Edisi Juni 2019
Implementasi Kebijakan Kampung Literasi Terhadap Upaya Layanan Literasi Masyarakat
(Kajian pada Kampung Literasi di Provinsi Jawa Tengah) Yuniarti, Jamaludin, Andriyanto, Ikhsan Hendra Warsita
Evaluasi Kebermanfaatan Bantuan Sarana Prasarana Lembaga Kursus dan Pelatihan di Jawa Tengah
Tahun 2015—2017
Melati Indri Hapsari, Agus wahyono, Birowo Dwi Condro, Retno Wihartati Efektifitas Pemanfaatan Dana Bansos Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW)
di Provinsi Jawa Tengah 2017
Heru Priambodo, M.Kom., Ana Kristiani, M.Pd Agus Wijatmoko, M.Pd., Tatiek Dyah Wardani, M.Kes
Evaluasi Program Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik BOP PAUD di Jawa Tengah Tahun 2018
Waluyo Basuki, Zumrotul Khasanah, Farida Widyawati, Aniek Sugiyanti Model Pembelajaran Matematika Untuk Anak Usia Dini dengan Media Game
SISOMAT (Literasi Skenario Matematika) Endang Tri Haryanti, Suyanto, Sri Haryati
Efektifitas dan Peranan Himpaudi dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Pendidik PAUD
Sutarmin
Menumbuhkan Jiwa Bela Bangsa Anak Usia Dini Berbasis Pendidikan Karakter Era Globalisasi
Eem Kurniasih
Studi Komparasi Hasil Belajar Peserta Didik dengan Menggunakan Metode Pembelajaran VISA dan Pembelajaran Praktik pada Pendidikan
Kecakapan Kerja Program Aplikasi Perkantoran Heru Priambodo, Tatiek Dyah Wardani, Khozin Dwiono
andragogia
Pengarah:Ir. Djajeng Baskoro, M.Pd
Penanggungjawab: Drs. Suka, M.Pd
Ketua Penyunting:
Dra, Riyati Anggoro Peni, M.Pd
Penyunting Pelaksana: Yuniarti, M.Hum Bibit Solekhah, M.Pd Ana Kristiani, M.Pd Jendra Penyunting Ahli: Prof. Dr. Tri Joko Raharjo
Pelaksana Administrasi: Febri Hartanti P, M.Pd Arif Wibowo, ST Dedy Haryanto, S.Kom Rudiyanto, S.Si Rahmawati K, S.Pd Aris Catur A Lulu Pelaksana Teknis: Rakhmat Gunarja, S.Pd Sri Rahayuningsih, S.Pd Diterbitkan oleh: PP-PAUDNI Regional II Semarang
Bekerja sama dengan Kaprodi PLS Pascasarjana UNNES Semarang
Alamat Redaksi:
Jl. Diponegoro 250 Ungaran Semarang, Jawa Tengah. Telp. 024-6921187 Fax. 024-6922884
Edisi Juni 2019
Daftar Isi
Implementasi Kebijakan Kampung Literasi Terhadap Upaya Layanan Literasi Masyarakat
(Kajian pada Kampung Literasi di Provinsi Jawa Tengah) Yuniarti, Jamaludin, Andriyanto, Ikhsan Hendra Warsita Evaluasi Kebermanfaatan Bantuan Sarana Prasarana
Lembaga Kursus dan Pelatihan di Jawa Tengah Tahun 2015—2017
Melati Indri Hapsari, Agus wahyono, Birowo Dwi Condro, Retno Wihartati
Efektifitas Pemanfaatan Dana Bansos Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) di Provinsi Jawa Tengah
2017
Heru Priambodo, M.Kom., Ana Kristiani, M.Pd Agus Wijatmoko, M.Pd., Tatiek Dyah Wardani, M.Kes Evaluasi Program Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik
BOP PAUD di Jawa Tengah Tahun 2018 Waluyo Basuki, Zumrotul Khasanah, Farida Widyawati,
Aniek Sugiyanti
Model Pembelajaran Matematika
Untuk Anak Usia Dini dengan Media Game SISOMAT (Literasi Skenario Matematika)
Endang Tri Haryanti, Suyanto, Sri Haryati
Efektifitas dan Peranan Himpaudi dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Pendidik PAUD
Sutarmin
Menumbuhkan Jiwa Bela Bangsa Anak Usia Dini Berbasis Pendidikan Karakter Era Globalisasi
Eem Kurniasih
Studi Komparasi Hasil Belajar Peserta Didik dengan Menggunakan Metode Pembelajaran VISA dan Pembelajaran Praktik pada Pendidikan Kecakapan Kerja
Program Aplikasi Perkantoran
Heru Priambodo, Tatiek Dyah Wardani, Khozin Dwiono
jurnal ilmiah
pendidikan anak usia dini
dan pendidikan masyarakat
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KAMPUNG LITERASI TERHADAP UPAYA LAYANAN LITERASI MASYARAKAT
(Kajian pada Kampung Literasi di Provinsi Jawa Tengah) Yuniarti, Jamaludin, Andriyanto, Ikhsan Hendra Warsita
Pamong Belajar PP PAUD dan Pendidikan Masyarakat Jawa Tengah
Abstrak
Kebijakan Kampung Literasi muncul sebagai upaya pemerintah dalam menaikkan indeks pembangunan manusia melalui upaya meningkatn literasi masyarakat. Kampung Literasi terwujud untuk menjadi wadah bagi pengembangan kegiatan literasi di masyara-kat. Program Kampung Literasi yang digulirkan oleh masyarakat perlu dikaji lebih jauh apakah program tersebut terbukti secara empiris dapat meningkatkan literasi masyarakat. Kajian dilakukan terhadap 11 (sebelas) Kampung Literasi di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, menjadikan populasi sebagai sampel dengan teknik total sampling, kemudian data dianalisis menggunakan triangulasi data. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumen.
Hasil pengkajian menunjukkan bahwa secara keseluruhan kesebelas Kampung Literasi mengimplementasikan program Kampung Literasi sebagaimana tertuang dalam juknis. Kegiatan literasi yang dilakukan mencakup 6 (enam) jenis literasi meliputi: 1) lit-erasi baca tulis, 2) litlit-erasi numlit-erasi, 3) litlit-erasi sains, 4) litlit-erasi TIK, 5) litlit-erasi keuangan dan 6) literasi budaya dan kewargaan.
Dampak positif keberadaan kampung literasi dapat dilihat pada hasil-hasil sebagai berikut: 1) terdapat peningkatan pola pikir masyarakat akan perlunya pengetahuan dan informasi baru, 2) terdapat perubahan sikap masyarakat dalam memecahkan masalah, 3) terdapat peningkatan keterampilan sebagai hasil kegiatan literasi. Peranan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan kampung literasi di masyarakat. Dukungan masyara-kat dalam bentuk pemikiran, tenaga, moral, spiritual dan materiil telah turut serta men-dukung keberhasilan kampung literasi. Beberapa kelemahan yang muncul antara lain adalah perlunya peningkatan kapasitas pengelola kampung literasi, perlunya regenarasi dan peningkatan kerjasama antar berbagai unsur yang turut serta menunjang implemen-tasi kampung literasi di masyarakat.
Kata kunci: Kampung Literasi, literasi, implementasi, masyarakat A. BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas menentukan empat fokus kebijakan pembinaan pendidikan masyarakat tahun 2018 yaitu pertama, memperkuat program pendidikan keaksaraan yang mampu meningkatkan kompetensi keaksaraan dasar dan paska keaksaraan bagi penduduk dewasa secara adil, merata dan bermutu. Kecakapan tersebut harus terintegrasi dengan kecakapan hidup dan kemampuan pencegahan masalah sosial dan lingkungan untuk mendorong perbai-kan kesejahteraan, produktivitas penduduk dan ikut serta dalam mendukung perbaiperbai-kan indeks pembangunan manusia.
Kedua, mendorong terselenggaranya gerakan membaca masyarakat dan me-masyarakatkan membaca melalui pengembangan Taman Bacaan Masyarakat di ruang publik seperti di mall, stasiun, rumah sakit dan terminal yang sangat bermanfaat bagi anggota masyarakat, termasuk untuk akasarawan baru, guna meningkatkan pengetahuan, keterampi-lan dan sikap perilaku.
Ketiga, meningkatkan pelayanan pendidikan pemberdayaan perempuan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan, meningkatkan partisipasi perempuan dalam
pembangunan, menghapuskan berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan terhadap perempuan dan mendukung upaya pencegahan perdagangan orang (trafficking) serta tindak kekerasan (KDRT) sebagai wujud perlindungan HAM.
Keempat, meningkatkan pengarusutamaan gender bidang pendidikan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pendidikan melalui peningkatan kesem-patan bagi laki-laki dan perempuan dalam layanan, partisipasi, kontrol dan memperoleh manfaat yang setera dalam bidang pendidikan.
Mendukung kebijakan pemerintah pusat melalui kebijakan Direktorat Pembinaan Pen-didikan Keaksaraan dan Kesetaraan menindaklanjuti dengan program kampung literasi yang menyangkut: 1) memperkuat program pemberantasan buta aksara, 2) program peningkatan budaya baca, 3) peningkatan pelayanan pendidikan bagi perempuan, dan 4) pengarusuta-maan gender.
Kebijakan Kampung Literasi muncul sebagai upaya pemerintah dalam menaikkan in-deks pembangunan manusia melalui upaya meningkatkan literasi masyarakat. Kampung Lit-erasi terwujud untuk menjadi wadah bagi pengembangan kegiatan litLit-erasi di masyarakat. Pro-gram Kampung Literasi yang digulirkan oleh masyarakat perlu dikaji lebih jauh apakah pro-gram tersebut terbukti secara empiris dapat meningkatkan literasi masyarakat.
2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Pengkajian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program Kampung Literasi terhadap peningkatan literasi di masyarakat.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus pengkajian ini bertujuan untuk:
1) Mendeskripsikan kegiatan dalam Kampung Literasi yang menunjang peningkatan budaya dan minat baca masyarakat .
2) Mendeskripsikan peran sumber daya lokal dalam mendukung program kampung literasi dan sejauh mana peran tersebut dapat membantu meningkatkan literasi masyarakat. 3) Mendeskripsikan factor-faktor yang mendukung dan menghambat pengembangan
kam-pung literasi. 3. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada pengkajian ini secara terperinci dapat dituliskan sebagai berikut: a. Bagaimanakah implementasi kebijakan program Kampung Literasi terhadap budaya literasi
masyarakat yang ditandai dengan:
b. Upaya apa sajakah yang telah dilakukan untuk menunjang peningkatan budaya dan minat baca masyarakat dan sejauh mana hasil yang diperoleh?
c. Bagaimanakah peran sumber daya lokal dalam mendukung program kampung literasi dan sejauh mana peran tersebut dapat membantu meningkatkan literasi masyarakat?
d. Faktor-faktor apa sajakah yang mendukung dan menghambat kemungkinan pengembangan kampung literasi?
4. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari pengkajian ini, antara lain:
a. Hasil pengkajian daapat dimanfaatkan secara teoritis bagi pengembangan program pendidi-kan masyarakat dan pemerintahan terutama terkait implementasi kebijapendidi-kan program kampung literasi yang dikembangkan di masyarakat agar lebih baik.
b. Secara praktis pengkajian ini memberikan manfaat untuk;
1) Bahan kajian kampung literasi yang dapat meningkatkan literasi masyarakat.
2) Bahan rekomendasi penyempurnaan kebijakan program kampung literasi terhadap pemerintah.
3) Bahan studi perbandingan oleh penyelenggara kampung literasi lain yang berkeinginan untuk memajukan dan mengembangkan program kampung literasi yang dikelolanya. B. BAB II Landasan Teori
1. Konsep Literasi
a. Definisi Literasi Dasar
Literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis yang berhubungan dengan keberhasilan seseorang dalam lingkungan masyarakat akademis sehingga literasi merupa-kan piranti yang dimiliki untuk dapat meraup kesuksesan dalam lingkungan sosial.
National Assesment of Educational Progress mengartikan literasi sebagai kemampu-an performkemampu-ansi membaca dkemampu-an menulis ykemampu-ang diperlukkemampu-an sepkemampu-anjkemampu-ang hayat (Winterowd, 1989: 5). Seorang ahli hukum memandang bahwa literasi merupakan kompetensi dalam me-mahami wacana, baik sebagai pembaca maupun sebagai penulis sehingga menampakkan pribadi sebagai profesional berpendidikan yang tidak hanya menerapkan untuk selama kegiatan belajar, tetapi menerapkannya secara baik untuk selamanya (White, 1985: 46).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa literasi adalah (1) ke-mampuan baca-tulis atau kemelekwacanaan, (2) keke-mampuan mengintegrasikan antara menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berpikir, (3) kemampuan siap untuk digunakan dalam menguasai gagasan baru atau cara mempelajarinya, (4) piranti kemam-puan sebagai penunjang keberhasilannya dalam lingkungan akademik atau sosial, (5) ke-mampuan performansi membaca dan menulis yang selalu diperlukan.
b. Konsep Literasi secara Luas
Literasi secara luas adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaanya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan itu. Karena peka dengan mak-sud/tujuan, literasi itu bersifat dinamis – tidak statis – dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur diskursus/ wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemam-puan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan cultural. Yang dimaksud dengan teks di atas adalah mencakup teks tulis dan teks lisan.
Terdapat tujuh unsur yang membentuk definisi tersebut, yaitu berkenaan dengan: 1) interpretasi, 2) kolaborasi, 3) konvensi, 4) pengetahuan kultural, 5) pemecahan masalah, 6) refleksi, dan 7) penggunaan bahasa. Ketujuh hal tersebut merupakan prinsip-prinsip dari literasi.
c. Tingkatan Literasi
Literasi tidaklah seragam karena literasi memiliki tingkatan-tingkatan yang menan-jak. Jika seseorang sudah menguasai satu tahapan literasi maka ia memiliki pijakan untuk naik ke tingkatan literasi berikutnya.
d. Membangun Budaya Literasi
Pembelajaran berbasis budaya literasi akan mengkondisikan warga belajar untuk menjadi seorang literat. Peningkatan kemampuan literasi dalam belajar sejalan dengan tujuan pendidikan, yaitu berkembangnya potensi warga belajar agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003).
Pemerolehan tujuan ini dapat dilakukan warga belajar jika mereka telah menjadi sosok literat. Warga belajar memiliki bekal literasi dalam dirinya sehingga mampu melengkapi diri dengan kemampuan yang diharapkan. Proses pemahaman warga belajar terhadap fenomena sosial dengan pengenalan secara langsung akan lebih memudahkan bagi pembelajar dalam mengembangkan kompetensinya. Warga belajar harus terbiasa dengan membaca berbagai informasi dan mengakses informasi dari media elektronis maupun media tertulis. Selain itu, warga belajar perlu mengikuti perkembangan peradaban yang sedang terjadi secara faktual. Oleh karena itu, dalam mengembangkan kompetensi keaksaraan perlu didukung oleh ketersediaan fasilitas dalam membangun insan literat, yaitu (1) mengarahkan aktivitas warga belajar; (2) memilih dan menyiapkan bahan pembelajaran; (3) memerika hasil kerja warga belajar; (4) mengarahkan sistem berkomunikasi keilmuan; (5) berkoordinasi dalam menyiapkan program untuk kegiatan literasi.
e. Prinsip pendidikan literasi
Terdapat tujuh prinsip pendidikan literasi yang diambil dari definisi Kern (2000) di atas, yaitu:
1) Literasi melibatkan interpretasi 2) Literasi melibatkan kolaborasi 3) Literasi melibatkan konvensi
4) Literasi melibatkan pengetahuan kultural. 5) Literasi melibatkan pemecahan masalah. 6) Literasi melibatkan refleksi dan refleksi diri. 7) Literasi melibatkan penggunaan bahasa. f. Literasi Teknologi
Era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan per-saingan yang sangat ketat menuntut manusia untuk mampu terus-menerus belajar men-guasai berbagai ilmu dan teknologi secara cepat.
g. Literasi Informasi
Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan infromasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi infromasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar infor-masi yang tersedia.
h. Literasi Finansial
Literasi keuangan dapat diartikan sebagai pengetahuan keuangan, dengan tujuan mencapai kesejahteraan (Lusardi & Mitchell 2007). Hal ini dapat dimaknai bahwa persiapan perlu dilakukan untuk menyongsong, dan lebih spesifiknya yaitu globalisasi dalam bidang keuangan.
2. Konsep Kampung
Beberapa definisi yang dapat menggambarkan tentang kampung adalah sebagai beri-kut;
a. Desa; awal terbentuknya sebuah desa di masa lalu tidak terlepas dari potensi yang ada pada saat itu dan teknologi yang mereka miliki, dari yang bersifat nomaden kemudian menetap di suatu tempat dengan mengelompok yang disebut pradesa, kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan potensi yang ada pada desa. Pola tata ruang desa pada umumnya sangat sederhana, letak rumah di kelilingi pekarangan cukup luas, jarak antara rumah satu dengan lain cukup longgar, setiap rumah mempunyai halaman, sawah dan ladang di luar perkampungan.
b. Desa kota; Pada desa yang sudah berkembang pola tata guna lahan lebih teratur, yaitu adanya perusahaan yang biasa mengolah sumberdaya desa, terdapat pasar tradisional, tempat ibadah rapi, sarana dan prasarana pendidikan serta balai kesehatan. Semakin maju daerah pedesaan, bentuk penataan ruang semakin teratur dan tertata dengan baik. c. Proto urban condition; proto adalah berasal dari bahasa yunani yang artinya awal.
pema-haman tentang proto urban condition adalah lingkungan atau daerah yang belum menjadi kota dan berproses untuk menjadi kota. Lingkungan yang dikenal sebagai proto urban tidak sepenuhnya kegiatan utamanya adalah pertanian (desa) tetapi banyak juga kegiatan yang bukan pertanian, batas antara sebutan untuk sebuah kota dan desa bukan kota dan juga bukan desa itulah yang dimaksud dengan proto urban.
d. Kampung; suatu wilayah dimana masyarakatnya masih mempertahankan tradisi, dimensi kebudayaan dan adat istiadat yang diwariskan turun temurun dan umumnya berlokasi di sekitar pusat kota.
e. Karakteristik kampung; 1) Fasilitas umum memadai tetapi kondisinya kurang kondusif, 2) Kondisi hunian yang homogen maksudnya rumahnya bentuk, besarnya, bahan bakunya, bahkan sampai warna catnya sama, 3) karena daerah kampung luas mereka tinggal satu sama lain cukup berjauhan, 4) Perkampungan hidup dengan norma, kepercayaan, adat istiadat yang diwariskan, 5) turun temurun sehingga modernisasi tidak dianggap perlu 6) Lingkungan bersih sehingga keadaan masyarakat selalu sehat.
C. BAB III Metode
Kajian dilakukan terhadap 11 (sebelas) Kampung Literasi di wilayah Provinsi Jawa Ten-gah. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, menjadikan populasi sebagai sampel dengan teknik total sampling, kemudian data dianalisis menggunakan triangulasi data. Metode pengum-pulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumen.
D. BAB IV Hasil Kajian
1. Implementasi Program Kampung Literasi
Sebagaimana petunjuk teknis pelaksanaan Kampung Literasi maka kegiatan literasi dikelompokkan ke dalam 5 literasi pokok sebagai berikut: 1) Literasi Baca Tulis Hitung, 2) Lit-erasi Sains, 3) LitLit-erasi Teknologi Informasi dan Komunikasi, 4) LitLit-erasi Keuangan, 5) LitLit-erasi Budaya dan Kewarganegaraan.
Program basic literasi (literasi baca tulis dan hitung) dilaksanakan dalam bentuk: 1) layanan peminjaman bahan bacaan, 2) pelatihan menulis, 3) project hasil karya, 4) bedah bu-ku, 5) perlombaan literasi kebahasaan.
Kegiatan perluasan kampung literasi ini berhasil di beberapa tempat (sebagian kam-pung literasi) namun beberapa belum menunjukkan hasil yang signifikan. Kegiatan pemin-jaman buku misalnya, adalah salah satu kegiatan literasi baca tulis yang terbatas peminatnya. Sebagian besar kampung literasi yang dijadikan subjek penelitian menunjukan bawa peminat terbesar peminjam bahan bacaan adalah usia anak-anak (usia TK, SD, SMP). Disusul beri-kutnya oleh kaum ibu. Sangat sedikit di kalangan pria dewasa.
Kegiatan literasi baca tulis menjadi lebih berwarna dengan adanya penerbitan buku yang dimulai dari proses pelatihan penulisan buku. Di beberapa kampung literasi terbit buku atau kumpulan cerpen atau novel sebagai hasil dari proses pelatihan menulis. Sebagian besar pengguna (baca masyarakat) tertarik untuk mengikuti proses penulisan cerpen atau novel.
Kegiatan pengembangan literasi berikutnya yang berhasil menarik masyarakat adalah kegiatan literasi keuangan melalui kegiatan kewirausahaan seperti; pembuatan souvenir, ke-rajinan, makanan, peternakan dan kegiatan produktif lainnya. Hal ini sangat wajar mengingat masyarakat tertarik untuk melakukan kegiatan yang dianggap mampu meningkatkan ke-hidupan perekonomian.
Seiring dengan perkembangan teknologi, maka ketertarikan generasi milenial adalah pada literasi TIK. Ketertarikan pada TIK tumbuh seiring dengan menjamurnya gadget (gawai) yang mendukung. Munculnya blogger dan youtuber menjadi salah satu yang menarik minat masyarakat terutama generasi muda. Sehingga di beberapa kampung literasi, kegiatan literasi yang berkaitan dengan TIK menjadi daya dukung yang berhasil.
Kampung Literasi yang dilengkapi dengan internet menjadi salah satu alasan pengunjung yang sebagian besar generasi muda mendatangi kampung literasi. Tujuan uta-manya tentu saja berselancar di dunia maya melalui internet gratis yang tersedia.
Literasi seni dan budaya bagi sebagian kampung literasi juga menjadi cara yang tepat untuk mengembangkan dan mengenalkan masyarakat pada pengetahuan. Munculnya ke-lompok kesenian yang didukung oleh kampung literasi menjadi salah satu program yang ber-hasil mendongkrak keberadaan kampung literasi.
2. Peranan Sumber Daya Lokal (SINERGITAS) Sumber daya lokal meliputi;
a. Tokoh penggerak; tokoh masyarakat, kaum ibu, pemuda.
b. Relawan atau pegiat; pemuda dan mahasiswa, kaum perempuan, c. Mitra; organisasi profit non profit, perorangan
d. CSR; pendanaan dan sarpras dari perusahaan
e. Perguruan Tinggi; dukungan relawan mahasiswa, nara sumber teknis f. Masyarakat; dukungan pelaksana kegiatan, dukungan pendanaan,
Sumber daya lokal ini memiliki peran sebagai tokoh penggerak dan motivator sekaligus mentor bagi relawan dan masyarakat dalam menggerakkaan kampung literasi. Tanpa tokoh ini kampung literasi seringkali tidak berkembang bahkan memiliki kecenderungan untuk berhenti.
Peranan lainnya dalah sebagai sumber pendanaan yang menunjang kegiatan. Sum-ber pendanaan dapat Sum-berupa dana pribadi atau dana perusahaan dalam bentuk CSR.
Dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
a. Pelatihan/workshop/seminar b. Melakukan studi banding
3. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat a. Faktor Pendukung
Beberapa factor pendukung yang terdapat pada kampung literasi berdasarkan hasil pengkajian antara lain:
1) Keberadaan sumber daya alam; kemnungkinan berkembang desa wisata, produk lokal (UMKM)
2) Keberadaan budaya dan tradisi lokal (kesenian daerah, dolanan anak, tradisi upacara keagamaan)
3) Keberadaayaan sumber daya manusia; tokoh penggerak, relawan b. Penghambat
1) Pendanaan; keberlanjutan program apabila tidak ada dukungan dana dari pemerintah 2) Menjadi kampung literasi yang produktif; bagaimana menghasilkan sumber pendanaan
sendiri E. BAB V Kesimpulan
1. Kesimpulan a. Implementasi
Implementasi pelaksanaan kampung literasi memberikan dampak positif antara lain: 1) Meningkatnya frekuensi kunjungan masyarakat pada kampung literasi dengan tujuan
mencari informasi dan memecahkan masalah.
2) Terjadi perubahan sikap; semula acuh terhadap kondisi wilayah menjadi masyarakat yang memiliki keinginan berubah lebih baik. Terjadi peningkatan aktivitas kemasyara-katan.
3) Meningkatkan keterampilan; memiliki tambahan keterampilan sebagai hasil kegiatan di kampung literasi.
b. Peranan Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia dan peranannya meliputi; 1) Tokoh penggerak; tokoh masyarakat, kaum ibu, pemuda.
2) Relawan atau pegiat; pemuda dan mahasiswa, kaum perempuan, 3) Mitra; organisasi profit non profit, perorangan
4) CSR; pendanaan dan sarpras dari perusahaan
5) Perguruan Tinggi; dukungan relawan mahasiswa, nara sumber teknis 6) Masyarakat; dukungan pelaksana kegiatan, dukungan pendanaan, c. Faktor Pendukung dan Penghambat
Faktor pendukung kegiatan kampung litreasi adalah tersedianya sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya yang menjadi landasan bagi pelaksanaan kegiatan kampung literasi sedangkan factor penghambat adalah factor pendanaan yang memung-kinkan keberlangsungan kegiatan kampung literasi apabila dana pemerintah tidak lagi dig-ulirkan.
2. Rekomendasi
Sebagai salah satu upaya nyata pemerintah dalam meningkatkan literasi masyarakat maka beberapa rekomendasi dapat diberikan antara lain:
a. Rekomendasi untuk penyelenggara kampung literasi
1) Memperluas akses kegiatan literasi. Kegiatan yang selama ini hanya terbatas pada kegiatan literasi baca tulis dapat dikembangkan dengan literasi lain yang disesuaikan dengan potensi lokal yang ada.
2) Meningkatkan peranan lokal genius (SDM lokal) untuk mengembangkan kampung lit-erasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
3) Menjalin kemitraan untuk mendukung keberhasilan kampung literasi (sinergi dengan pihak lain)
4) Mengoptimalkan sumber daya dan potensi lokal sebagai basis pengembangan kam-pung literasi.
b. Rekomendasi bagi pemerintah daerah
1) Menindaklanjuti program kampung literasi yang menjadi kebijakan pusat melalui dukungan penganggaran pihak daerah.
2) Membuka kampung literasi sejenis di wilayah-wilayah lain (perluasan akses). 3) Bersinergi dengan pemerintah pusat
c. Rekomendasi bagi pemerintah pusat
1) Dana APBN yang diberikan merupakan modal awal pendirian Kampung Literasi se-dangkan keberlangsungan kegiatan kampung literasi selanjutnya dapat dilakukan me-lalui sinergi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan kampung literasi meme-lalui dana yang bersumber dari daerah (APBD).
2) Memberi kesempatan penyelenggara kampung literasi untuk mengikuti peningkatan kapasitas melalui workshop, seminar, pelatihan.
3) Menjadikan kegiatan kampung literasi sebagai program layanan edukasi (mendukung program pendidikan masyarakat).
4) Memberikan prasyarat bagi lembaga yang akan menyelenggarakan Kampung Literasi dengan menyertakan MoU (naskah kerjasama) dengan mitra kerja yang berupa kese-pakatan perjanjian kegiatan dan pendanaan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, Chaedar. (2001). Membangun Kota Berbudaya Literat. Jakarta: Media Indonesia. Arikunto, S. (1983). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Bina Aksara. Baynhem, Mike. (1995). Literacy Practice. London: Prentice Hall.
Beals, R. (1962). Acculturation. Anthropology Today: Selection, SolTax.Chicago: The University of Chicago.
Bogdan, R.C dan Biklen, S.K. (1982). Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods, Boston: Allyn dan Bacon, Inc.
Bogdan, R.C dan Taylor, S. (1975). Introduction to Qualitative Research Methods, New York: John Wiley and Sons, Inc.
Borg, W.R and Gall, M.D. (1983). Educational Research: An Introduction (4thEdition), New York:
Longman.
Brannen, J., ed. (1993). Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research, Brookfield-USA: Avebury.
Chandler, RC dan J.C Plano. 1988. The Public Administration Dictionary, Santa Barbara Childe, V.G. (1956). Man Makes Himself. New york: New American Library.
Coser, L.A. (1973). Social Conflict and the Theory of Social Change. New York: Basic Books. David Eston (dalam Solikhin Abdul Wahab, 2001) Analisis Kebijaksanaan: dari Formulasi ke
Imple-mentasi Kebijaksanaan Negara, Jakarta:Sinar Grafika.
Davis, Phil. (1996). Information Literacy, from theory and Research to Developing and Instructional. http://www.mannlib.cornell.edu/pmd8/literacy.html.
Edward, G.C III (dalam Subarsono, 2005) Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Evans, D.R. (1979) The Planning of Nonformal Education. Amherst. Mass: Center for International
Education. The University of Massachusetts. Evan, Linds. (1994). Information Literacy. Ocofillo Report.
Fortes, N. (1976). Ethnicity: Theory and Experience. Massachusetts: Harvard University Press. Grindle, Marrile S. 1980, Politics and Policy Implementation in the Third World, New
jer-sey:Princetwons University Press
Hadi, Sutrisno. (1983). Metodologi Research 1. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Psikologi UGM. Islamy, M. Irfan, 2001. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara, Jakarta: Sinar Grafika
James E. Anderson (dalam Subarsono, 2005) Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta: Pustaka Pela-jar.
James E. Anderson (dalam Wahab, 2001) Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi ke Penerapan Ke-bijakan, Jakarta: Bumi Aksara
Koentjaraningrat. (1958). Beberapa Metode Anthropologi dalam Penyelidikan-penyelifikan Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas.
Mazmanian, Daniel H, dan Paul A. Sabatier, 1983, Implementation and Public Policy, New York: Harper Collins
Meter, Donald Van, dan Carl Van Horn (dalam Subarsono, 2005). Analisis Kebijakan Publik, Yogya-karta: Pustaka Pelajar
Narbuko, Cholid. (2003).5ed. Metodologi Penelitian. Bumi Aksara. Jakarta.
Neisser, U. (1968). Cultural and Cognitive Discontinuity, Theory in Anthropology. London: Routledge&Kegan Paul.
Nugroho, Riant. 2008. Public Policy. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Poerwanto, Hari. (2000). Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Berkowitz, B & Eisenber, M 2006, What is the big6? Di unduh dari http://www.big6.com/
Bhandary, KM 2006, Information literacy and librarian’s role. Diunduh dari http://www.tucl.org.np/ infliteracy.htm tanggal 27 Juli 2008.
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/05/01/literasi-ekonomi/.htm 27Juli 2018 http://3-sueprizal.blogspot.com/2008/11/definisi-kampung.html) tanggal 27 Juli 2018 http://wikipedia/kampung.html tanggal 27 Juli 2018
http://shvoong.com/social-sciences/education/2238827-pengertian-kampung-desa/#ixzz1wJvkBceH diunduh tanggal 27 Juli 2018
EVALUASI KEBERMANFAATAN BANTUAN SARANA PRASARANA LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN DI JAWA TENGAH
TAHUN 2015 – 2017
Melati Indri Hapsari, Agus wahyono, Birowo Dwi Condro, Retno Wihartati Pamong Belajar PP PAUD dan Pendidikan Masyarakat
Jawa Tengah Abstrak
Program bantuan sarana prasarana diharapkan dapat lebih memperkuat keberadaan lembaga kursus dan pelatihan untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas dalam rangka meningkatkan mutu dan perluasaan akses layanan pendidi-kan bagi masyarakat. Program yang sudah diluncurpendidi-kan oleh Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat sejak tahun 2011 tersebut memang dilakukan monitoring tetapi belum dilaksanakan secara intensif untuk melihat kondisi pelaksa-naan program bantuan sarana prasarana di lapangan. Penelitian dan pengkajian ini berfungsi sebagai evaluasi terhadap hasil dan dampak pelaksanaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan. Penelitian dan pengkajian dilakukan terhadap berbagai komponen pendukung pelaksanaan program dan dampaknya bagi pening-katan peran lembaga kursus dan pelatihan dalam melayani masyarakat.
Tujuan penelitian bertujuan untuk 1) Mendeskripsikan pengelolaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017, 2) Mendeskripsikan kebermanfaatan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017, 3) Mendeskripsikan kendala yang dihadapi oleh LKP dalam mengelola program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017, 4) Menganalisis dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017 terhadap perkembangan LKP.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian evaluasi, dengan pertim-bangan rancangan ini sesuai dengan karakteristik analisis penelitian yang bersifat deskriptif dan evaluatif. Penelitian ini dilaksanakan di LKP yang menerima bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan, khususnya LKP yang berdomisili di Jawa Ten-gah tahun 2015 - 2017. Jumlah LKP yang menerima bantuan sarana prasarana kur-sus dan pelatihan tahun 2015 – 2017 untuk Jawa Tengah sebanyak 42 LKP. Sampel penelitian ini sebanyak 26 lembaga yang ditentukan dengan teknik random sampling. Subyek penelitian adalah pihak yang terkait dengan pelaksanaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan serta pihak yang memanfaatkan sarana prasa-rana tersebut, yang antara lain Pimpinan LKP, Tenaga Kependidikan LKP, Pendidik, Peserta didik dan atau masyarakat pengguna sarana prasarana. Penelitian ini dilaksanakan mulai Bulan Juli 2018. Data penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi didukung oleh wawancara mendalam, kueisioner dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang dipergunakan adalah teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif.
Pelaksanaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan mulai dari perencanaan sampai dengan pendampingan teknis dan pemantauan berjalan dengan baik. Apabila ada hambatan dapat diselesaikan dengan segera. Faktor penghambat antara lain kurang perawatan, pengawasan pemakaian, perbaikan setelah aus. Faktor pendukung antara lain pelaksanaan kursus yang terus menerus dan aktif, kerja sama dengan pihak lain, kreativitas instruktur dalam penggunaan sara-na. Tingkat kebermanfaatan dilihat dari intensitas penggunaan sarana adalah enam kali seminggu, lima kali seminggu, satu kali seminggu. Intensitas tersebut tergantung jadwal pembelajaran masing-masing LKP (sesuai dengan jumlah peserta didik dan sarana prasarana serta kesepakatan dengan peserta didik). Untuk keberfungsian sa-rana sudah sangat tepat karena sasa-rana yang ada membantu kesuksesan proses pem-belajaran dan sesuai dengan kebutuhan lembaga.Dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan sudah dapat dillihat dengan terjadi peningkatan jumlah peserta didik yang dilayani dengan adanya penambahan sarana dari program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan. Demikian juga dengan jumlah kerja sama semakin meningkat.
A. PENDAHULUAN
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat memiliki berbagai kebijakan diantaranya adalah revitalisasi satuan PAUD dan Pendidikan Masyarakat, melalui pemberian bantuan terhadap lembaga kursus dan pelatihan dalam bentuk bantuan sara-na prasarasara-na kursus. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayasara-nan kepada peserta didik kursus. Optimalisasi keberadaan dan pemanfaatan sarana prasarana lem-baga kursus dan pelatihan yang berasal dari program bantuan sarana prasarana perlu dilakukan agar tujuan pemberian bantuan tersebut dapat tercapai.
Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) sudah seyogyanya menjadi satuan pendidikan yang berkualitas dan sejajar dengan satuan pendidikan lainnya. Pentingnya kualitas setiap satu-an pendidiksatu-an telah dijelasksatu-an dalam 8 Stsatu-andar Nasional Pendidiksatu-an (SNP) sesuai dengsatu-an Per-aturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013.
Pengembangan sarana prasarana LKP sangat penting karena menurut para ahli pen-didikan ada lima faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan penpen-didikan yaitu pendidik, peserta didik, tujuan, alat dan lingkungan. Ketidakadaan salah satu faktor saja dari faktor terse-but, maka tidak mungkin terjadi proses belajar mengajar. Dengan 5 faktor terseterse-but, proses bela-jar mengabela-jar dapat dilaksanakan walaupun kadang-kadang dengan hasil yang minimal pula. Hasil tersebut dapat ditingkatkan apabila ada sarana penunjang, yaitu faktor fasilitas/sarana dan prasarana pendidikan (Sabri, 1999: 7). Sehingga indikator kualitas lembaga kursus dan pelati-han adalah terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai, atau selarasnya antara peralatan belajar yang digunakan di LKP dengan peralatan kerja yang digunakan di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Tidak selarasnya peralatan tersebut akan menjadikan LKP sebagai lembaga yang hanya menghasilkan supply, bukan memenuhi demand.
Menurut standar sarana dan prasarana yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri, garis besarnya antara lain (Mulyasa, 2006: 45) (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidi-kan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai serta perlengkapan lain yang diper-lukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan; (2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan, satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi dan ruang/tempat lain yang diperlukan un-tuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan; (3) Standar keragaman jenis peralatan laboratorium, ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia; (4) Standar jumlah peralatan di atas, dinyatakan dalam rasio minimal jumlah peralatan per peserta didik.
Program bantuan sarana prasarana ini diharapkan dapat lebih memperkuat keberadaan lembaga kursus dan pelatihan untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas dalam rangka meningkatkan mutu dan perluasaan akses layanan pendidikan bagi masyarakat. Program yang sudah diluncurkan oleh Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat sejak tahun 2011 tersebut memang dilakukan monitoring tetapi belum dilaksanakan secara in-tensif untuk melihat kondisi pelaksanaan program bantuan sarana prasarana di lapangan.
Penelitian dan pengkajian ini berfungsi sebagai evaluasi terhadap hasil dan dampak pelaksanaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan. Penelitian dan pengkajian dilakukan terhadap berbagai komponen pendukung pelaksanaan program dan dam-paknya bagi peningkatan peran lembaga kursus dan pelatihan dalam melayani masyarakat.
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah.
1. Bagaimana pengelolaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017 oleh LKP?
2. Bagaimana pemanfaatan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017 oleh LKP?
3. Bagaimana kendala yang dihadapi oleh LKP dalam mengelola program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017?
4. Bagaimana dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan tahun 2015-2017 terhadap perkembangan LKP?
Tujuan penelitian bertujuan untuk.
1. Mendeskripsikan pengelolaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017.
2. Mendeskripsikan kebermanfaatan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017.
3. Mendeskripsikan kendala yang dihadapi oleh LKP dalam mengelola program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017.
4. Menganalisis dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan di Jawa Tengah tahun 2015-2017 terhadap perkembangan LKP.
Manfaat penelitian ini adalah. 1. Bagi Lembaga Kursus dan Pelatihan
Bahan masukan untuk meningkatkan pemanfaatan sarana prasarana yang diperoleh dari program bantuan sarana prasarana agar bermanfaat secara maksimal bagi kepentingan pendidikan masyarakat.
2. Bagi PP PAUD dan Pendidikan Masyarakat Jawa Tengah
Memperoleh informasi tentang kebermanfaatan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan sehingga memperoleh bahan rekomendasi bagi kebijakan program dalam rangka peningkatan mutu layanan PAUD dan Pendidikan Masyarakat.
3. Bagi Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat
Bahan masukan terkait kebijakan pelaksanaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan dalam rangka perbaikan program itu sendiri.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian evaluasi, dengan pertimbangan rancangan ini sesuai dengan karakteristik analisis penelitian yang bersifat deskriptif dan evalu-atif. Jenis penelitian ini dipilih karena tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat keber-manfaatan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan, dampak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan sehingga dapat diperoleh bahan rekomendasi bagi pelaksanaan program pengembangan sarana prasara-na di masa mendatang.
Penelitian ini dilaksanakan di LKP yang menerima bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan, khususnya LKP yang berdomisili di Jawa Tengah tahun 2015 - 2017. Jumlah LKP yang menerima bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan tahun 2015 – 2017 untuk Jawa Tengah sebanyak 42 LKP. Sampel penelitian ini sebanyak 26 lembaga yang ditentukan dengan teknik random sampling.
Subyek penelitian adalah pihak yang terkait dengan pelaksanaan program bantuan sara-na prasarasara-na kursus dan pelatihan serta pihak yang memanfaatkan sarasara-na prasarasara-na tersebut, yang antara lain Pimpinan LKP, Tenaga Kependidikan LKP, Pendidik, Peserta didik dan atau masyarakat pengguna sarana prasarana. Penelitian ini dilaksanakan mulai Bulan Juli 2018.
Data penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif yang berasal dari variabel program bantuan sarana prasarana, tingkat kebermanfaatan dan faktor-faktor penghambat maupun pendukung pemanfataan sarana prasarana serta dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan. Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Untuk mempermudah mengidentifikasi sumber data, maka peneliti mengklasifikasikan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini menjadi 3 (tiga), yaitu.
1. Person, yaitu pengelola LKP, tenaga kependidikan, pendidik, peserta didik dan atau masyarakat pengguna sarana prasarana.
2. Paper, yaitu dokumen-dokumen yang terkait program bantuan sarana prasarana lembaga kursus dan pelatihan.
3. Place, yaitu LKP yang menerima bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan.
Teknik pengumpulan data merupakan alat-alat pengukuran yang diperlukan dalam melaksanakan suatu penelitian. Data yang akan dikumpulkan dapat berupa angka-angka keterangan tertulis, informasi lisan dan berbagai ragam fakta yang berhubungan dengan fokus penelitian yang akan diteliti. Berkaitan dengan pengertian teknik pengumpulan data dan wujud data yang dikumpulkan, maka ada teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi didukung oleh wawancara mendalam, kueisioner dan studi dokumentasi.
Teknik analisis data yang dipergunakan adalah teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif. Kriteria utama untuk menjamin keterpercayaan/kebenaran hasil penelitian Lincoln dan Guba (dalam Riyanto, 2007) yaitu kredibilitas, dependabilitas, konfirmabilitas, transferabilitas. C. PEMBAHASAN
Sampel penelitian pengkajian ini sebanyak 26 lembaga. Lembaga-lembaga yang mendapatkan bantuan sarana prasarana yang menjadi sampel penelitian adalah lembaga yang mendapatkan bantuan sarana prasarana tahun 2015 sebanyak 4 lembaga (15%), tahun 2016 sebanyak 15 lembaga (58%), tahun 2016 sebanyak 7 lembaga (27%).
Untuk status akreditasi diketahui sebanyak 26 lembaga yang menjadi sampel diketahui bahwa sebanyak 21 lembaga (81%) telah terakreditasi dan sebanyak 5 lembaga (19%) belum terakreditasi. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Diagram Status Akreditasi Lembaga Sampel Penelitian
Selanjutnya di bawah ini informasi terkait jenis kursus yang telah menerima bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan dapat dilihat pada gambar 3. Diketahui bahwa program tata busana sebanyak 5 lembaga (19%), menjahit garmen sebanyak 4 lembaga (15%), komputer desain grafis sebanyak 5 lembaga (19%), tata boga sebanyak 1 lembaga (4%), teknisi HP sebanyak 1 lembaga (4%), bahasa sebanyak 3 lembaga (11%), perikanan sebanyak 1 lembaga (4%), asisten perawat sebanyak 2 lembaga (8%), aplikasi perkantoran sebanyak 1 lembaga (4%), komputer sebanyak 2 lembaga (8%) dan tata kecantikan rambut sebanyak 1 lembaga (4%).
Gambar 3. Diagram Jenis Kursus Sampel Penelitian 1. Perencanaan
Perencanaan merupakan faktor penting dalam suatu kegiatan. Perencanaan pada gram bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan ini terdiri dari indikator sosialisasi pro-gram (waktu, petunjuk teknis, lokasi), penyusunan proposal (verifikasi dan rekomendasi, pengiriman), proses penetapan penerima (verifikasi lapangan, penandatanganan akad kerja sama, pembekalan teknis).
Sosialisasi program dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat. Sosialisasi dilaksanakan melalui berbagai cara antara lain melalui rapat koordinasi, website. Informasi program bantuan sarana prasarana bagi pengembangan LKP diperoleh lembaga sasaran beraneka ragam waktunya. Hal tersebut tergantung dari mana dan dengan cara apa lembaga sasaran
terse-but mendapatkan informasi. Rata-rata lembaga sasaran terutama yang telah mendapatkan bantuan mendapatkan informasi pada pertengahan tahun antara Bulan Juni – Agustus. Hal tersebut sesuai dengan informasi yang diperoleh dari beberapa responden. Pernyataan pimpinan LPP Unistama Salatiga mendukung informasi tersebut.
“Saya mendapatkan informasi terkait dengan bantuan untuk sarana prasaran ini dari website sekitar bulan Juni 2016,” (Ahmadi, Pimpinan LPP Unistama Salatiga).
Penyaluran bantuan program pasti didukung dengan adanya NSPK. Demikian juga dengan pogram bantuan sarana prasarana bagi Pengembangan LKP juga didukung dengan NSPK dalam bentuk Petunjuk Teknis. Petunjuk teknis dikeluarkan oleh Direktorat Pem-binaan Kursus dan Pelatihan. Petunjuk teknis ini berguna sebagai pedoman bagi penyalur bantuan dan penerima bantuan. Petunjuk teknis ini berisi persyaratan dan prosedur pelaksa-naan bantuan sarana prasarana bagi pengembangan LKP. Petunjuk teknis yang ada sudah sangat dipahami oleh lembaga sasaran penerima bantuan. Hal tersebut sesuai dengan be-berapa pernyataan di bawah ini.
“Juknis sangat mudah dipahami sudah ada blangko yang jelas, langkah-lanngkahnya juga jelas,” (Eko Fajar Supriyanto, S.Kom, Pimpinan LKP Dipcom Kudus).
Lokasi sosialisasi tergantung siapa yang melakukan sosialisasi. Sebagian besar soisial-isasi dilakukan oleh Dinas Pendidikan kabupateb/kota, sehingga pelaksanaan sosialsoisial-isasi dilakukan di kantor dinas pendidikan kabupaten/kota.
Langkah selanjutnya untuk perencanaan adalah penyusunan proposal. Penyusunan proposal perlu mendapat verifikasi dan rekomendasi dari dinas pendidikan kabupaten/kota. Menurut lembaga yang mengajukan, verifikasi dan rekomendasi sangat mudah didapat dari dinas pendidikan kabupaten/kota. Hal tersebut seperti pernyataan di bawah ini.
“Kami di Salatiga sangat mudah mendapatkan rekomendasi untuk mengajukan bantuan apalagi kalau itu memang dibutuhkan oleh lembaga,” (Nevi Wiandini, Pendidik LKP Arvian Salatiga).
Pengiriman proposal dilakukan menggunakan jasa pos dan dilakukan tepat waktu sesuai dengan petunjuk teknis yang ada.
Tahapan perencanaan selanjutnya adalah proses penetapan penerima. Proses peneta-pan penerima diawali dengan verifikasi lapeneta-pangan. Untuk verifikasi lapeneta-pangan berdasarkan proposal yang diajukan dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan. Informa-si tersebut didapat dari buku tamu dan responden.
Untuk penandatanganan akad kerja sama bagi penerima bantuan sarana prasarana bagi pengembangan LKP dilakukan sekalian dengan pembekalan teknis. Penandatanganan akad kerja sama dilakukan bersama-sama dengan semua penerima bantuan sarana prasarana bagi pengembangan LKP.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan pada program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan ini terdiri dari indikator penyediaan dan penataan ruang untuk penempatan barang/peralatan bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan (kesiapan ruang untuk sarana prasarana kursus dan pelatihan, luas ruangan, daya tampung ruangan), barang/peralatan yang diterima (jenis ba-rang, kuantitas baba-rang, kualitas baba-rang, kesesuaian), pemanfaatan barang/peralatan bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan (jadwal, jumlah peserta didik, pemanfaatan
lainnya, pengadaan bahan pendukung), perawatan barang/peralatan bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan (pelaksana, jadwal dan biaya).
Tahapan pelaksanaan dimulai dari penyediaan dan penataan ruang untuk penempatan barang/peralatan revitalisasi. Untuk kesiapan ruang untuk sarana revitalisasi, semua lem-baga yang mendapatkan program revitalisasi sarana bagi pengembangan LKP telah me-nyiapkan ruangan yang layak bagi penempatan sarana yang akan diperolehnya. Kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan dari pendidik pada LKP Pincom Rembang di bawah ini.
“Lembaga sudah menyiapkan ruang untuk penempatan alat,” (Tata Ragraita, Pendidik LKP Pincom Rembang).
Rata-rata LKP menyediakan ruangan yang memiliki daya tampung yang sesuai dengan jumlah sarana, pendidik dan peserta didik. Sehingga ruangan memadai sehingga nyaman untuk proses pembelajaran. Kondisi tersebut didukung oleh pernyataan pendidik dari LKP Pincom Kabupaten Rembang.
“Ruangan memadai tidak sempit sehingga sesuai, tenang dan nyaman,” (Tata Ragraita, Pendidik LKP Pincom Rembang).
Namun ada LKP yang belum menyediakan ruangan layak untuk proses pembelajaran dan tempat sarana prasarana. Infomarsi tersebut diperoleh dari pendidik LKP Bina Insani Kabupaten Magelang.
“Luas kelas dan lab bahasa kurang memadai untuk banyak orang karena sempit dan tidak nyaman,” (Rio Kusuma Nanda, Pendidik LKP Bina Insani Kabupaten Magelang).
Selanjutnya adalah penerimaan barang/peralatan. Untuk semua LKP yang mendapat-kan bantuan, spesifikasi dan kuantitas barang yang diterima sama dengan spesifikasi dan kuantitas barang yang ada di akad kerja sama. Namun ada satu LKP yang melakukan pengadaan sendiri yang memperoleh jumlah dan spesifikasi yang tidak sesuai dengan akad kerja sama. Hal tersebut dikarena jenis barang dari merk dan serinya sudah tidak dijual di toko, sedangkan jumlahnya tidak sesuai karena harganya sudah berbeda. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari pimpinan lembaga LPP Vidya Persada Grobogan.
“Barang yang datang tidak sesuai dengan akad kerja sama karena sudah tidak tersedia di toko dan jumlahnya pun berkurang karena ada kenaikan harga,” (Melias Seloaji, Pimpinan LPP Vidya Persada Grobogan).
Sedangkan kualitas barang dalam kondisi baik semua. Ada satu LKP yang mendapatkan bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan tahun 2015 yang langsung didrop dari Jakarta ada kerusakan barang ketika diterima (dinamo rusak) yaitu di LKP Kartika Gama Kabupaten Purbalingga. Sesuai dengan pernyataan pimpinannya Bapak Harsono.
“Bantuan langsung didrop dari Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan pada saat diterima ada satu dinamo mesin jahit yang rusak sehingga harus diservis,” (Harsono, Pimpinan LKP Kartika Gama Purbalingga).
Semua barang yang diterima telah sesuai dengan kebutuhan LKP masing-masing sesuai dengan jenis program yang dimiliki LKP. Beberapa LKP menambah sendiri sarana prasarana yang dibutuhkan untuk melengkapi bantuan sarana yang telah diterima, misalnya pembelian komputer, printer, proyektor, dan almari untuk menyimpan sarana yang telah diterima. Hal tersebut sesuai pernyataan di bawah ini.
“Ada yaitu lemari kaca alumunium untuk menempatkan alat kesehatan tersebut, “ (Ahmadi, Pimpinan LPP Unistama Salatiga).
Setelah barang diterima maka dilihat bagaimana pemanfaatannya. Sarana yang telah diterima sebagaian besar dimanfaatkan secara maksimal karena memang sangat dibutuh-kan untuk kegiatan praktek. Ada lembaga yang menggunadibutuh-kan selama 8 jam dan ada baga yang menggunakan hanya 2 jam sesuai dengan masing-masing jadwal praktek lem-baga. Seperti pernyataan-pernyataan di bawah ini.
“Sarana bantuan dalam 1 hari dimanfaatkan semua kecuali hari libur,” (Ahmadi, Pimpinan LPP Unistama Salatiga).
Banyak LKP yang memanfaatkan sarana prasarana bantuan tidak hanya untuk pembelajaran saja tetapi dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya antara lain uji kompetensi, kegiatan sosial (karang taruna, remaja masjid dan pengobatan gratis), kegiatan ekonomi (menerima jasa pemotretan dan cetak foto, pembuatan undangan, menerima jahitan), pameran, magang. Pemanfaatan tambahan tersebut dapat diketahui dari hasil observasi yang dilakukan peneliti selama penelitian.
Personil pelaksana yang memanfaatkan sarana prasarana dalam penelitian ini terdiri dari indikator ketercukupan sarana prasarana, kemudahan menggunakan, kondisi sarana prasarana setelah dimanfaatkan, petugas perawatan sarana prasarana, kemampuan pendidik menggunakan sarana prasarana, mekanisme pemanfaatan sarana prasarana, pengguna sarana prasarana dilatih dahulu sebelum memanfaatkannya. Berdasarkan hasil rata-rata jawaban responden terhadap personil pelaksana yang memanfaatkan sarana prasarana adalah 32,29. Kriteria/kategori yang dibuat peneliti untuk menentukan personil pelaksana yang memanfaatkan sarana prasarana adalah sebagai berikut.
Kurang : 11 – 18,25 Cukup : 18,26 – 26 Baik : 26,01 – 33,26 Sangat baik : 33,27 – 44
Sehingga nilai rata-rata pendapat responden terhadap sebesar 32,29 tersebut termasuk ke dalam kriteria/kategori baik. Hal tersebut didukung pernyataan dari salah satu responden di bawah ini.
“Sangat efektif dengan sarana prasarana tersebut pihak lembaga tidak melakukan peminjaman atau sewa di tempat lain,” (Ahmadi, Pimpinan LPP Unistama Salatiga).
Untuk perawatan barang/peralatan bantuan setiap LKP mempunyai kebijakan yang ber-beda-beda dan sesuai dengan jenis barang/peralatan yang diperoleh. Untuk petugas yang melakukan perawatan setiap LKP juga berbeda-beda antara lain tenaga kependidikan, pen-didik, teknisi, peserta pen-didik, bahkan ada LKP yang semua pihak yang memanfaatkan sarana dan peralatan harus melakukan perawatan. Jadwal perawatan dilakukan sesuai dengan jenis sarana dan peralatan, setelah dipakai dirawat, satu bulan sekali, bahkan ada yang tidak terjadwal karena perawatan dilakukan apabila ada kerusakan.
Untuk biaya perawatan dari LKP dari biaya kursus yang diperoleh LKP. Biaya tergan-tung jenis perawatan dan kerusakan yang dialami LKP. Biaya berkisar antara Rp. 50.000,00 – Rp. 500.000,00. Kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan di bawah ini.
“Rp. 300.000,00 dari penyisihan biaya pendidikan yang dibayarkan oleh peserta didik,” (Eko Fajar Supriyanto, S.Kom, Pimpinan LKP Dipcom Kabupaten Kudus).
“Biaya tergantung sesuai sarana perawatan yang digunakan dalam jangka waktu 1 bulan, biaya didapat dari bulanan siswa,” (Ahmadi, Pimpinan LPP Unistama Salatiga).
3. Pendampingan Teknis dan Pemantauan
Pendampingan teknis dan pemantauan terdiri dari indikator pendampingan teknis (pelaksana, waktu dan strategi), pengawasan dan pengendalian (pelaksana, waktu dan strategi). Pendampingan teknis, pengawasan dan pengendalian dilakukan oleh pihak terkait antara lain pimpinan lembaga dan petugas dari Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan. Pendampingan dan pemantauan dilakukan pihak Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelati-han rata-rata 3 bulan setelah barang tiba di LKP.
4. Tingkat Kebermanfaatan Dan Faktor-Faktor Pendukung Serta Penghambat Pemanfaatan Sarana Prasarana
Prasarana adalah segala macam peralatan, kelengkapan dan benda-benda yang digunakan pendidik dan peserta didik untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan perihal standar minimal prasarana pendidikan mencakup kriteria minimum prasarana yang terdiri dari lahan, bangunan, ruang-ruang dan instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap lembaga penyelenggara pendidikan.
Sarana adalah segala macam peralatan yang digunakan pendidik untuk memudahkan penyampaian materi pelajaran. Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan perihal standar minimal prasarana pendidikan mencakup kriteria minimum sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan komunikasi, serta kelengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap lembaga penyelenggara pendidikan.
Variabel tingkat kebermanfaatan dan faktor-faktor pendukung serta penghambat pem-anfaatan sarana dan prasarana program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan terdiri dari indikator efektifitas bahan/alat bantuan dan faktor pendukung dan penghambat. Efektifitas bahan/alat bantuan dilihat dari intensitas penggunaan dan keberfungsian. Inten-sitas penggunaan tergantung masing-masing lembaga, antara lain enam kali seminggu, lima kali seminggu, satu kali seminggu.
Pendukung dan penghambat pemanfaatan sarana prasarana dalam penelitian ini terdiri dari indikator faktor pendukung dan faktor penghambat. Berdasarkan hasil rata-rata jawaban responden terhadap pendukung dan penghambat pemanfaatan sarana prasarana adalah 25,36. Kriteria/kategori yang dibuat peneliti untuk pendukung dan penghambat pemanfaatan sarana prasarana adalah sebagai berikut.
Kurang : 8 – 13 Cukup : 14 – 19 Baik : 20 – 25 Sangat baik : 26 – 32
Sehingga nilai rata-rata pendapat responden terhadap sebesar 25,36 tersebut termasuk ke dalam kriteria/kategori baik. Setiap program pasti ada penghambat dan pendukung karena kedua faktor tersebut bagai satu keping mata uang yang akan selalu ada. Demikian juga dengan pemanfaatan sarana program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan mempunyai faktor pendukung dan penghambat.
Faktor penghambatnya antara lain kurang perawatan, pengawasan pemakaian, perbaikan setelah aus. Selain faktor penghambat sudah barang tentu ada faktor pendukung
antara lain pelaksanaan kursus yang terus menerus dan aktif, kerja sama dengan pihak lain, kreativitas instruktur dalam penggunaan sarana. Kedua faktor tersebut hendaknya dapat menjadikan sumber kekuatan penyelenggaraan program sehingga strategi yang dikembangkan disesuaikan dengan kedua faktor yang dimiliki.
5. Dampak Program Bantuan Sarana Prasarana Kursus Dan Pelatihan
Dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan dilihat dari katan jumlah peserta yang dilayani sebelum dan setelah mendapat bantuan sarana, pening-katan jaringan kerja sama sebelum dan setelah mendapat bantuan sarana, peningpening-katan ken-yamanan peserta didik.
Dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan terdiri dari indikator perkembangan sarana prasarana, dampak keberadaan sarana prasarana. Berdasarkan hasil rata-rata jawaban responden terhadap dampak pemanfaatan sarana prasarana adalah 31,14. Kriteria/kategori yang dibuat peneliti untuk dampak pemanfaatan sarana prasarana adalah sebagai berikut.
Kurang : 9 – 15,75 Cukup : 15,76 – 22 Baik : 22 – 28,75 Sangat baik : 28,76 – 36
Sehingga nilai rata-rata pendapat responden terhadap sebesar 31,14 tersebut termasuk ke dalam kriteria/kategori sangat baik.
Peningkatan jumlah peserta yang dilayani dapat dilihat diagram di bawah ini. Huruf A – Z merupakan kode nama LKP. Rata-rata terjadi peningkatan jumlah peserta didik yang laya-ni karena ada pelaya-ningkatan jumlah sarana yang dimiliki.
Gambar 4. Diagram Peningkatan Jumlah Peserta Didik Sebelum dan Setelah Mendapatkan Program Bantuan Sarana Prasarana Kursus dan Pelatihan Keterangan.
Sumbu X: LKP
Sumbu Y: Jumlah Peserta Didik
Series 1: Jumlah peserta didik sebelum mendapatkan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan
Series 2: Jumlah peserta didik setelah mendapatkan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan
Peningkatan kerja sama terdapat pada diagram di bawah ini. Semua LKP mempunyai tambahan mitra kerja sama. Kerja sama yang dilakukan dalam berbagai bentuk antara lain penempatan kerja, pemagangan, pelatihan, praktek kerja industri, PKL, permintaan tenaga kerja.
Gambar 5. Diagram Peningkatan Jumlah Kerja Sama Sebelum dan Setelah Mendapat-kan Program Bantuan Sarana Prasarana Kursus dan Pelatihan
Keterangan. Sumbu X: LKP
Sumbu Y: Jumlah Kerja Sama
Series 1: Jumlah kerja sama sebelum mendapatkan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan
Series 2: Jumlah kerja sama setelah mendapatkan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan
D. PENUTUP 1. Kesimpulan
a. Pelaksanaan program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan mulai dari perencanaan sampai dengan pendampingan teknis dan pemantauan berjalan dengan baik. Apabila ada hambatan dapat diselesaikan dengan segera.
b. Faktor penghambat antara lain kurang perawatan, pengawasan pemakaian, perbaikan setelah aus. Faktor pendukung antara lain pelaksanaan kursus yang terus menerus dan aktif, kerja sama dengan pihak lain, kreativitas instruktur dalam penggunaan sara-na.
c. Tingkat kebermanfaatan dilihat dari intensitas penggunaan sarana adalah enam kali seminggu, lima kali seminggu, satu kali seminggu. Intensitas tersebut tergantung jad-wal pembelajaran masing-masing LKP (sesuai dengan jumlah peserta didik dan sarana prasarana serta kesepakatan dengan peserta didik). Untuk keberfungsian sa-rana sudah sangat tepat karena sasa-rana yang ada membantu kesuksesan proses pem-belajaran dan sesuai dengan kebutuhan lembaga.
d. Dampak program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan sudah dapat dillihat dengan terjadi peningkatan jumlah peserta didik yang dilayani dengan adanya penambahan sarana dari program bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan. Demikian juga dengan jumlah kerja sama semakin meningkat.
2. Rekomendasi
a. Bagi Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat
1) Perlu peningkatan jumlah sasaran penerima bantuan sarana prasarana kursus dan pelatihan terutama untuk LKP yang mempunyai peserta didik banyak tetapi kekurangan sarana pembelajaran dalam rangka pemenuhan kebutuhan.
2) Perlu pemberian bantuan sarana prasarana bagi LKP yang mempunyai diversifikasi program kursus dalam rangka peningkatan kapasitas sarana prasarana yang dimiliki.
3) Pemberian bantuan sarana prasarana hendaknya juga didampingi dengan pembiayaan untuk perawatan sarana prasarana.
4) Hal-hal yang perlu direview di Petunjuk Teknis Program Bantuan Sarana Prasarana bagi LKP: Persyaratan seleksi diprioritaskan LKP yang terdaftar di DAPODIK PAUD dan Dikmas dan terakreditasi dalam rangka penjaminan mutu, besarnya bantuan diberikan kepada LKP yang mempunyai jumlah peserta didik yang banyak, persyaratan penentuan besarnya anggaran bantuan sarana prasarana yang akan didapat LKP dijelaskan secara jelas di petunjuk teknis. b. Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
Pendampingan bagi LKP dalam bentuk supervisi dan bantuan pendukung sarana yang belum ada dalam bentuk bantuan yang berasal dari APDB masing-masing. c. Bagi LKP
1) Pengadaan program bantuan sarana prasarana disesuaikan dengan sarana prasarana yang digunakan oleh pengguna lulusan.
2) Penyediaan anggaran untuk biaya perawatan dan perbaikan sarana agar sarana yang diperoleh dapat digunakan secara maksimal dan dalam jangka waktu yang lama.
3) Pemanfaatan secara maksimal bantuan sarana prasarana yang diperoleh tidak hanya untuk proses pembelajaran tapi juga untuk kegiatan ekonomi dan sosial. DAFTAR PUSTAKA
Miles, M.B & Huberman, A.M. 1984. Qualitativ Data Analisis. Berverly Hill: Sage Publication Inc Mulyasa. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya Mulyasa. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
EFEKTIFITAS PEMANFAATAN DANA BANSOS PENDIDIKAN KECAKAPAN WIRAUSAHA (PKW) DI PROVINSI JAWA TENGAH 2017
Heru Priambodo, M.Kom., Ana Kristiani, M.Pd Agus Wijatmoko, M.Pd., Tatiek Dyah Wardani, M.Kes
Pamong Belajar PP PAUD dan Pendidikan Masyarakat Jawa Tengah Abstrak
Dana bansos sudah disalurkan kepada masyarakat selama beberapa tahun untuk membantu mengatasi kemiskinan dan pengangguran yang ada di Indonesia. Pemanfaatan dana bansos perlu dievaluasi untuk mengetahui sejauhmana tingkat kerberhasilan program dan menyusun rekomendasi kebijakan di masa yang akan datang.
Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk mengetahui tingkat efektifitas pemanfaatan dana bansos PKW yang disalurkan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan di Provinsi Jawa Tengah periode tahun 2017. Untuk mengetahui tingkat efektifitas penyaluran dana PKW dilihat dari komponen proses dan dampak kegiatan secara keseluruhan.
Sumber data penelitian ini terdiri dari satuan pendidikan LKP dan PKBM yang menerima dana bansos PKW tahun 2017 di provinsi Jawa Tengah. Responden pengkajian ini adalah pengelola dan alumni program PKW baik yang sudah dan yang
belum merintis usaha. Populasi penelitian ini adalah 148 satuan pendidikan. Karena
populasi tersebut terlalu besar, pengkaji mengambil sampel dengan menggunakan teknik purposive random sampling.
Data penelitian ini dikumpulkan dengan cara mengumpulkan informasi melalui kuisioner, wawancara, dokumentasi dan observasi satuan pendidikan penerima dana bansos PKW. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan deskriptif kuantitatif.
Penelitian ini menggunakan rancangan gabungan. Data kuantitatif yang diperoleh
nantinya diolah secara statistik untuk menjustifikasi efektivitas sebuah program. Sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh beberapa informasi tambahan terkait komponen yang akan diteliti secara lebih mendalam sebagai bahan masukan kepada direktorat terkait.
Hasil pengkajian ini adalah Kebermanfaatan program PKW sangat eefektif dimana 90 % mampu menyelesaikan pelatihan. Program PKW dapat memberikan bekal pengetahuan kewirausahaan, ketrampilan untuk membuka usaha dan menanamkan mindset dan sikap berwirausaha. Dampak PKW terhadap masyarakat cukup efektif dimana 75 % peserta didik dapat merintis usaha, namun berpenghasilan lebih dari UMR setelah setahun merintis usaha kurang efektif.
Merujuk hasil penelitian di atas, dapat disarankan sebagai berikut : 1) diperlukan perbaikan juknis PKW terutama terkait proses perekrutan, metode pembelajaran kewirausahan, anggaran dan waktu pelatihan3) diperlukan pengembangan model pembelajaran kewirausahaan yang implementatif 4) Peningkatan kompetensi pengelola satuan pendidikan penerima dana bansos; 5) Perbaikan model rekrutmen peserta didik 6) Peningkatan efektivitas evaluasi dan monitoring oleh dinas dan direktorat terkait dan arah ketrampilan yang diselenggarakan untuk program PKW sebaiknya mengarah pada industri kreatif 4.0.
Kata kunci : Efektifitas, Pendidikan Kecakapan Wirausaha 1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kemiskinan dan pengangguran masih menjadi masalah penting yang harus ditangani dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Meskipun, dalam beberapa tahun terakhir, angka kemiskinan dan pengangguran mengalami penurunan.
Data yang diperoleh dari sakernas, BPS RI Tahun 2017 secara nasional jumlah pengangur masih berjumlah 7 juta jiwa. Jumlah tersebut sejumlah 2,62 % berasal dari lulusan SD, 5,54% lulusan SMP, 8,29 % lulusan SMA, 11,41 lulusan SMK, 6,88 lulusan Diploma dan 5,18 % lulusan SMK.