KEPATUHAN TERHADAP KEWAJIBAN LAPORAN TAHUNAN KEUANGAN YAYASAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2001 Jo UNDANG-UNDANG
NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG YAYASAN
(DITELITI PADA YAYASAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN DI WILAYAH KOTA BOGOR)
Oleh : Johanes Aldyno Siwy
Abstrak
Yayasan merupakan suatu subyek hukum yang keberadaannya dalam lalu lintas hukum di Indonesia sudah diakui oleh masyarakat berdasarkan kenyataan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, maka pendirian yayasan di Indonesia hanya berdasaran kepada kebiasaan masyarakat atau yurisprudensi Mahkamah Agung. Hal ini dikarenakan memang belum adanya peraturan hukum tertulis yang mengatur yayasan. Bahkan KUHPerdata dan KUHDagang buatan Belanda juga tidak mengatur hal tentang yayasan ini. Fakta menunjukkan bahwa dulunya kecenderungan masyarakat mendirikan yayasan dengan maksud untuk berlindung di balik status hukum yayasan, yang tidak hanya digunakan sebagai wadah untuk mengembangkan kegiatan sosial, keagamaan dan kemanusiaan, tetapi ada juga kalanya bertujuan untuk memperkaya diri para pendiri, pengurus dan pengawas yayasan. Kecenderungan ini menimbulkan berbagai masalah, baik masalah yang berkaitan dengan kegiatan yayasan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuam yang tercantum dalam anggaran dasar, sengketa antara pengurus dan pendiri atau pihak lain, maupun adanya dugaan bahwa yayasan digunakan untuk menampung kekayaan yang berasal dari para pendiri atau pihak lain yang diperoleh dari cara melawan hukum. Masalah tersebut masalah tersebut belum dapat diselesaikan secara hukum karena belum ada hukum positif mengenai yayasan sebagai landasan yuridis penyelesaiannya. Mengapa sampai terjadi penyimpangan tujuan idiil yayasan dengan apa yang terjadi di masyarakat Indonesia? Hal ini bisa bahwa sebelum tahun 2001, Indonesia belum mempunyai aturan khusus yang mengatur terkait yayasan. Masih sering terjadi bahwa yayasan dikelola dengan manajemen yang tertutup.
A. Latar Belakang Masalah
Sebagai sebuah institusi, yayasan sebenarnya sudah lama ada. Ruang aktivitas yayasan pun cukup luas dan beragam, seperti bidang pendidikan, kesehatan, dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Walaupun demikian, hingga tahun
2001 keberadaan yayasan-yayasan
tersebut hanya berdasar pada kebiasaan dan doktrin serta yurisprudensi. Tidak adanya payung hukum khusus tentang yayasan ini menimbulkan multitafsir tentang berbagai hal seperti menyangkut status badan hukum, hakikat, dan tujuan suatu
yayasan serta aspek-aspek lain dalam pengelolaan yayasan.1
Lahirnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Yayasan adalah terobosan baru bagi yayasan yang beroperasi di Indonesia. Undang-undang ini setidak-tidaknya telah menjadi payung hukum bagi masyarakat yang berkecimpung dan berurusan dengan yayasan seperti pendiri, pembina, pengawas, serta anggota masyarakat pada umumnya. Ada berbagai materi pokok yang diatur dalam Undang-Undang ini antara lain :
1. Hakikat dan tujuan yayasan; 2. Syarat-syarat pendirian yayasan; 3. Anggaran dan perubahan anggaran
dasar yayasan;
4. Hal-hal yang terkait dengan kekayaan yayasan;
5. Organ-organ yayasan seperti pembina, pengawas dan pengurus; 6. Pengaturan laporan tahunan
yayasan;
1Rita M,-L&J Law firm, Risiko Hukum Bagi
Pembina, Pengawas & Pengurus Yayasan, (Jakarta :
Forum Sahabat, 2009), hal. 1,
7. Hal-hal yang terkait dengan pemeriksaan terhadap yayasan; 8. Pembubaran yayasan;
9. Pengaturan mengenai yayasan asing; dan
10. Sanksi-sanksi dan sebagainya. Pada tahun 2004, Undang-Undang Yayasan ini telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004.2
Kini segala hal ikhawal mengenai yayasan diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan. Kehadiran undang-undang ini merupakan dasar hukum yang kuat bagi yayasan untuk mencapai cita-citanya serta untuk menjadi kontrol bagi yayasan dalam menjalankan roda usahanya sehingga tidak menyimpang dari maksud dan tujuan pendiriannya.3
TINJAUAN UMUM TENTANG YAYASAN
Yayasan yang kita kenal sekarang ini
sebenarnya merupakan peninggalan
pemerintah Belanda yang banyak
digunakan pada saat itu, dan masih tetap
2Ibid. hal. 2.
dipakai setelah zaman kemerdekaan atau setelah Indonesia merdeka. Di Negeri Belanda badan ini disebut dengan
“sticthing” dan di Indonesia dulu dan
sekarang disebut yayasan. Yayasan merupakan satu wadah yang melakukan berbagai kegiatan yang bersifat sosial dan mempunyai tujuan idiil.4
Yayasan merupakan suatu subyek hukum yang keberadaannya dalam lalu lintas hukum di Indonesia sudah diakui berdasarkan kenyataan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, pendirian yayasan di Indonesia hanya berdasarkan atas kebiasaan dalam masyarakat dan yurisprudensi Mahkamah Agung. Hal ini dikarenakan memang belum adanya pengaturan hukum tertulis yang mengatur yayasan bahkan KUHPerdata maupun KUHDagang buatan Belanda juga tidak mengatur tentang yayasan ini. Fakta
menunjukkan bahwa dulunya
4I.G.Rai Widjaya, Hukum Perusahaan, (Bekasi: Kesaint Blanc, 2005), hal. 60
kecenderungan masyarakat mendirikan yayasan dengan maksud untuk berlindung dibalik status badan hukum yayasan, yang tidak hanya digunakan sebagai wadah
mengembangkan kegiatan sosial,
keagamaan, kemanusiaan, tetapi juga ada kalanya bertujuan untuk memperkaya diri para pendiri, pengurus dan pengawas. Kecenderungan ini menimbulkan berbagai masalah, baik masalah yang berkaitan dengan kegiatan yayasan tidak sesuai dengan maksud dan tujuan yang tercantum dalam anggaran dasar. Sengketa antara pengurus dan pendiri atau pihak lain, maupun adanya dugaan bahwa yayasan digunakan untuk menampung kekayaan yang berasal dari para pendiri atau pihak lain yang diperoleh dengan cara melawan hukum. Masalah tersebut belum dapat diselesaikan secara hukum karena belum adanya hukum positif mengenai yayasan sebagai landasan yuridis penyelesaiannya.5
Mengapa sampai terjadi penyimpangan idiil yayasan ? hal ini dapat dilihat bahwa
5Adib Bahari, Prosedur Pendirian Yayasan, (Yogyakarta : Pustaka Yustisia, 2010), hal. 8.
sebelum tahun 2001 Indonesia tidak mempunyai aturan khusus yang mengatur terkait yayasan, masih sering terjadi bahwa yayasan dikelola dengan manajemen yang tertutup. Tidak ada kewajiban bagi yayasan untuk membuat laporan keuangan secara terbuka untuk dapat diakses oleh masyarakat. Bahkan, sejak awal berdirinya yayasan tersebut, pemerintah tidak dapat mengidentifikasi keberadaan yayasan untuk mendaftarkan pada instansi pemerintah atau melakukan pengumuman di Berita Negara Republik Indonesia, padahal hal ini penting agar diketahui siapa dan bagaimana struktur kepengurusan organ yayasan itu.
Bahkan, kondisi juga sangat lumrah terjadi adalah tidak diatur pula bagaimana yayasan mendapatkan dananya, tidak diatur pula apakah organ yayasan atau pengurus, tidak diatur pula apakah organ yayasan atau pengurus yayasan dapat menerima uang yayasan untuk dibagikan bersama bagi mereka, inilah beberapa kelemahan
sebelum adanya peraturan khusus yang mengatur terkait yayasan.6
Kita mulai agak lega setelah ditertibkannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, yang diundangkan pada tanggal 6 Agustus 2001. Dan mulai berlaku sejak 6 Agustus 2002, adanya jeda satu tahun untuk Undang-Undang ini dimaksudkan agar masyarakat mengetahui dan mempersiapkan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan yayasan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam undang-undang baru ini. Hasil utama dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, adalah menyatakan dengan jelas bahwa yayasan merupakan badan hukum, artinya diakui sebagai subyek hukum yang bertindak dan dilekati dengan hak dan kewajiban hukum tertentu karena pendiriannya telah melalui pengesahan oleh negara.
Namun, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, dalam perkembangannya ternyata belum mampu
menampung seluruh kebutuhan dan
6Ibid, hal. 19.
perkembangan hukum masyarakat. Di samping, terhadap beberapa substansi
Undang-Undang Yayasan dalam
masyarakat ternyata masih terdapat berbagai penafsiran sehingga dapat menimbulkan ketidakpastian dan ketertiban hukum.
Setelah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan ini berjalan dua tahun, dilakukan pula perubahan undang-undang ini melalui Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 yang diundangkan pada tanggal 6 Oktober 2004. Undang-undang ini juga mulai berlaku satu tahun kemudian, yakni pada tanggal 6 Oktober 2005. Undang-Undang Yayasan 2004 ini hanya perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, dimaksudkan untuk lebih menjamin kepastian dan ketertiban hukum, serta memberikan pemahaman yang benar pada masyarakat mengenai yayasan sehingga dapat mengembalikan fungsi yayasan sebagai pranata hukum dalam rangka mencapai tujuan tertentu di bidang, sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Selain itu,
mengingat peranan yayasan dalam
masyarakat yang dapat menciptakan
kesejahteraan masyarakat, maka
penyempurnaan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan ini dimaksudkan pula agar yayasan tetap dapat berfungsi dalam usaha mencapai maksud dan tujuannya di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan berdasarkan prinsip keterbukaan dan akuntabilitas.
Sedangkan pengertian yayasan sendiri, menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan yang dimaksud yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukan mencapai tujuan tertentu
dibidang sosial, keagamaan, dan
kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.
Hal Penting Dalam Pembuatan Laporan Tahunan Keuangan Yayasan
sebagai badan hukum, pembukuan bagi yayasan wajib dikerjakan. Hal-hal yang dicatat dalam pembukuan adalah hal dan kewajiban serta keadaan finansial yaysan.
Ini dimaksudkan agar laporan tahunan yayasan dapat dengan mudah dilakukan sekaligus untuk mempermudah audit terhadap yayasan.
Sebagai badan hukum laporan tahunan
yayasan sangat penting untuk
mengevaluasi kinerja usaha yayasan selama setahun sekaligus membuat rencana kerja untuk tahun berikutnya. Dalam Pasal 49 Undang-Undang Yayasan diterangkan dengan jelas kewajiban bagi yayasan untuk membuat laporan tahunan. Laporan tahunan itu sekurang-kurangnya memuat hal berikut :7
1. Laporan keadaan yayasan selama tahun buku yang lalu;
2. Laporan kegiatan yayasan selama tahun buku yang lalu;
3. Laporan mengenai hasil yang telah dicapai;
4. laporan keuangan;
7Rita M,-L&J Law firm, Risiko Hukum Bagi
Pembina, Pengawas & Pengurus Yayasan, (Jakarta :
Forum Sahabat, 2009), hal. 29,
5. Hak dan kewajiban yayasan dalam transaksi dengan pihak lain.
Laporan keuangan menurut Pasal 49
ayat (1b) Undang-Undang Yayasan
mencakup laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan laporan keuangan.
Yang harus diperhatikan dalam pembuatan laporan tahunan antara lain :8
1. Harus ada tandatangan pengurus dan pengawas pada laporan, setiap anggota pengurus/pengawas yang
tidak membubuhkan
tandatangannya pada laporan tahunan harus memberikan alasan; 2. Laporan tahunan ini diratifikasi
(disahkan) dalam rapat Pembina; 3. pembuatan laporan tahunan harus
sesuai standar akuntansi keuangan yang berlaku;
4. jika terjadi pemalsuan dokumen dalam laporan tahunan, pengawas
8 Ibid, hal 30.
/pengurus harus bertanggung jawab secara renteng.
Laporan tahunan harus diketahu oleh publik meski dalam bentuk ikhtisar atau ringkasan. Ikhtisar laporan tersebut diumumkan dalam papan pengumuman kantor yayasan, ikhtisar laporan tahunan juga harus diumumkan melaui Koran harian berbahasa Indonesia jika terjadi hal berikut ini :9
1. Yayasan mendapat suntikan dana sebesar lima ratus juta rupiah atau lebih dari domain berikut : kas negara, bantuan luar negeri, atau orang perorang;
2. Kekayaan yayasan di luar wakaf sebesar dua puluh miliar rupiah atau lebih.
Karena yayasan merupakan badan hukum, keuangan yayasan harus diaudit. Yang mengaudit adalah akuntan publik, ini harus dilakukan terutama untuk yayasan yang mendapat bantuan sebesar lima ratus
9Ibid, hal. 30.
juta rupiah, dan bila kekayaan yayasan mencapai dua puluh miliar rupiah di luar wakaf. Akuntan harus memberikan laporan hasil audit kepada Pembina yayasan dan salinannya kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia atau instansi terkait, konsekuensinya, akuntan yang ditunjuk harus akuntan publik professional.
Fungsi Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2001 Jo Nomor 28 Tahun 2004
Tentang
Yayasan,
Terhadap
Pembuatan
Laporan
Keuangan
Yayasan Pendidikan Di Wilayah Kota
Bogor
Pengelolaan
yayasan
secara
profesional
dan
efisien
dengan
penerapan prinsip trasnparasi dalam
setiap kegiatan operasionalnya sudah
merupakan kebutuhan pokok pada
masa sekarang ini.
Sebagai suatu lembaga yang
diakui secara resmi sebagai suatu
menyelenggarakan sendiri kegiatannya,
dengan harta kekayaan yang terpisah
dan berdiri sendiri, yayasan mempunyai
kewajiban
untuk
menyelenggarakan
sendiri dokumen-dokumen kegiatannya.
Di mana penyelenggaraan
dokumen-dokumen tersebut dilaksanakan oleh
pengurus yayasan, sehingga pengurus
yayasan adalah peran kunci bagi
jalannya
yayasan.
Yayasan
tidak
mungkin
dapat
menjalankan
kegiatannya tanpa adanya pengurus,
demikian juga keberadaan pengurus
bergantung sepenuhnya pada eksistensi
yayasan.
Ini
berarti
pengurus
merupakan organ kepercayaan yayasan
sebagai fiduciary duty bagi kepentingan
yayasan untuk mencapai maksud dan
tujuan yayasan.
10Latar
belakang
keluarnya
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001
tentang Yayasan dikemukakan dalam
10Yahya Zein, Status Hukum Yayasan,
http://www.kompas.com. Diakses 21 Febuari 2011.
bagian awal penjelasan umum
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang
Yayasan yang antara lain menyebutkan
bahwa pendirian yayasan di Indonesia
hanya berdasarkan atas kebiasaan
dalam masyarakat dan yurisprudensi
Mahkamah Agung, karena belum ada
undang-undang
yang
mengaturnya.
Fakta
menunjukkan
kecenderungan
masyarakat untuk mendirikan yayasan
dengan
maksud
berlindung
dibalik
status bbdan hukum yayasan yang tidak
hanya
digunakan
sebagai
wadah
mengembangkan
kegiatan
sosial,
keagamaan,
dan
kemanusiaan,
melainkan juga adakalanya bertujuan
untuk memperkaya diri para pendiri,
pengurus, dan pengawas.
11Sejalan dengan kecenderungan
tersebut timbul pula berbagai masalah,
baik masalah yang berkaitan dengan
11Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004. LN No Tahun 2004, TLN No .
kegiatan yayasan yang tidak sesuai
dengan maksud dan tujuan yang
tercantum
dalam
anggaran
dasar,
sengketa antara pengurus dengan
pendiri atau pihak lain, maupun adanya
dugaan bahwa yayasan digunakan
untuk menampung kekayaan yang
berasal dari para pendiri atau pihak lain
yang diperoleh dengan cara melawan
hukum. Masalah tersebut belum dapat
diselesaikan secara hukum karena
belum ada hukum positif mengenai
yayasan
sebagai
landasan
yuridis
penyelesaiannya.
12Penyimpangan-penyimpangan
yang terjadi di tubuh yayasan, secara
terbuka dan nyata terbukti dengan
meningkatnya pendirian yayasan yang
melibatkan pendidikan. Hal ini karena
banyaknya jumlah masyarakat yang
membutuhkan
pendidikan,
sehingga
12Yoseph Suardi Sabda, “Yayasan dan Perbuatan
Melanggar Hukum”, Makalah Direktur Perdata
Kejaksaan Agung, (Jakarta:2002)
kesempatan untuk mendirikan yayasan
untuk tujuan mencari keuntungan dan
bukan lagi mempunyai sifat dan tujuan
sosial
dalam
rangka
membantu
masyarakat lemah terbuka lebar. Hal ini
bertentangan dengan yang dimaksud
dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan
yang diubah dengan Undang-Undang
Nomor
28
Tahun
2004,
yang
menentukan bahwa yayasan adalah
badan
hukum
yang
terdiri
atas
kekayaan
yang
dipisahkan
dan
diperuntukan untuk mencapai tujuan
tertentu di bidang sosial, keagamaan
dan
kemanusiaan
yang
tidak
mempunyai anggota.
Sebagai badan hukum yang
mempunyai maksud dan tujuan yang
bersifat
sosial,
keagamaan
dan
kemanusiaan maka untuk mencapai
tujuan yayasan tidak hanya diperlukan
sejumlah
uang,
akan
tetapi
juga
dibutuhkan orang-orang yang sanggup
dan rela menyumbangkan tenaganya
untuk
mengurus
dan
mengelola
yayasan serta mewakili yayasan di
dalam maupun di luar pengadilan.
13Sebagai badan hukum, yayasan
juga memiliki organ yang terdiri dari
pembina, pengurus, dan pengawas.
Pengurus dalam hal ini dipercaya
sebagai
pengelola
yayasan
maka
pengurus
berkewajiban
melaporkan
setiap kegiatan yayasan pada pejabat
yang berwenang.
Apabila
yayasan
mendapat
bantuan
dari
pemerintah,
maka
pengurus wajib melapor pada instansi
pemerintah yang memberi bantuan. Jika
yayasan
mendapat
bantuan
dari
masyarakat ataupun pengurus yayasan
mempunyai kekayaan dalam jumlah
tertentu, maka pengurus berkewajiban
untuk mengumumkan ikhtisar laporan
13Ibid. hal. 121.
yayasan dalam surat kabar. Selain itu
ada juga kemungkinan pemeriksaan
terhadap
yayasan
melalui
badan
peradilan yang dapat dilakukan apabila
pengurus
dianggap
lalai
dalam
tindakannya
(mismanagement)
atau
dalam kebijaksanaan pengelolaannya,
ataupun yayasan dianggap melakukan
perbuatan
melawan
hukum
atau
melakukan tindakan yang bertentangan
dengan
anggaran
dasar,
atau
melakukan tindakan yang merugikan
yayasan atau pihak ketiga.
14Dalam
penjelasan
umum
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001
tentang Yayasan disebutkan bahwa
reformasi terhadap konsep yayasan
dilakukan
dengan
latar
belakang
sebagai berikut :
1514HP Pangabean, Kasus Aset Yayasan dan
Upaya Penanganan Sengketa Melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa, (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 2002), hal. 121. 15Indonesia, Log. Cit.
1. Untuk menjamin pemahaman
yang
benar
kepada
masyarakat tentang yayasan;
2. Menjamin
kepastian
dan
ketertiban hukum;
3. Mengembalikan
fungsi
yayasan
sebagai
pranata
hukum
dalam
rangka
mencapai tujuan tertentu di
bidang sosial, keagamaan,
dan kemanusiaan.
Selain
itu
sesuai
dengan
penjelasan umum atas Undang-Undang
Nomor
28
Tahun
2004
tentang
Perubahan
Atas
Undang-Undang
Nomor
16
Tahun
2001
tentang
Yayasan, dikatakan bahwa mengingat
bahwa
peran
yayasan
dalam
masyarakat
dapat
menciptakan
kesejahteraan
masyarakat,
maka
penyempurnaan
Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan
dimaksudkan pula agar yayasan tetap
dapat berfungsi dalam usaha mencapai
maksud dan tujuannya di bidang sosial,
keagamaan,
dan
kemanusiaan,
berdasarkan prinsip keterbukaan dan
akuntabilitas.
16Dengan
berlakunya
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang
Yayasan pada tanggal 6 Agustus 2001
yang diamandemen dengan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, yang
menjadi dasar hukum yang kuat dalam
mengatur
kehidupan
yayasan
di
Indonesia
agar
yayasan
berfungsi
sesuai dengan maksud dan tujuannya
melalui
prinsip
transparansi
atau
keterbukaan dalam setiap kegiatan
usahanya.
Prinsip transparansi yang secara
umum merupakan bagian dari good
corporate governance yang merupakan
bentuk upaya motivasi pengurus untuk
meningkatkan
keberhasilan
16ChatamarrasjidAis, Op.Cit. hal. 78.
(effectiveness)
dan
sekaligus
juga
mengendalikan perilaku pengurus, yang
dalam hal ini harus dapat menunjukkan
keterbukaan informasi kepada publik
serta tanggung jawab para pelaksana
terhadap pelaksanaan amanat yang
diembankan.
Keterbukaan
tentang
informasi
yang
berkaitan
dengan
aktivitas yayasan adalah karakteristik
untuk
meningkatkan
kepercayaan
masyarakat terhadap yayasan.
Penutup
Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
Fungsi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 tahun 2004 tentang Yayasan, terhadap pembuatan laporan tahunan keuangan yayasan pendidikan di wilayah kota Bogor adalah belum berfungsi secara efektif hal ini dikarenakan masih banyak yayasan penyelenggara pendidikan di wilayah Kota
Bogor yang belum melaporkan laporan tahunan keuangan yayasan, kalangan yayasan berpendapat laporan tahunan keuangan adalah bersifat rahasia dan hanya untuk internal yayasan saja;
Penerapan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan dalam pembuatan laporan tahunan keuangan yayasan terbukti belum efektif dikarenakan pengawasan, evaluasi dan pemberian sanksi belum diterapkan secara tegas dan dikarenakan pengawasan pemerintah masih lemah dan belum mempertegas pemberian sanksi;
Permasalahan yang timbul dalam
pelaksanaan kepatuhan terhadap
pembuatan laporan tahunan keuangan yayasan adalah masih banyak yayasan penyelenggara pendidikan di wilayah Kota Bogor yang belum berstatus sebagai badan hukum. Dikarenakan biaya pendirian yang mahal ke notaris dan ditambah biaya pendaftaran ke kementerian, prosedur pendaftaran belum terkordinasi dengan baik. Masih banyak yayasan penyelenggara
pendidikan di wilayah Kota Bogor yang masih minim memahami manfaat dan prosedur permohonan badan hukum.