RSU IMANUEL SUMBA
Jalan Nangka No. 04
Telp. (0387) 62770, 61741, 62980 / Fax ( 0387 ) 61116
Email :
[email protected]
Waingapu – Sumba Timur
“ Melayani Bukan Dilayani “
KEPUTUSAN DIREKTUR BADAN RUMAH SAKIT UMUM IMANUEL SUMBA
NOMOR :
TENTANG
PENETAPAN INDIKATOR MUTU RS SASARAN KESELAMATAN PASIEN
DI BADAN RUMAH SAKIT UMUM IMANUEL SUMBA
DIREKTUR BADAN RUMAH SAKIT UMUM IMANUEL SUMBA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka implementasi Akreditasi Rumah Sakit Standar 2012
maka perlu ditetapkan Indikator Mutu Are Klinis Rumah Sakit;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a
dipandang perlu menetapkan Keputusan Direktur tentang Indikator Mutu
Rumah Sakit Area Klinis di Badan Rumah Sakit Umum Imanuel Sumba.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5063);
2 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5072) ;
3 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691 Tahun 2011 tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit;
4 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/2008 tentang Standar
Pelayanan Rumah Sakit;
M E M U T U S K A N:
Menetapkan : INDIKATOR MUTU RUMAH SAKIT SASARAN KESELAMATAN
PASIEN DI BADAN RUMAH SAKIT UMUM IMANUEL SUMBA.
KESATU
:
Indikator Mutu Rumah Sakit Sasaran Keselamatan Pasien terdiri dari 6 judul
indikator .
KEDUA
:
Judul Indikator dan profile indikator sebagaimana dimaksud pada diktum
KESATU (terlampir)
KETIGA
:
Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan dengan ketentuan apabila dikemudian
hari terdapat kekeliruan dalam Keputusan ini, maka akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Waingapu
Pada Tanggal :
Direktur RSU Imanuel Sumba
LAMPIRAN 01 KEPUTUSAN DIREKTUR BADAN RSU IMANUEL SUMBA
NOMOR
:
TENTANG : PENETAPAN INDIKATOR MUTU RUMAH SAKIT SASARAN
KESELAMATAN PASIEN DI BADAN RSU IMANUEL SUMBA
NO
STANDAR
JUDUL INDIKATOR
1
PMKP 3. IPSG.1 ; Mengidentifikasi
Pasien Dengan Benar
Persentase pelaksanaan Prosedur identifikasi
pasien dilaksanakan tepat dan benar
2
PMKP 3. IPSG.2 ; Peningkatan
Komunikasi yang Efektif
Persentase pelaksanaan Read Back, Write Back
oleh penerima instruksi dan ditandatangani (Sign
Here) Oleh Pemberi Instruksi Dalam Waktu 1 x 24
Jam.
3
PMKP 3. IPSG.3 ; Meningkatkan
Keamanan Obat-Obatan yang harus
Diwaspadai
Insiden kesalahan pemberian obat high alert
4
PMPK 3. IPSG 4; Memastikan
Lokasi Pembedahan Yang Benar,
Prosedur Yang Benar, Pembedahan
pada Pasien yang Benar
Insiden operasi salah sisi, salah orang, salah
prosedur operasi
5
PMPK 3. IPSG 5; Mengurangi Risiko
Infeksi Akibat Perawatan Kesehatan
Persentase kepatuhan petugas kesehatan dalam
melakukan kebersihan tangan dengan metode
enam langkah dan lima momen
6
PMPK 3. IPSG 6; Mengurangi Risiko
Cedera Pasien Akibat Terjatuh
Insiden pasien jatuh selama perawatan rawat inap
di rumah sakit
Ditetapkan di : Waingapu
Pada Tanggal :
Direktur RSU Imanuel Sumba
LAMPIRAN 02 KEPUTUSAN DIREKTUR BADAN RSU IMANUEL SUMBA
NOMOR
:
TENTANG : PENETAPAN INDIKATOR MUTU RUMAH SAKIT SASARAN
KESELAMATAN PASIEN DI BADAN RSU IMANUEL SUMBA
STANDAR
PMKP 3. IPSG.1 ; Mengidentifikasi Pasien Dengan BenarJUDUL
Persentase pelaksanaan Prosedur identifikasi pasien dilaksanakan tepat dan benarTUJUAN
Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasienDEFINISI
OPERASIONAL
Perbandingan antara jumlah pelaksanaan Prosedur identifikasi pasien yang dilakukan tepat dan benar dengan jumlah pelaksanaan Prosedur identifikasi pasien yang seharusnya dilakukan sesuai standar kegiatan yang memerlukan identifikasi pasien.
Prosedur identifikasi harus dilakukan pada saat : 1. Memberikan obat
2. Memberikan darah dan produk darah 3. Mengambil sampel darah
4. Mengambil sampel lainnya untuk pemeriksaan 5. Melakukan tindakan dan prosedur
Identifikasi pasien dilaksanakan dengan cara menanyakan minimal dua identitas, untuk di rawat jalan menanyakan nama dan tanggal lahir sedangkan di rawat inap menanyakan nama dan cek nomor rekam medis.
ALASAN DAN
IMPLIKASI
Identifikasi pasien secara tepat dan benar sangat penting dilakukan untuk mencegah kesalahan (error) yang langsung berdampak kepada keselamatan pasien. Kesalahan identifikasi pasien membuka peluang kesalahan tindakan atau kesalahan pemberian obat.
NUMERATOR
Jumlah pelaksanaan Prosedur identifikasi pasien yang dilakukan dengan tepat dan benarDENOMINATOR
Jumlah Prosedur identifikasi pasien yang seharusnya dilakukan sesuai standar kegiatan yang memerlukan identifikasi pasienFORMULA
Jml pelaksanaan Prosedur identifikasi pasien yg dilakukan dgn tepat &benar (kali) x 100 Jml pelaksanaan Prosedur identifikasi pasien yg seharusnya dilakukan sesuai standar kegiatan yang memerlukan identifikasi pasien (kali)STANDAR
100 %KRITERIA
INKLUSI
Seluruh kegiatan yang memerlukan identifikasi pasien dengan melibatkan staf medis (dokter, perawat, fisiotherapist, petugas laboratorium, petugas gizi, petugas radiologi dll)
KRITERIA
EKSKLUSI
-PENCATATAN
Hanya bisa surveilans (observasi langsung) dengan purposive sampling ketika ada kegiatan yang memerlukan identifikasi pasien. Dilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi (dilakukan dengan cross monitoring jika memungkinkan) setiap hari Senin pk. 08.00 – 10.00 WITA.REKAPITULASI
UNIT
Setiap bulandilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi
ANALISA &
PELAPORAN
Setiap bulan dilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi
AREA
Semua Area KlinisPIC
Ketua Panitia KP-RSFORMAT
PENCATATAN
N O T A N G G A L UNIT PROFESIJENIS KEGIATAN YANG DILAKUKAN DAN
MEMERLUKAN IDENTIFIKASI PASIEN
PELAKSANAAN IDENTIFIKASI PASIEN DILAKUKAN TEPAT DAN
BENAR (ya/tidak) %
1 2
3
4
5
6
7
1 2 3 4 dst Verifikasi :STANDAR
PMKP 3. IPSG.2 ; Peningkatan Komunikasi yang EfektifJUDUL
Persentase pelaksanaan Read Back, Write Back oleh penerima instruksi dan ditandatangani (Sign Here) Oleh Pemberi Instruksi Dalam Waktu 1 x 24 Jam.TUJUAN
Tergambarnya proses read back, write back sampai ditandatangani oleh Pemberi InstruksiDEFINISI
OPERASIONA
L
Prosedur Read back adalah kegiatan untuk memastikan setiap intruksi verbal agar dilakukan dengan benar dan sesuai instruksi, melalui kegiatan membacakan kembali instruksi; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dengan dibaca ulang dan/atau dengan ejaan huruf alfabet instruksi obat sound a like. Kegiatan dilanjutkan dengan memberikan stempel Read back pada catatan instruksi dan pemberi instruksi harus segera menandatangi instruksi (sign here) tersebut paling lambat dalam 1 x 24 jam Pemberi instruksi adalah dokter DPJP yang memberikan instruksi melalui telephone (instruksi obat, instruksi perubahan terapi, instruksi rencana tindakan, dll).
NUMERATOR
Jumlah dokumentasi read back, write back yang ditandatangani dlm waktu 1 X 24 jam sejak instruksiDENOMINATO
R
Jumlah seluruh read back, write back instruksi verbal yang terdokumentasi
FORMULA
Jml read back, write back yang ditandatangani dlm waktu 1X24 jam sejak instruksi X 100 Jumlah seluruh read back instruksi verbal yang terdokumentasiSTANDAR
Pelaksanaan read back, write back & sign here 100% ,KRITERIA
INKLUSI
Seluruh instruksi verbal yang terdokumentasi
KRITERIA
EKSKLUSI
-PENCATATAN
Pengambilan sample dapat dilakukan dengan teknik random sampling atau purposive sampling dengan data dokumentasi retrospektif ketika ada kegiatan instruksi verbal yang memerlukanread back. Monitoring dilakukan oleh kepala ruangan (dilakukan dengan cross monitoring jika
memungkinkan)
REKAPITULA
SI UNIT
Setiap bulan dilakukan oleh Kepala Ruangan di Instalasi Rawat Inap
ANALISA &
PELAPORAN
Setiap bulan dilakukan oleh Kepala Instalasi Rawat Inap
AREA
Instalasi Rawat InapPIC
Kepala Instalasi Rawat InapFORMAT
PENCATATAN
NO T A N G G A L RUANGA N DPJP JUMLAH INSTRUKSI VERBAL YANG TERIDENTIFIKASIJUMLAH INSTRUKSI VERBAL YANG TELAH DI READ BACK, WRITE BACK & SIGN HERE DENGAN TEPAT DAN BENAR
% PENCAPAIAN
1 2
3
4
5
6
7
1 2 3 4 5 6 7 dst VALIDASI :STANDAR
PMKP 3. IPSG.3 ; Meningkatkan Keamanan Obat-Obatan yang harus DiwaspadaiJUDUL
Insiden kesalahan pemberian obat high alertTUJUAN
Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasienDEFINISI
OPERASIONAL
Insiden kesalahan pemberian obat high alert yang dimaksud adalah ketidaktepatan pemberian obat high alert dan tidak sesuai dengan standar prosedur yang ditetapkan rumah sakit dengan memperhatikan prinsip keselamatan pasien.
Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high alert medication) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan serius (sentinel event) dan obat yang beresiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse event)
Yang termasuk obat high alert adalah sebagai berikut : A. Heparin injeksi B. Kontras radiologi C. Insulin injeksi D. Dextrose 40% E. KCL 7.64% F. NaCl 3% G. Natrium Bicarbonat H. Ca. Gluconas
ALASAN DAN
IMPLIKASI
Kesalahan pemberian obat High Alert sangat fatal akibatnya terhadap pasien, dapat mengakibatkan terjadinya kematian (sentinel event) maupun Kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD)
NUMERATOR
Jumlah insiden kesalahan prosedur pemberian obat high alertDENOMINATOR
Jumlah seluruh prosedur pemberian obat high alert yang dilaksanakanFORMULA
Jumlah insiden kesalahan prosedur pemberian obat high alertSTANDAR
0 kejadianKRITERIA
INKLUSI
Seluruh prosedur pemberian obat high alert yang dilaksanakan
KRITERIA
EKSKLUSI
-PENCATATAN
Pengambilan data dapat dilakukan dengan laporan retrospektif dari setiap unit pelayanan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi, atau juga dapat berdasarkan keluhan / complaint pelanggan.REKAPITULASI
UNIT
Setiap bulan dilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi
ANALISA &
PELAPORAN
Setiap bulan dilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi
AREA
Semua Unit PelayananPIC
Ketua Panitia KP-RSFORMAT
PENCATATAN
N O TANGGAL KEJADIA N KESALAH AN UNIT LOKASI KEJADIAN NAMA OBAT HIGH ALERT YG SALAH DIBERIKANPENYEBAB KESALAHAN TINDAK LANJUT KET
1
2
3
4
5
6
7
1 2 3 4 dst Verifikasi :STANDAR
PMPK 3. IPSG 4; Memastikan Lokasi Pembedahan Yang Benar, Prosedur Yang Benar, Pembedahan pada Pasien yang BenarJUDUL
Insiden operasi salah sisi, salah orang, salah prosedur operasiTUJUAN
Tergambarnya kepedulian dan ketelitian kamar bedah terhadap keselamatan pasienDEFINISI
OPERASIONAL
Kejadian operasi salah sisi adalah kejadian dimana pasien dioperasi pada sisi yang salah, misalnya yang semestinya dioperasi pada sisi kanan, ternyata yang dilakukan operasi adalah pada sisi kiri atau sebaliknya.
Kejadian operasi salah orang adalah kejadian dimana pasien dioperasi pada orang yang salah. Kejadian salah prosedur pada operasi adalah kejadian pasien mengalami tindakan operasi yang tidak sesuai dengan tindakan yang seharusnya dilakukan.
Insiden ini dapat dicegah dengan melaksanakn prosedur time out. Prosedur time out adalah suatu prosedur yang dilakukan sebelum melakukan pembedahan/incisi untuk melakukanverifikasi praoperatif meliputi memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar, dilakukan di tempat dimana tindakan akan dilakukan tepat sebelum tindakan dimulai dan melibatkan seluruh anggota tim operasi.
ALASAN DAN
IMPLIKASI
Tindakan operasi merupakan suatu tahapan pelayanan di rumah sakit yang membutuhkan tingkat ketelitian, kecermatan yang tinggi dan persiapan yang menyeluruh, oleh karena tindakan operasi merupakan tindakan risiko tinggi (high risk) terhadap keselamatan pasien.
NUMERATOR
Jumlah insiden salah sisi, salah orang, salah prosedur operasiDENOMINATOR
Jumlah seluruh tindakan operasiFORMULA
Jumlah insiden salah sisi, salah orang, salah prosedur operasi X 100 Jumlah seluruh tindakan operasiSTANDAR
0 %KRITERIA
INKLUSI
Seluruh tindakan operasi
KRITERIA
EKSKLUSI
-PENCATATAN
Pencatatan register pasca bedah dilakukan setiap hari di ruang pulih (Recovery Room).Dilakukan setiap ada sentinel event dengan total sampling ketika ada insiden salah sisi, salah orang, salah prosedur operasi, dilakukan oleh patient safety officer di kamar bedah setiap bulan.
REKAPITULASI
UNIT
Setiap bulan, oleh patient safety officer
ANALISA &
PELAPORAN
Setiap bulan, oleh kepala ruangan Kamar Bedah Instalasi Bedah Sentral (IBS)
AREA
Instalasi Bedah Sentral (IBS)PIC
Ka. Instalasi Bedah SentralFORMAT
PENCATATAN
Register kamar bedah (elemen kolom dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan)
N O T A N G G A L NAMA PASIE N NO RM TINDAKAN OPERASI PROSEDUR TIME OUT CEK DOKUMEN (ya/tidak) SALAH SISI (ya/tidak) SALAH ORANG (ya/tidak) SALAH PROSEDUR (ya/tidak) KE T1 2
3
4
5
6
7
1 2 3 dst Verifikasi :STANDAR
PMPK 3. IPSG 5; Mengurangi Risiko Infeksi Akibat Perawatan KesehatanJUDUL
Persentase kepatuhan petugas kesehatan dalam melakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momenTUJUAN
Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasienDEFINISI
OPERASIONA
L
Kepatuhan cuci tangan adalah ketaatan petugas dalam melakukan prosedur cuci tangan dengan menggunakan metode 6 lanngkah dan lima momen. Lima momen yang dimaksud adalah : 1. Sebelum kontak dengan pasien
2. Sebelum melaksanakan tindakan aseptic 3. Setelh kontak dengan pasien
4. Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien
5. Setelah kontak dengan alat dan lingkungan sekitaar pasien
ALASAN DAN
IMPLIKASI
Kepatuhan petugas kesehatan dalam melakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen adalah cara yang paling efisien dan efektif untuk mencegah infeksi nosokomial, sehingga berdampak positif terhadap proses penyembuhan penyakit dan merupakan upaya positif dalam program keselamatan pasien
NUMERATOR
Jumlah kegiatan petugas yang dilakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momenDENOMINATO
R
Jumlah seluruh kegiatan petugas yang seharusnya dilakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen
FORMULA
Jumlah kegiatan petugas yang dilakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen (kali) : Jumlah seluruh kegiatan petugas yang seharusnya dilakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen (kali) x 100% =___%STANDAR
Minimal 60%KRITERIA
INKLUSI
Seluruh tenaga kesehatan yang langsung terlibat dalam pelayanan pasien
KRITERIA
EKSKLUSI
-PENCATATAN
Hanya bisa surveilans (observasi langsung) dengan purposive sampling ketika ada kegiatan yang seharusnya dilakukan kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima momen. Dilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi (dilakukan dengan cross monitoring jika memungkinkan) setiap hari Senin pk. 08.00 – 10.00 WITA.REKAPITULA
SI UNIT
Setiap bulandilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi
ANALISA &
PELAPORAN
Setiap bulandilakukan oleh kepala unit/ ruangan/ instalasi
AREA
Semua unit pelayananPIC
Ketua Panitia KP-RSFORMAT
PENCATATAN
Checklist dan format observasi kebersihan tangan dengan metode enam langkah dan lima
momen sesuai format PPI-RS
FORMAT
PENCATATAN
NO T A N G G A LUNIT PETUGAS YANGNAMA DIMONITORING AKTIFITAS PETUGAS YG DIMONITORING % KEPATUHAN CUCI TANGAN PADA 5 MOMENT % KEPATUHAN 6 LANGKAH CUCI TANGAN (YA / TDK) RERATA % PENCAPAIAN PETUGAS MONITORING KET
1 2
3
4
5
6
7
1 2 3 dst Verifikasi :STANDAR
PMPK 3. IPSG 6; Mengurangi Risiko Cedera Pasien Akibat TerjatuhJUDUL
Insiden pasien jatuh selama perawatan rawat inap di rumah sakitTUJUAN
Kejadian pasien jatuh yang terjadi selama dirawat di rumah sakit dapat menyebabkan konsekuensi yang serius dan bahkan mengancam keselamatan banyak pasien.DEFINISI
OPERASIONA
L
Pasien jatuh adalah pasien yang mengalami insiden secara cepat dan tiba-tiba berpindah posisi dari tempat tidur ke lantai sampai setengah atau lebih bagian tubuh berada di lantai, sehingga memungkinkan pasien mengalami cedera ringan sampai berat atau tidak menimbulkan cedera.
ALASAN DAN
IMPLIKASI
Perawat bertanggung jawab dalam mengidentifikasi pasien yang beresiko jatuh dan membuat suatu rencana perawatan untuk meminimalkan resiko. Salah satu upaya untuk mengurangi resiko pasien jatuh adalah dengan menempatkan perawat profesional pada bangsal-bangsal tempat perawatan pasien.
NUMERATOR
Jumlah pasien jatuh selama 1 bulan kalenderENOMINATOR
-FORMULA
Jumlah pasien jatuh selama 1 bulan kalender (orang) X 100 Jumlah pasien yang dirawat dalam 1 bulan kalenderSTANDAR
0 %KRITERIA
INKLUSI
Pasien jatuh yang terjadi saat berada di unit perawatan
Klasifikasi Perlukaan;
o None – pasien tidak mengalami perlukaan
o Minor – menyebabkan perawatan luka, pembersihan luka, penggunaan obat
topical, memar atau lecet
o Moderate – menyebabkan luka robek yang perlu dijahit, splinting, dan
keseleo pada sendi atau otot
o Major – menyebabkan pembedahan, insisi, traksi, terjadi patah tulang, atau
membutuhkan konsultasi untuk neurological atau luka internal o Death – pasien meninggal karena luka akibat jatuh
o UTD – ’Unable to Determine’ Tidak dapat ditentukan dari dokumentasi yang
ada
KRITERIA
EKSKLUSI
Kejadian jatuh oleh: Pengunjung, Siswa, Staf rumah sakit, Pasien saat sedang tidak berada pada unit perawatan pasien tersebut (mis. Pasien jatuh di unit radiologi), Pasien yang jatuh dengan kategori level luka 1 ’none’
PENCATATAN
Setiap ada insiden dengan pelaporan IKP-RS yang dapat dicatat berdasarkan format pelaporan yang ditetapkan rumah sakitREKAPITULA
SI UNIT
Setiap bulan, oleh Kepala Ruangan Rawat Inap
ANALISA &
PELAPORAN
Setiap bulan, oleh Kepala Instalasi Rawat Inap
AREA
Ruang Rawat InapPIC
Ketua Panitia KP-RSFORMAT
PENCATATAN
Khusus Pasien Jatuh
NO T A N G G A L M R S NAMA PASIEN / UMUR NO.
RM INSIDEN PASIEN JATUHTANGGAL / JAM PERLUKAAANKLASIFIKASI TINDAKLANJUT
PELAPORAN Insiden KPRS (ya/tidak) KET