KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga Rencana Strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Tahun 2016-2019 edisi revisi telah dapat diselesaikan.
Penyusunan Rencana Strategis Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Tanaman dilakukan sebagai langkah
penegasan atas terjadinya perubahan struktur di lingkungan Kementerian Pertanian dan perubahan isu-isu strategis terkini. Pemenuhan kebutuhan nasional berbasis produksi nasional dan
mengutamakan pelaku usaha nasional merupakan roh
penyusunan rencana strategis dimaksud. Kekuatan kemandirian harus didorong dengan memperhatikan kebijakan dan peraturan yang berlaku serta kondisi spesifik lokasi.
Fokus pengelolaan isu strategis oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan antara lain kehilangan hasil produksi, peningkatan dan jaminan mutu, nilai tambah, dan penguatan akses pasar dan logistik nasional serta meningkatnya minat investasi baik dalam negeri maupun luar negeri. Rencana Strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Tahun 2016-2019 edisi revisi ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh semua pihak.
Jakarta, Desember 2016
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan
Tri Agustin Satriani NIP.195908271983032010
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI . ... ii
DAFTAR GAMBAR... iii
DAFTAR TABEL... iv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Kondisi Umum Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan ... 7
1.3. Potensi, Permasalahan, dan Tantangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan ... 27
BAB II. VISI, MISI, DAN TUJUAN ... 35
2.1. Visi ... 35
2.2. Misi ... 38
2.3. Tujuan ... 39
2.4. Sasaran Strategis ... 40
2.5. Analisa Risiko ... 41
BAB III. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGIS ... 43
3.1. Arah Kebijakan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan ... 43
3.2. Strategi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Tanaman Pangan ... 56
3.3. Langkah Operasional Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan ... 57
3.4. Program dan Kegiatan ... 59
3.5. Kerangka Regulasi ... 64
3.5. Kerangka Kelembagaan ... 64
BAB IV. TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN 4.1. Target Kinerja ... 66
4.2. Kerangka Pendanaan ... 67
BAB V. PENUTUP ... 68
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 1. Struktur Organisasi Ditjen Tanaman Pangan dan
Direktorat PPHTP... 4
2. Alur Proses Pemenuhan Kebutuhan……….. 8
3. Hubungan Kebutuhan dan Karakteristik
Pengembangan Daya Saing……… 11
4. Hubungan Indikator Keberhasilan Direktorat PPHTP
dalam Sistem Produksi………. 43
5. Penguatan Kebijakan Pemenuhan Pangan
Nasional……….. 45
6. Penerapan Proses Produksi dan Pemasaran
yang Baik……… 47
7. Alur Kebijakan Pengembangan Sarana
Pascapanen……… 49
8. Struktur Arsitektur dan Informasi Kinerja Ditjen
Tanaman Pangan……….. 60
9. Proses Pencapaian Kinerja Lingkup Direktorat
PPHTP………. 63
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman 1. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman
Pangan dan Direktorat PPHTP ... 6 2. Alokasi Sarana Pascapanen Melalui APBN
Tahun 2011-2015 ... 13 3. Alokasi Sarana Unit Pengilingan Padi Melalui APBN
Tahun 2011-2015 ... 14 4. Jumlah Pengilingan Padi di Indonesia... 15 5. Alokasi Sarana Unit Pengolahan Tepung Melalui
APBN Tahun 2010-2015... 17
6. Alokasi Sarana Unit Pengolahan Hasil Jagung
Melalui APBN Tahun 2012-2015... 18 7. Alokasi Sarana Unit Pengolahan Hasil Kedelai
Melalui APBN Tahun 2012-2015... 19 8. Jumlah Revisi SNI Tahun 2010-2015 ... 21 9. Jumlah Sertifikasi Organik Tanaman Pangan Tahun
2010-2015 ... 22 10. Kontribusi Penurunan Susut Hasil dari Bantuan Sarana
Pascapanen Tahun 2011-2015 23
11. Neraca Perdagangan Tanaman Pangan
12. Tahun 2010-2015... 25 13. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan Tahun
2010-2014... 27 14. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Direktorat
PPHTP... 41 15. Sasaran Produksi Komoditi Utama Tanaman Pangan
Tahun 2015-2019... 46
15. Jenis Kegiatan Berdasarkan Unit Kerja Eselon II
Lingkup Ditjen Tanaman Pangan... 61 16. Kerangka Kegiatan dan Pendanaan Direktorat PPHTP
Beberapa tantangan yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini antara lain: 1) belum optimalnya produktivitas dan nilai tambah produk pertanian di beberapa sentra produksi serta masih tingginya tingkat konversi lahan yang sulit dikendalikan; 2) kurangnya perbaikan dan pembangunan infrastruktur lahan dan air; 3) masih kurangnya akses pembiayaan pertanian dengan suku bunga rendah bagi
Millenium Development Goals (MDG’s) yang mencakup angka kemiskinan, pengangguran, dan rawan pangan; 5) kurangnya kebijakan yang proporsional untuk produk-produk pertanian khusus; 6) lemahnya persaingan global dalam berbagai dimensi; 7) menurunnya citra petani dan pertanian serta pentingnya
pertanian yang inovatif; dan 10) perlunya kebijakan insentif yang tepat agar sektor pertanian menjadi bidang usaha yang menarik dan menjanjikan.
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanaman pangan
merupakan salah satu subsektor pertanian yang penting
bagi pembangunan
pertanian dan ekonomi
Indonesia. Berbagai
manfaat subsektor tanaman
pangan bagi Indonesia
antara lain sebagai sumber
pangan dan bahan
kebutuhan lainnya, sumber pendapatan dan kesempatan kerja, serta sumber devisa
bagi negara Indonesia.
Dalam konteks ini,
pengoptimalan manfaat
subsektor tanaman pangan
perlu dirumuskan dalam
koridor perencanaan
pembangunan yang memperhatikan karakteristik, kondisi saat ini, dan perubahan yang terjadi atas sumber daya lahan, sumber
daya manusia, ilmu dan teknologi, kelembagaan dan sosial, serta dinamika lingkungan strategis lainnya.
Berbagai perubahan saat ini seperti lahan yang semakin terbatas dan makin bersaing, teknologi yang berkembang sangat dinamis, pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan, perubahan iklim yang semakin tidak terprediksi serta perubahan perilaku konsumen yang terus berkembang, harus mendorong pembangunan tanaman pangan ditangani secara tepat. Keberhasilan hal ini dilandasi
dengan penguatan
penyediaan (produksi)
bersumber dari dalam negeri. Tantangan
pembangunan subsektor
tanaman pangan Indonesia
saat ini dan dimasa
mendatang adalah mendorong produksi dalam negeri yang
berdaya saing dan
berkelanjutan serta berpihak pada kekuatan pelaku usaha nasional. Dinamika glolablisasi perdagangan akan mendorong
penciptaan produk yang berdaya saing dan pola penguasaan pasar
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman mengamanatkan hal-hal sebagai berikut:
a. Sistem budidaya tanaman adalah sistem
pengembangan dan pemanfaatan
sumberdaya alam nabati melalui upaya manusia yang dengan modal, teknologi, dan sumberdaya lainnya menghasilkan
barang guna memenuhi kebutuhan
manusia secara lebih baik.
b. Sistem budidaya tanaman sebagai bagian
pertanian berasaskan manfaat, lestari, dan berkelanjutan.
c. Sistem budidaya tanaman bertujuan:
- meningkatkan dan memperluas
penganekaragaman hasil tanaman, guna memenuhi kebutuhan
- meningkatkan pendapatan dan taraf
hidup petani
- mendorong perluasan dan
pemerataan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja.
d. Ruang lingkup sistem budidaya tanaman
meliputi proses kegiatan produksi sampai dengan pascapanen.
e. Pascapanen meliputi kegiatan
pembersihan, pengupasan, sortasi,
pengawetan, pengemasan, penyimpanan, standardisasi mutu, dan transportasi hasil produksi budidaya tanaman
f. Kegiatan pascapanen ditujukan untuk
meningkatkan mutu, menekan tingkat
kehilangan dan/atau kerusakan,
memperpanjang daya simpan, dan
meningkatkan daya guna serta nilai tambah hasil budidaya tanaman.
secara signifikan. Perusahaan asing melalui model korporasi yang memiliki jangkauan luas atau sering disebut dengan multinational
corporation menjadi kekuatan tersendiri bagi pelaku asing. Dalam
hal ini, upaya-upaya yang harus dilakukan harus mampu menjawab tantangan diatas.
Produksi yang berdaya saing dan keberpihakan kepada pelaku usaha nasional menjadi kewajiban bagi negara (pemerintah, pelaku usaha, dan stakeholder lainnya) sehingga tercipta kekuatan nasional. Pemerintah memiliki peranan yang sangat kuat untuk memastikan kedua hal tersebut dapat terwujud. Tata kelola kedua butir diatas memerlukan proses perencanaan strategis sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam konteks ini, perencanaan strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan sangat terkait dengan perencanaan Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian, tanggal 22 April 2015 dan ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, tanggal 3 Agustus 2015 menimbulkan terjadinya perubahan struktur organisasi di lingkungan Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengalami perubahan struktur organisasi serta tugas dan fungsi seperti terlihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Struktur Organisasi Ditjen Tanaman Pangan dan Direktorat PPHTP
Dalam hal ini, tugas Direktorat Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Tanaman Pangan yaitu melaksanakan penyiapan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan dengan fungsi sebagai berikut:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
Balai Besar PPMBTPH Balai Besar POPT Direktur Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Perbenihan TP Direktorat Serealia Direktoran Aneka Kacang dan Umbi Direktorat Perlindungan TP Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil TP Balai PMPT Sekretariat Ditjen TP
c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di
bidang peningkatan pascapanen, pengolahan,
standardisasi dan penerapan standar mutu serta
pemasaran dan investasi tanaman pangan.
d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
e. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
f. Koordinasi perumusan dan harmonisasi standar, serta
penerapan standar mutu di bidang tanaman pangan.
g. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan.
Tabel 1. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat PPHTP
Dokumen Rencana Strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Tahun 2015-2019 harus mengalami revisi karena dokumen Rencana Strategis Tahun 2015 berada pada unit kerja Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan. Proses revisi ini perlu dilakukan sebagai konsekuensi atas perubahan unit kerja di lingkungan Kementerian Pertanian, yang berlaku mulai tahun 2016
Tugas dan
Fungsi Ditjen Tanaman Pangan Direktorat PPHTP Tugas
Menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya
Melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan.
1 Perumusan kebijakan di bidang penyediaan perbenihan, penyelenggaraan budi daya, peningkatan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil produksi padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya, serta pengendalian hama penyakit dan perlindungan tanaman pangan.
Penyiapan perumusan kebijakan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
2 Pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan perbenihan, penyelenggaraan budi daya, peningkatan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil produksi padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya, serta pengendalian hama penyakit dan perlindungan tanaman pangan.
Pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
3 Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyediaan perbenihan, penyelenggaraan budi daya, peningkatan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil produksi padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya, serta pengendalian hama penyakit dan perlindungan tanaman pangan.
Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
4 Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penyediaan perbenihan, penyelenggaraan budi daya, peningkatan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil produksi padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya, serta pengendalian hama penyakit dan perlindungan tanaman pangan.
Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
5 Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang penyediaan perbenihan, penyelenggaraan budi daya, peningkatan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil produksi padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya, serta pengendalian hama penyakit dan perlindungan tanaman pangan.
Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi dan penerapan standar mutu serta pemasaran dan investasi tanaman pangan.
6 Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
Koordinasi perumusan dan harmonisasi standar, serta penerapan standar mutu di bidang tanaman pangan.
7 Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan.
dan sebagai konsekuensi tindak lanjut dari perubahan renstra Kementan dan renstra Ditjen Tanaman Pangan.
Dasar hukum operasional pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan dalam menyusun rencana strategis antara lain:
a. Peraturan Menteri Pertanian Nomor
09/Permentan/RC.020/3/2016 tentang Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2015-2019 (edisi revisi).
b. Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Nomor
59.a/HK.310/C/6/2016 tentang Rencana Strategis Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2015-2019 (edisi revisi).
1.2. Kondisi Umum Pembangunan Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Tanaman Pangan
Pembangunan tanaman pangan merupakan suatu
kesatuan proses untuk menghasilkan produksi sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. Pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan tidak terlepas dari proses produksi. Berbagai variabel penting yang perlu diketahui sebagai indikator keberhasilan kinerja proses pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan menjadi sangat penting meliputi indikator input (masukan), output (keluaran), outcome (hasil),
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan memiliki 4 subdirektorat yaitu:
1) pascapanen
2) pengolahan hasil
3) standardisasi dan mutu
4) pemasaran dan investasi.
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan baru efektif pada tahun 2016, dimana unit kerja ini merupakan gabungan fungsi dari Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan dengan eks Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Proses ini merupakan suatu upaya
penguatan penanganan atau pengelolaan yang lebih
komprehensif.
Mengacu pada gambar diatas, beberapa poin yang perlu dipahami sebagai berikut:
a) kinerja kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil tanaman
pangan sangat dipengaruhi oleh kondisi proses
sebelumnya.
b) arah proses produksi bermuara pemenuhan kebutuhan
manusia.
c) risiko yang dihadapi ketika produksi tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri adalah terbukanya atau meningkatnya impor.
d) proses pencapaian penyediaan kebutuhan (produksi)
sangat ditentukan kemampuan dasar ketersediaan lahan, inovasi dan adopsi teknologi, dan konsistensi investasi secara berkelanjutan. Adopsi teknologi dimaksud termasuk penanganan pascapanen dan pengolahan hasil seperti sarana panen, sarana pengeringan, dan sarana prosesing lainnya.
Dalam konteks penyediaan kebutuhan manusia tersebut, perlu diketahui bahwa secara garis besar jenis kebutuhan manusia dapat dikategorikan menjadi 4 yaitu:
1) pangan, 2) pakan, 3) energi, dan
4) bahan baku industri lainnya.
Kebutuhan ini harus
terindentifikasi dengan baik
sehingga rancangan produksi
dapat diproyeksikan pada
wilayah-wilayah yang ada.
Kemampuan produksi dalam
negeri menjadi basis penting dalam mewujudkan ketahanan pangan, kemandirian, maupun kedaulatan pangan.
Secara tematik, prioritas pemenuhan kebutuhan yang sangat strategis adalah pemenuhan kebutuhan pangan. Pada akhirnya, persyaratan pemenuhan kebutuhan tersebut (produk) harus memiliki kekuatan kompetisi atau daya saing. Kekuatan daya saing itu pada produksi harus dilihat secara menyeluruh dari berbagai aspek antara lain: skala usaha, keunikan sumber daya, efisiensi biaya, jumlah produksi, mutu produk, nilai tambah, harga, dan kontiniunitas.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa:
1. Pangan merupakan kebutuhan dasar
manusia yang paling utama dan
pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.
2. Negara berkewajiban mewujudkan
ketersediaan, keterjangkauan, dan
pemenuhan konsumsi Pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik. 3. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal
dari sumber hayati produk pertanian,
perkebunan, kehutanan, perikanan,
peternakan, perairan, dan air, baik yang
diolah maupun tidak diolah yang
diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan
dalam proses penyiapan, pengolahan,
dan/atau pembuatan makanan atau
minuman.
4. PenyelenggaraanPangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan Kedaulatan
Pangan, Kemandirian Pangan, dan
Gambar 3. Hubungan Kebutuhan dan Karakteristik Pengembangan Daya Saing
Perspektif ini harus menjelaskan bahwa harga tidak sekedar dipengaruhi oleh jumlah produksi tetapi aspek lain terutama mutu. Kadang kali, suatu daerah memiliki siklus produksi pada tahun tertentu tetapi tidak dapat menjamin kontiniunitas kepada pengguna tertentu sehingga ketika panen terjadi harga dapat ditawar dengan murah oleh pengguna.
Dalam hal ini, beberapa data kondisi yang dapat dijadikan sebagai dasar perencanaan dimasa mendatang (termasuk data dari eks Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) pada kurun waktu 2010-2015 sebagai gambaran kinerja antara lain:
a. Data Mikro meliputi:
1) Penyebaran sarana pascapanen tanaman pangan
Dalam rangka meningkatkan produksi, berbagai fasilitasi diberikan oleh pemerintah mulai dari sarana pra panen sampai pascapanen. Hal ini sebagai langkah untuk mengoptimalkan produksi yang dapat dicapai. Sarana pascapanen sangat diperlukan untuk menekan susut hasil pada saat panen sampai penyimpanan dan juga menjaga agar hasil produksi tidak tercecer secara signifikan sampai ke konsumen dengan tetap memastikan kualitas produk yang sesuai aturan standar.
Tabel 2. Alokasi Sarana Pascapanen Melalui APBN Tahun 2011-2015 2011 2012 2013 2014 2015 2011 - 2015 1 ACEH 20 29 28 5 208 290 2 SUMUT 22 36 32 15 293 398 3 SUMBAR 19 24 19 26 140 228 4 RIAU 11 9 7 - 73 100 5 JAMBI 10 8 16 30 194 258 6 SUMSEL 51 92 15 9 283 450 7 BENGKULU 8 5 6 - 138 157 8 LAMPUNG 32 89 31 70 368 590 9 BABEL 2 2 2 5 20 31 10 BANTEN 20 66 19 6 59 170 11 JABAR 62 158 68 26 684 998 12 JATENG 77 211 76 124 826 1.314 13 DIY 12 33 17 - 57 119 14 JATIM 95 241 87 30 912 1.365 15 BALI 10 42 6 16 107 181 16 NTB 12 80 38 48 255 433 17 NTT 2 16 13 42 181 254 18 KALBAR 8 42 14 - 125 189 19 KALTENG 2 2 5 4 90 103 20 KALSEL 20 27 18 8 138 211 21 KALTIM 2 4 3 - 65 74 22 KALTARA - - - - 23 23 23 SULUT 15 18 14 2 180 229 24 SULTENG 12 16 23 70 285 406 25 SULSEL 51 144 56 80 568 899 26 SULTRA 9 22 10 29 155 225 27 SULBAR 4 2 11 36 100 153 28 GORONTALO 6 5 7 16 134 168 29 MALUKU 2 2 2 6 48 60 30 MALUT 2 2 3 19 53 79 31 PAPBAR 4 9 3 10 41 67 32 PAPUA 2 7 3 25 89 126 604 1.443 652 757 6.892 10.348 TOTAL
PENYEBARAN SARANA PASCAPANEN (UNIT) PROVINSI
NO.
Jumlah sarana pascapanen yang telah didistribusikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus meningkat. Kebutuhan sarana pascapanen ini masih cukup tinggi dibandingkan luas baku lahan yang dimiliki. Apalagi saat ini, sektor pertanian (terutama tanaman pangan) kurang diminati oleh generasi muda dan biaya
tenaga kerja yang relatif mahal. Hal ini menyebabkan biaya usahatani (proses produksi) menjadi mahal.
Proses penyebaran sarana pascapanen ini
mempertimbangkan karakteristik lahan dan kemampuan produksi. Alokasi sarana pascapanen pada Tabel 2 meliputi combine harvester, power thresher, dryer, sarana angkut, dan sarana pascapanen lainnya (selain unit penggilingan padi).
Tabel 3. Alokasi Sarana Unit Penggilingan Padi Melalui APBN Tahun 2011-2015 2011 2012 2013 2014 2015 TOTAL 1 ACEH 0 5 8 2 36 51 2 SUMATERA UTARA 4 2 11 5 67 89 3 SUMATERA BARAT 4 7 8 5 26 50 4 SUMATERA SELATAN 2 4 5 7 30 48 5 RIAU 2 6 6 4 8 26 6 LAMPUNG 5 4 12 8 49 78 7 BENGKULU 0 9 8 5 31 53 8 BABEL 0 1 2 3 5 11 9 JAMBI 3 5 2 5 53 68 10 BANTEN 0 3 3 3 22 31 11 JAWA BARAT 4 6 11 11 89 121 12 JAWA TENGAH 4 7 21 8 80 120 13 DIY 1 2 2 2 10 17 14 JAWA TIMUR 1 6 10 13 58 88 15 KALIMANTAN BARAT 3 2 6 2 19 32 16 KALIMANTAN TENGAH 1 7 5 2 8 23 17 KALIMANTAN SELATAN 3 5 6 7 55 76 18 KALIMANTAN TIMUR 0 0 0 1 23 24 19 KALIMANTAN UTARA 0 0 0 1 5 6 20 BALI 0 3 3 5 20 31 21 NTB 0 2 5 5 26 38 22 NTT 2 4 6 3 43 58 23 MALUKU 0 1 4 5 8 18 24 MALUKU UTARA 0 2 2 2 29 35 25 SULAWESI SELATAN 2 6 9 5 91 113 26 SULAWESI TENGAH 1 3 6 7 74 91 27 SULAWESI UTARA 0 1 4 3 37 45 28 SULAWESI TENGGARA 4 5 5 4 29 47 29 SULAWESI BARAT 0 1 5 3 25 34 30 GORONTALO 0 3 0 2 23 28 31 PAPUA 2 1 2 3 18 26 32 PAPUA BARAT 0 4 7 3 45 59 TOTAL 48 117 184 144 1.142 1.635
BANTUAN SARANA UNIT PENGGILINGAN PADI (UNIT) PROPINSI
NO.
Selain itu, untuk mendukung produksi beras nasional, pada tahun 2011-2015 Pemerintah mengalokasikan fasilitas unit penggilingan padi sebanyak 1.635 unit. Hal ini diperlukan untuk memberikan kemudahan bagi petani dalam pengolahan produksinya sehingga dapat meningkatkan nilai tambah.
Tabel 4. Jumlah Penggilingan Padi di Indonesia
Sumber: BPS
Menurut BPS, jumlah penggilingan padi di Indonesia cukup banyak sekitar 182.899 unit dengan berbagai tipe dan tersebar. Penggilingan padi tipe kecil sangat mendominasi 92,73% dari total penggilingan. Kondisi pengilingan padi kecil sebagian besar kurang efisien karena berada dalam
satu kawasan yang sangat berdekatan dan umur alsin sudah tua.
2) Penyebaran sarana pengolahan tanaman pangan
Dalam mendorong nilai tambah produksi tanaman pangan,
pemerintah terus mendorong pengembangan unit
pengolahan hasil (UPH) terutama untuk komoditi strategis seperti jagung dan kedelai.
Proses pengolahan ini sangat penting dilakukan sehingga
tercipta peningkatan pendapatan bagi petani
(poktan/gapoktan). Alokasi unit pengolahan tepung telah dialokasikan selama tahun 2010-2015 sebanyak 252 unit. Alokasi unit pengolahan hasil ini diharapkan dapat menyediakan kebutuhan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat seperti tahu, tempe, dan jagung pakan. Dalam hal ini, pengembangan UPH memerlukan proses bertahap secara konsisten dengan memperhatikan standar yang lebih baik dan pola pemasaran yang intensif dengan berbagai kalangan termasuk konsumen langsung.
Tabel 5. Alokasi Sarana Unit Pengolahan Tepung melalui APBN Tahun 2010-2015
Disamping pembuatan tepung, pemerintah juga
mengalokasikan unit pengolahan hasil jagung baik untuk pangan maupun untuk pakan sebanyak 152 unit. Pengelolaan unit pengolahan ini diharapkan dapat mendorong stabilitas harga di lokasi UPH serta mendukung pengembangan subsektor lain yang berkaitan dengan hasil produk UPH tersebut.
2010 2011 2012 2013 2014 2015 TOTAL 1 ACEH 2 2 1 5 2 SUMATERA UTARA 1 2 3 3 SUMATERA BARAT 5 1 11 1 18 4 RIAU 1 2 3 6 5 LAMPUNG 4 1 4 2 11 6 BENGKULU 19 22 41 7 BABEL 1 1 2 2 6 8 JAMBI 5 5 9 KEPRI 8 8 10 BANTEN 2 1 3 11 JAWA BARAT 4 6 6 3 2 21 12 JAWA TENGAH 1 2 1 5 6 4 19 13 DIY 1 2 3 2 8 14 JAWA TIMUR 8 3 1 1 13 15 KALIMANTAN BARAT 1 2 1 2 6 16 KALIMANTAN TENGAH 2 1 3 17 KALIMANTAN SELATAN 0 18 BALI 1 1 19 NTB 4 1 5 20 NTT 1 4 5 21 MALUKU 2 2 1 3 3 1 12 22 MALUKU UTARA 1 1 1 2 5 23 SULAWESI SELATAN 4 4 24 SULAWESI TENGAH 5 5 25 SULAWESI UTARA 1 1 2 26 SULAWESI TENGGARA 4 1 5 27 SULAWESI BARAT 2 1 3 28 GORONTALO 1 1 2 29 PAPUA 3 3 9 6 2 23 30 PAPUA BARAT 1 3 4 TOTAL 25 53 32 50 59 33 252
SARANA PENGOLAHAN TEPUNG PROPINSI
Tabel 6. Alokasi Sarana Unit Pengolahan Hasil Jagung Melalui APBN Tahun 2012-2015
Begitu juga untuk kedelai, pada tahun 2011-2015
Pemerintah mengalokasikan sarana alsintan unit
pengolahan hasil kedelai sebanyak 55 unit, dengan harapan petani dapat memperoleh nilai tambah melalui pengembangan produk pangan atau pakan yang lebih baik. Beberapa unit pengolahan kedelai dimanfaatkan untuk
2012 2013 2014 2015 TOTAL 1 SUMATERA UTARA 3 10 2 1 16 2 SUMATERA BARAT 10 2 12 3 SUMATERA SELATAN 1 1 4 JAWA BARAT 3 1 2 6 5 JAWA TENGAH 30 6 3 39 6 JAWA TIMUR 6 1 7 7 KALIMANTAN BARAT 2 1 3 8 BALI 1 1 9 NTB 6 4 2 12 10 NTT 6 12 4 22 11 MALUKU 2 1 3 12 SULAWESI SELATAN 4 4 13 SULAWESI UTARA 1 1 14 SULAWESI TENGGARA 1 1 15 SULAWESI BARAT 3 3 16 GORONTALO 3 7 1 11 17 PAPUA 6 6 18 PAPUA BARAT 4 4 TOTAL 12 89 35 16 152 PROPINSI
menghasilkan tahu/tempe dan susu kedelai. Fasilitasi ini sangat penting ditumbuhkembangkan untuk mendekatkan proses penyediaan pangan dengan konsumen di wilayah sekitar produksi.
Tabel 7. Alokasi Sarana Unit Pengolahan Hasil Kedelai Melalui APBN Tahun 2011-2015
3) Jumlah Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan atau direvisi berkaitan dengan tanaman pangan
Produk yang bermutu harus memiliki kesesuaian standar mengacu pada aturan yang berlaku. Pengaturan standar dapat dilakukan melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) atau Persyaratan Teknis Minimal (PTM). Proses
2011 2012 2013 2014 2015 TOTAL 1 ACEH 12 4 3 19 2 BENGKULU 1 1 3 JAWA TENGAH 1 2 1 4 4 DIY 1 1 2 5 JAWA TIMUR 3 3 6 KALIMANTAN TENGAH 2 2 7 BALI 2 2 8 NTB 1 2 3 9 NTT 6 2 8 10 SULAWESI TENGAH 3 3 11 SULAWESI UTARA 1 2 3 12 SULAWESI TENGGARA 1 1 13 GORONTALO 1 1 2 14 PAPUA 1 1 15 PAPUA BARAT 1 1 TOTAL 6 3 12 17 17 55
SARANA ALSINTAN UNIT PENGOLAHAN HASIL KEDELAI PROPINSI
penetapan suatu SNI memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak. Secara reguler, SNI harus dikaji ulang untuk menyesuaikan kondiri perubahan.
Manfaat atas proses produk yang bermutu sangat penting antara lain memberikan jaminan kualitas dan konsumen tidak merasa dirugikan. Pada tahun 2010-2015, telah dilakukan revisi SNI sebanyak 43 SNI meliputi SNI benih, SNI metode uji, SNI olahan, SNI produk segar TP, SNI pupuk dan pestisida, dan SNI alsintan.
Penerapan jaminan mutu produk terkesan sangat lambat karena kesadaran
pelaku usaha dan
konsumen masih rendah dan perbedaan manfaat secara signifikan tidak dirasakan oleh pelaku usaha, terutama untuk
produk pangan.
Sementara itu, proses
revisi atas Standar Nasional Indonesia sering dilakukan. Dukungan pemerintah sangat penting untuk mendorong standar produk yang lebih baik. Harmonisasi standar
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan bahwa
Mutu Pangan adalah nilai yang
ditentukan atas dasar kriteria
keamanan dan kandungan Gizi
Pangan.
Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda
lain yang dapat mengganggu,
merugikan, dan membahayakan
kesehatan manusia serta tidak
bertentangan dengan agama,
keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Gizi adalah zat atau senyawa yang
terdapat dalam Pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, air, dan komponen lain yang bermanfaat bagi
pertumbuhan dan kesehatan
memerlukan kajian komprehensif dan konsistensi perumusan standar.
Tabel 8. Jumlah Revisi SNI Tahun 2010-2015
NO. KATEGORI SNI JUMLAH (SNI)
1 Benih Tanaman Pangan 5
2 Metode Uji 1
3 Produk Olahan 5
4 Produk Segar 3
5 Pupuk dan Pestisida 1
6 Alat dan Mesin 25
TOTAL 40
4) Jumlah sertifikasi dan/atau registrasi yang diterbitkan Dalam memberikan jaminan mutu pangan, Pemerintah terus mendorong upaya fasilitasi sertifikasi atau register terhadap produk pertanian yang dihasilkan. Pada dasarnya, perkembangan sertifikasi kurang bertumbuh pada komoditi non organik. Sertifikasi diimplementasikan pada produk yang menerapkan sistem pertanian organik. Hal ini terjadi karena berbagai faktor antara lain ketidakpastian jaminan harga antara produk yang disertifikasi dengan yang tidak disertifikasi, mahalnya biaya sertifikasi, pelaku usaha kurang merasakan hal tersebut sebagai keharusan, dan konsumen yang masih kurang tertarik atas jaminan mutu produk. Setelah sertifikasi dilakukan, pelaku usaha harus melakukan proses registrasi.
Tabel 9. Jumlah Sertifikasi Organik Tanaman Pangan Tahun 2010-2015
APBD APBN SWASTA TOTAL APBD APBN SWASTA TOTAL
2007 3 3 -2009 4 4 1 1 2010 6 6 1 1 2011 2 9 11 1 1 2012 12 8 1 21 1 1 2 2013 17 16 8 41 1 1 2014 23 17 1 41 1 1 2015 18 17 3 38 1 1 2016 1 32 - 33 - 2 - 2 NASIONAL INTERNASIONAL TAHUN
Fasilitasi sertifikasi atau register dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Untuk mendukung, hasil sertifikasi atau register, Pemerintah terus mendukung kerjasama atau kemitraan sehingga hasil penjualan produk
tersebut terwujud dengan baik dan memberikan
peningkatan pendapatan kepada pelaku usaha tersebut. Sertifikasi yang berkembang pada periode tahun 2010-2015 adalah sertifikasi organik tanaman pangan dengan jumlah 163 sertifikasi, dimana fasilitasi APBN sebanyak 68 sertifikasi.
1) Susut hasil tanaman pangan
Susut hasil tanaman pangan merupakan suatu proses kehilangan hasil yang terjadi akibat penanganan terhadap hasil produksi tidak tepat, mulai dari panen sampai dengan penyimpanan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mendorong pemanfaatan sarana pascapanen seoptimal mungkin sehingga dapat menurunkan susut hasil. Artinya, penurunan susut hasil dapat meningkatkan produktivitas.
Pada tahun 2011-2015, data penurunan susut hasil tanaman pangan mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Tetapi, metodologi perhitungan susut hasil seharusnya perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi jumlah bantuan sarana pascapanen yang dialokasikan oleh Pemerintah. Tabel 10. Kontribusi Penurunan Susut Hasil dan Bantuan
Sarana Pascapanen Tahun 2011-2015
2011 2012 2013 2014 2015
No. Komoditas Penurunan Susut Hasil (%) Jumlah
1. Padi 0,190 0,470 0,311 0,090 0,056 1,117
2. Jagung 0,012 0,124 0,125 0,329 0,590
3. Kedelai 0,195 0,497 0,113 0,723 1,528
4. Ubikayu 0,007 0,009 0,000 0,000 0,016
5. Ubijalar 0,060 0,023 0,000 0,000 0,083
Berdasarkan data volume ekspor-impor subsektor tanaman pangan tahun 2010-2015, dapat disimpulkan bahwa neraca perdagangan subsektor tanaman pangan berada pada kondisi minus. Hal ini mengindikasikan bahwa subsektor tanaman pangan masih memiliki volume impor yang lebih tinggi daripada ekspor. Pada periode tahun ini, kondisi neraca perdagangan tanaman pangan terus mengalami perbaikan tetapi kurang signifikan. Untuk itu, diperlukan regulasi yang sesuai dengan konteks bisnis sehingga proses produksi harus dapat mendorong ekspor dan mengurangi impor termasuk melakukan produksi atas komoditi yang dapat disubstitusi.
Tabel 11. Neraca PerdaganganTanaman Pangan Tahun 2010-2015
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-rata/tahun 1 a Beras 345 377 897 2.586 516 519 9,28 137,93 188,29 -80,05 0,58 51,21 b Beras Olahan 465 687 194 352 2.510 1.442 47,74 -71,76 81,44 613,07 -42,55 125,59 c Gandum Segar 28.535 9 49 - 11 9 -99,97 444,44 -100,00 -18,18 45,26 d Gandum Olahan 614.191 546.506 55.038 87.836 86.305 86.166 -11,02 -89,93 59,59 -1,74 -0,16 -8,65 e Jagung Segar 41.954 12.472 34.899 7.932 37.889 234.559 -70,27 179,82 -77,27 377,67 519,07 185,80 f Jagung Olahan 2.560 20.472 35.963 12.564 6.954 16.272 699,69 75,67 -65,06 -44,65 133,99 159,93 g Kacang Tanah 4.052 4.210 2.246 2.364 2.510 5.593 3,90 -46,65 5,25 6,18 122,83 18,30 h Kacang Tanah Olahan 3.669 3.474 4.592 4.050 3.781 3.382 -5,31 32,18 -11,80 -6,64 -10,55 -0,43 i Kedelai Segar 385 547 2.323 1.030 41.304 1.202 42,08 324,68 -55,66 3.910,10 -97,09 824,82 j Kedelai Olahan 8.267 8.191 10.406 13.814 9.880 12.733 -0,92 27,04 32,75 -28,48 28,88 11,85 k Ubi Jalar Segar 7.083 7.173 9.649 9.797 9.593 11.873 1,27 34,52 1,53 -2,08 23,77 11,80 l Ubi Kayu Segar 145.217 105.131 151 1.488 1.082 - -27,60 -99,86 885,43 -27,28 -100,00 126,14 m Ubi Kayu Olahan 23.814 90.008 52.264 188.428 113.419 15.550 277,96 -41,93 260,53 -39,81 -86,29 74,09 n Lainnya 11.916 7.807 50.380 25.092 51.910 61.475 -34,48 545,32 -50,19 106,88 18,43 117,19 892.453 807.064 259.051 357.333 367.664 450.775 -9,57 -67,90 37,94 2,89 22,61 -2,81 2 a Beras 687.582 2.744 1.927.330 472.665 815.285 861.601 -99,60 70.137,97 -75,48 72,49 5,68 14.008,21 b Beras Olahan 1 259 233 10 22 29 25.800,00 -10,04 -95,71 120,00 31,82 5.169,21 c Gandum Segar 4.824.049 5.648.065 6.821.771 6.756.406 7.289.652 7.444.622 17,08 20,78 -0,96 7,89 2,13 9,38 d Gandum Olahan 900.963 828.512 601.592 296.318 273.253 178.629 -8,04 -27,39 -50,74 -7,78 -34,63 -25,72 e Jagung Segar 1.527.516 3.207.657 1.797.876 3.191.045 3.175.362 3.267.694 109,99 -43,95 77,49 -0,49 2,91 29,19 f Jagung Olahan 259.295 103.327 123.025 103.867 120.744 232.409 -60,15 19,06 -15,57 16,25 92,48 10,41 g Kacang Tanah 229.393 251.004 197.963 282.423 253.236 194.430 9,42 -21,13 42,66 -10,33 -23,22 -0,52 h Kacang Tanah Olahan 1.393 2.099 1.305 1.415 1.088 4.082 50,68 -37,83 8,43 -23,11 275,18 54,67 i Kedelai Segar 1.740.505 2.088.616 2.105.629 1.785.385 1.964.081 2.256.932 20,00 0,81 -15,21 10,01 14,91 6,11 j Kedelai Olahan 32.158 36.896 3.637.494 3.555.775 3.822.365 4.159.889 14,73 9.758,78 -2,25 7,50 8,83 1.957,52 k Ubi Jalar Segar 32 25 24 21 23 16 -21,88 -4,00 -12,50 9,52 -30,43 -11,86 l Ubi Kayu Segar 21 6 - - - - -71,43 -100,00 -34,29 m Ubi Kayu Olahan 294.832 435.419 856.126 220.088 365.086 600.163 47,68 96,62 -74,29 65,88 64,39 40,06 n Lainnya 6.862 17.124 96.214 115.135 106.692 67.463 149,55 461,87 19,67 -7,33 -36,77 117,40 10.504.602 12.621.753 18.166.582 16.780.553 18.186.889 19.267.959 20,15 43,93 -7,63 8,38 5,94 14,16 3 a Beras (687.237) (2.367) (1.926.433) (470.079) (814.769) (861.082) -99,66 81.287,11 -75,60 73,33 5,68 16.238,17 b Beras Olahan 464 428 (39) 342 2.488 1.413 -7,76 -109,11 -976,92 627,49 -43,21 -101,90 c Gandum Segar (4.795.514) (5.648.056) (6.821.722) (6.756.406) (7.289.641) (7.444.613) 17,78 20,78 -0,96 7,89 2,13 9,52 d Gandum Olahan (286.772) (282.006) (546.554) (208.482) (186.948) (92.463) -1,66 93,81 -61,86 -10,33 -50,54 -6,12 e Jagung Segar (1.485.562) (3.195.185) (1.762.977) (3.183.113) (3.137.473) (3.033.135) 115,08 -44,82 80,55 -1,43 -3,33 29,21 f Jagung Olahan (256.735) (82.855) (87.062) (91.303) (113.790) (216.137) -67,73 5,08 4,87 24,63 89,94 11,36 g Kacang Tanah (225.341) (246.794) (195.717) (280.059) (250.726) (188.837) 9,52 -20,70 43,09 -10,47 -24,68 -0,65 h Kacang Tanah Olahan 2.276 1.375 3.287 2.635 2.693 (700) -39,59 139,05 -19,84 2,20 -125,99 -8,83 i Kedelai Segar (1.740.120) (2.088.069) (2.103.306) (1.784.355) (1.922.777) (2.255.730) 20,00 0,73 -15,16 7,76 17,32 6,13 j Kedelai Olahan (23.891) (28.705) (3.627.088) (3.541.961) (3.812.485) (4.147.156) 20,15 12.535,74 -2,35 7,64 8,78 2.513,99 k Ubi Jalar Segar 7.051 7.148 9.625 9.776 9.570 11.857 1,38 34,65 1,57 -2,11 23,90 11,88 l Ubi Kayu Segar 145.196 105.125 151 1.488 1.082 - -27,60 -99,86 885,43 -27,28 -100,00 126,14 m Ubi Kayu Olahan (271.018) (345.411) (803.862) (31.660) (251.667) (584.613) 27,45 132,73 -96,06 694,91 132,30 178,26 n Lainnya 5.054 (9.317) (45.834) (90.043) (54.782) (5.988) -284,35 391,94 96,45 -39,16 -89,07 15,16
(9.612.149)
(11.814.689) (17.907.531) (16.423.220) (17.819.225) (18.817.184) 22,91 51,57 -8,29 8,50 5,60 16,06
Sumber : BPS
No. Tahun
Volume Impor (Ton)
Total
Pertumbuhan (%) Uraian
Volume Ekspor (Ton)
Total
Neraca (Ton)
3) Nilai tukar petani tanaman pangan
Kesejahteraan petani menjadi sangat penting sebagai salah satu keberhasilan kinerja. Salah satu metode pengukuran kesejahteraan petani melalui perhitungan nilai tukar petani (NTP). Pertumbuhan nilai
tukar petani tanaman pangan pada tahun 2010-2014 sangat fluktuatif atau tidak konsisten.
Pada tahun 2014, NTP
mengalami penurunan yang sangat signifikan dari tahun sebelumnya. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh Indeks
Harga Yang Diterima Petani (It).
Hal ini sering kali menjadi
permasalahan utama bagi
petani, dimana harga yang
meningkat di pasar tidak mencerminkan harga yang diterima juga meningkat. Ini sering disebut ketidakadilan margin karena daya tawar yang rendah dari petani.
Pada dasarnya, peningkatan pendapatan petani harus dilihat dari seberapa mampu hasil usaha yang diperoleh dapat NTP merupakan indikator proxy kesejahteraan petani. NTP merupakan perbandingan antara Indeks harga yg diterima petani (It) dengan Indeks harga yg dibayar petani (Ib). Arti Angka NTP sebagai berikut:
o NTP > 100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya.
o NTP = 100, berarti petani
mengalami impas.
Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani sama dengan pengeluarannya.
o NTP< 100, berarti petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani turun, lebih kecil dari pengeluarannya.
memenuhi kebutuhan dasar dan penting bagi kehidupan petani sebagai insan manusia. Persoalan ketidakmampuan petani dalam memenuhi kebutuhan dasar dan penting tersebut
Tabel 12. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 Indeks Harga Diterima Petani Indeks Harga Dibayar Petani Nilai Tukar Petani Pertumbuhan NTP (IT) (IB) (NTP) (%) 2010 124.81 127.61 97.78 2011 138.38 134.56 102.82 5.15 2012 147.41 140.78 104.71 1.84 2013 157.44 150.45 104.65 -0.06 2014 111.80 113.06 98.88 -5.51 Keterangan:
Tahun 2010-2012 menggunakan tahun dasar 2007 = 100 Tahun 2013-2014 menggunakan tahun dasar 2012 = 100
Tahun
1.3 Potensi, Permasalahan, dan Tantangan Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan
1.3.1. Potensi Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan
Indonesia memiliki beberapa kekuatan yang dapat digerakkan secara positif antara lain: a. Memiliki sumber daya lahan yang cukup,
iklim tropis, dan keanekaragaman hayati (biodiversity ) yang berlimpah.
b. Merupakan negara yang memiliki penduduk keempat terbanyak di dunia.
c. Merupakan negara kepulauan yang
memiliki keragaman budaya, cita rasa, dan produk olahan.
Tetapi disisi lain, Indonesia memiliki
karakteristik yang dapat menjadi kelemahan antara lain:
a. Pelaku usaha tanaman pangan
didominasi oleh pelaku usaha berskala kecil (dibawah 2 Ha)
b. Proses produksi tanaman pangan
sangat stagnan dalam menerapkan
inovasi teknologi
c. Penanganan proses produksi relatif
kurang berkembang terutama di area
penanganan panen dan proses
berikutnya
d. Pelaku usaha tanaman pangan tidak terintegrasi dengan proses usaha yang memberikan nilai tambah bagi pelaku
usaha tersebut dan kurang
memanfaatkan kekuatan pola
kelompok tani
e. Pelaku usaha tanaman pang an kurang
memiliki ketertarikan untuk
mengembangkan produk dengan jati diri
sendiri atau sering menjual tanpa
identitas mereka sendiri.
1.3.2. Permasalahan Pembangunan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan
Dalam konteks ini, beberapa fokus
permasalahan dalam pengembangan
pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan antara lain:
Penguatan pemanfaatan dan
penyebaran s arana pascapanen dan pengolahan hasil tanaman pangan belum dimanfaatkan secara optimal. Penyebaran dan pemanfaatan sarana
alsintan harus dilakukan untuk
mendukung penguatan kawasan yang lebih baik.
Pengembangan produk tanaman pangan yang bermutu dan memiliki kekuatan karakteristik sendiri di pasar riil (pasar
tradisional maupun ritel) belum terimplementasikan dengan baik.
Pengembangan proses teknologi
pengolahan hasil perlu ditingkatkan
dengan memanfaatkan pola kelompok
tani/gapoktan dengan mendorong
integrasi usaha. Kelompok
tani/gapoktan masih cenderung
melakukan pemasaran dalam bentuk segar tanpa melakukan proses lanjutan untuk memperoleh nilai tambah.
Penguatan kelembagaan usaha, kemitraan serta kewirausahaan agribisnis. Pelaku
usaha kurang memahami kekuatan
kelompok tani/gapoktan yang ada saat ini menjadi suatu simpul pemasaran usaha yang dapat disinergiskan. Keberadaan pedagang pengumpul saat ini menjadi salah satu factor yang menyebabkan kurang terkoordinasinya pemasaran yang tersinergis antar kelompok tani/gapoktan. Peningkatan investasi di subsektor
pelaku usaha nasional dapat memperkuat sistem logistik nasional. Laju alih fungsi lahan tanaman pangan
menjadi suatu permasalahan yang
mengkhawatirkan saat ini.
Pengembangan kapasitas lahan yang dapat dijamin tidak beralih fungsi menjadi sangat urgen untuk diperhatikan.
Kurang tepatnya pengendalian harga, inefisiensi pemasaran dan logistik yang belum tercatat dengan baik. Harga produk yang dihasilkan petani Indonesia umumnya diatas harga produk yang diimpor. Sementara itu, petani merasakan harga yang diberikan saat ini masih belum tepat. Ketika harga melambung tinggi, pemerintah melakukan operasi pasar. Hal ini mendorong impor semakin meningkat. Rantai pemasaran yang cukup panjangan dari lahan produksi ke konsumen menjadikan ketidakefisienan. Harga yang tinggi di tingkat konsumen cenderung tidak mendorong peningkatan
pengembangan logistik tanaman pangan
masih perlu diperbaiki terutama
pencatatan di basis-basis titik logistik. 1.3.3. Tantangan Pembangunan Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Pertanian
Tantangan merupakan pandangan atas
kesempatan dan ancaman yang dapat terjadi dalam jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. Untuk itu, diperlukan proses adaptasi dan inovatif yang tepat dari semua pihak sehingga kesempatan tidak hilang dan
ancaman dapat diantisipasi. Beberapa
kesempatan yang perlu dicermati antara lain: a. Permintaan produk olahan hasil pertanian
makin beragam dan berkualitas permintaan terhadap produk olahan hasil pertanian akan makin beragam dan berkualitas. b. Kawasan Indonesia diapit oleh negara-negara
yang relatif bukan sebagai basis produksi pertanian.
c. Kebijakan pemerintah yang dominan untuk melindungi pelaku usaha melalui berbagai fasilitasi.
d. Standar produk yang cukup banyak namun belum terkonsolidasi dengan baik oleh pelaku usaha.
Disisi lain, beberapa ancaman yang dapat menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha tanaman pangan antara lain:
a. Makin menurunnya minat untuk bekerja di sektor pertanian terutama generasi muda
dan sebagian pelaku usaha nasional
cenderung nyaman dengan proses impor yang terjadi selama ini.
b. Alih fungsi dan fragmentasi lahan
menimbulkan ketidakefisienan usaha dan hilangnya basis-basis produksi tanaman pangan.
c. Perkembangan produk negara lain yang dicerminkan dari penguatan aspek produk olahan yang menarik.
d. Fluktuasi harga yang sering terjadi
terutama mendekati hari besar nasional dan pengendalian stok yang rendah.
e. Berkembangnya blok-blok perdagangan yang meminta berbagai standar atau aturan produk yang wajib diikuti. Dalam
waktu dekat ini, Indonesia akan berhadapan dengan Pasar Tunggal ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana dengan terbentuknya pasar tunggal ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN nanti maka akan terbuka pula peluang pasar yang makin besar yaitu adanya pasar dengan populasi yang mendekati 600 juta jiwa.
f. Aksesibilitas dan sarana transportasi yang belum efisien dalam pendistribusian dan pemasaran produk tanaman pangan.
g. Dampak perubahan iklim global
mempengaruhi ketersediaan dan
kontiniuitas bahan baku di sektor hilir bidang pengolahan hasil tanaman pangan.
II. VISI, MISI, DAN TUJUAN
2.1. Visi
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan merupakan salah satu unit kerja Eselon II di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Visi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan harus selaras dengan visi
Kementerian Pertanian dan
Direktorat Jenderal Tanaman
Pangan. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian memiliki visi “Terwujudnya
Kedaulatan Pangan dan
Kesejahteraan Petani”. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki
visi “Terwujudnya Pemenuhan
Kebutuhan Pangan Yang Cukup
Secara Berkelanjutan Untuk
Memperkuat Kedaulatan Pangan”.
Dalam konteks ini, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan membangun visi “Terwujudnya Produksi
Tanaman Pangan Yang Berdaya Saing”. Perspektif produksi
dalam negeri yang berdaya saing mencerminkan kekuatan dalam mewujudkan tersedianya kebutuhan domestik dan
Daya saing adalah kapasitas bangsa untuk menghadapi tantangan persaingan pasar internasional dan tetap menjaga atau meningkatkan pendapatan riil-nya (Council of Competitiveness, Washington, DC, 2006)
Daya saing merupakan kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang memenuhi pengujian internasional, dan dalam saat bersamaan juga dapat memelihara tingkat pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan, atau kemampuan daerah menghasilkan tingkat pendapatan dan kesempatan kerja yang tinggi dengan tetap terbuka terhadap persaingan eksternal (European
kebutuhan orientasi ekspor, serta mengurangi ancaman masuknya produk impor (substitusi impor).
Dalam rencana pembangunan jangka menengan
Indonesia, rencana strategis Kementerian Pertanian, dan rencana strategis Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, prioritas proses diarahkan pada pangan. Dalam hal ini, komoditi strategis yang menjadi pilihan kebijakan adalah padi, jagung, dan kedelai. Dalam hal ini, beberapa indikator keberhasilan Kementerian Pertanian antara lain:
a. produksi padi, jagung, dan
kedelai
b. rasio produksi padi per
kapita wilayah pulau
c. harga gabah kering panen
(GKP) di tingkat produsen
d. konsumsi kalori dan
pangan hewani per kapita
e. skor pola pangan harapan
(PPH)
f. rasio konsumsi pangan
lokal non beras terhadap beras
Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori
yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional
terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi
barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya.
Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia
sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah.
Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah.
Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
Proses produksi harus dikelola secara efisien, sesuai dengan kebutuhan pasar, serta nilai harga yang kompetitif dengan harga produk luar. Secara sumber daya hayati, Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan negara lain. Dalam hal ini, ada tiga faktor
yang sangat berpengaruh pada daya saing yaitu 1) iklim yang kondusif, 2)
keunggulan komparatif, dan 3)
keunggulan kompetitif.
Sering kali, dalam membangun daya saing suatu bangsa atau produk
kurang memperhatikan potensi
keunggulan yang dimiliki. Hal ini
mengakibatkan proses atas
pelaksanaan visi menjadi tidak fokus
dan pada akhirnya tidak memperlihatkan keberhasilan secara berkelanjutan dari upaya-upaya yang dilakukan.
Konsep pengembangan daya saing itu sendiri menjadi jebakan (trap) bagi suatu bangsa atau perusahaan ketika tidak dilakukan secara sistematis dan menggunakan data yang akurat. Dalam konsep ekonomi, dikenal kutukan sumber daya alam atau
sering disebut “kutukan sumber daya (paradoks
keberlimpahan)”, mengacu pada paradoks bahwa negara dan daerah yang kaya akan sumber daya alam, terutama sumber
Pengertian keunggulan
kompetitif adalah kemampuan
yang dimiliki oleh sebuah bangsa
atau organisasi untuk
merumuskan strategi dan mengaplikasikannya pada suatu posisi yang tepat dengan
menggunakan kemampuan
karakteristik dan segala sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dengan tujuan untuk memperolah keuntungan yang sebesar-besarnya.
Ada dua hal yang akan mempengaruhi tercapainya keunggulan kompetitif, yaitu harga yang rendah dan keunikan produk itu sendiri.
daya non-terbarukan seperti mineral dan bahan bakar, cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan wujud pembangunan yang lebih buruk ketimbang negara-negara yang sumber daya alamnya langka. Fenomena ini diduga memiliki beberapa alasan, salah satunya penurunan tingkat persaingan di sektor-sektor ekonomi lain (akibat apresiasi nilai tukar asli setelah pendapatan SDA mulai memengaruhi ekonomi), volatilitas pendapatan SDA akibat menghadapi perubahan pasar komoditas global, salah pengelolaan SDA oleh pemerintah, atau institusi yang lemah, tidak efektif, tidak stabil, atau korup (kemungkinan karena sifat arus pendapatan aktual atau terantisipasi dari aktivitas ekstraktif yang mudah sekali dialihkan).
Konten diatas tersebut menjadi bahan perumusan visi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, sehingga pengelolaan produksi tidak hanya dilihat dari sisi jumlah tetapi lebih luas, antara lain efisiensi usaha, produktivitas, mutu, nilai tambah, harga, dan kontiniunitas.
2.2. Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan mengemban misi yang harus dilaksanakan yaitu:
1. Mendorong pertumbuhan agribisnis tanaman pangan melalui peningkatan sumber daya manusia, penguatan kelembagaan usaha, penerapan teknologi tepat guna, kemitraan, dan peningkatan investasi tanaman pangan
2. Mendorong penerapan sistem jaminan mutu dan
pengawasan keamanan pangan dalam mendukung usaha agribisnis tanaman pangan terpadu
3. Mengembangkan pemasaran produk tanaman pangan dalam negeri dan luar negeri melalui penguatan sistem, infrastruktur pemasaran dan promosi
4. Mengembangkan kapasitas institusi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas tinggi.
2.3. Tujuan
Berkaitan dengan implementasi visi dan misi tersebut, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan menetapkan tujuan sebagai berikut:
1. Menumbuhkembangkan pelaku usaha perdesaan yang
spefisik lokal dan terintegrasi
2. Meningkatkan produk tanaman pangan yang bermutu
3. Meningkatkan penguasaan pasar domestik dan luar
2.4. Sasaran Strategis
Sasaran strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan pada tahun 2016-2019 adalah:
a) Menurunnya susut hasil (losses) produksi tanaman pangan b) Meningkatnya nilai tambah produk tanaman pangan
c) Meningkatnya mutu hasil produksi tanaman pangan.
d) Meningkatnya penguasaan pasar dalam negeri (domestik) dan luar negeri (ekspor).
Dalam mencapai sasaran strategis diatas, diperlukan pemetaan yang sangat rinci pada setiap daerah dengan memperhatikan kemampuan sumber daya yang dimiliki, teknologi yang dipakai, perilaku usaha yang berkembang, dan selera konsumen di daerah tersebut. Seluruh faktor ini sangat penting diperhatikan sehingga tidak menimbulkan ekses negatif atas pencapaian sasaran yang ditetapkan.
Untuk memastikan keberhasilan sasaran strategis
tersebut diatas, ditetapkan indikator kinerja sebagai berikut: 1) terlaksananya penyaluran sarana pascapanen
2) terlaksananya penyaluran unit pengolahan hasil tanaman pangan
3) terlaksananya sertifikasi/register produk tanaman pangan 4) terlaksananya penyediaan informasi tanaman pangan.
Tabel 13. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Direktorat PPHTP
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Output
Menurunkan susut hasil produksi tanaman pangan
Terlaksananya penyaluran bantuan sarana pascapanen
Meningkatnya nilai tambah produk tanaman pangan
Terlaksananya penyaluran unit pengolahan hasil (UPH) tanaman pangan
Meningkatnya mutu hasil produk tanaman pangan
Terlaksananya sertifikasi/registrasi produk tanaman pangan
Meningkatnya penguasaan pasar dalam negeri (domestik) dan luar negeri (ekspor)
Terlaksananya penyediaan informasi pasar
2.5. Analisa Risiko
Pemerintah akan terus berupaya melakukan
pembangunan secara berkelanjutan bagi seluruh rakyatnya. Hal ini sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong kemandirian bangsa. Tetapi dalam prosesnya, berbagai risiko dapat timbul pada titik tertentu. Untuk itu, perlu dilakukan pemetaan analisa risiko sebagai antisipasi awal dalam menjalankan tugas dan fungsi yang dimiliki, antara lain:
a. Perencanaan
- pemetaan kebutuhan alokasi kegiatan yang
spesifik lokasi
- penetapan indikator kinerja secara berjenjang
- rancangan pola pengembangan fasilitasi yang
diberikan
- pedoman/petunjuk/panduan pelaksanaan kegiatan
- pembentukan tim ad-hoc
b. Pelaksanaan
- penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL)
- pelaksanaan pengadaan, penyaluran dan
pembayaran
- penyelesaian administasi hibah atau administrasi
lainnya
- pengukuran indikator keberhasilan
c. Pembinaan
- monitoring dan evaluasi kegiatan secara bertahap
terutama pemanfaatan secara terus menerus
- pelaporan secara berjenjang sesuai aturan yang
III. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI 3.1. Arah Kebijakan Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Tanaman Pangan
Mengacu kepada arah kebijakan Kementerian Pertanian serta tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, arah kebijakan pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan adalah mendukung pencapaian produksi terutama pangan nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan serta memperkuat pelaku usaha tanaman pangan. Komoditi strategis yang diprioritaskan adalah produksi padi, jagung, dan kedelai.
Gambar 4. Hubungan Indikator Keberhasilan Kinerja Direktorat PPHTP Dalam Sistem Produksi
Jumlah produksi tanaman pangan ditentukan dua faktor yaitu luas panen dan produktivitas. Direktorat PPHTP memiliki peranan pada saat panen dan proses setelah panen. Pada saat panen, susut hasil dapat terjadi karena pemanfaatan sarana panen yang tidak tepat dan kurangnya pengetahuan petani mengenai standar kualitas dari hasil produksi tersebut.
Penggunaan teknologi modern diharapkan mampu
mengurangi susut hasil.
Untuk meningkatkan nilai pendapatan dari hasil produksi tersebut, perlu dilakukan proses jaminan mutu hasil melalui sertifikasi dan/atau register atau melalui proses pengolahan lebih lanjut. Proses pengolahan dapat mengurangi fluktuasi harga yang terjadi terutama pada daerah yang harga produk segarnya selalu ditawar murah.
Selain itu, pemerintah dapat melakukan proses pengendalian pasar melalui pengendalian harga dan stok, serta pengendalian kebijakan perdagangan (ekspor-impor).
Untuk itu, diperlukan berbagai regulasi yang dapat
memberikan iklim yang kondusif bagi pelaku usaha nasional sehingga pelaku usaha nasional terlindung secara adil dan semakin berminat untuk melakukan investasi.
Terkait dengan pemenuhan kebutuhan pangan
dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan dirumuskan dengan memperhatikan rasa keadilan bagi semua stakeholder. Pemenuhan pangan nasional mengacu pada rekomendasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan Pola Pangan Harapan (PPH). Tetapi hal ini sering terkendala, karena kualitas pangan yang tersedia kurang baik, keterbatasan ketersediaan bahan pangan, proses distribusi yang tidak tepat waktu, dan daya beli konsumen.
Gambar 5. Penguatan Kebijakan Pemenuhan Pangan Nasional
Pada tahun 2016-2019, produksi komoditi utama tanaman pangan direncanakan meningkat dari tahun ke
• Jumlah • Mutu Hasil Produksi • Infrastruktur • Rantai Pasokan Distribusi Distribusi • Harga • Daya Beli Konsumsi
Pola dan Perilaku Pemasaran
Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan Pola Pangan Harapan
(PPH) Standar Nasional Indonesia
(SNI) atau Persyaratan Teknis Minimal (PTM)