IDENTIFIKASI JENIS-JENIS KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE AKIBAT AKTIVITAS MANUSIA DI KELURAHAN LOWU-
LOWU KECAMATAN LEA-LEA KOTA BAUBAU
Hartati,1 La Harudu2,
1Alumni Pendidikan Geografi FKIP UHO
2Dosen Pendidikan Geografi FKIP UHO
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi jenis-jenis kerusakan hutan mangrove akibat aktivitas manusia. 2) Mengkaji tingkat kerusakan ekosistem hutan mangrove akibat aktivitas manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei melalui pertanyaan dengan menggunakan kusioner. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama dari kerusakan ekosistem hutan mangrove di Kelurahan Lowu-Lowu selain faktor alamiah (bio-fisik) yaitu disebabkan oleh aktivitas manusia yang mempengaruhi terjadinya kerusakan hutan mangrove yang meliputi keinginan membuka areal tambak dengan lahan terbuka, kegiatan penebangan vegetasi mangrove yang tidak terkontrol untuk digunakan sebagai kayu bakar, dan bahan bangunan. Selain itu, faktor pengetahuan juga mempengaruhi kondisi hutan mangrove baik dalam keadaan masih baik ataupun sudah rusak. Melalui perhitungan INP (Indeks Nilai Penting) diketahui bahwa jenis vegetasi mangrove yang mendominasi dan memiliki peranan penting pada hutan mangrove di Kelurahan Lowu- Lowuadalah jenis Soneratiaalba yaitu (tingkat semai (93.0%), tingkat sapihan (44.8%), dan tingkat pohon (250.9%). Jenis vegetasi mangrove ini merupakan jenis vegetasi yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi.
Kata kunci: hutan mangrove, aktivitas masyarakat, kerusakan
PENDAHULUAN
Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dengan luas 3,5 juta hektar dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi. Hutan mangrove atau hutan bakau adalah salah satu lahan basah yang paling produktif di dunia dan termasuk di Indonesia. Hutan mangrove merupakan suatu sistem ekologi pada kawasan estuari yang menerima nutrisi dan sedimen dari lingkungan darat.
Hutan mangrove memiliki interaksi yang sangat kompleks dengan lingkungan sekitarnya.
Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja.
Namun akhir-akhir ini, ekosistem hutan mangrove dijadikan sebagai sasaran
manusia untuk dijadikan berbagai macam aktivitas, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Eksploitasi yang berlebihan terhadap hutan mangrove yang dilakukan untuk keperluan kayu, kayu bakar, kertas, arang maupun yang diperuntukkan sebagai lahan pertanian, pertambakan, penambangan dan pemukiman.
Semua aktivitas manusia dalam kaitannya dengan penggunaan areal mangrove dalam skala besar adalah sangat berkaitan dengan tingginya populasi dan rendahnya tingkat perekonomian masyarakat setempat (Pramudji, 2000;
Supriharyono, 2006).
Penyebaran hutan mangrove di Kelurahan Lowu-lowu yang terindikasi telah terdegradasi habitatnya akibat dikonfersi menjadi areal pertambakan,
dijadikan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar oleh masyarakat setempat serta pembangunan dermaga. Kawasan pantai di Kelurahan Lowu-Lowu Kecamatan Lea- Lea Kota Baubau adalah kawasan hutan mangrove yang lokasinya berada diwilayah pesisir laut dan merupakan areal estuari yaitu bertemunya air sungai dan air laut. Selain itu, juga merupakan tempat habitat alami mangrove yang berfungsi memberi perlindungan kepada kehidupan pantai dan laut yang ada di sekitar pesisir.
Mangrove sangat berfungsi bagi kehidupan pesisir serta sangat penting bagi keseimbangan ekosistem, sedangkan ketersediaannya semakin menurun drastis dihabitatalaminya sebagai akibat pemanfaatan yang berlebihan oleh aktivitas manusia. Mengingat akan pentingnya hutan mangrove maka perlu diadakan kajian “Identifikasi Jenis-Jenis Kerusakan Ekosistem Hutan Mangrove Akibat Aktivitas Manusia di Kelurahan Lowu-Lowu Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau”.
Menurut Macnae (1968) menyatakan bahwa kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugismangue dan bahasa Inggris grove.
Sementara itu, menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur.
Beberapa ahli mendefinisikan istilah
“mangrove” secara berbeda-beda, namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Tomlinson (1986) dan Wighman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas.
Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindungi (Saenger dkk, 1983).
Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis
pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Dalam kaitan tersebut, diantara mahluk hidup itu sendiri terdapat di wilayah pesisir yang berpengaruh terhadap pasang surut air laut dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan yang asin/payau (Fitriadi, 2004).
Secara ringkas ekosistem mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove. Berkaitan dengan definisi ekosistem mangrove, maka Saenger dkk (1983) dalam Anwar (1984), mengusulkan agar di dalam definisi tersebut, ekosistem hutan mangrove harus mencakup empat hal, yakni: 1.) Memiliki satu atau lebih jenis pohon mangrove yang khas; 2.) Setiap jenis pohon yang tidak khas tumbuh bersama jenis pohon yang khas; 3.) Terdapat biota di dalamnya seperti hewan daratan atau laut, lumutkerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lainnya yang hidup menetap atau sementara, atau sekali-sekali atau biasa, kebetulan, atau khusus hidup di daerah tersebut; 4) Terjadi proses-proses yang penting untuk mempertahankan ekosistem ini baik yang ada di daerah bervegetasi atau di luarnya.
Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa ekosistem hutan mangrove merupakan tumbuhan yang habitatnya tumbuh dan berkembang di daerah pesisir yang salinitasnya tinggi serta mampu mencerminkan hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya.
Kerusakan mangrove selain faktor alamiah (bio-fisik) dapat juga disebabkan
oleh adanya aktivitas manusia, misalnya pengambilan kayu bakar, bahan bangunan, bahan untuk membuat alat penangkapan ikan, aksesoris rumah tangga, dan juga digunakan sebagai bahan untuk pengobatan tradisional.
Aktivitas yang bertujuan dalam melakukan fragmentasi lahan secara sengaja yaitu mengkonversi lahan hutan mangrove menjadi sebagai lahan tambak dan pertanian dan membendung aliran sungai yang menuju ke daerah estuaria sehingga tidak adanya sirkulasi air payau yang dapat mengakibatkan salinitas tinggi serta pengambilan bahan batu karang pantai bahkan pembangunan fasilitas infrastruktur yang secara permanen (Arief, 2003).
Menurut Martopo (1993) kawasan hutan mangrove semakin lama akan semakin berkurang. Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor sebagai berikut : 1.) kebutuhan akan kayu untuk kayu bakar atau penangkapan ikan maupun bangunan rumah; 2.) kebutuhan kawasan hutan mangrove untuk dikonversi menjadi tambak, sawah, ladang garam dan untuk penggunaan yang lain; 3.) rusak akibat pencurian dan polusi hutan.
Aktivitas manusia di area wilayah pesisir pada umumnya nelayan dan petani lahan kering yang menggantungkan hidupnya lewat sumberdaya kelautan yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Semakin majunya teknologi dan perkembangan ekonomi membuat akan semakin terdesaknya kebutuhan dalam hidup. Aktivitas manusia untuk memanfaatkan hutan mangrove tidak memperdulikan lagi keberadaannya sehingga berangsur-angsur terjadi kerusakan hutan mangrove. Hal ini didorong oleh faktor : 1) keinginan membuat tambak dengan lahan yang terbuka, pembuatannya mudah dan murah, sehingga secara ekonomis, menguntungkan; 2) kebutuhan kayu bakar yang sangat mendesak untuk rumah tangga karena tidak ada pohon lain disekitarnya
yang dapat ditebang; 3) pengetahuan masyarakat akan multifungsi hutan mangrove yang sangat terbatas; 4) adanya kesenjangan sosial antara petani tambak tradisional dengan pengusaha tambak kaya dan modern sehingga terjadi jual beli lahan tambak yang tidak rasional (Suyanto, 1995 dalam Waalimuna, 2009).
Menurut Frida Sidik dkk (2004) menyatakan bahwa hutan mangrove merupakan sumber daya alam yang terdapat diwilayah tropis yang memiliki multi manfaat dengan pengaruh yang sangat luas terhadap aspek sosial, ekonomi, dan ekologi. Besarnya peranan ekosistem mangrove untuk kehidupan dapat diamati dari berbagi keragaman jenis hewan yang hidup di kawasan mangrove dan ketergantungan manusia juga secara langsung pada ekosistem ini.
Menurut Saenger (1981) dalam Anwar dkk (1984), fungsi ekosistem hutan mangrove adalah: 1.) Fungsi fisik, yaitu menjaga pantai tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi pantai (abrasi), serta sebagai perangkap zat pencemar dan limbah. 2.) Fungsi biologi, yaitu sebagai dearah pasca larva dan yuwana jenis-jenis ikan tertentu dan menjadi habitat alami berbagai jenis biota dengan produktivitas yang tinggi, serta bersarangnya burung- burung besar. 3.) Fungsi ekonomi atau fungsi produksi, yaitu menghasilkan produk langsung (seperti bahan bakar, bahan bangunan, alat penangkap ikan, pupuk pertanian, bahan baku kertas, makanan, obat-obatan, minuman dan tekstil), maupun produk tidak langsung (seperti tempat-tempat rekreasi dan bahan makanan dan produk yang dihasilkan sebagian besar telah dimanfaatkan
Menurut Dahuri dkk (1996) ada beberapa dampak dari kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Kegiatan Manusia di Wilayah Pesisir yang Berdampak pada Ekosistem Hutan Mangrove
Kegiatan Dampak potensial kerusakan
1. Tebang habis tumbuhan mangrove
terjadinya perubahan komposisi tumbuhan, yaitu pohon mangrove akan digantikan oleh spesies yang nilai komersialnya rendah dan hutan mangrove yang ditebang habis tidak lagi berfungsi sebagai daerah mencari makanan dan daerah pengasuhan yang optimal pada berbagai macam ikan dan udang.
2. Pengalihan aliran air tawar, misalnya pada pembangunan irigasi
mengakibatkan meningkatnya salinitas hutan mangrove menyebabkan dominasi dari spesies-spesies yang lebih toleran terhadap air yang menjadi lebih asin, serta menurunnya tingkat kesuburan hutan mangrove karena pasokan zat-zat hara melalui aliran air tawar berkurang 3. konversi menjadi lahan pertanian
dan perikanan
mengakibatkan terjadinya pencemaran laut oleh bahan- bahan pencemar yang sebelum hutan mangrove dikonversi dapat diikat oleh substrat hutan mangrove, mengancam regenerasi stok-stok ikan dan udang di perairan pertanian, perikanan, lepas pantai yang memerlukan hutan mangrove sebagai nusery ground larva dan stadium muda ikan dan udang, pendangkalan perairan pantai karena pengendapan sedimen yang sebelum hutan mangrove dikonversi mengendap di hutan mangrove, intrusi garam melalui saluran-saluran buatan manusia yang bermuara di laut, dan erosi garis pantai yang sebelumnya ditumbuhi mangrove.
4. pembuangan sampah cair (sewage)
mengakibatkan terjadinya penurunan kandungan oksigen terlarut dalam air, bahkan dapat terjadi keadaan anoksik dalam air sehingga bahan organik yang terdapat dalam sampah cair mengalami dekomposisi anaerobik yang antara lain menghasilkan hidrogen sulfida dan amonia yang keduanya merupakan racun bagi organisme hewani dalam air.
5. pembuangan sampah padat mengakibatkan terjadinya perembesan bahan-bahan pencemar dalam sampah padat yang kemudian larut dalam air ke perairan disekitar pembuangan sampah dan kemungkinan terlapisnya pneumatofora dengan sampah yang akan mengakibatkan kematian pohon-pohon mangrove.
6. pencemaran minyak mengakibatkan terjadinya kematian pohon-pohon mangrove akibat terlapisnyapneumatoforaoleh lapisan minyak.
7. penambangan dan ekstra mineral mengakibatkan terjadinya kerusakan total ekosistem hutan mangrove dilokasi penambangan dan ekstra mineral yang dapat mengakibatkan musnahnya daerah asuhan bagi larva dan bentuk-bentuk juvenile ikan dan udang yang komersil penting di lepas pantai, dan dengan demikian mengancam regenerasi ikan dan udang tersebut.
8. pengendapan sedimen yang berlebihan
mengakibatkan terlapisnya pneumatofora oleh sedimen yang pada akhirnya dapat mematikan pohon mangrove.
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut.
Ramli, (1998) “kajia ekosistem hutan mangrove di teluk lasongko kecamatan lakudo kabupate buton provinsi sulawesi tenggara”. Pelitian ii dilakuka untuk mengetahui ekosistem mangrove kaitannya dengan faktor keruangan, keligkungan, dan faktor manusia. Metode yang digunakan adalah metode survey.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah pantai dikawasan teluk lasongko memiliki satuan morfologi rataan lumpur (mudflat) sebagai lahan pertumbuhan mangrove dengan substrat berupa batuan cadar dan tekstur tanah tertentu, sehingga pertumbuhan dan perkembangan hutan mangrove relatif agak lambat. Pada kawasan teluk lasongko terdapat 11 jenis vegetasi penyusun hutan mangrove yang terdiri dari Avicennia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Calbera manghas, Excoecaria agallocha, R.
Apiculata, R. Mucronata, Sonneratia alba, Sonneratia caceolaris, dan Xylocarpus.
Jenis Rhizophora mucronata memiliki index nilai penting yang terbesar, sehingga jenis ini merupakan komunitas utama hutan mangrove di kawasan teluk lasongko. Berkuragnya areal lahan hutan mangrove disebabkan oleh pengalihan fungsi laha hutan mangrove menjadi lahan permukiman dan lahan pertambakan, sedangkan kerusakan jenis vegetasi penyusun hutan mangrove umunya disebabkan oleh penebangan liar oleh warga masyarakat disekitarnya.
Wa Alimuna, (2009) “pengaruh aktivitas masyarakat terhadap kerusakan hutan mangrove di kecamatan rarowatu utara kabupaten bombana provinsi sulawesi tenggara”. Penelitian ini bertujua untuk: 1) megkaji tingkat kerusakan hutan mangrove; 2) mengkaji aktivitas masyarakat yang mempengaruhi kerusakan hutan mangrove; 3) mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas masyarakat terhadap kerusakan hutan mangrove; 4) mengkaji peran serta
masyarakat dalam mengelola hutan mangrove. Metode penelitian yang digunakan dalm penelitian ini yaitu metode survey melalui wawancara degan menggunakan kusioer.
Hasil penelitian Wa Alimuna meunjukan bahwa: 1) kerusakan hutan mangrove di desa watumentade dan desa tunas baru terdapat pada kelas kerusakan rendah dengan intensitas perubahan 23,87%. Kerusakan yang terjadi akibat dari adanya kegiata perubahan peggunaaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat, 2) aktivitas masyarakat yang mempengaruhi terjadinya kerusakan hutan mangrove di desa watumentadedan desa tunas baru adalah kegiatan pertambakan dan penebangan liar yang digunakan sebagai kayu bakar, bahan bangunan, dan dikirim keluar daerah. 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya aktivitas masyarakat yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove adalah faktor pendidikan formal, pengetahuan masyarakat tentang hutan mangrove dan tingkat pendapatan masyarakat yang masih rendah dengan pembukaan areal tambak yang lebih besar.
4) Peran serta masyarakat di desa watumentade dan tunas baru dalam pengelolaan hutan mangrove termasuk dalam kategori sedang, hal ini berarti bahwa masyarakat pada daerah penelitian mempunyai keinginan dan kemauan untuk turut serta dalam melestarikan keberadaaan hutan mangrove yang dibuktikan dari adanya upaya masyarakat dalam mencegah terjadi arus ombak yang besar dengan membangun bronjong batu;
kegiatan penyuluhan tidak pernah dilakukan di daerah penelitian sehingga peran serta dalam kegiatan penyuluha tidak ada.
Herlan. H, (2013) “Kajian Valuasi Ekonomi Dari Pemanfaatan Langsung Kawasan Hutan Mangrove Oleh Masyarakat Di Kelurahan Lakologou, Liabuku, Dan Lowu-Lowu, Kota Bau-Bau.
penelitian ini bertujuan: 1) menganalisis kondisi hutan mangrove Di Kelurahan
Lakologou, Liabuku, dan Lowu-Lowu, Kota Baubau, 2) mengetahui pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat di Kelurahan Lakologou, Liabuku, Dan Lowu-Lowu, Kota Baubau, 3) menilai valuasi ekonomi manfaat langsung dari hutan mangrove oleh masyarakat di Kelurahan Lakologou, Liabuku, Dan Lowu-Lowu, Kota Baubau. Penelitian ini merupakan peelitian deskritif dan pengambilan contoh dilapangan seperti pengamatan vegetasi mangrove, pencarian data, dan kusioner dengan masyarakat di sekitar hutan magrove serta pemilik tambak di Kelurahan Lakologou, Liabuku, dan Lowu-Lowu, Kota Baubau. hasil pengukuran di lapangan yang terdapat di kelurahan Lakologou, Liabuku, dan Lowu- Lowu dengan luas 107,71 ha, menunjukan data dari luasan mangrove di ketiga kelurahan tersebut diperoleh susunan hutan mangrove yang terdiri atas enem jenis tumbuhan mangrove, yaitu Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Ceriops tagal, Sonneratia alba, S. Caesiolaris, dan Nypa fruticans. Secara umum berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa kondisi
hutan mangrove diketiga kelurahan dalam kondisi kurang baik saat ini. Nilai manfaat langsung ekosistem mangrove di kelurahan Lakologou, Liabuku, Dan Lowu-Lowu pada saat ini untuk pemanfaatan langsung yang tertinggi yaitu penangkapan ikan, selajutnya budidaya, pengambilan kayu bakar, kepiting, dan yang terendah pengambilan daun nipa untuk pembuatan atap.
METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian ini adalah di area pesisir pantai Kelurahan Lowu-Lowu Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan bahwa pesisir pantai di Kelurahan Lowu-Lowu merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki keanekaragaman hutan mangrove yang sangat tinggi.
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Alat dan Bahan Yang Digunakan Untuk Penelitian
No. Alat dan Bahan Kegunaan
1. Alat
Tali Rafia Untuk mengukur arus laut dan membuat plot
Meteran baju Untuk mengukur lingkar batang pohon
Kompas Untuk melihat arah angin
Kamera Untuk memotret kondisi sebenarnya di
lapangan
meteran Rol Untuk mengukur jarak
2. Bahan
Angket Untuk mengetahui aktivitas masyarakat
Peta administrasi Untuk memetakan lokasi penelitian Buku dan Alat tulis Untuk mencatat data observasi lapangan
Analisis ini dilakukan dengan mengukur menggunakan line transek dengan cara membuat garis tegak lurus
atau persegi dengan garis pantai yang masing-masing transek akan dibuat plot atau petak. Ukuran plot dan sub plot yang
digunakan untuk setiap klasifikasi tumbuhan adalaah 2 x 2 meter untuk semai, tumbuhan bawah 5 x 5 meter untuk pancangan, dan 20 x 20 meter untuk pohon. kemudian data tersebut dihitung Nilai Penting yang merupakan penjumlahan dari Kerapatan Jenis (KJ), Kerapatan Relative (KR), Frekuensi (F), Frekuensi Relative (FR), Dominansi, dan DominansiRelativedengan
menggunakanrumus yang dikemukakan oleh Kusmana (1997) sebagai berikut:
(K)
(KR)
100%
(F)
(FR) 100%
(D)
(DR) 100%
(NP) = KR + FR + DR Keterangan:
K = kerapatan
KR = kerapatan relatif F = frekuensi
FR = frekuensi relatif D = dominansi
DR = dominansi relatif NP = nilai penting
Data tentang sosial budaya diperoleh melalui melakukan wawancara langsung dengan menggunakan masyarakat yang memanfaatkan potensi dari ekosistem hutan mangrove. Jumlah populasi responden sebanyak 50 orang. Penentuan jumlah responden mengacu pada metode purposive sampling yang populasinya diambil dari masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Penentuan sampel dengan cara purposive sampling diharapkan dapat mewakili semua lapisan populasi penduduk yang terdapat di Kelurahan Lowu-Lowu. Responden adalah orang-orang yang dipilih oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki sampel tersebut.
Lokasi penelitian secara astronomis terletak diantara 5°33' – 5º34' Lintang
selatan dan 122˚67' - 122˚69' Bujur Timur.
Sedangkan secara administrasi Kelurahan Lowu-Lowu berada di Kecamatan Lea- Lea, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara dengan Luas wilayah 459 ha/m2 yang terdiri dari 4 lingkungan dan batas-batas wilayah sebagai berikut berdasarkan pada peta, sebelah Utara Kel. Kalia-lia, sebelah Timur Kel. Kantalai, sebelah Selatan Selat Buton, Pulau Makasar, dan sebelah Barat Kel. Kolese (Monografi Kelurahan Lowu- Lowu).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Kondisi hutan mangrove sampai saat ini sedang mengalami tekanan yang berat akibat dari adanya pemanfaatan dan pengelolaan yang kurang memperhatikan aspek kelestariannya. Tuntutan dari
pembangunan ekonomi yang
mengutamakan pembangunan infrastruktur fisik seperti konversi hutan mangrove untuk pengembangan kota, pantai, pelabuhan, pemukiman baru, perluasan tambak, dan lahan pertanian yang telah membuktikan bahwa terjadi penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga melampaui daya dukungnya yang menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem mangrove dan degradasi wilayah pesisir, pantai, dan pulau-pulau kecil (Nugroho, 2004).
Kondisi hutan mangrove pada lokasi penelitian telah mengalami kerusakan sebagai akibat dari adanya aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan dengan hanya memperhatikan dari segi ekonomi tanpa memperhatikan dari segi fungsi ekologi sehingga hutan mangrove tersebut menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang fungsi dan kegunaan dari hutan mangrove serta kurangnya perhatian pemerintah mengenai keterdapatan hutan mangrove. Faktor utama yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove adalah adanya kegiatan
penebangan vegetasi mangrove serta digunakan sebagai kayu bakar dan bahan bangunan seperti rumah dan jembatan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan mangrove. Selain aktivitas penebangan yang digunakan untuk kayu bakar dan bahan bangunan juga dilakukan kegiatan pembukaan lahan tambak dari bekas penebangan yang telah dilakukan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kelurahan Lowu-Lowu terdapat 2 jenis vegetasi mangrove.
Adapun jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian adalah Soneratia alba dan Rhizophora mucronata. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut.
Untuk mengetahui kondisi vegetasi mangrove yang ada di Kelurahan Lowu-
Lowu selanjutnya dilakukan penilaian terhadap vegetasi mangrove tersebut.
Kerapatan
Untuk mengetahui kerapatan jenis vegetasi mangrove yang ada pada masing- masing plot dalam jalur ukur pada lokasi penelitian maka dilakukan penilaian dengan membagi jumlah individu suatu individu spesies dengan luas area cuplikan. Hasil analisis data yang ada pada lapangan seperti tingkat semai, sapihan dan pohon yaitu sebagai berikut :
Tingkat semai
Hasil analisis mengenai kerapatan jenis vegetasi mangrove pada tingkat semai di Kelurahan Lowu-Lowu disajikan pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Jenis Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Semai Di Kelurahan Lowu-Lowu No. Nama jenis Jumlah
individu
Jumlah plot
Luas Plot (Ha)
Kerapatan (Individu/Ha) 1. Rhizophora
mucronata 14 8 0.0032 4375
2. Soneratia alba 5 8 0.0032 1562.5
Jumlah 19 5937.5
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa kerapatan jenis vegetasi mangrove untuk tingkat semai di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 1562.5 - 4375 individu/ha, spesies yang memiliki nilai kerapatan jenis terkecil adalah Sonneratia alba dengan nilai kerapatan jenis 1562.5 individu/ha dan spesies yang memiliki nilai kerapatan jenis tertinggi adalah Rhizophora
mucronatadengan nilaikerapatan jenis adalah 4375 individu/ha.
Tingkat Sapihan
Hasil analisis mengenai kerapatan jenis vegetasi mangrove pada tingkat sapihan yang terdapat di Kelurahan Lowu- Lowu dapat disajikan pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Kerapatan Jenis Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Sapihan Di Kelurahan Lowu- Lowu
No. Nama jenis Jumlah
individu
Jumlah plot
Luas Plot (Ha)
Kerapatan (Individu/Ha)
1. Rhizophoramucronata 100 8 0.02 5.000
2. Soneratia alba 13 8 0.02 650
Jumlah 113 5.650
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan
bahwakerapatan jenis vegetasi mangrove untuk tingkat sapihan yang ada pada
Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 650– 5.000 individu/ha, spesies yang memiliki nilai kerapatan jenis terkecil adalah Sonneratia alba dengan nilai kerapatan jenis 650individu/ha, dan spesies yang memiliki nilai kerapatan jenis tertinggi adalah Rhizophora mucronata
dengan nilai kerapatan jenis adalah 5.000 individu/ha.
Tingkat Pohon
Hasil analisis mengenai kerapatan jenis vegetasi mangrove pada tingkat pohon yang ada di Kelurahan Lowu-Lowu dapat disajikan pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Kerapatan Jenis Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Pohon Di Kelurahan Lowu- Lowu
No. Nama jenis Jumlah
individu
Jumlah plot
Luas Plot (Ha)
Kerapatan (Individu/Ha)
1. Rhizophoramucronata 11 8 0.32 34.375
2. Soneratia alba 80 8 0.32 250
Jumlah 91 284.375
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5 tersebut dapat dijelaskan bahwa kerapatan jenis vegetasi mangrove untuk tingkat pohon yang ada di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 34.375- 250 individu/ha, spesies yang memiliki nilai kerapatan jenis terkecil adalah Rhizophora mucronata dengan nilai kerapatan jenis 34.375 individu/ha, dan spesies yang memiliki nilai kerapatan jenis tertinggi adalah Soneratia albadengan nilai kerapatan jenis adalah 250 individu/ha.
Untuk mengetahui kerapatan relatif (KR) yang ada pada masing-masing plot di sekitar lokasi penelitian yaitu dilakukan penilaian dengan membagi kerapatan suatu spesies dengan kerapatan semua spesies dan dikalikan 100%. Hasil analisis data lapangan pada tingkat semai, sapihan, dan pohon adalah sebagai berikut :
Tingkat Semai
Hasil analisis mengenai kerapatan relatif vegetasi mangrove pada tingkat semai di Kelurahan Lowu-Lowu yang disajikan pada tabel 6 berikut.
Tabel 6. Kerapatan Relatif Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Semai Di Kelurahan Lowu- Lowu
No. Nama jenis Jumlah
individu
Luas Plot (ha)
Kerapatan
(Individu/Ha) KR (%)
1. Rhizophora mucronata 14 0.0032 4375 73.7
2. Soneratia alba 5 0.0032 1562.5 26.3
Jumlah 19 5937.5 100.0
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan tentang kerapatan relatif jenis vegetasi mangrove untuk tingkat semai yang ada di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 26,3%- 73,7%, spesies yang memiliki nilai kerapatan relatif terkecil adalah Sonneratia alba dengan nilai kerapatan relatif adalah 26,3%, dan spesies yang
memiliki nilai kerapatan relatif tertinggi adalah jenis Rhizophora mucronata dengan nilai kerapatan relatif adalah 73,7%.
Tingkat Sapihan
Hasil analisis mengenai kerapatan relatif vegetasi mangrove pada tingkat sapihan yang ada di Kelurahan Lowu- Lowu disajikan pada tabel 7 berikut.
Tabel 7. Kerapatan Relatif Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Sapihan Yang Ada Di Kelurahan Lowu-Lowu
No. Nama jenis Jumlah
individu
Luas Plot (ha)
Kerapatan
(Individu/Ha) KR (%) 1. Rhizophora mucronata 100 0.02 5.000 88.5
2. Soneratia alba 13 0.02 650 11.5
Jumlah 113 5.650 100.0
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4.8 tersebut dapat dijelaskan bahwa kerapatan relatif jenis vegetasi mangrove pada tingkat sapihan di Kelurahan Lowu- Lowu berkisar antara 11.5%- 88.5%, spesies yang memiliki nilai kerapatan relatif terkecil adalah Sonneratia alba dengan nilai kerapatan relatif adalah 11.5%, dan spesies yang memiliki nilai
kerapatan relatif tertinggi adalah jenis Rhizophora mucronata dengan nilai kerapatan relatif adalah 88.5%.
Tingkat Pohon
Hasil analisis mengenai kerapatan relatif vegetasi mangrove pada tingkat pohon di Kelurahan Lowu-Lowu dapat disajikan pada tabel 8 berikut.
Tabel 8. Kerapatan Relatif Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Pohon Di Kelurahan Lowu- Lowu
No. Nama jenis Jumlah
individu
Luas Plot (ha)
Kerapatan
(Individu/Ha) KR (%)
1. Rhizophora mucronata 11 0.32 34.375 12.1
2. Soneratia alba 80 0.32 250 87.9
Jumlah 91 284.375 100.0
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa Kerapatan relatif jenis vegetasi mangrove pada tingkat pohon di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 12.1% - 87.9%, spesies yang memiliki nilai kerapatan relatif terkecil adalah Rhizophora mucronata dengan nilai kerapatan relatif adalah 12.1%, dan spesies yang memiliki nilai kerapatan relatif tertinggi adalah jenis Soneratia alba dengan nilai kerapatan relatif adalah 87.9%.
Frekuensi
Untuk mengetahui nilai frekuensi jenis vegetasi mangrove yang ada pada masing-masing tingkat maka dilakukan penilaian, yaitu dengan membagi jumlah
plot dimana suatu spesies muncul dengan jumlah total plot pada setiap lokasi.Untuk mengetahui nilai frekuensi relatif vegetasi mangrove pada masing-masing tingkat, maka dilakukan penilaian yaitu dengan membagi frekuensi suatu jenis dengan frekuensi seluruh jenis vegetasi mangrove yang di kalikan dengan 100%. Hasil analisis data lapangan untuk tingkat semai, sapihan, dan pohon adalah sebagai berikut:
Tingkat Semai
Hasil analisis mengenai frekuensi jenis dan frekuensi relatif vegetasi mangrove pada tingkat semai di Kelurahan Lowu-Lowu disajikan pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9. Frekuensi Jenis Dan Frekuensi Relatif Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Semai Di Kelurahan Lowu-Lowu
No. Nama jenis Jumlah petak berisi
jumlah plot
Frekuensi
suatu jenis FR (%)
1. Rhizophora mucronata 1 8 0.125 33.3
2. Soneratia alba 2 8 0.25 66.7
Jumlah 0.375 100.0
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa frekuensi relatif jenis vegetasi mangrove untuk tingkat semai di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 33,3%- 66,7%, spesies yang memiliki nilai frekuensi relatif tertinggi adalah Soneratia alba dengan nilai frekuensi reatif jenis 66,7%, sedangkan spesies dengan nilai frekuensi
relatif terendah adalah Rhizophora mucronata dengan nilai frekuensi relatif jenis adalah 33,3%.
Tingkat Sapihan
Hasil analisis mengenai frekuensi jenis dan frekuensi relatif vegetasi mangrove pada tingkat sapihan di Kelurahan Lowu-Lowu disajikan pada Tabel 10 berikut.
Tabel 10. Frekuensi Jenis Dan Frekuensi Relatif Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Sapihan Di Kelurahan Lowu-Lowu
No. Nama jenis Jumlah
petak berisi
jumlah plot
Frekuensi
suatu jenis FR (%)
1. Rhizophora mucronata 6 8 0.75 66.7
2. Soneratia alba 3 8 0.375 33.3
Jumlah 1.125 100.0
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa frekuensi jenis vegetasi mangrove untuk tingkat sapihan di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 33.3%- 66.7%, spesies yang memiliki nilai frekuensi relatif tertinggi adalah Rhizophora mucronata dengan nilai frekuensi reatif jenis 66.7%, sedangkan spesies dengan nilai frekuensi relatif terendah adalah Sonneratia alba
dengan nilai frekuensi relatif jenis adalah 33.3%.
Tingkat Pohon
Hasil analisis mengenai frekuensi jenis dan frekuensi relatif vegetasi mangrove pada tingkat semai di Kelurahan Lowu-Lowu dapat disajikan pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. Hasil Analisis Mengenai Frekuensi Jenis Dan Frekuensi Relatif Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Semai Di Kelurahan Lowu-Lowu
No. Nama jenis Jumlah
petak berisi
jumlah plot
Frekuensi suatu
jenis FR(%)
1. Rhizophora mucronata 4 8 0,5 33.3
2. Soneratia alba 8 8 1 66.7
Jumlah 1.5 100.0
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa frekuensi relatif vegetasi mangrove untuk tingkat pohon di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 33.3%- 66.7%, spesies yang memiliki nilai frekuensi relatif tertinggi adalah Sonneratia alba dengan nilai frekuensi reatifjenis 66.7%, sedangkan spesies dengan nilai frekuensi relatif terendah adalah Rhizophora mucronata dengan nilai frekuensi relatif jenis adalah 33.3%.
Dominansi
Untuk mengetahui nilai dominansi vegetasi mangrove pada masing-masing tingkat dilakukan penilaian, yaitu dengan membagi total basal area suatu spesies dengan luas daerah cuplikan. Luas bidang area (LBA) setiap individu kemudian dijumlahkan per species sehingga menjadi LBA species. Selanjutnya jumlah LBA dibagi dengan jumlah luas plot.
Hasil analisis mengenai Dominansi jenis vegetasi mangrove pada tingkat pohon di Kelurahan Lowu-Lowu dapat disajikan pada Tabel 12 berikut.
Tabel 12. Dominansi Jenis Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Pohon Di Kelurahan Lowu- Lowu
No. Nama jenis d rata-
rata d2
4
BA (m2)
Luas plot (ha)
Dominansi (m2/ha) 1. Rhizophora
mucronata 0.143 0.0205 0.005 0.016 0.32 0.05 2. Soneratia alba 0.23 0.0529 0.132 0.415 0.32 1.30
Jumlah 1.35
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa nilai dominansi vegetasi mangrove pada tingkat pohon di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 0.05 – 1.30 m2/ha, spesies yang memiliki nilai dominansi terkecil adalah jenis Rhizophora mucronata dengan nilai dominansi 0.05 m2/ha, dan spesies yang memiliki nilai dominansi terbesar adalah
jenis Soneratia alba dengan nilai dominansi spesies 1.30 m2/ha.
Untuk mengetahui nilai dominansi relatif vegetasi mangrove pada masing- masing tingkat maka dilakukannya penilaian yaitu dengan membagi nilai dominansi suatu spesies dengan total dominansi seluruh jenis di kali 100%.
Hasilanalisis data lapangan adalah seperti pada Tabel 13 di bawah ini.
No. Nama jenis Dominansi Dominansi relatif
1. Rhizophora mucronata 0.05 3.7%
2. Soneratia alba 1.30 96.3%
Jumlah 1.35 100.0%
Berdasarkan hasil analisis Tabel 13 tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa nilai dominansi relatif vegetasi mangrove pada tingkat pohon di Kelurahan Lowu- Lowu berkisar antara 3.7% – 96.3%, spesies yang memiliki nilai dominansi relatif terkecil adalah jenis Rhizophora mucronata dengan nilai dominansi relatif
3.7%, dan spesies yang memiliki nilai dominansi relatif terbesar adalah jenis Soneratia alba dengan nilai dominansi relatif spesies 96.3%.
Indeks Nilai Penting
Untuk mengetahui nilai penting vegetasi mangrove yang ada di masing- masing lokasi maka dilakukan penilaian
yaitu dengan menjumlahkan nilai kerapatan relatif, nilai frekuensi relatif dan nilai dominansi relatif spesies. Indeks nilai penting vegetasi mangrove pada tingkat semai, sapihan, dan pohon adalah sebagai berikut.
Tingkat Semai
Nilai penting vegetasi mangrove untuk tingkat semai pada Kelurahan Lowu-Lowu dapat disajikan pada Tabel 14 berikut.
Tabel 14. Nilai Penting Vegetasi Mangrove Untuk Tingkat Semai Pada Kelurahan Lowu-Lowu
No. Nama jenis Kerapatan
relatif Frekuensi relatif nilai penting
1. Rhizophoramucronata 73.7% 33.3% 107.0%
2. Soneratia alba 26.3% 66.7% 93.0%
Jumlah 100% 100% 200%
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 14 dapat dijelaskan bahwa indeks nilai penting vegetasi mangrove pada tingkat semai di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 93.0% - 107.0%, spesies yang memiliki indeks nilai penting terkecil adalah Sonneratia alba dengan indeks nilai penting yaitu 93.0%, dan spesies yang memiliki indeks nilai penting
terbesar adalah Rhizophora mucronata dengan indeks nilai penting yaitu 107.0%.
Tingkat Sapihan
Indeks nilai penting vegetasi mangrove pada tingkat sapihan di Kelurahan Lowu-Lowu dapat disajikan pada Tabel 15 berikut.
Tabel 15. Indeks nilai penting vegetasi mangrove pada tingkat sapihan di Kelurahan Lowu-Lowu
No. Nama jenis KR FR DR INP
1. Rhizophora mucronata 88.5% 66.7% - 155.2%
2. Soneratia alba 11.5% 33.3% - 44.8%
Jumlah 100% 100% - 200.0%
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa indeks nilai penting tingkat sapihan vegetasi mangrove di kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 44.8% - 155.2%, spesies yang memiliki indeks nilai penting terkecil adalah Sonneratia alba dengan indeks nilai penting 44.8%, dan spesies yang
memiliki indeks nilai penting terbesar adalah Rhizophora mucronata dengan indeks nilai penting 155.2%.
Tingkat Pohon
Indeks Nilai Penting vegetasi mangrove pada tingkat pohon di Kelurahan Lowu-Lowu dapat disajikan pada Tabel 16 berikut.
Tabel 16. Nilai Penting Vegetasi Mangrove Pada Tingkat Pohon Di Kelurahan Lowu- Lowu
No. Nama jenis KR FR DR INP
1. Rhizophora mucronata 12.1% 33.3% 3.7% 49.1%
2. Soneratia alba 87.9% 66.7% 96.3% 250.9%
Jumlah 100% 100% 100% 300.0%
Berdasarkan hasil analisis pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa indeks nilai penting tingkat pohon untuk tingkat pohon di Kelurahan Lowu-Lowu berkisar antara 49.1% – 250.9%, spesies yang memiliki indeks nilai penting terkecil adalah jenis Rhizophora mucronata dengan indeks nilai penting yaitu 49.1%, dan spesies yang memiliki indeks nilai penting terbesar adalah jenis Soneratia alba dengan indeks nilai penting yaitu 250.9%.
Indeks nilai penting memberikan suatu gambaran mengenai tentang pengaruh atau peranan untuk suatu jenis tumbuhan mangrove dalam komunitas mangrove (Bengen, 2002).
Berdasarkan pada hasil analisis data pada indeks nilai penting yang dilakukan pada tingkat semai, sapihan, dan pohon dapat juga diketahui bahwa jenisvegetasi mangrove yang dominan di Kelurahan Lowu-Lowu adalah jenis Soneratia alba.
Jenis vegetasi magrove ini merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai, serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering, serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Jenis toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. Jenis ini tumbuh pada tepi daratan dari mangrove, sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau.
Kerusakan hutan mangrove
Kerusakan hutan mangrove masih terus terjadi di berbagai kawasan yang ada di Indonesia yang tidak terlepas juga di wilayah penelitian. Kegiatan masyarakat yang dilakukan di daerah penelitian pada kawasan hutan mangrove berakibat pada kerusakan utamanya dalam penggunaan atau pemanfaatan sumberdaya yang terdapat di dalam kawasan hutan mangrove.
Beberapa isu krusial terkait dengan lingkungan adalah masih banyak rumah kumuh yang membelakangi pantai sebagian masyarakat tidak memiliki pembuangan limbah rumah tangga yang layak sehingga laut dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir limbah. Selain itu, erosi air pada saat musim penghujan merusak jalan dan belum adanya tempat pembuangan akhir (TPA) sampah sehingga masyarakat membakar atau membuang sampah disembarang tempat.
Tak kalah seriusnya adalah persoalan rusaknya ekosistem mangrove sehingga menyebabkan keterbukaan bagi arus air laut yang naik hingga ke halaman rumah warga sehingga menyebabkan pendangkalan didaratan/drop Kota Baubau (2009).
Sisa penebangan yang telah dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dapat dilihat pada gambar 1 berikut.
Gambar 1. Hutan Mangrove yang sebelumnya dijadikan area tambak oleh Masyarakat
PEMBAHASAN
Pengetahuan masyarakat Kelurahan Lowu-Lowu tentang hutan mangrove masuk dalam kategori kurang baik, terutama dalam hak kepemilikan ekosistem hutan mangrove. Sebagian dari mereka masih menganggap bahwa hutan mangrove itu masih milik masyarakat sekitar,padahal sudah jelas terpampang papan pengumumandan papan peringatan.
Selain itu, kondisi hutan mangrove di sekitar tempat tinggal kita sudah mulai rusak dan jumlah pohonnya sudah berkurang dengan adanya kegiatan pembangunan serta dijadikan tempat pembuangan sampah.
Pemahaman masyarakat Kelurahan Lowu-Lowu tentang manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove masuk dalam kategori cukup baik. Masyarakat Kelurahan Lowu-Lowu sudah memahami manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove sangat berguna bagi kehidupan selain itu dapat menjaga garis pantai serta tempat pengembangbiakan hewan-hewan air. Tetapi masih ada masyarakat yang menganggap dan memanfaatkan hasil hutan sebagai tempat untuk mengambil kayu dan daun yang digunakan untuk kayu bakar, dan bahan bangunan.
kerusakan ekosistem hutan mangrove masuk dalam kategori kurang baik. Penyebab rusaknya hutan mangrove diakibatkan dari penebangan pohon yang tidak terkontrol sehingga berkurangnya jumlah tegakan pohon mangrove. Kondisi yang adasekarang dengan dulu berbeda sekali.masyarakat menggantungkan hidupnya pada penghasilan perikanan di laut. Bila kerusakan ekosistem hutan mangrove sudah parah maka hasil penangkapan ikan juga akan berkurang dan bahkan sudah susah untuk dicari.
Aktivitas masyarakat yang berdampak pada ekosistem hutan mangrove menyebabkan vegetasi hutan mangrove berkurang. Sehingga untuk kelestariannya kurang terawat. Penanaman pohon untuk lahan yang kosong perlu
diadakan kembali karena mengingat akan fungsi dan manfaatnya untuk kehidupan masyarakat.
KESIMPULAN
Berdasarkan pada hasil pembahasan yang mengacu pada tujuan penelitian makadapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
Pertama, melalui perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) diketahui bahwa jenis vegetasi mangrove yang mendominasi dan memiliki peranan penting pada hutan mangrove di Kelurahan Lowu- Lowuadalah jenis Soneratia alba yaitu (tingkat semai (93.0%), tingkat sapihan (44.8%), dan tingkat pohon(250.9%).
Kedua, aktivitas masyarakat yang mempengaruhi terjadinya kerusakan hutan mangrove di Kelurahan Lowu-Lowu adalah kegiatan pertambakan, penebangan vegetasi yang tidak terkontrol yang digunakan sebagai kayu bakar, dan bahan bangunan. Selain itu faktor pengetahuan yaitu masyarakat pada daerah penelitian masih kurang mengetahui apakah hutan mangrove masih dalam keadaan baik atau telah rusak, sehingga masih kurang kesadaran masyarakat untuk melakukan kegiatan rehabilitasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar dkk. 1984. “Ekologi Ekosistem Sumatera”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Arief, A. 2003. Hutan Mangrove: Fungsi dan Manfaatnya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta..
Dahuri, R. Rais, J. S.P, Ginting dan M.J.
Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya wilayah Pesisir Secara Terpadu. Pradya Paramita.
Jakarta.
Fitriadi, 2004, “Peran Pemerintah dan Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove di Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas Kalimantan Barat”, Tesis Program Pascasarjana Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta (tidak dipublikasikan),Yogyakarta.
Hidayat, H., 2013. Kajian Valuasi Ekonomi dari Pemanfaatan Langsung Kawasan Mangrove Oleh Masyarakat di Kelurahan Lakologou, Liabuku, dan Lowu- Lowu, Kota Baubau. Tesis Pascasarjana. Jurusan Antarbidang. Universitas Gadjah Mada. Yogyakara.
Kota Bau-bau 2009. Data Potensi Desa/Kelurahan 2009. Diakses pada tanggal 31 Mei 2016 dalam bentuk pdf.
Kusmana, C., 1997. Metode Survey Vegetasi. PT. Penerbit IPB, Bogor.
Macnae, W. 1968. A General Account of the Fauna and Flora Mangrove swamps and forests in the Indo West Pacific Region. Adv. Mar.
boil.
Martopo, S. 1993. Keterkaitan Hutan dan Lingkungan. UGM. Yogyakarta.
Mastaller, M. 1997. Mangrove: The Forgotten Forest Between Land And Sea. Kuala Lumpur, Malaysia.
Nugroho, Iwan., dan Dahuri, Rokhmin.
2004. Pembangunan Wilayah:
Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. LP3ES. Jakarta Ramli. 1998. Kajian Ekosistem Di Teluk
Lasongko Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara. Tesis Pascasarjana. Fakultas Geografi.
Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Saenger, P., E. J. Hegerl and J.D.S. Davie (eds). 1983. Global Status of Mangrove Ecosystem. IUCN- UNEP & WWF.
Sidik, Frida dkk. 2004. Penanganan Abrasi, Erosi dan Tsunami dengan Optimasi Vegetasi. Pusat Riset Kelautan dan Perikanan, DKP.
Jakarta.
Snedaker, S.C.1978 Mangrove Their Values and Perpetuation.
Nat.Res.14 : 613.
Supriharyono.,2006. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayaha Pesisir Dan Laut Tropis. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Suyanto, Y. 1995. Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove. Duta Rimba.
Tomlinson, P.B. 1986. The Botany Of Mangroves. Cambridge University Press. Cambridge, U.K.
Waalimuna, 2009. Pengaruh Aktivitas Masyarakat Terhadap Kerusakan Hutan Mangrove Di Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Wightman, G.M. 1989. Mangroves Of The Northern Territory. Northern Territory Botanical Bulletin No 7.
Conservation Commission Of The Northern Territory, Palmerston, N.T., Australia.