetinkaya dkk., 2006; Südekum et al., 2007; Natsir dan Mujnisa, 2010) and berat badan ternak (Chen dkk., 1992; Natsir dan Mujnisa, 2010), jenis bahan pakan protein yang digunakan (Natsir, 2007), manajemen pemberian suplemen sumber priotein (Natsir, 2008). Namun informasi tentang pengaruh level protein pada ransum komplit masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedan kandungan protein dari pakan komplit terhadap ekskresi turunan purin (alantoin, asam urat, xantin dan hipoxantin) dan estimasi asupan protein mikroba serta efisiensi suplai protein mikroba pada ternak kambing lokal.
MATERI DAN METODE PENELITIAN Perlakuan dan Rancangan Percobaan
Dua belas ekor ternak kambing jantan lokal dengan kisaran umur kurang lebih satu tahun dengan rataan berat badan 11,2 kg (variasi berat badan antara 9,2 – 14,1 kg) secara acak ditempatkan dalam kandang individu berukuran 1,5 m x 0,6 m dengan ketinggian dari lantai kurang lebih 0,9 m. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat makan dan minum yang terpisah. Ternak diberi pakan komplit yang disusun menggunakan bahan baku lokal. Ransum disusun sedemikian rupa sehingga ransum komplit tersebut mengandung kadar protein yang berbeda, yakni Perlakuan A: Protein Kasar (PK) 10,20 %, Perlakuan B: PK 12,59 %, Perlakuan C: PK 15,24 % dan Perlakuan D: PK 17,54 %.
Percobaan dilaksanakan berdasarkan rancangan acak lengkap terdiri dari empat perlakuan pakan dan tiga ulangan (Steel and Torrie, 1981). Komposisi bahan penyusun dan komposisi kimia ransum penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Pakan diberikan kepada ternak percobaan dua kali sehari, yakni jam 08.00 dan jam 16:00. Pakan yang diberikan untuk setiap ternak disesuaikan dengan desain percobaan yang telah ditentukan dengan jumlah pemberian kurang lebih 3% dari bobot badan dalam bahan kering. Air minum tersedia setiap setiap saat bagi ternak percobaan.
Koleksi Sampel
Koleksi harian dari feses dan urin dilakukan dalam lima hari terakhir pada akhir periode percobaan. Urin ditampung dalam penampung yang sebelumnya telah diisi dengan 100 ml Asam Sulfat 1 M untuk mencegah kehilangan N (Final pH dari urin diatur sehingga pH < 3). Total urin yang dikumpulkan dalam sehari dilarutkan dengan 4 x pengenceran untuk mencegah pengendapan asam urat, sub sampel dari urin yang telah diencerkan kemudian disimpan pada suhu -20oC untuk keperluan analisis TP.
4
Tabel 1. Komposisi Bahan dan Komposisi Kimia Ransum Percobaan
Komosisi Bahan (%) Perlakuan Ransum A B C D - Dedak 10 10 10 10 - Bungkil Kelapa 7,5 7,5 7,5 7,5 - Tumpi jagung 9,25 8,0 6,25 3,0 - Jagung Giling 10 10 10 10
- Tepung Rumput Gajah 60 60 60 60
- Garam 1 1 1 1 - Mineral Mix 1 1 1 1 - Tepung Cangkang Kepiting 1 1 1 1 - Tepung Ikan 0,0 0,5 1,50 4,5 - Urea 0,25 1,0 1,75 2,0 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 Protein kasar*(%) 10,20 12,59 15,24 17,54 *Hasil perhitungan
Feses yang dikumpulkan setiap hari selama periode sampling ditimbang untuk mengetahui beratnya lalu disampel sebanyak 10% dan feses yang terkumpul selama 5 hari selanjutnya dicampur secara homogen lalu dilakukan subsampling Sampel sebanyak 10% dari total sampel. Sampel diovenkan pada suhu 65 0C selama 48 jam, kemudian digiling dengan ukuran 1 mm untuk analisis kandungan bahan kering, bahan organik, N, dan fraksi serat. Dalam periode ini, juga dilakukan sampling terhadap pakan komplit yang diberikan pada ternak. Sub sampel selama periode koleksi dikumpulkan dan disubsample lalu diovenkan pada suhu 65 0C selama 48 jam, kemudian digiling dengan ukuran 1 mm untuk analisis kandungan bahan kering, bahan organik, N, dan fraksi serat.
Analisis Kimia
Bahan kering (BK) dan bahan organik (BO) dari pakan dan feses ditentukan berdasarkan metode AOAC (2000). Fraksi serat dari pakan ditentukan menurut metode Van Soest (Goering dan Van Soest, 1970). Kandungan N dari pakan, feses, dan urin ditetapkan menurut metode Kjehdahl (AOAC, 2000).
Turunan Purin (TP) yang terdiri dari alantoin, asam urat, xantin, dan hipoxantin dianalisis sebagai berikut: Prosedur penentuan kadar alantoin dilakukan menurut prosedur yang direkomendasikan Chen dan Gomez (1992) yang mengadopsi metode Yang dan Conway dan dimodifikasi oleh Yusiati (2005). Dalam prosedur ini, alantoin dihidrolisis dalam kondisi alkalis lemah pada 100C menjadi asam allantoat yang kemudian didegradasi lebih lanjut menjadi urea dan asam glioksilat dalam larutan asam lemah. Asam glioksilat kemudian bereaksi dengan phenilhidrazin hidroklorid untuk menghasilkan phenilhidrazon. Produk
5 tersebut bereaksi dengan potassium ferrisianida menbentuk senyawa berwarna yang stabil dan dapat dibaca absorbansinya pada 522nm.
Prosedur penentuan kadar asam urat mengikuti metode yang direkomendasikan Chen dan Gomez (1992) yang mengadopsi penetapan kadar asam urat yang disampaikan oleh Fujihara et al. (1987) dan dimodifikasi oleh Yusiati (2005). Prinsip kerja metode ini adalah bahwa asam urat mengabsorbsi sinar UV pada 293 nm. Ketika sampel diinkubasi dengan enzim uricase, asam urat yang terkandung didalam sampel terdegradasi menjadi alantoin dan senyawa lain yang tidak mengabsorbsi UV pada 293 nm. Penurunan nilai OD yang terbaca setelah perlakuan enzim, menggambarkan jumlah asam urat sampel. Setelah perlakuan enzim, OD standar harus nol yang menunjukkan konversi asam urat telah selesai. Asam urat, xantin dan hipoxantin ditentukan dengan menggunakan UV-Vis Spectrophotometer. Penetapan kadar xantin dan hypoxantin dilaksanakan dengan terlebih dahulu mengkonversi xantin dan hipoxantin menjadi asam urat sehingga xantin dan hipoxantin diukur sebagai asam urat. Oleh karena itu data untuk asam urat merupakan jumlah asam urat, xantin dan hipoxantin, sementara total TP merupakan hasil jumlah dari allantoin dan asam urat (Chen dan Gomez, 1992).
Perhitungan dan Data Analisis
Daya cerna bahan kering (DCBK) atau bahan organik (DCBO) dihitung berdasarkan diperlukan untuk perhitungan estimasi asupan protein mikroba dan dihitung dengan rumus berikut:
KBK atau KBO – BKF atau BOF
DCBK atau DCBO = x 100%
KBK atau KBO KBK atau KBO = Konsumsi BK atau Bahan organik BKF atau BOF = bahan kering atau bahan organik feses
Jumlah TP mikroba yang diserap (X, mmol/hari) berkaitan dengan ekskresi DP pada urin (Y, mmol/hari) dihitung berdasarkan persamaan:
Y = 0.84X + (0.150W0,75e-0,25X) (Chen dan Gomes, 1992),
Estimasi asupan protein mikroba (g N/hari) dhitung menurut rumus yang direkomendasikan oleh Chen dan Gomes (1992):
70 X
MP = = 0,727 X 0,116 x 0,83 x 1000
6 Protein mikroba yang diestimasi dari TP yang diekskresikan dalam urin, berkaitan dengan jumlah biomassa mikroba yang mencapai usus halus dan bukan yang disintesis dalam rumen, karenanya efisiensi suplai protein miroba (ESPM) terhadap ternak inang diekspresikan sebagai jumlah N per kilogram bahan organik tercerna yang difermentasi dalam rumen (DOMR), dengan asumsi bahwa DOMR = 0,65 x konsumsi bahan organik tercerna (AOAC, 2000).
Semua data dianalisis dengan analisis ragam berdasarkan Rancangan Acak Lengkap menggunakan prosedur GLM dari paket SPSS versi 16. Perbedaan antar perlakuan diuji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1981)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rataan konsumsi bahan kering dan bahan organik ternak cukup bervariasi antar perlakuan, dengan rataan 286 ± 77 g/ekor/hari dan 237 ± 64 g/ekor/hari, untuk bahan kering dan bahan organik. Adapun rataan kecernaan bahan kering dan bahan organik adalah masing-masing 64,9% dan 63,4% (Tabel 2). Hasil analisis ragam memperlihatkan perlakuan ransum komplit tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap konsumsi bahak kering, konsumsi bahan organic, tingkat kecernan bahan kering, an kecernaan bahan organik.
Berdasarkan tingkat konsumsi bahan organik dan tingkat kecernaan bahan organik ransum, konsumsi bahan organik tercerna (DOMI) dan bahan organik tercerna yang dapat difermentasi dalam rumen (DOMR) yang digunakan dalam mengestimasi asupan protein mikroba (PM) dan efisiensi suplai protein mikroba (ESPM) dapat ditentukan (Tabel 2). DOMI beragam dari 125 g/hari (Perlakuan C) hingga 188 g/hari (Perlakuan B) dengan rataan 150 g/ekor/hari. DOMR bervariasi dari 81 g/hari hingga 122 g/hari dengan rataan 98 g/hari. Namun demikian, hasil statistik menunjukkan bahwa perlakuan ransum komplit tidak memberikan pengaruh (P>0,05) terhadap DOMI dan DOMR.
Total volume urin dan konsentrasi TP sangat bervariasi antar individu ternak. Rataan volume urin yang diekskresikan beragam dari 197 ml/hari (Perlakuan B) hingga 360 ml/ekor/hari (Perlakuan C) dengan rataan 263 ml/hari. Konsentrasi alantoin bervariasi antara 1,35 mmol/hari (Perlakuan B) hingga 2,61 mmol/hari (Perlakuan C), asam urat bervariasi dari 0,34 mmol/hari (Perlakuan A) hingga 1,39 mmol/hari (Perlakuan C), xantin+hipoxantin beragam dari 0,05 mmol/hari (Perlakuan A) hingga 0,21 mmol/hari (Perlakuan C), sementara total TP bervariasi antara 1,77 mmol/hari (Perlakuan B) hingga 4,21 mmol/ekor (Perlakuan C). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan ransum komplit berpengaruh (P<0,05) terhadap volume urin dan konsentrasi turunan purin yang diekskresikan dalam urin.
Berdasarkan konsentrasi TP, estimasi asupan PM dan ESPM pada ternak kambing bisa diestimasi. Data (Tabel 2) menunjukkan bahwa rataan PM adalah 3,20 g/hari dengan variasi antara 2,51 g PM/hari (Perlakuan B) hingga 4,07 g PM/hari (Perlakuan D). Rataan ESPM adalah 35,82 g/kg DOMR dengan ayunan antara 20,95 g/kg DOMR (Perlakuan B) hingga 44,97 g/kg DOMR (Perlakuan D). Hasil analisis ragam
7 memperlihatkan bahwa perlakuan tidak memperlihatkan pengaruh (P>0,05) terhadap estimasi asupan PM dan ESPM.
Table 2. Rataan daya cerna ransum, eksresi turunan purin, dan estimasi suplai protein
mikroba menurut perlakuan
Perlakuan
Signifikan
Pengukuran A B C D
Konsumsi Ransum
Bahan kering (g/hari) 263 372 232 276 tn
Bahan organik (g/hari) 218 308 193 229 tn
Kecernaan ransum
Daya cerna bahan kering (%) 64,3 62,8 66,3 66,5 tn Daya cerna bahan organik (%) 62,2 60,7 65,0 65,6 tn
DOMI (g/hari) 137 188 125 152 tn
DOMR (g/hari) 89 122 81 99 tn
Total ekskresi urin (ml/hari) 222 197 360 273 * Konsentrasi turunan purin
(mmol/hari)
Allantoin 1,49 1,35 2,61 2,21 *
Asam urat 0,34 0,37 1,39 0,83 **
Xantin + Hipoxantina 0,05 0,06 0,21 0,12 ** Total TP (mmol/hari)b 1,89 1,77 4,21 3,17 * Suplai protein mikroba
PM (g N/hari)c 2,91 2,51 3,33 4,07 tn
ESPM (g N Mikroba/kg DOMR) 35,37 20,95 41,99 44,97 tn Keterangan:
DOMI= konsumsi bahan organik tercerna
DOMR= Bahan organik tercerna difermentasi dalam rumen yang dihitung berdasarkan rumus= 0,65 x konsumsi bahan organik tercerna (ARC, 1984).
a
Dalam analisis kedua komponen ini dikonversi terlebih dahulu menjadi asam urat b
Merupakan jumlah dari alantoin, asam urat, xantin, dan hipoxantin.
cN Mikroba (g N/hari) = 0,727 * X, dimana X dihitung dari persaman Y = 0,84X + (0,150W0,75e -0,25X
) (Chen dan Gomes,1992).
tn = tidak berpengaruh nyata (P>0,05), * = berbeda nyata (P<0,05), ** = berpengaruh sangat nyata (P<0,01).
8 Secara umum, kondisi ternak percobaan cukup sehat selama masa percobaan. Tingkat konsumsi bahan kering ternak percobaan rata-rata 2,6%, nilai ini masih dalam rentang tingkat konsumsi untuk ternak kambing (2-4% BB). Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik ransum percobaan tidak memperlihatkan perbedaan, arrtinya bahwa peningkatan level protein ransum komplit dari 10% menjadi 17,5% tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kecernan bahan kering dan bahan organik ransum. Hal ini memberi gambaran bahwa dari sisi kecukupan protein, ransum dengan kandungan protein 10% sudah memenuhi kebutuhan protein ternak karena nilainya berada di atas nilai kebutuhan minimal sebesar 7,5% (Arora, 1995).
Jumlah urin yang diekskresikan oleh ternak percobaan sangat bervariasi dan berbeda nyata antar kelompok perlakuan. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa volume urin yang diekskresikan tidak mengikuti pola peningkatan kadar protein ransum. Hal ini disebabkan oleh karena jumlah urin yang diekskresikan lebih banyak
ditentukan oleh faktor diluar kandungan protein ransum itu sendiri. Perbedaan jumlah urin yang diekskresikan secara lansung berpengaruh terhadap kadar turunan purin yang diekskresikan lewat urin. Konsentrasi turunan purin yang terdiri dari alantoin, asam urat, xantin + hipoxantin sangat beragam dan berbeda sangat nyata antar perlakuan kelompok perlakuan. Namun seperti halnya dengan jumlah urin yang diekskresikan, konsentrasi TP dalam urin tidak mengikuti pola kenaikan protein ransum.
Berdasarkan konsentrasi TP dalam urin, asupan atau suplai protein mikroba bagi ternak kambing dapat diestimasi. Secara umum tidak ada perbedaan asupan protein mikroba bagi ternak akibat perbedaan protein ransum komplit. Begitupula dengan efisiensi asupan mikroba protein tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Rataan efisiensi asupan mikroba adalah 35,82 g/hari. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa ESPM cukup tinggi tetapi juga sangat bervariasi. Akan tetapi berbeda dengan parameter konsentrasi turunan purin, estimasi asupan PM dan ESPM cenderung mengikuti pola peningkatan kandungan protein ransum, kecuali untuk perlakuan B yang memperlihatkan hasil sebaliknya.
Tidak adanya perbedaan dalam estimasi PM dan ESPM erat kaitannya dengan tingkat konsumsi bahan organik. Hasil penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa asupan protein mikroba sangat erat kaitannya dengan tingkat konsumsi bahan organic (Chen dkk, 1992; Soedjono dkk, 2004; Natsir dan Mujnisa, 2010). Nilai ESPM pada penelitian ini berada dalam kisaran nilai 15,6 hingga 59,0 g NM/kg DOMR. Secara umum, variasi yang luas dalam hal estimasi sintesa mikroba protein telah dilaporkan pada berbagai studi dan hasil penelitian ini masih berada dalam kisaran nilai yang telah dilaporkan dalam berbagai penelitian tersebut, yakni antara 14 – 40 g/kgDOMR. (Smith, 1975; ARC, 1984; Chen dan Gomes, 1992; Jetana dkk., 2000; Yu dkk., 2002; Natsir, 2007; Natsir 2008; Natsir dan Mujnisa, 2010). Banyak hal yang berpengaruh
9 terhadap besarnya variasi angka estimasi tersebut, diantaranya disebabkan perbedaan metode estimasi yang digunakan (Dewhurst dkk., 2000).
KESIMPULAN
Asupan protein mikroba dan efisiensi asupan protein mikroba yang diestimasi dari turunan purin yang diekskresikan dalam urin ternak kambing tidak dipengaruhi oleh kadar protein ransum komplit, namun terdapat kecenderungan bahwa asupan protein mikroba tersebut, semakin meningkat dengan meningkatnya kadar protein ransum.
UCAPAN TERIMA KASIH
Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin yang telah membiayai penelitian ini melalui Skim Penelitian Kompetensi Laboratorium dengan Kontrak No. 2060/UN4.20/PL.09/2013. Penulis juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada saudara Basri dan Nisa, mahasiswa Jurusan Nutrisi dan makanan ternak Fakultas Peternakan atas bantuannya dalam pelaksanan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
AOAC. 2000. Association of Official Analytical Chemists, Official Methods of Analysis. 15th ed. Washington, DC., USA.
ARC. 1984. The nutrient requirements of ruminant livestock, Supplement No.1. Report of the Protein Group of the ARC Working Party, Commonwealth Agricultural Bureau, Farnham Royal, UK.
Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikrobia pada Ruminansia. Cetakan Kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Cetinkaya, N., S. Yaman, N.H.O. Baber. 2006. The use of purine derivatives/creatinine ratio in spot urine samples as an index of microbial protein supply in Yerli Kara crossbred cattle. Livestock Science, Vol 105 (1-3): 109-119.
Chen, X.B., and M.J. Gomes. 1992. Estimation of microbial protein supply to sheep and cattle based on urinary excretion of purine derivatives: an overview of technical details. Occasional Publication. International Feed Resources Unit. Rowett Research Institute. Aberdeen, UK. 21pp.
10 Chen, X.B., Y.K. Chen, M.F. Franklin, and E.R Ørskov. 1992. The effect of feed intake and
body weight on purine derivative excretion and microbial protein supply in sheep. J. Anim. Sci. 70: 1534-1542.
Dewhurst, R.J., D.R. Davies and R.J. Merry. 2000. Microbial protein supply from rumen. A review article. Anim. Feed Sci. Technol. 85: 1 – 21.
Fujihara, T., M.N. Shem, and T. Matsui. 1987. The effect of exogenous purine supply on the endogenous excretion of purine derivatives in the urine of growing lambs. Animal Science Journal, Volume 78 : 129-134.
Goering, H.K., and P.J. Van Soest. 1970. Forage Fibre Analysis (Apparatus, reagents, procedures, and some application). Agric. handbook 379, ARS., USDA., Washington, DC., USA.
Jetana, T., R.A. Halim, S. Jalaluddin, and Y.W. Ho. 2000. Effect of energy and protein supplementation on microbial N synthesis and allantoin excretion in sheep fed guinea grass. Anim. Feed Sci. Technol. 84: 167-181.
Maeng, W.J., and W.L. Baldwin. 1976. Factors influencing rumen microbial growth rates and yields : Effect of amino acid additions to a purified diet with nitrogen from urea. J. Dairy Sci. 59 : 648 – 655.
Natsir, A. 2007. Ekskresi Derivat Purin dan Estimasi Suplai Protein Mikroba pada Ternak Domba yang Mendapat Suplemen Protein Berbeda. JITV 12 : 183 -188.
Natsir, A. 2008. Rumen Microbial Protein Supply as Estimated from Purine Derivative Excretion on Sheep Receiving Faba Beans (Vicia faba) as Supplement Delivered at Different Feeding Frequencies. JITV 13: 103-108.
Natsir, A. and A. Mujnisa. 2010. Correlation between feed intake, body weight and purine derivatives excreted in the urine of local goat of South Sulawesi. Prosiding Internasional, Chinese Society of Animal Science, Pingtung, Taiwan 23-27 August P.59.
Natsir, A. 2012. Fibre Utilization by Ruminants. Masagena Press, Makassar.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Smith, R.H.1975. Nitrogen metabolism in the rumen and the composition of nutritive value of nitrogen compounds entering the duodenum. pp. 399-415. In I.W.
11 McDonald and A.C.I. Warner (ed.) Digestion and Metabolism in the Ruminant. University of New England, Armirdale, NSW., Australia.
Soedjono, M., L. M. Yusiati, S.P.S. Budhi, B.P. Wydiobroto, Z. Bachruddin. 2004. Purine derivative excretion and recovery of 14C-Uric Acid in urine of Onggole cattlegiven different levels of feed intake. In: Estimation of Microbial Protein Supply in Ruminants Using Urinary Purine Derivatives (Eds. Harinder PS. Makkar and X. B. Chen), Kluwer Academic Publisher.
Steel, R.G.D., and J.H. Torrie. 1981. Principles and procedures of statistics. A biometrical approach. 2nd Ed. McGraw-Hill International Book Company.
Stern, M.D., and W.H. Hoover. 1979. Methods of determining and factors affecting rumen microbial protein synthesis: A review. J. Anim. Sci. 49(6): 1590-1603). Südekum, K.-H., F. Brüsemeister, A. Schröder, and M. Stangassinger. 2007. Effects of
amount of intake and stage of forage maturity on urinary allantoin excretion and estimated microbial crude protein synthesis in the rumen of steers. Journal of Applied Microbiology.,Volume 103 (5):1757-1765.
Tafaj, M. Q. Zebeli, C.H. Baes, H. Steingass and W.D. Rochner. 2007. A meta-analysis examining effects of particle size of total mixed rations on intake, rumen digestion and milk production in high-yielding dairy cows at early lactation. Anim. Feed Sci. Technol. 138: 137 – 161.
Yusiati, L. M. 2005. Pengembangan Metode Estimasi Sintesis Protein Mikrobia Rumen Menggunakan Ekskresi Derivat Purin Dalam Urin Ternak Ruminansia Besar Di Indonesia. Disertasi , Program Pasca sarjana, Universitas Gadjah Mada.
Yu, P., A.R. Egan, L. Boonek, and B.J Leury. 2002. Purine derivatives excretion and ruminal microbial yield in growing lambs fed raw and dry roasted legume seeds as protein supplements. Anim. Feed Sci. Technol. 95: 33-48.