KATA PENGANTAR
aporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2016, yang merupakan pelaksanaan dari
Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Presiden dalam arahannya telah menyampaikan bahwa “Laut adalah Masa Depan Bangsa”. Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai institusi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan telah menetapkan 3 pilar misi pembangunan dalam Rencana Strategis Tahun 2015-2019, yakni Kedaulatan (Sovereignty), Keberlanjutan (Sustainability), dan Kesejahteraan (Prosperity).
Seluruh kebijakan yang ditempuh selama tahun 2016 merupakan penjabaran dari 3 pilar misi tersebut, yang dalam sistem pengelolaan kinerja KKP ditetapkan dalam 10 Sasaran Strategis dengan 20 Indikator Kinerja Utama dengan pendekatan 4 perspektif dalam metoda Balanced Scorecard.
Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2016 menggambarkan capaian kinerja tahun 2016 dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja, beserta analisisnya. Permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam pencapaian target tahun 2016, akan menjadi rencana tindak lanjut untuk perbaikan kinerja tahun 2017.
Masukan dan saran perbaikan yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk peningkatan kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka mewujudkan Laut sebagai Masa Depan Bangsa.
Jakarta, 27 Februari 2017 Menteri Kelautan dan Perikanan
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... ix
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ... 2
1.3 Tugas dan Fungsi KKP ... 2
1.4 Sumber Daya Manusia KKP ... 5
1.5 Potensi dan Permasalahan Pembangunan KP ... 6
1.6 Sistematika Penyajian Laporan Kinerja ... 9
BAB 2 PERENCANAAN KINERJA 2.1 Rencana Strategis KKP Tahun 2015-2019 ... 11
2.2 Penetapan Kinerja KKP Tahun 2016 ... 14
BAB 3 AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. Capaian Kinerja Organisasi ... 19
3.2. Analisis Capaian Kinerja ... 23
3.3. Kinerja Anggaran... 62
BAB 4 PENUTUP ... 65 Halaman
1.1. Komposisi Jabatan Fungsional ... 6
2.1. Penetapan Kinerja KKP Tahun 2016 ... 14
2.2. Perubahan/Revisi Target IKU dan Indikator Turunannya Tahun 2016 ... 17
3.1. Capaian Kinerja Kkp Tahun 2016 ... 20
3.2. Capaian Indeks Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan ... 23
3.3. Capaian Indikator Kinerja Pembentuk Indeks Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan ... 24
3.4. Capaian Pertumbuhan PDB Perikanan ... 27
3.5. Capaian Persentase Kepatuhan (Compliance) Pelaku Usaha KP Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku ... 29
3.6. Capaian Indikator Kinerja Pembentuk Iku Persentase Kepatuhan (Compliance) Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku ... 29
3.7. Capaian Pulau-Pulau Kecil yang Mandiri ... 34
3.8. Capaian Presentase Pengelolaan Wilayah KP yang Berkelanjutan ... 36
3.9. Indikator Kinerja Pembentuk Nilai Pengelolaan Wilayah KP yang Berkelanjutan ... 37
3.10. Capaian Nilai Peningkatan Ekonomi KP ... 39
3.11. Indikator Turunan Iku Peningkatan Ekonomi KP ... 40
3.12. Capaian Produksi Perikanan ... 41
3.13. Capaian Indikator Pembentuk Produksi Perikanan ... 42
3.14. Capaian Produksi Garam Rakyat ... 43
3.15. Capaian Nilai Ekspor Hasil Perikanan... 44
3.16. Capaian Konsumsi Ikan ... 45
3.17. Capaian Persentase Peningkatan Pnbp Dari Sektor KP ... 46
3.18. Capaian Indeks Efektifitas Kebijakan Pemerintah ... 47
3.19. Capaian Efektifitas Tata Kelola Pemanfaatan SDKP yang Adil, Berdaya Saing dan Berkelanjutan ... 48
3.20. Indikator Pembentuk Kinerja Efektifitas Tata Kelola SDKP ... 48
3.21. Persentase Penyelesaian Tindak Pidana KP Yang Disidik Secara Akuntabel dan Tepat Waktu ... 52
3.22. Capaian Tingkat Keberhasilan Pengawasan di Wilayah Perbatasan ... 53
3.23. Indeks Kompetensi dan Integritas ... 54
3.24. Unit Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar ... 55
3.25. Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi (RB) KKP ... 57
3.26. Nilai Kinerja Anggaran KKP ... 60
3.27. Opini Atas Laporan Keuangan KKP ... 62
3.28. Realisasi Anggaran Per Unit Kerja Eselon I KKP Tahun 2016 ... 63
DAFTAR TABEL
1.1. Struktur Organisasi KKP ... 4
1.2. Keragaan SDM KKP Menurut Jenis Kelamin ... 5
1.3. Keragaan SDM KKP Tingkat Pendidikan ... 5
1.4. Keragaan pegawai Menurut Golongan dan Unit Kerja ... 6
2.1. Peta Strategi KKP 2015-2019 ... 12
3.1. Nilai Pencapaian Sasaran Strategis KKP Tahun 2016 ... 20
3.2. NTN Tahun 2015-2016 ... 25
3.3. Perbandingan Pertumbuhan PDB Nasional,Pertanian (Dalam Arti Luas) dan Perikanan ... 27
3.4. Nilai Pertumbuhan PDB Perikanan, 2014-2016 (Rp. Triliun) ... 28
3.5. Kinerja Ekspor Hasil Perikanan ... 44
3.6. Realisasi PNBP KKP Tahun 2015-2016 ... 46
3.7. Pelaksanaan Asesmen Pegawai ... 54
3.8. Grafik Manajemen Pengetahuan Berdasarkan Aspek Ketergabungan dan Aspek Keaktifan Per Eselon I Tahun 2016 ... 56
3.9 Manajemen Pengetahuan Berdasarkan Aspek Ketergabungan dan Aspek Keaktifan Per Eselon Tahun 2016 ... 56
3.10 Grafik Target dan Realisasi Per Area RB KKP Tahun 2016 ... 57
3.11 Nilai Kinerja Anggaran KKP Per Aspek Tahun 2016. ... 61
3.12 Target dan Realisasi Anggaran Belanja KKP Tahun 2016 ... 64
RINGKASAN EKSEKUTIF
Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2016 merupakan pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Seluruh kebijakan yang ditempuh selama tahun 2016 merupakan lanjutan dari kebijakan tahun 2015 dengan berbagai perbaikan dalam rangka pelaksanaan 3 pilar misi pembangunan dalam Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2015-2019, yakni Kedaulatan (Sovereignty), Keberlanjutan (Sustainability), dan Kesejahteraan (Prosperity). KKP telah menetapkan peta strategis tahun 2016 dengan 10 Sasaran Strategis (SS) dan 20 Indikator Kinerja Utama (IKU) dengan metode Balanced Scorecard yang terdiri dari 4 perspective yakni: (1) stakeholders
perspective; (2) customer perspective; (3) internal process perspective; (4) learning and growth perspective.
Pencapaian Sasaran Strategis (SS) dan target Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2016 adalah sebagai berikut:
1. Dari 20 IKU telah ditetapkan, terdapat 13 IKU (65%) yang pencapaiannya melebihi target (capaian >100%), 3 IKU (15%) pencapaiannya sesuai dengan target (capaian =100%), dan 4 IKU (20%) yang belum dapat mencapai target (capaian <100%).
2. Uraian 13 IKU yang capaiannya melebihi target yang telah ditetapkan (capaian > 100%) adalah:
1) Indeks Kesejahteraan Masyarakat KP, tercapai 128,57%;
2) Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku (%), tercapai 109,18%;
3) Persentase Nilai Peningkatan Ekonomi Kelautan dan Perikanan, tercapai 102,47%; 4) Produksi perikanan, tercapai 100,33%;
5) Konsumsi Ikan, tercapai 100,14%;
6) Indeks efektivitas kebijakan Pemerintah, tercapai 118%;
7) Nilai efektivitas tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan, tercapai 124,13%;
8) Persentase penyelesaian tindak pidana KP yang akuntabel dan tepat waktu, tercapai 100,34%;
9) Persentase Peningkatan PNBP sektor perikanan, tercapai 2.971%;
10) Tingkat keberhasilan pengawasan di wilayah perbatasan, tercapai 103,29%; 11) Indeks kompetensi dan integritas, tercapai 100,71%;
12) Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar, tercapai 121,84%
13) Nilai kinerja anggaran KKP, tercapai 101,38%
3. Uraian 3 IKU yang capaiannya sama dengan target (capaian =100%) adalah: 1) Jumlah pulau-pulau kecil yang Mandiri, tercapai 100%;
2) Persentase Nilai Pengelolaan Wilayah Kelautan dan Perikanan yang Berkelanjutan, tercapai 100%;
4. Uraian 4 IKU yang capaiannya belum sesuai target (capaian <100%) adalah: 1) Pertumbuhan PDB Perikanan, tercapai 72,12%;
2) Produksi garam rakyat, tercapai 3,9%; 3) Nilai ekspor hasil perikanan, tercapai 61,14%;
4) Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi KKP, tercapai 98,73%;
Kinerja keuangan KKP tahun 2016 dilaksanakan melalui pelaksanaan 10 program dalam APBN KKP Tahun 2016. Pagu alokasi anggaran berdasarkan DIPA terbit adalah sebesar Rp 13,5 triliun. Setelah adanya APBNP, pagu anggaran KKP menjadi Rp. 10,61 triliun, yang selanjutnya mengalami selfblocking, sehingga pagu anggaran KKP tahun 2016 menjadi Rp. 7,53 triliun. Dari pagu alokasi anggaran tersebut, sampai dengan akhir tahun 2016 dapat direalisasi sebesar 86,05%.
Berbagai kebijakan, program dan kegiatan KKP tahun 2016 telah dilaksanakan dan memberikan dampak positif bagi stakeholders kelautan dan perikanan. Permasalahan yang dihadapi dan menyebabkan belum tercapainya target beberapa IKU akan menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2017.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tahun 2016 adalah merupakan tahun kedua pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dimana pembangunan kelautan dan perikanan terkait dengan pelaksanaan Nawacita ke-1, ke-4, ke-6 dan ke-7. Presiden menyatakan bahwa ”Laut Masa Depan Bangsa”, dan KKP mendapatkan mandat untuk menterjemahkannya ke dalam kebijakan, program dan kegiatan dalam mengelola sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia. Untuk itu KKP telah menetapkan 3 pilar misi pembangunan kelautan dan perikanan yakni Kedaulatan, Keberlanjutan dan Kesejahteraan, yang dituangkan dalam Renstra KKP
2015-2019.
Misi kedaulatan diartikan sebagai kemandirian dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan dengan memperkuat kemampuan nasional untuk melakukan penegakan hukum di laut demi mewujudkan kedaulatan secara ekonomi, yang dilakukan melalui pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan dan sistem perkarantinaan ikan, pengendalian mutu, keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan. Misi keberlanjutan dimaksudkan untuk mengadopsi konsep blue economy dalam mengelola dan melindungi sumber daya kelautan dan perikanan secara bertanggung jawab dengan prinsip ramah lingkungan sebagai upaya peningkatan produktivitas, yang dilakukan melalui pengelolaan ruang laut; pengelolaan keanekaragaman hayati laut; keberlanjutan sumber daya dan usaha perikanan tangkap dan budidaya; dan penguatan daya saing produk hasil kelautan dan perikanan. Misi kesejahteraan diartikan bahwa pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, yang dilakukan melalui pengembangan kapasitas SDM dan pemberdayaan masyarakat serta inovasi iptek kelautan dan perikanan.
Ketiga pilar misi tersebut dijabarkan dalam Renstra KKP melalui pendekatan metoda
Balanced Scorecard (BSC) yang terdiri dari 4 perspektif, yakni (1) stakeholders prespective
menjabarkan misi kesejahteraan; (2) customer perspective menjabarkan misi keberlanjutan dan misi kesejahteraan; (3) internal process perspective menjabarkan misi kesejahteraan, keberlanjutan dan kedaulatan; dan (4) learning and growth perspective merupakan input yang dapat mendukung terlaksanakanya proses untuk menghasilkan output dan outcome KKP.
Setiap perspektif memiliki target dan indikator yang harus dicapai dan pada tahun 2016. Terdapat 20 Indikator Kinerja Utama yang merepresentasikan keberhasilan pencapaian dalam pembangunan kelautan dan perikanan. Untuk mencapai indikator-indikator tersebut, KKP melaksanakan 10 (sepuluh) program pembangunan kelautan dan perikanan yang dilaksanakan oleh 10 Unit Kerja Eselon I di lingkup KKP.
Untuk memastikan keseluruhan program dan kegiatan pembangunan KP tersebut dapat terlaksana sesuai dengan rencana target waktu, kuantitas, kualitas dan sasarannya, telah disepakati perjanjian yang tertuang dalam Perjanjian Kinerja antara Menteri dengan Eselon I dan diturunkan secara berjenjang sampai tingkat individu pegawai, dan telah diinisiasi sampai tingkat daerah (provinsi).
BAB
Kemudian capaian kinerja tersebut dilaporkan secara berkala sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas), sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan sesuai dengan Permen PAN dan RB nomor 53 tahun 2014, bahwa setiap Kementerian/Lembaga (K/L) diwajibkan melaporkan pelaksanaan akuntabilitas kinerjanya sebagai wujud pertanggungjawaban dalam mencapai misi dan tujuan organisasi, dan menyampaikan Laporan Kinerja (LKj) pada setiap akhir tahun kepada Presiden melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
1.2. Maksud dan Tujuan
Laporan Kinerja (LKj) KKP tahun 2016 merupakan salah satu bentuk media informasi atas pelaksanaan program/kegiatan dan pengelolaan anggaran KKP. Adapun tujuan penyusunan LKj KKP Tahun 2016 adalah untuk menilai dan mengevaluasi pencapaian kinerja dan sasaran KKP selama tahun 2016. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan kemudian dirumuskan suatu simpulan yang dapat menjadi salah satu bahan masukan dan referensi dalam menetapkan kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan ke depan.
1.3. Tugas dan Fungsi KKP
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 23/KEP.MEN/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja KKP, Tugas KKP adalah membantu Presiden RI dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan. Dalam melaksanakan tugas tersebut KKP menyelenggarakan fungsinya: i) perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan, dan kebijakan teknis di bidang kelautan dan perikanan; ii) pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya; iii) pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; iv) pengawasan atas pelaksanaan tugasnya serta; v) penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden.
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terdapat 10 unit Eselon I sebagai berikut: 1. Sekretariat Jenderal (Setjen) berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri
yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal dan bertugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan KKP. Susunan organisasi Setjen terdiri dari: Biro Perencanaan; Biro Kepegawaian; Biro Keuangan; Biro Hukum dan Organisasi; Biro Umum; Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat; Pusat Data, Statistik dan Informasi, serta Kelompok Jabatan Fungsional.
2. Inspektorat Jenderal (Itjen), yaitu unsur pengawasan fungsional di lingkungan kementerian. Itjen dipimpin oleh seorang Inspektur Jenderal. Susunan organisasi Itjen terdiri dari: Sekretariat Inspektorat Jenderal; Inspektorat I; Inspektorat II; Inspektorat III; Inspektorat IV; Inspektorat V; dan Kelompok Jabatan Fungsional.
3. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Ditjen PT) mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan perikanan tangkap. Ditjen PT dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Susunan organisasi Ditjen PT terdiri dari: Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan; Direktorat Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan; Direktorat Pelabuhan Perikanan; Direktorat Pengendalian Penangkapan Ikan; Direktorat Kenelayanan; dan Kelompok Jabatan Fungsional serta didukung oleh 22 Unit Pelaksana Teknis (UPT).
4. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Ditjen PB) mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan perikanan budidaya. Ditjen
PB dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Susunan organisasi Ditjen PB terdiri dari: Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Kawasan Budidaya; Direktorat Perbenihan; Direktorat Pakan; Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya; Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan; Kelompok Jabatan Fungsional, serta didukung oleh 15 Unit Pelaksana Teknis (UPT).
5. Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDS), mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penguatan daya saing dan sistem logistik produk kelautan dan perikanan serta peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan. Ditjen PDSPKP dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Susunan organisasi Ditjen PDSPKP terdiri dari: Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Akses Pasar dan Promosi; Direktorat Bina Mutu dan Diversifikasi Produk Kelautan; Direktorat Bina Mutu dan Diversifikasi Produk Perikanan; Direktorat Sistem Logistik; Direktorat Pengembangan Investasi; dan Kelompok Jabatan Fungsional serta didukung oleh 1 UPT.
6. Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) yaitu unsur pelaksana dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pengelolaan ruang laut, pengelolaan konservasi dan keanekaragaman hayati laut, pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil. Ditjen PRL dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Susunan organisasi Ditjen PRL terdiri dari: Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Perencanaan Ruang Laut; Direktorat Pendayagunaan Pesisir; Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil; Direktorat Jasa Kelautan; Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut; dan Kelompok Jabatan Fungsional serta didukung oleh 8 UPT.
7. Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Ditjen PSDKP dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Susunan organisasi Ditjen PSDKP terdiri dari: Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Pemantauan dan Peningkatan Infrastruktur; Direktorat Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan; Direktorat Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan; Direktorat Pengoperasian Kapal Pengawas; Direktorat Penanganan Pelanggaran; Kelompok Jabatan Fungsional dan didukung oleh 5 UPT. 8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) mempunyai
tugas menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang kelautan dan perikanan. Susunan organisasi Balitbang KP terdiri dari: Sekretariat Badan; Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan; Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir; Pusat Penelitian dan Pengembangan Daya Saing Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan; dan Kelompok Jabatan Fungsional serta didukung oleh 14 UPT.
9. Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMPKP), mempunyai tugas menyelenggarakan pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan. BPSDMPKP dipimpin oleh seorang Kepala Badan. Susunan organisasi BPSDMPKP terdiri dari: Sekretariat Badan; Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan; Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan; Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan; dan Kelompok Jabatan Fungsional serta didukung oleh 19 UPT.
10. Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), yaitu unsur pelaksana dibidang menyelenggarakan perkarantinaan ikan, pengendalian mutu, dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan. BKIPM dipimpin oleh seorang Kepala Badan. Susunan organisasi BKIPM terdiri dari: Sekretariat Badan; Pusat Karantina dan Keamanan Hayati Ikan; Pusat Sertifikasi Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan; Pusat Standardisasi, Kepatuhan, dan Kerja Sama; dan Kelompok Jabatan Fungsional serta didukung dengan 47 UPT.
11. Staf Ahli Menteri adalah unsur pembantu dalam memberikan telaahan, pertimbangan, dan saran pemecahan masalah secara konseptual mengenai hal-hal tertentu menurut keahliannya yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan. Susunan organisasi Staf Ahli Menteri terdiri dari:
a) Staf Ahli Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya; b) Staf Ahli Bidang Kebijakan Publik;
c) Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antarlembaga; dan d) Staf Ahli Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut.
Struktur organisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan seperti pada gambar berikut:
• SA.BID. EKONOMI SOSIAL DAN BUDAYA • SA.BID. KEBIJAKAN KERJA • SA.BID. KEMASYARAKATAN DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA • SA.BID. EKOLOGI DAN SUMBER DAYA LAUT MENTERI PUSAT SET. ITJEN INSPEKTORAT I, INSPEKTORAT II, INSPEKTORAT III INSPEKTORAT IV, INSPEKTORAT V ITJEN BIRO PERENCANAAN, BIRO KEPEGAWAIAN, BIRO KEUANGAN, BIRO HUKUM DAN ORG. BIRU UMUM, BIRO KERJA SAMA DAN HUMAS PUSAT DATA STATISTIK DAN INFORMASI SETJEN • SET. DITJEN. • DIT. PERENCANAAN RUANG LAUT • DIT. PENDAYAGUNAAN PESISIR • DIT. PENDAYAGUNAAN PULAU-PULAU KECIL • DIT. JASA KELAUTAN • DIT. KONSERVASI DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT DITJEN PRL DITJEN PT • SET. DITJEN. • DIT. PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN • DIT. KAPAL PERIKANAN DAN ALAT PENANGKAP IKAN • DIT. PELABUHAN PERIKANAN • DIT. PENGENDALIAN PENANGKAPAN IKAN • DIT. KENELAYANAN DITJEN PB • SET. DITJEN. • DIT. KAWASAN BUDIDAYA • DIT. PERBENIHAN • DIT. PAKAN • DIT. PRODUKSI DAN USAHA BUDIDAYA • DIT. KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN DITJEN PDS • SET. DITJEN. • DIT. AKSES PASAR DAN PROMOSI • DIT. BINA MUTU DAN DISERVIKASI PRODUK KELAUTAN • DIT. BINA MUTU DAN DISERVIKASI PRODUK PERIKANAN • DIT. SISTEM LOGISTIK • DIT. PENGEMBANGAN INVESTASI DITJEN PSDKP • SET. DITJEN. • DIT. PEMANTAUAN DAN PENINGKATAN INFRASTRUKTUR • DIT. PENGAWASAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN • DIT. PENGAWASAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN • DIT. PENGOPERASIAN KAPAL PENGAWAS • DIT. PENANGANAN PELANGGARAN • SET BADAN • PUSAT LITBANG PERIKANAN • PUSAT LITBANG SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR • PUSAT LITBANG DAYA SAING PRODUK BIOTEKNOLOGI KELAUTAN DAN PERIKANAN • PUSAT PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN BALITBANG KP • SET BADAN • PUSAT PENDIDIKAN KP • PUSAT PELATIHAN KP • PUSAT PENYULUHAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KP BPSDMPKP BKIPM • SET BADAN • PUSAT KARANTINA IKAN DAN KEAMANAN HAYATI • PUSAT SERTIFIKASI MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN • PUSAT STANDARDISASI KEPATUHAN, DAN KERJASAMA
STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
(Permen KP 23/2015)
Pada awal tahun 2017 dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2015 tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan, terdapat 1 Unit Kerja baru di KKP (Badan Riset dan SDM KP) yang merupakan penggabungan dari 2 Unit Kerja (Badan Litbang KP dan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat KP)
1.4. Sumber Daya Manusia KKP
Jumlah pegawai KKP (Pusat dan UPT) sampai dengan 31 Desember 2016 adalah 10.586 orang, yang terdiri dari laki-laki 7.481 orang atau 70,67% dan perempuan 3.105 orang atau 29,33%. Pegawai KKP tersebut tersebar pada 10 Unit Kerja Eselon I dengan komposisi pegawai sebagai berikut: Setjen 598 orang, Itjen 196 orang, Ditjen PT 1.412 orang, Ditjen PB 1.484, Ditjen PRL 558 orang, Ditjen PDS 407 orang, Ditjen PSDKP 1.080 orang, BPSDMPKP 1.779 orang, Balitbang KP 1.341 orang dan BKIPM 1.731 orang.
Keragaan SDM KKP tahun 2016 berdasarkan data terpilah per unit kerja seperti pada tabel berikut:
GAMBAR 1.2. KERAGAAN SDM KKP MENURUT JENIS KELAMIN
Apabila dilihat menurut tingkat pendidikan, komposisi SDM KKP adalah sebagai berikut: S-3 sebanyak 181 orang (1,71%); S2 sebanyak 1.916 orang (18,10%); S1/D4 sebanyak 4.290 orang (40,52%); D3 sebanyak 1,172 orang (11,07%); SLTA/D1/D2 sebanyak 2.691 orang (25,42%) dan di bawah SLTA sebanyak 315 (2,98%).
Sedangkan keragaan SDM KKP tahun 2016 menurut golongan adalah sebagai berikut: Golongan IV sebanyak 1.210 orang; Golongan III sebanyak 6.600 orang; Golongan II sebanyak 2.849 orang dan Golongan I sebanyak 180 orang. Keragaan SDM KKP menurut golongan kepangkatan dan unit kerja Eselon I seperti pada tabel berikut:
GAMBAR 1.4. KERAGAAN PEGAWAI MENURUT GOLONGAN DAN UNIT KERJA
SDM KKP yang menduduki jabatan fungsional sampai tahun 2016 berjumlah 3.807 orang atau sekitar 35,84% dari seluruh SDM KKP, dengan komposisi per unit Eselon I sebagai berikut.
TABEL 1. KOMPOSISI JABATAN FUNGSIONAL
UNIT KERJA
ESELON I PEGAWAIJUMLAH JABFUNGJUMLAH % (JABFUNG)
SETJEN 598 43 7,19 ITJEN 196 93 47,45 DJPT 1.412 155 10,98 DJPB 1.484 703 47,37 DJPRL 558 - - DJPSDKP 1,080 234 21,67 DJPDSPKP 407 66 16,22 BALITBANG KP 1.341 695 51,83 BPSDMPKP 1.779 723 40,64 BKIPM 1.731 1.095 63,26 TOTAL 10.586 3.794 35,84
1.5. Potensi dan Permasalahan Pembangunan KP
A. Potensi
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau dan luas perairan laut 5,8 juta km2 (terdiri dari luas laut teritorial 0,3 juta km2, luas perairan kepulauan 2,95 juta km2, dan luas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,55 juta km2). Secara geo-politik Indonesia memiliki peran yang sangat strategis karena berada diantara benua Asia dan Australia, serta diantara Samudera Pasifik
dan Samudera Hindia, menempatkan Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam konteks perdagangan global (the global supply chain system) yang menghubungkan kawasan Asia-Pasifik dengan Australia. Potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 9,9 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan (ZEEI) (Komnas Kajiskan, 2016). Dari seluruh potensi sumber daya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 7,92 juta ton per tahun atau sekitar 80% dari potensi lestari, dan baru dimanfaatkan sebesar 6,83 juta ton pada tahun 2016 atau baru 86,23% dari JTB. Potensi mikro flora-fauna kelautan juga belum tereksplorasi sebagai penyangga pangan fungsional pada masa depan. Luas terumbu karang yang dimiliki Indonesia saat ini yang sudah terpetakan mencapai 25.000 km2 (BIG, 2013). Namun, terumbu karang yang masih dalam kondisi sangat baik hanya sekitar 5,30%, kondisi baik 27,18%, cukup baik 37,25%, dan kurang baik sebesar 30,45% (LIPI, 2012). Laut Indonesia memiliki sekitar 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut dan 950 spesies biota terumbu karang. Sumber daya ikan di laut meliputi 37% dari spesies ikan di dunia, dimana beberapa jenis diantaranya mempunyai nilai ekonomis tinggi, seperti tuna, udang, lobster, ikan karang, berbagai jenis ikan hias, kekerangan, dan rumput laut.
Perairan laut Indonesia juga menyimpan potensi sumber daya non hayati yang melimpah. Masih banyak wilayah perairan Indonesia yang memiliki potensi ekonomi namun belum terkelola secara memadai. Selain itu, potensi energi terbaharukan dari laut, seperti air laut dalam (deep sea water) masih menjadi tantangan untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dimasa yang akan datang. Industri maritim, bioteknologi, jasa kelautan, produksi garam dan turunannya, biofarmakologi laut, pemanfaatan air laut selain energi, pemasangan pipa dan kabel bawah laut, dan/atau pengangkatan benda dan muatan kapal tenggelam, merupakan subsektor kelautan yang belum tergarap secara optimal.
Sementara itu potensi luas areal budidaya air tawar saat ini tercatat 2.830.540 ha, termasuk potensi di perairan umum daratan (sungai dan danau), dengan tingkat pemanfaatan 302.130 ha (10,7%). Potensi luas areal budidaya air payau 2.964.331 ha dengan tingkat pemanfaatan 650.509 ha (21,9%). Potensi luas areal budidaya laut saat ini tercatat 12.123.383 ha, dengan tingkat pemanfaatan 325.825 ha (2,7%). Potensi luas areal budidaya rumput laut saat ini tercatat 1,1 juta ha atau 9% dari seluruh luas kawasan potensial budidaya laut yang sebesar 12.123.383 ha. Adapun tingkat pemanfaatannya diperkirakan baru mencapai 25%. Adapun jenis rumput laut yang dimiliki Indonesia tercatat 555 jenis rumput laut.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat mendukung untuk pengembangan pakan ikan mandiri guna mengurangi ketergantungan akan pakan pabrikan yang sangat bergantung pada bahan baku impor, dalam hal ini tepung ikan. Data produksi pakan pelet mandiri saat ini tercatat 35.000 ton dari 1,3 juta ton (2,7%) keseluruhan pakan ikan yang digunakan untuk produksi 2,6 juta ton ikan air tawar. Diprediksi pada tahun 2019, dengan target produksi ikan air tawar 6,5 juta ton, dibutuhkan 592 ribu ton pakan pelet mandiri dari 5,92 juta ton (10%) dari keseluruhan kebutuhan pakan.
B. Permasalahan
Bidang kelautan dan perikanan memiliki permasalahan yang kompleks karena keterkaitannya dengan banyak sektor dan juga sensitif terhadap interaksi terutama dengan aspek lingkungan. Terdapat berbagai isu pengelolaan perikanan laut di Indonesia yang berpotensi mengancam kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan, keberlanjutan mata pencaharian masyarakat di bidang perikanan, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari pemanfaatan sumber daya perikanan. Data BPS menunjukan terjadi penurunan rumah tangga perikanan dari 1,6 juta (Hasil Sensus Pertanian 2003) menjadi 800 ribu (Hasil Sensus Pertanian 2013) yang
menunjukkan profesi nelayan kurang menarik dan kurang menguntungkan. Terdapat 115 eksportir seafood yang collapse karena tidak ada bahan baku dan adanya miss-management yang nilainya mencapai USD4-5 miliar. Sementara itu ekspor hasil perikanan Indonesia tercatat nomor 3 di Asia Tenggara padahal Indonesia memiliki luas laut dan potensi sumber daya ikan yang jauh lebih tinggi dibanding negara lain. Beberapa wilayah perairan laut Indonesia telah mengalami gejala overfishing. Selain itu, praktik-praktik Illegal, Unregulated and Unreported (IUU) Fishing yang terjadi di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), baik oleh kapal perikanan Indonesia (KII) maupun oleh kapal perikanan asing (KIA) menyebabkan kerugian baik dari aspek sosial, ekologi/lingkungan, maupun ekonomi. Ancaman IUU Fishing dipicu kondisi sektor perikanan global, dimana beberapa negara mengalami penurunan stok ikan, pengurangan armada kapal penangkapan ikan akibat pembatasan pemberian izin penangkapan sedangkan permintaan produk perikanan makin meningkat. Di sisi lain, kemampuan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia belum memadai. IUU Fishing juga merupakan global crime, tidak saja tindak pidana perikanan tetapi menyangkut perbudakan, perdagangan manusia, penyelundupan hewan, narkoba dan lain-lain. Masalah perbatasan laut merupakan salah satu kendala dalam pengawasan sumber daya perikanan dan kelautan di wilayah perairan Indonesia. Beberapa perbatasan wilayah dengan negara tetangga belum diselesaikan. Hal ini menjadikan kasus perikanan di wilayah perbatasan belum bisa tuntas.
Dalam pengembangan perikanan budidaya, masih dihadapkan pada permasalahan implementasi kebijakan tata ruang dan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, terbatasnya prasarana saluran irigasi, terbatasnya ketersediaan dan distribusi induk dan benih unggul, kesiapan dalam menanggulangi hama dan penyakit, penyediaan fasilitas kolam dan air yang baik serta permasalahan bahan baku pakan dan kestabilan harga, serta tingginya harga pakan. Rendahnya produktivitas perikanan budidaya juga disebabkan karena struktur pelaku usaha perikanan budidaya adalah skala kecil/tradisional (± 80%), dengan keterbatasan aspek permodalan, jaringan teknologi dan pasar. Disamping itu serangan hama dan penyakit ikan/udang, serta adanya pencemaran yang mempengaruhi kualitas lingkungan perikanan budidaya. Pemanfaatan potensi sumber daya perikanan mendorong peningkatan kegiatan perdagangan produk kelautan dan perikanan antarnegara maupun antararea di dalam wilayah NKRI. Semakin meningkatnya kegiatan lalu lintas hasil perikanan membawa konsekuensi meningkatnya risiko masuk dan tersebarnya hama dan penyakit ikan berbahaya serta masuknya hasil perikanan yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu perlu diiringi dengan peningkatan sistem jaminan kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan yang terpercaya dalam rangka mewujudkan kawasan perikanan budidaya yang bebas hama penyakit ikan berbahaya serta terjaminnya hasil perikanan yang aman untuk konsumsi manusia.
Terkait dengan permasalahan garam, selama ini kebutuhan nasional garam dalam negeri dipenuhi dari impor. Sebagai negara yang memiliki panjang pantai nomor dua di dunia, sudah seharusnya kebutuhan nasional garam dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Saat ini produksi garam nasional belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri baik secara kuantitas maupun kualitas. Importasi garam tidak terkendali mengakibatkan produksi garam rakyat tidak terserap, dan harga jual turun mencapai Rp275-300/kg. Selain itu dikarenakan usaha pegaraman masih tradisional, minimnya infrastruktur, dan tata niaga garam yang belum mendukung.
Permasalahan lain yang dihadapi terkait dengan masih rendahnya produktivitas dan daya saing usaha kelautan dan perikanan yang disebabkan antara lain oleh belum optimalnya integrasi sistem produksi di hulu dan hilir, serta masih terbatasnya penyediaan sarana dan prasarana.
1.6. Sistematika Penyajian Laporan Kinerja
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, LKj KKP Tahun 2016 disusun dengan sistematika sebagai berikut:
1) Bab I Pendahuluan, pada bab ini disajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama yang sedang dihadapi organisasi;
2) Bab II Perencanaan Kinerja, pada bab ini dibagi per subbab yang berisi perencanaan strategis KKP 2015-2019 dan penetapan kinerja tahun 2016;
3) Bab III Akuntabilitas Kinerja, pada bab ini dibagi per subbab yang berisi hasil pengukuran kinerja, analisis dan evaluasi capaian kinerja, serta akuntabilitas keuangan KKP tahun 2016;
4) Bab IV Penutup, pada bab ini disajikan kesimpulan menyeluruh dari Laporan Kinerja KKP dan rekomendasi perbaikan ke depan untuk meningkatkan kinerja.
PERENCANAAN KINERJA
Renstra KKP tahun 2015-2019 ditetapkan melalui Permen KP nomor 45 tahun 2015 tentang Perubahan Permen KP nomor 25 tahun 2015 tentang Rencana Strategis KKP Tahun 2015-2019.
2.1 Rencana Strategis KKP 2015 -2019
VISI
Mewujudkan Sektor Kelautan dan
Perikanan Indonesia yang MANDIRI,
MAJU, KUAT dan BERBASIS
KEPENTINGAN NASIONAL
MISI
Kedaulatan (Sovereignty):
mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berdaulat, guna menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan
sumberdaya kelautan dan perikanan, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
KESEJAHTERAAN
(Prosperity)
KEBERLANJUTAN
(Sustainability) (Sovereignty)KEDAULATAN
MISI PEMBANGUNAN
KELAUTAN DAN PERIKANAN
Keberlanjutan (Sustainability):
mewujudkan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Kesejahteraan (Prosperity):
mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, mandiri, serta berkepribadian dalam kebudayaan
Ketiga hal di atas dilakukan secara bertanggung jawab berlandaskan gotong royong, sehingga saling memperkuat, memberi manfaat dan menghasilkan nilai tambah ekonomi, sosial dan budaya bagi kepentingan bersama.
BAB
Mewujudkan Sektor Kelautan dan Perikanan Indonesia yang
MANDIRI, MAJU, KUAT dan BERBASIS KEPENTINGAN NASIONAL
KESEJAHTERAAN (Prosperity) KEBERLANJUTAN (Sustainability) KEDAULATAN (Sovereignty) Meningkatkan pengawasan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan
1
Mengembangkan sistem perkarantinaan ikan, pengendalian mutu keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan2
Mengoptimalkan pengelolaan ruang laut, konservasi dan keanekaragaman hayati laut3
Meningkatkan keberlanjutan usaha perikanan tangkap dan budidaya4
Meningkatkan daya saing dan sistem logistik hasil kelautan dan perikanan5
Mengembangkan kapasitas SDM, dan pemberdayaan masyarakat6
Meningkatkan inovasi iptek kelautan dan perikanan7
SASARAN STRATEGIS
Dalam penyusunan sasaran strategis, KKP menggunakan pendekatan metode Balanced
Scorecard (BSC) yang dibagi dalam empat perspektif, yakni stakeholders prespective, customer perspective, internal process perspective, dan learning and growth perspective, sebagai berikut:
PETA STRATEGI KKP 2015-2019 LE AR N & G RO W TH PE RS PE CT IV E INTE RN AL P RO CE SS PE RS PE CT IV E CU ST OM ER S PE RS PE CT IV E ST AK EH OL DER S PE RS PE CT IV E SS7. TERWUJUDNYA ASN KKP YANG KOMPETEN, PROFESIONAL DAN BERKEPRIBADIAN SS8. TERSEDIANYA MANAJEMEN PENGETAHUAN YANG HANDAL DAN MUDAH DIAKSES SS9. TERWUJUDNYA BIROKRASI KKP YANG EFEKTIF, EFISIEN, DAN BERORIENTASI PADA LAYANAN PRIMA SS10. TERKELOLANYA ANGGARAN PEMBANGUNAN SECARA EFISIEN DAN AKUNTABEL
HUMAN CAPITAL INFORMATION CAPITAL ORGANIZATION CAPITAL FINANCIAL CAPITAL
PERUMUSAN KEBIJAKAN SS4. TERSEDIANYA KEBIJAKAN PEMBANGUNAN YANG EFEKTIF PELAKSANAAN KEBIJAKAN SS5. TERSELENGGARANYA TATA KELOLA PEMANFAATAN SDKP YANG ADIL, BERDAYA SAING DAN BERKELANJUTAN PENGAWASAN KEBIJAKAN SS6. TERSELENGGARANYA PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN SDKP SECARA PROFESIONAL DAN PARTISIPATIF SS2. TERWUJUDNYA KEDAULATAN DALAM PENGELOLAAN SDKP SS3. TERWUJUDNYA PENGELOLAAN SDKP YANG PARTISIPATIF, BERTANGGUNGJAWAB, DAN BERKELANJUTAN SS1. TERWUJUDNYA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELAUTAN DAN PERIKANAN
GAMBAR 2.1. PETA STRATEGI KKP 2015-2019
1. Stakeholders Prespective
Terdiri dari 1 (satu) Sasaran Strategis, yaitu (SS-1) terwujudnya kesejahteraan masyarakat KP, dengan indikator kinerja:
a) Indeks Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan b) Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Perikanan
2. Customer Perspective
Terdiri dari 2 (dua) Sasaran Strategis, yaitu :
Sasaran strategis kedua (SS-2) terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP, dengan indikator kinerja:
a) Persentase Kepatuhan (Compliance) Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang Berlaku.
b) Jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri.
Sasaran strategis ketiga (SS-3) terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggung jawab dan berkelanjutan, dengan indikator kinerja:
a) Nilai Pengelolaan Wilayah Kelautan dan Perikanan yang Berkelanjutan. b) Nilai Peningkatan Ekonomi Kelautan dan Perikanan.
c) Produksi perikanan. d) Produksi garam rakyat. e) Nilai ekspor hasil perikanan. f) Konsumsi ikan.
g) Persentase peningkatan PNBP dari sektor KP.
3. Internal Process Perspective
Sasaran strategis pada perspektif ini adalah merupakan proses yang harus dilakukan oleh KKP. Terdiri dari 3 (tiga) Sasaran Strategis, yakni :
a) Sasaran strategis keempat (SS-4) yang akan dicapai adalah tersedianya kebijakan pembangunan KP yang efektif, dengan indikator kinerja Indeks efektivitas kebijakan pemerintah.
b) Sasaran strategis kelima (SS-5) terselenggaranya tata kelola pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan, dengan indikator kinerja efektivitas tata kelola pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan.
c) Sasaran strategis keenam (SS-6) terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan yang partisipatif, dengan indikator kinerja: 1) Persentase penyelesaian tindak pidana KP secara akuntabel dan tepat waktu. 2) Tingkat Keberhasilan Pengawasan di Wilayah Perbatasan.
4. Learning and Growth Perspective
Sebagai input yang dapat mendukung terlaksananya proses untuk menghasilkan output dan outcome KKP, terdapat 4 (empat) sasaran strategis yakni:
a) Sasaran strategis ketujuh (SS-7) yakni terwujudnya aparatur sipil negara (ASN) KKP yang kompeten, profesional, dan berkepribadian, dengan indikator kinerja Indeks Kompetensi dan Integritas.
b) Sasaran strategis kedelapan (SS-8) yakni tersedianya manajemen pengetahuan yang handal, dan mudah diakses, dengan indikator kinerja persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar.
c) Sasaran strategis kesembilan (SS-9) yakni terwujudnya birokrasi KKP yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima, dengan indikator kinerja nilai kinerja Reformasi Birokrasi (RB) KKP.
d) Sasaran strategis kesepuluh (SS-10) yakni terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntable, dengan indikator kinerja:
a) Nilai Kinerja Anggaran KKP.
b) Opini BPK-RI atas Laporan Keuangan KKP.
2.2 Penetapan Kinerja KKP Tahun 2016
Perjanjian kinerja merupakan instrumen pelaksanaan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja, dan merupakan tekad dan janji yang akan dicapai antara pimpinan unit kerja yang menerima amanah/tanggung jawab/ kinerja dengan pihak yang memberikan amanah/tanggung jawab/kinerja. Penetapan Kinerja KKP tahun 2016, secara rinci sebagai berikut:
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TAHUN 2016TARGET
STAKEHOLDER PERSPECTIVE
1 Terwujudnya kesejahteraan masyarakat KP 1 Indeks Kesejahteraan Masyarakat KP 42,00 2 Pertumbuhan PDB Perikanan (%) 8,00
CUSTOMER PERSPECTIVE
2 Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP 3
Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku (%)
73,00 4 Jumlah pulau-pulau kecil yang Mandiri 15,00
3
Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggung jawab dan berkelanjutan
5 Nilai Pengelolaan Wilayah Kelautan dan Perikanan yang Berkelanjutan (%) 41 6 Nilai peningkatan ekonomi KP (%) 67 7 Produksi perikanan (juta ton) 26.04 8 Produksi garam rakyat (juta ton) 3,60 9 Nilai ekspor hasil perikanan (USD miliar) 6,82 10 Konsumsi ikan (kg/kap/thn) 43,88 11 Persentase peningkatan PNBP dari sektor KP (%) 7,50
INTERNAL PERSPECTIVE
4 Tersedianya Kebijakan Pembangunan KP yang Efektif 12 Indeks efektivitas kebijakan pemerintah 6,50
5
Terselenggaranya Tata Kelola Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang Adil, Berdaya Saing dan Berkelanjutan
13 Efektivitas tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan 64,00 TABEL. 2.1. PENETAPAN KINERJA KKP TAHUN 2016
Penetapan kinerja KKP tahun 2016 diimplementasikan melalui 10 program pembangunan kelautan dan perikanan sebagai berikut:
1. Program Pengelolaan Perikanan Tangkap.
Tujuan program adalah meningkatkan produktivitas perikanan tangkap dengan sasaran peningkatan hasil tangkapan dalam setiap upaya tangkap. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Pengelolaan Kapal Perikanan, Alat Penangkap Ikan, dan Sertifikasi Awak Kapal Perikanan; Pengelolaan Pelabuhan Perikanan; Pengendalian Penangkapan Ikan; Pengelolaan Kenelayanan; Pengelolaan Sumber Daya Ikan dan; Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Tangkap.
2. Program Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Budidaya.
Tujuan program adalah meningkatnya produksi perikanan budidaya, dengan sasaran program peningkatan produksi perikanan budidaya (volume dan nilai). Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pembudidayaan Ikan; Pengelolaan Perbenihan Ikan; Pengelolaan Kawasan Perikanan Budidaya; Pengelolaan Pakan Ikan; Pengelolaan Produksi Produksi dan Usaha Pembudidayaan Ikan dan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Budidaya.
3. Program Penguatan Daya Saing Produk Perikanan
Tujuan program adalah meningkatnya produk olahan hasil perikanan yang bernilai tambah, nilai produk hasil perikanan nonkonsumsi, rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional, nilai ekspor hasil perikanan, dan nilai investasi bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, dengan sasaran peningkatan produk perikanan prima yang berdaya saing di pasar domestik dan internasional. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Penguatan Logistik Hasil Kelautan dan Perikanan; Akses Pasar
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TAHUN 2016TARGET
6
Terselenggaranya Pengendalian dan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang partisipatif
14
Persentase penyelesaian tindak pidana KP secara akuntabel dan tepat waktu (%)/ Persentase penyelesaian Tindak Pidana Kelautan dan Perikanan yang disidik, dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku (%)
85,00
15 Tingkat keberhasilan pengawasan di wilayah perbatasan (%) 96,00
LEARNING AND GROWTH
7
Terwujudnya Aparatur Sipil Negara (ASN) KKP yang Kompeten, Profesional, dan Berkepribadian
16 Indeks kompetensi dan integritas 77,00
8
Tersedianya Manajemen Pengetahuan yang Handal, dan Mudah Diakses
17
Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar (%)
50,00
9
Terwujudnya Birokrasi KKP yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima
18 Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi KKP A (80)
10
Terkelolanya Anggaran
Pembangunan secara Efisien dan Akuntabel
19 Nilai kinerja anggaran KKP Baik (83) 20 Opini atas Laporan Keuangan KKP WTP (5)
dan Promosi Hasil Kelautan dan Perikanan; Bina Mutu dan Diversifikasi Produk Perikanan; Bina Mutu dan Diversifikasi Produk kelautan; Investasi dan Keberlanjutan Usaha Hasil Kelautan dan Perikanan; Pengujian Penerapan Hasil Perikanan dan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen PDS.
4. Program Pengelolaan Ruang Laut.
Tujuan program adalah mewujudkan tertatanya dan dimanfaatkannya wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil secara lestari, dengan sasaran peningkatan persentase pendayagunaan sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Perlindungan dan Pemanfaatan Kawasan Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut; Penataan dan Pemanfaatan Jasa Kelautan; Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil; Pendayagunaan Pesisir; Perencanaan Ruang Laut; dan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen PRL
5. Program Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.
Tujuan program adalah meningkatnya ketaatan dan ketertiban dalam pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan dengan sasaran perairan Indonesia bebas IUU Fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang telah dilaksanakan adalah: Pengoperasian Kapal Pengawas; Penanganan Pelanggaran Bidang Kelautan dan Perikanan; Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan; Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan; Pemantauan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dan Peningkatan Insfrastruktur Pengawasan dan Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen PSDKP.
6. Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan.
Tujuan program ini adalah menyiapkan ilmu, pengetahuan dan teknologi sebagai basis kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran termanfaatkannya Iptek hasil penelitian dan pengembangan oleh para pemangku kepentingan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Penelitian dan Pengembangan Iptek Daya Saing Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan; Penelitian Sosial Ekonomi dan Analisis Kebijakan Kelautan dan Perikanan; Penelitian dan Pengembangan Iptek Perikanan; Penelitian dan Pengembangan Iptek Instrumentasi Kelautan dan Perikanan; Penelitian dan Pengembangan Iptek Sumber Daya laut dan Pesisir; Pengelolaan Inovasi dan Alih Teknologi KP; Penelitian Kewilayahan dan Klimat Kelautan dan Perikanan dan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan.
7. Program Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat
Kelautan dan Perikanan.
Tujuan program adalah meningkatkan kualitas SDM kelautan dan perikanan dengan sasaran meningkatnya kompetensi SDM kelautan dan perikanan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Pelatihan Kelautan dan Perikanan; Pendidikan Kelautan dan Perikanan; Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan dn Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPSDMPKP.
8. Program Pengembangan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan
Hasil Perikanan.
Tujuan program adalah lalu lintas hasil perikanan yang memenuhi sistem jaminan kesehatan serta sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan dengan sasaran yaitu meningkatnya lalu lintas hasil perikanan yang memenuhi sistem jaminan kesehatan serta sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. Untuk mencapai tujuan
dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Pembinaan dan Penerapan Sistem Perkarantinaan dan Keamanan Hayati Ikan; Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan; Pengendalian Sistem Perkarantinaan Ikan, Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan dan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BKIPM.
9. Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP.
Tujuan program adalah meningkatkan pengendalian akuntabiltas kinerja pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran program meningkatnya prosentase capaian kinerja pembangunan KP. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Unit Kerja Mitra Inspektorat I dan Pelaksana Pembangunan KP; Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Unit Kerja Mitra Inspektorat II dan Pelaksana Pembangunan KP; Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Unit Kerja Mitra Inspektorat III dan Pelaksana Pembangunan KP; Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Unit Kerja Mitra Inspektorat IV dan Pelaksana Pembangunan KP; Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Unit Kerja Mitra Inspektorat V dan Pelaksana Pembangunan KP dan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Itjen KKP.
10. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP.
Tujuan program adalah meningkatkan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran meningkatnya kesesuaian pelaksanaan dukungan manajerial. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Penyiapan Produk Hukum dan Penataan Organisasi KKP; Pengelolaan Kepegawaian KKP; Pengelolaan Keuangan KKP; Pengelolaan Perencanaan, Penganggaran, Kinerja dan Pelaporan KKP; Pengelolaan Administrasi dan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas KKP; Perumusan Kebijakan Kelautan; Pengelolaan Kerja Sama KP dan Hubungan Masyarakat; Pengelolaan Data Statistik dan Informasi KP dan Pengelolaan Modal Usaha Kelautan dan Perikanan.
Sehubungan dengan adanya APBN perubahan dan adanya self-blocking terhadap pendanaan APBN KKP Tahun 2016, terdapat perubahan beberapa target tahun 2016 untuk beberapa indikator kinerja turunan dari Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagaimana berikut :
TABEL 2.2. PERUBAHAN/REVISI TARGET IKU DAN INDIKATOR TURUNANNYA TAHUN 2016
INDIKATOR
2016 TARGET
AWAL TARGETREVISI
1. Sasaran Strategis: Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan
a.
IKU: Persentase Pengelolaan wilayah KP yang berkelanjutan (%) 41,00 40,27 IKU Turunan: Jumlah kawasan pesisir rusak yang pulih kembali (Kawasan) 55 37
b. IKU: Persentase peningkatan ekonomi KP (%) 83 53 IKU Turunan: Jumlah kredit yang disalurkan (PT) (Rp. Triliun) 1.25 0.9 c. IKU: Produksi perikanan 26.040.000 23.430.000 IKU Turunan: Produksi Perikanan Budidaya (Ton) 19.460.000 16.850.000
INDIKATOR
2016 TARGET
AWAL TARGETREVISI
2. Sasaran Strategis: Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan
a. IKU: Efektivitas tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan
64 63
IKU Turunan:
Jumlah hasil litbang KP yang terekomendasi untuk asyarakat dan/atau industri (unit)
20 27
Sertifikat Pembudidaya CBIB (sertifikat) 10.980 9.800 Jumlah Lokasi kawasan laut, wilayah pesisir yang memiliki
rencana zonasi dan/atau masterplan, bisnis plan, yang ditetapkan menjadi peraturan perundangan
40 14
3.1. Capaian Kinerja Organisasi
Akuntabilitas Kinerja organisasi merupakan kinerja secara kolektif dari seluruh Unit Kerja Eselon I KKP. Dengan didasarkan atas perjanjian kinerja serta seluruh perjanjian kinerja level di bawahnya secara berjenjang, telah dilakukan pengukuran dan evaluasi kinerja secara berkala. Dalam pelaksanaannya, pengukuran dan pelaporan kinerja di KKP menggunakan sistem aplikasi pengelolaan kinerja (SAPK), dengan tampilan dashboard capaian KKP tahun 2016 seperti pada gambar berikut:
AKUNTABILITAS KINERJA
BAB
3
PERSPEKTIF BOBOT KODE
SS NAMA SS JML IKU NSS STATUS NSS SKORS NSS NKP STATUS NKP Stakeholders 25.00%
SS1 Terwujudnya kesejahteraan masyarakat KP 2 101.07% 101,07% 25,27%
SS2 Tpengelolaan SDKPerwujudnya kedaulatan dalam 2 104.69%
95.20% 23.80%
Customer 25.00%
SS3 Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan
7 85,71%
SS4 Tersedianya kebijakan pembangunan KP yang efektif 1 118.00%
111.59% 27.90% Internal
Proses 25.00%
SS5 Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan SDKP yang berkeadilan berdaya saing dan berkelanjutan
1 120.00%
SS6 Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan SDKP yang profesional dan
partisipatif 2 96.78%
Learning and Growth 25.00%
SS7 Terwujudnya ASN KKP yang kompeten,
profesional dan berintegritas 1 100.71%
103.44% 25.86% SS8 Tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses 1 120.00%
SS9 Terwujudnya birokrasi KKP yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan
prima 1 98.74%
SS10 Terkelolanya anggaran pembangunan
secara efisien dan akuntabel 2 94.32%
NPSS (Nilai Pencapaian Sasaran Strategis) merupakan gambaran nilai kinerja suatu organisasi secara keseluruhan. NPSS KKP di tahun 2016 mencapai 100,27%, yang diperoleh dari penjumlahan nilai kinerja ke empat perspective, yakni 101, 07% untuk stakeholders perspective, 95,20% untuk customer perspective, 111,59% untuk internal process perspective, dan 103,44% untuk learing and growth perspective. NPSS tahun 2016 capaiannya lebih rendah dibandingkan NPSS tahun 2015 yang besarnya 110,85%, yang disebabkan terdapat perspective yang dibawah 100%, yakni customer perspective.
Secara rinci capaian Indikator Kinerja Utama di masing-masing Sasaran Strategis KKP Tahun 2016 dapat diikuti pada tabel berikut:
TABEL 3.1. CAPAIAN KINERJA KKP TAHUN 2016
Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat Kelautan dan Perikanan
1
2
3
Tersedianya kebijakan pembangunan yang efektif4
Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan5
Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan SDKP secara profesional dan partisipatif6
Terwujudnya ASN KKP yang kompeten, profesional dan berkepribadian7
Tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses8
Terwujudnya birokrasi KKP yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima berintegritas9
Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel10
ST AK EH OL DER S PE RS PE CT IV E CU ST OM ER S PE RS PE CT IV E INTE RN AL PR OC ES S PE RS PE CT IV E LE AR N & GR OW TH PE RS PE CT IV EGAMBAR 3.1. CAPAIAN SASARAN STRATEGIS TAHUN 2016
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA CAPAIA KINERJA TAHUN 2016 TARGET REALISASI %
STAKEHOLDERS PERSPECTIVE
1. Terwujudnya kesejahteraan masyarakat KP
1 Indeks Kesejahteraan Masyarakat KP 42 54 128,57 a. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 105 108,24 103,09 b. Nilai Tukar Pembudidaya (NTPi) 102,25 98,96 96,78 c. Nilai Tukar pengolah (NTPo) 105 102,30 97,43 d. Nilai Tukar Petambak Garam (NTPG) 102 102,23 100,23 e. Rata-rata Pendapatan Pembudidaya (Rp/bulan) 3.000.000 3.021.490 100,72
f. Rata-rata Pendapatan Nelayan (Rp/bulan) 2.068.200 2.225.891 107,62
g.
Jumlah kelompok pelaku utama/usaha yang meningkat kelasnya dari jumlah kelompok pelaku utama/usaha yang disuluh (kelompok) 6.000 6.321 105,35 2. Pertumbuhan PDB Perikanan (%) 8,00 5,15 * 64,38 CUSTOMER PERSPECTIVE 2. Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP 3.
Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku (%)
73,00 79,85 109,38
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA CAPAIA KINERJA TAHUN 2016 TARGET REALISASI % 3. Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan
5. Nilai Pengelolaan wilayah KP yang
berkelanjutan (%) 40,27 40,27 100,00
a.
Jumlah WPP yang terpetakan potensi sumberdaya KP untuk pengembangan ekonomi kelautan yang berkelanjutan (WPP)
4 4 100,00
b.
Jumlah kawasan konservasi perairan,pesisir, dan pulau-pulau kecil yang meningkat efektifitas pengelolaannya (kawasan)
28 28 100,00
c. Jumlah kawasan pesisir rusak yang pulih kembali (kawasan) 37 37 100,00
d.
Jumlah WPP yang dikelola sesuai Rencana Pengelolaan Perikanan /RPP (WPP)
4 4 100,00
e. Luas kawasan konservasi (juta ha) 17,90 17,90 100,00 6. Nilai peningkatan ekonomi KP (%) 53 54,31 102,47 a. Nilai Investasi PT (Rp. Triliun) 25 27,23 108,92 b. Nilai investasi PB (Rp. Triliun) 24 23,93 99,72 c. Nilai Investasi hasil KP (Rp. Triliun) 12,50 4,23 33,84 d. Jumlah kredit yang disalurkan Perikanan Tangkap (Rp. Triliun) 0,90 0,53 58,89
e. Jumlah kredit yang disalurkan Perikanan Budidaya (Rp. Triliun) 0,325 0,308 94,70
7.
Produksi perikanan (juta ton) 23,43 23,51 100,33 a. Produksi Perikanan Tangkap (juta ton) 6,58 6,83 103,82 b. Produksi Perikanan Budidaya (juta ton) 16,85 16,67 98,96 8. Produksi garam rakyat (juta ton) 3 0,118 3,90 9. Nilai ekspor hasil perikanan (USD miliar) 6,82 4,17 61,14 10. Konsumsi ikan (kg/kapita/tahun) 43,88 43,94 100,14 11. Persentase peningkatan PNBP dari sektor KP (%) 7,50 222,87 2,971
INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE
4. Tersedianya kebijakan pembangunan KP yang efektif
12. Indeks efektivitas kebijakan pemerintah 6,5 7,67 118
5. Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan
13. Efektivitas tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan (%)
63 78,20 124,13
a.
Jumlah hasil litbang KP yang terekomendasi untuk masyarakat dan/ atau industri (paket)
27 28 103.70
b. Utilitas UPI (Unit Pengolahan Ikan) (%) 81 81 100
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA CAPAIA KINERJA TAHUN 2016 TARGET REALISASI %
d. Sertifikat HACCP (Hazaard Analytical
Critical Control Point) (unit) 1.300 2.037 156,69
e. Sertifikat CKIB (Cara Karantina Ikan yang Baik) (unit) 175 197 112,57
f.
Jumlah SDM KP yang terdidik, dilatih, disuluh dan diberdayakan untuk mendukung tata kelola pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan (orang)
655.225 664.648 101.44
g.
Jumlah Lokasi kawasan laut, wilayah pesisir yang memiliki rencana zonasi dan/atau masterplan, businessplan, yang ditetapkan menjadi peraturan perundangan (kawasan)
14 14 100
h.
Jumlah Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) dan sertifikasi dari inovasi alat penangkap standar dan sertifikasi dari inovasi kapal perikanan, alat penangkap ikan dan alat bantu penangkap ikan yang dihasilkan (dokumen)
33 44 103,03
i. Sertifikat SKP (Sertifikasi Kelayakan Pengolahan) (unit) 790 1.799 225,19
j. Sertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) (unit) 678 805 118,73
k.
Jumlah rekomendasi dan inovasi Litbang yang diusulkan untuk menjadi bahan kebijakan (rekomendasi)
20 20 100
l. Jumlah resolusi dan CMM RFMO yang diimplementasikan 3 3 100 6. Terselenggaranya
pengendalian dan pengawasan SDKP yang profesional dan partisipatif
14. Persentase penyelesaian tindak pidana KP secara akuntabel dan tepat waktu (%) 85 85,29 100,34
15. Tingkat keberhasilan pengawasan di wilayah perbatasan (%) 73 75,40 103,29
LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE
7. Terwujudnya ASN KKP yang kompeten, profesional dan berkepribadian
16. Indeks kompetensi dan integritas (%) 77 84,85 110,19
8. Tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses
17. Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar (%) 50 60,92 121,84
9. Terwujudnya birokrasi KKP yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima
18. Nilai Reformasi Birokrasi KKP (80,00)A (78,74)BB 98,73
10. Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel
19. Nilai kinerja anggaran KKP 83,00 84,15 101,38 20. Opini BPK-RI atas Laporan Keuangan KKP WTP (5) WTP (5) 100,00
3.2 Analisis Capaian Kinerja
Analisis capaian kinerja dilakukan pada setiap pernyataan kinerja Sasaran Strategis dan indikator kinerja untuk setiap perspektif sebagai berikut:
A. STAKEHOLDERS PERSPECTIVE
Sasaran Strategis (SS-1) :
Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan
Sasaran Strategis Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat KP, memiliki dua Indikator Kinerja Utama, yakni IKM (Indeks Kesejahteraan Masyarakat) KP dan Pertumbuhan PDB Perikanan Kesejahteraan diartikan bahwa pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan adalah sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam kaitan ini, KKP senantiasa memberikan perhatian penuh terhadap seluruh stakeholders kelautan dan perikanan, yakni nelayan, pembudidaya ikan, pengolah/pemasar hasil perikanan, petambak garam, dan masyarakat kelautan dan perikanan lainnya.
Indikator Kinerja Utama :
IKU 1 - Indeks Kesejahteraan Masyarakat
Indeks Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (IKMKP) adalah suatu ukuran untuk menilai tingkat kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan yang akan diukur dengan menggunakan 2 (dua) variabel pokok yakni ekonomi dan sosial. Berdasarkan evaluasi penilaian KKP Nilai Indeks Kesejahteraan Masyarakat KP tahun 2016 adalah sebesar 54 atau naik 8,26% apabila dibandingkan dengan tahun 2015 yang besarnya 49,88. Realisasi tahun 2016 telah melampaui target yang ditetapkan yakni sebesar 42 atau tercapai 128,57% dari target. Apabila dibandingkan dengan target Renstra KKP tahun 2019 sebesar 51, maka pencapaiannya telah mencapai 105,88%.
TABEL 3.2. CAPAIAN INDEKS KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELAUTAN DAN PERIKANAN
Sasaran
Strategis - 1 Terwujudnya birokrasi KKP yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima
IKU - 1 Indeks Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (IKMKP)
REALISASI 2015 2016 KENAIKAN 2015-2016 (%/TAHUN) 2019 TARGET % CAPAIAN 2016-2019
TARGET REALISASI (%) CAPAIAN
49,88 42,00 54,00 128,57 8,26 51,00 105,88
Perhitungan Indeks Kesejahteraan Masyarakat KP di atas didasarkan pada 7 (tujuh) indikator kinerja pembentuk, yakni (1) Nilai Tukar Nelayan, (2) Nilai Tukar Pembudidaya Ikan, (3) Nilai Tukar Pengolah, (4) Nilai Tukar Petambak Garam, (5) Rata-rata pendapatan nelayan, (6) Rata-rata pendapatan pembudidaya ikan, dan (7) Jumlah kelompok/pelaku utama/usaha yang meningkat klasnya dari jumlah kelompok/pelaku utama/usaha yang disuluh. Berdasarkan data BPS dan data yang dioleh KKP, capaian indikator kinerja pembentuk adalah sebagai berikut :
TABEL 3.3. CAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBENTUK INDEKS KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELAUTAN DAN PERIKANAN
NO. INDIKATOR KINERJA PEMBENTUK IKMKP 2015 2016
REALISASI TARGET REALISASI % CAPAIAN
1. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 106,14 105,00 108,24 103,08 2. Nilai Tukar Pembudidaya (NTPi) 99,66 102,25 98,96 96,78 3. Nilai Tukar Pengolah (NTPo) 100 105,00 102,30 97,43 4. Nilai Tukar Petambak Garam (NTPg) 100 102,00 102,23 100,23 5. Rata-rata pendapatan nelayan (Rp./bulan) 3.000.000 3.012.490 100,72 6. Rata-rata pendapatan pembudidaya (Rp./bulan) 2.068.200 2.225.891 107,62 7.
Jumlah kelompok/pelaku utama/usaha yang meningkat klasnya dari jumlah kelompok/ pelaku utama/usaha yang disuluh
4690 6.000 6.321 105,35
a. Nilai Tukar
Nilai Tukar diperoleh dari perbandingan indeks harga hasil produksi yang dijual oleh nelayan/pembudidaya ikan/pengolah/petambak garam (It) terhadap indeks harga biaya operasional produksi nelayan/pembudidaya ikan/pengolah/petambak garam (Ib). Nilai Tukar ini merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/ daya beli nelayan/pembudidaya ikan/pengolah/petambak garam, juga menunjukkan daya tukar dari produk perikanan dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi Nilai Tukar, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli nelayan/pembudidaya ikan/pengolah/petambak garam. Nilai Tukar ini menunjukkan indikator dini kesejahteraan nelayan/pembudidaya/ pengolah/ petambak garam. Apabila dilihat dari capaiannya, maka capaian Nilai Tukar di atas 100 dan telah melampaui target tahun 2016 adalah untuk nelayan, pengolah dan petambak garam, sedangkan pembudidaya ikan masih di bawah 100 dan masih belum mencapai target
tahun 2016, yang antara lain disebabkan harga pakan yang merupakan komponen utama dalam biaya produksi (60-70%) masih cukup tinggi. Hal tersebut menunjukkan masih perlu diberikan bantuan pemerintah atau stimulan ekonomi untuk meningkatkan daya beli pembudidaya ikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi Nilai Tukar antara lain adalah hasil produksi perikanan dalam waktu berjalan, harga komoditi produksi perikanan yang dihasilkan pada waktu berjalan, pengeluaran/ongkos yang dikeluarkan untuk memproduksi komoditi perikanan, harga barang/jasa konsumsi untuk memproduksi produk/komoditas perikanan, pengeluaran/ongkos yang dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari, serta faktor harga ikan yang tidak mudah dikontrol dan dipengaruhi oleh situasi pasar. Nilai Tukar Nelayan (NTN) tahun 2016 sebesar 108,24 atau mencapai 103,08% dari target sebesar 105, dan jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 yang besarnya 106,15, NTN mengalami kenaikan 1,97%. Realisasi NTN ini menunjukan bahwa indeks harga yang diterima nelayan (harga jual ikan) masih lebih besar dibandingkan dengan indeks harga yang dibayarkan (harga kebutuhan pokok).