NILAI ESTETIS KARYA SENI RUPA TIGA DIMENSI

592  Download (0)

Teks penuh

(1)

NILAI ESTETIS KARYA SENI RUPA TIGA DIMENSI

Prinsip-prinsip seni rupa adalah nilai-nilai keindahan di dalam seni rupa yang kerap dikaitkan dengan kualitas karya seni rupa yang mengandung unsur kesatuan (unity), keselarasan (harmony), keseimbangan (balance), dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan haru, nyaman, nikmat, bahagia, agung, getir, ataupun rasa senang.

Proses terciptanya seni dan keindahan tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas. Kreativitas diartikan sebagai serangkaian usaha yang dilakukan oleh seseorang, baik secara sadar maupun tidak sadar guna mewujudkan karya yang bersifat orisinil atau baru.

Dalam dunia seni rupa dan budaya benda, pembicaraan estetika yang penting adalah tentang simbiolisme, karena manusia bukan saja sebagai pembuat alat, melainkan juga sebagai makhluk pembuat simbol melalui bahasa visual. Menurut gagasan Ernst Cassier tentang bentuk simbiolis adalah bahwa karya estetis bukanlah semata-mata reproduksi dari realitas yang “selesai”. Seni merupakan salah satu jalan ke arah pandangan objektif atas benda-benda dan kehidupan manusia.

Berikut adalah sifat-sifat seni.

1. Simbiolis. Karya seni tradisional biasanya diwarnai perlambangan dalam bentuk metafora binatang, tumbuhan, bangunan, atau figur manusia. Metafora binatang dan tumbuhan banyak kita jumpai di candi-candi, motif hias kain batik, bahkan perabotan sehari-hari.

2. Mitologis. Sifat mitologis adalah tokoh legenda dan mitos suatu daerah yang ditransformasi lewat karya seni. Sebagai contoh bentuk wayang yang

mempunyai karakter masing-masing ini juga termasuk karya seni bersifat mitologi, patung-patung yang dianggap dapat mempunyai kekuatan menolak bala, dan sebagainya.

3. Religius. Sifat religius adalah karya seni yang digunakan sebagai penunjang kegiatan ritual dan penyampaian ajaran agama. Simbol-simbol keagamaan biasanya terdapat pada bangunan tempat ibadah, model pakaian, ornamen pendukung, dan alat penunjang kegiatan ritual.

4. Fungsional. Seni dapt memacu kreativitas selain memiliki nilai-nilai estetika, seni juga memiliki sifat menghibur (menggugah) dan manfaat.

a. Menghibur dan menggugah

 Sebgai wujud ungkapan rasa senang pensiptanya.  Menggembirakan penikmatnya.

(2)

b. Manfaat

 Sebgai benda praktis atau alat-alat keperluan rumah tangga.  Sebagai tempat yang nyaman.

 Menciptakan tempat yang nyaman.

 Menciptakan berbagai model, pakaian, kendaraan, dan lain-lain.  Sebagai media hiburan.

Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa dapat bersifat objektif dan subjektif. Nilai estetis bersifat objektif jika memahami keindahan karya seni rupa berada pada wujud karya seni itu sendiri dan tampak secara kasat mata. Dalam pandangan objektif ini, nilai estetis atau keindahan sebuah karya seni rupa tersusun dari komposisi yang baik, perpaduan warna yang sesuai, penempatan objek yang membentuk kesatuan dan sebagainya. Keselarasan dalam menata unsur-unsur visual inilah yang mewujudkan sebuah karya seni rupa.

Berbeda halnya dengan nilai estetis yang bersifat subjektif, keindahan tidak hanya pada unsur-unsur fisik yang ditangkap oleh mata secara visual, tetapi ditentukan oleh selera orang yang melihatnya. Sebagai contoh ketika melihat sebuah karya seni rupa, beberapa orang mungkin tertarik pada apa yang ditampilkan dalam karya tersebut dan merasa senang untuk terus melihatnya bahkan ingin memilikinya,tetapi orang lain justru kurang tertarik pada karya seni tersebut.

Untuk menikmati keindahan seni rupa dapat dilakukan dengan cara mengamati berbagai (reproduksi foto/gambar) karya seni rupa tiga dimensi. Amatilah karya-karya seni rupa tiga dimensi tersebut, kemudian bandingkan karya yang satu dengan yang lainnya. Ceritakan masing-masing karya yang kamu amati, kemukakan aspek apa yang menarik perhatian kamu dan karya mana yang paling kamu sukai, berikan alasan mengapa kamu menyukai karya tersebut berdasarkan pengamatan terhadap unsur-unsur rupa dan objek yang tampak pada karya tersebut. Bandingkan paparan kamu dengan paparan teman yang lain.

A. Seni Patung

Karya patung modern saat ini mulai berkembang pesat seiring dengan kebutuhan dalam mengarungi perubahan gaya hidup di lingkungan kita. Menurut Mikke Susanto (2011: 296) seni patung adalah sebuah tipe karya tiga dimensi yang bentuknya dibuat dengan metode subtraktif (mengurangi bahan seperti memotong, menatah) atau aditif (membuat model lebih dulu seperti mengecor dan mencetak).

(3)

Seni patung pada zaman dahulu di buat untuk kepentingan keagamaan, pada jaman hindu dan budha, patung di buat untuk menghormati dewa atau orang yang di jadikan teladan. Pada perkembangan selanjutnya patung di buat untuk monument/ peringatan suatu peristiwa besar pada suatu bangsa, kelompok atau perorangan. Pada jaman sekarang seni patung sering di ciptakan untuk hiasan penciptanya lebih bebas dan bervariasi dan seni patung itu di ciptakan untuk dinikmati nilai keindahan bentuknya Sebuah karya seni patung dapat diciptakan sebagai karya seni rupa yang memiliki keindahan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Balance adalah keseimbangan bobot masa berdasarkan kepekaan estetika. Keseimbangan (Balance) menurut Mikke Susanto (2011:46) didefinisikan sebagai persesuaian materi-materi dari ukuran berat dan memberi tekanan pada stabilitas suatu komposisi karya seni. Seorang pematung bekerja dengan mempertimbangkan keseimbangan antara bagian-bagian dari patung dalam menyusun bentuk. Keseimbangan bagian atas dengan bagian bawah atau antara bagian kiri dan kanan dari sebuah patung untuk mendapatkan bentuk yang mantap. 2. Karakteristik atau watak merupakan perwujudan patung berdasarkan

pemanfaatan bahan dan tekhnik.Dalam membuat patung seorang seniman dapat membuat patung dengan berbagai teknik bergantung pada bahan dan keahlian yang dimilikinya. Teknik-teknik tersebut antara lain teknik mengecor, modelling, dan konstruktif. Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat patung adalah bahan keras. Bahan keras dapat berupa kayu, batu cadas atau andesit, logam, gading, tulang, dan tanduk.

3. Bentuk atau dimensi dapat dirasakan keindahannya ari semua sudut pandang. Bentuk diartikan sebagai bangun, gambaran , wujud, sistem dalam seni rupa rupa biasanya dikaitkan dengan matra yang ada (Mikke Susanto:54). Selanjutnya (Sidharta: 1987) mengemukakan bahwa dalam seni rupa sering dibedakan antara bentuk relatife dan bentuk absolute. Bentuk relatife adalah bentuk yang erat hubungannya dengan bentuk yang terdapat di alam. Bentuk absolute adalah bentuk yang pada dasarnya meliputi lima bentuk dasar, yaitu kubus, bola, piramida, silinder, dan bentuk campuran. Dalam mematung, setiap bentuk dapat dikembalikan kepada bentuk-bentuk dasar tersebut

4. Gerak atau ritme patung tidak membosankan. Untuk menghindari kesan kaku dan menjemukan, seorang pematung dapat menciptakan ritme dengan menggarap unsur-unsur patung

5. Proporsi artinya perbandingan ukuran keserasian antara satu bagian dengan bagian yang lainnya dalam suatu karya patung. Untuk mendapatkan proporsi yang baik, seorang pematung biasanya membandingkan ukuran dari bagian-bagian

(4)

patung. Misalnya, membandingkan ukuran tubuh dengan kepala, ukuran tangan dengan kaki. Agar karya patung menarik harus dibuat sesuai dengan proporsi yang sebenarnya.

6. Harmoni dan kesatuan antara elemen satu dengan yang lain saling mendukung keindahan patung. Harmoni atau keserasian adalah timbul dengan adanya kesamaan, kesesuaian dan tidak adanya pertentangan. Dalam seni rupa prinsip keselarasan dapat dibuat dengan cara menata unsur-unsur yang mungkin sama, sesuai dan tidak ada yang berbeda secara mencolok. Kunci menyusunan atau organisasi elemen seni untuk mencapai kesatuan adalah kontras, pengulangan, irama, klimaks dan proporsi tidak hanya dengan mempelajari dan memparaktekkan aturan saja, namun kemampuan latihan mengembangkan perasaan dan kepekaan artistik selanjutnya dapat mengembangkan dan berpetualang dalam penciptaan karya seni

7. Aksentruasi atau pusat perhatian. Ada beberapa cara dalam menempatkan aksentuasi, yaitu Pengelompokan, Pengecualian, Arah, dan Kontras. Pengelompokan yaitu dengan mengelompokkan unsur-unsur yang sejenis. Misalnya mengelompokkan unsur yang sewarna, sebentuk dan sebagainya. Pengecualian yaitu dengan cara menghadirkan suatu unsur yang berbeda dari lainnya. Arah yaitu dengan menempatkan aksentuasi sedemikian rupa sehingga unsur yang lain mengarah kepadanya. Kontras yaitu perbedaan yang mencolok dari suatu unsur di antara unsur yang lain. Misalnya menempatkan warna kuning di antara warna-warna teduh.

B. Seni Kriya

Seni Kriya adalah sebuah seni yang dalam membuat karyanya menitik beratkan pada ketrampilan tangan dengan tetap memperhatikan fungsi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan yang mempunyai nilai guna dan juga nilai estestis. Kriya juga lebih sering mengikuti tradisi dari pada penemuan yang sering ditemukan secara individu oleh seorang perupa. Kriya dapat berbentuk sebuah karya dari tanah, batu, kayu, logam ataupun kain. Seni kriya sendiri lebih pada seni cipta baru dengan karya-karya yang menggunakan bahan, motif hiasan serta tehnik pembuatan yang diserahkan dengan kehendak pencipta atau pembuatannya.

Sebagai benda pakai, adalah seni kriya yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung. Sebagai benda hias, yaitu seni kriya yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan

(5)

aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya. Sebagai benda mainan, adalah seni kriya yang dibuat untuk digunakan sebagai alat permainan.

Hasil karya kriya diutamakan mengandung nilai keunikan konseptual, tema, imajinatif, emosional dan inderawi (visual, tactile, olfactory). Kriya juga merupakan metoda berkarya sekaligus mendesain produk yang mengutamakan nilai kualitas estetika, fungsional, keunikan, tema, makna dan pesan filosofis. Penciptaan karya seni kriya tidak hanya didasarkan pada aspek fungsionalnya (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan terhadap keindahan (kebutuhan emosional).

C. Arsitektur

Seni arsitektur adalah karya seni yang merancang suatu bentuk dari bangunan. Tidak hanya merancang, namun juga membangun suatu bangunan. Dalam arsitektur, estetika adalah sebuah bahasa visual, yang tidak sama dengan beberapa bahasa estetika yang tidak visual, seperti bahasa itu sendiri. Estetika dalam arsitektur memiliki banyak sangkut paut dengan segala yang visual seperti permukaan, volume, massa, elemen garis, dan sebagainya, termasuk berbagai order harmoni, seperti komposisi. Misalnya saja Gedung Bank Indonesia Jogjakarta. Gedung Bank Indonesia dirancang oleh arsitek Hulswitt dan Cuypers dengan menampilkan aura kemegahan arsitektural bergaya eropa.

Bangunan ini bisa dikatakan bernilai estetika yang baik. Karrena selain memenuhi fungsinya bangunan ini memiliki karekter yang kuat pada jamanya hingga sekarang. Karakter itu terwujud dalam langgam yang digunakan yaitu eropa klasik karena pada masa itu arsitektur Eropalah yang berkembang dengan pesat. Disamping itu detil ukiran pada bangunan bernuansa ukiran jawa sehingga terjadilah akulturasi budaya. Bagunan ini begitu komunikatif sehingga orang awam yang melihatnya akan tau ini pasti bangunan jaman Belanda dan merupakan kantor suatu instansi, hal ini menunjukan fungsi yang terwujut dalam bangunan sudah tepat sasaran atau fungsional dan komunikatif.

(6)

Estetika

Estetika sejak zaman yunani kuno sudah menjadi suatu hal yang berkaitan dengan Keindahan ( beauty). Kemudian persoalannya, apakah keindahan itu?.

- Keindahan dalam arti luas

Semula merupakan pengertian dari bangsa yunani, yang didalamnya tercakup juga kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah. Sedangkan Aresto teles merumuskan keindahan sebagai suatu yang selain baik juga menyenangkan. Jadi, estetika dalam arti seluas-luasnya meliputi: keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual - Keindahan dalam arti terbatas

Lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang diserap oleh penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna yang kasat mata

Dari dua pendapat diatas tentang keindahan masih belum bisa memuaskan pertanyaan akan arti keindahan itu sendiri. Hal ini memang merupakan persoalan filsafati yang memiliki jawaban beragam. Salah satu jawaban mencari ciri-ciri umum yang pada semua benda yang dianggap indah dan kemudian menyamakan ciri-ciri hakiki itu dengan pengertian keindahan. Jadi keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kualita yang yang paling sering disebut adalah kualita (unity), keselarasan (harmoni), kesetangkupan( symmetry), keseimbangan(balance) dan perlawanan ( contrast).

 Estetika subyektif dan Estetika Obyektif

Ada dua teori tentang keindahan , yaitu yang bersifat subyektif dan obyektif. - Keindahan subyektif ialah keindahan yang ada pada mata yang memandang

- Keindahan obyektif ialah menempatkan keindahan pada benda yang dilihat

Dari pandangan tersebut dapat di katakana bahwa estetika memiliki dua teori. secara lebih sederhana teori estetika subyektif ialah menekankan pada penganalisaan seseorang. Maksudnya Teori ini menyatakan bahwa nilai adalah sepenuhnya tergantung pada pengalaman

manusia mengenai nilai itu,

sedangkan estetika obyektif merupakan teori yang menekankan pada penganalisaan benda seni atau karya yang sudah ada. pada pokoknya berpendapat bahwa nilai-nilai merupakan unsur-unsur yang tersatupadukan, obyektif dan aktif dari realita metafisis..

Jika kembali pada pandangan klasik kuno tentang seni dan keindahan maka pendapat para ahli kala itu sangat mendukung hubungan tersebut

Sortais menyatakan bahwa keindahan ditentukan oleh keadaan sebagai sifat obyektif dari bentuk (l’esthetique et la science du beau)

Lipps berpendapat bahwa keindahan ditentukan oleh keadaan perasaan subyektif atau pertimbangan selera (die kunst ist die geflissenlinche hervorbringung des schones).

Istilah dan pengertian keindahan tidak lagi mempunyai tempat yang terpenting dalam estetika karena sifatnya yang makna ganda untuk menyebut berbagai hal, bersifat longgar untuk di muati

(7)

macam-macam ciri dan juga subjektif untuk menyatakan penilaian pribadi terhadap sesuatu yang kebetulan menyenangkan. Bahkan orang dapat menyebut serangkaian bunga yang sangat berwarna-warni sebagai hal yang indah dan suatu pemandangan alam yang tentang indah pula. Orang juga dapat menilai sebagai indah sebuah patung yang bentuk-bentuknya setangkup. Sebuah lagu yang isinya selaras dan sebuah sajak yang isinya menggugah perasaan. Konsepsi yang bersifat demikian akan sangat sulit jika dijadikan dasar untuk menyusun suatu teori yang estetik.

 Teori-teori yang dikemukakan Herbert Read

Teori Objektif dan teori subjektif

Teori Objektif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya.

Teori Subjektif menyatakan bahwa ciri – ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda. Teori atau konsep Yunani lama cenderung kepada konsep objektif, dimana keindahan karya dapat dicapai apabila bagian-bagiannya dapat diatur secara harmonis berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Perbandingan sebagai acuan yang menetapkan standar keindahan karya, yang dapat menimbulkan perasaan puas untuk sementara waktu. Sementara itu konsep seni Herbert Read dan Santayana berpegang pada konsep modern yang beranggapan bahwa ”seni tidak selalu menyenangkan?” Ideal keindahan dapat bervariasi dan sangat tergantung kepada ideal dari tata nilai kehidupan. Keindahan adalah nilai (value)yang dibentuk cita rasa perasaan manusia yang bersifat subjektif, sebagai tangapan emosional terhadap kualitas bentuk suatu karya

Teori obyektif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetika adalah (kwalita) yang memang telah melekat pada benda indah yangbersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pengamatan seseorang hanyalah menemukan atau menyingkapkan sifat-sifat indah yang sudah ada pada sesuatu benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk mengubahnya. Yang menjadi persoalan dalam teori ini ialah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda menjadi indah atau

dianggap bernilai estetis.

Filsuf seni dewasa ini menjawab bahwa nilai estetis itu tercipta dengan terpenuhi

asas-asas tertentu mengenai bentuk pada sesuatu

benda (khususnya karya seni yangdiciptakan oleh seseorang). Berlawanan dengan apa yang dikemukakan oleh teori obyektif, teori subyektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan

keindahan pada sesuatu benda sesungguhnya tidak ada. Yang

ada hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu

benda . Adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa sesuatubenda mempunyai nilai estetis, hal ini diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh sesuatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap benda itu.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :