• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH JENIS BIOAKTIVATOR PADA LAJU DEKOMPOSISI SAMPAH DAUN KI HUJAN Samanea saman DARI WILAYAH KAMPUS UNHAS. Hasanuddin, Makassar, 2014 ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH JENIS BIOAKTIVATOR PADA LAJU DEKOMPOSISI SAMPAH DAUN KI HUJAN Samanea saman DARI WILAYAH KAMPUS UNHAS. Hasanuddin, Makassar, 2014 ABSTRAK"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JENIS BIOAKTIVATOR PADA LAJU DEKOMPOSISI SAMPAH DAUN KI HUJAN Samanea saman DARI WILAYAH KAMPUS

UNHAS

Milka Pramita Rerung Allo1, Fahruddin2, Eva Johanes3*

1

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, 2014

ABSTRAK

Telah dilakukan Penelitian mengenai “Pengaruh Jenis Bioaktivator pada Laju Dekomposisi Sampah Daun Ki Hujan Samanea saman dari Wilayah Kampus Unhas”. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis bioaktivator pada laju dekomposisi sampah daun Ki Hujan Samanea saman dan beberapa perubahan parameter terkait selama proses dekomposisi meliputi warna kompos, suhu, kadar air kompos, pH, laju dekomposisi, dan rasio C/N. Pengamatan dilakukan selama 30 hari dengan 4 perlakuan yaitu, perlakuan pertama yaitu P1 daun Ki hujan

Samanea saman (1 kg) tanpa bioaktivator sebagai kontrol, perlakuan kedua yaitu

P2 daun Ki hujan Samanea saman (1 kg) + 20% kotoran sapi, perlakuan ketiga yaitu P3 daun Ki hujan Samanea saman (1 kg) + 20% kotoran ayam dan perlakuan P4 daun Ki hujan Samanea saman (1 kg) + 20% kompos. Hasil penelitian menunjukkan jenis bioaktivator dapat mempengaruhin proses dekomposisi sampah daun Ki hujan Samanea saman, dimana pada perlakuan P4 menunjukkan laju dekomposisi tertinggi yaitu 0,65, dibandingkan dengan perlakuan P2 yang hanya 0,62 dan P3s serta kontrol hanya 0,55. Sedangkan parameter lain seperti suhu semua perlakuan berpruktuasi, kandungan air cenderung naik pada semua perlakuan, pH mendekati netral pada semua perlakuan, dan rasio C/N memenuhi SNI pada semua perlakuan.

Kata kunci: Bioaktivator,Kompos, Dekomposisi, Ki hujan Samanea saman.

ABSTRACT

The research about "Effect of Bio-activator type on Decomposition Rate of Waste Rain Tree Samanea saman Leaves in University of Hasanuddin Campus Area”. This study aims to determine the effect of bio-activator type on the rate of decomposition Rain Tree Samanea saman leaves and some related parameters change during the decomposition process of compost include color, temperature, compost moisture content, pH, decomposition rate, and the ratio of C/N. Observations were made during 30 days with 4 treatments, namely, the first treatment that P1 Rain Tree Samanea saman leaves (1 kg) without bioaktovator as a control, the second treatment is P2 Rain Tree Samanea saman leaves (1 kg) + 20% cow feces, the third treatment is P3 Rain Tree Samanea saman leaves (1 kg) + 20% chicken feces and the last treatment is P4 Rain Tree Samanea saman leaves (1 kg) + 20% compost. The results showed that the type of bio-activator can affect decomposition process of Rain Tree Samanea saman leaves, where the

(2)

P4 treatment showed the highest decomposition rate is 0.65, compared with treatment P2 and P3 control are 0.62 and 0.55 only. While other parameters such as temperature fluctuates all treatments, water content tends to rise in all treatments, the pH near neutral on all treatment, and C / N ratio in all treatments comply with Indonesia National Standard.

Keywords: Bioactivator, Compost Decomposition, Rain Tree Samanea saman.

I. PENDAHULUAN

Sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik, bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan.Berdasarkan asalnya sampah padat dapat digolongkan menjadi dua yaitu sampah organik dan sampah dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba, sedangkan sampah anorganik yakni sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non hayati, baik sebagai produk sintetik maupun hasil

pengolahan teknologi bahan

tambang, hasil olahan bahan hayati dan sebagainya (Slamet, 2002).

Permasalahan sampah di kota-kota besar akhir-akhir ini tetap menjadi persoalan serius bagi negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia mengalami masalah yang sama, hingga kini belum dapat ditangani secara tuntas, volume sampah setiap hari justru semakin meningkat, untuk seluruh komponen masyarakat diharapkan dapat meningkatkan partisipasinya dalam

pengelolaan sampah untuk

mengurangi volumenya (Nonci, 2009).

Data volume sampah untuk kota-kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa sampah organik mencapai 73,35%, dari total volume sampah sebanyak 53,3% sampah kota tidak dapat tertangani dengan baik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali (Nonci, 2009).

Penanganan limbah organik padat pada umumnya didasarkan pada tiga sistem yaitu pembuangan, pembakaran, dan pengomposan. Dari ketigacara tersebut yang paling baik dan secara teknis memang sangat cocok untuk menangani limbah organik padat adalah melakukan

pengelolaan dengan cara

pengomposan. Menurut Wahyono

(2005), pengomposan sampah

didefinisikan sebagai proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi aerobik terkendali menjadi produk kompos dan dapat menangani limbah dalam jumlah banyak.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk mengubah sampah organik menjadi kompos, salah satunya adalah dengan

menggunakan bioaktivator.

Bioaktivator merupakan larutan yang

mengandung berbagai macam

mikroorganisme. Bioaktivator memiliki kelebihan, diantaranya

(3)

mempercepat pengomposan, menghilangkan bauh dari sampah, menyuburkan tanah, stater untuk membuat pupuk cair (Hermawan, 2011).

Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan-bahan organik atau proses perombakan senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan

mikroorganisme. Bahandasar

pembuatan kompos adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dan lain- lain, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah, misalnya stardec atau bahan sejenis ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos (Sinartani, 2013).

Di lingkungan kampus Unhas sampah dedaunan sangat melimpah. Sampah ini bersumber dari berbagai jenis pohon setiap harinya, ini sangat berpotensi untuk dijadikan bahan

dasar pengomposan dengan

menambah bioaktivator dalam mempercepat proses dekomposisi. Oleh karena itu untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis bioaktivator terhadap laju dekomposisi sampah daun yaitu daun Ki Hujan Samanea

saman perlu dilakukan penelitian.

II. Metode Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cawan, timbangan, neraca Ohaus, sendok tanduk, pipet volume, oven, sekop, ember plastik, wadah plastik, termometer, pH meter, mesin pencacah, gunting, dan timbangan.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalahsampah daun berupa daun ki hujan Samanea

saman (Jacq)Merr. yang diperoleh

dari sekitar kampus, dan bioaktivator

berupa kompos yang diperoleh dari Panaikang, kotoran ayam, dan kotoran sapi yang diperoleh dari fakultas peternakan.

II.1. Prosedur Kerja

Pengomposan dilakukan

dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:

1. Pengumpulan sampah daun kering Ki Hujan Samanea saman (Jacq)Merr. diambil di sekitar kampus Universitas Hasanuddin. 2. Masing-masing jenis bahan organik daun yang telah dicacah

kemudian ditimbang dan

dicampur dengan bioaktivator sebanyak 20%. Selanjutnya dicampur lalu dimasukkan ke dalam wadah dekomposisi dan dibiarkan terdekomposisi selama 30 hari, dan tiap 5 hari dilakukan pembalikan untuk aerasi dan mebuang panas berlebihan,

adapun perlakuan yang

diberikan adalah sebagai berikut :

P1 = Daun Ki Hujan Samanea

saman tanpa bioaktivator sebagai

kontrol

P2 = Daun Ki Hujan Samanea

saman dengan bioaktivator

kotoran sapi 20% dari 1 kg daun.

P3 = Daun Ki Hujan Samanea

saman dengan bioaktivator

kotoran ayam 20% dari 1 kg daun.

P4= Daun Ki Hujan Samanea

saman dengan bioaktivator

kompos 20% dari 1 kg daun.

Untuk menjaga kelembaban, ditambahkan air ke dalam timbunan material organik. 3. Selama proses dekomposisi

berlangsung dilakukan

(4)

dilakukan pada setiap 5 hari yang meliputi pengukuran warna kompos, suhu dan pH. Untuk pengukuran kandungan air kompos dan laju dekomposisi dilakukan setiap 10 hari, sedangkan kandungan C dan N

dilakukan pada akhir

pengomposan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sampah di lingkungan kampus Unhas telah menjadi masalah yang serius, sampah ini bersumber dari berbahai jenis pohon setiap harinya terutama sampah daun yang berasal dari pohon Ki hujan Samanea saman (Jacq)Merr., ini sangat berpotensi untuk dijadikan bahan dasar pengomposan. Oleh karena itu dilakukan kajian proses dekomposisi sampah daun Ki hujan dengan menggunakan 3 jenis bioaktivator yaitu kotoran sapi, kotoran ayam,

dan kompos. Selama proses

pengomposan dilakukan pengamatan beberapa parameter yaitu warna kompos, suhu, kadar air, pH, lajudekomposisi, dan kandungan rasio C/N.

III.1 Warna Kompos

Hasil pengamatan warna kompos untuk semuah perlakuan menunjukkan perubahan dari warna kuning kecoklatan menjadi coklat kehitaman.

Perubahan warna kompos menunjukkan adanya bakteri yang melakukan aktivitas dekomposisi. Pada proses pengomposan akan terjadi penguraian bahan organik oleh aktivitas mikroba yang mengambil air oksigen dan nutrisi bahan organik yang kemudian akan

mengalami penguraian dan

membebaskan CO2 dan O2. Hal ini

terjadi karena pengaruh bahan aktivator yaitu kotoran sapi, kotoran

ayam, dan kompos yang

mempercepat pematangan kompos (Gaur, 1986).

III.2. Suhu Kompos

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal pengomposan rata-rata suhu meningkat kemudian lama kelamaan menurun. Pada hari ke-0, suhu daun setelah pencampuran berkisaran rata-rata suhu yaitu 28-29oC

Selama proses dekomposisi bahan kompos pada semua perlakuan akan dilakukan pengamatan terhadap suhu dan hasilnya dapat dilihat pada Lampiran yang mana pengukuran terhadap suhu dilakukan tiap lima hari. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu mulai meningkat pada hari ke-5 yang menandakan awal dimulainya proses dekomposisi terkecuali pada perlakuan PA yang suhunya tetap, dikarenakan aktivitas mikroba yang lambat.

Menurut Maradhy (2009), kisaran temperatur ideal tumpukan kompos adalah 55oC – 65oC. Pada

temperatur tersebut

perkembangbiakan mikroorganisme adalah yang paling baik sehingga populasinya baik. Perubahan suhu ada hubungannya dengan aktifitas mikroba secara kompleks yang bekerja di dalam bahan organic. Metabolisme organisme dalam tumpukan menimbulkan energi dalam bentuk panas. Pada saat ini terjadi, penguraian bahan organik akan sangat aktif. Mikroba-mikroba

dalam kompos menggunakan

oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air, dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan

(5)

berangsur-angsur mengalami penurunan.

III.3. Kadar Air Kompos

Awal proses dekomposisi memperlihat kandungan air teringgi pada perlakuan P2 yaitu 40,86%, pada perlakuan P3 memperlihatkan

kandungan air sebesar

35.65%sedangkan P1

memperlihatkan nilai kandungan air terendah yaitu 28,06.

Pada hari ke-10 rata-rata nilai kandungan air pada perlakuanP1 memperlihatkan peningkatan rata-rata nilai kandungan air sebesar 38,6%, P4 sebesar 46,49% dan P3 sebesar 39,34%, berbeda dengan perlakuan PB yang menunjukkan penurunan kandungan air sebesar 40,02%. Pada hari ke-20 semua

perlakuan memperlihatkan

peningkatan kandungan air yaitu perlakuan PA yaitu 48.09%, P2 yaitu 53,09%, perlakuan P346.69%, dan perlakuan P4 yaitu 52,64% Dan pada akhir dekomposisi semua perlakuan tetap mengalami peningkatan kandungan air.

Menurut Dalzell et.al. (1987), pada kandungan air dibawah 30% menyebabkan reaksi biologis dalam tumpukan kompos menjadi lambat. Pada kadar air yang terlalu tinggi, ruang antara partikel dari bahan menjadi penuh air, sehingga mencegah gerakan udarah dalam tumpukan.kandungan air optimum dari baham kompos adalah 50-60%.

III.4. Derajat Kesamaan (pH) Kompos

Hasil pengamatan

menunjukkan pada awal dekomposisi nilai pH berubah dan lama kelamaan akan mendekati pH netral sesuai dengan pH tanah. Nilai pH pada hari ke-0 pada rata-rata nilai pH pada

perlakuan P1 dan P2 memperlihatkan pH yaitu 6,3 pada perlakuan P3 rata pH yaitu 6,5 dan pada perlakuan P4 rata-rata pH yaitu 6,6. Dan pada hari ke-30 semua perlakuan mengalami peningkatan yaitu mendekati pH netral yaitu pada perlakuan P1 dan P3 yaitu 6,8, sedangkan P2 dan P4 sama yaitu 6,85.

Proses pengomposan akan menyebabakan terjadinya perubahan pada bahan organik dan pHnya. Produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitogen akan meningkatkan pH pada fase awal pengomposan, pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral. Menurut Hadisumarno (1992), pH idealdekomposis aerobik antara 6,0 – 8,0 karena pada derajat tersebut mikroba dapat tumbuh dan melakukan aktifitasnya dalam mendekomposisi sampah organik

III.5. Laju Dekomposisi Kompos

Laju dekomposisi selama 30 hari dapat dilihat pada Gambar 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teleh terjadi penurunan berat dari berat awal daun pada semuah perlakuan sangat maksimal terjadi pada minggu pertama proses dekomposisi. Di antara semuah perlakuan yang paling menunjukkka laju dekomposisis paling tinggi yaitu pada P2 dan P4, dari minggu pertama sampai minggu ke tiga jika di bandingkan dengan perlakuan lainnya. Bedanya bioaktivator yang diberikan akan sangat menentukan kemampuan proses dekomposisi. Dari hasil penelitian menungjukkan bahwa peningkatan laju dekomposisi dapat dilakukan dengan adanya penambahan bioaktivator.

Selama proses dekomposisi, laju dekomposisi setiap perlakuan

(6)

penurunan sampai pada akhir pengomposan. Hal ini di sebabkan karena bahan organik yang tersedia semakin lama semakin sedikit yang disebabkan oleh aktivitas mikroba yang mengurai sampah organik.

Proses dekomposisi bahan organik secara alami akan berhenti bila faktor-faktor pembatasnya tidak tersedia atau telah dihabiskan dalam proses dekomposisi itu sendiri. Selama proses dekomposisi akan terjadi penyusutan volume bahan. Pengurangan ini mencapai 30-40% dari volume awal bahan (Maradhy, 2009).

III.6. Kadar Bahan Organik (Rasio C/N)

Hasil akhir dari kegiatan dekomposisi sampah organik adalah terjadinya penguraian bahan-bahan organik menjadi karbon (C) dan nitrogen yang nantinya untuk memperoleh rasio C/N. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai rasio C/N tertinggi sebelum pengomposan adalah pada perlakuan P3 yaitu pada perlakuan P3 13,9 dan yang terendah pada perlakuan P2 yaitu 12,2. Sedangakan rasion C/N

yang tertinggi pada akhir

pengomposan yaitu pada perlakuan P4 15,0 dan yang terendah yaitu pada perlakuan P3 10,7

Ratio C/N merupakan faktor

kimia pembentuk kecepatan

dekomposisi dan mineralisasi nitrogen. Penyebab pembusukan pada bahan organik diakibatkan adanya karbon dan nitrogen. Rasio C/N digunakan unyuk mendapatkan degradasi biologis dan bahan-bahan organik yaitu sampah tersebut baik atau tidak untuk dijadikan kompos, serta menun jukkan kematangan kompos.

IV. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

1. Pemberian jenis bioaktovator

yang berbeda memberikan

pengaruh terhadap laju

dekomposisi sampah daun Ki hujan Samanea saman, dimana Bioaktivator yang paling baik adalah bioaktivator Kompos dengan nilai laju dekomposisi yaitu 0,65, nilai ini lebih tinggi dibanding dengan pemberian biaktivator lainnya.

2. Selama proses dekomposisi terjadi perubahan fisik berupa perubahan warna daun dimana terdapat perbedaan perubahan warna pada daun yang di beri bioaktivator yaitu dari kuning ke

coklatan menjadi coklat

kehitaman dan daun yang tidak diberi bioaktivator atau kontrol yaitu dari kuning kecoklatan menjadi coklat. Selain itu terjadi

perubahan kimia berupa

perubahan Suhu Kompos, pH kompos yang semakin mendekati netral, kadar air kompos meningkat, dan laju dekomposisi kompos menurun, serta rasio C/N meningkat.

Saran

Sebaiknya dilakukan

penelitian lanjutan di lapangan untuk mengetahui respon pertumbuhan

tanaman setelah diberikan

penambahan daun Ki Hujan

Samanea saman (Jacq) Merr. + 20%

bioaktivator kompos.

V. Daftar Pustaka

Atekan, A. W. Rauf, Aser R., & S. Saenong, 2004, Pengaruh

Pemberian Pupuk NPK dan Pupuk Mikroba Multi Guna (PMMG) terhadap Produksi Kedelai di Lahan

(7)

Kering Jayapura, Prosiding

Seminar Nasional: Teknologi Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua,

Pusat Penelitian dan

Pengembangan Sosial

Ekonomi Pertanian, Bogor. Haisumarno, D., 1992. Buku

Panuan Teknik Pembuatan Kompos dan Sampah Teori dan Aplikasi, Center of

Policy and Implemantation Stuies (CPIS), Jakarta. Hermawan, D., 2011, Kompos dari

Sampah Organik

Menggunakan

Bioaktivator,http://Alhudasi

ndanGreret.blogspot.com/201 1/kompos.html, diakses pada tanggal 15 Oktober 2013. Maradhy, E., 2009, Aplikasi

Campuran Kotoran Ternak Dan Sedimen Mangrove Sebagai Aktivator Pada Proses Dekomposisi Limbah Domestik, Tesis,

Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin, Makassar. Nonci, 2009, Menuju Indonesia

Bebas Sampah, CV Aksara, Makassar.

Sinartani, 2013, Membuat Pupuk

Kompos dari Kotoran Sapi,

http://mesin-murah.com/index.php/artikel/ 69-membuat-pupuk-kompos-dari-kotoran-sapi, diakses pada tanggal 15 Oktober 20013.

Slamet, S. J., 2002, Kesehatan

Lingkungan, Universitas Gajamada, Yogyakarta. Wahyono, S., 2005, Protokol Kyoto

Dukung Pengelolaan Sampah,

http://www.kompas.com/kom pas%2, diakses pada tanggal 15 Oktober 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem jarak tanam tegel ini biasanya hanya memiliki beberapa barisan tanaman pinggir dengan kepadatan yang tinggi, sehingga dapat mengakibatkan persaingan

Dengan data ini pula kita bisa mendapatkan gambaran dalam segi instalasi web browser mana yang akan lebih menunjang kita dengan waktu instalasi yang relative lebih cepat

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan karuniaNya dalam kehidupan, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjalan

Faktor pendukung yang paling utama, dari penerapan sedekah terpimpin, adalah KSPPS-MUI kekurangan dana sosial untuk menunjang pelaksanaan kegiatan sosial

Sebagaimana menurut pandangan Giddens, sikap perubahan perilaku agama masyarakat, perlu dianalisis hubungannya dengan tindakan rasionalitas agar dapat ditemukan