44 BAB IV
HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Studi Kasus 1. Pengkajian
a. Pengkajian pada Tn. N
Pengkajian dilakukan pada hari 20 Februari 2019 pada pasien Tn. N di ruang Teratai 3 RSUD Kab. Karanganyar, pengkajian dimulai pukul 08.00 WIB. Pengkajian dilakukan secara observasi langsung kepada pasien, alloanamnesa dan pemeriksaan fisik. Dari pengkajian tersebut didapatkan data identitas pasien yaitu Tn. N berusia 60 tahun.
Riwayat penyakit sekarang : pasien dibawa ke IGD dengan keluhan kelemahan ektremitas kiri dan kebas sejak 12 Januari 2019, bicara pelo dan bibir mencong ke kiri, kemudian dibawa ke IGD pada tanggal 19 Februari 2019 lalu dipindah ke bangsal Teratai 3.
Riwayat penyakit dahulu : pasien mengatakan riwayat HT dan DM tidak tahu. Dari keluarga mengatakan pasien tidak memiliki penyakit menular maupun menurun dan baru pertama kali ini masuk RS.
Pengkajian selanjutnya adalah pengkajian body system, didapatkan data sebagai berikut : B1 (Breathing) : pasien bernafas spontan, bentuk dada normal, pergerakan dada simetris, suara nafas
vesikuler, respirasi 24 x/menit, terpasang O2 nassal kanul 3 liter/menit, tidak tampak pernafasan cuping hidung, SpO2 : 97%.
B2 (Blood) : tekanan darah 200/140 mmHg, nadi 100 x/menit, suhu 37oC, CRT < 2 detik, tidak ada bunyi jantung tambahan, iktus cordis terlihat kuat angkat. B3 (Brain) : kesadaran Composmentis, GCS E4 M6 V5, pasien mengatakan pusing, penglihatan kabur, tidak ada masalah dalam memori, bicara pelo. B4 (Bladder) : tidak terpasang DC kateter, terpasang pampers, urin produktif. B5 (Bowel) : tidak terpasang NGT, bising usus 12 x/menit, makan sedikit-sedikit, tidak ada mual muntah, B6 (Bone) : tidak ada dikubitus, tidak ada fraktur, mengalami hemiparesis ekstremitas kiri dengan skor kekuatan otot T.ka (5), K.ka (5), T.ki (3), K. Ki (3).
Pemeriksaan selanjutnya pemeriksaan fisik head to toe didapatkan data sebagai berikut kepala : mesochepal, tidak ada lesi, rambut berminyak dan berketombe; mata : pupil isokor, konjungtiva ananemis, sklera anikterik; hidung : bentuk simetris, tidak ada polip, tidak ada cuping hidung, tidak ada sekret, terpasang O2 nassal kanul 3 lpm; mulut : mukosa bibir kering, lidah sedikit kotor, gigi kuning, bibir agak mencong ke kiri; telinga : simetris, bentuk normal, terdapat serumen; leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid; dada : tidak ada lesi, bentuk normal, simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada suara tambahan; abdomen : bising usus
12 x/menit, bentuk datar, tidak ada nyeri tekan; ektremitas kanan atas : 5, kanan bawah: 5, kiri atas : 3, kiri bawah : 3; kulit:
turgor kulit normal; genetalia : tidak terpasang DC kateter.
Pengkajian skor activity daily living pada Tn. N adalah sebagai berikut : makan (1), mandi (0), perawatan diri (1), berpakaian (1), kontrol BAB (2), kontrol BAK (2), toileting (0), transfer (2), mobilitas (1), naik turun tangga (0). Total skor ADL 9 dengan keterangan ketergantungan sedang.
Pemeriksaan penunjang didapatkan hasil laboratorium pada tanggal 19 Februari 2019 dengan hasil hemoglobin 12,5 g/dL (normal : 14,0-17,5); hematokrit 38,3 % (Normal : 40 – 52); MCV 79,5 fL (Normal : 82,0 – 92,0); MCH 26,0 pg (Normal : 28 – 33);
Neutrofil% 85,5 % (Normal : 50,0 – 70,0); Limfosit% 9,3 % (Normal : 25,0 – 40,0); Creatinin 1,51 % ( Normal : < 1,0).
Selain dari hasil laboratorium, pemeriksaan penunjang juga bisa didapatkan dari hasil CT Scan tanpa zat kontras pada tanggal 23 Februari 2019. Hasil CT Scan pada pasien Tn. N adalah sebagai berikut : infark pada nukleus lentiformis dan crus anterior capsula interna kanan, tak tampak perdarahan maupun SOL intra kranial, tidak tampak odema parenchim cerebri.
Pasien Tn. N mendapatkan terapi obat antara lain infus RL 20 tpm, terapi O2 nassal kanul 3 lpm, mecobalamin 1 gram/8jam, citicoline 1 gram/12jam, Omeprazole 40 mg/12jam, Clopidogrel
1x75 mg tablet, candesartan 8mg 1x1 (sore), Methyl Prednisolone 125 mg/8 jam.
Data yang telah terkumpul dikelompokkan menjadi data fokus yang mengarah ke masalah perawatan yang muncul.
Diperoleh data subjektif : pasien mengatakan ekstremitas bagian kiri sulit digerakkan, bicara pelo dan mulut mencong ke kiri. Data objektif meliputi : kesadaran Composmentis dengan GCS E4 M6 V5, TTV : TD : 200/140 mmHg; nadi: 100 x/menit; RR : 24 x/menit; suhu 37oC; SpO2 : 97%, total skor ADL 9 dengan keterangan ketergantungan sedang, pasien juga mengalami penurunan kekuatan otot ekstremitas kiri. Hasil pengkajian kekuatan otot adalah sebagai berikut : ekstremitas kanan atas : 5, ekstremitas kanan bawah : 5, ekstremitas kiri atas : 3, ekstremitas kiri bawah : 3.
b. Pengkajian pada Tn. S
Pengkajian dilakukan pada hari kamis 22 Februari 2019 pada pasien Tn. S di Bangsal Cempaka 3 RSUD Kab. Karanganyar, pengkajian di mulai pukul 08.00 WIB. Pengkajian dilakukan secara observasi langsung kepada pasien, alloanamnesa dan pemeriksaan fisik. Dari pengkajian tersebut didapatkan data identitas pasien yaitu pada Tn. S berusia 63 tahun.
Riwayat penyakit sekarang didapatkan data, pasien sebelumnya ditemukan terjatuh di kamar mandi pada sore hari
dengan keadaan sudah lemah ekstremitas kanan dan bicara pelo lalu oleh keluarga dibawa ke IGD pada tanggal 21 Februari 2019 pukul 19.00 dengan keluhan kelemahan ekstremitas kanan, bibir miring ke kanan dan bicara sedikit pelo, keluarga pasien mengatakan pasien tidak nafsu makan beberapa hari terakhir ini, kemudian dari IGD dipindah ke bangsal Cempaka 3 dengan kesadaran Composmentis GCS E4 M6 V5; TD : 170/90 mmHg; N : 101 x/menit; RR : 20 x/menit; S : 38oC; SpO2 : 98%; CRT < 2 detik.
Riwayat penyakit yang pernah diderita yaitu hipertensi sejak 2 tahun yang lalu. Keluarga mengatakan orang tua pasien dulunya juga mengalami hipertensi tetapi tidak memiliki penyakit menular, diabetes, atau gagal ginjal.
Pengkajian body system pada Tn. S didapatkan hasil sebagai berikut : B1 (Breathing) : pasien bernafas spontan, bentuk dada normal, pergerakan dada simetris, suara nafas vesikuler, respirasi 20 x/menit, terpasang O2 nassal kanul 3 liter/menit, tidak tampak pernafasan cuping hidung, SpO2 : 98%; B2 (Blood) : tekanan darah 170/90 mmHg, nadi 101 x/menit, suhu 38oC, CRT < 2 detik, tidak ada bunyi jantung tambahan, iktus cordis terlihat kuat angkat; B3 (Brain) : kesadaran Composmentis, GCS E4 M6 V5, pasien mengatakan pusing, penglihatan kabur, tidak ada masalah dalam memori, bicara pelo; B4 (Bladder) : tidak terpasang DC kateter, terpasang pampers, urin produktif; B5 (Bowel) : tidak terpasang NGT, bising usus 15
x/menit, makan sedikit-sedikit, merasa mual tapi tidak muntah; B6 (Bone) : tidak ada dikubitus, tidak ada fraktur, mengalami hemiparesis ekstremitas kiri dengan skor kekuatan otot T.ka (3), K.ka (3), T.ki (5), K. Ki (5).
Pemeriksaan selanjutnya pemeriksaan fisik head to toe didapatkan data sebagai berikut kepala : mesochepal, tidak ada lesi, rambut berminyak dan berketombe; mata : pupil isokor, konjungtiva ananemis, sklera anikterik; hidung : bentuk simetris, tidak ada polip, tidak ada cuping hidung, tidak ada sekret, terpasang O2 nassal kanul 3 lpm; mulut : mukosa bibir kering, lidah sedikit kotor, gigi kuning, bibir agak mencong ke kiri; telinga : simetris, bentuk normal, terdapat serumen; leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid; dada : tidak ada lesi, bentuk normal, simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada suara tambahan; abdomen : bising usus 15 x/menit, bentuk datar, tidak ada nyeri tekan; ektremitas kanan atas : 3, kanan bawah:
3, kiri atas : 5, kiri bawah : 5; kulit: turgor kulit normal;
genetalia : tidak terpasang DC kateter.
Pengkajian skor activity daily living adalah sebagai berikut : makan (1), mandi (0), perawatan diri (1), berpakaian (1), kontrol BAB (2), kontrol BAK (2), toileting (0), transfer (2), mobilitas (1), naik turun tangga (0). Total skor ADL 9 dengan keterangan ketergantungan sedang.
Pemeriksaan penunjang didapatkan hasil laboratorium pada tanggal 21 Februari 2019 dengan hasil hemoglobin 13,5 g/dL (normal : 14,0-17,5); trombosit 140 10^3/uL (Normal : 150 – 361);
PDW 17,3 (Normal : 9,0 – 17,0); MCHC 31,6 g/dL (Normal : 32,0 – 37,0); Limfosit% 23,4 % (Normal : 25,0 – 40,0).
Selain dari hasil laboratorium, pemeriksaan penunjang juga bisa didapatkan dari hasil CT Scan tanpa zat kontras pada tanggal 21 Februari 2019. Hasil CT Scan pada pasien Tn. S adalah sebagai berikut : infark pada sentrum semiovale kanan, corona radiata kiri dan nukelus lentiformis kanan kiri, tak tampak perdarahan maupun SOL intra kranial, tidak tampak odema parenchim cerebri.
Pasien Tn. S mendapatkan terapi obat antara lain infus RL 20 tpm, terapi O2 nassal kanul 3 lpm, Citicoline 500 mg/12 jam (IV), Mecobalamine 0,5 mg/8 jam (IV), Ranitidine 25 mg/8 jam, Citicoline 2x1 (oral), Mecobalamine 2x1 (oral), Plavix 1x1 (oral), Omeprazol 2x1 (oral).
Data yang telah terkumpul dikelompokan menjadi data fokus yang mengarah ke masalah keperawatan yang muncul data subjektif yang diperoleh adalah sebagai berikut : pasien mengeluh pusing , pasien mengeluh mengalami kelemahan pada anggota badan sebelah kanan, dan bicara pelo. Sedangkan untuk data objektif didapatkan data sebagai berikut : tingkat kesadaran Composmentis, GCS : E4 M6 V6, pasien mengalami penurunan kekuatan otot ekstremitas
kanan dengan skor kekuatan otot sebagai berikut : ekstremitas kanan atas : 3, ekstremitas kanan bawah :3, ekstremitas kiri atas :5, ekstremitas kiri bawah :5, mulut kotor, bau badan, rambut berminyak dan berketombe, aktivitas sehari – hari pasien dibantu oleh perawat dan keluarga.
2. Diagnosa Keperawatan a. Diagnosa keperawatan pada Tn. N
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 20 Februari 2019 pada Tn. N didapatkan diagnosa gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan atau paralisis dengan data subjektif : pasien mengatakan ekstremitas kiri mengalami kelemahan, bicara pelo, dan bibir mengalami mencong ke kiri. Data objektif diperoleh kesadaran Composmentis dengan GCS E4 M6 V5, TTV : TD : 200/140 mmHg, nadi : 100 x/menit, RR : 24 x/menit, Suhu : 37oC, SpO2 : 97%, penurunan kekuatan otot pada ekstremitas kiri dengan skor ekstremitas kiri atas 3, ekstremitas kiri bawah 3, ekstremitas kanan atas 5, ekstremitas kanan bawah 5, total skor ADL 9 dengan keterangan ketergantungan sedang.
b. Diagnosa keperawatan pada Tn. S
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 22 Februari 2019 pada Tn. S didapatkan diagnosa gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan atau paralisis dengan data subjektif : pasien mengatakan ekstremitas kanan mengalami kelemahan,
bicara pelo. Data objektif diperoleh kesadaran Composmentis dengan GCS E4 M6 V5, TTV : TD : 170/90 mmHg; N : 101 x/menit;
RR : 20 x/menit; S : 38oC; SpO2 : 98%; CRT < 2 detik, penurunan kekuatan otot pada ekstremitas kanan dengan skor ekstremitas kanan atas 3, ekstremitas kanan bawah 3, ekstremitas kiri atas 5, ekstremitas kiri bawah 5, total skor ADL 9 dengan keterangan ketergantungan sedang.
3. Intervensi Keperawatan
Dalam intervensi keperawatan ini penulis mengambil diagnosa keperawatan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan atau paralisis pada kedua pasien Tn. N dan Tn. S. Rencana tindakan akan dilakukan selama 3x24 jam dan diharapkan masing-masing pasien dengan masalah gangguan mobilitas fisik dapat teratasi dengan kriteria hasil : pasien dapat meningkat dalam aktivitas fisik, mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas, memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kakuatan dan kemampuan berpindah, memperagakan penggunaan alat bantu mobilisasi. Tindakan yang akan diberikan kepada 2 pasien tersebut adalah sebagai berikut : monitor ttv sebelum dan sesudah latihan serta respon pasien, konsultasi dengan terapi fisik tentang cara ambulasi sesuai kebutuhan, ajarkan pasien dan keluarga teknik ambulasi sesuai kebutuhan, latih pasien dalam pemenuhan ADL, dampingi dan bantu pasien saat mobilitas.
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan keperawatan yang telah dibuat dan disusun agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal.
a. Berdasarkan intervensi yang telah disusun, implementasi keperawatan dilakukan tanggal 20-22 Februari 2019 pada Tn. N sebagai berikut :
1) Implementasi yang dilakukan pada tanggal 20 Februari 2019.
Pada pukul 08.00 monitor tanda-tanda vital dengan hasil TD:
200/140 mmHg, nadi: 100 x/menit, RR: 24 x/menit, suhu: 37 ͦ C, SpO2 : 97%, pada pukul 08.10 mengkaji tingkat kekuatan otot dengan respon kekuatan otot ekstermitas kiri mengalami penurunan, pada pukul 08.30 memberikan terapi farmakologis Mecobalamin 1 gram/8 jam; Citicoline 1 gram/12 jam;
Omeprazole 40 mg/12 jam; Methyl Prednisolone 125 mg/8 jam, pada pukul 10.00 memberikan terapi ROM Pasif pada ekstermitas kiri dengan menggerakan bahu : fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi. Untuk gerakan ROM Pasif pada siku : fleksi dan ekstensi. Gerakan ROM pasif pada lengan bawah : supinasi, pronasi. Gerakan ROM pasif pada pergelangan tangan : fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi dan adduksi. Gerakan ROM pasif pada jari-jari tangan : fleksi, ekstensi, adduksi, dan abduksi. Gerakan ROM pasif pada lutut : fleksi dan ekstensi.
Gerakan ROM pasif pada pergelangan kaki : dorsifleksi dan
plantarfleksi. Gerakan ROM pasif pada kaki : inversi dan eversi.
Gerakan ROM pasif pada jari-jari kaki : fleksi, ekstensi, abduksi, dan adduksi.
Dengan respon pergerakan tampak lemah kekuatan otot 3 dari 5 pergerakan dibantu penuh oleh perawat, pada pukul 10.30 memberikan jadwal untuk dilakukannya tindakan terapi ROM, pada pukul 10.30 monitor tanda-tanda vital setelah dilakukan terapi ROM Pasif dengan hasil TD : 180/95 mmHg, nadi : 95 x/menit, RR : 25 x/menit, suhu : 36,0 ͦ C, SpO2 : 99%.
Tindakan selajutnya dilakukan perawat lain dengan respon belum ada tanda-tanda kenaikan kekuatan otot.
2) Implementasi yang dilakukan pada tanggal 21 Februari 2019.
Pada pukul 07.30 monitor tanda-tanda vital dengan hasil TD:
160/80 mmHg, nadi: 92 x/menit, RR: 25 x/menit, suhu: 36.1 ͦ C, SpO2 : 100%, pada pukul 07.40 mengkaji tingkat kekuatan otot dengan respon kekuatan otot belum ada peningkatan kekuatan otot skor masih 3 pada ekstermitas kiri, pada pukul 08.30 memberikan terapi farmakologis Mecobalamin 1 gram/8 jam;
Citicoline 1 gram/12 jam; Omeprazole 40 mg/12 jam; Methyl Prednisolone 125 mg/8 jam, pada pukul 10.00 memberikan terapi ROM Pasif pada ekstermitas kiri gerakan diberikan seperti latihan di hari pertama, pada pukul 10.30 mengkaji apakah ada kenaikan kekuatan otot setelah dilakukan tindakan ROM Pasif
dengan respon belum ada tanda-tanda peningkatan kekuatan otot, pada pukul 10.40 monitor tanda-tanda vital setelah dilakukan terapi ROM Pasif dengan hasil TD : 158/65 mmHg, nadi : 93 x/menit, RR : 24 x/menit, suhu : 36,2 ͦ C, SpO2 : 99%.
Tindakan selanjutnya dilakukan perawat lain dengan respon belum ada tanda-tanda kenaikan kekuatan otot.
3) Implementasi yang dilakukan pada tanggal 22 Februari 2019.
Pada pukul 14.00 monitor tanda-tanda vital dengan hasil TD:
145/80 mmHg, nadi: 90 x/menit, RR: 24 x/menit, suhu: 36.0 ͦ C, SpO2 : 99%, pada pukul 16.00 mengkaji tingkat kekuatan otot dengan respon tidak ada tanda-tanda kenaikan kekuatan otot yang hanya bisa mengangkat tangan dan kaki sebelah kiri melawan gravitasi, pada pukul 16.20 memberikan terapi ROM Pasif pada ekstermitas kiri gerakan diberikan seperti latihan di hari pertama , pada pukul 17.00 mengkaji apakah ada kenaikan kekuatan otot setelah dilakukan tindakan ROM Pasif dengan respon tidak ada kenaikan kekuatan otot dan masih dengan skor kekuatan otot 3, pada pukul 17.00 monitor tanda-tanda vital setelah dilakukan terapi ROM Pasif dengan hasil TD : 140/80 mmHg, nadi : 90 x/menit, RR : 23 x/menit, suhu : 36,1 ͦ C, SpO2 : 99%, pada pukul 21.00 memberikan terapi obat Citicoline 1 gram/12 jam; Omeprazole 40 mg/12 jam.
b. Berdasarkan intervensi yang telah disusun, implementasi keperawatan dilakukan pada tanggal 22 - 24 Februari 2019 pada pasien Tn. S sebagai berikut :
1) Implementasi yang dilakukan pada tanggal 22 Februari 2019 Pada pukul 08.00 WIB. Monitor tanda-tanda vital dengan hasil TD : 170/90mmHg; N: 101 x/menit; RR : 20 x/menit; S :38oC; SpO2 : 98%, pada pukul 08.00 mengkaji tingkat kekuatan otot dengan respon kekuatan otot ekstermitas kanan mengalami penurunan, pada pukul 08.30 memberikan terapi farmakologis injeksi citicoline 500 mg/12 jam; mecobalamin 0,5 mg/8 jam;
Ranitidin 25 mg/8 jam. Pada pukul 09.00 memberikan terapi ROM Pasif pada ekstremitas kanan dengan menggerakkan bahu : fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi. Untuk gerakan ROM Pasif pada siku : fleksi dan ekstensi. Gerakan ROM pasif pada lengan bawah : supinasi, pronasi. Gerakan ROM pasif pada pergelangan tangan : fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi dan adduksi. Gerakan ROM pasif pada jari-jari tangan : fleksi, ekstensi, adduksi, dan abduksi. Gerakan ROM pasif pada lutut : fleksi dan ekstensi. Gerakan ROM pasif pada pergelangan kaki : dorsifleksi dan plantarfleksi. Gerakan ROM pasif pada kaki : inversi dan eversi. Gerakan ROM pasif pada jari-jari kaki : fleksi, ekstensi, abduksi, dan adduksi.
2) Implementasi yang dilakukan pada tanggal 23 Februari 2019.
Pada pukul 08.00 monitor tanda-tanda vital dengan hasil TD : 155/96 mmHg; N : 98 x/menit; RR : 21 x/menit; S : 36.9oC;
SpO2 : 99%. Pada pukul 08.20 mengkaji tingkat kekuatan otot dengan respon kekuatan otot belum ada peningkatan kekuatan otot skor masih 3 pada ekstermitas kanan, pada pukul 08.30 memberikan terapi farmakologis Citicoline 500mg/12 jam;
Mecobalamin 0,5 mg/8 jam; Ranitidin 25 mg/8 jam, pada pukul 09.00 memberikan terapi ROM pasif pada ekstermitas kanan gerakan yang diberikan sama dengan hari pertama pada pukul 11.00 mengkaji apakah ada kenaikan kekuatan otot setelah dengan respon belum ada tanda-tanda peningkatan kekuatan otot, pada pukul 11.20 monitor tanda-tanda vital setelah dilakukan terapi ROM Pasif dengan hasil TD : 150/90 mmHg;
nadi : 100 x/menit; RR : 24 x/menit; suhu : 36,2 ͦ C; SpO2 : 98%.
Tindakan selanjutnya dilakukan perawat lain dengan respon belum ada tanda-tanda kenaikan otot.
3) Implentasi yang dilakukan pada tanggal 24 Februari 2019.
Pada pukul 14.00 monitor tanda-tanda vital dengan hasil TD:
160/90 mmHg, nadi: 103 x/menit, RR: 23 x/menit, suhu: 36.2 ͦ C, SpO2 : 99%, pada pukul 17.00 mengkaji tingkat kekuatan otot dengan respon kekuatan otot belum ada peningkatan kekuatan otot skor masih 3 pada ekstermitas kanan, pada pukul 17.00
memberikan terapi ROM Pasif pada ekstermitas kanan gerakan yang diberikan sama dengan hari pertama, pada pukul 18.10 mengkaji apakah ada kenaikan kekuatan otot setelah dilakukan tindakan ROM Pasif dengan respon belum ada tanda-tanda peningkatan kekuatan otot, pada pukul 19.00 monitor tanda- tanda vital setelah dilakukan terapi ROM Pasif dengan hasil TD : 160/98 mmHg, nadi : 100 x/menit, RR : 23 x/menit, suhu : 36,1 ͦ C, SpO2 : 99%, pada pukul 21.00 memberikan terapi injeksi Citicoline 500 mg/12 jam.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut.
a. Evaluasi dilakukan pada tanggal 22 Februari 2019 pada Tn. N Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan atau paralisis : Data subjektif : pasien mengatakan belum ada perubahan pada tangan dan kakinya dan masih seperti awal yaitu hanya bisa mengangkat tangan dan kaki tanpa (melawan gravitasi), pasien mengatakan ingin melakukan ROM seperti jadwal yang sudah di berikan agar kaki dan tangannya bisa digerakan seperti semula, data objektif : kekuatan otot pasien pada ekstermitas kiri tidak terjadi peningkatan, skor kekuatan otot ekstermitas kiri masih
3, ADL dan mobilisasi masih dibantu keluarga dan perawat. Masalah belum teratasi, melanjutkan intervensi : ajarkan pasien dan keluarga teknik ambulasi, latih pasien dalam pemenuhan ADL, dampingi dan bantu pasien saat mobilitas, monitor TTV, melanjutkan jadwal tindakan ROM Pasif.
b. Evaluasi dilakukan pada tanggal 24 Februari 2019 pada pasien Tn. S Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan atau paralisis : Data subjektif : pasien mengatakan sudah bisa mengangkat tangan dan kaki bagian kanan dengan beban yang ringan di atasnya, pasien juga mengatakan ingin berlatih ROM lagi sesuai jadwal yang telah ditetapkan, data objektif : kekuatan otot pasien pada ekstermitas kanan, menglaiami kenaikan kekuatan otot, skor kekuatan otot ekstermitas kanan 4 dari 5, ADL dan mobilisasi dibantu keluarga dan keluarga. Masalah teratasi sebagian, melanjutkan intervensi : ajarkan pasien dan keluarga teknik ambulasi, latih pasien dalam pemenuhan ADL, dampingi dan bantu pasien saat mobilitas, monitor TTV, melanjutkan jadwal tindakan ROM Pasif.
B. PEMBAHASAN
Pada sub bab ini dilakukan pembahasan kasus dari asuhan keperawatan pada Tn. S dan Tn. N dengan tindakan ROM Pasif untuk mengatasi gangguan mobilitas fisik pada pasien Stroke non hemoragik (SNH) di ruang Cempaka 3 dan Teratai 3 RSUD Kab. Karanganyar. Pembahasan ini
meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian berfokus pada tingkat kekuatan otot Secara umum data fokus yang didapatkan sama dengan teori, dan faktor yang ditemukan antara lain:
a. Hemiparase (kelemahan otot, gangguan mobilitas fisik)
Hambatan aliran darah ke otak dapat mempengaruhi system saraf di otak. Gangguan neurologis pada otak menyebabkan kekuatan otot menurun sehingga sering terjadi hemiplegia atau hemiparase (Sudoyo, dkk, 2009). Pada pemeriksaan fisik kedua pasien diketahui pasien mengalami kelemahan pada ekstermitas kanan dan kiri.
Pada kasus pasien 1 dilihat dari hasil CT Scan hasilnya sebagai berikut : Infark pada sentrum semiovale kanan, corona radiata kiri dan nukleus lentiformis kanan kiri, tak tampak perdarahan SOL intra kranial, tidak tampak odema parenchim cerebri. Pasien 1 mengalami penurunan kekuatan otot pada ekstermitas kanan dengan skore 3 dan pada ekstermitas kiri dengan skore 5, dan pada pasien 2 dilihat dari hasil CT Scan hasilnya sebagai berikut : Infark pada nukleus lentiformis dan crus anterior capsula interna kanan, tak tampak perdarahan maupun SOL intra kranial, tidak tampak odema parenchim cerebri. Pasien 2 mengalami penurunan kekuatan otot pada ekstermitas kiri dengan skore 3 pada ekstermitas kiri dan ekstremitas
kanan dengan skore 5. Data ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Sinaga (2008) terhadap 281 pasien stroke di Rumah Sakit Haji Medan didapatkan hemiparase paling banyak muncul.
b. Hipertensi
Hasil pengkajian pada Tn. N dan Tn. S terdapat kesamaan dengan teori yaitu keduanya mengalami hiperteni. Tekanan darah pada Tn.
N yaitu 200/140 mmHg. Sedangkan tekanan darah pada Tn. S yaitu 170/90 mmHg dengan riwayat hipertensi kurang lebih 2 tahun lalu.
Data ini didukung oleh Arif Satria dan Ade Yonata (2016) bahwa hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala khas, apabila hipertensi tidak dikontrol dan ditangani dengan tepat maka akan menimbulkan berbagai komplikasi yang dapat mengancam kehidupan penderitanya, salah satu diantaranya ialah stroke.
2. Diagnosa keperawatan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan paralis adalah kondisi dimana pasien tidak mampu melakukan pergerakan secara mandiri (Tarwoto dan Wartonah, 2010). Dan diperkuat dari Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2016): keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstermitas secara mandiri.
Diagnosa ini ditegakkan karena data-data ini mengarah kepada diagnosa tersebut dibuktikan dengan penurunan kekuatan otot pada ekstermitas kanan pada Tn. S dan ekstremitas kiri Tn. N dibuktikan dengan penelitian dari Sudoyo, dkk, 2009 Hambatan aliran darah ke otak dapat
mempengaruhi sistem saraf di otak. Gangguan neurologis pada otak menyebabkan kekuatan otot menurun sehingga sering terjadi hemiplegia atau hemiparase dan mengakibatkan penurunan kekuatan otot.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi adalah tahap ketiga dari proses keperawatan dimana tujuan/hasil yang ditentukan dan dipilih. Rencana tindakan yang penulis buat untuk mengelola pasien Tn. S dan Tn. N dengan stroke non hemoragik sudah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang muncul. Secara keseluruhan intervensi yang penulis rencanakan pada Tn. S dan Tn. N sesuai dengan intervensi yaitu mengatasi gangguan mobilitas fisik dengan tindakan ROM pasif. ROM pasif merupakan melatih pergerakan yang dibantu perawat sesuai renta gerak, yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot. Yang menurut Potter perry (2010) dilakukan pada sendi di salah satu pada bidang yaitu sagital, frontal, transversal.
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan di mana rencana perawatan dilaksanakan dari tindakan yang telah ditentukan (Doengoes, 2001).
Implementasi keperawatan dilakukan dengan mengacu pada intervensi yang sudah dibuat, intervensi yang sudah dilakukan untuk mengatasi gangguan mobilitas fisik yaitu dengan tindakan ROM Pasif, tindakan ROM pasif sudah diberikan kepada Tn. S dan Tn. N secara rutin 2 kali sehari
dalam 3x24 jam secara berturut-turut dan dilakukannya monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah dilakukannya ROM pasif.
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi proses dilaksanakan berdasarkan respon pasien dan keberhasilan tindakan yang dilakukan pada saat dan setelah tindakan keperawatan dilaksanakan. Hasil evaluasi proses diuraikan pada sub bahasan sebelumnya (implementasi). Untuk evaluasi hasil pada tanggal 22 dan 24 Februari 2019 Februari 2019 yaitu :
Telah dilakukannya tindakan ROM Pasif pada Tn. N dan Tn. S selama 3 hari dengan prosedur dan tindakan yang sama namun didapatkan hasil yang berbeda, pasien yang pertama tidak mengalami peningkatan kekuatan otot dengan skor kekuatan otot masih 3 sedangkan pasien kedua mengalami kenaikan kekuatan otot menjadi 4. Ada beberapa faktor yang dapat menunjang perbedaan tersebut antara lain :
1. Keterlambatan penanganan yang terjadi pada Tn. N dimana Tn. N mengalami serangan stroke pada tanggal 12 Januari 2018 dan baru dibawa ke RS pada tanggal 20 Februari 2019 sehingga sulit untuk menaikkan kekuatan otot sesuai dengan teori dari Asmadi, 2008 yaitu penderita stroke yang mengalami paralisis dan tidak segera mendapatkan penanganan dapat menimbulkan komplikasi, salah satunya adalah kontraktur.
2. Pemberian obat-obatan yang dapat mempengaruhi hasil peningkatan kekuatan otot. Obat-obatan seperti obat antikuagulan secara tidak
langsung juga dapat mempengaruhi kekuatan otot dengan diimbangi latihan ROM.
3. Intensitas latihan ROM pasif yang dilakukan oleh masing-masing pasien dalam 3 x 24 jam penanganan tersebut juga dapat mempengaruhi kekuatan otot dimana ROM pasif yang dilakukan sesering mungkin akan mempercepat menaikkan kekuatan otot. Sesuai dengan teori dari Lewis (2007) mengemukakan bahwa sebaiknya latihan pada penderita stroke dilakukan beberapa kali dalam sehari untuk mencegah komplikasi, semakin dini proses rehabilitasi di mulai, maka kemungkinan penderita mengalami defisit kemampuan akan semakin kecil
4. Nutrisi juga dapat mempengaruhi kekuatan otot dari kedua pasien tersebut dimana menurt Anies Setyowati (2014), mengatakan penurunan ataupun peningkatan kekuatan otot sangat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu salah satunya faktot konsumsi makanan yang secara tidak langsung berhubungan dengan gizi atau nutrisi.
A. KETERBATASAN
Keterbatasan dalam penelitian studi kasus ini adalah sebagai berikut : 1. Pemberian obat-obatan dan jenis obat tidak diobservasi karena
perubahan mobilitas fisik tidak semata-mata dari latihan ROM pasif saja.
2. Tidak diobservasinya nutrisi yang diberikan kepada pasien 1 dan pasien 2 sehingga dapat memungkinkan nutrisi juga dapat berpengaruh dalam kenaikkan kekuatan otot.
3. Teliti atau tidaknya dalam menghitung intensitas latihan ROM pasif yang dilakukan antara pasien 1 dengan pasien 2 sehingga dapat mempengaruhi kenaikan kekuatan otot pasien.