• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V KESIMPULAN DAN SARAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

149 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Data permuseuman di Indonesia dan hasil wawancara dengan narasumber dari museum-museum rekanan menunjukkan beberapa permasalahan seputar promosi museum. Permuseuman di Indonesia tak luput dari stigma kuno, statis, dan membosankan. Banyak museum yang sepi pengunjung. Data tahun 2010 menyatakan jumlah kunjungan ke museum-museum di Indonesia per tahun tak mencapai separuh museum-museum-museum-museum di luar negeri. Bila jumlah pengunjung museum terus menurun, keberadaannya lambat laun dapat dilupakan oleh khalayak dan mengancam kelangsungan operasional museum yang bersangkutan.

Sedangkan kesadaran akan perlunya promosi museum di Indonesia belumlah lama. Di tahun 2009, setahun setelah program Wisata Museum diluncurkan, Direktorat Museum mengeluarkan kebijakan yang bertujuan mengajak masyarakat berkunjung ke museum dan bersama-sama mengevaluasi serta membenahi berbagai masalah dan peluang museum. Kampanye Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) dan revitalisasi museum adalah sebagian perwujudannya.

Sebelum internet marak, museum jamak memanfaatkan media promosi tercetak, menggelar berbagai acara-acara bagi khalayak, serta menjalin relasi dengan media agar museum berkesempatan tampil di media massa. Setelah infrastruktur jaringan internet di Indonesia meluas ditambah dengan himbauan dari Direktorat Museum maka banyak museum yang merambah ke promosi daring misalnya menggunakan situs web dan media jejaring sosial. Beberapa pihak yang peduli sukarela membantu dengan membuat direktori museum di Indonesia secara daring.

Museum di Indonesia terbagi ke dalam beberapa jenis, yaitu apakah termasuk museum umum atau khusus, museum nasional, provinsi, atau lokal (kotamadya/kabupaten), serta museum pemerintah dan swasta. Rekanan program Wisata Museum terdiri atas beragam jenis museum. Masing-masing memiliki permasalahan promosi yang berbeda-beda. Contoh tantangan dan kendala promosi yang dihadapi museum swasta nampak di data promosi Museum HoS dan Museum Batik Danar Hadi. Di tahun-tahun pertamanya Museum HoS (berdiri pada tahun 2003) sempat merasakan tantangan promosi, yaitu bagaimana meyakinkan khalayak luas bahwa museum HoS layak dikunjungi dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan Surabaya. Kendala promosi di museum Danar Hadi adalah fungsi promosi museum dipegang oleh bagian marcomm di perusahaan induk sehingga tak

(2)

150 memungkinkan museum untuk berpromosi atau memiliki program reguler sendiri. Banyak pihak di Danar Hadi yang tak menyadari besarnya kontribusi museum bagi perusahaan sehingga tak memahami kebutuhan promosi museum. Kendala lainnya adalah kurangnya dukungan promosi dari pemerintah kota Surakarta yang setiap tahun menanyakan bantuan promosi apa yang dibutuhkan museum Danar Hadi tetapi tak kunjung direspon.

Permasalahan promosi di museum pemerintah relatif berbeda. Museum Nasional pernah mengalami minimnya anggaran pembuatan media promosi. Kini saat Museum Nasional semakin besar secara fisik, kendala jumlah SDM menjadi tantangan operasional museum, termasuk dalam upaya promosi. Di tahun 2016 ini Museum Sejarah Jakarta menghadapi kendala penghapusan program anggaran promosi oleh Gubernur DKI. Kendala lainnya adalah rotasi staf yang notabene para pegawai negeri sipil. Sehingga tak mudah mendapatkan staf museum yang mencintai serta berbekal pengetahuan permuseuman. Museum Mandiri menghadapi dua tantangan promosi, yaitu masalah klasik berupa anggaran operasional yang terbatas serta internal perusahaan Bank Mandiri banyak yang belum tahu bahwa kantornya memiliki museum. Permasalahan berbeda dihadapi oleh Museum Geologi yang belakangan justru pengunjungnya berlebih. Serbuan tamu setiap hari memenuhi ruangan-ruangan museum dan menyulitkan proses memandu. Walaupun tak kekurangan pengunjung, Museum Geologi tetap berupaya berinovasi memperbaiki pelayanannya. Mirip dengan Museum HoS, di awal-awal museum 10 Nopember berdiri sangat sedikit yang mengetahui keberadaannya karena terletak di kompleks Monumen Tugu Pahlawan yang lebih dulu terkenal. Ditambah lagi saat itu (sekitar tahun 1998) datang ke museum terkesan hanya melihat benda usang yang sangat membosankan. Kini kendala promosi yang dirasakan adalah masalah klasik museum pemerintah, yaitu tak bebas mengolah anggaran secara mandiri sehingga idealisme promosi museum sulit terlaksana. Anggaran yang terbatas membuat museum 10 Nopember tak bisa memproduksi materi promosi sesuai jumlah kebutuhan aktual. Bagaimanapun, hasil wawancara mengindikasikan kerja keras pengelola museum-museum rekanan program Wisata Museum dalam berpromosi dengan mensiasati berbagai kendala dan tantangan.

Dari segi implementasi, hasil analisa data memberikan gambaran bagaimana Museum HoS menjalankan joint promotion berupa program Wisata Museum. Mengacu pada kriteria promosi maupun perencanaan promosi yang ideal, performa program ini baik karena sebagian besar kriteria terpenuhi. Kekurangan program terletak dari tidak adanya identifikasi dan segmentasi khalayak sasaran. Jika ini dilakukan niscaya pesan dan media promosi di program Wisata Museum dapat dikemas sesuai dengan insight khalayak sasaran. Bahkan ada

(3)

151 kemungkinan jika langkah ini telah dilakukan di awal, mungkin hasilnya akan menyarankan media promosi selain brosur dan situs web yang lebih cocok untuk menyampaikan pesan destinasi wisata kepada khalayak sasaran. Dengan kata lain program promosi ini dilandasi oleh organisation-centered mindset.

Analisa lebih detil tentang performa joint promotion di program Wisata Museum menunjukkan penyelenggaraan yang relatif baik. Program direncanakan dengan cermat sesuai dengan sebagian besar kriteria kerangka kerja joint promotion. Semua rekanan memiliki tujuan yang relatif sama dan bisa menerima latar belakang inisiator. Arus informasi akan program berjalan lancar walau cenderung hanya terjadi di antara inisiator dan masing-masing rekanan. Museum-museum rekanan merasakan dampak positif/keuntungan dari program ini. Tantangan ke depan adalah belakangan ini muncul gejala salah satu pimpinan museum rekanan kurang berkenan dengan latar belakang inisiator program dari perusahaan rokok. Untuk pengembangan program diperlukan evaluasi serta pembicaraan lebih lanjut antara pimpinan Museum HoS dengan kepala museum-museum rekanan.

Saat periode brosur program Wisata Museum bagaikan strategi jemput bola ke calon pengunjung museum dengan memberi umpan di museum A untuk berkunjung juga ke museum B. Dengan hanya satu media promosi yang sederhana, mampu “menyentil” budaya orang Indonesia, terutama Jawa, yang malu dan sungkan jika tak berbenah ketika sudah mendapat bantuan. Sedangkan di periode situs web program ini bagaikan direktori daring museum-museum di Indonesia. Informasi profil museum-museum di satu pintu berpotensi menarik pengakses untuk berwisata ke lebih dari satu museum.

Sebagai media promosi, brosur dan situs web Wisata Museum memenuhi sebagian besar kriteria media promosi destinasi wisata yang ideal dan relatif sesuai dengan konsep. Keduanya menampilkan informasi fasilitas museum-museum yang akurat, terdapat elemen-elemen yang membantu orientasi pengunjung museum-museum rekanan, serta berpenampilan atraktif. Brosur menggunakan material yang nyaman bagi penggunanya serta tampaknya diproduksi dan didistribusikan dengan efisien. Kedua media promosi dikerjakan oleh kaum profesional yaitu desainer grafis, penerjemah, fotografer, dan desainer web.

Gaya desain brosur dan rak brosur terkesan modern dan memperkuat posisi program yang mempromosikan museum-museum yang berkelas. Walaupun terlihat indah, desain berpotensi muncul resiko pemirsa menganggap kualitas semua museum rekanan serupa. Pengunjung yang terlanjur memiliki ekspektasi tinggi akibat tampilan suatu museum di brosur yang mungkin lebih indah dari aslinya bisa kecewa saat melihat kondisi sebenarnya.

(4)

152 Tampilan visual situs web Wisata Museum relatif menarik dan rapi sehingga kemungkinan besar mampu memotivasi pengakses untuk berkunjung ke museum. Namun gaya desain yang elegan seakan terkesan “mahal” dan beresiko menyurutkan tipe pengakses yang sensitif terhadap bea tiket masuk ke museum.

Situs web Wisata Museum relatif mudah digunakan. Konten situs web terorganisasir rapi dilengkapi dengan sistem navigasi yang nyaman. Tetapi analisa mengindikasikan traffic yang relatif rendah. Bahkan pernyataan-pernyataan narasumber mengindikasikan dampak program lebih terasa semasa periode brosur. Agar semakin optimal dalam mempromosikan museum-museum sebagai destinasi wisata dapat dilakukan beberapa pembenahan di situs web, yaitu pesan yang lebih kuat, yang mampu memerangi biaya psikologis calon pengunjung, untuk memotivasi lebih banyak khalayak berwisata ke museum; penambahan elemen interaktif dan audio visual agar situs web makin atraktif; serta menambah tautan dengan situs-situs lain (dengan peminatan serupa) serta dengan direktori, portal, atau situs web komunitas tertentu. Diperlukan pula promosi penunjang melalui media-media lain yang mampu menjangkau khalayak luas dan sesuai dengan kemajuan teknologi, seperti melalui media jejaring sosial atau membuat format aplikasi mobile.

PT HM Sampoerna Tbk, perusahaan induk Museum HoS, merupakan produsen produk yang sensitif akan sentimen khalayak. Program Wisata Museum mungkin membawa manfaat membantu menciptakan citra yang positif, di tengah-tengah gaung larangan iklan rokok. Manfaat ini bisa jadi lebih dirasakan oleh perusahaan di periode brosur ketika masih ada pencantuman logo Sampoerna Untuk Indonesia dibandingkan dengan periode situs web di mana nuansa Sampoerna nyaris tak tampak. Di lain pihak kepopuleran perusahaan induk bisa jadi berperan membantu inisiator meyakinkan khalayak akan kualitas museum-museum yang ditampilkan di program.

Beberapa hal tersirat di data wawancara, yaitu (1) program Wisata Museum cenderung lebih efektif bagi museum yang karakteristik pengunjungnya memang menaruh minat pada museum, cukup banyak dikunjungi kaum intelektual, serta pengurus museumnya memang menaruh perhatian khusus pada promosi, (2) peranan inisiator di joint promotion ini cenderung mendominasi, dan (3) implementasi program Wisata Museum di periode brosur lebih terasa bagi museum-museum rekanan dibandingkan pada periode situs web. Fakta bahwa museum-museum di Indonesia belum lama menyadari manfaat promosi, sosok yang dominan akan memacu untuk bergerak. Kelak ada baiknya inisiator memperkenankan lebih banyak keterlibatan museum lain.

(5)

153 Sebagai bagian dari kegiatan CSR perusahaan, program Wisata Museum memenuhi kriteria pelaksanaan CSR sesuai pasal 74 UU Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 dan PP No. 109 tahun 2012 kecuali di poin diulas di Laporan Tahunan dan pelaporan ke RUPS. Performa program Wisata Museum mematahkan anggapan (sekiranya ada) sebagai iklan/promosi rokok terselubung, melainkan menguatkan komitmen PT HM Sampoerna Tbk berkontribusi kepada masyarakat sesuai falsafah tiga tangan.

Secara keseluruhan, program Wisata Museum masih memerlukan pembenahan di sana-sini. Terlepas dari itu, penelitian ini menunjukkan bahwa joint promotion program Wisata Museum berjalan dengan relatif baik dan membawa berbagai dampak positif baik bagi inisiator maupun museum-museum yang terlibat. Namun ketiadaan evaluasi menyeluruh membuat sulit untuk menyatakan apakah program ini telah berhasil mencapai tujuan menjadikan museum sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia, atau tidak.

5.2. Saran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan program Wisata Museum berjalan dengan baik. Namun hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa program ini dilandasi dengan organization centered mindset serta di periode brosur lebih membawa manfaat bagi semua pihak dibandingkan dengan periode situs web, walaupun di saat sekarang dimana marak penggunaan internet. Maka untuk pengembangan program ke depannya disarankan untuk dilakukan evaluasi menyeluruh dan kemudian ditunjang dengan riset khalayak sasaran. Evaluasi akan menunjukkan apa saja keberhasilan yang perlu dipertahankan serta kekurangan program yang perlu diperbaiki. Pengetahuan akan keperluan, keinginan, dan preferensi khalayak sasaran promosi destinasi museum niscaya akan bermanfaat dalam memperkuat pesan, merevisi media promosi sesuai hasil riset, dan di akhir untuk mempermudah pencapaian tujuan promosi.

Sebagian besar museum di Indonesia termasuk kategori museum pemerintah. Sedangkan penggagas sekaligus koordinator program Wisata Museum adalah museum berlatar perusahaan swasta. Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa peran serta swasta dalam membangun permuseuman di Indonesia tak bisa disepelekan. Alangkah baiknya jika nantinya akan lebih banyak lagi terjalin kerjasama antara museum-museum dengan perusahaan-perusahaan swasta. Kemampuan sumber daya yang berbeda di antara kedua belah pihak dapat dimanfaatkan untuk saling melengkapi dan mendatangkan keuntungan bagi perkembangan permuseuman di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Tekijöillä on usein myös kuvataiteen koulutus, mikä osin selittää sitä, että monet etenkin suomalaiset taiteilijakirjo- jen tekijät käyttävät työkaluinaan

Berdasarkan hasil analisis kajian museum terkait dengan tata kelola termasuk alur cerita dan pola komunikasi koleksi di tiga museum; yaitu Museum Siginjai, Museum

Museum air di Temanggung merupakan museum pertama yang menceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik air, yang dimana didalamnya terdapat media pendidikan

hanya cahaya yang sesuai (yang memiliki frekuensi yang lebih besar dari frekuensi tertentu saja) yang memungkinkan lepasnya elektron dari pelat logam atau menyebabkan terjadi

Potensi banjir di lahan sawah 8-harian Metode: Overlay antara kondisi NDVI lahan sawah dengan informasi curah hujan dari TRMM TRMM MODIS HIMAWARI NPOESS SMOS

Pada plot pertama, jenis vegetasi yang paling banyak ditemukan pada tingkat pancang yaitu 88 jenis namun jumlah individu terbanyak ditemui pada tingkat semai

PENDETEKSIAN HOTSPOT DENGAN SPACE TIME SCAN STATISTICS PADA KESEHATAN BAYI DAN BALITA DI KOTA DEPOK.. Maryana 1* , Yekti Widyaningsih 2 , Dian

Pada arah timur, barat, dan utara, view ke dalam museum terhalang oleh bangunan museum yang telah ada, yaitu museum serangga, museum pusaka, dan museum