• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISASI RAGI KOPI LUWAK BERMEDIA TEPUNG BERAS DANTEPUNG KULIT BUAH KOPI ROBUSTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KARAKTERISASI RAGI KOPI LUWAK BERMEDIA TEPUNG BERAS DANTEPUNG KULIT BUAH KOPI ROBUSTA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL APTA, Jember 26-27 Oktober 2016

KARAKTERISASI RAGI KOPI LUWAK BERMEDIA

TEPUNG BERAS DANTEPUNG KULIT BUAH KOPI

ROBUSTA

Mukhammad Fauzi

(1*)

, Giyarto

(2)

, Endang Jumiyanti

(3)

1,2)Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember 3)Mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jember

Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Bumi Tegalboto, Jember, Kode Pos 68121, Indonesia

*Email: [email protected]

ABSTRAK

Kopi merupakan salah satu bahan hasil pertanian yang sangat popular di Indonesia. Salah satu jenis kopi yang memiliki nilai jual lebih tinggi adalah kopi luwak. Kopi luwak merupakan kopi yang dimakan binatang luwak dan mengalami fermentasi spontan dalam perut luwak. Produksi kopi yang memiliki flavor mirip dengan kopi luwak telah dilakukan dengan memproduksi ragi kopi luwak berkultur tunggal. Namun proses tersebut kurang aplikatif untuk petani rakyat. Pembuatan ragi dengan bahan lebih terjagakau dan cara lebih sederhana perlu dilakukan untuk petani rakyat. Produksi ragi dengan memanfaatkan kulit buah kopi sebagai media tumbuh dan bahan dasar diharapkan akan lebih aplikatif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proporsi campuran antara tepung beras dan tepung kulit buah kopi pada pembuatan ragi kopi luwak. Selain itu juga untuk menentukan viabilitas dan daya fermentasi ragi. Penelitian ini dilakukan dengan cara mempoduksi ragi dengan bahan dasar tepung beras : tepung kulit buah kopi (100%, 80% : 20%, 60% : 40%, 40% : 60% ). Selanjutnya ragi dianalisa jumlah mikroflora, Kadar air, Daya fermentasi glukosa, total asam tertitrasi, nilai pH. Hasil dari penelitian ini menunjukan ragi dengantepung beras 100% memiliki jumlah mikroflora tertinggi 7,04 Log MPN/g, kadar air tertinggi 7,69% daya fermentasi tertinggi 229,19 mg/g.jam, nilai total asam tertitrasi paling tinggi 2,471 mg/g ragi.jam, dan nilai pH terendah 4,83

Kata Kunci : Kopi Luwak, Ragi, Tepug Beras, Tepung Kulit Kopi PENDAHULUAN

Kopi merupakan salah satu bahan hasil pertanian yang sangat popular di Indonesia. kopi juga memiliki nilai jual tinggi. Salah satu jenis produk olahan kopi yang memiliki nilai jual tinggi yakni kopi luwak. Kopi luwak merupakan kopi yang diperoleh dari biji kopi yang telah dimakan dan mengalami fermentasi spontan di dalam perut luwak (Paradoxurus hermaphroditus), yang nantinya keluar bersama feses. Di dalam perut luwak terdapat mikroflora yang dapat memfermentasi biji kopi. Isolasi dan identifikasi mikroflora feses segar luwak sebelumnya telah dilakukan oleh Aisa (2008) dan ditemukan 5 spesies dominan Bakteri Asam Laktat (BAL) yaitu Lactobacillus plantarum, L. brevis, Leuconostoc paramesenteroids, L. mesenteroides, dan Streptococcus faecium.

Kelompok bakteri tersebut dapat digunakan untuk mebuat ragi yang nantinya digunakan untuk memproduksi kopi luwak secara in vitro. Hasil penelitian Arisusanti (2010) dan Megawati (2010) menyatakan ragi kopi luwak dapat diproduksi menggunakan berbagai bahan pengisi seperti tepung beras, tapioka, dan maizena. Lebih lanjut Arisusanti (2010). Produksi ragi kopi luwak tersebut belum bisa diimplementasikan pada petani karena ragi hanya berkultur tunggal dan masih berskala laboratorium. Upaya untuk meningatkan implementasi teah dilakukan oleh Putra (2013) yaitu pembuatan starter mikroflora feses luwak segar menggunakan media cair (MRS Broth). Namun media ini

mahal sehingga tidak terjangkau apabila diimplementasikan pada petani.

Inokulasi feses luwak diharapkan yang tumbuh adalah Bakteri Asam Laktat. Nutrsi yang dibutuhkan oleh BAL adalah karbohidrat dimana pada saat pfermentasi BAL akan memecah gula menjadi asam laktat. Bahan – bahan untuk pembuatan starter dapat menggunakan ekstrak kulit buah kopi robusta, dan pembuatan ragi dapat menggunakan tepung beras dan tepung kulit buah kopi robusta. Bahan – bahan tersebut merupakan bahan yang mengandung gula.

Oleh karena informasi terkait penggunaan tepung kulit buah kopi robusta sebagai bahan pengisi ragi belum ada laporan penelitian sehingga perlu dilakukan kajian dengan memanfaatkan kulit buah kopi sebagai tepung untuk bahan pengisi ragi.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proporsi campuran antara tepung beras dan tepung kulit buah kopi pada pembuatan ragi kopi luwak. Selain itu juga untuk menentukan viabilitas dan daya fermentasi ragi mikroflora feses luwak dengan tepung beras dan tepung kulit buah kopi robusta

BAHAN DAN METODE

Peralatan yang digunakan autoklaf, bunsen, neraca analitik, tabung reaksi, jarum ose, inkubator, erlenmeyer, beaker glass, gelas ukur, botol semprot, pipet tetes, spatula, pH meter, aluminium foil, botol timbang, eksikator,

(2)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL APTA, Jember 26-27 Oktober 2016 mikropipet, blue tip, ayakan 60 mesh, oven, blender,

gluco-dr , laminair air flow.

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah feses luwak, tepung beras, kulit buah kopi yang diperoleh dari kecamatan Silo, aquadest, media MRSB (deMann Rogosa Sharpe Broth), gula, urea, glukosa, indikator fenolftalein, NaOH, dan larutan buffer.

Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Kopi

Kulit buah kopi robusta segar di blanching menggunakan uap selama 5-10 menit dengan suhu 100oC. Kemudian dilanjutkan pengecilan ukuran hingga diperoleh bubur (puree). Bubur (puree) kulit kopi robusta segar diekstrak secara bertingkat dengan menambahkan aquadest dengan perbandingan (kulit buah kopi : aquadest) 1:4 untuk 2 kali ekstraksi, kemudian dilakukan penyaringan sehingga dihasilkan filtrate kulit buah kopi. Filtrate yang dihasilkan kemudian dilakukan sterilisasi pada suhu 121oC selama 15 menit dan akhirnya dihasilkan ekstrak kulit buah kopi cair yang steril.

Pembuatan Inokulum Cair

Satu ose feses luwak diinokulasi ke dalam media MRS Broth 10 ml dan diinkubasi pada suhu 37o-39oC selama 24-48 jam untuk memperoleh kultur awal. Kultur awal selanjutnya diinokulasi pada media steril terpilih (media steril yang terdiri dari ekstrak kulit buah kopi cair dan gula) yang telah dibagi menjadi dua bagian yaitu 10% dan 90%. Kultur awal yang telah diinokulasi pada media steril terpilih (10%) selanjutnya diinkubasi pada suhu 37o-39oC selama 24-48 jam. Hasil kultur diinokulasi pada media steril terpilih (90 %) dan diinkubasi pada suhu 37o-39oC selama 24-48 jam sehingga diperoleh inokulum untuk ragi kering.

Pembuatan Tepung Kulit Buah Kopi

Kulit buah kopi kering yang telah diperoleh dipersiapkan dan dilakukan pengecilan ukuran menggunakan blender. Kemudian dilakukan pengayakan menggunakan ayakan 60 mesh.

Pembuatan Ragi Kopi Luwak

Bahan pengisi yang dipersiapkan 30 gram (Tepung Beras dan Tepung Kulit Buah Kopi) dikemas dalam aluminium foil kemudian dimasukan dalam beaker glass dan ditutup aluminium foil untuk disterilisasi. Bahan pengisi dimasukan ke dalam kantong plastik steril. 13 ml inokulum dari mikroflora feses luwak dipersiapkan dan dituangkan kedalam kantong plastik yang telah berisi masing – masing bahan pengisi dan dilakukan pencampuran hingga homogen dengan cara melumat – lumat adonan dari sisi luar. Adonan yang telah siap diinkubasi selama 48 jam dengan cara membuka plastik dan meletakan pada inkubator. Adonan yang telah dinkubasi dilakukan pengeringan menggunakan oven dengan suhu 45oC selama 48 jam. Ragi yang telah kering dilakukan penumbukan untuk memperoleh bubuk ragi kering.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan menggunakan faktor tunggal dilakukan 5 kali pengulangan. Adapun perlakuan pembuatan ragi (A) menggunakan 100% tepung beras, B(80% tepung beras : 20% tepung kulit kopi), C (60% tepung beras : 40% tepung kulit kopi), D (40% tepung beras

:60% tepung kulit kopi). Selanjutnya data yang diperoleh akan dianalisa secara deskriptif.

Parameter pengamatan yang digunakan pada penelitian ini adalah Uji Viabilitas meliputi jumlah mikroflora (MPN), kadar air ragi. Uji daya Fermentasi dilakukan dengan melarutkan 0,1 gram ragi kedalam 10 ml larutan glukosa, lalu difermentasi selama 12 jam, kemudian dianalisis nilai pH, daya fermentasi glukosa, total asam tertitrasi yang dihitung menggunakan rumus :

Daya Fermentasi (mg/g).jam =

Total asam tertitrasi : Total Asam (mg/g).jam =

HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Viabilitas

Perhitungan Jumlah Mikroflora Ragi Kopi Luwak Jumlah mikroflora dari hasil pengamatan ragi dengan bahan 100 % tepung beras sebanyak 7,04 log MPN/g, bahan 80% tepung beras 20% tepung kulit buah kopi sebanyak 5,19 log MPN/g, bahan 60% tepung beras 40% tepung kulit buah kopi sebanyak 4,79 logMPN/g, sedangkan pada bahan 40% tepung beras 60% tepung kulit buah kopi memiliki jumlah sebanyak 4,74 log MPN/g. Hal ini diduga ragi yang menggunakan bahan 100% tepung beras mampu memenuhi kebutuhan dan nutrisi mikroflora feses luwak yang tumbuh. Jumlah mikroflora dalam ragi dapat dilihat pada Gambar 1

Gambar 1. Jumlah mikroflora dalam ragi dengan bahan tepung beras dan tepung kulit buah kopi Keterangan :

A T.Beras 100%

B T.Beras 80%, T.Kulit Kopi 20% C T.Beras 60%, T.Kulit Kopi 40% D T.Beras 40%, T.Kulit Kopi 60%

Terlihat dari Gambar 1 jumlah mikroflora dari feses luwak lebih banyak tumbuh pada ragi yang menggunakan bahan dasar tepung beras tanpa campuran dari tepung kulit buah kopi robusta. Hal tersebut dikarenakan tebung beras lebih banyak mengandung karbohidrat yang dapat menutrisi bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat merupakan kelompok spesies bakteri yang mempunyai kemampuan untuk membentuk asam laktat dari metabolisme karbohidrat

(3)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL APTA, Jember 26-27 Oktober 2016 dan tumbuh pada pH lingkungan yang rendah (Kuswanto

dan Sudarmadji, 1989). Diantara beberapa formulasi penggunaan tepung tersebut penggunaan 100% tepung beraslah yang memiliki kandungan karbohidrat paling tinggi.

Menurut penelitian sebelumnya, telah dilakukan produksi ragi kering dengan menggunakan Bakteri Asam Laktat yang lebih spesifik menunjukan bahwa penggunaan tepung beras memiliki hasil paling baik diantara penggunaan tepung lain. Penelitian yang telah dilakukan Arisusanti (2010) menunjukan bahwa Lactobacillus plantarum dapat tumbuh dengan baik pada bahan dasar pembuatan ragi berupa tepung beras. Sedangkan penelitian yang dilakukan (Megawati) 2010 menunjukan bahwa

Leuconostoc mesenteroides dan Leuconostoc

Paramesenteroides dapat tumbuh dengan baik pada bahan dsar pembuatan ragi berupa tepung beras.

Penggunaan formulasi lain dengan menambahkan tepung kulit buah kopi robusta ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bakteri asam laktat. Menurut Yussianto (1999) kandungan gula dari daging buah kopi yang sudah matang (fully ripe) adalah 9,46%. Lebih lanjut menurut Elias (1979) kulit buah (pulpa) kopi kering terdiri dari 12,6% air, 21% serat kasar, 8,3% abu dan 12,4 gula pereduksi. Kandungan gula pada kulit buah kopi tersebut masih rendah jika dibanding dengan tepung beras sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan nutrisi bakteri asam laktat. Kadar Air Ragi Kopi Luwak

Hasil analisis kadar air ragi kopi luwak berkisar antara 7,69% - 7,21%. Kadar air ragi dengan bahan dasar tepung beras 100% mencapai 7,69%, ragi dengan bahan dasar tepung beras 80% dan tepung kulit kopi 20% mencapai 7,44%, kadar air ragi dengan bahan dasar tepung beras 60% dan tepung kulit kopi 40% mencapai 7,30%, dan kadar air ragi dengan bahan dasar tepung beras 40% dan tepung kulit kopi 60% mencapai 7,21%. Kadar air ragi berbahan dasar tepung beras dan tepung kulit buah kopi robusta dapat dilihat pada Gambar.2

Gambar 2. Kadar air ragi kopi luwak bermedia tepung beras

dan tepung kulit buah kopi robusta.

Keterangan :

A T.Beras 100%

B T.Beras 80%, T.Kulit Kopi 20% C T.Beras 60%, T.Kulit Kopi 40% D T.Beras 40%, T.Kulit Kopi 60%

Hasil yang diperoleh dari Gambar 2 menunjukan bahwa semakin banyak tepung kulit buah kopi robusta yang digunakan maka kadar air pada ragi juga semakin menurun. Hal ini disebabkan karena kadar air pada tepung beras lebih tinggi dibandingkan dengan kadar air pada kulit kopi. Selain itu kadar air ragi dengan penambahan tepung kulit buah kopi menjadi semakin rendah karena tepung kulit buah kopi mengandung serat yang mempunyai kemampuan cepat menyerap air dan cepat melepaskan air. Hal ini dperjelas dengan pernyataan Auliana (1999) yang menyatakan sifat fisik dominan pada serat yaitu tingginya nilai penyerapan air (NPA) dan nilai kelarutan air (NKA) yang sejalan dengan sifat instan yaitu meningkatnya kelarutan dan penyerapan yang disebabkan oleh rendahnya karbohidrat.

Analisa Daya Fermentasi Ragi

Analisa daya fermentasi pada ragi dilakukan dengan cara memfermentasi 10 ml larutan glukosa 3% (b/v) dengan 0,1 gram ragi. Fermentasi dilakukan selama 12 jam. Setelah itu dilakukan pengukuran daya fermentasi gula, total asam yang dihasilkan dan nilai pH.

Daya Fermentasi Glukosa

Daya fermentasi tertinggi terdapat pada ragi dengan bahan dasar tepung beras 100% yakni 229,19 mg/g.jam. Selanjutnya pada ragi dengan formulasi bahan dasar tepung beras 80% dan tepung kulit kopi 20% adalah 226,58 mg/g.jam. Ragi dengan bahan dasar tepung beras 60% dan tepung kulit kopi 40% adalah 225,80 mg/g.jam. Sedangkan daya fermentasi terendah terdapat pada ragi dengan bahan dasar tepung beras 40% dan tepung kulit kopi 60% yakni 224,30 mg/g.jam. Daya fermentasi gula dari ragi kopi luwak dapat dilihatpada Gambar 3

Gambar 3. Daya fermentasi gula dari ragi kopi luwak Keterangan :

A T.Beras 100%

B T.Beras 80%, T.Kulit Kopi 20% C T.Beras 60%, T.Kulit Kopi 40% D T.Beras 40%, T.Kulit Kopi 60% Total Asam

Ragi kopi luwak yang menggunakan tepung beras 100% setelah digunakan untuk memfermentasi larutan glukosa menghasilkan asam tertitasi 2,471 mg/g ragi.jam. Ragi dengan tepung beras 80% tepung kulit kopi 20% menghasilkan asam tertitrasi 1,915 mg/g ragi.jam. Ragi yang menggunakan tepung beras 60% tepung kulit kopi 40% menghasilkan asam tertitrasi 1,441 mg/g ragi.jam. Ragi dengan formulasi lebih banyak tepung kulit kopi yakni

(4)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL APTA, Jember 26-27 Oktober 2016 tepung beras 40% tepung kulit kopi 60% menghasilkan total

asam tertitrasi lebih sedikit yakni 1,133 mg/g ragi.jam. Dari hasil yang diperoleh menunjukan Tingginya total asam tertitrasi yang dihasilkan oleh ragi bermedia tepung beras 100% ini dipengaruhi oleh jumlah mikroflora pada ragi, dimana mikroflora yang tumbuh tersebut diasumsikan adalah BAL. Selama proses fermentasi , BAL mengubah glukosa menjadi asam laktat melalui Embden Meyerholff Pathway (EMP). Berbagai monosakarida dimetabolisme oleh bakteri asam laktat menjadi glucose-6-phospate atau fructose-6-phosphate dan kemudian terjadi metabolisme melalui jalum Embden Meyerhoff Parnas (EMP) yang pada akhirnya dihasilkan asam laktat (surono, 2004). Hasil dari total asam tertitrasi pada ragi kopi luwak dapat dilihat pada Gambar 4

Gambar 4. Total asam tertitrasi ragi kopi luwak Keterangan :

A T.Beras 100%

B T.Beras 80%, T.Kulit Kopi 20% C T.Beras 60%, T.Kulit Kopi 40% D T.Beras 40%, T.Kulit Kopi 60%

Nilai pH

Pengukuran nilai pH dari larutan yang telah difermentasi menggunakan ragi kopi luwak ini, sebagai salah satu parameter untuk mengetahui seberapa kemampuan ragi dalam memfermentasi larutan. Larutan glukosa yang telah difermentasi memiliki nilai pH dari 4,83 hingga 5,76. Larutan glukosa yang difermentasi menggunakan ragi berbahan dasar tepung beras 100% memiliki nilai pH 4,83. Penggunaan tepung beras 80% dan tepung kulit buah kopi 20% memiliki nilai pH 5,33. Penggunaan tepung beras 60% dan tepung kulit buah kopi 40% memiliki nilai pH 5,56. Penggunaan tepung beras 40% dan tepung kulit buah kopi 60% memiliki nilai pH 5,76. Nilai pH pada larutan glukosa yang telah difermentasi dapat dilihat pada Gambar 5

Gambar 5. nilai pH larutan gula yang tela difermentasi menggunakan ragi kopi luwak

Keterangan : A T.Beras 100%

B T.Beras 80%, T.Kulit Kopi 20% C T.Beras 60%, T.Kulit Kopi 40% D T.Beras 40%, T.Kulit Kopi 60%

Nilai pH dari larutan glukosa yang telah difermentasi tersebut berhubungan dengan daya fermentasi dan total asam yang dihasilkan. Ragi yang memiliki jumlah mikroflora lebih banyak mampu memecah glukosa dan menghasilkan produk metabolit yakni asam laktat lebih banyak pula. Total asam yang dihasilkan mempengaruhi nilai pH pada larutan glukosa, semakin tinggi total asam yang dihasilkan maka nilai pH larutan gluksa semakin menurun. Menurut Charalampopoulus et al. (2002) akumulasi asam yang dihasilkan melalui metabolisme bakteri asam laktat dapat menurunkan pH medium. Meskipun akumulasi asam yang dihasilkan bakteri asam laktat dapat menurunkan pH tapi penurunan pH tidak selalu sesuai dengan banyaknya akumulasi asam. Anafia (1997) menyatakan bahwa penurunan pH merupakan salah satu akibat proses fermentasi yang terjadi karena adanya akumulasi asam laktat sebagai produk utama dari aktivitas bakteri yang bersifat homofermentatif.

KESIMPULAN

Hasil penelitian ragi berbahan dasar tepung beras 100% menunjukan data lebih baik dari pada bahan dasar yang menggunakan campuran tepung kulit buah kopi robusta untuk pembuatan ragi kopi luwak yang memiliki viabilitas, daya fermentasi dan total asam paling tinggi. Ragi berbahan dasar tepung beras 100% memiliki jumlah mikroflora tertinggi yakni 7,04 log MPN/g nilai kadar air yang sesuai dengan SNI yakni tidak lebih dari 8%. Daya fermentasi tertinggi yakni 229,19 mg/g.jam. Memiliki total asam tertitrasi tertinggi 2,471 mg/g nilai pH rendah 4,83.

DAFTAR PUSTAKA

Aisa, F.N. 2008. ―Isolasi Karakterisasi BAL dari Feses Kopi Luwak‖. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember Anonim. 2008 dalam Simbolon, K. 2008. ―Pengaruh

Presentase Ragi Tape dan Lama Fermentasi Terhadap Mutu Tape Ubi Jalar‖. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatra Utara

(5)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL APTA, Jember 26-27 Oktober 2016 AOAC International. 2000. Official Methods of Analysis of

AOAC International, Gaitherburg, USA.

Apriantono, A., D. Fardiaz, N.L. Puspitasari, Sedarnawati, dan S. Budiyanto. 1989. ―Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan”. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.

Cunningham, F.E. and N.A Cox. 1987. ―The Microbiology of Poultry Meat Product”. Sandiego California: Academic Press Inc.

Marcone, M. F. (2004). Composition and properties of Indonesian palm civet coffee (kopi luwak) and Ethiopian civet coffee. Food Research International, 37, 901—902.

Megawati. 2010. ―Produksi Ragi Kopi Kultur Tunggal: Leuconostoc Mesenteroides dan L. Paramesenteroides dari Isolat Bakteri Asam Laktat (BAL) Kopi Luwak‖. Skripsi. Jember: Universitas Jember.

Mulato, S., Widyotomo, S., dan Suharyanto, S. 2010. ―Teknologi Proses dan Pengolahan Primer dan Sekunder Kop”i. Jember: Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

Nandha, D.M.P, 2013. ―Karakteristik Biji Kopi Robusta Terfermentasi Oleh Mikroflora Feses Luwak‖, Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember

Sudarmadji, S., B. Haryono, dan Suhardi. 1984. ―Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian”. Yogyakarta: Liberty

Susanto, T. dan B. Saneto, 1994. ―Teknologi Pengolahan Hasil pertanian”. Bina Ilmu, Surabaya

Syafitri, A. 2010. ―Produksi Ragi Kultur Tunggal : Lactobacillus plantarum Dan Lactobacillus brevis dari Isolat Bakteri Asam Laktat (BAL) Biji Kopi Luwak‖. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember

US.Wheat Assosiates, 2008. ―Pedoman Pembuatan Roti dan Kue”. Jakarta: Djambatan

Winarno, FG., 1986. ―Kimia Pangan”. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Charalampopoulos, D., S. S. Pandiella, and C. Webb. 2002. Growth Studies of Potentially Probiotic Lactic Acid Bacteria In Cereal – Based Substrates. Journal of Applied Microbiology. Vol.92. p 851 – 859 Anafia, R. B. 1997. Pengaruh Penambahan Susu Skim dan

Lama Fermentasi Terhadap Resiko Kimia dan Organoleptik Yoghurt Biji Kecipir. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Unika Widya Karya. Malang

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Surono, I. S, 2004. Probiotik Susu Fermentasi dan Kesehatan. YAPMMI.TRICK. Jakarta. p. 31-3

Tamime, A.Y. and V. M. E. Marshall, 1999. Microbiology and Tecnology of

Fermented Milks. In Microbiology and Biochemistry of

Cheese and Fermented Milk. Eds. B. A. Law. Blackie. Acad. Prof. London

Gambar

Gambar 1. Jumlah mikroflora dalam ragi dengan bahan  tepung beras dan tepung kulit buah kopi  Keterangan :
Gambar 2. Kadar air ragi kopi luwak bermedia tepung beras  dan tepung kulit buah kopi robusta
Gambar 4. Total asam tertitrasi ragi kopi luwak  Keterangan :

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian diperoleh R-square 0,98 hal ini mengidentifikasikan bahwa secara simultan (serempak) ada pengaruh yang nyata antara modal, tenaga kerja, pengalaman,

8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menyatakan bahwa konsumen memiliki hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa

Dan di MTs N Sooko Mojokerto didapatkan nilai Fhitung sebesar 655.544 (signifikansi F= 0,000), maka Hipotesis Nol (H0) ditolak dan Hipotesis Kerja (H1) diterima,

Hal ini berbeda dengan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang merumuskan konsep desentralisasi sebagai “pelimpahan wewenang, dimana dalam ketentuan Pasal 1 angka (7)

Cara yang tepat dalam pemberantasan penyakit DBD adalah melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yaitu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam membasmi jentik

  Proses  penyusunan  program  KKG  Gugus  Pati  Unus  Kecamatan  Karangrayung  Kabupaten  Grobogan  dilakukan  berdasarkan  Pedoman  KKG  Bermutu.  Dalam 

Masyarakat masih memandang sebelah mata tentang kesehatan ibu, padahal wanita sebagai ibu dan calon ibu memegang peranan penting dalam keluarga dan masyarakat karena

Untuk mencetak laporan rekap gaji, pengguna sistem dapat memilih menu laporan rekap gaji, maka akan mucul layar di atas, kemudian pengguna dapat memilih periode yang