AIR
KIMIA PANGAN KIMIA PANGAN
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
A .A.ISTRI SRI WIADNYANI A .A.ISTRI SRI WIADNYANI
Materi Kuliah
Standar Kompetensi Sub Pokok bahasan Mahasiswa mampu mem-
bedakan sifat-sifat air dan peranannya dalam bahan pangan
Air dalam bahan pangan
Struktur air
Sifat fisikokimia air
Interaksi air dengan zat terlarut
Aktivitas air dan tekanan uap air
Isoterm sorpsi air (ISA) dan kaitannya dengan keawetan bahan pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Air dalam bahan pangan
Struktur air
Sifat fisikokimia air
Interaksi air dengan zat terlarut
Aktivitas air dan tekanan uap air
Isoterm sorpsi air (ISA) dan kaitannya dengan keawetan bahan pangan
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Air Dalam Bahan Pangan
• Penentu mutu bahan pangan
• Mempertahankan kesegaran
• Penentu keawetan dan
kestabilan selama penyimpanan
• Penentu mutu bahan pangan
• Mempertahankan kesegaran
• Penentu keawetan dan
kestabilan selama penyimpanan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Penentu mutu bahan pangan
• Mempertahankan kesegaran
• Penentu keawetan dan
kestabilan selama penyimpanan
• Penentu mutu bahan pangan
• Mempertahankan kesegaran
• Penentu keawetan dan
kestabilan selama penyimpanan
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Peran Air Dalam Pangan
• Mempengaruhi tekstur, kesegaran dan keawetan
• Pelarut universal (garam, vitamin, gula, pigmen)
• Dapat berionisasi (H3O+, OH-)
• Berperan dalam reaksi kimia (contoh: hidrolisis protein = n asam amino)
• Mempengaruhi aktivitas enzim
• Penting bagi pertumbuhan mikroorganisme menentukan keamanan dan stabilitas pangan
• Medium untuk pindah panas
• Tidak mengandung kalori
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Mempengaruhi tekstur, kesegaran dan keawetan
• Pelarut universal (garam, vitamin, gula, pigmen)
• Dapat berionisasi (H3O+, OH-)
• Berperan dalam reaksi kimia (contoh: hidrolisis protein = n asam amino)
• Mempengaruhi aktivitas enzim
• Penting bagi pertumbuhan mikroorganisme menentukan keamanan dan stabilitas pangan
• Medium untuk pindah panas
• Tidak mengandung kalori
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Bahan Kandungan
air (%) Bahan Kandungan air (%)
Tomat 94 Ikan kering 38
Semangka 93 Daging sapi 66
Kol 92 Roti 36
Kandungan Air Bahan Pangan Kandungan Air Bahan Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Kol 92 Roti 36
Nenas 85 Buah kering 28
Kacang hijau 88 Susu bubuk 14
Susu sapi 90 Tepung terigu 12
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Bahan Pangan Berdasarkan Tingkat Keawetannya
• Mudah rusak: daging sapi, daging ayam, ikan, susu, telur
• Agak mudah rusak: sayuran, buah-buahan, roti, kue
• Awet: biji-bijian, kacang-kacangan, gula
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Mudah rusak: daging sapi, daging ayam, ikan, susu, telur
• Agak mudah rusak: sayuran, buah-buahan, roti, kue
• Awet: biji-bijian, kacang-kacangan, gula
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Salt dissolution Salt dissolution in water
in water
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Water
Water--Glucose InteractionGlucose Interaction
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)Kimia PanganKimia Pangan
Water involvement in starch-glucose polymerization
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Water involvement in lipid synthesis
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Water involvement in peptide synthesis
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Hot Water
T
Air spreader
(for better mixing and temperature
distribution)
Air Sebagai media pindah panas dalam proses pasteurisasi sistem batch
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Steam valve
Steam
Air Valve
Compressed air Steam spreader
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Sifat Fisik Air
• Tekanan atmosfir :
Cair (suhu > 0oC)
Es/beku (suhu 0oC) Titik beku Uap (suhu 100oC) Titik didih Densitas = 1 g/ml
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Tekanan atmosfir :
Cair (suhu > 0oC)
Es/beku (suhu 0oC) Titik beku Uap (suhu 100oC) Titik didih Densitas = 1 g/ml
• Tekanan 4.579 mm Hg , suhu 0.0099oC
Beku Uap
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Molecular weight 18.0153 Melting point at 1 atm 0.0oC Boiling point at 101.3 kPa atm 100oC
Heat of fusion at 0oC 6.012 kJ (1.436 kcal)/mol
Physicochemical Properties of Water Physicochemical Properties of Water
Physical Constants
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Heat of fusion at 0oC 6.012 kJ (1.436 kcal)/mol
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Molekul Air
• Rumus molekul: H
2O
• Atom H dan O dihubungkan dengan ikatan kovalen
• Bersifat polar:
– H cenderung bermuatan positif (+)
– O cenderung bermuatan negatif (-)
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Rumus molekul: H
2O
• Atom H dan O dihubungkan dengan ikatan kovalen
• Bersifat polar:
– H cenderung bermuatan positif (+)
– O cenderung bermuatan negatif (-)
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Water
Water –– Solute InteractionsSolute Interactions
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)IITP/Kimia PanganTP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Ikatan Hidrogen Air
• Ikatan Hidrogen terbentuk karena sifat elektropositif dari atom H dan elektronegatif dari O
• Besarnya energi ikatan hidrogen adalah sebesar 10% dari ikatan kovalen (10 Kcal/mol).
• Adanya ikatan H menyebabkan air mempunyai titik didih yang tinggi (100oC, pada 1 atm) dan bersifat mengalir
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Ikatan Hidrogen terbentuk karena sifat elektropositif dari atom H dan elektronegatif dari O
• Besarnya energi ikatan hidrogen adalah sebesar 10% dari ikatan kovalen (10 Kcal/mol).
• Adanya ikatan H menyebabkan air mempunyai titik didih yang tinggi (100oC, pada 1 atm) dan bersifat mengalir
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)Kimia PanganKimia Pangan
Sifat Fisik Es
• Struktur: Hexagonal (1 molekul H
2O dapat
mengikat 4 molekul H
2O yang berdekatan)
• Densitas: 0.92 g/ml
(mengapung dalam air)
• Volume: 1/11 kali lebih besar dibandingkan air
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Struktur: Hexagonal (1 molekul H
2O dapat
mengikat 4 molekul H
2O yang berdekatan)
• Densitas: 0.92 g/ml
(mengapung dalam air)
• Volume: 1/11 kali lebih
besar dibandingkan air
Perubahan Fase Air
• Dipengaruhi oleh tekanan udara
• Pada kondisi standar (1 atm): titik beku (0
oC), titik didih (100
oC)
• Pada kondisi tidak standar:
– P< 1 atm: Td < 100oC; Tb > 0oC – P> 1 atm: Td > 100oC, Tb < 0oC
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Dipengaruhi oleh tekanan udara
• Pada kondisi standar (1 atm): titik beku (0
oC), titik didih (100
oC)
• Pada kondisi tidak standar:
– P< 1 atm: Td < 100oC; Tb > 0oC – P> 1 atm: Td > 100oC, Tb < 0oC
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Mendefinisikan Air
• Kadar air: Menggambarkan kandungan air yang
terdapat dalam bahan pangan (dalam persen). Tidak menggambarkan aktivitas biologisnya.
• Kelembahan relatif (RH): Menggambarkan kandungan air di udara (dalam persen).
• Aktivitas air (Aw): menggambarkan derajat aktivitas air dalam bahan pangan, baik reaksi kimia maupun
biologis. Nilai: 0 – 1 (tanpa satuan). Aw=1 (air murni)
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Kadar air: Menggambarkan kandungan air yang
terdapat dalam bahan pangan (dalam persen). Tidak menggambarkan aktivitas biologisnya.
• Kelembahan relatif (RH): Menggambarkan kandungan air di udara (dalam persen).
• Aktivitas air (Aw): menggambarkan derajat aktivitas air dalam bahan pangan, baik reaksi kimia maupun
biologis. Nilai: 0 – 1 (tanpa satuan). Aw=1 (air murni)
IITP/Kimia PanganTP/Kimia Pangan
Derajat Keterikatan Air
• Air yang terikat secara fisik
– Air kapiler: air terikat dalam rongga-rongga jaringan kapiler yang halus dari bahan pangan.
– Air terlarut: Air seakan-akan larut dalam bahan padat, contoh air gula, air garam.
– Air adsorbsi: Terikat pada permukaan. Daya ikatnya lemah dan mudah terlepas
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Air yang terikat secara fisik
– Air kapiler: air terikat dalam rongga-rongga jaringan kapiler yang halus dari bahan pangan.
– Air terlarut: Air seakan-akan larut dalam bahan padat, contoh air gula, air garam.
– Air adsorbsi: Terikat pada permukaan. Daya ikatnya lemah dan mudah terlepas
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Derajat Keterikatan Air
• Air yang terikat secara kimia
– Air konstitusi: Terikat pada senyawa lain (bagian dari senyawa lain), seperti pada protein, karbohidrat.
Bila terurai maka akan keluar air (proses hidrolisis) – Air kristal: air terikat sebagai molekul dalam bentuk
H2O. Contoh CaSO4.5H2O
• Air bebas (mobile or Free Water)
Mempunyaisifat air normal. Mudah terlepas
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Air yang terikat secara kimia
– Air konstitusi: Terikat pada senyawa lain (bagian dari senyawa lain), seperti pada protein, karbohidrat.
Bila terurai maka akan keluar air (proses hidrolisis) – Air kristal: air terikat sebagai molekul dalam bentuk
H2O. Contoh CaSO4.5H2O
• Air bebas (mobile or Free Water)
Mempunyaisifat air normal. Mudah terlepas
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Air Dalam Bahan Pangan
• Tipe 1:
– Air terikat yang sebenarnya
– Molekul air yang terikat pada molekul lain melalui ikatan hidrogen.
– Molekul air membentuk hidrat dengan molekul-
molekul lain yang mengandung atom O dan N, seperti karbohidrat, protein dan garam.
– Tidak dapat membeku, sebagian dapat dihilangkan dengan pengeringan
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Tipe 1:
– Air terikat yang sebenarnya
– Molekul air yang terikat pada molekul lain melalui ikatan hidrogen.
– Molekul air membentuk hidrat dengan molekul-
molekul lain yang mengandung atom O dan N, seperti karbohidrat, protein dan garam.
– Tidak dapat membeku, sebagian dapat dihilangkan dengan pengeringan
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Air Dalam Bahan Pangan
• Tipe 2:
– Molekul-molekul air membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air lain, terdapat pada
mikrokapiler.
– Sifatnya berbeda dari air murni.
– Lebih sukar dihilangkan dibandingkan air bebas.
– Apabila dihilangkan, kadar air bahan akan mencapai 3-7%
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Tipe 2:
– Molekul-molekul air membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air lain, terdapat pada
mikrokapiler.
– Sifatnya berbeda dari air murni.
– Lebih sukar dihilangkan dibandingkan air bebas.
– Apabila dihilangkan, kadar air bahan akan mencapai 3-7%
ITP/Kimia
ITP/Kimia PanganPangan
Air Dalam Bahan Pangan
• Tipe 3:
– Air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan, seperti membran, kapiler, serat, dll.
– Bersifat sebagai air bebas.
– Mudah diuapkan dan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan mikroba dan media bagi reaksi- reaksi kimiawi.
– Apabila dihilangkan, kadar air bahan akan mencapai 12-25% dengan Aw ~ 0.8
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Tipe 3:
– Air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan, seperti membran, kapiler, serat, dll.
– Bersifat sebagai air bebas.
– Mudah diuapkan dan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan mikroba dan media bagi reaksi- reaksi kimiawi.
– Apabila dihilangkan, kadar air bahan akan mencapai 12-25% dengan Aw ~ 0.8
/ITP/Kimia Pangan /ITP/Kimia Pangan
Air Dalam Bahan Pangan
• Tipe 4:
– Air yang tidak terikat dalam jaringan suatu bahan.
– Bersifat air murni (air biasa) dengan keaktifan penuh.
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Tipe 4:
– Air yang tidak terikat dalam jaringan suatu bahan.
– Bersifat air murni (air biasa) dengan keaktifan penuh.
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Aktifitas Air (A
w)
• Aktifitas air paling umum digunakan sebagai kriteria untuk keamanan pangan dan kualitas pangan.
• Air tidak terdistribusi secara merata (homogen) dalam bahan pangan: derajat keterikatan berbeda-beda
• Aktifitas air merupakan indeks yang lebih baik dari kadar air untuk pertumbuhan mikroba, karena mikroba hanya dapat menggunakan air bebas untuk pertumbuhannya.
• Nilai Aw: 0.0 - 1.0 (tanpa satuan). Aw=0 (absolutely dry);
Aw=1 (pure water)
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Aktifitas air paling umum digunakan sebagai kriteria untuk keamanan pangan dan kualitas pangan.
• Air tidak terdistribusi secara merata (homogen) dalam bahan pangan: derajat keterikatan berbeda-beda
• Aktifitas air merupakan indeks yang lebih baik dari kadar air untuk pertumbuhan mikroba, karena mikroba hanya dapat menggunakan air bebas untuk pertumbuhannya.
• Nilai Aw: 0.0 - 1.0 (tanpa satuan). Aw=0 (absolutely dry);
Aw=1 (pure water)
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Nilai Aktivitas Air pada Beberapa Bahan Pangan
Bahan pangan Aw
Daging, ikan, buah 1.00 – 0.95
Sirup buah, skm 0.87 – 0.80
Selai buah 0.80 – 0.75
Susu bubuk 0.2
Roti 0.72
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Roti 0.72
Ready-to-eat cereal 0.30
Dried fuit 0.62
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Kadar Air dan Aktivitas Air pada Beberapa Bahan Pangan
Pangan Kadar air (%) Aw
Es pada 0oC 100 1.00
Daging segar 70 0.985
Roti 40 0.96
Tepung 14.5 0.72
Makaroni 10 0.45
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Makaroni 10 0.45
Potato chips 1.5 0.08
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Mengapa A
wpenting?
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)ITP/Kimia PanganITP/Kimia Pangan
Pentingnya Aktivitas Air (A
w)
• Mempengaruhi pertumbuhan mikroba
– Pada Aw rendah (<0.6): Menghambat pertumbuhan mikroba
– Pada Aw tinggi (>0.6): mikroba tumbuh (semakin tinggi Aw, semakin mudah mikroba tumbuh)
• Mempengaruhi keawetan produk pangan
– Produk pangan dengan Aw>0.95 mudah rusak
• Mempengaruhi tingkat resiko keamanan produk pangan
– Semakin tinggi Aw, semakin beresiko
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Mempengaruhi pertumbuhan mikroba
– Pada Aw rendah (<0.6): Menghambat pertumbuhan mikroba
– Pada Aw tinggi (>0.6): mikroba tumbuh (semakin tinggi Aw, semakin mudah mikroba tumbuh)
• Mempengaruhi keawetan produk pangan
– Produk pangan dengan Aw>0.95 mudah rusak
• Mempengaruhi tingkat resiko keamanan produk pangan
– Semakin tinggi Aw, semakin beresiko
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Hubungan Antara Aktivitas Air Dengan Pertumbuhan Mikroba Pada Berbagai Produk Pangan
Most mold, no growth of pathogenic bacteria Staphylococcus aureus may grow Most yeasts, mycotoxin-producing molds,
spoilage often by molds and yeast Most cocci, lactobacilli, some molds, Salmonella
lactic acid bacteria is major spoilage flora Most bacteria, some yeasts,
pathogenic and spoilage organisms aw
>0.95 0.91-0.95 0.87-0.90
>0.86 0.80-0.87
Microbial growth
Fresh meat, fish, vegetables, etc. Foods with
<40% (w/w) sucrose or <7%(w/w) NaCl Bread, cooked sausages, medium
aged cheese
Salami, old cheese, foods with 65% (w/w) sucrose or 15% NaCl
Dried beef, sweet condensed milk, cereals with 15% water
Jam, marmalade, old salami, foods with 26% (w/w) NaCl
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Water Activity
0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
growthNo
Osmophilic yeast Xerophilic mold
Most halophilic bacteria
Most mold, no growth of pathogenic bacteria 0.80-0.87 0.75-0.80 0.65-0.75
0.60-0.65
<0.65
Microbial growth
Jam, marmalade, old salami, foods with 26% (w/w) NaCl
Flour, cereals, nuts
Caramels, honey
Breakfast cereals, snack foods, food powders
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Example of the effect of A
won growth of microorganism
Aw Typical food items Genera m.o. which grow under this Aw
0.95
0.95--1.001.00 Fresh foods and meats, breads,Fresh foods and meats, breads, approximately 40% sucrose, 8%
approximately 40% sucrose, 8%
NaCl NaCl
Pseudomonas, Escherchia, Pseudomonas, Escherchia, Proteus, Bacillus, Klebsiella Proteus, Bacillus, Klebsiella 0.91
0.91--0.950.95 Medium cheeses, cured meatMedium cheeses, cured meat (ham), retail fruit juice concen (ham), retail fruit juice concen-- trate, 55% sucrose, 7% NaCl trate, 55% sucrose, 7% NaCl
Salmonella, Vibrio, Serratia, Salmonella, Vibrio, Serratia, Lactobacillus
Lactobacillus, yeast, yeast ––
Rhodotorula Rhodotorula
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
0.91
0.91--0.950.95 Medium cheeses, cured meatMedium cheeses, cured meat (ham), retail fruit juice concen (ham), retail fruit juice concen-- trate, 55% sucrose, 7% NaCl trate, 55% sucrose, 7% NaCl
Salmonella, Vibrio, Serratia, Salmonella, Vibrio, Serratia, Lactobacillus
Lactobacillus, yeast, yeast ––
Rhodotorula Rhodotorula 0.87
0.87--0.910.91 Fermented hard sausage, dryFermented hard sausage, dry
cheese, margarine, 65% sucrose, cheese, margarine, 65% sucrose, 15% NaCl
15% NaCl
Most yeast
Most yeast –– Candida,Candida, Torulopsis, Hansenula, Torulopsis, Hansenula, Micrococcus
Micrococcus 0.80
0.80--0.870.87
Commercial fruit juice concentrate, Commercial fruit juice concentrate, chocolate syrup, maple amd fruit chocolate syrup, maple amd fruit syrup, flour, fruit cake, fondants, syrup, flour, fruit cake, fondants, high
high--ratio cakeratio cake
Saccharomyces, mycotoxi Saccharomyces, mycotoxi-- genic penicilia, Staphylo genic penicilia, Staphylo-- coccus aureus
coccus aureus
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Example of the effect of A
won growth of microorganism
Aw Typical food items Genera m.o. which grow under this Aw
0.75
0.75--0.800.80 Fruit and berry preserves, marmaFruit and berry preserves, marma-- lade, marshmallows, meat jerky
lade, marshmallows, meat jerky Halophilic bacteria, mycotoHalophilic bacteria, mycoto-- xigenic,
xigenic, Aspergillus sp.Aspergillus sp.
0.65
0.65--0.750.75 Rolled oats, fudge, raisins, fruitRolled oats, fudge, raisins, fruit preserves, molasses, nuts
preserves, molasses, nuts Xerophilic moldsXerophilic molds (Aspergillus(Aspergillus candidus, A. chevalieri)
candidus, A. chevalieri) Dried fruit (<20% water), toffee,
Dried fruit (<20% water), toffee, caramels, honey
caramels, honey Osmophilic yeasts, molds,Osmophilic yeasts, molds, Monascus bisporus
Monascus bisporus
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
0.60
0.60--0.650.65 Dried fruit (<20% water), toffee,Dried fruit (<20% water), toffee, caramels, honey
caramels, honey Osmophilic yeasts, molds,Osmophilic yeasts, molds, Monascus bisporus
Monascus bisporus 0.50
0.50--0.600.60 Pasta (12% water), spicesPasta (12% water), spices No microbial growthNo microbial growth 0.40
0.40--0.500.50 Whole egg powder (5% water)Whole egg powder (5% water) No microbial growthNo microbial growth 0.30
0.30--0.400.40 Cookies, crackers, bread crustsCookies, crackers, bread crusts No microbial growthNo microbial growth 0.20
0.20--0.300.30 Whole milk powder, dried vegeWhole milk powder, dried vege-- tables, ready
tables, ready--toto--eat cereals, hardeat cereals, hard cookies
cookies No microbial growthNo microbial growth
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Aktivitas Air vs pertumbuhan mikroba
– Bakteri (0.91)
Bakteri halofilik (0.75) – Khamir (0.88)
Khamir osmofilik (0.60) – Kapang (0.80)
Kapang Serofilik (0.65)
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Aktivitas Air vs pertumbuhan mikroba
– Bakteri (0.91)
Bakteri halofilik (0.75) – Khamir (0.88)
Khamir osmofilik (0.60) – Kapang (0.80)
Kapang Serofilik (0.65)
Vibrio cholerae
Vibrio cholerae O1O1 88 -- 4242 66 -- 9.69.6 >0.95>0.95 Vibrio parahaemolyticus
Vibrio parahaemolyticus 12.812.8 -- 4040 55 -- 9.69.6 > .94> .94 Clostridium perfringens
Clostridium perfringens 66 -- 5252 5.55.5 -- 88 > .93> .93 Bacillus cereus
Bacillus cereus 1010 -- 4949 4.94.9 -- 9.39.3 > .95> .95 Escherichia coli
Escherichia coli 2.52.5 -- 4545 4.64.6 -- 9.59.5 > .935> .935 Streptococcus pyogenes
Streptococcus pyogenes > 10> 10 -- < 45< 45 4.84.8 -- < 9.2< 9.2 NRNR
Faktor yang mempengaruhi Faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba pertumbuhan mikroba
Mikroorganisme
Mikroorganisme SuhuSuhu pHpH AAww
°°CC
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan) Vibrio cholerae
Vibrio cholerae O1O1 88 -- 4242 66 -- 9.69.6 >0.95>0.95 Vibrio parahaemolyticus
Vibrio parahaemolyticus 12.812.8 -- 4040 55 -- 9.69.6 > .94> .94 Clostridium perfringens
Clostridium perfringens 66 -- 5252 5.55.5 -- 88 > .93> .93 Bacillus cereus
Bacillus cereus 1010 -- 4949 4.94.9 -- 9.39.3 > .95> .95 Escherichia coli
Escherichia coli 2.52.5 -- 4545 4.64.6 -- 9.59.5 > .935> .935 Streptococcus pyogenes
Streptococcus pyogenes > 10> 10 -- < 45< 45 4.84.8 -- < 9.2< 9.2 NRNR
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
A
wvs pH
• Aw kritis: 0.85
• pH kritis: 4.6
• Resiko bahan pangan:
– Resiko rendah (low risk): pH<4.6, Aw<0.85
• Produk kering dengan pH rendah
– Resiko sedang (medium risk): pH<4.6, Aw>0.85 atau pH>4.6, Aw<0.85
• Asinan, daging kering, ikan asin, biskuit
– Resiko tinggi (high risk): pH>4.6, Aw>0.85 (low acid food)
• Mie basah, daging/ayam segar, bakso, susu
Clostridium botulinum Clostridium botulinum
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Aw kritis: 0.85
• pH kritis: 4.6
• Resiko bahan pangan:
– Resiko rendah (low risk): pH<4.6, Aw<0.85
• Produk kering dengan pH rendah
– Resiko sedang (medium risk): pH<4.6, Aw>0.85 atau pH>4.6, Aw<0.85
• Asinan, daging kering, ikan asin, biskuit
– Resiko tinggi (high risk): pH>4.6, Aw>0.85 (low acid food)
• Mie basah, daging/ayam segar, bakso, susu
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Pentingnya Aktivitas Air (A
w)
• Mempengaruhi tekstur (crispiness, crunchiness), misal produk chips, cracker
– The sound produced by 'crunching' breakfast cereal disappearing above about Aw = 0.65
• Mempengaruhi kecepatan penggumpalan
(aglomerasi) produk yang mudah menyerap air, misal susu bubuk
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Mempengaruhi tekstur (crispiness, crunchiness), misal produk chips, cracker
– The sound produced by 'crunching' breakfast cereal disappearing above about Aw = 0.65
• Mempengaruhi kecepatan penggumpalan
(aglomerasi) produk yang mudah menyerap air, misal susu bubuk
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Pentingnya Aktivitas Air (A
w)
• Mempengaruhi reaksi kimia
– Oksidasi lemak
– Reaksi kecoklatan non-enzimatis (reaksi Maillard) – Reaksi enzimatis
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Mempengaruhi reaksi kimia
– Oksidasi lemak
– Reaksi kecoklatan non-enzimatis (reaksi Maillard) – Reaksi enzimatis
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Pentingnya Aktivitas Air (A
w)
• Dalam pengolahan pangan
– Proses pengeringan – Proses pemekatan – Proses rehidrasi
– Penentuan umur simpan: Accelerated testing method (ASLT) Metode Kadar Air Kritis
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Dalam pengolahan pangan
– Proses pengeringan – Proses pemekatan – Proses rehidrasi
– Penentuan umur simpan: Accelerated testing method (ASLT) Metode Kadar Air Kritis
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Prinsip Penentuan Umur Simpan Berdasarkan Model Kadar Air Kritis
• Untuk produk pangan yang relatif mudah rusak akibat
penyerapan kadar air dari lingkungan. Misal: Biskuit, chips
• Kerusakan produk didasarkan semata-mata pada kerusakan produk akibat menyerap air dari udara luar hingga mencapai batas yang tidak dapat diterima secara organoleptik.
• Kadar air pada kondisi dimana produk pangan mulai tidak dapat diterima secara organoleptik disebut Kadar Air Kritis. Batas
penerimaan tersebut didasarkan pada standar mutu organoleptik yang spesifik untuk setiap jenis produk.
• Waktu yang diperlukan oleh produk untuk mencapai kadar air kritis menyatakan umur simpan produk
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
• Untuk produk pangan yang relatif mudah rusak akibat
penyerapan kadar air dari lingkungan. Misal: Biskuit, chips
• Kerusakan produk didasarkan semata-mata pada kerusakan produk akibat menyerap air dari udara luar hingga mencapai batas yang tidak dapat diterima secara organoleptik.
• Kadar air pada kondisi dimana produk pangan mulai tidak dapat diterima secara organoleptik disebut Kadar Air Kritis. Batas
penerimaan tersebut didasarkan pada standar mutu organoleptik yang spesifik untuk setiap jenis produk.
• Waktu yang diperlukan oleh produk untuk mencapai kadar air kritis menyatakan umur simpan produk
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Sensitivitas Produk Pangan Kering Terhadap Perubahan Kadar Air
Produk-produk “kering”:
- sensitif terhadap perubahan kadar air - mempunyai karakteristik k.a. kritis :
k.a. produk (maksimum) dimana mutu produk masih diterima.
Contoh :
Biskuit (kadar air 2% pd RH 10%) pada kondisi RH penyimpanan tertentu :
RH 32% k.a. 4,5% Kadar air kritis
RH 44% k.a. 6,5% Ka > Ka kritis
RH 90% k.a. 10% lembek & berjamur
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Produk-produk “kering”:
- sensitif terhadap perubahan kadar air - mempunyai karakteristik k.a. kritis :
k.a. produk (maksimum) dimana mutu produk masih diterima.
Contoh :
Biskuit (kadar air 2% pd RH 10%) pada kondisi RH penyimpanan tertentu :
RH 32% k.a. 4,5% Kadar air kritis
RH 44% k.a. 6,5% Ka > Ka kritis
RH 90% k.a. 10% lembek & berjamur
ITP/Kimia Pangan ITP/Kimia Pangan
Terima kasih
Feri Kusnandar, TPG 511 (Kimia Pangan)
Terima kasih
IITP/KimiaTP/Kimia PanganPangan
ENZIM PANGAN
A.A.ISTRISRI WIADNYANI A.A.ISTRISRI WIADNYANI
ENZIM PANGAN
• Enzim merupakan senyawa organik bermolekul besar yang berfungsi untuk mempercepat
jalannya reaksi metabolisme tanpa mempengaruhi keseimbangan reaksi
• Enzim tidak ikut bereaksi, struktur enzim tidak berubah baik sebelum dan sesudah reaksi
• Enzim sebagai biokatalisator
• Bagian enzim yang aktif adalah sisi aktif dari enzim
• Enzim merupakan senyawa organik bermolekul besar yang berfungsi untuk mempercepat
jalannya reaksi metabolisme tanpa mempengaruhi keseimbangan reaksi
• Enzim tidak ikut bereaksi, struktur enzim tidak berubah baik sebelum dan sesudah reaksi
• Enzim sebagai biokatalisator
• Bagian enzim yang aktif adalah sisi aktif dari enzim
SUSUNAN ENZIM
• Komponen utama enzim adalah protein
• Protein yang sifatnya fungsional, bukan protein struktural
• Tidak semua protein bertindak sebagai enzim
• Komponen utama enzim adalah protein
• Protein yang sifatnya fungsional, bukan protein struktural
• Tidak semua protein bertindak sebagai
enzim
SIFAT ENZIM
1. Enzim bersifat koloid, luas permukaan besar, bersifat hidrofil
2. Dapat bereaksi dengan senyawa asam maupun basa, kation maupun anion
3. Enzim sangat peka terhadap faktor-faktor yang menyebebkan denaturasi protein. Misalnya
suhu, pH dll
4. Enzim dapat dipacu maupun dihambat aktivitasnya.
1. Enzim bersifat koloid, luas permukaan besar, bersifat hidrofil
2. Dapat bereaksi dengan senyawa asam maupun basa, kation maupun anion
3. Enzim sangat peka terhadap faktor-faktor yang menyebebkan denaturasi protein. Misalnya
suhu, pH dll
4. Enzim dapat dipacu maupun dihambat aktivitasnya.
SIFAT ENZIM
5. Enzim merupakan biokatalisator yang dalam jumlah sedikit memacu laju reaksi tanpa
merubah keseimbangan reaksi.
6. Enzim tidak ikut terlibat dalam reaksi,
struktur enzim tetap baik sebelum maupun setelah reaksi berlangsung
7. Enzim bermolekul besar
8. Enzim bersifat khas/spesifik
5. Enzim merupakan biokatalisator yang dalam jumlah sedikit memacu laju reaksi tanpa
merubah keseimbangan reaksi.
6. Enzim tidak ikut terlibat dalam reaksi,
struktur enzim tetap baik sebelum maupun setelah reaksi berlangsung
7. Enzim bermolekul besar
8. Enzim bersifat khas/spesifik
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVIAS ENZIM
• Suhu: optimum 300C, minimum 0 0C, maksimum 400C
• Logam, memacu aktifitas enzim: Mg, Mn, Co, Fe
• Logam berat, menghambat aktivitas enzim: Pb, Cu, Zn, Cd, Ag
• pH, tergantung pada jenis enzimnya – pepsin aktif kondisi asam,
– amilase kondisi netral, – tripsin kondisi basa
• Suhu: optimum 300C, minimum 0 0C, maksimum 400C
• Logam, memacu aktifitas enzim: Mg, Mn, Co, Fe
• Logam berat, menghambat aktivitas enzim: Pb, Cu, Zn, Cd, Ag
• pH, tergantung pada jenis enzimnya – pepsin aktif kondisi asam,
– amilase kondisi netral, – tripsin kondisi basa
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVIAS ENZIM
• Konsentrasi substrat, substrat yang banyak mula-mula memacu aktifitas enzim, tetapi
kemudian menghambat karena: penumpukan produk (feed back effect)
• Konsentrasi enzim, peningkatan konsentrasi enzim memacu aktifitasnya
• Air, memacu aktifitas enzim
• Vitamin, memacu aktifitas enzim
• Konsentrasi substrat, substrat yang banyak mula-mula memacu aktifitas enzim, tetapi
kemudian menghambat karena: penumpukan produk (feed back effect)
• Konsentrasi enzim, peningkatan konsentrasi enzim memacu aktifitasnya
• Air, memacu aktifitas enzim
• Vitamin, memacu aktifitas enzim
Bagaimana enzim bekerja
• Reaksi tanpa enzim:
– Lambat
– Membutuhkan suhu yang tinggi – Tekanan yang tinggi
• Reaksi enzimatis
– Enzim memberikan suatu lingkungan yg
spesifik di dalam sisi aktifnya, sehingga reaksi secara energetik dapat lebih mudah terjadi
• Reaksi tanpa enzim:
– Lambat
– Membutuhkan suhu yang tinggi – Tekanan yang tinggi
• Reaksi enzimatis
– Enzim memberikan suatu lingkungan yg
spesifik di dalam sisi aktifnya, sehingga reaksi secara energetik dapat lebih mudah terjadi
Daya kerja katalitik enzim
• Enzim diperkirakan tidak masuk kedalam reaksi kimia dengan senyawa yang terlibat.
• Sistem kerja enzim adalah suatu sistem gembok dan kunci.
• Setiap gembok diperlukan kunci khusus,
demikian pula enzim hanya cocok untuk reaksi kimia tertentu saja.
• Enzim diperkirakan tidak masuk kedalam reaksi kimia dengan senyawa yang terlibat.
• Sistem kerja enzim adalah suatu sistem gembok dan kunci.
• Setiap gembok diperlukan kunci khusus,
demikian pula enzim hanya cocok untuk reaksi kimia tertentu saja.
Sistem gembok dan kunci
Lock and key model
Induced Fit model
Sisi aktif enzim
Lokasi Aktif Enzim
Bagian aktif dari enzim adalah bagian
enzim yang dapat mengikat substrat dan gugusan prostetik bila ada.
Lokasi aktif enzim hanya merupakan
bagian relative kecil, sehingga sebagian besar residu asam amino tidak
mengadakan kontak dengan substrat.
Bagian aktif enzim merupakan bentuk tiga dimensi yang terdiri dari kelompok-
kelompok yang berasal dari beberapa asam amino.
Bagian aktif dari enzim adalah bagian
enzim yang dapat mengikat substrat dan gugusan prostetik bila ada.
Lokasi aktif enzim hanya merupakan
bagian relative kecil, sehingga sebagian besar residu asam amino tidak
mengadakan kontak dengan substrat.
Bagian aktif enzim merupakan bentuk tiga dimensi yang terdiri dari kelompok-
kelompok yang berasal dari beberapa
asam amino.
Substrat harus mempunyai bentuk yang sangat tepat dengan bagian aktif enzim.
Lokasi aktif enzim mempunyai bentuk yang persis dengan substrat tersebut terikat pada bagian aktif enzim.
Enzim dalam pengolahan pangan
• Peningkatan mutu produk
• Pemanfaatan hasil samping industri pangan
• Pengembangan pangan sintetik
• Peningkatan cita rasa dan aroma
• Pemantapan (stabilitas) mutu, serta nilai gizi bahan pangan
• Peningkatan mutu produk
• Pemanfaatan hasil samping industri pangan
• Pengembangan pangan sintetik
• Peningkatan cita rasa dan aroma
• Pemantapan (stabilitas) mutu, serta
nilai gizi bahan pangan
Penghambatan Kerja Enzim
• Berdasarkan sifat kestabilan penghambatan, dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
Penghambatan irreversible (stabil)
Senyawa penghambtan (inhibitor) akan terikat secara kovalen pada lokasi aktif enzim atau
senyawa tersebut terikat sangat kuat sehingga disosiasi terjadi sangat lambat.
Penghambatan yang reversible (tidak stabil)
• Berdasarkan sifat kestabilan penghambatan, dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
Penghambatan irreversible (stabil)
Senyawa penghambtan (inhibitor) akan terikat secara kovalen pada lokasi aktif enzim atau
senyawa tersebut terikat sangat kuat sehingga disosiasi terjadi sangat lambat.
Penghambatan yang reversible (tidak stabil)
Penghambatan Reversibel
1. Kompetitif: zat penghambat mempunyai
struktur yang mirip dengan substrat sehingga dapat bergabung dengan sisi aktif enzim.
Terjadi kompetisi antara substrat dengan inhibitor untuk bergabung dengan sisi aktif enzim (misal feed back effect)
2. Non kompetitif: zat penghambat menyebabkan struktur enzim rusak sehingga sisi aktifnya
tidak cocok lagi dengan substrat
1. Kompetitif: zat penghambat mempunyai
struktur yang mirip dengan substrat sehingga dapat bergabung dengan sisi aktif enzim.
Terjadi kompetisi antara substrat dengan inhibitor untuk bergabung dengan sisi aktif enzim (misal feed back effect)
2. Non kompetitif: zat penghambat menyebabkan struktur enzim rusak sehingga sisi aktifnya
tidak cocok lagi dengan substrat
Senyawa Penghambat dalam Bahan Pangan
Inhibitor Tripsin
• Inhibitor tripsin merupakan senyawa
penghambat yang terdapat pada kedelai, leguminosa lain, serta kentang.
• Senyawa ini menghambat pencernaan protein kedelai, baik pada hewan maupun manusia.
Inhibitor Tripsin
• Inhibitor tripsin merupakan senyawa
penghambat yang terdapat pada kedelai, leguminosa lain, serta kentang.
• Senyawa ini menghambat pencernaan protein kedelai, baik pada hewan maupun manusia.
Inhibitor tripsin
• Senyawa penghambat ini bergabung dengan enzim tripsin, gabungan ini merupakan
kompleks antara enzim dengan senyawa
penghambat yang terikat erat, sehingga enzim terhalang fungsinya.
• Inhibitor tripsin tidak tahan terhadap
pemanasan. Dengan penyangraian dan
penggodogan inhibitor tripsin dapat menjadi tidak aktif.
• Senyawa penghambat ini bergabung dengan enzim tripsin, gabungan ini merupakan
kompleks antara enzim dengan senyawa
penghambat yang terikat erat, sehingga enzim terhalang fungsinya.
• Inhibitor tripsin tidak tahan terhadap
pemanasan. Dengan penyangraian dan
penggodogan inhibitor tripsin dapat menjadi tidak aktif.
• Inhibitor poligalakturonase (pada buah advokat muda), penghambat ini aktif pada buah advokat yang sudah tua.
• Inhibitor katalase dan peroksidase pada mangga muda, penghambat ini aktif pada buah mangga yang sudah tua.
• Inhibitor poligalakturonase (pada buah advokat muda), penghambat ini aktif pada buah advokat yang sudah tua.
• Inhibitor katalase dan peroksidase pada mangga muda, penghambat ini aktif pada buah mangga yang sudah tua.
Senyawa penghambat non-protein
• SO2
merupakan penghambat yang kuat terhadap
polifenol oksidase, sehingga banyak digunakan untuk menghindari reaksi browning pada bahan makanan, seperti apel, kentang dan sayur-
sayuran.
• benzyl isotianat
merupakan penghambat enzim papain.
• SO2
merupakan penghambat yang kuat terhadap
polifenol oksidase, sehingga banyak digunakan untuk menghindari reaksi browning pada bahan makanan, seperti apel, kentang dan sayur-
sayuran.
• benzyl isotianat
merupakan penghambat enzim papain.
ENZIM DAN LINGKUNGANNYA
• Pengaruh Suhu Tinggi
• Pada umumnya semakin tinggi suhu, semakin naik laju reaksi kimia, baik yang tidak dikatalisis maupun yang dikatalisis oleh enzim.
• Enzim adalah protein, jadi semakin tinggi suhu, proses inaktifasi enzim juga meningkat.
• suhu yang terlalu tinggi dapat mempercepat pemecahan atau perusakan enzim
• Bila suhu naik terus, laju kerusakan enzim akan melampaui reaksi katalisis enzim.
• Pengaruh Suhu Tinggi
• Pada umumnya semakin tinggi suhu, semakin naik laju reaksi kimia, baik yang tidak dikatalisis maupun yang dikatalisis oleh enzim.
• Enzim adalah protein, jadi semakin tinggi suhu, proses inaktifasi enzim juga meningkat.
• suhu yang terlalu tinggi dapat mempercepat pemecahan atau perusakan enzim
• Bila suhu naik terus, laju kerusakan enzim akan melampaui reaksi katalisis enzim.
Daya Tahan Enzim Terhadap Panas
• Perbedaan sumber atau asal enzim
menyebabkan perbedaan daya tahan enzim terhadap panas.
• Hampir semua enzim mempunyai aktivitas optimal pada suhu 30oC sampai 40oC dan denaturasi mulai terjadi pada suhu 45oC.
• Perbedaan sumber atau asal enzim
menyebabkan perbedaan daya tahan enzim terhadap panas.
• Hampir semua enzim mempunyai aktivitas optimal pada suhu 30oC sampai 40oC dan denaturasi mulai terjadi pada suhu 45oC.
Pengaruh Suhu Pembekuan
Banyak enzim dapat mengalami denaturasi pada suhu beku
Banyak enzim menunjukkan aktivitas yang nyata pada bahan setengah beku.
Dalam sistem beku, terjadi larutan dengan
viscositas yang tinggi, dan dapat menghalangi difusi enzim dan substrat, sehingga dapat
menghambat aktivitas enzim.
Banyak enzim dapat mengalami denaturasi pada suhu beku
Banyak enzim menunjukkan aktivitas yang nyata pada bahan setengah beku.
Dalam sistem beku, terjadi larutan dengan
viscositas yang tinggi, dan dapat menghalangi difusi enzim dan substrat, sehingga dapat
menghambat aktivitas enzim.
Pengaruh pH
• Pada umumnya enzim bersifat amfolitik, yang berarti enzim mempunyai konstanta disosiasi
pada gugus asam maupun basa, terutama pada gugus residu terminal karboksil dan gugus
terminal aminonya.
• Perubahan aktivitas enzim akibat perubahan pH lingkungannya disebabkan karena terjadinya
perubahan ionisasi enzim, substrat, atau kompleks enzim substrat.
• Pada umumnya enzim bersifat amfolitik, yang berarti enzim mempunyai konstanta disosiasi
pada gugus asam maupun basa, terutama pada gugus residu terminal karboksil dan gugus
terminal aminonya.
• Perubahan aktivitas enzim akibat perubahan pH lingkungannya disebabkan karena terjadinya
perubahan ionisasi enzim, substrat, atau kompleks enzim substrat.
• Enzim menunjukkan aktivitas maksimum pada kisaran pH yang disebut pH optimum, umumnya pH 4,5 sampai 8,0.
• Pada proses pengolahan pangan, keaktifan
enzim tertentu tidak dikehendaki sehingga harus dicegah dan dihambat.
• Terjadinya reaksi browning akibat enzim
fenolase dapat dihambat dengan menurunkan pH larutan sampai 3,0, sebab pH optimum
fenolase 6,5.
• Enzim menunjukkan aktivitas maksimum pada kisaran pH yang disebut pH optimum, umumnya pH 4,5 sampai 8,0.
• Pada proses pengolahan pangan, keaktifan
enzim tertentu tidak dikehendaki sehingga harus dicegah dan dihambat.
• Terjadinya reaksi browning akibat enzim
fenolase dapat dihambat dengan menurunkan pH larutan sampai 3,0, sebab pH optimum
fenolase 6,5.
Pengaruh Kadar Air dan Aw.
• Kadar air dari bahan sangat mempengaruhi laju reaksi enzimatik.
• Dalam sistem reaksi enzim, kadar air mutlak bukan merupakan faktor yang penting, tetapi jenis keterikatan air justru lebih penting.
• Pada makanan kering, keaktifan enzim lebih
banyak dipengaruhi oleh water activity (Aw) dan kelembaban udara sekitarnya.
• Kadar air dari bahan sangat mempengaruhi laju reaksi enzimatik.
• Dalam sistem reaksi enzim, kadar air mutlak bukan merupakan faktor yang penting, tetapi jenis keterikatan air justru lebih penting.
• Pada makanan kering, keaktifan enzim lebih
banyak dipengaruhi oleh water activity (Aw) dan kelembaban udara sekitarnya.
Pengaruh Garam
• Kadar elektrolit yang tinggi umumnya mempengaruhi kelarutan protein.
• Larutan garam sering digunakan untuk
melarutkan protein, peristiwa ini sering disebut salting in.
•
• Beberapa jenis larutan garam dapat digunakan untuk membuat protein atau enzim menjadi tidak larut, peristiwa ini sering disebut salting out.
• Kadar elektrolit yang tinggi umumnya mempengaruhi kelarutan protein.
• Larutan garam sering digunakan untuk
melarutkan protein, peristiwa ini sering disebut salting in.
•
• Beberapa jenis larutan garam dapat digunakan untuk membuat protein atau enzim menjadi tidak larut, peristiwa ini sering disebut salting out.
Keberadaan Enzim Dalam Bahan Pangan
• Pada hakekatnya enzim dapat diproduksi dari:
– hasil ternak
– tanaman pangan – mikroba
• Pada hakekatnya enzim dapat diproduksi dari:
– hasil ternak
– tanaman pangan
– mikroba
Enzim dari Hewan
• Enzim rennin dan pepsin dapat dihasilkan dari lambung sapi dewasa yang banyak digunakan dalam pembuatan keju.
• Enzim esterase dan lipase yang dihasilkan dari domba, anak domba dan tenunan mulut
memegang peranan dalam peningkatan flavor (citarasa) keju.
• Enzim rennin dan pepsin dapat dihasilkan dari lambung sapi dewasa yang banyak digunakan dalam pembuatan keju.
• Enzim esterase dan lipase yang dihasilkan dari domba, anak domba dan tenunan mulut
memegang peranan dalam peningkatan flavor (citarasa) keju.
• Enzim pankreatin dari pancreas mampu menghidrolisa protein, pati dan lemak.
• Enzim katalase yang bersumber dari hati banyak digunakan untuk menghilangkan
kelebihan H2O2 yang digunakan untuk proses sterilisasi pada pembuatan keju.
• Enzim pankreatin dari pancreas mampu menghidrolisa protein, pati dan lemak.
• Enzim katalase yang bersumber dari hati banyak digunakan untuk menghilangkan
kelebihan H2O2 yang digunakan untuk proses sterilisasi pada pembuatan keju.
Enzim dari Tanaman
• Enzim papain banyak terdapat pada getah buah papaya muda.
• Kecambah barley mengandung enzim amylase yang mencerna pati menjadi gula dalam proses fermentasi pembuatan bir, dan ragi melanjutkan pemecahan gula menjadi alcohol.
• Nenas sebagai sumber bromelin yang merupakan enzim proteolitik
• Enzim papain banyak terdapat pada getah buah papaya muda.
• Kecambah barley mengandung enzim amylase yang mencerna pati menjadi gula dalam proses fermentasi pembuatan bir, dan ragi melanjutkan pemecahan gula menjadi alcohol.
• Nenas sebagai sumber bromelin yang merupakan enzim proteolitik
Enzim dari Mikroba
• Dari golongan bakteri:
– Bacillus subtilis memproduksi amylase dan protease.
– E. coli menghasilkan asparaginase
– Micrococcus lysodeikticus menghasilkan katalase.
– Streptomyces sp untuk memproduksi glucoseisomerase.
• Dari golongan bakteri:
– Bacillus subtilis memproduksi amylase dan protease.
– E. coli menghasilkan asparaginase
– Micrococcus lysodeikticus menghasilkan katalase.
– Streptomyces sp untuk memproduksi glucoseisomerase.
Dari golongan kapang:
Aspergillus oryzae untuk memproduksi amylase dan protease
A. niger untuk memproduksi amylase, sellulose, glucoamylase.
Rhizopus sp untuk memproduksi pektinase, lipase, amylase, dan glucoamylase.
Dari golongan khamir:
Saccharomyces cerevisiae memproduksi invertase
Saccharomyces fragilis memproduksi lactase
Dari golongan kapang:
Aspergillus oryzae untuk memproduksi amylase dan protease
A. niger untuk memproduksi amylase, sellulose, glucoamylase.
Rhizopus sp untuk memproduksi pektinase, lipase, amylase, dan glucoamylase.
Dari golongan khamir:
Saccharomyces cerevisiae memproduksi invertase
Saccharomyces fragilis memproduksi lactase