KEMENTERIAN KEUANGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN
Penyusun:
Penanggung Jawab : Sulaimansyah |
Ketua Tim : Sigid M. | Anggota : Syifa R. |
Ahmad A.P. | Sri Hartama | Ninik | Septim |
Erna F. | Meilena | Ari | Suparjito | Ambarwati |
Mugiharto
Puji syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, yang atas berkah, rahmat dan karunia-Nya, Kanwil DJPb Provinsi Jawa Tengah dapat menyelesaikan Kajian Fiskal Regional Triwulan III Tahun 2020.
Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: SE-61/PB/2017 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kajian Fiskal Regional, telah menugaskan Kanwil DJPb menyusun Kajian Fiskal Regional setiap triwulan dan tahunan. Untuk itu, Kanwil DJPb Provinsi Jawa Tengah, dengan segala daya upaya, telah berusaha memenuhi tugas tersebut, hingga tersusun Kajian Fiskal Regional Triwulan III Tahun 2020.
Kajian Fiskal Regional Triwulan III Tahun 2020 diharapkan dapat digunakan sebagai:
1. Informasi untuk berbagai pihak yang memerlukan informasi fiskal baik APBN maupun APBD, beserta analisis dan deskripsi serta konsolidasiannya.
2. Bahan pertimbangan dan masukan dalam merumuskan kebijakan fiskal baik pemerintah pusat maupun daerah, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak, khususnya Pemerintah Daerah se-Jawa Tengah, BPS Jawa Tengah atas data dan informasi yang telah diberikan. Terima kasih pula kepada para pegawai Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II yang telah menyelesaikan Kajian Fiskal Regional Triwulan III Tahun 2020.
Kajian Fiskal Regional Triwulan III Tahun 2020 ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan masukan sangat diharapkan. Akhirnya, semoga Kajian ini bermanfaat bagi semua pihak.
Terima kasih.
Semarang, Nopember 2020
Sulaimansyah
ii
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GRAFIK iv
BAB I PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL 1 A. Produk domestik regional bruto ……….. 1 B. Inflasi ………. 4 C. Indikator Kesejahteraan ………... 5 BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN 6 A. Pendapatan Negara ………. 6 B. Belanja Negara ………... 10 C. Prognosis Realisasi APBN ………. 12 BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD 13 A. Pendapatan Daerah ………..……… 14 B. Belanja Daerah ……….. 18 C. Prognosis Realisasi APBD ……… 18 BAB IV PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN
ANGGARAN KONSOLIDASIAN (APBN DAN APBD) ……… 19
BAB V BERITA/ISU FISKAL REGIONAL TERPILIH ………. 24
iii
Tabel I.1 Pencapaian Sasaran RKPD Jawa Tengah 1 Tabel I.2 Fenomena Inflasi di 6 Kota IHK Jateng Triwulan III 2020 4 Tabel II.1 Pagu dan Realisasi APBN Prov. Jateng s.d TW III 2020
(miliar) 6
Tabel II.2 Realisasi Penerimaan Perpajakan s.d TW III 2020 (miliar) 7 Tabel II.3 Realisasi PNBP s.d Triwulan III Tahun 2020 (miliar) 9 Tabel II.4 Alokasi Anggaran Provinsi Jateng Tahun 2020 (miliar) 10 Tabel II.5 Realisasi Penyaluran KUR s.d TW III 2020 (rupiah) 11 Tabel II.6 Realisasi Penyaluran UMi s.d TW III 2020 12 Tabel II.7 Perkiraan Realisasi APBN Prov. Jateng TW IV 2020 (miliar) 12 Tabel III.1 Postur APBD Agregat Pemda Lingkup Jateng Q3 2019 dan
2020 13
Tabel IV.1 Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Tingkat Wilayah
Provinsi Jawa Tengah s.d Triwulan III 2020 21
Tabel IV.2 Realisasi Pendapatan Konsolidasian Q3 2019 dan 2020 21
Tabel IV.3 Ringkasan Laporan Operasional Jawa Tengah Q3 2020 23
iv
Grafik I. 1 Ekonomi Jawa Tengah Triwulan III 2020 2
Grafik I.2 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah dan Nasional (YoY) 2 Grafik I. 3 Pertumbuhan Komponen PDRB Pengeluaran Jawa Tengah Triwulan
III 2020 3
Grafik I.4 Inflasi Jawa Tengah (M-to-M) 4
Grafik II.1 Pertumbuhan PPh (m-t-m) 7
Grafik II.2 Pertumbuhan PPN (m-t-m) 8
Grafik II.3 Pertumbuhan Penerimaan Kepabeanan & Cukai (m-t-m) 8
Grafik II.4 Realisasi PNBP Lainnya (m-to-m) (miliar) 9
Grafik II.5 Tren Realisasi PNBP BLU (m-to-m) (miliar) 9
Grafik II.6 Tren Realisasi Belanja K/L Per Jenis Belanja (m-to-m) 10
Grafik II.7 Tren Realisasi TKDD (m-to-m) 11
Grafik III.1 Realisasi dan Proporsi Kontribusi Pendapatan Daerah Jateng Q3
2019-2020 14
Grafik III.2 Realisasi dan Proporsi PAD Agregat Jateng Q3 2019 dan 2020 15
Grafik III.3 Realisasi Pajak Daerah Q3 2019 dan 2020 15
Grafik III.4 Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Q3 2019 dan 2020 16 Grafik III.5 Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Q3
2019 dan 2020 16
Grafik III.6 Realisasi Lain-Lain PAD yang Sah Q3 2019 dan 2020 16 Grafik III.7 Realisasi Transfer Daerah Q3 2019 dan 2020 17 Grafik III.8 Realisasi dan Proporsi PAD Agregat Jateng Q3 2019 dan 2020 17 Grafik III.9 Pagu dan Realisasi Belanja Jateng Q3 2020 18 Grafik III.10 Pagu dan Realisasi Berdasar Urusan Jateng 18 Grafik IV. 1 Perbandingan Komposisi Konsolidasian s.d Q3 2019 dan 2020 20 Grafik IV. 2 Perbandingan Penerimaan Pempus dan Pemda terhadap
Penerimaan Konsolidasian Q3 2020 20
Grafik IV. 3 Perbandiangan Penerimaan Perpajakan Pempus dan Pemda
terhadap Penerimaan Konsolidasian Q3 2020 20
Grafik IV. 4 Perbandingan Belanja dan Transfer Pempus dan Pemda terhadap
Belanja dan Transfer Konsolidasian Provinsi Jawa Tengah Q3 2020 21 Grafik IV. 5 Komposisi Belanja Konsolidasian Provinsi Jawa Tengah Q3 2019 dan
2020 22
1 I. PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL
Pertumbuhan PDRB, Inflasi, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Kemiskinan dan Rasio Gini pada triwulan III 2020 di Jateng secara berturut-turut, yaitu -3,93%;
1,33%; 6,48% (Agustus 2020); 11,41% (Maret 2020) dan 0,362 (Maret 2020).
Tabel I.1 Pencapaian Sasaran RKPD Jawa Tengah 2020
Sebagai dampak pandemi Covid-19, pencapaian target indikator ekonomi pada RKPD Jateng tahun 2020 tidak sesuai yang diharapkan. Penerapan “new normal”
dengan keseimbangan antara “gas dan rem” telah membawa perbaikan perekonomian pada triwulan III dibandingkan triwulan II 2020. Namun demikian, masih diperlukan perhatian lebih untuk percepatan pemulihan ekonomi. Pemerintah harus bekerja lebih keras untuk setidaknya mencapai proyeksi indikator ekonomi 2020.
A. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Berdasarkan perhitungan BPS, secara yoy pada triwulan III 2020, ekonomi Jawa Tengah mencatat kontraksi sebesar 3,93%. Kontraksi ini menunjukkan adanya perbaikan karena lebih baik dibandingkan dengan posisi pada triwulan II 2020, yang setelah dicermati dan dihitung kembali tercatat -5,92% (rilis sebelumnya -5,94%).
Namun, dibanding triwulan III 2019, pertumbuhan yoy pada triwulan III 2020 masih sangat jauh kinerjanya.
Dari kondisi triwulan III 2020 terlihat geliat ekonomi dibandingkan triwulan II 2020, karena mengalami kenaikan ekonomi sebesar 4,66%. Hal ini merupakan indikasi bahwa untuk kinerja triwulanan telah mengalami perbaikan dibandingkan dengan masa-masa pembatasan sosial di triwulan II 2020. Pada triwulan III 2020 mencatat kontraksi Q-t-q sebesar 5,16%. Angka masih jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan triwulan III tahun 2019, dimana angka q-t-q sebesar 2,49%. Ada beberapa penyebab, antara lain adanya pergeseran musim tanam dan panen raya yang menyebabkan triwulan III mengalami kenaikan.
INDIKATOR EKONOMI TARGET RKPD 2020 CAPAIAN Q3 2020 PROYEKSI 2020
Pertumbuhan Ekonomi (YoY) 5,4 - 5,7 -3,93 2,3 - 3,5
Inflasi (YoY) 3,0 ±1 1,33 3,0 ± 1
Tingkat Pengganguran Terbuka 4,33 6,48 5,88 - 6,75
Persentase Penduduk Miskin 9,81 - 8,81 11,41 13,40 - 12,30
Rasio Gini 0,34 0,362 0,37
Sumber : RKPD Jawa Tengah, BPS Jateng, diolah November 2020
2 Secara nominal nilai tambah bruto yang dihasilkan di Jawa Tengah baik menurut harga konstan maupun harga berlaku tercatat masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan kinerja triwulan III 2019. Walaupun ekonomi sudah membaik dibandingkan dengan triwulan II 2020 yang meningkat 4,66%, capaian ekonomi Jawa Tengah baik harga berlaku maupuh harga konstan belum bisa menutupi apa yang dicapai pada triwulan III tahun 2019.
Menurut komponen pengeluaran, pertumbuhan ekonomi 4,66% (q-t-q) disebabkan oleh tumbuhnya hampir semua komponen pengeluaran kecuali pengeluaran untuk konsumsi LNPRT. Secara q-t-q, pengeluaran konsumsi pemerintah tercatat paling tinggi mengalami
kenaikan sebesar 23,16% dibandingkan dengan triwulan II 2020.
Perekonomian Jateng pada triwulan III, secara yoy masih mengalami kontraksi sebesar 3,93%.
Dibandingkan
dengan tingkat nasional masih
berada di bawah, padahal sepanjang sejarah, Jawa Tengah selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disebabkan oleh beberapa kelompok kegiatan yang mengalami kontraksi cukup besar. Utamanya dipengaruhi oleh penurunan
Grafik I.1 Ekonomi Jawa Tengah Triwulan III 2020
Sumber : BPS Jateng, diolah November 2020
Sumber : BPS Jateng, diolah November 2020
Grafik I.2 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah dan Nasional (YoY)
3 ekonomi dari transportasi dan pergudangan yang menurun 37,68%, disusul jasa perusahaan (-10,66%) dan jasa lainnya (-8,80%).
Disisi lain masih ada beberapa sektor yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi antara lain sektor informasi dan komunikasi (18,96%), jasa kesehatan dan kegiatan sosial (8,43%) dan pertanian, kehutanan dan perikanan (6,39%). Secara yoy, hanya pertanian yang mencatat pertumbuhan 6,39% bahkan pertumbuhannya lebih baik dibandingkan dengan yoy triwulan II yang hanya 0,53%. Pada 4 sektor utama di Jateng (yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan dan kontruksi), sektor pertanian masih mencatat positif. Dengan demikian, sumbangan tertinggi adalah sektor pertanian sebesar 0,85%, sementara industri pengolahan menjadi penyebab kontraksi yang dalam sebesar -2,38%.
Pada komponen pengeluaran terjadi penurunan di semua sektor dan yang terdalam adalah ekspor. Pada komponen PMTB juga mengalami penurunan sebagai akibat dari turunnya pengeluaran pemerintah pada investasi terutama dalam pembangunan infrastruktur triwulan III 2020. Apabila dibandingkan dengan triwulan III 2019 sangat berbeda
karena memang
komponen pengeluaran pemerintah untuk investasi juga relatif berkurang.
Dilihat dari struktur
PDRB menurut
pengeluaran, pada triwulan III 2020 pengeluaran konsumsi pemerintah termasuk dalam komponen yang memiliki peranan besar terhadap PDRB, dengan kontribusi sebesar 7,50%. Sementara itu, dari angka laju pertumbuhan ekonomi triwulan III, pengeluaran konsumsi pemerintah menyumbang sebesar -1,06%.
Oleh karena itu, mengingat sektor lain telah terdampak oleh wabah, pengeluaran konsumsi pemerintah perlu terus didorong untuk menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Sehingga, akselerasi pelaksanaan belanja pemerintah baik dari APBN maupun APBD perlu menjadi perhatian bersama.
Grafik I.3 Pertumbuhan Komponen PDRB Pengeluaran Jawa Tengah Triwulan III 2020
Sumber : RKPD Jawa Tengah, BPS Jateng, diolah November 2020
4 B. INFLASI
Inflasi di Jawa Tengah pada triwulan III 2020 sangat terkendali dan masih lebih baik dari tingkat nasional, karena inflasi di Jawa Tengah hanya 2 bulan mengalami
deflasi dan sudah menunjukan adanya geliat ekonomi dengan adanya inflasi yang positif 0,06% (q-t-q) dan secara yoy mencatat 1,33%. Sedangkan di tingkat nasional terjadi deflasi sebesar 0,20 persen (q-t-q), dan jika dibandingkan dengan posisi September 2019, terjadi inflasi sebesar 1,42 persen (yoy).
Tabel I.2 Fenomena Inflasi di 6 Kota IHK Jateng Triwulan III 2020
Bulan Fenomena Terbesar Terkecil Keterangan
Juli Deflasi 0,09% Purwokerto (0,20%) Surakarta (0,03%) Deflasi di seluruh 6 kota IHK
Agustus Deflasi 0,03% Deflasi – Purwokerto (0,12%)
Inflasi – Surakarta (0,12%)
Deflasi – Semarang (0,06%)
Inflasi – Kudus (0,05%)
3 kota IHK Deflasi dan 3 kota IHK Inflasi
September Inflasi 0,04% Inflasi – Surakarta (0,09%)
Deflasi – Kudus (0,08%)
Inflasi – Semarang (0,07%)
Deflasi – Cilacap (0,03%)
2 kota IHK Inflasi dan 4 kota IHK Deflasi
Fenomena deflasi dan inflasi pada triwulan III 2020 di wilayah Jateng, disebabkan adanya kenaikan dan penurunan beberapa komoditi. Pada Juli 2020 terjadi deflasi yang mencakup penurunan harga bawang merah, angkutan udara, daging ayam ras, bawang putih dan gula pasir. Pada Agustus 2020, deflasi terjadi karena turunnya harga daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, dan beras. Sementara itu, inflasi pada September 2020 disebabkan karena kenaikan harga kontrak rumah, minyak goreng, akademi/perguruan tinggi, bawang putih, dan kue kering berminyak.
Sumber : BPS Jateng, diolah November 2020
Grafik I.4 Inflasi Jawa Tengah (M-to-M)
Sumber : BPS Jateng, diolah November 2020
5 C. INDIKATOR KESEJAHTERAAN
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jateng pada Agustus 2020 sebesar 6,48% atau sebanyak 1,21 juta orang, yang berarti meningkat 2,04% poin atau meningkat sebesar 396 ribu orang dibandingkan dengan Agustus 2019. Tercatat sebanyak 3,97 juta orang yang terdampak Covid-19 atau 14,68 persen. Mereka terdiri atas pengangguran karena Covid-19 (377 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (125 ribu orang), sementara tidak bekerja karena Covid-19 (273 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid- 19 (3,19 juta orang).
Sedangkan, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Jateng pada bulan Maret 2020, mencapai 3,98 juta orang (11,41 persen), bertambah sebanyak 301,5 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskinpada September 2019 yang berjumlah 3,68 juta orang (10,58 persen). Angka ini perlu terus diwaspadai dengan adanya dampak wabah Covid-19, dimana angka kemiskinan di Jateng diperkirakan akan mengalami peningkatan.
Sementara itu, pada Maret 2020, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Jawa Tengah yang diukur dengan Gini Ratio tercatat sebesar 0,362. Angka ini naik 0,004 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,358, namun naik 0,001 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,361.
Adapun, Nilai Tukar Petani (NTP) Jateng pada triwulan III 2020 mengalami kenaikan tipis 0,28% dibandingkan triwulan II. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani. Namun demikian, NTP triwulan III 2020 ini menurun 1,78% dibandingkan triwulan III 2019.
6 II. PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAANAPBN
Pendapatan dan belanja negara secara keseluruhan mengalami peningkatan dibanding tahun lalu, sedangkan defisit mengalami peningkatan. Dengan berakhirnya Triwulan III 2020, realisasi pendapatan negara hingga akhir September 2020 tercatat telah mencapai Rp55.773 miliar atau 91,70% dari target dan adanya pertumbuhan di tengah pandemi Covid-19dimana capaian pendapatan negara tersebut tumbuh positif sebesar 4,89% (yoy).
Belanja negara s.d triwulan III 2020 fokus penanganan pandemi COVID-19 & Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Kinerja penyerapan belanja s.d. triwulan III meningkat dibanding TA. 2019, secara nominal tumbuh 6,79%
(yoy) didorong
pertumbuhan Belanja Bansos 9,97% (yoy) dan
TKDD dari periode yang sama tahun sebelumnya terutama karena didorong adanya perluasan bansos dan belanja untuk membantu masyarakat di masa pandemi. Sedangkan beberapa komponen belanja K/L lainnya tumbuh negatif, utamanya karena penghematan dan/atau belum terlaksanakan akibat kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) dan physical distancing. Belanja harus diprioritaskan untuk penanganan Covid-19 dengan refocussing kegiatan dan realokasi dari kegiatan yang kurang prioritas.
A. Pendapatan Negara
Berdasarkan komponennya, Pendapatan Negara yang bersumber dari penerimaan Perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Untuk penerimaan hibah terencana merupakan kewenangan pemerintah pusat, sehingga tidak ditatausahakan di tingkat provinsi
1. Penerimaan Perpajakan
Capaian Pendapatan Negara dapat dilihat lebih detil berdasarkan komponen dari penerimaan Perpajakan yang terdiri dari penerimaan Pajak dan penerimaan Kepabeanan
Sumber : I Account APBN OM SPAN, Kanwil DJP & Kanwil DJBC
Tabel II.1 Pagu dan Realisasi APBN Prov. Jateng s.d. TW III 2020 (miliar)
7 dan Cukai. Secara nominal realisasi penerimaan Pajak telah mencapai 89,97% terhadap target, menurun jika dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerimaan perpajakan utamanya bersumber dari penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Non migas dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yang berkontribusi lebih dari 98,68%
terhadap penerimaan Pajak.
Pertumbuhan penerimaan perpajakan sebesar positif 4,60% (yoy). Adanya pertumbuhan didorong oleh penerimaan cukai. Sektor- sektor yang memiliki peranan besar terhadap penerimaan pajak belum tumbuh sesuai yang diharapkan bahkan di triwulan III tahun ini tumbuh negatif, mulai negatif 1,82% hingga negatif 97,81%. Secara umum, kinerja penerimaan pajak tahun 2020 dipengaruhi oleh turunnya kondisi ekonomi akibat pandemi COVID-19. Namun demikian, kinerja penerimaan tiga bulan terakhir membaik secara perlahan. Penerimaan pajak s.d. bulan September 2020 masih berada di zona kontraksi, namun pertumbuhan penerimaan mulai membentuk tren positif.
a. Pajak Penghasilan (PPh)
Penerimaan PPh sebesar s.d. triwulan III Rp12.737 miliar mengalami kontraksi negatif sebesar 1,82% (yoy). Jika ditinjau dari pertumbuhannya m-t-m mengalami kontraksi, hingga bulan September masih tumbuh
negatif sebesar 16,8% meskipun sudah ada peningkatan. Kinerja penerimaan PPh mulai menunjukkan tren perbaikan sejak Agustus 2020.
Hal ini dipengaruhi membaiknya pertumbuhan penerimaan PPh Pasal
21 utamanya disebabkan oleh kenaikan pembayaran masa PPh Pasal 21 atas pemberian tantiem kepada pegawai pada bulan September 2020.
Tabel II.2 Realisasi Penerimaan Perpajakan s.d TW III 2020 (miliar)
Sumber : I Account APBN OM SPAN, Kanwil DJP & Kanwil DJBC
Grafik II.1 Pertumbuhan PPh (m-t-m)
Sumber: OM SPAN
8 b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Penerimaan PPN sebesar s.d. triwulan III Rp10.376 miliar dan tumbuh postif sebesar 3,30% (yoy). Jika ditinjau dari pertumbuhannya m-t-m, penerimaan PPN membaik secara gradual sejak Juli 2020, meskipun
penerimaan kumulatifnya masih terkontraksi. Meskipun demikian, pemberlakuan kembali PKM di sejumlah wilayah pada September 2020 kembali menekan penerimaan PPN. Penerimaan PPN September 2020 terkontraksi negatif
sebesar 40,3% (yoy), lebih dalam dari kontraksi penerimaan bulan Agustus 2020 yang hanya mencapai 14,8% (yoy). Selain itu, peningkatan restitusi PPN yang tinggi pada September 2020 turut menyebabkan terkontraksinya penerimaan PPN hingga kembali negatif.
c. Penerimaan Kepabeanan dan Cukai
Penerimaan Perpajakan dari Kepabeanan dan Cukai s.d. triwulan III realisasinya telah mencapai 142,96% dari target, dengan pertumbuhan sebesar 10,86% (yoy) membaik dibandingkan pertumbuhan periode Agustus 2020. Pertumbuhan m-t-m mengalami kontraksi, hingga bulan September tumbuh positif sebesar 50,6%.
Penerimaan Cukai tercatat tumbuh 13,51 persen (yoy), Pertumbuhan penerimaan cukai masih didorong oleh dampak kebijakan dari kenaikan tarif efektif cukai, pergeseran pelunasan pita cukai dan naiknya permintaan alkohol untuk bahan baku keperluan medis selama masa pandemi COVID-19. Sedangankan Bea Masuk (BM) dan Bea Keluar (BK) pertumbuhannya masih mengalami kontraksi.
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak
Realisasi penerimaan dari PNBP Lainnya hingga triwulan III 2020 mencapai sebesar Rp1.612 miliar atau tumbuh negatif sebesar 10,09% (yoy). Penurunan dan perlambatan
Grafik II.2 Pertumbuhan PPN (m-t-m)
Sumber : OM SPAN
Sumber: Kanwil BC Jateng
Grafik II.3 Pertumbuhan Penerimaan Kepabeanan & Cukai (m-t-m)
9 realisasi PNBP dipengaruhi oleh penerimaan dari layanan K/L lainnya yang mayoritas mengalami penurunan akibat
dampak pandemi Covid-19.
Pemerintah memberikan relaksasi PNBP, antara lain pengenaan tarif PNBP sampai
dengan Rp0,00 dan pengaturan jatuh tempo pembayaran PNBP sehingga berdampak pada penurunan PNBP. Pendapatan BLU s.d triwulan III menunjukkan adanya peningkatan kinerja yang cukup signifikan yang mengalami pertumbuhan positif sebesar 15,77% (yoy).
a. Penerimaan PNBP Lainnya
Pertumbuhan penerimaan PNBP Lainnya m-t-m mengalami kontraksi terdalam pada bulan Mei, hingga bulan September mampu tumbuh positif sebesar 20,5%, membaik dibandingkan pertumbuhan periode Agustus 2020 Namun demikian, mulai bulan Juli hingga September realisasi mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan kegiatan perekonomian perlahan-lahan sudah berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kinerja penerimaan pada triwulan III.
b. Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU)
Kinerja Pendapatan BLU s.d. triwulan III jika dilihat secara m-t-m masih sangat baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun terjadi kontraksi namun pada bulan September 2020
menunjukkan adanya peningkatan kinerja yang cukup signifikan dengan tumbuh positif sebesar 40,4% (yoy). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa K/L yang mencatatkan pertumbuhan positif
atas pendapatan BLU pada periode sampai dengan September 2020. Tren peningkatan pendapatan BLU diharapkan dapat lebih tinggi pada kuartal terakhir di tahun 2020.
Tabel II.3 Realisasi PNBP s.d. Triwulan III Tahun 2020 (miliar)
Sumber : I Account APBN OM SPAN
Grafik II.4 Realisasi PNBP Lainnya (m-t-m) (miliar)
Sumber : OM SPAN
Grafik II.5 Tren Realisasi PNBP BLU (m-t-m) (miliar)
Sumber : OM SPAN
10 B. Belanja Negara
Untuk Provinsi Jawa Tengah, awal tahun 2020 mendapat alokasi anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp111.049 miliar. Total pagu untuk Jawa Tengah tahun 2020 sebesar 3,87% dari alokasi anggaran
nasional. Alokasi anggaran dialokasikan untuk Belanja K/L dan TKDD. Namun dengan adanya pandemi Covid-1 9 terdapat penurunan alokasi anggaran sebesar Rp7.587 miliar atau 6,83% dari pagu awal, sehingga total alokasi anggaran untuk
Jawa Tengah s.d. triwulan III menjadi Rp103.462 miliar. Penurunan alokasi anggaran terjadi baik untuk belanja K/L maupun belanja TKDD. Masih terdapat anggaran sebesar Rp263,72 miliar yang terblokir.
1. Belanja Pemerintah Pusat
Realisasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) s.d. triwulan III mencapai Rp23.303 miliar, meningkat 1,04% apabila dibandingkan dengan realisasi BPP pada periode yang sama
tahun 2019 namun
pertumbuhannya masih negatif sebesar 10,85%. Realisasi semua jenis belanja m-t-m mengalami kontraksi hingga bulan Mei merupakan kontraksi terbesar. Adanya perubahan kebijakan yang memberikan berbagai relaksasi, mampu mengakselerasi penyerapan, sehingga bulan Juni s.d. September, mulai mengalami peningkatan.
Peningkatan realisasi BPP dipengaruhi oleh penyaluran berbagai program perlindungan sosial dan berbagai program baru dalam rangka penanganan pandemi Covid- 19 dan PEN. Peningkatan realisasi secara signifikan terjadi pada belanja bansos, antara lain dipengaruhi oleh pencairan beberapa komponen Bansos di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (penyaluran bantuan PIP dan KIP Kuliah) dan Kementerian Sosial.
Sumber : Mebe (diolah)
Grafik II.6 Tren Realisasi Belanja K/LPer Jenis Belanja (m-t-m)
Sumber : OM SPAN
Tabel II.4 Alokasi Anggaran Prov. Jateng Tahun 2020 (miliar)
11 2. Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD)
Realisasi Belanja TKDD s.d. triwulan III mencapai Rp60.566 miliar, meningkat 16,94%
apabila dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun 2019 namun pertumbuhannya dan tumbuh positif
sebesar 15,59%.
Tren realisasi belanja TKDD m-t- m mengalami kontraksi hingga bulan Mei merupakan kontraksi terbesar, namun di bulan Juni terjadi
peningkatan. Peningkatan ini disebabkan karena percepatan penyaluran alokasi DAK Fisik, Cadangan DAK Fisik, DID dan Dana Desa di beberapa daerah setelah adanya kebijakan relaksasi persyaratan penyaluran, penggunaan TKDD 2020 dan penyedarhanaan penyaluran serta percepatan penyaluran program PEN untuk mendukung penanganan pandemi COVID-19 dan pemulihan perekonomian daerah.
3. Manajemen Investasi Pusat
Program pemerintah dalam manajemen investasi pusat yaitu program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Ultra Mikro (UMi). Adanya pandemi Covid-19 telah mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) di banyak perusahaan maupun pada unit-unit usaha UMKM. Pemerintah menempuh berbagai kebijakan, salah satunya dikhususkan untuk membantu para pekerja/karyawan yang terkena PHK adalah pemberian modal usaha melalui KUR Super Mikro (SUMI).
a. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Program KUR adalah program kredit usaha rakyat untuk UMKM produktif yang pembiayaan usahanya disalurkan oleh lembaga perbankkan dengan tingkat suku bunga yang disubsidi oleh pemerintah. KUR sesuai skema terdiri dari KUR mikro, kecil dan TKI.
Sedangkan KUR SUMI selain membantu para pekerja/ karyawan yang terkena PHK juga ditujukan kepada kaum ibu rumah tangga yang memiliki usaha sampingan. Program ini baru dirilis pada akhir bulan Agustus 2020.
Sumber : OM SPAN & Simtrada
Grafik II.7 Tren Realisasi TKDD (m-t-m)
Sumber : SIKP (diolah)
Tabel II.5 Realisasi Penyaluran KUR s.d.TW III 2020 (rupiah)
12 Realisasi penyaluran KUR s.d. triwulan III sebesar Rp22,66 triliun dengan jumlah penerima sebanyak 739.612 debitur. Jumlah debitur mengalami penurunan dan tumbuh negatif sebesar 10,06% (yoy). Penurunan jumlah debitur ini dikarenakan dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan sebagian besar UMKM berhenti, kehilangan pendapatan dan mengurangi jumlah tenaga kerja. Meskipun terjadi penurunan jumlah debitur, namun jumlah penyaluran meningkat sebesar Rp2,38 triliun dan tumbuh positif sebesar 11,74% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini dipengaruhi adanya kebijakan tambahan subsidi bunga, perpanjangan jangka waktu, penambahan limit plafon KUR dan relaksasi syarat administrasi.
b. Ultra Mikro (UMi)
Program UMi adalah program pembiayaan usaha mikro dibawah Rp10 juta yang disalurkan oleh lembaga keuangan bukan Bank. Realisasi penyaluran UMi s.d. triwulan III menurun dibandingkan dengan
periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini disebabkan adanya dampak pandemi Covid-19 dan debitur lebih memilih KUR SUMI
karena memiliki suku bunga yang lebih rendah dan persyaratan lebih mudah.
C. Prognosis Realisasi APBN
Dengan berakhirnya Triwulan III 2020, realisasi Pendapatan Negara dan Belanja Negara tercatat telah mencapai 91,70% dan 81,06%. Kinerja pendapatan dan belanja m-t- m dalam tiga bulan terakhir membaik secara perlahan. Hal ini seiring dengan beberapa kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk penanganan Covid-19 dan PEN sehingga dapat mengakselerasi pendapatan dan penyerapan anggaran
Jika kondisi ekonomi stabil, penerimaan negara s.d. akhir tahun diproyeksikan akan terealisasi sebesar 93,4% atau sekitar Rp57.153 miliar. Sedangkan belanja negara diproyeksikan akan dapat mencapai 94% atau sebesar Rp97.253 miliar.
Tabel II.7 Perkiraan Realisasi APBN Prov. Jateng TW IV 2020 (miliar)
Sumber : I Account APBN Kanwil DJP & Kanwil BC Jateng
Tabel II.6 Realisasi Penyaluran UMi s.d. TW III 2020 (Rupiah)
Sumber : SIKP (diolah)
13 III. PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAANAPBD APBD merupakan salah satu instrumen kebijakan yang digunakan sebagai alat untuk meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Kebijakan relaksasi dan refocusing anggaran yang ditempuh sebagai percepatan penanganan dampak Covid-19 mulai menunjukan pengaruh dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, realisasi belanja masih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini
terlihat pada realisasi Belanja Modal yang mengalami penurunan signifikan yaitu sebesar 49,3%. Penurunan realisasi belanja modal disebabkan diantaranya adanya efisiensi anggaran yaitu sebesar 53,0%. Realisasi Belanja Tidak Terduga mengalami penurunan sampai dengan 6 kali lipat. Realisasi Belanja Transfer sebesar Rp33.009,28 milliar turun 9,3% dari periode sebelumnya (Rp36.064,19 milliar). Dampaknya, Surplus APBD agregat mengalami penurunan 42%, dari Rp 17.422,23 miliar menjadi 12.269,06 miliar.
Sementara relaksasi di bidang pendapatan sudah pasti menyebabkan penurunan realisasi. Realisasi total pendapatan triwulan III 2020 sebesar Rp72.512,14 milliar turun 41,0% dari periode sebelumnya yang sebesar Rp102.241,59 milliar. Penurunan ini secara persentase sedikit lebih tinggi dari persentase estimasi pendapatan yang ditargetkan.
Tabel III.1 Postur APBD Agregat Pemda Lingkup Jateng Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah,November 2020
Pagu Realisasi % Pagu Realisasi %
PENDAPATAN 136.297,35 102.241,59 75,01 101.722,75 72.512,14 71,28 -34% -41%
Pendapatan Asli Daerah 27.883,30 20.563,94 73,75 26.420,92 18.991,06 71,88 -6% -8%
Pendapatan Transfer 101.721,28 78.152,09 76,83 67.427,29 48.932,19 72,57 -51% -60%
Lain-lain Pendapatan yang Sah 6.692,77 3.525,56 52,68 7.874,54 4.588,89 58,28 15% 23%
BELANJA & TRANSFER 109.665,03 75.685,15 69,01 105.566,05 60.325,15 57,14 -4% -25%
Belanja Operasi 80.166,28 48.485,12 60,48 74.839,05 45.890,93 61,32 -7% -6%
Belanja Modal 14.346,44 4.124,07 28,75 9.376,95 2.762,20 29,46 -53% -49%
Belanja Tak Terduga 186,55 13.695,04 7.341,22 4.664,63 1.754,26 37,61 96% -681%
Transfer 14.965,76 9.380,92 62,68 16.685,42 9.917,76 59,44 10% 5%
Surplus (Defisit) 26.632,32 26.556,44 99,72 -3.843,30 12.186,99 (317,10) 793% -118%
PEMBIAYAAN 6.268,01 0,00 - 7.628,48 5.431,96 71,21 18% 100%
Penerimaan Daerah 7.012,01 9.039,19 128,91 6.899,42 4.929,75 71,45 -2% -83%
Pengeluaran Daerah 744,00 9.039,19 1.214,94 729,06 502,21 68,88 -2% -1700%
SILPA 20.364,31 26.556,44 -11.471,78 6.755,03 278% -293%
URAIAN Q3 2019 Q3 2020
TREN GROWTH
14 A. Pendapatan Daerah
Realisasi Pendapatan Daerah di Jateng pada triwulan III 2020 adalah Rp72.512,13 milliar, yang sebagian besar bersumber dari Pendapatan Transfer sebesar Rp48.932,19 milliar (66,8%). Hampir seluruh komponen pendapatan daerah mengalami penurunan dibandingkan dengan periode triwulan III 2019, kecuali komponen Lain-Lain Pendapatan Yang Sah sebesar Rp4.588,90 milliar yang mengalami peningkatan sebesar 5,6% daripada triwulan III 2019 (Rp3.525,56 milliar).
Pendapatan Daerah tertinggi dari Pemerintah Provinsi Jateng sebesar Rp9.327,91 milliar atau 25%. Sedangkan Eks-karesidenan Banyumas menempati posisi terendah dengan realisasi sebesar Rp4.316,17 milliar (8%).
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Realisasi PAD Jateng triwulan III 2020 sebesar Rp12.405,67 milliar, turun 20,53% dari periode sebelumnya Rp14.921,65 miliar. PAD memberikan kontribusi 27,4% dari Total Pendapatan di Jateng. Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, realisasinya
turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini karena adanya beberapa kebijakan relaksasi di bidang pendapatan. Diharapkan sektor riil tidak semakin terpuruk di tengah lesunya perekonomian. Meski disisi lain dampak langsungnya adalah turunnya pendapatan.
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
Grafik III. 1 Realisasi dan Proporsi Kontribusi Pendapatan Daerah Jateng Q3 2019-2020
15 PAD di Jateng paling dominan berasal dari Pajak Daerah, yang pada periode kali ini berkontribusi sebesar 60% atau sebesar Rp7.461,74 milliar. Kontribusi terendah berasal dari komponen Retribusi Daerah yang hanya menyumbang sebesar 3% atau Rp337,91 milliar.
a) Penerimaan Pajak Daerah
Realisasi triwulan III 2020 Rp11.582,51 miliar, turun 8,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp12.859,81 miliar. Tingkat efektifitas penerimaan 29% di Eks-karesidenan Semarang, tertinggi diantara
wilayah lainnya. Realisasi Pemprov Jateng sebesar Rp5.182,82 miliar menjadi kontributor terbesar penerimaan Pajak Daerah (69,5%). Paling rendah dari wilayah Eks-karesidenan Kedu sebesar 2,7% atau Rp199,89 milliar.
b) Penerimaan Retribusi Daerah
Realisasi triwulan III 2020 Rp337,91 milliar menyumbangkan 2,7% dari total realisasi PAD. Lebih rendah dari periode sebelumnya Rp413,28 miliar. Pemprov Jateng memiliki tingkat efektifitas tertinggi, sebesar 52%. Sedangkan realisasi penerimaan tertinggi dari
Grafik III. 2 Realisasi dan Proporsi PAD Agregat Jateng Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
Grafik III. 3 Realisasi Pajak Daerah Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
16 wilayah Eks-karesidenan Semarang Rp75,91 milliar (22,5%). Terendah di Eks-karesidenan Banyumas Rp23,57 miliar atau 7,0% dari total penerimaan Retribusi Daerah.
c) Penerimaan Hasil Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Realisasi triwulan III 2020 Rp675,42 milliar, Berkontribusi 5,4% dari total PAD. Turun dari triwulan III 2019 Rp939,30
milliar. Tingkat efektifitas Eks- karesidenan Pati sebesar 77%, tertinggi dibanding wilayah lainnya. Sedangkan realisasi penerimaan terbesar di Pemprov Jateng Rp320,10 milliar (47,4%). Terendah di Eks-karesidenan Pekalongan sebesar Rp50,51 milliar atau
7,5% dari Total Penerimaan Hasil Kekayaan Daerah.
d) Lain-Lain PAD yang Sah
Realisasi triwulan III 2020 Rp3.930,60 miliar, turun dari periode sebelumnya Rp5.496,22 milliar. Berkontribusi 31,7% dari Total Realisasi PAD.
Tingkat efektifitas tertinggi Eks- karesidenan Pati sebesar 66%.
Sedangkan realisasi tertinggi Pemprov Jateng Rp876.16 milliar (22%), dan terendah Eks- karesidenan Banyumas Rp340,36 milliar (9%).
Grafik III. 5 Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
Grafik III. 6 Realisasi Lain-Lain PAD yang Sah Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
Grafik III. 4 Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
17 2. Pendapatan Transfer
Realisasi triwulan IIII 2020 Rp30.260,80 miliar atau 66,8% dari total Pendapatan Daerah turun dari
periode yang sama tahun sebelumnya.
Disebabkan dampak kebijakan refocusing yang mengarahkan DAK hanya untuk Bidang Pendidikan dan Kesehatan.
Dominasi berasal dari Jenis Transfer
Pemerintah Pusat/ Dana Perimbangan sebesar Rp25.330,75 miliar atau 83,7% dari total Pendapatan Transfer.
3. Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah
Realisasi triwulan III 2020 Rp2.611,8 milliar mengambil peran 5,8% dari total Pendapatan Daerah di Jateng. Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah adalah satu- satunya unsur pendapatan daerah di Jateng dengan realisasi lebih tinggi 23,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1.993,9 milliar. Realisasi tertinggi wilayah Eks- karesidenan Pekalongan sebesar Rp726,53 miliar (31% dari Total).
Grafik III. 7 Realisasi Transfer Daerah Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
Grafik III. 8 Realisasi dan Proporsi PAD Agregat Jateng Q3 2019 dan 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
18 B. Belanja Daerah
1. Belanja Pegawai, Belanja Barang, dan Belanja Modal
Realisasi Belanja transfer triwulan III 2020 Rp33.009,28 miliar, turun 9,3% dibandingkan realisasi periode
sebelumnya sebesar Rp36.064,19 milliar.
Belanja ini didominasi dari wilayah Pemprov Jateng (22%). Belanja Pegawai sebesar Rp15.903,94 milliar adalah jenis belanja
paling dominan dibanding belanja lainnya mencapai 48,2%.
2. Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan
Urusan Pendidikan adalah jenis belanja yang mendominasi realisasi belanja di Jateng (35,49% dari total realisasi belanja). Realisasi terendah adalah urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, yaitu sebesar 5,46%. Realisasi belanja pada urusan PU &
Penataan Ruang mengalami perlambatan akibat adanya penundaan/ penghematan belanja modal dalam rangka penanganan Covid-19.
C. Prognosis Realisasi APBD Sampai Dengan Akhir Tahun 2020
Pandemi Covid-19 berpengaruh pada capaian Pendapatan karena adanya kebijakan relaksasi, sehingga sulit mencapai target. Sedangkan realisasi belanja dapat dioptimalkan dengan kebijakan akselerasi belanja untuk percepatan pemulihan ekonomi regional.
Prognosis pendapatan sampai dengan dengan akhir tahun diprediksi akan terealisasi sebesar 99,00% atau sekitar Rp100.595 miliar. Sedangkan prognosis belanja, jika dalam kondisi ekonomi stabil, maka sampai dengan akhir tahun 2020, realisasi belanja APBD di Jateng diproyeksikan akan mencapai 99,00% atau sebesar Rp104.540 miliar.
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
Grafik III. 10 Pagu dan Realisasi Berdasar Urusan Jateng Q3 2020
Grafik III. 9 Pagu dan Realisasi Belanja Jateng Q3 2020
Sumber : Data LRA Prov/Kab/Kota Jateng, diolah, November 2020
19 IV. PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN ANGGARAN
KONSOLIDASIAN (APBN / APBD)
A. LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN (LKPK)
Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jateng menyusun LKPK Tingkat Wilayah yang mengonsolidasikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tingkat Wilayah dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Konsolidasian di wilayah kerja Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagaimana tabel berikut:
Tabel IV.1
Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian
Tingkat Wilayah Provinsi Jawa Tengah s.d. Triwulan III 2020 (Miliar)
B. PENDAPATAN KONSOLIDASIAN 1. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Total Pendapatan Konsolidasian di Jawa Tengah pada triwulan III 2020 mengalami kenaikan sebesar Rp6.831,40 miliar atau 0,09% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan terbesar disumbang dari pos pendapatan perpajakan sebesar
Sumber data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020
2019 Pusat Daerah Konsolidasian Konsolidasian
A. Pendapatan Negara 60.582,06 69.104,05 79.573,12 72.741,72 9,39%
Pendapatan Perpajakan 55.773,70 11.582,51 67.356,20 59.547,58 13,11%
Pendapatan Bukan Pajak 4.808,37 8.593,27 12.216,92 11.887,34 2,77%
Hibah 0,00 2.155,20 0,00 1.306,80 -100,00%
Transfer 0,00 46.773,07 0,00 0,00 0,00%
B. Belanja Negara 78.286,58 57.102,55 85.276,13 87.766,37 -2,84%
Belanja Pemerintah 23.209,88 48.830,39 72.040,27 77.522,26 -7,07%
Transfer 55.076,70 8.272,16 13.235,86 10.244,11 29,20%
Surplus( Defisit) -17.704,52 12.001,51 -5.703,01 -15.024,66 -62,04%
C. Pembiayaan 0,00 4.424,03 4.424,03 4.900,33 -9,72%
Penerimaan Pembiayaan Daerah 0,00 4.931,76 4.931,76 5.149,12 -4,22%
Pengeluaran Pembiayaan Daerah 0,00 507,73 507,73 248,79 104,08%
-17.704,52 16.425,53 -1.278,99 -10.124,33 -87,37%
% Kenaikan/
Penurunan Uraian
2020
Sisa Lebih(Kurang) Pembiayaan Anggaran
20 Rp7.808,62 atau 0,13% yang berasal dari pajak dalam negeri. Diikuti dengan kenaikan dari pos pendapatan bukan pajak sebesar Rp329,57 atau 0,03%.
Sementara kenaikan dari pos perpajakan mengindikasikan bahwa reformasi kebijakan
perpajakan mampu
mendongkrak penerimaan dalam menghadapi tatanan baru atau New Normal.
Di triwulan III 2020 pendapatan perpajakan terbesar disumbang dari pemerintah daerah yakni Rp69.104,05 atau sebesar 86,84% jika dibandingkan dengan komposisi pendapatan konsolidasi.
Walaupun transfer menjadi penyumbang terbesar di pemerintah daerah namun pendapatan ini akan tereliminasi.
Jika dibandingkan dengan pendapatan konsolidasi pendapatan bukan pajak sebesar 12.219,92 miliar atau 70,34%
menjadi penyumbang terbesar
pada pendapatan konsolidasi dan sisanya terdapat pada pendapatan perpajakan.
2. Analisis Perubahan
Pada triwulan III 2020 penerimaan perpajakan konsolidasi sebesar Rp67.356,20 miliar atau 84,65% dari total pendapatan konsolidasi.
Penyumpang terbesar pada pendapatan konsolidasi berasal dari pendapatan pajak dalam negeri sebesar Rp66.135,20 miliar atau 98,19% dan sisanya
pajak perdagangan
internasional. Hal ini
Grafik IV. 1 Perbandingan Komposisi Konsolidasian s.d Q3 2019 dan 2020
Sumber data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020
Grafik IV. 2 Perbandingan Penerimaan Pempus dan Pemda terhadap Penerimaan Konsolidasian Q3 2020
Sumber data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020
Grafik IV. 3 Perbandingan Penerimaan Perpajakan Pempus dan Pemda terhadap Penerimaan Konsolidasian Q3 2020
Sumber data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020
21 menunjukkan bahwa reformasi kebijakan melalui keringanan pajak bagi aktivitas- aktivitas terkait investasi serta pengaturan ulang sanksi pajak untuk mengurangi beban kepatuhan bagi dunia usaha mampu mengungkit tumbuhnya pendapatan perpajakan.
3. Analisis Pertumbuhan Ekonomi terhadap kenaikan Realisasi Pendapatan Konsolidasian
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi penurunan pada PDRB. Faktor utama adalah karena wabah pandemi Covid-19 yang memperpuruk kondisi ekonomi nasional
maupun daerah. Bila dilihat dari pendapatan perpajakan konsolidasi ada peningkatan sebesar Rp7.808,62 miliar diikuti dengan pendapatan bukan pajak sebesar Rp329,57 miliar.
C. BELANJA KONSOLIDASIAN
1. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Pada triwulan III 2020 total belanja konsolidasian sebesar Rp85.276,13 miliar didominasi dari belanja pemerintah pusat sedangkan belanja yang tereliminasi adalah belanja transfer sebesar Rp50.112,99 miliar disumbang dari belanja pemerintah daerah.
Sedangkan belanja pemerintah daerah terbesar pada belanja pegawai 45,53% diikuti belanja barang 20,70%. Recofusing anggaran karena dampak Covid-19 pada belanja
Tabel IV.2 Realisasi Pendapatan Konsolidasian Q3 2019 dan 2020
Uraian Q3 2019 Q3 2020 ∆
Pendapatan Perpajakan 59.547,58 67.356,20 13,11%
PNBP 11.887,34 12.216,92 2,77%
Total 71.434,92 79.573,12 11,39%
PDRB/Pertumbuhan Ekonomi 351.405,59 344.289,16 -2,03%
Sumber data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020
Grafik IV.4
Perbandingan Belanja dan Transfer Pempus dan Pemda terhadap Belanja dan Transfer Konsolidasian Provinsi Jawa Tengah Q3 2020
Sumber Data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020
22 hibah mengakibatkan timbulnya kontraksi sebesar 9,35%. Belanja hibah pariswisata diharapkan dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk melaksanakan program Cleaniness, Hygine, Safety dan Environment (CHSE). Beberapa daerah di Provinsi Jawa Tengah yang mendapatkan alokasi belanja hibah diantaranya Kota Semarang, Kota Surakarta, Kab. Magelang, Kab. Purworejo.
2. . Analisis Perubahan
Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi penurunan belanja konsolidasi sebesar Rp2.490,24 miliar atau 0,03%. Hal ini sebagai dampak dari pandemi Covid-19 diantaranya diberlakukannya Work From Home (WFH), Kegiatan yang dilakukan secara daring, dan recofusing anggaran. Pada triwulan III 2020 terjadi kenaikan belanja yang sangat signifikan pada belanja tak terduga pemerintah daerah dimana penggunaanya untuk penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19.
Belanja subsidi mengalami kontraksi sebesar 4,01%, dimana belanja subsidi ini digunakan untuk penanganan PEN. Penurunan belanja pegawai sebesar 0,05%
disebabkan karena pemberian gaji ke-13 tidak termasuk pemberian tunjangan kinerja, sedangkan untuk penurunan belanja barang disebabkan karena beberapa kegiatan diadakan secara daring. Penurunan juga nampak pada belanja modal dan belanja pembayaran bunga utang.
Grafik IV.5
Komposisi Belanja Konsolidasian Provinsi Jawa Tengah Q3 2019 dan Q3 2020
Sumber Data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020
23 D. ANALISIS KONTRIBUSI PEMERINTAH DALAM PRODUK DOMESTIK
REGIONAL BRUTO (PDRB)
Laporan Operasional triwulan III 2020 menunjukkan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (G) sebesar Rp74.969,08 miliar maka dapat diperoleh Kontribusi Belanja Pemerintah terhadap PDRB sebesar 21,78%. Sedangkan Nilai Transaksi Aset Non Keuangan yang diasumsikan sebagai nilai Investasi sebesar Rp3.317,50 miliar diperoleh Investasi Pemerintah terhadap PDRB sebesar 0,96%. Kontribusi belanja pemerintah
yang lebih tinggi daripada investasi menunjukkan bahwa sampai triwulan III 2020 Jawa Tengah mengalami pertumbuhan.
Sumber Data : LKPK Kanwil DJPb Jateng, diolah, November 2020 Tabel IV.3
Ringkasan Laporan Operasional Jawa Tengah Q3 2020
24 V. BERITA/ISU FISKAL REGIONAL TERPILIH
Resep “NEW DEAL” Roosevelt Hadapi Depresi Ekonomi
Kejadian depresi ekonomi tidak hanya terjadi saat ini saja, beberapa tahun sebelumnya juga terdapat kejadian depresi ekonomi dan diantara yang terkenal adalah The Great Depression di Amerika periode tahun 1920-an. Krisis perekonomian yang terjadi di Amerika ini bahkan berlangsung hingga 10 tahun, mulai tahun 1929 pada masa pemerintahan Robert Hoover dan berakhir pada tahun 1939. Pada masa pemerintahan Hoover, ketika awal krisis berlangsung, respon yang ditempuh sebagai bentuk solusi menghadapi krisis adalah memberikan dukungan kepada perbankan melalui pinjaman pemerintah, dengan harapan bank dapat beroperasi normal kembali. Namun harapan itu tidak dapat terwujud, bahkan krisis menjadi semakin parah dan pengangguran semakin bertambah banyak dalam kurun waktu tiga tahun berikutnya.
Kepemimpinan selanjutnya beralih kepada Franklin D Roosevelt yang memberikan harapan baru dan optimis bahwa kriris akan segera berakhir. Setelah dilantik sebagai Presiden pada tanggal 4 Maret 1933, Roosevelt langsung mengumpulkan seluruh anggota kabinet dan penasehatnya untuk mencari solusi terbaik atas keterpurukan ekonomi yang terjadi saat itu. Dan pada 99 hari kepemimpinannya, Roosevelt membuat serangkaian program kebijakan yang dikenal dengan nama “New Deal”. Kebijakan ekonomi “New Deal” ini memiliki tiga tujuan dan tahapan, yaitu tahap awal memberikan bantuan kepada para korban yang terdampak depresi ekonomi (relief), berikutnya tahap pemulihan ekonomi (recovery), dan terakhir tahap penataan perekonomian untuk mengatasi depresi ekonomi (reform).
Kebijakan yang diluncurkan oleh Roosevelt ini mulai menunjukkan hasil, ditandai dengan tumbuhnya perekonomian Amerika sebesar 10,8% pada tahap pertama, dan berlanjut tumbuh positif sebesar 8,9% pada tahap kedua, serta naik kembali pertumbuhannya pada tahun 1936 hingga mencapai angka 12,9%. Setelah menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dari tahun 1933 hingga 1936, krisis mulai muncul kembali di tahun 1937 ketika Roosevelt mengambil kebijakan untuk meningkatkan persyaratan perolehan cadangan uang bersamaan dengan pengurangan pengeluaran pemerintah hingga berdampak pada kontraksi ekonomi hingga mencapai angka 3,3%. Hal ini memunculkan perdebatan di kalangan ekonom tentang efektifitas penerapan kebijakan “New Deal” dalam mengatasi depresi perekonomian.
25 Terlepas dari berbagai pandangan yang berbeda tentang kebijakan “New Deal” ini, Rosentiel (2010) dalam artikelnya yang berjudul “How a Different America Responded to the Great Depression” menyatakan bahwa 1) Kebijakan “New Deal” berupa program sosial dan kontrol terhadap perbankan cukup bermanfaat dalam beberapa dekade; 2) Kepercayaan diri masyarakat untuk dapat keluar dari krisis memberikan dorongan kekuatan yang mengarahkan kepada penguatan institusi keuangan yang handal sehingga mampu menghadapi krisis keuangan di masa yang akan datang.
https://www.suaramerdeka.com/news/opini/245081-strategi-menghadapi-resesi
*) Penulis adalah staf Bidang PPA II Kanwil DJPb Prov Jateng
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN PROVINSI JAWA TENGAH Gedung Keuangan Negara I Lt. 3
JL. Pemuda Semarang 50188