• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Derajat Optimisme Pada Sales Promotion Kartu Kredit di Bank "X" Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Derajat Optimisme Pada Sales Promotion Kartu Kredit di Bank "X" Bandung."

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai derajat optimisme pada sales promotion kartu kredit di Bank “X” Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi deskriptif dengan teknik survey, yakni penyelidikan yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan terhadap 25 orang sales promotion kartu kredit yang telah memenuhi karakteristik penelitian.

Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner “Attributional Style Questionare” (ASQ) dari Seligman yang telah diadaptasi oleh peneliti. Berdasarkan uji validitas dan realibilitas dengan menggunakan SPSS 17,0 for MS Windows diperoleh 36 item yang diterima dengan validitas yang berkisar antara 0,305 - 0,715, dan reliabilitas sebesar 0.719.

Berdasarkan pengolahan data secara statistik, maka didapatkan hasil 56% sales promotion kartu kredit di Bank „X‟ Bandung menunjukkan derajat optimisme yang optimis dan sebanyak 44% menunjukkan derajat optimisme yang pesimis. Sales promotion kartu kredit yang optimis memandang keadaan baik sebagai keadaan yang permanent, universal dan eksternal dan ketika berhadapan dengan keadaan buruk keadaan tersebut dipandangnya sebagai seuatu keadaan yang temporary, specifik dan internal. Bagi sales promotion kartu kredit yang pesimis memandang keadaan baik sebagai keadaan yang temporary, spesifik dan eksternal dan ketika berhadapan dengan keadaan buruk dipandangnya sebagai keadaan yang permanent, universal dan internal.

(2)

Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT

This study was conducted to obtain an idea of the degree of optimism on sales promotion credit card in the Bank „X‟ Bandung. The research was conducted using a descriptive study method with survey techniques, namely the investigation conducted at the same time against of 25 sales promotion credit card that meet the characteristic of the study.

Measuring instrument used was a questionnaire “Attributional Style Questionare” (ASQ) by Seligman that has been adapted by researchers. Based on test validity and reliability by using SPSS 17.0 for MS. Windows, earned 36 items received with validity which ranging from 0.305 to 0.715 and, 0.719 for reliability.

Based on statistical data processing, the result obtained 56% of sales promotion credit card in the Bank „X‟ indicates the degree of optimism are optimistic and as much as 44 % indicates the degree of optimism are pessimism. Sales promotion an optimistic view of the good situation as a state of permanent, universal, and external and when dealing with the bad situation as a state of temporary, specific and internal. For a pessimistic sales promotion they view a good situation as a state of temporary, spesific dan exsternal and when dealing with the bad situation as a state of permanent, universal and internal.

(3)

vii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK

ABSTRACT

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR BAGAN ... xi

Bab I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifkasi Masalah ... 9

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 9

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 10

1.5 Kerangka Pikir ... 11

(4)

viii Universitas Kristen Maranatha Bab II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Optimisme ... 20

2.1.1 PengertianOptimisme ... 20

2.1.2 Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Optimisme ……….….... 25

2.1.3 Keuntungan Optimisme ………...…………..…. 28

2.2. Sales Promotion ... 32

2.2.1 Pengertian Sales Promotion ... 32

2.2.2 Tujuan dari Sales Promotion ... 33

2.2.3 Consumer-market sales promotion techniques ……….…………...… 34

2.2.4 Hal yang harus diperhatikan oleh sales promotion …... 38

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 41

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 42

3.2.1 Variabel Penelitian ... 42

3.2.2 Definisi Konseptual ... 42

3.2.3 Definisi Operasional ... 42

(5)

ix Universitas Kristen Maranatha

3.4 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 47

3.4.1 Validitas Alat Ukur ... 47

3.4.2 Reliabilitas Alat Ukur ... 49

3.5 Populasi Sasaran ... 50

3.6 Teknik Analisis Data ... 52

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 53

4.2 Hasil penelitian ... 53

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ………..………. 59 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ………..……… 64

5.2 Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66

DAFTAR RUJUKAN ... 67

(6)

x Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Persentase Responden berdasarkan jenis kelamin ……...……..….… 53 Tabel 4.1.2 Persentase Responden berdasarkan Lamanya Bekerja …………... 54

Tabel 4.2.1 Tabel Gscore –Bscore ……… 55 Tabel 4.2.2 Tabel Profil Responden Optimis ………. 55

Tabel 4.2.3 Tabel Profil Responden Pesimis ………... 56

Tabel 4.5.3 Persentase Responden berdasarkan Crosstabs dengan Data Penunjang57

Tabel 4.5 Gambaran Responden –Kritik dari orang sekitar ……….. 57

(7)

xi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR BAGAN

Bagan I. 5 Bagan kerangka pikir ………...………...…... 15

(8)

xii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR BAGAN

Bagan I. 5 Bagan kerangka pikir ………...………...…... 15

(9)

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I

PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG MASALAH

Kartu kredit merupakan suatu alat transaksi berbentuk kartu yang diterbitkan

oleh suatu lembaga keuangan baik oleh bank maupun lembaga bukan bank dan dapat

digunakan untuk berbagai macam transaksi keuangan. Kartu kredit diberikan kepada

pemegang untuk dapat digunakan sebagai alat pembayaran di berbagai tempat yang

telah mengadakan kerjasama dengan penerbit dari kartu tersebut.

Kartu kredit pertama kali diperkenalkan pada tahun 1920-an di Amerika

Serikat. Pada mulanya orang menyebut kartu kredit sebagai uang plastik. Belakangan

uang plastik atau kartu kredit ini menarik perhatian masyarakat di seluruh dunia.

Kemudian pada tahun 1985, mulai diperkenalkan kartu kredit dengan hologram

eksklusif yang canggih. (www.kumpulan.info/uang/solusi-keuangan.com).

Di Indonesia sendiri kartu kredit mulai diperkenalkan sejak dua puluh lima

tahun lalu oleh Citibank. Citibank sudah memperkenalkan produk andalannya yakni

kartu Master dan Visa (www.solusikartukredit.com). Seiring dengan terus

bergeraknya perekonomian di Indonesia, serta kebutuhan masyarakat untuk berlaku

efiesien maka jumlah pengguna kartu kredit dari waktu ke waktu terus meningkat.

Bank Indonesia sendiri mencatat peredaran kartu kredit di masyarakat kini hingga

(10)

2

Universitas Kristen Maranatha 2011 (www.bataviase.co.id). Hal tersebut disebabkan karena saat ini hampir seluruh

lapisan masyarakat yang menggunakan kartu kredit.

Manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan kartu kredit antara lain

yaitu tidak perlu kerepotan untuk membawa uang tunai, dapat menggunakannya

kapan saja, dapat memanfaatkan promosi dari kartu kredit tersebut untuk

mendapatkan diskon saat makan di restoran ataupun saat berbelanja di tempat

tertentu, dan saat bertransaksi online alat pembayaran yang paling populer adalah

kartu kredit.

Dengan semakin mudahnya mendapatkan kartu kredit membuat masyarakat kini

memiliki gaya hidup yang konsumtif. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh

koran kompas, dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki

kartu kredit adalah untuk keperluan makan dan belanja kebutuhan sehari-hari serta

separuhnya lagi menggunakan kartu kredit untuk membeli barang elektronik atau

keperluan yang berhubungan dengan kenyamanan hidup. Dengan mudahnya

persyaratan yang dibutuhkan ketika akan mengaplikasikan kartu kredit hal ini tidak

aneh jika kini banyak nasabah yang memiliki kartu kredit lebih dari satu kartu.

Kompas. 15 April 2011. Mudahnya Mendapat Kartu Kredit, hlm. 48.

Saat ini, di Indonesia sendiri terdapat 18 (delapan belas) perusahaan penerbit

kartu kredit yang terdiri dari 14 (empat belas) bank (empat bank asing, dua BUMN,

satu bank campuran, dan tujuh bank swasta nasional) (www. elibrary.mb.ipb.ac.id).

(11)

3

Universitas Kristen Maranatha membuat para lembaga keuangan saling bersaing satu sama lain untuk memasarkan

kartu kredit kepada masyarakat, sebab apabila jumlah nasabah dalam suatu lembaga

keuangan dengan terus meningkat maka hal ini dapat membuat lembaga keuangan

tersebut dapat bertahan dan semakin terkenal, mampu bersaing dengan para

kompetitornya, serta mampu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain khususnya

dalam hal kartu kredit dan membuat nama lembaga keuangan tersebut semakin

terkenal dan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menggunakan

produk-produk yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan tersebut.

(www.triagus.multiply.com)

Banyak cara yang dilakukan oleh lembaga keuangan dalam memasarkan kartu

kredit, kalau dahulu kartu kredit ditawarkan kepada masyarakat dengan cara

menelpon nasabah lama atau mengirimkan brosur ke alamat nasabah lama, ada pula

yang ditawarkan oleh pihak bank dengan menarwarkan kartu kredit saat nasabahnya

melakukan transaksi di bank. Namun, saat ini cara yang paling banyak dilakukan oleh

lembaga keuangan untuk memasarkan kartu kredit kepada masyarakat adalah dengan

menggunakan bantuan tenaga sales atau yang dikenal dengan istilah sales promotion.

Sales promotion kartu kredit kini dapat dengan mudah dijumpai diberbagai

pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia. Seorang sales promotion sudah

pasti akan berhubungan dengan banyak orang dan bersentuhan langsung dengan

produk yang ditawarkannya. Produktivitas dari seorang sales promotion kartu kredit

secara langsung dapat mempengaruhi keuntungan bagi setiap lembaga keuangan

(12)

4

Universitas Kristen Maranatha baru, hal ini akan membuat lembaga keuangan menjadi semakin dikenal oleh

masyarakat, mampu bersaing dengan lembaga keuangan lainnya serta semakin

dipercaya oleh masyarakat atau perusahaan lain ketika akan melakukan kerjasama.

Oleh karena itu diperlukan seorang sales promotion kartu kredit yang benar-benar

memahami tugasnya yang harus bertemu dengan banyak orang dan mempengaruhi

mereka sehingga mereka tertarik untuk menggunakan kartu kredit yang dihasilkan

oleh lembaga keuangan.

Dalam hubungannya dengan banyak orang inilah, seorang sales promotion

dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan menarik dan persuasif. Kemampuan

komunikasi merupakan syarat wajib yang dibutuhkan oleh seorang sales promotion

dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dengan kemampuan

komunikasi ini, seorang sales promotion dapat dengan efektif mengkomunikasikan

kartu kredit dan mendapatkan nasabah baru. Kegiatan yang harus dilakukannya antara

lain yaitu memperkenalkan dan memasarkan kartu kredit, mencari nasabah baru,

bertemu dengan nasabah baik dilapangan ataupun ditelepon, target oriented,

membuat rekap data laporan nasabah baik laporan bulanan maupun tahunan, serta

melengkapi data-data nasabah.

Saat ini banyak masyarakat yang memandang negatif terhadap sales promotion

kartu kredit. Hal ini dapat diketahui ketika sales promotion kartu kredit menawarkan

produknya, seperti menawarkan kartu kredit dengan kesan memaksa, mengejar-ngejar

calon nasabah walaupun sudah ditolak atau diacuhkan oleh calon nasabahnya

(13)

5

Universitas Kristen Maranatha mereka harus siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi yaitu siap diterima

dan siap pula menerima penolakan dari para calon nasabahnya dan tidak merasa sakit

hati apabila ditolak. Segala macam kesulitan dan hambatan yang dihadapi, akan

ditanggapi secara berbeda-beda oleh para sales promotion kartu kredit, ada yang

menanggapinya dengan menjadi tidak semangat lagi untuk bekerja serta ada juga

yang menghadapinya dengan tetap semangat untuk bekerja.

Setiap kesulitan atau penolakkan yang diperoleh sales promotion kartu kredit

adalah suatu kegagalan kecil. Reaksi emosional setiap sales promotion kartu kredit

terhadap kegagalan tersebut sangat penting bagi kemampuannya untuk mempertinggi

motivasi untuk tetap bertahan. Bila penolakan-penolakan terus menerus menumpuk,

semangat kerja dapat merosot dan semakin lama semakin tidak “bersemangat” untuk

mendapatkan nasabah baru.

Sales promotion kartu kredit yang memiliki cara pandang optimis, ketika

menghadapi kesulitan atau hambatan akan memandang kesulitan atau hambatan

tersebut sebagai situasi yang bersifat sementara dan sales promotion kartu kredit

berkeyakinan bahwa dirinya mampu mengubah situasi buruk tersebut dengan usaha

dan kerja keras, serta mengartikan situasi buruk itu sebagai suatu tantangan untuk

terus maju mendapatkan nasabah baru dan mampu mencapai target kerja.

Namun demikian, dibalik semua cara pandang yang optimis tersebut tidak

jarang ditemukan pula sales promotion kartu kredit yang pesimis dengan tidak

memiliki dasar atau landasan yang kuat serta kepercayaan diri yang kurang bahwa

(14)

6

Universitas Kristen Maranatha kredit yang pesimis akan memandang kesulitan atau hambatan yang dihadapinya

sebagai suatu situasi yang permanen, meskipun ada usaha yang dilakukan kecil

kemungkinannya untuk berhasil (Martin Seligman,1990). Sales promotion kartu

kredit yang pesimis akan menampilkan perilaku yang tidak proaktif, mereka akan

menjalani pekerjaannya ini dengan perasaan terpaksa.

Bank „X‟ merupakan salah satu perbankan ritel khususnya dibidang usaha kartu

kedit dan juga disektor korporasi dengan menawarkan berbagai skema pinjaman.

Bank „X‟ ini memiliki 3 kantor cabang di Bandung, namun hanya 1 kantor cabang

saja yang khusus menangani dalam hal kartu kredit. Kantor cabang ini memiliki 25

tenaga sales promotion kartu kredit yang mana mereka akan didampingi oleh seorang

supervisor. Supervisor ini berperan sebagai atasan dan pendamping bagi para sales

promotion kartu kredit dan memiliki tanggung jawab untuk memberikan tugas-tugas

yang harus dikerjakan serta target-target kerja yang harus dipenuhi oleh setiap sales

promotion kartu kredit.

Optimisme adalah cara berpikir individu dalam menghadapi situasi, yang baik

(good situation) maupun situasi buruk (bad situation). Situasi baik yang terjadi dalam

bekerja sebagai sales promotion kartu kredit misalnya mampu mendapatkan nasabah

baru, mampu mencapai target kerja yang sudah ditetapkan serta mampu mendapatkan

tambahan komisi dari supervisornya, sedangkan situasi buruknya seperti tidak

mampu mendapatkan nasabah baru, mendapatkan penolakan atau diacuhkan oleh

calon nasabahnya serta tidak mampu memenuhi target kerja yang sudah ditetapkan

(15)

7

Universitas Kristen Maranatha Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti dengan 4 orang

sales promotion kartu kredit di bank “X” Bandung, diperoleh bahwa 75% sales

promotion mengaku bahwa mereka optimis dengan pekerjaan yang ditanganinya saat

ini, walaupun pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang mudah sebab setiap hari mereka

bertemu dengan calon nasabah baru serta situasi dan kondisi yang harus mereka

hadapi dipusat perbelanjaan itu berubah-ubah. Mereka menyadari bahwa dalam satu

hari belum tentu mereka mendapatkan calon nasabah baru yang mau mengapply kartu

kredit mereka. Walaupun begitu mereka tidak putus asa dan keesokkan harinya

mereka akan memperbaiki cara yang harus dilakukannya dalam memasarkan kartu

kredit sehingga mendapatkan calon nasabah baru. Selain itu, ada alasan mengapa

mereka tertarik untuk tetap bekerja dibidang ini adalah karena adanya komisi yang

menyertai saat setiap kali mereka mencapai target kerja yang sudah ditetapkan oleh

supervisor sehingga hal ini juga yang memotivasi mereka untuk bekerja lebih giat

lagi serta adanya jenjang karir yang jelas. Namun apabila mereka tidak berhasil

mencapai target kerja yang telah ditetapkan oleh supervisornya tersebut, mereka pun

tidak menjadi putus asa dan akan memperbaiki dibulan berikutnya.

Sedangkan hanya 25% sales promotion mengaku bahwa pekerjaan yang

ditanganinya ini adalah pekerjaan yang sulit karena situasi kerja yang harus

dihadapinya berubah-berubah dan adanya target kerja yang sudah ditetapkan oleh

supervisor yang membuat sales promotion tersebut tidak yakin mampu untuk

memenuhinya sehingga motivasi untuk bekerjanya pun menjadi berkurang dan tidak

(16)

8

Universitas Kristen Maranatha Berdasarkan uraian yang diungkapkan diatas, maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Studi Deskriptif Mengenai Derajat Optimisme

(17)

9

Universitas Kristen Maranatha

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Ingin mengetahui bagaimana derajat optimisme pada sales promotion kartu

kredit di Bank “X” Bandung.

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 MAKSUD PENELITIAN

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran

mengenai derajat optimisme pada sales promotion kartu kredit di Bank “X”

Bandung.

1.3.2 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran lebih

dalam mengenai derajat optimisme pada sales promotion kartu kredit di Bank “X”

Bandung.

1.4 KEGUNAAN PENELITIAN

1.4.1KEGUNAAN TEORITIS

1. Memberikan tambahan wawasan bagi ilmu Psikologi khususnya

Psikologi Industri dan Organisasi mengenai derajat optimisme pada

sales promotion kartu kredit di Bank “X” Bandung.

2. Memberikan informasi tambahan bagi peneliti lain yang berminat untuk

(18)

10

Universitas Kristen Maranatha

1.4.2KEGUNAAN PRAKTIS

1. Memberikan informasi kepada sales promotion kartu kredit mengenai

optimisme. Informasi ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk

evaluasi dan pengembangan diri sehingga mampu meningkatkan rasa

optimisnya.

2. Informasi ini diharapkan dapat membantu sales promotion kartu kredit

di Bank “X” Bandung mengenai optimisme sehingga mereka dapat

(19)

11

Universitas Kristen Maranatha

I.5 KERANGKA PIKIR

Ada berbagai macam sales di lembaga keuangan, salah satunya adalah sales

promotion. Sales promotion yaitu sales yang bertugas untuk mempromosikan produk

atau jasa yang ditujukan untuk mempengaruhi tindakan konsumen (Kottler and

Armstrong, 2001).

Sales promotion kartu kredit memiliki tugas-tugas yang harus dikerjakannya

yaitu melakukan pendekatan dengan calon nasabah baru, target oriented, mampu

mendapatkan banyak nasabah baru, bertemu dengan nasabah baik dilapangan maupun

ditelepon, membuat rekap data laporan nasabah bulanan maupun tahunan.

Setiap hari sales promotion kartu kredit bekerja dalam situasi bertemu dengan

banyak orang. Sales promotion kartu kredit saat ini banyak dijumpai di pusat-pusat

perbelanjaan yang menawarkan dan mempengaruhi pengunjung agar tertarik menjadi

nasabah mereka. Bekerja sebagai seorang sales promotion kartu kredit bukanlah suatu

pekerjaan yang mudah sebab pekerjaan ini membutuhkan kemampuan berkomunikasi

yang baik dan benar. Saat sales promotion kartu kredit menawarkan pengunjung di

pusat perbelanjaan untuk menjadi nasabah mereka, ada beberapa pengunjung yang

tertarik dan juga ada pengunjung yang tidak tertarik untuk menjadi nasabah mereka.

Menurut Seligman (1990), optimisme adalah cara berpikir individu dalam

menghadapi situasi, yang baik (good situation) maupun situasi buruk (bad situation).

Yang dimaksud sebagai situasi yang baik misalnya, mendapatkan banyak nasabah

(20)

12

Universitas Kristen Maranatha supervisornya, dll. Sedangkan yang dimaksud dengan situasi yang buruk misalnya,

tidak mampu mendapatkan nasabah baru, tidak mampu mencapai target kerja yang

sudah ditetapkan oleh supervisor, mendapatkan penolakan atau diacuhkan oleh calon

nasabahnya, dll. Sales promotion kartu kredit yang optimis akan berusaha mencari

jalan keluar untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.

Cara pandangan optimistis dan pesimistis didasari dari kritik orang sekitar,

career stage serta pengalaman masa krisis yang berdampak terhadap kepercayaan

diri. Kritik atau komentar yang diberikan dari orang sekitar saat sales promotion

kartu kredit menghadapi kegagalan. Sales promotion kartu kredit akan mendengarkan

dengan teliti isi dan bentuk dari kritikan atau komentar yang diberikan kepadanya

serta akan memperhatikan bagaimana supervisor atau orang sekitar mengatakan

kritikan tersebut. Hal ini juga akan mempengaruhi optimisme sales promotion kartu

kredit. Misalnya ketika sales promotion kartu kredit menghadapi kegagalan, orang

terdekat yang ada disekitarnya selalu memberikan kritikan atau komentar yang

menunjukkan bahwa kegagalan tersebut disebabkan karena para sales promotion

kartu kredit memang selalu tidak mau berusaha untuk menghadapi kegagalannya,

tidak mampu mengerjakan apa yang diminta dan mengatakan bahwa kegagalan

tersebut akan terus terjadi pada bidang kehidupannya dan membuat para sales

promotion kartu kredit merasa semakin terpuruk dengan apa yang dialaminya, maka

dalam diri sales promotion kartu kredit akan berkembang cara pandang pesimis.

Sedangkan bila sales promotion kartu kredit mengalami kegagalan dan diberi kritik

(21)

13

Universitas Kristen Maranatha tersebut meyakinkan bahwa jika sales promotion kartu kredit mau berusaha lebih

keras lagi dan memperbaiki kesalahannya, ia akan mendapatkan hasil yang lebih baik

maka lama kelamaan dalam diri sales promotion kartu kredit akan muncul cara

pandang optimis saat menghadapi suatu masalah.

Sikap supervisor atau figur dominan yang ada dekat dengan sales promotion

kartu kredit dalam memberikan kritik pada saat sales promotion kartu kredit bekerja,

hal ini akan mempengaruhi pula pembentukan cara pandang optimistis dan pesimistis

dalam diri sales promotion kartu kredit untuk mampu mengerjakan pekerjaanya.

Bagaimana sales promotion kartu kredit memandang dukungan dari lingkungannya,

apakah mereka mendukung sales promotion kartu kredit untuk mampu mengerjakan

pekerjaannya dengan baik atau justru malah membiarkan dan menyalahkan para sales

promotion kartu kredit atas hasil pekerjaan buruk yang dikerjakannya.

Demikian pula dengan pengalaman masa krisis yang pernah dialami akan

berdampak terhadap kepercayaan diri serta berpengaruh dalam membangun

optimisme sales promotion kartu kredit. Misalnya ketika seorang sales promotion

kartu kredit mengalami pengalaman masa kritis ketika bekerja seperti mendapatkan

surat peringatan tidak resmi dari perusahaan, tidak mampu memenuhi target kerja,

serta mendapatkan penolakkan terus menerus dari calon nasabahnya, saat itu ia

merasa bahwa kejadian tersebut akan mempengaruhi pekerjaannya di masa yang akan

datang, pengalaman krisis tersebut akan terus berulang dalam pekerjaannya, dan sales

promotion kartu kredit mulai menyalahkan dirinya sendiri maka hal tersebut akan

(22)

14

Universitas Kristen Maranatha kartu kredit. Namun sebaliknya, jika sales promotion kartu kredit beranggapan bahwa

pengalaman itu hanya terjadi saat itu saja, tidak akan mempengaruhi pekerjaannya di

masa depan dan terjadi bukan karena kesalahannya maka dalam diri sales promotion

kartu kredit akan terbentuk sikap optimis dan meningkatkan kepercayaan dirinya dalam

bekerja.

Selain kritik dari orang sekitar, pengalaman masa krisis yang berdampak

terhadap kemampuan diri, career stage ketika bekerja pun berpengaruh dalam

membangun optimisme. Ketika perusahaan tempat mereka bekerja memiliki jenjang

karier yang jelas, sales promotion kartu kredit akan merasa bahwa hal tersebut akan

mempengaruhi pekerjaannya di masa yang akan datang khususnya dalam hal menata

karier dan akan membentuk cara pandang optimis ketika mengerjakan pekerjaanya.

Namun sebaliknya, jika perusahaannya tidak memiliki jenjang karier yang jelas maka

hal tersebut akan membentuk cara pandang yang pesimis dan menilai bahwa

pekerjaan yang dilakukannya saat ini tidak akan mempengaruhi kariernya dimasa

yang akan datang.

Setiap individu memiliki kebiasaan (habit) dalam menghadapi masalahnya.

Kebiasaan ini menurut Seligman (1990) adalah explanatory style yang sekaligus

menjadi dasar dari optimisme. Menurut Seligman (1990) explanatory style memiliki

tiga dimensi yaitu permanence, pervasiveness, dan personalization.

Dimensi yang pertama yaitu permanence menunjukkan waktu, apakah suatu

keadaan yang dialami akan menetap atau sementara saja. Dimensi yang pertama

(23)

15

Universitas Kristen Maranatha bersifat menetap atau sementara. Sales promotion kartu kredit yang optimis akan

berpikir bahwa keadaan yang baik akan menatap dan keadaan yang buruk hanya

bersifat sementara. Sedangkan sales promotion kartu kredit yang pesimistis akan

berpikir bahwa keadaan baik hanya akan bersifat sementara dan keadaan buruk yang

akan menetap.

Dimensi yang kedua yaitu pervasiveness menunjukkan ruang lingkup dari

peristiwa-peristiwa yang dialaminya apakah sebagai sesuatu yang menyeluruh

(universal) atau khusus (spesifik). Sales promotion kartu kredit yang optimis akan

berpikir bahwa keadaan yang baik terjadi pada semua yang dilakukannya dankeadaan

buruk hanya terjadi pada situasi tertentu saja. Sedangkan sales promotion kartu kredit

yang pesimis akan berpikir bahwa keadaan yang baik hanya terjadi pada situasi

tertentu saja dan keadaan yang buruk terjadi dalam semua situasi dalam

kehidupannya.

Dimensi yang ketiga yaitu personalization yaitu merujuk pada siapa penyebab

dari keadaan tersebut, apakah internal (diri sendiri) atau eksternal (diluar dirinya).

Sales promotion kartu kredit yang optimis akan berpikir bahwa penyebab dari

keadaan yang baik adalah dirinya sendiri dan penyebab dari keadaan yang buruk

adalah lingkungan diluar dirinya. Sedangkan sales promotion kartu kredit yang

pesimis akan berpikir bahwa penyebab dari keadaan yang baik adalah lingkungan

diluar dirinya dan penyebab dari keadaan yang buruk adalah dirinya sendiri.

Ketiga dimensi utama ini yaitu permanence, pervasiveness, dan personalization

(24)

16

Universitas Kristen Maranatha optimistis ataukah pesimistis dalam mengerjakan tugas-tugas yang harus

dikerjakannya. Seorang sales promotion kartu kredit yang memiliki cara pandang

optimistis akan memandang penolakan yang diterima dari calon nasabahnya

merupakan suatu keadaan yang bersifat sementara dan bukan sebagai suatu keadaan

yang akan terjadi secara menetap, sedangkan sales promotion kartu kredit yang

memiliki cara pandang pesimistis akan memandang penolakan yang diterimanya

sebagai suatu keadaan yang akan terjadi secara menetap dan bukan sebagai suatu

keadaan yang bersifat sementara. Seorang sales promotion kartu kredit yang memiliki

cara pandang optimistis, ketika tidak mampu memenuhi target kerja yang sudah

ditetapkan oleh supervisor, sales promotion kartu kredit tersebut akan memandang

kegagalan itu sebagai suatu resiko yang harus dihadapi dari pekerjaannya, sedangkan

seorang sales promotion kartu kredit yang pesimistis akan memandang suatu

kegagalan tersebut sebagai suatu kegagalan yang memang akan dihadapi oleh seluruh

sales promotion. Sales promotion kartu kredit yang memiliki cara pandang optimistis

akan memandang suatu penolakkan yang diterima dari calon nasabahnya adalah

karena calon nasabahnya sedang tidak berminat untuk membuat kartu kredit yang

ditawarkan oleh dirinya, sedangkan sales promotion kartu kredit yang memiliki cara

pandang pesimistis akan memandang suatu penolakkan tersebut dengan menyalahkan

dirinya sendiri karena tidak mampu mendapatkan nasabah baru dan memandang

dirinya sendiri sebagai penyebab dari kegagalan tersebut.

Optimisme lebih mengarah pada belajar mengenali diri sendiri, membuat

(25)

17

Universitas Kristen Maranatha promotion kartu kredit menjadi aktif dan membentuk diri sendiri dari pasif dan

menerima apa adanya. Selain itu dengan cara pandang optimis, individu akan

memiliki kegigihan dalam menghadapi situasi yang tidak menguntungkan serta

kemampuan berjuang untuk mengatasi masalah. Dengan cara pandang optimis,

diharapkan sales promotion kartu kredit dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan

diri sendiri maupun situasi sehingga sales promotion kartu kredit tersebut dapat

mempunyai kemampuan yang tepat untuk menentukan harapan yang sesuai dengan

situasi dan kondisi ,Seligman (1990).

(26)

18

Universitas Kristen Maranatha Skema 1. Kerangka Pikir

Dimensi Explanatory

Style :

1. Permanence

2. Pervasiveness

3. Personalization

Optimisme Sales Promotion

Kartu Kredit

Faktor-faktor yang mempengaruhi :

- Kritik dari orang sekitar

- Pengalaman masa krisis

yang berdampak terhadap

kemampuan diri

- Career stage

Optimis

Pesimis Menilai situasi kerja

yang dihadapi baik keadaan baik maupun keadaan

(27)

19

Universitas Kristen Maranatha

I.6 ASUMSI

1. Sales promotion kartu kredit memiliki derajat optimisme yang berbeda-beda.

2. Optimisme dibentuk dari tiga dimensi dalam kebiasaan (habit) berpikir

tentang penyebab dari suatu keadaan (explanatory style), yaitu permanence,

pervasiveness, personalization.

3. Tiga dimensi dari explanatory style mempengaruhi cara pandang optimis atau

pesimis dari seorang sales promotion kartu kredit.

4. Optimisme sales promotion kartu kredit dipengaruhi oleh beberapa faktor,

yaitu kritik dari orang-orang sekitar, pengalaman masa krisis yang

(28)

64 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebanyak 44 % responden adalah sales promotion kartu kredit yang optimis

dan sebanyak 56 % adalah sales promotion kartu kredit yang pesimis.

2. Sales promotion kartu kredit yang optimis memandang keadaan baik (good

situation) sebagai keadaan yang permanent, universal dan eksternal dan

ketika berhadapan dengan keadaan buruk (bad situation), sales promotion

kartu kredit yang optimis tersebut memandangnya sebagai seuatu keadaan

yang temporary, specific dan internal.

3. Sales promotion kartu kredit yang pesimis memandang keadaan baik (good

situation) sebagai keadaan yang temporary, spesifik dan eksternal dan ketika

berhadapan dengan keadaan buruk (bad situation), sales promotion kartu

kredit yang pesimis akan memandangnya sebagai keadaan yang permanent,

(29)

65

Universitas Kristen Maranatha

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian ini juga dapat diajukan beberapa saran yang

diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

5.2.1 Bagi pihak lain yang terlibat dalam penelitian ini dapat diberikan saran seperti

berikut ini :

1. Bagi sales promotion kartu kredit yang pesimis disarankan untuk

mengembangkan diri ke arah yang lebih optimis, dengan cara mengikuti

pelatihan-pelatihan atau terapi seperti pelatihan-pelatihan, group

konseling, roleplay dan seminar khusus untuk para sales promotion kartu

kredit agar dapat meningkatkan optimismenya ketika bekerja.

2. Bagi supervisor bank ‘X’, diharapkan dari penelitian ini mendapatkan

banyak informasi mengenai derajat optimisme pada sales promotionnya

sehingga nantinya dapat memberikan konseling atau nasehat berupa

kritikan dan pujian yang dapt meningkatkan optimisme bagi para sales

(30)

66 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Duncan, Tom. 2004. IMC: Using Advertising & Promotion to Build Brand. First Edition. Mc.Graw Hill.Inc.

Ivancevich, John M. 2001. Human Resource Management. Eight Edition. The McGraw-Hill Companies

Kotler, Philip. Marketing Management : Millennium Edition. Tenth Edition

Seligman, Martin E.P., 1990. Learned Optimism : How to Change Your Mind and Your Life. New York, A. A. Knopf Inc.

Siegel, Sydney. 1990. Statistik Non Parametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Cetakan Keempat. Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sugiyono, Dr. 2005. Statistika untuk Penelitian. Cetakan Kelima. Bandung :

CV. Alfabeta,

(31)

67 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

Kompas. 15 April 2011. Mudahnya Mendapat Kartu Kredit, hlm. 48

www.kumpulan.info/uang/solusi-keuangan.com

www.solusikartukredit.com

www.bataviase.co.id

www.elibrary.mb.ipb.ac.id

www.triagus.multiply.com

Referensi

Dokumen terkait

Penciptaan Karya Seni Rupa Abstraksi Wajah Togog dan Topeng Bujang Ganong dengan Teknik CBT (Cetak Benang Tarik) ini secara umum sudah terpenuhi secara teknik dan visual,

Alamat IP yang terdeteksi pada server yang dituju adalah alamat IP dari proxy, bukan milik anda karena secara teknis anda “diwakili” oleh proxy. Oleh karena itu server yang

Untuk semua guru-guruku, atas keikhlasannya berbagi ilmu dan pengalaman hidup yang tidak mampu ku ukur, dengan penuh hormat saya ucapkan terima kasih bagi bapak

Terkait dengan kerpihatinan yang terjadi pada Buku Pelajaran Agama, Siti Musdah Mulia dalam Seminar Nasional bertema “Peradaban yang Retak: Dilema Manusia Indonesia Masa Kini” yang

Kandungan unsur N yang lebih banyak akan merangsang tumbuhnya anakan sehingga akan diperoleh hasil panen dengan jumlah umbi yang lebih banyak karena faktor

Menurut jenisnya terdapat 3 (tiga) jenis nyanyian rakyat, yaitu: pertama, Nyanyian Rakyat Yang Berfungsi (functional folksong), digunakan dalam berbagai aktifitas kehidupan seperti;

P enelisikan terhadap dunia yang tergambarkan dalam karya sastera tidak hanya berkenaan dengan masa Jawa kuno saja, namun dapat pula menjelajah ke khasanah karya

WIKA tetap optimistis bisa mencapai target kontrak baru akhir tahun lantaran mengikuti tender-tender dengan nilai terendah hampir mencapai Rp 2 triliun yang akan diumumkan