6 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Propionibacterium acnes
P. acnes adalah bakteri gram positif, bakteri pleomorfik berbentuk batang yang berada di berbagai organ manusia seperti konjungtiva, rongga mulut, saluran telinga eksterna, dan folikel pilosebasea dari kulit manusia (Perry & Lambert, 2011). P. acnes merupakan bakteri penghuni dominan yang berada di folikel sebasea dan bisa menyebabkan berbagai infeksi pada organ tubuh manusia serta berhubungan dengan terjadinya akne vulgaris (AV) (Dréno et al., 2018).
2.1.1. Klasifikasi Taksonomi
Kingdom : Bacteria Filum : Actinobacteria Kelas : Actinobacteridae Order : Actinomycetales Famili : Propionibacteriaceae Genus : Propionibacterium
Spesies : Propionibacterium acnes / Cutibacterium acnes (Dréno et al., 2018).
2.1.2. Habitat
Bakteri P. acnes dapat berada di berada di berbagai organ manusia seperti konjungtiva, rongga mulut, saluran telinga eksterna, dan terutama berada di folikel pilosebasea dari kulit manusia (Perry & Lambert, 2011).
2.1.3. Morfologi P. acnes
(Mak et al., 2013)
Gambar 2.1
P. acnes pada mikroskop elektron
Bakteri P. acnes merupakan bakteri golongan gram positif pleomorfik, berbentuk batang dan tidak memiliki kapsul. P. acnes termasuk bakteri non-motile, tidak membentuk spora, dan bersifat anaerobik fakultatif. Dinding sel P. acnes mengandung peptidoglikan dengan tipe yang berbeda dengan jenis bakteri gram positif lainnya yakni mengandung L-acid-L-diaminopelic dan D-alanine (Cavalcanti et al., 2011; Mak et al., 2013; Mayslich et al., 2021). Berikut merupakan struktur dari bakteri menurut (Al-mohanna, 2016):
1. Dinding Sel
Dinding sel memiliki fungsi utama yakni untuk mencegah sel untuk membesar yang nantinya dapat menyebabkan sel menjadi pecah karena masuknya air. Dinding sel ini juga berperan penting dalam pertumbuhan dan pembelahan sel.
2. Membran Plasma
Membran plasma berada tepat dibawah dinding sel.
Membran plasma ini berupa lapisan tipis yang memisahkan bagian dalam dari dinding sel dengan sitoplasma. Membran plasma dapat ditemukan baik pada bakteri gram negatif maupun bakteri gram positif.
3. Sitoplasma
Sitoplasma merupakan sistem koloid yang mengandung berbagai senyawa organik dan anorganik yang terdiri dari 80 % air dan 20 % protein.
4. Mesosom
Mesosom berbentuk lipatan yang terbentuk dari invaginasi membran plasma. Pada bakteri mesosom berfungsi untuk membantu reproduksi sel serta sebagai situs utama enzim pernafasan.
5. Nukleus
Nukleus atau inti sel pada bakteri tidak memiliki membran inti. Materi genetiknya terdiri dari DNA. Sitoplasma yang membawa materi genetik disebut sebagai plasmid atau episom.
2.1.4. Manifestasi Klinis
P. acnes dapat menyebabkan berbagai infeksi mulai dari infeksi pada cerebrospinal fluid shunt, infeksi gigi, endokarditis, infeksi CNS dan neurosurgical, infeksi mata, postoperative discitis, spondylodiscitis dan infeksi spinal, serta infeksi yang berhubungan dengan prosthetic joints dan
orthopedic device. Selain itu P. acnes juga berhubungan dengan akne vulgaris. P acnes telah terbukti menginduksi pelepasan sitokin proinflamasi yang diduga terlibat dalam fase peradangan AV melalui kemampuannya untuk memulai respon peradangan pada folikel pilosebasea (Perry &
Lambert, 2011).
AV dapat menyebabkan keluhan berupa rasa gatal, sakit, perih, rasa tidak nyaman, dan nyeri pada lesi. Bukan hanya itu, baik lesi maupun gejala sisa AV bisa berdampak secara signifikan pada emosi, kegiatan sehari-hari dan sosial, studi dan pekerjaan, serta hubungan interpersonal. Pada penelitian juga menunjukkan bahwa AV dan gejala sisanya berhubungan dengan kepercayaan diri dari pasien. Pasien merasa terganggu dengan penampilan kulit mereka sehingga menyebabkan kepercayaan diri yang menurun (Hazarika & Archana, 2016).
2.2. Akne vulgaris
AV merupakan peradangan kronik pada unit pilosebasea yang sebagian besar memengaruhi folikel kelenjar sebasea yang berada di area wajah, dada, bahu, dan punggung. Patogenesis dari AV terdiri dari beberapa faktor yakni hiperproliferasi dari epidermal folikular, produksi sebum, bakteri P. acnes, dan inflamasi (Goh et al., 2019).
2.2.1. Patogenesis
AV merupakan penyakit inflamasi yang kompleks dan berhubungan dengan berbagai faktor. Patogenesis dari AV sendiri paling tidak terdiri dari
empat faktor yakni hiperproliferasi dari folikular epidermal, produksi sebum, bakteri P. acnes, dan inflamasi yang semuanya saling berhubungan satu sama lain dan berada dibawah pengaruh hormon dan kekebalan tubuh (Goh et al., 2019).
a. Hiperproliferasi Folikular Epidermal
Hiperproliferasi dari folikular epidermal akan menyebabkan terbentuknya mikrokomedo. Semua bentuk lesi AV dimulai dari mikrokomedo dan kemudian akan berkembang menjadi lesi komedo, lesi inflamasi, dan bekas luka. Mikrokomedo terbentuk dari epitel folikel rambut atau infundibulum yang menjadi hiperkeratosis dengan meningkatnya kohesi dari keratinosit. Hal tersebut menyebabkan obstruksi dari ostium folikuler dimana keratin, sebum, dan bakteri menumpuk pada folikel dan menyebabkan dilatasi dari folikel rambut sehingga menimbulkan mikrokomedo (Goh et al., 2019).
Penyebab pasti yang menyebabkan hiperproliferasi dan meningkatkan adhesi dari keratinosit masih belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor yang memengaruhi proliferasi folikuler keratosit antara lain adalah stimulasi androgen, menurunnya kadar asam linoleat, meningkatnya aktivitas IL-1α, dan pengaruh dari P. acnes (Beylot et al., 2014).
Dihydrotestosterone (DHT) merupakan androgen poten yang berperan dalam pembentukan AV. DHT menstimulasi proliferasi folikuler
keratinosit. Proliferasi folikuler keratinosit diketahui diregulasi oleh asam linoleat yang merupakan asam lemak esensial pada kulit. Rendahnya kadar asam linoleat menginduksi hiperproliferasi folikuler keratinosit dan produksi sitokin inflamasi (Goh et al., 2019).
b. Produksi Sebum
Peningkatan produksi sebum berhubungan dengan terjadinya AV.
Komponen utama dari sebum yakni trigliserida memiliki peran penting dalam patogenesis. P. acnes memecah trigliserida menjadi asam lemak yang akan mendukung kolonisasi dan menginduksi inflamasi. Lipoperoksida yang terdapat pada sebum juga memicu sitokin proinflamatori dan mengaktivasi jalur peroxisome proliferator-activated receptors (PPAR) yang meningkatkan sekresi sebum (Beylot et al., 2014).
Mikrokomedo akan terus membesar dengan berisi keratin, sebum, dan bakteri. Pembesaran mikrokomedo ini akan membuat dinding folikel menjadi pecah dan menghasilkan respon inflamasi. Dalam 24 jam setelah komedo pecah sel limfosit merupakan sel predominan namun setelah satu sampai dua hari neutrofil menjadi sel predominan yang mengelilingi mikrokomedo yang pecah tersebut (Goh et al., 2019).
c. Bakteri P. acnes
P. acnes memiliki peran penting dalam patogenesis AV karena berperan dalam respon inflamasi dari host. Pada biopsi, P. acnes ditemukan pada 48% pasien yang mengalami AV (Jahns et al., 2012). Pada remaja
terjadi peningkatan signifikan P. acnes dan pada masa pubertas ini sering kali terbentuk AV. Pada remaja dengan AV, dapat terjadi peningkatan P.
acnes 100 kali lipat lebih banyak daripada remaja tanpa AV (Goh et al., 2019).
Diferensiasi sel sebosit dan sitokin proinflamasi serta respon sitokin bervariasi tergantung strain dari P. acnes predominan yang ada di folikel.
Beberapa jenis strain menginduksi respon imun yang berbeda. Terdapat berbagai mekanisme untuk P. acnes memicu proses inflamasi. Dinding sel dari bakteri ini mengandung antigen karbohidrat yang menstimulasi pembentukan antibodi. Pasien yang memiliki AV berat menunjukkan tingginya titer antibodi. Respon inflamasi akan meningkat karena adanya antibodi antipropionibacterium yang mengaktifkan komplemen dengan memulai serangkaian kaskade proinlamasi (Goh et al., 2019).
P. acnes membentuk sebuah biofilm. Biofilm merupakan agregat mikroba yang tertanam dalam matriks ekstraseluler yang melindungi sel dari kondisi lingkungan yang berbahaya. Biofilm pada P. acnes dapat menembus sebum dan bertindak sebagai perekat. Hal ini menyebabkan peningkatan kohesivitas korneosit dan terbentuknya mikrokomedo.
Ketersediaan sebum yang merupakan substrat nutrisi untuk bakteri P. acnes menyebabkan peningkatan proporsi bakteri yang aktif secara sehingga berkontribusi pada inflamasi dan biofilm P. acnes. Hal ini menjelaskan munculnya jerawat pada masa remaja berhubungan dengan peningkatan hormon dan produksi sebum (Platsidaki & Dessinioti, 2018).
P. acnes menunjukkan interaksi yang kompleks pada patogenesis AV. P. acnes berinteraksi dengan sistem kekebalan bawaan seperti Toll-like receptors (TLRs), antimicrobial peptides (AMPs), protease-activated receptors (PARs), dan matrix metalloproteinase (MMP). Selain itu P. acnes juga meningkatkan sekresi dari sitokin proinflamasi termasuk interleukin- 1a (IL-1a), IL-1β, IL-6, IL-8, IL-12, dan tumor necrosis factor-alpha (TNF- α) (Platsidaki & Dessinioti, 2018).
(Beylot et al., 2014)
Gambar 2.2
Berbagai target aktivitas P. acnes
TLR merupakan bagian dari sistem imun bawaan yang berfungsi dalam mendeteksi adanya invasi oleh patogen eksogen. Pada pasien dengan AV, TLR-2 dan TLR-4 diekspresikan secara berlebihan di lapisan superfisial dari epidermis. Penghambatan pada TLR-2 berkaitan dengan penurunan kemampuan dari mikroorganisme untuk merangsang keratinosit dan monosit oleh IL-8 dan IL-12 (Beylot et al., 2014).
AMP merupakan protein dengan berat molekul rendah yang memiliki aktivitas antimikroba kuat terhadap infeksi bakteri, virus, dan jamur. Apabila terdapat antigen dari bakteri dan sitokin inflamasi maka AMP akan disintesis oleh sel epitel. Pada AV, AMP akan terikat dengan proinflamasi yang disekresikan oleh bakteri kemudian menghambat sekresi sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-1(Beylot et al., 2014; Dréno, 2017).
PAR-2 pada keratinosit diaktifkan oleh P. acnes. Hal ini menyebabkan pengaktifan pada sitokin proinflamasi (IL-1 α, IL-8 dan TNF- α), human B-defensin 2 (hBD2), serta MMP (1, -2, -3 -9 dan -13). Terjadi
ekspresi berlebihan PAR-2 dan protease pada lesi AV yang dilihat secara in vivo (Beylot et al., 2014; Platsidaki & Dessinioti, 2018).
Dengan diaktifkannya TLR, PARs dan AMP, P. acnes meningkatkan sekresi berbagai sitokin proinflamasi (IL-1a, IL-1b, IL-6, IL- 8, IL-12, TNF-a atau faktor perangsang koloni makrofag granulosit) yang
dihasilkan oleh keratinosit, sel sebosit atau makrofag dan dengan kuat mengaktifkan inflammasome dari neutrofil (Beylot et al., 2014).
Sementara itu, dalam kondisi in vitro, P. acnes menginduksi ekspresi MMP-9 dalam keratinosit. Proliferasi P. acnes di lesi jerawat menginduksi terjadinya peningkatan sekresi MMP yang menyebabkan peningkatan pecahnya folikel dan peradangan pada dermis (Beylot et al., 2014; Platsidaki & Dessinioti, 2018).
Selain dengan karakteristik proinflamasinya, keratinosit dan sel sebosit juga menjadi target dari P. acnes. P. acnes memproduksi IL-1 dan mendorong sekresi IL-1 oleh keratinosit. Sementara itu Interleukin 1 (IL-1) mendorong pembentukan komedo sehingga P. acnes berpartisipasi dalam pembentukan komedo. Pada penelitian in vitro lainnya menunjukkan bahwa fraksi membran P. acnes yang diinkubasi dengan eksplan kulit secara signifikan menunjukkan peningkatan pada proliferasi keratinosit epidermis.
P. acnes juga meningkatkan filaggrin dan transglutaminase 1, 3 dan 5.
Kemampuan P. acnes dalam memodulasi keratinosit ini juga dimediasi oleh integrin (Beylot et al., 2014; Prasad, 2016).
Pada eksplan kulit epidermal yang sehat, P. acnes menginduksi ekspresi dari insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan reseptornya yakni IGF-1R. Hal ini menunjukkan bahwa P. acnes dapat menginduksi proliferasi keratinosit dan modulasi diferensiasinya (Beylot et al., 2014).
P. acnes juga memengaruhi kelenjar sebasea dengan meningkatkan produksi dari sebum. Melalui corticotropin-releasing hormone (CRH) dan CRH-receptor (CRH-R) P. acnes merangsang kelenjar sebasea dan sintesis sebum dengan meningkatkan aktivitas lipogenik dari sel sebosit.
Peningkatan ekspresi CRH dan CRH-R dapat diamati pada kelenjar sebasea pasien AV. Selain dari pengaruh CRH dan CRH-R, P. acnes juga merangsang produksi sebum melalui IGF dan IGF-R (Beylot et al., 2014;
Platsidaki & Dessinioti, 2018).
d. Inflamasi
Respon imun adaptif juga berperan dalam patogenesis AV. Terdapat peran CD4+ T sel pada lesi awal infiltrat inflamasi dan kedua Th1 dan Th17 juga menunjukkan respon baik in vitro dan in vivo pada lesi. Th1 dan Th17 dapat memicu aktivitas antimikroba untuk melawan bakteri, akan tetapi lisisnya bakteri dapat menyebabkan pelepasan komponen yang dapat mengaktifkan sistem imun bawaan sehingga terjadi proses inflamasi (Knutsen-Larson et al., 2012).
Selain berperan dalam aktivitas antibakteri karena memicu perekrutan netrofil, Th17 juga menyebabkan kerusakan jaringan. Reactive oxygen species (ROS) dan lisosomal yang dilepaskan oleh neutrofil akan berhubungan dengan keparahan lesi. Mekanisme dari bekas luka masih belum jelas. Meskipun pembentukan berhubungan dengan proses inflamasi,
tapi belum ada hubungan dari keparahan AV dengan pembentukan bekas luka pada AV ringan sampai sedang (Goh et al., 2019).
2.2.2. Gambaran Klinis
Gambaran klinis dari AV dibagi menjadi lesi non-inflamasi yang terdiri dari komedo terbuka (whiteheads) dan komedo tertutup (blackheads) serta lesi inflamasi yang terdiri dari papula, pustula, kista, dan nodul. AV biasanya mulai muncul pada awal pubertas karena terjadi peningkatan produksi sebum di wajah. Biasanya mulai muncul komedo kemudian diikuti oleh lesi inflamasi (Febyan & Wetarini, 2020; Williams et al., 2012)
(Moradi Tuchayi et al., 2015)
Gambar 2.3 Gambaran klinis AV
Derajat AV dapat dikelompokkan menjadi derajat ringan, sedang dan berat berdasarkan tipe dan jumlah lesinya. Berikut adalah tabel klasifikasi AV:
Tabel 2.1 Klasifikasi Derajat AV
(Moradi Tuchayi et al., 2015)
2.2.3. Pengobatan
Terdapat berbagai bentuk terapi untuk AV mulai dari agen topikal, terapi sistemik, isotretinoin, hingga berbagai prosedur seperti injeksi kortikosteroid intralesi, chemical peels, fototerapi, laser, microneedling, dan fillers. Mekanisme paling umum dalam mengobati AV berhubungan dengan patogenesisnya yakni memperbaiki pola keratinisasi folikel yang berubah, mengurangi produksi sebum dengan cara menurunkan aktivitas kelenjar
Derajat Tipe Komedo Papula dan/atau
pustula
Nodul Nodul, kista,
sinus tracks Ringan Acne
Komedonal dan akne papulopustular
Lesi utama adalah komedo (<20)
Berukuran kecil dan sedikit (<10)
Tidak ada
Tidak ada
Sedang Acne
papulopustular dan akne nodular
10-40 10-40 0-10 Tidak ada
Berat Acne
Nodulokistik dan akne konglobata
40-100 dan tergabung
>40 >10 banyak
sebasea, menurunkan populasi bakteri P. acnes, dan pemberian antiinflamasi. Terapi topikal yang biasa digunakan berupa retinoid, benzoyl peroxide, antibiotik topikal, salicylic acid, dan azelaic acid. Sedangkan untuk terapi sistemik dapat berupa antibiotik oral maupun terapi hormonal (Goh et al., 2019).
Antibiotik topikal yang sering diresepkan adalah eritromisin dan klindamisin. Antibiotik topikal tidak digunakan sebagai monoterapi melainkan digunakan dengan kombinasi obat lain contohnya seperti benzoyl peroxide atau tretinoin untuk mencegah terjadinya resistensi. Antibiotik berperan pada P. acnes dan mengurangi terjadinya inflamasi dengan cara menghambat sitokin proinflamasi (Febyan & Wetarini, 2020; Moradi Tuchayi et al., 2015).
Tabel 2.2 Pengobatan pada AV Tipe
Pengobatan
Derajat Ringan Derajat Sedang Derajat Berat First-line
Treatment
- Retinoid topikal;
atau - benzoyl
peroxide; atau - Terapi topikal
kombinasi
- Terapi topikal kombinasi; atau - Antibiotik oral,
Retinoid topikal, dan benzoyl peroxide; atau - Antibiotik oral,
Retinoid topikal, dan benzoyl peroxide, dan antibiotik topikal
- Antibiotik oral dan terapi topikal
kombinasi; atau - Isotretinoin oral
Alternative Medication
- Tambahkan retinoid topikal atau benzoyl peroxide; atau - Pertimbangkan
alternatif retinoid; atau - Pertimbangkan
dapsone topikal
- Pertimbangkan terapi topikal kombinasi; atau - Pertimbangkan
mengubah antibiotik oral;
atau
- Tambahkan kontrasepsi oral kombinasi atau spironolactone;
atau
- Pertimbangkan isotretinoin oral
- Pertimbangkan mengubah antibiotik oral;
atau - Tambahkan
kontrasepsi oral kombinasi atau spironolactone;
atau
- Pertimbangkan isotretinoin oral
(Febyan & Wetarini, 2020)
2.3. Tanaman Kenikir (Cosmos caudatus Kunth) 2.3.1. Klasifikasi Taksonomi
Taksonomi dari kenikir adalah sebagai berikut (Moshawih et al., 2017) Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae Infrakingdom : Streptophyta Superdivisi : Embryophyta Divisi : Tracheophyta Subdivisi : Spermatophytina Kelas : Magnoliopsida Superordo : Asteranae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Cosmos
Spesies : Cosmos caudatus Kunth
2.3.2. Morfologi
(Aziz, 2012)
Gambar 2.4
Tumbuhan Kenikir (Cosmos caudatus Kunth)
Kenikir atau Cosmos caudatus Kunth merupakan tumbuhan herba, semusim dan dapat tumbuh tinggi hingga 0,5 -1,5 m bahkan 2,5 m. Kenikir memiliki bentuk batangnya tegak, beralur, dan memiliki banyak cabang.
Daun dari kenikir sendiri termasuk daun majemuk berbentuk lanset dengan ujungnya yang meruncing, berwarna hijau, serta tepi daun yang bergerigi.
Daun tersusun bergantian si sepanjang batang dan anak daun tidak terpisah secara nyata pada tulang daun utamanya. Bunga dari tanaman kenikir memiliki tangkai bunga dan bunganya berbentuk seperti cawan. Di negara subtropis kenikir berbunga dari bulan Juni sampai Oktober, sedangkan di daerah tropis kenikir dapat berbunga sepanjang tahun. Kenikir dapat tumbuh dengan baik pada tempat yang terkena sinar matahari langsung dengan media tanam tanah berpasir atau berbatu, berlempung, liat berpasir, atau berlempung dengan kelembaban sedang atau tinggi(Aziz, 2012).
2.3.3. Penelitian terkait
Berbagai bentuk ekstrak dari daun kenikir menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri yang diujikan. Bakteri golongan gram positif lebih sensitif terhadap ekstrak daun kenikir dibandingkan bakteri gram negatif dan bakteri lebih sensitif terhadap ekstrak daun kenikir dibandingkan dengan jamur (Rasdi et al., 2010). Telah dilakukan penelitian untuk memeriksa kadar hambat minimal beberapa fraksi ekstrak daun kenikir terhadap berbagai bakteri seperti Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli. KHM tertinggi adalah 25 mg/ml, terdapat pada ekstrak n-hexana terhadap semua bakteri.
KHM terendah adalah 6,25 mg/ml terdapat pada fraksi phosphate-buffered saline terhadap bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis dan pada fraksi Et2O pada semua bakteri yang diuji (Rasdi et al., 2010).
Pada penelitian sebelumnya daun kenikir terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri yang telah diujikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya, ekstrak daun kenikir berpengaruh terhadap penghambatan pertumbuhan dari bakteri Bacillus cereus yang dilakukan secara in vitro. Seluruh konsentrasi yang diujikan memberikan daya hambat terhadap bakteri bacillus cereus tetapi konsentrasi 90 % dan 100 % memberi daya hambat paling optimal (Dwiyanti et al., 2012). Pada penelitian yang dilakukan untuk menguji daya hambat ekstrak daun kenikir terhadap S. aureus diketahui daya hambat minimal ekstrak daun kenikir terdapat pada konsentrasi 170 mg/ml sedangkan kadar bunuh minimal ekstrak daun kenikir terdapat pada konsentrasi 190 mg/ml (Lutpiatina et al., 2017).
2.3.4. Kandungan kimia
Daun kenikir memiliki berbagai kandungan fitokimia antara lain adalah flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan terpenoid (Moshawih et al., 2017; Rasdi et al., 2010). Ekstrak aqueous dari daun kenikir menghasilkan kandungan fenolik tertinggi sedangkan ekstrak metanol dan etanol memiliki sifat antioksidan terkuat. Kandungan flavonoid berupa kuersetin merupakan unsur kimia dalam daun kenikir yang paling poten (Chan et al., 2016).
Berdasarkan penelitian yang membahas kandungan flavonoid dari beberapa jenis tanaman seperti katuk, kedondong cina, antanan, daun pepaya, mangkokan, daun gingseng, pohpohan, kecombrang, dan krokot, kenikir memiliki kandungan flavonoid tertinggi kedua yakni sebesar 52,2 mg/ 100 g (Andarwulan et al., 2010; Nisa et al., 2019). Bagian daun lebih dipilih untuk dilakukan ekstraksi dikarenakan memiliki kandungan flavonoid yang lebih tinggi daripada bagian lain. Bagian daun kenikir memiliki kandungan flavonoid yang lebih tinggi yakni sebesar 15,5 mg QE/g sedangkan bagian bunganya mengandung flavonoid sebesar 7,1 mg (Prahesti et al., 2017).
Mekanisme dari flavonoid sebagai anti bakteri antara lain adalah dengan menghambat sintesis asam nukleat bakteri, menghambat fungsi membran plasma, menghambat metabolisme energi, menghambat perlekatan dan pembentukan biofilm, menyebabkan perubahan dari permeabilitas membran, dan atenuasi patogenisitas. Aktivitas antibakteri dari flavonoid menjadikannya memiliki potensi besar untuk mengendalikan prevalensi mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik (Chan et al., 2016).
Kuersetin merupakan flavonoid yang paling dominan pada daun kenikir. Kuersetin menunjukkan aktivitas antibakteri yang poten. Kuersetin sendiri menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan terhadap beberapa strain bakteri meliputi S. aureus, methicillin-resistant S. aureus (MRSA), dan S. epidermidis (Farhadi et al., 2019).
Selain kandungan flavonoidnya kandungan alkaloid juga memiliki aktivitas antibakteri dengan mekanismenya yakni menghambat sintesis dari asam nukleat bakteri. Beberapa jenis alkaloid diketahui juga dapat mengganggu integritas membran plasma dari bakteri (Cushnie et al., 2014).
Beberapa tanaman yang kaya akan tanin menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap berbagai jenis mikroorganisme yang diujikan.
Kemampuan tanin sebagai antibakteri berhubungan dengan terganggunya dinding bakteri yang dapat menyebabkan lisisnya bakteri dan pertumbuhan bakteri terhambat (Doss et al., 2009). Mekanisme kerja dari tanin sebagai antibakteri antara lain adalah kandungan astringent dari tanin dapat menginduksi kompleksasi dengan enzim atau substrat. Banyak enzim dari mikroba yang dihambat ketika diberikan tanin. Tanin juga memengaruhi membran mikroorganisme termasuk bakteri serta kompleksasi dari ion besi yang menjadikan tanin bersifat racun (Akiyama, 2001).
Kandungan saponin juga memiliki aktivitas antibakteri. Saponin dapat memengaruhi dinding sel dan menyebabkan lisisnya dinding dari bakteri.
Saponin juga dapat meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri dan menyebabkan antibiotik dapat masuk melalui membran bakteri (Khan et al., 2018).
Pada daun ekstrak daun kenikir juga terdapat kandungan terpenoid yang bersifat antibakteri. Mekanisme kerja dari terpenoid sebagai
antibakteri yakni dengan menyebabkan kerusakan membran bakteri sehingga bakteri mengalami kematian (Sathya Bama et al., 2012).
Kandungan fitokimia dalam ekstrak daun kenikir seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan komponen fenol efektif digunakan sebagai pengobatan AV karena bersifat antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan (Azimi et al., 2012)
2.4. Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi dipilih karena dapat dilakukan pemisahan antara kandungan senyawa aktif dan bagian dari tumbuhan yang tidak diinginkan atau tidak diperlukan dengan menggunakan pelarut tertentu. Pelarut etanol dapat dipilih karena sesuai digunakan untuk ekstraksi dari bahan yang memiliki komponen aktif berupa alkaloid, flavonoid, tanin, dan terpenoid (Rasul, 2018).
Penggunaan pelarut berupa air tidak disarankan karena dapat terjadi pertumbuhan bakteri dan jamur serta membutuhkan suhu tinggi dalam proses ekstraksinya sehingga tidak cocok untuk komponen yang bersifat rentan terhadap panas (Abubakar et al., 2020). Kandungan antioksidan dari daun kenikir yang didapatkan dari ekstraksi dengan pelarut etanol juga lebih tinggi (Chan et al., 2016).
2.5. Metode Pengujian Antibakteri 2.5.1. Metode dilusi
Metode dilusi agar dan dilusi kaldu merupakan metode pengujian yang digunakan untuk menentukan konsentrasi minimal yang diperlukan
untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh suatu mikroorganisme.
Biasanya konsentrasi ini dituliskan dalam mikrogram per mililiter. Kisaran konsentrasi yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan obat, organisme yang akan diuji, dan tempat infeksi. Rentang dari konsentrasi yang digunakan harus mendefinisikan kategori interpretatif yaitu konsentrasi dimana organisme itu rentan, sedang dan resisten. Selain itu rentang konsentrasi yang digunakan diharapkan juga bisa mencakup KHM (Gale &
Gale, 2011).
2.5.2. Metode difusi
Metode difusi cakram untuk pengujian kerentanan memungkinkan peneliti untuk mengkategorikan bakteri yang diujikan sebagai bakteri yang sensitif atau rentan, menengah, atau resisten terhadap berbagai antimikroba yang diujikan. Dalam metode ini cakram kertas saring diberikan konsentrasi tunggal dari zat antimikroba kemudian diaplikasikan pada permukaan media agar yang telah diinokulasi dengan organisme uji. Zat yang diujikan akan berdifusi melalui agar-agar. Ketika jarak dari cakram meningkat konsentrasi agen antimikroba berkurang secara logaritmik menciptakan gradien dari obat (Gale & Gale, 2011). Berikut ini adalah penentuan klasifikasi respon hambatan dari pertumbuhan bakteri.
Tabel 2.3 Klasifikasi repon hambatan pertumbuhan bakteri
Diameter zona bening Respon hambatan pertumbuhan
>20 mm 10-20 mm
Sangat kuat Kuat
5-10 mm Sedang
<5 mm Lemah
(Zahro & Agustini, 2013)