BAB II
LANDASAN TEORI
II.A. KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS II.A.1. Definisi Kesejahteraan Psikologis
Ryff (1989) meramu pandangan mengenai pemfungsian positif manusia
dan kemudian mengemukakan bahwa individu dengan kesejahteraan psikologis
yang positif tidak sekedar terbebas dari hal-hal yang berkaitan dengan afek
negatif, seperti bebas dari rasa cemas atau merasa bahagia, melainkan lebih
menekankan pada pemfungsian positif serta bagaimana pandangannya terhadap
potensi-potensi positif dalam dirinya. Menurutnya, kesejahteraan psikologis
adalah keadaan dimana individu dapat menerima kekuatan dan kelemahan diri apa
adanya, memiliki hubungan positif dengan orang lain, mampu mengarahkan
tingkah lakunya sendiri, mampu mengembangkan potensi diri secara
berkelanjutan, mampu mengatur lingkungan, dan memiliki tujuan hidup.
II.B.2. Dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis
Ryff (1989) mengemukakan enam dimensi dari kesejahteraan psikologis
sebagai berikut:
a. Penerimaan diri (self-acceptance)
Penerimaan diri merupakan ciri utama dari konsep kesehatan mental dan
juga merupakan karakteristik dari orang yang teraktualisasi diri, berfungsi
ditandai dengan kemampuan menerima diri seperti apa adanya dari segi
positif dan negatif (Jahoda, dalam Ryff, 1989). Dengan menerima diri apa
adanya, seseorang dimungkinkan untuk bersikap positif terhadap diri
sendiri yang selanjutnya dapat meningkatkan toleransi akan frustasi dan
berbagai kondisi yang tidak menyenangkan, termasuk keterbatasan diri,
tanpa merasa menyesal atau marah yang mendalam.
b. Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others)
Kualitas yang dihubungkan dengan kemampuan membina hubungan yang
positif dengan orang lain meliputi kemampuan untuk membina hubungan
interpersonal yang hangat dan saling percaya, saling mengembangkan
pribadi satu dengan yang lain, kemampuan untuk mencintai, berempati,
memiliki afeksi terhadap orang lain, serta mampu menjalin persahabatan
yang mendalam (Ryff, 1989).
c. Otonomi (autonomy)
Dimensi otonomi memiliki kualitas-kualitas seperti penentuan diri
(self-determination), kemandirian, pengendalian perilaku dari dalam diri, dan penggunaan locus of control yang bersifat internal dalam mengevaluasi
diri (Ryff, 1989). Dimensi ini melihat kemandirian individu dalam
memutuskan dan mengatur perilakunya sendiri yang bebas tekanan dari
pihak manapun.
d. Penguasaan lingkungan (environmental mastery)
Kualitas yang tercakup dalam dimensi ini meliputi kemampuan individu
kondisinya, berpartisipasi dalam lingkungan di luar dirinya,
mengendalikan dan memanipulasi lingkungan yang kompleks, serta
kemampuan untuk mengambil keuntungan dari kesempatan di lingkungan
(Ryff, 1989). Secara umum dapat dikatakan bahwa dimensi ini melihat
kemampuan individu dalam menghadapi berbagai kejadian di luar dirinya
dan mengatur sesuai dengan keadaan dirinya sendiri.
e. Tujuan hidup (purpose in life)
Orang yang berkualitas menurut dimensi ini adalah orang yang memiliki
tujuan dan arah dalam hidup, merasa bahwa kehidupan di masa lalu dan
masa sekarang memiliki makna, serta memegang keyakinan yang
memberikan tujuan dalam hidup. Sebaliknya, individu yang tidak memiliki
tujuan hidup ditandai dengan karakteristik kurang mampu memahami
makna hidup, tidak dapat melihat tujuan dari kehidupan di masa lampau,
tidak memiliki keyakinan yang dapat memberikan makna dalam hidup.
f. Pertumbuhan pribadi (personal growth)
Untuk mencapai fungsi psikologis yang optimal, seseorang perlu
memiliki aspek-aspek pertumbuhan pribadi yang baik. Hal ini antara lain
ditandai dengan adanya keinginan untuk terus berkembang, kemampuan
untuk melihat dirinya sebagai sesuatu yang terus bertumbuh dan
berkembang, terbuka terhadap pengalaman yang baru, memiliki keinginan
untuk merealisasikan potensinya, serta dapat melihat kemajuan dalam diri
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada enam dimensi
kesejahteraan psikologis, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang
lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi.
II.B.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis
Melalui berbagai penelitian yang dilakukan, Ryff (1989) menemukan
bahwa faktor-faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi
dan budaya mempengaruhi perkembangan kesejahteraan psikologis seseorang.
a. Usia
Ryff (1989) menemukan adanya perbedaan tingkat kesejahteraan
psikologis pada orang dari berbagai kelompok usia. Dalam dimensi
pengasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring dengan
pertambahan usia. Semakin bertambah usia seseorang ia semakin
mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu
tersebut semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik
sesuai dengan keadaan dirinya.
b. Jenis kelamin
Menurut Ryff (1989), satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan
signifikan antara laki-laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif
dengan orang lain. Sejak kecil, stereotip gender telah tertanam dalam diri
anak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri,
sementara itu, perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan
2001). Tidaklah mengherankan bahwa sifat-sifat stereotip ini akhirnya
terbawa oleh individu sampai individu tersbeut dewasa. Sebagai sosok
yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap perasaan sesamanya,
sepanjang hidupnya perempuan terbiasa untuk membina keadaan harmoni
dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa
perempuan memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan
positif dan dapat mempertahankan hubungan dengan orang lain.
c. Status sosial ekonomi
Ryff, dkk. (dalam Ryan & Deci, 2001) mengemukakan bahwa status sosial
ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup,
penguasaan lingkungan dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki
status sosial ekonomi rendah cenderung membandingkan dirinya dengan
orang lain yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari
dirinya. Menurut Davis (dalam Robinson & Andrews, 1991), individu
dengan tingkat penghasilan tinggi, status menikah, dan mempunyai
dukungan sosial tinggi akan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih
tinggi.
d. Budaya
Ruff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme-kolektivisme
memberi dampay terhadap kesejahteraan psikologis yang dimiliki suatu
masyarakat. Budaya barat memiliki skor yang tinggi dalam dimensi
menjunjung tinggi kolektivisme memiliki skor yang tinggi pada dimensi
hubungan positif dengan orang lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan empat faKtor yang
mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu, yaitu usia, jenis kelamin, status
social ekonomi, dan budaya.
II.B. COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY (CBT)
II.B.1. Definisi dan Konsep Dasar Cognitive Behavior Therapy
CBT merupakan psikoterapi yang berfokus pada kognisi yang
dimodifikasi secara langsung, yaitu dengan mengubah pikiran maladaptif dan
kemudian secara tidak langsung juga akan mengubah tingkah laku yang nampak
(overt action). Beck (dalam Spiegler & Guevremont, 2003) menekankan CBT
pada pandangan individu tentang keyakinan (hipotesa) sementaranya dan
kemudian menguji validitasnya dengan mengumpulkan bukti-bukti untuk
menolak atau mendukung hipotesanya. Pucci (2005) menambahkan bahwa CBT
berfokus pada thought dan core beliefs yang menyebabkan distress emosional,
yaitu dengan menempatkan kembali pikiran-pikiran yang sehat dan akurat.
CBT bertujuan untuk memfasilitasi individu dalam menciptakan “situasi emosional positif”, sehingga dapat mengimplementasi strategi-strategi spesifik,
seperti restrukturisasi kognitif, mengatur jadwal aktivitas dan strategi lainnya
(McGinss, 2000). Beck (dalam Spiegler & Guevremont, 2003) menyatakan bahwa
salah satu tujuan utama CBT adalah untuk membantu individu dalam mengubah
Hackney & Cormier (dalam Cengage Learning, 2008) dalam penelitiannya
mengemukakan bahwa CBT terbukti lebih efektif untuk mengatasi
masalah-masalah emosional dan fisik. CBT juga merupakan terapi yang efektif sebagai
treatmen untuk berbagai gangguan psikologis dan juga meningkatkan
kesejahteraan psikologis dan emosional (Bortholomew, 2013).
Dalam pelaksanaan CBT, perlu dilakukan analisa fungsional berdasarkan prinsip “S-O-R-C”. Berdasarkan analisa fungsional ini dapat diidentifikasi kognisi
yang terdistorsi, serta pola perilaku maladaptifnya. Prinsip S-O-R-C tersebut
secara rinci adalah sebagai berikut:
S (Stimulus) : peristiwa yang terjadi sebelum individu
menunjukkan perilaku tertentu.
O (Organism) : individu dengan aspek kognisi (K) dan Emosi (E)
di dalamnya.
R (Response) : apa yang dilakukan oleh individu atau organism,
sering juga disebut dengan perilaku (behavior), baik perilaku yang tampak (overt
behavior) ataupun perilaku yang tidak tampak (covert behavior).
C (Consequences) : peristiwa yang terjadi setelah atau sebagai hasil
dari perilaku atau response. Consequences termasuk apa yang terjadi secara
langsung pada individu, pada orang lain, dan pada lingkungan fisik sebagai hasil
dari perilaku tersebut. Ketika consequences atas perilaku adalah positif, individu
akan lebih cenderung untuk mengulangi perilaku yang sama. Sebaliknya, ketika
consequences atas perilaku adalah negatif, individu cenderung mengurangi untuk melakukan perilaku yang sama. Consequences dapat berasal dari dalam (internal)
ataupun dari luar individu (eksternal). Diagram analisa S-O-R-C dapat dilihat
sebagai berikut:
Gambar 2.1. Diagram Analisa S-O-R-C
II.B.2. Proses Kognisi dan Kesalahan yang Umum dalam Cognitive Behavior Therapy
Oei (1999) menyatakan bahwa pada situasi stressful, seringkali individu
menghadapinya dengan menggunakan pemahaman atau pengalaman masa lalu.
Masalahnya, pemahaman tersebut seringkali berupa kognisi yang maladaptif dan
memicu emosi negatif, yang kemudian memunculkan perilaku-perilaku yang
semakin memperburuk masalah. Beck menyebut hal itu dengan automatic
thought, yaitu pikiran yang muncul secara otomatis dan sangat cepat, yang sifatnya repetitif dank has. Mengidentifikasi automatic thought merupakan hal
yang perlu dilakukan dalam upaya mengubah pikiran-pikiran yang irasional
menjadi pikiran yang rasional (Beck, dalam Spiegler & Guevremont, 2003).
Adapun beberapa bentuk distorsi kognitif yang umum ditemui, yaitu:
a. Arbitrary inference / jumping to conclusion – mengambil kesimpulan tanpa
bukti yang relevan atau tanpa pengujian lebih lanjut. S (Stimulus): Peristiwa O (Organism): Kognisi dan Emosi R (Response): Perilaku C (Consequences): Konsekuensi positif atau negatif
b. Overgeneralization – menggeneralisasikan satu kejadian negative pada
kejadian lainnya.
c. Selective abstraction – memperhatikan detail dengan mengabaikan
keseluruhan
d. Personalization – mengaitkan situasi eksternal pada diri sendiri secara
berlebihan.
e. Polarized or dichotomous thinking / all or nothing thinking – berpikir secara
ekstrim, ya atau tidak, hitam atau putih.
f. Magnification or minimization – memandang sesuatu lebih jauh atau lebih
penting dari yang sebenarnya, ataupun mengurangi kepentingan sesuatu dari
yang seharusnya.
g. Mental filter – mengambil pernyataan negative dari situasi dan
menggunakannya dengan mengabaikan pertimbangan positif yang lebih
besar.
h. Automatic discounting – sensitifitas terhadap informasi negative yang diserap
dan memotong informasi negatif.
i. Emotional reasoning – menggunakan perasaan sebagai bukti dari kebenaran
dalam suatu situasi.
j. “Should statement” – kewajiban moral yang berlebihan.
k. Labeling & Mislabelling – reaksi emosional memberikan label pada
II.B.3. Teknik-teknik dalam Cognitive Behavior Therapy
Beberapa ahli terapi CBT memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam
menjalankan terapi CBT. Pendekatan tersebut diterjemahkan dalam teknik-teknik
berstruktur yang disesuaikan dengan target terapi.
Spiegler & Guevremont (2003) menyatakan bahwa ada 2 model CBT,
yaitu:
a. Cognitive restructuring : berfokus pada kognitif maladaptif dan bertujuan
untuk menggantikan kognisi yang maladaptif dengan kognisi yang adaptif.
b. Cognitive behavior coping skills : berfokus pada kogninsi yang kurang
adaptif dan bertujuan untuk melatih individu dalam memberikan respon yang
adaptif, agar mampu menghadapi situasi secara efektif.
McGinn (2000) secara spesifik menyatakan bahwa ada beberapa teknik
yang digunakan dalam CBT dan kemudian dibagi atas tiga area, yaitu:
a. Area kognitif : cognitice restructuring, yaitu mengoreksi pikiran-pikiran yang
terdistorsi secara negative dan diarahkan menjadi lebih logis dan adaptif.
b. Area perilaku : activity scheduling, social skills training, dan assertiveness
training.
c. Area fisiologis : teknik imagery, meditasi, relaksasi.
Pada penelitian ini akan digunakan teknik cognitive restructuring yang
kemudian akan dikombinasikan dengan social skills training. Cognitive
restructuring berfokus pada kognisi yang maladaptif, dan digunakan untuk mengajari individu mengubah distorsi kognisi tersebut, yang merupakan sumber
digunakan untuk melatih individu agar lebih mampu dalam mengatur situasi
interpersonal secara efektif. Teknik social skills training yang akan digunakan
adalah social perception skills training, yaitu mengajarkan individu untuk
mampu memonitor, membedakan, dan mengidentifikasi: (a) emosi dan perasaan
orang lain, (b) emosi, perasaan, dan perspektif orang lain dalam interaksi, (c)
karakteristik dan aturan-aturan sosial dalam konteks sosial yang spesifik (Milne
& Spence, dalam Spence, 2003).
II.C. GAY DAN PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS SEKSUAL PADA GAY (COMING OUT)
II.C.1. Definisi Gay
Sebelum mendefinisikan apa yang dimaksud dengan gay, perlu dipahami
terlebih dahulu konsep orientasi seksual. Yang dimaksud dengan orientasi seksual
adalah ketertarikan seseorang secara emosional, fisik, seksual dan romantis
terhadap suatu gender maupun lebih (Carroll, 2005). Individu yang tertarik
kepada lawan jenis kelaminnya disebut heteroseksual dan individu yang tertarik
pada jenis kelamin yang sama disebut homoseksual. Sementara itu, individu yang
tertarik pada kedua jenis kelamin disebut biseksual. Kelompok yang disebut
dengan gay adalah kaum laki-laki homoseksual (Kelly, 2001; Carroll, 2005).
Menurut Hawkins (dalam Sadock & Sadock, 2003) istilah gay merujuk pada
identititas pribadi dan identitas seksual yang dibentuk individu, yang
merefleksikan perasaan keterkaitan seseorang terhadap kelompok sosial yang
II.C.2. Definisi dan Proses Pembentukan Identitas Seksual (Coming Out)
Menurut Klinger dan Cabaj (dalam Sadock & Sadock, 1998) pembentukan
identitas seksual merupakan proses dimana individu mengemukakan orentasi
seksualnya dihadapan stigma sosial dengan keberhasilan untuk menerima dirinya
sendiri. Cass (dalam Carroll, 2005) mengemukakan model enam tahapan dalam
pembentukan identitas homoseksual. Tidak semua individu homoseksual
mencapai tahap keenam, tergantung seberapa nyaman individu dalam orientasinya
di masing-masing tahapan.
a. Tahap I: Identity Confusion
Individu mulai meyakini bahwa tingkah lakunya dapat diidentifikasi
sebagai homoseksual. Mungkin akan ada kebutuhan untuk mendefinisikan ulang
konsep individu mengenai tingkah laku homoseksual dengan segala bias dan
kesalahan informasi yang dialami kebanyakan orang. Individu mungkin menerima
peran tersebut dan mencari informasi, mungkin menekan dan menyembunyikan
segala tingkah laku homoseksual (bahkan mungkin menjadi seorang anti
homoseksual dan mengutuknya), atau mungkin menyangkal keterkaitannya
dengan identitasnya.
b. Tahap II: Identity Comparison
Individu menerima potensi identitas dirinya sebagai seorang homoseksual,
menolak heteroseksual namun tidak memiliki model lain yang dapat menjadi
penggantinya. Individu merasa dirinya berbeda dan tersesat. Jika ia kemudian
mempertimbangkan untuk mendefinisikan dirinya sebagai seorang homoseksual,
c. Tahap III: Identity Tolerance
Di tahap ini, individu mulai berpindah pada keyakinan bahwa dirinya mungkin
homoseksual dan mulai mencari komunitas homoseksual sebagai kebutuhan
sosial, seksual dan emosional. Kebingungan menurun tetapi identitas diri masih
pada tahap toleransi, bukan sepenuhnya diterima. Biasanya individu masih tidak
memberitahukan identitas barunya dan menjalani gaya hidup ganda, sebagai
homoseksual dan sebagai heteroseksual.
d. Tahap IV: Identity Acceptance
Terbentuk pandangan positif tentang identitas diri dan mulai mengembangkan
jaringan hubungan dengan kaum homoseksual yang lain. Ia mulai membuka diri
terhadap teman dan keluarga serta semakin membenamkan diri dalam budaya
homoseksual.
e. Tahap V: Identity Pride
Berkembang kebanggaan akan homoseksualitas sejalan dengan kemarahan akan
treatment yang pada akhirnya mengakibatkan penolakan terhadap
heteroseksualitas karena dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Individu merasa
gaya hidupnya yang baru adalah sesuatu yang benar dan sesuai.
f. Tahap VI: Identity Shynthesis
Individu menjalani gaya hidup homoseksual yang terbuka sehingga pengungkapan
jati diri tidak lagi menjadi masalah dan muncul kesadaran bahwa ada banyak sisi
dan aspek kepribadian dan orentasi seksual hanya salah satu dari aspek-aspek
II.D. Kesejahteraan Psikologis pada Remaja Gay yang Menjalani Proses Pembentukan Identitas Seksual
Salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja adalah
membentuk identitas diri (Hurlock, 1999). Sebagian besar remaja dapat memenuhi
tugas ini dengan baik, namun tidak bagi remaja gay. Remaja gay harus
mengintegrasikan identitas diri mereka sebagai gay (Newman & Muzzognigro,
1993), yang mana hal ini bertentangan dengan norma masyarakat. Di dalam
prosesnya, pada awal pencarian jati diri sebagai seorang individu gay, akan
banyak konflik batin yang dialami oleh individu. Menurut situs Gay & Lesbian
Information (2006), ada 4 elemen yang berkaitan dengan konflik individu dalam membentuk identitas seksualnya sebagai gay, yaitu: (1) perasaan akan persepsi pembentukan diri yang ”berbeda” dengan orang lain; (2) perasaan dan proses
menjalani pengalaman tertarik dan terangsang dengan kehadiran individu lain
yang memiliki jenis kelamin sama; (3) perasaan sensitif terhadap stigma seputar
kehidupan homoseksualitas; dan (4) kurangnya pengetahuan terkait
homoseksualitas itu sendiri.
Membentuk identitas seksual merupakan proses yang panjang dan
menakutkan bagi remaja gay. Mereka dihadapkan dengan ketakutan ditolak oleh
masyarakat sosial, terutama oleh keluarga. Banyak situasi seperti lingkungan
sekolah, lingkungan kerja dan lingkungan keluarga, serta agama dan sosial yang
menjadi penghalang bagi individu homoseksual untuk membentuk identitas
seksualnya sebagai gay atau lesbian (Stevens, 2004). Miller dan Major (2000)
menjadi permasalahan yang cukup serius bagi remaja gay dalam menerima
kondisinya sendiri. Mengakui dan menerima diri sebagai gay akan membuat mereka distigma dan dinilai ”sakit” oleh masyarakat. Stigmatisasi dan
diskriminasi yang mereka terima menjadi salah satu penyebab utama munculnya
berbagai masalah selama proses pembentukan identitas seksual (Caroll, 2005).
Membuka diri merupakan sesuatu yang sulit, penuh risiko dan dapat
menimbulkan risiko dan dapat menimbulkan kecemasan (Savin-Williams, 1996;
Maris, 2000; Woolfe, 2003; Carroll, 2004). Terkait dengan kondisi tersebut, tidak
sedikit remaja gay yang memutuskan untuk menutup diri dan menyembunyikan
kondisinya. Akan tetapi hal ini dapat meningkatkan stres dan berbagai
permasalahan psikologis yang dialami oleh remaja gay. Menutup diri dari
lingkungan mengenai kebenaran seksualitasnya juga dapat menimbulkan rasa
bersalah, ketidakjujuran, keterasingan dari orang lain dan diri sendiri, serta
ketakutan bahwa rahasianya akan terungkap (Maris, 2000; Woolfe, 2003).
D’Augelli (dalam Legate, Ryan, & Weinstein, 2012) menemukan bahwa
proses pembentukan identitas seksual akan menimbulkan berbagai dampak
negatif, yang salah satunya berdampak pada kesejahteraan psikologis individu.
Dalam penelitian, Gottschalk (2007) menemukan bahwa kesadaran dan keyakinan
individu gay atau lesbian mengenai stereotip negatif terkait seksualitasnya akan
berdampak pada rasa keberhargaan diri (self-worth) dan kesejahteraan
psikologisnya. Tugas-tugas yang terkait dengan perkembangan identitas seorang
homoseksual juga dapat menuntut sumber psikologis dari individu dan pada
II.E. Efektifitas Cognitive Behavior Therapy untuk Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis pada Remaja Gay yang Menjalani Proses Pembentukan Identitas Seksual
Selama bertahun-tahun, individu homoseksual telah melakukan konsultasi
pada terapis untuk mengubah orientasi seksualnya menjadi heteroseksual dengan
terapi reparatif. Banyak sekali terapi reparatif yang mengajarkan bahwa
homoseksulitas tidak wajar dan menjijikkan. Hal ini akan meningkatkan
kecemasan dan perasaan membenci diri sendiri pada individu homoseksual
(Robinson, 2006). Walaupun demikian, menurut beberapa ahli psikologi, tekanan
sosial terhadap individu untuk menjadi seorang heteroseksual menimbulkan
keraguan bahwa permintaan tersebut memang pilihan yang mereka buat dengan
kondisi dimana mereka memiliki kebebasan untuk memilih. Salvin-Williams
(1996) melaporkan bahwa individu yang menyadari orientasi seksualnya sebagai
seorang homoseksual akan kehilangan kemampuan untuk menghormati dan
menghargai dirinya sendiri karena hal tersebut berbeda atau dipandang tidak
normal oleh lingkungannya. Individu yang memiliki dugaan bahwa dirinya
seorang homoseksual akan berhadapan dengan pesan seksual yang negatif tentang
perasaan seksual mereka, yang terbukti bersifat korosif terhadap self-esteem dan
psychological well-being (Wolfe, 2003).
Beck (dalam LaSala, 2006) menyatakan bahwa distress emosional yang
dialami oleh individu bukanlah dampak dari peristiwa dan situasi yang
dialaminya, melainkan bagaimana mereka menerima situasi tersebut. Dalam
yang kemudian menimbulkan berbagai permasalahan psikologis dan emosional
dalam dirinya, seperti depresi dan kecemasan.
Terapi CBT memungkinkan individu untuk menyadari pikiran dan
perasaan yang dimilikinya, mengidentifikasi bagaimana situasi, pikiran, dan
perilaku mempengaruhi emosi, dan meningkatkan perasaan positif dengan
mengubah pikiran yang disfungsional dan perilaku individu (Cully & Teten,
2008). Pendekatan CBT dapat diadaptasi untuk membantu individu gay dalam
menghadapi kesulitan-kesulitan yang mereka alami terkait dengan orientasi
seksualnya. Teknik CBT yang berfokus pada mengembangkan teknik coping yang
efektif dan meningkatkan frekuensi klien dalam menilai kejadian positif akan
membantu mereka dalam menghadapi berbagai stressor terkait dengan stigma
Remaja
Salah satu tugas perkembangan: Membentuk identiitas diri
Membentuk identitas seksual
Orientasi Seksual: Ketertarikan secara emosional dan seksual
Homoseksual Heteroseksual Gay Lesbi Tahapan: 1. Identity Confusion 2. Identity Comparison 3. Identity Tolerance 4. Identity Acceptance 5. Identity Pride 6. Identity Synthesis
Ketakutan ditolak keluarga dan sosial
Menghadapi stigma dan stereotype gay
Kesulitan untuk mengembangankan public intimate relationship Menerima tindak kekerasan dan
pelecehan Merasakan diskriminasi Kesejahteraan psikologis rendah Cognitive Behavior Therapy Homoseksual Cognitive restructuring Social perception skills training
II. F. HIPOTESA PENELITIAN
Hipotesa dalam penelitian ini adalah ada pengaruh Cognitive Behavior