• Tidak ada hasil yang ditemukan

hakekat ibadah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "hakekat ibadah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 1

KATA PENGANTAR  KATA PENGANTAR 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul rahmat serta hidayahnya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul “Ibadah”

“Ibadah”  ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.  ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.

Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasululloh SAW, berkat limpahan Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasululloh SAW, berkat limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.

rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Tujuan penulisan makalah ini untuk menyelesaikan tugas semester I Tujuan penulisan makalah ini untuk menyelesaikan tugas semester I .Makalah ini memberikan gambaran tentang hal-hal yang melatarbelakangi ibadah. .Makalah ini memberikan gambaran tentang hal-hal yang melatarbelakangi ibadah. Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Untuk itu

Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Untuk itu saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan.

saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan.

Atas saran dan kritiknya, penulis ucapkan terima kasih. Atas saran dan kritiknya, penulis ucapkan terima kasih.

Malang, Desember 2015 Malang, Desember 2015

Penyusun Penyusun

(2)

2 2

DAFTAR ISI DAFTAR ISI Kata

Kata Pengantar...Pengantar...1...1 Daftar

Daftar Isi...Isi...2....2 Bab I Pendahuluan

Bab I Pendahuluan 1.1

1.1 Latar Latar Belakang...Belakang...3...3 1.2

1.2 Rumusan Rumusan Masalah...Masalah...3...3 1.3

1.3 Tujuan...Tujuan...33 Bab II Pembahasan

Bab II Pembahasan 2.1

2.1 Pengertian Pengertian Ibadah...Ibadah...4...4 2.2 Hakikat

2.2 Hakikat Ibadah dan Ibadah dan Tujuan Ibadah...Tujuan Ibadah...4...4 2.3

2.3 Jenis Jenis ibadah...ibadah...5....5 2.4

2.4 Dasar Dasar Hukum...Hukum...7...7 2.5

2.5 Prinsip Prinsip Ibadah...Ibadah...7....7 Bab III Penutup

Bab III Penutup 3.1 3.1 Kesimpulan Kesimpulan ...9..9 3.2 3.2 Saran...Saran...9...9 3.3 3.3 Harapan...Harapan...9...9 Daftar

(3)

3 3 BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang

Ibadah merupakan suatu perkara

Ibadah merupakan suatu perkara yang perlu adanya perhatian dengannya, karenayang perlu adanya perhatian dengannya, karena ibadah itu tidak bisa dibuat main-main apalagi disalahgunakan. Dalam islam ibadah harus ibadah itu tidak bisa dibuat main-main apalagi disalahgunakan. Dalam islam ibadah harus  berpedoman pada apa yang

 berpedoman pada apa yang telah Allah perintahkan dan apa yang telah diajarkan oleh Nabitelah Allah perintahkan dan apa yang telah diajarkan oleh Nabi agung

agung Muhammmad SAW kepada umat islam yang dMuhammmad SAW kepada umat islam yang dilandaskan pada kitab yang diturunkanilandaskan pada kitab yang diturunkan Allah kepada N

Allah kepada Nabi Muhammad abi Muhammad berupa kitab berupa kitab suci Al-suci Al-Qur’an dan segala perbuatan, perkataan,Qur’an dan segala perbuatan, perkataan, dan ketetapan nabi atau dengan kata lain yang disebut dengan hadits nabi.

dan ketetapan nabi atau dengan kata lain yang disebut dengan hadits nabi.

Kita sebagai umat islam tentunya mengetahui apa itu ibadah dan bagaimana cara Kita sebagai umat islam tentunya mengetahui apa itu ibadah dan bagaimana cara  pelaksanaan ibadah tersebut. Oleh karena itu, kita harus mengikuti ibadah yan

 pelaksanaan ibadah tersebut. Oleh karena itu, kita harus mengikuti ibadah yang dicontohkang dicontohkan

dan dilakukan oleh nabi kepada kita

dan dilakukan oleh nabi kepada kita dan tidak boleh membuat ibadah-ibadah dan tidak boleh membuat ibadah-ibadah yang tidakyang tidak  berdasar pada

Al- berdasar pada Al-Qur’an dan Hadits.Qur’an dan Hadits.

Dalam makalah ini, akan dikupas bersama tentang bagaimanakah ibadah, tujuan, Dalam makalah ini, akan dikupas bersama tentang bagaimanakah ibadah, tujuan, manfaat, keutamaan dan sebagainya. Semoga ilmu ini bermanfaat bagi kita semua.

manfaat, keutamaan dan sebagainya. Semoga ilmu ini bermanfaat bagi kita semua. 1.2 Rumusan Masalah

1.2 Rumusan Masalah 1.

1. Apakah ibadah itu dari segi pengertian islam?Apakah ibadah itu dari segi pengertian islam? 2.

2. Bagaimana hakikat dan tujuan ibadah ?Bagaimana hakikat dan tujuan ibadah ? 3.

3. Apa saja jenisApa saja jenis –  –  jenis ibadah ? jenis ibadah ? 4.

4. Apa dasar hukum ibadah ?Apa dasar hukum ibadah ? 5.

5. Apa prinsipApa prinsip –  –  prinsip ibadah ? prinsip ibadah ? 1.3 Tujuan Masalah

1.3 Tujuan Masalah 1.

1. Untuk mengetahui pengertian ibadah itu dari segi pengertian islam.Untuk mengetahui pengertian ibadah itu dari segi pengertian islam. 2.

2. Untuk mengetahui hakikat ibadah dan tujuan ibadah.Untuk mengetahui hakikat ibadah dan tujuan ibadah. 3.

3. Untuk mengetahui jenisUntuk mengetahui jenis –  –  jenis ibadah. jenis ibadah. 4.

4. Untuk mengetahui dasar hukum ibadahUntuk mengetahui dasar hukum ibadah 5.

(4)

4 4 BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Ibadah 2.1 Pengertian Ibadah

Menurut bahasa, kata ibadah

Menurut bahasa, kata ibadah  berarti patuh ( berarti patuh (al-al-tha’ah),tha’ah), dan tunduk (dan tunduk (al- al-khudlu)

khudlu).. UbudiyahUbudiyah artinya tunduk dan merendahkan diri . Menurut al-Azhari, kata ibadahartinya tunduk dan merendahkan diri . Menurut al-Azhari, kata ibadah tidak dapat disebutkan kecuali untuk kepatuhan kepada Allah

tidak dapat disebutkan kecuali untuk kepatuhan kepada Allah.[1].[1]

Ibadah adalah bahasa arab yang secara etimolo

Ibadah adalah bahasa arab yang secara etimologi berasal dari akar katagi berasal dari akar kata --yang berarti taat, tunduk, patuh, merendahkan diri

yang berarti taat, tunduk, patuh, merendahkan diri (kepada Allah)Kesemua pengertian(kepada Allah)Kesemua pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan.

itu mempunyai makna yang berdekatan.

Pengertian ibadah secara terminologis menurut ulama tauhid, dan hadits iba

Pengertian ibadah secara terminologis menurut ulama tauhid, dan hadits iba dahdah

adalah: adalah:

“Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri

“Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dandan

menundukkan jiwa kepadanya.” menundukkan jiwa kepadanya.”

Menurut ahli fiqih ibadah adalah : Menurut ahli fiqih ibadah adalah :



“Segala bentuk ketaatan yang engkau kerjakan untuk mencapai keridaan Allah SWT dan “Segala bentuk ketaatan yang engkau kerjakan untuk mencapai keridaan Allah SWT dan mengharapkan

pahala-mengharapkan pahala- Nya di akhirat.” Nya di akhirat.” Menurut Jumhur Ulama :

Menurut Jumhur Ulama :



“Ibadah itu yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridai oleh Allah SWT , baik “Ibadah itu yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridai oleh Allah SWT , baik  berupa perkataan maupun perbuatan, baik

 berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangkaterang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan

pahala-mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan pahala- Nya. Nya.””[2][2]

2.2 Hakikat Ibadah dan Tujuan Ibadah 2.2 Hakikat Ibadah dan Tujuan Ibadah

1. Hakikat Ibadah 1. Hakikat Ibadah

Dalam syariat islam ibadah mempunyai dua unsur, yaitu ketundukan dan kecintaan Dalam syariat islam ibadah mempunyai dua unsur, yaitu ketundukan dan kecintaan yang paling dalam kepada Allah

yang paling dalam kepada Allah SWT. Unsur yang tertinggi adalah ketundukan, sedangkanSWT. Unsur yang tertinggi adalah ketundukan, sedangkan kecintaan merupakan implementasi dari ibadah tersebut. Pada mulanya ibadah merupakan kecintaan merupakan implementasi dari ibadah tersebut. Pada mulanya ibadah merupakan “hubungan” hati dengan yang dicintai, menuangkan isi hati,

“hubungan” hati dengan yang dicintai, menuangkan isi hati, kemudian tenggelam dankemudian tenggelam dan

merasakan keasyikan, akhirnya sampai kepada puncak kecintaan kepada Allah SWT. merasakan keasyikan, akhirnya sampai kepada puncak kecintaan kepada Allah SWT. Kecintaan yang sempurna adalah kepada Allah SWT. Setiap kecintaan yang bersifat Kecintaan yang sempurna adalah kepada Allah SWT. Setiap kecintaan yang bersifat sempurna terhadap selain Allah SWT adalah batil.

sempurna terhadap selain Allah SWT adalah batil.

Dengan melihat hakikat dan pengertiannya Yusuf

Dengan melihat hakikat dan pengertiannya Yusuf Qardhawi mengemukakan bahwaQardhawi mengemukakan bahwa

ibadah merupakan kewajiban dari apa yang disyariatkan Allah SWT yang disampaikan oleh ibadah merupakan kewajiban dari apa yang disyariatkan Allah SWT yang disampaikan oleh  para rasul-Nya dalam benyuk perintah dan larangan. Kewajiban itu m

 para rasul-Nya dalam benyuk perintah dan larangan. Kewajiban itu muncul dari lubuk hatiuncul dari lubuk hati

orang yang mencintai Allah SWT

orang yang mencintai Allah SWT.[3].[3]

Kenyataannya, manusia tidak selalu menggunakan akal sehatnya, bahkan ia lebih Kenyataannya, manusia tidak selalu menggunakan akal sehatnya, bahkan ia lebih sering dikuasai nafsunya, sehingga ia sering terjerumus ke dalam

sering dikuasai nafsunya, sehingga ia sering terjerumus ke dalam apa yang disebutapa yang disebut

dehumanisasi,

dehumanisasi,yaitu proses yang menyebabkan kerusakan, hilang, atau meryaitu proses yang menyebabkan kerusakan, hilang, atau mer osotnya nilaiosotnya nilai –  –  nilai kemanusiaan. Disinilah perlunya agama bagi manusia.

nilai kemanusiaan. Disinilah perlunya agama bagi manusia. Dengan agama,

Dengan agama, hidup manusia menjadi bhidup manusia menjadi bermakna. Makna agama terletak padaermakna. Makna agama terletak pada fungsinya sebagai kontrol moral manusia. Melalui ajaran

fungsinya sebagai kontrol moral manusia. Melalui ajaran –  –  ajarannya, agama menyuruh ajarannya, agama menyuruh



--

   

 

  



  

    

(5)

5 5

manusia agar selalu dalam keadaan sadar dan menguasai diri. Keadaan sadar dan menguasai manusia agar selalu dalam keadaan sadar dan menguasai diri. Keadaan sadar dan menguasai diri pada manusia itulah yang merupakan hakikat agama, atau hakikat ibadah. Melalui ibadah diri pada manusia itulah yang merupakan hakikat agama, atau hakikat ibadah. Melalui ibadah (pengabdian) kepada Allah, hidup manusia terkontrol. Di mana pun dan dalam keadaan apa (pengabdian) kepada Allah, hidup manusia terkontrol. Di mana pun dan dalam keadaan apa  pun, manusia dituntut untuk

 pun, manusia dituntut untuk selalu dalam keadaan sadar sebagai hamba Allah dan mampuselalu dalam keadaan sadar sebagai hamba Allah dan mampu menguasai dirinya, sehingga segala sikap, ucapan, dan tindakannya selalu dalam kontrol menguasai dirinya, sehingga segala sikap, ucapan, dan tindakannya selalu dalam kontrol Ilahi

Ilahi.[4].[4]

2. Tujuan Ibadah 2. Tujuan Ibadah

Hamba sebagaimana yang dikemukakan diatas adalah mahluk yang dimiliki. Hamba sebagaimana yang dikemukakan diatas adalah mahluk yang dimiliki.

Kepemilikan Allah atas hamba-Nya adalah kepemilikan mutklak dan sempurna. Atas dasar Kepemilikan Allah atas hamba-Nya adalah kepemilikan mutklak dan sempurna. Atas dasar kepemilikan mutlak Allah itu, lahir kewajiban menerima semua ketetapan-Nya, serta menaati kepemilikan mutlak Allah itu, lahir kewajiban menerima semua ketetapan-Nya, serta menaati seluruh perintah dan larangan-Nya.

seluruh perintah dan larangan-Nya.

Manusia diciptakan Allah bukan sekedar untuk hidup di dunia ini kemudian mati tanpa Manusia diciptakan Allah bukan sekedar untuk hidup di dunia ini kemudian mati tanpa  pertanggungjawaban, tetapi manusia diciptakan oleh Allah u

 pertanggungjawaban, tetapi manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah hal ini dapatntuk beribadah hal ini dapat difahami dari firman Allah swt. :

difahami dari firman Allah swt. :

“maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main “maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main--main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami.”(QS al

main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami.”(QS al--Mu’minun:115)Mu’minun:115)

Karena Allah maha mengetahui tentang kejadian manusia, maka agar manusia t

Karena Allah maha mengetahui tentang kejadian manusia, maka agar manusia t erjagaerjaga

hidupnya, bertaqwa, diberi kewajiban ibadah. Tegasnya manusia

hidupnya, bertaqwa, diberi kewajiban ibadah. Tegasnya manusia diberi kewajiban ibadahdiberi kewajiban ibadah

agar menusia itu mencapai taqwa

agar menusia itu mencapai taqwa.[5].[5]

2.3 Jenis ibadah 2.3 Jenis ibadah

Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi

Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan bentuk dan sifatdua jenis, dengan bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya:

yang berbeda antara satu dengan lainnya: 1. Ibad

1. Ibadah Mahdhah, ah Mahdhah, artinya artinya penghambaan ypenghambaan yang murni ang murni hanya mhanya merupakan hubunerupakan hubungangan antara hamba dengan Allah secara langsung. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, antara hamba dengan Allah secara langsung. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah : adalah : Ø Wudhu, Ø Wudhu, Ø Tayammum Ø Tayammum Ø Mandi hadats Ø Mandi hadats Ø Shalat Ø Shalat Ø Shiyam ( Puasa ) Ø Shiyam ( Puasa ) Ø Haji Ø Haji Ø Umrah Ø Umrah Ibadah ben

Ibadah bentuk ini tuk ini memiliki 4 memiliki 4 prinsip:prinsip:

a) Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al

a) Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al -Quran maupun al--Quran maupun

al-Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.

keberadaannya.

 b) Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasulullah saw.  b) Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasulullah saw.

Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul saw., maka dikategorikan “

saw., maka dikategorikan “ Muhdatsatul umur  Muhdatsatul umur ” perkara mengada” perkara mengada-ada, yang populer disebut-ada, yang populer disebut

  َ

  َ

  



ََ   

(6)

6 6

bid’ah

bid’ah. Salah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum Muhammad saw.. Salah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum Muhammad saw. adalah karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-rasul mereka. adalah karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-rasul mereka. c) Bersifat supra rasional

c) Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran(di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi

logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi

memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti

dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau tidak,atau tidak,

melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at, atau tidak. Atas

melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at, atau tidak. Atas dasar ini,dasar ini,

maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat. maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat. d) Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam me

d) Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalahlaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba,

kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, danbukan untuk Allah, dan

salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi. salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi. 2. Ibadah Ghairu Mahdhah, (tidak murni se

2. Ibadah Ghairu Mahdhah, (tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah mata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang diyang di samping sebagai hubu

samping sebagai hubungan ngan hamba dengan Allah juhamba dengan Allah juga merupakan huga merupakan hubungan atau interaksibungan atau interaksi antara hamba dengan m

antara hamba dengan makhluk lainnya . akhluk lainnya . Ibadah Ghairu MahdIbadah Ghairu Mahdhah, yakni sikap hah, yakni sikap gerak-gerik,gerak-gerik, tingkah laku dan perbuatan yang mempunyai tiga tanda yaitu: pertama, niat yang ikhas tingkah laku dan perbuatan yang mempunyai tiga tanda yaitu: pertama, niat yang ikhas sebagai titik tolak, kedua keridhoan Allah sebagai titik t

sebagai titik tolak, kedua keridhoan Allah sebagai titik t ujuan, dan ketiga, amal shalehujuan, dan ketiga, amal shaleh sebagai garis amal.

sebagai garis amal. ong menolongong menolong

dan lain sebagainya

dan lain sebagainya..

Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4: Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4:

a). Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil

a). Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah danyang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diselenggarakan.

Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diselenggarakan.  b). Tata laksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasu

 b). Tata laksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentukl, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika

ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebutnya, segala hal yang tidakada yang menyebutnya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah

mahdhah disebut bid’ah dhalalah.disebut bid’ah dhalalah. c). Bersifat rasional,

c). Bersifat rasional, ibadah bentuk ini ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau ubaik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atauntung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan

madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logoleh akal atau logika. ika. Sehingga jika menurut Sehingga jika menurut logika sehat,logika sehat,  buruk, merugikan, da

 buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.n madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.

d). Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan. d). Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan. Kategori-kategori ibadah :

Kategori-kategori ibadah :

1. Ibadah I’tiqodiyah (keyakinan) 1. Ibadah I’tiqodiyah (keyakinan)

Ibadah I’tiqodiyah adalah ibadah yang berhubungan dengan keyakinan dan keimanan, sepert Ibadah I’tiqodiyah adalah ibadah yang berhubungan dengan keyakinan dan keimanan, sepert ii iman kepada rukun iman, dan iman kepada

iman kepada rukun iman, dan iman kepada yang ghaibyang ghaib

2. Ibadah Qolbiyah (ibadah hati) 2. Ibadah Qolbiyah (ibadah hati)

Ibadah qolbiyah adalah amalan-amalan ibadah

Ibadah qolbiyah adalah amalan-amalan ibadah yang lebih banyak dilakukan dengan hati,yang lebih banyak dilakukan dengan hati, yang tidak boleh di tujukan dan dimaksudkan kecuali

yang tidak boleh di tujukan dan dimaksudkan kecuali hanya kepada Allah. Seperti Hubbhanya kepada Allah. Seperti Hubb (cinta), Tawak 

(cinta), Tawak kal, Sabar, Khauf (takut), Roja’ (berharap) dan taubat.kal, Sabar, Khauf (takut), Roja’ (berharap) dan taubat. 3. Ibadah Lafzhiyah

3. Ibadah Lafzhiyah

Ibadah lafzhiyah adalah amalan-amalan ibadah yang lebih banyak dilakukan dengan lisan. Ibadah lafzhiyah adalah amalan-amalan ibadah yang lebih banyak dilakukan dengan lisan. Seperti mengucap kalimat-kalimat thoyyibah, dzikir dan membaca

Al-Seperti mengucap kalimat-kalimat thoyyibah, dzikir dan membaca Al-Qur’an.Qur’an.

4. Ibadah Jasadiyah (badan) 4. Ibadah Jasadiyah (badan)

Misalnya ibadaha ghairu mahdhah ialah belajar, dzikir, tol Misalnya ibadaha ghairu mahdhah ialah belajar, dzikir, tol

(7)

7 7

Ibadah jasadiyah adalah amalan-amalan ibadah

Ibadah jasadiyah adalah amalan-amalan ibadah yang lebih byang lebih banyak dilakukan danyak dilakukan denganengan  badan/jasad seperti ruku’, sujud, thawaf dll.

 badan/jasad seperti ruku’, sujud, thawaf dll. 5. Ibadah Maliah (harta)

5. Ibadah Maliah (harta)

Ibadah maliah adalah amalan-amalan ibadah

Ibadah maliah adalah amalan-amalan ibadah yang lebih yang lebih banyak dilakukan denbanyak dilakukan dengan saranagan sarana harta benda dan kekayaan. Seperti zakat, infaq dan shodaqoh, dll.

harta benda dan kekayaan. Seperti zakat, infaq dan shodaqoh, dll. Walaupun ibadah diatas dikategorikan sesuai

Walaupun ibadah diatas dikategorikan sesuai dominasi yang melakukannya, namundominasi yang melakukannya, namun ibadah-ibadah itu dapat juga di lakukan

ibadah-ibadah itu dapat juga di lakukan dengan gabungan anggota badan yangdengan gabungan anggota badan yang

melakukannya, contoh Ibadah Haji adalah hati harus meyakini bahwa haji adalah wajib bagi melakukannya, contoh Ibadah Haji adalah hati harus meyakini bahwa haji adalah wajib bagi yang mampu, saat ibadah haji lisan terus mengumandangkan kalimat talbiyah

yang mampu, saat ibadah haji lisan terus mengumandangkan kalimat talbiyah

((

 )

 )

anggota badan melakukan amalan-amalan haji, dan tentunya harta jugaanggota badan melakukan amalan-amalan haji, dan tentunya harta juga memegang peranan penting, sebagai ongkos dan bekal

memegang peranan penting, sebagai ongkos dan bekal baik untuk yang pergi maupun untukbaik untuk yang pergi maupun untuk yang di tinggalkannya

yang di tinggalkannya.[6].[6]

2.4 Dasar Hukum 2.4 Dasar Hukum Ibadah adalah cinta dan

Ibadah adalah cinta dan ketundukan yang sempurnaketundukan yang sempurna.[7].[7] Firman Ilahi Allah swt, berfirman :

Firman Ilahi Allah swt, berfirman :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka men

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-yembah-Ku.”Ku.”

(Q.S Al-Dzariyat [51]: 56) (Q.S Al-Dzariyat [51]: 56)

Demikian pula firman Allah berikut : Demikian pula firman Allah berikut : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmumenciptakanmu dan orang-orang yang dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Q.A Al

sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Q.A Al-Baqarah [2]: 21-Baqarah [2]: 21)[8])[8] Dasar Ilmu Fiqih :

Dasar Ilmu Fiqih :

Dasar ilmu Fiqih Ibadah adalah yakni

al-Dasar ilmu Fiqih Ibadah adalah yakni al-Qur’an danQur’an dan as-Sunnah al-Maqbulah. As-Sunnah Al- as-Sunnah al-Maqbulah. As-Sunnah Al-Maqbulah artinya sunnah yang dapat diterima. Dalam kajian hadis sunnah al-Al-Maqbulah Maqbulah artinya sunnah yang dapat diterima. Dalam kajian hadis sunnah al-Maqbulah dibagi menjadi dua, Hadis Shahih dan Hadis Hasan. Hal ini disandarkan pada hadis berikut; dibagi menjadi dua, Hadis Shahih dan Hadis Hasan. Hal ini disandarkan pada hadis berikut;

Bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku meninggalkan untukmu dua perkara, kamu tidak“Aku meninggalkan untukmu dua perkara, kamu tidak akan tersesat jika berpegang pada keduanya, yakni: Kitab Allah

akan tersesat jika berpegang pada keduanya, yakni: Kitab Allah (al-(al-Qur’an) dan SunahQur’an) dan Sunah

 Nabi  Nabi.[9].[9]

2.5 Prinsip Ibadah 2.5 Prinsip Ibadah

Adapun prinsip melaksanakan Ibadah sebagai berikut: Adapun prinsip melaksanakan Ibadah sebagai berikut:

a. Tidak menyekutukan Allah. Firman Allah : " Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu a. Tidak menyekutukan Allah. Firman Allah : " Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua

mempersekutukannya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua." (orang tua." (

QS An Nisa : 36 ) QS An Nisa : 36 )  b. Dilakukan dengan

 b. Dilakukan dengan penuh kepasrahan diri kepada Allah. Firman Allah : " Katakanlahpenuh kepasrahan diri kepada Allah. Firman Allah : " Katakanlah (muhammad), sesunguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah, (muhammad), sesunguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah,



 

   

 

  



  





 

 

      









  

 

 

   

(8)

8 8

Tuhan seluruh alam, tidak ada

Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-nya. Dan demikianlah sekutu bagi-nya. Dan demikianlah yang diperintahkanyang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri." (QS Al An'am : 162-163) kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri." (QS Al An'am : 162-163)

c. Dilakukan dengan penuh keikhlasan. Firman Allah : " padahal mereka hanyalah di perintah c. Dilakukan dengan penuh keikhlasan. Firman Allah : " padahal mereka hanyalah di perintah menyembah Allah, dan ikhlas mentaati-nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan menyembah Allah, dan ikhlas mentaati-nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan  juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, d

 juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yangan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS AL Bayinah : 5)

lurus." (QS AL Bayinah : 5)

d. Dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Firman Allah : " (dialah) tuhan d. Dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Firman Allah : " (dialah) tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya, maka sembahlah (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya, maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-nya. Apkah engkau mengetahui ada sesuatu dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-nya. Apkah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-nya ?." (QS Maryam : 65)

(9)

9 9 BAB III BAB III PENUTUP PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.1 Kesimpulan

Ibadah adalah segala bentuk hukum, baik

Ibadah adalah segala bentuk hukum, baik yang dapat dipahami maknanya (ma’qulatyang dapat dipahami maknanya (ma’qulat

al-al-ma’na) seperti hukum yang menyangkut denganma’na) seperti hukum yang menyangkut dengan muamalah pada umumnya, maupun muamalah pada umumnya, maupun yangyang tidak dapat dipahami maknanya (ghair ma’qulat ma’na), seperti thaharah dan shalat,

tidak dapat dipahami maknanya (ghair ma’qulat ma’na), seperti thaharah dan shalat, baikbaik

yang berhubungan dengan anggota badan seperti

yang berhubungan dengan anggota badan seperti rukuk dan sujud maupun yang berrukuk dan sujud maupun yang berhubunganhubungan dengan lidah seperti zikir, dan hati seperti niat.

dengan lidah seperti zikir, dan hati seperti niat. Melalui ibadah (pengabdian) kepada Allah,

Melalui ibadah (pengabdian) kepada Allah, hidup manusia terkontrol. Di mana punhidup manusia terkontrol. Di mana pun dan dalam keadaan apa pun, manusia dituntut untuk selalu dalam keadaan sadar sebagai dan dalam keadaan apa pun, manusia dituntut untuk selalu dalam keadaan sadar sebagai hamba Allah dan mampu menguasai dirinya, sehingga segala sikap, ucapan, dan tindakannya hamba Allah dan mampu menguasai dirinya, sehingga segala sikap, ucapan, dan tindakannya selalu dalam kontrol Ilahi.

selalu dalam kontrol Ilahi.

Jenis Ibadah itu ada dua yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Jenis Ibadah itu ada dua yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.

3.2 Saran 3.2 Saran

Kami sebagai penulis meyakini bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka Kami sebagai penulis meyakini bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar lebih baik lagi dalam dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar lebih baik lagi dalam  pembuatan makalah.

 pembuatan makalah. 3.3

3.3 HarapanHarapan

Semoga pembaca lebih memahami tentang penyajian pembahasan ini serta penulis Semoga pembaca lebih memahami tentang penyajian pembahasan ini serta penulis dapat lebih baik kedepannya dalam pembuatan makalah ini.

(10)

10 10

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA Daradjat , Zakiyah

Daradjat , Zakiyah. . ILMU ILMU FIQIH FIQIH , Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995 Saleh, Hasan.

Saleh, Hasan. Kajian Fiqih Nabawi dan  Kajian Fiqih Nabawi dan Kontemporer Kontemporer , Jakarta: Karisma Putra Utama Ofset. 2008., Jakarta: Karisma Putra Utama Ofset. 2008. Al-Qardhawi, Yusuf,

Al-Qardhawi, Yusuf, Al- Al-‘Ibadah fi al ‘Ibadah fi al -Islam-Islam, Beirut: Muassasah al-Risalah. 1979., Beirut: Muassasah al-Risalah. 1979. Yusuf Qardhawi, Konsep Ibadah Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 2002), Cet. Ke-2. Yusuf Qardhawi, Konsep Ibadah Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 2002), Cet. Ke-2. Syarifudin, Amir, Garis-Garis Besar Fiqih, (Jakarta:

Syarifudin, Amir, Garis-Garis Besar Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2003), Cet. Ke-2.Kencana, 2003), Cet. Ke-2. http://mujahiduna-mujahiduna.blogspot.com/2011/03/ibadah.html,

http://mujahiduna-mujahiduna.blogspot.com/2011/03/ibadah.html, diakses pada 04 Maret 2013 diakses pada 04 Maret 2013

 pukul 20.15  pukul 20.15

http://lpsi.uad.ac.id/fiqih-ibadah-dan-prinsip-ibadah-dalam-islam.asp,

http://lpsi.uad.ac.id/fiqih-ibadah-dan-prinsip-ibadah-dalam-islam.asp,diakses pada 04 Maret 2013diakses pada 04 Maret 2013  pukul 21.00

 pukul 21.00

[1]

[1] Amir Syarifudin, Garis-Garis Besar Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2003), Cet. Ke-2, hal. 17.Amir Syarifudin, Garis-Garis Besar Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2003), Cet. Ke-2, hal. 17.

[2]

[2] Hasan Saleh,Hasan Saleh, Kajian Fiqih Nabawi dan  Kajian Fiqih Nabawi dan Kontemporer Kontemporer , (Jakarta: Karisma Putra Utama, (Jakarta: Karisma Putra Utama

Ofset, 2008), hlm. 4 Ofset, 2008), hlm. 4

[3]

[3] Yusuf Al-Qardhawi, Al-Yusuf Al-Qardhawi, Al-‘Ibadah fi al ‘Ibadah fi al -Islam-Islam,( Beirut: Muassasah al-Risalah,cet.6,,( Beirut: Muassasah al-Risalah,cet.6,

1979),hal.32-33. 1979),hal.32-33.

[4]

[4] Hasan Saleh,. Op cit. hlm. 6Hasan Saleh,. Op cit. hlm. 6 [5]

[5] Zakiyah Daradjat, ILMU FIQIH, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), Cet. Ke-1,Zakiyah Daradjat, ILMU FIQIH, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), Cet. Ke-1,

Hal. 5. Hal. 5.

[6]

[6] http://mujahiduna-mujahiduna.bloghttp://mujahiduna-mujahiduna.blogspot.com/2011/03/ibadah.html,spot.com/2011/03/ibadah.html, diakses pada 04 Maret diakses pada 04 Maret

2013 pukul 20.15 2013 pukul 20.15

[7]

[7]Dr. Yusuf Qardhawi, Konsep Ibadah Dalam Dr. Yusuf Qardhawi, Konsep Ibadah Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 2002), Cet. Ke-2,Islam, (Bandung: Mizan, 2002), Cet. Ke-2,

Hal. 67. Hal. 67.

[8]

[8] Hasan Saleh., op cit. hlm 5Hasan Saleh., op cit. hlm 5 [9]

[9] http://lpsi.uad.ac.id/fiqih-ibadah-dan-prinsip-ibadah-dalam-islam.asp, http://lpsi.uad.ac.id/fiqih-ibadah-dan-prinsip-ibadah-dalam-islam.asp, diakses pada 04 diakses pada 04

Maret 2013 pukul 21.00 Maret 2013 pukul 21.00

[10]

[10] http://lpsi.uad.ac.id/fiqih-ibadah-dan-prinsip-ibadah-dalam-islam.asp, http://lpsi.uad.ac.id/fiqih-ibadah-dan-prinsip-ibadah-dalam-islam.asp, diakses pada 04 diakses pada 04

Maret 2013 pukul 21.00 Maret 2013 pukul 21.00

Referensi

Dokumen terkait