i
KESIAPAN SUMBER DAYA MANUSIA HOTEL LE
BERINGIN MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI
ASEAN
Oleh:
IRMAWATI SAGALA NIM : 212011120
KERTAS KERJA
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari
Persyaratan-persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS
PROGRAM STUDI : MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2015
vi
MOTTO
“Dimana ada pengharapan, disitu ada kekuatan”
“Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu
akan menerimanya” (Matius 21:22)
“Pribadi terbaik adalah mereka yang selalu memiliki kecintaan kuat terhadap
karir dan keluarga” (Mario Teguh)
vii
ABSTRACT
This paper is a qualitative research conducted directly to the objects studied for collating data to answer the scope of study. The data collation is conducted by interview. The aim of this research is to discuss the human source preparedness at Le Beringin hotel and the hotel strategy to face ASEAN Economic Community. ASEAN economic community is aiming at producing single market and with high quality production base. The research shows that Le Beringin hotel is not prepared to face the ASEAN Economic Community because there is no certified employee. Certification is a requirement for workers to prove the level of competence in the tourism. This paper also shows that even though there is no certified workers in facing ASEAN Economic Community, the Le Beringin Hotel will improve the competencies of their employee so that they have competency. Hence, the qualified human source both knowledge and skill are very important aspects for improving competitiveness in tourisms service.
viii SARIPATI
Kertas kerja ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diteliti, untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah, pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara. Penelitian ini bertujuan untuk membahas kesiapan sumber daya manusia hotel Le Beringin dan strategi dari pihak hotel tersebut dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Masyarakat Ekonomi ASEAN ini bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang memiliki daya saing tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa pada Hotel Le Beringin dapat dikatakan belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN karena tidak memiliki tenaga kerja yang bersertifikasi. Sertifikasi merupakan sebuah tuntutan bagi tenaga kerja untuk membuktikan tingkat kompetensi dalam usaha pariwisata. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa walaupun tidak adanya tenaga kerja yang bersertifikasi dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN hotel Le Beringin akan meningkatkan kompetensi pada setiap karyawan agar memiliki daya saing. Oleh karena itu harus tersedia SDM yang berkualitas baik dari segi ilmu pengetahuan, keterampilan maupun etos kerja karena sangat penting dalam meningkatkan daya saing produk jasa pariwisata.
ix
KATA PENGANTAR
Kertas kerja yang berjudul “Kesiapan sumber daya manusia Hotel Le Beringin menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN” dibuat untuk memenuhi salah satu syarat akademik yang harus dipenuhi oleh penulis untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi strata satu dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Kertas kerja ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan penulis mengenai kesiapan dan strategi yang di lakukan Hotel Le Beringin menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang didukung dengan data primer berupa hasil wawancara dengan pihak Manager HRD dan Admin HRD hotel Le Beringin. Penulis memilih judul penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kesiapan dan strategi hotel Le Beringin pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kertas kerja ini belum sempurna dan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran, kritik, dan koreksi yang membangun.
Akhir kata penulis berharap semoga kertas kerja yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Salatiga, 10 November 2015 Penulis
x
UCAPAN TERIMAKASIH
Dalam penyelesaian kertas kerja ini Penulis banyak mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Karena itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu mencurahkan berkat dan kasihNya kepadaku dan memimpin tiap langkahku sehingga kertas kerja ini dapat terselesaikan.
2. Bapak Sariden M Sagala, Mama Dormauli Br Sitio, Adik Susi Indahyani Sagala, Firman Sagala & Ricky Febrianus Sagala terima kasih atas doa, bimbingan, sarana, dan dorongan semangat, serta dukungan yang diberikan kepada penulis.
3. Ibu Roos Kities Andadari, SE, MBA, Ph.D, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan motivasi, berusaha dengan sabar dan cermat dalam membimbing dan mengarahkan penulis untuk menyelesaikan kertas kerja ini.
4. Ibu Roos Kities Andadari, SE, MBA, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
5. Bapak Prof. Christantius Dwiatmadja, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
6. Bapak Johnson Dongoran, SE, MBA, selaku Wali Studi yang telah memberikan masukan serta memberikan pengetahuan kepada penulis.
7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang tak ternilai.
8. Staf dan Tata Usaha Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana yang telah memberi bantuan administrasi dan teknis kepada penulis selama kuliah.
9. Bapak Prana dan ibu Sinta Hotel Le Beringin, Salatiga yang telah mengijinkan, memberikan waktu serta informai bagi penulis untuk melakukan wawancara.
10. Buat sahabat dan teman-teman Yohana Septyani, Rani Dame Simanjorang, Nada Naviana Simarmata, Noari Elista Sari serta buat pacar Iren Rizal Sigiro, terimakasih atas semua dukungan, bantuan, dan doanya.
xi
11. Buat teman-teman FEB angkatan 2011, terima kasih atas doa dan dukungan yang selalu diberikan.
Akhirnya penulis berharap, kertas kerja ini dapat bermanfaat bagi organisasi/perhotelan, segala kekurangan dalam penulisan ini, penulis harapkan kritik dan saran dari semua pihak.
xii DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Surat Pernyataan Keaslian Kertas Kerja ... ii
Halaman Persetujuan/Pengesahan ... iii
Motto ... iv
Abstract ... v
Saripati ... vi
Kata Pengantar ... vii
Ucapan Terima Kasih ... viii
Daftar Isi……… ... x
Daftar Tabel ... xi
Daftar Lampiran ... xii
Pendahuluan ... ... 1
Kajian Pustaka ... ... 3
Masyarakat Ekonomi ASEAN ... ... 3
Sektor Perhotelan dan Kesiapan memasuki MEA ... ... 5
Strategi Sektor Perhotelan memasuki MEA ... ... 7
Metode Penelitian ... ... 11
Hasil Penelitian dan Pembahasan ... ... 12
Profil Perusahaan dan Persaingan ... ... 12
Manajemen dan Organisasi Hotel Le Beringin ... ... 14
Sumber Daya Manusia Hotel Le Beringin ... ... 17
Kesiapan Hotel Le Beringin Menghadapi MEA ... ... 19
Strategi Hotel Meningkatkan Daya Saing... 21
Penutup ... ... 24
Kesimpulan ... ... 24
xiii
Keterbatasan Penelitian... 26 Daftar Pustaka ... ... 27
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Peringkat Indeks Daya Saing Pariwisata dan Perjalanan ... ... 6
Tabel 2 Daftar Orang Yang Diwawancara... 12
Tabel 3 Nama Hotel, Jenis, dan Kriterianya... . 14
Tabel 4 Jenis-jenis Pekerjaan dan Spesifikasi Pekerjaan di Hotel Le Beringin... 16
Tabel 5 Distribusi Karyawan Hotel Le Beringin menurut Usia Tahun 2015... 17
xv
DAFTAR LAMPIRAN
1
KESIAPAN SUMBER DAYA MANUSIA HOTEL LE BERINGIN
MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Latar Belakang Masalah
ASEAN merupakan salah satu blok perdagangan bebas yang dibentuk yang bertujuan untuk mempercepat perdagangan bebas dunia yang didirikan oleh lima negara di Asian Tenggara yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura pada bulan Agustus tahun 1967 (Adolf, 2005). Dalam ASEAN terdapat kesepakatan pelaksanaan liberalisasi jasa antara negara-negara ASEAN yaitu kesepakatan Mutual Recognition Agreement (MRA) yang dimana terdapat 8 sektor, salah satu sektor yaitu sektor pariwisata dimana didalamnya terdapat perhotelan ( Keliat, 2013). Pariwisata juga ditetapkan sebagai prioritas dalam liberalisasi sektor jasa ASEAN bersama dengan transportasi udara, e-ASEAN, dan layanan kesehatan. Untuk mendukung liberalisasi sektor jasa pariwisata, disusunlah kesepakatan ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Tourism Professional (Keliat, 2013 “ASEAN Tourism Agreement, Articles VII”). MRA-TP ini mengatur bahwa jika seorang tenaga kerja profesional pariwisata asing (Foreign Tourism Profesional) ingin diakui oleh negara ASEAN yang lain selain negara asalnya dan untuk dapat bekerja di negara itu, orang tersebut harus memiliki sertifikat kompetensi yang sah dalam satu bidang pekerjaan yang khusus sebagaimana yang dijelaskan dalam Common ASEAN Tourism Curriculum (Keliat, 2013 “ASEAN Secretariat, ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Tourism Handbook, (Vietnam: ASEAN Secretariat, 2013), halaman 1”)
Perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN antar sesama anggota negara ASEAN sudah dimulai diberlakukan sejak 2015. Tujuan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yaitu dapat mensejahterahkan ekonomi seluruh bangsa-bangsa ASEAN, melalui kerjasama diberbagai bidang (Syarif, 2015), karena adanya aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih dalam era pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (Simanjuntak, 2015). Bagi negara Indonesia pun tentu akan sangat banyak manfaatnya seperti peningkatan investasi, perdagangan dan terbukanya lapangan pekerjaan (Yudananto, 2015). Tetapi peluang itu tidak dapat datang dengan sendirinya jika Indonesia tidak siap untuk bersaing memperebutkan peluang diberbagai bidang, salah satunya kebutuhan akan sumber daya manusia. Karena
2
sesungguhnya kualitas SDM yang diyakini secara langsung akan menentukan mutu produk dan pelayanan wisata. Artinya, peningkatan kualitas SDM menjadi salah kunci untuk memenangkan persaingan global yang semakin kompetitif. Prasyarat untuk itu sistem pendidikan dan pelatihan kepariwisataan yang mendukung (Priowirjanto, 2011), penyusunan dan penerapan standar kompetensi tenaga kerja Pariwisata (Parwoto, 2001).
Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN akan meliberalisasi pasar tenaga kerja terampil yang akan memungkinkan terjadinya mobilitas arus tenaga kerja. Meskipun dalam liberalisasi ini dapat membuka pasar bagi tenaga kerja asing, namun pasar kerja disemua negara akan mensyaratkan sertifikasi kompetensi profesi bagi tenaga kerja yang akan masuk kenegara tersebut. Jadi tenaga kerja yang dapat memanfaatkan peluang kerja dinegara lain yaitu mereka yang sudah memiliki sertifikat kompetensi profesi sesuai dengan bidangnya. Jika Indonesia tidak mempersiapkan tenaga kerja yang ahli dan bersertifikasi, maka Indonesia bisa jadi hanya memiliki tenaga kerja yang meskipun ahli tetapi dibayar murah (Ikbalumhar, 2014). Pada saat ini standar pengembangan sertifikasi yang diterapkan oleh asosiasi pariwisata didalam negeri telah menjadi acuan bagi asosiasi bisnis pariwisata ditingkat ASEAN (Syahputri, 2014). Hal tersebut didorong oleh keunggulan dari asosiasi pariwisata Indonesia dalam standar kompetensi profesi bidang pariwisata sehingga dicontoh oleh asosiasi lainnya (Ariyanti, 2014).
Penelitian yang dilakukan oleh Bagiastuti (2014) menunjukkan bahwa Pemerintah telah mengambil suatu tindakan sebagai upaya memberikan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN melalui standarisasi dan sertifikasi karena sangat penting tenaga kerja yang bergerak di Industri pariwisata dalam UU No. 10 Tahun 2009. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik melakukan penelitian tentang kesiapan sumber daya manusia dan pengembangan sumber daya manusia pada sektor perhotelan dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dari penelitian sebelumnya hanya membahas tentang bagaimana kesiapan peningkatan daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN pemerintah melakukan upaya dengan cara meningkatkan daya saing, pengembangan SDM dengan peningkatan keahlian dan keterampilan dan sertifikasi profesi.
Penelitian ini akan mengambil kasus dihotel Le Beringin Salatiga yang akan menjelaskan kesiapan sumber daya manusia dan strategi pengembangan sumber daya
3
manusia yang akan dilakukan oleh Hotel Le Beringin Salatiga dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Pada Hotel Le Beringin Salatiga setiap karyawan tidak diwajibkan karena tidak ada karyawan yang tersertifikasi tetapi hotel Le Beringin ini sudah merupakan hotel berbintang 3. Walaupun tidak sertifikasi pada karyawannya kesiapan ini sangat diperlukan untuk peningkatan profesionalisme tenaga kerja yang terdidik dan terlatih serta mempunyai etos kerja dibidangnya. Maka dari itu dengan adanya penerapan strategi yang menuntut sumber daya manusia indutri pariwisata, pihak hotel memiliki standard kualifikasi keahlian dibidang pariwisata untuk mampu menciptakan mutu pelayanan yang berkualitas.
Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah penelitian, maka persoalan penelitian yang akan dibahas adalah:
1. Bagaimana kesiapan sumber daya manusia pada Hotel Le Beringin Salatiga dalam pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN?
2. Bagaimana strategi pengembangan sumber daya manusia dari Hotel Le Beringin Salatiga dalam pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN?
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kesiapan sumber daya manusia dari Hotel Le Beringin Salatiga dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN
2. Untuk mengetahui strategi pengembangan sumber daya manusia dari Hotel Le Beringin Salatiga dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN
Kajian Pustaka
1. Masyarakat Ekonomi ASEAN
Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah suatu komunitas negara-negara ASEAN yang sangat luas, tidak ada batasan wilayah dalam bidang perekonomian, dan juga kesepakatan diantara negara-negara ASEAN untuk menghilangkan hambatan dari arus arang dan jasa serta faktor produksi seperti tenaga kerja dan investasi (Adityo, 2014). Tujuan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN ini untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang memiliki daya saing tinggi serta menjadi kawasan yang mampu berintegrasi penuh (Roadmap for ASEAN Economic Community, 2009). Artinya semua rintangan perdagangan akan diliberalisasi dan arus perdagangan harus dibebaskan dari bea masuk sebagai bentuk
4
hambatan perdagangan dan proteksionisme. Dengan demikian, maka akan terbentuk integrasi Ekonomi ASEAN yang bertujuan meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan standar hidup penduduk negara ASEAN (Yudananto, 2015).
Apabila tidak mempersiapkan diri dengan baik, maka Indonesia akan menjadi pasar bagi komoditas negara-negara lainnya. Menolak bergabung dalam suatu perjanjian perdagangan bukan merupakan suatu pilihan bagi Indonesia. Indonesia dapat kehilangan kesempatan bertransaksi dengan tarif rendah dengan negara-negara tersebut (Gunawan, 2014). Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi di ASEAN, karena memiliki potensi besar untuk memenangkan ajang perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Maka dari itu, negara-negara ASEAN harus mampu mempersiapkan kondisi ekonominya agar dapat memanfaatkan peluang pasar bebas ini.
Dari sisi barang (free flow of goods), liberalisasi perdagangan barang akan menjamin kelancaran arus barang untuk pasokan bahan baku maupun bahan jadi dikawasan ASEAN (Triyudha, 2013). Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat integrasi tinggi dalam berproduksi, berpeluang besar untuk mengembangkan industri didalam negeri melalui liberalisasi perdagangan barang. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh ASEAN Secretariat tahun 2012, tercatat bahwa Indonesia sudah mengelimasi hambatan tarif sebanyak 5.731 produk dan menempati urutan ketiga dalam produksi sektor berbasis Sumber Daya Alam (Karet, minyak dan gas, batu bara, kayu, tekstil), dan juga sejumlah UMKM di Indonesia juga turut menggeliat untuk membuka cabang usaha di ASEAN. sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing produk, kini Badan Standarisasi Nasional (BSN) telah menyusun strategi untuk membendung kemungkinan membanjirnya produk-produk impor dari luar negari (Pambudi, 2014).
Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini dapat memberi peluang tetapi juga dapat menjadi tantangan bagi Indonesia berkaitan dengan sumber daya manusianya (Ubay, 2014). Pertumbuhan ekonomi yang stabil, meningkatnya kelas menengah, serta keunggulan Sumber Daya Alam (SDA) menjadi modal Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan integrasi dalam bentuk “common market”, yaitu dimana akan terjadi penghapusan hambatan tidak hanya barang dan jasa tetapi juga tenaga kerja. Dengan adanya common market di regional ASEAN akan semakin merangsang aliran investasi, perdagangan intra-regional dan penyerapan tenaga
5
kerja yang lebih besar di ASEAN (Pambudi, 2014). Kemampuan bersaing Sumber Daya Manusia tenaga kerja Indonesia harus ditingkatkan baik secara formal maupun informal (Triyudha, 2013). Karena dengan adanya pasar tunggal ASEAN ini dapat mengancam eksistensi usaha sekaligus Sumber Daya Manusia lokal.
2. Sektor Perhotelan dan Kesiapan Memasuki MEA
Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan penginapan, makan dan minum, serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial serta memenuhi ketentuan persyaratan yang ditetapkan didalam Keputusan Pemerintah. Sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki kontribusi yang cukup signifikan dalam penerimaan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja. Kedatangan wisatawan akan membuka peluang bagi masyarakat untuk menjadi pengusaha hotel, restoran, perdagangan, jasa penunjang angkutan dalam pengelolaan objek dan daya tarik wisata sehingga peluang tersebut akan memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk bekerja sehingga masyarakat akan memeproleh pendapatan dari pekerjaan tersebut (Soekadijo, 2000:14).
Industri pariwisata Indonesia terus berupaya dan melakukan persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dengan harapan mampu memenangkan persaingan ditingkat negara-negara Asia Tenggara (Bagus, 2014) . Sektor pariwisata tentunya tak lepas dari pekerja hotel yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Jumlah karyawan hotel yang sudah tersertifikasi ini sangat kecil, seperti yang sertifikasi karyawan yang dilakukan dihotel bali baru sekitar 12 persen dari sekitar 300.000 karyawan hotel di Bali. Kemudian sertifikasi yang dilakukan di hotel Sumatera Barat hanya sepertiga saja yang memiliki sertifikasi. Menurut peraturan UU No 10 Tahun 2009 karyawan hotel 70 persen yang memiliki sertifikasi. Di negara yang sedang berkembang, sektor perhotelan dijadikan sebagai salah satu sumber devisa negara dalam menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN, terlebih dengan adanya pandangan bahwa sektor perhotelan merupakan eksport yang tidak kentara (Karyono, 1997) , dan industri yang tidak akan pernah berakhir (Nuryanti, 1997).
Sektor perhotelan tidak mengambil alih kedudukan sektor lainnya. Sebaliknya kehadiran sektor pariwisata akan mendorong kemajuan sektor lainnya dengan saling mengisi dan saling melengkapi diberbagai bidang. Kegiatan atau aktivitas pariwisata pada perkembangannya telah menjadi industri pariwisata dan merupakan salah satu sektor yang
6
dapat memberikan keuntungan secara ekonomi. Pemerintah memang sudah harus melakukan persiapan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Peringkat indeks daya saing dengan jumlah kunjungan wisatawan asing ke masing-masing negara ASEAN dapat dijelaskan dari tabel sebagai berikut.
Tabel 1 “Peringkat Indeks Daya Saing Pariwisata dan Perjalanan”
Negara 2013 2011 Singapura 10 10 Malaysia 34 35 Thailand 43 41 Indonesia 70 74 Brunei Darusalam 72 67 Vietnam 80 80 Filipina 82 94 Kamboja 106 109
Laos Tidak Masuk Tidak Masuk
Myanmar Tidak Masuk Tidak Masuk
Sumber : The Tourism & Travel Competitiveness Report 2013
Indonesia menempati peringkat ke-70 Indeks Daya Saing Perjalanan dan Wisata dari 140 negara yang di survei oleh Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum berbasis di Jenewe, Swiss. (Fadjar, 2013). Indonesia menduduki peringkat 70, peringkat ini berada di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand. (The Travel & Tourism Competitiveness Report 2013). Pada tahun 2011, Indonesia menempati peringkat 74. Posisi daya saing pariwisata Indonesia membaik pada tahun 2013. Semua negara ASEAN mengalami peningkatan kecuali Thailand dan Brunei Darusalam, Indonesia memang di atas Brunei, Vietnam, Filipina, dan Kamboja (Laos dan Myanmar tidak masuk pemeringkatan), namun peringkatnya tidak terpaut jauh dengan Brunai, Vietnam dan Filipina. Pada tahun 2013, keunggulan daya saing pariwisata Indonesia bertambah dibanding negara ASEAN lain yakni daya saing harga , prioritas kepariwisataan, dan sumber daya manusia. Hal ini dapat menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dibenahi di dalam sektor pariwisata.
Daya saing sektor pariwisata adalah kapasitas usaha pariwisata untuk menarik para pengunjung asing maupun domestik yang berkunjung pada suatu tujuan tertentu. Peningkatan daya saing dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, meningkatkan
7
kapabilitas pengelolaan sehingga mempunyai daya saing (Grant, 1991). Untuk mencapai posisi daya saing yang dibutuhkan bagi perkembangan pariwisata, diperlukan kemauan tindakan yaitu bekerja keras sesuai visi dan misi yang ditentukan. Untuk meningkatkan daya saing itu diperlukan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih serta mempunyai etos kerja dibidangnya. Oleh karena itu harus tersedia SDM yang berkualitas baik dari segi ilmu pengetahuan, keterampilan maupun etos kerja karena sangat penting dalam meningkatkan daya saing produk jasa pariwisata.
Sektor perhotelan merupakan sektor yang paling rentan terhadap masuknya tenaga kerja asing. Prosesnya dilakukan ke arah pemberlakuan sertifikasi kompetensi pekerja. Sektor ini yang sangat diperhatikan dan perlu dilakukannya peningkatan agar dapat tetap bersaing dengan negara-negara lainnya. Saat ini yang terpenting adalah karyawan hotel harus memiliki sertifikat kompetensi. Ini sangat penting, karena ini bukan hanya untuk bekerja diluar negeri tetapi juga untuk bekerja didalam negeri. Adapun tujuan dari kegiatan ini untuk memperkuat kompetensi SDM dalam rangka menghadapi persaingan dan tuntutan standar usaha pariwisata bidang perhotelan. Dengan memperhatikan tuntutan akan tersedianya tenaga kerja terdidik, terlatih dan mempunyai etos kerja maka Sertifikasi Tenaga Kerja di bidang pariwisata merupakan kebutuhan mendesak yang memiliki manfaat untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja di Indonesia ( Nur, 2013)
Dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia Pemerintah menunjukkan kepedulian atas perkembangan ini dengan membuat Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di sektor pariwisata subsektor perhotelan dan restoran (PHRI) ( Nur, 2013), PHRI salah satu komponen dari sekian banyak faktor keberhasilan dunia pariwisata dengan harapan agar pelaku usaha dalam sektor tersebut dapat memahami perkembangan dunia usaha pariwisata dan mau mempersiapkan diri untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan masing-masing tenaga kerja yang telah dimiliki agar mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara ASEAN yang akan dimungkinkan masuk ke Indonesia dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.
3. Strategi Sektor Perhotelan memasuki MEA
Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN dapat memberi dampak positif dan negatif. Dampak positif yang dapat diperoleh yaitu dapat menambah ketersediaan SDM yang dapat bermanfaat dalam pembangunan Indonesia. Peningkatan daya saing dapat dicapai dengan
8
memanfaatkan sumber daya yang ada, meningkatkan kapabilitas pengelolaan sehingga mempunyai daya saing (Grant, 1991). Maka untuk mempersiapkan dan memperkuat agar tidak kalah dan menjadi pasar potensial bagi negara lain. Sektor pariwisata Indonesia telah mempersiapkan strategi untuk menguatkan diri diperdagangan bebas. Salah satunya adalah dengan adanya pemberlakuan sertifikasi terhadap setiap karyawan hotel sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) (Malau, 2012).
Sertifikasi merupakan sebuah tuntutan bagi tenaga kerja untuk membuktikan tingkat kompetensi dalam usaha pariwisata. Menurut Peraturan Pemerintah No. 52 Tahun 2012 tentang sertifikasi kompetensi dan sertifikasi usaha di bidang pariwisata bahwa sertifikasi kompetensi di bidang pariwisata adalah proses pemberian sertifikat kompetensi di bidang kepariwisataan yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi sesuai standar kompetensi kerja nasional Indonesia (Malau, 2012). Untuk memberikan kompetensi tenaga kerja dan meningkatkan kualitas serta daya saing tenaga kerja.
Pihak PHRI memfasilitasi ribuan pekerja pariwisata di Jatim untuk mendapatkan sertifikasi. Pada tahun 2013, dibantu sekitar 1.500 tenaga kerja pariwisata untuk mendapatkan sertifikasi. Dan menargetkan agar tahun ini bisa membantu sekitar 2.000 hingga 2.500 tenaga kerja. Untuk itu, Pihak PHRI bersama dengan dinas terkait selalu melakukan sosialisasi tentang pentingnya sertifikasi kompetensi kepada seluruh SDM pariwisata. Selain itu, dalam peraturan daerah juga telah ditetapkan bahwa salah satu persyaratan hotel yang mengajukan ijin beroperasi adalah 50% tenaga kerjanya sudah tersertifikasi (Sholeh, 2014). Sertifikasi kompetensi ini akan memfasilitasi mobilitas para tenaga kerja profesional pariwisata berdasarkan kompetensi pariwisata berkualifikasi. Pelaku bisnis Indonesia sudah cukup aktif mempersiapkan diri dengan melakukan investasi untuk mempersiapkan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 persaingan dunia profesional semakin ketat, hal ini sangat dibutuhkan sertifikasi bagi setiap karyawan hotel, sesuai dengan UU nomor 10 tahun 2009. Tujuan penggunaan tenaga kerja dimaksudkan sebagai upaya untuk mempekerjakan angkatan kerja secara penuh dan produktif. Perencanaan tenaga kerja yang dibuka pemerintah dapat memberikan informasi mengenai pasar kerja untuk masa kerja 5 sampai 10 tahun mendatang (Astuti, 2008). Standar pengembangan sertifikasi yang diterapkan oleh asosiasi pariwisata di dalam negeri bahkan menjadi acuan bagi asosiasi bisnis pariwisata di tingkat ASEAN.
9
Dengan berbekal kompetensi kerja dan sertifikasi, mereka akan mengetahui standar pelayanan perhotelan yang kemudian akan siap bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain (Hakim, 2015). Kementrian Ketenagakerjaan dan Kementrian Pariwisata melakukan kerja sama untuk meningkatkan kompetensi kerja para tenaga kerja yang bergerak di bidang pariwisata. Upaya yang dilakukan untuk memfasilitasi penyiapan infrastruktur sertifikasi kompetensi meliputi penyiapan Standar Kompetensi Nasional Indonesia (SKKNI), pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) serta penyiapan tenaga-tenaga asesor kompetensi dan asesor lisensi.
Saat ini sudah ada 46 standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) di sektor pariwisata. Kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kerja Indonesia yang bekerja di negara-negara ASEAN tidak kalah karena dilakukan peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan, magang dan penelitian serta ditunjang dengan sekolah-sekolah pariwisata yang menghasilkan lulusan yang siap bekerja (Widianto, 2015). Pemerintah mendorong percepatan peningkatan jumlah sertifikasi profesi di sektor pariwisata. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan sertifikasi misalnya susunan standar kompetensinya, menerapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan berbasis pada standar kompetensi, output dari lembaga pendidikan dan pelatihan bisa mengikuti uji kompetensi. Penyusunan standar kompetensi perlu adanya fasilitas dari pemerintah agar asosiasi-asosiasi bisa membuat standarnya. Kemudian lembaga pendidikan perlu mengembangkan kurikulum berbasis pada standar dengan peralatan sarana pembelajaran yang sesuai dengan standar tersebut.
Dengan adanya SKKNI tersebut, bisa mengantisipasi membeludaknya tenaga asing yang bekerja di Indonesia (Septiana, 2014). Jika tenaga kerja asing ingin bekerja di Indonesia maka harus mempunyai SKKNI yang sesuai dengan amanat UU. Setiap karyawan hotel harus memiliki kesadaran tinggi agar dapat memperoleh sertifikasi karena didunia pariwisata khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sertifikasi yang harus dimliki harus sesuai keahliannya agar mampu bertahan ketika negara-negara asing itu masuk untuk masuk bekerja dan berinventasi di Indonesia. Dengan adanya sertifikasi maka diharapkan karyawan juga mengetahui standar pelayanannya.
Alat ukurnya adalah pengetahuan, keterampilan dan perilaku dari tenaga kerjanya. Pengembangan yang harus dilakukan dalam meningkatkan kualitas SDM dapat dilakukan dengan cara melakukan perbaikan sistem pendidikan, pengembangan kompetensi berbasis
10
industri, pelatihan, perbaikan pola pikir dan karakter, perbaikan kesejahteraan dan kesehatan (Nur, 2013) . Menurut Pasal 26 UU No. 10 Tahun 2009 menyebutkan bahwa setiap pengusaha pariwisata berkewajiban untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja melalui pelatihan dan pendidikan serta menerapkan standar usaha dan standar kompetensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk tenaga kerja asing.
Meskipun dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN arus tenaga kerja trampil bebas bergerak dari suatu negara ke negara lain. Tetapi sekarang telah mengenal adanya standar minimal yang dikembangkan oleh bidang usaha untuk profesi yang ada dalam bentuk sertifikasi profesi, profesi berkaitan dengan kompetensi. Menurut PP nomor 52 Tahun 2012 pasal 1 (1) “kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh pekerja pariwisata untuk mengembangkan profesionalitas kerja. Sedangkan pasal 1 (2) “sertifikasi kompetensi di bidang pariwisata adalah proses pemberian sertifikat kompetensi di bidang kepariwisataan yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi sesuai standar kompetensi kerja nasional Indonesia, standar internasional atau standar khusus. Dalam standar kompetensi kerja Indonesia (SKKNI), kompetensi diartikan sebagi pernyataan tentang bagaimana seseorang dapat mendemonstrasikan keterampilan, pengetahuan dan sikapnya di tempat kerja sesuai dengan standar industri atau persyaratan yang ditetapkan oleh tempat kerja (Andadari, 2014).
Mengacu pada Peraturan Pemerintah No.31 Tahun 2006 Tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional, KKNI terdiri dari 9 (sembilan) jenjang kualifkasi, yaitu jenjang kualifikasi Sertifikat – I sampai dengan jenjang kualifikasi Sertifikat – IX. Pengemasan SKKNI ke dalam jenjang kualifikasi KKNI menggunakan parameter atau deskriptor yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.21/MEN/X/2007 Tentang Tata Cara Penetapan SKKNI. Pengemasan SKKNI ke dalam jenjang kualifikasi KKNI sangat penting untuk keperluan penyandingan maupun penyetaraan kualifikasi dan atau rekognisi dengan tingkat pendidikan dan atau tingkat pekerjaan. Di samping itu, pengemasan SKKNI ke dalam KKNI juga penting untuk keperluan harmonisasi dan kerjasama saling pengakuan kualifikasi dengan negara lain, baik secara bilateral maupun secara multilateral.
Sesuai dengan kebutuhan di sektor atau bidang usaha yang bersangkutan, sertifikasi kompetensi dapat diselenggarakan melalui 3 (tiga) skema sertifikasi sebagai berikut :
11
a. Skema Sertifikasi Pihak Pertama (First Party Certification) : yaitu sertifikasi kompetensi yang dilakukan oleh organisasi/perusahaan atas karyawannya sendiri, dengan menggunakan standar khusus, dan atau SKKNI.
b. Skema Sertifikasi Pihak Kedua (Second Party Certification) : yaitu sertifkasi kompetensi yang dilakukan oleh suatu organisasi/perusahaan terhadap karyawan perusahaan lain yang menjadi supplyer atau agen dari organisasi/perusahaan dimaksud. Biasanya dilakukan dalam rangka menjamin mutu supply barang atau jasa. Sertifikasi ini dapat menggunakan standar khusus dan atau SKKNI.
c. Skema Sertifikasi Pihak Ketiga (Third Party Certification) : yaitu sertifikasi terhadap tenaga kerja yang dilakukan olah LSP yang telah mendapatkan lisensi dari BNSP, dalam rangka menjamin mutu kompetensi secara nasional. Sertifikasi ini menggunakan SKKNI atau standar internasional (Iskandar, 2014).
Karena semakin disadari bahwa ijazah yang diperoleh dari pendidikan formal saja tidak cukup, tetapi akan lebih bernilai lebih jika memiliki sertifikasi. Menurut Menakertrans, sistem sertifikasi kompetensi karyawan hotel yang dicangkokkan pada kurikulum sistem pendidikan merupakan langkah yang tepat untuk menghasilkan lulusan pendidikan yang kompeten. Dengan ruang lingkup kompetensi kerja yang sangat luas dan tersebar diberbagai sektor, BNSP atau Badan Nasional Sertifikasi Profesi memberikan lisensi kepada lembaga sertifikasi profesi yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja (Saragih, 2013). Jadi, sertifikasi yang dilakukan pada karyawan hotel adalah para lulusan pendidikan yang mendapatkan double degree, yakni ijazah sebagai tanda telah selesai masa belajarnya dari lembaga pendidikan dan kedua sertifikat dari lembaga sertifikasi profesi.
Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Studi ini mengambil kasus pada Hotel Le Beringin Salatiga yang usahanya dimulai sejak tahun 1969 memulai awal usaha perhotelan tetapi masih dalam bentuk losmen yang merupakan tempat penginapan yang masih sederhana. Pada tahun 1969 awal berdiri hotel ini sebelumnya diberikan nama hotel Beringin, namun ada penambahan kata Le yang diputuskan oleh pihak
12
manajemen hotel pada tahun 1994 yang pada saat itu juga nama hotel ini berubah menjadi Le Beringin.
Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan teknik wawancara. Langkah yang ditempuh dengan melakukan wawancara langsung kepada Manager HRD dan Admin HRD Hotel Le Beringin Salatiga. Penulis memilih narasumber tersebut karena berkaitan langsung dengan aktivitas yang dilakukan sehari-hari di Hotel tersebut. Untuk memastikan kebenaran dan keakuratan informasi, penulis mewawancarai dua orang narasumber dan membandingkan serta mengecek ulang informasi dari sumber yang berbeda serta melihat kondisi pada Hotel Le Beringin. Hasil wawancara langsung terhadap sampel diatas, penulis sajikan berikut dalam bentuk tabel dibawah ini:
Tabel 2. Daftar orang yang diwawancarai
Nama Jabatan Jenis
Kelamin
Usia (Tahun) Lama Bekerja
Pendidikan Trakhir Bapak Prana Manager
HRD
Laki-laki 43 2 Tahun S1
Ibu Sinta Admin HRD Perempuan 25 1 Tahun S1
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data primer yang berasal dari hasil wawancara dengan informan. Wawancara menggunakan teknik wawancara terstruktur. Dengan demikian, laporan-laporan penelitian ini berisi kutipan yang berasal dari naskah wawancara yang sebelumnya sudah dibuat. Dalam teknik ini peneliti mencatat semua jawaban-jawaban terbuka dari responden serta mengurutkan pertanyaan yang akan diajukan kepada responden sehingga dapat mengendalikan proses wawancara yang sedang berlangsung. Data yang dikumpulkan berupa data mengenai kesiapan sumber daya manusia dan strategi pengembangan pada Hotel Le Beringin dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hasil wanwancara yang diperoleh di atas akan kemudian akan diolah dengan cara rekaman-rekaman wawancara di transkipkan terlebih dahulu. Setelah itu, transkip hasil wawancara diintrepetasikan dengan membuat penafsiran makna isi data. Dari hasil penelitian yang di peroleh, maka kemudian si penulis akan membuat kesimpulan.
Hasil penelitian dan Pembahasan
Profil Perusahaan dan PersainganHotel Le Beringin Salatiga merupakan hotel yang berlokasi di jalan Jenderal Sudirman No. 160, Salatiga dan berdiri sejak tahun 1969. Hotel Le Beringin terletak di
13
jantung kota Salatiga, dimana disekitarnya terletak berbagai toko-toko, bank, stall makanan dan lain-lainnya. Usaha ini merupakan usaha perhotelan keluarga milik keluarga Handoko. Jenis hotel Le Beringin ini adalah hotel berbintang 3, hotel ini bergaya elegan dan berfokus pada penyediaan kenyamanan dan layanan yang berstandar tinggi. Hotel Le Beringin memiliki 73 kamar mulai ukuran standart sampai jenis kamar suite dengan layanan kamar 24 jam. Hotel ini biasanya digunakan untuk berbagai pertemuan termasuk untuk bisnis selain juga untuk menginap pribadi atau keluarga. Hotel Le Beringin selalu berusaha memberikan yang terbaik agar dapat memberikan kepuasan kepada pengunjungnya. Hotel Le Beringin merupakan angota asosiasi PHRI.
Berbagai tipe kamar yang disediakan oleh Hotel Le Beringin adalah Kamar Suite, Kamar Executive, Kamar Deluxe, Kamar Superior, dan Kamar Standar. Sementara itu fasilitas yang tersedia adalah (1) Nyonya King Restaurant. Restaurant ini menawarkan menu khusus makanan China (Chinese Food) seperti Shiang Hay Soup, Lu Fung, Udang-daging-ayam roll saus manis dan asam, Cap Cay, Potongan daging dan berbagai sayuran. (2) Senjoyo Pool Bar dan Restaurant. Tempat ini dapat digunakan untuk tempat pertemuan bagi mereka yang memiliki janji. Disini selain restoran juga terdapat bar dan kolam renang. Dari tempat ini pengunjung dapat menikmati keindahan alam karena area menghadap landmark alam Salatiga yaitu Gunung Merbabu dan Rawa Pening. (3). Khayangan Bar dan Restaurant. Restoran ini menawarkan menu khusus makanan Eropa seperti Barbequee. Disini pengunjung dapat menikmati keindahan Salatiga, karena restoran berada di lantai atas dengan udara terbuka. (4). Gong Lounge. Di tempat ini pengunjung dapat menikmati kenyamanan dengan bersantai bersama teman atau keluarga, sambil minum koktail dan kopi. (5). Ruang Rapat. Hotel Le Beringin memiliki 2 ruang rapat utama (Sriwedari I dan II) terletak di salah satu bangunan dengan kapasitas 100 sampai maksimal 200 orang. (6). Free Hot Spot Koneksi Internet. Di hotel ini akses internet bisa dilakukan di semua kamar tamu dan Wi-Fi di tempat umum. (7). Kolam Renang. Disini tersedia juga kolam renang untuk orang berolah raga. (8). Tania Florist. Terdapat juga toko bunga yang menjual dan menerima pesanan. Sekarang toko bunga floris hanya untuk internal yaitu yang digunakan untuk rapat.
Tingkat persaingan hotel di Salatiga boleh dikatakan moderat. Di kota ini terdapat kira-kira 18 hotel termasuk dalam kelompok hotel berbintang 1 sampai berbintang 4, maupun yang non bintang. Masing-masing hotel telah memiliki segmen pasar nya sendiri-sendiri sehingga tidak terjadi persaingan secara langsung. Data tentang hotel yang ada di Salatiga dapat dilihat pada tabel 3.
14
Tabel 3. Nama hotel, jenis dan kriterianya.
Nama Hotel Jenis Hotel Kriteria
1. Kayu Arum Resort Berbintang 3 Sangat bagus 7,8
2. Laras Asri Resort & Spa Berbintang 4 Bagus 7,5
3. Grand Wahid Hotel Berbintang 4 Cemerlang 8,1
4. Agrowisata Salatiga Eco Park Hotel & Convention-Managed By City One Hotels
Berbintang 3 Cemerlang 8,1
5. Le Beringin Berbintang 3 Bagus 7,0
6. Griya Tetirah Berbintang 1 Bagus 7,5
7. Wisma Tamu UKSW
Guest House
Berbintang 1 Menyenangkan 6,4
8. Pondok keluarga
Osamaliki
Berbintang 1 Sangat bagus 7,6
9. Villa Parikesit Berbintang 1 Bagus 7,3
10. Plaza Hotel Salatiga Berbintang 1 Menyenangkan 6,3
11. Villa Kampoeng Bali Salatiga
Berbintang 1 Menyenangkan 6,5
12. Tetirah Boutique Hotel Salatiga
Berbintang 2 -
13. Mutiara Hotel Berbintang 1 -
14. Hotel Permata Berbintang 1 -
15. Hotel Kalimang Berbintang 1 -
16. Oase Van Java Berbintang 2 -
17. deKopeng Homestay - -
18. Crow Guest House - -
Sumber : http://www.agoda.com/
Dilihat dari penilaian pelanggan, meskipun hotel Le Beringin termasuk pada hotel berbintang 3, namun mendapat penilaian yang tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan hotel-hotel yang lain . Itu berarti, Le Beringin harus meningkatkan pelayanannya agar meningkatkan kepuasan pengunjung.
Manajemen dan Organisasi Hotel Le Beringin
Sebagai perusahaan dengan sistem kekeluargaan, hotel Le Beringin dikelola langsung oleh pemiliknya yaitu keluarga Handoko. Pada tahun 1969 memulai awal usaha perhotelan tetapi masih dalam bentuk losmen yang merupakan tempat penginapan yang masih sederhana. Dari usaha losmen tersebut kemudian berubah menjadi hotel berbintang 3 semenjak dipegang oleh generasi kedua. Pemilik dari hotel yang merupakan generasi kedua tersebut yaitu Bapak Roy Handoko yang memiliki 5 orang anak yang bernama Gleen, Roy, Pepe, Sandy dan Ricky. Tetapi dari 5 anak Bapak Roy Handoko tersebut yang merupakan
15
pemilik hotel Le Beringin yaitu Sandy dan Pepe. Pada tahun 1982 pihak manajemen memutuskan untuk mengubah hotel Le Beringin menjadi hotel modern dan hotel ini melakukan renovasi mulai pada tahun 1984.
Hotel Le Beringin walaupun sudah berbentuk PT tetapi masih dimiliki keluarga dan masih dikelola dengan sistem manajemen kekeluargaan, nama hotelnya yaitu Beringin Hanjaya. Pada tahun 1969 awal berdiri hotel ini sebelumnya diberikan nama hotel Beringin, namun ada penambahan kata Le yang diputuskan oleh pihak manajemen hotel pada tahun 1994 yang pada saat itu juga nama hotel ini berubah menjadi Le Beringin. Hotel Le Beringin selalu melakukan renovasi terhadap bangunan hotel walaupun hotel ini baru mendapatkan sertifikat menjadi hotel berbintang 3 pada tahun 1990.
Struktur organisasi dari hotel Le Beringin dapat dilihat pada lampiran 1. Pada struktur organisasi hotel Le Beringin tersebut walaupun hotel ini sudah berbentuk PT tetapi hotel Le Beringin masih menggunakan sistem kekeluargaan. Bapak Roy Handoko sebagai pemilik hotel memiliki 5 orang anak, mereka membentuk satu dewan direksi, kemudian mereka menunjuk perwakilan untuk menjadi direktur dan direktur utama. Antara pemilik hotel dan manajemen hotel sekarang sudah terpisah secara jelas. Karena ada juga hotel yang masih merupakan perusahaan keluarga, walaupun sudah ada manager tetapi pemilik hotel masih ikut turun untuk bekerja membantu karyawannya. Di hotel Le Beringin ini sistem manajemen yang dikelola secara kekeluargaan pekerjaan sudah dapat dipisahkan berdasarkan divisi masing-masing.
Dibawah direksi terdapat manager hotel yang bertugas sebagai pimpinan hotel dan Executive Assistant Manager ( EAM ) sebagai wakil pimpinan perusahaan hotel. Perbedaan tugas antara manager hotel dan EAM terletak pada jenis pekerjaan. Manager hotel bertanggung jawab atas seluruh kegiatan operasional hotel termasuk sales sedangkan EAM lebih berkonsentrasi pada operasional hotel. EAM sangat dibutuhkan karena dapat membantu manager hotel untuk keluar menemui klien. Kemudian dibawah manager hotel dan EAM terbentuk 8 divisi, yang mana divisi ini sudah dapat menerapkan pola manajemen yang profesional untuk usaha perhotelan yaitu terdapat HRD, Acconting, Food & Feverage, House keeping, Engeneering, Marketing, Front office, dan Duty manager.
Tingkat keprofesionalan pada setiap divisi dapat dilihat juga dari kedalaman masing-masing divisi. Divisi hotel dibedakan menjadi 2 yaitu divisi tag office and guest contact, artinya yang divisi bertemu dengan tamu dan divisi melayani tamu. Jadi divisi guest contact meliputi Front office, Food & Beverage, House keeping dan Duty manager termasuk Sales
16
marketing. Kemudian tag office meliputi HRD, Acconting, dan Engeneering. Pekerjaan yang dilakukan masing-masing karyawan hotel masih merangkap jadi dapat dikatakan pekerjaan yang dikerjakan belum spesifik. Di hotel Le beringin masih bisa dijadikan satu pekerjaan rangkap karena pekerjaannya belum terlalu kompleks.
Pada Front office terdapat bell boy yang bertugas membantu mengangkat barang-barang para pengunjung. Kemudian House keeping yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian semua area hotel termasuk di dalamnya kolam renang, kamar dan loundry. Untuk setiap hotel pasti memiliki standar sama seperti terdapat Food & Beverage yang dimana dibagi menjadi 2 bagian yaitu Food & Beverage service dan Food & Beverage product. Pada F & B Service yang dimaksudkan adalah pelayanan dan F & B produk meliputi segala keperluan yang dibutuhkan pengunjung hotel. Pada bagian Accounting terdapat bagian Purchasing yang terdiri dari cost control yang mengatur semua anggaran yang masuk dan yang keluar untuk keperluan hotel. Bagian kedua Inventory yaitu yang bertugas mengontrol barang-barang yang ada di hotel. Yang terakhir bagian HRD dimana terdapat EDR yang memiliki fungsi untuk melakukan perijinan, training, rekrutmen, kemudian ada security yang bertugas untuk membantu melancarkan EDR untuk melaksanakan tugas hotel. Jenis pekerjaan, spesifikasi pekerjaan dan jumlah karyawan dapat dilihat di Tabel 4.
Tabel 4. Jenis-jenis pekerjaan dan spefikasi pekerjaan di Hotel Le Beringin
Jenis Pekerjaan Spesifikasi Pekerjaan Jumlah karyawan
House keeping Menyediakan kamar dan
menjaga kebersihan setiap kamar
17 orang
F & B Departemen Penyediaan dan pelayanan makanan minuman di dalam kamar
18 orang
Engeneering Departemen Mengoperasikan, merawat, dan memperbaiki semua peralatan dalam hotel
5 orang
Front Office Penerimaan dan pengaturan
alokasi kamar tamu
10 orang
Acconting Departemen Bertanggung jawab
mengendalikan segala operasional keuangan yang ada di dalam hotel
5 orang
General Marketing Mengatur semua urusan
yang berkaitan dengan berjalannya perusahaan baik di luar maupun di dalam
5 orang
17
jam perkantoran selesai
Sumber : Data primer, 2015 Sumber Daya Manusia Hotel Le Beringin
Hotel Le Beringin memiliki karyawan 68 orang terdiri dari karyawan tetap, karyawan kontrak dan karyawan harian. Jumlah karyawan tetap 33 orang, karyawan kontrak 25 orang dan karyawan harian 10 orang. Sistem kerja dari 3 jenis karyawan tersebut sama hanya fasilitasnya saja yang dibedakan oleh hotel. Khusus karyawan tetap mendapatkan jaminan kesehatan dari hotel di luar jaminan BPJS, namun jika karyawan tetap dalam melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan peraturan dari hotel akan langsung dikeluarkan. Tetapi untuk karyawan kontrak jika pekerjaannya tidak maksimal maka akan ada kemungkinan antara di keluarkan atau tetap dipertahankan, tergantung dari pihak hotel. Jika karyawan kontrak akan dikeluarkan maka pemberian gaji berdasarkan atas selesai masa kontraknya. Pihak hotel banyak mempekerjakan karyawan kontrak dikarenakan karyawan kontrak pemberian gajinya berbeda dengan karyawan tetap sehingga dapat menguntungkan bagi perusahaan.
Dilihat dari usia, gambaran karyawan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Distribusi karyawan Hotel Le Beringin menurut usia Tahun 2015
Range usia Persentase
21 – 30 tahun 28 %
30 – 40 tahun 27 %
40 – 50 tahun 21 %
>50 tahun 10 %
Sumber: Data primer, 2015
Sebagian besar karyawan Hotel Le Beringin berusia 50 tahun kebawah. Dari tabel diatas karyawan yang lebih banyak bekerja di hotel Le Beringin yang memiliki usia antara 21 sampai 40 tahun sebesar 55 persen. Pada usia tersebut, secara fisik kondisi karyawan sangat prima sehingga akan menjadi sangat produktif. Sejak hotel memutuskan untuk melakukan perubahan dari hotel melati menjadi hotel berbintang pada tahun 1990, standar pelayanan ditingkatkan oleh hotel Le Beringin sehingga menuntut setiap karyawan meningkatkan kinerjanya dalam melakukan pekerjaan pada masing-masing departemen. Saat ini jika dilihat dari cara kerja setiap karyawan sudah berusaha menyesuaikan dengan tuntutan standar yang diterapkan pihak hotel. Misalnya karyawan hotel berusaha melakukan pekerjaan rutin sesuai
18
dengan jadwal kerja masing-masing dengan waktu yang lebih cepat dengan hasil sesuai dengan yang diinginkan pihak hotel.
Pendidikan karyawan di hotel (lihat Tabel 6) meliputi lulusan jenjang pendidikan SMP sampai dengan Sarjana. Sebagian besar (60%) memiliki pendidikan SMA atau sederajat. Semua ditempatkan sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimiliki masing-masing karyawan. Saat ini hotel Le Beringin mewajibkan persyaratan untuk pendidikan yang dimiliki karyawan baru minimal SMA. Hal ini dikarenakan Hotel Le Beringin percaya bahwa dengan pendidikan SMA atau sederajat mereka memiliki potensi untuk dikembangkan. Karyawan yang belum mampunyai ijazah SMA diharuskan untuk mengambil ujian persamaan atau kejar paket. Kemudian karyawan yang mengikuti ujian persamaan tersebut diberikan pelatihan oleh pihak hotel supaya memiliki kemampuan dalam hal pemasaran, perawatan dan pembersihan hotel.
Tabel 6. Karyawan Hotel Le Beringin menurut Pendidikan Formal Tahun 2015
Pendidikan formal Persentase
SMP 10 %
SMA atau sederajat 60 %
DI 8 %
DIII 6 %
S1 8 %
Sumber: Data primer, 2015
Walaupun upaya pengembangan sudah dilakukan, namun kontribusi manager dan karyawan dalam pengambilan keputusan dan penyampaian pendapat masih kurang. Strategi dan kebijakan yang diambil oleh pihak hotel hendaknya mempertimbangkan atau melibatkan karyawan sehingga tujuan perusahaan dapat terwujud secara optimal. Pimpinan dan praktisi SDM hotel memiliki peran penting dalam mempersiapkan dan membangun SDM yang berkualitas, baik SDM yang ada dalam hotel maupun calon pekerja hotel (Humasskkmigas, 2014). Untuk bisa menjalankan peran tersebut, perlu ditetapkan standar kompetensi bagi pengelola SDM agar para pemimpin dan praktisi SDM menjadi mumpuni dalam mengemban tugas membina karyawan yang ada di Hotel Le Beringin.
Berkaitan dengan sertifikasi, dulu Hotel Le Beringin memiliki 4 karyawan di bagian resepsionis yang punya sertifikasi dimana masa berlaku sertifikasi itu 3 tahun, namun
19
sekarang tidak ada lagi karyawan yang bersertifikasi dikarenakan karyawan tersebut tidak melakukan perpanjangan atas sertifikasi yang dimiliki. Meskipun pemerintah melalui UU Pariwisata pasal 53 dan pasal 54 yang menetapkan bahwa karyawan hotel perlu memiliki sertifikasi, hotel Le Beringin belum mengikut sertakan karyawannya dalam sertifikasi karena merasa belum ada tuntutan dari pihak pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Kesiapan Hotel Le Beringin Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
Seperti diketahui, sektor pariwisata telah menjadi salah satu sektor yang masuk dalam Mutual Recognation Arrangement (MRA) dalam kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan aturan tentang sertifikasi yang harus di miliki oleh karyawan hotel. Seperti diketahui, sampai saat ini hotel Le Beringin belum memiliki karyawan yang bersertifikasi. Sertifikasi profesi merupakan cerminan dari kualitas tenaga kerja yang diperkerjakan oleh hotel terutama ketika bersaing untuk menghadapi diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun 2015. Dengan perkataan lain, hotel Le Beringin belum siap menghadapi pemberlakuan MEA.
Sertifikasi merupakan persaingan usaha untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN agar mampu bersaing untuk meningkatkan mutu dan kualitas kemampuan karyawan hotel. Di hotel Le Beringin tidak ada karyawan yang bersertifikasi padahal Ibu Sinta selaku admin HRD beranggapan bahwa dengan memiliki sertifikasi pada setiap karyawan akan mendapatkan pengakuan dari pihak hotel Le Beringin apabila mereka sudah layak untuk bisa menjadi karyawan hotel dan dapat digunakan untuk bersaing dengan hotel-hotel lain. Hal ini sejalan dengan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bidang Luar Negeri Jon Masli. Menurutnya, sertifikasi dan uji kompetensi bagi SDM yang bergerak dalam bidang perhotelan penting dilakukan untuk meningkatkan daya saing di tengah ancaman masuknya SDM asing ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN diberlakukan (Setyawan, 2014).
Pentingnya sertifikasi kompetensi untuk tenaga kerja yang bergerak dalam industri pariwisata telah diatur dalam UU Kepariwisataan Indonesia yaitu UU No. 10 Tahun 2009 yang menyebutkan Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikasi kepada usaha dan pekerja pariwisata untuk mendukung peningkatan mutu produk pariwisata, pelayanan, dan pengelolaan kepariwisataan. Sementara itu narasumber di bagian HRD hotel Le Beringin belum memahami arti pentingnya kepemilikkan sertifikasi. Menurut Bapak Prana selaku Manager HRD dan Ibu Sinta selaku Admin HRD hotel Le Beringin, sertifikasi hanya dianggap sebagai formalitas saja dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Padahal
20
sertifikasi yang dilakukan oleh pemerintah dapat digunakan untuk mendukung eksistensi perhotelan menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Untuk setiap hotel yang memiliki sertifikasi misalnya hotel yang berbintang tiga maupun satu memiliki standar pelayanan yang berbeda. Sertifikasi juga bisa menjadi modal bagi hotel untuk mengubah klasifikasi tentang hotelnya. Selain sertifikasi profesi, klasifikasi hotel juga penting dalam menghadapi persaingan. Dikarenakan klasifikasi hotel dapat berfungsi agar pengunjung mengetahui kejelasan harga dan fasilitas yang dimiliki hotel. Sehingga hal tersebut dapat semakin meningkatkan kepercayaan pengunjung atas kompetensi dan pelayanan yang dimiliki setiap hotel.
Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, masyarakat harus menyiapkan diri untuk dapat bersaing karena fenomena yang nyata menunjukkan masih banyak karyawan yang belum tersertifikasi pada hotel Le Beringin. Persiapan yang harus dicapai seperti pengembangan sumber daya manusia dan pengakuan sertifikasi profesi. Penyiapan sumber daya manusia, hanya sesuai dengan keperluan pengembangan ekonomi dikawasan daerah Salatiga, yang saat ini masih banyak kualifikasi dan kebutuhan manusianya yang perlu ditangani secara serius. Salah satunya adalah dengan imbauan agar setiap hotel lulus sertifikasi. Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.23 Tahun 2004, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjelaskan tentang sertifikasi kompetensi kerja sebagai suatu proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional Indonesia atau Internasional. Sehingga upaya yang harus dilakukan Hotel Le Beringin adalah peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui sertifikasi, karena dapat digunakan untuk melihat hotel mana yang paling siap melayani setiap pengunjung agar bisa dijadikan sebagai pilihan utama para pengunjung.
Dalam menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN hotel Le Beringin meningkatkan kualitas kemampuan setiap karyawannya agar memiliki sertifikasi mulai dari pekerjaan Food & Beverage, House keeping, Front Office, dan Engineering karena berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No.52 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Kompetensi di Bidang Pariwisata, yang menyatakan setiap pengusaha pariwisata wajib mempekerjakan tenaga kerja yang telah memiliki Sertifikat Kompetensi di Bidang Pariwisata. Pihak pemerintah daerah akan membantu pemerintah pusat untuk melakukan sertifikasi terhadap karyawan pada hotel Le Beringin untuk meningkatkan produktivitas kerja pada setiap
21
karyawan dan dengan kepemilikan sertifikasi dari karyawan dapat meningkatkan peranan usaha perhotelan.
Strategi Hotel Meningkatkan Daya Saing
Meskipun di hotel Le Beringin belum siap menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN, pihak hotel mendorong karyawan untuk meningkatkan daya saing dengan melakukan peningkatan pelayanan hotel dengan diberikan pelatihan dengan menggunakan metode On The Job Training yaitu mengajarkan kemampuan yang dapat dipelajari dalam beberapa hari atau minggu. Manfaat dari metode ini karyawan belajar dengan perlengkapan yang nyata dan dalam lingkungan pekerjaan atau job yang jelas. Food & Beverage menciptakan menu baru dan memiliki kreatifitas supaya menyediakan dan melayani sesuai keinginan pengunjung. House Keeping dilatih kompetensi kejujuran dan dapat mengelola serta mengatur SDM seperti menyediakan dan menjaga kebersihan kamar tamu. Front Office berbahasa dan komunikasi yang bagus agar dapat menjalin relasi dengan pengunjung seperti pengalokasian kamar tamu. Engineering ketelitian dalam mengoperasikan dan merawat semua peralatan hotel. Menghadapi persaingan dalam pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN keunggulan kualitas layanan hotel diharapkan mampu menarik pengunjung untuk kembali memiliki kecenderungan melakukan pembelian ulang terhadap pelayanan dari pihak hotel. Disamping kualitas pelayanan yang baik, fasilitas juga turut berperan dalam menjaring pengunjung. Fasilitas merupakan sarana yang sifatnya mempermudah pengunjung untuk melakukan suatu aktivitas. Para pengunjung biasanya mempertimbangkan banyak faktor untuk memilih jasa pelayanan perhotelan. Fasilitas menjadi salah satu pertimbangan pengunjung dalam menentukan pilihan. Pada tingkat harga yang sama, semakin lengkap fasilitas yang disediakan pihak hotel Le Beringin, maka akan semakin puas pengunjung dan akan terus memilih perusahaan tersebut sebagai prioritas berdasarkan persepsi yang mereka peroleh terhadap fasilitas yang tersedia.
Tingkat persaingan hotel di Salatiga yang dimana kota ini terdapat kira-kira 18 hotel baik kelompok hotel berbintang 1 sampai berbintang 4, mengenai penilaian kualitas fasilitas hotel, mutu pelayanan dan harga/tarif hotel dapat mempengaruhi tingkat kepuasaan tamu yang menginap di hotel. Pengusaha hotel pada dasarnya memperhatikan ketiga faktor tersebut apabila ingin agar usahanya dalam menyediakan jasa hotel tetap dapat bertahan dan berkembang. Penilaian tamu mengenai kualitas fasilitas hotel dari segi keadaan bangunan hotel secara keseluruhan, kelengkapan fasilitas kamar, kebersihan dan kerapian kamar,
22
kondisi kebaikan fasilitas kamar serta kemudahan dalam menggunakan fasilitas tambahan. Kondisi fisik hotel yang menarik dan baik dapat berpengaruh terhadap penilaian tamu akan keadaan hotel secara keseluruhan. Pendapat tamu hotel mengenai kualitas pelayanan Hotel Le Beringin Salatiga akan berpengaruh terhadap pembelian ulang jasa pelayanan hotel tersebut. Pelayanan merupakan pemberian jasa kepada pengunjung seseuai dengan kebutuhannya. Hotel Le Beringin lebih memilih harga bersaing daripada menetapkan harga yang tinggi dari hotel-hotel lain karena harga sangat mempengaruhi dalam menarik kedatangan pengunjung ke hotel.
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, kemampuan Sumber Daya Manusia dan daya saing Indonesia perlu diperkuat. Masyarakat Indonesia dituntut untuk mengembangkan keterampilan dan keahliannya agar siap menghadapi pasar bebas agar dapat bersaing di ASEAN. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN menuntut perusahaan untuk mempersiapkan perusahaan dalam rangka meningkatkan daya saing yang mereka miliki agar mampu berkompetisi dengan negara ASEAN lainnya. Kualitas Sumber Daya Manusia saat ini memang masih belum bisa seperti yang diharapkan. Apalagi kualitas SDM sangat berkaitan erat dengan daya saing, khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Maka peningkatan kualitas SDM di Hotel Le Beringin terus dilakukan untuk karyawan agar semakin profesional dalam melayani tamu yang menginap di hotel.
Dapat dikatakan bahwa persaingan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak hanya sekedar sebuah perusahaan mampu untuk menghasilkan produk jasa pariwisata yang memiliki kualitas, tetapi juga mampu memproduksi tenaga kerja yang kompeten. Untuk meningkatkan daya saing pada hotel Le Beringin melakukan peningkatan terhadap karyawannya salah satunya yaitu dengan mengadakan pelatihan untuk karyawan dengan cara meningkatkan kemampuan berbahasa, aktif dalam promosi hotel, peningkatan pelayanan terhadap tamu, dan pihak hotel meningkatkan fasilitas hotel sesuai dengan standar (misalnya hotel berbintang harus memiliki kolam renang, spa dan restaurant dll).
Pelatihan mengacu pada upaya yang direncanakan oleh hotel Le Beringin untuk mempermudah pembelajaran para karyawan tentang kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan pekerjaan dalam hotel. Kompetensi-kompetensi tersebut meliputi pengetahuan, keterampilan, atau perilaku yang sangat penting untuk keberhasilan kinerja karyawan. Sasaran pelatihan bagi karyawan Hotel Le Beringin adalah menguasai pengetahuan,
23
keterampilan, dan perilaku yang ditekankan pada program-program pelatihan serta menerapkannya kedalam aktivitas yang ada dihotel.
Pengelola hotel Le Beringin harus menyiapkan karyawan terlatih yang memiliki keterampilan teknis operasional perhotelan, memberikan bekal pengetahuan tentang standar kompetensi perhotelan serta pelayanan prima dan terciptanya sumber daya manusia yang professional dan memotivasi karyawan untuk meningkatkan kualitas kinerjanya agar mampu berdaya saing di industri perhotelan. Seperti yang dikemukakan oleh Sedarmayanti (2009:125) bahwa “Kompetensi mencakup berbagai faktor teknis dan non teknis, kepribadian dan tingkah laku , soft skills dan hard skills”. Dalam upaya untuk menciptakan daya saing, terdapat faktor-faktor yang mendorong daya saing perusahaan. Faktor penentu daya saing jangka panjang perusahaan terletak pada kemampuan sumber daya manusia dalam memanfaatkan pengetahuan yang mereka kuasai.
Hotel Le Beringin merupakan anggota asosiasi PHRI, manfaat menjadi anggota PHRI agar dapat menjembatani pemerintah dengan pihak hotel supaya usulan-usulan dapat diterima dengan baik kemudian program pemerintah bisa sesuai dengan kegiatan hotel. Manfaat lain yang dapat diperoleh bisa melakukan promosi, sharing pengalaman, dapat bertemu dengan wakil pemerintah dan pengusaha-pengusaha hotel lain. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN sebenarnya dapat memberikan peluang untuk hotel Le Beringin karena dapat membuka peluang bisnis baru. Tetapi sejauh ini dapat dilihat bahwa pariwisata didaerah Salatiga seperti hal kegiatan promosi pariwisata yang dilakukan sampai saat ini masih belum bisa berjalan dengan baik dan belum adanya tindakan terhadap program yang direncanakan. Adanya pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak ada ancaman bagi karyawan hotel ini selama hal itu dianggap ke arah yang positif oleh setiap para karyawan hotel Le Beringin.
Setiap hotel yang ada di Salatiga selalu ingin memberikan yang terbaik kepada pengunjungnya. Hal ini dapat memungkinkan Hotel Le Beringin mampu mendapat perhatian dari pengunjung karena fasilitas dan pelayanan yang diberikan lebih baik dari hotel-hotel lain di Salatiga. Untuk memenangkan dan menangkap peluang yang ada, maka peningkatan kualitas pelayanan dan sumber daya manusia merupakan suatu keharusan. Salah satu bagian strategi yang dilakukan Hotel Le Beringin adalah melalui pelatihan dan pengembangan pada setiap karyawan. Hotel Le Beringin akan selalu meningkatkan kualitas pelayanan serta kinerja karyawan yang merupakan faktor penentu daya saing industri perhotelan. Maka tersedianya sumber Daya Manusia yang berkualitas baik dari segi ilmu pengetahuan,
24
keterampilan maupun etos kerja, sangat penting dalam meningkatkan daya saing produk jasa pariwisata.
Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian, dapat disimpulkan hal-hal berikut:
1. Dalam hal pemenuhan sertifikasi SDM seperti yang di tuntut UU Pariwisata pasal 53 dan pasal 54 Hotel Le Beringin dapat dikatakan belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini dapat dilihat dari hotel tidak memiliki tenaga kerja yang bersertifikasi walaupun sudah merupakan hotel berbintang 3. Pihak hotel Le Beringin mengatakan bahwa belum dilakukan sertifikasi pada setiap karyawan karena biaya pembuatan sertifikasi yang cukup tinggi, proses sertifikasi dilakukan di luar kota dan harus dilakukan dengan kapasitas orang banyak. Sedangkan karyawan pada hotel Le Beringin beranggapan bahwa percuma jika dilakukan sertifikasi jika dalam hal pemberian gaji tidak ada perbedaan antara karyawan bersertifikasi dengan karyawan yang tidak bersertifikasi maka tidak adanya sertifikasi terhadap tenaga kerja di hotel Le Beringin disebabkan karyawan hanya menganggap sertifikasi sebagai formalitas saja, tidak ada dukungan dari pemerintah untuk melakukan sertifikasi dan kurang merasakan manfaat dari kepemilikan sertifikasi. Walaupun tidak adanya tenaga kerja yang bersertifikasi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN hotel Le Beringin akan meningkatkan kompetensi pada setiap karyawan agar memiliki daya saing yaitu dengan cara meningkatkan kemampuan berbahasa, aktif dalam promosi, peningkatan pelayanan terhadap tamu hotel. Disadari kualitas hotel bergantung pada mutu SDM, pelatihan terhadap karyawan dilakukan agar terjamin kredibilitas dalam melakukan suatu pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab pada setiap karyawan sehingga SDM pada hotel Le Beringin dapat bersaing dengan hotel-hotel lain.
2. Meskipun dari segi persyaratan SDM hotel Le Beringin belum siap menghadapi MEA, namun pihak hotel terus melakukan pembenahan dalam berbagai bidang. Upaya untuk meningkatkan daya saing dengan hotel lain yaitu dengan mengadakan pelatihan internal SDM seperti dalam kemampuan berbahasa, menguasai pengetahuan atau keterampilan tentang hotel dan pelayanan. Dalam hal pelayanan, SDM dibekali