• Tidak ada hasil yang ditemukan

INOVASI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES DI SMA NEGERI KEDUNGPRING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INOVASI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES DI SMA NEGERI KEDUNGPRING"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 INOVASI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS MULTIPLE

INTELLIGENCES DI SMA NEGERI KEDUNGPRING Wiwit Sukaini, Siti Suwaibatul Aslamiah, Hepi Ikmal

Universitas Islam Lamongan [email protected]

Abstract:This study is entitled Innovation in Islamic Education Learning Based on Multiple Intelligences in SMA Negeri I Kedungpring using the type of qualitative research with a descriptive approach, the purpose of this study is to describe the Learning of Islamic Education Based on Multiple Intelligences in Kedungpring I Public High School and the development of teachers and students in the application Multiple Intelligences at SMA Negeri I Kedungpring. The results of this study are the first is the innovation of Islamic religious education learning lies in learning methods such as learning outside the classroom which is adapted to learning materials, the use of demonstration methods using certain tools such as miniature Kaaba and large dolls, the role playing method conducted by several students then other students observe and use ICT in the learning process such as downloading certain applications to find out the reading on the Koran. The development of innovation is that KBM outside the classroom brings external speakers who are related to the PAI material, peers become tutors in learning and the availability of various WIFI networks that can facilitate the learning process. Keywords: Learning Innovation, Islamic Religious Education, and Multiple Intelligences

(2)

2 A. Pendahuluan

Perlu diketahui dan disadari bagaimana manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang sempurna diantara mahluk lain yang berbekal akal, dengan berbekal potensi akal yang telah diberikan oleh Allah di harapkan manusia bisa mempergunakan, mendayagunakan, serta memanfaatkan alam ini. Pendidikan Agama Islam (PAI) berupaya mengajarkan siswanya untuk dapat menjalankan amanahnya yakni khalifah di muka bumi. Namun dari beberapa study yang dilakukan oleh para ahli menunjukan bahwa PAI yang diselenggarakan sekolah-sekolah di Indonesia umumnya memiliki masalah yang sama yakni minimnya metodologi dalam pengajaran sehingga kurang dapat menarik. Untuk itu diperlukan adanya inovasi dalam pendidikan Agama Islam, Bisa dengan menggunakan pembelajaran berbasis multiple

intellegences. Pendidikan mestilah senantiasa dilakukannya pembaruan

(inovasi). Inovasi sebagai suatu yang di persepsikan baru gagasan, praktik, atau obyek yang disadari atau tidak oleh seorang atau kelompok untuk diadopsi untuk mengatasi kebutuhan/ masalah seorang atau kelompok. (M. Rogers Everett, 1983)

Semakin mudah suatu hasil inovasi dapat diamati oleh seseorang maka akan semakin cepat proses pengadopsiannya. Dari penjabaran diatas serta berbagai pendapat mengenai inovasi harusnya guru mampu mengetahui tentang inovasi dalam sebuah pembelajaran pendidikan supaya ada hal-hal baru yang bisa dilakukan dalam sebuah pembelajaran tersebut. Disini guru mampu menemukan hal baru yang dapat membuat siswa dan guru tidak mononton dengan pembelajaran itu-itu saja, dengan adanya inovasi baik dari guru maupun murid dapat meningkatkan pembelajarannya meggunakan hal baru semisal dari metode, strategi dan pengelolaan kelasnya. Peran guru dalam hal ini juga dibutuhkan karna inovasi tidak bisa masuk dalam pendidikan seperti itu secara langsung melainkan adanya sebuah proses yang dapat diterima dan dilakukan oleh seorang guru, tidak jauh dari itu pula disini siswa juga ikut berperan. (Sukmadi, 2016)

Saat dilokasi, peneliti mendapati inovasi pembelajaran PAI berbasis Multiple Intlelligences (kecerdasan majemuk) yang telah diterapkan, pada saat pembelajaran berlangsung siswa yang memiliki kecerdasan sesuai yang dimilikinya akan terlihat dan akan di ketahui seorang guru semisal mengambil kecerdasan siswa pada kecerdasan Linguistik secara otomatis disini siswa lebih condong kepada membaca, menulis informasi, menulis naskah, bercerita, debat, tanya jawab. disinilah seorang guru akan memunculkan inovasi atau gagasan baru yang sesuai dengan materi, contoh pada saat menceritakan sejarah guru bisa berinovasi dengan menggunakan metode bermain peran. (Sukiono, 2019)

(3)

3 Suatu pembelajaran akan bosan manakala tidak adanya pembaruan atau inovasi dalam pembelajaran tersebut. Bayangkan jika beberapa tahun yang dipakai pembelajarannya hanya mononton pada pemebalajaran yang diajarkan tanpa adanya pembaruan maka disitu hasil yang dicapai pula biasa-biasa saja. Inovasi serta didukung kecerdasan majemuk mampu membuat proses pembelajaran lebih dinikmati dan dimininati oleh peserta didik. (Sukiono, 2019)

Pada penelitian ini ada kaitannya hubungan dengan penelitian terdahulu, tetapi hanya pada proses pembahasan yang mengarah pada inovasi pembelajaran, tempat yang diteliti dan hasil dari peneliti yang dilakukan. Dimana dalam penelitian terdahulu terdapat berbagai perbedaan sebagaimana mana berikut:

1. Inovasi Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs N 6 Bantu. (Melya Dwi Astuti, 2017)

Perbedaannya terletak pada inovasi pembelajaran pendidikan berbasis multiple intelligence. Persamaan terletak pada penggunaan metode penelitian yaitu kualitatif.

2. Inovasi Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa di MTs N Turen Malang. (Moh. Ilyas, 2008)

Perbedaan terletak pada faktor penghambat pendukung serta hasil prestasi belajar siswa dengan dilaksanakan inovasi metode pembelajaran sedang peneliti lebih menekankan pada pengembangan guru dan siswa dalam inovasi Pembelajaran PAI Berbasis Multiple Intelligences.

3. Pendidikan Karakter Berbasis Multiple Intelligence oleh Universitas Negeri Yogyakarta. (Abd. Kadim Masaong, 2012)

Perbedaan terletak pada hasil penelitian yang berupa macam-macam karakter siswa sedangkan disini peneliti memfokuskan penelitiannya terhadap inovasi pembelajaran PAI berbasis Multiple

Intelligences dan pengembangan guru serta siswa dalam penerapan

Multiple Intelligence.

4. Inovasi Media Pembelajaran PAI dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SMA Negeri I Simpang Ulim Aceh Timur. (Rizayana, 2018) Perbedaannya terletak pada inovasi media pembelajaran PAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa hal ini dapat dibuktikan melalui beberapa tes yang pernah dilakukan, hal yang membedakan dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada proses yang kan diteliti, peneliti akan meneliti inovasi pembelajaran PAI berbasis

(4)

4 Multiple Intelligences di SMA N I Kedungpring serta pengembangan guru dan siswa

5. Inovasi Pembelajaran PAI Dengan Pengembangan Model Constructivism Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. (Fitri Ofiyanti, 2013)

Perbedaan tersebut terletak pada pengembangan model constructivism sedangkan peneliti akan meneliti pada inovasi pembelajaran PAI berbasis Multiple Intelligences dan pengembangan guru serta siswa dalam penerapan Multiple Intelligences.

B. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif atau penelitian lapangan yakni menggambarkan dan memaparkan keadaan sesungguhnya dan fenomena serta situasi yang terjadi secara jelas, penulis secara langsung meneliti di lapangan sehingga data yang didapat dengan yang ditulis mendapatkan keserasian (Robert Bagdan, 1992). Karena sesuai dengan rumusan masalah yang dibuat oleh peneliti tentang inovasi pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis multiple intelligences di SMA N I Kedungpring.

2. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu dan tempat penelitian merupakan salah satu syarat berlangsungnya sebuah penelitian yang dilakukan. Penelitian ini dimulai pada tanggal 10 Januari 2020 sampai 17 Maret 2020 yang dilalukan di SMA Negeri I Kedungpring.

3. Subjek

Subyek penelitian kualitatif adalah narasumber, partisipan, informan dan guru dalam penelitian. (Sugiyono, 2017) berupa tempat penelitian atau sasaran dari kegiatan penelitian, yaitu SMA N I Kedungpring Lamongan. Alasan penelitian dikarenakan SMA tersebut menggunakan Inovasi Pembelajaran berbasis Multiple Intelligences pada pelajaran pandidikan agama Islam.

Subyek selanjutnya yaitu Guru dan Siswa, sebagai pelaku utama dalam proses belajar mengajar yang berinovasi dalam pembelajaran sehingga menjadikan suasana kelas yang tidak membosankan. Siswa lebih bisa memahami materi tersebut pada saat proses pembelajaran.

(5)

5 4. Teknik Pengumpulan Data

Kegiatan penelitian yang terpenting ialah pengumpulan data. Walaupun instrumen penyusunan juga penting tetapi jauh lebih penting pengumpulan data. Pengumpulan data dalam penelitian perlu di pantau agar data yang diperoleh dapat terjaga tingkat validasinya dan reliabilitasnya. (Suharsimi Arikunto, 2010) dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan 3 cara yaitu pengumpulan data melalui observasi, wawancara (Interview), dan pengumpulan data melalui dokumentasi. Metode pengumpulan ini dilakukan peneliti untuk memperoleh data berupa hasil wawancara data tentang sekolah, struktur organisasi, jumlah guru dan siswa, catatan, transkip, buku, surat kabar dan lainnya.

5. Teknik Analisis Data

Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuannyadapat diinformasikan kepada orang lain. (Sugiono, 2017) proses analisis data dimulai semenjak sebelum penelitian memasuki lapangan. Analisis data dilanjutkan pada saat peneliti berada di dalam lapangan sampai peneliti menyelesaikan tugasnya. Tahap proses analisis data serta interaksinya dapat dilihat pada reduksi data, penyajian data dan verifikasi data di SMA N I Kedungpring.

C. Hasil dan Pembahasan Hasil Penilitian

A. Inovasi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Multiple Intelligences di SMA N I Kedungpring Lamongan

Pelaksanaan inovasi pembelajaran agama Islam yang dilakukan di SMA Negeri I Kedungpring merupakan sebuah tindakan yang dirasa baru dalam proses pembelajaran. Inovasi di SMA Negeri I Kedungpring ini dilakukan oleh guru PAI yang mana dapat memberikan suasana dan proses pembelajaran yang berbeda dari pada sebelumnya.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti,guru PAI di SMA Negeri I Kedungpring sudah melakukan sebuah inovasi dalam pembelajaran. Hal tersebut berdasarkan cara guru mengajar yang berbeda disertai dengan adanya alat dan bahan-bahan yang ada di lapangan.

Ada beberapa inovasi yang dilakukan oleh guru pendidikan Agama Islam pada saat pembelajaran yang telah peniliti dapati diantaranya yaitu;

(6)

6 1. Dapat Menerepkan Berfikir Kritis

Inovasi yang pembelajaran yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri I Kedungpring salah satunya yaitu melalui pemilihan metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran dilakukan atas dasar bahwa siswa dapat menerapkan berfikir kritis, pemilihan metode belajar yang membuat berfikir kritis ini merupakan inovasi pembelajaran. Metode

Metode pembelajaran kritis inovatif yang dilakukan di SMA Negeri I Kedungpring sebagai berikut:

a. Metode Demonstrasi PAI

Metode demonstrasi yang ada di SMA Negeri I Kedungpring adalah metode pengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya atau bekerjanya suatu proses atau langkah-langkah kerja dari suatu alat atau instrumen tertentu kepada siswa. Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Drs. Lukmanul Hakim, M.Pd dalam bukunya Perencanaan Pembelajaran.

Dari pengertian diatas guru PAI SMA Negeri I Kedungpring menggunakan metode demontrasinya berupa penggunaan miatur-miniatur ka’bah dan boneka besar (dari plastik) pada saat pembelajaran materi haji dan perawatan jenazah.

b. Metode Bermain Peran PAI

Metode bermain peran PAI di SMA Negeri I Kedungpring mengacu pada pembelajaran materi PAI yang ada kaitannya dengan sejarah seperti peristiwa isro’miroj dan dakwah rosulullah dalam sejarah kebudayaan Islam.

Guru PAI di SMA Negeri I Kedungpring dalam menerapkan metode bermain peran adalah menujuk beberapa siswa untuk memainkan peran dan siswa lain sebagai pengamat dan mencatat hal yang terkait dengan pembelajaran, guru memberikan waktu beberapa hari untuk belajar menjadi peran yang akan dimainka tersebut. Dalam ha ini upaya untuk meningkatkan pemahaman yang di lakukan melalui peran yang dimainkan dan pemahaman untuk siswa lain yang mengamati.

Manfaat yang didapatkan ketika pembelajaran bermain peran meliputi: menambah kepercayaan diri pada siswa, meningkatkan kemampuan berfikir siswa disebabkan dari hasil materi yang disampaikan lewat menjadi peran tersebut. Bermain peran juga jarang dilakukan di tingkat SMA karena dirasa hanya anak-anak

(7)

7 yang dapat bermain peran padahal bermain peran juga saat penting untuk menambah kepercayaan diri anak.

c. Pretes oleh Guru PAI

Pretest yang dilakukan oleh guru PAI dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan siswa sebelum melakukan pembelajaran yang akan disampaiakan oleh guru. Dalam hal ini guru memberikan respon baik kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan- pertanyaan pengantar yang diberikan oleh guru PAI.

Pre test yaitu suatu bentuk pertanyaan, yang dilontarkan guru kepada muridnya sebelum memulai suatu pelajaran. Pertanyaan yang ditanya adalah materi yang akan diajarkan pada hari itu, pertanyaan itu biasanya dilakukan guru diawal pembukaan pembelajaran. (Sadiman, 2000)

Hal tersebut akhir-akhir ini jarang dilakukan oleh guru karena sudah dianggap siswa telah mampu dan tau akan materi tersebut. Padahal dengan adanya pretes itu seorang guru bisa lebih mengetahui ada berapa siswa yang memang telah mengetahui sebagian materi dan kesiapan siswa dalam pembelajaran tersebut yang materi tersebut baru akan disampaikan.

Hal yang dilakukan oleh guru PAI SMA saat pre test tidak jauh berbeda dengan cara yang dilakukan seperti biasanya. Diantaranya hal yang dilakukan adalah:

a) Siswa yang dipanggil untuk menjawab pertanyaan diberi kesempatan untuk menjawab 2 pertanyaan yang diberikan oleh guru.

b) Tiap Pertanyaan memiliki nilai/ point yang berbeda sesuai dengan kesulitan pertanyaan dan nilai maksimal diberikan karena ketepatan dalam menjawab.

Pertanyaan pertama memiliki nilai 80 – 90 (maks) Pertanyaan kedua memiliki nilai 70 – 79 (maks)

c) Jawaban benar maka diberi nilai sesuai dengan nomor soal Pertanyaan berhenti pada soal yang terjawab. Siswa menjawab pertanyaan pertama dengan nilai di atas, apabila tidak bisa terjawab pertanyaan pertama maka diberi pertanyaan kedu sesuai dengan nilai yang diberikan.

d) Namun apabila kedua pertanyaan tidak bisa terjawab Maka tidak mendapatkan point/ nilai, dan dipersilahkan menunggu kembali panggilan untuk kesempatan berikutnya.

(8)

8 2. Problem Solving

a. ICT (Information and Communication of Technology)

Teknologi informasi dan komunikasi di SMA Negeri I Kedungpring sangat mendukung untuk sebuah pemecahan masalah dalam pembelajaran, yang mana awal mulanya siswa menggunakan buku paket serta perpustakaan untuk menunjang buku-buku yang mana materinya tidak ada dibuku paket. Dari hal tersebut dapat dipakai pemecahan masalah oleh guru PAI.

Guru PAI di SMA Negeri I Kedungpring melakukan berbagaicara untuk memacahkan masalah pembelajaran:

1) Dapat memanfaatkan pembelajaran melalui mendownloed aplikasi Al Quran yang ada kaitannya dengan materi pemahaman bacaan tajwid secara lengkap

2) Sekolah menyediakan sejumlah tablet yang dipakai untuk proses pembelajaran tersebut. Sangat membantu siswa yang mana ada permasalah dengan HP yang dimilkinya.

b. Pembelajaran di luar kelas oleh Guru PAI

Pembelajaran di luar kelas merupakan sebuah pemecahan masalah yang dilakukan oleh Guru PAI SMA Negeri I Kedungpring ketika didapati siswa yang bosan pada saat pembelajaran di dalam kelas secara terus menerus. Yang dimana pada saat pembelajaran di dalam kelas hanya berpatokan pada dinding-dinding dan tembok, pembelajaran di luar kelas dapat mengatasi hal tersebut.

Pada pembelajaran di luar kelas guru PAI tidak membiarka begitu saja tetapi mengatur tempat duduk dengan baik supaya tidak berdesakan, mengajak di luar kelas yang rindang seperti dibawah pepohonan, atau di masjid. Materi yang dibuat untuk pembelajaran di luar kelas biasanya yang mencangkup alam ciptaan Allah.

Menurut Vera (2012), pembelajaran di luar kelas merupakan kegiatan belajar antara guru dan siswa, namun tidak dilakukan di dalam kelas, tetapi dilakukan di luar kelas atau alam terbuka sebagai kegiatan pembelajaran siswa. Sementara dalam formulasi yang lebih sederhana, Komarudin dalam buku Husamah (2013:19) yang berjudul pembelajaran di luar kelas (outdoor learning) menyatakan bahwa outdoor learning merupakan aktifitas luar sekolah yang berisi kegiatan di luar kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti: bermain di lingkungan sekolah, taman, perkampungan pertanian/nelayan, berkemah, dan kegiatan yang bersifat kepetualangan, serta pengembangan aspek pengetahuan yang relevan. (Husamah, 2013)

(9)

9 Berpijak pada pendapat para ahli diatas, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran di luar kelas memiliki manfaat serta kelebihan yang penting yaitu:

1. Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.

2. Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami. 3. Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual

sehingga kebenarannya akurat.

4. Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta, dan lain-lain.

5. Sumber belajar lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain.

6. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan. (Husamah, 2013)

Sesuai dengan penjelasan di atas SMA Negeri I Kedungpring melakukan inovasi keempatnya dengan pembelajaran diluar kelas yang mana dalam pembelajaran luar kelas tersebut memberikan suasana belajar yang tepat disertai pendukung adanya metode dan materi yang disesuaikan ketika pembelajaran diluar kelas.

Tabel: 1

Data SMA N I Kedungpring

Kelas Materi

X

- Materi hikmah ibadah haji.

Biasanya dilakukan dilapangan terbuka sekaligus praktek dengan menggunakan miniatur ka’bah

XI

- Materi melaksanakan pengurusan jenazah Merawat jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, dan mensholati bahkan

(10)

10 sampai mengantar jenazah.

Ada 2 versi yang dilakukan : bisa langsung mengikuti ketika ada warga sekitar sekolah meninggal atau menggunakan metode demonstrasi berupa boneka seperti manusia serta persiapan alat yang lainnya.

XII

- Menyembah Allah SWT sebagai ungkapan rasa syukur.

Mengajak siswa keluar dari kelas kemudian ditunjukkan berbagai ciptaan Allah seperti burung, langit dll untuk memperkuat rasa syukur melalui zikir disekitar alam (bertempat diswaka sekitar)

3. Kreatif

a. Pemilihan Metode oleh Guru PAI

Pemilihan metode merupakan sebuah cara alternatif untuk keefektifan dalam menggunakan metode pada pembelajaran itu dalam menerapakan materi yang ada. Dalam penggunaan sebuah metode pembelajaran ada banyak metode yang dapat digunakan, seperti: metode demonstrasi, metode ceramah, metode tanya jawab, metode dan bermain peran. tetapi disini Guru PAI di SMA N I Kedungpring memilih untuk metode apa saja yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dan disesuaikan dengan materi.

Diantaranya adalah metode demontrasi yang disesusuaikan dengan materi, metode bermain peran dan penggunaan alat teknologi untuk sebuah metode pembelajaran. b. Suasana di dalam kelas oleh Guru PAI

Di SMA Negeri I Kedungpring suasana dalam kelas terdapat berbagai lafal asmaul husna yang dimana hal tersebut dilakukan oleh guru PAI supaya dengan mudah untuk menghafalnya dalam proses pembelajaran. Hal tersebut merupakan sebuah bentuk kreatifitas guru dan siswa dalam memberikan pengajaran kepada siswa.

(11)

11 Dengan adanya setingan ruangan yang ada gambar-gambar serta warna-warna yang menarik membuat suasana pembelajaran lebih terasa nyaman dan mendukung siswa yang berada di dalam ruangan tidak jenuh dan bosan.

Inovasi atau pembaharuan itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus perlu diadakan upaya-upaya yang dilakukan. Jika suatu sekolah atau lembaga pendidikan tidak menggunakan inovasinya maka disitu akan terjadi proses ketertinggalan, inovasi yang dilakukan dengan berbagai bentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru untuk memacahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan khususnya pada proses pembelajaran.

Dengan demikian metode baru atau cara baru yang digunakan dalam melaksakan proses pembelajaran dapat menjadikan suatu upaya untuk dapat meningkatkan evektifitas pembelajaran.

B. Pengembangan inovasi guru dan siswa dalam penerapan multiple intelligences di SMA N I Kedungpring Lamongan.

Pengembangan yang dilaksanakan di SMA Negeri I Kedungpring dalam rangka untuk mengembangkan pontensi yang ada baik dari siswa maupun guru berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. Ada beberapa pengembangan yang dilakukan. Menurut Seels & Richey (Alim Sumarno, 2012) pengembangan berarti proses menterjemahkan atau menjabarkan spesifikasi rancangan kedalam bentuk fitur fisik. Pengembangan secara khusus berarti proses menghasilkan bahan-bahan pembelajaran. Sedangkan menurut Tessmer dan Richey (Alim Sumarno, 2012) pengembangan memusatkan perhatiannya tidak hanya pada analisis kebutuhan, tetapi juga isu-isu luas tentang analisis awal-akhir, seperti analisi kontekstual.

1. Pengembangan yang pertama yaitu tersedianya berbagai jaringan WIFI yang ada di area sekolah membuat proses pembelajaran lebih efektif serta didukung adanya perlengkapan pembelajaran yang dipinjamidari sekolah berupa alat-alat komunikasi seperi tablet. Menurut AECT Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik, di dalamnya meliputi : (1) teknologi cetak; (2) teknologi audio-visual; (3) teknologi berbasis komputer; dan (4) teknologi terpadu.

Hal seperti ini dilakukan untuk membantu proses pembelajaran siswa yang mana mulanya siswa hanya berpatok pada buku-buku paket atau belajar diperpustakaan, sekarang sudah bisa belajar dalam kelas

(12)

12 dan menggunakan fasilitas yang diberikan sekolah untuk mengakses materi yang berkaitan dengan pembelajaran.

Secara garis besar, teknologi informasi memiliki peranan : (1) dapat menggantikan peran manusia, dalam hal ini dapat melakukan otomasi terhadap tugas atau proses; (2) memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan informasi terhadap suatu tugas dan proses; (3) berperan dalam restrukturissi terhadap peran manusia, dalam melakukan perubahan-perubahan terhadap kumpulan tugas dan proses.(Miarso, 1984)

Disini tugas guru PAI tidak hanya membiarkan siswa menggunakan tetapi juga memantau siswa dalam pembelajaran tersebut serta mendampingi proses pembelajaran berlangsung.

2. Pengembangan yang kedua yaitu tutor sebaya yang dilakukan oleh seorang guru PAI dan siswa.

Tutor sebaya merupakan aktivitas siswa yang mempunyai kecerdasan lebih untuk membantu teman sebayanya dalam memahami materi yang mana pada saat penyamapaian materi siswa kurang faham dan malu untuk bertanya. Menurut Suciati dkk (2007:6.15) dalam kegiatan tutorial siswa yang lebih pandai membantu siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami materi pelajaran. Hal tersebut sejalan dengan Akhmat Sudrajat (2011:140) tutor sebaya adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang siswa kepada siswa lainnya yang salah satu siswa itu lebih memahami materi pembelajaran. Bantuan belajar yang diberikan oleh teman sebaya dapat menghilangkan rasa kecanggungan seperti halnya dengan guru. Bahasa yang digunakan antara teman dengan teman lebih dapat dipahami dari pada guru dengan siswa.

Dari pendapat diatas dapat identifikasi bahwa siswa membantu teman yang belum paham, sehingga akan terjadi kegiatan belajar yang aktif, komunikatif dan menyenangkan. Metode latihan bersama teman memanfaatkan siswa yang telah lulus atau berasil untuk melatih teman yang mengalami kesulitan.

Beberapa hal yang dilakukan oleh siswa dan guru saat pembelajaran tutor sebaya berlangsung yaitu

a) Mengolompokkan terlebih dahulu siswa sesuai prestasi

Pada saat mengolompokkan siswa dibagi menjadi 2 sampai 3 kemudian diberi satu siswa yang dimana siswa tersebut bisa memberikan pemahaman terhadap kesulitan siswa yang lain dalam pembelajaran seperti pada materi mawaris atau ilmu waris

(13)

13 disitu siswa akan lebih paham nama kala diterangkan oleh temannya.

b) Membimbing dan memantau jalannya tutor sebaya yang dilakukan siswa

Guru tidak langsung sepenuhnya membiarkan begitu saja tanpa adanya pengontrolan kepada siswa yang telah ditunjuk untuk menjadi tutor sebaya untuk temannya, melainkan guru juga masi mendamping dan mengoreksi sejauh mana siswa yang dijadikan tutor sebaya tersebut dalam proses pembelajaran.

3. Pengembangan yang ketiga yaitu didatangkannya narasumber dari luar sekolah.

Salah satu pengembangan dari inovasi yaitu didatangkannya narasumber dari luar yang mana dapat menjadi tolak ukur sebuah pembelajaran dari dalam sekolah dan dari luar sekolah. Narasumber yang didatangkan biasanya dari ponpes langitan dan dari moden nikah kedungpring

Hal tersebut dapat memicu siswa untuk lebih giat dalam pembelajaran yang diberikan pihak luar yang mana langsung pemahaman yang diberikan sesuai dengan pembelajaran, seperti dari narasumber dari langitan pada saat pengembangan Al Quran. Kemudian moden dari kedungpring yang langsung menerangkan tentang bab menikah.

Siswa sangat antusias dalam pelaksaan proses pembelajaran dengan didatangkannya narasumber dari luar. Menurut Bagong Suyatna, narasumber adalah peranan dari seorang narasumber atau seorang informan dalam mengambil data yang akan digali dari orang-orang tertentu yang memiliki nilai dalam menguasai persoalan yang ingin diteliti dan mempunyai keahlian dalam berwawasan cukup.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengenai pengertian narasumber adalah orang yang mengetahui dan memberikan secara jelas atau menjadi sumber informasi atau informan (orang yang memberikan sebuah informasi).

D. Simpulan

Simpulan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian tentang inovasi pembelajaran PAI berbasis Multiple Intellegences di SMA Negeri I Kedungpring dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Inovasi pembelajaran PAI berbasis Multiple Intellegences di SMA Negeri I Kedungpring meliputi

(14)

14 a. Dapat berfikir kritis

1) Metode Demonstrasi PAI 2) Metode Bermain Peran PAI 3) Pretes oleh Guru PAI

b. Memecahkan Masalah (Problem Solving)

1) ICT (Information and Communication of Teknology) 2) Pembelajaran di Luar Kelas oleh Guru PAI

c. Kreatif

1) Pemilihan Metode oleh Guru PAI

2) Kondisi Suasana di Dalam Kelas oleh Guru PAI d. Komunikatif

1) Menyampaikan Tujuan Pembelajaran 2) Memotivasi Siswa

2. Bagaimana pengembangan guru dan siswa dalam penerapan multiple intelligences di SMA N I Kedungpring Lamongan

a. Tersedianya berbagai jaringan WIFI yang ada di sekolahan b. Tutor sebaya yang dilakukan oleh guru PAI dan siswa c. Narasumber dari luar

Saran

Berdasarkan uraian penelitian di atas, maka peneliti memberikan saran kepada pihak yang bersangkutan antara lain:

1. Bagi Guru PAI

Hendaknya lebih meningkatkan inovasi-inovasi pembelajaran, supaya peserta didik lebih giat dan semangat dalam proses pembelajaran dan dapat tercapainya tujuan pembelajaran tersebut melalui inovasi pembelajaran. 2. Bagi Siswa

Hendaknya lebih meningkatkan semangat dalam pembejaran supaya ilmunya bertambah dan medapatkan pencapaian yang baik melalui inovasi yang diberikan oleh bapak ataupun ibu guru.

(15)

Daftar Rujukan

Arikunto, Suharsimi. (2010) Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Astuti Melya, Dwi. (2017) “Inovasi Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”. Skipsi- Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bungin, Burhan. (2001) Metode Penelitian Sosial. Sur Persabaya:Air Laangga University Perss..

Creswell, John W. (2015) Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Yogyakarta: Pustaka Belajar. .

Dahwadin. (2019) Motivasi dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jawa Tengah, CV. Mangku Bumi Media.

Fathurrohman, Muhammad. (2017) Belajar dan Pembelajaran Modern. Yogyakarta: Garudhawaca.

Kadim , Abd Masaong. (2012) “Pendidikan Karakter Berbasis Multiple Intelligence” Konaspi VII , Nomor 03, Yogyakarta.

Kemendiknas, (2010) Konsep Dasar Kewirausahaan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Direktorat Jendral Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional. .

Mahfud. (2015) Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multietnik. Yogyakarta: CV Budi Utama..

Moleong, Lexy J. (2007) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiono. (2017) Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2016) Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukandarrumidi. (2012) Metode Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sukmadinata, Nana Syodih. (2009) Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suparno, Paul. (2004) Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

Referensi

Dokumen terkait

FileReader is a class or object that is used to read files, and should be utilized with the BufferedFileReader object, which is going to help save data when reading

Secara umum proses sertifikasi mencakup : peserta yang telah memastikan diri kompetensinya sesuai dengan standar kompetensi untuk paket/okupasi Operator Aviasi dapat segera

Pernyataan di atas sekaligus menolak stigma yang selama ini berkembang di masyarakat bahwa orang-orang yang bercadar terkaait dengan radikalisme dan

Sifat zat Asam Kuat Asam Kuat Asam Lemah Wol Bereaksi dan Larut, Warna Coklat Muda Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan. Katun Bereaksi dan Larut, Warna Kuning Muda Tidak

Perlengkapan harus termasuk konduit, duct (saluran) kabel, rak kabel, kotak penyambung, roset, plat penutup dan perangkat keras lain yang diperlukan untuk melengkapi

Apabila Saudara tidak hadir sesuai jadwal tersebut di atas dengan alasan yang tidak dapat diterima, maka perusahaan Saudara beserta Pengurusnya dimasukkan ke dalam Daftar Hitam

Dengan teman sebangku siswa diminta untuk membaca dan memahami Menentukan Faktor Persekutuan, contoh 1.19 dan alternatif penyelesaiannya (Buku Siswa halaman 37 s.d..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan alat peraga garis bilangan dan GUA (Guci