• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN ANIMASI 3D "CUMA MIMPI" MENGGUNAKAN PEMODELAN HIGH POLY PADA ZBRUSH 3.5R3 DAN 3DS MAX 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANCANGAN ANIMASI 3D "CUMA MIMPI" MENGGUNAKAN PEMODELAN HIGH POLY PADA ZBRUSH 3.5R3 DAN 3DS MAX 2009"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Naskah Publikasi

diajukan oleh Bagus Galih Satria

06.11.1090

kepada

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM

YOGYAKARTA

(2)
(3)

THE MAKING OF 3D ANIMATION "CUMA MIMPI" BY USING HIGH POLY MODELING IN ZBRUSH 3.5R3 AND 3DS MAX 2009

PERANCANGAN ANIMASI 3D "CUMA MIMPI" MENGGUNAKAN PEMODELAN HIGH POLY PADA ZBRUSH 3.5R3 DAN 3DS MAX 2009

Bagus Galih Satria Jurusan Teknik Informatika STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

ABSTRACT

The development of computer technology provides a huge change in modeling 3D animation, it's proved by the emergence of 3D modeling software that provides easiness for 3D artists in the work. Modeling is a core part of the animation film making industry and the most time-consuming, it requires the a method to accelerate the process of the modeling stage, which would certainly save on production costs, because if the modeling process just takes a long time, then the production process of another party will come inhibited.

Right now the process of modeling a digital sculpture or so-called digital sculpting is very popular. ZBrush is a digital sculpting software that has revolutionized the world of 3D industry. With millions of polygon modeling capabilities or so-called "High Poly Modeling" which will certainly be very difficult to handle if just using 3D software like 3DS Max, Maya, and others because modeling millions of poly sometimes cause lag on those softwares.

This project has a concept in 3D animation technique that is High Poly modeling technique. This technique using an object with a large ammount of Polys for creating a complex detail in 3D object. This technique is done in Zbrush which is specifically designed for handling an object with large ammount of polys and also integrate it with 3Ds Max for the animation, and utilzing the advantages of each software to complete the animation entitled "Cuma Mimpi".

(4)

1. Pendahuluan

Saat ini proses modeling dengan seni pahatan digital atau biasa disebut digital

sculpting sangat populer. Zbrush, merupakan salah satu software digital sculpting yang

telah merevolusi industri 3D dunia. Dengan kemampuan pemodelan jutaan polygon atau biasa disebut "High Poly Modeling" yang tentunya akan sangat sulit ditangani jika hanya menggunakan software 3D seperti 3Ds Max, Maya, dan lainnya karena pemodelan jutaan poly terkadang menyebabkan lag pada software-software tersebut.

Dengan kemampuan tersebut tentunya akan memberikan kebebasan dan kemudahan pada seniman-seniman 3D dalam mengembangkan imajinasinya. Hanya saja untuk saat ini pada Zbrush belum terdapat fitur penganimasian sehingga perlunya untuk mengkombinasikannya dengan software yang memiliki fitur penganimasian dalam pembuatan film animasi.

Berkaitan dengan itulah penulis tertarik untuk membuat film animasi 3 dimensi dengan mengintegrasikan Zbrush dan 3Ds Max dengan harapan mendapat hasil yang lebih maksimal. Maka dalam pembuatan skripsi ini penulis mengambil judul "Perancangan animasi 3D "Cuma Mimpi" Menggunakan Pemodelan High Poly pada Zbrush 3.5R3 dan 3Ds Max 2009".

2. Landasan Teori

2.1 Perkembangan Film Animasi

Perkembangan teknik film animasi yang terpenting, yaitu di sekitar tahun 1930-an, dimana muncul film animasi bersuara yang dirintis oleh Walt Disney dari Amerika Serikat, melalui film "Mickey Mouse", "Donald Duck", dan"Silly Symphony" yang dibuat selama tahun 1928 sampai dengan tahun 1940. Pada tahun 1931 Disney membuat film animasi warna pertama dalam filmnya "Flower and Trees", dan film animasi kartun panjang pertama dibuat oleh Disney pada tahun 1938, yaitu "Snow White and Seven

Dwarfs".1

1

(5)

2.2 Jenis Teknik Film Animasi

Berdasarkan materi atau bahan dasar objek animasi yang dipakai, secara umum jenis teknik film animasi digolongkan dua bagian besar, film animasi dwi-matra (flat

animation) dan film animasi tri-matra (object animation).2

Dalam Setiap pemodelan 3D semakin banyak poligon dalam sebuah model, semakin detail objek itu jadinya. Akan tetapi, jumlah poligon lebih besar akan membuat waktu render menjadi lebih lama. Disinilah pemodelan dengan low poly berasal. Dalam konsol game semakin sedikit jumlah poligon dalam sebuah adegan maka akan semakin cepat game tersebut dimainkan, game cendrung menggunakan low poly model untuk memaksimalkan efek dalam game tanpa mengorbankan siklus komputasi yang berharga.

Sekarang ini dalam pembuatan animasi 3 dimensi lebih banyak dibuat dengan menggunakan komputer seiring dengan majunya teknologi informasi. Dalam pembuatannya terdapat banyak sekali teknik yang digunakan dalam pemodelan animasi 3 dimensi seperti polygonal modeling, NURBS modeling, splines & patches modeling, dan lain-lain.

Dalam penulisan skripsi ini penulis membuat film animasi dengan menggunakan teknik yang penulis sebut sebagai high poly modeling, akan tetapi sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai hal tersebut akan lebih baik jika menjelaskan terlebih dahulu mengenai low poly modeling.

3

2.3 Penggunaan Film Animasi

Film animasi sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari manusia yang merupakan bentuk perantara audio visual dalam menyebarkan pesan atau gagasan yang ingin disampaikan, sebagai contoh film animasi bisa digunakan sebagai tujuan komersial dalam televisi sebagai sisipan diantara acara program televisi, lalu film animasi juga bisa digunakan dalam film cerita sebagai film panjang ataupun pendek dan trailer untuk iklan pada bioskop dan televisi.

Tidak hanya itu saja film animasi juga sering digunakan sebagai pelayanan pemerintah seperti film propoganda, penerangan, dan pendidikan hingga untuk iklan pengenalan produk suatu perusahaan sehingga bisa mempengaruhi pembeli yang melihat iklan tersebut.

2

Ibid 12

3

Derakhshani Dariush, Munn Randi L., dan McFarland Jon, 2007, Introducing 3ds MAX 9 3D for Beginners, Wiley Publishing inc., p.108

(6)

2.4 Proses Pembuatan Film Animasi

Dalam pembuatan film animasi terdapat beberapa proses dan tahapan yang harus dilakukan seperti proses-proses pra-produksi, produksi hingga sampai ke proses pasca produksi.

3. Perancangan

3.1 Pra Produksi

Untuk membuat sebuah animasi 3D baik dengan durasi waktu yang panjang maupun pendek, secara garis besar perancangannya sama saja. Seperti yang sudah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya, proses ini disebut dengan pra produksi. Karena tahapan ini belum mencapai proses teknis pemodelan 3D dan penganimasiannya di komputer. Ada beberapa hal yang harus disiapkan agar perancangan lebih terstruktur dan tentunya diharapkan memudahkan proses pengerjaan, yaitu menentukan ide cerita, tema, logline, sinopsis, diagram scene, perancangan karakter dan penokohan, properti latar dan tempat, dan storyboard.

3.2 Strategi Teknik dan Kebutuhan Perangkat

Dalam pembuatan animasi 3 dimensi teknik yang digunakan dalam pemodelan sangatlah penting, karena bisa menentukan cepat atau lambatnya suatu proses pembuatan animasi. Saat ini sudah banyak sekali teknik-teknik pemodelan 3 dimensi baik yang sudah banyak dikenal seperti polygonal dan NURBS modeling atau teknik-teknik lain yang sampai saat ini belum banyak diketahui dan belum disempurnakan.

Teknik yang digunakan dalam pembuatan model 3 dimensi setiap orang bisa berbeda-beda tergantung dari kecocokan masing-masing karena setiap teknik pemodelan tentunya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Berikut ini adalah alasan mengapa penulis tidak hanya memilih teknik modeling yang sudah ada seperti polygonal, NURBS, dan beberapa teknik lainnya dalam pembuatan animasi ini

Penambahan detail pada smooth objek bisa menjadi sulit pada polygonal modeling, pada alur kerja polygonal modeling para modeler bekerja pada versi low-poly dan men-smooth-nya atau subdivide untuk melihat hasil akhirnya, ketika model di

smooth posisi vertex-vertex di interpolasi untuk menghasilkan bentuk yang lebih halus.

Masalahnya adalah dimanapun detail ditambahkan pada model, versi yang halus akan muncul pada area flat tersebut yang dimana akan menyulitkan modeler untuk membuat model dengan presisi tinggi.

(7)

Dalam penulisan ini teknik yang digunakan adalah high poly modeling karena menurut penulis teknik inilah yang paling cocok dengan penulis, dalam hal ini tentu saja penulis memiliki beberapa pertimbangan mengapa memilih teknik tersebut, yaitu :

1. Pemberian detail pada objek menjadi lebih cepat dan mudah karena proses pendetailan langsung dilakukan pada permukaan objek 3 dimensi.

2. Topologi objek menjadi lebih halus.

3. Memungkinkan untuk pemodelan tekstur yang lebih kompleks

Walaupun dengan beberapa kelebihan seperti diatas setiap teknik pemodelan tentunya juga memiliki beberapa kekurangan, dan dalam teknik inipun juga terdapat beberapa kekurangan seperti besarnya jumlah poligon yang digunakan sehingga dapat menyebabkan lag pada beberapa software animasi, namun kekurangan ini bisa sedikit ditutupi karena dalam hal ini penulis menggunakan software pemodelan Zbrush yang memang khusus dirancang untuk pemodelan dengan poligon yang besar.

4. Pembahasan

4.1 Penerapan Teknik

Seperti telah di bahas pada bab sebelumnya, mengenai teknik pemodelan high

poly, pada bab ini akan dijabarkan penggunaannya dalam proses produksi beserta

dengan aplikasi perangkat lunak yang digunakan dalam pembuatan animasi 3 dimensi ini.

pada pembuatan anmasi 3 dimensi "Cuma Mimpi" ini, teknik pemodelan high poly digunakan dalam perancangan model karakter yang akan ditampilkan dalam adegan-adegan dalam film animasi ini, teknik ini digunakan untuk memberikan detail dan tekstur pada objek 3 dimensi. Dengan alasan pendetailan dan penteksturan akan lebih mudah dilakukan jika objek 3 dimensi dalam kondisi high poly atau memiliki banyak poligon sehingga dapat menghasilkan bentuk detail yang lebih kompleks.

4.2 Produksi

Berdasarkan bab sebelumnya, berikut ini adalah beberapa proses yang termasuk dalam produksi, yaitu modeling, UV Mapping, Penteksturan, Pemberian Material, Rigging/Skinning, Camera & lighting, Rendering.

Modeling merupakan tahap awal dalam proses produksi. Sebelum menggunakan pemodelan high poly pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa dibutuhkan

(8)

basemesh terlebih dahulu, dalam software 3 dimensi yang digunakan seperti Zbrush

dan 3D studio Max memiliki tools-tools tersendiri dalam pembuatan objek basemesh seperti dengan menggunakan primitive object pada 3D max dan Zsphere pada Zbrush.

Karena objek menggunakan material dengan 2D map penting bahwa objek memiliki informasi pemetaan UV, 3Ds max dan Zbrush mempunyai tool-tool sendiri untuk menangani UV map, yaitu dengan menggunakan modifer unwrap UVW pada 3Ds Max dan AUV tiles pada Zbrush.

4.3 Pasca Produksi

Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, pada proses ini adalah proses lanjutan dari produksi, fase ini merupakan tahap terakhir dalam pembuatan film animasi ini. Di tahap ini, akan dijelaskan bagaimana mengimpor dan menggabungkan potongan-potongan scene yang sudah dirender pada tahap produksi ke software video editing yaitu After effect CS3.

Lalu fase terakhir dalam proses pembuatan animasi yaitu finishimh, pada tahap ini adalah tahap publikasi atau export file kedalam sebuah file video. Hal ini bertujuan agar animasi dapat diputar sebagai media video digital, tanpa kendala perbedaan sistem operasi maupun keterbatasan suatu media video player untuk memainkan film animasi tersebut. Dibawah ini adalah langkah export animasi kedalam sebuah video.

5. Kesimpulan

Dari permasalahan dan pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yakni:

1. Dalam perancangan sebuah film animasi 3 dimensi ini, ada 3(tiga) tahapan besar yang harus dilakukan, yaitu:

• Pra-produksi, yang meliputi ide, tema, logline, dan lainnya • Produksi yang meliputi modeling, mapping, texturing, dan lainnya • Pasca produksi yang meliputi compositing, video editing dan video

compositing codec.

2. Teknik pemodelan high poly merupakan teknik yang digunakan untuk membuat detail yang lebih kompleks pada objek 3D yang dimungkinkan karena jumlah poly yang digunakan sangat besar.

3. Pemodelan high poly dapat menyebabkan lag atau kelambatan pada viewport di beberapa software seperti 3ds max yang dapat menghambat proses pengerjaan karena besarnya jumlah poly yang digunakan pada suatu objek 3D, tapi jika pemodelan dilakukan pada Zbrush dapat mengatasi

(9)

masalah tersebut, karena Zbrush memiliki kemampuan proses yang sangat tinggi memungkinkan zbrush meng-handle objek dengan jumlah poly yang besar.

4. Pengeditan objek high poly juga akan sangat rumit jika hanya dilakukan pada 3ds max karena pengeditan pada 3ds max mengharuskan mengedit vertex, edge, dan polygon satu persatu untuk mendapatkan detail yang diinginkan dan hal tersebut akan sangat memakan waktu karena objek high poly tentunya memiliki jumlah vertex, edge, dan polygon yang banyak, sedangkan pengeditan pada Zbrush berbasis 3D sculpting yang memungkinkan untuk memahat detail langsung pada permukaan objek 3D. 5. Penggunaan tekstur map seperti normal dan displacement map yang

dihasilkan dari objek high poly memungkinkan objek low poly untuk mendapatkan detail seperti layaknya objek high poly dan juga karena

menggunakan objek low poly saat penganimasiaan tidak akan

menyebabkan lag pada 3ds max.

Daftar Pustaka

Derakhshani Dariush, Munn Randi L., dan McFarland Jon. 2007, Introducing 3ds MAX 9

3D for Beginners, Wiley Publishing inc.

G.Djalle, Zaharuddin. 2007, The Making of 3D Animation Movie using 3DStudioMax. Informatika.

McGregor, Nicolas. What is 3D Polygon Modeling?, http://www.suite101.com, diakses tanggal 4 januari 2011.

Rogers, David F., 2001, An Introduction to NURBS With Historical Perpective, Academic Press.

Suyanto,Ariawan. 2006. Merancang Film Kartun Kelas Dunia. Yogyakarta:Andi

Warner, Steve. Intro to LightWave Modeling, http://www.stevewarner.com, diakses tanggal 4 januari 2011.

Referensi

Dokumen terkait