• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 LAPORAN TAHUNAN Halaman ini sengaja dikosongkan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2 LAPORAN TAHUNAN Halaman ini sengaja dikosongkan"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

PT. Asia Pacific Fibers Tbk (dahulu PT Polysindo Eka Perkasa Tbk), didirikan sejak tahun 1984, merupakan salah satu perusahaan penghasil polyester terkemuka di Indonesia. Perseroan menjalankan rangkaian proses produksi polyesternya mulai dari bahan baku sampai dengan barang jadi dengan mengutamakan mutu dan konsistensi. PT. Asia Pacific Fibers merupakan satu-satunya produsen polyester yang terintegrasi di Indonesia, dengan fasilitas pabrik PTA, Polymer dan Fiber yang terletak di Karawang, Jawa Barat dan fasilitas pabrik benang Polyester yang terbesar di Indonesia terletak di Kendal, Jawa Tengah.

Produk yang dihasilkan Perseroan saat ini meliputi Purified Terephthalic Acid (PTA), polyester chips, staple fiber, filament yarn dan performance fabrics. Hasil produksi Perseroan dipasarkan baik di dalam negeri maupun diekspor di pasar internasional.

Berikut ini adalah laporan mengenai perkembangan usaha PT. Asia Pacific Fibers Tbk pada tahun 2013. Istilah "Perseroan" dalam laporan ini digunakan untuk PT. Asia Pacific Fibers Tbk dan semua anak perusahaan. Istilah "APF" ditujukan untuk induk itu sendiri yaitu PT. Asia Pacific Fibers Tbk, sedangkan istilah "Texmaco Jaya" ditujukan untuk PT. Texmaco Jaya Tbk.

(5)

Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar data keuangan penting Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 sampai 2013.

Akuntan Publik Perseroan saat ini adalah Kantor Akuntan Publik Hendrawinata Eddy & Siddharta (Indonesian Member firm of Kreston International).

Catatan: (1)

Aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar

(6)

Pemegang Saham yang terhormat,

Industri Polyester mencerminkan siklus penurunan ekonomi global pada tahun 2013 yang dipicu oleh kelebihan kapasitas PTA di Asia, terutama besarnya kapasitas yang dimiliki oleh China. Marjin siklus polyester terus mengalami tekanan sepanjang tahun, yang didorong jatuhnya marjin produk PTA. Penambahan kapasitas yang besar pada produk PTA dan polyester menyebabkan rendahnya tingkat operasional di seluruh dunia. Faktor-faktor tersebut disertai pula dengan melambatnya tingkat konsumsi yang pada akhirnya menyebabkan ketatnya persaingan harga serta penurunan yang tajam dalam pertumbuhan marjin. Secara keseluruhan, produk polyester telah berada pada fase yang lebih lambat pada kisaran 4,6% tahun 2012 dan 5,5% pada tahun 2013. Kami berharap, tahun 2014 akan menjadi tahun perubahan yang penting dalam pertumbuhan produk polyester untuk serat, PET dan film.

Kinerja PT. Asia Pacific Fibers Tbk (Perseroan) sepanjang tahun 2013 sangat terpengaruh oleh faktor-faktor tersebut yang menyebabkan penurunan keuntungan yang signifikan. EBITDA tahun ini menurun menjadi US$9.57 juta dari total penjualan US$565 juta. Namun demikian, Perseroan mampu untuk mengoperasikan pabriknya baik yang di Karawang maupun di Kendal pada kapasitas optimal sepanjang tahun terutama didukung oleh permintaan pasar domestik yang berkesinambungan dengan basis pelanggannya yang kuat. Perseroan meningkatkan pasokannya atas produk-produk PSF dan PFY miliknya ke pasar domestik yang melayani lebih dari 200 perusahaan industri hilir dan terus menyediakan bahan baku utama bagi sektor Tekstil dan Pakaian Jadi di Indonesia.

Meskipun dalam kondisi usaha yang sulit, Perseroan tetap bergerak kearah strategis sebagai “Produsen”. Berkenaan dengan ini, Perseroan telah berhasil menyelesaikan proyek “Benang untuk keperluan Otomotif” di unit Kendal, dengan dukungan keuangan dari kreditur/pemegang saham mayoritasnya. Damiano Investment BV. Dengan proyek ini memungkinkan Perseroan untuk mendiversifikasi usaha ke dalam spesialisasi produk dan produk-produk yang bernilai tambah untuk melayani segmen pasar tertentu. Pemulihan ekonomi global mengalami perlambatan pada tahun 2013 dibandingkan dengan yang diharapkan. Sementara ekonomi AS telah menguat, perekonomian Eropa telah menunjukkan tanda-tanda melepaskan diri dari krisis, sedangkan perekonomian negara-negara berkembang mulai melambat. Perekonomian global menjadi lebih tidak menunjukkan kepastian dikarenakan adanya pergeseran dalam bentangan ekonomi. Selaras dengan pertumbuhan ekonomi global yang lamban dan pergerakan harga yang tinggi pada pasar-pasar keuangan, harga-harga komoditas terus menunjukkan kecenderungannya yang menurun, menegaskan akhir dari era siklus komoditas utama.

Perekonomian Indonesia, yang terbesar di Asia Tenggara, mengalami laju pertumbuhan terlamban selama empat tahun terakhir di tahun 2013, tetapi masih mempunyai harapan dan menunjukkan tanda-tanda peningkatan meskipun sangat terpukul dengan kekacauan pasar negara-negara berkembang. Produk Domestik Bruto (PDB) melemah menjadi 5,78% di tahun 2013 dari rata-rata pertumbuhan sebesar 6,3% selama 3 tahun sebelumnya, investasi melambat tajam. Tantangan besar lainnya yang dihadapi selama tahun tersebut, adalah inflasi yang naik turun dikarenakan kenaikan harga bahan bakar minyak dan lonjakan harga bahan makanan. Inflasi Indonesia mencapai tingkat tertingginya yaitu 8,4% pada tahun 2013 dibandingkan target bank sentral sebesar 5,5%. Namun demikian, tingkat konsumsi tetap menguat, pada kisaran 5,3% dan memberikan sumbangsih separuh dari pertumbuhan dalam PDB pada sisi pengeluaran, yang merupakan pendorong yang sangat berarti bagi perekonomian Indonesia.

(7)

Akibat penurunan yang tajam pada harga-harga komoditas dan perlambatan perekonomian global, nilai ekspor Indonesia mengalami penurunan selama dua tahun berturut-turut, menjadi US$182,57 milyar pada tahun 2013 dari US$190,02 milyar (-3,92%) dalam tahun 2012, dengan kontribusi dari sektor tekstil sebesar US$13,06 milyar (7,15% dari total ekspor). Di sisi lain, nilai impor untuk tahun tersebut juga menurun menjadi US$186,63 milyar dari US$191,69 milyar (-2.64%) dalam tahun 2012, dengan penurunan impor barang modal yang signifikan sebesar 17,35% hal ini mengindikasikan adanya penurunan dalam penanaman modal, yang diperlukan untuk mendorong produksi domestik.

Bank Indonesia, selaku bank sentral, menaikkan tingkat suku bunga sebesar 175 basis poin (7.5%) sejak bulan Juni untuk mengendalikan permintaan domestik pada saat adanya kenaikan tingkat inflasi dan membesarnya defisit neraca pembayaran. Sebagaimana di banyak pasar negara berkembang pada tahun 2013, nilai mata uang Indonesia melemah tajam sepanjang tahun, dimana Rupiah mengalami penurunan sekitar 25% terhadap Dollar AS.

Sepanjang tahun 2013, Perseroan terus melanjutkan upayanya untuk merestrukturisasi Utang Berjaminan secara bilateral dengan para kreditur terjamin dan PT. Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (PPA). Dalam proses tersebut, Perseroan telah mengajukan perbaikan atas proposal Restrukturisasinya dan mengajukan permohonan kepada Kementrian Keuangan RI untuk dapat menyelesaikan proses restrukturisasi sesegera mungkin. Apabila restrukturisasi ini dapat diselesaikan, Perseroan akan berada dalam posisi yang berarti dalam usahanya untuk meningkatkan kondisi keuangannya dan akan dapat menerapkan rencana-rencana pertumbuhan jangka panjangnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Masjhud Ali, yang telah menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak tahun 2002, dan pensiun dari Direksi Perseroan pada bulan Juni 2013. Kami juga mengucapkan selamat datang kepada Bapak Bonar Firman Hasiholan Sirait yang telah ditunjuk sebagai Direktur dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 2013. Dewan komisaris memberikan apresiasi kepada Bapak Masjhud Ali atas kontribusi yang diberikan kepada Perseroan selama menjabat dan menyambut Bapak Bonar Firman Hasiholan Sirait sebagai direktur. Dewan Komisaris juga menyampaikan penghargaan kepada Direksi dan semua pegawai Perseroan atas komitmen dan dedikasi mereka sepanjang tahun 2013, suatu tahun yang penuh tantangan dimana perseroan terus berusaha memperkuat posisi pasar strategisnya seraya mencari solusi-solusi peneyelesaian restrukturisasi. Perseroan terus meningkatkan standar tata kelola perusahaannya dan mematuhi peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di OJK dan BEI.

Kami juga ingin menyatakan ungkapan terima kasih kami yang tulus kepada para pelanggan, para pemasok, dan para pemegang saham atas dukungan mereka yang berkelanjutan dan keyakinan yang telah mereka percayakan kepada Perseroan di masa transisi yang kritis ini.

Robert Clive Appleby Komisaris Utama

(8)

Pemegang Saham yang terhormat,

Tingkat investasi yang menurun, permintaan eksternal yang melamban dan berakhirnya ledakan komoditas membatasi pertumbuhan perekonomian terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2013. Di tengah-tengah tingginya pergerakan harga di pasar keuangan dan melambatnya pemulihan perkonomian global, pertumbuhan perekonomian Indonesia mencatat laju yang melambat selama empat tahun terakhir. Dalam tahun 2013 PDB Indonesia tumbuh 5,78% dibandingkan 6,23% pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan dalam investasi tetap mengalami perlambatan menjadi 4,7% di tahun 2013 setelah mengalami penguatan pertumbuhan sekitar 9% pada tahun 2010-2012. Hal ini jelas mencerminkan dampak dari tingkat suku bunga yang tinggi dan melemahnya nilai mata uang pada iklim investasi. Namun demikian, konsumsi domestik Indonesia tetap tinggi, memberikan sumbangsih besar terhadap pertumbuhan PDB.

Indonesia juga sangat merasakan pukulan yang diakibatkan oleh melambatnya permintaan ekspor atas komoditas utamanya, khususnya dari China dikarenakan perlambatan ekonomi negara tersebut serta jatuhnya harga-harga komoditas di seluruh dunia. Nilai ekspor Indonesia menurun untuk tahun kedua berturut-turut sampai dengan US$182,57 milyar dibandingkan dengan US$190,02 milyar, turun 3,92% dari tahun sebelumnya. Nilai impor juga menurun menjadi US$186,63 milyar di tahun 2013, mencatatkan penurunan sebesar 2,64% dari tahun sebelumnya. Defisit perdagangan membesar hingga tercatat pada angka US$4,10 milyar untuk keseluruhan tahun 2013, menyusul defisit sebesar US$1,70 milyar di tahun 2012. Besarnya defisit neraca pembayaran, tingkat inflasi yang naik turun setelah adanya kebijakan pengurangan subsidi bahan bakar minyak, yang mencatat rekor tertinggi pada kisaran 8,4%, telah menambah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi. Mata uang Rupiah melemah menjadi Rp.12.171 per dolar dibandingkan Rp.9.793 rupiah di akhir tahun 2012, akan jatuh lebih dari 25%, sebagai akibat dari memburuknya fundamental ekonomi dan kekhawatiran-kekhawatiran atas risiko arus modal keluar yang dipicu oleh pengurangan stimulus Pemerintah Federal AS.

Untuk menopang ekonomi dan untuk menaikkan nilai mata uang yang telah babak belur, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 basis poin sejak Juni hingga saat ini sebesar 7,5%. Bursa Efek Indonesia terjerembab pada rekor tertinggi di atas 5000 menjadi dibawah 4000 yang tercatat di bulan September 2013, dan pada saat ini telah pulih hingga 4870.

Industri Polyester: Tren Global dan Domestik

Tahun 2013 sangat menantang bagi usaha dan perdagangan secara umum dan bagi sektor Polyester khususnya, dimana sektor ini mengalami suatu masa yang sangat bergolak. Perlambatan ekonomi global memberikan dampak yang menghambat dan berkepanjangan terhadap permintaan yang semakin diperburuk oleh pasokan yang berlebihan dikarenakan kelebihan kapasitas PTA, Serat Polyester dan benang Filamen di Asia, terutama dipicu oleh China. Hal ini telah memicu suatu siklus penurunan global dalam produk polyester, yang telah berlangsung dalam waktu lama yang tidak seperti biasanya dan dimana banyak pabrikan Asia dan Global yang sangat terkena dampaknya. Sebaran produk pada rantai polyester terus tertekan dikarenakan persaingan yang ketat dan kecenderungan melemahnya harga kapas dan rayon sepanjang tahun ini.

Siklus bahan baku dan produk Polyester saat ini mencerminkan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, dimana pertumbuhan keseluruhan produksi polyester telah melambat dalam dua tahun terakhir

(9)

pada dua tahun terakhir, pengoperasian PTA mengalami penurunan hingga 76% pada tahun 2013 dari 90,2% pada tahun 2012, dan kemungkinan akan jatuh dibawah 74% pada tahun 2014 dengan adanya rasionalisasi kapasitas dalam lingkup regional. Produksi polimer mencapai 61,68 juta ton, tumbuh sebesar 3,2 juta ton atau 5,5% pada tahun 2013, marjin membaik dari 4,6% di tahun 2012 seiring perekonomian global yang mulai pulih di paruh kedua tahun 2013. Tingkat pertumbuhan jangka panjang cenderung lebih baik yaitu diperkirakan berada di atas 6% yang tampak mengesankan dibandingkan dengan sektor-sektor usaha besar lainnya yang terkait dengan petrokimia.

Perkiraan melemahnya harga minyak mentah, rasionalisasi kapasitas produk PTA dan didukung oleh melemahnya harga PX seharusnya dapat menciptakan struktur harga yang stabil untuk produk polyester pada tahun 2014 –15, sementara itu konsumsi Polyester diharapkan tetap kuat dan tumbuh di atas 6%. Namun demikian, harga kapas diperkirakan akan lebih bersaing dibandingkan serat buatan mengingat produksi dan persediaan kapas global yang melonjak. Hal ini akan memberikan tekanan pada harga kapas dan berbalik secara signifikan dengan marjin produk polyester dalam waktu dekat ini.

Di sisi lain, pasar domestik terus tumbuh, dikendalikan oleh sangat kuatnya permintaan domestik yang berkelanjutan dengan konsumsi per kapita meningkat hingga 6,84 Kg pada tahun 2013 dari 6,22 Kg pada tahun sebelumnya. Sementara permintaan domestik atas polyester staple fiber naik 12%, melampaui kenaikan produksi sebesar 5% di tahun 2013, menyebabkan kenaikan impor yang signifikan. Permintaan benang filamen naik 6%, sementara kenaikan dalam produksi hanyalah sebesar 3% di tahun 2013. Dengan adanya ketidakseimbangan dalam permintaan/penawaran baik untuk serat sintetis dan benang filamen, sektor hulu produk polyester domestik terpaksa harus memperluas kapasitas yang ditujukan untuk menjadikan Indonesia swadaya dalam memenuhi kebutuhan PSF dan PFY, terutama untuk menyediakan bahan pengganti impor. Impor produk murah atas serat dan benang Filamen di masa lalu telah memberikan tekanan terhadap harga-harga domestik dan industri mengambil langkah-langkah perbaikan untuk mengatasi masalah di bidang perdagangan berkenaan dengan kebijakan anti-dumping. Didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan berkelanjutan sebesar 5,78% pada tahun 2013 dan pertumbuhan yang diperkirakan sebesar 5,7% pada tahun 2014, dengan tingkat inflasi yang terkendali, tingkat kepercayaan konsumen tetap kuat untuk meningkatkan konsumsi domestik. Konsumsi produk tekstil per kapita diproyeksikan naik hingga 7,2 Kg pada tahun 2014 serta kenaikan yang selaras dengan konsumsi polyester.

Nilai ekspor produk tekstil mengalami kenaikan menjadi US$13,12 milyar (naik 4,5% ) pada tahun 2013 dibandingkan dengan US$12,56 milyar pada tahun 2012, sementara total volume ekspor produk tekstil naik secara signifikan sebesar 13,2%, terutama didorong oleh ekspor benang dan kain. Sedangkan, impor produk tekstil pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 9% yang berakibat pada surplus perdagangan bersih sebesar US$5,90 milyar pada tahun 2013, memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap keseimbangan neraca perdagangan.

Kinerja Perseroan

Kinerja Perseroan secara signifikan terkena imbas dari penurunan marjin siklus produk polyester, yang dipicu oleh penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam produk-produk PTA ditambah dengan naiknya biaya energi dan tingginya tingkat inflasi yang terus berlangsung selama tahun 2013. Pemulihan perekonomian global yang lambat, pasar keuangan yang sangat mudah bergejolak yang menyebabkan ketatnya likuiditas telah semakin menyurutkan jumlah permintaan. Meskipun dalam kondisi perdagangan yang tidak menguntungkan, Perseroan mampu mengoperasikan kedua pabriknya pada kapasitas optimal dengan standar-standar efisiensi yang tinggi, terutama didukung oleh permintaan yang berkelanjutan dari pelanggan utamanya. Perseroan mencatatkan penjualan sebesar US$572 juta dibandingkan dengan US$600 juta pada tahun sebelumnya. Meskipun terdapat kenaikan volume produksi dan penjualan, total pendapatan penjualan menurun dikarenakan jatuhnya harga jual untuk semua produk dan jatuhnya harga dan marjin PTA sepanjang tahun 2013. Oleh karenanya Perseroan mengakhiri tahun tersebut dengan kerugian operasional sebesar US$19,85 juta dibandingkan dengan kerugian operasional sebesar US$23,51

(10)

juta untuk tahun sebelumnya. Kerugian operasional yang berkurang selama tahun tersebut terutama karena keuntungan selisih kurs sebesar US$31,41 juta sebagai akibat dari Rupiah yang turun tajam. EBITDA Perseroan untuk tahun 2013, turun secara signifikan hingga US$9,57 juta dibandingkan dengan EBITDA sebesar US$35,86 juta pada tahun 2012. Divisi kain Perseroan terus mencatat kinerja baiknya selama tahun 2013 dengan mencapai pendapatan dari penjualan sebesar US$13,69 juta dengan EBITDA sebesar US$ 1,57 juta.

Meskipun dalam kondisi usaha yang berat dan kondisi arus kas yang ketat, Perseroan terus bergerak menuju arah strategis dengan mengembangkan diversifikasi produk dan pasar dengan difokuskan pada penambahan investasi modal kerja untuk produk-produk khusus dan bernilai tambah. Dengan senang hati kami menyampaikan bahwa Perseroan telah berhasil menyelesaikan dan mempersiapkan “Proyek Benang untuk Produk Otomotif” di unit Kendal pada bulan November 2013. Perseroan juga telah mengambil tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang ada pada unit produksi polymer dan serat sintetis di Karawang dengan tujuan untuk mengoptimalkan kapasitasnya dan untuk masuk ke spesialisasi polymer dan serat sintetis. Dengan keuntungan dari proyek modal kerja yang sudah berjalan yang diperoleh Perseroan efektif mulai tahun 2014, Perseroan akan memperoleh kontribusi yang cukup signifikan dalam sisi pendapatannya di kemudian hari.

Harapan di Masa Mendatang

Perekonomian Global diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,7% pada tahun 2014 dan 3,9% pada tahun 2015, terutama dikarenakan pemulihan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang yang akan meningkat masing-masing hingga 5,10% dan 5,4%. Ekonomi Indonesia diproyeksikan akan tumbuh pada kisaran 5,3% - 5,5% pada tahun 2014 dan 2015 dan pertumbuhannya terutama didorong oleh konsumsi domestik yang kuat dan kenaikan ekspor kepada para mitra dagang yang tidak terlalu tinggi. Rupiah Indonesia (Rp) kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan pada awal tahun 2014 di tengah-tengah ketidakpastian hasil pemilu dan pengurangan stimulus Pemerintah Federal AS.

Kondisi domestik untuk sektor-sektor produksi berharap dapat melewati fase yang berat dengan kemungkinan adanya kenaikan biaya-biaya energi dan sumber daya manusia. Harga gas dan tarif listrik tercatat mengalami kenaikan yang berarti pada tahun 2014 yang memberikan tekanan terhadap daya saing bagi pabrikan domestik. Kalangan industri sedang membahas hal ini dengan kementerian terkait agar melakukan kenaikan secara bertahap dalam suatu jangka waktu tertentu dibandingkan kenaikan secara langsung/keseluruhan. Sehubungan dengan sektor hulu produk polyester, dengan adanya kapasitas tambahan atas Serat Sintetis dan Benang Filamen yang akan beroperasi, pasar domestik diperkirakan akan menghadapi persaingan harga yang ketat untuk produk Perseroan. Namun demikian, Perseroan dengan basis pelanggannya yang kuat, dan dengan suatu produk campuran yang terdiversifikasi dengan kokoh memiliki posisi dengan daya saing tinggi dan mampu mempertahankan posisi kepemimpinannya.

Lambatnya solusi bagi restrukturisasi utang berjaminan yang telah lama tertangguhkan masih merupakan hambatan untuk melaksanakan rencana-rencana pertumbuhan Perseroan. Untuk mempercepat proses tersebut, Perseroan baru-baru ini telah mengajukan pembaharuan proposal restrukturisasi dengan opsi-opsi pengganti bagi para kreditur utang berjaminan, yang saat ini sedang dirundingkan. Paska restrukturisasi, Perseroan akan memiliki basis keuangan yang kuat dan sehat dengan jumlah utang diturunkan ke tingkatan yang layak. Hal ini akan memungkinkan perseroan untuk memperoleh fasilitas dari pasar untuk memenuhi investasi-investasi jangka pendek dan jangka panjangnya guna mendanai rencana-rencana pertumbuhannya. Semua upaya ini akan dapat meningkatkan kinerja Perseroan secara signifikan, dan untuk menempatkan diri kembali ke garis terdepan di industri polyester dan mempertahankan posisi strategis dan kepemimpinannya.

(11)

Pelanggan, Pemasok, Perbankan, dan Karyawan yang terus mendukung perusahaan selama masa yang menantang ini dan terus menyokong posisi strategis kita di industri polyester.

V. Ravi Shankar Direktur Utama

(12)

Komisaris dan Direksi

Menurut akte pendirian, APF dipimpin oleh Dewan Direksi dibawah pengawasan Dewan Komisaris. Anggota Dewan Komisaris dan Dewan Direktur dipilih dan ditunjuk oleh para pemegang saham PT. Asia Pacific Fibers Tbk pada Rapat Umum Tahunan. Akte pendirian mengizinkan Direktur Utama untuk bertindak sendiri, atau bila Direktur Utama berhalangan, maka dua direktur akan bertindak mewakili Dewan Direktur. Anggota Dewan Komisaris PT. Asia Pacific Fibers saat ini adalah sebagai berikut:

Nama Umur Jabatan dan Latar Belakang Profesi

Robert Clive Appleby 51 Komisaris Utama Perseroan sejak 2007. Direktur dan Chief Investment Officer di Asia Debt Management Hongkong Limited (ADM), Direktur pada Divisi Income pada Credite Agricole Indosuez khususnya menangani restrukturisasi di Kawasan Asia.

Christopher Robert Botsford 52 Komisaris APF sejak 2007. Chief Executive Officer dan Director of Asia Debt Management Hongkong Limited (ADM). Sebelum mendirikan ADM, beliau menjalankan regional debt untuk Kawasan Asia-Pacific dan operasi derivative pasar pada Republic National Bank of New York yang memberikan Lindung Nilai dan Manajemen restrukturisasi hutang di kawasan.

Robert McCarthy 59 Komisaris APF sejak Juni 2008. Menyandang gelar Master in Business Administration dari Yale School of Management, dan Master dalam bidang Medieval History dari Columbia University. Mengelola Investasi bermasalah pada Spinnaker Funds. Beliau merupakan Founding Director Morgan Grenfell dan pernah menjabat sebagai Direktur Deutsche Bank.

Dono Iskandar Djojosubroto 69 Komisaris APF sejak Juni 2008. Menyelesaikan S1 di Universitas Indonesia dan MA serta Phd dalam bidang Ekonomi di University of Illinois, AS. Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Departemen Keuangan RI, Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Direktur Eksekutif IMF yang mewakili 12 Negara Asia. Beliau juga pernah menjadi anggota dewan komisaris dan badan pengawas pada berbagai institusi Pemerintah seperti PT. Jasindo, PT. Jasa Marga, Bank BRI dan Bank BTN.

(13)

Surowidjojo Kantor Pengacara sejak 1982. Lulusan Universitas Indonesia dan Washington University.

Kamun Cheong 34 Komisaris APF sejak 2012. Pemegang gelar sarjana di Commerce (Honours) dari University of Melbourne. Analis investasi ekuitas, kredit dan privatisasi untuk kawasan Asia Tenggara di Spinnaker Capital Fund. Sebelum bergabung dengan Spinnaker beliau bekerja di Deloitte Touche serta Financial Adivisor dan Manajemen Hutang/Investasi di ABN.

(14)

Anggota Dewan Direksi PT Asia Pacific Fibers saat ini adalah sebagai berikut:

Nama Umur Jabatan dan Latar Belakang Profesi

V. Ravi Shankar 50 Direktur Utama APF sejak 2002. Lulusan Production Engineering, dan juga menyelesaikan Advance Management Programme dari Harvard University pada tahun 2004. Sebelum bergabung dengan APF, beliau memimpin Divisi Tekstil dari anak perusahaan APF dan industri permesinan di Indonesia dan India.

Bonar Firman Hasiholan Sirait 65 Direktur APF sejak 2013. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan merampungkan Ph.D dalam bidang Ekonomi di Universitas yang sama. Beliau juga mengikuti berbagai macam pelatihan HRD, Business re-engineering dll., di Singapura, Malaysia, Perancis, Swiss dan Kanada. Mengepalai departemen HRD APF sejak tahun 2004 sebagai Senior Vice President dan mengepalai departemen HRD grup Texmaco sejak tahun 1993. Sebelumnya beliau pernah menjabat sebagai Direktur Personalia PT. Sepatu Bata Tbk.

S. Jegatheesan 64 Direktur APF sejak 2002. Lulusan Electrical Engineering dan bergabung dengan APF sejak tahun 1989. Sebelum bergabung dengan APF, beliau sebagai General Manager dari perusahaan pemintalan benang dan Project Manager sebuah perusahaan di India.

Peter Vinzenz Merkle 56 Direktur APF sejak 2007. Beliau bergabung dengan APF sejak tahun 2000 sebagai Pimpinan Pabrik Karawang yang memproduksi PTA, Polymer dan Fiber. Sebelum bergabung dengan APF, beliau bekerja di beberapa perusahaan Kimia dan Fiber seperti Trevira Group and Hoechst AG sebagai Kepala Divisi R&D, Divisi Pengembangan Teknik. Pemegang MSc di bidang Chemical Engineering dari University of Stuttgart, Germany jurusan Proses Polymer Processing dan Teknologi Lingkungan.

(15)

Rapat Umum Pemegang Saham

Dewan Komisaris • ROBERT C. APPLEBY

CHRISTOPHER ROBERT BOTSFORD

ROBERT McCARTHY

KAMUN CHEONG

TIMBUL THOMAS LUBIS

DONO ISKANDAR D. Direktur Utama V. RAVI SHANKAR Direktur BONAR F.H. SIRAIT

Direktur SBU Filament Yarn

S. JEGATHEESAN

Direktur SBU Chemical & Fiber

PETER V. MERKLE

H.R. & I.R. Corporate

IT Corporate Finance Internal Audit Corporate Secretary Fabric DivisionPerformance

Direktur SBU Filament Yarn/Chemical & Fiber

Product -ion Engineer -ing Account -ing PPC/ Desp/ Material Control R&D/ CTS/ Product Dev. Admin./ Security/ Transport/ P.R. Information Technology HRD & LD Market - ing

(16)

Gambaran Umum Industri Polyester

Seiring berlanjutnya penurunan ekonomi global, pertumbuhan PDB Indonesia turun menjadi 5,80% pada tahun 2013 dibandingkan dengan 6,20% pada tahun 2012. Ekspor pada tahun 2013 menurun tajam yang tercatat sebesar USD 182,,57 juta dibandingkan USD 190,02 juta pada tahun 2012. Tingkat inflasi melonjak hingga mencapai 8,37% dari sebelumnya 4,32% pada tahun 2012 yang dipicu oleh penghapusan subsidi Bahan Bakar Minyak. Meskipun kondisi memburuk, perekonomian Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Ketahanan atas perlambatan ekonomi global ini didukung oleh pertumbuhan yang kuat di konsumsi domestik. Prospek ekonomi Indonesia untuk tahun 2014 tetap positif meskipun pemulihan ekonomi global berjalan lambat, terutama akibat rendahnya pertumbuhan investasi, konsumsi domestik dan proyeksi kenaikan ekspor. Inflasi diperkirakan akan berada di bawah pada kisaran 5% pada tahun 2014.

Siklus produk-produk dan bahan masih terus mencerminkan ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan keseluruhan produksi polyester telah melambat menjadi 5,50% pada tahun 2013. Melemahnya harga kapas karena meningkatnya jumlah produksi dan persediaan serta terdepresiasinya marjin PTA telah berdampak pada kinerja industri Polyester global. Pertumbuhan produksi Polyester tahun 2013 melambat yang mencerminkan kondisi ekonomi, tetapi industri terus menambah kapasitas secara signifikan lebih dari 12-16 juta ton Fiber baru dan kapasitas Filament Yarn juga masih terus ditingkatkan dalam jangka waktu 2013 – 2017. Penambahan tersebut sebagian besar disumbang dari pembangunan/perluasan pabrik di Asia. Dengan rasionalisasi kapasitas dan mempertahankan tingkat utilisasi produksi PTA, marjin PTA diperkirakan akan membaik mulai tahun 2014 dengan peningkatan marjin yang dihasilkan dalam produk Polyester.

Harga minyak global kurang/tidak stabil sepanjang tahun 2013 dan ditutup dengan peningkatan dari level USD 91.8/barrel (WTI) pada tahun 2012 menjadi USD 98.1/barrel pada 2013. Saat ini harga minyak mengalami kenaikan menjadi sekitar USD 100/barel. Harga bahan baku utama Perusahaan, Paraxylene dan MEG masih tetap pada tingkat yang tinggi sepanjang 2013 tanpa diiringi peningkatan yang seimbang dalam produk jadi polyester karena resistensi terhadap kenaikan harga di hilir. Tingkat harga Paraxylene dan MEG diharapkan turun pada kwartal ke-2 tahun 2014 dengan diiringi peningkatan pasokan serta peningkatan marjin PTA diatas Paraxylene

Pasar domestik masih tetap menguat dengan konsumsi produk-produk tekstil per kapita mengalami peningkatan dari 6,22 Kg pada tahun 2012 menjadi 6,84 Kg pada 2013. Permintaan domestik untuk dua jenis produk yaitu polyester staple fiber dan benang filamen meningkat secara signifikan masing-masing sebesar 11,8% dan 6,6%, pada tahun 2013 dibanding tahun sebelumnya. Impor produk staple fiber juga mengalami peningkatan sepanjang tahun 2013 sebesar 25% dan benang filamen meningkat sebesar 8,4% dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan impor memberi tekanan pada harga jual dan marjin dalam negeri. Permintaan domestik untuk produk polyester diperkirakan akan tumbuh dalam waktu dekat, sedangkan harga dan marjin akan berada di bawah tekanan karena adanya persaingan yang ketat dan impor produk murah dari China dan Malaysia.

(17)

Produksi PTA global pada tahun 2013 tumbuh sekitar 7,7% atau lebih dari 3,8 juta ton menjadi 53,2 juta ton. Pasar sedang dipengaruhi oleh investasi besar-besaran produk PTA yang terjadi secara global dan adanya beberapa aksi rasionalisasi yang akan dilakukan yang diikuti dengan penurunan tajam dalam tingkat utilisasi dari 84% pada tahun 2012 menjadi 76% pada tahun 2013. Total kapasitas PTA diperkirakan akan tumbuh sebesar 15 juta ton dari 53,2 juta ton pada 2013 menjadi sekitar 67,7 juta ton pada tahun 2017.

Staple Fiber

Produksi serat stapel polyester global pada 2013 diperkirakan 15,81 juta ton dibandingkan dengan 14,89 juta ton pada 2012, mencatat pertumbuhan sebesar 6%. Produksi stapel fiber Perseroan pada tahun 2013 meningkat sebesar 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya terutama disumbang oleh peningkatan kapasitas dan didukung oleh stabilnya permintaan di pasar domestik.

Benang Polyester

Pada tahun 2013, produksi benang polyester filamen global diperkirakan mencapai 28,32 juta ton dibandingkan dengan 27,10 juta ton pada tahun 2012, sehingga mencatat pertumbuhan lebih dari 4,5%. Produksi benang filamen Perusahaan tetap pada tingkat optimal dengan peningkatan produksi benang khusus dan yang mempunyai nilai tambah.

Performance Fabric

Divisi Performance Fabrics tetap dioperasikan melalui dana talangan dari induk perusahaan kepada Texmaco Jaya, dan dana talangan tersebut masih tetap dilanjutkan dengan persetujuan dari Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Produksi dan penjualan performance fabrics dioptimalkan sepanjang tahun 2013.

Jenis Produk

(18)

Distribusi Pemasaran

APF adalah mitra jangka panjang terpercaya bagi konsumen global yang memproduksi kain tekstil untuk pakaian, produk tekstil perangkat rumah, otomotif, alas kaki, pakaian olahraga, kebersihan, dan perawatan kesehatan dan berbagai aplikasi lainnya.

Perusahaan ini memiliki jaringan pemasaran yang kuat dan manajemen jaringan pasokan yang membedakannya dari para pesaingnya. Memelihara kerjasama yang sangat erat dengan pelanggan dilakukan melalui penyesuaian dan inovasi produk unik bermerek untuk APF dan memiliki tingkat loyalitas pelanggan yang tinggi. Sebagai langkah strategis, tim pemasaran memfokuskan pada inovasi produk dan aplikasi untuk menyesuaikan produk untuk meningkatkan nilai produk. APF baru-baru ini mengembangkan portofolio produk khusus dengan merek premium yang memberikan kenyamanan dalam kinerja, estetika dan beberapa keuntungan lainnya.

APF terus memfokuskan upaya untuk mempertahankan posisi kepemimpinan di pasar domestik dan meningkatkan pangsa pasar untuk produk benang filamen dan staple fiber. Perusahaan telah mengalokasikan kenaikan volume produksi untuk pasar domestik untuk memenuhi peningkatan kebutuhan pelanggan. Proporsi penjualan domestik telah meningkat menjadi 84% pada 2013.

Sumber Daya Manusia

Asia Pacific Fibers memahami bahwa sumber daya manusia merupakan aset inti dari perusahaan dan terus berupaya untuk memelihara dan mengembangkan bakat dan keterampilan untuk mengimbangi kemajuan teknologi dan perubahan kebutuhan pelanggan. Karyawan diikut-sertakan pada pelatihan khusus untuk meng-upgrade tingkat keahlian mereka dengan maksud untuk memberikan peluang pertumbuhan karir. Sebuah penilaian kinerja yang terstruktur dan skema insentif adalah sarana untuk meningkatkan motivasi karyawan. Para karyawan didorong untuk berpartisipasi dalam proses kolektif pengambilan keputusan melalui saluran komunikasi yang mapan di seluruh organisasi dan berkontribusi pada penciptaan nilai. Upaya Perseroan untuk menjaga hubungan industrial yang harmonis dan menerapkan sejumlah langkah-langkah untuk meningkatkan kesejahteraan seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan sosial untuk meningkatkan status sosial mereka. Perseroan juga telah merumuskan program ESOP untuk menghargai kinerja dan meningkatkan rasa ikut memiliki diantara karyawan.

Lingkungan

Dengan komitmen yang kuat pada pelestarian dan perlindungan lingkungan, Perseroan secara ketat mengikuti norma emisi ketat atas limbah yang dihasilkan. Perseroan sepenuhnya sesuai dengan semua standar lingkungan yang berlaku di Indonesia, dengan regulasi dari Badan Pengendali Lingkungan (Bapedal) sebagai pemilik otoritas. Perseroan juga telah memasang fasilitas daur ulang limbah 100% di Karawang ("Glikolisis") untuk mengkonversi semua limbah menjadi 'label produk hijau' dan untuk memastikan NOL limbah dari fasilitas produksi.

Lokasi dan Jenis Aktiva Tetap Yang Bernilai Lebih Dari 5% dari Total Aktiva

Perseroan memliki beberapa aktiva yang bernilai lebih dari 5% dari jumlah aktiva Perseroan. Untuk APF, aktiva yang sebagian besar berbentuk tanah, mesin, dan bangunan, termasuk pabrik PTA, fasilitas polymer, mesin fiber dan alat-alat pembuat benang ini, berlokasi di Kaliwungu, Jawa Tengah, dan Karawang, Jawa Barat.

(19)

APF memiliki fasilitas produksi di Karawang dan Kaliwungu. Tanah seluas 15,9 hektar, dengan bangunan, pabrik dan peralatan dan fasilitas yang terletak di Kaliwungu, yang dijaminkan ke BPPN (Badan Penyehatan Bank Indonesia). Tanah seluas 26,62 hektar, dengan bangunan, dan fasilitas produksi di Karawang ini dijamin dengan Obligasi Berjaminan.

Kebijakan Dividen

Di masa lalu pembayaran dividen dilakukan oleh Perseroan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Tahunan Pemegang Saham. Akan tetapi mengingat kondisi keuangan Perseroan saat ini, maka APF tidak membagikan dividen dalam tahun 2013.

Kinerja Harga Saham

Kegiatan Pembiayaan dan Status Restrukturisasi

Perseroan telah menyampaikan proposal restrukturisasi yang telah diperbaharui dengan beberapa alternatif pilihan kepada kreditur berjaminan dan PPA. Perseroan aktif melakukan negosiasi dengan pihak instansi pemerintah yang berwenang untuk memperoleh solusi atas masalah yang belum dapat diselesaikan. Sementara itu, Damiano Investments BV, pemegang saham mayoritas yang juga merupakan pemegang mayoritas utang berjaminan selain porsi PPA, telah memberikan modal kerja dan fasilitas Letter of Credit untuk pengadaan bahan baku. Hal ini terutama membantu Perusahaan yang beroperasi secara berkelanjutan dan menjaga optimalisasi kapasitas fasilitas produksi. Damiano Investments BV juga telah memperpanjang pinjaman Capex untuk mendanai proyek belanja modal yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Dalam tinjauan posisi modal kerja yang ketat dan tidak adanya penyelesaian restrukturisasi hutang berjaminan, pada Januari 2011 APF mencari dan menerima persetujuan dari kreditur konkuren untuk penundaan pembayaran angsuran pertama untuk utang tanpa jaminan Surat Hutang Baru yang jatuh tempo pada 15 Februari 2010 sampai 15 Februari 2012. Mayoritas pemegang Surat Hutang Baru telah menyetujui permintaan Perseroan untuk menunda pembayaran sampai (dan dimulai pada) Februari 2012. Selanjutnya pada Januari 2012, Perusahaan kembali mencari dan memperoleh persetujuan dari kreditur konkuren untuk perpanjangan waktu 3 tahun dan penjadwalan ulang pembayaran pokok terhitung sejak Februari 2015, bukan lagi Februari 2012 sebagaimana yang telah disetujui sebelumnya. Mayoritas

(20)

pemegang Surat Hutang Baru telah menyetujui permintaan Perusahaan dalam pertemuan mereka yang diadakan pada tanggal 16 Januari 2012 di Singapura. Perseroan sudah mulai pembayaran bunga atas Surat Hutang Baru sejak 15 Mei 2012 dan sejauh ini telah membayar bunga dalam tiga kwartal pada tahun 2012. Perseroan memiliki empat anak perusahaan: PT Texmaco Jaya Tbk. (Pailit – dalam likuidasi), Polysindo International Finance Company BV. (PIFC), Polysindo Mauritius Ltd., and PT Eastindo Polymertama (Eastindo).

PT Texmaco Jaya Tbk (Pailit – Dalam Likuidasi)

PT Texmaco Jaya telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan niaga Jakarta Pusat pada tanggal 19 Agustus 2011 sesuai dengan putusan Pengadilan Niaga No. 10/PKPU/2010/PN.NIAGA.JKT.PST. Jo No: 71/PAILIT/2010/PN.NIAGA.JKT.PST., Pengadilan juga menunjuk Dr. MARSUDIN NAINGGOLAN SH., sebagai Hakim pengawas dan Peter Kurniawan, SH., M.Kn., Lili Badrawati, SH., serta Permata N. Daulay, SH. MH. Sebagai tim kurator proses likuidasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Setelah selesai

verifikasi atas utang-utangnya, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah menyatakan PT Texmaco Jaya Tbk bangkrut dan memerintahkan untuk dilikuidasi – melalui Putusan no

71/PAILIT/2010/PN.NIAGA.JKT.PST tanggal 26 September 2011. Saat ini Perusahaan sedang dalam proses likuidasi.

Sementara itu, Majelis Hakim telah menyetujui untuk melanjutkan kelangsungan operasional divisi Fleece dengan maksud untuk menjaga nilai harta pailit. Sesuai dengan persetujuan pengadilan dan sesuai dengan perjanjian makloon antara tim kurator dan PT Asia Pasifik Fibers, divisi Fleece terus dioperasikan dengan fasilitas makloon.

Polysindo International Finance Company B.V (Polysindo Finance) dan Polysindo (Mauritius) Ltd.

Polysindo Finance dan Polysindo Mauritius adalah anak perusahaan yang 100% sahamnya dimiliki oleh PT. Asia Pacific Fibers Tbk dan berfungsi sebagai institusi pendanaan bagi perseroan. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara Indonesia dan Mauritius saat ini telah berakhir. Oleh karena itu, Perseroan sedang melakukan upaya likuidasi terhadap Polysindo (Mauritius) Ltd.

PT Eastindo Polymertama (Eastindo)

Eastindo pada awalnya didirikan untuk mengembangkan produksi PTA dan Polymer di Karawang, yang kemudian pelaksanaannya berubah langsung dilakukan oleh APF sendiri. Karena Eastindo tidak melakukan kegiatan apapun maka Perseroan berencana akan menutup Eastindo.

(21)

Umum

Pendapatan perusahaan berasal dari penjualan benang filament, staple fiber, polyester chips, dan performance fabrics, baik di pasar domestik dan ekspor. Total penjualan pada tahun 2013 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya terutama disebabkan penurunan harga jual benang filamen dan staple fiber. Penurunan harga karena penurunan margin produk-produk polyester telah menyebabkan penurunan pendapatan penjualan tahun ini. Rupiah melemah drastis sepanjang tahun dan ditutup pada Rp 12.189/US$ per 31 Desember 2013, dibandingkan dengan Rp 9.670/US$ pada tahun 2012.

Sesuai dengan standar akuntansi Indonesia 10 (PSAK 10), Perusahaan telah merubah mata uang pelaporan dari Rp menjadi US$ mulai 1 Januari 2012 dan telah menerbitkan laporan keuangan dalam mata uang Dolar AS. Akibatnya akun-akun yang dalam aset dan kewajiban Perusahaan dihitung kembali dan disajikan kembali sesuai dengan yang diharuskan.

Pendapatan

Pada 2013, penjualan bersih sebesar US$565.14 juta dibandingkan dengan US$599.33 juta pada tahun 2012. Penurunan penjualan bersih pada tahun 2013 terutama karena penurunan harga jual filament yarn dan staple fiber pada tahun ini. Penurunan harga jual disebabkan karena adanya penurunan yang signifikan dalam marjin produk-produk polyester yang dipicu oleh turunnya harga dan marjin PTA. Penjualan ekspor adalah sebesar US$87.15 juta atau 15,40% dari penjualan bersih, dan penjualan domestik sebesar US$477,99 juta atau 84,60% dari penjualan bersih. Pendapatan operasional lainnya adalah sebesar US$6,60 juta, yang diperoleh dari hasil penjualan bahan pembantu dan bahan rusak/scrap.

Laba/(Rugi) Kotor

Perseroan mengalami kerugian kotor sebesar US$20,57 juta pada tahun 2013, dibandingkan dengan rugi kotor sebesar US$5,98 juta pada tahun 2012. Kerugian ini terutama disebabkan oleh penurunan yang signifikan pada harga dan marjin untuk semua produk polyester sepanjang tahun ini yang disebabkan oleh kondisi pasar yang lemah, ditambah dengan jatuhnya marjin produk-produk polyester seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Laba/(Rugi) Usaha

Operasional Perseroan mengalami kerugian pada tahun 2013 sebesar US$19,85 juta dibandingkan dengan US$23,51 juta pada tahun 2012. Rugi usaha dibukukan setelah memasukkan komponen laba kurs sebesar US$31,41 juta dan kerugian US$11,82 juta pada 2012. Biaya Penjualan dan Administrasi Umum pada tahun 2013 adalah sebesar US$31,47 juta dibandingkan dengan US$31,90 juta pada tahun 2012. Penurunan biaya penjualan dan administrasi umum terutama disebabkan penurunan volume penjualan ekspor selama tahun 2012.

(22)

Laba Bersih

Perseroan mengalami rugi bersih sebesar US$30,06 juta pada tahun 2013, dibandingkan dengan rugi bersih sebesar US$32,12 juta pada tahun 2012. Namun, Perseroan masih membukukan EBITDA sebesar US$9,57 juta pada tahun 2012, dibandingkan dengan EBITDA sebesar US$36,84 juta pada tahun 2012.

Resiko Usaha

Produk-produk dan bahan baku Polyester masih terus mencerminkan ketidakpastian ekonomi global dan antisipasi kemungkinan pertumbuhan permintaan di negara besar seperti China dan India. Secara keseluruhan, pertumbuhan produksi polyester melambat menjadi 5,50 % pada tahun 2013. Margin PTA terus tertekan sepanjang tahun dan memukul industri hulu pada akhir tahun ini. Tingkat operasi di seluruh dunia yang lebih rendah dari kapasitas produksi polyester menempatkan tekanan lebih lanjut pada margin produk-produk polyester. Harga kapas juga masih melemah sepanjang tahun dengan diiringi peningkatan produksi dan pasokan. Faktor-faktor ini berdampak pada kinerja industri polyester global. Kemerosotan ekonomi global yang disebabkan oleh kekhawatiran utang Eropa dan kekhawatiran atas kondisi ekonomi AS terus berdampak pada perdagangan tekstil global yang mengarah pada lambannya prospek permintaan. Margin PTA diharapkan pulih pada tahun 2014 dan terus meningkatkan pada 2015, dengan rasionalisasi kapasitas PTA ditambah dengan peningkatan industri hilir untuk konsumsi-konsumsi produk polyester. Pasokan Paraxylene yang diperkirakan rendah pada tahun 2013 dengan adanya penambahan kapasitas baru masih mengakibatkan harga yang tetap tinggi karena keterlambatan pemesanan. Pada tahun 2014, diharapkan pasokan dan harga Paraxylene akan melemah seiring dengan mulai beroperasinya kapasitas baru dan diikuti dengan peningkatan marjin PTA. Perseroan masih tergantung pada fasilitas pre-financing, selain fasilitas modal kerja yang diperoleh dari pemilik mayoritas untuk pengadaan bahan baku terutama karena ketiadaan sumber konvensional modal kerja melalui saluran perbankan. Pinjaman modal kerja melalui perbankan akan dapat diperoleh hanya ketika utang yang terjamin telah direstrukturisasi .

Restrukturisasi Utang

Restrukturisasi utang yang berjaminan belum selesai, karena Perseroan masih menunggu keputusan dari Kementrian Keuangan RI. Damiano Investments BV, pemegang saham mayoritas yang juga merupakan pemegang mayoritas dari utang berjaminan, selain porsi PPA. terus memberikan pinjaman modal kerja dan fasilitas Letter of Credit untuk pengadaan bahan baku. Hal ini telah membantu Perseroan untuk mempertahankan utilisasi kapasitas yang optimal dari fasilitas produksi Perseroan.

Tata Kelola Perusahaan Yang Baik

Perseroan berusaha memenuhi berbagai persyaratan dan ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Pasar Modal dan Peraturan Bursa Efek.

Dewan Komisaris Perseroan merupakan respresentasi dari beberapa orang terpilih dengan latar belakang keuangan, ekonomi dan hukum disamping dari pemegang saham mayoritas. Dewan komisaris mengadakan pertemuan rutin triwulanan untuk melakukan penelaahan terhadap kinerja Perseroan dan pengawasan terhadap kinerja Direksi.

Bagian Internal Audit Perseroan dikepalai oleh Sdr. Yohanes Baptis Galuh Adjar Pamungkas, dengan dibantu beberapa staf berpengalaman. Internal Audit dalam beberapa fungsinya melaporkan hasil kerjanya kepada Komisaris Independen dan Direksi secara berkala guna pengambilan langkah-langkah perbaikan. Perseroan mempunyai Bagian Corporate Secretary yang dikepalai oleh Sdr. Tunaryo dan dibantu beberapa staf berpengalaman dibidang keuangan dan hukum.

(23)

masyarakat umum. Perusahaan akan terus berusaha untuk lebih transparan dan jujur dalam pelaporan kepada pemegang saham, pemangku kepentingan, dan masyarakat umum.

Corporate Social Responsibility (CSR)

Perseroan terus dan konsisten berpartisipasi dalam program pengembangan masyarakat melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) selama beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari komitmennya untuk memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Titik berat utama APF adalah dalam bidang pendidikan, kesehatan, pengendalian lingkungan, fasilitas sipil, infrastruktur dan pengembangan keterampilan kejuruan. APF telah melaksanakan kegiatan CSR dengan cara yang lebih tersalur dan terfokus melalui "Yayasan Asia Pacific Fibre". Beberapa kegiatan dan inisiatif utama yang diberikan antara lain:

 Program Pendidikan:

a) Pembangunan gedung Sekolah Dasar di Desa Blendung, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang

b) Pemberian beasiswa di Karawang dan Kaliwungu

c) Renovasi gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Cibuaya, Karawang, Madrasah Ibtidaiyah di Cimahi dan Tunggakjati, Karawang serta SDN di Karanganyar, Karawang.

 Program Kesehatan:

a) Pengobatan gratis untuk masyarakat Sumberejo dan Nolokerto, Kaliwungu, Kendal b) Pembangunan ruang rawat inap di Puskesmas Klari

c) Bantuan kacamata gratis untuk pelajar yang membutuhkan bagi pelajar SD dan SMP di Kaliwungu, Kendal bekerjasama dengan Yayasan Mata Indonesia.

d) Bantuan operasi bagi penderita katarak di Kendal  Kegiatan Keagamaan dan Budaya:

a) Pembangunan Pondok Pesantren dan Sarana Ibadah di Karawang dan Kaliwungu

b) Ikut mendukung kegiatan keagamaan dan kebudayaan di lingkungan perusahaan untuk meningkatkan kerukunan sosial

 Program Pelestarian Lingkungan:

a) Mendukung program “Go Green” menjalin kerjasama penghijauan dengan Himasela (Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumber daya Lahan) dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto

b) Penanaman Jati Kebon di Kaliwungu  Program Penanggulangan Bencana:

a) Pembangunan 2 (dua) lokal gedung sekolah yang tertimpa bencana di Mangkang Kulon, Semarang

b) Memberikan bantuan pada korban bencana alam di Magelang dan Padang. c) Renovasi rumah warga yang tidak layak di Sumberejo, Kaliwungu, Kendal  Pemberdayaan sosial dan ekonomi:

a) Bantuan modal kerja bagi UKM di sekitar wilayah pabrik

b) Promosi unit proses limbah fiber di wilayah sekitar pabrik ini untuk menyediakan lapangan kerja mandiri bagi masyarakat lokal

(24)

Tanggal Pendirian 15 February 1984

Pencatatan pada Bursa Efek Indonesia

1. Penawaran Umum pada bulan Februari 1991

Pencatatan terbatas (partial listing) untuk 24.000.000 saham pada tanggal 12 Maret 1991 di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.

2. Pencatatan di Bursa pada bulan Januari 1992

Perseroan mencatatkan seluruh saham sejumlah 68.000.000 saham pada tanggal 3 Januari 1992 di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Jumlah keseluruhan saham Perseroan yang tercatat adalah 92.000.000 saham.

3. Penawaran Umum Terbatas I pada bulan Oktober 1993

Antara tanggal 1 Nopember 1993 dan 3 Januari 1994, Perseroan melakukan Penawaran Umum Terbatas perdana dengan menawarkan 184.000.000 saham. Setelah Penawaran Umum ini, jumlah saham Perseroan yang tercatat adalah sebesar 276.000.000 saham.

4. Pemecahan Saham pada bulan Maret 1995

Dengan adanya pemecahan saham pada tanggal 27 Maret 1995, jumlah saham yang tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya adalah sebesar 552.000.000 saham.

5. Saham bonus dan saham dividen pada bulan April 1995

Pada tanggal 12 April 1995 dan 17 April 1995, sejumlah 552.000.000 saham bonus dan saham dividen telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Dengan demikian, jumlah saham yang tercatat pada kedua bursa tersebut adalah sebesar 1.104.000.000 saham.

6. Penawaran Umum Terbatas II pada bulan Juni 1996

Melalui Penawaran Umum Terbatas II pada tanggal 10 Juni 1996, Perseroan mencatatkan 1.104.000.000 saham di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, sehingga total saham yang tercatat adalah 2.208.000.000 saham.

7. Penawaran Umum Terbatas III pada bulan Desember 1997

Pada tanggal 24 Desember 1997, Perseroan menawarkan 2.185.920.000 saham di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Setelah Penawaran Umum Terbatas III ini, total saham yang tercatat adalah sejumlah 4.393.920.000 saham.

8. Konversi Hutang menjadi saham pada bulan September 2006

APF telah memperoleh persetujuan dari Departemen Kehakiman dan HAM untuk menerbitkan 43.144.238.750 saham kepada kreditur yang tidak berjaminan yang merupakan bagian dari konversi hutang yang telah mendapatkan persetujuan dari Pengadilan Niaga. Hingga tanggal 31 Desember 2006, APF telah mengeluarkan 36.093.831.290 saham kepada kreditur yang tidak berjaminan yang telah mengajukan permintaan penukaran saham kepada Perseroan. APF juga telah mendapatkan persetujuan dari Departemen Kehakiman dan HAM untuk menerbitkan 40.340.241.250 saham yang akan dikeluarkan kepada kreditur berjaminan sesuai dengan proposal restrukturisasi bagi kreditur berjaminan (”SDRP”). APF belum mengeluarkan saham-saham tersebut hingga tanggal 31 Desember 2007.

(25)

APF melakukan Anggaran Dasar Perusahaan sehubungan dilakukannya reverse split saham yang dilakukan dengan rasio 20:1 dan meurut akta notaris Sutjipto, SH No, 91 tanggal 21 Februari 2008 tentang perubahan anggaran dasar perusahaan, modal saham perseroan sebesar Rp 16.000.000.000.000 terbagi atas 12.357.255.040 lembar saham.

10. Perseroan telah memperoleh persetujuan dari pemegang saham Perseroan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada tanggal 24 Maret 2009, penerbitan 5% (118.845.397 saham) dari modal ditempatkan dan Disetor saham seri 'C' tanpa hak memesan efek terlebih dahulu, untuk memberikan opsi saham kepada manajemen dan karyawan Perusahaan (Program Opsi Saham Manajeman dan Karyawan).

11. Perseroan memperoleh persetujuan atas perubahan nama menjadi PT Asia Pasifik Fibers Tbk dari Menteri Kehakiman tanggal 10 November 2009 dan Indonesia Badan Koordinasi Penanaman Modal / BKPM pada tanggal 2 Desember 2009.

12. Berdasarkan akta Notaris Aryanti Artisari, SH, M.Kn. Tidak ada 107 tanggal 23 Februari 2012, pemegang saham menyetujui untuk program Manajemen Stock Option Program (MESOP). Dan ini berhubungan dengan akta notaris Sutjipto, SH No 91 tanggal 24 Maret 2009 tentang penerbitan 118.845.397 saham baru seri C yang berwenang (5% dari modal ditempatkan dan disetor) tanpa hak memesan efek terlebih dahulu dengan nilai nominal Rp 40 setiap . Harga Pelaksanaan pada 5 Maret 2012 adalah sebesar Rp 45 masing-masing, dan memiliki saham telah disetor penuh pada tanggal 20 Februari 2012 dan 21 Februari 2012. Saham juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia melalui pengumuman No. 00032/BEI.PPR/03-2012 tanggal 5 Maret 2012 dan No. Peng-P-00033/BEI.PPR/03-2012 tanggal 7 Maret 2012.

Jumlah saham yang tercatat per 31 Desember 2013 2,495,753,347

Susunan Modal per 31 December 2013 Serie A

Modal Dasar Rp 8,500,000,000,000

Nilai Nominal per Saham Rp 10,000

Modal Disetor Rp 2,196,960,000,000

Serie C

Modal Dasar Rp 166,968,960,000

Nilai Nominal per Saham Rp 40

Modal Disetor Rp 91,042,293,920

Pemegang Saham

Damiano Investment 51.65%

KYOA Investment Limited 6.04%

PT. Multikarsa Investama* 5.26%

Masyarakat 37.05%

* Pemindahan saham-saham dari PT. Multikarsa Investama kepada PT. Bina Prima Perdana dalam rangka restrukturisasi dengan pihak BBPN. Pencatatan pada PT. Bursa Efek Indonesia masih belum diselesaikan.

(26)

Dewan Komisaris

Komisaris Utama Robert Clive Appleby

Komisaris Kamun Cheong

Komisaris Christopher Robert Botsford

Komisaris Robert McCharthy

Komisaris Independen Timbul T. Lubis, SH, LLM Komisaris Independen Dono Iskandar Djojosubroto Dewan Direksi

Direktur Utama Vasudevan Ravi Shankar

Direktur Bonar Firman Hasiholan Sirait

Direktur Seeniappa Jegatheesan

Direktur Peter Vinzenz Merkle

Kegiatan Perseroan

Bergerak pada industri PTA, Polymer, Polyester Fiber, Benang Filament dan kain sintetis dan pakaian jadi.

Kapasitas Produksi per 31 Desember 2013

Purified Terepthalic Acid (PTA) 340.000 ton/tahun

Polyester Chips 330.400 ton/tahun

Polyester Staple Fibre 198.000 ton/tahun

Polyester Filament Yarn 140.000 ton/tahun

Kantor Perwakilan

The East Building Lantai 35 Unit 5-6-7

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung Kav. E3.2 No. 1 Jakarta 12950 Tel : (62-21) 579-38555 Fax : (62-21) 579-38565 Kantor Terdaftar Jl. Raya Kaliwungu Km. 19 Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah - Indonesia Tel : (62-24) 866-0272 Fax : (62-24) 866-0275

Fasilitas Pabrik

Pabrik 1: Pabrik 2:

Desa Kiara Payung, Jl. Raya Kaliwungu Km. 19

Kecamatan Klari, Karawang Kaliwungu, Kendal,

Jawa Barat-Indonesia Jawa Tengah-Indonesia

Tel : (62-267) 431-971 Tel : (62-24) 866-0272

(27)

PT. Datindo Entrycom Wisma Dinners Club Anex Jl. Jend. Sudirman 34-35 Jakarta 10220

Kantor Akuntan Publik Terdaftar Hendrawinata, Eddy & Siddhartha

(Indonesian Member Firm of Kreston International) Intiland Tower Lt.18

Jl. Jend. Sudirman Kav.32 Jakarta 10220, Indonesia Tel : (62-21) 571-2000 Fax : (62-21) 570-6118

(28)

SURAT PERNYATAAN

ANGGOTA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI TENTANG

TANGGUNG JAWAB ATAS LAPORAN TAHUNAN 2013 PT ASIA PACIFIC FIBERS Tbk.

Kami, yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa semua informasi dalam laporan tahunan PT Asia Pacific Fibers Tbk. tahun 2013 telah dimuat secara lengkap dan bertanggung jawab penuh atas kebenaran isi laporan tahunan perusahaan.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.

Jakarta, 28 April 2014

Robert Clive Appleby

Komisaris Utama

Vasudevan Ravi Shankar

Direktur Utama

Kamun Cheong

Komisaris

Bonar Firman Hasiholan Sirait

Direktur

Christopher Robert Botsford

Komisaris

Seeniappa Jegatheesan

Direktur

Robert McCarthy

Komisaris

Peter Vinzenz Merkle

(29)

Timbul Thomas Lubis, SH LLM

Komisaris Independen

Dono Iskandar Djojosubroto

(30)

Laporan Auditor Independen

PT Asia Pacific Fibers Tbk

Dan Entitas Anak

(31)

Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor Independen

Halaman Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian 1

Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian 4

Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian 5

Laporan Arus Kas Konsolidasian 6

Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian 7

Lampiran

(32)

ASIA

PACIFIC FIBERS

The EASI 35'n Floor Unit 5-6-7

f l. DR. lde Anak Agung Cde Agung

Kav. E3.2 No. 1

lakarta 12950 - INDONESIA : +62 21 57938555 : +62 21 57938565 : [email protected] Phone Fax. E-mail

SURAT PERI\YATAAN DIREKSI TENTANG

TANGGUNG JAWAB ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN PADA TANGGAL 31 DESEMBER 2OI3 DAN 2OI2

SERTA TAHUN YAI\GBERAKIIIR3l DESEMBER 2OI3 DAN 2OI2

PT ASIA PACIF'IC FIBERS TbK DAN ENTITAS ANAK

Kami yang bertandatangan dibawah ini :

: VASUDEVAN RAVI SHANKAR : The East 35tl' floor Unit 5-6-7

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung Kav E3-2 No. 1

Jakarta 12950

Alamat Rumah/Sesuai KTP : Jl Jambu No. 30 RT.0051002 Godangdia

-

Menteng

Jakarta- Pusat : 021-57938555

: Presiden Direktur

: BONAR FIRMAI\ IIASIHOLAN SIRAIT

: The East 35th floor Unit 5-6-7

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung Kav E3-2 No. 1

Jakarta 1,2950

Alamat Rumah/Sesuai KTP : Jl. Pengadegan Selatan No. 3 RT 002lRW 005

Nomor Telpon Jabatan Menyatakanbahwa : Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan : 021-57938555 : Direktur

1.

Bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian PT Asia Pacific Fibers Tbk dan Entitas Anak.

2.

Laporan keuangan konsolidasian PT Asia Pacific Fibers Tbk dan Entitas Anak telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

3.

a.

Semua informasi dalam laporan keuangan konsolidasian PT Asia Pacific Fibers Tbk dan Entitas Anak telah

di muat secara lengkap dan benar.

b.

Laporan keuangan konsolidasian PT Asia Pacific Fibers Tbk dan Entitas Anak tidak mengandung informasi

atau fakta material yang tidak benar, dan tidak menghilangkan informasi alau fakla material.

4.

Bertanggung jawab atas system pengendalian intemal dalam PT Asia Pacific Fibers Tbk dan Entitas Anak. Demikian pemyataan ini dibuat dengan sebenamya

Jakarta, 17 Maret 2014

Direktur

nL

t'ari*

VASUDEVAN RAVI SHANKAR BONAR FIRNIAN HASIHOLAN SIRAIT

1.

Nama Alamat kantor Nomor Telpon Jabatan

2.

Nama Alamat kantor

Direktur Utama V\ETERAI

(33)

E-

A global network of independent accounting firms

No : 053l02lISS/IIVl4

l*icense: L2L2/ V\M,t/ 2A II

lntiland Tower l-#n floar

TDDY

€;

SI

DDHARTA

Registered Pu blic Accou nta nts

License: L22A/ WM.U 7ALL Kreston Building

LAPORAN

AUDITOR INDEPENDEN

Pemegang Saham, Komisaris dan Direksi

PT ASIA

PACIFIC

FIBERS TbK

Kami telah mengaudit laporan keuangan konsolidasian PT Asia Pasific Fibers Tbk ("Perusahaan") dan entitas

anaknya terlampir, yang terdiri dari laporan posisi keuangan konsolidasian tanggal 31 Desember 2013, serta laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas konsolidasian untuk tahun yang

berakhir pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi penjelasan lainnya.

Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan konsolidasian

Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan konsolidasian tersebut

sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang dianggap perlu oleh

manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan konsolidasian yang bebas dari kesalahan

penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan.

Tanggung jawab Auditor

Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan konsolidasian tersebut berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh Institut

Akuntan

Publik

Indonesia. Standar tersebut mengharuskan

kami

untuk mematuhi ketentuan

etika

serta

merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan

konsolidasian bebas dari kesalahan penyajian material.

Suatu

audit

melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh

bukti

audit

tentang angka-angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada pertimbangan auditor, termasuk

penilaian atas resiko kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan,

baik

yang disebabkan oleh

kecurangan maupun kesalahan. Dalam melakukan penilaian risiko, auditor mempertimbangkan pengendalian

internal yang relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang

prosedur audit yang tepat dan sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu auditjuga mencakup pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian

atas penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.

Opini

Menurut opini audit kami, laporan keuangan konsolidasian terlampir menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian

PT

Asia Pasific Fiber

Tbk

dan entitas anaknya tanggal 31 Desember 2013, serta kinerja keuangan dan arus kas konsolidasiannya untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

License: l-095//KM .U 2A ft

(34)

E

Kreston

lnternational

A global network of independent accounting firms

f

DDY

€T SI

DDHARTA

Halaman 2

Penekanan suatu hal

Laporan keuangan konsolidasian terlampir disusun dengan asumsi bahwa Perusahaan dan Entitas Anak akan melanjutkan usahanya secara berkesinambungan. Seperti yang diungkapkan pada Catatan 2 atas laporan keuangan

konsolidasian, pada tanggal 31 Desember 2013, Perusahaan dan Entitas Anak memiliki saldo ekuitas negatif sebesar

US$

827.900.780, serta jumlah kewajiban lancar Perusahaan dan Entitas

Anak

telah melebihi

jumlah asetnya sebesar

US$

778.279.088. Kewajiban lancar Perusahaan dan Entitas Anak pada tanggal

31 Desember 2013 sebesar US$ 965.681.557 atau sebesar 857o darijumlah kewajiban lancar merupakan utang

terjamin. Saat ini, operasional Perusahaan di Karawang masih menggunakan fasilitas energi yang disediakan oleh

PT

Wismakarya Prasetya. Pada tanggal

22

Oktober 2013, Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa PT Wismakarya Prasetya dalam kondisi pailit. Namun, Pengadilan telah memutuskan untuk tetap menjaga kelangsungan usaha dari PTWismakarya Prasetya akibat dari adanya faktor dalam penyediaan kebutuhan

"nergi bagi fasilitas Perusahaan di Karawang. Sebagai tambahan, berdasarkan perjanjian tanggal 16 Nopember 2006,

Perusahaan mempunyai saldo uang muka pembelian pada tanggal31 Desember2013 sebesar US$ 30.499.2I4 dari

PT Wismakarya Prasetya. Pada tahun 2014, Perusahaan telah melaporkan hal

ini

kepada pihak kurator dari

PT Wismakarya Prasetya. Disamping itu,sampai dengan tanggal laporan, salah satu kreditur terjamin perusahaan (26Vo) yaitu PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) belum menyetujui Rencana Restrukturisasi yang diusulkan oleh Perusahaan. Namun, Damiano Investments BV., Belanda pemegang saham mayoritas (kepemilikan 5I,65Vo) dan

pemegang mayoritas hutang terjamin (69Vo) masih terus menyediakan fasilitas pinjaman modal kerja sebesar US$ 17.340.000 dan fasilitas Letter of Credit sebesar US$ 87.910.672 kepada Peruiahaan untuk pembelian bahan baku' Damiano Investments BV., Belanda masih menyediakan dana yang diperlukan Perusahaan untuk program belanja modal untuk tahun yang akan datang melalui Third Loan Agreement. Manajemen Perusahaan masih berusaha dan mengharapkan penyelesaian restrukturisasi atas utang terjaminnya dapat segera diperoleh hasilnya,

sehingga Perusahaan dapat memperoleh pinjaman modal kerja dari bank. Laporan keuangan konsolidasian terlampir tidak mencakup penyesuaian yang berasal dari kondisi tersebut.

Hal lain

Audit kami atas laporan keuangan konsolidasian Perusahaan dan Entitas Anak pada tanggal 31 Desember2013 dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut terlampir dilaksanakan dengan tujuan merumuskan suatu

opini

atas laporan keuangan konsolidasian tersebut secara keseluruhan. Informasi keuangan tambahan

PT Asia Pacific Fibers Tbk (entitas induk saja) terlampir, yang terdiri dari laporan posisi keuangan pada tanggal 31 Desember 2013, serta laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut (secara kolektif disebut sebagai "Informasi Keuangan Entitas Induk"), yang disajikan sebagai informasi tambahan terhadap laporan keuangan konsolidasian terlampir, disajikan untuk tujuan analisis tambahan dan bukan merupakan bagian dari laporan keuangan konsolidasian terlampir yang

diharuskan menurut Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Informasi keuangan Entitas Induk merupakan

tanggung jawab manajemen serta dihasilkan dari dan berkaitan secara langsung dengan catatan akuntansi dan

catatan lainnya yang mendasarinya yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan konsolidasian terlampir. Informasi Keuangan Entitas Induk telah menjadi objek prosedur audit yang diterapkan dalam audit atas lapoian keuangan konsolidasian terlampir berdasarkan Standar

Audit

yang ditetapkan oleh Institut Akuntan publik Indonesia. Menurut opini kami, Informasi Keuangan Entitas Induk disajikan secara wajar, dalam semua hal yang

material, berkaitan dengan laporan keuangan konsolidasian terlampir secara keseluruhan.

H NDRAWINATA EDDY

&

SIDDHARTA

Iskariman Supardjo, CPA No. Ijin Akuntan Publik. AP. 0336

(35)

DAN ENTITAS ANAK

LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN 31 Desember 2013 dan 2012

Catatan 2 0 1 3 2 0 1 2

US$ US$

ASET

ASET LANCAR

Kas dan setara kas 3f,g,5 5.101.421 9.793.989

Piutang usaha, setelah dikurangi penyisihan penurunan nilai sebesar US$ 15.657.945 pada tahun 2013 dan 2012

Pihak ketiga 3f,h,i,6 51.867.585 57.988.028

Pihak berelasi 3f,h,i,6 22.046.308 27.789.291

Piutang lain-lain, setelah dikurangi penyisihan penurunan nilai sebesar US$ 36.721.575 pada tahun 2013 dan 2012

Pihak ketiga 3f,h,i,7 3.355.148 3.300.907

Aset keuangan lancar lainnya 3f,h,i,8 9.158.563 7.720.808

Persediaan 3j,9 86.227.237 79.954.633

Uang muka pembelian

Pihak ketiga 10 37.362.097 34.605.192

Pihak berelasi 10 54.799 –

Pajak dibayar dimuka 3u,26a 18.903.911 14.786.048

Biaya dibayar dimuka 3k,11 1.691.803 1.101.627

Jumlah Aset Lancar 235.768.872 237.040.523

ASET TIDAK LANCAR

Piutang non-usaha kepada pihak berelasi, setelah dikurangi penyisihan penurunan nilai sebesar US$ 111.992.653 pada

tahun 2013 dan 2012 3f,h,i,12 24.836.407 32.474.040

Aset keuangan tidak lancar lainnya 3f,h,i,13 1.029.093 1.113.711

Aset tetap, setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar US$ 1.714.202.396 pada tahun 2013

dan US$ 1.658.522.816 pada tahun 2012 3l,m,o,14 82.224.751 129.394.646

Aset tidak berwujud 3n,o,15 12.087 12.750

Aset pajak tangguhan 3u,26d 9.620.194 3.216.621

Jumlah Aset Tidak Lancar 117.722.532 166.211.768

(36)

DAN ENTITAS ANAK

LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN (Lanjutan) 31 Desember 2013 dan 2012

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan konsolidasian secara keseluruhan

Catatan 2 0 1 3 2 0 1 2

US$ US$

LIABILITAS DAN EKUITAS (DEFISIENSI) LIABILITAS LANCAR

Utang usaha

Pihak ketiga 3q,16 33.115.314 22.942.334

Pihak berelasi 3q,16 – 7.150

Biaya yang masih harus dibayar 3q,17 36.967.461 43.319.170

Utang pajak 3u,26b 1.741.319 1.751.095

Utang bank 3q,18 87.910.672 78.752.462

Utang terjamin 3q,19 965.681.557 1.000.263.703

Bagian lancar dari liabilitas jangka panjang :

Utang kredit pembiayaan 3p,q,22 30.572 64.651

Liabilitas keuangan lancar lainnya 3q,23 6.323.597 4.150.965

Jumlah Liabilitas Lancar 1.131.770.492 1.151.251.530

LIABILITAS TIDAK LANCAR Pinjaman dari institusi keuangan lain :

Utang tidak terjamin dan wesel bayar 3q,20 22.624.894 22.169.338

Pinjaman modal kerja 3q,21 17.340.000 17.340.000

Utang kredit pembiayaan 3p,q,22 27.132 55.535

Pendapatan ditangguhkan 3s,24 237.652 –

Imbalan Pasca Kerja Jangka Panjang 3t,25 9.392.014 10.274.737

(37)

DAN ENTITAS ANAK

LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN (Lanjutan) 31 Desember 2013 dan 2012

Catatan 2 0 1 3 2 0 1 2

US$ US$

LIABILITAS DAN EKUITAS (DEFISIENSI) EKUITAS (DEFISIENSI)

Modal Saham

Modal dasar 12.357.255.040 saham dengan nilai nominal Rp 10.000 per lembar saham untuk Seri A, Rp 1.000 per saham untuk Seri B, dan Rp 40 per saham untuk Seri C pada

tahun 2013 dan 2012

Modal ditempatkan dan disetor penuh, 219.696.000 saham Seri A, 2.276.057.347

saham Seri C pada tahun 2013 dan 2012 27 635.689.316 635.689.316

Tambahan modal disetor 3v,28 624.344.507 624.344.507

Komponen ekuitas lainnya 1c (21.339) (21.339)

Saldo laba (akumulasi deficit)

Ditentukan penggunaannya 29 2.345.301 2.345.301

Tidak ditentukan penggunaannya (2.090.258.565) (2.060.196.634)

Jumlah Ekuitas (Defisiensi) (827.900.780) (797.838.849)

JUMLAH LIABILITAS DAN

Gambar

Tabel  berikut  ini  menggambarkan  ikhtisar  data  keuangan  penting  Perseroan  untuk  tahun-tahun  yang  berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 sampai 2013
Tabel Pengembalian (Revisi untuk PIK)
Tabel berikut ini menunjukkan bahwa nilai tercatat dari segmen aset tidak lancar dan penambahan aset tetap berdasarkan area geografis dimana aset tersebut ditempatkan adalah sebagai berikut :

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Berdasarkan persentase jawaban guru tersebut, dapat disimpulkan bahwa aspek grafika dan kesesuaian isi prosedur praktikum berbasis green chemistry secara keseluruhan sudah

Yves Balestra, Chef Kamil, dan seluruh staff Zango Restaurant, terima kasih atas segala bentuk dukungan, pembelajaran, dan pengalaman yang diberikan sehingga penulis mampu

157 rata kelas dari 51,75 menjadi 74,25, maka hasil proses pembelajaran pada siklus kedua masih perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya karena belum mencapai

Penerapan ilmu dan teknologi pada dasarnya adalah menerapkan kemampuan rekayasa kealaman untuk membawa suatu keadaan (berupa materi, energi, gerak dan kemanusiaan secara terpadu) ke

Berpikir historis yang disebutkan dalam Kurikulum 2013 edisi revisi 2017 untuk matapelajaran Sejarah Indonesia mencakup ke- mampuan siswa menggunakan berpikir kronologis,

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga diberikan kekuatan untuk dapat menyelesaikan skripsi ini

Pejabat Pengadaan Barang/Jasa Bidang Bina