• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELEMBAYUNG. SELEMBAYUNG: Sejarah dan Perkembangannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SELEMBAYUNG. SELEMBAYUNG: Sejarah dan Perkembangannya"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Sanksi Pelanggaran Pasal 72

Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,-(seratus juta rupiah)

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara

(4)

Penerbit Alaf Riau Pekanbaru

2018

Dr. Noor Efni Salam, M.Si

SELEMBAYUNG

(5)

SELEMBAYUNG

Sejarah dan Perkembangannya

Penulis

DR. NOOR EFNI SALAM, M.SI

Editor

ZULKARNAINI, S.SOS, M.SI

Sampul NITA RAMAYANTI Perwajahan ARNAIN ’99 Cetakan I MARET 2018 Penerbit Alaf Riau

Jl. Patimura No. 9 Gobah Pekanbaru

Telp. (0761) 7724831 Fax. (0761) 857397

E-mail:[email protected]

(6)

PRAKATA PENULIS

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga buku yang berjudul Selembayung: Sejarah dan Perkembangannya dapat disusun dan diterbitkan untuk khalayak pembaca yang lebih luas. Buku ini ditulis berdasarkan penelitian berjudul Penetapan Simbol Arsitektur Perumahan Masyarakat Riau (Selembayung) sebagai Strategi dalam Melestarikan Budaya Melayu”, yang dikerjakan penulis selama tahun 2017. Penelitian tersebut merupakan penelitian pertama dari rangkaian penelitian besar yang akan diselesaikan hingga dua tahun mendatang ini. Secara garis besar, penelitian ini dilakukan untuk mendukung kinerja Peme-rintah Riau dalam melestarikan arsitektur Melayu. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari pencapaian Visi Riau 2020 yang dalam realitasnya memunculkan banyak perdebatan. Dalam konteks arsitektur Melayu, perbedaan pendapat di berbagai kalangan masyarakat Riau muncul seiring dengan rencana pe-merintah untuk menyusun Peraturan Gubernur terkait Selembayung.

Kehadiran buku ini telah merunut kembali permasalahan yang me-munculkan perdebatan di atas mulai dari aspek sejarah, politik dan budaya terkait Selembayung, untuk kemudian bisa memformulasikan rekomendasi-rekomendasi yang akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah terkait rencana pengesahan Peraturan Gubernur tersebut. Salah satu langkah yang telah dilakukan dalam penelitian ini adalah penjaringan gagasan dari berbagai lapisan masyarakat tentang Selembayung, serta perkembangan dan posisinya sebagai identitas Melayu masyarakat Riau. Gagasan-gagasan ini penting dan perlu disampaikan kepada pemerintah dengan jalur dan formulasi yang tepat, salah satunya melalui penelitian ini.

(7)

Proses pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan hasilnya menjadi buku tidak dapat berjalan lancar tanpa bantuan dan dukungan pihak-pihak lain. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Propinsi Riau selaku penyelenggara penelitian yang telah mempercayakan dana dan waktunya untuk memperlancar semua proses dalam penelitian sejak awal hingga akhir.

Penulis juga berterima kasih kepada Dinas Kebudayaan Propinsi Riau, yang diwakili oleh Kepala Dinas, Bapak Pulsia Mitra, atas kesediaannya menjawab semua pertanyaan dan memberikan akses ke seluruh keterangan dan dokumen kerja yang mereka miliki terkait dengan Selembayung. Penulis berterima kasih pula ke seluruh jajaran kerja di Dinas Pariwisata Propinsi Riau yang dengan sabar memberikan penjelasan satu per satu terkait program kerja mereka dan pendapat mereka tentang arsitektur Melayu di Riau. Hal yang sama juga penulis sampaikan kepada seluruh jajaran kerja di Lembaga Adat Melayu Riau, Universitas Riau, dan semua warga masyarakat di Riau yang telah menjadi narasumber penelitian yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Pada akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penerbitan buku ini, yang kembali tidak dapat disebutkan satu persatu, disampaikan ucapan terima kasih. Menyadari bahwa masih begitu banyak kekurangan dalam buku ini, penulis senantiasa membuka kesempatan untuk kritik dan saran dari pembaca. Semoga keberadaan buku ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Pekanbaru, Maret 2018

(8)

DAFTAR ISI

PRAKATA PENULIS ... 5

DAFTAR ISI ... 7

DAFTAR TABEL ... 9

BAB I PENDAHULUAN ... 13

1.1 Selembayung sebagai Identitas Budaya Melayu ... 13

1.2 Perkembangan Penelitian tentang Selembayung ... 16

1.3 Sistematika Buku Selembayung ... 21

BAB II EKSPLORASI SEJARAH DAN NILAI FILOSOFIS SELEMBAYUNG ... 25

2.1 Sejarah Selembayung dalam Arsitektur Melayu di Riau 25 2.2 Selembayung: Perkembangan, Corak dan Maknanya ... 26

2.3 Selembayung di Taman Mini Indonesia Indah ... 28

2.4 Pengetahuan dan Pandangan Masyarakat tentang Selembayung ... 30

2.5 Selembayung dalam Friksi Kebijakan Kebudayaan Riau 36 BAB III ORNAMEN, WARNA DAN ATRIBUT SELEMBAYUNG 47 3.1 Bangunan Melayu dan Nilai Filosofinya ... 47

3.2 Corak Ornamen pada Bangunan Melayu dan Makna Filosofinya ... 53

3.3 Pengetahuan Masyarakat tentang Corak Ragam Hias Melayu dan Maknanya ... 58

(9)

BAB IV GERAKAN SOSIAL UNTUK SELEMBAYUNG ... 61

4.1 Gerakan-Gerakan Formal dari Pemerintah dan

Institusi-institusinya ... 62 4.1.1 Gerakan dan Upaya Dinas Kebudayaan Provinsi Riau 62 4.1.2 Gerakan dan Upaya Dinas Pariwisata Provinsi Riau 66 4.1.3 Gerakan dari Lembaga Adat Melayu Riau ... 68 4.2 Respons dan Gagasan Masyarakat

Terhadap Gerakan Pelestarian Selembayung ... 70 4.3 Selembayung dan Dinamika Identitas Budaya di Riau .. 72 4.4 Gerakan-Gerakan Strategis untuk Eksistensi Selembayung 75

BAB V PERATURAN DAERAH TENTANG SELEMBAYUNG 79

5.1 Pro Kontra Perpanjangan Visi Riau 2020 ... 81 5.2 Peraturan Daerah tentang Kebudayaan Melayu

dalam Perbincangan Masyarakat ... 85 5.3 Strategi Pemerintah daerah Riau dalam Melegitimasi

Selembayung sebagai Identitas Budaya Melayu ... 89 5.3.1 Selembayung di Bangunan-bangunan Pemerintahan 89 5.3.2 Selembayung dalam Jejaring Sosial dan Penelitian 95

BAB VI PENUTUP ... 103 DAFTAR PUSTAKA ... 109

(10)

DAFTAR TABEL

Gambar 1 Penggunaan Selembayung pada Kantor Gubernur Riau

dan Rumah Tokoh Budaya Melayu Riau ... 14

Gambar 2 Selembayung pada Perumahan Masyarakat di Pekanbaru 15 Gambar 3 Lokasi Penelitian ... 18

Gambar 4 Corak Ukiran Selembayung ... 27

Gambar 5 Anjungan Riau di TMII ... 29

Gambar 6 Selembayung di Jambi ... 31

Gambar 7 Balai Adat Kenegerian Bangkinang... 33

Gambar 8 Bangunan di Kampar ... 34

Gambar 9 Desain Rumah Limas Riau ... 35

Gambar 10 Kompleks Perkantoran Kabupaten Kampar ... 36

Gambar 11 Anjungan Seni Idrus Tintin ... 37

Gambar 12 Gedung DPRD Propinsi Riau ... 37

Gambar 13 Mal Ciputra Seraya Pekanbaru ... 38

Gambar 14 Hotel Grand Zuri Pekanbaru ... 41

Gambar 15 Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Riau ... 42

Gambar 16 Gambar Atap ... 48

Gambar 17 Lambang Pada Tiang ... 51

Gambar 18 Bentuk Tangga ... 52

Gambar 19 Corak Ragam Hias Bunga ... 55

Gambar 20 Motif Lebah Bergayut ... 57

Gambar 21 Ornamen di Jendela ... 57

Gambar 22 Gedung Graha Pena Riau Pos ... 64

Gambar 23 Balai Adat Melayu Riau ... 68

(11)

Gambar 25 Gedung Idrus Tintin ... 91 Gambar 26 Museum Sang Nila Utama ... 94

(12)

PENDAHULUAN

(13)
(14)

PENDAHULUAN

Bab I

1.1 Selembayung sebagai Identitas Budaya Melayu

Kebudayaan daerah adalah bagian integral dari identitas kebudayaan nasional. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kebudayaan nasional, salah satunya dengan mempertahankan selembayung sebagai desain perumahan masyarakat melayu Riau, merupakan bagian integral dari kebudayaan nasional yang ada di daerah. Selembayung sebagai personifikasi identitas budaya Melayu Riau akan menjadi masalah jika Pemerintah Provinsi Riau tidak serius melakukan upaya untuk mempertahankan dan melestarikannya sebagai identitas budaya daerah. Dikhawatirkan sebagai konsekuensinya, selem-bayung ini akan mengalami kepunahan yang berarti orang Melayu akan ‘kehilangan’ salah satu bagian identitas budayanya.

Diantara sekian banyak unsur budaya Melayu di Riau, selembayung menjadi salah satu yang terpenting yang justru belum mendapat dukungan sepenuhnya oleh masyarakat, terutama di beberapa kabupaten yang ada di Provinsi Riau (Efni, 2012: 79). Argumentasi ini menunjukkan diperlukannya strategi (cara dan langkah-langkah) untuk melestarikan keberadaannya (Efni, 2013: 389).

Selembayung yang disebut juga Sulo Bayung dan Tanduk Buang adalah

hiasan yang terletak bersilang pada kedua ujung perabung bangunan belah

bubung dan rumah lontiok. Pada bagian bawah adakalanya diberi pula

(15)

perabung. Selembayung dianggap mewakili ke-Melayu-an masyarakat Riau,

karena memiliki beberapa makna yang bersumber pada filosofi dan nilai-nilai Melayu yang dipercaya dan dipedomani oleh masyarakat di Riau dalam bermasyarakat. Dari sini Pemerintah Kota Pekanbaru misalnya, menghimbau kepada seluruh pihak untuk menyemarakkan kembali penggunaan selem-bayung sebagai salah satu penanda identitas budaya Melayu masyarakat Riau. Kondisi ini terlihat pada sejumlah bangunan-bangunan kantor peme-rintahan dan swasta di Kota Pekanbaru. Untuk lebih jelasnya bentuk selem-bayung dapat dilihat dalam Gambar 1 di bawah ini :

Gambar 1 Penggunaan Selembayung pada Kantor Gubernur Riau dan Rumah Tokoh Budaya Melayu Riau

Hasil penelitian Hidayat (2011), menunjukkan bahwa model selem-bayung digunakan oleh hampir 31% bangunan di Jl. Sudirman Pekanbaru. Hanya saja usaha-usaha tersebut belum diselaraskan dengan upaya untuk memahami makna, filosofis mapun kedalaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dibalik bangunan (ukiran selembayung) tersebut. Berdasarkan pengamatan sementara menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi Riau juga belum konsisten menjalankan kebijakan tersebut. Jika kondisi ini dibiarkan tindak lanjutnya kedepan dikhawatirkan selembayung akan mengalami kepunahan yang berarti orang Melayu akan ‘kehilangan’ salah satu bagian identitas budayanya. Oleh karena itu, untuk mempertahankan dan melestari-kan kebudayaan nasional salah satunya harus mempertahanmelestari-kan kebudayaan daerah.

Arsitektur Melayu merupakan sebuah langgam arsitektur di daerah-daerah yang umumnya didominasi oleh komunitas Melayu seperti sebagian

(16)

negara Malaysia, Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Komu-nitas melayu ini sendiri merupakan suatu komuKomu-nitas etnis yang diduga berasal dari rumpun bangsa Austronesia.

Dalam menata ruang atau membentuk fisik bangunan rumah tinggal, masyarakat melayu pada umumnya dipengaruhi budaya dan adat istiadat yang berlaku. Kehidupan budaya yang tercerminkan pada bangunan kemudian diistilahkan dengan arsitektur melayu (Syafwandi, 1993 dalam Winandari, 2005:143). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Hugh O’Neil (2006) bahwa

architecture may be regarded as the most powerful and sustained reve-lation of the ethos and validity of the culture.

Untuk mempertahankan relevansi dan kegunaan arsitektur tradisional ini tidak hanya secara fisik, tetapi juga sebagai penanda identitas. Oleh karena itu, perlu dirumuskan strategi kebudayaan terkait dengan pelestariannya. Strategi itu perlu dilakukan oleh segenap elemen masyarakat yang meng-gunakan dan memiliki selembayung sebagai bagian dari kehidupan mereka. Untuk lebih jelasnya selembayung digunakan pada bangunan perumahan masyarakat dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2 Selembayung pada Perumahan Masyarakat di Pekanbaru

Selanjutnya, kata “identitas” berasal dari bahasa Inggris,identity yang

memiliki pengertian harfiah; ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada se-seorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain. Identitas juga merupakan keseluruhan atau totalitas yang menunjukkan ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri dari faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari tingkah laku individu. Identitas tersebut bermacam-macam. Ada identitas individual, ada pula identitas budaya

(17)

dan sosial. Pembahaan buku ini menekankan landasan konseptualnya pada ruang lingkup dan pengertian identitas budaya.

Menurut Fong dalam Samovar (2010: 184), identitas budaya adalah identifikasi komunikasi dari sistem perilaku simbolis verbal dan nonverbal yang memiliki arti dan yang dibagikan di antara anggota kelompok yang me-miliki rasa saling meme-miliki dan saling membagi tradisi, warisan, bahasa, dan norma-norma yang sama.

Berdasarkan pemahaman itu, maka arsitektur selembayung sebagai bagian dari bangunan perumahan tradisional masyarakat Riau memiliki posisi yang penting terkait dengan identitas budaya Melayu mereka. Memper-tahankan identitas budaya dan menguatkannya bisa melalui kesadaran dan pelestarian terhadap bangunan selembayung itu sendiri. Bagaimana masya-rakat memaknai selembayung kemudian juga menjadi indikator sejauh mana kesadaran mereka dalam membangun dan memelihara identitas budayanya.

1.2 Perkembangan Penelitian tentang Selembayung

Konsekuensi dari tingginya animo masyarakat untuk mencari, mene-mukan dan merumuskan makna yang yang terkandung dalam nilai-nilai budaya Melayu Riau memunculkan beragam perbedaan hingga “pertarungan” dalam menegaskan identitas budaya Melayu Riau, terutama dalam menentu-kan model bangunan atau arsitek bangunan permenentu-kantoran/perumahan yang saat ini dikenal dengan model selembayung. Kondisi ini mengakibatkan sulitnya bagi masyarakat Riau untuk melegalitaskan/mengeluarkan peraturan daerah tentang penggunaan model selembayung ini sebagai simbol dari ba-ngunan perumahan/perkantoran masyarakat Melayu Riau.

Beragamnya perbedaan yang muncul dalam menentukan model ba-ngunan yang ideal sesuai dengan referensi masing-masing masyarakat kon-sekuensi dari beragamnya subetnis/puak Melayu Riau ini. Hal ini tak dapat dipungkiri mengingat Provinsi Riau secara geografis terletak bersebelahan dengan Malaysia, Jambi, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Proses akul-turasi budaya inilah akhirnya mayarakat Riau kini memiliki minimal 5 (lima) model bangunan, yakni model lipat kajang dari melayu pesisir yang ber-sebelahan dengan Malaysia, model limas dari Indragiri Hulu, liontiok dari Kampar yang bersebelahan dengan Sumatera Barat dan model gubah mesjid dari Bengkalis.

Dari beragam model bangunan yang dimiliki oleh masyarakat Riau, perlu satu upaya agar bisa mengakomodasi yang beragam itu menjadi satu

(18)

model bangunan. Pemerintah melalui peraturan daerah kemudian menyepakati arsitektur resmi masyarakat Melayu Riau, mengingat selembayungmerupakan perpaduan antara lipat kajang, limas, dan liontiok. Sampai saat ini pe-nggunaan selembayung terus menerus disosialisasikan oleh Pemprov Riau, walau belum sepenuhnya didukung oleh masyarakat Riau.

Untuk memetakan permasalahan dan target yang akan dicapai dalam, penulis telah mengawalinya dengan penelitian yang dilakukan tentang revi-talisasi budaya Melayu Riau pada tahun 2009-2011. Hasil penelitian tersebut (yang sudah dibukukan) secara ringkas menunjukan bahwa sejak diber-lakukannya Peraturan Daerah (Perda) No.36 tahun 2001 tentang Visi Pembangunan Riau yang ingin menjadikan Provinsi Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada tahun 2020. Dari sini timbul semangat yang tinggi dalam menjunjung nilai-nilai budaya Melayu Riau dan merevitalisasi nilai-nilai budaya Melayu yang beberapa waktu hampir te-nggelam (Efni, 2011).

Hasil lain ditemukan adanya langkah-langkah yang ditempuh oleh masyarakat Riau sebagai upaya dalam merevitalisasi budayanya, antara lain melakukan berbagai kegiatan seperti festival budaya sedunia, menghidupkan tradisi/ritual keagamaan, seminar ilmiah, event budaya dan lain-lain yang ditaja oleh pemerintah daerah, Lembaga Adat Melayu Riau, sanggar-sanggar budaya, lembaga-lembaga budaya, dan segenap masyarakat Riau. Benang merah yang dapat ditarik adalah masih terdapatnya pro dan kontra ketika menetapkan selembayung sebagai ciri atau simbol arsitektur perumahan masyarakat Riau.

Untuk menindaklanjutinya dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menemukan bagaimana manyarakat Riau bisa mempertahankan nilai-nilai budayanya melalui beberapa srategi komunikasi budaya agar identitas budaya Melayu Riau tetap terjaga terhadap berbagai ancaman, baik moder-nisasi, teknologi maupun globalisasi. Salah satunya adalah dengan memper-tahankan nilai-nilai yang mencerminkan simbol-simbol budaya itu sendiri, yakni simbol pakaian, kuliner, kesenian, event budaya dan simbol perumahan. Hasil penelitian lanjutan ini menunjukkan bahwa simbol pakaian, kuliner dan kesenian dipersepsi dan dimaknai nilai-nilai yang terkandung padanya secara sama dan sepakat oleh masyarakat Melayu.

Kenyataan di atas ternyata berbeda dengan simbol arsitektur peru-mahan masyarakat, dimana simbol dimaknai berbeda-beda dari berbagai puak Melayu yang ada di Provinsi Riau. Hal ini dikarenakan simbol arsitektur yang dimiliki oleh masyarakat melayu bermacam-macam bentuk/model, ada

(19)

yang berbentu lipat kajang, limas, lontiok, kubah dan mesjid. Oleh karena itu, simbol selembayung yang disosialisasikan hingga sekarang belum ada kesepakatan sebagai identitas budaya Melayu oleh seluruh masyarakat Riau (Efni, 2013).

Mengacu pada hasil penelitian sebelumnya, penelitian yang menjadi dasar penyusunan buku ini mencoba menggali, merumuskan dan menyatukan persepsi masyarakat terhadap simbol arsitektur sebagai simbol perumahan masyarakat Riau. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi per-timbangan bagi Pemerintah Provinsi Riau dalam menetapkan selembayung sebagai identitas budaya Melayu Riau.

Penelitian ini dilakukan di Provinsi Riau, yang terdiri dari 12 (dua belas) kabupaten/kota. Dari seluruh kabupaten/kota tersebut, dibagi kedalam 2 (dua) kategori berdasarkan kondisi geografisnya, yakni Riau Daratan dan Riau Pesisir. Secara keseluruhan penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) tahun/ tahap. Untuk tahap/tahun pertama penelitian dilakukan di Kota Pekanbaru, Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Siak Indrapura, Kabupaten dan Kabupaten Pelalawan. Untuk tahun/tahap kedua penelitian dilakukan di Kota Dumai, Kabupaten Kuantan Singgi dan Kabupaten Rokan Hulu, sedangkan pada tahun/tahap ketiga dilakukan di Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir dan Kabupaten Kepulauan Meranti.

Untuk lebih jelasnya lokasi pengumpulan data dapat dilihat pada Gam-bar 3 di bawah ini.

Gambar 3 Lokasi Penelitian

Seluruh kegiatan penelitian simbol arsitektur perumahan masyarakat Riau (selembayung) sebagai strategi dalam melestarikan identitas budaya Melayu Riau dilaksanakan selama 3 (tiga) tahun, dimana setiap tahunnya

PEKANBARU SIAK PELALAWAN ROKAN HULU BENGKALIS DUMAI KAMPAR INDRAGIRI HILIR INDRAGIRI HULU KUANTAN SINGINGI

ROKAN HILIR MERANTI

LOKASI PENELITIAN

(20)

dilakukan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) bulan. Direncanakan penelitian ini dilaksanakan tahun 2017, 2018, dan 2019.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan (observasi) dan wawancara mendalam (in depth interview) dan focus gruop discussion (FGD) terhadap sejumlah informan terkait dengan persoalan-persoalan yang akan dikaji dalam penelitian ini. Observasi yang dilakukan peneliti bisa dibagi lagi menjadi beberapa teknik. Dalam beberapa hal, peneliti akan melakukan observasi berperan serta, yakni men-jadi pengamat sekaligus anggota dari kelompok atau kegiatan yang dialaminya. Akan tetapi, dalam beberapa hal, peneliti akan melakukan observasi tidak berperan serta yang artinya hanya menjadi pengamat. Peneliti juga akan melakukan pengamatan, baik yang diketahui oleh subjek ataupun yang tidak. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti selanjutnya adalah wawancara. Wawancara dilakukan mendalam dan terfokus pada perma-salahan yang hendak dijawab penelitian ini. Oleh karena itu, sebelum me-lakukan wawancara, peneliti telah membuat beberapa koridor dan petunjuk agar jawaban yang didapatkan sesuai dengan permasalahan yang hendak diteliti. FGD dilakukan dalam penelitian ini digunakan baik untuk pengumpulan data, maupun sebagai analisis terhadap hasil yang sudah didapatkan dari lapangan. Teknik ini dilakukan sebagai upaya mendapatkan informasi yang lebih komperehnsif dari banyak nara sumber (informan) yang dianggap rep-resentatif melalui forum diskusi kelompok.

Sementara itu, untuk pengumpulan data sekunder peneliti akan mene-lusuri melalui instansi pemerintah maupun melalui lembaga-lembaga terkait. Penelusuran data yang akan dikumpulkan tersebut meliputi dokumen resmi, dokumen tertulis, karya ilmiah, data statistik, dan lain sebagainya.

Penelitian yang mendasari penyusunan buku ini adalah penelitian kua-litatif, maka teknis analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga alur kegiatan, yaitu:

Pertama, pada tahap alur reduksi data, kegiatan yang dilakukan adalah berupa pengelompokkan sesuai dengan topik permasalahan.

Kedua, tahap penyajian data, merupakan kegiatan penyusunan data secara sistematis dan dikelompokan sesuai dengan jenis dan polanya, selanjut-nya disusun dalam bentuk bagan-bagan atau narasi-narasi sehingga mem-bentuk rangkaian informasi yang bermakna sesuai dengan permasalahan penelitian.

(21)

kesim-pulan dan verifikasi. Setelah melewati tahap pertama dan kedua, selanjutnya langkah yang dilakukan oleh peneliti adalah mengambil kesimpulan.

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat antara lain:

1. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah Provinsi Riau dalam merumuskan kebijakan untuk menetukan desain perumahan sebagai penanda masyarakat Melayu baik pada tingkat nasional maupun in-ternasional.

2. Semua informasi yang dihasilkan dalam penelitian ini berguna bagi masyarakat Riau dalam menggunakan selembayung sebagai salah satu artifak budaya yang meneguhkan identitas budaya melayu Riau. 3. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi lembaga

budaya (Lembaga Adat Melayu Riau), Lembaga Adat Kabupaten maupun Kecamatan yang ada di Provinsi Riau dalam menyusun ran-cangan kerja atau melaksanakan kegiatan-kegiatan mereka.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan utama bagi pemerintah Provinsi Riau, ketika akan mengambil kebijakan atau keputusan yang berkaitan dengan selembayung sebagai model bangunan Melayu diseluruh kabupaten/kota di Provinsi Riau, dan secara khusus ke-luaran penelitian ini adalah:

1. Tersedianya informasi dalam memahami nilai-nilai yang terkandung pada selembayung, seperti: hiasan yang terletak bersilang pada kedua ujung perabung bangunan,dan tombak terhunus untuk menyambung kedua ujung perabung (tombak-tombak). Sehingga dapat dijadikan pedoman bagi kehidupan masyarakat Melayu Riau.

2. Tersedianya informasi tentang makna ukiran-ukiranyang terdapat pada selembayung, seperti daun dan bunga serta penggunaan warna yang menghiasinya, dan atribut-atribut lain yang melakat pada selembayung tersebut.

3. Tersedianya informasi tentang standar yang baku dalam penggunaan selembayung pada sebuah bangunan secara proporsional, sehingga penggunaanya mengandung nilai estetika yang tinggi.

4. Sebagai mediator dalam menyatukan perbedaan persepsi masyarakat yang multietnis, sehingga selembayung dapat diterima dari berbagai subetnispuak Melayu di Provinsi Riau. Dapat membantu masyarakat untuk menemukan kembali simbol-simbol budaya dan identitas dibalik

(22)

selembayung yang selama ini sudah dilupakan atau terabaikan. 5. Setelah penelitian ini dilakukan diharapkan dapat dijadikan artikel yang

dimuat pada jurnal internasional yaitu International Research Journal Social Science-International Science Coorporation Association (ISCA-IRJSS), nasional yang terakreditasi yakni Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Universitas Airlangga Surabaya, dan dapat melahirkan sebuah buku yang dapat dijadikan bahan ajar bagi mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau yang mengambil mata kuliah Studi Masyarakat Melayu dan Komunikasi Lintas Budaya.

1.3 Sistematika Buku Selembayung

Berdasarkan uraian diatas, uraian dalam buku ini akan dibagi menjadi pertama, bab pendahuluan, yang menguraikan latar belakang, metode serta keterangan mengenai proses-proses penelitian. Pada bagian ini pula penelitian terdahulu yang sudah dilakukan dan kontribusinya pada kajian tentang se-lembayung secara umum.

Bab kedua berjudul “Eksplorasi Sejarah dan Nilai Filosofis Selem-bayung”. Pada bab ini akan diuraikan sejarah singkat penggunaan dan fungsi selembayung sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Melayu Riau. Kemudian akan diuraikan pula bagaimana nilai-nilai filosofis yang terkandung (mendasari) selembayung sebagai wujud identitas budaya melayu Riau.

Bab ketiga yang berjudul “Ornamen, Warna dan Atribut Melayu sebagai Cermin Masyarakat Melayu di Riau” menjelaskan makna yang ter-dapat dalam ornamen (ukiran), warna dan berbagai atribut yang melekat pada selembayung sehingga mencerminkan falsafah kehidupan masyarakat dan budaya Melayu Riau.

Bab keempat yang berjudul “Gerakan Sosial untuk Selembayung” akan menguraikan bagaimana gerakan sosial yang dilakukan oleh masyarakat seperti Lembaga Adat Melayu Riau, Dewan Kesenian, Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau dan lain-laninnya dalam merespons, menerima, melestarikan dan atau mempertahankan selembayung sebagai identitas budaya Melayu Riau.

Bab kelima yang berjudul “Peraturan Daerah tentang Selembayung” berisi uraian tentang bagaimana Pemerintah daerah dapat mengambil ke-bijakan atau peraturan daerah (perda) dalam menetapkan selembayung se-bagai identitas budaya Melayu.

(23)

Bab keenam adalah penutup, yang merupakan konklusi awal dan berisi berbagai saran konkret yang bisa dipertimbangkan pemerintah ketika hendak menyusun kebijakan lebih lanjut terkait selembayung.

(24)

EKSPLORASI SEJARAH

DAN NILAI FILOSOFIS

SELEMBAYUNG

(25)
(26)

2.1 Sejarah Selembayung dalam Arsitektur Melayu di Riau

Dilihat dari aspek historisnya, berdasarkan sumber-sumber lampau, arsitektur Melayu adalah arsitektur bahari yang tumbuh di sepanjang Selat Malaka. Pantai timur Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya merupakan lokasi penyebaran arsitektur tersebut, juga daerah sepanjang aliran sungai besar seperti Rokan, Indragiri, Kampar dan Siak (Suwardi, 1991: 57). Permukiman di area-area tersebut memiliki kemiripan gaya dan bentuk karena bersumber dari budaya kerajaan dan atau kesultanan Melayu yang sudah bertumbuh kembang sejak ratusan tahun yang lalu.

Ciri-ciri arsitektur Melayu yang telah dikembangkan sejak zaman itu terlihat pada bentuk dan fungsi bagian-bagian serta ragam hias pada ba-ngunan, baik itu rumah, istana, balai adat dan lainnya. Bentuk rumah pada masa itu, berdasarkan atapnya, dibedakan menjadi Lipat Pandan atau Lipat Kajang, sementara ragam hias yang dipakai di rumah tersebut sebagian besar bermotif flora dan fauna. Yang dimaksud dengan ragam hias adalah motif, pola maupun hiasan yang dituangkan pada suatu kerajinan tangan untuk menambah nilai estetika maupun maknanya (Anjani, 2014). Sementara itu, ornamen, yakni hiasan bergaya geometrik atau bergaya lainyang dibuat pada suatu bentuk dasar dari suatu hasil kerajinan tangan (perabotan, pakaian dan sebagainya) termasuk arsitektur (Ensiklopedia Indonesia, 1979: 1017) juga sudah dikenal baik dan digunakan. Dua ornament pokok permukiman

EKSPLORASI SEJARAH

DAN NILAI FILOSOFIS SELEMBAYUNG

Bab II

(27)

kala itu dan yang bertahan sampai sekarang adalah selembayung dan sayap layang.

Pusat permukiman dengan ciri khas arsitektur di atas kemudian ber-kembang ke daerah-daerah pinggir sungai dan pulau-pulau seiring dengan pertumbuhan fasilitas publik seperti pelabuhan, balai adat, pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan lain-lain hingga seperti yang bisa dilihat kini. Dalam perkembangannya itu, arsitektur Melayu kemudian menambah variasi dan modifikasi di berbagai aspeknya sesuai kebutuhan dan fungsi-fungsi baru yang melekat padanya. Secara keseluruhan, bangunan adat Melayu Riau kontemporer tersusun oleh banyak komponen atau bagian antara lain, atap, loteng, lobang angin, dinding, lantai, bendul, pintu, jendela, tangga, tiang, tutup tiang, kolong rumah, rasuk dan gelang, jenang, sento, alang, kasau, gulung-gulung, tulang, bubung, dan singap. Beberapa di antaranya, termasuk selembayung (yang merupakan bagian dari atap) sebagai ornamen dan ragam hias, menjadi ciri distingtif kemelayuan yang membedakannya dengan ba-ngunan lain.

2.2 Selembayung: Perkembangan, Corak dan Maknanya

Selembayung, yang disebut juga “selo bayung“ dan “tanduk buang” adalah hiasan yang terletak bersilangan pada kedua ujung perabung bangunan adat Melayu Riau. Di antara bagian-bagian bangunan Melayu secara umum, ragam hias dan ornamen semacam selembayung menjadi ciri khas Melayu yang bertahan hingga kini karena bentuk dan makna simbolik-filosofis di baliknya yang mencerminkan sikap hidup orang Melayu secara general. Hal ini sesuai dengan yang dikonsepkan oleh Budiwiwaramulja (2004) tentang ragam hias tradisional Melayu, yakni suatu jenis ragam hias etnik yang berhubungan dan memuat nilai-nilai dari budaya Melayu, seperti yang ter-dapat pada rumah adat, alat-alat pakai dan lain-lainnya (untuk uraian lebih lanjut tentang ragam hias atau ornament dan maknanya, bisa dilihat di bagian selanjutnya).

Seiring perkembangan zaman, hiasan-hiasan ini mengalami perubahan, modifikasi dan intepretasi yang berubah-ubah, kecuali selembayung. Telah diyakini oleh semua masyarakat Melayu di Riau bahwa selembayung meru-pakan ciri pokok arsitektur Melayu yang signifikan dan terus digunakan hingga kini. Keyakinan ini didorong terutama oleh makna utama selembayung itu sendiri.

(28)

Gambar 4 Corak Ukiran Selembayung

Menurut para budayawan melayu selembayung ini mengandung bebe-rapa makna antara lain:

- Sebagai tajuk rumah. Selembayung membangkitkan “cahaya” rumah; - Sebagai pekasih rumah, yaitu lambang keserasian dalam kehidupan

rumah tangga;

- Sebagai tangga dewa, yaitu sebagai lambang tempat turun para dewa, mambang, akuan, soko, keramat, dan sidi yang membawa keselamatan bagi manusia;

- Dalam upacara adat selembayung yang terdapat pada”balai ancak” mengandung makna yang mirip dengan tangga dewa, walau digunakan untuk kepentingan yang sedikit berbeda;

- Sebagai rumah beradat, yaitu sebagai tanda bahwa bangunan itu adalah tempat kediaman orang berbangsa, balai atau tempat kediaman orang yang patut;

- Sebagai tuah rumah, yakni lambang bahwa bangunan itu mendatangkan tuah kepada pemiliknya;

- Motif ukuran selembayung sendiri (daun-daunan dan bunga) juga menjadi lambang atau perwujudan kasih sayang, tahu adat dan tahu diri.

(29)

Secara spesifik, selembayung juga dianggap melambangkan hubungan manusia dengan penciptanya. Ketika manusia dalam menjalani kehidupannya menghadapi banyak cobaan, manusia diharapkan selalu ingat kepada Tuhan, ke Yang ada Di Atas, selalu beribadah dan selalu berserah diri mengingat bahwa pada akhirnya segala yang hidup akan kembali ke penciptanya dalam keadaan yang suci.

Oleh karena nilai-nilai yang disimbolkannya menyeluruh dari ranah yang paling transenden (keilahian) sampai ranah imanen (kehidupan sehari-hari) posisi selembayung menjadi sangat penting dalam arsitektur Melayu. Meskipun mengalami berbagai modifikasi, bangunan atau arsitektur Melayu di Riau kontemporer tidak pernah meninggalkan selembayung sebagai bagian darinya.

Oleh karena kedudukannya itu, pemerintah kemudian berupaya menjadikan selembayung sebagai salah satu unsur identitas Melayu mas-yarakat Riau secara formal.Upaya itu terlihat pertama kali ketika dibangunnya Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar Khas Riau pada tahun 1971 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

2.3 Selembayung di Taman Mini Indonesia Indah

Pada tahun 1971, pemerintah pusat hendak membangun TMII (Taman Mini Indonesia Indah) dan tiap-tiap daerah harus menentukan satu jenis rumah adat untuk dibuatkan Anjungan rumah adat sebagai representasi resmi rumah adat di daerah propinsi tersebut. Saat itu Gubernur Riau adalah Arifin Ahmad membentuk tim 9 yang terdiri dari budayawan dan pemikir Melayu. Tim 9 ini bertugas untuk mendesain dan membuat Rumah Adat Riau dengan melakukan riset keliling Riau.

Kemudian lahirlah sebuah arsitektur rumah adat Riau dengan nama Selaso Jatuh Kembar yang dipopulerkan dan ditetapkan oleh Gubernur Riau Imam Munandar sebagai Rumah Adat kebudayaan masyarakat Riau. Rumah Adat Melayu Riau Selaso Jatuh Kembar saat ini lebih banyak digunakan sebagai Balai Pertemuan, oleh karna itu tidak lagi dapat dikategorikan sebagai rumah tinggal.

(30)

Gambar 5 Anjungan Riau di TMII

Bangunan ini memiliki ciri khas Selasar yang lebih rendah dibandingkan ruang tengah sebagai tempat berkumpul sehingga mendapatkan julukan Selasar yang jatuh (turun), selain itu setiap komponen arsitektural bangunan rumah adat Melayu Riau memiliki nilai yang lebih dari sekedar komponen bangunan saja, tetapi juga memiliki arti dan filosofi yang mendalam.

Komponen yang dimiliki rumah adat Melayu Riau ini adalah atap, loteng, lobang angina, dinding, lantai, bendul, pintu, jendela, tangga, tiang, tutup tiang, rumah, rasuk dan gelang, jenang, sento, alang, kasau, gulung-gulung, tulang bubung dan singap.

Rumah Selaso Jatuh Kembar adalah sejenis bangunan berbentuk rumah (dilingkupi dinding, berpintu dan jendela) tapi fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah atau rapat secara adat karena “rumah” ini tidak memiliki serambi atau kamar.Jika dideskripsikan, denah rumah Selaso Jatuh Kembar hanya memiliki Selasar di bagian depan. Tengah rumah pada bagian tengah dengan bersekat papan antara selasar dan telo. Kemudian bentuk rumah mengecil pada bagian telo yang berguna sebagai tempat makan, dan lain-lain, sementara pada bagian belakang terdapat dapur. Balai Salaso Jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah, karena itu dikatakan Salaso Jatuh. Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama berupa ukiran. Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan

(31)

biasanya hiasan ini diberi ukiran yang disebut selembayung.

Rumah ini dianggap merepresentasikan bentuk rumah tradisional yang terdapat di Riau, meskipun terdapat perbedaan kecil di masing-masing daerah. Namun dari beberapa bentuk rumah ini, muncul kesamaan baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangan, dan ukiran-ukirannya. Diresmikannya rumah selaso jatuh kembar ini menjadi dasar kemudian disusunnya peraturan daerah tentang selembayung sebagai ciri khas arsitektur Melayu di Riau tiga dekade kemudian.

2.4 Pengetahuan dan Pandangan Masyarakat tentang Selembayung

Dibandingkan dengan unsur-unsur lain, selembayung cukup dikenal dan dipahami nilai-nilai filosofisnya oleh masyarakat. Dalam wawancara mendalam kepada beberapa narasumber yang mewakili elemen masyarakat yang berbeda, disarikan beberapa pandangan dan pengetahuan masyarakat tentang selembayung.

Pulsia Mitra, kepala dinas kebudayaan Propinsi Riau ketika diwawan-carai menceritakan pengetahuan pribadinya mengenai selembayung. Menurut pengakuannya, ia mengenal selembayung dari orang tuanya, sebagai ornamen berbentuk dua burung balam yang bertengger. Burung balam adalah lambang dari kesetiaan karena kemanapun burung itu pergi, ia selalu membawa pasangannya. Olehnya, kesetiaan itu juga diibaratkan melalui cerita Hang Jebat dan Hang Tuah. Terutama pada bagian kesetiaan Hang Tuah kepada raja sehingga membuatnya sampai hati membunuh adik seperguruannya, Hang Jebat.

Selain kesetiaan, selembayung juga indah untuk dijadikan ukiran dan mencerminkan kearifan melalui bentuk-bentuk seni rupanya. Nilai-nilai filo-sofis ini diyakini oleh Mitra masih masih merepresentasikan nilai-nilai mas-yarakat dari masa lampau hingga masa kini. Menurutnya lagi, terdapat beberapa makna yang melekat pada warna dan atribut selembayung. Warna kuning dianggap yang paling dominan karena Melayu memang mengagungkan warna kuning. Namun di beberapa tempat, terutama pedesaan, adapula se-lembayung yang tidak diwarnai. Sebagian lagi mewarnai dengan selain kuning sebagai bentuk kreativitas mereka. Demikian pula pola ukirannya yang bisa berbentuk flora ataupun fauna.

Selembayung menurutnya tidak hanya menjadi ciri khas Riau karena juga dapat ditemukan di negeri-negeri Melayu lainnya seperti Malaka dan Jambi. Posisi selembayung sama dengan Lancang Kuning yang ada

(32)

dimana-mana, yang kemudian diproklamirkan Riau sebagai ciri khas kotanya, dan disebut bumi Lancang Kuning. Kini, upaya itu dikenakan juga kepada selembayung, untuk menjadikannya ciri lain propinsi Riau.dalam pemahaman demikian, posisi selembayung berimbang dengan unsur budaya yang lain seperti pakaian dan kuliner Melayu.

Gambar 6 Selembayung di Jambi

Sementara itu, Ibu Pipin, yang mewakili Dinas Pariwisata Propinsi Riau menceritakan relasi erat antara unsur budaya Melayu dengan Islam. Menurutnya, karena melayu identik dengan Islam, maka nilai-nilai Islam juga digunakan sebagai patokan dalam pembentukan budaya Melayu, misalnya dalam hal arsitektur selembayung. Ornamen dalam selembayung memang berasal dari mahluk hidup, tetapi lebih dominan ke tumbuhan, bukan hewan, sebab Islam tidak menganjurkan gambar mahluk hidup yang bergerak di rumah-rumah.

Ketika diajukan pertanyaan tentang nilai filosofi, Ibu Pipin mengaku tidak berfokus pada selembayung sebagai pengusung nilai-nilai kemelayuan tetapi lebih kepada nilai ekonomi kreatif di sebaliknya. Selembayung sebagai arsitektur melayu tidak pernah digali secara langsung nilai filosofinya tetapi dilihat sebagai asset pariwisata. Mereka memiliki beberapa maket selem-bayung hasil kolaborasi antara dinas pariwisata dengan arsitek.

Modifikasi bentuk diutamakan mengikuti fungsi utama arsitektur ter-sebut sementara aspek yang lain dipertimbangkan setelahnya. Ia

(33)

contohkan, arsitektur Melayu untuk perkantoran diharapkan penuh kewiba-waan sehingga perlu dibangun tinggi atau dalam bentuk panggung. Namun upaya ini tidak merujuk khusus pada selembayung.

Pengetahuan menarik tentang asal usul selembayung juga diungkapkan oleh pengamat budaya, Ir. Mardianto. Menurutnya, selembayung dulu dibuat dalam kaitannya dengan fungsi keamanan rumah masyarakat Melayu di daerah Sumatera pada umumnya. Rumah di Riau pada zaman dahulu adalah rumah panggung, sama dengan yang bisa dilihat di Jambi atau Sumbar. Rumah panggung dibuat untuk menghindar penghuninya dari serangan binatang. Ke-mudian atap rumah itu menggunakan daun yang diikat. Atap daun itu keKe-mudian ditata dan diikat sedemikian rupa supaya tidak lepas dan rusak. Ikatan atap sebagai pengikat dan pengunci inilah yang menjadi awal mula selembayung. Dalam perkembangannya, ikatan ini kemudian diukir dengan berbagai tema seperti kelok paku, pucuk rebung, dan lain-lain. Kini, selembayung muncul tidak dalam kepentingan tersebut. Menurut Mardianto, orang yang memasang selembayung belum tentu memahami simbol-simbol di baliknya, juga estetika atau cerita asal usulnya.

Hal yang kurang lebih sama diungkapkan oleh Chaidir, mantan ketua DPRD Pekanbaru. Ia mengetahui dengan pasti bahwa selembayung tidak hanya muncul dan berkembang di Riau. Selembayung dapat ditemukan di sepanjang daerah Sumatera yang berkebudayaan Melayu, terutama daerah pinggir pantai, bahkan di Sulawesi. Sebab dulu, menurutnya, selembayung merupakan sebuah kayu yang ditempatkan di atas bumbungan rumah untuk menghimpit atap dengan cara menyilangkannya, supaya atap tidak diter-bangkan angin. Kayu ini kemudian di daerah Melayu disebut dengan selem-bayung.

Pada awalnya, nelayan atau pengguna selembayung hanya meletakkan kayu itu untuk digunakan sesuai fungsinya.Akan tetapi ketika nelayan melewati musim barat/utara sehingga mereka tidak melaut, mereka mulai secara tidak sengaja mengukir kayu-kayu di Selembayung. Ukirannya bervariasi sesuai dengan kreasi masing-masing.Yang paling populer di antaraya adalah yang bernuansa bunga, daun, dan alam, karena itu dianggap merupakan lambang kasih sayang dalam masyarakat.Dalam perkembangannya, ukir-ukiran itu divariasi menjadi corak seperti pucuk rebung, palam dua sekawan dan tanduk buang yang dapat kita kenali sekarang, yang merupakan ukiran lambang identitas artifak melayu.

Secara formal ia mengungkapkan apa yang sudah diuraikan sebelum-nya, bahwa selembayung mulai tergali sejak tahun 1971, saat masa

(34)

peme-rintahan Arifin Ahmad, bertepatan dengan dibangunnya Taman Mini Indonesia Indah. Saat itu masing-masing daerah diharuskan memberikan ciri khasnya sebagai representasi di TMII. Ada dua tokoh adat yang diminta untuk me-nentukan dengan berbagai pertimbangan bangunan khas Riau, yaitu Okan Nizamil dan Amrun. Sejak saat itulah selembayung menjadi semacam identitas yang diangkat dari arsitektur tradisional Riau.

Tantangan yang muncul kemudian yang muncul terkait upaya ini menurut Chaidir berkutat pada hal-hal teknis. Pertama, keterbatasan pengukir dalam memahami filosofi di balik ukirannya sehingga pembuatan selembayung tidak didasarkan lagi terhadap kebutuhan simbolik masyarakatnya. Juga perkem-bangan alam modern yang menyulitkan pengrajin menemukan kayu dan meletakkan selembayung dalam modifikasi dengan bangunan modern.Chaidir menyarankan untuk tidak secara kaku mempertahankan selembayung. Identitas kemelayuan tidak serta merta harus diwakili oleh Selembayung. Bisa saja identitas itu disimbolkan dalam tampilan warna, dekorasi bangunan di dalam, gerbangnya, lobinya dan dinding dalamnya dengan ukiran-ukiran seperti pucuk rebung. Ia juga memberi informasi tentang kesulitan yang diha-dapi dalam mencari material dan pengrajin yang bisa membuat selembayung dengan baik. Menurutnya, saat ini, pembuatan selembayung banyak dilakukan di Jepara dan kemudian dikirim ke Riau. Ia memberitahu bahwa selembayung yang ada di TMII juga dipesan dari Jepara.

Penjelasan yang lebih mendalam tentang etimologi selembayung datang dari Prof. Dr.Yusmar Yusuf, M.Psi, selaku akademisi yang bergiat di kebuda-yaan Melayu Riau.Menurutnya, kata selembayung berasal dari bahasa melayu kolsim, dari kata selo-bayung yang dipakai dalam wilayah adat Limo Koto, Kampar. Selo-bayung ini merujuk pada bagian dari rumah-rumah lontiok yang dibangun oleh orang-orang Kampar.

(35)

Seperti bangunan adat pada umumnya, Yusmar Yusuf juga memahami makna dan simbol pada arsitektur Melayu. Ia mencontohkan simbol tanduk kerbau pada rumah adat minangkabau yang dianggap bisa membawa kehormatan, kekuatan, keperkasaan pada pemiliknya.Demikian pula simbol kerbau yang digunakan di perkakas adat Batak dan Toraja.Simbol yang sejenis juga digunakan sebagai sumber gambaran dalam membangun rumah lontiok, hanya saja bahan bakunya berbeda, yakni dari ijuk. Secara implisit ia mengakui bahwa rumah lontiok lebih representatif disebut arsitektur Melayu dibandingkan selembayung, apalagi jika diberlakukan pada konteks kontem-porer.

Gambar 8 Bangunan di Kampar

Sebab, menurutnya, selembayung yang kita kenal dan dapat kita lihat sekarang adalah selembayung yang diletakkan di atap rumah Limas.Itu adalah kombinasi yang dipaksakan, yakni bentuk rumah limas yang diselembayung-kan atau rumah adat Kajang tapi diselembayungdiselembayung-kan.Rumah limas sendiri sudah memiliki mahkota, seperti umumnya rumah di daerah pesisir pantai dan sungai, demikian pula dengan rumah atap kajang.Secara arsitektural, pemaksaan itu sudah tidak benar.Bentuk garis atap rumah Atap Kajang tidak bergayut dengan selembayung. Oleh Karena itu, fungsi awal selembayung yang berpasangan dengan rumah lontiok tidak bisa dimaksimalkan ketika dipasangkan dengan jenis rumah yang lain. Bahkan, selembayung yang dipa-sangkan dengan rumah beratap kajang dan limas menyebabkan terbentuknya genangan air di atap.

(36)

Gambar 9 Desain Rumah Limas Riau

Alasan teknis dan pertimbangan kenyamanan bangunan tersebut yang membuat saya tidak terlalu tertarik pada program pelestarian selembayung di bangunan-bangunan publik. Sebab kombinasi tadi bisa berpotensi merusak bangunan sendiri dengan pelapukan, pengkaratan yang mungkin terjadi karena genangan air di atap. Ia mencontohkan kasus demikian terjadi di Kantor Gubernur Riau yang kini mengalami pelapukan karena pemasangan selem-bayung yang tidak sesuai.

Keberatan terhadap penetapan selembayung juga muncul dari buda-yawan LAMR. Beliau sangat mengetahui dan memahami nilai filosofi dan sejarah selembayung, namun beliau mengatakan bahwa tidak ada standar pada ukiran selembayung. Pada akhirnya, hal itu disesuaikan dengan krea-tifitas dan modifikasi sebagai pelengkap bangunan. Beliau juga tidak mem-persoalkan perbedaan ukiran yang ada di setiap bangunan, karena yang ha-rus diperhatikan adalah penempatan selembayungnya (haha-rus diletakkan diatas atau di tempat yang terhormat). Beliau juga dengan terang menolak selem-bayung dijadikan identitas arsitektur Melayu Riau, karena ada tiga ciri khas Riau yang lain, yaitu limas yang mewakili masyarakat pesisir di mana pada bumbungannya ada selembayung mewakili masyarakat perairan atau laut

genangan air di atap.

(37)

dan lontiok yang mewakili masyarakat daratan. Oleh karena dulu pusat Riau memang ada di laut, maka secara otomatis selembayunglah yang diangkat (ibukota provinsi Riau dulu di Tanjung Pinang), sedangkan lontiok yang ter-akhir bergabung.

Gambar 10 Kompleks Perkantoran Kabupaten Kampar

2.5 Selembayung dalam Friksi Kebijakan Kebudayaan Riau

Seperti sudah dipaparkan singkat dalam uraikan sebelumnya, panda-ngan masyarakat terhadap selembayung sebagai simbol arsitektural budaya Melayu ternyata beragam. Keberagaman itu bersumber dari pengetahuan masyarakat yang berbeda tentang selembayung dan intepretasi yang berbeda tentang pengetahuan yang mereka miliki tersebut.

Beberapa orang yang mengetahui sejarah, perkembangan dan nilai simbolik di balik selembayung cenderung meletakannya sebagai unsur kebu-dayaan yang eksklusif. Mereka menginginkan selembayung dipasang dan diberlakukan sesuai dengan fungsi dan nilai-nilai filosofis yang dikandungnya. Nilai-nilai tersebut harus dijaga dan dipelihara sedemikian rupa.

Seorang pakar arsitektur melayu dari Universitas Riau memberikan pandangan eksklusifnya terhadap penggunaan selembayung. Ia menganggap selembayung sebagai riasan dari bangunan yang tidak cocok apabila dipa-sangkan di ruko-ruko dan lebih tepat di kantor pemerintahan sebagai daya tarik wisatawan. Beliau berpendapat apabila semua bangunan dipaksakan menggunakan selembayung, ada beberapa bangunan yang terkesan tidak cocok dan melenceng dari nilai filosofis selembayung. Dan contoh bangunan gagal

), sedangkan lontiok yang terakhir bergabung.

(38)

dengan menggunakan selembayung, salah satunya adalah gedung dinas pariwisata di atas. Hal tersebut nampak pada peletakan selembayung yang menyentuh ke tanah, sedangkan seharusnya selembayung diletakan pada posisi yang mulia (di atas) tanpa boleh menyentuh tanah. Pendapatnya ini menguatkan bagaimana selembayung seharusnya dipasang dan diberlakukan. Sementara itu, bangunan yang dianggap sukses dalam menggunakan selem-bayung adalah gedung DPRD dan Idrus Tintin, dikarenakan gedung tersebut dibuat tinggi menggunakan tangga, dan kehadiran selembayung di bangunan tersebut membuatnya terlihat mulia.

Gambar 11 Anjungan Seni Idrus Tintin

Gambar 12 Gedung DPRD Propinsi Riau

gedung DPRD dan Idrus Tintin, dikarenakan gedung tersebut dibuat tinggi menggunakan tangga, dan kehadiran selembayung di bangunan tersebut membuatnya terlihat mulia.

(39)

Bahkan ia juga menuturkan kekecewaannya terhadap selembayung (yang dipasang serampangan), karena dianggap mematikan atau mengkerdi-lkan kreatifitas arsitektur secara keseluruhan di satu sisi, dan juga membuat nilai-nilai luhur selembayung sendiri menjadi hilang. Kekuatan selembayung sebagai identitas budaya pudar ketika selembayung ditempelkan begitu saja pada bangunan modern. Beliau berpendapat bahwa dalam setiap pembangu-nan sudah ada perhitungan dan rencana sejak awal. Maka dari itu, jika selem-bayung dipasang tiba-tiba, dengan hanya menempelkan atau memasukannya ke dalam bangunan yang sudah ada, nilai seni dan prinsip arsitektur dari bangunan itu akan hilang. Bahkan beliau yakin, hasil kolaborasi para arsitektur Riau yang tampak pada maket bangunan gedung Dinas Pariwisata, tidak satupun yang menggunakan selembayung.

Beberapa ahli di Dinas Pariwisata juga mengatakan hal serupa. Ia mengakui bahwa “Selembayung ketika diletakkan di ruko-ruko, diibaratkan hanyalah lipstik, dandanan, riasan yang tidak dipahami maknanya oleh orang yang membangun ruko-ruko tersebut. ”Ia masih memaklumi dan menyetujui penggunaan selembayung di kantor pemerintahan karena bisa menjadi ciri khas. Kantor pemerintahan juga menjadi representasi sebuah wilayah yang ketika orang dari luar kota datang berkunjung akan bisa tertarik olehnya. Sementara selembayung pada ruko-ruko dianggap sebagai gejala latah dan sedikit ‘memaksakan’ karena bangunan tersebut tidak bisa menghidupkan makna kemelayuan di balik selembayung itu sendiri. Pemasangan selemba-yung sebagai ornamen yang diwajibkan membuat kehadirannya menjadi rancu, kehilangan makna dan bahkan karena ketidaktahuan si pemasang, makna di balik selembayung dicelai oleh pemasangan yang tidak sesuai aturan bakunya.

(40)

Menurutnya, dalam legenda, selembayung adalah ukiran yang terdapat pada atap rumah yang disebut juga serampu bunga rampai dan merpati dua sekawan. Almarhum Tenas Effendi ini bisa menjelaskan seluk beluk pema-sangan selembayung yang benar karena beliau diyakini sebagai orang dibalik pemasangan simbol arsitektur Melayu Riau di Taman Mini Indonesia Indah dan juga di gedung MTQ Riau. Selembayung pada dua gedung ini menempati posisi yang mulia di atap dalam artian sudah diaplikasikan dengan benar. Selembayung di gedung Dinas Pariwisata tempat narasumber bekerja di-anggap diaplikasikan dengan salah dan fatal karena posisi sayap yang menyentuh ke tanah. Kesalahan ini sudah mendapatkan protes dari banyak pihak terutama budayawan yang merasa terganggu melihat bangunan tersebut. Demikian pula dengan para arsitek di Riau yang sudah menaruh perhatian terhadap kesalahan tersebut. Lebih fatalnya lagi, menurut pengakuan nara-sumber, kondisi ini justru ditiru oleh arsitek lain di gedung lain karena ketidak-mengertian dan belum adanya klarifikasi.

Eksklusivitas ini tampaknya muncul karena kasus-kasus pemasangan selembayung yang tidak benar dan dianggap merugikan baik dari segi arsi-tektural maupun dari segi nilai-nilai simbolik selembayung sendiri.

Di samping beberapa pihak yang memiliki pandangan tertutup di atas, sebagian besar masyarakat justru terbuka (inkulsif) dalam melihat eksistensi selembayung. Keterbukaan itu tidak hanya berhubungan dengan bagaimana selembayung harus diterapkan, tetapi justru lebih kepada pandangan tentang selembayung sebagai salah satu identitas budaya Melayu di Riau.

Yusmar Yusuf secara pribadi dalam wawancara dengan peneliti me-ngaku tidak mendukung gerakan selembayung yang digalakkan pemerintah. Pertama, karena ketidaktahuan sejarah dan asal usul selembayung, Kedua, karena ketidaktahuan itu, terjadi pemaksaaan pemasangan yang dari segi arsitektural merugikan. Ketiga, adanya kepentingan politik yang ditumpangkan ke dalamnya. Perbedaan budaya awalnya bukan menjadi sumber pertenta-ngan, tetapi karena dianggap mewakili kekuatan politik yang berbeda, kemudian dibesar-besarkan dan dikemas sedemikian rupa menjadi bentuk yang kemudian diperdebatkan.

Yang dimaksud dengan ketidaktahuan sejarah merujuk pada pema-haman sempit tentang selembayung sebagai satu-satunya ciri arsitektur yang mewakili identitas Melayu di Riau. Seperti sudah diuraikan sebelumnya, selain selembayung, Riau memiliki pula rumah Lontiok dan Limasan, yang juga bisa mewakili kemelayuan masyarakat Riau. Demikian pula gagasan ahli dari Dinas Pariwisata yang secara pribadi menunjukkan ketertarikan dengan rumah

(41)

Lontiok, yang dianggap sedang cukup populer dan unik. Ia mencontohkan maket rancangan museum provinsi yang berkiblat dari museum yang ada di Malaysia, yang juga menggunakan atap Lontiok.

Perdebatan tentang bentuk formal arsitektur Melayu ini juga yang me-nggelisahkan Dinas Pariwisata. Menurut mereka, dibandingkan dengan yang terjadi di Sumatera Barat, selembayung di Riau muncul dengan sejarah dan kasus yang berbeda. Sumatera Barat sudah memiliki rumah begonjong yang diakui bersama bahkan dikenal di daerah lain juga sebagai satu-satunya ikon rumah adat mereka.

Sementara itu, yang terjadi di Riau berbeda. Arsitektur Melayu di Riau bukan hanya selembayung (yang lebih banyak digunakan oleh orang pesisir) tetapi juga rumah lontiok dan limasan (yang lebih modern dan men-dapat pengaruh juga dari arsitektur Belanda). Kedua jenis rumah adat ini juga perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari arsitektur Melayu di Riau. Jikalau kebutuhan akan adanya rumah adat itu tidak hanya sebatas identitas, tetapi lebih praktis untuk menarik minat wisatawan, ketiga jenis bangunan itu perlu diakui pula. Wisatawan tidak hanya melihat sebuah bangunan, tetapi kota, di mana bangunan tradisional mewarnai setiap sudutnya, seperti yang masih bisa dilihat di Kampar.

Lebih jauh lagi, dibandingkan dengan dua jenis bangunan yang lain itu, selembayung dianggap kurang representatif. Pada kurun waktu sejarah ter-tentu, selembayung memang dominan, tetapi sebagai bangunan, selembayung hanyalah sebagian kecil, sebuah ornamen. Dari segi ilmu arsitektur, diletak-kannya selembayung pada bangunan modern justru mematikan dan me-ngkerdilkan kreatifitas dalam proses pembangunan secara menyeluruh. Sebab, selembayung hanya ujung dari bagian atap dan hanya berapa persen dari bagian bangunan yang tidak cukup signifikan peranannya. Sebagai contoh bisa dilihat di bangunan Mall Pekanbaru yang menggunakan selembayung secara serampangan dalam kombinasinya dengan bangunan modern.

(42)

Gambar 14 Hotel Grand Zuri Pekanbaru

Narasumber dari Dinas Pariwisata dengan meyakinkan berkata bahwa kreatifitas dan modifikasi terhadap selembayung bukanlah inti yang harus dipermasalahkan, apalagi dikaitkan dengan kebertahanan makna identitas Melayu di dalamnya. Yang perlu diperbincangkan bukanlah modifikasi yang demikian, tetapi justru pemahaman tentang arsitektur Melayu yang perlu diperluas.Dan andaikata pembicaraan tentang modifikasi diperlukan, yang harus disiapkan adalah desain menyeluruh tentang arsitektur Melayu, di mana di dalamnya ada selembayung sebagai salah satu bagian. Modifikasi dalam konteks ini adalah selalu terkait dengan desain keseluruhan tersebut, bagai-mana kombinasi dilakukan tanpa mengurangi nilai kemelayuan di satu sisi dan nilai arsitektural secara umum di sisi lain.

(43)

Gambar 15 Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Riau

Narasumber yang juga adalah arsitek menekankan sangat pertimba-ngan aspek ilmu arsitektur dalam wacana selembayung ini.Ia mencontohkan yang terjadi di Rokan Hilir. Karakter geografis daerah itu adalah rawa, oleh karenanya, bangunan perlu disesuaikan sedemikian rupa dengan tanah rawa. Mendirikan sebuah bangunan gedung beton bercat putih dan berkubah di tengah rawa tidaklah cocok. Lebih baik mendirikan rumah kayu dengan kaki yang tinggi.Itu adalah contoh yang juga bisa diterapkan di Pekanbaru. Karena kondisi Pekanbaru yang panas dan lembab, diperlukan bangunan seperti gedung Idrus Tintin yang dimodifikasi bagian atapnya, juga gedung DPRD yang rata-rata dibangun dalam bentuk panggung, berkaki, bertangga naik ke atas, yang sekaligus berarti juga memuliakan.

Pulsia Mitra, kepala Dinas Kebudayaan, meskipun menjadi salah satu pihak yang mendukung perda tentang selembayung (yang akan dibahas kemudian), tetap mengakui beberapa jenis bangunan yang merepresentasikan Melayu Riau di atas. Berdasarkan bangunan yang berdiri di TMII dan sesuai kesepakatan ahli budaya waktu itu, telah ditetapkan atap kajang dan selem-bayung sebagai representasi Riau. Perbedaan kemudian menucul karena inte-pretasi yang berbeda.Ia mengakui itu sebagai dinamika yang niscaya dan tidak perlu dikhawatirkan dan diperburuk. Ia kemudian menyayangkan friksi dan perbedaan pendapat yang muncul kemudian, yang disinyalir karena unsur kebudayaan ini telah dipolitisasi seperti gagasan Yusmar Yusuf sebelum-nya.

(44)

Pada bagian ini, Pulsia Mitra mencontohkan kasus dalam sebuah acara pemerintahan di Kampar seorang tokoh masyarakat mengomentari bahwa tari dan kebudayaan Melayu yang baik dan asli berasal dari Kampar. Gejala bahwa sejarah dan pengetahuan kebudayaan masyarakat dikendalikan oleh penguasa seperti ini yang dianggap memperkeruh posisi selembayung dan meruncingkan perdebatan atasnya.

Kembali ke gagasan Yusmar Yusuf, kebudayaan Melayu melalui selem-bayung sudah dikonstruksi sedemikian rupa menjadi konstruksi kaum urban, yang kemudian dipolitisasi.Ia menekankan berlakunya strategi politik identitas di mana selembayung dipilih sebagai satu cap dan entitas yang mewakili ke-melayuan masyarakat Riau namun mengabaikan hakikat dasar dari selem-bayung dan hubungan dengan masyarakat penjunjungnya.

Dalam simpang siur dan perdebatan inilah, berbagai gerakan dilakukan terkait dengan selembayung sebagai identitas arsitektural Melayu di Riau. Gerakan-gerakan itu dilakukan baik oleh pemerintah dan institusi-institusinya maupun oleh organisasi masyarakat dan institusi di luar pemerintah. Gerakan-gerakan itu juga terbelah antara yang mendukung formalitas program peme-rintah untuk melegalkan selembayung sebagai simbol resmi arsitektur Melayu di Riau dan yang mempromosikan selembayung secara inklusif sebagai satu dari banyak unsur kebudayaan Melayu di Riau.

(45)
(46)

ORNAMEN, WARNA DAN

ATRIBUT SELEMBAYUNG

(47)
(48)

ORNAMEN, WARNA

DAN ATRIBUT SELEMBAYUNG

Bab III

Seperti sudah diuraikan sebelumnya, selembayung bukanlah satu entitas yang berdiri sendiri sebagai ciri identitas arsitektur Melayu Riau. Selembayung merupakan satu bagian dari keseluruhan struktur arsitektur Melayu, yang terdiri dari bagian-bagian yang lain dengan nilai falsafahnya masing-masing. Oleh karena itu, sebelum menguraikan peran dan posisi selembayung lebih lanjut, perlu diketahui dulu, apa itu bangunan Melayu, bagaimana perkemba-ngannya dan yang terpenting nilai-nilai falsafah yang dikandungnya. Setelah itu, yang perlu ditelusuri juga adalah ornamen (ukiran) pada banguna tersebut. Sebab, ornament dan ukiran pada bangunan Melayu sudah sejak dulu dikenal oleh masyarakat luas di Riau maupun di luar Riau.

3.1 Bangunan Melayu dan Nilai Filosofinya

Bangunan Melayu di Riau terdiri dari bagian-bagian yang menyoko-ngnya. Setiap bagian itu memiliki makna dan nilainya masing-masing sebagai berikut.

- Atap

Bahan utama atap adalah daun nipah dan daun rumbia, tetapi pada perkembangannya sering dipergunakan atap seng. Dilihat dari bentuknya, bubungan rumah Melayu dapat dibedakan menjadi :

(49)

2. Bubungan Lima 3. Bubungan Perak 4. Bubungan Kombinasi 5. Bubungan Limas

6. Bubungan Panjang Berjungkit 7. Bubungan Gajah Minum

Atap ini juga terdiri dari beberapa jenis yang memiliki arti berbeda-beda dan berkembang di daerah yang berberbeda-beda pula.

Gambar 16 Gambar Atap

Sumber: Buku Arsitektur Tradisional Melayu

1. Atap Kajang

Bentuk atap ini dikaitnya dengan fungsinya, yaitu tempat berteduh dari hujan dan panas.Yang memiliki makna, hendaknya sikap orang Melayu yang menjadi naungan bagi keluarga dan masyarakat.

2. Atap Layar

Bentuk atap yang bertingkat disebut Atap layar, Ampar labu, Atap

ber-sayap, atau Atap bertinggam.

3. Atap Lontik

Gambar 1 Gambar Atap

(50)

Atap ini memiliki kedua ujung perabung yang melentik ke atas, melambangkan bahwa pada awal dan akhirnya, hidup manusia akan kembali kepada pen-cipta-Nya. Sementara itu, lekukan pada pertengahan perabungnya me-lambangkan lembah kehidupan yang kadang kala penuh dengan cobaan.

4. Atap Limas

Hingga saat ini belum diketahui apa makna dibalik bentuk atap limas. Ke-mungkinan dahulu orang melayu mengenal lambang pada bentuk ini, terutama yang berkaitan dengan kepercayaan dalam agama Hindu dan Budha, atau terpengaruh atap banggunan Eropa.Namun demikian, bentuk limas ini sudah menjadi salah satu bentuk banggunan tradisional Melayu Riau.

- Selembayung

Selembayung juga disebut juga Sulo Bayung dan Tanduk Buang, adalah hiasan yang terletak bersilang pada kedua ujung perabung bangunan belah bubung dan rumah lontik. Pada bagian bawah adakalanya diberi pula hiasan tambahan seperti tombak terhunus, menyambung kedua ujung perabung (tombak-tombak). Makna-makna terkait selembayung sudah diuraikan pada bagian sebelumnya.

- Sayap Layang-layang atau Sayap Layangan

Hiasan ini terdapat pada keempat sudut cucuran atap. Bentuknya hampir sama dengan selembayung. Setiap bangunan yang berselembayung haruslah memakai sayap layangan sebagai padanannya. Letak sayap layang-layang pada empat sudut cucuran atap merupakan lambang sari empat pintu hakiki, yaitu pintu rizki, pintu hati, pintu budi, dan pintu Illahi.Sayap layang-layang juga merupakan lambang kebebasan, yaitu kebebasan yang tahu batas dan tahu diri.

- Lebah Bergantung

Hiasan ini terletak di bawah cucuran atap (lispang) dan kadang-kadang di bagian bawah anak tangga.Hiasan ini melambangkan manisnya kehidupan rumah tangga, sikap rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri.

- Perabung

Hiasan yang terdapat pada perabung rumah/terletak sepanjang perabung disebut Kuda Berlari. Hiasan ini amat jarang digunakan, lazimnya hanya dipergunakan untuk perabung istana atau balai tertentu. Hiasan ini mengan-dung beberapa makna, yaitu:

1. Lambang Kekuasaan: pemilik bangunan adalah penguasa tertinggidi wilayahnya.

(51)

2. Lambang lainnya terdapat pada bentuk dan nama ukirannya. - Singap/Bidai

Bagian ini biasanya dibuat bertingkat dan diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi. Pada bagiannya yang menjorok keluar diberi lantai yang disebut teban layar atau lantai alang buang atau disebut juga

Undan-undan.

- Tiang

Bangunan Tradisional Melayu adalah bangunan bertiang. Tiang dapat berbentuk bulat atau persegi. Jumlah tiang rumah induk paling banyak 24 buah, sedangkan tiang untuk bagian bangunan lainnya tidak ditentukan jumlahnya. Pada rumah bertiang 24, tiang-tiang itu didirikan dalam 6 baris, masing-masing 4 buah tiang termasuk tiang seri. Di dalam tiang juga terdapat lambang-lambang sebagai berikut:

1. Tiang tua: tiang utama yang terletak disebelah kanan dan kiri pintu tengah, atau tiang yang terletak ditengah bangunan yang pertama kali ditegakkan. Tiang tua melambangkan tua rumah, yaitu pimpinan di dalam bangunan itu, pimpinan di dalam keluarga dan masyarakat. 2. Tiang seri: tiang yang terletak di keempat sudut bangunan induk, dan tidak boleh dari tanah terus ke atas. Tiang seri melambangkan

Datuk Berempat atau induk berempat, serta melambangkan empat

penjuru mata angin.

3. Tiang penghulu: tiang yang terletak di antara pintu muka dengan tiang seri disudut kanan muka bangunan. Tiang ini melambangkan bahwa rumah itu didirikan menurut ketentuan adat istiadat, dan sekaligus melambangkan bahwa kehidupan di dalam keluarga wajib disokong oleh anggota keluarga lainnya.

4. Tiang tengah: tiang yang terletak di antara tiang-tiang lainnya, terdapat diantara tiang tua dan tiang seri.

5. Tiang bujang: tiang yang dibuat khusus di bagian tengah bangunan induk, tidak bersambung dari lantai sampai ke loteng atau alangnya. Tiang ini melambangkan kaum kerabat dan anak istri.

6. Tiang dua belas: tiang gabungan dari 4 buah tiang seri, 4 buah tiang tengah, 2 buah tiang tua, 1 buah tiang penghulu, dan 1 buah tiang bujang.

(52)

Gambar 17 Lambang Pada Tiang Sumber: Buku Arsitektur Tradisional Melayu

- Pintu

Disebut juga Ambang atau Lawang. Pintu masuk bagian muka disebut pintu muka, sedangkan pintu di bagian belakang disebut pintu dapur. Pintu ber-bentuk persegi empat panjang. Ukuran pitu lebar antara 60 s/d 100 cm, tinggi 1,50 s/d 2 meter.

- Jendela

Jendela lazim disebut tingkap atau pelinguk. Bentuknya sama seperti bentuk pintu, tetapi ukurannya lebih kecil atau lebih rendah. Daun jendela dapat

(53)

terdiri atas dua atau satu lembar daun jendela. Ketinggian letak jendela di dalam sebuah rumah tidak selalu sama. Perbedaan ketinggian ini adakalanya disebabkan oleh perbedaan ketinggian lantai, ada pula yang berkaitan dengan adat istiadat. Umumnya jendela tengah di rumah induk lebih tinggi dari jendela lainnya.

Jendela mengandung makna tertentu pula. Jendela yang sengaja dibuat setinggi orang dewasa berdiri dari lantai, melambangkan bahwa pemilik bangunan adalah orang baik-baik dan patut-patut dan tahu adat dan tradisinya, se-dangkan yang letaknya rendah melambangkan pemilik bangunan adalah orang yang ramah tamah, selalu menerima tamu dengan ikhlas dan terbuka.

- Tangga

Tangga naik ke rumah pada umumnya menghadap ke jalan umum.Tiang tangga berbentuk segi empat atau bulat. Bagian atas disandarkan miring ke ambang pintu dan terletak di atas bendul. Anak tangga dapat dibentuk bulat atau pipih.

Gambar 18 Bentuk Tangga

(54)

- Loteng

Dalam bahasa Melayu disebut langa. - Lantai

Lantai rumah induk pada umumnya diketam rapi dengan ukuran lebar antara 20 s/d 30 cm.

- Dinding

Papan dinding dipasang vertikal. Kalau ada yang dipasang miring atau bersilang, pemasangan tersebut hanya untuk variasi. Untuk variasi sering pula dipasang miring searah atau miring berlawanan, dengan kemiringan rata-rara 45 derajat.

3.2 Corak Ornamen pada Bangunan Melayu dan Makna Filosofinya

Setelah menguraikan bangunan Melayu secara keseluruhan beserta kekayaan makna dan nilai simbolik di baliknya, corak dasar ornament atau hiasan pada bangunan tersebut juga perlu dibahas tersendiri. Selain menunjuk-kan kekayaan tersendiri, corak hiasan ini juga memiliki makna yang kaya dalam sejarah dan perkembangannya.

Corak ornamen Melayu Riau umumnya bersumber dari alam, yakni terdiri atas flora, fauna, dan benda-benda angkasa yang didekoratifkan dalam bentuk-bentuk tertentu, baik menurut bentuk asalnya seperti bunga kundur, bunga hutan, maupun dalam bentuk yang sudah diabstrakkan atau dimo-difikasi sehingga tidak lagi menampakkan wujud asalnya, tetapi hanya meng-gunakan namanya saja seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergantung.

Di antara corak-corak tersebut, yang paling populer adalah yang ber-sumber pada tumbuh-tumbuhan (flora). Hal ini terjadi karena orang Melayu umumnya beragama Islam sehingga corak hewan (fauna) lebih banyak dihindari.Andaikata hendak menggunakan corak hewan, corak yang dipilih umumnya yang mengan- dung sifat tertentu atau yang berkaitan dengan mitos atau kepercayaan tempatan. Misalnya, corak semut beriring banyak diguna-kan karena sifat semut yang rukun dan tolong-menolong. Begitu pula dengan corak lebah, yang disebut lebah bergantung, karena sifat lebah yang selalu memakan yang bersih dan kemudian mengeluarkannya dalam bentuk madu untuk dimanfaatkan orang ramai. Corak naga digunakan juga terkaitdengan mitos tentang keperkasaan naga sebagai penguasa lautan dan sebagainya. Selain itu, benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, matahari, dan awan dijadikan corak karena mengandung nilai falsafah tertentu pula. Ada pula

(55)

corak yang bersumber dari bentuk-bentuk tertentu yakni wajik, lingkaran, kubus, segi, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga corak kaligrafi yang diambil dari kitab Alquran (Balai Adat Melayu dalam Krishadiawan, 2010).

Dalam perkembangannya, corak ragam hias Melayu pun meluas baik sumber maupun modifikasi terhadapnya dan juga nilai simbolis yang ada di baliknya. Corak yang paling banyak bersumber dari tumbuh-tumbuhan (flora), antara lain corak bunga bakung, bunga melati, bunga kundur, bunga mentimun, bunga hutan, bunga kiambang, bunga cengkih, bunga setaman, bunga serangkai, bunga berseluk, bunga ber- sanggit, bungai sejurai, bunga kembar, bunga tunggal, kembang selari, bunga- bungaan, dan lain-lain. Di antara yang banyak itu, motif pucuk rebung dianggap yang paling populer. Motif ini memiliki variasi dan maknanya masing-masing sebagai berikut:

- Pucuk Rebung Bertunas – Lapar hilang, dahaga pun lepas, masalah pun selesai;

- Pucuk Rebung Sekuntum – Duduk berunding, bermusyawarah, bermufakat;

- Pucuk Rebung Kaluk Paku – Bergotong-royong dan saling membantu; - Pucuk Rebung Sirih Tunggal – Menjauhkan celaka dan sial.

Motif Pucuk Rebung mempunyai arti sesuai dengan namanya yang berarti tunas bambu. Motif ini melambangkan sebagai sesuatu kekuatan yang muncul dari dalam.Walaupun motif pucuk rebung tersebut berbeda-beda tetapi mempunyai pengertian yang kurang lebih sama yaitu segala sesuatu berasal dari tunasnya (dari kekuatan di dalamnya).

Bagian lain dari flora juga menjadi sumber ragam hias, seperti misalnya corak kuntum, antara lain, ialah kuntum tak jadi, kuntum merekah, kuntum serangkai, kuntum bersanding, kuntum kembar, kuntum berjurai, kuntum jeruju, kuntum setanding, kuntum tak sudah, kuntum sejurai, dan sebagainya. Demikian juga dengan daun yang menciptakan berbagai corak seperti daun bersusun, daun sirih, daun keladi, daun bersanggit bunga, susun sirih pengantin, susun sirih sekawan, daun berseluk, dan lain-lain.

(56)

Gambar 19 Corak Ragam Hias Bunga

Buah juga menjadi sumber corak, antara lain corak tampuk manggis, buah hutan, buah delima, buah anggur, buah setangkai, pisang-pisang, pinang-pinang, buah kasenak, buah mengkudu, delima mereka, dan lain-lain. Se-mentara itu akar-akaran menjadi sumber untuk corak kaluk pakis atau kaluk paku, akar bergelut, akar melilit, akar berpilin, akar berjuntai, akar-akaran, belah rotan, pueuk rebung, dan sebagainya.

Selain flora, fauna juga menjadi sumber corak ragam hiasan. Yang paling populer adalah corak unggas, seperti corak itik pulang petang, ayam jantan, ayam bersabung, burung punai, burung bangau, burung serindit, burung balam atau balam dua setengger, burung kurau, kurau mengigal, garuda menyambar, burung merak, merak sepasang, siku keluang, dan corak lebah seperti lebah bergayut.

Gambar

Gambar 1 Penggunaan Selembayung pada Kantor Gubernur Riau dan Rumah Tokoh Budaya Melayu Riau
Gambar 2 Selembayung pada Perumahan Masyarakat di Pekanbaru Selanjutnya, kata “identitas” berasal dari bahasa Inggris, identity yang
Gambar 3 Lokasi Penelitian
Gambar 4 Corak Ukiran Selembayung
+7

Referensi

Dokumen terkait

pribadi adalah (1)hubungan dyadic; (2) pokok pembicaraan yang menyangkut hubungan dan lembaga sosial; (3) t at a susila at au adat -ist iadat yang t ercermin dalam bahasa

Narasumber dari pihak Lembaga Adat Melayu Riau mengatakan bahwa karakter dan lingkungan yang terdapat di dalam film animasi 3D Batu Belah Batu Betangkup ini