BAB II
KAJIAN LITERATUR
2.1. Kajian Induktif
Kajian induktif merupakan sebuah kajian yang berfokus pada penelitian terdahulu, kemudian mengambil kesimpulan berdasarkan penelitian tersebut untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan topik penelitian yang dipilih oleh peneliti, dalam hal ini yaitu manajemen risiko. Penelitian yang berkaitan dengan manajemen risiko sudah banyak dilakukan, diantaranya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Yasa et al. (2013), Kristianingsih & Musyafa (2013), Muchfirodin et al. (2015), Munang et al. (2016). Jurnal-jurnal tersebut menganalisis risiko yang memiliki kemungkinan terjadi baik pada sistem kerja maupun pada sebuah proyek pembangunan. Hasil analisis risiko kemudian digunakan sebagai acuan dalam melakukan mitigasi risiko untuk meminimalisir akibat yang dapat timbul dari risiko tersebut. Mitigasi risiko dilakukan terhadap risiko dominan dengan cara menghindari risiko, mengurangi risiko dan memindahkan risiko dari berbagai aspek, seperti aspek institusi, aspek regulasi, pembiayaan dan lain-lain.
Salah satu metode yang dapat diterapkan dalam manajemen risiko adalah metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Berbagai penelitian menggunakan FMEA telah dilakukan, seperti yang dilakukan oleh Meraj dan Farhad (2015), Aranti & Oktaufanus (2015), Santhi et al. (2015), Nasution et al. (2014) dan Hasbullah et al. (2017). Dari jurnal-jurnal penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode FMEA dapat digunakan untuk menentukan tingkat risiko dari setiap kegagalan sehingga dapat diambil keputusan apakah perlu diambil tindakan atau tidak serta merupakan sebuah teknik analisis kegagalan yang sudah diterapkan di berbagai bidang.
Dalam menekan kerugian yang timbul akibat risiko kegagalan, FMEA dilakukan dengan mencermati proses untuk mengetahui kemungkinan kegagalan yang dapat terjadi dengan mengidentifikasi potensi kegagalan, dampak serta kemungkinan munculnya (McDermott et al., 2009). Kemudian dilakukan pemberian nilai masing-masing risiko berdasarkan atas tingkat kejadian (occurrence), tingkat keparahan (severity) dan tingkat deteksi (detection). Sehingga dalam melakukan usulan perbaikan, dapat dengan cara mengurangi ketiga nilai tersebut.
Selain itu, Mutlu & Altuntas (2019) juga menyimpulkan bahwa metode tersebut dapat di implementasikan pada analisis risiko yang komprehensif karena mencerminkan dinamika kehidupan nyata. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk menggunakan metode FMEA dalam penelitian yang dilakukan di unit Hospital Equipment sebagai suatu langkah memperdalam kajian terkait FMEA pada dunia industri. Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu membantu manajer dalam menerapkan manajemen risiko pada perusahaannya.
2.2. Kajian Deduktif
2.2.1. Produktivitas
Produktivitas di definisikan sebagai kemampuan dalam mengoptimalkan keluaran (output) dari seluruh masukan (input) yang digunakan (Pujotomo dan Rusanti, 2015). Produktivitas adalah sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang-barang atau jasa-jasa: “Produktivitas mengutarakan cara pemanfaatan secara baik terhadap sumber-sumber dalam memproduksi barang-barang”. Adapun konsep produktivitas kerja dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi individu dan dimensi organisasian.
Dimensi individu melihat produktivitas dalam kaitannya dengan karakteristik-karakteristik kepribadian individu yang muncul dalam bentuk sikap mental dan mengandung makna keinginan dan upaya individu yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan dimensi keorganisasian melihat produktivitas dalam kerangka hubungan teknis antara masukan (input) dan keluaran
(output). Oleh karena itu dalam pandangan ini, terjadinya peningkatan produktivitas tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas, tetapi juga dapat dilihat dari aspek kualitas. Kedua pengertian produktivitas tersebut mengandung cara atau metode pengukuran tertentu yang secara praktek sukar dilakukan. Kesulitan-kesulitan itu dikarenakan, pertama karakteristik-karakteristik kepribadian individu bersifat kompleks, sedangkan yang kedua disebabkan masukan-masukan sumber daya bermacam-macam dan dalam proporsi yang berbeda-beda.
Berikut merupakan beberapa rumus dalam menghitung produktivitas menurut Sumanth (1985):
Labor Productivity = Output
Labor Input ………(2.1) Capital Productivity = Output
Capital Input ……….(2.2) Material Productivity = Output
Material Input……….(2.3) Energy Productivity = Output
Energy Input……….(2.4)
Peningkatan produktivitas dapat dicapai apabila:
1. Output yang dihasilkan lebih besar dengan pemanfaat input yang sama. 2. Output yang dihasilkan tetap dengan pemanfaat input yang lebih kecil. 3. Output yang dihasilkan lebih besar dibanding kenaikan pemanfaatan input. 4. Output yang dihasilkan berkurang dengan pemanfaatan input yang lebih sedikit.
2.2.2. Waktu Siklus
Menurut Purnomo (2003) waktu siklus (cycle time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membuat atau merakit satu unit produk pada suatu stasiun kerja. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan beberapa elemen kerja pada satu siklus tidak selalu sama, meskipun operator bekerja dalam kecepatan normal. Oleh karena itu, Sutalaksana
(2006) mendefinisikan waktu siklus sebagai waktu rata-rata dalam penyelesaian suatu pekerjaan dengan rumus sebagai berikut:
CT = ∑xi
N ………..(2.5)
Keterangan:
CT = Cycle time; waktu siklus
Xi = Jumlah waktu penyelesaian yang teramati N = Jumlah pengamatan yang dilakukan
2.2.3. Risiko
Risiko adalah konsekuensi dari terjadinya suatu peristiwa yang akan memberikan dampak negatif atau kerugian. Berikut ini merupakan pengertian risiko dari beberapa sumber:
1. Menurut Griffin (2002), risiko adalah ketidakpastian tentang peristiwa masa depan atas hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan.
2. Menurut Hanafi (2006), risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung maupun kejadian yang akan datang.
3. Menurut Harland et al. (2003), risiko merupakan peluang terjadinya bahaya, kerusakan, kehilangan, atau berbagai konsekuensi yang tidak diharapkan lainnya. 4. Menurut Ritchie dan Brindley (2007), ada tiga dimensi risiko: 1) kemungkinan terjadinya hasil tertentu; 2) konsekuensi dari terjadinya peristiwa tertentu; 3) jalur kasual yang mengarah ke peristiwa.
Terdapat dua jenis risiko secara umum, yaitu risiko murni dan risiko spekulasi (Hanafi, 2006):
1. Risiko murni adalah ketidakpastian terjadinya suatu kerugian atau dengan kata lain hanya ada suatu peluang merugi dan bukan suatu peluang keuntungan. Risiko murni adalah suatu risiko yang bilamana terjadi akan memberikan kerugian dan apabila tidak terjadi maka tidak menimbulkan kerugian namun juga tidak menimbulkan keuntungan. Risiko ini akibatnya hanya ada dua macam: rugi atau break event, contohnya adalah pencurian, kecelakaan atau kebakaran.
2. Risiko spekulasi adalah risiko yang berkaitan dengan terjadinya dua kemungkinan, yaitu peluang mengalami kerugian finansial atau memperoleh keuntungan. Risiko ini akibatnya ada tiga macam: rugi, untung atau break event, contohnya adalah investasi saham di bursa efek, membeli undian dan sebagainya. Sedangkan menurut Jorion (1997) terdapat 3 (tiga) jenis risiko pada perusahaan, yaitu: 1. Risiko bisnis, merupakan risiko yang dihadapi oleh perusahaan atas kualitas dan keunggulan pada beberapa produk pasar yang dimiliki oleh perusahaan. Risiko seperti ini hadir karena adanya ketidakpastian dari aktivitas-aktivitas bisnis seperti inovasi teknologi serta desain produk dan pemasaran.
2. Risiko strategi, merupakan risiko yang muncul karena adanya perubahan fundamental pada lingkungan ekonomi atau politik. Risiko strategi sangat sulit untuk dihitung karena berhubungan dengan hal-hal makro di luar perusahaan, seperti kebijakan ekonomi, iklim politik dan lain-lain.
3. Risiko keuangan, merupakan risiko yang timbul sebagai akibat adanya pergerakan pada pasar finansial yang tidak dapat diperkirakan. Risiko ini berkaitan dengan kerugian yang mungkin dihadapi dalam pasar finansial, seperti kerugian akibat pergerakan tingkat suku bunga atau adanya kegagalan (defaults) dalam obligasi finansial.
2.2.4. Kriteria Penerimaan Risiko
Gambar 2. 1 Kriteria Penerimaan Risiko (Sumber: Unit Engineering PT. MAK, 2008)
Berdasarkan gambar diatas, terdapat 3 zona dalam kriteria penerimaan risiko menurut Unit Engineering PT. MAK, sebagai berikut:
1. Intolerable risk, yaitu risiko/bahaya pada saat realisasi terlalu tinggi sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan sebelum diperbaiki.
2. Tolerable risk, yaitu risiko/bahaya yang masih dalam batasan toleransi, namun tetap memerlukan penanganan/mitigasi risiko sampai pada tingkat yang dapat diterima.
3. Acceptable risk, yaitu risiko yang dapat diterima karena tidak mempunyai dampak yang besar dan masih dalam batas yang dapat diterima.
2.2.5. Failure Mode Effect Analysis (FMEA)
FMEA merupakan sebuah teknik analisis kegagalan yang sudah diterapkan pada berbagai bidang. FMEA memiliki tujuan mencermati proses maupun produk untuk mengetahui kemungkinan kegagalan yang dapat terjadi dengan mengidentifikasi potensi kegagalan,
dampak serta kemungkinan munculnya (McDermott et al., 2009). Ada 3 (tiga) tipe dalam FMEA, yaitu:
1. System FMEA
Digunakan untuk menganalisa keseluruhan sistem atau sub-sistem pada saat penyusunan konsep di fase design.
2. Design FMEA
Digunakan untuk menganalisa rancangan produk sebelum dirilis/diproduksi oleh manufaktur
3. Process FMEA
Tipe ini mengutamakan analisis moda kegagalan pada proses produksi dan tidak bergantung pada perubahan desain produk yang dapat menyebabkan kegagalan suatu proses.
Pada penelitian ini, tipe FMEA yang digunakan adalah FMEA proses. Tipe ini mempertimbangkan tenaga kerja, mesin, metode, material, pengukuran, dan lingkungan. Evaluasi kegagalan pada FMEA dilakukan menggunakan 3 (tiga) indikator, antara lain severity, occurrence, dan detection. Pengertian severity menurut Puspitasari & Martanto (2014) Severity adalah penilaian terhadap keparahan/keseriusan dampak yang ditimbulkan. Semakin tinggi nilai yang diberikan berarti semakin parah dampak yang ditimbulkan. Occurrence merupakan kemungkinan penyebab kegagalan akan terjadi atau frekuensi terjadinya kegagalan pada suatu periode. Semakin tinggi nilai yang diberikan maka semakin tinggi frekuensi terjadinya kegagalan. Sedangkan detection adalah pengukuran terhadap kemampuan mengendalikan/mengontrol kegagalan. Semakin tinggi nilai yang diberikan maka kegagalan semakin sulit untuk dikendalikan. Adapun kriteria dalam penilaian S, O, dan D dijabarkan pada tabel dibawah ini:
1. Severity (S)
Severity merupakan sebuah penilaian seberapa besar dampak risiko mempengaruhi output proses. Dampak tersebut diberi nilai dengan skala 1-10, dimana semakin tinggi nilainya berati semakin buruk dampaknya. Berikut merupakan tabel kriteria penilaian severity:
Tabel 2. 1 Kriteria Severity
Rank Severity Deskripsi 10 Berbahaya tanpa
peringatan
Kegagalan sistem yang menghasilkan efek sangat berbahaya
9 Berbahaya dengan peringatan
Kegagalan sistem yang menghasilkan efek berbahaya
8 Sangat tinggi Sistem tidak beroperasi
7 Tinggi Sistem beroperasi tetapi tidak dapat dijalankan secara penuh
6 Sedang
Sistem beroperasi dan aman tetapi mengalami penurunan performa sehingga mempengaruhi output
5 Rendah Mengalami penurunan kinerja secara bertahap 4 Sangat rendah Efek yang kecil pada performa sistem
3 Kecil Sedikit berpengruh pada kinerja sistem 2 Sangat kecil Efek yang diabaikan pada kinerja sistem 1 Tidak ada efek Tidak ada efek
2. Occurrence
Occurrence merupakan ukuran seberapa sering kegagalan/risiko tersebut terjadi. Penilaian diberikan menggunakan skala 1-10, dimana semakin tinggi nilainya berarti risiko semakin sering terjadi. Berikut merupakan tabel kriteria penilaian occurence:
Tabel 2. 2 Kriteria Occcurrence
Ranking Occurrence Deskripsi
10
Sangat tinggi Sering gagal 9
8
Tinggi Kegagalan yang berulang 7
6
Sedang Jarang terjadi kegagalan 5
4 3
Rendah Sangat kecil terjadi kegagalan 2
3. Detection
Detection merupakan ukuran dalam mendeteksi risiko yang dapat terjadi. Penilaian diberikan dengan skala 1-10, dimana 10 berarti risiko berpeluang tidak terdeteksi. Berikut merupakan tabel kriteria penilaian detection:
Tabel 2. 3 Kriteria Detection
Rank Detection Deskripsi
10 Tidak pasti
Pengecekan akan selalu tidak mampu untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.
9 Sangat kecil
Pengecekan memiliki kemungkinan “very remote” untuk mampu mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.
8 Kecil
Pengecekan memiliki kemungkinan “remote” untuk mampu mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan. 7 Sangat rendah
Pengecekan memiliki kemungkinan sangat rendah untuk mampu mendeteksi penyebab potensial kegagalan dan mode kegagalan.
6 Rendah
Pengecekan memiliki kemungkinan rendah untuk mampu mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.
5 Sedang
Pengecekan memiliki kemungkinan “moderate” untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.
4 Menengah keatas
Pengecekan memiliki kemungkinan “moderately High” untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.
3 Tinggi
Pengecekan memiliki kemungkinan tinggi untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.
2 Sangat tinggi
Pengecekan memiliki kemungkinan sangat tinggi untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan. 1 Hampir pasti
Pengecekan akan selalu mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.
Hasil penilaian pada ketiga indikator tersebut dikalikan sehingga menghasilkan Risk Priority Number (RPN). Nilai RPN dihitung dengan rumus:
RPN = S x O x D ………...(2.6)
Keterangan:
RPN = Nilai prioritas suatu risiko (Risk Priority Number) S = Severity, tingkat keparahan dampak
O = Occurrence, tingkat frekuensi terjadinya kegagalan/risiko D = Detection, tingkat kemampuan mendeteksi risiko
Nilai RPN menjadi dasar dalam penentuan prioritas mode kegagalan. Semakin tinggi nilai RPN maka urutan prioritasnya perbaikannya semakin tinggi (Firdaus & Widianti, 2015). Nilai RPN maksimal untuk setiap risiko adalah 1000, sedangkan nilai minimalnya adalah 1.
2.2.6. Mitigasi Risiko
Definisi mitigasi menurut Federal Emergency Management Agency (FEMA) adalah tindakan-tindakan yang diambil untuk mengurangi paparan dan dampak dari serangan atau bencana. Sedangkan tujuan mitigasi adalah untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh bencana jiwa dan harta benda dengan mengantisipasi bahaya dan membuat masyarakat lebih tahan terhadap dampaknya. Dengan demikian, mitigasi dapat diterapkan pada beberapa kasus seperti bencana alam yang disebabkan oleh manusia, hingga mitigasi risiko pada sebuah proses bisnis. Berbagai strategi dan program ada di tingkat lokal, negara bagian, regional, dan federal untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam banyak hal, mitigasi adalah fase manajemen darurat yang paling jangka panjang dan berjangkauan luas (Henkey, 2018).