• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pluralitas Madzhab

N/A
N/A
Nur Duroh

Academic year: 2022

Membagikan "Pluralitas Madzhab"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Nur Duroh Maslakhah NIM : 21102030004

Matkul : Ushul Fiqih

Pluralitas Pemikiran Hukum Islam : Konteks Berfiqih, Institusionalisasi Madzhab & Kekuasaan

Madzhab adalah cara berpikir dasar untuk menetapkan suatu hukum yang dikaji oleh seorang mujtahid dan menjadi jalan yang ditempuh oleh seorang mujtahid dalam mengkaji suatu hukum islam. Adanya madzhab karena proses sejarah dalam penetapan hukum yang mana dimulai sejak zaman sahabat. Madzhab yang terkenal itu ada 4 yaitu madzhab hanafi, maliki, syafi’i dan hambali dimana setiap negara islam pasti menggunakan madzhab yang berbeda-beda. Keberadaan hukum islam di Indonesia sangatlah panjang sejarahnya, jika ditarik ke belakang di mulai sejak masuknya islam ke Indonesia. Islam masuk ke Indonesia ada 4 teori salah satunya teori gujarat yang dibawakan oleh pedagang muslim India pada tahun 13 M yang mana pedagang India ini bermadzhab syafi’i sehingga di Indonesia menggunakan madzhab syafi’i. Alasan Indonesia menggunakan madzhab syafi’i karena moderat, dekat dengan fiqih nusantara, dekat dengan kepribadian bangsa Indonesia, disebarkan oleh orang yang bermadzhab syafi’i. Sehingga di pemerintahan Indonesia dalam menetapkan suatu hukum mengggunakan madzhab syafi’i karena madzhab ini lebih dominan daripada madzhab lainnya. Walaupun di pemerintahan menggunakan madzhab syafi’i tetapi sebenarnya mengakui 3 madzhab lainnya, mengingat di Indonesia ada 2 organisasi islam terbesar yaitu Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Organisasi islam Muhammadiyah tidak bermadzhab maksudnya ialah tidak menyakini satu madzhab tetapi lari dari madzhab satu menuju madzhab lainnya berbeda dengan NU yang tetap menyakini 4 madzhab tetapi tetap menggunakan satu madzhab yaitu madzhab syafi’i. Hal seperti inilah yang membuktikkan bahwa islam dan hukumnya menjadi faktor dominan di kehidupan penduduk Indonesia sehingga tidak heran jika cara ibadahnya berbeda-beda tidak seperti yang kita pakai seperti sehari-hari tetapi walaupun berbeda tujuannya tetap sama yaitu untuk mengharapkan ridha Allah SWT. Jikapun berbeda mereka juga memiliki dalil dan logika yang kuat.

(2)

Sebagai seorang muslim bermadzhab jugalah sangat penting karena bentuk suatu pemahaman hukum islam yang diyakini atau bisa juga menjadi dasar seorang mujtahid untuk memutuskan suatu perkara hukum. Di Indonesia menggunakan madzhab syafi’i sehingga cara pengambilan hukumnya menggunakan dalil dan rasionalitas karena Imam Syafi’i berguru kepada Imam Abu Hanifah dan Imam Malik yang mana kedua gurunya ini memiliki pandangan yang berbeda, Imam Hanafi lebih mengedepankan rasionalitas sedangkan Imam Malik lebih mengutamakan hadis sehingga Imam Syafi’i menggunakan keduanya.

Walaupun di Indonesia menggunakan madzhab syafi’i tetapi di negara arab menggunakan madzhab hambali mengingat agama islam lahir di tanah arab yaitu di Mekkah dan sebagai pusat kiblatnya seluruh islam di dunia. Mekkah menganut madzhab hambali sebagai madzhab resminya dan menjadi aturan untuk setiap peradilan tetapi pada hakikatnya imam-imam yang ada di Mekkah mempelajari semua 4 madzhab dan tidak memaksakan untuk mengajarkan madzhab lain dan tetap mempercayai 4 madzhab. Berhubung pusat islam menggunakan madzhab hambali bukan berarti semua negara islam di dunia juga harus menggunakan madzhab hambali tetapi disesuaikan oleh kondisi, kepribadian negara dan sejarah masuknya islam di negara tersebut, seperti halnya dengan Indonesia yang menganut madzhab syafi’i yang sangat berbeda dengan negara Turki yang hanya percaya dengan satu madzhab yaitu madzhab hanafi atau negara Maroko yang secara resmi menjadi satu-satunya negara islam yang menggunakan madzhab maliki. Beda halnya dengan Arab yang menggunakan madzhab hambali tetapi ketika pemutusan suatu hukum tetap berpegang kepada 4 madzhab karena negara tersebut menjadi pusat negara islam di seluruh dunia walaupun yang secara resmi hanya satu.

Setiap madzhab memiliki ciri khasnya masing-masing dalam menentukan suatu hukum tetapi sumbernya tetap sama yaitu sesuai dengan al-qur’an dan hadis hanya saja dalam prosesnya untuk penetapan suatu hukum yang berbeda. Madzhab Hanafi yang dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah lebih mengedepankan rasionalitas atau bisa disebut juga dengan logika yang mana metodologi berfiqihnya yaitu al-qur’an – sunnah - pendapat para sahabat nabi (atsar) - ijma’ – qiyas - istihsan. Madzhab Maliki yang dikemukakan oleh Imam Malik bin Anas lebih ke hadis yang mana metodologi berfiqihnya yaitu nash al-qur’an - dhahir al-qur’an - mafhum al-qur’an - dalil al-qur’an - tanbieh al-qur’an - nash hadis - dhahir hadis - mafhum hadis - dalil hadis - tanbieh

(3)

hadis - ijma’ – qiyas – atsar – istihsan - amar makruf nahi mungkar – istishab - mashlahat mursalah - syariat. Madzhab Syafi’i yang dikemukakan oleh Imam Asy Syafi’i lebih ke nass dan rasionalitas yang mana metodologi berfiqihnya yaitu al-qur’an – sunnah - ijma’ - qiyas. Madzhab Hambali yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hambal lebih ke pertengahan yang mana ketika Imam Syafi’i berselisih kepada Imam Malik maka Imam Hambal ini akan mengambil hukum yang pertengahan yang mana metodologi berfiqihnya yaitu nash al-qur’an dan hadis marfuk -fatwa sahabat - pendapat sahabat - hadis mursal dan hadis dhaif-qiyas.

Pada hakikatnya manusia mempunyai akal yang tentunya cara berpikirnya juga berbeda-beda apalagi sumber agama islam adalah al-qur’an yang isinya universal dan tidak dijelaskan secara rinci sehingga membuat kita senantiasa untuk berpikir dalam mengambil suatu hukum dan jikapun menggunakan hadis juga banyak jenisnya apalagi hadis disampaikan dari mulut ke mulut sehingga membuat kita harus lebih teliti. Boleh kita bermadzhab sesuai yang kita yakini tetapi janganlah sampai mempunyai rasa etnosentrisme. Menganut madzhab berarti memiliki kemampuan untuk mengkaji hukum. Maka tidak perlu heran jika kita mendapati orang yang berbeda cara ibadahnya atau dalam prateknya karena pada sesungguhnya hal itu adalah hal yang wajar, yang terpenting sumbernya tetap sama yaitu dari al-qur’an dan hadis, tidak menyeleweng dari ajaran islam dan tidak menggunakan cara yang haram.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrohman, A. A. (2018). Eksistensi Islam Moderat dalam Perspektif Islam. Rausyan Fikr: Jurnal Pemikiran dan Pencerahan, 14(1).

Rahman, M. G. (2010). Pluralitas Mazhab dalam Fikih. Al-Ulum, 10(1), 185-196.

Rohmah, A. N., & Zafi, A. A. (2020). Jejak Eksistensi Mazhab Syafii di Indonesia. Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 8(1).

(4)

Referensi

Dokumen terkait

Abstraksi — Pencarian rute terpendek merupakan salah satu persoalan yang dihadapi oleh pegawai PDAM Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang yang bertugas untuk melakukan dan

Semakin cepat persediaan bertukar yaitu tingkat perputaran persediaan (inventory turnover) tersebut makin tinggi maka mengindikasikan tingginya tingkat penjualan

Penulisan Tugas Akhir/Skripsi dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat akademik untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi pada Fakultas

Dalam melaksanakan 3 pilar misi pembangunan kelautan dan perikanan yakni kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan melalui berbagai kebijakan yang telah ditempuh serta program

Praktik mengajar merupakan kegiatan pokok pelaksanaan PPL. Praktikan langsung terlibat dalam proses pelaksanaan belajar mengajar di kelas dengan tujuan agar praktikan

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan keamanan pangan daging sapi segar, mengetahui program Pemkot Surakarta mengenai keamanan pangan

[r]

Dengan latar belakang inilah, tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis daya saing usahatani kelapa sawit (keunggulan kompetitif dan komparatif), (2)