• Tidak ada hasil yang ditemukan

Idn. J. of Legality of Law, 1(1), Des 2018, Halaman: 13-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Idn. J. of Legality of Law, 1(1), Des 2018, Halaman: 13-19"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

13

Indonesian Journal of Legality of Law

ISSN : 2477-197X https://postgraduate.universitasbosowa.ac.id/

PERAN UNIT IV PPA POLDA SULAWESI SELATAN DAN PGRI PROVINSI SULAWESI SELATAN DALAM MELAKSANAKAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP GURU

YANG TIDAK BISA DIPIDANA DALAM PELAKSANAAN TUGASNYA DENGAN METODE ESTORATIVE JUSTICE

The Role of Unit IV PPA Regional Police of Province, Sulawesi Selatan and Teachers Association of Indonesia Branch Province, South Sulawesi in Implementing the Supreme Court Decision on Teachers

That Cannot Be Convicted In The Implementation Of Its Duty With the Restorative Justice Method

Awaluddin Kadriah1, Marwan Mas2, Yulia A. Hasan2

1Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Bosowa

2 Prodi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Bosowa

Email: [email protected] Diterima 13 Juli 2018/Disetujui 6 Desember 2018

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran penyidik kepolisian dan organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam melaksanakan keadilan restoratif terhadap guru yang berhadapan dengan hukum dalam pelaksanaan tugasnya, apakah telah sesuai dengan yurisprudensi mahkamah agung tentang guru yang tidak bisa dipidana dalam pelaksanaan tugasnya untuk mendidik, serta bagaimana pelaksanaan restorative justice terhadap guru di tahap pra adjukasi.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan data dari wawancara lapangan dan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Kepolisian dan PGRI Provinsi Sulawesi Selatan dalam penerapan Restorative Justice namun belum optimal, dIbuktikan dengan masih ada kasus guru yang tidak diselesaikan dengan jalan Restorative Justice pada tahap yang ada di kepolisian pada beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Instrumen yang digunakan masih berupa diskresi sehingga penggunaannya dapat berbeda antara satu penyidik dengan penyidik yang lainnya, pihak PGRI Provinsi Sulawesi Selatan dalam menjalankan fungsi vasilitatif bagi guru yang menghadapi proses hukum belum terkoordinasi di beberapa kabupaten, belum terbangun memorandum kesepahaman di tingkat provinsi dan kabupaten antara Polisi dan PGRI yang berada di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dalam penanganan terhadap guru yang menghadapi proses hukum akibat melaksanakan tugas mendidik, kesepakatan yang dibangun tersebut harus mempertimbangkan putusan mahkamah agung terhadap guru yang tidak bisa dipidana dalam pelaksanaan tugasnya untuk mendidik.

Kata Kunci: Restorative justice, guru, polisi, PGRI

ABSTRACT

This study aimed at determining the role of the Police and Indonesian Teachers Association (Persatuan Guru Republik Indonesia) of South Sulawesi in implementing Restorative Justice against teachers who are dealing with the law due to the implementation of sanctions in educating, whether it is in accordance with the Supreme Court jurisprudence about teachers who cannot be convicted in carrying out their duties to educate, and how to implement restorative justice for teachers in the pre-adjudication stage in criminal justice system. The research method used was descriptive analysis with data from field interviews and literature. The study concluded that the role of the Police and PGRI in South Sulawesi in implementing Restorative Justice was not yet optimal, as evidenced by the fact that some cases of teachers were not resolved by Restorative Justice at the police stage in some areas in South Sulawesi. The instrument used was still in the form of discretion so that its use can differ from one investigator to another. PGRI in South Sulawesi in carrying out the facilitative function for teachers who are facing legal proceedings has not been coordinated in several districts and a memorandum of understanding has not yet been established at the provincial and district level between the Police and PGRI in South Sulawesi in handling teachers who face legal processes due to carrying out educational tasks. The agreement built must consider the Supreme Court's ruling on teachers who cannot be convicted in carrying out their duties to educate.

Keywords: Restorative justice, teacher, police, PGRI

(2)

14 1. PENDAHULUAN

Seorang guru dituntut untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendidik, mengajar, membimbing, meng- arahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Normor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Oleh karena itu, dalam pelaksanaan profesi guru, dibutuhkan peraturan yang lebih jelas dalam perlindungan terhadap guru. Karena tujuan dari pelaksanaan pendisiplinan ini sendiri bukan untuk menurunkan harkat dan martabat anak, tetapi justru untuk membentuk karakter dan menjauh- kan kebiasaan buruk dari anak. Hak anak untuk men- dapatkan pendidikan yang layak hanya dapat dicapai dengan penciptaan kondisi pengajaran yang baik oleh guru, baik dengan pengajaran maupun penegakan disiplin.

Secara umum terdapat batasan dalam pelaksanaan disiplin yang tidak merusak dan melukai secara fisik dan psikis dari anak. Jika ditinjau dari tindak pidana umum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUH Pidana) tindakan pendisiplinan oleh guru untuk beberapa kasus seperti kasus guru yang mencubit anak polisi di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan pada hari kamis tanggal 12 mei 2016 sebenarnya dapat digolongkan kedalam tindak pidana ringan, namun Undang-Undang khusus tentang perlindu- ngan anak memberikan delik yang ancaman hukumannya minimal 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan penjara, sehingga tidak dapat dilaksanakan diversi oleh polisi dalam pe- nanganannya.

Perlindungan guru telah diatur di dalam Pasal 39 Undang-Undang Nomormormor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, perlindungan hukum dalam pelaksanaan tugas guru wajib diberikan baik oleh organisasi pemerintah, organisasi nonpemerintah dan masyarakat. Namun, jika menilik dari Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) menjelaskan bahwa anak harus dilindungi dari perlakuan dan tindakan kekerasan baik secara fisik maupun secara psikis. Ancaman hukuman yang ada di UUPA tersebut paling ringan adalah tiga tahun enam bulan, sedangkan dalam pelaksanaan di Indonesia hanya memberikan ruang untuk kasus tindak pidana ringan dan tindak pidana yang melibatkan anak sebagai pelaku.

Berkaca dari hal tersebut dIbutuhkan instrumen hukum yang lebih baru dalam perlindungan profesi guru dalam pelaksanaan tugasnya, agar ada dasar kesepakatan bersama baik dalam ukuran tindakan untuk mengukur berat ringan- nya tindakan guru dalam pendisiplinannya. Karena tujuan dari adalah memberikan keseimbangan dan pemenuhan terhadap rasa keadilan masyarakat baik dari sisi korban yaitu anak didik, maupun pelaku yaitu guru. Agar dalam pelak- sanaan penegakan disiplin dalam rangka pemenuhan hak pendidikan yang layak terhadap anak dapat dilaksanakan.

1.1. Rumusan Masalah

1. Apakah Penyidik kepolisian dan organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dapat berperan dalam melaksanakan keadilan restoratif terhadap guru yang berhadapan dengan hukum dalam pelaksanaan tugasnya?

2. Bagaimanakah implikasi putusan Mahkamah Agung terhadap guru yang dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pendidik, tidak boleh dipidana?

2. METODE PENELITIAN 2.1. Tipe Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka metode yang digunakan penulis adalah pendekatan normatif empiris. Dimana pendekatan yang dilakukan untuk menganalisis sejauh mana pelaksanaan putusan dan peratur- an perundang-undangan atau hukum yang berlaku dalam melaksanakan restorative justice terhadap guru yang ber- hadapan dengan hukum oleh Kepolisian dan PGRI di Provinsi Sulawesi Selatan.

2.2. Jenis dan Sumber Data.

Dalam hal jenis data, maka ada dua jenis data yang digunakan dalam penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh, berupa data kasus yang terjadi yang diambil dari data kepolisian dan penegak hukum lainnya, serta data dari instansi pe- merintah dan non pemerintah yang terkait, serta wawan- cara dengan stakeholder yang terkait. Data sekunder di peroleh dengan cara menelusuri dan melakukan analisis terhadap berbagai dokumen yang dapat berupa buku-buku, tulisan-tulisan serta berbagi peraturan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

2.3. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sarjono Sukamto, dalam penelitian lazim dikenal tiga jenis dan Sumber data, yaitu studi dokumen atau bahan pustaka, pengamatan atau observasi, dan wawancara atau interview (Amiruddin dan Azikin,2010:67)

Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan melakukan penelitian kepustakaan, baik yang bersumber dari berbagai data dan informasi yang di rilis oleh pe- merintah; tulisan para ahli dalam bentuk buku, jurnal, artikel lepas, newsletter; pengalaman para praktisi dan pe- ngambil putusan; kebijakan dan regulasi nasional dan internasional dan lain-lain.

Wawancara dilakukan pada penegak hukum yang me- laksanakan penanganan perkara guru yang dipidana akibat penerapan sangsi di sekolah, penegak hukum tersebut antara lain polisi yang bertugas di unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak. Lembaga terkait yang mendampingi guru, lembaga tersebut antara lain Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Biro Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Selatan (Biro PPPA Provinsi Sul-Sel), Dinas Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar (BPPPA Kota Makassar) dan Pusat Pe- layanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Makassar (P2TP2A).

2.4. Analisis Data.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil data kasus yang ada di Unit IV PPA Polda Sulawesi Selatan dan mengadakan wawancara (interview) dengan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian, serta menelaah dokumen- dokumen dan arsip-arsip yang ada kaitannya dengan objek penelitian.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Peran Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Sulawesi Selatan dalam Pelaksanaan Keadilan Restoratif Terhadap Guru yang Ber- hadapan Dengan Hukum.

Menurut Adriani Lilkay selaku Kanit IV PPA Polda Sul-Sel (Wawancara, tanggal 23 Agustus 2018), secara

(3)

15 umum terdapat dua jenis kasus yang melibatkan guru dan

murid, yang pertama kasus kekerasan/penganiayaan, yang kedua kasus asusila. Secara umum di Provinsi Sulawesi

Selatan, jumlah kedua jenis kasus dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Perbandingan Proses dan Jenis Tindak Pidana yang Dilaksanakan terhadap Guru yang Berhadapan dengan Hukum Di Wilayah Polda Sulawesi Selatan.

No Jenis tindak pidana KEKERASAN ASUSILA

Proses

1 P21 7 5

2 Damai 21 -

3 Tidak Cukup Bukti 2 3

4 Dalam Penyidikan 2 1

Total kasus 42

Sumber: Unit IV PPA Polda Sulawesi Selatan Tahun 2018 Tujuan dari pelaksanaan keadilan restoratif pada guru yang berhadapan dengan hukum akibat pelaksanaan disiplin bertujuan untuk mengambil jalan tengah dari dua kondisi yang ada, pertama bahwa pelaksanaan restorative justice tersebut tidak untuk kasus yang dianggap penyidik sebagai tindak pidana yang berat dan tidak bertujuan untuk men- didik para siswa, seperti pencabulan, pemerkosaan, tindak kekerasan yang menyebabkan akibat yang berkepanjangan.

Dari tabel 1, dapat dilihat bagaimana peran serta ke- polisian dalam pelaksanaan keadilan restoratif terhadap kasus guru. dari dari perbandingan antara kasus yang di- proses secara damai dan diteruskan (P21). Jumlah kasus yang diselesaikan secara damai totalnya duapuluh satu kasus, jumlah ini tinggi dibanding dengan proses pe- nanganan penyidikan yang diteruskan ke tahap selanjutnya (P21), yaitu tujuh kasus.

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan di dengan Budiman selaku Pembantu Penyidik Unit IV PPA Polda Sul-Sel (wawancara tanggal 21 Agustus 2018), mengatakan bahwa untuk menghentikan proses hukum yang tidak disebutkan didalam Pasal 109 Ayat 2 KUHAP peny- idik menggunakan kewenangan diskresi. Menurutnya ke- wenangan diskresi adalah kewenangan aparat penegak hukum melakukan tindakan lain yang bertanggung jawab.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan mewawan- carai Kanit IV PPA Polda Kompol Adriani (wawancara, tanggal 23 Agustus 2018) menyatakan bahwa bentuk dis- kresi Kepolisian dalam proses penyidikan terhadap guru, yaitu polisi dalam melakukan diskresi berkaitan dengan proses penyidikan dalam setiap tingkat penyidikan tidak dapat diputus sendiri namun berdasarkan pertimbangan- pertimbangan dari penyidik pembantu dan penyidik serta berdasarkan kebijaksanaan atau keputusan pimpinan atau pejabat yang lebih tinggi.

Budiman selaku Pembantu Penyidik Unit IV PPA Polda Sul-Sel (wawancara, tanggal 24 Agustus 2018) menyatakan bahwa kewenangan diskresi digunakan karena masyarakat yang meminta, dalam tindak pidana kekerasan terhadap murid yang dilakukan oleh guru, dapat dilakukan ke- wenangan diskresi jika pelaku dan keluarga korban telah sepakat melakukan perdamaian dan telah merasa adil dengan kesepakatan yang dilakukan.

Untuk menggambarkan bagaimana di kewilayahan Polda Sulawesi Selatan penggunaan instrumen hukum serta penye- lesaian perkara guru yang dilaporkan oleh murid, dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Perbandingan Penyelesaian Kasus Perwilayah Hukum Dengan Model Penyelesaian Dalam Rentang Waktu 2013- 2017

No Wilayah Hukum Damai Tidak cukup Bukti P21 Jumlah

1 Polrestabes 5 3 1 9

2 Maros 2 - - 2

3 Pare-Pare 3 - 1 4

4 Sinjai 1 - - 1

5 Bulukumba 2 - - 2

6 Pinrang 2 - 2 4

7 Luwu - - 1 1

8 Selayar - - 1 1

9 Wajo 1 - - 1

Jumlah 16 3 6 25

Sumber: Unit IV PPA Polda Sulawesi Selatan Tahun 2018 Dari data tersebut dapat dilihat kemiripan pelaksanaan di setiap wilayah Polda. Secara keseluruhan jumlah kasus yang selesai dengan cara damai terdapat enam belas kasus, untuk keseluruhan wilayah hukum. Jumlah kasus terbesar dalam penyelesaian secara damai ada pada wilayah Polrestabes

Kota Makassar. Hal ini dapat difahami bahwa sebagian besar kasus yang terjadi di Kota Makassar mudah untuk menjadi perhatian Publik, sehingga dapat dimungkinkan untuk banyak pihak yang terlibat. Menurut Kompol Adriani Lilkai (wawancara tanggal 23 Agustus 2018), kasus di

(4)

16 Kompol Budiman (wawancara, tanggal 27 Agustus 2018)

mengatakan bahwa mediasi penal dilakukan dengan langkah -langkah, antara lain: kesepakatan kedua pihak, kemudian pembuatan surat kesepakatan kedua pihak, penyidik tetap melakukan pemeriksaan saksi-saksi untuk keperluan ke- lengkapan Berkas Perkara, dan kemudian pencabutan Laporan Polisi.

3.2. Peran Persatuan Guru Republik Indonesia (PG- RI) dalam Pelaksanaan

Menurut Wakil Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak Asaf (wawancara tanggal 28 Agustus 2018) secara kelembagaan, ada dua lembaga internal PGRI yang aktif untuk melaksanakan pendampingan terhadap guru, yang pertama adalah lembaga konsultasi bantuan hukum (LKBH) PGRI. LKBH ini aktif untuk memberikan konsultasi kepada dengan guru yang mengalami proses hukum, termasuk kasus Bapak dasrul kemarin, pihak LKBH yang aktif untuk turun tangan menyelesaikan kasus tersebut.

Dari hasil wawancara dengan Prof. Sidin Ali (wawan- cara, tanggal 30 Agustus 2018), sebagai ketua Dewan guru Indonesia, menjelaskan bahwa sebe-narnya, peran awal dari Dewan Kehormantan Guru Indonesia, adalah penegakan kode etik. organisasi PGRI yang tentunya harus tampil lebih di awal untuk melakukan evaluasi dan verifkasi. Karena PGRI sebagai organisasi profesi tentunya lebih berkompeten melakukan evaluasi dan verifkasi. Uji profesional guru dan profesi yang lain hanya mungkin dilakukan oleh pihak yang memahami dan mendalami profesi tersebut. PGRI sebagai organisasi profesi, memiliki kewajiban membina dan me- lindungi dengan memakai pendekatan kode etik profesi keguruan. Disitulah filosofi dasar kenapa kemudian Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) dibentuk.

Menurut Prof. Sidin Ali (wawancara, tanggal 30 Agustus 2018). DKGI adalah perangkat kelengkapan organisasi PGRI yang dibentuk untuk menjalankan tugas dalam memberikan saran, pendapat, pertimbangan, penilaian, penegakan, dan pelanggaran disiplin organisasi dan etika profesi guru.

Peraturan tentang Dewan Kehormatan Guru Indonesia adalah pedoman pokok dalam mengelola Dewan Kehormat- an Guru Indonesia, dalam hal penyelenggaraan tugas dan wewenang bimbingan, pengawasan, dan penilaian Kode Etik Guru. Sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, Pasal 40-41 mengamanahkan untuk pembentukan kode etik dan pe- negakan kode etik kepada organisasi profesi, dalam hal ini salah satunya adalah PGRI.

Menurut Prof. Sidin Ali (wawancara, tanggal 30 Agustus 2018), Terkait dengan pedoman kerja antara Polri dan PGRI, hal tersebut telah lama dilakukan. Pada tahun 2013 juga telah dilakukan, yang terbaru adalah pedoman kerja yang dIbuat tahun 2017. Nota kesepahaman tersebut memuat peran penting Dewan Kehormatan Guru untuk memberikan penilaian terhadap tindakan yang dilakukan guru, terutama tindakan guru yang dapat dianggap sebagai tindak pidana.

Peran DKGI dalam pedoman kerja tersebut, telah diatur mulai dari tahap penyelidikan, sampai dengan tahap pe- nyidikan. Jika peran tersebut dimaksimalkan, tentunya tidak banyak kasus yang melibatkan guru yang harus dilanjutkan ke ranah pengadilan. Karena tugas DKGI adalah untuk memberi pertimbangan dan penilaian terhadap tindakan guru, apakah dalam ranah pelaksanaan tugas dan fungsi pendidikan atau tidak, apakah perbuatan tersebut berlebihan

atau tidak. Namun jarang sekali kemudian pihak DKGI dilibatkan sejak awal pelaksanaan proses perkara guru di ke- polisian. Indikatornya sederhana saja, karena masih banyak guru yang mengalami pemidanaan. Seperti di Kabupaten Bantaeng yang terpaksa menjalani pidana penjara satu tahun dan di Kabupaten Pare-pare yang mengalami pidana penjara tiga bulan.

3.3. Pelaksanaan Putusan Hakim, Terhadap Guru Yang Tidak Bisa Dipidana Akibat Pelaksanaan Tugasnya Dalam Menegakkan Disiplin Di Sekolahdi Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada Tabel 2, terdapat 7 (tujuh) kasus yang di lanjutkan ke pengadilan, dari tujuh kasus tersebut, yang menjadi sorotan masyarakat di media adalah kasus di Kota Pare-Pare dan Kabupaten Selayar, dua kasus tersebut sebagaimana wawancara dengan Adriani selaku Kanit PPA Polda Sul-Sel (wawancara,tanggal 23 Agustus 2018) menjelas- kan bahwa ke dua kasus tersebut diputus dengan pidana penjara, untuk kasus di Kabupaten Pare-Pare diputus dengan pidana penjara 3 (tiga) bulan, sedang di Kabupaten Selayar 3 (tiga) bulan. Tentu putusan tersebut jauh berbeda dengan pertimbangan yang ada didalam putusan Mahkamah Agung terhadap kasus Guru Aop Saopuddin, perbedaan tersebut tentunya dimungkinkan karena tiap hakim memiliki per- timbangan tersendiri terhadap kasus yang ditangani. Namun penting tetap mempertimbangkan bagaimana putusan hakim terhadap kasus Aop Saopuddin yang mengandung norma bahwa guru yang melaksanakan tugasnya tidak dapat dipidana, dan putusan dalam kasus Aop Saopuddin adalah tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, yang berarti putusan bebas atau vrijspraak. Sehingga jika memang perbuatan seorang guru bertujuan untuk mendidik se- bagaimana tugasnya seharusnya seorang guru tidak di pidana menurut pertimbangan hakim mahkamah agung yang menangani kasus Aop Saopuddin. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk membantu para penyidik dan hakim yang menangani kasus guru yang dilaporkan akibat pelaksanaan tugas mendidiknya, agar mendapatkan per-timbangan dari profesional untuk menilai kasus dari guru apakah masih dalam koridor pendidikan atau tidak, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pelaksanaan Pedoman Kerja Antara Persatuan Guru Republik Indonesia Dengan Ke- polisian Negara Republik Indonesia NOMOR : 182/Pks/

PB/XXI/2017 dan NOMOR : B/106 /XI/2017 Tentang Perlindungan Hukum Profesi Guru.

Untuk melihat pelaksanaan dari pedoman kerja tersebut, dapat dilihat dari peran PGRI di provinsi Sulawesi Selatan.

Peran dari PGRI dari kedua yang disebutkan di paragraf sebelumnya, menurut Asaf Selaku wakil Ketua PGRI Provinsi Sul-Sel (wawan-cara tanggal 28 Agustus 2018) dalam bentuk pendampingan. Apabila kita menilik peran dari PGRI dalam kesepakatan bersama antara Polri dan PGRI, seharusnya sesuai dengan bagian D. Penegakan Hukum terhadap Profesi Guru, Pada Angka 1. Huruf b, angka 1) Huruf c) pada Pedoman Kerja Tersebut dijelaskan bahwa “Polri dalam menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dengan tindakan guru dalam melaksanakan tugas profesinya berkoordinasi dengan DKGI PGRI, kecuali dalam keadaan tertentu dapat melakukan tindakan peng- amanan terhadap guru dan seterusnya berkoordinasi dengan DKGI PGRI”, dimana koordinasi antara pihak kepolisian dan DKGI PGRI dapat berbentuk rekomendasi, rekomen-

(5)

17 dasi ini apabila berbentuk hasil keputusan kode etik akan

menerangkan apakah guru bersalah dan tidak bersalah, jika bentuk rekomendasi ini dipertimbangkan sejak awal pe- nyelidikan dan penyidikan dapat membantu di tiap tahap proses peradilan pidana untuk menilai perbuatan guru apakah bertujuan untuk mendidik atau tidak. Jika putusan kode etik dapat menjelaskan bahwa tindakan guru dalam tujuan mendidik dan tidak berlebihan dalam menegakkan disiplin, pertimbangan tersebut memberi ruang untuk polisi sejak awal, baik tingkat penyelidikan untuk tidak me- ningkatkan ke tahap penyidikan, sedang jika telah di- tingkatkan, dapat menjadi pertimbangan polisi untuk menerbitkan SP3 atau SP2HP A5. Jika kondisi yang ada membuat pertimbangan kepolisian untuk melanjutkan ke tahap dua dan P21, maka di tingkat pengadilan, hakim dapat mempertimbangkat dua hal, yang pertama putusan mah- kamah agung tentang aop saopuddin, dan yang kedua pertimbangan dari putusan kode etik tersebut. Sehingga saat di putus, walaupun telah secara sah dan meyakinkan, namun ada pertimbangan bagi hakim untuk memberikan alasan pembenar bagi guru, yang kesemuanya tergantung kembali kepada hakim. Jika hakim mempertimbangkan putusan Mahkamah Agung terhadap kasus Aop saopuddin, maka sejak awal guru dapat bebas demi hukum dan tidak lagi dapat dilakukan upaya hukum. Sedang jika dipertimbangkan adalah sidang kode etik oleh hakim, maka setidaknya hakim dapat mempertimbangkan untuk memberikan alasan pembe- naran terhadap kasus tersebut, atau setidaknya meringankan putusan dari kasus tersebut.

3.4. Kebijakan Hukum Dalam Merespon Putusan Putu- san Hakim, Terhadap Guru Yang Tidak Bisa Di- pidana Akibat Pelaksanaan Tugasnya Dalam Me- negakkan Disiplin Di Sekolahdi Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebelum dibentuknya Undang-Undang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pelaksanaan penegakan disiplin di sekolah oleh guru tidak pernah menjadi bagian dari penegakan hukum, namun setelahnya menjadi perhatian yang besar di Indonesia. Dari beberapa kejadian yang terjadi banyak guru yang harus menjalani proses hukum akibat dari proses penegakan disiplin.

Dalam bagian pertimbangan hakim di putusan terhadap Aop Saopuddin tersebut, hakim memperhatikan pasal 191 ayat (1) KUHAP yang berbunyi “Jika pengadilan ber- pendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas”. Sehingga menurut penulis, hakim cenderung me- lihat kasus Aop Saopuddin bukan merupakan suatu tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. Dari tabel 2, terdapat 7 (tujuh) kasus yang di lanjutkan ke pengadilan, dari tujuh kasus tersebut, yang menjadi sorotan masyarakat di media adalah kasus di Kota Pare-pare dan Kabupaten Selayar, dua kasus tersebut sebagaimana wawancara dengan Adriani selaku Kanit PPA Polda Sul-Sel (wawancara, tanggal 23 Agustus 2018) menjelaskan bahwa ke dua kasus tersebut diputus dengan pidana penjara, untuk kasus di Kabupaten Pare-Pare diputus dengan pidana penjara 3 (tiga) bulan, sedang di Kabupaten Selayar 3 (tiga) bulan. Tentu putusan tersebut jauh berbeda dengan pertimbangan yang ada didalam putusan Mahkamah Agung terhadap kasus Guru Aop Saopuddin, perbedaan tersebut tentunya dimungkinkan

karena tiap hakim memiliki pertimbangan tersendiri ter- hadap kasus yang ditangani. Namun penting tetap mem- pertimbangkan bagaimana putusan hakim terhadap kasus Aop Saopuddin yang mengandung norma bahwa guru yang melaksanakan tugasnya tidak dapat dipidana, dan putusan dalam kasus Aop Saopuddin adalah tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, yang berarti putusan bebas atau vrijs- praak. Sehingga jika memang perbuatan seorang guru bertujuan untuk mendidik sebagaimana tugasnya seharusnya seorang guru tidak di pidana menurut pertimbangan hakim mahkamah agung yang menangani kasus Aop Saopuddin.

Oleh karena itu perlu ada usaha untuk membantu para penyidik dan hakim yang menangani kasus guru yang dilaporkan akibat pelaksanaan tugas mendidiknya, agar me- napatkan pertimbangan dari profesional untuk menilai kasus dari guru apakah masih dalam koridor pendidikan atau tidak, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pe- laksanaan Pedoman Kerja Antara Persatuan Guru Republik Indonesia Dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia NOMOR: 1: B/106 /XI/2017 Tentang Perlindungan Hukum Profesi Guru.

Untuk melihat pelaksanaan dari pedoman kerja tersebut, dapat dilihat dari peran PGRI di provinsi Sulawesi Selatan.

Peran dari PGRI dari kedua yang disebutkan di paragraf se- belumnya, menurut Asaf Selaku wakil Ketua PGRI Provinsi Sul-Sel (wawan 82 /Pks/PB/ XXI/2017 dan NOMOR cara tanggal 28 Agustus 2018) dalam bentuk pendampingan.

Apabila kita menilik peran dari PGRI dalam kesepakatan bersama antara Polri dan PGRI, seharusnya sesuai dengan bagian D. Penegakan Hukum terhadap Profesi Guru, Pada Angka 1. Huruf b, angka 1) Huruf c) pada Pedoman Kerja Tersebut dijelaskan bahwa “Polri dalam menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dengan tindakan guru dalam melaksanakan tugas profesinya berkoordinasi dengan DKGI PGRI, kecuali dalam keadaan tertentu dapat melakukan tindakan pengamanan terhadap guru dan seterusnya ber- koordinasi dengan DKGI PGRI”, dimana koordinasi antara pihak kepolisian dan DKGI PGRI dapat berbentuk re- komendasi, rekomendasi ini apabila berbentuk hasil ke- putusan kode etik akan menerangkan apakah guru bersalah dan tidak bersalah, jika bentuk rekomendasi ini dipertim- bangkan sejak awal penyelidikan dan penyidikan dapat membantu di tiap tahap proses peradilan pidana untuk menilai perbuatan guru apakah bertujuan untuk mendidik atau tidak. Jika putusan kode etik dapat menjelaskan bahwa tindakan guru dalam tujuan mendidik dan tidak berlebihan dalam menegakkan disiplin, pertimbangan tersebut memberi ruang untuk polisi sejak awal, baik tingkat penyelidikan untuk tidak meningkatkan ke tahap penyidikan, sedang jika telah ditingkatkan, dapat menjadi pertimbangan polisi untuk menerbitkan SP3 atau SP2HP A5. Jika kondisi yang ada membuat pertimbangan kepolisian untuk melanjutkan ke tahap dua dan P21, maka di tingkat pengadilan, hakim dapat mempertimbangkat dua hal, yang pertama putusan mah- kamah agung tentang aop saopuddin, dan yang kedua pertimbangan dari putusan kode etik tersebut. Sehingga saat di putus, walaupun telah secara sah dan meyakinkan, namun ada pertimbangan bagi hakim untuk memberikan alasan pembenar bagi guru, yang kesemuanya tergantung kembali kepada hakim. Jika hakim mempertimbangkan putusan Mahkamah Agung terhadap kasus Aop saopuddin, maka sejak awal guru dapat bebas demi hukum dan tidak lagi

(6)

18 dapat dilakukan upaya hukum.Sedang jika dipertimbang-

kan adalah sidang kode etik oleh hakim, maka setidak- nya hakim dapat mempertimbangkan untuk memberikan alasan pembenar terhadap kasus tersebut, atau setidaknya meringankan putusan dari kasus tersebut.

Dari data diatas ada beberapa hal yang mendasari pihak penyidik untuk melaksanakan hukum restoratif terhadap beberapa kasus dimana guru dilaporkan oleh muridnya, yaitu:

1. Telah terjadi perdamaian antara kedua belah pihak, yaitu guru dan keluarga murid.

2. Tindakan dari guru tersebut bertujuan untuk mendidik.

3. Tindakan dari guru tersebut tidak menyebabkan akibat yang berkepanjangan bagi murid.

4. Perbuatan guru tersebut bukan perbuatan asusila.

Senada dengan hal tersebut, Kanit IV Perlindungan Perempuan Dan Anak Polda Sulawesi Selatan, Adriani Lilkay, juga menjelaskan bahwa jika perbuatan tersebut ter- masuk kategori yang disebutkan diatas, maka pihaknya juga berusaha memediasi agar kejadian antara guru dan murid tidak sampai harus ke ranah hukum, atau dilakukan kegiatan nonlitigasi sebagai bagian dari restorative justice.

3.5. Kendala Dalam Pelaksanaan Putusan Hakim, Ter- hadap Guru Yang Tidak Bisa Dipidana Akibat Pelaksanaan Tugasnya Dalam Menegakkan Disiplin di Sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan.

Ada Beberapa kendala yang dialami dalam pelaksanaan restorative justice terhadap guru yang berhadapan dengan hukum akibat pelaksanaan disiplin di sekolah di provinsi Sulawesi Selatan, dari data diatas kendala yang paling umum, bahwa tidak ada keterpaduan dalam menangani persoalan guru yang mengalami tuntutan hukum akibat pelaksanaan disiplin disekolah, hal ini salah satunya di- sebabkan karena tidak adanya peraturan yang dapat menjadi acuan bersama dalam penanganan kasus guru yang me- ngalami tuntutan hukum akibat pelaksanaan disiplin. Ke- terpaduan ini dibutuhkan agar dapat mempercepat penye- lesaian masalah, imbas dari masalah guru yang mengalami tuntutan hukum yang tidak cepat diselesaikan, adalah ter- hambatnya proses pendidikan yang menjadi tanggung jawab dari guru tersebut, sehingga keterpaduan penanganan bertujuan untuk menjaga hak siswa lainnya untuk tetap mendapatkan pendidikan tanpa mengalami hambatan.

Salah satu hambatan untuk melaksanakan restorative justice terhadap guru yang mengalami tuntutan hukum akibat pelaksanaan disiplin disekolah adalah tidak tercapai- nya jalan mediasi akibat dari keluarga murid yang tidak menginginkan untuk membuat perjanjian damai, perjanjian damai ini sangat penting untuk menjadi pertimbangan polisi untuk melaksanakan diskresi dengan tidak melanjutkan perkara tersebut ke kejaksaan. Disebabkan oleh Undang- Undang Perlindungan Anak yang menganut toleransi nol terhadap setiap bentuk kekerasan terhadap anak dengan ancaman hukuman lebih dari 3 (tiga) tahun penjara. Apabila tidak ada perjanjian damai, maka polisi tidak mempunyai dasar untuk tidak melanjutkan kasus tersebut ke kejaksaan, dimana jika telah sampai ke tahap selanjutnya, maka restorative justice mengalami kendala untuk dilaksanakan.

Karena untuk restorative justice terbatas hanya dapat di- laksanakan di peradilan salah satunya yaitu tindak pidana ringan, yang ancaman hukumannya dibawah 1 (satu) tahun dan nilai kerugiannya tidak lebih dari Rp. 2.500.000 (dua

juta lima ratus ribu rupiah). Salah satu jalan pelaksanaan restorative justice di tingkat pengadilan apabila hakim mempertimbangkan untuk menjadikan yurisprudensi putus- an kasasi dari hakim Dr.Salman Luthan, S.H., M.H, dengan nomor putusan No. 1554 K/PID/2013, kepada ter- sangka Aop Saopudin yang mengalami tuntutan hukum akibat pelaksanaan penegakan disiplin disekolah, yang ke- mudian diputus bebas oleh hakim. Namun penulis sampai laporan ini dibuat belum menemukan putusan hakim Provinsi Sulawesi Selatan terhadap perkara guru yang mengalami tuntutan hukum akibat pelaksanaan penegakan disiplin yang menggunakan pertimbangan yurisprudensi dari putusan tersebut.

4. KESIMPULAN

Dari pembahasan di bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang penerapan keadilan restoratif terhadap guru yang berhadapan dengan hukum akibat pelaksanaan disiplin di sekolah, sebagai berikut:

1. Polisi dan PGRI telah berperan dalam pelaksanaan hukum restoratif terhadap guru yang berhadapan dengan hukum akibat pelaksanaan tugas di sekolah,akan tetapi kurang efektif. Hal tersebut dikarenakan instrumen hukum yang digunakan masih bersandar pada diskresi kepolisian yang cenderung digunakan berbeda-beda antara satu kasus dengan kasus yang lain, sedangkan lembaga yang terkait yaitu kepolisian dan PGRI di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan belum membangun kesepakatan dan kesepahaman di tingkat Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menyikapi kesepakatan bersama yang telah ada sebelumnya di tingkat nasional antara Polri dan PGRI, oleh karenanya tidak ada ruang formal yang dapat disepakati dan dilaksanakan bersama dalam pelaksanaan keadilan restoratif terhadap guru yang berhadapan dengan hukum akibat pelaksanaan tugasnya dalam mendidik. PGRI di tingkat kabupaten dan Provinsi Sulawesi Selatan, sumber daya pelaksana belum memadai dalam melaksanakan keadilan restoratif kepada guru, untuk melaksanakan pendampingan.

2. Imlplikasi putusan Mahkamah Agung terhadap guru yang dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pendidik agar tidak dipidana adalah bahwa tindakan guru dalam me- laksanakan tugasnya untuk menegakkan disiplin berupa hukuman untuk tujuan pendidikan bukanlah merupakan tindak pidana.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Manan,2009, Aspek-aspek Pengubah Hukum, Jakarta:

Kencana Prenada Media;

Afif M. Hasbullah, 2005, Politik Huum Ratifikasi Konvensi HAM di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar;

Amiruddin & Asikin Sainal, 2010, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada;

Ade Rahmad Setyaji. 2011. Implementasi Diversi Dalam Sistem Peradilan Anak. Surabaya: Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur;

Barda Arief Nawawi, 2010, Mediasi Penyelesaian Perkara Diluar Pengadilan, Semarang: Pustaka Magister;

, 2005, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti;

(7)

19 , 2008, Bunga Rampai Kebijakan

Hukum Pidana, (Jakarta: PT.Kencana Prenada Media Group,

Budaiwi, Ahmad Ali. 2002. Imbalan dan Hukuman. Depok:

Gema Insani,. Burhan Asofa, 2010, Metode Penelitan Hukum¸Jakarta: Rineka Cipta.

Doni Kusuma A. 2007, Pendidikan Karakter, Jakarta:

Grasindo.

H.M. Fauzan, & Baharuddin Siagian, 2017, Kamus Hukum dan Yurisprudensi, Depok: Kencana;

Eva Achjani Zulfa. 2009. Keadilan Restorative, Jakarta:

Fakultas Hukum Universitas Indonesia;

Frank E. Hagan, 2013, Pengantar Kriminologi, Teori, Metode, Dan Prilaku Kriminal. edisi Ketujuh. Jakarta:

Kencana Prenamedia Group;

Handbook On Restorative justice Programes, 2006;

Herlina, Apong, dkk. 2004. Perlindungan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Manual Pelatihan Untuk POLISI. Jakarta: Polri dan Unicef;

Kerry Clamp,2016, Restorative justice in Transitional Settings,, New York:Routledge.

Kuat Puji Prayitno,. 2012. Bentuk Peradilan di Indonesia.

Jurnal Dinamika Hukum Universitas Jenderal Soedirman;

Marlina. 2009. Peradilan Pidana Anak Di Indonesia:

Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative justice, Bandung: Refika Aditama;

Marwan Mas. Pengantar Ilmu Hukum. Bogor: Penerbit Ghalia Indoesia, 2015.

Muladi. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro;

Ngalim Purwanto, 2007, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis, bandung: bapensi. Paulus Hadisuprapto. 1997.

Juvenile Deliquency Pemahaman dan Penanggulangan- nya. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti;

Prayitno, 2009, Dasar Teori Dan Praksis Pendidikan.

Jakarta: Gramedia;

Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI,2007, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan, Jakarta:PT. IMTI-MA

Tim Penyusun, 2018, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta:

Pusat Bahasa.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan diketahuinya Struktur Space Frame , diharapkan tidak hanya menjadi solusi penyelesaian struktur atap bangunan bentang lebar convention, namun dapat menjadi

Hasil uji statistic didapatkan nilai p value 0.000 (<0.05) dapat disimpulkan terdapat perbedaan secara signifikan sebelum dilakukan abdominal stretching dan muscle

Dengan melihat bahwa acara “Opera Van Java” merupakan salah satu acara yang digemar remaja dan acara ini berformat komedi dan selalu menggunakan properti dalam setiap leluconnya,

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keru- sakan daerah aliran sungai yang disebabkan pendangkalan sungai oleh endapan lumpur adalah…. (A) larangan tegas untuk tidak membuang

[r]

Pada pertemuan pertama, peneliti menanyakan kabar dan mengajak semua siswa tepuk semangat, setelah itu peneliti mengajak semua siswa untuk berdiri didepan kelas

Pertanyaan – pertanyaan yang diajukkan meliputi suka atau tidak dengan bela diri, mengetahui atau tidak mengenai Wing Chun, darimana mengetahui Wing Chun, pengetahuan

16 Untuk menyederhanakan, dalam tulisan ini gerakan Kharismatik disamakan dengan Neo Pentakostal, karena dari antara penganut dan aktivis gerakan Kharismatik itu ada yang