PengarUH Makassar Pada PenaMaan kaMPUng daengan dan bUgisan di keraton yogyakarta
yustina Hastrini nurwanti
Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta Jl. Brigjen Katamso No. 139 (Dalem Jayadipuran), Yogyakarta 55152
E-mail: [email protected] Naskah masuk: 4 - 04 - 2018
Revisi akhir: 25 - 05 - 2018 Disetujui terbit: 4 - 06 - 2018
THE INFLUENCE OF MAKASSAR IN NAMING THE KAMPOONGS OF DAENGAN AND BUGISAN IN THE KERATON YOGYAKARTA COMPLEX.
Abstract
The toponym of the kampongs Daengan and Bugisan is closely related to the history and the role of Daeng and Bugis troops in the Keraton Yogyakarta.In Javanese language, adding the ending /-an/
can follow a noun. Daengan comes the noun “Daeng” followed by/-an/.The same is true with Bugisan which comes from the noun “Bugis” followed by /-an/.This paper discusses the history of the kampongs Daengan and Bugisan. It is expected that this paper may become a historical reference for the younger generation and the society in general.
Keywords: toponym, Daengan, Bugisan.
Abstrak
Toponim sebagai salah satu jejak sejarahmasa lalu tentang keberadaan suatu wilayah merupakan salah satu penanda wilayah yang sangat bermafaat bagi penghuninya dalam memahami filosofi wilayahnya yang dicanangkan oleh para pendiri atau cikal bakal dari wilayah tersebut. Melalui toponim kita dapat melihat atau menelusuri karakter fisik, sosial, ekonomi dan budaya sebuah wilayah. Demikian juga dengan penamaan kampung Daengan dan Bugisan berkaitan erat dengan sejarah dan peranannya prajurit Daeng dan prajurit Bugis terhadap keberadaan Keraton Yogyakarta pada masa lalu. Nama wilayah atau kampung tempat tinggal para prajurit Daeng dan Bugis seperti kebiasaan masyarakat Jawa, dengan menyebut yang menempati atau memiliki dengan ditambah akhiran -an, sehingga nama kampung tempat tinggal prajurit Daeng dengan ditambah akhiran –an menjadi Daengan atau kampung Daengan. Demikian juga nama kampung tempat tinggal prajurit Bugis yang terletak di sebelah barat benteng keraton diberi nama Bugisan. Tulisan ini diharapkan bisa menjadi referensi bagi generasi muda khususnya dan bagi masyarakat tentang sejarah singkat daerah Kampung DaengandanBugisan.
kata kunci: Toponim, Daengan, Bugisan.
i. PendaHUlUan
Toponimi adalah ilmu atau studi tentang nama-nama geografis. Toponimi menurut etimologi berasal dari bahasa Yunani topoi artinya tempat dan nama-nama.1 Toponimi bermakna nama tempat yang artinya pemberian nama-nama tempat.2 Nama merupakan kata untuk menyebut atau memanggil orang, tempat, barang, binatang, dan sebagainya.3 Nama adalah kata-kata yang menjadi label setiap makhluk, benda, aktivitas, dan peristiwa di dunia, nama muncul akibat dari kehidupan.
Dalam kehidupan masyarakat, penamaan tempat merupakan bagian budaya yang tidak dapat dipisahkan. Penamaan tempat ada tiga aspek yang berpengaruh yaitu: aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, dan aspek kebudayaan. Aspek perwujudan berkaitan dengan kehidupan manusia dengan bumi dan alam lingkungannya sebagai tempat hidupnya.4 Aspek lingkungan alam yang terlihat menginspirasi masyarakat dalam pemberian nama kampung. Lingkungan alam dibagi menjadi tiga kelompok yaitu hidrologis: (perairan), geomorfologis (rupabumi), dan biologis-ekologis (lingkungan alam dan hidup).5
Toponimi adalah ilmu yang terkait dengan ilmu geografi kesejarahan, maksudnya bahwa dengan kajian toponim atau nama-nama tempat akan sangat membantu untuk mengetahui sejarah dan kebudayaan tempat tersebut. Sebagai contoh misalnya kajian tentang Toponim Kota Yogyakarta, dengan mengetahui nama-nama tempat perkampungan yang ada di Kota Yogyakarta maka akan diketahui pula tentang struktur tata ruang Kota Yogyakarta di masa lampau, yaitu kota yang berpusat di keraton yang dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang berlapis-lapis yang terkategorisasi menurut jabatan, profesi, etnik, dan
1 2 3 4 5
agamanya. Toponimi merupakan pintu gerbang untuk menelisik apa yang terjadi di suatu daerah secara historis. Toponimi bukan sekedar penanda suatu wilayah, tetapi dibalik nama ada rekaman peristiwa, sejarah yang pernah terjadi di wilayah tersebut.
Penulisan ini diharapkan bisa menjadi referensi bagi generasi muda khususnya dan bagi masyarakat tentang sejarah singkat daerah Kampung Daengan dan Bugisan. Penamaan kampung memiliki latar belakang sejarah yang melekat. Keberadaan Kampung Daengan dan Bugisan merupakan bagian wilayah Keraton Yogyakarta. Pembagian kampung di wilayah Keraton Yogyakarta memiliki spesifikasi tertentu membentuk toponimi yang dapat dibagi dalam beberapa kelompok menurut nama atau gelar, nama kelompok abdi dalem, nama prajurit, aktivitas setempat ataupun bentukan baru.
Kajian mengenai penamaan kampung di Kota Yogyakarta ini merupakan suatu kajian sejarah, maka kajian ini menggunakan metodologi ilmu sejarah yang dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: pemilihan topik, pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan.6 Sumber data yang digunakan diperoleh melalui studi pustaka, berasal dari sumber sekunder terdiri dari: buku, jurnal penelitian, dan media sosial yang berkaitan dengan penamaan kampung di Kota Yogyakarta.
ii. PenaMaan kaMPUng daengan dan bUgisan
Sejarah keberadaan Keraton Yogyakarta terkait dengan wilayah Kerajaan Mataram. Adanya Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 menyebabkan Mataram terpecah karena propaganda kolonialisme Belanda.
Mataram pecah menjadi dua pusat pemerintahan yaitu Surakarta dan Yogyakarta, yang dikenal
6
1 Yulius, Identifikasi Pulau di Daerah Perbatasan Berdasarkan Kaidah Toponimi (Studi Kasus: Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur) (Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut Dan Sumberdaya Nonhayati BRKP-DKP, 2004), hlm. 2.
2 Y. Sudaryat, Pemakaian Bahasa Sunda dalam Sistem Toponimi Nama Daerah di Jawa Barat (Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI, 2005), hlm. 10.
3 Hasan Alwi, dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 773.
4 Sudaryat, Op. Cit., hlm. 10-12.
5 Ibid., hlm. 12-15.
6 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995), hlm. 89.
dengan Palihan Negari. Setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 antara Mangkubumi, Pakubuwana III dan kompeni.7 Setelah penandatangan itu kemudian Pangeran Mangkubumi memproklamasikan wilayah yang dikuasainya sebagai sebuah kerajaan yang bernama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukotanya Ngayogyakarta. Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama bergelar Ngersa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati Ing Ngalaga, Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah atau disebut Sultan Hamengku Buwana I.8 Selanjutkan pada tanggal 9 Oktober 1755 mulai dibangunlah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Desa Pacethokan kawasan hutan Beringan. Selama pembangunan keraton, Sultan Hamengku Buwana I tinggal di pesanggrahan Ambarketawang.9 Pembangunan keraton berlangsung sekitar satu tahun, setelah pembangunan selesai, yaitu pada tanggal 7 Oktober 1756 Sultan Hamengku Buwana I pindah ke keraton yang baru selesai dibangun.
Tempat ini kemudian menjadi ibu kota kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.10 Kemudian Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintahkan untuk membangun kampung-kampung di sekitar keraton, yang berada di luar benteng keraton (jaban beteng) sebagai tempat tinggal para prajurit keraton. Nama kampung itu antara lain Kampung Wirabrajan sebagai tempat tinggal Prajurit Wirabraja, Kampung Daengan sebagai tempat tinggal Prajurit Daeng, Kampung Patangpuluhan sebagai tempat tinggal Prajurit Patangpuluh, Kampung Jagakaryan sebagai tempat tinggal Prajurit Jagakarya, Kampung Nyutran sebagai tempat tinggal Prajurit Nyutra, Kampung Mantrijeron sebagai tempat tinggal Prajurit Mantrijero dan sebagainya. Sedangkan kampung yang ada di dalam benteng keraton atau (jeron beteng) diperuntukan bagi para abdi dalem
7 8 9 10
yang mengurusi rumah tangga keraton. Adapun nama-nama kampung di jeron beteng antara lain:
Kampung Siliran sebagai tempat tinggal abdi dalem Silir, Kampung Gamelan sebagai tempat tinggal abdi dalem Gamel, Kampung Langenastran sebagai tempat tinggal abdi dalem Langenastra, Kampung Sindhenan sebagai tempat tinggal abdi dalem Sindhen, Kampung Kemitbumen sebagai tempat tinggal abdi dalem Kemitbumi dan sebagainya.11
a. Pasukan keraton yogyakarta
Keberadaan Prajurit Daeng dan Bugis di Keraton Yogyakarta menurut sejarahnya ada keterkaitan dengan Perang Trunajaya. Trunajaya ketika melawan Mataram dan Kompeni Belanda pada tahun 1670-1679 melibatkan Prajurit Bugis dari Makassar. Dua bersaudara yang bernama Karaeng Galesong dan Daeng Naba merupakan bangsawan Gowa-Tallo yang datang ke Jawa.
Keduanya berada di kubu yang berbeda, Karaeng Galesong mendukung Trunajaya sedangkan Daeng Naba mendukung Mataram dan Kompeni Belanda.
Karaeng Galesong meninggalkan Makassar karena ketidakpuasan atas Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667 antara Sultan Hasanudin dengan Speelman VOC.12 Karaeng Galesong menyusul teman sejawat bangsawan lainnya yang bernama Karaeng Bontomarannu yang terlebih dahulu tiba di Banten. Situasi di Banten yang tidak kondusif menjadikan keduanya berlayar ke wilayah timur menuju Jepara, kemudian menempati di Demung, dekat Surabaya. Karaeng Galesong beserta pengikutnya yang berjumlah 2.000 orang mendukung perjuangan Trunajaya melawan Mataram. Karaeng Galesong kemudian menikah dengan putri dari Trunajaya. Sementara itu Pasukan Bugis Makassar di bawah komando Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu
1112
7 Noto Suroto, Kasultanan Yogyakarta (Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1985/1986), hlm. 9.
8 M.C. Ricklefs, Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792, Sejarah Pembagian Jawa (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002), hlm. 122.
9 Dwi Ratna Nurhajarini, Yogyakarta Dari Hutan Beringan ke Ibukota Daerah Istimewa (Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2012), hlm. 9-10.
10 I.Adrisijanti, (ed.), Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta (Yogyakarta: Balai Pelestarian Purbakala Yogyakarta, 2003), hlm. 28.
11 Dwi Ratna Nurhajarini, Op. Cit., hlm. 14-15.
12 “Prajurit Daeng Keraton Yogyakarta”. Diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id.
menyerang dan membakar pelabuhan yang berada di pesisir utara bagian timur Jawa, Mataram terdesak. Selain itu juga melakukan penyerbuan ke pedalaman dan berhasil merebut pusat kekuasaan Mataram di Plered. Belanda mengetahui Mataram terdesak ikut campur tangan untuk meredam pemberontakan Trunajaya. Karaeng Daeng Naba digunakan sebagai mediator berhasil membujuk Karaeng Galesong untuk menghentikan perang dengan Mataram. Pemberontakan Trunajaya berhasil dipadamkan. Karaeng Galesong dianggap sebagai pengkhianat oleh Trunajaya. Trunajaya tewas dibunuh oleh Amangkurat II pada tahun 1679.
Daeng Naba dianggap berjasa dalam ikut membantu memadamkan pemberontakan Trunajaya. Daeng Naba beserta pasukannya yang berjumlah 2.500 yang terdiri dari orang Bugis Makassar menjadi bagian inti Pasukan Mataram.
Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwana I bertempat tinggal di Pesanggarahan Ambar Ketawang. Keraton Yogyakarta didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Lokasi keraton merupakan bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati.
Pembangunan keraton berlangsung selama satu tahun. Pada tanggal 7 Oktober 1756 Sultan Hamengku Buwana I pindah ke keraton yang baru selesai dibangun, dan bertahta menjadi Sultan Hamengku Buwana I.13
Prajurit Keraton Yogyakarta Hadiningrat dibentuk pada masa pemerintahan Hamengku Buwono I sekitar abad ke-17, tepatnya pada tahun 1755. Prajurit terdiri atas pasukan infanteri dan kavaleri sudah menggunakan senjata api berupa bedhil dan meriam.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II prajurit Keraton Yogyakarta cukup kuat.
Prajurit keraton berjumlah segelar sepapan atau
13
sangat banyak pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana II. Masa Sri Sultan Hamengku Buwana II, prajurit keraton dipakai sebagai pasukan perang.14 Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana II, Inggris sudah berkuasa di Jawa dengan tampuk pimpinan ditangan Raffles. Raffles masih meneruskan semua ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah Belanda. Hubungan Raffles dengan Sri Sultan Hamengku Buwana II tidak berjalan dengan baik karena Raffles menginginkan kekuasaan untuk diberikan kepada Pangeran Natakusuma. Keadaan ini menimbulkan peperangan antara kedua belah pihak.15
Pada tanggal 19 - 20 Juni 1812 terjadi Geger Spehi atau Perang Spoy, adanya serbuan dari pasukan Inggris dibawah pimpinan Kolonel Robert Rollo Gillespie mendapat perlawanan yang kuat dari pasukan Kasultanan Yogyakarta. Namun, pihak Sri Sultan Hamengku Buwana II berhasil dikalahkan oleh Inggris. Sri Sultan Hamengku Buwana II selanjutnya diasingkan ke Pulau Penang.
Kedudukan Sultan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana III.16
Pada tanggal 2 Oktober 1813 diadakan kesepakatan antara Sri Sultan Hamengku Buwana III dengan Raffles selaku wakil dari Inggris, salah satunya menyebutkan bahwa keraton tidak boleh memiliki pasukan bersenjata yang besar.
Keraton hanya diperbolehkan memiliki pasukan bersenjata yang terbatas. Pembatasan personel pasukan untuk mencegah kemungkinan melakukan gerakan militer. Semenjak tanggal 2 Oktober 1813, fungsi pasukan bersenjata hanya sebagai pengawal Sultan dan penjaga keraton. Pasukan bersenjata semasa pemerintahan Kolonial Belanda semakin diperlemah bahkan fungsinya bukan lagi sebagai pasukan militer. Semasa pemerintahan Sri Hamengku Buwana VII (1877) sampai Sri Sultan Hamengku Buwana VIII (1939) ada 13
14 15 16 13 M.C. Ricklefs, Op. Cit., hlm. 124.
14 Djoko Marihandoko dan Harto Juwono, Sultan Hamengku Buwana II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa (Yogyakarta: Banjar Aji Production, 2008), hlm. 58.
15 Dwi Ratna Nurhajarini, Op. Cit., hlm. 19-20.
16 “Geger Sepehi”. Diakses dari https://kratonjogja.id.
kesatuan prajurit keraton yaitu: Sumoatmaja, Ketanggung, Patangpuluh, Wirabraja, Jagakarya, Nyutra, Dhaeng, Jager, Prawiratama, Mantrijero, Langenastra, Surakarsa, dan Bugis.17
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana IX ketika penjajahan Jepang, mulai tahun 1942, semua kesatuan bersenjata Keraton Yogyakarta dibubarkan oleh pemerintah. Setelah Indonesia merdeka, Bangsa Indonesia mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Demikian juga dengan keberadaan prajurit keraton. Pada tahun 1956, prajurit keraton yang telah dibubarkan dimunculkan kembali.18
Pada tanggal 2 Maret 1971, Putra Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana IX yang bernama Bendara Raden Mas Herjuno Darpito memprakarsai berdirinya lembaga keprajuritan yang dinamakan Pengageng Tepas Keprajuritan. Lembaga ini didirikan dengan maksud sebagai wadah organisasi bregada prajurit Keraton Yogyakarta.19 Pada tanggal 7 Maret 1989 Bendara Raden Mas Herjuno Darpito naik tahta menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwana IX menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana X. Semasa Sri Sultan Hamengku Buwana X, prajurit keraton berjumlah sepuluh bregada yaitu:
Wirabraja, Daeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa.20 Kesepuluh pasukan prajurit keraton bisa dilihat oleh masyarakat dalam kegiatan upacara adat keraton.
Sri Sultan Hamengku Buwana X dalam melestarikan budaya keraton terkait prajurit keraton masih bisa dilihat pada arak-arakan bregada prajurit pada upacara adat keraton. Upacara adat keraton bersifat keagamaan yaitu Garebeg yang diselenggarakan tiga kali dalam setahun. Garebeg selalu dilakukan semenjak dari masa pemerintahan
17 18 19 20
Sri Sultan Hamengku Buwana I sampai Sri Sultan Hamengku Buwana X. Upacara Garebeg melibatkan segenap komunitas keraton tanpa memerinci kepangkatan, semua terlibat dari yang berpangkat rendah sampai tinggi.21
b. Pengaruh Makassar Pada Penamaan kampung di yogyakarta
Wilayah Keraton Yogyakarta dibagi dalam tiga tata ruang yaitu: Kuthanegara, Negaragung dan Mancanegara. Kuthanegara atau Negara merupakan wilayah tempat tinggal raja, sebagai pusat atau ibu kota Kerajaan Yogyakarta.
Negaragung merupakan wilayah atau daerah yang mengilingi atau sekitar keraton atau ibu kota, yaitu wilayah: Mataram (Yogyakarta), Pajang, Sukowati, Bagelen, Kedu dan Bumi Gede. Mancanegara yaitu di luar wilayah Negaragung meliputi: Banyumas, Madiun, Kediri, Jipang, Japan, Grobogan dan Kaduwang.22
Wilayah Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi dua yaitu pusat dan mancanegara. Sesuai dengan konsep kebudayaan tradisional Jawa, Kota Istana Yogyakarta ditempatkan sebagai ibukota negara atau kerajaan dan menjadi pusat pemerintahan dan politik bagi wilayah kerajaannya sebagai wilayah negara agung (pusat negara). Konsep dan struktur kerajaan tersebut berlangsung sejak masa Kerajaan Mataram dari masa Sultan Agung hingga Kesultanan Yogyakarta. Istana atau keraton yang berada di pusat kota dikeliling bangunan benteng.
Wilayah yang berada di dalam benteng dinamakan jeron beteng atau jero beteng.
Kampung berdasarkan letaknya dibagi menjadi dua wilayah yaitu: 1) kawasan dalam kompleks keraton Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan jeron beteng dan 2) kawasan di
21 22
17 Djoko Dwiyanto, Kraton Yogyakarta: Sejarah, Nasionalisme, & Teladan Perjuangan (Yogyakarta: Paradigma Indonesia, 2009), hlm. 315.
18 Yuwono Sri Suwito, Prajurit Keraton Yogyakarta: Kajian Filosofi dan Nilai Budaya yang Terkandung di Dalamnya (Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya, 2009), hlm.13-14.
19 Yuwono Sri Suwito, Laporan Akhir Kajian Filosofi dan Nilai Budaya Prajurit Keraton Yogyakarta (Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya, 2008), hlm. 15.
20 Yuwono Sri Suwito, Op. Cit., hlm.14.
21 B. Soelarto, Upacara Tradisional Sekaten Daerah Istimewa Yogyakarta (Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1991/1992), hlm.19.
22 Djoko Dwiyanto, Op. Cit., hlm. 21.
luar kompleks Keraton Yogyakarta yang disebut jaba beteng atau jaban beteng. Nama kampung di wilayah jeron beteng didasarkan atas keahlian abdi dalem-nya. Kampung-kampung yang berada di kawasan dalam keraton merupakan tempat tinggal abdi dalem yang kesehariannya menangani urusan rumah tangga keraton. Sedangkan kawasan jaban beteng merupakan kampung tempat tinggal pegawai istana lainnya yaitu pengurus administrasi, pengrajin, prajurit, dan bangsawan. Semenjak tahun 1900-an Kota Yogyakarta mengalami perkembangan dengan bermunculan kampung- kampung di jaban beteng berdasarkan etnisnya.
Nama-nama kampung jeron beteng antara lain yaitu: Kadipaten, Suryoputran, Ngadisuryan, Panembahan, Mangunnegaran, Wijilan, Musikanan, Kenekan, Bludiran, Kemitbumen, Sekullanggen, Mantrigawen, Pesindenan, Gamelan, Namburan, Patehan, Langenastran, Langenarjan, Siliran, dan sebagainya. Sedangkan nama-nama kampung jaban beteng antara lain: Suranatan, Dagen, Pajeksan, Gerjen, Bumijo, Gandekan, Minggiran, Gemblakan, Keparakan, Numbakanyar, Penumping, Sitisewu, Kumetiran, Jlagran, Gowongan, dan sebagainya.23
Dari semenjak Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai III, para abdi dalem keraton bertempat tinggal di kompleks keraton. Sri Sultan Hamengku Buwono IV mengadakan renovasi kota untuk mengatasi kepadatan penduduk dalam keraton. Cara yang ditempuh Sri Sultan Hamengku Buwono IV dengan memindahkan 10 kompi/bataliyon prajurit dipindah keluar benteng keraton.
Bregada Bugis yang bertugas masa Sri Sultan Hamengku Buwana I bertugas mengawal putra mahkota yang berada di Istana Sawojajar.
Namun sejak Perang Diponegoro, Istana Sawojajar tidak lagi menjadi tempat tinggal putra mahkota melainkan menjadi tempat tinggal Pangeran Mangkubumi, putra Sri Sultan Hamengku Buwana II. Prajurit Bugis bertugas sebagai pengawal Pepatih Dalem di Kepatihan. Namun, semenjak Sri Sultan
23
Hamengku Buwana IX berkuasa, Prajurit Bugis dijadikan bregada pasukan Keraton Yogyakarta.
Bregada Bugis juga bertugas mengawal gunungan ketika Upacara Grebeg.
Prajurit keraton berjumlah sepuluh bregada.
Masing-masing prajurit tersebut bertempat tinggal pada kampung tertentu. Untuk mengenang nama para prajurit tersebut maka kampung kediaman mereka dinamakan sesuai nama prajurit dengan penambahan akhiran -an atau -n. Nama prajurit selain untuk penamaan nama kampung juga digunakan untuk nama jalan di sekitar kampung tersebut.24
Kampung Bugisan maupun Daengan tidak lagi hanya ditempati para prajurit keraton bregada Bugis dan Daeng, namun sudah menyatu dengan masyarakat umum lainnya. Dalam rangka mengenang jejak sejarah prajurit bregada Bugis di beberapa sudut jalan di kampung diletakkan patung Prajurit Bugis lengkap dengan atributnya.
Secara administrasi Kampung Daengan masuk wilayah Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Daerah yang merupakan tempat tinggal para prajurit Daeng dahulu terletak di sebelah barat daya benteng keraton.
Pakaian bregada Daeng menyesuaikan dengan asal daerah anggota pasukannnya. Prajurit Daeng mengenakan celana panjang warna putih seperti prajurit Eropa dengan hiasan garis merah. Baju yang dikenakan model sikepan dengan berplisir merah pada kerah, dada dan lengan baju. Mengenakan sepatu hitam dengan tali. Mengenakan ikat kepala berwana hitam model cekokan dan topi kulit hitam model sigar jangkang. Memakai bulu-bulu berwarna merah putih. memiliki tanggul wesi aji.
Masa Kerajaan Mataram, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Ingkang Sinuwun Susuhunan Paku Buwana pada tahun 1751 menggantikan Sri Susuhunan Paku Buwono II. Pihak Belanda dalam usaha memecah belah
23 Sumintarsih, dkk., Toponim Kota Yogyakarta (Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya, 2007), hlm. 77 – 82.24
24 Salamun, “Inventarisasi dan Dokumentasi Nama-Nama Jalan di Daerah Kotamadya Yogyakarta.” Buletin Jarahnitra. “Mengenal Bangunan Bersejarah dan Nama-Nama Jalan di Kotamadya Yogyakarta.” (Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1989/1990), hlm. 98-99.
keluarga kerajaan mengangkat putera mahkota menjadi raja di Keraton Surakarta dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwono III. Terjadilah peperangan antara pihak Kompeni Belanda dengan Prajurit Mangkubumi. Banyak pemberontak terhadap kompeni Belanda yang kemudian menggabungkan diri dengan Pasukan Mangkubumi yaitu Pangeran Hadiwijaya, Pangeran Hangabehi, Pangeran Prabujaka, dan Raden Mas Said. Pasukan Mangubumi berhasil mengalahkan pasukan bupati mancanagari yang kemudian takluk dan bergabung.
Pasukan Mangkubumi dengan dipimpin oleh Pangeran Hadiwijaya, Tumenggung Mandraka, Tumenggung Prawirasentika dan Tumenggung Jayadirja selanjutnya menyerang ke Pekalongan pada tahun 1752. Pasukan Kompeni Belanda yang didalamnya terdapat Pasukan Bugis mengalami kekalahan. Kapten Juwana, orang Bugis, yang memimpin Prajurit Bugis, Galengsong dan Kraeng Daeng dari Ternate dan Makassar bergabung dengan Pasukan Mangkubumi. Prajurit Bugis ini nantinya menjadi pasukan prajurit Keraton Yogyakarta.25
Pangeran Mangkubumi mendapat dukungan bantuan dari Raden Mas Said. Pada tahun 1753 Raden Mas Said diangkat menjadi Sunan Kabanaran. Raden Mas Said oleh Pangeran Mang- ku bumi dijadikan menantu dinikahkan dengan putri sulungnya, yang nantinya diangkat menjadi Kanjeng Ratu Bendara karena Raden Mas Said sudah naik tahta bergelar Pangeran Mangkunegara I. Pada waktu itu, Pangeran Mangkubumi sudah naik tahta bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Hubungan antara Pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas Said tidak selamanya berjalan baik, terjadi pertengkaran antara keduanya. Pihak Kolonial Belanda menggunakan kesempatan tersebut dengan cara mendekati Raden Mas Said menawarkan bantuan apabila berhasil mengalahkan Pangeran Mangkubumi, pihak Belanda akan memberi bantuan resimen pasukan perang yang
25
beranggotakan orang-orang Makassar dengan nama Laskar Daeng atau Prajurit Daeng. Laskar atau Prajurit Daeng terkenal akan keahliannya dalam berperang. Hubungan yang tidak akur antara Pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas Said berakibat perceraian antara Raden Mas Said dengan Kanjeng Ratu Bendara. Pada tahun 1763, Raden Mas Said mengirim pulang Kanjeng Ratu Bendara kembali ke Keraton Yogyakarta. Raden Mas Said yang merasa khawatir atas keselamatan Kanjeng Ratu Bendara mengirimkan sepasukan pengawal pilihan untuk menghadapi segala kemungkinan di perjalanan ataupun ketika di Keraton Yogyakarta jika Sri Sultan Hamengku Buwana I marah.
Pangeran Mangkunagara I memilih laskar atau Prajurit Daeng pemberian Belanda yang dianggap bisa diandalkan untuk mengawal Kanjeng Ratu Bendara.26
Namun kedatangan Kanjeng Ratu Bendara beserta Laskar atau Prajurit Daeng diterima dengan senang hati oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I. Para Prajurit Daeng diterima dengan senang hati dan penuh rasa kekeluargaan. Para prajurit diberi tempat penginapan dan hidangan yang enak. Kebaikan Sri Sultan Hamengku Buwana I yang jauh dari bayangan ketika mau berangkat memberi kesan yang mendalam bagi para Laskar atau Prajurit Daeng. Laskar Daeng berketetapan hati tidak akan kembali ke Mangkunegaran. Laskar Daeng menyatakan diri mengabdi kepada Sri Sultan Hamengku Buwana I. Keinginan Laskar Daeng untuk mengabdi di Keraton Yogyakarta disambut dengan tangan terbuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I. Sri Sultan Hamengku Buwana I menerima pengabdian Laskar Daeng dengan pertimbangan:
1). Bisa mengurangi kekuatan lawan, yaitu kekuatan Pangeran Mangkunegara; 2). Keraton Yogyakarta mendapat tambahan pasukan yang tangguh pada masanya. Sejak saat itulah prajurit Keraton Yogyakarta bertambah pasukannya dengan adanya Prajurit Daeng. Tugas Prajurit Daeng sama
26
25 Ki Sabdacarakatama, Sejarah Keraton Yogyakarta (Yogyakarta: Narasi, 2009), hlm. 90-91.
26 KRT. Partahadiningrat, “Sejarah dan Peranan Laskar Dhaeng dan Bugis Di Kraton Yogyakarta Hadiningrat”. Makalah Ceramah. (Yogyakarta:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987), hlm. 7.
27 Ibid.
dengan prajurit Keraton Yogyakarta lainnya tidak ada keistimewaan dibandingkan dengan lainnya.27
Keberadaan prajurit keraton terkait dengan adanya perang antara Pangeran Mangkubumi melawan VOC (1746-1755) yang dinamakan Perang Mangkubumen. Pangeran Mangkubumi dibantu kerabat dari lingkungan keraton antara lain Raden Rangga Prawirasentika, Pangeran Hadiwijaya, Pangeran Singasari, Pangeran Hangabehi, dan Raden Mas Said. Masing-masing mempunyai pasukan sendiri-sendiri. Perang Mangkubumen berakhir dengan adanya Perjanjian Giyanti dan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Terbentuknya kerajaan baru dibentuk juga pendukung perangkat untuk jalannya pemerintahan yaitu abdi dalem dan prajurit. Kesatuan prajurit yang ikut berperang dalam Perang Mangkubumen kemudian menjadi cikal bakal prajurit Keraton Yogyakarta.28
Kekuatan militer masa Sri Sultan Hamengku Buwana I sangat kuat. Pada tahun 1781, Sri Sultan Hamengku Buwana I membantu Belanda yang berperang melawan Inggris di Batavia dengan mengirimkan 1.132 prajurit. Kekuatan militer semakin berkembang masa Sri Sultan Hamengku Buwana II. Sri Sultan Hamengku Buwana II sangat membenci Belanda sehingga memperkuat pertahanan untuk persiapan apabila terjadi peperangan. Pada tahun 1808, Sri Sultan Hamengku Buwana II mempunyai 1.756 prajurit sebagai pengawal pribadi Sultan. Prajurit digaji dalam bentuk tanah dan menetap dekat dengan keraton.
Ada 976 yang dipersenjatai senapan. Dalam kondisi darurat, Sri Sultan Hamengku Buwana II mampu mengumpulkan 10.000 prajurit. Jumlah tersebut didapat dari para pangeran keraton memiliki 7.246 prajurit dan bisa mendapatkan prajurit dari para bupati sejumlah 2.126 orang. Kesatuan prajurit mempunyai kekhasan masing-masing.29
27 28 29
Prajurit Daeng karena asal muasal prajurit dari Makassar, Sulawesi Selatan. Daeng merupakan sebutan gelar bangsawan di Makassar. Daeng bermakna prajurit elit yang gagah berani seperti Prajurit Makassar pada waktu dahulu dalam melawan Belanda. Sebagai ciri nama para prajuritnya dalam bregada ini di depan diberi sebutan niti.
Keraton Yogyakarta memiliki sepuluh kelompok pasukan yang disebut sebagai bregada.
Jumlah seluruh prajurit 600 orang. Jumlah anggota tiap pasukan berbeda-beda. Manggalayudha atau kumendham atau kommandhan merupakan pimpinan tertinggi dari keseluruhan bregada prajurit keraton. Manggalayudha yang bertugas mengawasi dan bertanggung jawab atas semua pasukan.
Dalam bertugas manggalayudha dibantu oleh pandhega (kapten parentah) yang bergelar bupati enem wedana prajurit dengan tugas menyiapkan pasukan. Setiap pasukan atau bregada dipimpin oleh perwira berpangkat kapten, namun untuk bregada Bugis dan Surakarsa dipimpin seorang wedana. Pandhega didampingi perwira yang dinamakan panji (lurah). Panji bertugas mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit bregada.
Panji dalam tugasnya dibantu oleh wakil panji.
Sedangkan setiap regu dalam bregada dipimpin seorang bintara berpangkat sersan.30
Prajurit Keraton Yogyakarta dibagi dalam tiga kelompok yaitu milik kepatihan, kadipaten anom, dan milik keraton. Bregada Bugis dahulu milik kepatihan. Bregada Bugis dahulu anggotanya terdiri dari Suku Bugis, namun sekarang tidak lagi. Dalam Upacara Garebeg bertugas mengawal gunungan yang dibawa menuju Kepatihan.31 Secara administrasi Kampung Bugisan masuk Kelurahan Patangpuluhan, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, terletak di sebelah barat benteng keraton.
3031 Ibid.
27 Ibid.
28 “Dari Penjaga Kedaulatan Hingga Pengawal Budaya”. Diakses dari Diakses dari https://kratonjogja.id.
29 Ibid.
30 “Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta”. Diakses dari https://kratonjogja.id.
31 Ibid.
iii. PenUtUP
Toponim sebagai salah satu jejak sejarah masa lalu tentang keberadaan suatu wilayah merupakan salah satu penanda wilayah yang sangat bermafaat bagi penghuninya dalam memahami filosofi wilayahnya yang dicanangkan oleh para pendiri atau cikal bakal dari wilayah tersebut. Melalui toponim kita dapat melihat atau menelusuri karakter fisik, sosial, ekonomi dan budaya sebuah wilayah.
Demikian juga dengan penamaan kampung Daengan dan Bugisan berkaitan erat dengan sejarah dan peranannya Prajurit Daeng dan Prajurit Bugis terhadap keberadaan Keraton Yogyakarta pada masa lalu. Prajurit Daeng yang awalnya adalah para bangsawan yang berasal dari Makassar yang dikenal
tangguh kemudian berpindah ke Jawa dan bergabung dengan Raden Mas Said. Selanjutnya Prajurit Daeng ini mengabdi kepada Sultan Hamengku Buwana I di Keraton Yogyakarta, dan diberi tempat tinggal di wilayah barat daya Keraton Yogyakarta.
Nama wilayah atau kampung tempat tinggal para Prajurit Daeng seperti kebiasaan masyarakat Jawa, dengan menyebut yang menempati atau memiliki ditambah akhiran -an, sehingga nama kampung tempat tinggal Prajurit Daeng dengan ditambah akhiran -an menjadi Daengan atau Kampung Daengan. Demikian juga nama kampung tempat tinggal Prajurit Bugis yang terletak di sebelah barat benteng keraton diberi nama Bugisan.
daftar PUstaka
Adrisijanti, I., ed., 2003. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Purbakala Yogyakarta.
Alwi, Hasan, dkk., 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
“Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta”. Diakses dari https://kratonjogja.id.
“Dari Penjaga Kedaulatan Hingga Pengawal Budaya”. Diakses dari https://kratonjogja.id.
Dwiyanto, Djoko, 2009. Kraton Yogyakarta: Sejarah, Nasionalisme, & Teladan Perjuangan. Yogyakarta:
Paradigma Indonesia.
“Geger Sepehi”. Diakses dari https://kratonjogja.id.
Ki Sabdacarakatama, 2009. Sejarah Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Narasi.
Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Marihandoko, Djoko dan Harto Juwono, 2008. Sultan Hamengku Buwana II: Pembela Tradisi Dan Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Banjar Aji Production.
Noto Suroto, 1985/1986. Kasultanan Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Nurhajarini, Dwi Ratna, 2012. Yogyakarta: Dari Hutan Beringan Ke Ibukota Daerah Istimewa. Yogyakarta:
Balai Pelestarian Nilai Budaya.
Partahadiningrat, KRT., 1986/1987. “Sejarah dan Peranan Laskar Dhaeng dan Bugis Di Kraton Yogyakarta Hadiningrat”. Makalah Ceramah. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
“Prajurit Daeng Keraton Yogyakarta”. Diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id.
Ricklefs, M.C., 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792, Sejarah Pembagian Jawa.
Yogyakarta: Mata Bangsa.
Salamun,1989/1990. “Inventarisasi Dan Dokumentasi Nama-Nama Jalan Di Daerah Kotamadya Yogyakarta”. Buletin Jarahnitra. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Soelarto, B., 1991/1992. Upacara Tradisional Sekaten Daerah Istimewa Yogyakarta.. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Sudaryat, Y., 2005. Pemakaian Bahasa Sunda dalam Sistem Toponimi Nama Daerah Di Jawa Barat.
Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI.
Sumintarsih, dkk., 2007. Toponim Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya.
Yulius, 2004. Identifikasi Pulau Di Daerah Perbatasan Berdasarkan Kaidah Toponimi (Studi Kasus:
Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur). Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut Dan Sumberdaya Nonhayati. BRKP-DKP.
Yuwono Sri Suwito, 2008. Laporan Akhir Kajian Filosofi dan Nilai Budaya Prajurit Keraton Yogyakarta.
Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya.
_____________, 2009. Prajurit Keraton Yogyakarta: Kajian Filosofi Dan Nilai Budaya Yang Terkandung Di Dalamnya. Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya.