• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i. KEPEMILIKAN DAN PENGESAHAN... iii UNIT I. KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN... 1 UNIT II. APLIKASI OP-AMP 1...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i. KEPEMILIKAN DAN PENGESAHAN... iii UNIT I. KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN... 1 UNIT II. APLIKASI OP-AMP 1..."

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Laboratorium Teknik Elektro | i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

KEPEMILIKAN DAN PENGESAHAN ... iii

UNIT I. KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN ... 1

UNIT II. APLIKASI OP-AMP 1 ... 7

UNIT III. APLIKASI OP-AMP PENGUAT TAK MEMBALIK ... 12

UNIT IV. APLIKASI OP-AMP 2 ... 15

UNIT V. APLIKASI OP-AMP INTEGRATOR ... 19

UNIT VI. APLIKASI OP-AMP INTEGRATOR DIFERENSIATOR ... 21

(2)
(3)

Laboratorium Teknik Elektro | iii

KEPEMILIKAN DAN PENGESAHAN

Nama Hari

Ttd

No. Mahasiswa Jam

KEGIATAN PRAKTIKUM

PENYERAHAN LAPORAN

No Tanggal Unit Nama & Paraf SPV/Asisten Kumpul Laporan Unit Tanggal Nama & Paraf SPV/Asisten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

(4)
(5)

Laboratorium Teknik Elektro | 1

UNIT I

KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN

A. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mengetahui sifat-sifat alat ukur 2. Mengkalibrasi alat ukur

B. ALAT DAN BAHAN 1. Rangkaian percobaan 2. Catu Daya stabil 3. Multimeter

4. Osiloskop dual trace 5. Kabel konektor (Jumper)

C. DASAR TEORI

Pengujian pengukuran seringkali mencakup nilai terukur, yang terletak dekat zona ketidakpastian. Tujuan pengukuran adalah menentukan nilai besaran ukur yang mencakup spesifikasi besaran ukur, metode pengukuran dan prosedur pengkuran.

Secara umum, hasil pengukuran hanya merupakan taksiran atau pendekatan nilai besaran ukur. Oleh karena itu hasil tersebut hanya lengkap bila disertai dengan pernyataan ketidakpastian dari taksiran tersebut.

Ketidakpastian adalah ukuran sebaran yang secara beralasan dapat dikaitkan dengan nilai terukur. Yang memberikan rentang terpusat pada nilai terukur, dimana didalamnya terletak nilai benar dengan tingkat kepercayaan tertentu.

Beberapa sumber ketidakpastian pengukuran: 1. definisi besaran ukur yang tidak lengkap

2. pengambilan sampel yang diukur bisa jadi tidak mewakili besaran ukur yang didifinisikan.

3. bias personil dalam membaca peralatan analog 4. resolusi atau ambang diskriminasi peralatan

5. nilai yang diberikan pada standar pengukuran atau bahan acuan

6. variasi pengamatan berulang terhadap besaran ukur dalam kondisi yang tampak sama

(6)

Laboratorium Teknik Elektro | 2 Klafisifikasi komponen ketidakpastian

Secara umum ketidakpastian pengukuran terdiri dari beberapa komponen yang dapat diklasifikasikan menurut metode yang digunakan untuk menaksir numeriknya.

1. Tipe A, yang dievaluasi dengan analisa statistik dari serangkaian pengamatan. 2. Tipe B, yang dievaluasi dengan cara selain analisis statistik, tapi didasarkan

kepada “scientific jugement” dengan menggunakan informasi: a. Data pengukuran sebelumnya,

b. Pengalaman dan pengetahuan, c. Spesifikasi pabrik,

d. Data kalibrasi/laporan kalibrasi, e. Ketidakpastian dari data acuan/ buku

Dalam praktikum kali ini kita akan mencoba menghitung ketidakpastian pengukuran dengan Tipe A.

Evaluasi ketidakpastian baku Tipe A

Bila pengukuran dilakukan berulang kali, nilai rata-rata dan simpangan bakunya dapat dihitung. Simpangan baku menggambarkan sebaran nilai yang dapat digunakan untuk mewakili seluruh populasi dari nilai terukur.

Dalam sebagaian besar kasus, taksiran terbaik yang tersedia dari nilai haapan terhadap suatu besaran yang bervariasi secara acak, yang diperoleh dari n pengamatan berulang yang saling bebas dalam kondisi pengukuran yang sama adalah nilai rata-rata dari hasil n pengamatan:

n

x

i

n

x

1

1

Simpangan baku adalah suatu taksiran sebaran populasi dimana n nilai tersebut diambil, yaitu: 1 ) ( ) ( 1 2   

n x x x s n i i i

Setelah melakukan satu kali n pengamatan berulang, kemudian dilakukan pengamatan kedua dari n pengamatan berulang maka nilai rata-rata dapat dihitung lagi. Kemungkinan akan terjadi sedikit perbedaan rata-rata dari n pengamatan kedua dari

(7)

Laboratorium Teknik Elektro | 3

rata-rata pengamatan pertama. Taksiran sebaran dari rata-rata populasi dapat dihitung dari simpangan baku rata-rata eksperimental (ESDM):

𝒔(𝒙) =

𝒔(𝒙

𝒊

)

√𝒏

Ketidakpastian baku Tipe A, u(xi) dari suatu besaran yang ditentukan dari n

pengamatan berulang yang saling bebas adalah nilai ESDM:

u(x

i

) = s(x)

(8)

Laboratorium Teknik Elektro | 4

Lembar Kerja Kalibrasi Tegangan DC

Hasi Kalibrasi

Rentang

(Volt) Frekwensi (Hz) Penunjuk Alat (Volt)

Pembacaan Standard (Volt)

Naik Turun Naik Turun repeability Rara-rata pembacaan 1 1 2 2 Naik turun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Catatan:

Nilai rata-rata dibulatkan k : Repebility terbesar:

(Repebility = harga mutlak dari selisih pembacaan naik.1 dan pembacaan naik.2 atau pembacaan turun.1 dan pembacaan turun.2) Analisis: ... ... ... ... ... ... Disetujui: Tgl. Diperiksa: Tgl. Dikalibrasi: Tgl.

(9)

Laboratorium Teknik Elektro | 5

Lembar Kerja Kalibrasi Tegangan AC

Hasi Kalibrasi

Rentang

(Volt) Frekwensi (Hz) Penunjuk Alat (Volt)

Pembacaan Standard (Volt)

Naik Turun Naik Turun repeability Rara-rata pembacaan 1 1 2 2 Naik turun CT – 6 50 Hz 6 – CT 50 Hz 6 – 6 50 Hz CT – 9 50 Hz 9 - CT 50 Hz 9 - 9 50 Hz CT – 12 50 Hz 12 – CT 50 Hz 12 - 12 50 Hz 6 – 9 50 Hz 9 – 6 50 Hz 6 – 12 50 Hz 12 – 6 50 Hz 9 – 12 50 Hz 12 - 9 50 Hz Catatan:

Nilai rata-rata dibulatkan ke: Repebility terbesar :

(Repebility = harga mutlak dari selisih pembacaan naik.1 dan pembacaan naik.2 atau pembacaan turun.1 dan pembacaan turun.2) Analisis: ... ... ... ... ... ... Disetujui

(10)

Laboratorium Teknik Elektro | 6

Lembar Kerja Kalibrasi Tahanan

Hasi Kalibrasi

Rentang

(Ohm) Penunjuk Alat (Ohm)

Pembacaan Standard (Ohm)

Naik Turun Naik Turun repeability Rara-rata pembacaan 1 1 2 2 Naik turun

Catatan:

Nilai rata-rata dibulatkan ke: Repebility terbesar:

(Repebility = harga mutlak dari selisih pembacaan naik.1 dan pembacaan naik.2 atau pembacaan turun.1 dan pembacaan turun.2) Analisis: ... ... ... ... ... ... Disetujui

(11)

Laboratorium Teknik Elektro | 7

UNIT II

APLIKASI OP–AMP 1

A. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mengetahui sifat-sifat Op-Amp

2. Merancang rangkaian dengan Op-Amp 3. Menerapkan Op-Amp pada berbagai aplikasi

B. ALAT DAN BAHAN

1. Rangkaian percobaan 2. Catu Daya stabil 3. Multimeter

4. Osiloskop dual trace 5. Kabel konektor (Jumper)

C. DASAR TEORI

Secara teori Operational Amplifier (Op-Amp) atau Penguat Operasi adalah penguat dengan kopling langsung (DC = Direct Coupling) yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1. Faktor penguatan tak terhingga (A =  )

Artinya perubahan sedikit saja pada masukannya akan menyebabkan perubahan yang besar pada keluarannya. Karena pada penggunaannya tegangan output berhingga dan karena VOA.Vi , sedangkan A =  maka V dianggap nol i walaupun V0 0.

2. Tahanan Input Tak Terhingga ( Ri )

Artinya inputnya tak menarik daya dari tingkat sebelumnya (yang diperlukan hanya perubahan tegangan). Karena

i i i

R V

I  , bila Ri  maka Ii 0 jadi pada input tidak ada arus.

3. Tahanan Output = 0

Artinya tegangan output akan tetap walaupun impedansi beban hamper nol. 4. Bandwith dari DC sampai Tak Terhingga

Penguatan dari DC sampai frekuensi tak terhingga besarnya tetap. 5. Tak ada Drift Tegangan

(12)

Laboratorium Teknik Elektro | 8 6. Rise Time = 0

Waktu yang diperlukan untuk mencapai harga puncak pada output sama dengan pada sinyal input.

Mengingat bahwa bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat IC Op-Amp kemampuannya terbatas, maka kenyataannya sebuah Op-Amp tidaklah persis seperti penguat ideal.

Beberapa contoh rangkaian dasar dengan Op-Amp adalah sebagai berikut :

(13)

Laboratorium Teknik Elektro | 9

LEMBAR PENGISIAN

A. Gelinciran Nol (Zero Offset)

Ukurlah Tegangan Keluaran:

 RESISTOR VAR di putar ke kanan Vo = ………

 RESISTOR VAR di putar ke kiri Vo = ………

 RESISTOR VAR di putar ke posisi tengah Vo = ………

 Apakah output dapat 0 volt? Ya/Tidak

Jelasan : ... ... B. Penguat Membalik + -LM741 3 2 6 7 1 4 5 -5V 100 K 1 3 2 +5V OUT PUT R2 output -Vcc R1 1 K + - LM741 3 2 6 7 1 4 5 Input +Vcc

(14)

Laboratorium Teknik Elektro | 10 Penggaruh Perubahan R2

f.in = 1 KHz V.in = 100mVp-p +Vcc = 5Volt -Vcc = 5Volt

R2 (Ohm) V0 (skala) Volts/Div V0 (Volt)

R2 = 1 KΩ R2 = 4K7 Ω R2 = 10 KΩ

Penggaruh Perubahan V.in

f.in = 1 KHz R2 = 10 KΩ +Vcc = 5Volt -Vcc = 5Volt

Gambarkan bentuk gelombang input dan output

V.in = 100mVp-p(sinus) Beda Fase = ... V.in = 300mVp-p(sinus) Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... V.in = 700m Vp-p(sinus) Beda Fase = ... V.in = 1 Vp-p(sinus) Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ...

(15)

Laboratorium Teknik Elektro | 11 Penggaruh Perubahan Vcc

f.in = 1 KHz R2 = 10 KΩ V.in = 700m Vp-p(sinus)

Gambarkan bentuk gelombang input dan output

+Vcc = 5Volt -Vcc = 5Volt Beda Fase = ... +Vcc = 7Volt -Vcc = 7Volt Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... +Vcc = 9Volt -Vcc = 9Volt Beda Fase = ... +Vcc = 12Volt -Vcc = 12Volt Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Nama Praktikan: 1. ……….... NIM: ……… 2. ………..…………..… NIM: ……… Acc Asisten Tanggal: ……… Ttd. (……….)

(16)

Laboratorium Teknik Elektro | 12

UNIT III

APLIKASI OP-AMP

PENGUAT TAK MEMBALIK

Penggaruh Perubahan R2

f.in = 1 KHz V.in = 100mVp-p +Vcc = 5Volt -Vcc = 5Volt

R2 (Ohm) V0 (skala) Volts/Div V0 (Volt)

R2 = 1 KΩ R2 = 4K7 Ω R2 = 10 KΩ -5V + -LM741 3 2 6 7 1 4 5 +5V Input R2 1K output

(17)

Laboratorium Teknik Elektro | 13 Penggaruh Perubahan V.in

f.in = 1 KHz R2 = 10 KΩ +Vcc = 5Volt -Vcc = 5Volt

Gambarkan bentuk gelombang input dan output

V.in = 100mVp-p(sinus) Beda Fase = ... V.in = 300mVp-p(sinus) Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... V.in = 700m Vp-p(sinus) Beda Fase = ... V.in = 1,2 Vp-p(sinus) Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ...

(18)

Laboratorium Teknik Elektro | 14 Penggaruh Perubahan Vcc

f.in = 1 KHz R2 = 10 KΩ V.in = 1000m Vp-p(sinus)

Gambarkan bentuk gelombang input dan output

+Vcc = 5Volt -Vcc = 5Volt Beda Fase = ... +Vcc = 7Volt -Vcc = 7Volt Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... +Vcc = 9Volt -Vcc = 9Volt Beda Fase = ... +Vcc = 12Volt -Vcc = 12Volt Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Nama Praktikan: 1. ……….... NIM: ……… 2. ………..…………..… NIM: ……… Acc Asisten Tanggal: ……… Ttd. (……….)

(19)

Laboratorium Teknik Elektro | 15

UNIT IV

APLIKASI OP – AMP II

A. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mengetahui sifat-sifat Op-Amp

2. Merancang rangkaian dengan Op-Amp

3. Menerapkan Op-Amp pada berbagai aplikasi lanjut

B. ALAT DAN BAHAN 1. Rangkaian percobaan 2. Catu Daya stabil 3. Multimeter

4. Osiloskop dual trace 5. Kabel konektor (Jumper)

C. DASAR TEORI

Secara teori Operational Amplifier (Op-Amp) atau Penguat Operasi adalah penguat dengan kopling langsung (DC = Direct Coupling) yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1. Faktor penguatan tak terhingga (A =  )

Artinya perubahan sedikit saja pada masukannya akan menyebabkan perubahan yang besar pada keluarannya. Karena pada penggunaannya tegangan output berhingga dan karena VO A.Vi , sedangkan A =  maka V dianggap nol i walaupun V0 0.

2. Tahanan Input Tak Terhingga ( Ri )

Artinya inputnya tak menarik daya dari tingkat sebelumnya (yang diperlukan hanya perubahan tegangan). Karena

i i i

R V

I  , bila Ri  maka Ii 0 jadi pada input tidak ada arus.

3. Tahanan Output = 0

Artinya tegangan output akan tetap walaupun impedansi beban hamper nol. 4. Bandwith dari DC sampai Tak Terhingga

Penguatan dari DC sampai frekuensi tak terhingga besarnya tetap. 5. Tak ada Drift Tegangan

(20)

Laboratorium Teknik Elektro | 16 6. Rise Time = 0

Waktu yang diperlukan untuk mencapai harga puncak pada output sama dengan pada sinyal input.

Mengingat bahwa bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat IC Op-Amp kemampuannya terbatas, maka kenyataannya sebuah Op-Amp tidaklah persis seperti penguat ideal.

(21)

Laboratorium Teknik Elektro | 17

LEMBAR PENGISIAN

A. Penguat Diferensial

f.in = 1 KHz V.in = 100mVp-p(sinus)

Gambarkan bentuk gelombang input dan output R1 = 1 KΩ, R2 = 2K2Ω Ra = 1 KΩ, Rb = 2K2Ω Beda Fase = ... R1 = 1 KΩ, R2 = 2K2Ω Ra = 2K2Ω, Rb = 4K7Ω Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... R1 = 1 KΩ, R2 = 2K2Ω Ra = 1 KΩ, Rb = 1 KΩ . Beda Fase = ... R1 = 1 KΩ, R2 = 2K2Ω Ra = 1 KΩ, Rb = 4K7Ω . Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... R2 Input 2 Rb output R1 Input 1 +5V + - LM741 3 2 6 7 1 4 5 -5V Ra

(22)

Laboratorium Teknik Elektro | 18 Dengan input tegangan DC, Vin1 = 5V dan Vin2 = 5V (dc)

R1 = 1 KΩ, R2 = 2K2Ω Ra = 1 KΩ, Rb = 2K2Ω . Beda Fase = ... R1 = 1 KΩ, R2 = 2K2Ω Ra = 1 KΩ, Rb = 4K7Ω . Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ...

(23)

Laboratorium Teknik Elektro | 19

UNIT V

APLIKASI OP-AMP

INTEGRATOR

f.in = 100 Hz V.in = 900mVp-p…(sinus)

Gambarkan bentuk gelombang input dan output R2 = 1 KΩ Beda Fase = ... R2 = 10 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... R2 = 4K7 Ω . Beda Fase = ... R2 = 47 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ...

f.in = 1 KHz V.in = 2Vp-p…(kotak)

Input 1 C1 50 nF + - LM741 3 2 6 7 1 4 5 R2 1M +5V output R1 -5V

(24)

Laboratorium Teknik Elektro | 20 Gambarkan bentuk gelombang input dan output

R2 = 1 KΩ Beda Fase = ... R2 = 10 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... R2 = 4K7 Ω Beda Fase = ... R2 = 47 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Nama Praktikan: 1. ……….... NIM: ……… 2. ………..…………..… NIM: ……… Acc Asisten Tanggal: ……… Ttd. (……….)

(25)

Laboratorium Teknik Elektro | 21

UNIT VI

APLIKASI OP-AMP

INTEGRATOR DIFERENSIATOR

f.in = 100 Hz V.in = 900m Vp-p…(sinus)

Gambarkan bentuk gelombang input dan output R2 = 1 KΩ Beda Fase = ... R2 = 10 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... R2 = 4K7 Ω Beda Fase = ... R2 = 47 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... C1 50 nF output R1 Input 1 -5V + - LM741 3 2 6 7 1 4 5 +5V

(26)

Laboratorium Teknik Elektro | 22

f.in = 1 KHz V.in = 2 Vp-p…(segitiga)

Gambarkan bentuk gelombang input dan output R2 = 1 KΩ Beda Fase = ... R2 = 10 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... R2 = 4K7 Ω Beda Fase = ... R2 = 47 KΩ Beda Fase = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vout = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ... Vin = ... Volt/div = ... Periode = ... Time/div = ...

(27)

Laboratorium Teknik Elektro | 23 Op-Amp Dalam Regulator Tegangan

Vzener = 3V8 V.in = 5 V Rf (Ohm) V0 1 KΩ 1K5 Ω 2 KΩ 4K7 Ω 5 KΩ Vzener = 6V8 V.in = 5 V Rf (Ohm) V0 1 KΩ 1K5 Ω 2 KΩ 4K7 Ω 5 KΩ Nama Praktikan: 1. ……….... NIM: ……… 2. ………..…………..… NIM: ……… Zener + Vdc -5V + - LM741 3 2 6 7 1 4 5 R1 1 k Rs 1 k RF output Acc Asisten Tanggal: ……… Ttd. (……….)

(28)

Laboratorium Teknik Elektro | 24

UNIT VII

PENGUKURAN TEMPERATUR MENGGUNAKAN TERMISTOR

A. TUJUAN PERCOBAAN

1. Mengetahui sensor suhu jenis termistor

2. Menggunakan termistor untuk mengukur suhu

3. Mengetahui respon, sensitifitas, linier, presisi dan akurasi

B. ALAT DAN BAHAN 1. Op-amp 741 x 1

2. Resistor 1Kohm x 2, 10Kohm x 2, dan 100ohm x 1 3. NTC x 1 4. Thermometer presisi x 1 5. Solder x 1 6. Butiran es x 1 7. Catudaya x 1 C. DASAR TEORI

Temperature standar yang utama adalah temperature tetap yang diperoleh dari fenomena fisik. Contohnya adalah titik triple dari hydrogen pada suhu 1337,58K, titik triple dari es pada suhu 273,16K dan titik beku dari emas pada suhu 1337,58 K. Titik triple merupakan titik khusus dalam temperatur dengan tekenan permukaan yang mana tiga fasa zat (padat, cair dan gas) berada dalam kondisi lingkungan yang sama. Hal ini telah diterangkan dalam skala temperatur termodinamika mutlak dari kelvin dimana 0K merupakan energi panas minimum.

Dalam ilmu pengetahuan dan teknik, juga dipakai skala temperatur Celcius. Suhu 0 oC

merupakan titik beku dan 100 oC merupakan titik didih air pada tekanan standar. Titik

triple air pada tekanan terendah (6,11 mbar atau 4,58 mm hg). Titik beku air adlah 273,15 K, dan untuk mengkonversi dari celcius ke kelvin dengan menambah 273,15.

(29)

Laboratorium Teknik Elektro | 25 Transduser temperatur

Salah satu dari tranduser temperatur non listrik yang umum adalah termometer mercury atau alkohol. Jenis termometer ini terdiri dari suatu gelombung berisikan cairan yang dihubungkan pada tabung kapiler. Perubahan isi ini akan dikonversikan menjadi panjang tabung kapiler. Trnaduser temperatur lain yang merupakan tranduser listrik adalah platinum resistance thermometer, thermocople, dan termistor.

Termistor

Termistor untuk pengukuran temperatur terdiri dari sepotong oksida mental yang menghasilkan penurunan resistansi listrik akibat dari naiknya temperatur. Dalam semikonduktor, jika temperatur dinaikan, maka beberapa elektron akan bergerak dari pita valensi ke pita konduktif sehingga konduktifitas listrik akan naik. Konduktivitas listrik ini telah diterangkan melalui mekanisme Boltzman, yang mana jumlah dari elektron dalam pita konduksi bergantung pada temperatur e(-E/kT), dimana E merupakan

celah pita, sekitar 0,3eV dan k adalah konstanta Boltzmann sama dengan 8,61709 x 10-5

eV/K. Resistansi merupakan kebalikan dari konduktivitas, resistansi akan sebanding dengan e(+E/kT) = e(35000/T).

Hubungan antara resistansi R dan temperatur T diberikan oleh:

𝑹(𝑻) = 𝑹(𝑻𝒐)𝒆

[𝜷(𝟏𝑻− 𝟏 𝑻𝒐)]

Dimana T dalam derajat Kelvin, To adalah temperatur refernsi, dan adalah koefisien temperatur dari bahan. Persamaan di atas terlihat bahwa resistansi menurun secara eksponensial. Hal ini sebagai akibat naiknya konsentrasi elektron dalam pita konduksi karena naiknya temperatur. Deskripsi yang lebih akurat diberikan oleh persamaan:

𝟏

𝑻

= 𝑨 + 𝑩(𝐥𝐧 𝑹) + 𝑪(𝒍𝒏 𝑹)

𝟑

Dimana A, B, dan C adalah konstanta empiris yang diperoleh melalui data pengukuran. Karena persamaan tersebut linier untuk A, B, dan C maka teknik fitting least-squares dapat kita pakai. Sebagai aproksimasi awal, AlnR0 /T0 dan B. Dengan

mengabaikan harga (lnR)3, hubungan antara 1/T dan ln R untuk termistor terlihat seperti

(30)

Laboratorium Teknik Elektro | 26 Ln Ro Slope Ln R(T) 1/T 1/To

Gambar 1. Hubungan antara 1/T dan ln R untuk termistor, setelah mengabaikan (ln R)3

Konstanta disipasi adalah daya yang diperlukan untuk menaikan temperatur 1 oC diatas

media di sekitarnya. Untuk termistor yang ditempatkan pada minyak, konstanta disipasinya sekitar 10 mW/ oC. Hal ini penting untuk diketahui karena arus yang melalui

termistor harus dijaga cukup kecil sehingga pemanasan joule tidak mempengaruhi pengukuran temperatur. Untuk dipakia dalam pengukuran temperatur, termistor digunakan rangkaian jembatan seperti gambar 2

THER MIS TOR 10 0K 5K + -5K VCC GND

Gambar 2. Jembatan whiteton

Persamaan dari rangkaian gambar 2 adalah:

Thermistor x 5K = Potensiometer(100K) x 5K

Dari keluaran gambar 2, akan dikuatkan dengan rangkaian penguat diferensial seperti gambar 3.

(31)

Laboratorium Teknik Elektro | 27 Gambar 3. Rangkaian penguat deferensial

Persamaan dari rangkaian gambar 3 adalah

D. LANGKAH PERCOBAAN

1. MENENTUKAN KARAKTERISTIK TERMISTOR

0 + 0 + THERMISTOR 100 ohm PSA 5 V THERMOMETER

a. Atur sedemikian rupa sehingga badan thermistor dan termometer sangat berdekatan agar mendapat akses panas dari solder

b. Catat suhu mula mula dan nilai pembacaan voltmeter.

c. Hangatkan termistor dan catat suhu beserta perubahan tegangan pada voltmeter sesuai tugas pengamatan.

d. Sketsalah grafik perubahan suhu terhadap perubahan tegangan.

e. Dengan menggunakan teknik fitting least-squares buatlah rumus antara perbandingan suhu dengan tegangan.

+ - LM741 3 2 6 7 1 4 5 +5V output 10K 1K Input 2 Input 1 -5V 1K 10K

(32)

Laboratorium Teknik Elektro | 28

2. RANGKAIAN TERMISTOR DENGAN JEMBATAN

THER MIS TOR 10 0K 5K + -5K VCC GND

a. Atur sedemikian rupa sehingga badan thermistor dan termometer sangat berdekatan agar mendapat akses panas dari solder

b. Catat suhu mula mula dan nilai pembacaan voltmeter.

c. Hangatkan termistor dan catat suhu beserta perubahan tegangan pada voltmeter sesuai tugas pengamatan.

d. Sketsalah grafik perubahan suhu terhadap perubahan tegangan.

e. Dengan menggunakan teknik fitting least-squares buatlah rumus antara perbandingan suhu dengan tegangan.

3. RANGKAIAN TERMISTOR DENGAN PENGUATAN

a. Atur sedemikian rupa sehingga badan thermistor dan termometer sangat berdekatan agar mendapat akses panas dari solder

b. Keluaran dari jembatan whiteton, hubungkan ke penguat deferensial.

+ - LM741 3 2 6 7 1 4 5 +5V output 10K 1K Input 2 Input 1 -5V 1K 10K

(33)

Laboratorium Teknik Elektro | 29

c. Catat suhu mula mula dan nilai pembacaan voltmeter pada output jembatan dan pengutan deffernsial.

d. Hangatkan termistor dan catat suhu beserta perubahan tegangan pada output jembatan dan pengutan deffernsial sesuai tugas pengamatan.

e. Sketsalah grafik perubahan suhu terhadap perubahan tegangan.

f. Dengan menggunakan teknik fitting least-squares buatlah rumus antara perbandingan suhu dengan tegangan.

(34)

Laboratorium Teknik Elektro | 30

LEMBAR PENGISIAN

1. MENENTUKAN KARAKTERISTIK TERMISTOR

No Suhu Terukur VO 1 35 2 40 3 45 4 50 5 55 6 60 7 65 8 70 9 75 10 80

2. RANGKAIAN TERMISTOR DENGAN JEMBATAN

No Suhu Terukur VO 1 35 2 40 3 45 4 50 5 55 6 60 7 65 8 70 9 75 10 80

(35)

Laboratorium Teknik Elektro | 31

3. RANGKAIAN TERMISTOR DENGAN PENGUATAN

No Suhu Terukur VO Voutput Penguat

1 35 2 40 3 45 4 50 5 55 6 60 7 65 8 70 9 75 10 80 Nama Praktikan: 1. ……….... NIM: ……… 2. ………..…………..… NIM: ……… Acc Asisten Tanggal: ……… Ttd. (……….)

Gambar

Gambar 1. Rangkaian dasar Op-Amp
Gambar 1. Hubungan antara 1/T dan ln R untuk termistor, setelah mengabaikan  (ln R) 3
Gambar 3. Rangkaian penguat deferensial

Referensi

Dokumen terkait

peningkatan produktivitas karet kering lima kali lebih tinggi dengan menggunakan klon - klon unggul dibandingkan bahan tanaman.. semaian terpilih dan mas a

Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas utama yang ditanam petani di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan.. Produksi kopi terbesar yang dihasilkan adalah kopi

Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar IPS untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPS (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII K SMP Negeri 12

a) Penyelenggara stor hendaklah mencatat barang yang dikeluarkan di dalam Baucar Pengeluaran Barang yang mana mesti ditandatangani oleh penerima barang,

Jumlah buku yang dihantar untuk proses jilidan muka surat hilang dan segera bagi tahun 2008 adalah 37 naskhah (muka surat hilang dan jilid segera) iaitu penurunan sebanyak 54.05%

Hubungan Status Ekonomi dengan Konsumsi Sayur Siswa SMP di Perkotaan dan Pedesaan Tahun 2014 Berdasarkan hasil uji statistik Chi- Square dengan tingkat

Hasil evaluasi terhadap narasumber pelatihan menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta menyatakan narasumber pelatihan sangat baik, hal itu menggambarkan bahwa narasumber

Geometri pahat yang optimum memberikan proses pemotongan yang cepat dengan hasil yang halus serta keausan pahat yang minimum.Tujuan dari penelitian ini untuk