BAB 1 PENDAHULUAN. Dunia bisnis yang dinamis menuntut para pelaku didalamnya untuk selalu

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Dunia bisnis yang dinamis menuntut para pelaku didalamnya untuk selalu berhati-hati agar kelangsungan usahanya dapat terjaga dan terhindar dari kepailitan. Kasus pailit telah sering terjadi baik di Indonesia maupun dunia, sebut saja Enron dan Lehman Brothers, kepailitan keduanya membawa dampak yang begitu besar bagi perekonomian negara-negara sekitar tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia sendiri kasus kepailitan telah menimpa sejumlah perusahaan, 2 diantaranya yaitu PT Nyonya Meneer selaku perusahaan pribadi dan PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo atau lebih dikenal dengan kode emiten (DAJK) yang telah go public, kedua perusahaan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri setempat setelah digugat oleh kreditor karena memiliki beban utang yang berat kepada sejumlah kreditor. Beratnya beban utang membuat perusahaan tak lagi sehat dan tidak dapat melunasi utangnya seperti yang telah disepakati diawal perjanjian utang. Peristiwa kepailitan tersebut mengindikasikan bahwa tidak semua perusahaan yang belum ataupun sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia memiliki kelangsungan usaha (going concern) yang prospektif dimasa depan. (Izazi dan Arfianti, 2019)

Going concern suatu perusahaan selalu dihubungkan dengan kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan agar dapat bertahan pada dunia bisnis yang dinamis. Opini audit going concern sendiri merupakan opini audit modifikasi yang dikeluarkan oleh auditor untuk memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya setidaknya dalam satu tahun ke

(2)

depan (SPAP seksi 341, 2011). Pengeluaran opini ini seringkali disikapi sebagai bad news oleh perusahaan karena diyakini dapat menyebabkan perusahaan menjadi cepat bangkrut sebab pengguna laporan keuangan merespon informasi tersebut secara negatif seperti investor membatalkan investasinya dan kreditor menarik pinjamannya. Meskipun demikian, opini audit going concern harus diungkapkan dengan harapan dapat segera mempercepat usaha penyelamatan perusahaan yang bermasalah (Izazi dan Arfianti, 2019).

Going concern merupakan dalil yang mengasumsikan bahwa sebuah entitas tidak diharapkan akan dilikuidasi di masa depan atau bahwa entitas tersebut akan berlanjut sampai periode yang tidak dapat ditentukan. Para pemakai laporan keuangan merasa bahwa pengeluaran opini audit going concern ini sebagai prediksi kebangkrutan suatu perusahaan (Kartika, 2012). Untuk sampai kesimpulan apakah perusahaan akan memiliki going concern atau tidak, auditor harus melakukan evaluasi secara kritis terhadap perencanaan yang dilakukan oleh pihak manajemen. Masalah going concern merupakan hal yang kompleks dan akan selalu ada. Sehingga diperlukan faktor-faktor sebagai tolak ukur yang pasti untuk menentukan status going concern pada perusahaan, dan faktor-faktor tersebut harus diuji agar dalam keadaan ekonomi yang tidak tetap, status going concern tetap dapat diprediksi.

Auditor harus menilai apakah setahun setelah pelaporan perusahaan akan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya (Nurpratiwi, 2014). Auditor harus mempertimbangkan mengenai going concern perusahaan dalam memberikan opini, meskipun itu bukanlah tanggung jawab auditor dalam menetapkan kelangsungan hidup suatu perusahaan (Dewayanto, 2011). Opini

(3)

audit going concern bukanlah penambahan dari kelima jenis opini audit yang ada, melainkan opini modifikasi dari opini yang telah ada bila auditor menilai perusahaan mengalami kesulitan dalam mempertahankan hidupnya. Kecermatan auditor dalam mempertimbangkan kelangsungan hidup perusahaan sangat diperlukan agar produk dari akuntan publik yaitu opini audit menjadi berkualitas.

Informasi mengenai perusahaan khususnya yang berkaitan dengan kelangsungan hidup perusahaan harus diidentifikasi oleh auditor dalam jangka waktu setahun setelah tanggal laporan keuangan auditan (Fahmi,2015).

Kesangsian auditor mengenai kelangsungan hidup perusahaan dapat timbul dari beberapa faktor yaitu, kekurangan modal kerja, perkara pengadilan atau masalah serupa yang sering terjadi, serta kerugian usaha secara berulang (Anindita, 2013).

Secara garis besar, penyebab kebangkrutan bisa dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari bagian internal manajemen perusahaan. Sedangkan faktor eksternal bisa berasal dari faktor luar yang berhubungan langsung dengan operasi perusahaan atau faktor perekonomian secara makro. Faktor internal yang bisa menyebabkan kebangkrutan perusahaan meliputi:

1. Manajemen yang tidak efisien akan mengakibatkan kerugian terusmenerus yang pada akhirnya menyebabkan perusahaan tidak dapat membayar kewajibannya. Ketidakefisien ini diakibatkan oleh pemborosan dalam biaya, kurangnya keterampilan dan keahlian manajemen.

2. Ketidakseimbangan dalam modal yang dimiliki dengan jumlah piutang-hutang yang dimiliki. Hutang yang terlalu besar akan mengakibatkan biaya bunga yang besar sehingga memperkecil laba bahkan bisa menyebabkan kerugian.

(4)

Piutang yang terlalu besar juga akan merugikan karena aktiva yang menganggur terlalu banyak sehingga tidak menghasilkan pendapatan.

3. Adanya kecurangan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan bisa mengakibatkan kebangkrutan. Kecurangan ini akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan yang pada akhirnya membangkrutkan perusahaan. Kecurangan ini bisa berbentuk manajemen yang korup ataupun memberikan informasi yang salah pada pemegang saham atau investor.

Sedangkan faktor eksternal yang bisa mengakibatkan kebangkrutan berasal dari faktor yang berhubungan langsung dengan perusahaan meliputi pelanggan, supplier, debitur, kreditur, pesaing ataupun dari pemerintah. Sedangkan faktor eksternal yang tidak berhubungan langsung dengan perusahaan meliputi kondisi perekonomian secara makro ataupun faktor persaingan global. Faktor-faktor eksternal yang bisa mengakibatkan kebangkrutan adalah:

1. Perubahan dalam keinginan pelanggan yang tidak diantisipasi oleh perusahaan yang mengakibatkan pelanggan lari sehingga terjadi penurunan dalam pendapatan. Untuk menjaga hal tersebut perusahaan harus selalu mengantisipasi kebutuhan pelanggan dengan menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

2. Kesulitan bahan baku karena supplier tidak dapat memasok lagi kebutuhan bahan baku yang digunakan untuk produksi. Untuk mengantisipasi hal tersebut perusahaan harus selalu menjalin hubungan baik dengan supplier dan tidak menggantungkan kebutuhan bahan baku pada satu pemasok sehingga risiko kekurangan bahan baku dapat diatasi.

(5)

3. Hubungan yang tidak harmonis dengan kreditor juga bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Apalagi dalam undang-undang no.4 tahun 1998, kreditor bisa memailitkan perusahaan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan harus bisa mengelola hutangnya dengan baik dan juga membina hubungan baik dengan kreditor.

4. Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan agar selalu memperbaiki diri sehingga bisa bersaing dengan perusahaan lain dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Semakin ketatnya persaingan menuntut perusahaan agar selalu memperbaiki produk yang dihasilkan, memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi pelanggan.

5. Kondisi perekonomian secara global juga harus selalu diantisipasi oleh perusahaan. Dengan semakin terpadunya perekonomian dengan negara-negara lain, perkembangan perekonomian global juga harus diantisipasi oleh perusahaan.

Beberapa kasus perusahaan yang go public mengalami delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI), artinya perusahaan tersebut dihapuskan atau dikeluarkan dari daftar perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di BEI. Ada dua jenis delisting, yakni delisting paksa dan delisting atas sukarela emiten. Proses delisting paksa biasanya dilakukan lantaran emiten memiliki kondisi yang berpengaruh negatif terhadap keberlangsungan hidup (going concern) perusahaannya. Bagi investor, perusahaan yang sudah delisted adalah identik dengan bangkrut, karena mereka sudah tidak bisa lagi investasi di perusahaan tersebut (Siregar dan Abdul, 2012).

(6)

Fenomena pertama, PT Surya Intrindo Makmur Tbk menerima opini going concern atas laporan keuangan konsolidasian yang berakhir 31 Desember 2011.

Pertimbangan atas pemberian opini going concern tersebut dilakukan atas keputusan auditor Agus Subyantara & rekan karena perusahaan mengalami kerugian yang berulang kali dari usahanya dan mengakibatkan saldo ekuitas negatif. Penerimaan opini going concern tersebut menimbulkan kekhawatiran para inverstor, sehingga saham perusahaan yang diperdagangkan di BEI sama sekali tidak tersentuh transaksi, artinya para investor menarik dananya dari perusahaan tersebut sehingga pihak BEI melakukan delisting pada tanggal 03 Desember 2012 sebagai tindakan atas adanya tanda ketidakmampuan perusahaan dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya.(www.bisnis.com)

Fenomena kedua, Opini going concern juga diterima oleh PT Surabaya Agung Industri Pulp & kertas Tbk terlambat merilis laporan keuangan di BEI.

Pertimbangan atas pemberian opini going concern tersebut atas keputusan auditor Anwar & Rekan karena perusahaan mengalami kerugian yang berulang kali dari

Indikator going concern yang paling banyak dipakai oleh auditor dalam memberikan keputusan, terkait opini auditnya berdasarkan pernyataan Standar Auditing No.30 (SPAP seksi 341, 2011) adalah kegagalan dalam memenuhi kewajiban utang (default). Debt default didefinisikan sebagai kegagalan debitor (perusahaan) untuk membayar hutang pokok dan bunganya pada waktu jatuh tempo (Chen dan Church, 1992). Hal pertama yang akan dilakukan oleh auditor untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangan suatu perusahaan adalah dengan memeriksa hutang perusahaan. Ketika suatu perusahaan memiliki hutang yang tinggi, maka kas yang ada di perusahaan akan diarahkan untuk menutup hutang

(7)

yang dimiliki perusahaan yang dampaknya akan mengganggu kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan yang tidak mampu membayar utang pokok atau bunganya pada saat jatuh tempo (debt default) maka kemungkinan besar perusahaan akan menerima opini audit going concern.

Salah satu dari fenomena debt default di Indonesia adalah PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) yang telah dinyatakan pailit setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan pembatalan perjanjian perdamaian oleh PT Bank ICBC Indonesia. Anak usaha Sariwangi Group PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung juga ikut dijatuhkan pailit.

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan kedua perusahaan itu pailit karena dianggap telah melanggar perjanjian perdamaian soal utang piutang dengan PT Bank ICBC Indonesia. Setelah tagihan kredit utang bermasalah Bank ICBC Indonesia sepakat dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Total utang Sariwangi kepada Bank ICBC Indonesia saat itu mencapai US$ 20.505.166 atau sekitar Rp 309,6 miliar. Namun sejak perjanjian itu pihak Sariwangi tidak memenuhi perjanjian dengan membayar cicilan utang. Hingga akhirnya PT Bank ICBC Indonesia mengajukan pembatalan perjanjian perdamaian. Berbarengan dengan Sariwangi, Bank ICBC Indonesia juga meminta pembatalan perjanjian perdamaian kepada PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung. Total utang perusahaan ini mencapai $2.017.595 dan Rp.

4.907.082.191. (https://finance.detik.com/)

Disclosure (tingkat pengungkapan) atas informasi laporan keuangan merupakan suatu hal yang baru di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Nanda (2015) yang menggunakan disclosure menjadi salah satu variabel

(8)

independen menyimpulkan bahwa disclosure berpengaruh positif dan signifikan pada penerimaan opini audit going concern. Hasil tersebut di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2013), namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih (2015) yang mengungkapkan bahwa disclosure tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern.

Disclosure adalah pengungkapan atau pemberian informasi oleh perusahaan, bagi yang positif maupun yang negatif, yang akan mempengaruhi atas suatu keputusan investasi. Disclosure dibutuhkan oleh para pengguna untuk lebih memahami informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Pengungkapan laporan keuangan dibutuhkan oleh para pengguna laporan keuangan untuk lebih memahami informasi yang ada pada laporan keuangan.

Fenomena yang terjadi di Indonesia pada saat ini terkait dengan disclosure ialah masih banyak Emiten yang melakukan kesalahan dan tidak transparan dalam menyajikan informasi keuangan perusahaannya. Seperti yang terjadi pada PT Inovisi Infracom Tbk, Bursa Efek Indonesia (BEI) menemukan sekitar delapan kesalahan dalam laporan keuangan perusahaan investasi itu pada kuartal III-2014 (Idris, 2015). Saat ini, baik BEI maupun investor masih menunggu penjelasan perusahaan soal laporan keuangan yang banyak salah itu.

Karena banyaknya kesalahan yang ada dalam laporan keuangan PT Inovisi Infracom Tbk, hal ini terkesan seperti adanya manipulasi terhadap laporan keuangan yang bertujuan untuk membohongi investor. Sehingga wajar investor menduga adanya upaya manipulasi laporan keuangan. Tetapi selain hal itu, mungkin memang ada ketidaksengajaan dalam pelaporan keuangan, seperti ada akun-akun yang tidak dimasukkan atau dihilangkan (Idris, 2015).

(9)

Faktor lain yang menentukan auditor dalam mengungkapkan opini audit going concern yaitu Profitabilitas. Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu. Semakin tinggi nilai profitabilitas, maka semakin besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan dengan Return On Assets (ROA). ROA menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total asset atau total aktiva yang dimiliki perusahaan dalam periode tertentu. Perusahaan yang memiliki nilai ROA yang negatif dalam periode waktu yang berurutan akan memicu masalah going concern karena ROA yang negatif artinya bahwa perusahaan tersebut mengalami kerugian dan ini akan mengganggu kelangsungan hidup perusahaan tersebut (Endra, 2013). Tingkat profitabilitas yang positif menunjukkan bahwa perusahaan menghasilkan laba, sebaliknya dengan tingkat profitabilitas yang negatif berarti menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian. Penelitian ini akan memfokuskan pada rasio profitabilitas, Rasio Return On Assets (ROA) perusahaan.

Financial distress merupakan gambaran kesehatan atas kinerja keuangan sebuah perusahaan sebenarnya dalam suatu periode kerja. Financial distress juga dikenal sebagai situasi dimana aliran kas operasi suatu perusahaan tidak cukup memuaskan kewajiban-kewajibannya (Fauziah,2015). Kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan baik atau buruk dapat digambarkan dengan rasio keuangan. Perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan akan terlihat secara kasat dari laba yang dihasilkan. Jika laba menurun dengan ketentuan tertentu maka perusahan dapat dikategorikan sebagai perusahaan yang distress.

Perusahaan yang mengalami financial distress kemungkinan besar akan mendapat

(10)

opini audit going concern karena perusahaan tersebut mengindikasikan kelangsungan hidup yang diragukan dan terancam bangkrut. Dalam perhitungannya financial distress menggunakan model prediksi kebangkrutan Altman revisi yaitu semakin kecil nilai Z-score, perusahaan semakin mengalami financial distress. Maka dapat dikatakan bahwa perusahaan yang mengalami financial distress dengan nilai Zscore semakin kecil, maka besar kemungkinan menerima opini audit going concern. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mada dan Laksito (2013) yang menunjukkan hasil bahwa financial distress berpengaruh terhadap penerimaan opini going concern.

Salah satu fenomena dari financial distress yang cukup menarik perhatian adalah masalah global financial crisis yang terjadi pada tahun 2008 (Hidayat dan Merianto, 2014). Guncangan ekonomi Amerika yang dimulai pada pertengahan tahun 2007 sebagai akibat krisis kredit perumahan bermutu rendah atau yang lebih dikenal dengan kasus subprime mortgage ternyata berimbas ke krisis sektor finansial yang lebih dalam. Kondisi ini ternyata semakin memburuk, meluas dan berkepanjangan sehingga menyebabkan tumbangnya harga-harga saham hampir di seluruh belahan dunia serta kebangkrutan lembaga keuangan maupun perusahaan baik di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan negara-negara lainnya. Krisis keuangan di Amerika ini pada akhirnya dirasakan pula oleh Indonesia, dampak yang dirasakan Indonesia pada saat itu yaitu menurunnya kinerja neraca pembayaran, tekanan pada nilai rupiah, dan dorongan pada laju inflasi. Krisis ini menyebabkan beberapa perusahaan di delisting dari Bursa Efek Indonesia (Sugema,2012).

(11)

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Saputra dan Kustina (2018) yang meneliti tentang Analisis Pengaruh Financial Distress, Debt Default, Kualitas Auditor, Auditor Client Tenure, Opinion Shopping Dan Disclosure, Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Saputra dan Kustina (2018) adalah peneliti mengganti variabel Kualitas Auditor, Auditor Client Tenure, dan Opinion Shopping dengan variabel Profitabilitas, dan mengganti objek penelitian yang awalnya pada perusahaan manufaktur menjadi perusahaan aneka industri.

Alasannya adalah karena pada saran penelitian saputra dan Kustina (2018), mereka menyarankan untuk memasukan atau mengganti variabel lain, yang mempengaruhi opini audit going concern dan saran yang kedua ialah menggunakan sektor selain perusahaan manufaktur di dalam BEI, dengan tujuan untuk dapat melihat trend penerbitan opini audit going concern secara luas.

Peneliti memilih sampel perusahaan-perusahaan yang merupakan sektor aneka industri, karena sektor aneka industri memiliki proporsi yang cukup besar dalam nilai ekspor negara Indonesia .

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Debt Default, Disclosure, Profitabilitas Dan Financial Distress Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern (Studi Empiris Pada Perusahaan Aneka Industri Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2019) .

(12)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah Debt Default berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern?

2. Apakah Disclosure berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern?

3. Apakah Profitabilitas berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern?

4. Apakah Financial Distress berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti adalah :

1. Untuk mengetahui pengaruh Debt Default terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan aneka industri.

2. Untuk mengetahui pengaruh Disclosure terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan aneka industri.

3. Untuk mengetahui pengaruh Profitabilitas terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan aneka indutsri.

4. Untuk mengetahui pengaruh Financial Distress terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan aneka industri.

(13)

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis

Untuk memenuhi salah satu persyaratan akademis dalam menyelesaikan studi program strata satu (S-1) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Jambi, serta untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan terutama mengenai variabel yang diteliti.

2. Bagi Emiten

Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan pengambilan keputusan khususnya bagi manajer yang berkaitan dengan manfaaat ekonomi di masa yang akan datang dan juga dalam mempertahankan serta mengembangkan perusahaan dengan melihat bagaiman pengaruh Debt default, disclosure, Profitabilitas dan Financial Distress terhadap opini audit going concern, sebagai variable yang berpeluang berpengaruh terhadap kelangsungan usaha di suatu entitas bisnis.

3. Bagi Pihak Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak akademisi sebagai sumber informasi, bahan pengambilan keputusan, sumber pengetahuan dan referensi untuk penelitian dengan topik yang sama ataupun berkaitan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :