PERAN CAMERA PERSON DALAM
PRODUKSI PROGRAM FEATURE TV
“WISATA RELIGI”
Safira Idzni
Universitas Bina Nusantara, Jln.Kebon Raya Jeruk No. 27, Jakarta Barat 11530, (021) 53696969,
Safira Idzni, Rahmat Edi Irawan
ABSTRACT
Islam is the majority religion in Indonesia, knowledge of the religion of islam can be
fulfilled not only of preaching directly, but also by using the media of television.
Television is a considerable media in providing information and entertainment, so it
visible from many television station that provide entertainment in each program
such as news, documentaries and features. The authors were motivated to create a
distinc feature program, which features a trip in the month of Ramadhan by
interesting a variety of information about the history of the religion of islam.In the
production of these feature, the author act as a camera person. Responsible for the
shooting. This feature through the stages of production, production shooting on
location and Post-production. The result of this thesis show the effectiveness of the
picture composition is one element in the arrangement of cameras the greatly affect
the quality of an event.(SI)
Keyword : Islam, Television, Pra-Production, Production and Post Production,
Camera Person, Effectiveness of picture composition.
Abstrak
Agama islam merupakan agama mayoritas di Indonesia, pengetahuan mengenai
ilmu agama islam dapat dipenuhi tidak hanya dari dakwah secara langsung tetapi
juga dengan menggunakan televisi. Kekuatan media televisi adalah sebagai sumber
informasi dan hiburan seperti berita, dokumenter dan feature. Maka penulis
termotivasi untuk membuat sebuah program feature yang berbeda yaitu feature
perjalanan dibulan Ramadhan dengan menyisipkan berbagai informasi mengenai
sejarah perkembangan agama islam. Dalam produksi feature yang berjudul“Wisata
Religi” penulis berperan sebagai penata kamera. Yang bertanggung jawab terhadap
pengambilan gambar. Produksi feature ini melalui tahapan yaitu pra produksi,
produksi meliputi pengambilan gambar dilokasi dan paska produksi. Hasil tugas
akhir ini menunjukan bahwa efektivitas komposisi gambar merupakan salah satu
unsur utama dalam penataan kamera yang sangat mempengaruhi kualitas sebuah
acara.
Kata Kunci :Agama Islam, Televisi, Pra Produksi, Produksi, Pasca Produksi,
Penata Kamera, Efektifitas Komposisi Gambar
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Program feature merupakan sebuah program yang ditunggu oleh masyarakat
pada umumnya, karena feature lebih mengedepankan pada unsur keindahan, hiburan
dan juga informasi yang di sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam
perjalanannya program feature sekarang ini hanya menampilkan hiburan semata,
tanpa ada unsur informasi ataupun edukasi yang ditayangkan. Melihat fenomena
yang terjadi dalam program feature televisi penulis mempunyai ide untuk
memproduksi sebuah program feature, dimana dalam tayangan tersebut penulis
menyisipkan sedikit informasi mengenai hal-hal yang berupa ilmu pengetahuan
khususnya mengenai agama islam berdasarkan ensiklopedia islam dan berpedoman
dalam Al-Quran, sehingga masyarakat dapat mengambil manfaat serta pelajaran
mengenai seperti apa islam, apa saja hal yang dilarang dan diperbolehkan dalam
agama islam, bagaimana perilaku yang baik dalam agama islam. Dari sisi
pengambilan gambar dapat terlihat beberapa program feature sekarang ini banyak
yang kurang menarik,maka penulis berniat untuk membuat salah satu karya tugas
akhir feature yang tidak hanya memuat mengenai keindahan tempat, sejarah, dan
peristiwa tetapi juga menampilkan gambar-gambar yang kaya akan informasi dan
motivasi serta maksud-maksud tertentu.
Dilihat dari segi pengambilan gambar dan angle kamera yang seksama serta
pemilihan sudut pandang kamera harus mempunyai maksud yang dapat di pahami.
Seperti pemilihan angle kamera yang dapat di nikmati keindahannya.
Banyak faktor estetika yang harus di pertimbangkan dalam pemilihan angle
kamera yang tepat. Memperhatikan faktor teknis dari peralatan pendukung kamera
apa saja yang di gunakan dan juga kondisi yang tersedia.
Informasi sangat penting pada era modern seperti sekarang ini untuk
mengetahui berita dan peristiwa yang terjadi disekitar kita bahkan sampai seluruh
mancanegara. Pentingnya Informasi tersebut tentunya membutuhkan sebuah media
sebagai penyampaiannya dengan tujuan memberitahukan informasi kepada orang
lain tentang suatu hal yang sangat penting untuk diketahui melalui media massa.
Media massa merupakan berbagai macam media atau wahana komunikasi
massa seperti pers (secara sempit diartikan sebagai surat kabar, sedangkan secara
luas sebagai media pemberitahuan). Dan sekarang ini, Media massa telah mengalami
perubahan dimensi yang sangat pesat, baik televisi maupun radio. Media
penyampaiannya pun harus mampu memberikan seluruh informasi yang terkandung
melalui audio dan visual seperti media Televisi.
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa televisi adalah sistem
penyiaran yang disertai dengan gambar suatu objek yang bergerak dan disertai
dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat
mengubahnya dengan berkas-berkas cahaya dapat dilihat dan didengar.
Perkembangan teknologi informasi khususnya televisi melalui pengemasan
audio dan visual yang digabungkan sedemikian rupa, kini dapat menghibur penonton
melalui beragam tayangannya, Maka dengan berbagai cara yang terus berkembang
mulai dari Infotainment, Iklan, Entertainment, Sinetron, Musik, Sport, dan Berita
yang sangat aktual. Mampu membuat masyarakat untuk selalu menyaksikan sajian
yang ditayangkan secara menarik.Dengan banyaknya tayangan yang ada di televisi,
tidak dipungkiri bahwa banyak masyarakat yang sering menonton program yang
disediakan oleh setiap stasiun televisi setiap harinya. Siaran (rangkaian mata acara)
televisi terdapat program jurnalistik dan program artistik antara lain, salah satunya
adalah feature.
Dalam memproduksi suatu acara televisi khususnya feature, seorang penata
kamera mempunyai peranan penting dalam tahapan kegiatan produksi, hal ini
dikarenakan proses syuting tidak akan terjadi apabila tidak ada kamera,teknik
pengambilan gambar sangat diperlukan untuk mendukung kesempurnaan visualisasi
dan memperjelas peristiwa atau kejadian-kejadian yang bermakna. Teknik penyajian
suatu acara dengan melihat pada gambar yang dihasilkan, dituntut utuk bisa menarik
perhatian, serta mampu memberikan informasi dan edukasi, pada feature yang
membahas tentang sejarah, di era globalisasi yang kadang tidak terpikirkan oleh
banyak kalangan masyarakat. Hal-hal yang dapat menciptakan visual yang dikatakan
sempurna antara lain, sudut pengambilan gambar, komposisi gambar, pergerakan
kamera beserta pergerakan lensanya dan ketajaman gambar.
Penata kamera sebagai bagian dari kru produksi film dan televisi mempunyai
tanggung jawab yang spesifik. Secara umum tugas dan tanggung jawab penata
kamera meliputi :
1. Berdiskusi dengan produser serta sutradara, membahas tentang rencana produksi
2. Mempelajari naskah
3. Menginterpretasikan bagaimana sebuah adegan atau scene bisa di interpretasikan.
4. Memberi masukan bagaimana agar bisa mendapatkan gambar-gambar yang baik
5. Memilih peralatan kamera serta penunjangnya
6. Bekerjasama dengan produser
7. Melakukan pengambilan gambar atau shooting
Dalam feature ini penulis mencoba mengangkat kembali tayangan bertema
sejarah yang dan hal informatif lainnya, untuk mendukung tema yang akan di angkat
penulis akan berkonsentrasi pada Teknik Pengambilan Gambar berdasarkan konsep
yang dibuat sebelumnya (Development shot) pada program feature ini.
Seperti tugas karya akhir yang dibuat ini, sengaja dibuat untuk memberikan
pemahaman pada pemirsa dirumah, khususnya di Indonesia yang mayoritas
beragama islam agar dapat mengetahui, mempelajari akan sunah Rasul dan dapat di
aplikasikan dalam kehidupan sehari hari.
Dalam karya feature ini penulis ingin mendapatkan hasil yang bekualitas dari
segi teknik pengambilan gambar dari segi visual menggunakan kamera Digital
Single Lens Reflex (DSLR) karena memiliki banyak keuntungan yaitu gambar tajam,
pixel yang besar, dan lensa yang dapat diganti-ganti.
Penulis juga memaksimalkan penggunaan kamera untuk mendapatkan
kualitas komposisi gambar, yang akan dikembangkan melalui seluruh fungsi kamera
agar dapat memenuhi seluruh elemen pengambilan gambar sebagai pelengkap
penyampaian informasi dalam produksi ini. Apabila terdapat kesamaan dalam
produksi ini maka merupakan unsur ketidaksengajaan.
Dari uraian tersebut diatas penulis terinspirasi untuk memproduksi program acara
IDENTIFIKASI KARYA AKHIR
Nama Program : Wisata Religi.
Genre Program : Feature Perjalanan
Format : Tapping
Durasi : 30 menit
Waktu Penayangan : Setiap Sabtu, 14.00-14.30
Rencana Penayangan : TV One atau Trans7
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pada teknik ini, penulis membagikan 50 lembar kuesioner kepada 50 koresponden. Dimana penulis akan mengambil 50 sampel dari populasi yang berada dalam sebuah Organisasi Masyarakat (Islam) di daerah Sunter,Jakarta Utara. Penulis melihat bahwa organisasi masyarakat di daerah tersebut memiliki anggota yang berumuran 20-40 tahun (sesuai dengan target audience yang telah ditetapkan). Adapun beberapa pertanyaan dalam kuesioner yang penulis dan tim susun untuk mendukung proses pembuatan program features WISATA RELIGI, yaitu:
1.Aktivitas luang apa yang sering anda lakukan di bulan ramadhan ? a. Membaca majalah
b. Menonton televisi c. Mendengarkan radio d. Jalan-Jalan
Hasil : Dari 50 koresponden muslim yang kami berikan kuesioner didapatkan hasil bahwa mayoritas koresponden lebih banyak menonton televisi di bulan ramadhan. Sebanyak 40% dari hasil kuesioner lebih memilih menonton televisi untuk mengisi aktivitas luang mereka terutama di bulan ramadhan. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 1.1
Pilihan Jawaban Jumlah Pemilih Persentase
Membaca majalah 8 16%
Menonton televisi 20 40%
Mendengarkan radio 6 12%
Jalan-Jalan 16 32%
TOTAL 50 100%
2.Hari apa yang anda habiskan untuk menonton televisi? a. Senin-Rabu
b. Rabu-Jumat c. Jumat-Minggu
Hasil : Hari yang dihabiskan mayoritas koresponden untuk menonton televisi yaitu pada Jumat hingga Minggu. Sebanyak 28 koresponden lebih memilih hari tersebut untuk menghabiskan waktunya dalam menonton televisi. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut.
3.Kapan jam aktif anda dalam menonton televisi di bulan ramadhan? a.03:00-09:00
b.09:00-14:00 c.14:00-19:00 d.19:00-23:00
Hasil :Dari hasil kuesioner yang didapatkan diketahui bahwa mayoritas kosresponden muslim lebih aktif menonton televisi di bulan ramadhan pada pukul 14:00-19:00. Sebanyak 32% dari 16 koresponden memilih waktu tersebut sebagai waktu aktif dalam menonton televisi di bulan ramadhan.
Tabel 1.3
Tabel 1.3
4.Tipe program features apa yang anda inginkan untuk ditonton di bulan ramadhan? a. Features profile
b. Features perjalanan c. Features kuliner
d. Features ilmiah (science)
Hasil : Sebanyak 25 koresponden memilih features perjalan sebagai program yang ditunggu saat bulan ramadhan. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 1.4
Pilihan Jawaban Jumlah Pemilih Persentase
Senin-Rabu 9 18%
Rabu-Jumat 13 26%
Jumat-Minggu 28 56%
TOTAL 50 100%
Pilihan Jawaban Jumlah Pemilih Persentase
03:00-09:00 5 10%
09:00-14:00 14 28%
14:00-19:00 16 32%
19:00-23:00 15 30%
TOTAL 50 100%
Pilihan Jawaban Jumlah Pemilih Persentase
Features profil 13 16%
Features perjalanan 20 40%
Features kuliner 6 12%
Features ilmiah 16 32%
5.Program features apa yang anda inginkan untuk ditonton di bulan ramadhan? a. Sejarah seputar islam
b. Wisata rohani c. Ensiklopedia islam d. Lainnya
Hasil : Dari hasil kuesioner yang didapatkan diketahui bahwa mayoritas koresponden lebih menginginkan wisata rohani sebagai features yang ditonton saat bulan ramadhan. Hal tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 1.5
Pilihan Jawaban Jumlah Pemilih Persentase
Sejarah seputar islam 13 26%
Wisata rohani 14 28%
Ensiklopedia islam 13 26%
Lainnya 10 20%
TOTAL 50 100%
6.Apakah anda tertarik menonton program features yang berisikan perjalanan berbagai masjid unik dan bersejarah di seluruh wilayah Indonesia?
a.Ya b.Tidak
Hasil : Mayoritas koresponden tertarik untuk menonton program features yang berisikan perjalanan ke berbagai masjid unik dan bersejarah di seluruh wilayah indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 1.6
Pilihan Jawaban Jumlah Pemilih Persentase
Ya 33 66%
Tidak 17 34%
Jumlah 50 100%
7. Apakah anda tertarik menonton program features yang berisikan mengenai ensiklopedia islam sesuai dengan alquran dan hadis?
a. Ya b. Tidak
Hasil Sebanyak 78% koresponden tertarik untuk menonton program features yang berisikan ensiklopedia islam yang berpanutan kepada alquran dan hadis. Hasil kuesioner ini dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 1.7
TUJUAN DAN MANFAAT PEMBUATAN TUGAS KARYA AKHIR Tujuan
1. Memproduksi feature perjalanan yang bergenre religi yang nantinya akan ditayangkan pada waktu tertentu pada bulan Ramadhan.
2. Untuk memberikan konsep program yang berbeda dari feature musiman.
3. Untuk memberikan manfaat kepada masyarakat yang tidak hanya menghibur tapi juga mendidik dan memberikan pesan moral yang nantinya akan terus diingat setelah menonton tayangan ini.
1.4.2 Manfaat Akademis
1. Menambah wawasan dan pengalaman dalam memproduksi sebuah karya.
2. Menerapkan ilmu teori mata kuliah Dasar Produksi Siaran Televisi mengenai penggunaan kamera, Produksi Siaran Radio dan Televisi juga ilmu praktek yang di dapat selama perkuliahan.
3. Menerapkan proses kerja tim yang solid untuk menciptakan sebuah hasil karya.
1.4.3 Manfaat Praktis
1. Mengasah kemampuan pengambilan gambar dalam suatu karya.
2. Menciptakan sebuah program televisi berupa feature, yang sesuai dengan konsep awal dan alur kerja produksi yang telah ditetapkan.
3. Mengembangkan kreatifitas dalam pengambilan komposisi gambar, pemanfaatan lensa, dengan memperhatikan keseimbangan, cahaya dan warna untuk menghasilkan visual yang harmonis.
4. Menambahkan wawasan berupa teknik pengambilan gambar dengan kamera DSLR, baik fotografi maupun videografi
1.4.4 Masyarakat/Umum
1. Memberikan informasi mengenai beragam masjid yang unik dan bersejarah yang tersebar di seluruh Indonesia.
2. Menambah wawasan masyarakat mengenai berbagai ragam informasi dalam dunia islam. 3. Memberikan arahan dan gambaran kepada umat muslim mengenai aturan dan tata cara seperti yang dicontohkan oleh Rasul untuk di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari 4. Membuktikan kepada penonton bahwa program ini bersumber dari Al-quran dan Hadist.
KAJIAN PUSTAKA
Dalam kajian pustaka ini penulis menjabarkan teori-teori apa saja yang digunakan untuk mendukung perannya sebagai campers di dalam program Wisata Religi ini. Dalam poin ini juga penulis menjabarkan perbedaan program Wisata Religi dengan program feature perjalanan lainnya yang menjadi latar belakang penulis untuk membuat program ini. Kajian teori yang digunakan oleh penulis yaitu teori dasar dari proses produksi yang bersumber dari beberapa buku.
PRA PRODUKSI
Ide dan pengembangan konsep dari program Wisata Religi ini, penulis melihat beberapa program tayangan feature yang minim dalam teknik pengambilan gambar, minimnya informasi yang diberikan dari pengambilan gambar tersebut, seperti apa maksud dari pengambilan gambar tilt up/ tilt down,
panning, blurring dan berbagai pergerakan kamera lainnya. Maka penulis disini mempunyai ide untuk
menciptakan variasi dalam proses pengambilan gambar yang dibantu alat-alat pendukung, karena banyaknya pergerakan kamera, motivasi serta informasi dari gambar yang diambil, maka di harapkan dapat membuat para penonton dirumah menjadi semakin tertarik untuk menyaksikan tayangan ini. Pergerakan kamera yang dinamis dan mobiledi harapkan sesuai dengan target audience yang dituju oleh program ini. Pria dan wanita yang berumur 20-40 tahun, muda,kritis dan aktif mempunyai
Ya 39 78%
Tidak 11 22%
pengaruh dalam teknik pengambilan gambar, dari hasil yang di tunjukan oleh kuisioner, target
audience muda, masih mau menonton televisi dengan tayangan yang banyak mengambil variasi
gambar dan pergerakan pergerakan kamera yang berubah-ubah. Melihat sekarang ini banyak program
featureyang hanya menekankan unsur perjalanan tanpa memberikan ilmu pengetahuan bagi
masyarakat. Maka penulis menggabungkan hal yang menjadi kekurangan dalam program feature yang ada, dan juga beberapa tambahan ilmu serta informasi sebagai jalan keluar dari kondisi sekarang ini yang menjadi ciri khas dalam tugas karya akhir yang akan penulis produksi nantinya.
Angle-Angle kamera yang layak dapat membuat apresiasi penonton. Ukuran, citra dan angle
citra menentukan berapa banyak materi dan subyek yang akan penonton akan lihat. Rangkaian shot yang membuat sebuah scene harus di rekam dengan penataan gambar untuk mencapai keberhasilan sebuah program. Penggunaan angle kamera yang beragam bisa menanamkan kesan pada penuturan cerita dan interest penonton.
PERSIAPAN ADMINISTRASI
Untuk mendukung proses produksi tugas karya akhir ini berjalan dengan lancar, maka terdapat beberapa poin perizinan untuk beberapa pihak yang harus dilakukan oleh produser dan tim produksi yaitu:
1. Perizinan ke pihak koordinator Mesjid Al Munadah Darussalam, mesjid Agung Sunda Kelapa, Masjid Hidayatullah, dan tokoh agama untuk melakukan shooting
2. Pihak jursan marketing communication untuk surat pengantar sebagai bukti bahwa benar adanya kami membuat karya ini sebagai syarat penentu kelulusan.
3. Pihak penyewa alat untuk proses shooting berlangsung
4. Kontrak persetujuan host dan kru
HASIL KARYA & EVALUASI SHOOTING
Produksi pengambilan gambar dilakukan selama 3 hari dengan 1 hari Revisi. Pada tanggal 6 April 2014 sampai 27 April 2014, Shooting dilakukan setiap hari Kamis dan Jumat dan mengambil lokasi di Masjid Sunda Kelapa, Masjid Perahu, Masjid Hidayatullah dan Masjid Istiqlal, Jakarta. Produksi adalah proses pelaksanaan shooting yang mengacu pada persiapan yang dihasilkan dari proses Pra Produksi. Penulis sebagaiCamera person atau penata kamera melakukan pengambilan gambar sesuai dengan jadwal dan shooting script yang telah dibuat dalam proses sebelumnya.
Sebelum melakukan produksi pengambilan gambar,penulis sebagaipenata kamera beserta teman sekelompok (tim produksi) melakukan pencarian data mengenai Masjid unik dan bersejarah di Indonesia, khususnya di daerah Jakarta. Setelah beberapa nama Masjid masuk dalam daftar, penulis sebagai penata kamera tim produksi melakukan pengecekan tempat atau survey untuk melihat seperti apa keadaan lokasi sebenarnya dan melihat angle mana yang sesuai untuk produksi pengambilan gambar nanti.
Install Peralatan Survey
Survey hari pertama dilakukan pada tanggal 15 maret 2014. Diawali dengan mendatangi MasjidSunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Masjid yang terkelola dengan baik ini memiliki berbagai divisi profesional demi menciptakan kelangsungan masjid, salah satunya adalah divisi dakwah. Di dalam divisi ini para karyawannya diharuskan untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas serta bertanggung jawab terhadap perihal perizinan kegiatan apapun yang menggunakan masjid. Perizinan pun dilakukan yang ditujukan kepada divisi dakwah dengan diwakilkan oleh Ustadz Mulyadi selaku wakil bidang dakwah dan keagamaan.
Setelah survey di Masjid Sunda Kelapa, kami pun melanjutkan survey ke Masjid Al-Munnada Darussalam. Disana kami mengelilingi masjid untuk melihat detail gambar yang akan diambil sehingga dapat mengirakan alat apa saja yang dibutuhkan saat proses shooting berlangsung. Selain memastikan tempat untuk pengambilan gambar dan pemasangan alat, survey dilakukan untuk perizinan lokasi shooting kepada pengurus masjid dan diteruskan kepada salah satu keluarga pendiri masjid yaitu Hj. Ambarwati Ma’sub.
Hari kedua survey dilakukan pada tanggal 16 Maret 2014. Survey pertama kami lakukan ke Masjid Hidayatullah, yang terletak di Jalan Karet Depan, Semanggi, Jakarta Selatan. Interior bangunan masjid tersebut memiliki detail gambar yang menarik untuk direkam saat proses
shootingberlangsung. Perizinan lokasi shootingdilakukan kepada H. Nawani Hakam, selaku Ketua
Pengurus Masjid Hidayatullah. Setelah perizinan lokasi masjid dinilai sudah cukup, maka survey dilanjutkan ke salah satu Ustadz sekaligus ahli bidang agama. Ustadz tersebut nantinya akan menjadi narasumber di segment 2 dengan memberikan ceramah sesuai alquran dan hadis dan berdasarkan tema yang telah ditetapkan. Penulis sebagai penata kamera melakukan negosiasi kepada Ustadz yang bersangkutan serta menjelaskan konsep Wisata Religi.
EVALUASI SHOOTING
Setelah pengambilan gambar , tim melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah sudah tercapai target hari ini, selain itu juga untuk membahas sedikit rencana esok hari dan pesan dari pihak produser untuk semua crew. Terjadi beberapa kesulitan pada saat proses pengambilan gambar, pada tahap ini editor harus teliti dengan pergerakan subyek , pergerakan kamera dan cahaya yang di dapat. Terdapat beberapa hambatan dalam proses produksi diantaranya:
1) Adanya hujan disaat pengambilan gambar
2) Jarak yang jauh antara lokasi satu dengan yang lainnya 3) Kemacetan
Beberapa hambatan tersebut yang menjadi evaluasi syuting untuk pembelajaran tim kedepannya. Tujuan dari evaluasi syuting ini sendiri adalah untuk mengefisienkan waktu para kru sehingga jika terjadi kesalahan. Tim dapat mengulang kembali adegan yang sebelumnya kurang bagus. Itu akan menghemat waktu dan biaya lainnya daripada kembali ke tempat yang sama di hari lain.
EVALUASI
Ada beberapa tugas penulis sebagai penata kamera atau camera person dalam
pasca produksi tugas karya akhir. Camera person akan membuat camera report yang
berisi tentang semua keterangan shot untuk mempermudah editor dalam pemilihan
gambar yang baik pada saat melakukan editing, Seperti:
1.
Memilih gambar untuk nantinya dikoordinasikan, diedit kasar atau
editing offline oleh editor dan digabungkan dengan audio.
2.
Bertanggung jawab dengan hasil gambar yang digunakan nantinya.
Produksi feature ini dilakukan dengan sistem rekaman audio visual yang
didukung oleh informasi dari beberapa narasumber terkait. Penggunaan single
camera, gambar diambil baik outdoor maupun indoor. Proses pentransferan data
yang kemudian dilakukan yaitu proses editing, kemudian proses mixing dengan
penambahan ilustrasi musik sebagai backsound, diakhiri dengan proses mastering
yang merupakan hasil akhir produksi feature. Sebelum melakukan editing, editor
melakukan pengumpulan data yaitu berupa video, lagu dan grafik untuk pembuatan
EDITING DAN MIXING EDITING
Pasca Produksi / Proses editing yaitu proses menyusun memanipulasi dan merangkai ulang rekaman video menjadi suatu rangkaian cerita baru dengan memberikan penambahan tulisan, gambar atau suara sehingga mudah dimengerti dan dapat dinikmati oleh audience. (Andi Fachruddin, 2012 : 393) Menurut Herbert Zettl, editing memiliki 4 fungsi yaitu : combine, shorten, correct, dan build.
Nonlinear editing merupakan proses penyusunan gambar yang dilakukan secara tidak berurutan atau penyeleksian gambar secara acak atau random, penyusunan gambar bisa dimulai dari pertengahan suatu program acara, kemudian awal dari suatu program acara tersebut dan seterusnya hingga program acara tersebut selesai. (Andi Fachruddin.2012 : 421)
MIXING
Dalam proses ini, editor tidak hanya fokus pada gambar saja tetapi juga pada audio yang dapa
mendukung program feature televise ini dan memberikan hasil yang terbaik. Dalam proses mixing ini menggabungkan antara video dan audio seperti lagu yang sesuai dengan program “Wisata Religi”. Lagu-lagu yang digunakan oleh editor kebanyakan adalah lagu-lagu islami dan lagu-lagu instrumental. Dalam proses menyatukan audio dan video ini dibutuhkan ketelitian seorang editor karena agar tidak terjadi kesalahan fatal di hasil akhir. Audio yang harus diperhatikan oleh editor meliputi :
• Audio clip on yang digunakan oleh host dan narasumber
• Audio Dubber
• Audio atmosfer
• Audio backsound lagu
SIMPULAN Evaluasi Program
Pada proses pra produksi Wisata Religi, penulis masih merasa kesulitan dalam mencari mesjid bersejarah dan unik di Indonesia terlebih lagi di Jakarta, karena banyak Mesjid bersejarah namun sudah tidak terawat lagi hal ini meyebabkan penulis sebagai penata kamera kesulitan untuk mengambil angle mana yang tepat untuk proses shooting nanti. Kemudian dalam proses produksi, kendala yang dihadapi ialah cuaca yang berubah-rubah, sehingga dalam proses pengambilan gambar, hasil yang didapat harus di sesuaikan pada proses coloring oleh editor. Banyaknya shaking pada saat pengambilan gambar wawancara dengan narasumber. Hal ini disebabkan penata kamera masih belum menguasai teknik pengambilan gambar dengan baik.
Simpulan dari proses produksi ini diperlukannya perencanaan yang baik dalam memproduksi suatu program acara feature televisi, karena dengan perencanaan yang baik akan mempermudah berjalannya proses produksi dan paska produksi. Untuk menunjang sebuah acara yang dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan bagi masyarakat diperlukan partisipasi yang komprehensif dari setiap elemen masyarakat.
Penerapan efektivitas komposisi gambar adalah prinsip yang mendasari pada pembuatan program feature televisi ini, dengan komposisi yang terencana diharapkan dapat mendukung sebuah gambar yang baik.
Berdasarkan analisa dan pembahasan karya dapat diperoleh kesimpulan bahwa feature televisi “Wisata Religi” telah di produksi sesuai dengan rencana dan tujuan awal, meskipun pada bagian tertentu terdapat kekurangan. Kekurangan tersebut diakibatkan karena faktor cuaca.
Untuk lokasi harus dipertimbangkan agar tidak banyak waktu terbuang untuk sampai ketempat tujuan, terlebih lagi apabila menggunakan alat yang disewa, waktu menjadi sangat berharga karena alat harus dikembalikan tepat waktu.
SARAN
Meskipun proses produksi tugas akhir ini dapat diselesaikan sesuai rencana tetapi mengalami hambatan-hambatan dalam produksi. Dalam evaluasi program, kesalahan besar maupun kecil harus diperhatikan agar tidak terulang kembali dalam proses syuting berikutnya. Dalam proses pra, produksi dan paska produksi untuk itu penulis menyampaikan beberapa saran mengenai produksi feature, antara lain :
1.Proses persiapan dalam mencari objek seperti tempat dan narasumber harus dilakukan dengan matang. Bila terdapat segmen dengan narasumber perlu dipastikan kapan proses syuting dapat dilakukan yang disesuaikan dengan jadwal narasumber. Tempat yang nantinya menjadi objek lokasi syuting harus diperhatikan dari perizinannya.
2.Persiapan alat harus diperhatikan sesuai dengan budget yang tersedia, meminimalisir budget sangat diperlukan agar biaya yang dikeluarkan tidak melebihi kapasitas keuangan mahasiswa.
3.Jika memang fasilitas/ alat dan biaya memadai, ada baiknya menggunakan 2(dua) kamera agar dalam proses shooting pengambilan gambar close up dan wide lebih mudah dan gambar yang dihasilkan pun lebih beragam.
4.Sebelum melakukan proses syuting, install alat sangat diperlukan, sebelumnya pengecekan dari segi alat harus diperhatikan seperti baterai,
mounting, memori, tripod dan alat alat pendukung lainnya agar nantinya tidak menghambat jalannya proses syuting.
5. Kenali kendala dari faktor jarak dan cuaca, agar proses syuting berjalan lancar dan tidak memakan waktu serta biaya yang tidak sesuai dengan budgeting.
6.
Evaluasi produksi sangat diperlukan, untuk melihat hasil gambar yang didapat, apakah harus melakukan pengambilan gambar kembali untuk mendapatkan hasil yang sesuai denganrundown ataupun shooting script
.
DAFTAR PUSTAKA
Fachruddin, Andi. Dasar-dasar Produksi Televisi. Jakarta. Kencana.
J Santoso, Ensadi. 2013. Bikin Video dengan Kamera DSLR, Jakarta: MediaKita.
Lamintang, Theojunior. 2013. Pengantar Ilmu Broadcasting dan Cinematography.
Jakarta: In Media.
Morrisan. 2004. Jurnalistik Televisi Mutakhir, Jakarta: Ramdina.
Mascelli, Joseph. 1986. The Five C’s of Cinematography, Jakarta: Yayasan Citra.
Naratama. 2004. Menjadi Sutradara Televisi; Dengan Single Camera dan Multi
Camera. Jakarta: Grasindo.
Romli, Khomsahrial. 2011. Komunikasi Organisasi Lengkap. Jakarta. Gramedia
Widia Sarana Indonesia.
Umbara, Diki., Wahyu Pintoko. How to be a Cameraman. Jakarta: Motion
Publishing.
Setyobudi, Ciptono, 2006. Teknologi Broadcasting Tv, Yogyakarta: Graha Ilmu
Wahyudi, JB. 1992. Teknologi Informasi dan Produksi Citra Bergerak. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Wayne, Pace. 2011. Komunikasi Organisasi, Bandung: Rosdakarya.
Wibowo, Fred. 2007. Teknik Produksi Program Televisi. Pinus.
Wiryanto. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : PT. Gramedia Widya Sarana
Indonesia
Zettl, Herbert. 2011. Television Production Handbook. Cengenge Learning
Riwayat Penulis
Safira Idzni atau lebih dikenal dengan Saf lahir di Rangkasbitung , pada 5 Agustus 1992. Penulis berkebangsaan Indonesia dan beragama islam. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Ilmu Komunikasi dan Pemasaran pada tahun 2014