• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bambang, 2008 mengemukakan 3 (tiga) sikap kerja yaitu: duduk, duduk berdiri, dan berdiri.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bambang, 2008 mengemukakan 3 (tiga) sikap kerja yaitu: duduk, duduk berdiri, dan berdiri."

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

5 2.1 Sikap Kerja

2.1.1 Definisi Sikap Kerja

Sikap kerja merupakan tindakan yang diambil pekerja dan segala sesuatu yang harus dilakukan oleh pekerja tersebut yang hasilnya sebanding dengan usaha yang dilakukan (Purwanto, 2008). Sikap kerja juga diartikan sebagai kecenderungan pikiran dan perasaan puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya (Purwanto, 2008). Sikap kerja adalah penilaian kesesuaian antara alat kerja yang digunakan oleh pekerja dalam bekerja dengan ukuran antropometri pekerja dengan ukuran yang sudah ditentukan (Rahayu, 2005). Pada saat bekerja sangat perlu diperhatikan dimana sikap kerja harus dalam keadaan seimbang agar dapat bekerja dengan nyaman dan tahan lama (Merulalia, 2010).

Sikap kerja alamiah atau postur normal yaitu sikap atau postur dalam proses kerja yang sesuai dengan anatomi tubuh, sehingga tidak terjadi pergeseran atau penekanan pada bagian penting tubuh seperti organ tubuh, syaraf, tendon, dan tulang sehingga keadaan menjadi relaks dan tidak menyebabkan keluhan MSDs dan sistem tubuh yang lain (Merulalia, 2010).

2.1.2 Jenis-Jenis Sikap Kerja

Bambang, 2008 mengemukakan 3 (tiga) sikap kerja yaitu: duduk, duduk berdiri, dan berdiri.

(2)

a. Posisi/Sikap Kerja Duduk

Taha, 2006 menyatakan bekerja dengan posisi duduk mempunyai keuntungan yaitu pembebanan pada kaki yang minimal sehingga pemakaian energi dan keperluan untuk sirkulasi darah dapat dikurangi. Posisi kerja duduk mempunyai derajat stabilitas tubuh yang tinggi, dapat mengurangi kelelahan dan keluhan subyektif bila bekerja lebih dari 2 jam. Di samping itu, tenaga kerja juga dapat mengendalikan tungkai dan kaki untuk melakukan gerakan. Sebaliknya, kerja dengan posisi duduk yang terlalu lama dapat menyebabkan tonus otot perut menurun dan tulang belakang akan melengkung sehingga dapat menyebabkan pekerja mudah lelah.

Taha, 2006 menyatakan bahwa pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi duduk adalah sebagai berikut:

1. Pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki.

2. Pekerjaan utama adalah menulis atau memerlukan ketelitian pada tangan 3. Tidak diperlukan tenaga dorong yang besar

4. Objek yang dipegang tidak melebihi ketinggian lebih dari 15 cm dari landasan kerja.

5. Diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi 6. Pekerjaan dilakukan dalam waktu yang lama dan

7. Seluruh objek dikerjakan atau disuplai masih dalam jangkauan dengan posis duduk

b. Posisi/Sikap Kerja Duduk Berdiri

Posisi kerja duduk berdiri ini merupakan pilihan kedua terhadap hampir seluruh jenis pekerjaan dan biasanya lebih sesuai digunakan terhadap jenis pekerjaan yang terdiri dari beberapa sub bagian tugas dan sering melakukan gerak di dalam ruang kerja (Bambang, 2008). Pengguna dapat memilih salah satu sikap kerja yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.

(3)

Berdasarkan kedua sikap kerja duduk dan berdiri (Taha, 2006) mencoba memadukan satu desain dengan batasan sebagai berikut:

1. Pekerjaan dilakukan dengan duduk pada satu saat dan pada saat lainnya dilakukan dengan berdiri daling bergantian

2. Perlu menjangkau sesuatu lebih dari 40 cm ke depan atau 15 cm di atas landasan kerja

3. Tinggi landasan kerja dengan kisaran antara 90-120 cm merupakan ketinggian yang paling tepat baik untuk posisi duduk maupun posisi berdiri

c. Posisi/Sikap Berdiri

Posisi tubuh sewaktu bekerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dilakukan. Masing-masing jenis pekerjaan mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap tubuh. Taha, 2006 menjelaskan posisi kerja berdiri merupakan posisi siaga baik fisik maupun mental sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Tetapi pada dasarnya berdiri itu sendiri lebih melelahkan daripada duduk dan energy yang dikeluarkan untuk berdiri 10%-15% lebih banyak dibandingkan dengan duduk. Pada posisi kerja berdiri, apabila tenaga kerja harus bekerja pada periode yang lama, maka sering menimbulkan kelelahan.

Posisi/sikap kerja berdiri membutuhkan pengurangan beban fisiologis tubuh pada periode panjang, utamanya pergerakan darah dan penumpukan cairan tubuh di daerah paha (leg). Terkadang pembebanan berulang pada perut dan leher untuk jenis gerak menjangkau meraih maupun memutar. Keluhan biasanya terjadi karena lambat laun terasa berat pada otot vena, jarak raih di luar toleransi jangkauan normal, luasan kerja yang ketinggian atau kependekan, tidak tersedianya ruang gerak kaki (knee).

Taha, 2006 menyatakan pertimbangan pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan sikap kerja berdiri adalah sebagai berikut :

(4)

2. Harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg) 3. Sering menjangkau ke atas, ke bawah dan ke samping 4. Sering dilakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah 5. Diperlukan mobilitas tinggi

2.2 Masa Kerja

Masa kerja merupakan akumulasi waktu tenaga kerja yang telah memegang pekerjaannya. Tenaga kerja yang memiliki masa kerja yang lebih lama akan semakin banyak menyimpan informasi dan ketrampilan dalam bekerja. Masa kerja yang lebih lama cenderung lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan berdasarkan pengalaman yang dimiliki, emosi yang ebih stabil sehingga lancer dan mantap dalam bekerja. Namun masa kerja yang semakin lama juga dapat memberikan pengaruh negative apabila semakin lama bekerja akan menimbulkan kelelahan dan kebosanan (Suma’mur, 2009).

Menurut Wulandari (2011), pembebanan otot secara statis dalam waktu lama akan menyebabkan nyeri otot, tulang, dan tendon karena pekerjaan berulang yang dilakukan dalam waktu yang lama. Secara garis besar masa kerja dapat dikategorikan menjadi 3 menurut Kurniawan (2006):

a. Masa kerja <6 tahun b. Masa kerja 6-10 tahun c. Masa kerja >10 tahun

2.3 Musculoskeletal Disorders (MSDs) 2.4.1 Definisi MSDs

MSDs adalah serangkaian sakit pada otot, tendon dan saraf. Aktivitas dengan tingkat pengulangan yang tinggi dapat menyebabkan kelelahan pada otot, merusak jaringan hingga kesakitan dan ketidaknyamanan. Ini bisa terjadi walaupun tingkat gaya yang dikeluarkan ringan dan postur kerja memuaskan (OHSCO, 2007).

(5)

Definisi lain dijelaskan oleh American Conference of Governmental Industrial

Hygienysts (ACGIH), MSDs maksudnya adalah adanya suatu gangguan kronis pada

otot, tendon, dan saraf yang disebabkan oleh penggunaan tenaga kerja berulang (repetitive), gerakan secara cepat, beban yang tinggi, tekanan, postur janggal, vibrasi, dan rendahnya temperature (ACGIH, 2007).

2.4.2 Faktor-faktor Risiko MSDs

Faktor risiko MSDS menurut Sutalaksana (2006) terbagi menjadi faktor pekerjaan, faktor individu, faktor lingkungan.

1. Faktor Pekerjaan

Menurut Shofwati (2010) faktor risiko pekerjaan adalah karakteristik pekerjaan yang dapat meningkatkan risiko cedera pada sistem otot rangka. Faktor risiko ergonomic adalah sifat/karakteristik pekerja atau lingkungan kerja yang dapat meningkatkan kemungkinan pekerja menderita gejala MSDs. Ada beberapa faktor yang terbukti berkontribusi menyebabkan MSDs yaitu pekerjaan yang dilakukan dengan sikap kerja, beban, gerakan repetitive/frekuensi, lama kerja, dan genggaman.

a. Sikap Kerja/Postur Kerja

Postur tubuh adalah posisi relatif dari bagian tubuh tertentu. Dewi (2015) menyatakan bahwa postur didefinisikan sebagai orientasi rata-rata bagian tubuh dengan memperhatikan satu sama lain antara bagian tubuh yang lain. Postur dan pergerakan memegang peranan penting dalam ergonomi. Posisi tubuh yang menyimpang secara signifikan terhadap posisi normal saat melakukan pekerjaan dapat menyebabkan stress mekanik lokal pada otot, ligamen, dan persendian. Hal ini mengakibatkan cedera pada leher, tulang belakang, bahu, pergelangan tangan, dan lain-lain. Namun di lain hal, meskipun postur terlihat nyaman dalam bekerja, dapat berisiko juga jika mereka bekerja dalam jangka waktu yang lama.

(6)

Rapid Entire Body Assessment (REBA) adalah cara penilaian tingkat risiko dari repetitive motion dengan melihat pergerakan/postur yang dilakukan oleh pekerja.

Pengukuran dilakukan menggunakan task analysis (tahapan kegiatan kerja dari awal hingga akhir). Sistem penilaian REBA digunakan untuk menghitung tingkat risiko yang dapat terjadi sehubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan MSDs dengan menampilkan serangkaian tabel-tabel untuk melakukan penilaian berdasarkan postur-postur yang terjadi beberapa bagian tubuh dan melihat beban atau tenaga yang dikeluarkan serta aktivitasnya. Perubahan nilai-nilai disediakan untuk setiap bagian tubuh untuk memodifikasi nilai dasar jika terjadi perubahan atau penambahan faktor risiko dari setiap pergerakan postur yang dilakukan (Muhamad, 2014).

Cara perhitungan adalah dengan memberi nilai pada setiap postur yang terjadi, yang terdiri dari tiga group, yakni: pertama pada bagian leher, punggung, dan kaki; kedua pada bagian lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan; ketiga merupakan penggabungan antara bagian pertama dan bagian kedua. Bagian pertama dijumlahkan dengan berat sedangkan bagian kedua dijumlahkan dengan coupling, dan ketiga dijumlahkan dengan aktivitas yang dilakukan. Setelah didapatkan hasilnya maka dapat ditentukan rekomendasi untuk tindakan pengendalian, berdasarkan atas tingkat risiko yang terjadi (Muhamad, 2014).

(7)

Gambar 2.1 Kuesioner REBA

Sumber: Hignett, S., McAtamney, L. (2005)

Pekerjaan yang dikerjakan dengan duduk dan berdiri, seperti pada pekerja kantoran dapat mengakibatkan masalah pada punggung, leher dan bahu serta terjadi penumpukan darah di kaki jika kehilangan kontrol yang tepat (Astuti, 2007). Berdasarkan hasil penilitian Hendra dan Rahardjo (2009), diperoleh bahwa skor risiko (REBA) pada pekerjaan pemuatan kelapa sawit ke dalam truk sebesar 8-10/high risk, dan 83,7% dari 117 pekerja merasakan MSDs pada leher dan punggung bawah. Adapun postur-postur janggal adalah sebagai berikut:

(8)

Gambar 2.2 Postur Tubuh Janggal

Sumber: WMSDs Guide and Tools for Modified Work, Susan Stock (2005)

b. Beban atau Tenaga (Force)

Beban dapat diartikan sebagai muatan (berat) dan kekuatan pada struktur tubuh. Satuan beban dinyatakan dalam newton atau pounds, atau dinyatakan sebagai sebuah proporsi dari kapasitas kekuatan individu (Handayani, 2011).

Beban merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan otot rangka. Berat beban yang direkomendasikan adalah 23-25 kg, sedangkan menurut Departemen Kesehatan (2009) mengangkat beban sebaiknya tidak melebihi dari aturan yaitu laki-laki dewasa sebesar 15-20 kg dan wanita (16-18 tahun) sebesar 12-15 kg.

Pekerja yang melakukan aktivitas mengangkat barang yang berat memiliki kesempatan 8 kali lebih besar untuk mengalami Low Back Pain (LBP) dibandingkan pekerja yang bekerja statis. Penelitian lain membuktikan bahwa hernia diskus lebih sering terjadi pada pekerja yang mengangkat barang berat dengan postur membungkuk dan berputar (Auliya, 2015).

(9)

Dalam berbagai penelitian dibuktikan cedera berhubungan dengan tekanan pada tulang akibat membawa beban. Semakin berat benda yang dibawa semakin besar tenaga yang menekan otot untuk menstabilkan tulang belakang dan menghasilkan tekanan yang lebih besar pada bagian tulang belakang. Pembebanan fisik yang dibenarkan adalah pembebanan yang tidak melebihi 30-40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja dalam 8 jam sehari dengan memperhatikan peraturan jam kerja yang berlaku.semakin berat beban maka semakin singkat pekerjaan (Sari, 2014).

c. Lama Kerja

Lama kerja sangat berkaitan dengan keadaan fisik tubuh pekerja. Pekerjaan fisik yang berat akan mempengaruhi kerja otot, kardiovaskular, sistem pernapasan dan lainnya. Jika pekerjaan berlangsung dalam waktu yang lama tanpa istirahat, kemampuan tubuh akan menurun dan dapat menyebabkan kesakitan pada anggota tubuh. Lama kerja dibagi menjadi durasi singkat yaitu kurang dari 1 jam/hari, durasi sedang yaitu antara 1-2 jam/hari dan durasi lama yaitu lebih dari 2 jam/hari (Sari, 2014).

d. Pekerjaan Berulang (Frequency)

Setyaningsih dan Kurniawan (2009) menyatakan bahwa aktivitas berulang, pergerakan yang cepat dan membawa beban yang berat dapat menstimulasikan saraf reseptor mengalami sakit. Frekuensi terjadinya sikap tubuh yang salah terkait dengan beberapa kali terjadi repetitive motion dalam melakukan suatu pekerjaan. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja terus menerus tanpa memperolah kesempatan untuk relaksasi. Menurut Bukhori (2010), posisi tangan dan pergelangan tangan berisiko apabila dilakukan gerakan berulang/frekuensi sebanyak 30 kali dalm semenit dan sebanyak 2 kali per menit untuk anggota tubuh seperti bahu, leher, punggung dan kaki.

Berdasasarkan studi yang dilakukan European Campaign on Musculoskeletal

(10)

62% telah terpapar MSDs pada tangan akibat adanya gerak repetitive/berulang dan 46% dilaporkan akibat posisi tubuh yang melelahkan selama bekerja.

e. Genggaman

Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak. Sebagai contoh, pada saat tangan harus memegang alat, maka jaringan otot tangan yang lunak akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat, dan apabila hal ini sering terjadi, dapat menyebabkan rasa nyeri otot yang menetap (Agustin, 2012). Menurut Kushardiyanto (2010) memegang diusahakan dengan tangan penuh dan memegang dengan hanya beberapa jari yang dapat menyebabkan ketegangan statis lokal pada jari tersebut harus dihindarkan.

2. Faktor Individu a. Umur

Santiasih (2013) menjelaskan bahwa umur berhubungan dengan keluhan pada otot. Pada umumnya keluhan musculoskeletal mulai dirasakan pada usia kerja, yaitu antara 25-65 tahun. Keluhan pertama biasa dirasakan pada usia 35 tahun dan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur (Santiasih, 2013).

Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian Maijunidah (2011), diperoleh tidak ada hubungan antara munculnya keluhan MSDs dengan usia pekerja, hal tersebut dibuktikan bahwa pada tangan pekerja yang sudah tua tidak mengalami penurunan kekuatan ototnya. Maijunidah (2011) menemukan bahwa tidak ada hubungan antara keluhan MSDs dengan usia, akan tetapi mereka hubungan yang sangat kuat antara beban kerja (dengan kategori rendah, sedang, berat) dengan gejala atau diagnosis MSDs.

(11)

b. Masa Kerja

Santiasih (2013) menjelaskan bahwa masa kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot. Puput, 2015 mengatakan bahwa pada pekerja perusahaan kayu dan furnitur, diketahui bahwa MSDs berhubungan dengan usia dan masa kerja yang lebih lama.

Berdasarkan penilitian yang dilakukan Octarisya (2009), didapatkan bahwa sebesar 66,7% pekerja yang bekerja lebih dari 15 tahun telah mengalami MSDs, diantaranya pada bagian bahu kanan dan kiri, leher dan punggung bawah.

c. Indeks Masa Tubuh

Indeks masa tubuh dapat digunakan sebagai indikator kondisi status gizi pekerja. Dihitung dengan rumus BB²/TB (berat badan²/tinggi badan), adapun menurut WHO (2008) dikategorikan menjadi tiga yaitu kurus (<18,5) normal (18,5-25) dan gemuk (25-30) serta obesitas (>30). Kaitan IMT dengan MSDs adalah semakin gemuk seseorang makan bertambah besar risikonya untuk mengalami MSDs. Hal ini dikarenakan seseorang dengan kelebihan berat badanakan berusaha untuk menyangga berat badan dari depan dengan mengontraksikan otot punggung bawah. Dan bila ini berlanjut terus menerus, akan meyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan hernia nucleus pulposus (Firman, 2014).

d. Jenis Kelamin

Secara fisiologis, kemampuan otot wanita lebih rendah dibanding pria. Mulyono (2009) menjelaskan bahwa kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria sehingga daya tahan otot pria lebih tinggi dibandingkan otot wanita. Penelitian Korovessis, et al (2005) dari 1.263 siswa yang berumur 12-18 tahun didapat siswa yang berjenis kelamin perempuan lebih sering merasakan keluhan muskuloskeletal. Hal ini terjadi karena secara fisiologis, kemampuan otot

(12)

wanita lebih rendah dari pada pria. Kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi dibandingkan wanita. Rerata kekuatan otot wanita kurang lebih 60% dari kekuatan otot pria. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2005) menyatakan bahwa batasan angkat maksimum pada wanita dewasa apabila dilakukan dengan cara menjunjung beban adalah 15 sampai 20 kg atau tidak lebih dari 30% sampai 40% berat badan.

e. Kebiasaan Merokok

Meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. Risiko meningkat 20% untuk tiap 10 batang rokok per hari. Mereka yang telah berhenti merokok selama setahun memiliki risiko MSDs sama dengan mereka yang tidak merokok. Kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuannyauntuk mengkonsumsi oksigen akan menurun. kebiasaan merokok dibagi menjadi 4 kategori yaitu, kebiasaan merokok berat (>20 batang/hari), sedang (10-20 batang/hari), ringan (<10 batang/hari) dan tidak merokok.

Hubungan merokok dengan keluhan muskuloskeletal disebabkan karena batuk yang meningkatkan tekanan pada perut dan menimbulkan ketegangan pada tulang belakang atau punggung (Bukhori, 2010). Penelitian yang dilakukan Ariani (2009) pada tukang angkut barang di Stasiun Jatinegara Jakarta dan penelitian yang dilakukan Soleha (2009) pada operator Can Plant PT X menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan muskuloskeletal. Hasil tabulasi data pada penelitian Ariyanto (2012) antara kebiasaan merokok dengan kejadian keluhan muskuloskeletal pada aktivitas manual handling menunjukan bahwa responden yang mengalami kejadian keluhan muskuloskeletal tertinggi terdapat pada responden dengan kategori kebiasaan merokok perokok atau mantan perokok yaitu sejumlah 26 orang (74.3%).

(13)

3. Faktor Lingkungan a. Getaran

Getaran dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan kontraksi otot bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak lancer, penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot.

Paparan vibrasi/ getaran pada seluruh tubuh merupakan factor resiko yang dapat berkontribusi untuk menyebabkan cidera, khususnya di tulang belakang dan leher serta punggung bagian bawah. Paparan jangka panjang akan menyebabkan keluhan muskuloskeletal.

Paparan dari getaran local terjadi ketika bagian tubuh tertentu kontak dengan objek yang bergetar. Paparan getaran seluruh tubuh dapat terjadi ketika berdiri atau duduk dalam lingkungan atau objek yang bergetar, seperti ketika mengoprasikan kendaraan atau mesin yang besar (Bukhori, 2010).

b. Mikroklimat/suhu

Pajanan pada udara dingin, aliran udara, peralatan sirkulasi udara dan alat-alat pendingin dapat mengurangi keterampilan tangan dan merusak daya sentuh. penggunaan otot yang berlebihan untuk memegang alat kerja dapat menurunkan resiko ergonomi. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh mengakibatkan sebagian energi di dalam tubuh dihabiskan untuk mengadaptasikan suhu tubuh terhadap lingkungan. Apabila tidak disertai pasokan energi yang cukup akan terjadi kekurangan suplai energi ke otot (Nurjannah, 2014).

Berdasarkan rekomendasi National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) (2010) tentang kriteria suhu nyaman, suhu udara dalam ruang yang dapat diterima adalah berkisar antara 20-24ºC (untuk musim dingin) dan 23-26ºC (untuk

(14)

musim panas) pada kelembapan 35-65%. Rata-rata gerakan udara dalam ruang yang ditempati tidak melebihi 0.15 m/det untuk musim dingin dan 0.25 m/det untuk musim panas. Kecepatan udara di bawah 0.07 m/det akan memberikan rasa tidak enak di badan dan rasa tidak nyaman. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pada temperature 27-30ºC, maka performa kerja dalam pekerjaan fisik akan menurun (Astuti, 2007).

c. Pencahayaan

Pencahayaan akan mempengaruhi ketelitian dan performa kerja. Bekerja dalam kondisi cahaya yang buruk, akan membuat tubuh beradaptasi untuk mendekati cahaya. Jika hal tersebut terjadi dalam waktu yang lama meningkatkan tekanan pada otot bagian atas tubuh (Bukhori, 2010). Pencahayaan yang inadekuat dapat merusak salah satu fungsi organ tubuh. Hal ini berkaitan dengan tingkat pekerjaan yang membutuhkan tingkat ketilitian yang tinggi atau tidak. Bila pencahayaan yang inadekuat pada ruangan kerja akan menyebabkan postur leher lebih condong kedepan (fleksi) begitupun dengn postur tubuh, postur seperti ini dapat menambah risiko MSDs.

4. Faktor Psikososial

Faktor psikososial yaitu kepuasan kerja, stress mental, organisasi kerja (shift kerja, waktu istirahat, dll) (Widyastoeti, 2008). Organisasi kerja didefinisikan sebagai distribusi dari tugas kerja tiap waktu dan diantara para pekerja, durasi dari tugas kerja dan durasi serta distribusi dari periode istirahat. Durasi kerja dan periode istirahat memiliki pengaruh pada kelelahan jaringan dan pemulihan. Studi khusus pada pengaruh organisasi kerja pada gangguan leher telah dilakukan.

(15)

Bukhori (2010) menyatakan bahwa walaupun banyak penelitian yang menunjukkan MSDs dipengaruhi oleh faktor psikososial tetapi umumnya memiliki kekuatan yang lemah.

2.4.3 Tanda dan Gejala MSDs

Menurut Zulfiqor (2011) gejala-gejala MSDs yang biasa dirasakan oleh seseorang adalah:

1. Leher dan punggung terasa kaku

2. Bahu terasa nyeri, kaku ataupun kehilangan fleksibelitas 3. Tangan dan kaki terasa nyeri seperti tertusuk

4. Siku ataupun mata kaki mengalami sakit, bengkak dan kaku

5. Tangan dan pergelangan tangan merasakan gejala sakit atau nyeri disertai bengkak

6. Mati rasa, terasa dingin, rasa terbakar ataupun tidak kuat

7. Jari menjadi kehilangan mobilitasnya, kaku dan kehilangan kekuatan serta kehilangan kepekaan

8. Kaki dan tumit merasakan kesemutan, dingin, kaku ataupun sensasi rasa panas.

Untuk memperoleh gambaran gejala MSDs dapat menggunakan Nordic Body Map (NBM) dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman (sedikit sakit), sakit hingga sangat sakit. Pengukuran keluhan muskuloskeletal dalam penelitian ini diukur dengan metode analitik Nordic Body Map (NBM). Metode NBM merupakan salah satu metode pengukuran subyektif untuk mengukur rasa sakit otot para pekerja. Kuesioner NBM merupakan salah satu bentuk kuesioner checklist ergonomi. Kuesioner NBM kuesioner yang paling sering digunakan untuk mengetahui ketidaknyamanan pada para pekerja karena sudah terstandarisasi dan tersusun rapi. Pengisian kuesioner NBM ini bertujuan untuk mengetahui bagian tubuh dari pekerja yang terasa sakit sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan pada stasiun kerja. Kuesioner ini menggunakan gambar tubuh manusia yang sudah dibagi menjadi 9

(16)

bagian utama, yaitu: leher, bahu, punggung bagian atas, siku, punggung bagian bawah, pergelangan tangan, pinggang/pantat, lutut, tumit/kaki.

Tabel 2.1 Kuesioner Nordic Body Map

No. Lokasi Tingkat Kesakitan

A B C D

0 Sakit / kaku pada leher atas 1 Sakit pada leher bawah 2 Sakit pada bahu kiri 3 Sakit pada bahu kanan 4 Sakit pada lengan atas kiri 5 Sakit pada punggung 6 Sakit pada lengan atas kanan 7 Sakit pada pinggang

8 Sakit pada pantat (but lock) 9 Sakit pada pantat (but torn) 10 Sakit pada siku kiri 11 Sakit pada siku kanan 12 Sakit pada lengan bawah kiri 13 Sakit pada lengan bawah kanan 14 Sakit pada pergelangan tangan kiri 15 Sakit pada pergelangan tangan kanan 16 Sakit pada tangan kiri

17 Sakit pada tangan kanan 18 Sakit pada paha kiri 19 Sakit pada paha kanan 20 Sakit pada lutut kiri 21 Sakit pada lutut kanan 22 Sakit pada betis kiri 23 Sakit pada betis kanan

24 Sakit pada pergelangan kaki kiri 25 Sakit pada pergelangan kaki kanan 26 Sakit pada kaki kiri

27 Sakit pada kaki kanan

Tabel 2.2 Peta Nilai Total Nordic bagi Tubuh

Nilai Nilai Keseluruhan Individu Derajat Resiko Intervensi

1 28 – 49 Rendah Tidak membutuhkan intervensi

2 50 – 70 Sedang Perlu dilakukan intervensi

3 71 – 91 Tinggi Membutuhkan intervensi segera

4 92 – 112 Sangat Tinggi Membutuhkan intervensi sekarang juga

Gambar

Gambar 2.1 Kuesioner REBA
Gambar 2.2  Postur Tubuh Janggal

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan beban kerja dan kelelahan kerja antara sikap kerja berdiri dan duduk pada karyawan bagian produksi di PT Iskandar Indah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “ Apakah ada perbedaan beban kerja dan kelelahan kerja antara sikap

Kejadian yang banyak terjadi pada usia anak sekolah antara SD sampai SMP ialah kesalahan sikap atau postur tubuh dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar

” PERBEDAAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN) ANTARA SIKAP KERJA DUDUK DAN SIKAP KERJA BERDIRI DI BAGIAN PRODUKSI JALUR II DAN NON PRODUKSI

Si- kap tubuh yang tidak alamiah pada saat bekerja (misalnya pada saat memegang handtool ), fre- kuensi ketika melakukan gerakan dengan sikap yang tidak alamiah dan durasi waktu

Menurut Humantech dalam Merulalia (2010) sikap kerja tidak alamiah/postur janggal adalah deviasi/pergeseran dari gerakan tubuh atau anggota gerak yang dilakukan oleh pekerja

Sikap kerja tidak alamiah atau postur janggal adalah pergeseran dari gerakan tubuh atau anggota gerak yang dilakukan oleh pekerja saat melakukan aktifitas dari postur atau

Sikap kerja tidak alamiah/postur janggal adalah deviasi/pergeseran dari gerakan tubuh atau anggota gerak yang dilakukan oleh pekerja saat melakukan aktifitas dari postur