Pembaharuan Hukum dalam Sistem Seleksi dan Pengawasan Hakim Konstitusi
Teks penuh
Dokumen terkait
Jadi menurut peneliti, pertimbangan Hakim Mahkamah Konstitusi dalam Putusan MK No.68/PUU-XII/2014 tentang pernikahan beda agama telah sesuai dengan Hukum Islam dan teori
Proses seleksi pengangkatan hakim sebelum keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 43/PUU-XII/2015 masih dilakukan oleh Mahkamah Agung bersama Komisi
Mahkamah beranggapan tim seleksi yang dibentuk oleh masing-masing lembaga negara pengusung calon Hakim Konstitusi lebih dapat menghindarkan dominasi subjektivitas Panel Ahli
Keseluruhan proses pengajuan tersebut ialah untuk mendapatkan hakim konstitusi yang memenuhi persyaratannya sebagai seorang negarawan yang menguasai konstitusi dan
Secara umum, terdapat dua faktor yang dominan memengaruhi trifurkasi seleksi hakim konstitusi, yaitu; pertama, persoalan dalam tataran pelaksaan seleksi yang beragam dan
Dewan Etik adalah perangkat yang dibentuk oleh Mahkamah Konstitusi yang bersifat tetap untuk menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat dan Kode Etik Hakim
24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi terjadi perubahan khususnya yang terkait dengan unsur dan jumlah anggota Majelis
Pada pokoknya Pemohon I dan II mendalilkan bahwa pengaturan mengenai penambahan persyaratan untuk menjadi hakim konstitusi; mekanisme proses seleksi dan pengajuan hakim