• Tidak ada hasil yang ditemukan

Judul : Pengaruh Faktor Internal dan Faktor Eksternal Bank terhadap Net Interest Margin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Judul : Pengaruh Faktor Internal dan Faktor Eksternal Bank terhadap Net Interest Margin"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Judul : Pengaruh Faktor Internal dan Faktor Eksternal Bank terhadap Net Interest Margin di Indonesia

Nama : Gusti Ayu Putu Indah Lestari Dewi NIM : 1306205133

Abstrak

Net Interest Margin merupakan rasio perbandingan antara selisih bunga bank yang dibagi dengan rata-rata aktiva produktif bank. NIM di Indonesia yang tinggi menyebabkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan suatu kebijakan agar bank di Indonesia mampu menurunkan NIM yang dihasilkannya. Untuk menurunkan NIM dengan baik tanpa mengganggu operasional bank, maka perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap NIM. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh faktor internal bank (Equity to Asset Ratio, Loan to Deposit Ratio, Non-Performing Loan, Bank size, BOPO) dan faktor eksternal bank (GDP growth dan Inflasi) terhadap Net Interest Margin pada bank umum di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013-2015.

Teknik analisis yang digunakan di dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Linier Berganda. Sampel penelitian terdiri dari 41 bank umum yang diambil dengan menggunakan metode sensus karena mengambil keseluruhan populasi sebagai sampel. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa laopran keuangan bank umum periode 2013-2015

Hasil penelitian menunjukkan bahwa EA, LDR, Bank Size dan BOPO berpengaruh positif signifikan terhadap NIM sementara NPL berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap NIM. Faktor eksternal GDP growth dan inflasi berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap NIM. Hal ini dikarenakan laju pertumbuhan indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan sementara fluktuasi NIM naik dan turum selama periode penelitian. Selain itu, penurunan inflasi secara tajam tidak berpengaruh signifikan terhadap NIM karena perbankan telah siap mengantisipasi terjadinya inflasi sehingga fluktuasi NIM tidak terlalu tajam

Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat mengenai faktor penentu NIM, penelitian ke depannya dapa menambahkan variabel lain selain variabel dalam penelitian ini seperti ukuran transaksi bank, tingkat suku bunga dan tingkat kompetisi pasar. Selain itu, ruang lingkup penelitian dapat divariasikan dengan menggunakan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai sampel penelitian.

(2)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTAK ... v

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah Penelitian... 14

1.3 Tujuan Penelitian ... 14

1.4 Kegunaan Penelitian ... 15

1.5 Sistematikan Penulisan ... 16

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori dan Konsep... 18

2.1.1 Bank ... 18

2.1.2 Suku bunga bank... 19

2.1.3 Net interest margin ... 24

2.1.4 Faktor internal... 26

2.1.4 Faktor eksternal... 37

2.2 Hipotesis Penelitian ... 42

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 48

3.2 Ruang Lingkup Wilayah Penelitian ... 49

(3)

3.4 Identifikasi Variabel... 49

3.5 Definsi Operasional Variabel... 50

3.6 Jenis dan Sumber Data... 53

3.7 Populasi, Sampel, dan Metode Penentuan Sampel ... 53

3.8 Metode Pengumpulan Data... 54

3.9 Teknik Analisis Data... 54

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Net Interest Margin menggambarkan kemampuan bank dalam menghasilkan bunga atas pengelolaan aktiva produktifnya. Menurut Hidayat et al. (2012), Net Interest Margin (NIM) juga merupakan salah satu indikator profitabilitas bank (khususnya dalam usaha yang menghasilkan pendapatan bunga). Dengan demikian, Net Interest Margin menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan bank dalam memperoleh keuntungan melalui laba bunga yang dihasilkannya.

Net Interest Margin (NIM) diperoleh dari selisih antara pendapatan bunga (diperoleh dari bunga yang dibayarkan oleh debitur atas pemberian kredit yang diberikan oleh bank) dengan beban bunga (biaya yang harus dibayarkan bank terhadap pemberi dana) dibagi dengan rata-rata aktiva produktif yang digunakan (Riyadi, 2006:158). Net Interest Margin merupakan salah satu rasio keuangan yang termasuk ke dalam rasio rentabilitas (kemampuan bank menghasilkan laba).

(4)

Apabila dilihat dari perspektif bank, Net Interest Margin merupakan penentu utama dari profitabilitas mereka, sementara dari sudut pandang nyata ekonomi, digabungkan dengan risiko negara, variabel makroekonomi, risiko klien, persaingan dan sebagainya, Net Interest Margin merupakan faktor kunci yang mempengaruhi keseluruhan level tingkat bunga untuk sektor swasta (Dumicic & Ridzak, 2013).

Perhitungan rasio Net Interest Margin juga bertujuan untuk melakukan penilaian kinerja bank dalam mengelola risiko-risiko terkait suku bunga. Hal ini berarti apabila tingkat suku bunga berubah, maka pendapatan dan beban bunga akan berubah. Semakin besar pendapatan bunga bersih maka rasio Net Interest Margin akan semakin tinggi. Sebaliknya, apabila peningkatan beban bunga tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan bunga, maka pendapatan bunga bersih akan menurun dan berdampak pada menurunnya rasio Net Interest Margin, dengan catatan rata-rata aktiva produktifnya konstan.

Berdasarkan Surat Edaran No.6/23/DPNP/2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum, bank dengan NIM berkisar antara 1,5% sampai dengan 2% dikategorikan cukup tinggi (Hidayat et al., 2012). Namun, perlu diperhatikan bahwa NIM yang relatif tinggi tidak selalu berarti positif. Pada satu sisi, marjin yang tinggi selalu dikaitkan dengan rendahnya tingkat efisiensi dan kondisi pasar yang tidak kompetitif. Di sisi lain, tingginya marjin mungkin sebagai refleksi dari lingkungan perbankan yang kurang mendukung dan tingginya derajat asimetri informasi (Azeez & Gamage, 2013).

(5)

Pada saat lingkungan perbankan kurang mendukung dan tingginya derajat asimetri informasi, hal ini menandakan bahwa pihak ketiga selaku pemberi pinjaman belum sepenuhnya mempercayai institusi perbankan untuk menanamkan dananya, namun di sisi lain, bank selaku perantara keuangan mampu menganalisis dan mengawasi pihak-pihak yang diberi pinjaman sehingga risiko kredit yang buruk dapat dikurangi. Hal ini menyebabkan penyaluran kredit yang dilakukan oleh bank tidak sebanding atau lebih besar dengan penerimaan dana pihak ketiga. Bank yang mampu mengelola risiko kreditnya dengan baik, akan memperoleh pendapatan bunga yang tinggi. Pendapatan bunga bank yang tinggi dengan pembayaran bunga yang rendah akan menghasilkan marjin bunga yang besar sehingga berdampak pada tingginya Net Interest Margin.

Gambar 1.1 di bawah ini menggambarkan tingkat Net Interest Margin di negara-negara kawasan ASEAN. Apabila dilihat secara keseluruhan, Net Interest Margin di Indonesia merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan Net Interest Margin di negara kawasan ASEAN lainnya. Sementara, Net Interest Margin terendah ditunjukkan di negara Singapura dengan rata-rata Net Interest Margin yang tidak lebih dari 2%.

(6)

Sumber: BBVA Research, Bloomberg Data, BI, BSP, BoT, 2015

Perbandingan NIM di Indonesia apabila dibandingkan dengan negara lain memang cukup signifikan selama beberapa waktu terakhir. Dengan memperhatikan grafik di atas, dapat diketahui bahwa terjadi penurunan tajam pada NIM sejak tahun 2010 tetapi pada triwulan III tahun 2015 terjadi peningkatan yang sedang pada bank-bank ASEAN, terkecuali untuk bank-bank di negara Malaysia. NIM di Indonesia melambung tinggi apabila dibandingkan pada tahun 2014 sebesar 4.2% dengan Triwulan III tahun 2015 sebesar 5.3%. Peningkatan ini diikuti oleh Filipina, Vietnam, dan Singapura, sedangkan Malaysia masih mengalami penurunan NIM dari 2.6% pada tahun 2010. Selain itu, NIM di Thailand relatif stabil (konstan) pada 2.6% selama tiga tahun terakhir.

NIM yang tinggi tidak selalu berarti baik. Tingginya NIM di Indonesia menyebabkan pemerintah melalui Otoritas Jasa keuangan (OJK) untuk membuat

(7)

suatu kebijakan penurunan marjin bunga bersih untuk meningkatkan efisiensi agar mampu bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Untuk mendorong adanya efisiensi, OJK memberi insentif berupa pengurangan alokasi modal inti bagi bank yang dapat memenuhi NIM lebih rendah dari 4,5%.

Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini tentu berimbas terhadap kegiatan usaha yang dilakukan oleh bank. Bank merupakan lembaga intermediasi antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana (Puspitasari, 2014). Sebagai lembaga intermediasi, bank akan berusaha mengumpulkan dana-dana dari pihak yang kelebihan dana yang dapat berupa tabungan, deposito, giro dan bentuk simpanan lainnya dan menyalurkan dana-dana tersebut kepada pihak yang memerlukan dana dalam bentuk kredit.

Dengan adanya kebijakan dari Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank harus menemukan cara dan strategi yang tepat agar dapat memenuhi kebijakan yang telah ditetapkan. Untuk itu, bank perlu mengetahui secara rinci faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi NIM baik faktor internal bank maupun faktor eksternal bank sehingga bank dapat menurunkan NIM sampai level tertentu sesuai dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penelitian-penelitian tentang NIM telah dilakukan sebelumnya di berbagai negara dan menghasilkan hasil yang berbeda-beda. Khumaload et al. (2011) meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi NIM di Swaziland (Afrika Selatan) terdiri atas faktor internal dan eksternal dimana faktor internal menggunakan variabel bebas dari karakteristik bank yakni operating cost, modal, likuiditas, dan risiko kredit.

(8)

Sementara itu, dari faktor eksternal dibagi menjadi dua kategori yakni faktor eksternal yang berdasarkan karakteristik industri dan berdasarkan makroekonomi. Apabila diperhatikan dari segi karakteristik industri, digunakan variabel bebas Market Concentration (MC) namun tidak signifikan mempengaruhi NIM. Apabila diperhatikan dari segi makroekonomi digunakan variabel bebas yakni inflasi, volatilitas perubahan suku bunga dan tingkat bunga dari Afrika Selatan tetapi hanya inflasi yang signifikan berpengaruh terhadap NIM.

Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat et al. (2012) memberikan hasil bahwa faktor-faktor internal yang mempengaruhi NIM dapat dinilai dari segi likuiditas, rasio modal, tingkat efisiensi, risiko kredit dan ukuran dari suatu bank. Sementara itu, faktor eksternal yang signifikan adalah inflasi dan GDP growth.

Penelitian yang dilakukan oleh Ugur dan Hakan (2010) menggunakan variabel faktor internal bank yakni bank size, risk aversion, loan quality, liquidity risk, management quality, dan managemenet quality yang menyatakan bahwa dari sekian variabel faktor internal secara signifikan diketahui bahwa bank size, risk aversion, operating cost dan management quality berpengaruh terhadap NIM. Penelitian yang dilakukan oleh Rahman et al., (2015) yang meneliti pengaruh faktor internal bank (capital, risk, bank size, ownership structure, non-interset income to total asset, cost to income ratio, off-balance sheet items to total assets dan total loan to total asset), namun yang signifikan berpengaruh terhadap NIM adalah capital, cost to income ratio, off-balance sheet, non-interest income dan credit risk. Penelitiian yang dilakukan oleh Khumaload et al., (2011) menyatakan bahwa dari variabel faktor

(9)

internal yang diteliti (overhead cost, liquidity ratio, intermediation, equity, equity ratio dan losn loss provision), hanya overhead cost dan liquidity ratio yang berpengaruh secara signifikan terhadap NIM.

Penelitian yang dilakukan oleh Khumaload et al., (2011) dengan menggunakan faktor eksternal (tax, HHI, inflation dan exchange rate volatility) sebagai variabel bebas yang mempengaruhi NIM, menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang secara signifikan berpengaruh terhadap NIM. Penelitian oleh Azeez (2013) menggunakan faktor eksternal (market share, inflation, treasury bill rate dan GDP growth) sebagai variabel bebas yang mempengaruhi NIM, menyatakan bahwa keempat variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap NIM. Selanjutnya, Raharjo et al. (2014) dalam penelitiannya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi NIM menemukan bahwa variabel bebas bank size, profitabilitas, rasio modal, tingkat efisiensi, risiko kredit dan inflasi secara signifikan mempengaruhi NIM.

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi NIM, didapatkan konsistensi hasil dari beberapa variabel bebas yang mempengaruhi NIM baik yang berasal dari faktor internal bank dan faktor eksternal bank. Penelitian yang dilakukan oleh Ahmet & Hakan (2010), Saad & El-Moussawi (2012), Hamadi & Awdeh (2014), dan beberapa penelitian lain terkait faktor-faktor penentu NIM menemukan hasil bahwa rasio modal, tingkat efisiensi, bank size, likuiditas dan risiko kredit merupakan faktor internal utama yang mempengaruhi NIM. Sementara itu, faktor eksternal utama yang mempengaruhi NIM adalah GDP

(10)

growth dan Inflasi sesuai dengan penelitian Gul et al. (2011), Hamadi & Awdeh (2012), Azeez (2013), dan Plakalovic & Alihodzic (2015).

Berdasarkan penelitian sebelumnya, di dalam penelitian ini, faktor internal terdiri atas rasio modal, tingkat efisiensi, bank size, likuiditas dan risiko kredit sementara faktor eksternal terdiri atas GDP growth dan Inflasi. Meskipun demikian, penelitian tentang faktor-faktor penentu NIM memberikan hasil yang berbeda-beda sehingga menimbulkan adanya research gap antara penelitian satu dengan penelitian yang lainnya.

Modal bank merupakan perlindungan menghadapi penurunan nilai dari asetnya, yang mendorong bank menjadi insolven (mempunyai kewajiban yang lebih besar daripada asetnya, artinya bank dapat dilikuidasi) (Mishkin, 2008: 292). Menurut Iloska (2014) dan Ariyanto (2011) rasio modal yang diukur dengan Equity to Asset Ratio (EA) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap NIM. Equity to Asset ratio digunakan karena rasio ini mengukur seberapa jauh penurunan yang terjadi pada asset mampu ditutupi oleh modal yang dimiliki dan mengindikasikan perbandingan antara modal sendiri dengan jumlah aset. Pengaruh positif ini berarti bahwa semakin tinggi rasio modal maka NIM yang dihasilkan akan semakin tinggi karena peningkatan modal dapat meningkatkan rata-rata biaya modal dan, untuk mengimbangi biaya, bank akan meminta tingkat pembiayaan yang lebih tinggi untuk mengkompensasi biaya modal dengan cara meningkatkan suku bunga kredit sehingga dapat memperbesar spread bunga yang berimbas pada meningkatnya NIM.

(11)

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hamadi & Awdeh (2014), dimana dalam penelitiannya, rasio modal mempunyai pengaruh yang negatif terhadap NIM. Hal ini dikarenakan semakin baik bank terkapitalisasi, maka bank akan menawarkan tingkat bunga deposito yang tinggi untuk mendapatkan banyak dana dan menyalurkannya sebagai kredit karena kapitalisasi yang tinggi menyebabkan mereka untuk lebih banyak terlibat dalam aktivitas simpan pinjam. Dengan demikian, bank akan menurunkan suku bunga kredit untuk mendapatkan banyak peminjam sehingga pendapatan bunga bank akan menurun berdampak pada menurunnya NIM.

Likuiditas menunjukkan kemampuan membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat pada waktunya (Sartono, 2010: 116). Loan to Deposit Ratio digunakan sebagai tolok ukur likuiditas bank yang diukur melalui penyaluran kredit yang diberikan oleh bank yang didanai oleh dana pihak ketiga. Menurut Plakalovic & Alihodzic (2015), ada pengaruh yang positif dan signifikan antara likuiditas yang diukur dengan Loan to Deposit Ratio terhadap NIM. Hasil yang positif ini dapat dijelaskan karena dana likuid menghasilkan laba yang relatif lebih rendah dibanding laba yang didapatkan dari penyaluran kredit. Oleh karena itu, jika bank memelihara dana likuid secukupnya dan mengoptimalkan aktiva produktifnya untuk penyaluran kredit, maka NIM yang diperoleh menjadi meningkat. Namun, hasil ini berbanding terbalik dengan M.Khumaload (2011) dan Ariyanto (2011) yang menyatakan adanya pengaruh negatif dan signifikan antara Loan to Deposit Ratio terhadap NIM. Hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pengelolaan dan penyaluran kredit

(12)

bank di Indonesia, maka NIM bank akan semakin rendah karena skala ekonomi dan cakupan ekonomi dalam pengelolaan kredit akan semakin besar dan luas. Pengelolaan kredit yang semakin besar dan luas berdampak pada besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh bank sehingga marjin bank akan menurun dan berimbas pada menurunnya NIM.

Menurut Riyanto (2010:343), ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai ekuitas, nilai penjualan atau nilai total aktiva. Penelitian tentang pengaruh bank size terhadap NIM menghasilkan hasil yang berbeda-beda. Hidayat et al. (2012) menghasilkan kesimpulan bahwa bank size berpengaruh negatif terhadap NIM. Hal ini dikarenakan bank besar cenderung mendapat marjin yang rendah dan terlalu besarnya aset menyebabkan inefisiensi. Oleh karena itu, bank besar akan memperoleh NIM yang relatif lebih rendah. Sementara Gul et al. (2011) dan Raharjo et al. (2014) menemukan pengaruh yang positif dan signifikan antara size dengan NIM. Hal ini dijelaskan oleh Raharjo bahwa peningkatan aset bank dalam bentuk kredit ataupun aktiva lainnya akan meningkatkan risiko kredit sehingga bank akan memperbesar spread bunga yang akan meningkatkan NIM untuk mengkompensasi risiko kredit.

Risiko kredit merupakan risiko yang muncul oleh adanya kegagalan debitur atau counterparty dalam memenuhi kewajibannya (Idroes, 2012: 56). Rasio Non-Performing Loan (NPL) digunakan untuk mengukur seberapa banyak kredit bermasalah yang harus ditanggung bank sehingga bank dapat menyiapkan cadangan risiko kredit macet. Menurut Hamdi & Lestari (2015), ada pengaruh negatif dan

(13)

signifikan antara Credit Risk (risiko kredit) yang diukur dengan NPL terhadap NIM. Hasil negatif ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saad & El-Mossawi (2012). Hasil negatif ini dikarenakan semakin banyaknya kredit bermasalah maka pendapatan bunga bank akan semakin menurun sehingga margin bunga bersih bank akan turun. Sementara itu, Rahardjo (2014) menemukan adanya pengaruh positif antara NPL terhadap NIM. Hasil yang sama juga dikemukakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Ariyanto (2011). Pengaruh yang positif ini dikarenakan semakin banyaknya kredit yang bermasalah maka bank akan mengantisipasinya melalui cadangan risiko kredit macet dengan cara menaikkan suku bunga kredit yang berimbas pada naiknya NIM.

Tingkat efisiensi suatu bank mencerminkan seberapa efisien bank dalam mengelola biaya-biaya yang timbul dari kegiatan operasionalnya untuk mendapat laba. Rasio BOPO digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan bank dalam mengelola efisiensi biaya-biaya usahanya melalui perbandingan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Penelitian yang dilakukan oleh Dumicic & Tomislav (2013), memberikan hasil bahwa tingkat efisiensi yang diukur dengan Cost to Income Ratio (BOPO) berpengaruh positif terhadap NIM. Hasil yang positif mengindikasikan bahwa semakin tinggi rasio BOPO maka NIM akan mengalami peningkatan dikarenakan bank yang memiliki biaya operasional yang besar cenderung menetapkan marjin yang tinggi untuk mengkompensasi biaya. Sementara itu, Hadhek (2015) menyatakan hasil sebaliknya, yakni pengaruh negatif BOPO terhadap NIM. Adapun hasil penelitiannya ini didukung pula dari hasil penelitian oleh Ahmed & Hakan

(14)

(2010) dan Ariyanto (2011). Pengaruh negatif ini dapat dijelaskan bahwa bank yang memiliki rasio BOPO rendah cenderung efisien dalam menjalankan usahanya sehingga jumlah dana yang disalurkan akan lebih banyak. Semakin banyak jumlah dana yang dapat disalurkan oleh bank dalam bentuk kredit, maka pendapatan bunga bank akan meningkat sehingga memperbesar spread bunga yang berdampak pada peningkatan NIM.

Penelitian yang meneliti pengaruh kondisi makroekonomi sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi NIM juga memberikan hasil yang beragam. Gross Domestic Product (GDP) merupakan nilai keseluruhan barang, jasa, nilai tambah ekonomi dan jumlah pendapatan ekonomi dalam satu periode (Blanchard & Johnson, 2013: 42). Menurut Hamdi & Lestari (2015) dan Gul et al. (2011), terdapat pengaruh yang negatif dan signifikan antara GDP growth terhadap NIM. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang meningkat akan meningkatkan permintaan kredit. Tingginya permintaan kredit menyebabkan risiko kredit akan bertambah dan apabila bank tidak mampu mengantisipasi risiko kredit seperti risiko gagal bayar maka pendapatan bunga bank akan menurun sehingga marjin bank akan menurun dan NIM yang diterima oleh bank juga akan menurun. Hasil ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Plakalovic & Alihodzic (2015), dimana terdapat pengaruh yang positif dan signifikan terhadap NIM. Hal ini dijelaskan oleh Plakalovic & Alihodzic (2015) bahwa perkembangan aktivitas ekonomi yang baik seperti yang diungkapkan oleh pertumbuhan GDP yang positif, permintaan kredit

(15)

tinggi (karena sifat dari siklus bisnis) dan semakin sedikitnya kredit bermasalah maka marjin bank akan semakin tinggi sehingga berimbas terhadap meningkatkannya NIM. Inflasi merupakan kenaikan harga-harga secara berkelanjutan atau uatu keadaan yang ditandai dengan adanya kenaikan harga barang secara terus-menerus (Blanchard & Johnson, 2013: 42).

Penelitian tentang pengaruh inflasi terhadap NIM dilakukan oleh Ugur & Hakan (2010), Dumicic & Tomislav (2013), Raharjo et al. (2014), Hadhek (2015), dan Plakalovic & Alihodzic (2015), menemukan bahwa inflasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap NIM. Hal ini berarti kenaikan inflasi berpengaruh pada peningkatan NIM. Hal ini dikarenakan tingkat inflasi telah dapat diantisipasi pihak perbankan dengan baik sehingga bank bisa menyesuaikan tingkat suku bunga dengan tepat untuk menghasilkan keuntungan dari selisih bunga bank. Peningkatan spread bunga bank akan berimbas pada meningkatnya NIM. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Khumaload (2011) dan Saad & Moussawi (2012), menemukan hasil bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara inflasi terhadap NIM. Hal ini dikarenakan fluktuasi inflasi tidak mempengaruhi tingkat bunga deposito dan kredit yang berlaku pada saat itu.

Penelitian ini menggunakan bank umum yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai sampel penelitian karena NIM mempunyai peran penting dalam menentukan kesehatan suatu bank. Bank umum terdaftar pada BEI dapat

(16)

menjadi acuan berkaitan dengan keadaan perbankan melalui laporan keuangan yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Berdasarkan latar belakang tingginya NIM di kawasan ASEAN yang justru mengindikasikan lingkungan perbankan yang kurang mendukung serta tingginya derajat asimetri informasi, dan didukung pula oleh adanya fenomena research gap dari penelitian-penelitian sebelumnya, serta pentingnya peranan NIM dalam mengukur tingkat kesehatan suatu bank, maka analisis pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap net interest margin diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingginya net interest margin di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah adalah:

1) Apakah Equity to Asset (EA) berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM)?

2) Apakah Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM)?

3) Apakah Non-Performing Loan (NPL) berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM)?

(17)

5) Apakah rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM)?

6) Apakah Gross Domestic Product (GDP) growth berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM)?

7) Apakah Inflasi berpengaruh signifikan terhadap Net Interest Margin (NIM)? 1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitiannya adalah sebagai berikut:

1) Untuk menjelaskan pengaruh signifikan EA terhadap NIM 2) Untuk menjelaskan pengaruh signifikan LDR NIM

3) Untuk menjelaskan pengaruh signifikan NPL terhadap NIM 4) Untuk menjelaskan pengaruh signifikan bank size terhadap NIM 5) Untuk menjelaskan pengaruh signifikan BOPO terhadap NIM 6) Untuk menjelaskan pengaruh signifikan GDP growth terhadap NIM 7) Untuk menjelaskan pengaruh signifikan Inflasi terhadap NIM 1.4 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka dapat kegunaan penelitian adalah sebagai berikut:

(18)

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan rasio keuangan dan profitabilitas pada perusahaan perbankan.

2) Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu membantu pihak perbankan dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi Net Interest Margin sehingga dapat menentukan tindakan yang tepat untuk menurunkan nilai NIM agar sesuai dengan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, sehingga dengan NIM yang sesuai, bank umum Indonesia akan dapat berkompetisi dengan bank-bank lain di kawasan ASEAN dalam rangka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk investor, diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu keputusan investasi pada bank-bank umum di Indonesia dengan memperhatikan tingkat profitabilitas suatu bank.

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran mengenai penelitian ini, maka penyajiannya disusun dalam bebrapa bab secara sistematis sehingga antara bab yang satu dengn lainnya mempunyai hubungan yang erat. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut.

Bab I : PENDAHULUAN

Merupakan bab yang menguraikan tentang latar belakang masalah yang diikuti rumusan pokok permasalahan yang

(19)

diteliti, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Merupakan bab yang berisikan tentang teori-teori yang berkaitan dengan pembahan pada peneliian ini serta menguraikan beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini dan hipotesis penelitian.

Bab III : METODE PENELITIAN

Merupakan bab yang berisikan metode penelitian yang meliputi desain penelitian, ruang lingkup wilayah penelitian, objek penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional, jenis dan sumber data, metode penentuan sampel, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.

Bab IV : DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Merupakan bab yang berisikan gambaran umum wilayah penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan hasil penelitian. Bab V : SIMPULAN DAN SARAN

Merupakan bab penutup yang memuat simpulan dari hasil pembahasan penelitian dan saran-saran.

(20)

Gambar

Gambar 1.1 Perbandingan Net Interest Margin  di Kawasan ASEAN

Referensi

Dokumen terkait

Pilihlah dua jawaban yang saudara anggap benar dengan cara menghitamkan dua huruf a, b, c atau d pada lembar jawaban dari kalimat pernyataan dibawah inia. Diantara Buku Pembantu

Hal ini ditunjukkan dari hasil validasi ahli oleh 2 orang dosen kimia terhadap modul minyak bumi dengan rata-rata persentase 80% yang berarti layak, validasi oleh 1 orang

Kenaikan harga (inflasi) tidak lain adalah suatu “pajak” atas saldo kas yang dipegang masyarakat, karena uang makin tidak berharga. Dan orang-orang berusaha menghindari

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Selain dari beberapa karya di atas, Fazlur Rahman pernah menulis artikel yang berjudul “Iqbal in Modern Muslim Thoght” Rahman mencoba melakukan survei terhadap

Prioritas tenaga kerja yang akan dilibatkan adalah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), baik laki-laki maupun perempuan. Kegiatan pendaftaran tenaga kerja

a.Untuk bisa mencapai tujuan input dan menghasilkan output pada proses ini sudah dilakukan tetapi terkadang masih belum adanya dokumentasi sehingga proses ini masih belum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan dan kekuatan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam proses pembuktian di persidangan Pengadilan Negeri Klaten