Analisis Sistem Dinamik Model Penyebaran
Penyakit Menular Antar Dua Wilayah dan Kontrol
Optimal Pada Populasi
Infected
Oleh:
Eko Alan Kusumayadi S.P.L (1213 2012 04) Rabu, 8 Juli 2015
Ujian Tesis
Dosen Pembimbing Dr. Hariyanto, M.Si. Dr. Dra Mardlijah, M.T.Latar Belakang
Penularan penyakit
Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang matematika turut memberikan
peranan penting dalam menggambarkan fenomena penyebaran penyakit Peranan tersebut dituangkan dalam bentuk model matematika
Latar Belakang
2003
model epidemi yang memperhatikan penularan infeksi pada saat perjalanan antarwilayah dikemukakan oleh
2005
Arino dan Driessche mengkonstruksi model epidemi multi kota untuk menganalisis penyebaran penyakit
menular secara spasial.
Wan dan Cui (2007) mengkonstruksi model tipe SEIS.
diasumsikan bahwa penularan infeksi pada
saat perjalanan antarwilayah
diabaikan.
Arino, dkk menganalisis model epidemi tipe SEIR dengan multi spesies dan
multi bagian (patch).
Cui,dkk (2006) dengan model matematika tipe SIS membandingkan model ketika 𝛼 = 0 dengan 𝛼 ≠ 0, dimana 𝛼 adalah tingkat perpindahan individu antarwilayah.
Latar Belakang
Model I
(tanpa kontrol)
Model II
(dengan kontrol pengobatan)
Analisis Sistem Dinamik Model Penyebaran Penyakit
Menular Antar Dua wilayah dan Kontrol Optimal Pada
Populasi
Infected
Analisis dinamik :
Titik kesetimbangan
Bilangan reproduksi dasar
Kestabilan
simulasi dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perpindahan individu antarwilayah bagi penyebaran penyakit dan efektivitas kontrol pengobatan
yang telah dilakukan.
Kontrol
Optimal
Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengkonstruksi model matematika penyebaran penyakit menular antar dua wilayah dalam dua kasus yang berbeda.
2. Bagaimana syarat eksistensi titik kesetimbangan dan menganalisis kestabilannya dari kedua model berdasarkan bilangan reproduksi dasar.
3. Bagaimana mendapatkan kontrol pengobatan yang optimal pada populasi infected.
4. Bagaimana hasil simulasi numerik pengaruh perpindahan individu antarwilayah bagi penyebaran penyakit dan efektivitas kontrol pengobatan yang telah diberikan.
Batasan Masalah
1. Individu yang baru lahir memiliki kekebalan alami, sehingga masuk dalam populasi susceptible.
2. Interaksi terjadi dalam dua wilayah tanpa adanya individu yang masuk dan keluar dari kedua wilayah tersebut.
3. Kedua wilayah identik, yaitu memiliki kesamaan parameter epidemiologi.
4. Tingkat penularan penyakit dalam wilayah lebih besar daripada tingkat penularan penyakit pada saat perjalanan antarwilayah.
5. Penularan penyakit terjadi akibat kontak langsung antara individu
susceptible dengan individu infected dan individu yang menjadi objek pada penulisan tesis ini adalah manusia.
Tujuan
1. Mengkonstruksi model matematika penyebaran penyakit menular antar dua wilayah dengan dua kasus yang berbeda.
2. Menentukan syarat eksistensi titik kesetimbangan dan menganalisis kestabilannya dari kedua model berdasarkan bilangan reproduksi dasar.
3. Mendapatkan kontrol pengobatan yang optimal pada populasi
infected.
4. Mengetahui hasil simulasi numerik pengaruh perpindahan individu antarwilayah bagi penyebaran penyakit dan efektivitas kontrol pengobatan yang telah diberikan.
Manfaat
1.Memberikan informasi untuk penelitian selanjutnya tentang penyebaran penyakit menular antar dua wilayah dengan menggunakan kontrol optimal.
2.Mengetahui bahwa pemberian kontrol pengobatan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi masalah penyebaran penyakit.
Kajian Pustaka & Dasar Teori
1
Model Penyebaran Penyakit Antarwilayah2
Sistem Dinamik
3
Titik Kesetimbangan
4
Kestabilan Titik Kesetimbangan
7
Kontrol Optimal
6
Bilangan Reproduksi dasar
5
Kriteria Routh-Hurwitz
Metode Penelitian
Simulasi Numerik
Analisis Kontrol Optimal Analisis Sistem Dinamik Konstruksi Model
Studi Literatur
Penyusunan Tesis Seminar Nasional
Pembagian Populasi
Susceptible (S)
adalah kelompok individu yang
secara fisik dalam keadaan sehat tetapi mempunyai
kemungkinan tertular penyakit.
Infected (I)
adalah kelompok individu yang telah
tertular
penyakit
dan
dapat
menularkan
penyakitnya kepada individu lain.
Treatment (T)
adalah kelompok individu yang
berada dalam masa pengobatan.
Removed (R)
adalah kelompok individu yang
Kompartemen Model I
𝑺
𝟏𝑰
𝟏𝑹
𝟏𝑺
𝟐𝑰
𝟐𝑹
𝟐 𝜶𝟏𝑺𝟏 𝜶𝟏𝑺𝟐 𝜶𝟏𝑰𝟏 𝜶𝟏𝑰𝟐 𝜶𝟏𝑹𝟏 𝜶𝟏𝑹𝟐 𝒃𝑺𝟏 𝒃𝑹𝟏 𝒃𝑰𝟏 𝒃𝑺𝟐 𝒃𝑰𝟐 𝒃𝑹𝟐 𝒂 𝒂 𝒅𝑻𝟏 𝒅𝑻𝟐 𝜷𝑺𝟏 𝑰𝟏 𝑵𝟏 𝜷𝑺𝟐 𝑰𝟐 𝑵𝟐 𝜸𝜶𝟏𝑺𝟐 𝑰𝟐 𝑵𝟐 𝜸𝜶𝟏𝑺𝟏 𝑰𝟏 𝑵𝟏 𝜶𝟐𝑹𝟐 𝜶𝟐𝑹𝟏Kompartemen Model II
𝑺
𝟏𝑰
𝟏𝑻
𝟏𝑹
𝟏𝑺
𝟐𝑰
𝟐𝑻
𝟐𝑹
𝟐 𝜶𝟏𝑺𝟏 𝜶𝟏𝑺𝟐 𝜶𝟏𝑰𝟏 𝜶𝟏𝑰𝟐 𝜶𝟏𝑻𝟏 𝜶𝟏𝑻𝟐 𝜶𝟏𝑹𝟏 𝜶𝟏𝑹𝟐 𝒃𝑺𝟏 𝒃𝑹𝟏 𝒃𝑻𝟏 𝒃𝑰𝟏 𝒃𝑺𝟐 𝒃𝑰𝟐 𝒃𝑻𝟐 𝒃𝑹𝟐 𝒂 𝒂 𝒖𝑰𝟏 𝒖𝑰𝟐 𝒅𝑻𝟏 𝒅𝑻𝟐 𝜷𝑺𝟏 𝑰𝟏 𝑵𝟏 𝜷𝑺𝟐 𝑰𝟐 𝑵𝟐 𝜸𝜶𝟏𝑺𝟐 𝑰𝟐 𝑵𝟐 𝜸𝜶𝟏𝑺𝟏 𝑰𝟏 𝑵𝟏 𝜶𝟐𝑹𝟐 𝜶𝟐𝑹𝟏Model I
Model II
Titik Kesetimbangan
Model I
Titik kesetimbangan dari sistem dapat diperoleh jika
𝑑𝑆𝑖 𝑑𝑡
=
𝑑𝐼𝑖 𝑑𝑡=
𝑑𝑅𝑖 𝑑𝑡= 0 𝑖 = 1,2
Titik Kesetimbangan
Titik Kesetimbangan
Bebas Penyakit
Titik Kesetimbangan
Endemi
Titik Kesetimbangan
Model I
Titik
𝐸
𝑎0disebut titik kesetimbangan bebas penyakit karena
𝐼
10, 𝐼
20= 0
yang berarti tidak terjadi penyebaran penyakit di dalam populasi
karena tidak ada interaksi antara individu
susceptible
dengan individu
infected
.
Bilangan Reproduksi Dasar
Model I
Menurut Driessche dan Wetmough (2002), penentuan bilangan
reproduksi dasar terlebih dahulu membentuk matriks generasi
selanjutnya
𝐴 = 𝐹𝑉−1 = 𝛽𝐵 + 𝛾𝛼12 𝐶 𝛽𝛼1 + 𝛾𝛼1𝐵 𝐶 𝛽𝛼1 + 𝛾𝛼1𝐵 𝐶 𝛽𝐵 + 𝛾𝛼12 𝐶 dengan 𝐵 = 𝑏 + 𝑑 + 𝛼1 𝐶 = 𝑏 + 𝑑 𝑏 + 𝑑 + 2𝛼1Kemudian bilangan reproduksi dasar dari model yaitu spectral radius dari matriks 𝐴.
ℛ0 = 𝜌 𝐴 = 𝛽 +𝛾𝛼1
Kestabilan
Model I
Sebelum menentukan kestabilan titik kesetimbangan, terlebih
dahulu dilakukan perhitungan matriks Jacobi dari model.
Kestabilan
Model I
Dengan mensubstitusikan
𝐸
a0dan
𝐸
a+ke dalam Matriks Jacobi diperoleh
𝜆1 = −𝑏 𝜆2 = 𝛽 + 𝛾𝛼1 1 − 1 ℛ0 λ3 = −(𝑏 + 𝛼2) 𝜆4 = − 𝑏 + 2𝛼1 𝜆5 = 𝛽 − 𝑏 + 𝑑 − 𝛼1 2 + 𝛾 λ6 = − 𝑏 + 2𝛼1 + 𝛼2 𝐸𝑎0 ℛ0 < 1 ℛ0 > 1 𝜆2 < 1 𝜆2 > 1 𝐸𝑎0 Stabil Asimtotik 𝐸𝑎0 Tidak Stabil
Menggunakan
Teorema Kriteria
Routh-Hurwitz
𝐸𝑎+ 𝐸𝑎+ Stabil Asimtotik ℛ0 > 1Syarat Eksistensi Titik Kesetimbangan
Model I
Syarat eksistensi titik kesetimbangan berdasarkan bilangan
reproduksi dasar adalah ketika
𝓡
𝟎< 𝟏
hanya ada satu titik
kesetimbangan yang eksis, yaitu titik kesetimbangan bebas
penyakit dan memiliki sifat stabil asimtotik, sedangkan
ketika
𝓡
𝟎> 𝟏
tedapat dua titik kesetimbangan yang eksis,
yaitu titik kesetimbangan endemi bersifat stabil asimtotik
dan titik kesetimbangan bebas penyakit bersifat tidak stabil.
Titik Kesetimbangan
Diperoleh dua titik kesetimbangan , yaitu
dan
𝐸b0 EKSIS, 𝐸b+ TIDAK EKSIS
𝐸b0 dan 𝐸b+ EKSIS
Kestabilan
Model II
Kestabilan
Model II
Jika ℛ0< 1 𝛽 + 𝛾𝛼1 𝑏 + 𝑢 < 1 𝑢 > 𝛽 + 𝛾𝛼1 − 𝑏 Jika ℛ0> 1 𝛽 + 𝛾𝛼1 𝑏 + 𝑢 > 1 𝑢 < 𝛽 + 𝛾𝛼1 − 𝑏maka hanya terdapat satu titik kesetimbangan,
yaitu titik kesetimbangan 𝐸𝑏0 yang bersifat stabil asimtotik
maka titik kesetimbangan𝐸𝑏+stabil asimtotik sedangkan titik kesetimbangan𝐸𝑏0 tidak stabil
Penyelesaian Kontrol Optimal
Tujuan yang dicapai dalam permasalahan kontrol optimal pada penelitian ini
adalah mendapatkan pengobatan optimal dengan meminimalkan jumlah
populasi
infected
.
Penyelesaian Kontrol Optimal
Langkah pertama yang dilakukan untuk mendapatkan kontrol
pengobatan yang optimal adalah membentuk fungsi Hamiltonian,
yaitu
Penyelesaian Kontrol Optimal
Dari persamaan state dan
costate yang didapat,
Simulasi
dilakukan simulasi untuk melihat perubahan jumlah individu di masing-masing populasi pada saat ℛ0 < 1, ℛ0 > 1, eksistensi titik kesetimbangan, dan
pengaruh perpindahan individu antarwilayah terhadap penyebaran penyakit.
Untuk simulasi saat kondisi ℛ < 1, nilai parameter yang digunakan
ℛ0= 0.384 Tabel 1 5 0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Waktu (hari) B a n y a k n y a I n d iv id u S ,I d a n R ( ra tu s a n ) S1 I1 R1 S2 I2 R2
Simulasi
ℛ0= 2.0067
Untuk simulasi numerik saat kondisi ℛ0 > 1, nilai parameter yang digunakan diberikan pada Tabel 1 dengan memperbesasr nilai parameter 𝛽 menjadi 0.6.
Kemudian simulasi yang dilakukan pada kondisi ℛ0 > 1 adalah menunjukkan pengaruh kontrol pengobatan yang dilakukan pada populasi infected.
0 20 40 60 80 100 120 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 Waktu (hari) u *(t ) Kontrol Pengobatan u kontrol pengobatan
Simulasi
ℛ
0
> 1
1,66 0 0 3,34 0,4 4,11 0,39 0,1 0 20 40 60 80 100 120 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Waktu (hari) B an ya kn ya I nd iv id u S (r at us an ) Populasi Susceptible S1 tanpa kontrol S2 tanpa kontrol S1 dengan kontrol S2 dengan kontrol 0 20 40 60 80 100 120 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Waktu (hari) B a n y a k n y a I n d iv id u I (r a tu s a n ) Populasi Infected I1 tanpa kontrol I2 tanpa kontrol I1 dengan kontrol I2 dengan kontrol 0 20 40 60 80 100 120 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 Waktu (hari) B a n y a k n y a I n d iv id u T( ra tu s a n ) Populasi Treatment T1 tanpa kontrol T2 tanpa kontrol T1 dengan kontrol T2 dengan kontrol 0 20 40 60 80 100 120 0 0.5 1 1.5 Waktu (hari) B an ya kn ya I nd iv id u R (r at us an ) Populasi Removed R1 tanpa kontrol R2 tanpa kontrol R1 dengan kontrol R2 dengan kontrolSimulasi
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.95 2 2.05 2.1 2.15 2.2tingkat perpindahan individu antarwilayah
B il a n g a n R e p ro d u k s i D a s a r( R o )
Grafik bilangan reproduksi dasar
Pada titik kesetimbangan endemi ℛ0 > 1 , disimulasikan ketika parameter 𝛼1 berjalan dari 0 menuju 1. Dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perpindahan individu antarwilayah terhadap penyebaran penyakit menular.
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 2.2 2.4 2.6
Tingkat perpindahan individu antarwilayah
B a n y a k n y a i n d iv id u S ,I d a n R ( ra tu s a n ) Susceptible Infected Removed
Kesimpulan
1. Dengan mempelajari fenomena yang ada dan diberikan beberapa asumsi, diperoleh model penyebaran penyakit menular antar dua wilayah dengan dua kasus. Model I dan II berupa sistem persamaan diferensial nonlinear. Model I tidak terdapat kontrol pengobatan, yaitu
Kesimpulan
Kesimpulan
2. Model I dan II memiliki dua titik kesetimbangan, yaitu titik kesetimbangan bebas penyakit dan titik kesetimbangan endemi. Syarat eksistensi dan kestabilan kedua titik kesetimbangan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Jika ℛ0 < 1 maka titik kesetimbangan bebas penyakit eksis dan bersifat
stabil asimtotik, artinya setiap individu yang terinfeksi memproduksi kurang dari satu individu terinfeksi baru, dengan kata lain dapat diprediksi bahwa infeksi akan bersih dari populasi.
b. Jika ℛ0 > 1 maka kedua titik kesetimbangan eksis, akan tetapi titik
ketimbangan endemi bersifat stabil asimtotik dan titik kesetimbangan bebas penyakit tidak stabil, artinya setiap individu yang terinfeksi memproduksi lebih dari satu individu terinfeksi baru, dengan kata lain dapat diprediksi bahwa infeksi akan menyebar pada populasi.
Kesimpulan
3. Untuk mendapatkan kontrol optimal dibentuk fungsi Hamiltonian yang memenuhi persamaan state, costate, dan kondisi stasioner sesuai prinsip Pontryagin dan didapatkan kontrol optimal sebagai berikut
𝑢∗ 𝑡 = min 0.9, max 0, 𝜆𝐼1 − 𝜆𝑇1 𝐼1 + 𝜆𝐼2 − 𝜆𝑇2 𝐼2 𝐴
4. Hasil analisis yang didapatkan untuk pengaruh perpindahan individu antarwilayah adalah jika tingkat perpindahan individu antarwilayah semakin meningkat maka nilai bilangan reproduksi dasar juga semakin meningkat. Karena semakin meningkatnya bilangan reproduksi dasar maka rata-rata individu yang terinfeksi menghasilkan individu terinfeksi baru dikarenakan terjadinya kontak antara individu susceptible dengan individu infected, sehingga menyebabkan bertambahnya jumlah individu pada populasi infected. Hasil simulasi juga menunjukkan hasil yang sesuai dengan hasil analisis. Kemudian hasil dari kontrol optimal menunjukkan keefektifan kontrol dalam mengendalikan penyebaran penyakit menular antar dua wilayah, yaitu dapat mengurangi jumlah individu
Saran
Pada
penulisan
selanjutnya,
hal
yang
dapat
dikembangkan dari tesis ini adalah dengan menambahkan
kontrol vaksinasi yang diberikan kepada individu
susceptible
.
Selanjutnya membandingkan efektivitas kontrol vaksinasi
dengan kontrol pengobatan.
Daftar Pustaka
Arino, J., & Driessche, P. v. (2003). A Multi-City Epidemic Model. Mathematical Population Studies, 10(3): 175-193.
Arino, J., Davis, J. R., Hartley, D., Jordan, R., & Driessche, P. v. (2005). A Multi-Species Epidemic Model With Spatial Dynamics. Mathematical Medicine and Biology, 22, 129-142.
Boyce, W. E., & DiPrima, R. C. (2009). Elementary Differential Equations and Boundary Value Problems (Ninth ed.). United State of America: John Willey & Sons, Inc. Cui, J., Takeuchi, Y., & Saito, Y. (2006). Spreading Disease With Transport-related Infection.
Journal of Theoretical Biology, 376-390.
Driessche, P. v., & Wetmough, J. (2002). Reproduction Numbers and Sub-Threshold Endemic Equilibria for Compartmental Models of Disease Transmission.
Mathematical Biosciences, 180, 29-48.
Edwards, C. H., & Penney, D. E. (2008). Differential Equations and Linear Algebra (Sixth ed.). New Jersey: Prentice-Hall.
Kermack, W. O., & McKendrick, A. G. (1927). A Contribution of the Mathematical Theory of Epidemics. Proceedings of the Royal Society of london, Series A, Containing Papers of a mathematical and Physical Character.115 (hal. 700-721). The Royal Society.
Daftar Pustaka
Liu, J., & Zhou, Y. (2009). Global stability of an SIRS epidemic model with transport-related infection. Chaos Solitons & Fractals , 145-158.
Liu, X., & Takeuchi, Y. (2006). Spread of Disease with Transport-Related Infection and Entry Screening. Journal of Theoretical Biology, 242:517-528.
Murray, J. D. (2002). Mathematical Biology : I. An Introduction, Third Edition . New York Berlin Heidelberg: Springer-Verlag.
Nagle, R. K., Saff, E. B., & Snider, A. D. (2012). Fundamental of Differential Equations and Boundary Value Problems. Sixth Edition . USA: Pearson Education, Inc.
Naidu, D. S. (2002). Optimal Control Systems. New York: CRC Press.
Sattenspiel, L., & Diez, K. (1995). A Structured Epidemic Model Incorporating Geographic Mobility Among Regions. Mathematical Biosciences, 128:71-91.
Wan, H., & Cui, J. (2007). An SEIS Epidemic Model with Transport-related Infection. Journal of Theoretical Biology, 507-524.