• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKEMA PENELITIAN UNGGULAN FKIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKEMA PENELITIAN UNGGULAN FKIP"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS KOMPETENSI PADA

MATA KULIAH MASALAH NILAI AWAL DAN SYARAT BATAS

DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PMIPA FKIP UNIVERSITAS RIAU

KETUA : Drs. ELFIS SUANTO, M.Si 0001106602 ANGGOTA : Dra. ARMIS, M.Pd 0002036102 Drs. SUHERMI, M.Pd 0014046114 ANITA SARI (MHS) 1305122590

SUMBER DANA: PNBP FKIP UNRI 2017 Nomor Kontrak: 3941/UN19.5.1.1.5/TU/2017

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS RIAU

(2)
(3)

iii

kurangnya literatur atau buku-buku yang berbahasa Indonesia dan belum adanya bahan ajar berbasis kompetensi yang benar-benar sesuai dengan silabus mata kuliah MNA/SB yang berlaku di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UR (Elfis Suanto 2015). Untuk memecahkan masalah tersebut dan untuk membantu mahasiswa maupun dosen dalam mempelajari dan mengajarkan matakuliah MNA/SB maka penelitian pengembangan bahan ajar berbasis kompetensi pada mata kuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas di program studi Pendidikan matematika jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau ini sangat perlu dilakukan.

Tujuan akhir penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar berbasis kompetensi pada mata kuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas yang sesuai dengan silabus yang berlaku di Prodi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau yang valid. Hasil penelitian ini diharapkan memberi kontribusi kepada dunia pendidikan matematika secara umum. Secara khusus, membantu dan memberi kemudahan kepada mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas dan membantu dosen dalam menyediakan bahan ajar yang valid untuk menunjang perkuliahan.

Bentuk penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Penelitian dan pengembangan adalah suatu bentuk penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Creswell 2009). Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE; Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Bagan model pengembangan ADDIE di adopsi dari Branch (2009), Molenda (2003) dan Morrison et al. (2011). Dalam tahapan pengembangan peneliti melakukan validasi terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Validator terdiri dari dua orang pakar materi dan satu orang pakar pembelajaran. Instrumen validasi berupa soalan atau pernyataan yang terdiri dari 35 pernyataan diadopsi dari Sa’dun Akbar (2016) yang meliputi aspek: (1) relevansi, (2) keakuratan, (3) kelengkapan sajian, (4) sistimatika sajian, (5) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa, (6) cara penyajian, (7) kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan (8) keterbacaan dan kekomunikatifan.

Hasil penilaian validator tentang aspek relevansi 17% setuju dan 83% sangat setuju, aspek keakuratan 8,33% setuju dan 91,68% sangat setuju, aspek kelengkapan sajian 16,65% setuju dan 83,35% sangat setuju, aspek sistematika sajian 66,70% setuju dan 33,30% sangat setuju, aspek kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa 100% validator sangat setuju, aspek cara penyajian 22,20% setuju dan 77,80% sangat setuju, aspek kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar 100% validator sangat setuju, dan aspek keterbacaan dan kekomunikatifan validator menyatakan 100% sangat setuju. Berarti validator sudah menyetujui semua aspek yang dinilai. Berdasarkan deskripsi tersebut disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan sudah valid sehingga dapat diuji cobakan atau digunakan dalam skala yang lebih luas.

(4)

iv

sampaikan kepada nabi Muhammad SAW semoga kita diberi syafaat beliau hendaknya.

Penelitian ini telah menghasilkan produk berupa; i) bahan ajar mata kuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas (MNA/SB) pada program studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Riau, dan ii) prosiding dari 1ST Universitas Riau Internasional Conference on Educational

Sciences.

Penelitian ini dapat dilakukan atas dukungan dan kerjasama berbagai pihak, untuk itu melalui laporan penelitian ini tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dekan FKIP Universitas Riau yang telah menyetujui pemberiaan dana untuk penelitian ini.

2. Bapak Wakil Dekan 1 FKIP Universitas Riau yang mengkoordinir bidang penelitian ini sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.

3. Para validator yang telah memberi masukan atau saran dalam penelitian ini.

4. Semua pihak yang telah membantu terlaksana dan suksesnya kegiatan penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Tim peneliti berharap kritik dan saran yang membangun dari para pembaca/para peneliti untuk kesempurnaan dan peningkatan penelitian kami di masa yang akan datang.

Pekanbaru, 30 November 2017 Tim Peneliti

(5)

v

HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN ...ii

RINGKASAN PENELITIAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Ajar Berbasis Kompetensi ... 5

2.2 Model-Model Pengembangan Bahan Ajar... 7

2.3 Materi Pendukung Bahan Ajar MNASB ... 12

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 16

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 18

BAB V KESIMPULAN ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 26

(6)

vi

Tabel 3.1 Taburan Item Pernyataan ... 17

Tabel 4.1 Saran Perbaikan Bahan Ajar oleh Pakar ... 20

Tabel 4.2 Hasil Penilaian Validator pada Aspek Relevansi ... 20

Tabel 4.3 Hasil Penilaian Validator pada Aspek Keakuratan ... 21

Tabel 4.4 Hasil Penilaian Validator pada Aspek Kelengkapan Sajian ... 22

Tabel 4.5 Hasil Penilaian Validator pada Aspek Sistematika sajian ... 22

Tabel 4.6 Hasil Penilaian Validator pada Aspek Kesesuaian Sajian dengan tuntutan Pembelajaran yang Terpusat pada Mahasiswa ... 22

Tabel 4.7 Hasil Penilaian Validator pada Aspek Cara penyajian ... 23

Tabel 4.8 Hasil Penilaian Validator pada Aspek Kesesuaian Bahasa dengan Kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar ... 23

(7)

vii

Gambar 2.2 Model Pembangunan Model ASSURE ... 10 Gambar 4.1 Kerangka Konseptual Bahan Ajar MNA/SB ... 19

(8)

viii

Lampiran 2. Organisasi Penelitian ... 28

Lampiran 3. Instrumen Penelitian ... 31

Lampiran 4. Produk hasil Penelitian Bahan Ajar... 34

Lampiran 5. Artikel Seminar UR-ICES 1ST dan Sertifikat ... 35

Lampiran 6. PPT Seminar Hasil Penelitian Dosen dan sertifikat ... 55

(9)

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Penelitian

Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan yang keberadaannya sangat diperlukan dalam kehidupan. Karena matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia dan menjadi dasar pengembangan teknologi, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia (Kemendikbud 2014). Oleh karena itu pendidikan metematika diberikan mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi.

Transisi global pendidikan matematika, semula menekankan kepada kemahiran algoritma kognitif kepada kompetensi berfikir telah memberi tantangan dan kesan kepada pelaksanaan pembelajaran matematik di abad 21. Pembelajaran matematik seharusnya mengambil perhatian dalam pembelajaran konsep secara mendalam dan bermakna (NAEYC 2002; Noor Azlan 2000) sehingga kompetensi berfikir mahasiswa dapat dibina dengan baik. Kompetensi berfikir merupakan kemahiran yang paling dasar yang mestinya dikembangkan di ruang-ruang perkuliahan dan merupakan kunci untuk mencapai hasil belajar yang tinggi bagi semua mahasiswa (Nessel & Graham, 2007).

Pendidikan matematika merupakan salah satu program studi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pedidikan (FKIP) Universitas Riau (UR). Didalam kurikulum program studi Pendidikan matematika mata kuliah disajikan dalam bentuk satuan kredit semester (sks) yang berjumlah 144 sks. Jumlah tersebut dibagi dalam 5 kelompok bidang kajian yaitu 1) mata kuliah pengembangan keperibadian sebanyak 8 sks, 2) mata kuliah perilaku berkarya sebanyak 15 sks, 3) mata kuliah keahlian berkarya sebanyak 27 sks, 4) mata kuliah berkehidupan bermasyarakat sebanyak 14 sks, dan 5) mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK) sebanyak 80 sks (Prodi Pend.Mat FKIP UR 2013).

Sebaran mata kuliah dalam kelompok MKK meliputi 5 kelompok bidang ilmu yaitu: 1) Analisis, 2) Aljabar, 3) Geometri, 4) Statistika, dan 5) Matematik Terapan. Salah satu mata kuliah dalam kelompok bidang ilmu matematika terapan adalah Masalah Nilai Awal dan atau Syarat Batas (MNA/SB). MNA/SB merupakan persamaan diferensial lanjut atau tepatnya dikatakan sebagai terapan dari Persamaan Diferensial pada pelbagai masalah-masalah nyata seperti di bidang Teknik, Fisika dan lain-lain. Mata kuliah MNA/SB bertujuan untuk mengembangkan kemampuan analisis, kemampuan berpikir logis matematis dengan memahami model matematika dari suatu masalah nyata yang berbentuk persamaan diferensial biasa dengan atau tanpa nilai awal serta mampu memecahkan masalah nyata yang sederhana dalam model matematika berbentuk persamaan diferensial biasa dan/atau persamaan diferensial parsial dengan nilai awalatau/dan syarat batas (DIRJEN DIKTI 1991).

Sejalan dengan hal ini dalam kurikulum berbasis kompetensi program studi Pendidikan Matematika FKIP UR tahun 2014 dijelaskan bahwa mata kuliah MNA/SB memberikan dasar yang kuat untuk memecahkan model-model

(10)

matematika yang muncul pada disiplin ilmu-ilmu lainnya. Dalam mata kuliah ini dibahas delapan topik besar yaitu: 1) Pengertian masalah nilai awal (MNA) dan solusinya; masalah syarat batas (MSB) dan solusinya, 2) Masalah nilai awal lanjut dan MSB PD Biasa, 3) Masalah Sturm-Liouville, 4) Sistem fungsi ortogonal, 5) Deret Fourier, 6) MSB; Masalah nyata berupa persamaan gelombang satu dimensi, 7) MSB; Masalah nyata berupa aliran panas satu dimensi, dan (8) MSB; Masalah nyata berupa aliran panas dua dimensi dalam keadaan stabil (Tim kurikulum Prodi Pend. Mat.FKIP UR, 2014).

Berdasarkan pengalaman peneliti yang sudah 10 tahun lebih mengampu mata kuliah MNA/SB pada umumnya mahasiswa mengalami kesulitan dalam mencari selesaian terutama dalam memilih metode/teknik yang tepat untuk menyelesaikan MNA/SB sesuai jenis dan bentuk persamaan diferensialnya. Hal ini berdampak kepada capaian hasil belajar mahasiswa dalam tiga tahun terakhir. Di bawah ini disajikan sebaran nilai yang diperoleh mahasiswa pada semester genap tahun akademik 2015/2016.

Tabel 1.1 Capaian Hasil belajar Mahasiswa pada mata kuliah MNA/SB Nilai Akhir Kelas A (Mahasiswa) Kelas B (Mahasiswa) A 3orang (7,1%) 4orang (9,5%) A- 2orang ( 4,8%) 3orang ( 7,1%) B+ 1orang ( 2,4%) 2orang (4,8%) B 2 orang (4,8%) 5orang ( 11,9%) B- 5orang (11,9%) 2orang (4,8%) C+ 11 orang (26,2%) 7 orang (16,7%) C 12orang (28,5%) 9orang ( 21,4%) D 2 orang (4,8%) 6orang (14,3%) E 4 orang ( 9,5%) 4orang (9,5%) Jumlah 42 orang (100%) 42 orang (100%)

Berdasarkan tabel 1.1 diatas, pada setiap kelas masih terdapat 50% lebih mahasiswa yang memperoleh nilai akhir yang kurang bagus yaitu C+, C, D, atau E. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atau capaian hasil belajar mahasiswa dalam mata kuliah MNASB masih rendah. Kemudian berdasarkan kajian awal (need analysis) tentang pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi pada mata kuliah MNA/SB pada program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Riau diperoleh simpulan bahwa masih kurangnya literatur atau buku-buku yang berbahasa Indonesia dan belum adanya bahan ajar berbasis kompetensi yang benar-benar sesuai dengan silabus mata kuliah MNA/SB yang berlaku di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UR dan buku-buku tersebut sangat diperlukan mahasiswa (Elfis Suanto 2015).

Untuk dapat menguasai materi matematik dengan baik, maka paling kurang diperlukan dua kompetensi utama berupa kemampuan penalaran

(11)

matematik, dan kemampuan koneksi matematik. Menurut Sumarmo (2013) penalaran matematik merupakan kemampuan dan kegiatan dalam otak yang harus dikembangkan berkelanjutan melalui suatu konteks. Sedangkan kemampuan koneksi matematik meliputi kemampuan; (1) mengkoneksikan pengetahuan konseptual dan prosedural; (2) menghubungkan antar topik matematik; (3) menggunakan matematika dalam bidang studi lain; (4) menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari; (5) menerapkan kemampuan berpikir matematis dan membuat model untuk menyelesaikan masalah dalam pelajaran lain. Jadi kemampuan penalaran matematik dan koneksi matematik sebagai kompetensi utama sangat penting untuk dibina dan dibangun pada mahasiswa.

Berdasarkan NCTM dalam Sumarmo (2013) kemampuan koneksi matematik meliputi kemampuan; (1) mengkoneksikan pengetahuan konseptual dan prosedural; (2) menghubungkan antar topik matematik; (3) menggunakan matematika dalam bidang studi lain; (4) menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari; (5) menerapkan kemampuan berpikir matematis dan membuat model untuk menyelesaikan masalah dalam pelajaran lain. Coxford (1995) juga mengatakan bahwa aspek proses matematika dari koneksi matematika meliputi: (1) representasi, (2) aplikasi, (3) pemecahan masalah (problem solving), dan (4) penalaran. Jadi kemampuan penalaran matematik dan koneksi matematik sebagai kompetensi utama sangat penting untuk dibina dan dibangun pada mahasiswa.

Untuk memecahkan masalah tersebut diatas dan membantu mahasiswa dan dosen dalam mempelajari dan mengajarkan materi perkulihan MNA/SB maka penelitian pengembangan bahan ajar berbasis kompetensi pada mata kuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas di program studi Pendidikan matematika jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau ini perlu dilakukan. Sedangkan kompetensi yang dibicarakan dalam penelitian ini meliputi kemampuan penalaran matematik, dan kemampuan koneksi matematik. Penalaran dan koneksi matematis merupakan dua kemampuan dasar matematis yang harus dikuasi (Sumarmo 2013). 1.2 Perumusan Masalah

Bahan ajar yang akan dikembangkan tersebut diharapkan dapat membina dan membangun kompetensi mahasiswa. Sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan capaian hasil belajar mahasiswa. Adapun rumusan masalah dalam dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan bahan ajar berbasis kompetensi pada mata kuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas (MNASB) sesuai dengan silabus yang berlaku di Prodi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau yang valid.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan akhir penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar berbasis kompetensi pada mata kuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas yang sesuai dengan silabus yang berlaku di Prodi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau dan mengenal pasti aspek kevalidannya .

(12)

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberi kontribusi kepada dunia pendidikan matematika secara umum. Secara khusus terutama untuk membantu dan memberi kemudahan kepada mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas serta membantu dosen dalam menyediakan bahan ajar yang valid untuk menunjang perkuliahan yang diasuhnya.

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Ajar Berbasis Kompetensi

Bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar berbasis kompetensi. Kompetensi yang dimaksud dalam penelitian ini hanya meliputi dua kompetensi utama yaitu kemampuan penalaran matematika dan kemampuan koneksi matematika. Berikut diuraikan tentang kemampuan penalaran matematik dan koneksi matematik.

a. Kemampuan Penalaran Matematik

Tim PPPG matematika (2005) menyatakan bahwa penalaran adalah suatu proses atau aktivitas berpikir untuk menarik kesimpulan atau membuat pernyataan baru yang benar berdasarkan pada pernyataan yang telah dibuktikan (diasumsikan) kebenarannya. Menurut Awaludin (2007) penalaran adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa pengetahuan dengan menggunakan logika tertentu berdasarkan informasi yang diberikan. Sejalan dengan itu, Sumarmo (2013) menyatakan bahwa penalaran matematik dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu penalaran bersifat induktif dan penalaran bersifat deduktif.

Penalaran induktif diartikan sebagai penarikan kesimpulan yang bersifat umum berdasarkan data yang teramati (bersifat khusus). Nilai kebenaran dalam penalaran induktif masih dapat bersifat benar atau salah. Beberapa kegiatan yang tergolong pada penalaran induktif di antaranya adalah:

a) Transduktif: menarik kesimpulan dari satu kasus atau sifat khusus yang satu diterapkan pada kasus khusus yang lainnya.

b) Analogi: penarikan kesimpulan berdasarkan keserupaan data atau proses. c) Generalisasi: penarikan kesimpulan umum berdasarkan sejumlah data yang

teramati.

d) Menggunakan pola hubungan untuk menganalisis situasi, dan menyusun konjektur.

e) Memperkirakan jawaban, solusi, kecenderungan, interpolasi dan ekstrapolasi. f) Memberi penjelasan terhadap model, fakta, sifat, hubungan, atau pola yang

ada.

Penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati. Nilai kebenaran dalam penalaran deduktif bersifat mutlak benar atau salah dan tidak bisa sekaligus keduanya. Beberapa kegiatan yang tergolong pada penalaran deduktif diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Melaksanakan perhitungan berdasarkan aturan atau rumus tertentu.

b) Menarik kesimpulan logis berdasarkan aturan inferensi, memeriksa validitas argumen, membuktikan, dan menyusun argumen yang valid.

c) Menyusun pembuktian langsung, pembuktian tak langsung dan pembuktian dengan induksi matematika.

Penalaran induktif dan deduktif walaupun saling berlawanan, tetapi penggunaannya dalam matematika saling melengkapi. Cara menentukan

(14)

kemampuan penalaran matematis mahasiswa dalam penelitian ini yaitu melalui tes hasil belajar. Jika mahasiswa dapat menjawab soal dengan logis dan relevan, maka mahasiswa dikatakan dapat bernalar dengan baik.

Berdasarkan uraian di atas, maka kemampuan penalaran matematik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penalaran induktif (transduktif dan menggunakan pola hubungan untuk menganalisis situasi, dan menyusun konjektur) dan penalaran deduktif (menarik kesimpulan logis berdasarkan aturan inferensi).

b. Kemampuan Koneksi Matematik

Koneksi dapat diartikan sebagai keterkaitan. Koneksi dalam hal ini diartikan sebagai keterkaitan antara konsep-konsep matematika baik secara internal maupun secara eksternal. Keterkaitan secara internal yaitu keterhubungan antara konsep-konsepmatematika itu sendiri sedangkan keterkaitan secara eksternal yaitu keterhubungan konsep matematika dengan berbagai konsep bidang lain ataupun dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Menurut Webb dan Coxford (1993) kemampuan siswa dalam koneksi matematik meliputi; (1) mengkoneksikan pengetahuan konseptual dan prosedural, (2) menggunakan matematika pada topik lain (other curriculum areas), (3) menggunakan matematika dalam aktivitas kehidupan, (4) melihat matematika sebagai satu kesatuan yang terintegrasi, (5) menerapkan kemampuan berpikir matematis dan membuat model untuk menyelesaikan masalah dalam pelajaran lain, seperti teknik, seni, psikologi, sains, dan bisnis, (6) menggunakan dan menghargai koneksi di antara topik-topik dalam matematika; dan (7) mengenal berbagai representasi untuk konsep yang sama.

Sejalan dengan Webb dan Coxford, NCTM (2000) mengemukakan bahwa belajar bermakna merupakan landasan utama untuk terbentuknya koneksi matematik (mathematical connections), karena koneksi matematik bertujuan untuk membantu pembentukan persepsi siswa dengan cara melihat matematika sebagai bagian terintegrasi dengan kehidupan. Untuk terbentuknya kemampuan koneksi matematik tersebut, dalam NCTM Standards (2000) dijelaskan bahwa pembelajaran matematika harus diarahkan pada pengembangan kemampuan 1) memperhatikan serta menggunakan koneksi matematik antar berbagai ide matematik, 2) memahami bagaimana ide-ide matematik saling terkait satu dengan yang lainnya sehingga terbangun pemahaman yang menyeluruh, dan 3) memperhatikan serta menggunakan matematika dalam konteks di luar matematika.

1) Koneksi antar konsep matematika

Matematika merupakan ilmu yang terstruktur dan saling terkait antar satu topik dengan topik lainnya. Dalil pengaitan Bruner (Delima 2011) menyatakan bahwa dalam matematika antara satu konsep dengan konsep lainnya terdapat hubungan erat, bukan saja dari segi isi, namun juga dari segi rumus-rumus yang digunakan. Materi yang satu mungkin merupakan prasyarat bagi yang lainnya, atau suatu konsep tertentu diperlukan untuk menjelaskan konsep lainnya.

(15)

2) Koneksi matematika dengan disiplin ilmu lain

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang berkembang secara dinamik. Oleh karena itu, matematika merupakan alat yang efisien dan diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan, dan tanpa bantuan matematika semuanya tidak akan mendapat kemajuan yang berarti. Banyak ilmu-ilmu lain yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika, antara lain ilmu fisika, kimia, biologi, teknik, pertanian, sosial, ekonomi, psikologi, filsafat, dan lain-lain. Selain itu, matematika juga mengabdi pada cabang ilmu humanisme yang meliputi seni lukis, salah satunya Golden Ratio dipergunakan dalam menentukan perbandingan ukuran dalam melukis.

3) Koneksi matematika dengan dunia nyata

Matematika merupakan pendekatan yang logis dan dapat diterapkan di berbagai lapangan. Matematika merupakan ilmu yang menyajikan dan menelaah hal-hal yang abstrak, sehingga seolah-olah tak ada hubungannya dengan kehidupan nyata. Padahal, hakikatnya matematika telah berakar dalam setiap kegiatan manusia, dari hal yang sederhana sampai pada penelitian lanjut oleh para ahli dalam berbagai ilmu. Persoalan dalam kehidupan sehari-hari biasanya berbentuk soal verbal atau dikenal dengan nama soal cerita.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas diketahui bahwa koneksi matematik tidak hanya mencakup masalah yang berhubungan dengan matematika saja, namun juga dengan pelajaran lain serta dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, kualitas kemampuan dosen dalam mengaitkan konsep-konsep matematika untuk mengembangkan kemampuan kognitif mahasiswa sangat dibutuhkan. Misalnya dengan cara menyajikan soal-soal yang bersifat kontekstual yang mengundang dan menantang kemampuan berpikir, merefleksi mahasiswa dengan mengajukan scaffolding, melatih mahasiswa mengajukan pertanyaan sendiri dan menyelesaikannya, serta menuntut kemampuan mahasiswa untuk menerjemahkan atau mengemukakan kembali ide dan gagasan matematis yang termuat dalam bahasa biasa ke dalam bahasa matematis atau model-model matematika dan sebaliknya sehingga dapat memberi kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk membuat representasi.

2.2 Model-Model Pengembangan Bahan Ajar

Secara umum, desain bahan pembelajaran (Istructional Design) ialah suatu sistem pengajaran yang sistematik, yang menyediakan beberapa seri langkah yang perlu diikuti sepenuhnya bagi menghasilkan bahan pengajaran yang berkesan dan membolehkan pembelajaran lebih efisien, lebih efektif dan memberi kemudahan (Morrison et al. 2013). Reka bentuk bahan pembelajaran merupakan proses yang kompleks, kreatif, aktif dan perulangan dengan tujuan memberikan kaedah pengajaran yang optimum yang dapat mengubah pengetahuan, keterampilan dan afektif mahasiswa (Dick & Reiser 1989). Gustafson dan Branch (2002) yakin bahawa sekiranya semua langkah dalam membuat bahan ajar dipatuhi secara sistematik, maka sesuatu pengajaran yang dirancang akan menjadi lebih berkesan dan relevan.

(16)

Berikut diuraikan model-model reka bentuk (design) pengembangan bahan ajar atau modul.

a. Model ADDIE

Menurut Molenda (2003) dan Morrison et al. (2011), ADDIE merupakan akronim untuk Analysis (analisis), Design (reka bentuk), Development (perkembangan), Implementation (pelaksanaan) dan Evaluation (penilaian). Model ADDIE dikembangkan oleh Dick and Carry tahun 1996 untuk merancang sistem pembelajaran. model ini dapat digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan produk seperti model, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, media dan bahan ajar. Sistematik model pengembangan ADDIE digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Sistematik Model ADDIE

Sumber: Molenda (2003) dan Morrison et al. (2011)

Dalam model pengembangan ADDIE ada lima tahapan pengembangan, yaitu;

i. Analysis

Pada peringkat ini, aktiviti utama adalah menganalisis keperluan pembangunan modul baharu dan menganalisis kebolehan dan syarat-syarat pembangunan modul tersebut. Pembangunan modul baharu di awal oleh adanya masalah dalam model yang sudah dijalankan. Masalah dapat terjadi kerana model pembelajaran yang ada sudah tidak relevan dengan keperluan sasaran, lingkungan belajar, teknologi, dan ciri-ciri pelajar atau hal lainnya.

Proses analisis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan antaranya: (1) apakah bahan ajar baru mampu mengatasi masalah pengajaran dan pembelajaran yang dihadapi, (2) apakah bahan ajar baru mendapat dukungan

(17)

fasiliti untuk diterapkan; (3) apakah pengajar mampu menerapkan bahan ajar baru tersebut. Analisis bahan ajar baru perlu dilakukan untuk mengetahui kebolehan apabila metode pembelajaran tersebut diterapkan.

ii. Design

Dalam perancangan bahan ajar, peringkat desain memiliki kesamaan dengan merancang kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini merupakan proses sistematik yang dimulai daripada menetapkan tujuan belajar, merancang senario kegiatan belajar mengajar, merancang perangkat pembelajaran, merancang materi pembelajaran dan alat penilaian pencapaian belajar. Rancangan bahan ajar ini masih bersifat konseptual dan akan mendasari proses pembangunan berikutnya. iii. Development

Pengembangan (development) dalam model ADDIE berupa kegiatan realisasi rancangan produk. Dalam peringkat desain, disusun kerangka konseptual penerapan bahan ajar baru. Dalam peringkat pembangunan, kerangka yang masih konseptual tersebut direalisasikan menjadi produk yang siap diimplementasikan. Sebagai contoh, apabila pada peringkat design dirancang penggunaan model/metode baharu yang masih konseptual, maka pada peringkat pembangunan dibuat perangkat pembelajaran dengan model/metode baru tersebut seperti RPP, media dan materi pelajaran.

iv. Implementation

Pada peringkat ini diimplementasikan rancangan dan metode yang telah dikembangkan pada situasi yang nyata di kelas. Selama implementasi, rancangan model/modul yang telah dikembangkan diterapkan pada kondisi yang sebenarnya. Materi disampaikan sesuai dengan bahan ajar yang sudah dikembangkan. Setelah penerapan metode kemudian dilakukan penilaian awal untuk memberi umpan balik kepada penerapan bahan ajar berikutnya.

v. Evaluation

Penilaian (evaluation) dilakukan dalam dua bentuk iaitu penilaian formatif dan sumatif. Penilaian formatif dilaksanakan di hujung pertemuan pembelajaran (mingguan) sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah kegiatan berakhir secara keseluruhan (semester). Penilaian sumatif mengukur kompetensi akhir daripada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Hasil penilaian digunakan untuk memberi umpan balik kepada pihak pengguna bahan ajar. Revisi dibuat sesuai dengan hasil penilaian atau keperluan yang belum dapat dipenuhi oleh bahan ajar baru tersebut.

b. Model ASSURE

Model ASSURE bermula daripada asumsi Gagne (1985) bahawa proses belajar-mengajar itu melalui beberapa tahapan yang disebut events of instruction. Oleh karena itu, pembelajaran yang telah di reka bentuk dengan baik di awal dengan membangkitkan minat pelajar, yang kemudian di susul dengan

(18)

menyajikan materi baharu, melibatkan tindak balas pelajar, mengukur pemahaman mereka (assesing) dan diteruskan ke aktiviti berikutnya.

Model ASSURE dikembangkan oleh Sharon Smaldino, Robert Henich, James Russell dan Michael Molenda (2005) dalam buku “Instructional Technology and Media for Learning.” Model reka bentuk pembelajaran ini merupakan singkatan dari komponen-komponen atau langkah-langkah penting yang terdapat di dalamnya iaitu: 1) menganalisis ciri-ciri/karakteristik pelajar; (2) menetapkan tujuan/objektif pembelajaran (state performance objectives); (3) memilih metode, media dan bahan pelajaran (select methods, media and materials); (4) memanfaatkan bahan ajar (utilize media and materials); (5) mengaktifkan keterlibatan pelajar (requires learner participation); dan (6) penilaian dan penambahbaikan (evaluation and revise).

Model ASSURE lebih berorientasi kepada pemanfaatan media dan teknologi dalam proses dan aktiviti pembelajaran yang diinginkan (Sharon Smaldino et al. 2005). Model ASSURE akan memberikan dampak yang lebih positif apabila diterapkan dalam skala “mikro” sebagaimana program pembelajaran yang berlangsung di kelas dan program pelatihan. Model ASSURE digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.2 Model Pembangunan Model ASSURE (Smaldino et al.2005) Berikut ini diuraikan secara terperinci tahap reka bentuk model ASSURE, yaitu:

1. Menganalisis Ciri-ciri Pelajar (Analyze Learners)

Langkah pertama dalam menerapkan model ini adalah mengidentifikasikan karateristik pelajar yang akan melakukan aktiviti pembelajaran. Siapakah pelajar

MODEL ASSURE Penilaian dan Semakan Analisis Pelajar Menyatakan Objektif Pilih kaedah, media, dan bahan Penggunaan Media dan Bahan Melibatkan Pelajar

(19)

yang akan melakukan proses pembelajaran? Menurut Keller (2010) pemahaman yang baik tentang ciri-ciri pelajar akan sangat membantu guru dalam upaya membantu pelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Analisis terhadap ciri-ciri pelajar meliputi beberapa aspek penting iaitu: (1) ciri-ciri umum; (2) kompetensi khusus yang telah dimiliki pelajar sebelumnya; (3) gaya pembelajaran pelajar; (4) motivasi.

2. Menetapkan tujuan pembelajaran (State objectives)

Langkah kedua dalam model reka bentuk atau desain pembelajaran ASSURE adalah menetapkan tujuan pembelajaran yang bersifat spesifik. Tujuan pembelajaran dapat diperoleh daripada silabus atau kurikulum, maklumat yang tercatat dalam buku teks, atau dirumuskan sendiri oleh perancang setelah melalui proses penilaian keperluan belajar (learning need assessment). Tujuan pembelajaran merupakan rumusan atau pernyataan yang menghuraikan tentang kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan dimiliki oleh pelajar setelah menempuh proses pembelajaran.

3. Memilih metode, media, dan bahan ajar (select methods, media and materials) Langkah ketiga dalam rekabentuk/desain model ASSURE adalah memilih metode, media, dan bahan ajar yang akan dijalankan. Ketiga komponen ini berfungsi sangat penting untuk digunakan dalam membantu pelajar dalam mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah dirancang. Pemilihan metode, media, dan bahan ajar yang tepat akan dapat membantu guru dalam mengoptimalkan pencapaian pelajar. Dalam memilih metode, media, dan bahan ajar yang akan digunakan ada beberapa alternatif pilihan yang dapat dilakukan iaitu: (1) membeli media pembelajaran yang ada; (2) mengubahsuai media pembelajaran yang telah tersedia; (3) mem produksi media pembelajaran baharu. 4. Memanfaatkan bahan ajar (utilize media and materials)

Langkah selanjutnya adalah menggunakan metode, media, dan bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran. Sebelum menggunakan metode, media, dan bahan ajar, instruktur atau perancang terlebih dahulu perlu melakukan uji cuba terlebih dahulu untuk memastikan ketiga komponen tersebut dapat berfungsi efektif dan efisien untuk digunakan dalam situasi yang sebenarnya. Selain itu perlu menyiapkan kelas dan sarana pendukung yang diperlukan untuk dapat menggunakan metode, media, dan bahan ajar yang telah dipilih. Setelah semuanya siap lalu ketiga komponen tersebut dapat digunakan

5. Mengaktifkan keterlibatan pelajar (requires learner participation);

Agar berlangsung efektif dan efisien proses pembelajaran dengan model ini perlu juga adanya keterlibatan mental pelajar secara aktif dengan materi yang sedang dipelajari. Pemberian latihan merupakan contoh bagaimana melibatkan aktiviti mental pelajar dengan materi yang sedang dipelajari. Pelajar yang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya akan dengan mudah mempelajari materi pembelajaran.

(20)

6. Melakukan Penilaian dan Penambahbaikan (evaluation and revise)

Setelah mendesain aktiviti pembelajaran maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan penilaian dan revisi. Tahapan penilaian dan revisi dalam model desain pembelajaran ASSURE ini dilakukan untuk menilai efektif dan efisien program pembelajaran dan juga menilai pencapaian pelajar. Agar dapat memperoleh gambaran yang lengkap tentang kualiti sebuah program pembelajaran, perlu dilakukan proses penilaian terhadap semua komponen pembelajaran.

Dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE, karena menurut peneliti, langkah dalam model ini sederhana dan sistematik serta cocok untuk merancang bahan ajar. Kelima peringkat pada model ADDIE ini sudah sangat sederhana apabila dibandingkan dengan model reka bentuk yang lainnya. Sifatnya yang sederhana dan berstruktur dengan sistematik maka model reka bentuk ADDIE akan mudah dipelajari oleh para perancang. Adapun kelemahan model ADDIE adalah dalam peringkat analisis memerlukan masa yang lama. Kerana pada peringkat ini, perancang diharapkan mampu menganalisis dua komponen daripada pelajar terlebih dahulu dengan membagi analisis menjadi dua iaitu analisis kinerja dan analisis keperluan. Dua komponen analisis ini yang nanti nya akan mempengaruhi lamanya proses menganalisis pelajar sebelum tahapan pembelajaran dilaksanakan. Dua komponen ini merupakan hal yang penting karena akan mempengaruhi tahap mendesain pembelajaran yang selanjutnya.

2.3 Materi Pendukung Bahan Ajar MNASB

Berikut disajikan materi pendukung untuk mengembangkan bahan ajar MNASB, yaitu tentang fungsi, persamaan diferensial, dan kalkulus integral. a. Fungsi

Secara umum penulisan fungsi dibedakan dalam fungsi eksplisit dan fungsi implisit. Fungsi eksplisit adalah fungsi yang antara peubah bebas dan peubah tak bebas dapat dibedakan dengan jelas. Fungsi eksplisit dinyatakan dalam bentuk y = f(x), atau x = f(y).

Contoh : 1. y=cosh +x sinh x 2. 1 1 ln + − = x x y

Fungsi implisit adalah suatu fungsi yang antara peubah bebas dengan peubah tak bebas tidak dapat dibedakan secara jelas. Fungsi implisit dinyata dalam bentuk f(x,y) = 0.

Contoh :

1. x2 + y2 −2xy+1=0 2. cos xy−1=0

(21)

Jika suatu fungsi dinyatakan dalam bentuk eksplisit maka dengan mudah dapat ke bentuk implisit, tetapi tidak semua fungsi dalam bentuk implisit dapat dinyatakan ke dalam bentuk implisit.

Contoh :

1. Bentuk implisit y = x x x adalah y8− x7 =0

2. Bentuk eksplisit dari x2 +y2 −2xy+1=0 adalah y =

(

1 5 5( 1)2

)

2

1

x

3. x2y+ xy2 −2=0 adalah bentuk implisit yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk eksplisit.

4. cos xy−1=0 adalah bentuk implisit yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk eksplisit.

b. Persamaan Differensial Homogen

Persamaan diferensial homogen dapat diselesaikan dengan cara mengubahnya terlebih dahulu menjadi persamaan diferensial peubah terpisah. Definisi :

Persamaan diferensial ordo satu M(x,y) dx + N(x,y) dy = 0 disebut homogen jika ditulis dalam bentuk y=f(x,y) terdapat suatu fungsi g sehingga f(x,y) dapat dinyatakan dalam bentuk g(y/x) atau f(x,y)=g(y/x).

Definisi :

Fungsi real dua peubah F(x,y) disebut fungsi homogen derajat n jika berlaku F(tx,ty) = tn F(x,y), tR.

Teorema :

Persamaan diferensial dalam bentuk M(x,y) dx + N(x,y) dy = 0 disebut persamaan diferensial homogen jika fungsi dua peubah M(x,y) dan N(x,y) merupakan fungsi homogen dan berderajat sama.

Terorema :

Bila M(x,y) dx + N(x,y) dy = 0 ……… (1) Merupakan persamaan diferensial homogen, maka perubahan peubah y = vx akan mentransformasikan persamaan diferensial (1) menjadi persamaan diferensial yang dapat dipisah dalam v dan x.

c. Persamaan Diferensial Non Homogen

Untuk menentukan selesaian persamaan diferensial non homogen, terlebih dahulu persamaan diferensial tersebut harus diubah menjadi persamaan diferensial homogen dengan menggunakan metode substitusi linier. Perhatikan persamaan diferensial M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0. Bila M(x,y) = ax + by + c dan N(x,y) = px +

(22)

qy + r maka persamaan diferensial tersebut dapat diselesaikan dengan beberapa cara berikut :

1) Langsung memisalkan u = ax + by + c dan v = px + qy + r sehingga diperoleh dx dan dy dalam du dan dv, maka persamaan diferensial menjadi homogen dalam u dan v.

2) Jika c = r = 0 maka persamaan diferensial termasuk persamaan diferensial homogen, dapat diselesaikan langsung dengan pemisalan y = vx.

3) Jika aq = pb atau = = q b p a

k sehingga ax + by = k(px + qy), digunakan substitusi

u = px + qy.

4) Jika c dan r tidak kedua-duanya nol dan q b p

a  digunakan substitusi x = X + h dan y = Y + k sehingga PD menjadi homogen karena selesaian dari SPL yang bersesuaian.

d. Persamaan Diferensial Linier Ordo-n

Sebelum membahas persamaan diferensial ordo n maka terlebih dahulu dibahas tentang persamaan diferensial linier ordo satu.

Definisi :

Persamaan Diferensial Ordo Satu disebut linier jika ditulis dalam bentuk

dx dy

+ P (x) y = Q(x) ... (2) dimana P dan Q konstan untuk fungsi hanya dari x (tidak dalam y).

Bentuk (2) diatas ditulis dy + (Py – Q)dx = 0 ...……... (3) Kita ingat kembali mengenai PD tak eksak dan Faktor Integrasi. Bentuk (3) nampaknya seperti bentuk M dx + N dy = 0. Bila P 0 maka PD (1) tak eksak.

Misalkan  adalah fungsi dalam x saja (mengapa?) dan faktor  faktor integrasi dari (3) sehingga dengan mengalikan  pada (3) diperoleh

(Py – Q)dx +  dy = 0 ... (4)

(

)

dx d x dan P y Q Py    =   =  − 

karena PD sudah eksak, maka P = dx d sehingga;   d = P dx

=  InPdx  =  Pdx e

(23)

Substitusikan  ke persamaan (3)

+  =0  e Pdx Py Qdx e Pdxdy dx Q e dy e dx Py e Pdx Pdx − Pdx      +   dx Q e y e d Pdx = Pdx       dx Q e y e d Pdx

Pdx

  =   c dx e Q y ePdx = Pdx + 

Jadi selesaiannya berbentuk U y =  UQ dx + c, dimana U = e Pdx. Pedoman kerja untuk menyelesaikan persamaan diferensial linier adalah : a) Ubah bentuk PD kedalam bentuk standar

dx dy

+ P . y = Q b) Cari Faktor Integrasi

FI =  = e Pdx

Dua buah formula nInx n x

e = dan nInx n x

e− = − akan sering digunakan dalam menghitung FI.

c) Cari selesaian dengan menggunakan formula y . FI =  y =

 Q dx.

Berikut dibahas tentang persamaan diferensial ordo-n. Definisi :

Persamaan diferensial ordo ke-n dapat dinyatakan dalam bentuk :

( )

( )

( )

( )

a

( )

x y F

( )

x dx dy x a dx y d x a dx y d x a dx y d x a n n n n n n n n o + + − + + − + = − − − . ... . . . 2 1 2 2 1 1 1 ..(5)

dimana ao

( )

x  0 dan a1,a2,a3,...,an dan F fungsi real yang kontinu pada interval

 

a ,b .

Persamaan (5) disebut persamaan diferensial linier homogen bila F(x) = 0 untuk setiap nilai x. Persamaan (5) disebut persamaan diferensial linier non homogen bila F(x)  0 untuk suatu nilai x. Pada bagian ini yang pertama kali akan disoroti adalah Persamaan Diferensial Linier (PDL) yang homogen.

(24)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bentuk penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Penelitian dan pengembangan adalah suatu bentuk penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Creswell 2009). Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan desain instruksional ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Bagan model pengembangan ADDIE di adopsi dari Branch (2009), Molenda (2003) dan Morrison et al. (2011).

a. Analysis

Analisis merupakan kegiatan awal untuk mengetahui kebutuhan dan tujuan produk yang akan dikembangkan. Dengan mengkaji kebutuhan maka peneliti akan mengetahui adanya suatu keadaan yang seharusnya ada dan keadaan nyata di lapa

ngan. Peneliti sudah melakukan kajian awal, melihat kesenjangan yang ada ternyata pengembangan bahan ajar berupa buku ajar sangat diperlukan oleh mahasiswa ataupun dosen.

b. Design

Dalam tahapan desain peneliti melakukan pengumpulan bahan-bahan, menyusun dan merancang produk yang akan dikembangkan. Diawali dengan mengumpulkan buku-buku rujukan untuk penyusunan bahan ajar dan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan bahan ajar itu sendiri berdasarkan desain tertentu. Selanjutnya, mencariatau mengumpulkan indikator/konstruk yang akan dijadikan pedoman untuk membuat item peryataan tentang kevalidan bahan ajar tersebut. Berdasarkan konstruk yang ada dibuat format validasi dan item-item pernyataannya.

c. Development

Dalam tahapan pengembangan peneliti melakukan validasi terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Validator terdiri dari dua orang pakar materi dan satu orang pakar pembelajaran. Apabila menurut validator bahan ajar belum layak digunakan maka akan direvisi untuk kemudian divalidasi kembali. Setelah bahan ajar dinyatakan valid maka bahan ajar siap untuk diujicobakan.

Instrumen validasi bahan ajar dalam penelitian ini berupa soalan atau pernyataan yang terdiri dari 35 pernyataan adopsi dari Sa’dun Akbar (2016) meliputi aspek: (1) relevansi, (2) keakuratan, (3) kelengkapan sajian, (4) sistimatika sajian, (5) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa, (6) cara penyajian, (7) kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan (8) keterbacaan dan kekomunikatifan.Berikut ini taburan nombor item pernyataan mengikut konstruk kajian.

(25)

Tabel 3.1 Taburan item pernyataan

No. Konstruk/aspek Nomor Item

1. Relevansi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10

2. Keakuratan 11, 12, 13, 14

3. Kelengkapan sajian 15, 16, 17, 18

4. Sistimatika Sajian 19, 20

5. Kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa

21, 22, 23, 24, 25

6. Cara penyajian 26, 27, 28

7. Kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yan baik dan benar

29, 30, 31 8. Keterbacaan dan kekomunikatifan 32, 33, 34, 35 d. Implementation

Bahan ajar yang telah valid akan dilakukan uji produk dalam skala kecil untuk mengetahui realibilitasnya.

e. Evaluation

Instrumen yang telah diimplementasikan akan diperoleh data uji coba skala kecil dan dianalisis sebagai perbaikan lanjutan pada bahan ajar yang telah dibuat.

Dalam penelitian ini, karena terbatasnya waktu dan biaya maka pengembangan bahan ajar hanya dilakukan sampai tahapan pengembangan (Development) yaitu uji validitas.

(26)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini adalah produk berupa seperangkat bahan perkuliahan yang terdiri dari RPS, RP dan buku ajar. Buku ajar yang dikembangkan terdiri dari empat bab yaitu bab I. Pendahuluan; pengertian masalah nilai awal dan solusinya, pengertian masalah syarat batas dan solusinya, bab II. Sistim Fungsi Ortogonal, bab III. Deret Fourier, dan bab IV. MSB tentang Gelombang 1-Dimensi. Bahan ajar tersebut dapat digunakan oleh dosen dan mahasiswa untuk menunjang perkuliahan. Proses pengembangan bahan ajar ini telah mengikuti langkah-langkah model pengembangan ADDIE. Adapun hasilnya sebagai berikut. a. Analisis Keperluan (Analysis)

Berdasarkan kajian awal Elfis Suanto (2015) bahwa dosen-dosen belum memberi perhatian yang cukup besar untuk pengembangan bahan ajar terutama buku ajar. Disamping itu terdapat pula pandangan mahasiswa yang menyatakan bahwa masih kurangnya literatur atau buku-buku yang berbahasa Indonesia dan belum adanya buku ajar berbasis kompetensi yang benar-benar sesuai dengan silabus mata kuliah MNA/SB yang berlaku di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UR dan buku-buku tersebut sangat diperlukan mahasiswa.

Adanya kesulitan ini, maka peneliti mengambil inisiatif untuk mengambangkan bahan ajar yang meliputi buku ajar berbasis kompetensi dengan desain tertentu. Bahan ajar ini diharapkan memberi kemudahan kepada mahasiswa dan dosen dalam mempelajari dan mengajarkan mata kuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas.

b. Desain Bahan Ajar (Design)

Bahan ajar ini dibuat dengan berlandaskan pada teori belajar konstruktivisme dan teori belajar kognitif dengan arah/basis pengembangannya adalah kompetensi mahasiswa. Kompetensi mahasiswa yang dimaksud yaitu penalaran matematis dan koneksi matematis. Kerangka konseptual pengembangan bahan ajar ini dapat dilihat pada gambar berikut.

(27)

Gambar 4.1. Kerangka Konseptual Bahan Ajar MNA/SB

Menurut Needham (1987) ada lima fasa proses pembelajaran berdasarkan toeri konstruktivisme. Lima fasa tersebut adalah orientasi, pencetusan idea, penstrukturan kembali idea, aplikasi idea dan refleksi. Dalam penulisan bahan ajar tersebut terdiri dari beberapa bab dan sub bab. Setiap bab diawali dengan menetapkan sasaran perkuliahan yang dibuat dengan terperinci tentang kompetensi-kompetensi yang harus dicapai mahasiswa. Kompetensi-kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa merupakan penalaran matematis dan koneksi matematis.Setiap sub bab ditulis atau dibuat mengacu kepada fasa-fasa konstruktivisme Needham tersebut untuk dapat mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan diawal bab tersebut.

Kemudian aplikasi teori kognitif dalam bahan ajar bebasis kompetensi ini, diharapkan dalam setiap pembelajaran terjadinya interaksi sosial, baik antara sesama mahasiswa maupun antara mahasiswa dan dosen. Melalui interaksi sosial inilah kognitif anak berkembang kearah yang lebih baik seperti peduli terhadap orang lain, cerdas dan efektif dalam berinteraksi, dan memupuk sikap-sikap baik dalam keseharian mahasiswa.

c. Pengembangan (Development)

Penilaian formatif melibatkan tiga orang pakar yaitu dua orang pakar materi dan satu orang pakar pembelajaran. Penglibatan pakar dalam kajian ini merujuk kepada kajian Kwanjai & Sumalee (2012) yang melakukan validitas dalam membangun bahan pembelajaran. Analisis deskriptif dilakukan berdasarkan perbincangan untuk setiap aspek yang dinilai dalam validasi.

Setelah tahapan validasi yang pertama, peneliti mendapatkan saran perbaikan dari pakar terhadap kelemahan bahan ajar. Keseluruhan kelemahan bahan ajar dan saran pakar dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.

Teori Kognitif BAHAN AJAR MNA/SB Penalaran Matematis Koneksi Matematis Teori Konstruktivisme Hasil Belajar

(28)

Tabel 4.1 Saran perbaikan bahan ajar oleh pakar

No. Aspek Saran perbaikan bahan ajar Frekuensi 1 Relevansi Usahakan lebih menarik dan sesuai

dengan tingkat pemahaman mahasiswa.

2

2 Keakuratan Supaya dapat ditambahkan tentang konsep eksistensi dan ketunggalan solusi persamaan diferensial. Supaya dapat ditambahkan bentuk soal latihan yang bersifat

pembuktian/prove atau tunjukkan/show that.

1

3 Kelengkapan sajian Perlu ditambahkan penduan penggunaan modul.

2 4 Sistimatika sajian Penyajian dalam bahan ajar supaya

terstruktur dalam bentuk definisi, toerema dan baru contoh

penerapannya.

1

5 Kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Gunakan bahasa yang lebih baik dan baku sehingga mudah dipahami.

2

Berdasarkan tabel 4.1 terlihat bahwa ada 5 aspek yang terdapat kelemahan menurut pakar. Terdapat satu atau dua orang pakar yang memberi saran atau cadangan. Saran ini menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan penambahbaikan atau memperbaiki bahan ajar yang dikembangkan.

Setelah bahan ajar ini diperbaiki, kemudian bahan ajar divalidasi ulang oleh pakar untuk setiap aspek penilaian. Hasil validasi per apsek penilaian oleh validator adalah sebagai berikut.

a. Aspek Relevansi

Berikut ini adalah penilaian validator/penilai tentang aspek relevansi dari bahan ajar yang dikembangkan.

Tabel 4.2 Hasil penilaian validator pada aspek relevansi Bil Aspek Penilaian

STS TS S SS

1. Materi relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa.

0% 0% 0% 100%

2. Latihan (soal latihan sub-bab) relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai.

0% 0% 33.3% 66.7% 3. Contoh-contoh penjelasan relevan dengan

kompetensi yang harus dikuasai.

(29)

4. Tugas (himpunan soal-soal bab) relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai.

0% 0% 0% 100%

5. Kedalaman uraian sesuai dengan tingkat perkembangan mahasiswa.

0% 0% 66.7% 33.3% 6. Kelengkapan uraian materi sesuai dengan

tingkat perkembangan mahasiswa.

0% 0% 33.3% 66.7% 7. Jabaran materi cukup memenuhi tuntutan

kurikulum.

0% 0% 0% 100%

8. Jumlah ilustrasi yang fungsional memadai. 0% 0% 33.3% 66.7% 9. Jumlah latihan dan soal memadai. 0% 0% 0% 100%

10. Jumlah tugas memadai. 0% 0% 0% 100%

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dari 10 item pernyataan ternyata hanya 16.66% validator menyatakan setuju sedangkan 83, 34% validator menyatakan sangat setuju. Berarti semua validator telah menyatakan setuju dan sangat setuju tentang aspek relevansi dari bahan ajar yang dikembangkan. Tapi tentang pernyataan kedalaman uraian materi dihubungkan dengan tingkat perkembangan mahasiswa hanya 33.3% validator yang sangat setuju. Hal ini mungkin disebabkan karena uraian atau penemuan rumus seperti masalah syarat batas pada persamaan gelombang 1-dimensi sangat panjang dan melibatkan banyak konsep matematika.

b. Aspek Keakuratan

Tabel 4.3 Hasil penilaian validator pada aspek keakuratan Bil Aspek Penilaian

STS TS S SS

1. Materi yang disajikan sesuai dengan kebenaran keilmuan.

0% 0% 0% 100%

2. Materi yang disajikan sesuai dengan perkembangan mutakhir.

0% 0% 66.7% 33.3% 3. Materi yang disajikan sesuai dengan

kehidupan sehari-hari.

0% 0% 66.7% 33.3% 4. Pengemasan materi sesuai dengan

pendekatan keilmuan yang bersangkutan

0% 0% 0% 100%

Ketika ditanya, bagaimana aspek keakuratan bahan ajar yang dikembangkan ternyata dari tabel 4.3 terlihat bahwa 66.65% validator menyatakan sangat setuju, 33.35% menyatakan setuju dan tidak ada validator yang menyatakan tidak setuju. Berarti semua validator telah menyatakan setuju dan sangat setuju atas aspek keakuratan dari bahan ajar yang dikembangkan.

(30)

c. Aspek Kelengkapan Sajian

Tabel 4.4 Hasil penilaian validator pada aspek kelengkapan sajian Bil Aspek Penilaian

STS TS S SS

1. Menyajikan kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa.

0% 0% 0% 100%

2. Menyajikan manfaat dan pentingnya penguasaan kompetensi bagi kehidupan mahasiswa.

0% 0% 33.3% 66.7%

3. Menyajikan daftar isi. 0% 0% 0% 100%

4. Menyajikan daftar isi. 0% 0% 33.3% 66.7%

d. Aspek Sistimatika Sajian

Tabel 4.5 Hasil penilaian validator pada aspek sistimatika sajian

Bil Aspek Penilaian STS TS S SS

1. Uraian materi mengikuti alur pikir dari sederhana ke kompleks.

0% 0% 0% 100%

2. Uraian materi mengikuti alur pikir dari lingkup lokal ke global.

0% 0% 66.7% 33.3%

Berdasarkan tabel 4.4 ternyata 83.35% validator sangat setuju dengan item pernyataan yang diberikan tentang aspek kelengkapan sajian dan selebihnya setuju serta tidak ada penilai yang menyatakan tidak setuju. Pada tabel 4.5 semua penilai menyatakan setuju dan sangat setuju atas aspek sistimatika sajian. Berarti sistimatika sajian bahan ajar sudah bagus, walaupun terdapat validator yang menyarankan untuk dilengkapi dengan teorema-teorema pendukung.

e. Aspek Kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa

Sesuai dengan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi yang mengacu kapada kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI), bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang manjadikan mahasiwa sebagai pusat belajar. Maka dalam pengembangan bahan ajar ini aspek kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa menjadi salah satu aspek yang sangat penting untuk diperhatikan. Berikut adalah penilaian validator tentang aspek kesesuaian sajian tersebut.

(31)

Tabel 4.6. Hasil penilaian validator pada aspek kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa

Bil Aspek Penilaian STS TS S SS

1. Mendorong rasa keingintahuan mahasiswa. 0% 0% 0% 100% 2. Mendorong terjadinya interaksi mahasiswa

dengan sumber belajar.

0% 0% 0% 100% 3. Mendorong mahasiswa membangun

pengetahuannya sendiri.

0% 0% 0% 100%

4. Mendorong mahasiswa belajar secara kelompok.

0% 0% 0% 100%

Berdasarkan tabel 4.6 ternyata semua validator/penilai sangat sejutu dengan semua item penyataan tentang aspek kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa. Berarti bahan ajar yang dikembangkan dapat mengaktifkan mahasiswa dalam proses pembelajaran pada perkuliahan.

f. Aspek Cara Penyajian

Tabel 4.7. Hasil penilaian validator pada aspek cara penyajian

Bil Aspek Penilaian STS TS S SS

1. Mendukung tumbuhnya penalaran metematis mahasiswa.

0% 0% 33.3% 66.7% 2. Mendukung tumbuhnya berpikir kritis

mahasiswa.

0% 0% 33.3% 66.7%

3. Mendukung cara berpikir logis mahasiswa.. 0% 0% 0% 100%

g. Aspek Kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar

Tabel 4.8. Hasil penilaian validator pada aspek kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar

Bil Aspek Penilaian STS TS S SS

1. Ketepatan penggunaan ejaan. 0% 0% 0% 100% 2. Ketepatan penggunaan istilah. 0% 0% 0% 100% 3. Ketepatan penyusunan struktur kalimat. 0% 0% 0% 100%

(32)

Berdasarkan tabel 4.7 dan tabel 4.8 secara keseluruhan dapat dilihat bahwa semua validator telah menyatakan setuju dan sangat setuju cara penyajian maupun aspek kesusuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentang aspek cara penyajian khusus item pernyataan bahan ajar mendukung cara berpikir logis mahasiswa semua validator sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Sedang mengenai aspek kesesuaian bahasa semua validator sangat setuju dengan semua item pernyataan walaupu terdapat validator yang tetap meningatkan peneliti menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan baku.

h. Aspek keterbacaan dan kekomunikatifan

Tabel 4.9. Hasil penilaian validator pada aspek keterbacaan dan kekomunikatifan

Bil Aspek Penilaian STS TS S SS

1. Panjang kalimat sesuai dengan tingkat pemahaman mahasiswa.

0% 0% 0% 100%

2. Struktur kalimat sesuai dengan tingkat pemahaman mahasiswa.

0% 0% 0% 100% 3. Pembuatan alinea sesuai dengan tingkat

pemahaman mahasiswa..

0% 0% 0% 100%

4. Bahasa yang digunakan bahasa setengah formal (bahasa sehari-hari dikelas).

0% 0% 0% 100%

Kemuadian yang terakhir yaitu aspek keterbacaan dan kemunikatifan bahan ajar yang dikembangkan, maka berdasarkan tabel 4.9 ternyata semua validator sangat setuju dengan semua item pernyataan yang diberikan. Berarti aspek keterbacan dan aspek kekomunikatifan bahan ajar sangat baik.

(33)

BAB V KESIMPULAN

Bahan ajar berbasis kompetensi pada mata kuliah Masalah Nilai awal dan Syarat Batas yang dihasilkan telah melewati setiap tahap pengembangan model ADDIE sampai tahapan development. Seluruh validator telah menyetujui setiap aspek penilaian bahan ajar yaitu aspek: (1) relevansi, (2) keakuratan, (3) kelengkapan sajian, (4) sistimatika sajian, (5) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa, (6) cara penyajian, (7) kesesuaian bahasa dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan (8) keterbacaan dan kekomunikatifan. Berarti dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan tersebut telah valid dan siap untuk digunakan. Berdasarkan dapatan kajian ini disarankan agar penelitian ini dapat dilanjutkan ketahapan implementasi dan evaluasi pada skala yang lebih luas untuk mengetahui keefektifan bahan ajar tersebut.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Boyce, W. E., dan DiPrima, R. C. 2008. Elementry Differential Equations and Boundary Value Problems. New York:John Wiley & Sons.

Branch, R. M. 2009. Instructional Design: The ADDIE Approach.ISBN 978-0-387-09505-9, e-ISBN 978-0-387-09506-6. New York: Springer.

Creswell, J., W. 2009. Research Design: qualitative, quantitative and mixed methods approaches(3th ed.). California: Sage publications.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIRJEN DIKTI). 1991. Kurikulum Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (MIPA-LPTK) Program Strata-1 (S1).Jakarta: Depdikbud.

Elfis Suanto. 2015. Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kompetensi pada mata kuliah Masalah Nilai awal dan Syarat Batas: Sebuah Kajian Awal. Laporan penelitian, tidak dipublikasikan. Pekanbaru: FKIP Universitas Riau.

Elfis Suanto, Effandi Zakaria, dan Siti Mistima Maat. 2017. Penerapan Pembelajaran Pengalaman dalam Pendidikan Matematika: Sebuah Kajian Awal.Prosiding Seminar Serantau ke-VII bidang Pendidikan, Fakulti Pendidikan, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor Darul Ehsan, Malaysia.

Erwin Kreyszig. 1993.Advanced Engineering Mathematics 5th edition. New York: John Wiley& Sons.

Gallegos, Ruth Rodriguez . 2008. Differential Equations as a Tool for Mathematical Modeling in Physics and Mathematics Courses : A Study of High School Texbooks and The Modelling Processes of Senior High Students.IMFUFATekst. Mexico, July 6-13.

Hapizah. 2014.Pengembangan Instrumen Kemampuan PenalaranMatematis mahasiswa pada mata Kuliah Persamaan Diferensial, Jurnal Kreano, ISSN : 2086-2334.

Kwanjai, D., Sumalee, C. 2012. Construtivisist learning envirounment model enhanching cognitive fexibility for higher education. Procedia Sosial and behavioral Science, 46(2012), 3764-3770. Published by Elsivier Ltd. Kwon Oh Nam. 2010.Conceptualizing The Realistic Mathematics Education

Approach in The Teaching and Learning of Ordinary defferential Equations. Jurnal.

(35)

Molenda, M. 2003. In search of the elusive ADDIE model. Performance Improvement 42(5): 34-37.

Morrison, G. R., Ross, S. M., Kalman, H. K., & Kemp, J. E. 2011. Designing Effective Instruction. Ed. ke-6. USA: John Wiley & Sons, Inc.

Nessel, D. D., & Graham, J.M. 2007.Thinking Strategies for student achievement: improving learning a cross the curriculum, K-12. (2nded). Thousand oaks, California: Corwin Press. A SAGE Publication Company.

NCTM [National Council of Teachers of Mathematics]. 2000. Principles and Standards for School Mathematics. Virginia: NCTM.

Raisinghania&Aggarwal. 1981.Ordinary and Partial Differential Equations, New Delhi: S. Chand & Company Ltd. Ram Nagar.

Ross, S. L. 1984.Differential Equations. New York: John Wiley & Sons.

Sa’dun Akbar. 2016. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Shadiq, F. 2004. Pemecahan Masalah, Penlaran dan Komunikasi. Yogyakarta: Depdiknas.

Sidek, M. N. dan Jamaludin, A. 2008.Pembinaan Modul; bagaimana membina modul latihan dan modul akademik. Serdang, Selangor D. E.: UPM. Sukirwan.2008. Kegiatan Pembelajaran Eksploratif untuk Meningkatkan

Kemampuan Penalaran dan Koneksi Matematis siswa Sekolah Dasar. Tesis PPS UPI Bandung. Tidak diterbitkan.

Sumarmo, U. 2013. Berfikir dan Disposisi Matematik serta Pembelajarannya. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematik FPMIPA UPI.

Troutman, J. L., dan Bautista, M. 1994. Boundary Value Problems of Applied Mathematics. Boston: PWS Publishing Company.

Webb, N. L., and Coxford, A. F. Eds. 1993.Assesment in the Mathematics Classroom.Yearbook.NCTM. Virginia: Reston.

(36)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1 : Jadwal Penelitian

No. Kegiatan Bulan

ke 1 Pengkajian teori untuk mendukung pengembangan bahan ajar 1

2 Mendesain draf bahan ajar 2

3 Pengembangan bahan ajar 3-4

5 Validasi bahan ajar oleh 3 orang pakar 4-5 7 Perevisian bahan ajar dan validasi kembali 5

7 Penyusun draf laporan hasil penelitian 6

8 Seminar hasil penelitian 6

9 Revisi dan penyusunan laporan final 6

Lampiran 2 : Organisasi Penelitian

No Nama / NIDN Instansi Asal Bidang Ilmu Alokasi Waktu (jam/minggu) Uraian Tugas 1 Drs. Elfis Suanto, M.Si/

0001106602

5 Perencana kegiatan, koleksi data, analisis data, penyususnan laporan. 2 Dra. Armis, M.Pd /

0002036102

5 Koleksi data, analisis data penyususnan laporan. 3. Drs. Suhermi,

M.Pd/0014046114

5 Koleksi data, analisis data, penyususnan laporan. 3 Anita Sari /

NIM 1305122590

5 Penyususnan skripsi 1. Biodata Ketua Tim Peneliti/Pelaksana

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Drs. Elfis Suanto, M.Si 2 Jenis Kelamin Laki-laki

3 Jabatan Fungsional Lektor Kepala

4 NIP/NIK/Identitas lainnya 196610021991031003

5 NIDN 0001106602

6 Tempat dan Tanggal Lahir Taluk Kuantan, 2 Oktober 1966

7 E-mail [email protected]

9 Nomor Telepon/HP 08127530788

10 Alamat Kantor Kampus Binwidya FKIP UR Panam Pekanbaru

(37)

11 Nomor Telepon/Faks 076163267 Mata Kuliah yg Diampu

1. Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas

2. Persamaan Differensial 3. Kalkulus Integral

4. Kapita Selekta Matematika 5. Praktek Pengajaran Matematika

Pengalaman Penelitiaan 1. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 18 Pekanbaru (2014). 2. Analisa Kesulitan Pembuktian

Matematis Pada Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Riau (2014).

3. Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematis Siswa SMA Melalui Pembelajaran Inkuiri (2015).

2. Biodata Anggota Tim Peneliti/Pelaksana

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Dra. Armis, M.Pd

2 Jenis Kelamin Perempuan

3 Jabatan Fungsional Lektor Kepala

4 NIP/NIK/Identitas lainnya 19610302 198601 2 001

5 NIDN 0002036102

6 Tempat dan Tanggal Lahir Padang Magek, 2 Maret 1961

7 E-mail [email protected]

9 Nomor Telepon/HP 081365719565

10 Alamat Kantor Kampus Binawidya FKIP UR 11 Nomor Telepon/Faks 076163267

Mata Kuliah yang Diampu

1. Masalah Nilai Awal Syarat Batas (MNASB) 2. Persamaan Diferensial 3. Kalkulus Diferensial 4. Metode Numerik 5. Pengembangan Kurikulum Matematika SMA

(38)

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Drs. Suhermi, M.Pd

2 Jenis Kelamin Laki-laki

3 Jabatan Fungsional Lektor

4 NIP/NIK/Identitas lainnya 196104141989031002

5 NIDN 0014046114

6 Tempat dan Tanggal Lahir Baserah, 14 April 1961

7 E-mail [email protected]

9 Nomor Telepon/HP 081268041966

10 Alamat Kantor Kampus Binawidya FKIP UR 11 Nomor Telepon/Faks 076163267

Mata Kuliah yang Diampu

1. Kalkulus Lanjut

2. Kapita Selekta Matematika 3. Kalkulus Integral

4. Pengembangan Kurikulum Matematika SMA

(39)

Lampiran 3. Instrumen Penelitian

BORANG PENILAIAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS KOMPETENSI MATAKULIAH MASALAH NILAI AWAL DAN SYARAT BATAS (MNA/SB)

Nama Matakuliah : Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas (MNA/SB) Jenis Produk : Bahan Ajar

Judul Produk : Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas berbasis Kompetensi (Terapan Persamaan Diferensial.

Validator : 1. Nama :

2. Titel : Prof. / Dr. /Drs / Dra /Ir. /S.Si /S.Pd /M.Si /M.Pd/P.hD

3. Instansi/unit: 4. Jabatan/Pekerjaan :

5. Matakuliah yang Pernah diajarkan: a. b. c. d. e. 6. Pengalaman Mangajar: ( ) 1 – 5 tahun ( ) 6 – 10 tahun ( ) 11 – 15 tahun ( ) 16 – 20 tahun ( ) lebih dari 20 tahun

Hari, Tanggal :

(40)

Bapak/Ibu yang terhormat,

Saya memohon bantuan Bapak/Ibu untuk mengisi borang penilaian ini. Borang penilaian ini ditujukan untuk mengetahui penilaian, pendapat dan masukan Bapak/Ibu tentang “Pengembangan bahan ajar berbasis kompetensi matakuliah Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas”. Penilaian dan masukan Bapak/Ibu akan sangat membantu untuk perbaikan bahan ajar ini sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu saya ucapkan terimakasih. Petunjuk Pengisian Borang Penilaian:

1. Instrumen penilaian ini bertujuan untuk menilai kelayakan bahan ajar berdasarkan aspek kevalidan.

2. Penilaian ini dilakukan dengan cara memberi tanda (√) pada kolom skor penilaian yang telah disediakan yang bapak/ibu anggap sesuai. Adapun keterangan skala penilaian adalah sebagai berikut:

Skor Keterangan

1 Jika bahan ajar sangat tidak sesuai dengan pernyataan yang diberikan.

2 Jika bahan ajar tidak sesuai dengan pernyataan yang diberikan. 3 Jika bahan ajar sesuai dengan pernyataan yang diberikan.

4 Jika bahan ajar sangat sesuai dengan pernyataan yang diberikan. 4. Setelah memberitanda (√) pada kolom skala penilaian, mohon memberikan

pendapat atau masukan untuk perbaikan buku ajar pada tempat yang sudah disediakan.

5.

Borang Penilaian

No Indikator/aspek yang divaidasi Skor

1 2 3 4 A. Relavensi

1 Materi relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa.

2 Latihan (soal latihan sub-bab) relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai.

3 Contoh-contoh penjelasan relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai.

4 Tugas (himpunan soal-soal bab) relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai.

5 Kedalaman uraian sesuai dengan tingkat perkembangan mahasiswa.

6 Kelengkapan uraian materi sesuai dengan tingkat perkembangan mahasiswa.

7 Jabaran materi cukup memenuhi tuntutan kurikulum. 8 Jumlah ilustrasi yang fungsional memadai.

9 Jumlah latihan dan soal memadai. 10 Jumlah tugas memadai.

Gambar

Tabel 1.1 Capaian Hasil belajar Mahasiswa pada mata kuliah MNA/SB   Nilai  Akhir  Kelas A  (Mahasiswa)  Kelas B  (Mahasiswa)  A  3orang (7,1%)  4orang (9,5%)  A-  2orang ( 4,8%)  3orang ( 7,1%)  B+  1orang ( 2,4%)  2orang (4,8%)  B  2 orang (4,8%)  5orang
Gambar 2.1    Sistematik Model ADDIE
Gambar 2.2  Model Pembangunan Model ASSURE (Smaldino et al.2005)  Berikut  ini  diuraikan  secara  terperinci  tahap  reka  bentuk  model  ASSURE,  yaitu:
Tabel 3.1 Taburan item pernyataan
+7

Referensi

Dokumen terkait