PERBANDINGAN KEBUGARAN JASMANI DAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH ALAM DAN SISWA SEKOLAH REGULER
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan
Program Studi Pendidikan Olahraga
Oleh
DICKY OKTORA MUDZAKIR
1101623
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
PERBANDINGAN KEBUGARAN JASMANI DAN MOTIVASI
BELAJAR SISWA SEKOLAH ALAM DAN SISWA SEKOLAH
REGULER
Oleh
Dicky Oktora Mudzakir
S.Pd UPI Bandung, 2011
Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Fakultas Pendidikan Olahraga
© Dicky Oktora Mudzakir 2014 Universitas Pendidikan Indonesia
November 2014
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
DICKY OKTORA MUDZAKIR
PERBANDINGAN KEBUGARAN JASMANI DAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH ALAM DAN SISWA SEKOLAH REGULER
Disetujui dan disahkan oleh pembimbing:
Pembimbing I
Dr. Nuryadi M.Pd NIP. 197101171998021001
Pembimbing II
Prof. H.Y.S Santoso Giriwijoyo
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH ALAM DAN SISWA SEKOLAH REGULAR
(Aspek Tingkat Kebugaran Jasmani, Motivasi Belajar, Motor Educability, dan Prestasi Akademik,).
Banyak sekolah-sekolah alternatif yang memberikan pendidikan dengan baik. penelitian ini mengungkapkan bagaimana keberadaan lembaga pendidikan khususnya sekolah alam dalam berkontribusi di dunia pendidikan, peneliti meneliti hasil belajar dari aspek prestasi akademik, aspek kebugaran jasmani, motivasi belajar, dan motor educability siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi akademik, kebugaran jasmani, motivasi belajar, dan motor educability siswa sekolah alam dan siswa sekolah regular. Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian expost facto dengan jenis komparatif yang dimaksudkan untuk mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan menganalisa faktor-faktor terjadinya masalah tersebut. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa sekolah dari sekolah alam Bandung dan siswa sekolah dari sekolah Dasar Negeri Sukajadi 9 Bandung. Didalam penelitian ini peneliti menggunakan Purposive Sampling pengambilan sampel dengan kriteria-kriteria dan pertimbangan tertentu yaitu kelas VI dengan 15 orang dari sekolah alam dan kelas VI dengan 15 orang siswa dari sekolah regular. Hasil dari penelitian ini menggunakan perhitungan pengujian hipotesis menggunakan uji t dengan one shoot desigen. Berdasarkan hasil uji hipotesis ada perbedaan yang signifikan antara prestasi akademik, kebugaran jasmani, motivasi belajar dan motor educability sekolah alam dan sekolah regular, dengan nilai prestasi akademik sebesar 4,911, kebugaran jasmani sebesar 5,187, motivasi belajar sebesar 2,525, dan motor educability sebesar 2,434 dan terdapat perbedaan prestasi akademik siswa sekolah alam dengan siswa sekolah regular dengan nilai sebesar 4,911. Maka dapat disimpulkan hasil belajar dalam ke empat aspek tersebut sekolah alam lebih besar hasil belajarnya dibandingkan sekolah regular.
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRACT
COMPARISON OF STUDENT LEARNING IN SCHOOL OF NATURAL AND REGULAR SCHOOL STUDENTS
(Aspects of Physical Fitness, Leaning Motivation, Motor Educability and Academic Achievement)
Many alternative schools that provide good education. This study reveals how the presence of educational institutions, especially in the realm of school education in the world contributing, researchers examined the results of study of aspects of academic achievement, aspects of physical fitness, motivation to learn, and the motor educability of students. The purpose of this study to determine whether there are differences in academic achievement, physical fitness, motivation to learn, and the motor educability natural school students and regular students. In this study the authors use ex post facto research with comparative types intended to seek answers about the fundamental causal factors by analyzing the occurrence of such problems. The population in this study are students from Bandung and natural school students from public elementary schools Sukajadi 9 Bandung. In this study researchers used purposive sampling with the sampling criteria and specific considerations that class VI with 15 people from nature and sixth grade school with 15 students from regular schools. The results of this study using the calculation hypothesis testing using t-test with one shoot desigen. Based on the results of hypothesis testing was no significant difference between the academic achievement, physical fitness, motivation to learn and the motor educability nature schools and regular schools, the achievement scores of 4.911, 5.187 for physical fitness, motivation to learn at 2,525, and 2,434 for the motor educability and there differences in student achievement nature with regular school students with a value of 4.911. So we can conclude the learning outcomes in all four aspects of the nature of the school greater learning outcomes than regular school.
Keywords : Academic Achievement, Physical Fitness, Learning Motivation, and
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN………... i
PERNYATAAN………. ii
ABSTRAK………. iii
ABSTRACT………... iv
KATA PENGANTAR………... v
UCAPAN TERIMAKASIH………. vi
DAFTAR ISI……….. viii
DAFTAR TABEL………. xi
DAFTAR GAMBAR………. xii
DAFTAR LAMPIRAN………. xiii
BAB I PENDAHULUAN A Latar belakang Penelitian……….. 1
B Identifikasi Masalah……… 7
C Perumusan Masalah………. 8
D Tujuan Penelitian………. 8
E Manfaat Penelitian………... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka………. 10
1. Proses Penerapan Kurikulum Pembelajaran di Sekolah Alam…….. 10
2. Pendekatan belajar Dalam Berbasis Alam……….. 12
C. Hakikat Kebugaran Jasmani……… 17
1. Anatomical Fitness……….. 18
2. Physiological Fitness………... 18
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4. Komponen Komponen Kebugaran Jasmani……… 20
5. Manfaat Kebugaran Jasmani………... 23
6. Fungsi Kebugaran Jasmani……….. 24
7. Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani……… 25
8. Pentingnya Aktivitas Fisik……….. 28
9. Aktivitas Fisik dan Prestasi Akademik……….. 30
D. Hakikat Motivasi Belajar……… 31
1. Pengertian Motivasi Belajar……… 31
2. Peran Motivasi Dalam Penguatan Motivasi Belajar………... 33
F. Kerangka Berfikir……… 40
G. Hipotesis……….. 46
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian dan Desain Penelitian……… 47
1. Metode Penelitian……… 47
2. desain Penelitian……….. 47
B. Populasi dan Sampel………... 49
1. Populasi………... 49
2. Sampel………... 49
3. Karakteristik Sampel………... 50
C. Definisi Operasional………... 51
D. Instrumen Penelitian………... 52
2. Instrumen Tes Kebugaran Jasmani………. 52
3. Instrumen Tes Motivasi Belajar………... 56
E. Prosedur Penelitian………... 61
F. Teknik Pengumpulan Data………... 62
G. Teknik Analisis Data………... 63
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
A. Deskripsi Hasil Penelitian……….….. 65
B. Pembahasan Hasil dan Analisis Data……….. 66
1. Uji Normalitas………. 66
2. Uji Homogenitas………. 68
3. Analisis Inferensi (Statistik Parametrik) ……… 69
C Diskusi Penemuan………... 71
BAB V Kesimpulan dan Saran A Kesimpulan……….. 76
B Saran……… 76
DAFTAR PUSTAKA………. 78
LAMPIRAN – LAMPIRAN……….. 82
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Karakteristik Sekolah Alam Dan Sekolah Reguler... 16
3.1 Populasi dan Sampel Siswa Sekolah Alam dan Sekolah Reguler... 50
3.2 Kisi-Kisi Angket Motivasi... 57
3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen... 60
3.4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen... 61
4.1 Data Hasil Tes penelitian Sekolah Alam... 65
4.2 Data Hasil Tes penelitian Sekolah guler... 66
4.3 Hasil uji normalitas kebugaran siswa sekolah alam... 67
4.4 Hasil Uji Normalitas Data Motivasi... 67
4.5 Hasil Uji Homogenitas data Kebugaran Jasmani... 68
4.6 Hasil Uji Homogenitas data Motivasi Belajar... 68
4.7 Hasil Uji Hipotesis Kebugaran... 69
4.8 Hasil Uji Hipotesis Motivasi... 70
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Derajat Sehat ... 20
2.2 Hierarki Kebutuhan Maslow ... 38
3.1 Desain Penelitian ... 47
3.2 Prosedur Penelitian ... 48
3.3 Lari 30 meter ... 53
3.4 Pull Up ... 53
3.5 Baring Duduk (Sit Up) ... 54
3.6 Vertical Jump ... 55
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Uji Normalitas dan Homogenitas Kebugaran Jasmani... 82
2. Uji Normalitas dan Homogenitas Motivasi Belajar ... 83
3. Uji Independen Sampel Test (T-Score) Kebugaran Jasmani... 84
4. Uji independen sampel Test (T-Score) Motivasi Belajar... 85
5. Uji T-tes (Uji T) Kebugaran Jasmani dan Motivasi Belajar……... 86
6. Validitas Instrument Angket Motivasi Belajar ... 87
7. Hasil Tes Kebugaran Jasmani Sekolah Alam ... 93
8. Hasil Tes Kebugaran Jasmani Sekolah Reguler ... 94
9. Hasil Tes Butir Item Motivasi Belajar Sekolah Alam... 95
10. Hasil Tes Butir Item Motivasi Belajar Sekolah Reguler... 96
11. Instrumen Angket Motivasi Belajar... 97
12. Instrumen Tes Kebugaran Jasmani... 99
13. Dokumentasi Penelitian... 101
14. Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar... 103
15. Riwayat Hidup... 105
16. Surat Ijin Penelitian... 106
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pendidikan merupakan mekanisme untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan, watak, dan perilaku dan karakter. Biasanya penyelenggaran
pendidikan tersebut berada di sekolah-sekolah yang sudah disiapkan oleh
pemerintah. Sekolah merupakan sarana untuk kegiatan belajar mengajar,
membimbing, mengarahkan, dan mendidik agar para siswa yang belajar disekolah
tersebut dapat belajar dengan baik dan berhasil. Pendidikan dipandang sebagai
hak rakyat yang lahir dan dikembangkan secara nyata sebagai perwujudan upaya
mencerdaskan individu dalam diri masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan
adalah sarana memproduksi sejumlah individu yang berkompetensi untuk tujuan
pengembangan modal sosial dan kapasitas intelektual bangsa.
Proses pembelajaran menuntut untuk dapat mengembangkan, meningkatkan
dan membentuk watak, sikap, sifat dan tanggung jawab begitu juga dengan mata
pelajaran yang ada disekolah sesuai dengan kurikulum yang berlaku tidak lepas
juga dari tanggung jawab untuk tujuan proses pembelajaran dari mata pelajaran
yang di ampu. Seperti bunyi UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam
Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Bila dipelajari, tujuan pendidikan nasional masih sesuai dengan substansi
2
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Yang Maha Esa.Pembangunan pendidikan yang baik adalah upaya untuk
mewujudkan masyarakat yang maju cerdas dan mandiri demi terciptanya Negara
yang berkualitas. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa membangun
sikap dan karakter bangsa secara menyeluruh dan sunguh-sungguh untuk
meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Keberhasilan pendidikan yang bisa
memberikan konstribusi terhadap pembangunan nasional secara keseluruhan
harus dilakukan secara baik dan benar secara akurat dan tepat.
Dewasa ini pembinaan fisik, mental dan karakter suatu kelompok atau
bangsa sering disebut-sebut sebagai alat untuk menjadikan pembangaunan fisik
suatu bangsa sebagai salah satu instrument dalam pembinaan karakter manusia.
Maka disinilah peran pendidikan jasmani untuk membangun suatu bangsa. Dalam
kaitannya dengan pendidikan jasmani Suherman A dalam naskah pidatonya di
acara pelantikan guru besar UPI (2013, hlm. 2) mengungkapkan bahwa:
Isu global sekaligus tantangan berat dalam upaya mempersiapkan peserta didik mampu membangun kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan jasmani adalah semakin besarnya tuntutan akan disain implementasi kurikulum Pendidikan Jasmani (Penjas) yang relevan dan akuntabel. Tuntutan tersebut dipicu antara lain oleh perubahan nilai budaya dan gaya hidup, kemudian prosentase partisipasi masyarakat dalam olahraga dari tahun ke tahun relatif masih rendah, dan bahkan berkorelasi negatif dengan bertambahnya usia. Rendahnya aktivitas fisik pada tahun 2007 tercatat 48,2 %. Sebagai dampaknya lebih dari 43 juta anak di bawah usia sekolah kelebihan berat badan.
Secara empirik pendidikan di Indonesia mengalami degradasi pemaknaan
nilai-nilai pendidikan. Perlu ada sebuah terobosan atau inovasi dalam dunia
pendidikan di Indonesia, yang mampu memberikan pencerahan bagi peserta didik.
Pendidikan yang lebih terbuka, terarah dan tidak hanya membahas soal teknis
keilmuan semata, namun suatu pendidikan yang mampu memberikan rangsangan
inspiratif dan lebih terarah.
Berhubungan dengan pendidikan yang semakin meluas dan semakin
3
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sekali sekolah-sekolah alternatif yang dapat memberikan pendidikan yang setara
bahkan lebih baik dari sekolah-sekolah formal yang ada. Kecenderungan tumbuh
dan maraknya sekolah alternatif didasarkan pada beberapa kemungkinan yang
terjadi diantaranya semakin tingginya kebutuhan hidup ekonomi yang sulit
terjangkau, meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan terhadap
pendidikan yang dapat menunjang membekali anak-anaknya sesuia kebutuhan dan
cita-citanya. Diantaranya adalah sekolah alam yang dianggap bisa menjadi
alternatif yang baik untuk siswa. Maryati (2007, hlm. 186) menjelaskan bahwa:
Sekolah Alam (SA) adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam semesta. Lingkungan SA sungguh terasa natural dengan bangunan sekolah yang hanya berupa rumah panggung yang biasa disebut sebagai saung yang dikelilingi oleh berbagai kebun buah, sayur, bunga bahkan areal peternakan. Bukan suasana gedung bertingkat dan megah sebagai ruang kelas.
Sekolah alternatif ini merupakan rancangan yang baik ketika kebutuhan
sekolah-sekolah formal semakin meningkat dan tidak lagi sesuai dengan
kemampuan masyarakat. Sekolah alternatif mempunyai beberapa keuntungan
seperti di sekolah alam proses pembelajarannya tidak hanya terpusat disuatu
tempat saja tapi menggunakan lapangan terbuka dan keadaan alam sekitar. Untuk
sekolah reguler atau sekolah biasa preoses pembelajaran terpusat pada kurikulum
yang ada, aktivitas gerak hanya terbatas pada suatu pelajaran penjas dan praktek
saja dengan jumlah waktu yang kurang dan tempat yang sempit yang dipagari
tembok dan pagar. Menurut Novo (http://sekolahalambandung.com/2009/11/)
salah satu pelopor sekolah alam menjelaskan:
4
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Penerapan teori belajar pada sekolah alam menerapkan pendidikan berbasis
pengalaman (experiential education) atau yang disebut “learning by doing”
yang membuat siswa di sekolah mampu mengaitkan pelajaran dengan kegiatan
sehari-hari dilingkungan sekitar. Aktivitas siswa disekolah alam cukup tinggi
anak-anak tidak hanya belajar di kelas tetapi mereka belajar dari mana saja dan
dari siapa saja selain belajar dari buku, anak-anak juga belajar dari alam
sekelilingnya. Anak-anak bukan belajar untuk mengejar nilai tetapi untuk bisa
memanfaatkan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Siswa sekolah
alam sering melakukan beberapa kegiatan di alam terbuka seperti outdoor
education (belajar dialam terbuka seperti hiking, climbing, outing, dan outbond),
mereka belajar secara langsung kelapangan seperti belajar bercocok tanam dengan
langsung mencobanya dilapangan. Sejak dini anak-anak Sekolah Alam
diperkenalkan dengan berbagai kegiatan yang aneh untuk takaran anak seusia
mereka di sekolah lain. Mereka telah biasa melakukan bisnis dengan kegiatan “market day” yaitu siswa diajarkan usaha jual-beli dari dan untuk mereka. Ada acara “Open House” yang merupakan kegiatan tahunan, dimana setiap siswa
mendapat peran untuk menjadi tuan rumah bagi tamu undangan yang hadir
untuk melihat kemajuan Sekolah Alam. Kegiatan OTFA (out tracking fun
Adventure) yang merupakan kegiatan luar sekolah favorit, tapi tidak sekedar
darmawisata atau rekreasi. Dua kegiatan ini mengenalkan dan mendekatkan
siswa pada proses dan bukan pada hasil.
Sekolah alam menggunakan adventure-education approach dalam
pendekatan program dalam pendidikan jasmaninya. Menurut Suherman (2009, hlm. 8) “Adventure-education approach pada dasarnya lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas petualangan yang beresiko dalam lingkungan yang lebih
bersifat alami (misal naik gunung, cross country, camping)”. Holmes (dalam
Cottrell 2005, hlm. 6) Improvements in nutrition, physical activity, reductions in
crime and ADD as a result of outdoor education.
Kebugaran jasmani menurut Giriwijoyo (2010, hlm. 16) adalah: “Derajat
5
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
melaksanakan tugas yang harus dilaksanakan”. Maka dari itu setiap siswa harus
berusaha bugar dalam kesehariannya agar dapat melakukan kegiatan yang
diberikan, dengan melihat seberapa besar kegiatan yang diberikan atau tugas
gerak yang diberikan kepada siswanya disetiap sekolah maka kita bisa melihat
seberapa besar kemampuan gerak dan ketahanannya untuk melaksanakan tugas
yang diberikan. Maka jika kondisinya baik siswa akan dapat melakukan tugas
gerak yang diberikannya dengan baik dan bisa mendapatkan hasil maksimal maka
prestasi belajarnya pun meningkat begitu pula dengan prestasi akademiknya.
Sejalan dengan itu Grissom B.J dalam penelitiannya pada Journal of Exercise
Physiology online (2005, hlm.12) mengungkapkan bahwa :
It is not the intention of this paper to argue that the importance of physical education is its benefit to academic achievement. The overall health benefits of organized physical activity are probably much more important than possible academic benefits. However, when policy makers need to make difficult decisions about where to spend public funds and administrators need to make decisions about where to focus resources in a climate of academic accountability, a proven relationship between physical fitness and academic achievement could be used as an argument to support, retain, and perhaps even improve physical education programs.
Pengertian diatas yaitu bahwa :
Manfaat kesehatan keseluruhan aktivitas fisik yang terorganisir mungkin jauh lebih penting daripada manfaat akademis. Namun, ketika para pembuat kebijakan harus membuat keputusan sulit tentang di mana untuk menghabiskan dana publik dan administrator harus membuat keputusan tentang di mana untuk memfokuskan sumber daya dalam iklim akuntabilitas akademik, hubungan nyata antara kebugaran fisik dan prestasi akademik dapat digunakan sebagai argumen untuk mendukung, mempertahankan, dan mungkin bahkan meningkatkan program pendidikan jasmani.”
Dari pendapat diatas jelas bahwa program pendidikan jasmnai haruslah
meningkat dan terorganisir dengan baik karena akan banyak sekali manfaat baik
untuk kesehatan jasmani dan juga prestasi akademis. Vera mengungkapkan (2012,
hlm. 7) mengemukakan pendapat lain tentang bagaimana manfaat dari pelajaran
6
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
a) Mendorong motivasi belajar
b) Mengasah aktivitas fisik dan kreativitas c) Suasana belajar yang menyenangkan
d) Penggunaan media pembelajaran yang kongkret e) Penggunaan keterampilan dasar
f) Penguasaan keterampilan social g) Mengembanmgkan sikap mandiri
h) Hasil belajar permanen di otak (tidak mudah dilupakan) i) Tidak memerlukan pralatan
j) Keterampilam intelektual
k) Mendekatkan hubungan emosional antara guru dan siswa l) Meaningful learning
Menurut pendapat tersebut manfaat prtama belajar di alam yaitu dorongan
motivasi, karena kegiatan ini menggunakan setting alam sebagi media
pembelajarannya para siswa dapat belajar tanpa batas ruangan yang dapat
menimbulkan rasa bosan, kekumuhan, dan kejenuhan sehingga semakin antusias
dalam belajar. Menurut Mc. Donald (dalam Djamarah, 2008, hlm. 148) yang
mengatakan bahwa :
Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Perubahan energi dalam diri seseorang itu dapat berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik”.
Oleh karena seseorang mempunyai tujuan dalam aktivitasnya, maka
seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala
upaya yang dapat dia lakukan. Siswa yang memiliki motivasi belajar akan
memperhatikan pelajaran yang disampaikan, membaca materi sehingga bisa
memahaminya, dan menggunakan strategi-strategi belajar tertentu yang
mendukung. Selain itu, siswa juga memiliki keterlibatan yang intens dalam
aktivitas belajar tersebut, rasa ingin tahu yang tinggi, mencari bahan-bahan yang
7
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pertanyaan yang dapat digunakan dalam kaitan antara banyaknya intensitas
gerak, dan penerapan model pembelajaran aktif seperti di sekolah alam dapat
berpengaruh pada kebugaran jasmani dan motivasi belajar? Oleh karena itu,
penulis tertarik untuk mengungkap kecenderungan tersebut melalui penelitian
deskriptif khususnya melihat tentang Kebugaran Jasmani dan Motivasi Belajar
siswa khususnya keterkaitan dengan perbedaan sekolah yang mungkin bisa
memberikan dampak yang berbeda terhadap pencapaian hasil pembelajaran secara
menyeluruh. Adapun bentuk pengamatan tersebut, penulis tuangkan dalam
penelitian yang berjudul: “Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi
Belajar, Pada Siswa Sekolah Alam dan Siswa Sekolah Regular”.
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka muncul berbagai
permasalahan, diantaranya:
1. Permasalahan Sekolah Reguler
Disekolah regular siswa hanya mendapat gerak disaat pelajaran penjas saja,
sedangkan tempat untuk berolahraga hanya berada dalam lingkungan lapangan
tembok saja, sehingga akan menimbulkan kebosanan dalam pembelajaran,
kemudian akan berdampak pada kurangnya motivasi dalam belajar siswa sehingga
pengalaman gerak siswa tidak merata dan tingkat motorik anak berbeda. Menurut Bart C (dalam Ma’ruf 2011, hlm. 53) “Bahwa pergeseran budaya dipicu oleh dampak globalisasi ekonomi, teknologi komunikasi, dan transportasi serba
otomatis sehingga anak-anak cenderung menghilangkan aktivitas fisik dalam berbagai kegiatan”. Perubahan ini pula yang menyebabkan rendahnya kebugaran jasmani dan berdampak pula terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik anak.
aktif untuk belajar.
Kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran bisa disebabkan akibat
monotonnya pembelajaran dan secara otomatis yang akan membuat siswa jenuh
dan bosan untuk mengikuti pelajaran dan jika demikian akan mengalami
penurunan motivasi siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa akan susah
8
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Permasalahan disekolah alam
Perbedaan penerapan teori pembelajaran sekolah alam dengan sekolah
regular yaitu sekolah alam menekankan pada aspek aktif learning dengan
pengembangan pengalaman gerak saja dan alam pembelajaran di sekolah alam
tidak menekankan pada pembinaan kearah prestasi, khususnya pada mata
pelajaran olahraga, kemudian terlalau banyaknya bermain ditakutkan akan
mepengaruhi hasil belajar siswa tersebut sehingga perlu adanya penekanan untuk
lebih disiplin dalam belajar.
Apakah proses pembelajaran yang diberikan kepada siswa sekolah dasar
(SD) dari sekolah alam akan berbeda dengan siswa yang berada di sekolah dasar
(SD) dari sekolah formal?, apakah akan memberikan dampak yang berbeda pada
kebugaran jasmani dan motivasi belajar?. Maka Perlu dilakukan pembuktian
mengenai hal tersebut. Kemudian mengutip dari Suherman A (2013, hlm. 2)
dalam pidatonya di acara pengkukuhan guru besar UPI 2013 mengungkapkan: “Dampak yang lebih parah lagi adalah bahwa Indonesia sudah termasuk 6 besar negara Asia (China, India, Indonesia, Jepang, Pakistan dan Banglades) yang
terkena penyakit hipokinetik (kurang gerak)”. Kemudian hal ini sangat penting
guna mendapatkan rekomendasi tentang cara peningkatan kebugaran jasmani
dimana dewasa ini tingkat kebugaran jasmani di Indonesia sangat rendah.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan masalah tersebut maka penulis merumuskan masalah kedalam
beberapa bemtuk pertanyaan dibawah ini :
1. Apakah terdapat perbedaan kebugaran jasamani antara siswa sekolah alam
dengan siswa sekolah reguler?
2. Apakah terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa sekolah alam dengan
siswa sekolah reguler?
3. Apakah terdapat perbedaan kebugaran jasamani dan motivasi belajar antara
siswa sekolah alam dengan siswa sekolah reguler?
9
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jawaban yang telah
dirumuskan mengacu pada latar belakang dan rumusan masalah yang peneliti
ajukan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Untuk mengetahui apakah kebugaran jasmani siswa sekolah alam lebih baik
dari pada sekolah reguler.
2. Untuk mengetahui apakah motivasi belajar siswa sekolah alam lebih baik dari
pada sekolah reguler.
3. Untuk mengetahui dan menguji kebugaran jasmani dan tingkat motivasi
belajar siswa sekolah alam lebih baik dari siswa sekolah reguler.
E. Manfaat penelitian
Berdasarkan tujuan yang telah penulis paparkan di atas, maka penelitian ini
di harapkan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Peneliti juga berharap
penulisan ini berdampak positif bagi perkembangan dunia pendidikan dan dapat
digunakan sebagai berikut:
1. Secara teoretis :
a. Dapat dijadikan acuan bagi para guru pendidikan jasmani dalam merancang
pembelajaran siswa dalam penggunaan metode pembelajaran untuk
penyampaian materi pembelajaran pendidikan jasmani.
b. Pemanfaatan lingkungan alam sekitar yang bisa bermanfaat untuk sarana dan
prasarana dalam belajar mengajar.
c. Dapat dijadikan bahan referensi bagi pengembangan kurikulum pendidikan
khususnya pendidikan jasmani.
2. Secara praktis:
a. Sebagai bahan penelitian bagi lembaga pendidikan khususnya pendidikan
jasmani dan olahraga mengenai kebugaran siswa tingkat Sekolah Dasar, dan
motivasi belajar,
b. Bagi pengelola sekolah alam dan sekolah reguler dapat dijadikan masukan
yang akhirnya dapat digunakan dalam pengembangan program kegiatan
10
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
c. Bagi lembaga-lembaga pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia
dapat dijadikan sumbangan keilmuan dan informasi mengenai kemampuan
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III
METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian dan Desain Penelitian
1. Metode penelitian
Penelitian ini bermaksud untuk mengungkap dan menganalisis masalah
berkaitan dengan kebugaran jasmani dan motivasi belajar dimana metode
pembelajaran yang diberikan disekolah alam dan sekolah regular berbeda. Metode
yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Hal ini dikarenakan dalam
penelitian ini menggunakan beberapa alat ukur tes diantaranya survey dengan
kuesioner dan akan mengahsilkan beberapa perhitungan ststistika.
Rangkaian studi penelitian ini tidak terlepas dari metode yag digunakan agar
dapat menentukan keberhasilan dalam penelitian, metode merupakan cara yang
digunakan untuk memepermudah penelitian dalam menggunakan beberapa cara
dan teknik penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian
ekspos fakto (Ex-Post Facto research) dengan jenis komparatif yang
dimaksudkan untuk mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat
dengan menganalisa faktor-faktor terjadinya masalah tersebut. Dalam penelitian
ini tidak melakukan manipulasi dan perlakuan terhadap variable bebas. Metode ini
sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu ingin mengungkap
gambaran tentang kebugaran jasmani dan motivasi belajar di kedua sekolah yang
sudah berlangsung lama dengan metode dan penerapan pembelajaran yang
berbeda.
2. Desain Penelitian
Kelompok Variabel Independen Variable Dependen
I Sekolah Alam Kebugaran Jasmani & Motivasi Belajar
II Sekolah Reguler Kebugaran Jasmani & Motivasi Belajar
48
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Desain penelitian ini adalah untuk membandingkan kebugaran jasmani dan
motivasi belajar siswa sekolah alam dengan siswa sekolah reguler. untuk
kelompok pertama yaitu sekolah alam sebagai variable independen kemudian item
yang di ukur adalah kebugaran jasmani dan motivasi belajar. Begitu juga dengan
kelompok kedua yaitu sekolah reguler sebagi variabel independen dan item yang
di ukur adalah kebugaran jasmani dan motivasi belajar.
Gambar 3.2 Prosedur Penelitian Observasi
Sampel
Sekolah Reguler (Klompok Kontrol) Menentukan Tempat dan Waktu Penelitian
Sekolah Alam
Kesimpulan Analisis
Pembahasan Hasil dari Sekolah Alam
Tes Prestasi Akademik (Tes kebugaran, Motivasi dan
Motor educability Tes Prestasi Akademik
(Tes kebugaran, Motivasi dan Motor educability
Menentukan Populasi/Subyek Penelitian
49
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini siswa Sekolah Alam Bandung dan SDN 9
Sukajadi Bandung, definisi mengenai populasi oleh Sudjana (1989, hlm. 6)
sebagai berikut: “Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil
menghitung maupun pengukuran kuantitatif atau kualitatif dari pada karakteristik
tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas”.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian adalah sejumlah siswa kelas VI Sekolah Alam
Bandung sebanyak 15 orang. Dan siswa SD kelas VI SD Negeri Sukajadi 9
Bandung sebanyak 15 orang. Pengambilan sampel ini didasarkan pada penjelasan
dari Suharsimi Arikunto (1993, hlm. 117) yang mendefinisikan sampel sebagai
berikut : “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Adapun teknik pengambilan sampel yang dijadikan bahan dalam penelitian ini diambil
dengan menggunakan Purpsosive Sampling, yang merupakan bagian dari
beberapa tekhnik dari pengambilan sampel. Sekolah Alam Bandung dan Sekolah
Dasar Negeri Sarijadi 9 Bandung yang berjumlah± 300 orang tersebut dipilih
dengan menggunakan purposive sampling, adapun penggunaan teknik
pengambilan sampling ini didasarkan kepada karakteristik anggota populasi yang
relatif sama, seperti usia dan kemampuan gerak dasarnya. Jumlah sampel
sebanyak 30 orang siswa, yaitu dari kelas VI dari Sekolah Alam Bandung dan
Sekolah Dasar Negeri Sukajadi 9 bandung.
Untuk menentukan jumlah sampel sebagai sumber data, penulis berpedoman
kepada Arikunto (2002, hlm. 112) yaitu :
Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari:
a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal-hal ini menyangkut banyak sedikitnya data
50
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Sedangkan menurut Suherman A (2002, hlm. 18) menyebutkan bahwa
“Jumlah sampel untuk penelitian kausal komparatif sama dengan penelitian
eksperimen minimal 15 orang”.
Tabel 3.1
Populasi dan Sampel Siswa Sekolah Alam dan Sekolah Reguler
Kelompok Populasi Sampel
Sekolah alam 25 15
Sekolah reguler 29 15
3. Karakteristik Sampel
a. Karakteristik sekolah alam
Bangunan sekolah alam terbuat dari rumah-rumahan pohon dan bertempat di
alam terbuka dengan area yang cukup luas, dalam pembelajarannya sekolah alam
menggunakan metode pembelajaran secara aktif learning seperti memperaktekan
materi secara langsung dilapangan, contohnya tidak hanya dalam pembelajaran
jasmani saja namun juga dalampelajaran lainya seperti dalam IPA, Agama, Seni
dan budaya dan sebagainya. kemudian sarana yang dimiliki oleh sekolah alam
yang menunjang untuk pembelajaran yaitu mempunyai arena out bond, lapangan
rumput yang cukup luas, kebun botani, kolam ikan, dan wahana bermain anak.
b. Karakteristik Sekolah Reguler
Bangunan Sekolah Dasar di sekolah reguler terbuat dari dinding dan beton
dengan area sekolah yang minim, dalam proses pembelajarannya menerapakan
pembelajaran bertaraf kurikulum disetiap tahunnya, sekolah reguler mempunyai
banyak materi namun sangat minim dalam penerapannya/ praktik dilapangan,
kebanyakan praktik dilapangan hanya sebatas pada mata pelajaran olahraga,
kemudian sarana yang dimiliki oleh sekolah regular yang menunjang untuk
51
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C. Definisi Operasional
1. Perbandingan
Perbandingan menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008, hlm.129) adalah
pertimbangan,perbedaan (selisih) kesamaan. Sedangkan dalam penelitian ini
yang dimaksud dengan perbandingan adalah perbedaan tingkat prestasi
akademik pada siswa sekolah alam dan siswa sekolah reguler.
2. Kebugaran Jasmani
Kebugaran jasmani menurut Santoso Giriwijoyo (2010, hlm. 23) adalah
keadaan kemampuan jasmani yang dapat menyesuaikan fungsi alat-alat
tubuhnya terhadap tugas jasmani tertentu atau terhadap keaadaan lingkungan
yang harus diatasi dengan cara yang efisien, tanpa kelelahan yang berlebihan
dan telah pulih sempurna sebelum datang tugas yang sama pada esok harinya.
Dalam penelitian ini kebugaran jasmani adalah suatu kondisi tubuh yang dapat
melaksanakan tugas jasmani yang harus dikerjakan dan tidak mengalami
kelelahan-kelehan yang berarti dan dapat mengulanginya kembali pada tugas
berikutnya atau yang akan datang.
3. Motivasi Belajar
Adapun motivasi menurut Hidayat (2009, hlm. 52) menjelaskan bahwa :
“Motivasi adalah proses aktualisasi dari sumber penggerak atau pendorong tersebut. Motivasi sebagai proses psikologis adalah refleksi kekuatan interaksi
antara kognisi, pengalaman dan kebutuhan.
4. Sekolah Alam
Sekolah Alam memurut Maryati (2007, hlm. 186) menjelaskan
bahwa:Sekolah Alam (SA) adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis
alam semesta. Lingkungan SA sungguh terasa natural dengan bangunan
sekolah yang hanya berupa rumah panggung yang biasa disebut sebagai saung
yang dikelilingi oleh berbagai kebun buah, sayur, bunga bahkan areal
peternakan. Bukan suasana gedung bertingkat dan megah sebagai ruang kelas
yang bisa membatasi mereka beraktifitas dan mendapatkan refreshing bagi
52
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu D. Instrumen Penelitian
Untuk pengumpulan data dari sampel penelitian diperlukan alat
pengumpulan data yang disebut instrument pengumpulan data. Dalam hal ini
peneliti menggunakan teknik observasi survey, sedangkan cara pengumpulan
datanya adalah pengetesan dan pengukuran. Alat ukur yang penulis gunakan
dalam penelitian ini adalah :
1. Instrumen Tes Kebugaran Jasmani
Tes segaran jasmani Indonesia untuk Sekolah Dasar.
Untuk sekolah dasar kelas 3,4 dan 6
Butir-butir tesnya yaitu :
1) Lari cepat 40 meter
2) Angkat tubuh 30 detik
3) Baring duduk 30 detik
4) Loncat tegak
5) Lari 600 meter (lari jarak sedang)
Petunjuk pelaksanaan dari setiap butir tes kebugaran jasmani adalah sebagai
berikut :
1) Tes lari cepat 40 meter
o Tujuan : Untuk mengukur kecepatan lari seseorang
o Alat/fasilitas : Lintasan lurus, rata, tidak licin ada garis start dan finish,
Peluit, Stop watch, Bendera start dan tiang pancang
o Pelaksanaan : Subyek berdiri dibelakang garis start dengan sikap berdiri,
aba-aba “ya” dan subyek lari secepat mungkin menempuh
jarak 30 meter.
o Diulang apabila : Pelari mencuri start, pelari terganggu, oleh pelari lainya
o skor : Skor hasil test yaitu waktu yang dicapai pelari dalam
jarak 30 meter. Waktu dicatat dalam waktu sepersepuluh
53
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Gambar 3.3 Lari 30 meter
2) Tes angkat tubuh 30 detik
o Tujuan : Mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan dan bahu.
o Alat/fasilitas : Lantai yang rata dan bersih, palang tunggal yang tinggi
rendahnya dapat di ataur sehingga subyek dapat di atur,
stop watch, formulir pencatat hasil, alat tulis.
o Pelaksanaan : subyek bergantung pada palang tuggal, sehingga kepala,
badan dan tungkai lurus, kedua tangan dibuka selebar
bahu dan keduanya lurus. Kemudian subyek mengangkat
tubuhnya, dengan membengkokan kedua lengan sehingga
dagu melewati atau melewati palang tunggal. Kemudian
kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan tersebut secara
berulang-ulang, tanpa istirahat selama 60 detik.
54
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3) Tes baring duduk 30 detik
o Tujuan : Mengukur kekuatan dan daya tahan otot perut
o Alat/fasilitas : Lantai, lapanganrumput yang bersih, stop watch, formulir
pencatat hasil, alat tulis.
o Pelaksanaan : Subyek berbaring diatas lantai/rumput kedua lutut ditekuk
± 90º. Kedua tangan dilipat dan diletakan dibelakang
kepala dengan jari tangan saling berkaitan dan kedua
lengan menyentuh lantai. Salah seorang teman subyek
membantu memegang dan menekan kedua pergelangan
kaki agar kaki subyek tidak terangkat. Pada aba-aba “ya”
kedua sikunya menyentuh paha kemudian kembali
kesikap semula. Lakukan gerakan itu berulang-ulang
cepat tanpa istirahat dalam waktu 30 detik.
o Diulangi jika : Kedua lengan lepas, sehingga kedua jari-jarinya tidak
terjalin, kedua lutut ditekuk lebih dari 90º, dan kedua siku
tidak menyentuh paha.
Gambar 3.4 Baring Duduk (Sit Up)
4) Tes loncat tegak
o Tujuan : Mengukur daya ledak tenaga eksplosif otot tungkai
o Alat/fasilitas : dinding yang rata dan lantai yang rata serta cukup luas,
55
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
satuan sentimeter yang digantung pada dinding dengan
ketinggian jarak antara latai dengan angka 0(nol) pada
papan sekala ukuran 150 cm, serbuk kapur dan alat
penghapus, formulir pencatat hasil
o Pelaksanaan : subyek berdiri tegak dekat dinding, kedua kaki papan
dinding berada disamping tangan kiri atau kanannya.
Kemudian tangan yang berada dekat dengan dinding
diangkat lurus ke atas telapak tangan ditempelkan pada
papan bersekala, sehingga meninggalkan bekas raihan jari.
Kedua tangan lurus berada disamping badan kemudian
subyek mengambil sikap awalan dengan membengkokan
kedua lutut dan kedua tangan diayun kebelakang,
kemudian subyek meloncat stinggi mungkin sambil
menepuk papan bersekala dengan tangan terdekat dengan
dinding. Sehingga meninggalkan bekas raihan pada papan
bersekala. Tanda ini menampilkan tinggi raihan loncatan
subyek tersebut, subyek diberi kesempatan melakukannya
tiga kali loncatan.
o Skor : Ambil raihan tertinggi dari ketiga loncatan tersebut
sebagai hasil tes loncat tegak. Hasil loncat tegak diperoleh
dengan cara hasil raihan tertinggi dari salah satu loncatan
56
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Gambar 3.6 Vertical Jump
5) Tes lari 600 meter (lari jarak sedang)
o Tujun : Mengukur daya tahan (cardio respiratoty endurance)
o Alat/fasilitas : Lintasan lurus, rata, tidak licin ada garis start dan finish,
peluit, Stop watch, Bendera start dan tiang pancang
o Pelaksanaan : Subyek berdiri dibelakang garis start dengan sikap berdiri,
aba-aba “ya” dan subyek lari menuju garis finish dengan
menempuh jarak 600 meter.
o Diulang jika : Pelari mencuri start, pelari terganggu
oleh pelari lainya
o Skor : Skor hasil test yaitu waktu yang dicapai pelari dalam jarak
600 meter. Waktu dicatat dalam waktu sepersepuluh detik.
Gambar 3.7 Lari 600 meter (Lari jarak Sedang)
2. Instrumen Angket Motivasi
a. Penyusunan Variabel Motivasi
Dalam tes motivasi ini penulis mengambil model dari ARCS Keller (2008,
175–185) First principles of motivation to learn and e3-learning. Ada empat kategori/ aspek yang mewakili yaitu Perhatian, relevansi, percaya diri, dan
kepuasan. Kemudian mengambil satu aspek dari Maslow (1943;1970) who
57
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dari Weinberg (1995) Three theories have envolved over the years to explain what
motivates people to act (Need Achievement).
b. Sub Indikator Instrument Motivasi
Dari ke tiga teori yang menjadi variable instrument motivasi tersebut diatas,
maka penulis menjadikan sub indikator, menjadi enam sub indikator, diantaranya:
1) Perhatian,
2) Relevansi,
3) Percaya diri,
4) Kepuasan,
5) Aktulisasi diri,
6) Kebutuhan berprestasi,
b. Penyusunan Sub Indikator Menjadia Aspek motivasi
Dalam penyusunan aspek motivasi peneliti mengambil ke enam sub
indikator tersebut dan membuat pernyataan yang sesuai dengan pernyataan dari
sub indikator tersebut, kemudian dari setiap sub indikator peneliti membuat dua
aspek pernyataan motivasi yang sesuai dengan pernyataan dari sub indikator
tersebut.
Sub indikator perhatian telah dibuat dua pernyataan aspek motivasi yaitu
perhatian dalam mengikuti pelajaran, dan semangat dalam mengikuti PBM
(Proses Belajar Mengajar). Sub indikator relevansi menjadi dua pernyataan yaitu
belajar sesuai keinginan, dan mendapatkan manfaat yang diinginkan. Sub
indikator percaya diri menjadi dua pernyataan yaitu sikap terhadap kesulitan, dan
usaha mengatasi kesulitan. Sub indikator kepuasan menjadi dua pernyataan yaitu
mendapat kesenangan dalam pembelajaran, dan mendapat kepuasan setelah
belajar. Sub indikator aktualisasi diri menjadi dua pernyataan yaitu ketekunan
berlatih, dan menggunakan kesempatan diluar jam pembelajaran. Sub indikator
kebutuhan berprestasi menjadi dua pernyataan yaitu keinginan untuk berprestasi
dan, keyakinan untuk berprestasi. Dari sub indikator tersebut peneliti membuat
58
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Tabel 3.2.
Aspek motivasi yang sudah dibagi menjadi dua pernyataan tersebut dibagi
menjadi beberapa pertanyaan positif, yakni dua bermakana (+) dan dua lainya
pertanyaan bermakna negatif ( - ), dengan mengacu kepada aspek motivasi agar
pertanyaan sesuai dengan aspek yang dibuat. Sehingga terdapat kurang lebih 50
butir pertanyaan dalam bentuk angket yang akan diuji validitas dan reabilitasnya.
59
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
penulis menggunakan system acak agar tidak mudah terbaca oleh sampel, dan
diharapkan mendapatkan hasil yang baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
lampiran hal.115.
d. Uji Coba angket
1) Sampel Uji Coba Instrumen Penelitian
Sampel yang digunakan dalam uji coba instrumen penelitian ini adalah
siswa SD kelas VI SD Negeri Padasuka 5 Bandung yang tidak dijadikan sampel
penelitian
2) Waktu dan Tempat Uji Coba Instrumen Penelitian
Pelaksanaan uji coba instrumen penelitian ini dilaksanakan:
Hari dan Tgl/ waktu : Rabu, 25 februari 2014 pukul 08.00 WIB – selesai.
Tempat : SD Negeri Sukajadi 5 Bandung.
Butiran pertanyaan angket motivasi yang telah disusun di uji cobakan
kepada anak sekolah dasar dengan kelas yang sama namun berbeda sekolah tapi
dengan daerah yang sama, yaitu di SD sukajadi 7 Bandung. Setelah pengisian
angket untuk uji coba selsai, maka angket tersebut akan dihitung uji validitasnya
dan reliabilitasnya.
3) Uji Validitas
Agar memudahkan dalam proses perhitungan statistik peneliti menggunakan
perhitungan menggunakan SPSS versi 20 dan untuk melihat hasilnya dapat dilihat
dilampiran. Untuk menentukan instrumen itu valid atau tidak dengan melihat tabel
nilai-nilai r yang dapat dilihat dilampiran. Untuk mengetahui tiap item tes tersebut
valid atau tidak valid dengan membandingakan hasil perhitungan corrected item-
total correlation (rhitung) dengan rtabel. Dengan signifikansi untuk α = 0,05 dengan
nilai r = 0,284. Berikut kaidah keputusannya jika rhitung> dari nilai rtabel berarti
valid dan jika rhitung< dari rtabel berarti tidak valid. Berikut kaidah keputusannya
60
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Berikut tabel hasil dari uji validitas instrumen yang telah dilakukan :
61
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Berdasarkan hasil perhitung diatas sebanyak 30 item butir tes dinyatakan
valid, maka item tes tersebut digunakan sebagai instrumen penelitian.
4) Hasil Uji Reliabilitas
Agar memudahkan dalam proses perhitungan statistik peneliti menggunakan
perhitungan menggunakan SPSS versi 20, prosedur dalam penghitung dengan
SPSS yaitu pertama memasukan data tiap butir item yang sudah valid sebanyak 30
item butir tes kedalam menu data view, kemudian klik analysis-scale-reliability
analysis dan untuk melihat hasilnya dapat dilihat dilampiran halaman 120.
Berikut tabel hasil dari uji validitas instrumen yang telah dilakukan:
Tabel 3.4.
Uji Reliabiltas Instrumen
Cronbach's Alpha N of Items
,865 50
Berdasarkan hasil tabel 3.3 tersebut terlihat nilai Cronbac’s Alpha 0.865
atau 86.5% atau lebih dari 0.60 atau 60% artinya instrumentini reliabel.
E. Prosedur Penelitian
1. Pelaksanaan Penelitian Instrumen Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SD kelas V SD Negeri 9 Sukajadi
62
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Tes Instrumen Penelitian
Alat ukur instrument penelitian meliputi empat alat ukur yaitu Tes Kebugaran
Jasmani dan Angket Motivasi Belajar.
3. Waktu dan Tempat Tes Penelitian
Pelaksanaan tes instrumen penelitian ini dilaksanakan:
SD Negeri 9 Sukajadi Bandung
- Hari dan Tgl/ waktu : Selasa, 25 februari 2014 pukul 08.00 WIB s/d Rabu, 26 Februari WIB.
- Tempat : SD Negeri Sukajadi 9 Bandung.
Sekolah Alam Bandung (SAB)
- Hari dan Tgl/ waktu : Senin, 3 Maret 2014 pukul 08.00 WIB Selasa, 4 Maret WIB.
- Tempat : SD Negeri Sukajadi 9 Bandung.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang diperlukan disini adalah teknik
pengumpulan data yang paling tepat, sehingga benar-benar di dapat data valid dan
relevan. Teknik yang diterapkan dakam mengumpulkan data dalam penelitian ini
dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Pembuatan rancangan penelitian.
Langkah- langkah dalam tahap ini yaitu memilih masalah, pendahuluan,
perumusan masalah, perumusan anggapan dasar, pemilihan metode
pendekatan, dan menentukan variabel dan sumber data.
b. Pelaksanaan penelitian
Dalam tahap ini yaitu menentukan dan menyusun instrumen, melakukan tes
pengumpulan data, analisis data dan menarik kesimpulan
c. Pembuatan laporan penelitian
Pada tahap ini peneliti menulis laporan sesuai dengan data yang telah
63
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu G. Teknik Analisis Data
Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis secara kuantitatif melalui
perhitungan statistik. Namun untuk menambah pemahaman maka penelitian ini
dilengkapi dengan paparan data secara kualitatif, yaitu data bentuk pemaparan
atau uraian deskriptif analisis.
1) Pengolahan Data Hasil Penelitian
Untuk menganalisa data yang sudah diperoleh penulis menggunakan
software SPSS Version.20. rumus sebagai berikut:
a. Data Kebugaran Jasmani dan Motivasi belajar, yang telah terkumpul diolah
dan dianalisis dengan statistik, antara lain dilakukan penghitungan nilai
rata-rata, standar deviasi dan pengujian persyaratan normalitas dan homogenitas.
Adapun langkah-langkah penghitunganya normalitas adalah sebagai berikut :
1) Masukan data dalam bentuk tabel ke SPSS dengan susunan vertikal ke bawah
didata view. Pada data pengisisan sheet tab Variable View
- Pada cell name diisi sesuai kasus Pada penelitian ini diisi dengan item tes
kebugaran jasmani untuk sekolah alam dan reguler, utuk kolom measure
pilih Scale. kolom yang lainnya dibiarkan saja.
2) Pengolahan data dengan SPSS
- Setelah pengisian sheet tab selesai maka pada data view akan tampil
kolom dengan item tes yang diisikan sebelumnya. Selanjutnya;
- Dari menu utama SPSS, pilih menu Analyze Descriptive stastistics
explore
- Untuk pengisian Dependent list yang akan di uji masukan variabel item
tes kebugaran jasmani sekolah alam, factor list masukan item tes
kebugaran jasmani sekolah regular.
- Untuk pilihan statistics tidak perlu diubah, untuk pilihan Plots pilih none
pada Boxplots. Checklist pada Normality Plots With Tests. Pilih dan klik
power estimation pada Spread Vs Level with levene tests. Lalu tekan
continue.
64
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
b. Setelah data normal baru dilanjutkan dengan pengujian homogenitas setelah
itu ada inferensi uji parametrik dan untuk membandingakan dua sampel yang
berbeda maka Melakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan teknik
analisis Uji beda (independen simpel t-tes), pada taraf signifikansi α = 0,05
dan jika terdapat interaksi maka dilanjutkan dengan Kolmogorov-smirnov test.
Adapun langkah-langkah perhitungannya sebagai berikut:
1) Masukan data dalam bentuk tabel ke SPSS dengan susunan vertikal kebawah
di data view. Pada data pengisisan sheet tab Variable View
- Pada cell name diisi sesuai kasus (contoh: motivasi). Pada penelitian ini
diisi dengan nama pada row 1) motivasi, row 2) keterangan dengan 1
untuk sekolah alam dan 2 untuk sekolah reguler. Value label diisikan
sekolah alam dan sekolah reguler.
2) Pengolahan data dengan SPSS
- Dari menu utama SPSS, pilih menu Analyze Compare Means
Independent Sample T- test
- Untuk pengisian test variable (s) yang akan di uji masukan variabel
motivasi, dan pada kolom Grouping Variable isikan Keterangan dengan
Define Groups 1 untuk line 1 dan dua untuk line 2. Abaikan kolom lain.
3) Kemudian tekan OK
c. Analisis dan Deskripsi Data
Dalam analisis dan deskripsi data yang dilakukan adalah menganalisa serta
mendeskripsikan angka-angka yang ada dari hasil penghitungan statistik.
Untuk penelitian ini peneliti menggunakan uji independen sampelt-tes untuk
membandingkan kedua kelompok sekolah tersebut. Selain itu, analisis
didasarkan pada hipotesis yang dibuat untuk dapat memaknai nilai dan angka
yang dihasilkan dari penghitungan statistik.
Ket:
A1B1 = Hasil kebugaran jasmani dari siswa sekolah alam
A2B1 = Hasil kebugaran jasmani dari siswa sekoloah alam
A1B2 = Hasil motivasi belajar dari siswa sekolah reguler
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data melalui proses pengolahan
berdasarkan prosedur statistika, dan seperti yang telah dijabarkan pada bab
sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan dari hasil penelitian
tersebut. Hal ini didasarkan pada beberapa fakta dan data yang ada yang penulis
peroleh dilapangan. Adapun kesimpulannya adalah: “Kebugaran jasmani dan
motivasi belajar sekolah alam lebih baik dari pada siswa sekolah reguler”.
Berdasarkan hipotesis yang di ajukan dapat di simpulkan bahawa:
1. Kebugaran jasmani siwa sekolah alam lebih baik daripada siswa sekolah
regular.
2. Motivasi belajar siwa sekolah alam lebih baik daripada siswa sekolah regular.
3. Kebugaran jasmani dan motivasi belajar siswa sekolah alam lebih baik
dibandingkan dengan siswa sekolah reguler.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa hal yang
akan penulis sampaikan sebagai masukan dan saran sebagai berikut:
1. Sekolah alam dengan gaya dan metode pembelajaran yang lebih menekankan
pada active learning gerak anak bisa mendapatkan hasil yang positif bagi
Perkembangan Jasmani dan Motivasi Belajar serta yang lainnya, maka peneliti
menyarankan agar metode sekolah alam bisa dijadikan masukan dan referensi
bagi pendidikan Indonesia.
2. Sekolah alam cocok untuk daerah di perkotaan dengan desain menggunakan
lapangan terbuka yang masih asri untuk sekolahnya, agar tercapai visi dan
misi dari sekolah tersebut, namun tidak menutup kemungkinan untuk
mendirikan didaerah pedesaan dengan menekankan pada proses
77
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3. Meskipun banyak kelebihan sekolah alam juga mempunyai banyak
kekurangan disisi lainya, begitu juga dengan sekolah regular, dan bagi para
pakar pendidikan yang akan meneliti lebih lanjut disarankan meneliti bagian
lain yang belum diteliti agar semakin banyak informasi yang diberikan kepada
pembaca. Demikian kesimpulan dan saran yang dapat penulis sampaikan
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Abduljabar Bambang (2011) Pedagogi Olahraga. Bandung: FPOK-UPI
Abdulkadir Ateng. (1992), Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Abu Ahmadi, Widodo Supriyono, 2004. Psikologi Belajar. PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Allina. tersedia di situs www.acehinstitute.org/index.php yang di akses pada tanggal 8 januari 2010.
Arikunto, Suharsimi (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta.
Chee Keng John Wang et.al. Journal of Adventure Education and Outdoor Learning Vol 4(1), 57 - 65, 2004.
Carlson A et.al. (2008). Physical Education and Academic Achievement in Elementary School: Data From the Early Childhood Longitudinal Study April 2008, Vol 98, No. 4 | American Journal of Public Health
Cottrell S & Cottrell J (2005). Benefits of Outdoor Skills to Health, Learning and Lifestyle: Literature Review. Colorado State University, USA. Estonia
Departemen Pendidikan Nasional (2003) Kurikulum 2004 Pendidikan Jasmani SMP dan MTS, Jakarta: Depdiknas
Dimyati dan Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, S.B, (2006), Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta.
Djamarah S.B (1994) Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Rineka Cipta, Jakarta
Gallahue (1989) Motor Development A theoretical Model. www.mhhe.com
79
Dicky Oktora Mudzakir, 2014
Perbandingan Kebugaran Jasmani Dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Alam Dan Siswa Sekolah Reguler
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Ginsberg & wlodkowski (1009). Diversity and Motivation. HB printing, United States of America.
Grissom B.J. Physical Fitness And Academic Achievement, Journal Of Exercise Physiologyonline (Jeponline) Volume 8 Number 1 February 2005.
Giriwijoyo, Santoso (2010) Ilmu faal Olahraga FPOK UPI Bandung
Hamalik (2007) Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Hamzah (2006) teori motivasi dan pengukurannya. PT. Bumi Aksara. Jakarta
Hidayat Yusuf. (2009). Psikologi Olahraga. Bandung : Waliartika.
Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan “Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan”. Jakarta: Erlangga.
Keller J.M (2008) First principles of motivation to learn and e3-learning. Florida State University, Tallahassee, FL, USA
Kahri Ma’ruf (2011) Pengaruh Pendidikan Jasmani Melalui Aktivitas Fisik
Bermain Terhadap Kebugaran Jasmani, Perkembangan Kemampuan Fisik Anak Dayak Laksodo Dengan Anak Kota Banjarmasin.” jurnal penelitian kebugaran jasmani. Edisik husus no 1, (1412-565X), 53-62.
Lutan, R dan Cholik, T. (1997). Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.
Maryati (2007). Sekolah Alam, Alternatif Pendidikan Sains Yang Membebaskan Menyenangkan. Jurdik Kimia, FMIPA, UNY
Makmun, Abin S. (1981). Psikologi Pendidikan. Bandung. FIP IKIP Bandung.
Martianah, Sri Mulyani. (1984). Disertasi : Motif Sosial Remaja Jawa dan Keturunan Cina Suatu Studi Perbandingan. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.
Metzler, Michael W. 2000. Instructional Models for Physical Education. Massachusetts: Allyn and Bacon, A Person Education Company.